Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS DI PLAZA DE CIBELES, MADRID, SPANYOL 7 Juni 2026

Bacaan Ekaristi : Ul. 8:2-3,14-16; Mzm. 147:12-15,19-20; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58.

 

Yang Terkemuka dan Yang Terhormat,

Para imam, biarawan, dan biarawati yang terkasih,

Yang Mulia Raja dan Ratu,

Saudara-saudari terkasih,

 

Ketika saya memulai kunjungan saya ke Spanyol, dengan hati yang penuh sukacita saya memimpin perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini.

 

Kita berkumpul di sekitar Ekaristi, karunia kehadiran Kristus yang hidup di antara kita. Dia yang bermaksud mempersembahkan hidup-Nya bagi kita agar kita dapat masuk ke dalam persekutuan dengan Bapa dan menjadi anak-anak-Nya, hadir di sini sebagai Roti hidup yang telah turun dari surga, untuk memberi kita makanan dengan hidup Allah sendiri, dengan kasih yang lebih kuat daripada kematian.

 

Kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam Roti Ekaristi ini berakar kuat dalam iman dan sejarah umatmu. Di Madrid, seperti di banyak bagian Spanyol lainnya, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus lebih dari sekadar perayaan lain dalam kalender liturgi. Suatu cara untuk kembali ke inti iman guna memperbarui kasih dan kesetiaan kita kepada Allah. Prosesi khidmat yang diadakan pada hari ini selama berabad-abad telah membentuk kesalehan, seni, musik, arsitektur, dan kehidupan rakyat Spanyol. Bahkan hingga hari ini, prosesi tersebut masih mengungkapkan dan mewujudkan kepekaan perasaan spiritual negara ini melalui keindahan dan keanggunan karpet bunga, altar yang didirikan di jalanan, monstrans dan alas yang dibuat dengan cermat, madah pujian, dan busana liturgi. Ini bukanlah pameran, remah-remah cerita rakyat, atau sekadar pertunjukan keindahan. Sebuah pengakuan iman di hadapan Tuhan yang telah bangkit, yang hidup dan terus berjalan di antara kita, yang menjadi roti untuk memuaskan rasa lapar kita akan hidup, dan mengunjungi relung hati dan sejarah kita, bahkan yang diselimuti kegelapan.

 

Sebagaimana Kristus memberikan diri-Nya sebagai santapan dalam perayaan Ekaristi, prosesi ini menunjukkan bahwa Ia tidak terbatas pada gereja, tetapi keluar untuk menemui kita. Yesus berjalan di jalan-jalan, melintasi alun-alun, dan mengunjungi lingkungan kita, berdiam di tengah kehidupan kita sehari-hari. Ia adalah Allah yang dekat dengan kita, yang berjalan bersama umat-Nya, Tuhan sejarah. Ia adalah penghibur bagi yang lemah, terang bagi keluarga, pengharapan bagi yang sakit, dan damai sejahtera bagi mereka yang menderita. Kristus yang diarak melalui jalan-jalan dalam monstrans adalah Kristus yang sama yang mengidentifikasi diri dengan orang miskin, yang tertindas, mereka yang sendirian dan terlantar. Bukan suatu kebetulan bahwa Gereja di Spanyol telah lama menggabungkan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dengan Hari Amal.

 

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus bukan sekadar soal membawa monstrans, tetapi juga soal membiarkan diri kita keluar dari keegoisan dan ketidakpedulian, dari iman yang nyaman dan bersifat pribadi, sehingga kita dapat menanggapi undangan-Nya untuk bertobat, mengubah sudut pandang kita, dan menyambut kehadiran-Nya yang mengubah rupa diri kita dan menjadikan kita pembangun sebuah dunia baru.

 

Oleh karena itu, ingatan sejarah tentang prosesi Tubuh dan Darah Kristus tidak terbatas pada nostalgia yang penuh kerinduan. Sebaliknya, itu berdiri sebagai undangan di saat ini, dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam hubungan kita, dalam masyarakat, dan dalam membangun masa depan. Dalam konteks inilah kita harus memahami undangan untuk "mengingat" yang kita dengar dalam bacaan pertama: "Ingatlah akan seluruh perjalanan yang kaulakukan atas pimpinan TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini" (Ul. 8:2); ingatlah bagaimana Ia memberi makan kamu dengan manna ketika kamu lapar. Kita harus "mengingat" justru agar tidak melupakan siapa Tuhan, agar tidak jatuh ke dalam godaan untuk mempercayai berhala-berhala lain dan makan roti yang tidak memuaskan.

 

Inilah tugas Spanyol saat ini dan di masa depan: memastikan bahwa keagamaan yang telah membentuk dan mendefinisikan negara ini selama berabad-abad bukanlah museum masa lalu yang hanya dikunjungi, tetapi sekolah iman yang dapat kita ambil pelajarannya hingga saat ini: Sekolah yang mengajarkan kita untuk berlutut di hadapan Tuhan dan sesama, karena tidak seorang pun dapat berlutut di hadapan Tuhan seraya menghina saudaranya; Sekolah yang mengajarkan kita tentang rasa syukur akan kasih yang menjadi anugerah, sehingga dapat mengalir di antara kita dan memutus rantai segala keegoisan; Sekolah tempat kita belajar bahwa Allah adalah kehadiran yang nyata dan bahwa kita pun dipanggil untuk hadir dalam kenyataan dan tantangan masyarakat, tidak menghindar, tetapi secara pribadi berkomitmen untuk membangun kebaikan bersama.

 

Saudara-saudari, saya ingin mengingat Santo Manuel González, uskup tabernakel yang ditelantarkan. Kehidupannya mengingatkan kita bahwa Ekaristi harus dihormati bukan hanya selama perayaan besar atau pada kesempatan khusus, tetapi juga melalui kesetiaan yang hening dari mereka yang menyertai Tuhan dengan persahabatan yang rendah hati dan tenang yang dipelihara hari demi hari. Saya juga ingin mengingat kembali bait-bait puisi Santo Yohanes dari Salib: “Karena aku mengenal dengan baik mata air yang mengalir dan terus mengalir, meskipun malam tiba” (Nyanyian Jiwa yang Bersukacita dalam Mengenal Allah melalui Iman). Saat dipenjara dalam kondisi tak bersahabat di penjara biara Toledo, tepat sekitar saat Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada tahun 1578, ia mengenali kehadiran Tuhan yang tersembunyi dalam kegelapan selnya, suatu kehadiran yang memancarkan cahaya yang tidak pernah pudar dan mengalirkan kehidupan yang tidak pernah berkurang. Yesus Ekaristi adalah “mata air abadi yang tersembunyi” — mata air yang mengalir dan memuaskan dahaga, namun tanpa membutakan, tanpa memaksakan diri melalui kekuatan lahiriah, tanpa menampilkan diri secara spektakuler (bdk. idem).

 

Marilah kita kembali kepada-Nya dengan kasih yang tulus. Marilah kita membuka diri untuk berjumpa Dia, marilah kita membiarkan Dia memuaskan dahaga hati kita, sehingga kita dapat melangkah maju di jalan kehidupan dan sejarah, membawa kepada orang-orang aliran air segar ini, aliran kasih, damai, keadilan, dan sukacita. Marilah kita minum kembali dari mata air Ekaristi ini, yang tidak mengurung kita dalam devosi pribadi, tetapi mengutus kita untuk menyegarkan saudara-saudari kita, keluarga kita, kaum miskin, yang menderita, dan mereka yang telah kehilangan pengharapan. Rahmat Ekaristi mengubah rupa diri kita dan menjadikan kita pelaku utama perubahan rupa sejarah, tanda pengharapan bagi mereka yang kita temui.

 

Semoga Tuhan Yesus, yang hadir dalam Ekaristi, mengubah rupa dirimu menjadi roti yang dipecah-pecahkan, diberikan, dan dipersembahkan, sehingga kehidupan yang penuh dapat tumbuh bagimu, keluargamu, dan negaramu.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Juni 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA PENTAKOSTA 24 Mei 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:1-11; Mzm. 104:1ab,24ac,29c-30,31,34; 1Kor. 12:3b-7,12-13; Yoh. 20:19-23.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Masa Paskah mencapai puncaknya hari ini pada Hari Raya Pentakosta. Untuk menyoroti kesinambungan peristiwa penyelamatan ini, Bacaan Injil membawa kita kembali ke “hari pertama minggu” (Yoh 20:19), yaitu, hari baru di mana Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepada para murid, memperlihatkan “tangan dan lambung-Nya” kepada mereka (ayat 20). Tuhan mengungkapkan tubuh-Nya yang mulia, khususnya luka-luka-Nya, tanda-tanda penyaliban. Tanda-tanda sengsara ini, yang lebih bermakna daripada kata-kata, kini diubah rupa; Dia yang telah mati hidup selama-lamanya.

 

Setelah melihat Tuhan, para murid pun dipulihkan kembali ke kehidupan. Mereka telah mengurung diri di Ruang Atas, diliputi rasa takut, tetapi Yesus datang dan berdiri di antara mereka, meskipun pintu-pintu tertutup, dan memenuhi mereka dengan sukacita. Ia melewati “kematian” kita, membuka kubur dan membukanya lebar-lebar ketika tidak ada jalan keluar bagi kita. Kristus menyertai tindakan-Nya dengan kata-kata: “Damai sejahtera bagi kamu” (ayat 19); dan segera setelah itu, Ia mengembusi Roh Kudus atas para murid. Yesus yang telah bangkit adalah kepenuhan kehidupan. Setelah membuktikan bahwa Ia telah dipulihkan kembali ke kehidupan sebagai manusia sejati, Ia menganugerahkan kehidupan Allah sebagai Putra Bapa yang terkasih yang telah menjadi, demi kita, saudara dan Penebus kita. Juga di Ruang Atas tempat Ia menetapkan perjanjian baru dan kekal, Yesus mencurahkan Roh Kudus. Tempat Perjamuan Terakhir dan pengkhianatan diubah rupa; bagi seluruh Gereja kubur para Rasul menjadi rahim kebangkitan. Oleh karena itu, Pentakosta adalah perayaan Paskah dan perayaan tubuh Kristus, yang berkat rahmat adalah kita semua.

 

Dalam merayakan misteri ini, saya ingin berfokus pada tiga aspek.

 

Pertama, Roh Yesus yang bangkit adalah Roh damai sejahtera. Sesungguhnya, melalui misteri Paskah-Nya, Kristus memulihkan damai sejahtera antara Allah dan umat manusia, dan Roh Kudus mencurahkan damai sejahtera ini ke dalam hati kita dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Damai sejahtera ini berasal dari pengampunan dan menuntun kita kepada pengampunan. Damai sejahtera ini dimulai dengan pengampunan yang diberikan oleh Yesus sendiri, yang telah kita khianati, hukum, dan salibkan. Mengejutkan kita dengan kasih-Nya, Yesus yang bangkit mengatakan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni” (Yoh 20:23). Dengan kata-kata ini, Yesus melibatkan kita dalam karya ilahi, karena hanya Allah yang dapat mengampuni dosa (bdk. Mrk 2:7). Otoritas ini diberikan sebagai tanda rekonsiliasi universal: Tuhan mencurahkan Roh damai sejahtera-Nya dari satu ujung sejarah ke ujung lainnya, karena Ia yang telah menebus semua orang dari kematian tidak mengecualikan siapa pun. Sesungguhnya, Roh Kudus adalah Tuhan dan pemberi kehidupan sejak awal penciptaan, ketika Ia melayang-layang di atas permukaan air (bdk. Kej 1:2); dan sekarang, dengan memperbarui ciptaan, Ia mengubah rupa sejarah dunia. Pentakosta benar-benar tampak sebagai perayaan Perjanjian Baru, Perjanjian antara Allah dan semua bangsa di dunia. Sementara suara gemuruh dari atas, angin keras dan lidah api di Ruang Atas mengingatkan kita pada tanda-tanda kuno di Sinai (bdk. Kis 2:2-3; Kel 19:16-19), hukum Allah yang kudus tertulis di dalam hati kita, diukir oleh Roh dengan huruf kasih dalam daging Kristus dan tubuh-Nya, yaitu Gereja.

 

Hukum ini adalah peraturan damai sejahtera: Perintah kasih ganda yang diingatkan Roh Kudus kepada kita oleh setiap degup hati. Dengan hati kita, kita dapat berdoa “Veni Sancte Spiritus,” karena Ia telah diberikan kepada kita. Kita dapat merindukan-Nya, karena Ia telah dijanjikan kepada kita. Kita dapat menyambut-Nya, karena Ia sendiri adalah tamu yang manis bagi jiwa.

 

Kedua, Roh Yesus yang bangkit adalah Roh perutusan: “Sama seperti Bapa telah mengutus Aku,” kata Tuhan, “sekarang Aku juga mengutus kamu” (Yoh 20:21). Oleh karena itu, kita ditarik ke dalam perutusan Yesus, perutusan dari Dia yang berasal dari Allah dan kembali kepada Allah melalui kuasa Roh Kudus — yang pada gilirannya berasal dari Bapa dan Putra, dan disembah serta dimuliakan bersama mereka sebagai satu Allah. Roh Kudus adalah kasih Kristus yang hidup yang memenuhi, mendorong, dan menopang kita dalam perutusan kita (bdk. 2 Kor 5:14). Seraya menganugerahkan kuasa untuk berkhotbah kepada para Rasul (bdk. Kis. 2:4), Roh yang sama mengajarkan sabda keselamatan kepada umat manusia. Sekarang setelah para Rasul menerima nafas Yesus yang bangkit di dalam diri mereka, pemberitaan ini mengalir dari bibir mereka, disampaikan melalui suara Petrus dan orang-orang yang bersamanya. Pada hari Pentakosta itu sendiri, para Rasul mulai memberitakan Yesus, yang disalibkan dan bangkit. Dengan kata lain, “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kis. 2:11) dirangkum dalam penebusan, yang dimulai dengan iman. Sesungguhnya, karya pertama Roh Kudus dalam diri kita adalah iman yang dengannya kita mengakui: “Yesus adalah Tuhan!” (1Kor. 12:3). Iman ini hidup dan diungkapkan dalam setiap perbuatan baik, dalam setiap tindakan belas kasihan dan kebajikan. Oleh karena itu, karya Allah adalah kita masing-masing, yang hari ini datang ke sini dari seluruh penjuru dunia, diundang ke meja Tuhan, berkumpul untuk mendengarkan sabda-Nya dan dipanggil untuk memberi kesaksian tentangnya di mana pun juga.

 

Saudara-saudari terkasih, kita sungguh rekan kerja Injil: seluruh Gereja adalah tokoh utamanya, bukan sekadar penjaganya. Melalui kuasa Roh Kudus, pewartaan kita dipenuhi dengan sukacita dan pengharapan, karena kita — ya, kita sendiri — adalah kebaruan dunia, terang dan garam dunia (bdk. Mat 5:13-14). Tentu bukan karena jasa atau hak istimewa kita sendiri, tetapi karena sabda Tuhan, yang menguduskan orang berdosa, menyembuhkan penderita kusta, dan mengubah rupa orang yang menyangkal-Nya menjadi rasul. Sebagaimana dapat kita lihat dengan jelas, ada perubahan yang tidak membawa kehidupan baru bagi dunia, tetapi membuatnya menua melalui kesalahan dan kekerasan. Namun demikian, Roh Kudus menerangi pikiran dan menanamkan vitalitas baru di dalam hati kita. Beginilah cara Ia mengubah rupa sejarah, membukanya kepada keselamatan, yang merupakan anugerah yang ditawarkan Tuhan kepada setiap orang. Perutusan Gereja menjadi saksi atas tawaran ini, sehingga mengubah rupa kesimpangsiuran dunia menjadi persekutuan dengan Allah dan di antara kita.

 

Perutusan ini dimulai dengan mewartakan kebenaran tentang Allah dan manusia, karena Roh Yesus yang bangkit adalah “Roh Kebenaran” (Yoh 14:17), yang dijanjikan Tuhan sendiri kepada kita, memohon persatuan Gereja-Nya — persatuan yang didasarkan pada kasih Allah, sumber kasih kita. Roh Kudus, yang telah berbicara melalui para nabi, selalu mendorong persatuan dalam kebenaran, karena Ia menanamkan dalam diri kita pemahaman, kerukunan, dan keselarasan hidup. Santo Agustinus mengajarkan, “Roh Kudus menghendaki agar ini menjadi tanda kehadiran-Nya” (Diskursus 269, 1): Karunia berbahasa lidah yang dipahami dalam satu iman. Sang Penghibur melindungi kita dari segala sesuatu yang menghalangi pemahaman ini, termasuk keberpihakan, kemunafikan, dan kecenderungan yang mengaburkan terang Injil. Kebenaran yang diberikan Allah kepada kita dengan demikian menjadi sabda yang membebaskan bagi semua bangsa, sebuah pesan yang mengubah rupa setiap budaya dari dalam.

 

Ketiga, sesungguhnya, Roh Yesus yang bangkit tidak dicurahkan sekali untuk selamanya, tetapi terus-menerus. Sama seperti Ekaristi adalah kehadiran Kristus yang hidup, yang terus-menerus memberi kita santapan rohani, demikian pula Roh Kudus menanamkan karakter-Nya dalam diri kita dalam sakramen baptis, yang menjadikan kita umat Kristiani, dalam sakramen krisma, yang meneguhkan kita sebagai saksi; dan dalam sakramen imamat, yang menjadikan kita pelayan dan gembala bagi umat Allah. Dalam setiap sakramen, Ia adalah dator munerum, sumber kekudusan yang melipatgandakan karunia dan karisma melalui doa, karya belas kasih, dan mempelajari sabda Allah. Rasul Paulus mengajarkan, “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor. 12:7). Justru karena alasan inilah kita adalah Gereja, satu tubuh yang hidup di dalam Allah dan melayani dunia. Berkat Roh Kudus, kita dapat membawa damai sejahtera sejati kepada semua orang, kebenaran yang menyelamatkan — Kristus Tuhan kita yang sama.

 

Sahabat-sahabat terkasih, dengan hati yang berkobar-kobar, hari ini marilah kita berdoa agar Roh Yesus yang bangkit menyelamatkan kita dari kejahatan perang, yang diatasi bukan oleh adikekuatan, tetapi oleh kemahakuasaan kasih. Marilah kita berdoa agar Ia membebaskan umat manusia dari penderitaan, yang ditebus bukan oleh kekayaan yang tak terukur, tetapi oleh karunia yang tak habis-habisnya. Marilah kita berdoa agar Ia menyembuhkan kita dari cambuk dosa melalui keselamatan yang diberitakan kepada semua bangsa dalam nama Yesus. Inilah rahmat yang menanamkan keberanian pada para Rasul; semoga Ia juga menanamkannya pada kita, hari ini dan selalu, melalui perantaraan Maria, Bunda Gereja.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 24 Mei 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA REQUIEM EMIL PAUL KARDINAL TSCHERRIG DI BASILIKA SANTO PETRUS VATIKAN 15 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Berkumpul di sekeliling altar, marilah kita menemani saudara kita Paul Emil Tscherrig, Kardinal, saat ia menghadap Tuhan untuk menerima ganjaran atas kebaikan yang telah dilakukannya dalam hidup ini dan pengampunan atas kesalahan yang mungkin disebabkan oleh kelemahan manusiawinya.

 

Inilah momen agung dan khidmat perjumpaannya dengan Tuhan, yang dilayaninya dengan begitu murah hati, dengan Sang Sahabat yang selalu di sisinya ia berjalan dengan setia sepanjang hidupnya, yang lebih dari separuhnya dihabiskan dalam pelayanan Takhta Apostolik di berbagai perwakilan kepausan dan Sekretariat Negara.

 

Melalui karyanya – yang seringkali tidak mencolok, meski berat tetap tekun, kekhasan pelayanan yang dijalaninya – ia berkontribusi pada pertumbuhan Kerajaan Allah yang perwujudannya secara penuh telah dijelaskan kepada kita dalam Bacaan pertama: Kerajaan di mana lautan kekacauan tidak ada lagi, dan sebagai gantinya Yerusalem baru bersinar, dibangun di atas fondasi para Rasul, diterangi oleh terang Sang Anak Domba dan dihiasi oleh jasa-jasa para kudus.

 

Komitmennya sebagai seorang diplomat, dan sebelumnya sebagai gembala Gereja, membuat saudara kita ini bekerja selama bertahun-tahun, dengan sabar dan penuh pengorbanan, untuk menyatukan dalam kerukunan bangsa-bangsa yang telah dipercayakan ketaatan kepadanya (bdk. Mzm 121), seraya menghadapi rintangan dan tantangan yang harus dihadapi oleh seorang perwakilan kepausan demi kebaikan semua. Ia menjalankan misinya pertama-tama sebagai kolaborator di berbagai nunsiatur, hingga pengangkatannya, pada tahun 1996, sebagai nunsio apostolik di Burundi; kemudian di Trinidad dan Tobago dan di berbagai negara Karibia, Korea Selatan dan Mongolia; selanjutnya di Swedia, Denmark, Finlandia, Islandia dan Norwegia; Kemudian di Argentina, sebelum mencapai Italia dan San Marino pada tahun 2017. Pengalaman gerejawi dan internasionalnya yang luas menjadi bukti kesediaan dan kemampuannya untuk beradaptasi, dalam kasihnya sebagai seorang gembala, dengan beraneka ragam lingkungan: berbagai tempat dan bangsa di mana ia diutus, atas nama Bapa Suci, untuk menjalin ikatan persekutuan antara Gereja-gereja lokal dan Takhta Apostolik, serta untuk memperkuat ikatan persahabatan.

 

Kini Kardinal Paul Emil akan bertemu dengan Tuhannya, Alfa dan Omega, awal dan akhir keberadaannya (bdk. Why. 21:6). Kita menemaninya dalam perjalanan misterius ini, yang diterangi oleh misteri Paskah, mempersembahkan baginya kurban Ekaristi dan doa-doa kita; dan kita ingin menjadikan momen ini juga sebagai kesempatan untuk refleksi dan dorongan, untuk menghargai kebaikan yang telah ia berikan, dengan rahmat Allah, seorang penyalur, dengan iman dan pengabdian.

 

Paus Fransiskus – yang pernah ditemui Kardinal Tscherrig ketika Paus masih menjadi Uskup Agung Buenos Aires – dalam pidatonya kepada Korps Diplomatik mengajak mereka untuk membiarkan pengharapan tumbuh subur di sekitar mereka, sebagai tanggapan atas keinginan dan harapan rakyat akan kebaikan (Pidato kepada Korps Diplomatik, 9 Januari 2025). Sebuah ajakan yang juga dapat kita terima hari ini, mempraktikkannya di mana pun kita dipanggil untuk melayani dan mengasihi saudara-saudari kita. Dunia kita sangat membutuhkan para pembawa pesan yang dapat membantunya menemukan kembali kepercayaan, dan kesaksian yang baik dari mereka yang telah dipilih Allah sebagai pelayan-Nya dapat menopang kita dalam menanggapi panggilan ini.

 

Namun demikian, pada saat yang sama, dihadapkan pada misteri kematian, kita juga ingin mengingatkan bahwa, di luar perubahan-perubahan dunia ini, demi kebaikan yang merupakan panggilan kita untuk mengabdikan diri dalam hidup ini, dasar utama dari semua pengharapan kita terletak di luar sejarah dan berakar pada kebangkitan Kristus, dalam kemenangan-Nya yang mulia atas dosa dan kematian.

 

Bacaan Injil mengingatkan kita bagaimana Yesus, tak lama setelah sengsara-Nya, menubuatkan misteri itu dengan menghidupkan kembali sahabat-Nya, Lazarus; pembebasan diri-Nya dari kubur adalah tanda yang harus dilihat dengan iman, sehingga kita dapat memahami pesannya yang mendalam. Sebuah tanda yang dapat kita temukan dalam banyak mukjizat kebangkitan kembali yang dihasilkan oleh kasih, juga melalui pelayanan kita dan komitmen kita sehari-hari terhadap Injil. Namun, semua ini berbicara kepada kita tentang mukjizat terbesar: yaitu kebangkitan menuju kehidupan kekal, yang memahkotai setiap usaha dan karya kehidupan ini dan menggenapi peristiwa-peristiwanya di luar batas waktu.

 

Ini juga mengingatkan kita akan dimensi penting perutusan Gereja, yang mencakup dan menerangi setiap tingkat aktivitas duniawinya. Karena Gereja bekerja dalam waktu, namun tujuan dari karyanya terletak di luar kenyataan dunia ini, bertujuan untuk “mempersatukan di dalam Kristus segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi” (Ef 1:10), dan “penebusan yang menjadikan kita milik Allah” (ayat 14).

 

Dalam terang yang agung inilah kita mengucapkan selamat tinggal kepada Kardinal terkasih kita, Paul Emil Tscherrig, sementara di dalam hati kita merasakan kata-kata yang diucapkan Yesus kepada Marta ditujukan kepada kita: “Saudaramu akan bangkit” (Yoh 11:23), “Akulah kebangkitan dan hidup” (ayat 25). Kita mendengarkannya bersama dengan kata-kata yang dipilih sendiri oleh sang Kardinal, tiga puluh tahun yang lalu, sebagai mottonya pada kesempatan penahbisannya sebagai Uskup: “Spes mea Christus” (Kristus adalah pengharapanku). Kristus, Tuhan kita, adalah pengharapannya sepanjang hidupnya: pengharapan yang tidak pernah mengecewakannya, karena berakar pada kasih yang dicurahkan Allah ke dalam hatinya oleh Roh Kudus (bdk. Rm. 5:5) dan yang kini telah terpenuhi untuk selama-lamanya.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Mei 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI LAPANGAN BARTOLO LONGO, DEPAN TEMPAT SUCI SANTA PERAWAN MARIA ROSARIO SUCI DARI POMPEII 8 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih!

 

“Jiwaku memuliakan Tuhan.” Kata-kata ini, yang kita ucapkan sebagai tanggapan terhadap Bacaan Pertama, berasal dari hati Perawan Maria ketika ia mempersembahkan kepada Elisabet buah tubuhnya, Yesus, Sang Juruselamat. Setelahnya, Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis, dan Simeon yang lanjut usia akan menyanyikan pujian kepada Kristus. Ketiga kidung ini merupakan kidung pujian harian Gereja dalam Brevir. Ketiganya adalah merupakan pandangan Israel kuno, yang melihat janji-janjinya tergenapi; ketiganya merupakan pandangan Gereja, sang mempelai perempuan, yang mengulurkan tangan kepada sang mempelai laki-laki ilahinya; ketiganya, secara tersirat, merupakan pandangan seluruh umat manusia, yang menemukan jawaban atas kerinduan mereka akan keselamatan.

 

Seratus lima puluh tahun yang lalu, dengan meletakkan batu fondasi tempat suci ini, di lokasi di mana letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 M telah mengubur jejak peradaban besar di bawah abu, melestarikannya selama berabad-abad, Santo Bartolo Longo, bersama istrinya Countess Marianna Farnararo De Fusco, meletakkan fondasi bukan hanya sebuah tempat suci, tetapi seluruh kota marian. Dengan demikian ia mengungkapkan kesadarannya akan rencana Allah, yang oleh Santo Yohanes Paulus II, yang berbicara di tempat rahmat ini pada tanggal 7 Oktober 2003, pada penutupan Tahun Rosario, diluncurkan kembali untuk Milenium Ketiga, dalam konteks evangelisasi baru: “Saat ini,” katanya, “seperti pada zaman Pompeii kuno, mewartakan Kristus kepada masyarakat yang menjauh dari nilai-nilai kristiani dan bahkan melupakannya sangat penting.”

 

Tepat setahun yang lalu, ketika saya dipercayakan dengan pelayanan Penerus Petrus, tepat pada hari permohonan kepada Perawan Maria, hari yang indah ini, hari permohonan kepada Bunda Maria Rosario dari Pompeii! Jadi, saya harus datang ke sini, untuk menempatkan pelayanan saya di bawah perlindungan sang Perawan Suci. Pilihan nama Leo menempatkan saya dalam jejak langkah Leo XIII, yang, di antara jasa-jasanya yang lain, juga mengembangkan Magisterium yang luas tentang Rosario Suci. Ditambah lagi dengan kanonisasi Santo Bartolo Longo baru-baru ini, rasul Rosario. Konteks ini memberi kita kunci untuk merefleksikan sabda Allah yang baru saja kita dengar.

 

Injil Kabar Sukacita memperkenalkan kita kepada saat Sabda Allah menjelma dalam rahim Maria. Dari rahim inilah terpancar Terang yang memberi makna penuh pada sejarah dan dunia. Salam yang disampaikan Malaikat Gabriel kepada Perawan Maria adalah ajakan untuk bersukacita: “Salam, penuh rahmat” (Luk 1:28; bdk. Zef 3:14). Ya, Salam Maria adalah ajakan untuk bersukacita: doa ini memberitahu Maria, dan melalui dia juga kita semua, bahwa di atas reruntuhan kemanusiaan kita, yang dicobai oleh dosa dan karena itu selalu rentan terhadap penindasan, pelecehan, dan perang, belaian Allah telah datang, belaian belas kasihan, yang mengambil wajah manusia dalam diri Yesus. Dengan demikian Maria menjadi Bunda Belas Kasihan. Seorang murid Sabda dan sarana Inkarnasi-Nya, ia benar-benar menyatakan dirinya sebagai “penuh rahmat”. Segala sesuatu dalam dirinya adalah rahmat! Dengan mempersembahkan tubuhnya sendiri kepada Sabda, ia pun menjadi, sebagaimana diajarkan Konsili Vatikan II, mengutip Santo Agustinus, “Bunda para anggota (Kristus) ... Karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu” (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, 53; bdk. Santo Agustinus, De S. Virginitate, 6). Dalam “Jadilah padaku” yang diucapkan Maria, bukan hanya Yesus yang dilahirkan, tetapi juga Gereja, dan Maria menjadi Bunda Allah – Theotòkos – dan Bunda Gereja.

 

Betapa agungnya misteri ini! Segala sesuatu terjadi dalam kuasa Roh Kudus, yang menaungi Maria dan menjadikan rahim perawannya mengandung. Momen dalam sejarah ini memiliki kelembutan dan kekuatan yang menarik hati dan mengangkatnya ke ketinggian kontemplatif di mana doa Rosario Suci berakar. Doa yang, setelah muncul dan berkembang secara progresif selama milenium kedua, berakar pada sejarah keselamatan, dan menemukan pendahuluannya tepat pada salam Malaikat kepada Perawan Maria. “Salam Maria”! Pengulangan doa ini dalam Rosario seperti gema salam Gabriel, gema yang melintasi abad dan membimbing pandangan orang percaya kepada Yesus, yang dilihat melalui mata dan hati Ibu-Nya. Yesus disembah, direnungkan, dan dihayati dalam setiap misteri-Nya, sehingga bersama Santo Paulus kita dapat berkata: “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

 

Didahului oleh pewartaan Sabda Allah, yang terletak di antara Doa Bapa Kami dan Kemuliaan, Salam Maria yang diulang dalam Rosario Suci adalah sebuah tindakan kasih. Bukankah mengulang, tanpa lelah, merupakan ciri khas kasih: “Aku mengasihi Engkau”? Suatu tindakan kasih yang, melalui butir-butir rosario, seperti yang terlihat jelas dalam lukisan Maria di tempat suci ini, membawa kita kembali kepada Yesus dan membawa kita kepada Ekaristi, “sumber dan puncak seluruh hidup kristiani” (Lumen Gentium, 11). Santo Bartolo Longo yakin akan hal ini ketika ia menulis: “Ekaristi adalah Rosario yang hidup, dan seluruh misteri ditemukan dalam Sakramen Suci dalam bentuk yang aktif dan vital” (Rosario dan Pompeii Baru, 1914, hlm. 86). Ia benar. Dalam Ekaristi, misteri-misteri kehidupan Kristus seluruhnya ditemukan, bisa dikatakan, terkonsentrasi dalam kenangan akan pengurbanan-Nya dan dalam kehadiran-Nya yang nyata. Rosario berciri khas Maria, tetapi berinti Kristologi dan Ekaristi (bdk. Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, 1). Jika Brevir merupakan irama pujian Gereja, Rosario merupakan irama hidup kita, terus-menerus membawanya kembali kepada Yesus dan Ekaristi.

 

Generasi-generasi umat beriman telah dibentuk dan ditopang oleh doa ini, yang sederhana dan populer, namun pada saat yang sama mampu mencapai ketinggian mistik dan berfungsi sebagai khazanah teologi kristiani yang paling penting. Karena apa yang lebih penting daripada misteri Kristus, daripada nama-Nya yang kudus, yang diucapkan dengan kelembutan Perawan Maria? Hanya dalam nama inilah, dan bukan dalam nama lain, kita dapat diselamatkan (bdk. Kis 4:12). Dengan mengulanginya dalam setiap Salam Maria, kita dalam beberapa hal mengalami rumah Nazaret, hampir mendengar sekali lagi suara Maria dan Yusuf selama bertahun-tahun ketika Yesus tinggal bersama mereka. Kita juga mengalami Ruang Atas, tempat para Rasul, bersama Maria, menantikan pencurahan Roh Kudus. Inilah yang ditunjukkan oleh Bacaan Pertama kepada kita. Bagaimana mungkin kita gagal membayangkan bahwa, pada masa antara Kenaikan Tuhan dan Pentakosta, Maria dan para Rasul berlomba-lomba mengingat berbagai momen kehidupan Yesus? Tidak satu pun rincian yang boleh diabaikan! Segala sesuatu harus diingat, dicerna, dan diteladani. Demikianlah lahir perjalanan kontemplatif Gereja, di mana, dalam kemiripan dengan Tahun Liturgi, Rosario menawarkan sintesis dalam meditasi harian atas misteri-misteri suci. Rosario memang pantas dianggap sebagai ringkasan Injil, sebagaimana dikehendaki Santo Yohanes Paulus II, yang dipadukan dengan Misteri Terang. Dimensi ini juga sangat hidup dalam diri Santo Bartolo Longo, yang menawarkan meditasi mendalam kepada para peziarah untuk menyelamatkan Rosario Suci dari godaan pembacaan mekanis dan memastikan bahwa Rosario tetap mempertahankan semangat biblis, Kristologis, dan kontemplatif yang harus menjadi ciri khasnya.

 

Saudara-saudari, jika Rosario "didoakan" dan, saya berani mengatakan, "dirayakan" dengan cara ini, maka sebagai konsekuensi alami, ia juga menjadi sumber kasih. Kasih kepada Allah, kasih kepada sesama: dua sisi mata uang yang sama, sebagaimana diingatkan oleh Bacaan Kedua, yang diambil dari Surat Pertama Santo Yohanes, yang diakhiri dengan nasihat: 'Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran' (1Yoh 3:18). Karena alasan inilah, Santo Bartolomeus Longo adalah rasul Rosario dan, pada saat yang sama, rasul kasih. Di kota marian ini, ia menerima anak yatim dan anak-anak tahanan, menunjukkan kekuatan kasih yang meregenerasi. Di sini, bahkan yang terkecil dan terlemah pun disambut dan dirawat dalam Karya Tempat Suci. Doa Rosario mengarahkan pandangan kita kepada kebutuhan dunia, sebagaimana ditekankan dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, khususnya mengusulkan dua ujud yang tetap sangat relevan: keluarga, yang menderita akibat melemahnya ikatan perkawinan, serta perdamaian, yang terancam oleh ketegangan internasional dan ekonomi yang memprioritaskan perdagangan senjata daripada penghormatan terhadap kehidupan manusia.

 

Ketika Santo Yohanes Paulus II mencanangkan Tahun Rosario – tahun depan merupakan peringatan seperempat abadnya – beliau ingin menempatkannya secara khusus di bawah tatapan Bunda Maria dari Pompeii. Keadaan belum membaik sejak saat itu. Perang yang masih berkecamuk di begitu banyak wilayah di dunia kembali menuntut komitmen, tidak hanya ekonomi dan politik, tetapi juga spiritual dan religius. Perdamaian lahir di dalam hati. Paus yang sama, pada Oktober 1986, mengumpulkan para pemimpin agama-agama besar di Asisi, mengundang semua orang untuk berdoa bagi perdamaian. Pada beberapa kesempatan, termasuk baru-baru ini, baik Paus Fransiskus maupun saya telah meminta umat beriman di seluruh dunia untuk berdoa bagi ujud ini. Kita tidak dapat pasrah pada gambaran kematian yang disajikan berita kepada kita setiap hari. Dari tempat suci ini, yang fasadnya dirancang oleh Santo Bartolo Longo sebagai monumen perdamaian, kita dengan setia memanjatkan permohonan kita hari ini. Yesus berkata kepada kita bahwa doa yang dipanjatkan dengan iman dapat memperoleh apa pun (bdk. Mat 21:22). Dan Santo Bartolo Longo, merefleksikan iman Maria, menggambarkannya sebagai "mahakuasa karena berkat rahmat". Melalui perantaraannya, semoga Allah damai sejahtera mencurahkan limpahan rahmat yang berlimpah, menyentuh hati, meredakan dendam dan kebencian antarsaudara, serta menerangi mereka yang memikul tanggung jawab khusus dalam pemerintahan.

 

Saudara-saudari, tidak ada kekuatan duniawi yang dapat menyelamatkan dunia, melainkan hanya kekuatan ilahi kasih, kekuatan ilahi kasih yang telah Yesus, Tuhan, nyatakan dan berikan kepada kita. Marilah kita percaya kepada-Nya, marilah kita berharap kepada-Nya, marilah kita mengikuti-Nya!
____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Mei 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA TAHBISAN USKUP DI BASILIKA SANTO YOHANES LATERAN 2 Mei 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 6:1-7; Mzm. 33:1-2.4.5.18-19; 1Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dengan berpegang teguh pada Kristus, kita menjadi rumah yang kokoh dan hangat: inilah sukacita yang kita alami terutama selama Masa Paskah, dan khususnya hari ini saat kita merayakan penahbisan empat uskup auksiler baru Keuskupan Roma.

 

Gereja ini memiliki panggilan yang unik untuk universalitas dan amal kasih berkat ikatan istimewanya dengan Kristus, yang telah bangkit dan hidup, fondasi bangunan rohani dari batu-batu hidup yang merupakan umat Allah yang kudus. Mendekat kepada Kristus berarti mendekat satu sama lain dan bertumbuh bersama dalam persatuan: inilah misteri yang melibatkan kita dan mengubah rupa kota dari dalam. Untuk melayani dinamikanya, yang dibawa ke Roma oleh Rasul Petrus dan Rasul Paulus, saudara-saudara kita Andrea (Carlevale), Stefano (Sparapani), Marco (Valenti), dan Alessandro (Zenobbi) ditahbiskan menjadi uskup. Sebuah perayaan umat, karena mereka berasal dari umat ini dan dari presbiterat yang dengan penuh kasih peduli terhadap mereka.

 

Komunitas keuskupan kita berkumpul hari ini untuk berdoa memohon Roh Kudus, yang akan mengurapi para uskup baru, agar mereka dapat sepenuhnya mengabdikan diri pada pelayanan Injil Kristus. Dialah batu yang dibuang yang, "dipilih oleh Allah," telah "menjadi batu penjuru" (1Ptr. 2:4,7; bdk. Mzm. 118:22).

 

Bagi umat Kristiani perdana, metafora ini, yang sangat akrab karena muncul dalam sebuah mazmur, pasti tampak sangat bermakna. Yesus sang Mesias telah ditolak bukan hanya karena Ia tidak diakui sebagai Putra Allah, tetapi, bahkan sebelum itu, karena telah mengambil kondisi sebagai makhluk ciptaan, yang dipahami sebagai tidak layak di hadapan Allah. Setia pada jalan belas kasih ini, Ia pergi mencari domba-domba yang ditolak, duduk di meja bersama mereka, melucuti tangan dan hati yang ingin melempari mereka dengan batu. Dengan cara ini, sebagaimana dikatakan Bacaan Injil yang diwartakan dalam liturgi ini, sang Putra menunjukkan wajah Bapa: di dalam Dia karya-karya-Nya digenapi. "Telah sekian lama Aku bersama kamu, Fi;ipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?" (Yoh. 14:8-9).

 

Gereja yang hidup di Roma, batu yang dibuang adalah pokok pesan mesianik, yang menghadapkan kita pada mereka yang telah dan terus dicampakkan oleh masyarakat. Juga pokok pesan kita, pokok perutusan kita. Kita telah melihat Yang Kudus menyentuh yang najis, Yang Adil mengampuni orang berdosa, Kehidupan menyembuhkan orang sakit, Sang Guru membasuh kaki murid-murid-Nya yang kotor dan lelah.

 

Di kota ini, ibu kota kekaisaran besar, batu yang dibuang menjadi panji pengharapan baru, yaitu Kerajaan Allah, sebagaimana digambarkan dalam Khotbah di Bukit dan dinyanyikan dalam Magnificat. Dengan menumbangkan nalar dominasi, yaitu nalar mereka yang mengejar ambisi tanpa arti untuk menentukan arsitektur Bumi, di dalam Kristuslah orang-orang yang ditolak menemukan kembali martabat mereka dan merasa dipilih untuk Kerajaan Allah. "Jika tidak demikian," kata Yesus kepada murid-murid-Nya, "tentu Aku mengatakannya kepadamu: Sebab, Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Apabila Aku telah pergi dan menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada" (Yoh.14:2-3).

 

Saudara-saudari terkasih, inilah sebabnya, hingga hari ini, kita menjadi batu yang dibuang manusia dan dipilih oleh Allah: ketika, dengan hidup dan kata-kata kita, kita tidak menentang rencana yang menghancurkan kaum lemah, gagal menghormati martabat setiap orang, mengeksploitasi konflik dengan berpihak pada yang terkuat, seraya mengabaikan mereka yang tertinggal, mereka yang terpuruk, menganggap mereka yang menyerah sebagai ampas sejarah. Yesus berjalan di antara kita sebagai nabi yang melucuti, dan ketika Ia ditolak, Ia tidak mengubah jalan-Nya.

 

Dan sekarang saya berpaling kepadamu, saudara-saudara terkasih, yang mulai hari ini akan menjadi uskup auksiler Gereja ini, yang kepeduliannya telah saya terima sebagai anugerah; kepada kamu yang, bersama Kardinal Vikaris, sudi membantu saya untuk menjadi cerminan Gembala yang baik bagi umat Roma dan memimpin amal kasih seluruh umat Allah yang kudus yang tersebar di seluruh muka bumi.

 

Saya mendorongmu untuk menjangkau batu-batu yang dibuang di kota ini dan mewartakan kepada mereka bahwa di dalam Kristus, batu penjuru kita, tidak seorang pun dikecualikan untuk menjadi bagian aktif dari bangunan suci Gereja dan persaudaraan manusia. Gambaran ini menggemakan seruan Anjuran Apostolik Paus Fransiskus Evangelii Gaudium: untuk menjadi Gereja "rumah sakit lapangan", menjadi gembala jalanan, menaruh pinggiran materi dan eksistensial di dalam hati kita. Sebagai imam, kamu telah menerima undangan ini, bersama dengan komunitas paroki yang telah kamu dampingi. Sekarang datang panggilan baru, panggilan selanjutnya, yang selalu memiliki inti yang sama: tidak seorang pun, sama sekali tidak seorang pun, boleh menganggap diri mereka ditolak oleh Allah, dan kamu akan menjadi pembawa kabar baik ini yang merupakan inti dari Injil.

 

Perkenankanlah Roh nubuat bekerja di dalam dirimu: jangan puas dengan hak istimewa yang mungkin ditawarkan oleh kedudukanmu, jangan mengikuti nalar duniawi untuk memiliki tempat pertama, jadilah saksi Kristus yang datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani (bdk. Mrk 10:45). Kamu akan menjadi nabi dalam pelayananmu jika kamu adalah orang-orang yang cinta damai dan persatuan, menjembatani, dengan benang rahmat dan belas kasihan, ruang-ruang yang luas dan padat penduduk di Keuskupan ini, menyelaraskan perbedaan, menyambut, mendengarkan, dan mengampuni.

 

Jangan perkenankan dirimu dicari, perkenankan dirimu ditemukan. Dan pastikan bahwa para imam, diakon, biarawan dan biarawati, serta umat awam yang terlibat dalam kerasulan tidak pernah merasa sendirian. Bantulah mereka untuk membangkitkan kembali pengharapan dalam berbagai pelayanan mereka dan merasa menjadi bagian dari perutusan yang sama. Selalu ketahuilah bagaimana memotivasi individu dan komunitas tanpa lelah, hanya dengan mengingat keindahan Injil.

 

Semoga kaum miskin Roma, para peziarah, dan para pengunjung yang datang dari seluruh penjuru dunia, menemukan dalam penduduk kota ini, dalam lembaga-lembaganya, dan dalam para gembalanya, keibuan yang merupakan wajah otentik Gereja. Semoga Salus Populi Romani, Bunda kepercayaan kita, selalu membimbing dan melindungi kita sepanjang jalan.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Mei 2026)