Bacaan
Ekaristi : Mi. 5:1-4a; Mzm. 13:6ab.6cd; Mat. 1:18-23.
Saudara-saudari
yang terkasih,
Sebagaimana
mungkin kamu ingat, "pada hari-hari awal masa kepausan, saya merasakan
kewajiban dan hasrat yang mendalam untuk datang ke Genazzano, ke tempat ziarah
Bunda Penasihat yang Baik, yang sepanjang hidup saya telah mendampingi saya
dengan kehadiran keibuan, kebijaksanaan, serta teladan kasihnya kepada Sang
Putra, yang senantiasa menjadi pusat iman saya" (Dedikasi dalam buku tamu
Tempat Ziarah Bunda Penasihat yang Baik, 10 Mei 2025).
Dengan
sukacita saya hadir kembali di sini untuk merayakan bersamamu Vigili Kelahiran
Santa Perawan Maria dan mempercayakan kepada Kanak Maria apa yang kini sedang
lahir dalam kemanusiaan yang papa namun agung ini: sesuatu yang rapuh bagaikan
tunas, namun merupakan tanda kesetiaan Allah. Ya, Maria adalah fajar bagi hari
yang baru, bagi dunia kita yang akhirnya dibebaskan dari kejahatan. Dan kita
berada di sini, di sampingnya, di sekeliling altar tempat keselamatan datang
kepada kita dan mengubah rupa kita — anak-anak di dalam Sang Putra. Marilah
kita memohon nasihatnya yang bijak agar kita dapat menyambut sang Sabda ilahi,
menyimpannya di dalam hati, serta melahirkannya melalui keputusan-keputusan
yang berani dan bijaksana — keputusan pertobatan yang otentik.
Sahabat-sahabat
terkasih, di tempat yang memiliki jejak sejarah kehadiran tarekat Agustinian
ini, saya ingin kembali merenungkan perikop Kitab Suci yang baru saja kita
dengarkan. Saya akan melakukannya dengan bimbingan Santo Thomas dari Villanova,
seorang biarawan dan uskup Agustinian yang — seraya membaktikan hidupnya untuk
melayani kaum miskin — mendalami kebenaran iman secara mendalam. Ia mampu
melihat paradoks antara kerendahan Maria — atau boleh dikatakan, posisi Maria
yang tampak terpinggirkan — dengan peran sentral yang dimainkannya dalam karya
keselamatan.
Marilah
kita bertanya pada diri kita sendiri: apa makna kelahiran seorang anak
perempuan pada zaman Yoakim dan Ana? Santo Thomas merefleksikan, "Saya
sering merefleksikan — tulisnya — dan bertanya-tanya mengapa para penginjil,
yang berbicara begitu panjang lebar tentang Santo Yohanes Pembaptis dan para
rasul, justru menceritakan kisah Perawan Maria — yang mengatasi semua orang
dengan sejarah dan sosok pribadinya — dengan cara yang begitu singkat. Mengapa,
saya bertanya-tanya, hal-hal seperti cara ia dikandung, dilahirkan, bertumbuh,
serta kebiasaan-kebiasaan, kebajikan-kebajikan yang menghiasi dirinya, hubungan
manusiawi yang ia jalin dengan Putranya, bagaimana ia berinteraksi dengan
Yesus, juga bagaimana ia hidup bersama para rasul setelah kenaikan Yesus ke
surga, tidak digambarkan kepada kita? Semua hal ini penting; umat beriman pasti
akan membacanya dengan penuh devosi yang istimewa, dan hal-hal itu pasti akan
menyenangkan hati banyak orang. Ya, para penginjil, kepadamulah saya berbicara!
Mengapa kamu merampas sukacita yang begitu besar dari kami dengan sikap diammu?
Mengapa kamu melewatkan rincian-rincian yang begitu menggembirakan, begitu
dinanti-nantikan, dan begitu menyenangkan?" (Karya Lengkap VII, 266,8).
Dalam
kata-kata ini, kita menemukan sebuah anjuran penting bagi iman kita: mengajukan
pertanyaan kepada Kitab Suci dan para penulisnya, berdiskusi dengan teks dan
berdialog dengan para saksi pewahyuan, layaknya dengan para sahabat.
Sesungguhnya, kita adalah "kawan sewarga dari orang-orang kudus dan
anggota-anggota keluarga Allah" (Ef 2:19), dan dari Maria sendiri kita
belajar tentang kecerdasan yang bercakap-cakap dengan Allah, yang mengajukan
pertanyaan (bdk. Luk 1:34), serta menafsirkan peristiwa-peristiwa dengan cara
menyimpannya dan merenungkannya di dalam hati (bdk. Luk 2:19,51).
Akan
tetapi, Bacaan Injil menurut Matius tampaknya membenarkan pandangan Santo
Thomas dari Villanova melalui sikap diamnya. Kita telah mendengarnya: Bacaan
Injil mencatat kehadiran Maria, namun tidak memuat satu kata pun yang
diucapkannya. Kendati demikian, keberadaan Maria yang bersahaja — beserta Sang
Putra di dalam rahimnya — menggerakkan seluruh sejarah: sejarah Yusuf dan
seluruh rumah tangganya. Kehadiran Maria seolah memicu sebuah lompatan dalam
silsilah, menghadirkan sesuatu yang baru dan tak terduga, yang mampu mengubah
tidak hanya harapan, tetapi juga perilaku seorang pria yang sebelumnya dapat
diprediksi.
Apa yang
didengar, diputuskan, dan dilakukan Yusuf pada hakikatnya merupakan tanggapan
terhadap Allah dan kehadiran Maria — terhadap keunikan mutlak Maria yang
melampaui segala wacana atau narasi apa pun. Di dalam diri Maria, keselamatan
menemukan tempatnya: Allah beserta kita!
Santo
Thomas juga menulis, "Nah, terkait refleksi saya yang telah saya sebutkan
tadi — mengenai mengapa tidak ada buku yang ditulis khusus tentang
peristiwa-peristiwa kehidupan Sang Perawan, sebagaimana dilakukan terhadap
peristiwa-peristiwa hidup Paulus, […] satu-satunya alasan yang terpikir oleh
saya adalah karena demikianlah kehendak Roh Kudus; atas dorongan-Nya, para
penulis Injil tidak banyak mengisahkan tentang Maria. Alasannya sederhana:
kemuliaan Sang Perawan — sebagaimana kita baca dalam Mazmur — sepenuhnya berada
di dalam batinnya (bdk. Mzm 44:14 Vulgata), sehingga lebih dapat dibayangkan
daripada dilukiskan dengan kata-kata. Selain itu, sebagai ringkasan riwayat
hidupnya, cukuplah ungkapan yang tercantum dalam gelar ini: bahwa Yesus lahir
dari dia. Apa lagi yang ingin kamu ketahui? Apa lagi yang kamu cari pada diri
Sang Perawan? Cukuplah kamu mengetahui bahwa ia adalah Bunda Allah" (Karya
Lengkap VII, 266,8).
Saudara-saudari
terkasih, kita merasa seolah-olah mengalami vertigo di hadapan misteri ini:
sungguh mustahil untuk sekadar terbiasa dengannya! Kita merayakan kelahiran
seorang gadis yang dipanggil untuk menjadi Bunda bagi Sang Penciptanya, Bunda
bagi Allah yang menyelamatkan. Namun, yang lahir hanyalah seorang gadis biasa,
sama seperti anak-anak perempuan dan cucu-cucu perempuan yang kita timang.
Dewasa ini kita menyematkan gelar-gelar mulia dan agung baginya — sebagai Bunda
dan Ratu — namun cara Allah senantiasa lebih sederhana dan hening, kendati sama
sekali tidak mengurangi kuasanya dalam membawa perubahan. Itulah jalan Yesus
sendiri, "yang sulung di antara banyak saudara" (Rm 8:29).
Maka,
seperti Maria, kita pun "ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambar
Anak-Nya" (Rm 8:29): tentu saja melalui rahmat, namun juga dengan hasrat
dan pilihan untuk mengutamakan jalan, pilihan, dan langkah-Nya ketimbang
jalan-jalan lain. Di dalam diri Yesus Kristus, Allah memilih situasi sejarah
yang paling bersahaja serta makhluk yang paling rendah hati untuk menyatakan
keunikan Kerajaan-Nya; sebuah Kerajaan di mana kesombongan tidak mendapat
tempat, dan mahakuasa berarti penciptaan, pelayanan, serta pemeliharaan
kehidupan.
Santo
Thomas dari Villanova kemudian menambahkan, "Biarkan imajinasimu
mengembara bebas, perluaslah batas-batas pemahaman, dan lukiskanlah di lubuk
jiwamu sosok perempuan muda yang paling murni, bijaksana, indah, saleh, rendah
hati, lembut, penuh rahmat, kaya akan kekudusan, dihiasi dengan segala
kebajikan, diperindah oleh segala karunia, dan sungguh berkenan di hati Allah;
agungkanlah dia semampu yang kamu bisa, bayangkanlah sebanyak yang kamu
mampu" {Karya Lengkap VII, 266,8).
Santo
Thomas mengajak kita melakukan latihan imajinasi yang luar biasa ini. Dan ia
mengamati, "Roh Kudus tidak melukiskan sosoknya dalam tulisan, melainkan
menantikanmu untuk melukiskan sosoknya di dalam batinmu" (Karya Lengkap
VII, 266,9).
Saudara-saudari
terkasih, memang demikianlah adanya: dalam doa kontemplatif, hal-hal yang tidak
disampaikan oleh dunia — namun sebenarnya sudah ada — mulai terbentuk; hal-hal
yang masih tak terlihat, namun menyimpan kekuatan jenis baru di dalamnya. Ini bukanlah
soal fantasi, melainkan soal nubuat. Kita membutuhkannya — di tengah masa
kehancuran dan ketidakpastian — untuk melihat karya Allah dan melayaninya.
Nabi
Mikha, di kota kecil Betlehem, menangkap isyarat akan bangkitnya seorang Raja
damai; berkat Dia, kita akhirnya dapat hidup tenteram di negeri ini (bdk. Mi
5:1-4). Dan hari ini, dalam doa pembuka, seraya menyapa Maria yang masih kecil,
kita memohon agar "perayaan kelahirannya menumbuhkan damai sejahtera di
dalam diri kita."
Ya,
sahabat-sahabat terkasih, kita ingin membayangkan damai sejahtera — memperluas
cakrawala pemahaman dan melukiskannya di dalam jiwa kita — untuk menyadari
bahwa damai sejahtera itu sudah ada, serta menyambut dan melayaninya. Damai
sejahtera adalah anugerah Allah, embusan napas Yesus yang bangkit, dan karya
Roh Kudus.
Biarlah
damai sejahtera tumbuh di dalam diri kita. Damai sejahtera itu akan bertunas di
dunia. Dan Bunda Penasihat yang Baik akan mendampingi kita dalam perutusan ini.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 8 September 2026)



.jpeg)