Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA DI PAROKI SANTO THOMAS DARI VILLANOVA (CASTEL GANDOLFO) 15 Agustus 2026

Bacaan Ekaristi : Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab; Mzm. 45:10c-12,16; 1Kor. 15:20-26; Luk. 1:39-56.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Dengan penuh sukacita, saya kembali merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga bersamamu pada tahun ini.

 

Magisterium Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Maria, "setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat dengan tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi" (Pius XII, Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus, 1 November 1950), dan dalam misteri ini menunjukkan kepada kita penggenapan rahmat paling sempurna yang dianugerahkan Allah kepadanya pada saat ia dikandung tanpa noda (bdk. idem).

 

Oleh karena itu, banyak karya seni menggambarkan dirinya sebagai seorang perempuan muda yang cantik yang secara fisik terangkat dari bumi menuju surga pada akhir hidupnya di dunia. Karya-karya ini terinspirasi oleh gambaran yang termuat dalam kutipan Kitab Wahyu yang kita dengar dalam Bacaan Pertama: "Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya" (Why 12:1); hal ini melambangkan bahwa di dalam hati Maria, surga dan bumi, waktu dan kekekalan, bertemu.

 

Sekilas, gambaran ini tampak bertolak belakang dengan pengalaman kita mengenai dampak berlalunya waktu terhadap diri kita. Seiring bertambahnya usia, tubuh kita tidak menjadi lebih lincah, melainkan semakin berat; kulit kita tidak menjadi lebih segar, melainkan menunjukkan tanda-tanda penuaan; rambut kita tidak bertambah warna dan kilaunya, melainkan memutih. Lantas, apa kesamaan kita dengan sosok perempuan muda nan jelita yang digambarkan pada panel altar di gereja-gereja kita?

 

Untuk memahaminya, kita harus menyatukan kedua tanda yang telah disebutkan tadi: tubuh Bunda Allah yang tidak mengalami kerusakan dan hati-Nya yang tak bernoda. Sebab, kemurnian jiwalah yang — baik pada diri Maria maupun pada diri kita — berkat rahmat Allah, menerangi dan mengubah rupa seluruh pribadi kita, serta menuntun kita menuju kemuliaan surga.

 

Pemuliaan Maria, baik tubuh maupun jiwanya, mengajarkan kita bahwa keindahan sejati kita tidak terletak pada upaya menyembunyikan tanda-tanda penuaan, melainkan pada penampakan tanda-tanda kasih yang tidak berkesudahan, yang bahkan terpatri pada raga kita (bdk. 1Kor 13:8).

 

Dengan mempertimbangkan hal ini, kita diajak untuk meninjau kembali berbagai standar estetika — yang sebagian besar bersifat hedonistik dan konsumeristik — yang dipaksakan oleh dunia kepada kita. Standar-standar ini berisiko menjebak kita dalam ekspektasi yang membebani, membuat kita membuang-buang energi berharga untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting dan fana Dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai orang-orang yang wajahnya mencerminkan perjalanan waktu dan penderitaan, namun mampu memancarkan ketenangan, kebaikan, dan kedamaian di sekeliling mereka; sebagaimana kita juga mungkin melihat orang lain yang mungkin tampak menarik secara lahiriah, namun memiliki hati yang keras dan dingin. Mudah untuk melihat di mana letak keindahan sejati dan di mana, sebaliknya, masih diperlukan pertobatan, pengampunan, dan penyembuhan.

 

Jika kita sungguh ingin menemukan dan memelihara keindahan ilahi yang melingkupi kita — keindahan yang menjadi tujuan penciptaan kita — serta membagikannya kepada sesama, kita harus belajar melihatnya pada kerutan wajah seorang lansia maupun wajah lembut seorang anak, pada kedewasaan orang dewasa maupun semangat hidup kaum muda, serta pada busana dan peralatan kerja maupun hiasan perayaan. Kita harus menyimak kisah kasih unik yang dituturkan oleh setiap kenyataan ini, seraya mengenali di dalamnya sekilas gambaran tentang surga.

 

Kasih adalah perhiasan terindah bagi umat manusia. Kasih mengubah bentuk, mengubah rupa, memuliakan, dan mengangkat kita; menjadikan kita tanpa beban, bebas, dan dekat dengan Allah, bahkan di tengah pasang surut kehidupan.

 

Saat merenungkan misteri Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga, Santo Paulus VI mengatakan bahwa untuk memahami maknanya, “kita harus mengubah rupa istilah-istilah yang kita gunakan dalam bahasa duniawi seraya menjadi istilah yang bersifat superlatif dan mutlak [...], untuk membayangkan hal yang kekal dalam skala kecil” (Homili, 15 Agustus 1969). Mengenai perjumpaan antara yang tak terbatas dan yang terbatas dalam diri Bunda Allah, Paus Fransiskus menulis: “Maria mampu mengubah kandang menjadi rumah bagi Yesus, dengan kain lampin sederhana dan kasih yang melimpah” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 286).

 

Mukjizat yang dialami Maria, gadis dari Nazaret, di dalam hatinya yang murni — yang membawanya menuju kemuliaan surga — merupakan pertemuan antara dua hal yang sangat kontras, sebagaimana ia sendiri ungkapkan dalam kata-kata Magnificat yang diilhami Roh Kudus, yang telah kita dengar dalam Injil (bdk. Luk 1:46–55). Dalam nyanyian pujian ini, melalui ungkapan iman yang rendah hati, Bunda Allah berbicara kepada kita dengan bahasa sederhana mengenai misteri agung yang dialaminya, seperti peristiwa Allah menjadi manusia di dalam dirinya demi menyelamatkan umat manusia, dan Sang Kekal yang menyatakan diri-Nya dalam ruang dan waktu untuk membuka kembali jalan menuju keabadian bagi kita. Pada saat yang sama, dalam kedudukannya sebagai “hamba yang rendah hati,” Santo Paulus VI mengatakan bahwa Maria memperlihatkan kepada kita “dimensi kerendahan hati” di mana kita pun dapat berjumpa Tuhan.

 

Kita tidak perlu mencari jauh-jauh untuk menemukan keluhuran misteri yang kita rayakan. Kita dapat menjumpainya di mana pun terdapat kasih sejati. Misalnya, dalam tatapan mata seorang ayah dan ibu yang pulang ke rumah setelah seharian beraktivitas — lelah, namun bahagia bisa berkumpul dengan anak-anak mereka. Pada wajah para kakek nenek yang, meski didera rasa sakit dan nyeri akibat usia lanjut, dipenuhi energi tak terduga saat merawat cucu-cucu mereka. Dalam komitmen kaum muda yang berupaya untuk tumbuh dalam moralitas dan ketulusan, bahkan siap untuk mengambil jalan yang berbeda dari arus umum "apa yang dilakukan orang kebanyakan." Akhirnya, dalam karya sehari-hari begitu banyak orang yang, dengan iman dan dedikasi, turut menghadirkan secercah surga ke bumi dan mendekatkan bumi kepada surga.

 

Saudara-saudari terkasih, wajah indah Bunda Maria yang Diangkat ke Surga sungguh unik; wajah itu melampaui segala bentuk penggambaran yang mungkin ada, namun pada saat yang sama, terasa begitu akrab bagi kita. Bahkan saat ini pun, kita dapat melihat wajahnya pada orang-orang yang dekat dengan kita, seperti saudara-saudari yang bersama-sama dengan kita — dalam iman — mempersembahkan hidup kita sehari-hari. Oleh karena itu, komunitas orang beriman melihat dirinya tercermin dalam sosok perempuan yang dikisahkan dalam Kitab Wahyu, dan Konsili Vatikan II menggambarkan Maria sebagai “citra serta awal Gereja, […] sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan” (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, 68). Dalam kodrat kemanusiaannya yang kudus, berkat rahmat Allah, kita juga melihat kodrat kita sendiri; maka, kita pun dipanggil untuk menjalani kehidupan penuh rahmat yang sama seperti yang dijalaninya serta turut ambil bagian dalam kemuliaannya.

 

Saat berbicara mengenai kebangkitan Kristus, Santo Agustinus mengajak umat kristiani pada zamannya untuk menjadikan peristiwa itu sebagai kompas dan pusat kehidupan mereka. Ia berkata: “Kristus bangkit dari antara orang mati agar Ia tidak lagi mati untuk selama-lamanya […]. Ubahlah arah hidupmu, ikutilah terang itu! Mulailah bangkit dari tempat Ia bangkit” (Enarratio in Psalmos, 126:7).

 

Mari kita terima undangan-Nya. Marilah kita ikuti terang Tuhan yang bangkit, seraya mengubah arah perjalanan jika perlu. Marilah kita melakukannya, khususnya pada hari ini, dengan memandang kepada Maria — yang telah dimahkotai kemuliaan oleh Allah baik jiwa maupun raganya, serta yang telah Ia karuniakan kepada kita sebagai Ibu, pembimbing, teman seperjalanan, dan pelindung di jalan menuju surga.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Agustus 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI LAPANGAN OLAHRAGA “ARENA”, SALINA, LAMPEDUSA (ITALIA) 4 Juli 2026

Bacaan Ekaristi : Ibr. 13:1-5; Luk 10:25–37.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Allah selalu mengasihi kita terlebih dahulu. Keindahan laut, pulau ini, dan wajah-wajahmu adalah cerminan dari prakarsa-Nya yang tanpa pamrih: kasih mendahului, mengelilingi, dan menyatukan kita. Saya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan untuk mengunjungimu, mengikuti jejak Paus Fransiskus, yang memilih untuk mengunjungi Lampedusa pada tanggal 8 Juli 2013 sebagai perjalanan pertamanya sebagai Penerus Petrus.

 

Sebagaimana kamu ketahui, para Rasul berlayar di Laut Mediterania dan mengalami keramahan penduduk pulau-pulau dan pesisirnya, yang telah menjadi persimpangan peradaban selama ribuan tahun. Injil bergema di tempat orang-orang bertemu, orang-orang saling menyambut, kehidupan mereka saling terkait, dan aneka budaya terlibat dalam dialog. Namun, Injil menjadi sunyi ketika setiap orang menjadikan dirinya sebuah pulau, menghindari dan memutuskan kontak. Dalam pengertian ini, perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati, yang baru saja kita dengar, menggambarkan sebuah kisah yang terus berbicara kepada kita (bdk. Luk 10:25–37), dan Ensiklik Fratelli Tutti telah membantu kita untuk meninjaunya kembali dalam terang keadaan sejarah yang menantang untuk kita hadapi. Sabda Allah selalu relevan untuk hari ini dan mengajak kita ke dalam percakapan yang menjadi sumber perubahan kita. Lalu, bagaimana kita akan menanggapi kasih dari Dia yang telah mengasihi kita terlebih dahulu?

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini Lampedusa dan Linosa terbentang di sepanjang jalan yang sama berbahayanya dengan jalan dari Yerusalem ke Yerikho (bdk. ayat 30). Di sini kamu telah melihat bukan hanya satu, tetapi ribuan manusia jatuh ke tangan penyamun yang telah mengambil segala sesuatu dari mereka, memukuli mereka dengan membabi-buta dan pergi begitu saja, meninggalkan mereka dalam keadaan setengah mati (bdk. idem). Laut telah merenggut nyawa orang-orang lainnya — mereka yang tidak berhasil mencapai tujuan yang mereka harapkan. Namun kita merasakan kehadiran mereka, yang menantang kita setidaknya kehadiran mereka yang telah mendarat dan membutuhkan perhatian dan pertolongan. Sesungguhnya, sebelum pertimbangan intelektual atau keyakinan ideologis apa pun, perjumpaan dengan mereka yang terbaring di hadapan kita, yang telah kehilangan segalanya, memanggil kita untuk dekat dengan mereka. Surat kepada orang Ibrani mengatakan kepada kita: “Ingatlah juga orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini” (13:3). Inilah inti dari perumpamaan Injil: kita menjadi sesama dengan bertindak sebagai sesama (bdk. Luk 10:36-37)!

 

Saya datang untuk mengucapkan terima kasih kepadamu, saudara-saudari Lampedusa, atas solidaritas yang telah ditunjukkan oleh begitu banyak pendudukmu. Sekali lagi, mukjizat belas kasihan telah terjadi: “Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” (ayat 33). Sebuah revolusi batin yang memunculkan “hati” Allah di dalam diri kita dan memperluas pikiran, hati, dan hidup kita. Saya berterima kasih kepada para sukarelawan, organisasi-organisasi yang bersatu dalam “Forum Lampedusa Solidale,” lembaga-lembaga sipil, Penjaga Pantai, para walikota dan pemerintah daerah yang telah melayani selama bertahun-tahun. Saya juga berterima kasih kepada para diakon, imam, biarawati, dokter, psikolog, dan pendidik, serta aparat keamanan dan semua orang yang, dengan atau tanpa karunia iman, telah memilih untuk saling mengasihi. Ya, kasih telah terwujud di antaramu. Belas kasihan, yang mengenali saudara-saudari yang berada dalam bahaya di laut, adalah dorongan pertamanya: sebuah panggilan mendalam untuk melakukan apa yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Saya menyapa para migran yang berada di sini. Mereka sendiri tidak hanya menerima solidaritas tetapi sering menunjukkannya dalam perjalanan mereka, sebagai orang miskin yang membantu orang yang paling miskin. Terima kasih, saudara-saudari, karena tidak ada yang bisa dianggap remeh dalam uluran tanganmu kepada sesama; tidak ada yang terjadi secara otomatis.

 

Perumpamaan memberitahu kita bahwa kasih selalu berakar pada kebebasan, dan kebebasan terletak pada keputusan yang kita buat. Ada juga mereka yang memilih untuk tidak menjadi sesama dan mereka yang memilih untuk tidak membuat keputusan. Mereka yang telah kehilangan nyawa di laut ini adalah korban dari keputusan yang telah dibuat dan keputusan yang tidak dibuat. Ketidakpedulian terhadap kebaikan bersama dan korupsi di negara asal mereka; sistem ekonomi global yang menghasilkan kemiskinan dan pengucilan; ketakutan yang memicu prasangka dan penghinaan; keyakinan bahwa masalah-masalah tersebut tidak menyangkut kita; perhitungan kriminal dari mereka yang mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain; transisi yang lambat dan sulit dari sekadar manajemen darurat ke pengembangan kebijakan yang komprehensif dan bersama — semuanya merupakan gema masa kini "melewati" dengan tergesa-gesa (ayat 31-32) dalam narasi Injil.

 

Dalam perumpamaan itu, seorang imam berada di sana “secara kebetulan ” (ayat 31), diikuti oleh seorang Lewi. Keduanya melihat apa yang sedang terjadi, tetapi mereka melanjutkan perjalanan mereka. Sayangnya, di setiap zaman ada orang-orang yang takut “terkontaminasi” akibat berkontak dengan orang lain, sehingga menyangkal — bahkan di hadapan penderitaan dan kematian — asal usul kita yang sama di dalam Allah, martabat tak terbatas setiap manusia, dan panggilan untuk mengasihi yang tak terbatas. Sudah saatnya untuk mengakui dan menegaskan bahwa afiliasi agama tidak boleh menjadi alasan untuk diskriminasi, seolah-olah iman memiliki batasan daripada menjadi panggilan universal untuk keselamatan. Di mana ada tembok pemisah, Kristus merobohkannya (bdk. Ef 2:14). Tidak ada kasih kepada Allah tanpa kasih kepada sesama, dan tidak ada sesama jika saya tidak mendekat. Berhenti sejenak, tergerak, membungkuk, menangis di hadapan penderitaan orang lain — sebagaimana dilakukan Yesus — berarti memasuki dinamika kasih, gerakan di mana Allah telah menyatakan diri-Nya.

 

Sahabat-sahabatku terkasih, orang-orang yang membiarkan diri mereka ditarik ke dalam dinamika bela rasa dan belas kasihan ini mulai hidup secara berbeda, menjadi warga negara dengan cara yang berbeda, dan bekerja secara berbeda. Kemudian peradaban kasih — yang diimpikan oleh para santo pendahulu saya, Yohanes XXIII, Paulus VI, dan Yohanes Paulus II — dapat benar-benar muncul. Bersama dengan sejumlah besar nabi dan martir abad lalu, mereka memahami bahwa hanya belas kasihan yang dapat menanggapi kedalaman hati manusia dan kengerian perang dengan membuka jalan menuju awal yang baru. Sekarang, berdiri di atas pundak para raksasa ini, kita telah memasuki milenium di mana kita harus memberikan ungkapan spiritual, budaya, hukum, politik, dan ekonomi kepada peradaban kasih. Semoga besarnya penderitaan yang kita saksikan membantu kita memahami sifat radikal dari panggilan ini.

 

Sebagaimana orang Samaria yang murah hati, kita selalu dapat mengubah rencana dan arah kita. Melebihi orang Samaria yang murah hati, kita memiliki sumber daya dan kesempatan untuk memberikan harapan sebuah kenyataan sejarah yang konkret. Ia “mendekati dia, lalu membalut luka-lukanya sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke penginapan dan merawatnya” (Luk 10:34). Kita pun harus menyadari bahwa “peradaban kasih tidak akan muncul dari satu tindakan tunggal atau spektakuler, tetapi dari keseluruhan tindakan kesetiaan kecil dan teguh yang berfungsi sebagai benteng melawan dehumanisasi” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 213). Untuk ini, sahabat-sahabat Lampedusa, kamu adalah saksinya! Di sini, saat kita bertemu satu sama lain, kita memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang zaman kita, dan kita masing-masing dapat menilai arah hidup kita sendiri. “Tentu saja, tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama untuk membuat perbedaan… Namun, tidak seorang pun tanpa tanggung jawab. Kita semua memiliki bidang tindakan masing-masing, dan justru di situlah — dan bukan di tempat lain — kita harus memilih apakah akan memicu mentalitas kekerasan (walaupun hanya melalui ketidakpedulian, sinisme, kebohongan, atau kebencian), atau melestarikan pola pikir perdamaian (dengan kebenaran, moderasi, kedekatan, dan kepedulian)” (idem., 212).

 

Dari sudut terpencil Eropa di Laut Mediterania ini, kita dapat lebih jelas memahami tantangan besar yang ditimbulkan oleh fenomena migrasi bagi masyarakat Eropa. Dalam hal ini, seperti halnya transisi ekologis dan promosi perdamaian, Eropa memiliki potensi unik, yang berasal dari sejarah dan budayanya, dan oleh karena itu memikul tanggung jawab yang sesuai. Berkat lokasi geografis dan kerangka kelembagaannya, Eropa mampu mengatasi krisis — di wilayah ini — secara komprehensif, mengintegrasikan upaya bantuan segera ke dalam rencana strategis jangka panjang yang mampu menerima, melindungi, mendukung, dan mengintegrasikan migran, sekaligus membantu negara-negara berkembang agar tidak ada yang terpaksa bermigrasi. Semua ini harus dilakukan dengan waspada, memastikan penghormatan terhadap martabat masing-masing orang. Tugas ini bukan hanya untuk lembaga publik tetapi juga untuk masyarakat sipil secara keseluruhan dan Gereja.

 

Saudara-saudari, sebagaimana saya katakan baru-baru ini di Tenerife selama Perjalanan Apostolik saya ke Spanyol, di Lampedusa juga, budaya keramahan memiliki dimensi pariwisata, yang sayangnya, dapat merasa terancam oleh jalur migrasi dan menimbulkan ketidakpedulian, atau bahkan penentangan, terhadap aspek dramatisnya. Memang, bagi banyak orang, liburan hanyalah pengalihan perhatian, waktu untuk bersenang-senang dan menikmati hidup tanpa beban. Kemudian, seolah-olah tembok tak terlihat harus didirikan antara lautan migran yang terdampar dan para wisatawan. Beranilah untuk berpikir berbeda. Sedikit demi sedikit, dengan sedikit kreativitas, kamu akan dapat memastikan bahwa siapa pun yang menghabiskan waktu di pulau ini, meskipun hanya untuk beristirahat, menjadi lebih manusiawi, terinspirasi oleh kedermawananmu, apa yang telah diajarkan laut kepadamu, dan pertemuan-pertemuan yang telah membentukmu. Ada istirahat yang autentik ketika makna hidup ditemukan kembali, dan kesejahteraan sejati ketika ekonomi adil dan bersaudara. Dalam ekonomi seperti itu, kepedulian terhadap ciptaan dan persahabatan sosial bersatu dalam sintesis yang sedang dicari umat manusia saat ini.

 

Bacaan Pertama mengingatkan kita bahwa, dengan mempraktikkan keramahan, “beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (Ibr. 13:2). Semoga kamu, dengan caramu sendiri yang sederhana, menjadi tanda kenabian tentang apa yang dapat kita cita-citakan bersama dalam skala yang lebih besar. Kamu dan keluargamu akan menjadi yang pertama mendapatkan manfaat dari hal ini, mengatasi perpecahan dan perbedaan yang hanya dapat diatasi oleh kasih. Paroki, khususnya, harus menjadi komunitas di mana, dituntun oleh Injil, kita belajar untuk menyambut, menemani, dan mengintegrasikan satu sama lain dalam semangat persekutuan.

 

Di sini, di samping altar, kita memiliki gambar Bunda Maria Pelindung Pelabuhan, pelindung Lampedusa. Mungkin kamu tahu bahwa Santo Agustinus suka menggambarkan kehidupan manusia sebagai perjalanan melintasi laut yang berbadai dan takdir seseorang sebagai pelabuhan yang aman dan terlindungi. Janganlah kita dikalahkan oleh rasa takut, tetapi sebaliknya pandanglah kesulitan sehari-hari sebagai waktu kesempatan dan kesaksian. Semoga imanmu, sahabat-sahabat terkasih, dikuatkan oleh tahun-tahun pencobaan dan komitmen yang berlimpah ini. Semoga gambar yang dihormati ini berbicara kepadamu sekali lagi dengan kekuatan yang sama seperti di masa lalu, ketika mereka yang mewariskan devosi ini mempercayakan diri mereka kepada perantaraan Perawan Maria dengan ketulusan yang radikal. Di dalam Allah kita semua memiliki tempat berlindung yang aman, dan setiap komunitas kristiani dipanggil untuk menjadi cerminannya di bumi. Dan kepadamu, komunitas Lampedusa dan Linosa, semoga kamu tidak pernah kekurangan nafas iman, harapan, dan kasih: “O’scià!” [salam tradisional penduduk Lampedusa].

____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Juli 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA SANTO PETRUS DAN SANTO PAULUS RASUL 29 Juni 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 12:1–11; Mzm. 34:2-3.4-5.6-7.8-9; 2Tim. 4:6–8,17–18; Mat. 16:13–19.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini, dalam satu hari raya khusus, kita memperingati Santo Petrus dan Santo Paulus, para santo pelindung Kota dan Keuskupan Roma. Santo Petrus dipilih Yesus sebagai gembala kawanan domba-Nya, dan Santo Paulus sebagai rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Dalam diri mereka, kita menghormati dua pilar Gereja.

 

Petrus, penjaga umat Allah, dalam Perjanjian Baru sering digambarkan sebagai orang yang berusaha menjaga persekutuan di antara saudara-saudaranya. Dialah yang, setelah sepanjang malam kerja kerasnya di Danau Galilea tampak sia-sia, berkata kepada Sang Guru, “Kami tidak menangkap apa-apa. Namun, karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala” (Luk 5:5). Kemudian ia berlayar bersama para murid lainnya. Juga, sementara banyak orang mengundurkan diri setelah khotbah Tuhan yang sulit tentang Roti Kehidupan, dialah yang berkata kepada Mesias, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6:68), dan tetap bersama kesebelas murid lainnya. Dialah yang, di Kaisarea, mengenali Yesus sebagai Anak Allah dan, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Injil (bdk. Mat. 16:13-19), berbicara atas nama semua murid untuk menyatakan satu iman. Bahkan setelah kebangkitan, di tepi danau, Petrus adalah orang pertama yang menemui Kristus, terjun ke dalam danau dan berenang mendahului murid lainnya untuk dengan rendah hati memperbarui kasihnya dan menerima penegasan atas perutusannya (bdk. Yoh 21:1-17).

 

Petrus tetap setia pada perutusan ini bahkan ketika, misalnya, di Yerusalem, pertanyaan tentang menerima orang-orang bukan Yahudi yang tidak disunat untuk dibaptis mengancam memecah belah komunitas. Ia mengumpulkan saudara-saudaranya, mendengarkan mereka dan pada akhirnya, dibimbing oleh Roh Kudus, membuat keputusan yang melestarikan persekutuan dan mengantarkan era baru bagi seluruh umat Allah. Justru ia menyatakan, “Kita percaya bahwa melalui anugerah Tuhan Yesus kita diselamatkan sama seperti mereka juga” (Kis. 15:11).

 

Keluhuran ini tidak berarti bahwa Petrus sempurna. Selama sengsara Sang Guru, ia menyangkal-Nya, hanya untuk kemudian meneteskan air mata penyesalan yang tulus (bdk. Luk. 22:54–62); dan Paulus sendiri, dalam keadaan yang berbeda, menegurnya karena ketidakkonsistenan beberapa tindakannya (bdk. Gal. 2:11–14). Namun Petrus tahu bagaimana mengakui kesalahannya dan bertobat, tanpa menjadi berkecil hati serta tidak gagal dalam perutusannya untuk mewartakan Injil dan mengumpulkan kawanan domba Kristus, bahkan sampai mati sebagai martir — nasib yang dideritanya di sini di Roma, tidak jauh dari tempat kita berkumpul.

 

Kepedulian yang setia dan sabar terhadap persatuan ini diungkapkan dengan baik oleh simbol kunci, yang sering kita kaitkan dengan Petrus (bdk. Mat 16:19). Kunci tidak mendobrak pintu; sebaliknya, kunci membuka dan menutupnya dengan menemukan tuas yang tepat di dalamnya dan menuntun pergerakannya, sehingga kunci dapat terbuka, grendel dapat ditarik, dan pintu dapat berputar bebas pada engselnya, sehingga menyatukan ruangan-ruangan dan mengubah rupa banyak ruangan terisolasi menjadi satu rumah yang ramah. Dengan cara yang sama, persekutuan di dalam Gereja tidak dibangun dengan berpegang teguh pada posisi masing-masing, tetapi dengan mencari, di dalam hati semua orang, titik temu dalam sang Kebenaran, yang hanya dalam terang-Nya setiap orang menjadi sarana pertumbuhan bagi sesamanya.

 

Dalam terang ini, kita dapat menafsirkan perutusan yang dipercayakan Tuhan kepada Petrus dan para penerusnya untuk kepentingan seluruh umat Allah yang kudus. Perutusan ini adalah untuk mendengarkan, dengan pertolongan-Nya, suara setiap orang; membedakan bermacam-macam roh; menuntun jalan; mengoreksi kesalahan; mengajar, mendorong, menasihati, dan mendampingi saudara-saudari kita sehingga, dengan taat kepada tindakan Roh yang sama (bdk. 1Kor. 12:1-11), mereka dapat bekerjasama demi keselamatan satu sama lain dan seluruh umat manusia. Lebih jauh lagi, teladan Petrus adalah undangan bagi setiap umat kristiani untuk menjadi pembangun persatuan, menempatkan Allah di pusat kehidupan kita dan mendekatkan diri kepada saudara-saudari kita, memperhatikan keadaan dan kebutuhan mereka (bdk. Fransiskus, Katekese, 9 Oktober 2024). Dengan cara ini, kita belajar untuk hidup bersama dalam kasih, sehingga pesan itu dapat diberitakan dengan sepenuhnya (bdk. 2Tim. 4:17).

 

Ini juga merupakan ajaran Paulus, rasul besar lainnya yang kita rayakan hari ini dan pewarta Kabar Baik yang tak kenal lelah. Ia juga memiliki simbol yang khas: kitab dan pedang, yang terkait erat satu sama lain. Penulis Surat kepada orang Ibrani menjelaskan hal ini dengan baik ketika ia menulis bahwa “firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun,” mampu menusuk sangat dalam “sampai memisahkan jiwa dari roh” dan sanggup menilai “pikiran dan niat hati” (Ibr. 4:12).

 

Inilah yang digenapi Allah dalam hati Saulus muda, memenangkan hatinya (bdk. Flp. 3:12), pertama-tama membawanya kepada pertobatan bagi Injil dan memberinya nama baru, lalu mengutusnya untuk memberitakannya ke seluruh dunia. Akhirnya, seperti Petrus, ia harus memberi kesaksian tentang Injil bahkan sampai mengurbankan nyawanya di kota ini. Rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi itu membiarkan dirinya diubah rupa oleh kuasa sabda Allah, yang menyelamatkannya dari jalan kekerasan dan menuntunnya ke jalan kasih.

 

Santo Agustinus, ketika mengulas pertobatan dan perutusan Paulus, berkata, “Ketika ia sedang dalam perjalanan [ke Damsyik] dengan hati yang dipenuhi ancaman dan pembunuhan, ia dipanggil namanya dan rebah ke tanah oleh suara surgawi (bdk. Kis. 9:1–7), yaitu, oleh Sabda yang memanggilnya” (Khotbah 299/A augm., 6). Dan ia menambahkan, “Allah mengambil penganiaya Gereja dan menjadikannya utusan perdamaian. Ia mengampuni semua dosanya dan menempatkannya dalam pelayanan di mana ia dapat mengampuni dosa sesamanya” (idem).

 

Saudara-saudari terkasih, meneladani kedua santo ini — Petrus dan Paulus — untuk memahami bagaimana kita, pada gilirannya, dapat menjadi rasul dan pembangun persatuan, serta pelayan kebenaran yang murah hati dalam kasih sangat penting bagi kita hari ini. Dalam semangat ini, kita akan merayakan ritus kuno dan mengharukan pemberian pallium kepada para uskup agung metropolitan. Pita wol putih yang dihiasi salib ini memang mengungkapkan komitmen setiap gembala — dan juga setiap umat kristiani — untuk memikul di pundak mereka saudara-saudari yang dipercayakan kepada mereka, seperti kawanan domba-domba Tuhan, dan mengurbankan energi, waktu, usaha, dan bahkan hidup mereka demi saudara-saudari tersebut. Mereka melakukannya agar Injil dapat menjangkau semua orang, dan seluruh dunia dapat menemukan keselarasan dan kerukunan di dalamnya (bdk. Konsili Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 38).

 

Dengan perasaan ini, dengan penuh sukacita saya menyampaikan salam hangat kepada para anggota Delegasi Patriarkat Ekumenis Konstantinopel, yang diutus saudara terkasih saya Yang Mulia Bartolomeus dan dipimpin oleh Yang Mulia Emmanuel, Metropolitan Kalsedon.

 

Marilah kita berdoa kepada Santo Petrus dan Santo Paulus agar mereka menopang kita dalam perjalanan persekutuan kita mengikuti jejak Sang Juruselamat. Inilah jalan yang telah Ia tetapkan bagi kita, yang Ia doakan kepada Bapa pada Perjamuan Terakhir (bdk. Yoh. 17:21–23), dan tujuan yang telah Ia ajarkan untuk kita cita-citakan dengan pengharapan yang penuh keyakinan (bdk. Benediktus XVI, Homili Misa Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, Rasul, 29 Juni 2012).

______

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Juni 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA PEMBUKAAN KONSISTORI LUAR BIASA 26 Juni 2026

Bacaan Ekaristi : 1Kor. 12:1-11; Yoh 15:1-10.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita telah berkumpul di sekitar altar Tuhan, di makam Santo Petrus, untuk memulai konsistori ini. Dari pelbagai penjuru dunia, kita datang untuk merayakan Ekaristi ini. Marilah kita mempersembahkan kepada Allah hidup kita serta komunitas-komunitas dan bangsa-bangsa yang kita kasihi, serta rencana pastoral dan pengalaman kita dengan segala sukacita dan dukacitanya.

 

Keanekaragaman emosi dan pikiran ini kini menyatu dan menemukan pusatnya yang bercahaya di dalam Kristus, yang berbicara kepada kita, dengan berkata: “Akulah pokok anggur yang benar” (Yoh. 15:1). Melalui Yesus, anugerah dan kebenaran mengalir ke dalam hidup kita (bdk. Yoh. 1:17), memperbarui diri kita. Karunia ilahi ini juga merupakan santapan yang memberi kehidupan bagi konsistori yang kita resmikan hari ini. Bacaan Injil mempersiapkan landasan agar konsistori ini berbuah: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 15:4). Di satu sisi, Sang Guru memperingatkan kita bahwa “di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (ayat 5), dan di sisi lain, Ia ingin murid-murid-Nya “berbuah banyak” (ayat 8). Memang banyak buah, karena anugerah Allah tidak menghambat pertumbuhan mereka yang menerimanya, justru berkembang pesat. Sesungguhnya, Sabda yang kekal menjadi manusia supaya semua orang dapat “mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Setelah dimulai dengan iman, hidup ini diperkuat bahkan melalui cobaan pemangkasan, karena dipupuk oleh perhatian Bapa.

 

Saat kita memohon kepada Allah untuk menganugerahkan kekuatan dan kebijaksanaan kepada kita, sangatlah penting bahwa konsistori kita berlangsung menjelang Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus. Marilah kita berhenti sejenak untuk mengingat kedua pilar Gereja Katolik Roma ini, kedua martir misioner yang khotbahnya menyatu dengan hidup mereka, hingga menjadi bagian dari Kitab Suci.

 

Saat kita mendengarkan kata-kata Santo Paulus kepada jemaat Korintus hari ini, kita dapat melihat betapa indahnya kata-kata itu selaras dengan Bacaan Injil. Sesungguhnya, berbagai karisma, pelayanan, dan kegiatan gerejawi bagaikan carang-carang dari satu pokok anggur — yaitu, dari Tuhan yang sama (bdk. 1Kor. 12:4-6), yang mencurahkan Roh Kudus kepada Gereja-Nya. Sesuai dengan kesatuan organik ini, standar yang menjadikan semua bentuk pelayanan dalam Gereja baik dan berbuah adalah standar kepentingan bersama (bdk. ayat 7).

 

Saudara-saudari terkasih, guna membimbing pertimbangan kita selama hari-hari ini, saya ingin mengambil beberapa wawasan dari sabda Allah yang baru saja kita dengar.

 

Pertama, teladan Santo Petrus dan Santo Paulus mendorong kita untuk berbagi dalam kebebasan iman yang sejati. Bahkan, justru hubungan kita dengan Tuhan Yesus yang membebaskan kita dari dosa dan ketakutan. Sebagaimana Ia memanggil kita untuk mengikuti-Nya, Ia sendiri mengutus kita ke dunia sebagai penerus para Rasul. Oleh karena itu, mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan mengabdikan diri kepada kawanan Tuhan terwujud dan berbuah sejauh kita percaya kepada Dia, sang Gembala yang baik. Iman adalah kebajikan — yang tidak boleh dianggap remeh — yang memberi kehidupan kepada Gereja, karena iman adalah anugerah yang memelihara carang-carang dari satu pokok anggur. Gereja yang hidup adalah Gereja yang percaya berkat karunia Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam hati kita. Dan Gereja ini berbuah banyak. Dengan demikian, sebagaimana rahmat ilahi mendahului kebebasan manusia, iman Gereja mendahului iman kita dan menuntut kesaksian yang sungguh-sungguh. Perutusan ini memiliki Kristus sebagai awal dan akhirnya. Mengutip kata-kata pemazmur, “Kabarkanlah karya keselamatan-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa” (Mzm 96:2-3).

 

Kedua, kita memohon karunia perdamaian dalam persatuan. Bahkan ketika kita mengajak semua bangsa kepada iman yang benar-benar membebaskan kita, ketegangan dan konflik internasional sangat melukai keluarga manusia. Pada saat yang sama, Gereja dan dunia tidak kekurangan prakarsa dan pengalaman yang menyerukan penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, supremasi hukum, dan sekadar apa yang manusiawi. Memang, ada banyak contoh seperti itu. Ini adalah sumber pengharapan, karena membuktikan keindahan karya Allah, yang menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya sebagai tanda kemuliaan-Nya di dunia. Setiap kali tanda ini terluka, kita semua terluka. Setiap kali tanda ini dirusak, kita semua menderita. Setiap kali tanda ini dihancurkan, kita semua merasa terkoyak. Oleh karena itu, perang tidak pernah layak bagi kemanusiaan, dan tidak pernah diberkati Allah, karena, meskipun kita dilengkapi dengan senjata berteknologi tinggi, Sang Pencipta telah menganugerahi kita kecerdasan dan kehendak bebas untuk menyelesaikan konflik sebagai manusia dan bukan sebagai binatang. Bahwa persatuan keluarga manusia lebih diutamakan daripada bangsa dan negara secara individu bukan sekadar fakta biologis, melainkan prinsip etika. Perdamaian adalah kewajiban keadilan karena kita adalah satu keluarga manusia, sebuah magnifica humanitas yang menemukan kepala dan penebusnya dalam Kristus.

 

Saat kita merefleksikan ensiklik yang saya umumkan pada tanggal 15 Mei lalu, kita harus tekun menempuh jalan yang digariskan oleh Santo Paulus VI, karena ketika ia “mencetuskan frasa ‘peradaban kasih,’ dunia berada di tengah-tengah Perang Dingin, perlombaan senjata, dan ketidakstabilan ekonomi yang parah. Dalam konteks itu, Gereja mengusulkan jalan alternatif selain oposisi ideologis antarsistem, dan membayangkan tatanan sosial di mana keadilan dan kasih sayang saling terkait” (Surat Ensiklik Magnifica Humanitas, 186. Bdk. Santo Paulus VI, Regina Caeli, 17 Mei 1970). Sesungguhnya, inilah bagaimana kesaksian kristiani menjadi nubuat, penginjilan, dan pelayanan bagi dunia baru, serta proyek budaya dan sosial yang mendorong pembangunan manusia secara utuh. Saat Gereja mewartakan Injil, di tengah sukacita dan penganiayaan, Gereja tidak pernah pilih kasih, karena ia untuk semua orang, dan kepada setiap orang Gereja menyampaikan pesan pertobatan dan keselamatan yang sama.

 

Ketiga, hari ini dan selalu, marilah kita menikmati keselarasan melalui ketaatan — yaitu, mendengarkan yang mengenali karunia sang Sabda yang menjadi daging bagi kita. Melalui pendengaran seperti itu, Roh Kudus membimbing kita, menunjukkan tantangan dan peluang pastoral, memurnikan niat kita dan mengoreksi apa pun yang menyimpang dari jalan kita bersama. Pelaksanaan Sinode, yang telah menjadi komitmen kita, mengajak semua orang untuk bergerak maju dalam kesatuan iman, dalam mempromosikan perdamaian, dan dalam ketaatan kepada Yesus, sang Sabda yang hidup. Dalam terang ini, “perubahan budaya masa kini yang cepat dan luas menuntut bahwa kita terus berupaya mencari cara-cara mengungkapkan kebenaran yang tak berubah dalam bahasa yang menimbulkan kebaruannya yang abadi.” (Paus Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 41). Sabda yang menjadi daging tersebut sesungguhnya diungkapkan dalam semua bahasa: Kristus yang wafat dan bangkit kembali adalah pokok anggur yang benar, yang berbuah melalui semua budaya yang diubah rupa oleh umat kristiani dari dalam. Dengan demikian, ketika ideologi-ideologi dunia lenyap, Roh Kudus membuat kerukunan persaudaraan, amal kasih, dan semangat misioner berkembang di dalam Gereja.

 

Kerjasama kita secara kolegial mewujudkan sinodalitas di mana semua orang yang dibaptis berpartisipasi dalam kesatuan umat Allah. Sinodalitas dan kolegialitas, pada kenyataannya, adalah bentuk persaudaraan kristiani, yang mengikat kita bersama sebagai orang yang dibaptis dan sebagai uskup. Oleh karena itu, dalam membantu saya dalam menjalankan pelayanan Petrus, kamu akan menemukan dalam diri saya seseorang yang meminta, bukan memerintah. Lebih jauh lagi, otoritas keutamaan dimiliki oleh orang yang mendengarkan dan baru kemudian memimpin, oleh orang yang belajar dan baru kemudian mengajar, selalu mengikuti satu-satunya Guru. Semoga perantaraan Santo Petrus dan Santo Paulus Rasul menyertai kita dalam perjalanan yang mempesona ini.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Juni 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI STADION GRAN CANARIA, LAS PALMAS, SPANYOL 11 Juni 2026

Bacaan Ekaristi : Ul. 7:6-11; Mzm. 103:1-4,6-8,10; 1Yoh. 4:7-16; Mat. 11:25–30.

 

Saudara-saudari terkasih, saat saya merayakan Ekaristi ini bersamamu setelah seharian penuh dengan perjumpaan dan kebersamaan, pertama-tama saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan atas segala kebaikan yang dilakukan di sini setiap hari, mempercayakan kepada-Nya komitmen setiap orang dan, pada saat yang sama, penderitaan yang menjadi saksi negeri ini. Saya juga mengajakmu untuk berdoa bersama, selama Misa Kudus ini, untuk saudara-saudari kita yang telah kehilangan nyawa di laut.

 

Kita membawa semua ini ke altar, bersama dengan roti dan anggur, saat kita memasuki, dengan perayaan Vigil petang ini, Hari Raya Hati Yesus yang Maha Kudus, yang kepadanya seluruh Spanyol dikonsekrasikan. Marilah kita memohon kepada Tuhan agar, pada saat ini, perasaan kemanusiaan, belas kasihan, dan bela rasa hati Sang Juruselamat dapat hidup di dalam diri kita.

 

Dalam permenungan kita, kita mengambil inspirasi dari bacaan-bacaan yang telah kita dengar.

 

Dalam Bacaan Pertama, Allah mengingatkan bangsa Israel akan kasih tanpa syarat yang telah Ia berikan kepada mereka. Ia memilih mereka bukan karena mereka memiliki hak istimewa, karunia, atau jasa khusus, tetapi karena kasih semata (bdk. Ul. 7:7-9), dan Ia akan terus mengasihi mereka selalu, bahkan ketika, karena hati mereka mengeras, mereka tidak membalas kasih-Nya.

 

Inilah kasih Allah, di mana panggilan kita untuk mengasihi berakar. Bukan kasih yang didasarkan pada perhitungan, bukan pula pada sentimen semata, bukan pula yang dapat direduksi menjadi filantropi sederhana, melainkan kasih yang meresap ke seluruh keberadaan kita: api bagi jiwa, cahaya bagi pikiran, kedamaian, dorongan yang tak tertahankan menuju kebebasan, tetapi pada saat yang sama, siksaan bagi hati, yang berdenyut selaras dengan hati-hati lain dan melibatkan seluruh pribadi. Karena bawaan manusia; sesungguhnya, mengasihi adalah syarat bagi kepenuhan keberadaannya.

 

Beginilah kasih tampak bagi kita dalam kemanusiaan Sang Juruselamat dan dalam gerakan hati kudus-Nya: tak berubah dan setia bahkan di hadapan kesalahpahaman dan penolakan, ketakutan, kesedihan, dan perlawanan manusia (lihat Luk. 22:39-46).

 

Dengan demikian, kasih dinyatakan kepada kita dalam kemanusiaan Sang Juru Selamat dan dalam gerakan hati-Nya yang Maha Kudus: tidak berubah dan setia bahkan di hadapan kesalahpahaman dan penolakan, ketakutan, kesedihan, dan perlawanan manusiawi (bdk. Luk. 22:39–46).

 

Dan dalam wajah Allah inilah, yang selalu “dalam kasih,” yang sepenuhnya dan terus-menerus menginginkan kebaikan dan kebahagiaan kita sepenuhnya, kita mengenali jalan hidup — mempelajari cara baru untuk hidup dan berhubungan satu sama lain, standar yang berbeda untuk mengevaluasi keputusan, dan cara baru dan inspiratif untuk membangun persekutuan. Dalam hal ini, Paus Fransiskus, berbicara tentang kasih Kristus, mengatakan bahwa “tanggapan terbaik kita terhadap kasih Hati Kristus adalah mengasihi saudara-saudari kita" (Dilexit Nos, 167) dan menambahkan, “Tidak ada tindakan lain yang lebih besar bagi kita untuk membalas kasih untuk kasih” (Dilexit Nos, 167). “Membalas kasih untuk kasih”: inilah pertukaran yang luar biasa, “admirabile commercium” (bdk. Vespers Pertama Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, Antifon Pembuka), yang melaluinya Injil mengajak kita untuk membiarkan diri kita ditarik, menerjemahkan ukuran kasih Allah yang tak terbatas ke dalam kemurahan hati yang dengannya kita melayani-Nya, setiap hari, dalam diri saudara-saudari yang Ia sendiri tempatkan di jalan kita — terutama dalam orang-orang yang paling membutuhkan, yang tak berdaya, orang-orang yang tidak mampu memberikan apa pun sebagai balasan (bdk. Luk. 6:32–36), persis seperti yang terjadi di pulau ini, dalam penyambutan, berbagi, dan pemberian tanpa pamrih.

 

Namun, kemurahan hati hati Kristus tidak berhenti sampai di situ. Ia melangkah lebih jauh, berkomitmen untuk membantu setiap orang tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk mendapatkan kembali kepercayaan diri dan kembali ke jalur yang benar, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sepenuhnya dalam keunikan mereka, demi kebaikan semua. Dalam hal ini, Paus Benediktus XVI menulis bahwa kasih “yang dipersaksikan Yesus Kristus melalui kehidupan duniawi-Nya… adalah kekuatan pendorong utama di balik perkembangan otentik setiap orang dan seluruh umat manusia” (Caritas in Veritate, 1).

 

Dalam Bacaan Kedua, Santo Yohanes mengingatkan kita bahwa “Allah telah mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1Yoh. 4:9). Kata-katanya menggemakan perkataan Yesus, yang mengatakan bahwa Ia datang supaya kita memperoleh hidup dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah (bdk. Yoh. 10:10), dan yang memerintahkan orang lumpuh yang telah disembuhkan: “Bangunlah, angkatlah tikarmu, dan berjalanlah” (Mrk. 2:9). Dalam kata-kata ini, kita mengenali ajakan untuk merangkul orang-orang yang menderita dengan bela rasa seorang ibu dan, pada saat yang sama, mempersiapkan dan mendorong orang-orang yang terluka untuk bangkit dan memulai kembali jalan menuju kehidupan yang bebas dan bermartabat.

 

Sesungguhnya, amal kasih kita tidak boleh hanya berupa bantuan materi semata, tetapi harus mendorong perkembangan menyeluruh pribadi — spiritual, intelektual, dan fisik — dan penyertaannya yang bermartabat dan membangun ke dalam masyarakat (bdk. Fratelli Tutti, 129). Hanya dengan cara inilah perjumpaan kita, bahkan dalam menghadapi keadaan yang sulit dan menyakitkan, akan menjadi kesempatan untuk menabur benih pengharapan dalam perjalanan umat manusia menuju masa depan yang lebih baik.

 

Namun, saya ingin berhenti sejenak, mengingat sabda Allah yang telah kita dengar, pada satu ciri khas terakhir dari hati Kristus: kerendahan hati (bdk. Mat. 11:29). Hati Yesus rendah hati, dan itulah sebabnya denyutnya tidak dirasakan oleh orang-orang yang "pandai" dan "bijak," yaitu mereka yang menganggap diri mereka cukup, mengetahui segalanya, tidak membutuhkan Allah maupun orang lain. Terpukau oleh hiruk pikuk "aku" yang bombastis, maha hadir, dan gelisah, mereka kekurangan keheningan yang diperlukan untuk mendengar di dalam diri mereka sendiri dan di dalam saudara-saudari mereka, denyut nadi kasih yang tersembunyi.

 

“Tak jarang, kemakmuran kita dapat membutakan kita terhadap kebutuhan orang lain, dan bahkan membuat kita berpikir bahwa kebahagiaan dan kepuasan kita bergantung pada diri kita sendiri, terlepas dari orang lain.” (Dilexi Te, 108). Yesus, di sisi lain, mengajarkan kita hal yang sebaliknya: untuk mengalami sukacita sejati dalam hidup, yang terletak pada kasih, kita harus turun dari singgasana kesombongan yang memecah belah kita dan melihat diri kita dalam kerendahan hati yang mempersatukan kita.

 

Santo Agustinus berkata, “Di mana ada kasih, di situ ada damai sejahtera, dan di mana ada kerendahan hati, di situ ada kasih” (Tentang Surat Pertama Santo Yohanes kepada Jemaat Parthia, Prolog). Ini memang benar adanya. Di mana ada kerendahan hati yang sejati, di situ ada kasih, dan di mana ada kasih, di situ ada damai sejahtera, karena hanya dalam kerendahan hati kita benar-benar mengenal siapa diri kita dan, oleh karena itu, mampu saling mengasihi, berjumpa, memberikan diri kita, dan mengampuni dalam kebenaran.

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita menghormati Hati Kudus Yesus, hati yang sering kita gambarkan menyala-nyala dan dimahkotai duri, menurut penglihatan Santa Margaret Mary Alacoque. Marilah kita ingat bahwa kita adalah kehadiran Allah yang hidup di dunia (bdk. Lumen Gentium, 8). Karena itu, marilah kita saling memandang — bukan hanya hari ini tetapi selalu — dengan hormat dan percaya, dan, dengan mengingat hal ini, marilah kita memperbarui komitmen kita untuk melengkapi dalam hidup kita sendiri, dalam kasih, apa yang kurang dalam penderitaan Kristus, demi kebaikan Gereja (bdk. Kol. 1:24). Dinyalakan oleh kasih hati-Nya, marilah kita menjadi pembawa belas kasihan dan damai-Nya, sehingga perang di dunia dapat berhenti dan kemanusiaan baru, yang diperdamaikan dalam kasih, dapat bangkit di sekitar kita.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Juni 2026)