Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA UNTUK HARI KELUARGA DALAM RANGKA TAHUN IMAN 27 Oktober 2013


Bacaan Ekaristi : Sir 35:12-14,16-18; Mzm 34:2-3,17-18,19,23; 2Tim 4:6-8, 16-18; Luk 18:9-14

Bacaan-bacaan Minggu ini mengundang kita untuk merenungkan beberapa sifat dasariah keluarga Kristiani.

Pertama: berdoa keluarga. Bagian Injil berbicara tentang dua cara berdoa, yang pertama palsu - doa orang Farisi - dan yang lainnya sahih - doa pemungut cukai. Orang Farisi mewujudkan suatu sikap yang tidak mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas berkat dan belas kasih-Nya, melainkan kepuasan diri. Orang Farisi merasa dirinya dibenarkan, ia merasa hidupnya beres, ia membanggakan hal ini, dan ia menghakimi orang lain dari singgasananya. Pemungut cukai, di sisi lain, tidak mengumbar kata-kata. Doanya rendah hati, apa adanya, diliputi oleh kesadaran akan ketidaklayakannya, akan kekurangannya sendiri. Inilah orang yang benar-benar menyadari bahwa ia membutuhkan pengampunan Allah dan belas kasih-Nya.


Doa pemungut cukai adalah doa orang miskin, sebuah doa yang berkenan bagi Allah. Merupakan sebuah doa yang, seperti dikatakan Bacaan Pertama "akan naik sampai ke awan" (Sir 35:16), tidak seperti doa orang Farisi, yang terbebani oleh kesombongan.

Dalam terang sabda Allah, saya ingin bertanya kepada Anda, keluarga-keluarga yang terkasih : Apakah Anda berdoa bersama-sama dari waktu ke waktu sebagai sebuah keluarga? Beberapa orang di antara Anda melakukan, saya tahu. Tetapi begitu banyak orang mengatakan kepada saya : Tetapi bagaimana kita bisa? Jelas, seperti yang dilakukan pemungut cukai : dengan rendah hati, di hadapan Allah. Masing-masing, dengan kerendahan hati, membiarkan diri mereka ditatap oleh Tuhan dan memohon kebaikan-Nya, supaya Ia sudi mengunjungi kita. Tetapi dalam keluarga bagaimana hal ini dilakukan? Bagaimanapun juga, doa tampaknya menjadi sesuatu yang pribadi, dan selain itu tidak pernah ada waktu yang baik, saat damai ... Ya, semua itu cukup benar, tetapi juga merupakan soal kerendahan hati, soal menyadari bahwa kita membutuhkan Allah, seperti pemungut pajak! Dan semua keluarga, kita membutuhkan Allah : kita semua! Kita membutuhkan pertolongan-Nya, kekuatan-Nya, berkat-Nya, belas kasih-Nya, pengampunan-Nya. Dan kita membutuhkan kesederhanaan untuk berdoa sebagai sebuah keluarga : kesederhanaan diperlukan! Berdoa Bapa kami bersama-sama, di sekitar meja, bukanlah sesuatu yang luar biasa: itu mudah. Dan berdoa Rosario bersama-sama, sebagai sebuah keluarga, sangat indah dan sebuah sumber kekuatan besar! Dan juga mendoakan satu sama lain! Suami untuk istrinya, istri untuk suaminya, suami dan istri bersama-sama untuk anak-anak mereka, anak-anak untuk kakek-nenek mereka .... saling mendoakan. Inilah apa artinya berdoa dalam keluarga dan apa yang menjadikan keluarga kuat : doa.

Bacaan Kedua mengusulkan pemikiran lain : keluarga memelihara iman. Rasul Paulus, di akhir hidupnya, membuat sebuah niatan akhir dan berkata: "Aku telah memelihara iman" (2 Tim 4:7). Tetapi bagaimana ia memelihara iman? Bukan dalam kotak yang kuat! Ataupun ia juga tidak menyembunyikannya di dalam tanah, seperti hamba yang agak malas. Santo Paulus membandingkan hidupnya dengan sebuah pertandingan dan sebuah perlombaan. Ia memelihara iman karena ia tidak hanya mempertahankannya, tetapi memberitakannya, menyebarkannya, membawanya ke negeri-negeri yang tak ramah. Ia menghadapi dengan gagah semua orang yang ingin mempertahankan, "membalsem" pesan Kristus di dalam batas-batas Palestina. Itulah mengapa ia membuat keputusan yang berani, ia pergi ke wilayah musuh, ia membiarkan dirinya ditantang oleh orang-orang yang tak ramah dan budaya yang berbeda, ia berbicara dengan terus terang dan tanpa rasa takut. Santo Paul memelihara iman karena, dengan cara yang sama di waktu mana ia menerimanya, ia menyerahkannya, ia pergi ke pinggiran, dan tidak menggali dirinya ke dalam kedudukan bertahan.

Di sini juga, kita bisa bertanya : Bagaimana kita memelihara iman kita sebagai sebuah keluarga? Apakah kita memeliharanya untuk diri kita sendiri, dalam keluarga-keluarga kita, sebagai sebuah harta pribadi seperti sebuah rekening bank, atau kita dapat membagikannya dengan kesaksian kita, dengan penerimaan kita akan orang lain, dengan keterbukaan kita? Kita semua tahu bahwa keluarga, terutama keluarga muda, sering sedang "berlomba" dari satu tempat ke tempat lain, dengan banyak hal yang harus dilakukan. Tetapi apakah Anda pernah berpikir bahwa "perlombaan" ini juga bisa menjadi perlombaan iman? Keluarga Kristiani adalah keluarga misionaris. Kemarin di lapangan ini kita mendengar pernyataan keluarga misionaris. Mereka adalah misionaris juga dalam kehidupan sehari-hari, dalam melakukan hal-hal sehari-hari mereka, karena mereka membawa kepada segala sesuatu garam dan ragi iman! Memelihara iman dalam keluarga dan membawa kepada hal-hal sehari-hari garam dan ragi iman.

Dan satu pemikiran lagi kita dapat ambil dari sabda Allah : keluarga mengalami sukacita. Dalam Mazmur Tanggapan kita menemukan kata-kata ini: biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita” (34: 2). Seluruh Mazmur adalah sebuah nyanyian pujian bagi Tuhan yang adalah sumber sukacita dan damai. Apa alasan untuk sukacita ini? Karena Tuhan sudah dekat, Ia mendengar jeritan orang-orang hina dan Ia membebaskan mereka dari kejahatan. Sebagaimana Santo Paulus sendiri menulis: Bersukacitalah senantiasa.... Tuhan sudah dekat(Flp 4:4-5). Saya ingin mengajukan Anda semua sebuah pertanyaan hari ini. Tetapi Anda masing-masing menyimpannya dalam hati dan membawanya pulang. Anda dapat menganggapnya sebagai semacam "pekerjaan rumah". Hanya Anda harus menjawab. Bagaimana halnya apabila datang sukacita di rumah? Apakah ada sukacita dalam keluarga Anda? Anda dapat menjawab pertanyaan ini.

Keluarga-keluarga terkasih, Anda tahu betul bahwa sukacita sejati yang kita alami dalam keluarga tidak dangkal; tidak berasal dari benda-benda materi, dari fakta bahwa segala sesuatu tampaknya berjalan dengan baik ... Sukacita sejati berasal dari keselarasan yang mendalam antara pribadi-pribadi, sesuatu yang kita semua rasakan dalam hati kita dan yang membuat kita mengalami keindahan kebersamaan, keindahan saling mendukung di sepanjang perjalanan hidup. Tetapi dasar perasaan sukacita yang mendalam ini adalah kehadiran Allah, kehadiran Allah dalam keluarga dan kasih-Nya, yang menyambut, penuh belas kasih, dan penuh hormat terhadap semua orang. Dan terutama, suatu kasih yang sabar : kesabaran adalah suatu kebajikan Allah dan Ia mengajarkan kita bagaimana menanamkannya dalam kehidupan keluarga, bagaimana menjadi sabar, dan dengan begitu penuh kasih, dengan satu sama lain. Menjadi sabar di antara kita sendiri. Sebuah kasih yang sabar. Allah sendiri tahu bagaimana menciptakan keselarasan dari perbedaan. Tetapi jika tiada kasih Allah, keluarga kehilangan keselarasannya, pemusatan diri berlaku dan sukacita memudar. Tetapi keluarga yang mengalami sukacita iman menyampaikannya secara alami. Keluarga itu adalah garam dunia dan terang dunia, keluarga adalah ragi masyarakat secara keseluruhan.

Keluarga-keluarga yang terkasih, hiduplah selalu dalam iman dan kesederhanaan, seperti Keluarga Kudus Nazaret! Sukacita dan damai Tuhan selalu beserta Anda!

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.