Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PRAPASKAH IV DI GEREJA HATI KUDUS YESUS PONTE MAMMOLO (ROMA) 15 Maret 2026

Bacaan Ekaristi : 1Sam. 16:1b.6-7.10-13a; Mzm. 23:1-3a.3b-4.5.6; Ef. 5:8-14; Yoh. 9:1-41.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Perayaan Ekaristi kita hari ini melebihi sebelumnya selaras dengan sukacita. Sesungguhnya, keindahan pertemuan kita sesuai dengan konteks hari Minggu yang disebut "laetare," yang berarti "bersukacitalah," yang berasal dari kata-kata Nabi Yesaya: "Bersukacitalah bersama Yerusalem!" (Antifon Pembuka, bdk. Yes 66:10).

 

Hal ini membuat kita berpikir. Banyak saudara dan saudari kita saat ini menderita akibat konflik kekerasan, yang disebabkan oleh klaim tak masuk akal bahwa masalah dan perselisihan dapat diselesaikan melalui perang. Padahal, kita harus mengupayakan dialog tanpa henti untuk perdamaian. Beberapa bahkan mencoba melibatkan Allah dalam keputusan-keputusan yang mematikan ini, tetapi Allah tidak dapat dimanfaatkan oleh kegelapan. Sebaliknya, Ia selalu datang untuk memberikan terang, pengharapan, dan perdamaian kepada umat manusia, dan perdamaian itulah yang harus diupayakan oleh mereka yang memohon kepada-Nya.

 

Inilah pesan hari Minggu ini: melampaui jurang mana pun yang dapat ditimpakan manusia karena dosa-dosanya, Kristus datang untuk membawa terang yang lebih kuat, yang mampu membebaskannya dari kebutaan kejahatan, sehingga ia dapat memulai hidup baru.

 

Perjumpaan Yesus dan orang yang buta sejak lahirnya (bdk. Yoh 9:1-41), sebenarnya, dapat dibandingkan dengan kisah kelahiran, berkatnya manusia, seperti seorang anak yang datang kepada terang, menemukan dunia baru, melihat dirinya sendiri, orang lain, dan kehidupan dengan mata Allah (bdk. 1Sam 16:9).

 

Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: berupa apa tatapan ini? Apa yang diungkapkannya? Apa artinya "melihat dengan mata Allah"?

 

Menurut penginjil Yohanes, melihat dengan mata Allah pertama-tama berarti mengatasi prasangka orang-orang yang, ketika berhadapan dengan orang yang menderita, hanya melihat orang yang tercampakkan yang harus dihina, atau masalah yang harus dihindari, mundur ke menara pertahanan individualisme yang egois. Kita sering mendengar hal-hal seperti: "Ketika keadaan baik, aku mempunyai banyak teman; tetapi di masa-masa sulit, banyak yang pergi, menghilang!" Yesus tidak melakukan hal ini: Ia memandang orang buta itu dengan kasih, bukan sebagai makhluk yang lebih rendah atau kehadiran yang mengganggu, tetapi sebagai orang yang dikasihi yang membutuhkan pertolongan. Dengan demikian, perjumpaan mereka menjadi kesempatan bagi karya Allah dinyatakan dalam diri semua orang.

 

Dalam "tanda," mukjizat itu, Yesus mengungkapkan kuasa ilahi dan manusiawi-Nya, mengulangi mirip karya penciptaan — lumpur, ludah — kembali sepenuhnya mengungkapkan keindahan dan martabatnya sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan demikian, setelah matanya dicelikkan, ia menjadi saksi terang.

 

Tentu saja, hal ini membutuhkan usaha: harus membiasakan diri dengan banyak hal yang sebelumnya tidak dikenal, belajar membedakan warna dan bentuk, membangun kembali hubungan, dan itu tidak mudah. ​​Memang, permusuhan di sekitar diri-Nya semakin meningkat, memprovokasi-Nya, dan bahkan orang tua-Nya pun tidak berani membela-Nya (bdk. Yoh 9:18-23). ​​Tampaknya hampir tidak masuk akal orang-orang terdekatnya ingin membatalkan apa yang telah terjadi. Terlebih lagi, dalam interogasi yang dialami oleh orang buta yang sekarang dapat melihat itu, yang diadili terutama adalah Yesus, yang dituduh telah melanggar hari Sabat karena menyembuhkannya.

 

Dengan demikian, kebutaan lain, yang berbeda dan bahkan lebih serius, terungkap pada mereka yang hadir: yaitu ketidakmampuan untuk melihat, tepat di depan mereka, wajah Allah, dan dengan demikian mereka memperdagangkan kemungkinan perjumpaan yang menyelamatkan dengan ketaatan legalistik terhadap ajaran formal. Menghadapi kebodohan seperti itu, Yesus tidak berhenti, menunjukkan bahwa tidak ada "hari Sabat" yang dapat menghalangi tindakan kasih. Lagipula, makna istirahat pada hari Sabat, bagi umat Israel — dan bagi kita pada hari Minggu, hari Tuhan — justru untuk merayakan misteri kehidupan sebagai anugerah, di hadapan di mana tidak seorang pun dapat mengabaikan seruan minta tolong dari saudara-saudari yang sedang menderita.

 

Mungkin, kadang-kadang, dalam pengertian ini, kita pun bisa buta, ketika kita gagal memperhatikan orang lain dan masalah mereka. Namun, Yesus meminta kita untuk hidup berbeda, sebagaimana dipahami dengan baik oleh komunitas kristiani pertama, di mana saudara dan saudari, selain tekun berdoa, berbagi segala sesuatu dengan sukacita dan kesederhanaan hati (bdk. Kis 2:42-47). Bukan berarti tidak ada kesengsaraan dan rintangan, bahkan pada masa itu. Namun, mereka tidak menyerah: dikuatkan oleh karunia baptisan, mereka tetap berusaha untuk hidup sebagai ciptaan baru, hidup dalam persekutuan dan perdamaian dengan semua orang dan menemukan dalam komunitas sebuah keluarga yang menyertai dan mendukung mereka.

 

Saudara-saudari terkasih, inilah buah-buah panggilan yang harus kita hasilkan sebagai anak-anak terang (bdk. 1Tes 5:4-5). Selama hampir sembilan puluh tahun, parokimu telah dengan setia menjalankan misi ini, dengan memberi perhatian khusus kepada situasi kemiskinan, marginalisasi, dan keadaan darurat, dengan memberi perhatian kepada keberadaan, di wilayahnya, kepada penjara Rebibbia dan dengan banyak tanda kepekaan dan solidaritas lainnya.

 

Saya tahu kamu membantu banyak saudara dan saudari dari negara lain untuk menetap di sini: belajar bahasa, menemukan rumah yang layak, dan menemukan pekerjaan yang jujur ​​dan aman. Ada banyak tantangan, sayangnya terkadang diperparah oleh mereka yang tanpa malu-malu mengeksploitasi kemiskinan orang-orang yang paling rentan untuk mengedepankan kepentingan mereka. Namun, saya menyadari betapa berkomitmennya kamu semua untuk mengatasi tantangan-tantangan ini melalui layanan Caritas, rumah-rumah keluarga untuk perempuan dan ibu yang mengalami kesulitan, dan banyak prakarsa lainnya. Saya juga menyadari vitalitas dan kemurahan hati yang kamu curahkan untuk pendidikan kaum muda dan anak-anak, dengan oratorium dan prakarsa pendidikan lainnya.

 

Santo Agustinus, berbicara tentang wajah Allah, di mana kita dipanggil untuk menjadi cerminnya di dunia, berkata kepada orang-orang kristiani pada zamannya, "Wajah apakah yang dimiliki kasih? Bentuk apakah, ukuran apakah, kaki apakah, tangan apakah? […] Ia memiliki kaki, yang menuntun ke Gereja; ia memiliki tangan, yang memberi kepada orang miskin; ia memiliki mata, yang dengannya kita mengenal mereka yang membutuhkan" (In Epistolam Joannis ad Parthos, 7, 10) dan ia menambahkan, merujuk pada kasih: "Peganglah, rangkullah: tidak ada yang lebih manis darinya" (idem).

 

Saudara-saudari terkasih, inilah karunia terang yang dipercayakan kepadamu, agar kamu dapat membiarkannya tumbuh di dalam dirimu dan di antaramu dalam segala kemanisannya dan menyebarkannya ke seluruh dunia, melalui doa, sering menerima Sakramen, dan melakukan amal kasih. Teruslah berjuang dengan cara ini dalam perjalananmu.

 

Semoga Hati Kudus Yesus, yang menjadi dedikasi parokimu, semakin membentuk dan melindungi komunitas yang indah ini, sehingga, dengan perasaan yang sama seperti Kristus (bdk. Flp 2:5), komunitas ini dapat hidup dan bersaksi dengan sukacita dan mengabdi kepada khazanah rahmat yang telah kamu terima.

 

[Sambutan pada akhir Misa]

 

Terima kasih banyak atas karunia yang indah ini. Ini sebuah foto paroki, agar kita selalu mengingatnya, selain itu di sini kamu dapat melihat kehidupan paroki, yang sangat penting! Terima kasih semuanya!

 

Dan kami mempersembahkan piala ini sebagai hadiah kecil untuk paroki, yang melambangkan apa yang kita rayakan dalam Ekaristi: tubuh dan darah Kristus, persekutuan di antara kamu semua. Salam hangat untukmu dan terima kasih!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 16 Maret 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PRAPASKAH III DI GEREJA SANTA MARIA DELLA PRESENTAZIONE (ROMA) 8 Maret 2026

Bacaan Ekaristi : Kel. 17:3-7; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42.

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya senang berada di antaramu pada Hari Minggu Prapaskah III ini. Hari Minggu Prapaskah III adalah langkah penting dalam mengikuti Yesus, menuju Paskah-Nya yang penuh dengan penderitaan, kematian, dan kebangkitan.

 

Dalam perjalanan ini, kedekatan Allah dan kehidupan iman kita sangat terjalin: dengan memperbarui rahmat baptisan dalam diri kita masing-masing, Allah memanggil kita untuk bertobat, bahkan ketika Ia menyucikan hati kita dengan kasih-Nya dan karya amal kasih yang Ia ajak untuk kita lakukan. Dalam hal ini, perjumpaan Yesus dan perempuan Samaria sangat menyentuh kita. Bacaan Injil hari ini, sesungguhnya, tidak hanya berbicara kepada kita, tetapi juga tentang kita dan membantu kita memikirkan kembali hubungan kita dengan Allah.

 

Rasa haus perempuan Samaria akan hidup dan kasih adalah rasa haus kita: rasa haus Gereja dan seluruh umat manusia, yang terluka oleh dosa tetapi bahkan lebih intim diliputi oleh kerinduan akan Allah. Kita mencari Dia seperti air, bahkan ketika kita tidak menyadarinya, setiap kali kita mempertanyakan makna peristiwa, setiap kali kita merasa betapa kita kekurangan kebaikan yang kita inginkan untuk diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

 

Dalam pencarian ini, kita berjumpa Yesus. Ia sudah ada di sana, di sumur, tempat perempuan Samaria itu menemukan-Nya sendirian, di bawah terik matahari siang, lelah karena perjalanannya. Perempuan itu pergi ke sumur pada jam yang tidak biasa, mungkin untuk menghindari pandangan penuh prasangka dari perempuan-perempuan lain. Yesus membaca dalam hatinya alasan pengucilan ini: pernikahannya yang gagal dan hidupnya saat ini membuatnya tidak layak berada di antara para anak perempuan, istri, dan ibu di desa itu. Namun, Yesus duduk di dekat sumur seolah-olah menunggunya. Perjumpaan yang mengejutkan ini adalah salah satu cara di mana, sebagaimana sering kali diulangi Paus Fransiskus, Kristus mengungkapkan Allah yang penuh kejutan: perjumpaan yang paling indah, perjumpaan yang mengubah hidup, di mana pun orang berjumpa Dia dan bagaimana pun ia menampilkan dirinya di hadapan Tuhan.

 

Yesus mengasihi perempuan Samaria itu seperti tidak ada orang lain sebelumnya. Sementara perempuan itu mencari air setiap hari, Ia ingin memberinya air baru, air hidup, yang mampu memuaskan setiap rasa haus dan menenangkan setiap kegelisahan, karena air ini memancar dari hati Allah, kepenuhan yang tak habis-habisnya dari setiap pengharapan.

 

Prakarsa Yesus ini mengawali pencarian akan kebaikan yang melebihi air itu sendiri: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah," kata Tuhan kepada perempuan itu. Ini bukanlah celaan, melainkan janji: "Aku di sini untuk memperkenalkanmu kepada Allah, yang memberikan diri-Nya kepadamu." Ya, tepatnya untukmu, yang tidak mengenal-Nya, yang menganggap dirimu jauh dan terkutuk. Karunia ini akan mengubahmu: kamu sendiri akan menjadi mata air yang memancar sampai pada hidup yang kekal. Sebagai ganti rasa haus sebelumnya, yang dipenuhi kepahitan dan kekeringan rohani, Putra Allah menawarkan karunia hidup yang diperbarui oleh air yang memancar dari belas kasih Bapa. Segala sesuatu berubah dalam perjumpaan dengan Tuhan: perempuan yang haus menjadi mata air, orang yang terbuang menjadi percaya diri. Perempuan yang dipenuhi rasa malu kini dipenuhi sukacita; ia yang tetap diam di desa menjadi misionaris bagi seluruh penduduknya.

 

Ia tidak pernah membayangkan bahwa ia, yang begitu bingung dan dikalahkan oleh kehidupan, suatu hari akan mencicipi air segar, karunia Allah yang sesungguhnya, dan pada gilirannya menjadi karunia bagi sesamanya. Bagaimana ini bisa terjadi? Melalui perjumpaan dengan Yesus, melalui percakapan dengan-Nya, sabda Allah yang hidup yang menjadi manusia demi keselamatan kita.

 

Narasi Injil dengan cermat menggambarkan perjalanan pertumbuhan perempuan itu, saat ia secara bertahap mengenali ciri khas jatidiri Yesus: manusia, nabi, Mesias, dan Juruselamat. Berdiri di samping-Nya dan menikmati kebersamaan dengan-Nya, perempuan Samaria itu kemudian menjadi sumber kebenaran. Air baru karunia Allah mulai memancar di hatinya, dan ia segera merasa terdorong untuk berlari kembali ke desanya, akhirnya bebas dari rasa malu dan bersemangat untuk memperkenalkan sang Pembebasnya kepada semua orang, Yesuslah yang memungkinkan semua keajaiban itu. Ia berlari kepada orang yang sebelumnya menghukumnya, bahkan ketika Allah telah mengampuninya, dan ia memberitakan, menyatakan, dan memberi kesaksian. Kebutuhan akan air, yang telah mendorongnya ke sumur, kini digantikan oleh keinginan untuk berbagi kebaruan yang luar biasa yang telah mengubahnya.

 

Saudara-saudara terkasih, dengan baptisan, kita semua telah menerima karunia air baru, yang membersihkan setiap dosa dan memuaskan setiap rasa haus. Seperti perempuan Samaria, hari ini dalam Masa Prapaskah kita diberi waktu untuk menemukan kembali karunia sakramen ini, yang, seperti sebuah pintu, memperkenalkan kita pada iman dan kehidupan kristiani. Sebagai Gembala yang baik dan penuh kasih, Tuhan menanti kita dan selalu menyertai kita, di mana pun kita berada dan seperti apa pun kita. Ia dengan penuh belas kasih menyembuhkan luka-luka kita dan menjadi karunia bagi kita, sehingga kita pada gilirannya dapat menjadi karunia bagi saudara-saudari kita.

 

Saya tahu betul komunitas parokimu hidup di wilayah dengan beragam tantangan. Termasuk adanya marginalisasi yang mengkhawatirkan, kemiskinan materi dan moral. Bahkan remaja dan kaum muda berisiko tumbuh dewasa tertipu oleh para pedagang kematian atau kecewa tentang masa depan. Banyak yang menantikan rumah, pekerjaan yang menjamin kehidupan yang bermartabat, lingkungan yang aman di mana mereka dapat berjumpa, bermain, dan merencanakan sesuatu yang indah bersama-sama.

 

Seperti di sumur dalam Bacaan Injil, orang-orang tiba di paroki ini dengan jiwa yang terluka, martabat mereka ternoda, dan haus akan harapan. Kamu bertugas menunjukkan kedekatan Yesus, keinginan-Nya untuk menebus keberadaan kita dari kejahatan yang mengancamnya dengan tawaran untuk kehidupan yang adil, benar, dan memuaskan. Dimulai dari Ekaristi, jantung setiap komunitas kristiani, saya mendorongmu untuk memastikan bahwa kegiatan paroki merupakan tanda Gereja yang — seperti seorang ibu — peduli terhadap anak-anaknya, tanpa menghukum mereka, tetapi lebih menyambut, mendengarkan, dan mendukung mereka dalam menghadapi bahaya. Semoga sabda Injil, yang memancar dalam diri kita sebagai sumber kebenaran, membantu kita masing-masing untuk membuka mata, agar mampu dengan bijaksana menilai apa yang baik dan apa yang jahat, sehingga membentuk hati nurani yang bebas dan dewasa.

 

Saudara-saudari terkasih, majulah dengan penuh keyakinan! Dalam setiap situasi, Allah menyertai dan mendukung kita di sepanjang jalan. Semoga Bunda Maria selalu menyertai langkah-langkah imanmu, dan menganugerahkan kepadamu sukacita menjadi pewarta Injil-Nya yang rendah hati dan berani.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Maret 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PRAPASKAH II DI GEREJA TUHAN KITA YESUS KRISTUS DIANGKAT KE SURGA 1 Maret 2026

Bacaan Ekaristi : Kej. 12:1-4a; Mzm. 33:4-5.18-19.20.22; 2Tim. 1:8b-10, Mat. 17:1-9.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya senang berada di antaramu dan dapat mendengarkan sabda Allah bersama seluruh komunitas parokimu. Hari Minggu ini membawa kita berhadapan dengan perjalanan Abraham (bdk. Kej 12:1-4a) dan peristiwa perubahan rupa Yesus (bdk.Mat 17:1-9).

 

Bersama Abraham, kita dapat mengenali diri kita masing-masing sedang berada dalam sebuah perjalanan. Hidup adalah sebuah perjalanan yang menuntut kepercayaan, menuntut penyerahan diri kepada sabda Allah yang memanggil kita dan terkadang meminta kita untuk meninggalkan segalanya. Kita mungkin tergoda untuk melarikan diri dari ketidakpastian seperti keterburu-buruan yang memusingkan, namun justru dari dalam diri kitalah kita dapat menghargai janji keagungan yang tak terduga. Hal itu terjadi setiap hari — karena begitulah cara dunia berpikir — bahwa kita menilai segala sesuatu, kita berusaha untuk mengendalikan segala sesuatu. Tetapi dengan cara ini, kita kehilangan kesempatan untuk menemukan harta karun sejati, mutiara yang sangat berharga, sebagaimana Injil mengajarkan kita, yang secara mengejutkan dipendam Allah di ladang kita (bdk. Mat 13:44).

 

Perjalanan Abraham dimulai dengan sebuah kehilangan: tanah dan rumah yang menyimpan kenangan masa lalunya. Namun, perjalanan itu akan tergenapi di tanah baru dan dalam garis keturunan yang luas, di mana segalanya menjadi berkat. Kita pun, jika kita membiarkan iman memanggil kita untuk menempuh perjalanan ini, untuk mengambil risiko dalam membuat keputusan baru dalam hidup dan cinta, akan berhenti takut kehilangan sesuatu, karena kita akan merasa bahwa kita bertumbuh dalam kekayaan yang tak seorang pun dapat mencurinya.

 

Murid-murid Yesus juga menghadapi perjalanan yang akan membawa mereka ke Yerusalem (bdk. Luk 9:51). Di sana, di Kota Suci, Sang Guru akan menggenapi misi-Nya, memberikan nyawa-Nya di kayu salib dan menjadi berkat bagi semua orang untuk selama-lamanya. Kita tahu betapa besar perlawanan yang diberikan Petrus dan semua murid lainnya dalam mengikuti-Nya. Tetapi mereka harus memahami bahwa seseorang hanya dapat menjadi berkat dengan mengatasi naluri untuk membela diri dan menerima apa yang dipercayakan Yesus kepada kita dalam tata gerak Ekaristi: keinginan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai roti untuk dimakan, hidup dan mati demi memberi kehidupan. Inilah hari Minggu, saudara-saudari terkasih: jeda dalam perjalanan yang mengumpulkan kita di sekitar Yesus. Yesus mendorong kita untuk tidak berhenti dan tidak mengubah arah. Tidak ada janji yang lebih besar, tidak ada harta yang lebih berharga daripada hidup untuk memberi kehidupan!

 

Tak lama sebelum berubah rupa, Yesus telah mempercayakan kepada murid-murid-Nya puncak dari perjalanan yang mereka lakukan: penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Kamu tentu ingat penentangan Petrus dan reaksi Yesus, yang berkata kepadanya: "Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia" (Mat 16:23). Dan sekarang, enam hari kemudian, Yesus meminta Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk menemani-Nya naik ke gunung. Kata-kata yang sulit didengar itu masih terngiang di telinga mereka; mereka masih memiliki gambaran yang tidak dapat diterima tentang Mesias yang dihukum mati.

 

Kegelapan batin para murid inilah yang dihancurkan Yesus ketika, di puncak gunung, Ia menampakkan diri di hadapan mata mereka dalam wujud yang berubah rupa dengan cahaya yang menyilaukan dan tak terbayangkan. Dan dalam penglihatan yang mulia ini, Musa dan Elia juga muncul di samping-Nya, sebagai saksi bahwa seluruh Kitab Suci digenapi dalam diri Yesus (bdk. Mat 17:2-3).

 

Sekali lagi, Petrus menjadi juru bicara dunia lama kita dan kebutuhan putus asa untuk menghentikan segala sesuatu, untuk mengendalikannya. Ini sedikit mirip dengan ketika kita tidak ingin mimpi yang kita jadikan tempat berlindung berakhir. Tetapi di sini bukan mimpi, melainkan dunia baru yang dapat kita masuki: tujuan perjalanan kita, tujuan yang dipenuhi cahaya dan dibentuk oleh kemanusiawian dan keilahian Yesus. Dengan mendirikan kemah, Petrus ingin menghentikan perjalanan ini, yang justru harus berlanjut ke Yerusalem (bdk. ayat 4).

 

Suara yang datang dari awan itu adalah suara Bapa, dan seperti sebuah permohonan: "Inilah Putra-Ku yang terkasih; dengarkanlah Dia" (ayat 5). Suara itu bergema kepada kita hari ini: "Dengarkanlah Yesus!" Dan saya, saudara-saudari terkasih di antaramu, ingin menggemakan permohonan itu dan mengatakan kepadamu: saya memohon kepadamu, saudara-saudari, marilah kita mendengarkan Dia! Dia berjalan bersama kita, bahkan hari ini, untuk mengajari kita di kota ini nalar kasih tanpa syarat, meninggalkan setiap pembelaan yang menjadi serangan. Marilah kita mendengarkan Dia, marilah kita masuk ke dalam terang-Nya untuk menjadi terang dunia, dimulai dari lingkungan tempat kita tinggal. Seluruh kehidupan paroki dan kelompok-kelompoknya ada untuk ini: pelayanan kepada terang, pelayanan kepada sukacita.

 

Setelah perubahan rupa di gunung, perjalanan Yesus tidak berhenti (lihat ayat 9). Dan Gereja, bahkan paroki kalian, menerima misi dari Injil ini. Dihadapkan dengan berbagai masalah kompleks di wilayah ini, yang membayangi hari-hari Anda di sini, Anda dipercayakan dengan pedagogi pandangan iman, yang mengubah segalanya dengan harapan, melepaskan semangat, berbagi, dan kreativitas sebagai obat untuk berbagai luka di lingkungan ini.

 

Saya sangat senang mengetahui bahwa komunitas paroki ini adalah komunitas yang dinamis dan bersemangat yang, meskipun menghadapi masalah serius dalam konteks lokal, dengan berani memberikan kesaksian tentang Injil. Dengan motto "Mari Membangun Komunitas," paroki ini telah memulai perjalanan untuk memperkuat rasa kebersamaan dan menyambut semua orang, sungguh semua orang, dengan tangan terbuka! Saya senang dan saya mendorong Anda: lanjutkan perjalanan keterbukaan terhadap komunitas lokal dan penyembuhan luka-lukanya. Dan saya berharap orang lain akan bergabung dengan Anda untuk menjadi ragi kebaikan dan keadilan di Quarticciolo ini.

 

Orang muda, komitmenmu juga patut didukung. Program "Magis," yang kamu perkenalkan kepada saya beberapa menit yang lalu dan yang telah ditawarkan di sini selama beberapa tahun, mengacu pada "melebihi" yang dibicarakan Santo Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohani. Ini adalah insentif bagi remaja untuk mengatasi mediokritas mereka dengan memilih kehidupan yang berani, otentik, dan baik, yang menemukan "Magis" yang unggul dalam Yesus Kristus.

 

Saudara-saudari terkasih, kamu adalah tanda harapan. Terang perubahan rupa sudah hadir di komunitas ini, karena Tuhan sedang bekerja di sini dan karena begitu banyak dari kamu percaya pada kuasa-Nya yang lembut yang mengubah segalanya. Ketika kita menyadari bahwa begitu banyak hal di sekitar kita tidak berjalan dengan baik, terkadang kita bertanya-tanya: apakah yang kita lakukan memiliki arti? Godaan untuk berkecil hati muncul, dengan hilangnya motivasi dan momentum. Sebaliknya, justru di hadapan misteri kejahatan itulah kita harus memberi kesaksian tentang jati diri kita sebagai orang kristiani, sebagai orang-orang yang ingin mewujudkan Kerajaan Allah di tempat dan waktu di mana mereka hidup. Inilah harapan saya untuk kamu semua, komunitas paroki ini, dan banyak saudara-saudari yang belum mengenali dalam Yesus terang dan sukacita sejati.

 

Di hadapan segala sesuatu yang merusak kemanusiaan dan kehidupan, kita terus mewartakan dan memberi kesaksian tentang Injil, yang mengubah dan memberi kehidupan. Semoga Santa Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dan menjadi perantara kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Maret 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PRAPASKAH I DI GEREJA HATI KUDUS YESUS CASTRO PRETORIO 22 FebruarI 2026

Bacaan Ekaristi : Kej. 2:7-9; 3:1-7; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; Rm. 5:12-19; Mat. 4:1-11.

 

Saudara-saudari terkasih:

 

Beberapa hari yang lalu, dengan Misa Rabu Abu, kita memulai perjalanan Masa Prapaskah kita. Prapaskah adalah masa liturgi yang intens, yang memberi kita kesempatan untuk menemukan kembali kekayaan baptisan kita, hidup sebagai ciptaan yang sepenuhnya diperbarui melalui inkarnasi, wafat, dan kebangkitan Yesus.

 

Bacaan pertama dan Bacaan Injil yang baru saja kita dengar, dalam dialog satu sama lain, membantu kita menemukan kembali karunia baptisan sebagai rahmat yang membuka kunci kebebasan kita. Kisah Kejadian mengingatkan kita akan kondisi kita sebagai ciptaan, yang dicobai bukan oleh larangan, sebagaimana sering kita yakini, tetapi oleh sebuah kemungkinan: kemungkinan sebuah hubungan. Manusia bebas untuk mengenali dan menerima perbedaan Sang Pencipta, yang mengenali dan menerima perbedaan ciptaan-Nya. Untuk mencegah kemungkinan ini, ular menyarankan anggapan bahwa ia mampu meniadakan semua perbedaan antara ciptaan dan Sang Pencipta, menggoda manusia dengan khayalan menjadi Allah. Iblis mendesak mereka untuk merebut sesuatu yang, menurutnya, akan ditolak Allah agar mereka tetap berada dalam keadaan inferioritas selamanya. Gambaran yang jelas dari Kejadian ini adalah mahakarya yang tak tertandingi yang menggambarkan drama kebebasan.

 

Bacaan Injil tampaknya menjawab dilema yang sudah lama ada: Dapatkah aku menjalani hidupku sepenuhnya dengan mengatakan "ya" kepada Allah? Atau, agar bebas dan bahagia, haruskah aku membebaskan diri dari Dia?

 

Adegan pencobaan Kristus, pada intinya, membahas pertanyaan dramatis ini. Adegan ini menuntun kita untuk menemukan kemanusiaan sejati Yesus, yang, sebagaimana diajarkan oleh Konstitusi Konsili Gaudium et Spes, mengungkapkan manusia kepada dirinya sendiri: “Sesungguhnya hanya dalam misteri Sabda yang menjelamalah misteri manusia benar-benar menjadi jelas.” (GS, 22). Sesungguhnya, kita melihat Putra Allah yang, dengan menolak jerat seteru abadi, menunjukkan kepada kita manusia baru, manusia bebas, sebuah penampakan kebebasan yang terwujud dengan mengatakan “ya” kepada Allah.

 

Kemanusiaan baru ini lahir dari bejana baptis. Oleh karena itu, khususnya dalam Masa Prapaskah ini, kita dipanggil untuk menemukan kembali rahmat baptisan, sebagai sumber kehidupan yang berdiam di dalam diri kita dan yang, secara dinamis, menyertai kita dengan penuh hormat terhadap kebebasan kita.

 

Pertama, Sakramen itu sendiri bersifat dinamis, karena apa yang ditawarkannya tidak terbatas pada ruang dan waktu ritus, tetapi merupakan rahmat yang senantiasa menyertai kita sepanjang hidup kita, menopang ketaatan kita kepada Kristus. Tetapi baptisan juga dinamis karena selalu menuntun kita ke jalan yang baru, karena rahmat adalah suara batin yang mendorong kita untuk menyesuaikan diri dengan Yesus, membebaskan kebebasan kita sehingga dapat menemukan kepenuhannya dalam mengasihi Allah dan sesama.

 

Dengan demikian kita memahami sifat relasional baptisan, yang memanggil kita untuk hidup dalam persahabatan dengan Yesus dan, dengan cara ini, masuk ke dalam persekutuan Dia dengan Bapa. Hubungan yang penuh rahmat ini memungkinkan kita untuk juga hidup dalam kedekatan yang autentik dengan sesama kita, kebebasan yang — tidak seperti yang ditawarkan Iblis kepada Yesus— bukan pengejaran kekuasaan pribadi, tetapi kasih yang memberi diri dan menjadikan kita semua saudara dan saudari. Sesungguhnya, Santo Paulus menegaskan, “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28).

 

Saudara-saudari, Paus Leo XIII meminta Santo Yohanes Bosco untuk membangun gereja tempat kita berada hari ini. Beliau telah merasakan pentingnya tempat ini, di sebelah Stasiun Termini dan di persimpangan unik di kota ini, yang ditakdirkan untuk menjadi semakin penting seiring berjalannya waktu.

 

Oleh karena itu, saudara-saudari terkasih, saat saya bertemumu hari ini, saya melihat dalam dirimu kehadiran kedekatan yang istimewa, solidaritas dengan tantangan wilayah ini. Memang, tempat ini adalah rumah bagi banyak mahasiswa, pelancong yang datang dan pergi untuk bekerja, imigran yang mencari pekerjaan, dan pengungsi muda yang, berkat inisiatif Salesian, telah menemukan di gedung tetangga kesempatan untuk bertemu dengan kaum muda Italia seusia mereka dan berpartisipasi dalam proyek integrasi. Dan kemudian ada saudara-saudari kita yang tunawisma dan mencari perlindungan di pusat-pusat Caritas di Via Marsala. Dalam beberapa meter saja, kita dapat menyaksikan kontradiksi zaman kita: kehidupan tanpa beban dari mereka yang datang dan pergi dengan segala kenyamanan dan mereka yang tunawisma; banyaknya kesempatan untuk berbuat baik dan kekerasan yang merajalela; keinginan untuk bekerja jujur ​​serta perdagangan ilegal narkoba dan prostitusi.

 

Parokimu dipanggil untuk bertanggung jawab atas kenyataan ini, menjadi ragi Injil dalam adonan wilayah ini, menjadi tanda kedekatan dan amal kasih. Saya berterima kasih kepada para Salesian atas kerja tanpa lelah yang mereka lakukan setiap hari, dan saya mendorong semua orang untuk terus menjadi nyala api kecil terang dan pengharapan di sini.

 

Semoga Maria Penolong Orang Kristen selalu menopang jalan kita, menguatkan kita di saat-saat godaan dan pencobaan, sehingga kita dapat sepenuhnya menghayati kebebasan dan persaudaraan anak-anak Allah.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Februari 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RABU ABU DI BASILIKA SANTA SABINA, PEGUNUNGAN AVENTINE 18 Februari 2026

Bacaan Ekaristi : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pada awal setiap masa liturgi, dengan penuh sukacita kita menemukan kembali rahmat menjadi Gereja, yaitu sebuah komunitas yang berkumpul untuk mendengarkan sabda Allah. Suara Nabi Yo'el berbicara kepada kita, membawa kita masing-masing keluar dari keterasingan kita dan menunjukkan kepada kita kebutuhan mendesak akan pertobatan, yang selalu bersifat pribadi dan publik: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu” (2:16). Ia menyebutkan orang-orang yang paling rapuh dan paling tidak cocok untuk pertemuan besar, mereka yang ketidakhadirannya mudah dibenarkan. Nabi kemudian merujuk kepada suami dan istri: ia tampaknya memanggil mereka dari privasi kehidupan perkawinan mereka, agar mereka merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar. Kemudian ia beralih kepada para imam, yang sudah mendapati diri mereka — hampir karena kewajiban — “di antara serambi depan dan mezbah” (ayat 17). Mereka diundang untuk menangis dan mengungkapkan kata-kata yang tepat ini atas nama semua orang: “Ya Tuhan, sayangilah umat-Mu!” (idem).

 

Bahkan hingga hari ini, Masa Prapaskah tetap menjadi waktu yang penuh kekuatan untuk kebersamaan: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah” (Yoel 2:16). Kita tahu bahwa semakin sulit untuk mengumpulkan orang-orang dan membuat mereka merasa seperti sebuah komunitas — bukan dalam cara yang nasionalistik dan agresif, tetapi dalam persekutuan di mana kita masing-masing menemukan tempatnya. Sesungguhnya, selama Masa Prapaskah, terbentuk umat yang mengakui dosa-dosanya. Dosa-dosa ini adalah kejahatan yang bukan berasal dari musuh yang dianggap, tetapi menimpa hati kita, dan ada di dalam diri kita. Kita perlu menanggapinya dengan berani menerima tanggung jawab atasnya. Lebih jauh lagi, kita harus menerima bahwa meskipun bertentangan dengan budaya arus utama, sikap ini merupakan pilihan yang otentik, jujur, dan menarik, terutama di zaman kita, ketika begitu mudah untuk merasa tidak berdaya di hadapan dunia yang berada dalam bara. Sesungguhnya, Gereja ada sebagai komunitas saksi yang mengakui dosa-dosa mereka.

 

Tentu saja, meskipun bersifat pribadi, dosa mengambil bentuk dalam konteks kehidupan nyata dan virtual, dalam sikap yang kita adopsi terhadap satu sama lain yang saling memengaruhi kita, dan seringkali dalam kenyataan "struktur dosa" ekonomi, budaya, politik, dan bahkan agama. Kitab Suci mengajarkan kita bahwa menentang penyembahan berhala dengan penyembahan kepada Allah yang hidup berarti berani untuk bebas, dan menemukan kembali kebebasan melalui sebuah eksodus, sebuah perjalanan, di mana kita tidak lagi lumpuh, kaku, atau puas dengan posisi kita, tetapi berkumpul bersama untuk bergerak dan berubah. Betapa langkanya menemukan orang dewasa yang bertobat — individu, pelaku usaha, dan lembaga yang mengakui bahwa mereka telah berbuat salah!

 

Hari ini, kita sedang merefleksikan secara tepat kemungkinan pertobatan ini. Memang, bukan suatu kebetulan bahwa, bahkan dalam konteks sekuler, banyak kaum muda, lebih dari sebelumnya, terbuka terhadap undangan Hari Rabu Abu. Kaum muda khususnya memahami dengan jelas bahwa hidup yang adil itu mungkin, dan bahwa harus ada pertanggungjawaban atas kesalahan di dalam Gereja dan dunia. Karena itu, kita harus mulai dari mana kita bisa, dengan orang-orang di sekitar kita. “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2Kor 6:2). Karena itu, marilah kita merangkul makna misioner Masa Prapaskah, bukan dengan cara yang mengalihkan perhatian kita dari upaya individu kita, tetapi dengan cara memperkenalkan masa ini kepada banyak orang yang gelisah dan berkehendak baik yang mencari cara otentik untuk memperbarui hidup mereka, dalam konteks Kerajaan Allah dan keadilan-Nya.

 

“Mengapa dikatakan di antara bangsa-bangsa: ‘Di mana Allah mereka?’” (Yoel 2:17). Pertanyaan nabi Yo'el adalah sebuah peringatan. Masa Prapaskah juga mengingatkan kita tentang apa yang orang lain pikirkan tentang kita, terutama mereka yang mengamati umat Allah dari luar. Masa Prapaskah mendorong kita untuk mengubah arah — pertobatan — yang membuat pemberitaan kita semakin dapat dipercaya.

 

Enam puluh tahun yang lalu, beberapa pekan setelah berakhirnya Konsili Vatikan II, Santo Paulus VI memutuskan untuk merayakan Ritus Abu secara terbuka selama Audiensi Umum di Basilika Santo Petrus, sehingga tindakan yang akan kita lakukan hari ini dapat dilihat oleh semua orang. Ia menyebutnya sebagai "upacara pertobatan yang keras dan mencolok" (Paulus VI, Audiensi Umum, 23 Februari 1966) yang menentang akal sehat dan sekaligus menjawab tuntutan budaya kita. Ia berkata: "Di zaman kita sekarang, kita mungkin bertanya pada diri sendiri apakah pedagogi ini masih dapat dipahami. Kita menjawab dengan tegas, karena ini adalah pedagogi yang realistis. Sebuah pengingat yang keras akan kebenaran. Kita dibawa kepada persepsi yang akurat tentang keberadaan dan takdir kita."

 

Paulus VI mengatakan bahwa "pedagogi pertobatan ini mengejutkan manusia modern dalam dua hal": yang pertama adalah "kapasitasnya yang luar biasa untuk khayalan, sugesti diri, dan penipuan diri yang sistematis tentang kenyataan hidup dan nilainya." Aspek kedua adalah “pesimisme mendasar” yang ditemukan Paulus VI di mana-mana: “Sebagian besar materi yang ditawarkan kepada kita saat ini oleh filsafat, sastra, dan hiburan,” katanya, “berakhir dengan menyatakan kesia-siaan yang tak terhindarkan dari segala sesuatu, kesedihan hidup yang luar biasa, metafisika absurditas dan kehampaan. Materi ini merupakan pembenaran atas penggunaan abu.”

 

Hari ini, kita dapat menyadari bahwa kata-katanya bersifat kenabian karena kita melihat dalam abu yang ditorehkan pada dahi kita beban dunia yang terang benderang, beban seluruh kota yang hancur oleh perang. Ini juga tercermin dalam abu hukum internasional dan keadilan antarbangsa, abu seluruh ekosistem dan kerukunan antarbangsa, abu pemikiran kritis dan kearifan lokal kuno, abu rasa sakral yang bersemayam di setiap ciptaan.

 

“Di mana Allah mereka?”, tanya bangsa-bangsa itu pada diri mereka sendiri. Ya, sahabat-sahabatku, sejarah, dan terlebih lagi, hati nurani kita sendiri, meminta kita untuk menyebut kematian apa adanya, dan membawa bekasnya di dalam diri kita seraya memberi kesaksian tentang kebangkitan. Kita mengakui dosa-dosa kita agar kita dapat bertobat; hal ini sendiri merupakan tanda dan kesaksian kebangkitan. Sesungguhnya, itu berarti kita tidak akan tetap berada di antara abu, tetapi akan bangkit dan membangun kembali. Kemudian Trihari Suci, yang akan kita rayakan sebagai puncak perjalanan Masa Prapaskah, akan melepaskan semua keindahan dan maknanya. Hal ini akan terjadi jika kita berpartisipasi, melalui pertobatan, dalam peralihan dari kematian menuju kehidupan, dari ketidakberdayaan menuju kemungkinan-kemungkinan yang diberikan Allah.

 

Para martir zaman dahulu dan zaman sekarang bersinar sebagai pelopor dalam perjalanan kita menuju Paskah. Tradisi Romawi kuno tentang perhentian Masa Prapaskah — yang dimulai hari ini dengan perhentian pertama — sangatlah bermanfaat: tradisi ini merujuk pada pergerakan, sebagai peziarah, dan pada perhentian, statio, pada "peringatan" para martir, di mana basilika-basilika Roma berdiri. Bukankah ini mungkin sebuah undangan untuk mengikuti jejak para saksi iman yang mengagumkan, yang kini dapat ditemukan di seluruh dunia? Marilah kita mengingat tempat, kisah, dan nama mereka yang telah memilih jalan Sabda Bahagia dan menghidupinya hingga akhir. Kehidupan mereka adalah benih yang tak terhitung jumlahnya yang, bahkan ketika tampaknya tersebar, terkubur di bumi dan mempersiapkan panen berlimpah yang merupakan panggilan kita untuk mengumpulkannya. Masa Prapaskah, sebagaimana telah kita lihat dalam Bacaan Injil, membebaskan kita dari keinginan untuk dilihat dengan segala cara (bdk. Mat 6:2,5,16), dan sebaliknya mengajarkan kita untuk melihat apa yang sedang lahir, apa yang sedang tumbuh, dan mendorong kita untuk melayaninya. Itulah keselarasan mendalam yang terjalin dengan Allah kehidupan, Bapa kita dan Bapa segala sesuatu, dalam rahasia orang-orang yang berpuasa, berdoa, dan mengasihi. Marilah kita mengarahkan kembali, dengan kesungguhan dan penuh sukacita, seluruh hidup dan hati kita kepada Allah.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Februari 2026)