Bacaan
Ekaristi : Ul. 7:6-11; Mzm. 103:1-4,6-8,10; 1Yoh. 4:7-16; Mat. 11:25–30.
Saudara-saudari
terkasih, setelah pertemuan dan berbagi seharian penuh, saat saya merayakan
Ekaristi ini bersamamu, pertama-tama saya ingin mengucap syukur kepada Allah
atas kebaikan besar yang terlaksana di sini setiap hari, mempercayakan
kepada-Nya komitmen semua orang dan, pada saat yang sama, penderitaan yang
menjadi saksi negeri ini. Saya juga mengajakmu untuk berdoa bersama, dalam Misa
Kudus ini, untuk jiwa-jiwa saudara-saudari kita yang telah kehilangan nyawa di
laut.
Kita akan
meletakkan semua ini di atas altar bersama roti dan anggur, saat kita merayakan
Vigili Hari Raya Hati Yesus yang Maha Kudus, yang disembah oleh seluruh
Spanyol. Marilah kita memohon kepada Allah agar pada saat ini perasaan
kemanusiaan, belas kasihan, dan kasih sayang hati Sang Juru Selamat juga dapat
hidup di dalam diri kita.
Marilah
kita menggunakan bacaan-bacaan yang baru saja kita dengar untuk membantu
permenungan kita.
Dalam
Bacaan Pertama, Tuhan mengingatkan bangsa Israel akan kemurahan hati-Nya dalam
mengasihi mereka. Ia memilih mereka bukan karena mereka memiliki hak istimewa,
karunia, atau jasa khusus, tetapi karena kasih semata (lihat Ul. 7:7-9), dan Ia
akan terus mengasihi mereka selalu, bahkan ketika, karena hati mereka yang
keras, mereka tidak membalas perasaan-Nya.
Inilah
kasih Allah, akar panggilan kita untuk mengasihi: bukan berdasarkan
perhitungan, bukan pula sentimen semata, bukan pula filantropi belaka, tetapi
meresap ke seluruh keberadaan kita: api bagi jiwa, cahaya bagi pikiran,
dorongan yang tak tertahankan menuju kebebasan, kedamaian dan, pada saat yang
sama, siksaan bagi hati, yang berdenyut selaras dengan hati-hati lain,
melibatkan seluruh pribadi. Karena mengasihi adalah bawaan manusia;
sesungguhnya, mengasihi adalah syarat kepenuhan dalam keberadaannya sendiri.
Beginilah
kasih tampak bagi kita dalam kemanusiaan Sang Juruselamat dan dalam gerakan
hati kudus-Nya: tak berubah dan setia bahkan di hadapan kesalahpahaman dan
penolakan, ketakutan, kesedihan, dan perlawanan manusia (lihat Luk. 22:39-46).
Dan dalam
wajah Tuhan ini, yang selalu "dalam kasih," yang sepenuhnya dan
terus-menerus menginginkan kebaikan dan kebahagiaan kita sepenuhnya, kita
mengenali jalan hidup, mempelajari cara baru untuk hidup dan berhubungan, tolok
ukur yang berbeda untuk mengevaluasi pilihan, pembaharuan dan regenerasi gaya
persekutuan. Paus Fransiskus, berbicara tentang kasih Kristus, mengatakan bahwa
"tanggapan terbaik kita terhadap kasih Hati Kristus adalah mengasihi
saudara-saudari kita" (Ensiklik Dilexit Nos, 167, 24 Oktober 2024, 167),
menambahkan, "Tidak ada tindakan lain yang lebih besar bagi kita untuk
membalas kasih untuk kasih" (Ensiklik Dilexit Nos, 167). "Membalas
kasih untuk kasih": inilah pertukaran yang menakjubkan, "admirabile
commercium" (bdk. Vespers Pertama Hari Raya Santa Perawan Maria, Bunda
Allah, Antifon Pembuka) di mana Bacaan Injil mengajak kita untuk terlibat,
menerjemahkan ukuran kasih Allah yang tak terbatas ke dalam kemurahan hati yang
dengannya kita melayani Dia setiap hari, dalam diri saudara-saudari yang Ia
sendiri tempatkan di jalan kita, terutama mereka yang paling membutuhkan, tak
berdaya, dan tak mampu membalas (bdk. Luk. 6:32-36). Sama seperti yang terjadi
di pulau ini, dalam penyambutan, berbagi, pemberian tanpa pamrih.
Namun,
kemurahan Hati Kristus tidak berhenti di situ. Ia melangkah lebih jauh,
berkomitmen untuk membantu setiap orang tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga
mendapatkan kembali kepercayaan diri dan melanjutkan perjalanan, untuk tumbuh
dan berkembang sepenuhnya dalam keunikan mereka, demi kebaikan semua. Dalam hal
ini, Paus Benediktus XVI menulis bahwa amal kasih "yang dipersaksikan
Yesus Kristus melalui kehidupan duniawi-Nya [...] adalah kekuatan pendorong
utama bagi perkembangan otentik setiap orang dan umat manusia secara
keseluruhan" (Ensiklik Caritas in Veritate, 29 Juni 2009, 1).
Dalam
Bacaan Kedua, Santo Yohanes mengingatkan kita bahwa "Allah telah mengutus
Putra-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya" (1Yoh.
4:9). Kata-katanya mengingatkan kita pada kata-kata Yesus, yang berkata bahwa
Ia datang supaya kita memperoleh hidup, dan mempunyainya dengan
berlimpah-limpah (bdk. Yoh. 10:10), dan yang memerintahkan orang lumpuh yang
disembuhkan: "Bangunlah, angkatlah tikarmu, dan berjalanlah" (Mrk
2:9). Dalam kata-kata ini, kita menyadari ajakan untuk merangkul mereka yang
menderita dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu, tetapi pada saat yang
sama mempersiapkan dan mendorong mereka yang telah terluka untuk bangkit dan
kembali ke jalan yang benar, menuju kehidupan yang bebas dan bermartabat.
Sesungguhnya,
amal kasih kita tidak boleh hanya sekadar kesejahteraan, tetapi bertujuan untuk
mengintegrasikan orang-orang, demi penggenapan penuh mereka — secara rohani,
intelektual, dan fisik — dan penyertaan mereka yang bermartabat dan membangun
dalam masyarakat (bdk. Ensiklik Fratelli Tutti, 3 Oktober 2020, 129). Hanya
dengan cara inilah perjumpaan kita, bahkan di tengah peristiwa yang sulit dan
menyakitkan, dapat menjadi kesempatan untuk menabur benih pengharapan dalam
perjalanan umat manusia menuju masa depan yang lebih baik.
Namun,
saya ingin merefleksikan, dalam terang sabda Allah yang telah kita dengar, satu
ciri terakhir dari Hati Kristus: kerendahan hati (bdk. Mat 11:29). Hati Yesus
rendah hati, dan karena itu denyutnya tidak dirasakan oleh orang
"pandai" dan "bijak" — yaitu, orang-orang yang menganggap
diri mereka cukup, mengetahui segala sesuatu, dan tidak membutuhkan Allah atau
orang lain. Sesungguhnya, orang-orang ini, yang terpukau oleh gema
"aku" yang berlebihan, hadir di mana-mana, dan gelisah, tiada
keheningan yang diperlukan untuk mendengar denyut nadi cinta yang tersembunyi
di dalam diri mereka dan saudara-saudari mereka.
"Tak
jarang, kemakmuran kita dapat membutakan kita terhadap kebutuhan orang lain,
dan bahkan membuat kita berpikir bahwa kebahagiaan dan kepuasan kita bergantung
pada diri kita sendiri, terlepas dari orang lain." (Seruan Apostolik
Dilexi Te, 4 Oktober 2025, 108). Yesus justru mengajarkan kita bahwa untuk
mengalami sukacita sejati dalam hidup, yang ditemukan dalam kasih, kita harus
turun dari singgasana kesombongan yang memecah belah dan bertemu satu sama lain
dalam kerendahan hati yang mempersatukan kita.
Santo
Agustinus berkata: "Di mana ada kasih, di situ ada damai sejahtera, dan di
mana ada kerendahan hati, di situ ada kasih" (In Epistolam Joannis ad
Parthos, prolog). Tepat sekali. Di mana ada kerendahan hati yang sejati, di
situ ada kasih, dan di mana ada kasih, di situ ada damai sejahtera, karena
hanya dalam kerendahan hati kita benar-benar tahu siapa diri kita dan karena
itu dapat saling mengasihi, saling bertemu, saling memberi, dan saling
mengampuni dalam kebenaran.
Saudara-saudari
terkasih, hari ini kita menyembah Hati Kudus Yesus, yang sering kita gambarkan
dimahkotai duri dan menyala dengan api, menurut penglihatan Santa Margareta
Maria Alacoque. Marilah kita ingat bahwa kita adalah kehadiran Allah yang hidup
di dunia (bdk. Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, 16
November 1964, 8). Karena itu, marilah kita saling memandang, bukan hanya pada
hari ini tetapi selalu, dengan hormat dan percaya, dan marilah kita
memperbarui, dalam kesadaran ini, komitmen kita untuk melengkapi dalam diri
kita, dalam kasih, apa yang kurang dalam penderitaan Kristus, demi kebaikan
Gereja (bdk. Kolose 1:24). Dikobarkan oleh kasih Hati-Nya, marilah kita menjadi
pembawa rahmat dan damai-Nya, sehingga peperangan di dunia dapat berhenti dan
kemanusiaan baru, yang diperdamaikan dalam kasih, dapat tumbuh di sekitar kita.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 12 Juni 2026)


.jpeg)
.jpeg)