Bacaan
Ekaristi : Kis 6:1-7; Mzm 33:1-2.4-5.18-19; Yoh 6:16-21.
Saudara-saudari
terkasih, damai sejahtera besertamu! Itulah damai sejahtera Kristus, yang
kehadiran-Nya menerangi jalan kita dan menenangkan badai kehidupan.
Kita
merayakan Misa Kudus ini di akhir kunjungan saya di Kamerun, dan saya sangat
bersyukur atas sambutan hangat yang diberikan kepada saya dan atas momen-momen
sukacita dan iman yang telah kita alami bersama.
Sebagaimana
kita dengar dalam Bacaan Injil, iman tidak menyelamatkan kita dari kekacauan
dan kesengsaraan. Kadang-kadang, tampaknya rasa takut menguasai kita. Namun,
kita tahu bahwa bahkan di saat-saat seperti itu, Yesus tidak meninggalkan kita,
sama seperti Ia tidak meninggalkan para murid di Danau Galilea.
Tiga dari
empat penginjil menceritakan peristiwa yang diwartakan hari ini, masing-masing
dengan caranya masing-masing, dengan pesan yang sesuai untuk orang-orang yang
dituju. Santo Markus (bdk. 6:45-52) menceritakan bahwa Tuhan datang kepada para
murid ketika mereka bersusah payah mendayung karena angin sakal, yang berhenti
segera setelah Yesus naik ke perahu bersama mereka. Santo Matius (bdk.
14:22-33) lebih memerinci: Petrus ingin pergi kepada Tuhan dengan berjalan di
atas air. Namun, begitu ia melangkah keluar dari perahu, ia membiarkan dirinya
dikuasai oleh rasa takut dan ia mulai tenggelam. Kristus memegang tangannya,
menyelamatkan dan menegurnya karena ketidakpercayaannya.
Dalam
versi Santo Yohanes, yang diwartakan hari ini (bdk. 6:16-21), sang Juruselamat
yang berjalan di atas air mendekati murid-murid-Nya dan berkata, “Ini Aku,
jangan takut” (ayat 20). Penginjil menekankan bahwa “ketika hari mulai malam”
(ayat 16). Menurut tradisi Yahudi, “air” dengan kedalaman dan misterinya,
sering mengingatkan pada dunia bawah, kekacauan, bahaya, dan kematian. Bersama
dengan kegelapan, ia membangkitkan kekuatan jahat, yang tidak dapat dikuasai
manusia dengan kekuatan mereka sendiri. Namun, pada saat yang sama, dengan
mengingat mukjizat yang terjadi dalam peristiwa keluaran, air dipahami sebagai
tempat persinggahan, penyeberangan di mana Allah dengan penuh kuasa membebaskan
umat-Nya dari perbudakan.
Sepanjang
zaman, Gereja telah melewati banyak badai dan “angin sakal.” Kita pun dapat
merasakan ketakutan dan keraguan yang dialami para murid saat menyeberangi
Danau Tiberias. Demikian pula pengalaman kita di saat-saat ketika kita seolah
tenggelam, dikalahkan oleh kekuatan yang merugikan, ketika segala sesuatu
tampak suram dan kita merasa sendirian dan lemah. Tetapi tidak demikian. Yesus
selalu bersama kita, lebih kuat dari kekuatan jahat apa pun. Dalam setiap
badai, Ia datang kepada kita dan mengulangi, “Aku ada di sini bersamamu: jangan
takut.” Inilah sebabnya mengapa kita dapat bangkit kembali setiap kali jatuh,
tidak membiarkan diri kita dihentikan oleh badai apa pun. Sebaliknya, kita
selalu maju dengan keberanian dan kepercayaan. Dan berkat Dialah, sebagaimana
dikatakan Paus Fransiskus, begitu banyak “orang … yang menghormati umat kita,
yang menghormati Gereja kita… kuat dalam melanjutkan hidup, keluarga,
pekerjaan, dan iman mereka” (Katekese, 14 Mei 2014, 2).
Yesus
mendekati kita. Ia tidak langsung menenangkan badai, tetapi datang kepada kita
di tengah bahaya, dan mengajak kita, dalam suka dan duka, untuk tetap
bersama-Nya, seperti para murid, di perahu yang sama. Ia mengajak kita bukan
untuk menjauhkan diri dari mereka yang menderita, tetapi mendekati mereka,
merangkul mereka. Tidak seorang pun boleh dibiarkan sendirian menghadapi
kesulitan hidup. Karena alasan ini, setiap komunitas memiliki kewajiban untuk
menciptakan dan mempertahankan struktur solidaritas dan saling membantu di
mana, ketika menghadapi krisis –– baik sosial, politik, medis, maupun ekonomi
–– setiap orang dapat memberi dan menerima bantuan sesuai dengan kemampuan dan
kebutuhan mereka masing-masing. Kata-kata Yesus, “Akulah Dia,” mengingatkan kita
bahwa dalam masyarakat yang didirikan atas dasar penghormatan terhadap martabat
manusia, kontribusi setiap orang dihargai penting dan unik, terlepas dari
status atau posisi mereka di mata dunia.
Seruan
“jangan takut,” kemudian, memiliki makna yang lebih luas, bahkan pada tingkat
sosial dan politik, sebagai dorongan untuk menghadapi masalah dan tantangan ––
khususnya yang berkaitan dengan kemiskinan dan keadilan –– bersama-sama, dengan
rasa tanggung jawab sipil sebagai warga negara. Iman tidak memisahkan hal
spiritual dari hal sosial. Bahkan, iman memberi umat kristiani kekuatan untuk
berinteraksi dengan dunia, menanggapi kebutuhan orang lain, terutama yang
paling lemah. Upaya individu yang tersendiri tidak cukup untuk keselamatan
suatu komunitas: sebaliknya, yang dibutuhkan adalah komitmen komunal, yang
memadukan dimensi spiritual dan moral injili sebagai landasan lembaga dan
struktur lokal, menjadikannya sarana untuk kebaikan bersama, dan bukan tempat
konflik, kepentingan pribadi, atau perjuangan yang sia-sia.
Bacaan
Pertama hari ini (bdk. Kis. 6:1-7) berbicara tentang hal ini. Dalam perikop
ini, kita melihat bagaimana Gereja menghadapi krisis pertamanya mengenai
pertumbuhan. Peningkatan pesat jumlah murid (ayat 1) membawa tantangan baru
bagi komunitas dalam menjalankan amal kasih, yang tidak lagi mampu dilakukan
oleh para Rasul sendiri. Beberapa orang terabaikan dalam pembagian makanan, dan
karena alasan ini keluhan semakin meningkat dan rasa ketidakadilan mengancam
persatuan. Pelayanan sehari-hari kepada kaum miskin merupakan praktik penting
dalam Gereja perdana, yang dimaksudkan untuk mendukung kaum yang paling lemah,
khususnya para janda dan yatim piatu. Namun, pelayanan ini perlu diseimbangkan
dengan kebutuhan mendesak lainnya, yaitu berkhotbah dan mengajar. Solusinya
tidak sederhana. Para Rasul kemudian berkumpul dan berbagi kekhawatiran mereka,
membahas masalah-masalah tersebut dalam terang ajaran Yesus. Mereka bersatu
dalam doa untuk mengatasi rintangan dan kesalahpahaman yang pada pandangan
pertama tampak tak teratasi. Dengan demikian, mereka memberi kehidupan pada
sesuatu yang baru, memilih orang-orang yang “terkenal baik dan penuh dengan Roh
dan hikmat” (ayat 3) dan menunjuk mereka, melalui penumpangan tangan, untuk
melakukan pelayanan dengan perutusan rohani. Dengan mendengarkan suara Roh
Kudus dan memperhatikan jeritan orang-orang yang menderita, mereka tidak hanya
menghindari perpecahan di dalam komunitas, tetapi mereka juga melengkapinya
dengan sarana-sarana baru yang sesuai dengan pertumbuhannya, mengubah momen
krisis menjadi kesempatan untuk pengayaan dan pengembangan bagi semua orang.
Terkadang,
kehidupan keluarga dan masyarakat membutuhkan keberanian untuk mengubah pola
pikir dan struktur, agar martabat manusia selalu tetap menjadi fokus utama dan
agar kesenjangan dan marginalisasi dapat diatasi. Lagipula, Allah yang menjadi
manusia mengidentifikasi diri-Nya dengan yang paling hina, dan ini menjadikan
perhatian khusus kepada kaum miskin sebagai bagian mendasar dari jati diri
kristiani kita (bdk. Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 198; Seruan
Apostolik Dilexi Te, 16-17).
Saudara-saudari,
hari ini kita saling mengucapkan selamat tinggal. Masing-masing kembali ke
pekerjaannya dan perahu Gereja terus berlayar menuju tujuan akhir, berkat
rahmat Allah dan komitmen setiap orang. Marilah kita menjaga kenangan akan
saat-saat indah yang telah kita alami bersama tetap hidup di dalam hati kita.
Bahkan di tengah kesulitan, marilah kita terus memberi ruang bagi Yesus,
membiarkan Dia menerangi dan memperbarui kita setiap hari melalui
kehadiran-Nya. Gereja di Kamerun hidup, muda, diberkati dengan anugerah dan
antusiasme, energik dalam keberagamannya dan sangat luar biasa dalam kerukunan.
Dengan pertolongan Bunda Maria, Bunda kita, semoga kehadiranmu yang penuh
sukacita terus berkembang. Dan semoga angin sakal, yang tidak pernah tidak ada
dalam kehidupan, menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam pelayanan yang penuh
sukacita kepada Allah dan saudara-saudari kita melalui berbagi, mendengarkan,
berdoa, dan keinginan untuk bertumbuh bersama.
[Kata
Penutup]
Saudara-saudari
terkasih, perayaan ini menandai berakhirnya kunjungan saya ke Kamerun. Saya
menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Uskup Agung dan kepada semua
gembala Gereja di negara ini.
Saya
kembali menyampaikan apresiasi saya kepada Otoritas Sipil dan semua pihak yang
telah membantu mempersiapkan dan menyelenggarakan perjalanan ini.
Terima
kasih kepada semua orang, terutama kepada orang sakit, lansia, dan biarawati
yang telah mendoakan mereka.
Umat Allah yang tinggal dan
berziarah di Kamerun, jangan takut! Tetaplah teguh bersatu dengan Kristus Tuhan
kita! Dengan kuasa Roh-Nya, kamu mampu menjadi garam dan terang negeri ini!
Terima kasih banyak.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)




