Bacaan
Ekaristi : Kis 5:34-42; Mzm 27:1.4.13-14; Yoh 6:1-15.
Saudara-saudari
terkasih,
Bacaan
Injil yang telah kita dengar (Yoh 6:1-15) adalah sabda keselamatan bagi seluruh
umat manusia. Kabar Baik ini diberitakan di seluruh dunia saat ini; bagi Gereja
di Kamerun, kabar ini bergema sebagai pemberitaan ilahi tentang kasih Allah dan
persekutuan kita.
Rasul
Yohanes menggambarkan kerumunan orang banyak (bdk. ayat 2-5), seperti kita
sekarang. Namun, bagi semua orang itu, hanya ada sedikit makanan: hanya “lima
roti jelai dan dua ikan” (ayat 9). Melihat ketimpangan ini, Yesus bertanya
kepada kita hari ini, seperti yang Ia tanyakan kepada murid-murid-Nya saat itu:
bagaimana kamu dapat menyelesaikan masalah ini? Lihatlah semua orang yang lapar
ini, yang terbebani oleh kelelahan. Apa yang akan kamu lakukan?
Pertanyaan
ini diajukan kepada kita masing-masing. Pertanyaan ini diajukan kepada para
ayah dan ibu yang merawat keluarga mereka. Pertanyaan ini ditujukan kepada para
gembala Gereja, yang menjaga kawanan domba Tuhan, dan juga kepada mereka yang
memikul tanggung jawab sosial dan politik bagi rakyat dan mengupayakan
kesejahteraan mereka. Kristus mengajukan pertanyaan ini kepada orang yang
berkuasa dan orang yang lemah, kepada orang kaya dan orang miskin, kepada orang
muda dan orang tua, karena kita semua lapar dengan cara yang sama. Kebutuhan
kita mengingatkan kita bahwa kita adalah makhluk ciptaan. Kita perlu makan
untuk hidup. Kita bukan Allah: tetapi di manakah Allah di hadapan kelaparan
manusia?
Seraya
menunggu jawaban kita, Yesus sendiri menjawabnya : “Yesus mengambil roti itu,
mengucap syukur, dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ,
demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka
kehendaki” (ayat 11). Masalah serius diselesaikan dengan memberkati sedikit
makanan yang ada dan membagi-bagikannya kepada semua orang yang lapar.
Penggandaan roti dan ikan terjadi saat berbagi: itulah mukjizat! Ada roti untuk
semua orang jika diberikan kepada semua orang. Ada roti untuk semua orang jika
diambil, bukan dengan tangan yang merampas, tetapi dengan tangan yang memberi.
Marilah kita perhatikan dengan saksama tindakan Yesus: ketika Putra Allah
mengambil roti dan ikan, Ia terlebih dahulu mengucap syukur. Ia bersyukur kepada
Bapa atas apa yang akan menjadi anugerah dan berkat bagi semua orang.
Dengan
cara ini, makanan menjadi berlimpah. Makanan tidak dijatah berdasarkan
kebutuhan. Makanan tidak dicuri dalam perselisihan. Makanan tidak disia-siakan
oleh mereka yang melahap makanan di hadapan orang-orang yang tidak memiliki apa
pun untuk dimakan. Setelah makanan berpindah dari tangan Kristus ke tangan
murid-murid-Nya, makanan itu bertambah untuk semua orang; bahkan, berlimpah
ruah (bdk. ayat 12-13). Terkagum-kagum oleh apa yang telah dilakukan Yesus,
orang-orang berkata, “Dia ini benar-benar Nabi!” (ayat 14), yaitu, Orang yang
berbicara dalam nama Allah, Sabda yang Maha Kuasa. Sungguh benar! Namun, Yesus
tidak menggunakan kata-kata itu untuk keuntungan pribadi. Ia tidak ingin
menjadi raja (bdk. ayat 15), karena Ia datang untuk melayani dengan kasih,
bukan untuk menguasai.
Mukjizat
yang dilakukan-Nya adalah tanda kasih ini. Mukjizat itu menunjukkan kepada kita
bukan hanya bagaimana Allah menyediakan roti kehidupan bagi umat manusia,
tetapi juga bagaimana kita dapat berbagi makanan ini dengan semua orang yang,
seperti kita, mendambakan perdamaian, kebebasan, dan keadilan. Setiap tindakan
solidaritas dan pengampunan, setiap usaha yang baik, menjadi sepotong roti bagi
umat manusia yang membutuhkan perhatian. Namun, ini saja tidak cukup: makanan
yang menopang tubuh harus disertai, dengan kasih yang sama, dengan makanan bagi
jiwa — makanan yang menopang hati nurani kita dan menenangkan kita di saat
gelap ketakutan dan di tengah bayang-bayang penderitaan. Makanan ini adalah
Kristus sendiri, yang selalu memberikan makanan berlimpah kepada Gereja-Nya dan
menguatkan kita dalam perjalanan kita dengan memberikan tubuh Ekaristis-Nya
kepada kita.
Saudara-saudari,
Ekaristi yang kita rayakan adalah sumber pembaruan iman, karena Yesus hadir di
antara kita. Sakramen ini tidak hanya menghidupkan kembali kenangan yang jauh;
ia menghadirkan "persahabatan" yang mengubah kita karena menguduskan kita.
Berbahagialah mereka yang diundang ke Perjamuan Tuhan! Altar ini, tempat kita
berkumpul untuk Ekaristi, menjadi pemberitaan pengharapan di tengah pencobaan
sejarah dan ketidakadilan yang kita lihat di sekitar kita. Tanda kasih Allah;
di dalam Kristus, Bapa mengundang kita untuk berbagi apa yang kita miliki, agar
dapat dilipatgandakan dalam persekutuan gerejawi.
Tuhan
meliputi langit dan bumi. Ia mengetahui hati kita dan segala situasi — baik
yang menggembirakan maupun yang menyedihkan — yang kita alami. Dengan menjadi
manusia untuk menyelamatkan kita, Ia memilih untuk turut serta dalam kebutuhan
manusia yang paling sederhana dan sehari-hari. Kelaparan dengan demikian
berbicara kepada kita bukan hanya tentang kemiskinan kita, tetapi, terutama,
tentang kasih-Nya. Marilah kita mengingat hal ini setiap kali kita melihat di
mata mereka seorang saudara atau saudari yang kekurangan kebutuhan hidup.
Melalui mata mereka, pertanyaan yang diajukan Yesus kepada murid-murid-Nya
diulangi: “Apa yang dapat kamu lakukan untuk semua orang ini?” Menjadi saksi
Kristus dan meneladan tindakan kasih-Nya tentu melibatkan kesulitan dan rintangan,
dari luar dan dari dalam diri kita, di mana kesombongan dapat merusak hati.
Namun, dalam keadaan seperti itu, marilah kita mengulangi bersama pemazmur:
“TUHAN terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (Mzm.
27:1). Sekalipun kita kadang-kadang goyah, Allah selalu menguatkan kita.
“Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Nantikanlah TUHAN!”
(ayat 14).
Saudara-saudari
muda yang terkasih, saya ingin menyampaikan undangan ini khususnya kepadamu,
karena kamu adalah anak-anak terkasih dari benua Afrika! Sebagai
saudara-saudari Yesus, lipatgandakanlah talentamu melalui iman, ketekunan, dan
persahabatan yang menginspirasimu. Jadilah wajah dan tangan pertama yang
membawa roti kehidupan kepada sesamamu, sediakanlah bagi mereka makanan hikmat
dan pembebasan dari segala sesuatu yang tidak menyehatkan mereka, melainkan
mengaburkan keinginan baik dan merampas martabat mereka.
Meskipun
tanah di Kamerun kaya, banyak yang mengalami kemiskinan material dan spiritual.
Jangan menyerah pada ketidakpercayaan dan keputusasaan. Tolak setiap bentuk
penyalahgunaan atau kekerasan, yang menipu dengan menjanjikan keuntungan mudah
tetapi mengeraskan hati dan membuatnya tidak peka. Jangan lupa bahwa bangsamu
bahkan lebih kaya daripada negeri ini, karena hartamu terletak pada
nilai-nilaimu: iman, keluarga, keramahan, dan kerja. Karena itu, jadilah pelaku
utama masa depan, mengikuti panggilan Allah kepada dirimu masing-masing. Jangan
biarkan dirimu dirusak oleh godaan yang membuang energimu dan tidak berfungsi
mengembangkan masyarakat.
Untuk
menjadikan semangat muliamu sebagai suara kenabian dunia baru, belajarlah dari
teladan yang baru saja kita dengar dalam Kisah Para Rasul. Jemaat perdana
memberikan kesaksian yang berani bagi Tuhan Yesus di tengah kesulitan dan
ancaman, dan bertahan bahkan di tengah penganiayaan (bdk. Kis. 5:40-41). Para
murid “setiap hari mereka mengajar di Bait Allah dan di rumah-rumah dan
memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (ayat 42), yaitu Kristus,
Pembebas dunia. Ya, Tuhan membebaskan kita dari dosa dan kematian. Memberitakan
Injil ini tiada henti adalah perutusan setiap umat kristiani, dan perutusan
yang saya percayakan khususnya kepadamu, kaum muda yang terkasih, dan kepada
seluruh Gereja di Kamerun. Jadilah Kabar Baik bagi negaramu, seperti halnya
Beato Floribert Bwana Chui bagi rakyat Kongo.
Saudara-saudari,
pengajaran meninggalkan tanda, seperti bekas bajak petani di ladang, yang
memungkinkan apa yang ditabur menghasilkan buah. Dengan cara yang sama,
pemberitaan kristiani mengubah hidup kita, mengubah rupa pikiran dan hati.
Memberitakan Yesus yang bangkit berarti meninggalkan tanda-tanda keadilan di
negeri yang menderita dan tertindas, tanda-tanda perdamaian di tengah
persaingan dan korupsi, tanda-tanda iman yang membebaskan kita dari takhayul
dan ketidakpedulian. Dengan pesan Injil ini di dalam hati kita, sebentar lagi
kita akan berbagi Roti Ekaristi yang menopang kita untuk selama-lamanya. Dengan
iman yang penuh sukacita, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk
melipatgandakan anugerah-Nya di antara kita demi kebaikan semua.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 17 April 2026)




