Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHA KUDUS DI PELABUHAN SANTA CRUZ, TENERIFE, SPANYOL 12 Juni 2026

Bacaan Ekaristi : Ul. 7:6-11; Mzm. 103:1-4,6-8,10; 1Yoh. 4:7-16; Mat. 11:25–30.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Berkumpul bersama pada hari ini ketika hati Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita sebagai jantung sejarah sungguh merupakan suatu berkat. Saya senang merayakan Ekaristi bersamamu, mengucap syukur atas banyaknya kesaksian iman dan kasih yang telah saya alami dalam perjalanan apostolik ini. Inilah yang menjadikan kepulauan ini, yang begitu terkenal akan keindahan dan keramahannya, sebagai tempat di mana Tuhan yang bangkit mendahului kita dan menyatakan diri-Nya kepada kita. Laut di hadapan kita membangkitkan ketakterhinggaan, demikian pula langitnya; tetapi bahkan lebih tak terbatas lagi adalah kerinduan tak terhingga yang menyatukan hati Allah dengan begitu banyak hati manusia, yang sukacita dan pengharapan, kesedihan dan kecemasannya menemukan gema di dalam hati Gereja (bdk. Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Modern Gaudium et Spes, 1). Tidak ada manusia yang merupakan sebuah pulau. Lokasi geografis keuskupan ini dan tantangan pastoral yang dihadapinya menjadi saksi bahwa kita dilahirkan untuk berjumpa dan bahwa tidak ada halangan, jarak, bahaya, atau ancaman yang dapat mencegah siapa pun untuk melakukan perjalanan ini. Entah kita menghabiskan seluruh hidup kita di satu tempat atau memilih — atau dipaksa — untuk pergi, tidak ada seorang pun yang tetap tidak berubah. Inilah rahasia hati: panggilan batin untuk eksodus dan berjumpa.

 

Namun hati Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana agar tidak tersesat dalam perjuangan yang sia-sia: “Allah telah mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1Yoh. 4:9). Hidup sejati kita terletak pada pemberian diri kita sendiri. Jika tidak, kita akan berputar-putar dalam kehampaan. Memang, “sebagaimana diingatkan oleh Konsili, manusia dipanggil untuk bersekutu dengan Allah dan ‘hanya dapat sepenuhnya menemukan jati diri mereka yang sejati dalam pemberian diri yang tulus.’ Sesungguhnya, panggilan terdalam mereka adalah memasuki dinamika kasih Allah Tritunggal yang diterima” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 48). Paus Fransiskus juga mengamati: “Banyak orang dewasa ini merasakan ketidakseimbangan yang mendalam yang mendorong mereka pada aktivitas yang hiruk pikuk dan membuat mereka merasa sibuk, selalu terburu-buru, yang pada gilirannya membuat mereka menginjak-injak segala sesuatu di sekitar mereka. Ini juga memengaruhi bagaimana mereka memperlakukan lingkungan” (Ensiklik Laudato Si’, 225). Kata-kata ini juga menantang Tenerife dalam panggilannya untuk keramahan, berbicara baik kepada hati orang-orang yang memilih untuk menghabiskan liburan mereka di sini maupun kepada hati orang-orang yang tinggal dan bekerja di pulau itu, menyambut para pengunjung dari begitu banyak negara di seluruh dunia. Apa yang dicari hati manusia? Bagaimana kita dapat menanggapi dahaganya dengan cara yang tidak munafik? Penting, terutama bagi mereka yang dibimbing oleh Injil, untuk tidak mereduksi segala sesuatu menjadi perdagangan dan keuntungan. “Pada kenyataannya, mereka yang lebih menikmati setiap momen dan menghayatinya lebih baik, adalah mereka yang berhenti untuk mematuk di sana-sini, selalu mencari apa yang tidak mereka miliki. Mereka mengalami apa artinya menghargai setiap orang, setiap perkara; belajar menjalin hubungan, dan tahu menikmati hal-hal sederhana. Kebutuhan mereka yang tak terpenuhi menjadi lebih sedikit, sehingga mereka menjadi kurang lelah dan kurang susah” (Laudato Si’, 223). Pahami panggilanmu untuk keramahan dengan cara ini, saudara-saudari terkasih.

 

Bacaan Injil hari ini tampaknya membawa tantangan ini ke titik ekstrem dan mengingatkan kita akan kekayaan orang miskin, sebuah paradoks yang menunjuk langsung pada kehidupan Yesus, kebenaran-Nya, jalan yang terus Ia minta untuk kita ikuti. Dalam perikop yang telah kita dengar, ia bersyukur kepada Bapa atas hal ini: bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya kepada orang kecil — kepada yang paling hina di antara kita, kepada mereka yang pikiran dan perkataannya diabaikan. Ia telah memperkaya mereka dengan apa yang tersembunyi dari mereka yang dikelilingi oleh kekaguman dan kesuksesan. Dengan Seruan Apostolik Dilexi Te, saya ingin memberi perhatian pada tempat istimewa orang miskin dalam Wahyu ilahi dan perutusan Gereja.

 

Misteri ini bergema secara unik di kepulauan ini, di pusat jalur migrasi yang menjadikannya tempat penyambutan awal bagi saudara-saudari yang perjalanannya umumnya terpapar bahaya dan kekerasan yang tak terbayangkan. Di hadapan mereka yang memanfaatkan keputusasaan, kita sebagai umat Kristiani dapat melakukan lebih dari sekadar meneladani Tuhan yang berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih dan berbeban berat, dan Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Anugerah terbesar adalah membiarkan diri kita diinjili oleh mereka yang kita bantu dan mengenali hikmat Allah yang misterius yang tertulis dalam daging mereka. “Tumbuh dalam situasi yang genting, belajar untuk bertahan hidup dalam kondisi yang paling buruk, percaya kepada Allah dengan keyakinan bahwa tidak seorang pun menganggap mereka serius, dan saling membantu di saat-saat yang paling gelap, kaum miskin telah belajar banyak hal yang mereka simpan tersembunyi di dalam hati mereka. Mereka di antara kita yang belum memiliki pengalaman serupa dalam menjalani hidup dengan cara ini tentu memiliki banyak hal untuk dipelajari dari sumber kebijaksanaan yaitu pengalaman kaum miskin. Hanya dengan menghubungkan keluhan kita dengan penderitaan dan kekurangan mereka, kita dapat mengalami teguran yang dapat menantang kita untuk menyederhanakan hidup kita.” (Dilexi Te, 102). Tuhan, yang menegur dan mengoreksi orang-orang yang dikasihi-Nya (bdk. Why. 3:19), ingin menjadikan hidup kita sederhana dan penuh sukacita.

 

Saudara-saudari terkasih, terima kasih atas siapa dirimu dan apa yang kamu lakukan, karena telah menjadikan pulau ini tempat perjumpaan dengan hati Kristus dalam wajah-wajah bersahabat dan penuh keramahan orang-orang dan komunitas persaudaraan. “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1Yoh. 4:16): semoga pengakuan iman ini, yang diwariskan dalam Surat Pertama Yohanes, selalu bersinar dalam dirimu dan menginspirasimu untuk berdoa dan bertindak. Perhatikanlah remaja dan kaum muda, orang kaya dan miskin, penduduk dan tamu: mereka semua perlu dipandang dengan pandangan yang melihat melampaui penampilan dan mengenali kedalaman hati mereka yang gelisah, yang tidak jarang sudah berorientasi, mungkin tanpa disadari, kepada Kerajaan Allah dan keadilan-Nya. Semoga menjadi nyata di antaramu bahwa “Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap tinggal di dalam kasih, ia tetap tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1Yoh. 4:16). Inilah inti Injil, inti Kristus. Siapa yang membenamkan diri di dalamnya, ia tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Bukalah lautan kasih ini bagi semua orang! Inilah harapan dan doa saya untukmu dan untuk semua orang yang akan mengenalmu.

 

[Kata Penutup]

 

Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya kepada Yang Mulia dan kepada masyarakat Tenerife serta para imam dan pejabat sipil mereka.

 

Saudara-saudari terkasih, perayaan Ekaristi ini menandai berakhirnya perjalanan apostolik saya di Spanyol. Saya mengucap syukur kepada Allah dan semua orang yang telah menyambut saya dan, dalam berbagai cara, telah membantu mempersiapkan dan melaksanakan berbagai acara di Madrid, Barcelona, ​​dan Montserrat, serta di sini di Kepulauan Canary.

 

Saya kembali ke Roma dengan sangat terharu oleh kasih sayang yang besar yang telah saya terima dan terhibur oleh kesaksian iman dan cinta kepada Gereja, yang merupakan bukti semangat Katolik yang mendalam di Spanyol.

 

Dari pelabuhan ini, yang menyandang nama Salib Suci, pikiran saya tertuju pada seluruh dunia dan luka-lukanya, yang menyebabkan seluruh penduduk menderita. Kepada semuanya, saya ingin menyampaikan motto perjalanan ini: “Angkatlah pandanganmu!” Ya, marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Kristus yang disalibkan; hati-Nya adalah sumber belas kasihan, yang semata dapat menyelamatkan umat manusia — yang membutuhkan pengampunan dan rekonsiliasi — sehingga dapat mencapai kedamaian sejati dan abadi. Marilah kita mengangkat pandangan kita, seperti yang dilakukan Maria, Bunda semua orang yang menderita, dan dipandu olehnya, marilah kita melanjutkan perjalanan kita dengan penuh harapan!

 

Saudara-saudari terkasih, terima kasih dari lubuk hati saya! Marilah kita tetap bersatu dalam doa dan persekutuan di dalam Kristus dan Gereja yang kudus.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Juni 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BASILIKA SAGRADA FAMÍLIA, BARCELONA, SPANYOL 10 Juni 2026

Bacaan Ekaristi : Why. 21:1-7; Mzm. 8; Yoh. 8:21-30.

 

“Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mzm. 8:1). Dengan pujian mazmur ini, yang penuh sukacita dan takjub, saya menyapa kamu semua, saudara dan saudari terkasih. Saya menyampaikan rasa syukur kepada Yang Mulia Raja dan Ratu. Saya berterima kasih kepada Juan José Kardinal Omella, Uskup Agung Barcelona, ​​serta para uskup rekan saya dan semua yang bergabung dengan kita dalam doa: para imam, diakon, dan biarawan dan biarawati. Pada malam perayaan untuk seluruh kota Barcelona ini, saya menyampaikan salam syukur kepada pemerintah, serta anggota komunitas kristiani dan agama lain yang turut serta dalam tindakan ucapan syukur kita.

 

Hari ini, Basilika Sagrada Familia menyambut kita di kota yang indah ini, membuka pintunya seolah-olah sebagai pelukannya, mengundang kita masing-masing ke altar ini, untuk mendengarkan sabda Allah, yang menjadikan kita keluarga yang dikasihi Tuhan, yang dipelihara oleh hidup-Nya sendiri dalam Ekaristi. Demikianlah, Kota Barcelona dan seluruh Katalonia berkumpul di tempat suci ini, sebagai tanda persatuan dan kerukunan, dan menengadah untuk berjumpa wajah Allah Bapa, yang bersinar dalam Putra-Nya yang menjadi manusia, Yesus Kristus.

 

Saat kita mengucap syukur kepada Tuhan atas kasih-Nya kepada kita, kita memuji-Nya karya-Nya dalam hidup kita. Kita mengucap syukur kepada-Nya khususnya untuk basilika yang luar biasa ini, yang ditahbiskan oleh Paus Benediktus XVI pada tahun 2010, mengingat bahwa itu adalah tanda yang terlihat dari Allah yang tak terlihat, yang untuk kemuliaan-Nya menara-menaranya menjulang (bdk. Homili untuk Penahbisan, 7 November 2010). Sebagai kelanjutan dari doa pendahulu saya, dalam beberapa saat lagi saya akan memberkati menara tertinggi, yaitu menara Yesus Kristus.

 

Gereja ini adalah satu bangunan tunggal yang terbuat dari banyak batu. Sebuah rumah yang tumbuh secara bertahap selama bertahun-tahun mengikuti satu rencana. Kita semua adalah batu-batu hidup dari bangunan ini, yang memiliki Kristus sebagai fondasi dan mahkota kemuliaannya, permulaan dan akhirnya. Lebih dari sekadar monumen, Basilika Sagrada Familia tetap merupakan karya yang sedang berlangsung hingga hari ini, mengingatkan kita bahwa kehidupan kristiani selalu merupakan sebuah perjalanan, karena itu adalah rencana yang sedang dikerjakan Allah.

 

Oleh karena itu, kita tidak tinggal di dalam karya yang belum selesai, tetapi di dalam sebuah bait suci yang masih dalam pembangunan. Fakta bahwa itu belum lengkap bukanlah suatu kekurangan, karena menjadi bukti adanya keinginan; bukan berarti suatu kekurangan, tetapi lebih merupakan ungkapan janji yang ingin kita hormati dengan konsisten. Rasa syukur kita dengan demikian menjadi sebuah komitmen saat kita bekerja sama dalam rencana Allah — yaitu, dalam pembangunan di mana Ia sendiri memanggil kita untuk melakukannya. Karena kita adalah bait Roh Kudus (bdk. 1Kor. 6:19), karya ini terdiri dari kehidupan kita sendiri, yang oleh Allah dianggap sebagai mahakarya yang harus kita ciptakan bersama, dan Ia memanggil kita untuk bekerja sama dengan-Nya (bdk. 1Kor. 3:9).

 

Dalam hal ini, kita sangat menghargai kata-kata yang disampaikan Tuhan kepada Raja Daud: “Benarkah engkau akan mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?” (2Sam. 7:5). Sebaliknya, “Juga diberitahukan Tuhan kepadamu: TUHAN akan membangun dinasti bagimu” (ayat 11). Dengan bagian ini, Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa bukan kita yang membuat tempat tinggal bagi Allah, seolah-olah Dia hanyalah satu hal di antara yang lain atau bagian dari keseluruhan yang lebih besar dari diri-Nya sendiri. Sebaliknya, Allahlah yang membuat tempat bagi kita, dan tempat yang Ia berikan kepada kita adalah hati-Nya sendiri: tempat Sang Putra, bagi kita yang dulunya orang asing; tempat Yang Terkasih, bagi kita yang berdosa.

 

Keinginan-Nya ini digenapi melalui Yesus; kita kemudian dapat memahami arti dari apa yang kita dengar dalam Bacaan Injil, ketika Tuhan berkata kepada orang-orang Farisi: “Jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu” (Yoh 8:24). Kata-kata yang kuat, yang sama sekali tidak dimaksudkan sebagai ancaman atau pemerasan. Undangan menuju keselamatan — yaitu, panggilan menuju kebebasan yang diberikan oleh Kristus, yang menginginkan bagi kita kebaikan tertinggi dan kekal. Ketika menghadapi ancaman kejahatan, Tuhan selalu bersama kita, selalu di pihak kita. “Akulah Dia”: inilah Nama Mahakudus yang Allah bagikan kepada Musa dari semak yang terbakar, yang mengungkapkan kesetiaan-Nya yang tak tergoyahkan. Karena Allah menjadikan manusia, Ia menjadi bagi kita Imanuel, sumber kasih karunia dan pengampunan, keselamatan dan hidup baru. Itulah sebabnya, jika kita tidak percaya kepada Yesus Kristus, kita tetap berada dalam dosa, dan kita tidak hanya mati, tetapi kita juga menyebabkan kematian sesama kita. Saudara-saudari terkasih, kita tidak dapat percaya kepada Yesus seraya mendukung perang. Kita tidak dapat percaya kepada Yesus seraya membunuh orang yang tidak bersalah bahkan sebelum lahir. Kita tidak dapat percaya kepada Yesus dan meninggalkan mereka yang menderita, menangis, melarikan diri dari kesengsaraan.

 

Malam ini, marilah kita mengingat salib Kristus, yang memahkotai Basilika ini, adalah salib orang-orang terakhir yang menjadi yang pertama, orang-orang berdosa yang menjadi orang kudus, orang-orang mati yang akan bangkit kembali. Tiga fasad Sagrada Familia menjadi saksi akan hal ini: Yang pertama menjadi yang terakhir bagi kita pada kelahiran Yesus; melalui pengurbanan-Nya, Ia menebus kita melalui sengsara-Nya; kematian-Nya memberi kita hidup kekal, menjadikan kita turut serta dalam kemuliaan ilahi. Saat kita mengagumi menara Yesus Kristus, kita menengadah kepada-Nya, kepada Dia sendiri yang mengungkapkan kepada kita kebenaran tentang Allah dan diri kita sendiri. Dengan memandang Kristus, kita dapat melihat dunia dengan mata yang diperbarui: menara salib kemudian menjadi panji kasih, karena Allah mengasihi kita dengan cara ini, mengubah sarana kematian menjadi tanda pengharapan. Dalam salib Yesus, iman kita mencapai puncaknya, sebagaimana dinyatakan dalam prasasti yang terdapat di dasar menara: “Tu solus Sanctus, Tu solus Dominus, tu solus Altissimus.” Salib ini bersinar di siang hari, memantulkan sinar matahari, dan bersinar di malam hari, menerangi kota bagaikan mercusuar yang menghadap Laut Mediterania.

 

Ya, terang Kristus bersinar dalam kegelapan, meskipun kegelapan belum menerimanya (bdk. Yoh 1:5,11). Namun penolakan ini tidak berarti bahwa kasih Allah tidak memadai: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia,” kata Tuhan, “barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku” (Yoh 8:28). Kita perlu melewati penderitaan Yesus yang tersalib untuk diterangi oleh kemuliaan Yesus yang bangkit, karena sejak awal, Bapa mengajarkan kita untuk memberikan hidup kita, dan Putra, yang menerima hidup dari-Nya, memberikannya kepada semua orang melalui kuasa Roh Kudus. Justru karena itulah salib merupakan tanda kasih-Nya yang bersinar.

 

Imanlah yang membentuk batu-batu dan memberi makna pada bangunan yang kita huni bersama. Oleh karena itu, dalam doa, kita menemukan ikatan asli antara segala sesuatu dan Allah, sang Pencipta langit dan bumi. Dialah sang Seniman yang telah menorehkan kemuliaan-Nya di atas kosmos. Diciptakan menurut gambar-Nya, umat manusia menanggapi karya Allah dengan kecerdasan mereka sendiri: inilah cara seniman mengubah talenta menjadi pujian dan kreativitas menjadi kesaksian kepada sang Pencipta sendiri. Sebagai seorang arsitek yang terinspirasi oleh iman, Antoni Gaudí yang terhormat merancang tempat ini dengan keinginan untuk menceritakan misteri kehidupan Tuhan. Dengan cara ini, ia telah menawarkan kepada kita sebuah ziarah spiritual, yang mengarah pada perjumpaan dengan Kristus yang demi kita dilahirkan, wafat, dan bangkit kembali. Bersama Gaudí, saat kita memperingati seratus tahun kematiannya, malam ini kita mengingat dan bersyukur kepada semua pendukung dan dermawan, para seniman dan pekerja yang bekerja sama dalam pembangunan mahakarya arsitektur ini, yang juga merupakan katekese yang mengesankan yang terbuat dari batu, warna, dan cahaya. Dalam kebijaksanaannya, Gereja memperbarui Biblia pauperum dari katedral-katedral kuno, yang dengan sendirinya merupakan pesan penginjilan yang kaya. Di zaman ini, di mana citra begitu dominan, semakin jelas bagaimana seni dan keindahan merupakan saluran penginjilan yang istimewa.

 

Saudara-saudari terkasih, keindahan gereja ini menginspirasi kita untuk semakin belajar dari Guru dan Tuhan kita tentang seni hidup sesuai dengan Injil-Nya. Saat kita mengarahkan pandangan kita kepada-Nya, Yesus yang disalibkan dan bangkit, marilah kita berkomitmen untuk mengangkat mereka yang terbaring dalam debu (bdk. 1Sam. 2:8). Dan marilah kita menunjukkan dengan cara ini bahwa Sagrada Familia adalah gereja tertinggi di dunia, bukan untuk menonjol dalam peringkat duniawi, tetapi untuk membimbing langkah umat Allah yang berziarah di Spanyol, dengan Salib menerangi jalan mereka, seperti lampu yang menyala terang saat kita menantikan kembalinya sang Mempelai laki-laki.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Juni 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS DI PLAZA DE CIBELES, MADRID, SPANYOL 7 Juni 2026

Bacaan Ekaristi : Ul. 8:2-3,14-16; Mzm. 147:12-15,19-20; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58.

 

Yang Terkemuka dan Yang Terhormat,

Para imam, biarawan, dan biarawati yang terkasih,

Yang Mulia Raja dan Ratu,

Saudara-saudari terkasih,

 

Ketika saya memulai kunjungan saya ke Spanyol, dengan hati yang penuh sukacita saya memimpin perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini.

 

Kita berkumpul di sekitar Ekaristi, karunia kehadiran Kristus yang hidup di antara kita. Dia yang bermaksud mempersembahkan hidup-Nya bagi kita agar kita dapat masuk ke dalam persekutuan dengan Bapa dan menjadi anak-anak-Nya, hadir di sini sebagai Roti hidup yang telah turun dari surga, untuk memberi kita makanan dengan hidup Allah sendiri, dengan kasih yang lebih kuat daripada kematian.

 

Kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam Roti Ekaristi ini berakar kuat dalam iman dan sejarah umatmu. Di Madrid, seperti di banyak bagian Spanyol lainnya, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus lebih dari sekadar perayaan lain dalam kalender liturgi. Suatu cara untuk kembali ke inti iman guna memperbarui kasih dan kesetiaan kita kepada Allah. Prosesi khidmat yang diadakan pada hari ini selama berabad-abad telah membentuk kesalehan, seni, musik, arsitektur, dan kehidupan rakyat Spanyol. Bahkan hingga hari ini, prosesi tersebut masih mengungkapkan dan mewujudkan kepekaan perasaan spiritual negara ini melalui keindahan dan keanggunan karpet bunga, altar yang didirikan di jalanan, monstrans dan alas yang dibuat dengan cermat, madah pujian, dan busana liturgi. Ini bukanlah pameran, remah-remah cerita rakyat, atau sekadar pertunjukan keindahan. Sebuah pengakuan iman di hadapan Tuhan yang telah bangkit, yang hidup dan terus berjalan di antara kita, yang menjadi roti untuk memuaskan rasa lapar kita akan hidup, dan mengunjungi relung hati dan sejarah kita, bahkan yang diselimuti kegelapan.

 

Sebagaimana Kristus memberikan diri-Nya sebagai santapan dalam perayaan Ekaristi, prosesi ini menunjukkan bahwa Ia tidak terbatas pada gereja, tetapi keluar untuk menemui kita. Yesus berjalan di jalan-jalan, melintasi alun-alun, dan mengunjungi lingkungan kita, berdiam di tengah kehidupan kita sehari-hari. Ia adalah Allah yang dekat dengan kita, yang berjalan bersama umat-Nya, Tuhan sejarah. Ia adalah penghibur bagi yang lemah, terang bagi keluarga, pengharapan bagi yang sakit, dan damai sejahtera bagi mereka yang menderita. Kristus yang diarak melalui jalan-jalan dalam monstrans adalah Kristus yang sama yang mengidentifikasi diri dengan orang miskin, yang tertindas, mereka yang sendirian dan terlantar. Bukan suatu kebetulan bahwa Gereja di Spanyol telah lama menggabungkan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dengan Hari Amal.

 

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus bukan sekadar soal membawa monstrans, tetapi juga soal membiarkan diri kita keluar dari keegoisan dan ketidakpedulian, dari iman yang nyaman dan bersifat pribadi, sehingga kita dapat menanggapi undangan-Nya untuk bertobat, mengubah sudut pandang kita, dan menyambut kehadiran-Nya yang mengubah rupa diri kita dan menjadikan kita pembangun sebuah dunia baru.

 

Oleh karena itu, ingatan sejarah tentang prosesi Tubuh dan Darah Kristus tidak terbatas pada nostalgia yang penuh kerinduan. Sebaliknya, itu berdiri sebagai undangan di saat ini, dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam hubungan kita, dalam masyarakat, dan dalam membangun masa depan. Dalam konteks inilah kita harus memahami undangan untuk "mengingat" yang kita dengar dalam bacaan pertama: "Ingatlah akan seluruh perjalanan yang kaulakukan atas pimpinan TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini" (Ul. 8:2); ingatlah bagaimana Ia memberi makan kamu dengan manna ketika kamu lapar. Kita harus "mengingat" justru agar tidak melupakan siapa Tuhan, agar tidak jatuh ke dalam godaan untuk mempercayai berhala-berhala lain dan makan roti yang tidak memuaskan.

 

Inilah tugas Spanyol saat ini dan di masa depan: memastikan bahwa keagamaan yang telah membentuk dan mendefinisikan negara ini selama berabad-abad bukanlah museum masa lalu yang hanya dikunjungi, tetapi sekolah iman yang dapat kita ambil pelajarannya hingga saat ini: Sekolah yang mengajarkan kita untuk berlutut di hadapan Tuhan dan sesama, karena tidak seorang pun dapat berlutut di hadapan Tuhan seraya menghina saudaranya; Sekolah yang mengajarkan kita tentang rasa syukur akan kasih yang menjadi anugerah, sehingga dapat mengalir di antara kita dan memutus rantai segala keegoisan; Sekolah tempat kita belajar bahwa Allah adalah kehadiran yang nyata dan bahwa kita pun dipanggil untuk hadir dalam kenyataan dan tantangan masyarakat, tidak menghindar, tetapi secara pribadi berkomitmen untuk membangun kebaikan bersama.

 

Saudara-saudari, saya ingin mengingat Santo Manuel González, uskup tabernakel yang ditelantarkan. Kehidupannya mengingatkan kita bahwa Ekaristi harus dihormati bukan hanya selama perayaan besar atau pada kesempatan khusus, tetapi juga melalui kesetiaan yang hening dari mereka yang menyertai Tuhan dengan persahabatan yang rendah hati dan tenang yang dipelihara hari demi hari. Saya juga ingin mengingat kembali bait-bait puisi Santo Yohanes dari Salib: “Karena aku mengenal dengan baik mata air yang mengalir dan terus mengalir, meskipun malam tiba” (Nyanyian Jiwa yang Bersukacita dalam Mengenal Allah melalui Iman). Saat dipenjara dalam kondisi tak bersahabat di penjara biara Toledo, tepat sekitar saat Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada tahun 1578, ia mengenali kehadiran Tuhan yang tersembunyi dalam kegelapan selnya, suatu kehadiran yang memancarkan cahaya yang tidak pernah pudar dan mengalirkan kehidupan yang tidak pernah berkurang. Yesus Ekaristi adalah “mata air abadi yang tersembunyi” — mata air yang mengalir dan memuaskan dahaga, namun tanpa membutakan, tanpa memaksakan diri melalui kekuatan lahiriah, tanpa menampilkan diri secara spektakuler (bdk. idem).

 

Marilah kita kembali kepada-Nya dengan kasih yang tulus. Marilah kita membuka diri untuk berjumpa Dia, marilah kita membiarkan Dia memuaskan dahaga hati kita, sehingga kita dapat melangkah maju di jalan kehidupan dan sejarah, membawa kepada orang-orang aliran air segar ini, aliran kasih, damai, keadilan, dan sukacita. Marilah kita minum kembali dari mata air Ekaristi ini, yang tidak mengurung kita dalam devosi pribadi, tetapi mengutus kita untuk menyegarkan saudara-saudari kita, keluarga kita, kaum miskin, yang menderita, dan mereka yang telah kehilangan pengharapan. Rahmat Ekaristi mengubah rupa diri kita dan menjadikan kita pelaku utama perubahan rupa sejarah, tanda pengharapan bagi mereka yang kita temui.

 

Semoga Tuhan Yesus, yang hadir dalam Ekaristi, mengubah rupa dirimu menjadi roti yang dipecah-pecahkan, diberikan, dan dipersembahkan, sehingga kehidupan yang penuh dapat tumbuh bagimu, keluargamu, dan negaramu.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Juni 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA PENTAKOSTA 24 Mei 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:1-11; Mzm. 104:1ab,24ac,29c-30,31,34; 1Kor. 12:3b-7,12-13; Yoh. 20:19-23.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Masa Paskah mencapai puncaknya hari ini pada Hari Raya Pentakosta. Untuk menyoroti kesinambungan peristiwa penyelamatan ini, Bacaan Injil membawa kita kembali ke “hari pertama minggu” (Yoh 20:19), yaitu, hari baru di mana Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepada para murid, memperlihatkan “tangan dan lambung-Nya” kepada mereka (ayat 20). Tuhan mengungkapkan tubuh-Nya yang mulia, khususnya luka-luka-Nya, tanda-tanda penyaliban. Tanda-tanda sengsara ini, yang lebih bermakna daripada kata-kata, kini diubah rupa; Dia yang telah mati hidup selama-lamanya.

 

Setelah melihat Tuhan, para murid pun dipulihkan kembali ke kehidupan. Mereka telah mengurung diri di Ruang Atas, diliputi rasa takut, tetapi Yesus datang dan berdiri di antara mereka, meskipun pintu-pintu tertutup, dan memenuhi mereka dengan sukacita. Ia melewati “kematian” kita, membuka kubur dan membukanya lebar-lebar ketika tidak ada jalan keluar bagi kita. Kristus menyertai tindakan-Nya dengan kata-kata: “Damai sejahtera bagi kamu” (ayat 19); dan segera setelah itu, Ia mengembusi Roh Kudus atas para murid. Yesus yang telah bangkit adalah kepenuhan kehidupan. Setelah membuktikan bahwa Ia telah dipulihkan kembali ke kehidupan sebagai manusia sejati, Ia menganugerahkan kehidupan Allah sebagai Putra Bapa yang terkasih yang telah menjadi, demi kita, saudara dan Penebus kita. Juga di Ruang Atas tempat Ia menetapkan perjanjian baru dan kekal, Yesus mencurahkan Roh Kudus. Tempat Perjamuan Terakhir dan pengkhianatan diubah rupa; bagi seluruh Gereja kubur para Rasul menjadi rahim kebangkitan. Oleh karena itu, Pentakosta adalah perayaan Paskah dan perayaan tubuh Kristus, yang berkat rahmat adalah kita semua.

 

Dalam merayakan misteri ini, saya ingin berfokus pada tiga aspek.

 

Pertama, Roh Yesus yang bangkit adalah Roh damai sejahtera. Sesungguhnya, melalui misteri Paskah-Nya, Kristus memulihkan damai sejahtera antara Allah dan umat manusia, dan Roh Kudus mencurahkan damai sejahtera ini ke dalam hati kita dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Damai sejahtera ini berasal dari pengampunan dan menuntun kita kepada pengampunan. Damai sejahtera ini dimulai dengan pengampunan yang diberikan oleh Yesus sendiri, yang telah kita khianati, hukum, dan salibkan. Mengejutkan kita dengan kasih-Nya, Yesus yang bangkit mengatakan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni” (Yoh 20:23). Dengan kata-kata ini, Yesus melibatkan kita dalam karya ilahi, karena hanya Allah yang dapat mengampuni dosa (bdk. Mrk 2:7). Otoritas ini diberikan sebagai tanda rekonsiliasi universal: Tuhan mencurahkan Roh damai sejahtera-Nya dari satu ujung sejarah ke ujung lainnya, karena Ia yang telah menebus semua orang dari kematian tidak mengecualikan siapa pun. Sesungguhnya, Roh Kudus adalah Tuhan dan pemberi kehidupan sejak awal penciptaan, ketika Ia melayang-layang di atas permukaan air (bdk. Kej 1:2); dan sekarang, dengan memperbarui ciptaan, Ia mengubah rupa sejarah dunia. Pentakosta benar-benar tampak sebagai perayaan Perjanjian Baru, Perjanjian antara Allah dan semua bangsa di dunia. Sementara suara gemuruh dari atas, angin keras dan lidah api di Ruang Atas mengingatkan kita pada tanda-tanda kuno di Sinai (bdk. Kis 2:2-3; Kel 19:16-19), hukum Allah yang kudus tertulis di dalam hati kita, diukir oleh Roh dengan huruf kasih dalam daging Kristus dan tubuh-Nya, yaitu Gereja.

 

Hukum ini adalah peraturan damai sejahtera: Perintah kasih ganda yang diingatkan Roh Kudus kepada kita oleh setiap degup hati. Dengan hati kita, kita dapat berdoa “Veni Sancte Spiritus,” karena Ia telah diberikan kepada kita. Kita dapat merindukan-Nya, karena Ia telah dijanjikan kepada kita. Kita dapat menyambut-Nya, karena Ia sendiri adalah tamu yang manis bagi jiwa.

 

Kedua, Roh Yesus yang bangkit adalah Roh perutusan: “Sama seperti Bapa telah mengutus Aku,” kata Tuhan, “sekarang Aku juga mengutus kamu” (Yoh 20:21). Oleh karena itu, kita ditarik ke dalam perutusan Yesus, perutusan dari Dia yang berasal dari Allah dan kembali kepada Allah melalui kuasa Roh Kudus — yang pada gilirannya berasal dari Bapa dan Putra, dan disembah serta dimuliakan bersama mereka sebagai satu Allah. Roh Kudus adalah kasih Kristus yang hidup yang memenuhi, mendorong, dan menopang kita dalam perutusan kita (bdk. 2 Kor 5:14). Seraya menganugerahkan kuasa untuk berkhotbah kepada para Rasul (bdk. Kis. 2:4), Roh yang sama mengajarkan sabda keselamatan kepada umat manusia. Sekarang setelah para Rasul menerima nafas Yesus yang bangkit di dalam diri mereka, pemberitaan ini mengalir dari bibir mereka, disampaikan melalui suara Petrus dan orang-orang yang bersamanya. Pada hari Pentakosta itu sendiri, para Rasul mulai memberitakan Yesus, yang disalibkan dan bangkit. Dengan kata lain, “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kis. 2:11) dirangkum dalam penebusan, yang dimulai dengan iman. Sesungguhnya, karya pertama Roh Kudus dalam diri kita adalah iman yang dengannya kita mengakui: “Yesus adalah Tuhan!” (1Kor. 12:3). Iman ini hidup dan diungkapkan dalam setiap perbuatan baik, dalam setiap tindakan belas kasihan dan kebajikan. Oleh karena itu, karya Allah adalah kita masing-masing, yang hari ini datang ke sini dari seluruh penjuru dunia, diundang ke meja Tuhan, berkumpul untuk mendengarkan sabda-Nya dan dipanggil untuk memberi kesaksian tentangnya di mana pun juga.

 

Saudara-saudari terkasih, kita sungguh rekan kerja Injil: seluruh Gereja adalah tokoh utamanya, bukan sekadar penjaganya. Melalui kuasa Roh Kudus, pewartaan kita dipenuhi dengan sukacita dan pengharapan, karena kita — ya, kita sendiri — adalah kebaruan dunia, terang dan garam dunia (bdk. Mat 5:13-14). Tentu bukan karena jasa atau hak istimewa kita sendiri, tetapi karena sabda Tuhan, yang menguduskan orang berdosa, menyembuhkan penderita kusta, dan mengubah rupa orang yang menyangkal-Nya menjadi rasul. Sebagaimana dapat kita lihat dengan jelas, ada perubahan yang tidak membawa kehidupan baru bagi dunia, tetapi membuatnya menua melalui kesalahan dan kekerasan. Namun demikian, Roh Kudus menerangi pikiran dan menanamkan vitalitas baru di dalam hati kita. Beginilah cara Ia mengubah rupa sejarah, membukanya kepada keselamatan, yang merupakan anugerah yang ditawarkan Tuhan kepada setiap orang. Perutusan Gereja menjadi saksi atas tawaran ini, sehingga mengubah rupa kesimpangsiuran dunia menjadi persekutuan dengan Allah dan di antara kita.

 

Perutusan ini dimulai dengan mewartakan kebenaran tentang Allah dan manusia, karena Roh Yesus yang bangkit adalah “Roh Kebenaran” (Yoh 14:17), yang dijanjikan Tuhan sendiri kepada kita, memohon persatuan Gereja-Nya — persatuan yang didasarkan pada kasih Allah, sumber kasih kita. Roh Kudus, yang telah berbicara melalui para nabi, selalu mendorong persatuan dalam kebenaran, karena Ia menanamkan dalam diri kita pemahaman, kerukunan, dan keselarasan hidup. Santo Agustinus mengajarkan, “Roh Kudus menghendaki agar ini menjadi tanda kehadiran-Nya” (Diskursus 269, 1): Karunia berbahasa lidah yang dipahami dalam satu iman. Sang Penghibur melindungi kita dari segala sesuatu yang menghalangi pemahaman ini, termasuk keberpihakan, kemunafikan, dan kecenderungan yang mengaburkan terang Injil. Kebenaran yang diberikan Allah kepada kita dengan demikian menjadi sabda yang membebaskan bagi semua bangsa, sebuah pesan yang mengubah rupa setiap budaya dari dalam.

 

Ketiga, sesungguhnya, Roh Yesus yang bangkit tidak dicurahkan sekali untuk selamanya, tetapi terus-menerus. Sama seperti Ekaristi adalah kehadiran Kristus yang hidup, yang terus-menerus memberi kita santapan rohani, demikian pula Roh Kudus menanamkan karakter-Nya dalam diri kita dalam sakramen baptis, yang menjadikan kita umat Kristiani, dalam sakramen krisma, yang meneguhkan kita sebagai saksi; dan dalam sakramen imamat, yang menjadikan kita pelayan dan gembala bagi umat Allah. Dalam setiap sakramen, Ia adalah dator munerum, sumber kekudusan yang melipatgandakan karunia dan karisma melalui doa, karya belas kasih, dan mempelajari sabda Allah. Rasul Paulus mengajarkan, “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor. 12:7). Justru karena alasan inilah kita adalah Gereja, satu tubuh yang hidup di dalam Allah dan melayani dunia. Berkat Roh Kudus, kita dapat membawa damai sejahtera sejati kepada semua orang, kebenaran yang menyelamatkan — Kristus Tuhan kita yang sama.

 

Sahabat-sahabat terkasih, dengan hati yang berkobar-kobar, hari ini marilah kita berdoa agar Roh Yesus yang bangkit menyelamatkan kita dari kejahatan perang, yang diatasi bukan oleh adikekuatan, tetapi oleh kemahakuasaan kasih. Marilah kita berdoa agar Ia membebaskan umat manusia dari penderitaan, yang ditebus bukan oleh kekayaan yang tak terukur, tetapi oleh karunia yang tak habis-habisnya. Marilah kita berdoa agar Ia menyembuhkan kita dari cambuk dosa melalui keselamatan yang diberitakan kepada semua bangsa dalam nama Yesus. Inilah rahmat yang menanamkan keberanian pada para Rasul; semoga Ia juga menanamkannya pada kita, hari ini dan selalu, melalui perantaraan Maria, Bunda Gereja.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 24 Mei 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA REQUIEM EMIL PAUL KARDINAL TSCHERRIG DI BASILIKA SANTO PETRUS VATIKAN 15 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Berkumpul di sekeliling altar, marilah kita menemani saudara kita Paul Emil Tscherrig, Kardinal, saat ia menghadap Tuhan untuk menerima ganjaran atas kebaikan yang telah dilakukannya dalam hidup ini dan pengampunan atas kesalahan yang mungkin disebabkan oleh kelemahan manusiawinya.

 

Inilah momen agung dan khidmat perjumpaannya dengan Tuhan, yang dilayaninya dengan begitu murah hati, dengan Sang Sahabat yang selalu di sisinya ia berjalan dengan setia sepanjang hidupnya, yang lebih dari separuhnya dihabiskan dalam pelayanan Takhta Apostolik di berbagai perwakilan kepausan dan Sekretariat Negara.

 

Melalui karyanya – yang seringkali tidak mencolok, meski berat tetap tekun, kekhasan pelayanan yang dijalaninya – ia berkontribusi pada pertumbuhan Kerajaan Allah yang perwujudannya secara penuh telah dijelaskan kepada kita dalam Bacaan pertama: Kerajaan di mana lautan kekacauan tidak ada lagi, dan sebagai gantinya Yerusalem baru bersinar, dibangun di atas fondasi para Rasul, diterangi oleh terang Sang Anak Domba dan dihiasi oleh jasa-jasa para kudus.

 

Komitmennya sebagai seorang diplomat, dan sebelumnya sebagai gembala Gereja, membuat saudara kita ini bekerja selama bertahun-tahun, dengan sabar dan penuh pengorbanan, untuk menyatukan dalam kerukunan bangsa-bangsa yang telah dipercayakan ketaatan kepadanya (bdk. Mzm 121), seraya menghadapi rintangan dan tantangan yang harus dihadapi oleh seorang perwakilan kepausan demi kebaikan semua. Ia menjalankan misinya pertama-tama sebagai kolaborator di berbagai nunsiatur, hingga pengangkatannya, pada tahun 1996, sebagai nunsio apostolik di Burundi; kemudian di Trinidad dan Tobago dan di berbagai negara Karibia, Korea Selatan dan Mongolia; selanjutnya di Swedia, Denmark, Finlandia, Islandia dan Norwegia; Kemudian di Argentina, sebelum mencapai Italia dan San Marino pada tahun 2017. Pengalaman gerejawi dan internasionalnya yang luas menjadi bukti kesediaan dan kemampuannya untuk beradaptasi, dalam kasihnya sebagai seorang gembala, dengan beraneka ragam lingkungan: berbagai tempat dan bangsa di mana ia diutus, atas nama Bapa Suci, untuk menjalin ikatan persekutuan antara Gereja-gereja lokal dan Takhta Apostolik, serta untuk memperkuat ikatan persahabatan.

 

Kini Kardinal Paul Emil akan bertemu dengan Tuhannya, Alfa dan Omega, awal dan akhir keberadaannya (bdk. Why. 21:6). Kita menemaninya dalam perjalanan misterius ini, yang diterangi oleh misteri Paskah, mempersembahkan baginya kurban Ekaristi dan doa-doa kita; dan kita ingin menjadikan momen ini juga sebagai kesempatan untuk refleksi dan dorongan, untuk menghargai kebaikan yang telah ia berikan, dengan rahmat Allah, seorang penyalur, dengan iman dan pengabdian.

 

Paus Fransiskus – yang pernah ditemui Kardinal Tscherrig ketika Paus masih menjadi Uskup Agung Buenos Aires – dalam pidatonya kepada Korps Diplomatik mengajak mereka untuk membiarkan pengharapan tumbuh subur di sekitar mereka, sebagai tanggapan atas keinginan dan harapan rakyat akan kebaikan (Pidato kepada Korps Diplomatik, 9 Januari 2025). Sebuah ajakan yang juga dapat kita terima hari ini, mempraktikkannya di mana pun kita dipanggil untuk melayani dan mengasihi saudara-saudari kita. Dunia kita sangat membutuhkan para pembawa pesan yang dapat membantunya menemukan kembali kepercayaan, dan kesaksian yang baik dari mereka yang telah dipilih Allah sebagai pelayan-Nya dapat menopang kita dalam menanggapi panggilan ini.

 

Namun demikian, pada saat yang sama, dihadapkan pada misteri kematian, kita juga ingin mengingatkan bahwa, di luar perubahan-perubahan dunia ini, demi kebaikan yang merupakan panggilan kita untuk mengabdikan diri dalam hidup ini, dasar utama dari semua pengharapan kita terletak di luar sejarah dan berakar pada kebangkitan Kristus, dalam kemenangan-Nya yang mulia atas dosa dan kematian.

 

Bacaan Injil mengingatkan kita bagaimana Yesus, tak lama setelah sengsara-Nya, menubuatkan misteri itu dengan menghidupkan kembali sahabat-Nya, Lazarus; pembebasan diri-Nya dari kubur adalah tanda yang harus dilihat dengan iman, sehingga kita dapat memahami pesannya yang mendalam. Sebuah tanda yang dapat kita temukan dalam banyak mukjizat kebangkitan kembali yang dihasilkan oleh kasih, juga melalui pelayanan kita dan komitmen kita sehari-hari terhadap Injil. Namun, semua ini berbicara kepada kita tentang mukjizat terbesar: yaitu kebangkitan menuju kehidupan kekal, yang memahkotai setiap usaha dan karya kehidupan ini dan menggenapi peristiwa-peristiwanya di luar batas waktu.

 

Ini juga mengingatkan kita akan dimensi penting perutusan Gereja, yang mencakup dan menerangi setiap tingkat aktivitas duniawinya. Karena Gereja bekerja dalam waktu, namun tujuan dari karyanya terletak di luar kenyataan dunia ini, bertujuan untuk “mempersatukan di dalam Kristus segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi” (Ef 1:10), dan “penebusan yang menjadikan kita milik Allah” (ayat 14).

 

Dalam terang yang agung inilah kita mengucapkan selamat tinggal kepada Kardinal terkasih kita, Paul Emil Tscherrig, sementara di dalam hati kita merasakan kata-kata yang diucapkan Yesus kepada Marta ditujukan kepada kita: “Saudaramu akan bangkit” (Yoh 11:23), “Akulah kebangkitan dan hidup” (ayat 25). Kita mendengarkannya bersama dengan kata-kata yang dipilih sendiri oleh sang Kardinal, tiga puluh tahun yang lalu, sebagai mottonya pada kesempatan penahbisannya sebagai Uskup: “Spes mea Christus” (Kristus adalah pengharapanku). Kristus, Tuhan kita, adalah pengharapannya sepanjang hidupnya: pengharapan yang tidak pernah mengecewakannya, karena berakar pada kasih yang dicurahkan Allah ke dalam hatinya oleh Roh Kudus (bdk. Rm. 5:5) dan yang kini telah terpenuhi untuk selama-lamanya.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Mei 2026)