Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PRAPASKAH II DI GEREJA TUHAN KITA YESUS KRISTUS DIANGKAT KE SURGA 1 Maret 2026

Bacaan Ekaristi : Kej. 12:1-4a; Mzm. 33:4-5.18-19.20.22; 2Tim. 1:8b-10, Mat. 17:1-9.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya senang berada di antaramu dan dapat mendengarkan sabda Allah bersama seluruh komunitas parokimu. Hari Minggu ini membawa kita berhadapan dengan perjalanan Abraham (bdk. Kej 12:1-4a) dan peristiwa perubahan rupa Yesus (bdk.Mat 17:1-9).

 

Bersama Abraham, kita dapat mengenali diri kita masing-masing sedang berada dalam sebuah perjalanan. Hidup adalah sebuah perjalanan yang menuntut kepercayaan, menuntut penyerahan diri kepada sabda Allah yang memanggil kita dan terkadang meminta kita untuk meninggalkan segalanya. Kita mungkin tergoda untuk melarikan diri dari ketidakpastian seperti keterburu-buruan yang memusingkan, namun justru dari dalam diri kitalah kita dapat menghargai janji keagungan yang tak terduga. Hal itu terjadi setiap hari — karena begitulah cara dunia berpikir — bahwa kita menilai segala sesuatu, kita berusaha untuk mengendalikan segala sesuatu. Tetapi dengan cara ini, kita kehilangan kesempatan untuk menemukan harta karun sejati, mutiara yang sangat berharga, sebagaimana Injil mengajarkan kita, yang secara mengejutkan dipendam Allah di ladang kita (bdk. Mat 13:44).

 

Perjalanan Abraham dimulai dengan sebuah kehilangan: tanah dan rumah yang menyimpan kenangan masa lalunya. Namun, perjalanan itu akan tergenapi di tanah baru dan dalam garis keturunan yang luas, di mana segalanya menjadi berkat. Kita pun, jika kita membiarkan iman memanggil kita untuk menempuh perjalanan ini, untuk mengambil risiko dalam membuat keputusan baru dalam hidup dan cinta, akan berhenti takut kehilangan sesuatu, karena kita akan merasa bahwa kita bertumbuh dalam kekayaan yang tak seorang pun dapat mencurinya.

 

Murid-murid Yesus juga menghadapi perjalanan yang akan membawa mereka ke Yerusalem (bdk. Luk 9:51). Di sana, di Kota Suci, Sang Guru akan menggenapi misi-Nya, memberikan nyawa-Nya di kayu salib dan menjadi berkat bagi semua orang untuk selama-lamanya. Kita tahu betapa besar perlawanan yang diberikan Petrus dan semua murid lainnya dalam mengikuti-Nya. Tetapi mereka harus memahami bahwa seseorang hanya dapat menjadi berkat dengan mengatasi naluri untuk membela diri dan menerima apa yang dipercayakan Yesus kepada kita dalam tata gerak Ekaristi: keinginan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai roti untuk dimakan, hidup dan mati demi memberi kehidupan. Inilah hari Minggu, saudara-saudari terkasih: jeda dalam perjalanan yang mengumpulkan kita di sekitar Yesus. Yesus mendorong kita untuk tidak berhenti dan tidak mengubah arah. Tidak ada janji yang lebih besar, tidak ada harta yang lebih berharga daripada hidup untuk memberi kehidupan!

 

Tak lama sebelum berubah rupa, Yesus telah mempercayakan kepada murid-murid-Nya puncak dari perjalanan yang mereka lakukan: penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Kamu tentu ingat penentangan Petrus dan reaksi Yesus, yang berkata kepadanya: "Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia" (Mat 16:23). Dan sekarang, enam hari kemudian, Yesus meminta Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk menemani-Nya naik ke gunung. Kata-kata yang sulit didengar itu masih terngiang di telinga mereka; mereka masih memiliki gambaran yang tidak dapat diterima tentang Mesias yang dihukum mati.

 

Kegelapan batin para murid inilah yang dihancurkan Yesus ketika, di puncak gunung, Ia menampakkan diri di hadapan mata mereka dalam wujud yang berubah rupa dengan cahaya yang menyilaukan dan tak terbayangkan. Dan dalam penglihatan yang mulia ini, Musa dan Elia juga muncul di samping-Nya, sebagai saksi bahwa seluruh Kitab Suci digenapi dalam diri Yesus (bdk. Mat 17:2-3).

 

Sekali lagi, Petrus menjadi juru bicara dunia lama kita dan kebutuhan putus asa untuk menghentikan segala sesuatu, untuk mengendalikannya. Ini sedikit mirip dengan ketika kita tidak ingin mimpi yang kita jadikan tempat berlindung berakhir. Tetapi di sini bukan mimpi, melainkan dunia baru yang dapat kita masuki: tujuan perjalanan kita, tujuan yang dipenuhi cahaya dan dibentuk oleh kemanusiawian dan keilahian Yesus. Dengan mendirikan kemah, Petrus ingin menghentikan perjalanan ini, yang justru harus berlanjut ke Yerusalem (bdk. ayat 4).

 

Suara yang datang dari awan itu adalah suara Bapa, dan seperti sebuah permohonan: "Inilah Putra-Ku yang terkasih; dengarkanlah Dia" (ayat 5). Suara itu bergema kepada kita hari ini: "Dengarkanlah Yesus!" Dan saya, saudara-saudari terkasih di antaramu, ingin menggemakan permohonan itu dan mengatakan kepadamu: saya memohon kepadamu, saudara-saudari, marilah kita mendengarkan Dia! Dia berjalan bersama kita, bahkan hari ini, untuk mengajari kita di kota ini nalar kasih tanpa syarat, meninggalkan setiap pembelaan yang menjadi serangan. Marilah kita mendengarkan Dia, marilah kita masuk ke dalam terang-Nya untuk menjadi terang dunia, dimulai dari lingkungan tempat kita tinggal. Seluruh kehidupan paroki dan kelompok-kelompoknya ada untuk ini: pelayanan kepada terang, pelayanan kepada sukacita.

 

Setelah perubahan rupa di gunung, perjalanan Yesus tidak berhenti (lihat ayat 9). Dan Gereja, bahkan paroki kalian, menerima misi dari Injil ini. Dihadapkan dengan berbagai masalah kompleks di wilayah ini, yang membayangi hari-hari Anda di sini, Anda dipercayakan dengan pedagogi pandangan iman, yang mengubah segalanya dengan harapan, melepaskan semangat, berbagi, dan kreativitas sebagai obat untuk berbagai luka di lingkungan ini.

 

Saya sangat senang mengetahui bahwa komunitas paroki ini adalah komunitas yang dinamis dan bersemangat yang, meskipun menghadapi masalah serius dalam konteks lokal, dengan berani memberikan kesaksian tentang Injil. Dengan motto "Mari Membangun Komunitas," paroki ini telah memulai perjalanan untuk memperkuat rasa kebersamaan dan menyambut semua orang, sungguh semua orang, dengan tangan terbuka! Saya senang dan saya mendorong Anda: lanjutkan perjalanan keterbukaan terhadap komunitas lokal dan penyembuhan luka-lukanya. Dan saya berharap orang lain akan bergabung dengan Anda untuk menjadi ragi kebaikan dan keadilan di Quarticciolo ini.

 

Orang muda, komitmenmu juga patut didukung. Program "Magis," yang kamu perkenalkan kepada saya beberapa menit yang lalu dan yang telah ditawarkan di sini selama beberapa tahun, mengacu pada "melebihi" yang dibicarakan Santo Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohani. Ini adalah insentif bagi remaja untuk mengatasi mediokritas mereka dengan memilih kehidupan yang berani, otentik, dan baik, yang menemukan "Magis" yang unggul dalam Yesus Kristus.

 

Saudara-saudari terkasih, kamu adalah tanda harapan. Terang perubahan rupa sudah hadir di komunitas ini, karena Tuhan sedang bekerja di sini dan karena begitu banyak dari kamu percaya pada kuasa-Nya yang lembut yang mengubah segalanya. Ketika kita menyadari bahwa begitu banyak hal di sekitar kita tidak berjalan dengan baik, terkadang kita bertanya-tanya: apakah yang kita lakukan memiliki arti? Godaan untuk berkecil hati muncul, dengan hilangnya motivasi dan momentum. Sebaliknya, justru di hadapan misteri kejahatan itulah kita harus memberi kesaksian tentang jati diri kita sebagai orang kristiani, sebagai orang-orang yang ingin mewujudkan Kerajaan Allah di tempat dan waktu di mana mereka hidup. Inilah harapan saya untuk kamu semua, komunitas paroki ini, dan banyak saudara-saudari yang belum mengenali dalam Yesus terang dan sukacita sejati.

 

Di hadapan segala sesuatu yang merusak kemanusiaan dan kehidupan, kita terus mewartakan dan memberi kesaksian tentang Injil, yang mengubah dan memberi kehidupan. Semoga Santa Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dan menjadi perantara kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Maret 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PRAPASKAH I DI GEREJA HATI KUDUS YESUS CASTRO PRETORIO 22 FebruarI 2026

Bacaan Ekaristi : Kej. 2:7-9; 3:1-7; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; Rm. 5:12-19; Mat. 4:1-11.

 

Saudara-saudari terkasih:

 

Beberapa hari yang lalu, dengan Misa Rabu Abu, kita memulai perjalanan Masa Prapaskah kita. Prapaskah adalah masa liturgi yang intens, yang memberi kita kesempatan untuk menemukan kembali kekayaan baptisan kita, hidup sebagai ciptaan yang sepenuhnya diperbarui melalui inkarnasi, wafat, dan kebangkitan Yesus.

 

Bacaan pertama dan Bacaan Injil yang baru saja kita dengar, dalam dialog satu sama lain, membantu kita menemukan kembali karunia baptisan sebagai rahmat yang membuka kunci kebebasan kita. Kisah Kejadian mengingatkan kita akan kondisi kita sebagai ciptaan, yang dicobai bukan oleh larangan, sebagaimana sering kita yakini, tetapi oleh sebuah kemungkinan: kemungkinan sebuah hubungan. Manusia bebas untuk mengenali dan menerima perbedaan Sang Pencipta, yang mengenali dan menerima perbedaan ciptaan-Nya. Untuk mencegah kemungkinan ini, ular menyarankan anggapan bahwa ia mampu meniadakan semua perbedaan antara ciptaan dan Sang Pencipta, menggoda manusia dengan khayalan menjadi Allah. Iblis mendesak mereka untuk merebut sesuatu yang, menurutnya, akan ditolak Allah agar mereka tetap berada dalam keadaan inferioritas selamanya. Gambaran yang jelas dari Kejadian ini adalah mahakarya yang tak tertandingi yang menggambarkan drama kebebasan.

 

Bacaan Injil tampaknya menjawab dilema yang sudah lama ada: Dapatkah aku menjalani hidupku sepenuhnya dengan mengatakan "ya" kepada Allah? Atau, agar bebas dan bahagia, haruskah aku membebaskan diri dari Dia?

 

Adegan pencobaan Kristus, pada intinya, membahas pertanyaan dramatis ini. Adegan ini menuntun kita untuk menemukan kemanusiaan sejati Yesus, yang, sebagaimana diajarkan oleh Konstitusi Konsili Gaudium et Spes, mengungkapkan manusia kepada dirinya sendiri: “Sesungguhnya hanya dalam misteri Sabda yang menjelamalah misteri manusia benar-benar menjadi jelas.” (GS, 22). Sesungguhnya, kita melihat Putra Allah yang, dengan menolak jerat seteru abadi, menunjukkan kepada kita manusia baru, manusia bebas, sebuah penampakan kebebasan yang terwujud dengan mengatakan “ya” kepada Allah.

 

Kemanusiaan baru ini lahir dari bejana baptis. Oleh karena itu, khususnya dalam Masa Prapaskah ini, kita dipanggil untuk menemukan kembali rahmat baptisan, sebagai sumber kehidupan yang berdiam di dalam diri kita dan yang, secara dinamis, menyertai kita dengan penuh hormat terhadap kebebasan kita.

 

Pertama, Sakramen itu sendiri bersifat dinamis, karena apa yang ditawarkannya tidak terbatas pada ruang dan waktu ritus, tetapi merupakan rahmat yang senantiasa menyertai kita sepanjang hidup kita, menopang ketaatan kita kepada Kristus. Tetapi baptisan juga dinamis karena selalu menuntun kita ke jalan yang baru, karena rahmat adalah suara batin yang mendorong kita untuk menyesuaikan diri dengan Yesus, membebaskan kebebasan kita sehingga dapat menemukan kepenuhannya dalam mengasihi Allah dan sesama.

 

Dengan demikian kita memahami sifat relasional baptisan, yang memanggil kita untuk hidup dalam persahabatan dengan Yesus dan, dengan cara ini, masuk ke dalam persekutuan Dia dengan Bapa. Hubungan yang penuh rahmat ini memungkinkan kita untuk juga hidup dalam kedekatan yang autentik dengan sesama kita, kebebasan yang — tidak seperti yang ditawarkan Iblis kepada Yesus— bukan pengejaran kekuasaan pribadi, tetapi kasih yang memberi diri dan menjadikan kita semua saudara dan saudari. Sesungguhnya, Santo Paulus menegaskan, “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28).

 

Saudara-saudari, Paus Leo XIII meminta Santo Yohanes Bosco untuk membangun gereja tempat kita berada hari ini. Beliau telah merasakan pentingnya tempat ini, di sebelah Stasiun Termini dan di persimpangan unik di kota ini, yang ditakdirkan untuk menjadi semakin penting seiring berjalannya waktu.

 

Oleh karena itu, saudara-saudari terkasih, saat saya bertemumu hari ini, saya melihat dalam dirimu kehadiran kedekatan yang istimewa, solidaritas dengan tantangan wilayah ini. Memang, tempat ini adalah rumah bagi banyak mahasiswa, pelancong yang datang dan pergi untuk bekerja, imigran yang mencari pekerjaan, dan pengungsi muda yang, berkat inisiatif Salesian, telah menemukan di gedung tetangga kesempatan untuk bertemu dengan kaum muda Italia seusia mereka dan berpartisipasi dalam proyek integrasi. Dan kemudian ada saudara-saudari kita yang tunawisma dan mencari perlindungan di pusat-pusat Caritas di Via Marsala. Dalam beberapa meter saja, kita dapat menyaksikan kontradiksi zaman kita: kehidupan tanpa beban dari mereka yang datang dan pergi dengan segala kenyamanan dan mereka yang tunawisma; banyaknya kesempatan untuk berbuat baik dan kekerasan yang merajalela; keinginan untuk bekerja jujur ​​serta perdagangan ilegal narkoba dan prostitusi.

 

Parokimu dipanggil untuk bertanggung jawab atas kenyataan ini, menjadi ragi Injil dalam adonan wilayah ini, menjadi tanda kedekatan dan amal kasih. Saya berterima kasih kepada para Salesian atas kerja tanpa lelah yang mereka lakukan setiap hari, dan saya mendorong semua orang untuk terus menjadi nyala api kecil terang dan pengharapan di sini.

 

Semoga Maria Penolong Orang Kristen selalu menopang jalan kita, menguatkan kita di saat-saat godaan dan pencobaan, sehingga kita dapat sepenuhnya menghayati kebebasan dan persaudaraan anak-anak Allah.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Februari 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RABU ABU DI BASILIKA SANTA SABINA, PEGUNUNGAN AVENTINE 18 Februari 2026

Bacaan Ekaristi : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pada awal setiap masa liturgi, dengan penuh sukacita kita menemukan kembali rahmat menjadi Gereja, yaitu sebuah komunitas yang berkumpul untuk mendengarkan sabda Allah. Suara Nabi Yo'el berbicara kepada kita, membawa kita masing-masing keluar dari keterasingan kita dan menunjukkan kepada kita kebutuhan mendesak akan pertobatan, yang selalu bersifat pribadi dan publik: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu” (2:16). Ia menyebutkan orang-orang yang paling rapuh dan paling tidak cocok untuk pertemuan besar, mereka yang ketidakhadirannya mudah dibenarkan. Nabi kemudian merujuk kepada suami dan istri: ia tampaknya memanggil mereka dari privasi kehidupan perkawinan mereka, agar mereka merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar. Kemudian ia beralih kepada para imam, yang sudah mendapati diri mereka — hampir karena kewajiban — “di antara serambi depan dan mezbah” (ayat 17). Mereka diundang untuk menangis dan mengungkapkan kata-kata yang tepat ini atas nama semua orang: “Ya Tuhan, sayangilah umat-Mu!” (idem).

 

Bahkan hingga hari ini, Masa Prapaskah tetap menjadi waktu yang penuh kekuatan untuk kebersamaan: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah” (Yoel 2:16). Kita tahu bahwa semakin sulit untuk mengumpulkan orang-orang dan membuat mereka merasa seperti sebuah komunitas — bukan dalam cara yang nasionalistik dan agresif, tetapi dalam persekutuan di mana kita masing-masing menemukan tempatnya. Sesungguhnya, selama Masa Prapaskah, terbentuk umat yang mengakui dosa-dosanya. Dosa-dosa ini adalah kejahatan yang bukan berasal dari musuh yang dianggap, tetapi menimpa hati kita, dan ada di dalam diri kita. Kita perlu menanggapinya dengan berani menerima tanggung jawab atasnya. Lebih jauh lagi, kita harus menerima bahwa meskipun bertentangan dengan budaya arus utama, sikap ini merupakan pilihan yang otentik, jujur, dan menarik, terutama di zaman kita, ketika begitu mudah untuk merasa tidak berdaya di hadapan dunia yang berada dalam bara. Sesungguhnya, Gereja ada sebagai komunitas saksi yang mengakui dosa-dosa mereka.

 

Tentu saja, meskipun bersifat pribadi, dosa mengambil bentuk dalam konteks kehidupan nyata dan virtual, dalam sikap yang kita adopsi terhadap satu sama lain yang saling memengaruhi kita, dan seringkali dalam kenyataan "struktur dosa" ekonomi, budaya, politik, dan bahkan agama. Kitab Suci mengajarkan kita bahwa menentang penyembahan berhala dengan penyembahan kepada Allah yang hidup berarti berani untuk bebas, dan menemukan kembali kebebasan melalui sebuah eksodus, sebuah perjalanan, di mana kita tidak lagi lumpuh, kaku, atau puas dengan posisi kita, tetapi berkumpul bersama untuk bergerak dan berubah. Betapa langkanya menemukan orang dewasa yang bertobat — individu, pelaku usaha, dan lembaga yang mengakui bahwa mereka telah berbuat salah!

 

Hari ini, kita sedang merefleksikan secara tepat kemungkinan pertobatan ini. Memang, bukan suatu kebetulan bahwa, bahkan dalam konteks sekuler, banyak kaum muda, lebih dari sebelumnya, terbuka terhadap undangan Hari Rabu Abu. Kaum muda khususnya memahami dengan jelas bahwa hidup yang adil itu mungkin, dan bahwa harus ada pertanggungjawaban atas kesalahan di dalam Gereja dan dunia. Karena itu, kita harus mulai dari mana kita bisa, dengan orang-orang di sekitar kita. “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2Kor 6:2). Karena itu, marilah kita merangkul makna misioner Masa Prapaskah, bukan dengan cara yang mengalihkan perhatian kita dari upaya individu kita, tetapi dengan cara memperkenalkan masa ini kepada banyak orang yang gelisah dan berkehendak baik yang mencari cara otentik untuk memperbarui hidup mereka, dalam konteks Kerajaan Allah dan keadilan-Nya.

 

“Mengapa dikatakan di antara bangsa-bangsa: ‘Di mana Allah mereka?’” (Yoel 2:17). Pertanyaan nabi Yo'el adalah sebuah peringatan. Masa Prapaskah juga mengingatkan kita tentang apa yang orang lain pikirkan tentang kita, terutama mereka yang mengamati umat Allah dari luar. Masa Prapaskah mendorong kita untuk mengubah arah — pertobatan — yang membuat pemberitaan kita semakin dapat dipercaya.

 

Enam puluh tahun yang lalu, beberapa pekan setelah berakhirnya Konsili Vatikan II, Santo Paulus VI memutuskan untuk merayakan Ritus Abu secara terbuka selama Audiensi Umum di Basilika Santo Petrus, sehingga tindakan yang akan kita lakukan hari ini dapat dilihat oleh semua orang. Ia menyebutnya sebagai "upacara pertobatan yang keras dan mencolok" (Paulus VI, Audiensi Umum, 23 Februari 1966) yang menentang akal sehat dan sekaligus menjawab tuntutan budaya kita. Ia berkata: "Di zaman kita sekarang, kita mungkin bertanya pada diri sendiri apakah pedagogi ini masih dapat dipahami. Kita menjawab dengan tegas, karena ini adalah pedagogi yang realistis. Sebuah pengingat yang keras akan kebenaran. Kita dibawa kepada persepsi yang akurat tentang keberadaan dan takdir kita."

 

Paulus VI mengatakan bahwa "pedagogi pertobatan ini mengejutkan manusia modern dalam dua hal": yang pertama adalah "kapasitasnya yang luar biasa untuk khayalan, sugesti diri, dan penipuan diri yang sistematis tentang kenyataan hidup dan nilainya." Aspek kedua adalah “pesimisme mendasar” yang ditemukan Paulus VI di mana-mana: “Sebagian besar materi yang ditawarkan kepada kita saat ini oleh filsafat, sastra, dan hiburan,” katanya, “berakhir dengan menyatakan kesia-siaan yang tak terhindarkan dari segala sesuatu, kesedihan hidup yang luar biasa, metafisika absurditas dan kehampaan. Materi ini merupakan pembenaran atas penggunaan abu.”

 

Hari ini, kita dapat menyadari bahwa kata-katanya bersifat kenabian karena kita melihat dalam abu yang ditorehkan pada dahi kita beban dunia yang terang benderang, beban seluruh kota yang hancur oleh perang. Ini juga tercermin dalam abu hukum internasional dan keadilan antarbangsa, abu seluruh ekosistem dan kerukunan antarbangsa, abu pemikiran kritis dan kearifan lokal kuno, abu rasa sakral yang bersemayam di setiap ciptaan.

 

“Di mana Allah mereka?”, tanya bangsa-bangsa itu pada diri mereka sendiri. Ya, sahabat-sahabatku, sejarah, dan terlebih lagi, hati nurani kita sendiri, meminta kita untuk menyebut kematian apa adanya, dan membawa bekasnya di dalam diri kita seraya memberi kesaksian tentang kebangkitan. Kita mengakui dosa-dosa kita agar kita dapat bertobat; hal ini sendiri merupakan tanda dan kesaksian kebangkitan. Sesungguhnya, itu berarti kita tidak akan tetap berada di antara abu, tetapi akan bangkit dan membangun kembali. Kemudian Trihari Suci, yang akan kita rayakan sebagai puncak perjalanan Masa Prapaskah, akan melepaskan semua keindahan dan maknanya. Hal ini akan terjadi jika kita berpartisipasi, melalui pertobatan, dalam peralihan dari kematian menuju kehidupan, dari ketidakberdayaan menuju kemungkinan-kemungkinan yang diberikan Allah.

 

Para martir zaman dahulu dan zaman sekarang bersinar sebagai pelopor dalam perjalanan kita menuju Paskah. Tradisi Romawi kuno tentang perhentian Masa Prapaskah — yang dimulai hari ini dengan perhentian pertama — sangatlah bermanfaat: tradisi ini merujuk pada pergerakan, sebagai peziarah, dan pada perhentian, statio, pada "peringatan" para martir, di mana basilika-basilika Roma berdiri. Bukankah ini mungkin sebuah undangan untuk mengikuti jejak para saksi iman yang mengagumkan, yang kini dapat ditemukan di seluruh dunia? Marilah kita mengingat tempat, kisah, dan nama mereka yang telah memilih jalan Sabda Bahagia dan menghidupinya hingga akhir. Kehidupan mereka adalah benih yang tak terhitung jumlahnya yang, bahkan ketika tampaknya tersebar, terkubur di bumi dan mempersiapkan panen berlimpah yang merupakan panggilan kita untuk mengumpulkannya. Masa Prapaskah, sebagaimana telah kita lihat dalam Bacaan Injil, membebaskan kita dari keinginan untuk dilihat dengan segala cara (bdk. Mat 6:2,5,16), dan sebaliknya mengajarkan kita untuk melihat apa yang sedang lahir, apa yang sedang tumbuh, dan mendorong kita untuk melayaninya. Itulah keselarasan mendalam yang terjalin dengan Allah kehidupan, Bapa kita dan Bapa segala sesuatu, dalam rahasia orang-orang yang berpuasa, berdoa, dan mengasihi. Marilah kita mengarahkan kembali, dengan kesungguhan dan penuh sukacita, seluruh hidup dan hati kita kepada Allah.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Februari 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA VI DI PAROKI SANTA MARIA RATU DAMAI (OSTIA LIDO) 15 Februari 2026

Bacaan Ekaristi : Sir. 15:15-20; Mzm. 119:1-2.4-5.17-18.33-34; 1Kor. 2:6-10; Mat. 5:17-37.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sangat gembira berada di sini dan bersama komunitasmu mengalami peristiwa yang menjadi asal nama "Minggu". "Minggu" adalah "hari Tuhan" karena Yesus yang bangkit datang di antara kita, mendengarkan kita dan berbicara kepada kita, memberi kita makan dan mengutus kita. Demikianlah, dalam Injil yang kita dengar hari ini, Yesus memberitakan kepada kita "hukum-Nya yang baru": bukan hanya ajaran, tetapi kekuatan untuk melaksanakannya. Rahmat Roh Kudus yang secara tak terhapuskan menuliskan di dalam hati kita dan menggenapi perintah-perintah Perjanjian Lama (bdk. Mat 5:17-37).

 

Melalui Dasa Firman, setelah keluar dari Mesir, Allah menetapkan perjanjian dengan umat-Nya, menawarkan rencana hidup dan jalan keselamatan. Oleh karena itu, "Dasa Firman" ditempatkan dan dipahami dalam jalan pembebasan, berkatnya sekelompok suku yang terpecah dan tertindas diubah menjadi bangsa yang bersatu dan merdeka. Perintah-perintah itu tampak, dalam perjalanan panjang melalui padang gurun, sebagai terang yang menunjukkan jalan; dan ketaatan terhadap hukum-hukum itu dipahami dan dilakukan bukan hanya sebagai pemenuhan formal dari perintah-perintah, tetapi lebih sebagai tindakan kasih, sebagai bentuk rasa syukur dan kepercayaan kepada Allah perjanjian. Oleh karena itu, hukum yang diberikan Allah kepada umat-Nya tidak bertentangan dengan kebebasan mereka, tetapi sebaliknya merupakan syarat bagi berkembangnya kebebasan tersebut.

 

Oleh karena itu, Bacaan Pertama, yang diambil dari Kitab Putra Sirakh (bdk. 15:16-21), dan Mazmur 119, Mazmur Tanggapan yang kita nyanyikan, mengajak kita untuk melihat perintah Allah bukan sebagai hukum yang menindas, tetapi sebagai pedagogi-Nya bagi umat manusia dalam mencari kepenuhan hidup dan kebebasan.

 

Dalam hal ini, di awal Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, kita menemukan salah satu ungkapan terindah dari Konsili Vatikan II, di mana kita hampir merasakan jantung Allah berdetak melalui jantung Gereja. Konsili mengatakan: "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka." (Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 1).

 

Nubuat keselamatan ini diungkapkan secara berlimpah dalam khotbah Yesus, yang dimulai di tepi Danau Galilea dengan penyampaian Sabda Bahagia (bdk. Mat 5:1-12) dan berlanjut dengan menunjukkan makna penuh dan otentik dari hukum Allah. Tuhan berkata, "Kamu telah mendengar bahwa kepada nenek moyang kita dikatakan: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Namun, Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci-maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala." (Mat 5:21-22). Dengan demikian, Ia menunjukkan, sebagai jalan menuju pemenuhan manusia, kesetiaan kepada Allah yang didasarkan pada rasa hormat dan kepedulian terhadap sesama dalam kesucian mereka yang tak ternodai, yang harus dipupuk, bahkan sebelum gerak tubuh dan kata-kata, di dalam hati. Di sanalah, sesungguhnya, perasaan-perasaan paling mulia lahir, tetapi juga penodaan yang paling menyakitkan: penutupan diri, iri hati, cemburu, sehingga siapa pun yang berpikir buruk tentang saudaranya, menyimpan perasaan buruk terhadapnya, seolah-olah di dalam hatinya ia sudah membunuhnya. Bukan suatu kebetulan Santo Yohanes menyatakan, "Siapa yang membenci saudaranya adalah pembunuh manusia" (1Yoh 3:15).

 

Alangkah benarnya kata-kata ini! Dan ketika kita sendiri mendapati diri kita menghakimi dan meremehkan orang lain, marilah kita ingat bahwa kejahatan yang kita lihat di dunia berakar tepat di sana, di mana hati menjadi dingin, keras, dan tanpa belas kasihan.

 

Kita mengalaminya di sini juga, di Ostia, di mana, sayangnya, kekerasan ada dan menyakitkan, kadang-kadang berakar di kalangan kaum muda dan remaja, mungkin dipicu oleh penyalahgunaan narkoba; atau di tangan organisasi kriminal yang mengeksploitasi orang dengan melibatkan mereka dalam kejahatan dan mengejar kepentingan yang tidak adil dengan metode ilegal dan tidak bermoral.

 

Menghadapi fenomena ini, saya mengajak kamu semua, sebagai komunitas paroki, bersama dengan organisasi-organisasi berbudi luhur lainnya yang beroperasi di lingkungan ini, untuk terus mendedikasikan diri dengan murah hati dan berani untuk menabur benih Injil yang baik di jalan dan rumahmu. Jangan menyerah pada budaya pelecehan dan ketidakadilan. Sebaliknya, sebarkan rasa hormat dan kerukunan, dimulai dengan bahasa yang menenangkan dan kemudian menginvestasikan energi dan sumber daya dalam pendidikan, terutama untuk anak-anak dan kaum muda. Ya, semoga mereka belajar kejujuran, penerimaan, dan kasih yang melampaui batas-batas di paroki; belajar untuk membantu bukan hanya mereka yang membalas budi, dan menyapa bukan hanya mereka yang menyapa, tetapi mencakup semua orang dengan bebas dan tanpa pamrih. Belajarlah keselarasan antara iman dan kehidupan, seperti yang diajarkan Yesus kepada kita ketika Ia berkata, “Jikalau engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat bahwa saudaramu sakit hati terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-24).

 

Saudara-saudari terkasih, semoga ini menjadi tujuan usaha dan aktivitasmu, demi kebaikan orang-orang yang dekat maupun jauh, sehingga bahkan mereka yang diperbudak oleh kejahatan dapat bertemu, melalui dirimu, dengan Allah kasih, satu-satunya yang membebaskan hati dan membawa kebahagiaan sejati.

 

Seratus sepuluh tahun yang lalu, Paus Benediktus XV menamai paroki ini Santa Maria Ratu Damai. Beliau melakukannya di puncak Perang Dunia I, membayangkan komunitasmu sebagai secercah cahaya di langit kelabu perang. Sayangnya, seiring waktu, banyak awan masih menggelapkan dunia, dengan menyebarkan pola pikir yang bertentangan dengan Injil, pola pikir yang mengagungkan supremasi yang terkuat, mendorong kesombongan, dan memicu godaan kemenangan dengan segala cara, tuli terhadap jeritan orang-orang yang menderita dan tak berdaya.

 

Marilah kita lawan penyimpangan ini dengan kekuatan kelembutan yang melucuti senjata, terus memohon perdamaian, dan menyambut serta memupuk karunianya dengan kegigihan dan kerendahan hati. Santo Agustinus mengajarkan bahwa "tidak sulit untuk memiliki perdamaian [...]. Jika [...] kita ingin memilikinya, perdamaian itu ada di sana, dalam jangkauan kita, dan kita dapat memilikinya tanpa usaha apa pun" (Sermo 357, 1). Dan ini karena damai kita adalah Kristus, yang dicapai dengan membiarkan diri kita ditaklukkan dan diubah oleh-Nya, dengan membuka hati kita kepada-Nya, dan dengan membukanya, dengan rahmat-Nya, kepada mereka yang ditempatkan-Nya di jalan kita.

 

Lakukanlah ini juga, saudara-saudari terkasih, hari demi hari. Lakukanlah bersama-sama, sebagai sebuah komunitas, dengan bantuan Maria, Ratu Damai. Semoga ia, Bunda Allah dan Bunda kita, selalu menjaga dan melindungi kita. Amin.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Februari 2026).

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH (HARI HIDUP BAKTI SEDUNIA KE-30) 3 Februari 2026

Bacaan Ekaristi : Mal 3:1-4; Mzm 24:7.8.9.10; Luk 2:22-40.

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini, pada Pesta Yesus Dipersembahkan Di Bait Allah, Bacaan Injil menceritakan bagaimana Simeon dan Hana mengenali dan memberitakan Yesus sebagai Mesias di Bait Allah (bdk. Luk 2:22-40). Apa yang terungkap di hadapan kita adalah pertemuan antara dua gerakan kasih: kasih Allah, yang datang untuk menyelamatkan umat-Nya, dan kasih umat manusia, yang menantikan kedatangan-Nya dengan iman yang teguh.

 

Dari pihak Allah, fakta bahwa Yesus dipersembahkan sebagai anak dari keluarga miskin di tengah kemegahan Yerusalem menunjukkan kepada kita bagaimana Ia menawarkan diri-Nya kepada kita dengan penuh hormat terhadap kebebasan kita, sepenuhnya ambil bagian dalam kemiskinan kita. Tidak ada paksaan dalam tindakan-Nya; hanya ada kekuatan yang melucuti senjata dari kemurahan hati-Nya yang tanpa senjata. Di sisi lain, pengharapan umat manusia — khususnya umat Israel — menemukan ungkapan penuh dalam diri dua orang lanjut usia: Simeon dan Hana. Momen ini mewakili puncak dari sejarah panjang keselamatan yang membentang dari Taman Firdaus hingga pelataran Bait Allah — sebuah sejarah yang ditandai oleh terang dan gelap, kegagalan dan pembaharuan, namun selalu didorong oleh satu keinginan vital: untuk memulihkan persekutuan penuh antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Dan demikianlah, hanya beberapa langkah dari "Tempat Mahakudus," Sang Air Mancur Cahaya menawarkan diri-Nya sebagai lentera bagi dunia, dan Yang Tak Terbatas memberikan diri-Nya kepada yang terbatas dengan cara yang sangat rendah hati sehingga hampir tak disadari.

 

Hari ini kita merayakan Hari Hidup Bakti Sedunia ke-30 dengan mengingat adegan ini, mengakuinya sebagai gambaran perutusan para pelaku hidup bakti di dalam Gereja dan dunia. Paus Fransiskus mendesaknya, “‘Bangkitkanlah dunia,’ karena tanda khas kehidupan kaum hidup bakti adalah nubuat” (Surat Apostolik kepada Para Pelaku Hidup Bakti, 21 November 2014, II, 2). Saudara-saudari terkasih, Gereja memintamu untuk menjadi nabi — utusan yang mewartakan kehadiran Tuhan dan mempersiapkan jalan bagi-Nya. Dengan meminjam ungkapan Nabi Maleakhi, yang kita dengar dalam Bacaan Pertama, kamu diundang untuk menjadi, melalui “pengosongan” diri sepenuhnya bagi Tuhan, perbaraan api pemurni dan bejana sabun penatu (bdk. Mal 3:1-3). Melalui persembahan ini, Kristus — satu-satunya utusan abadi perjanjian, yang tetap hadir di antara umat manusia hari ini — dapat melunakkan dan menyucikan hati dengan kasih, rahmat, dan belas kasihan-Nya. Kamu dipanggil untuk perutusan ini terutama melalui pengurbanan hidupmu, yang berakar pada doa dan kesediaan untuk menghabiskan diri demi karya kegiatan (bdk. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, 44).

 

Para pendiri tarekatmu, yang taat pada tindakan Roh Kudus, menawarkan kepadamu teladan yang luar biasa tentang bagaimana memenuhi amanat ini dengan setia dan efektif. Hidup dalam ketegangan yang terus menerus antara bumi dan surga, mereka membiarkan diri mereka dibimbing dengan iman dan keberanian. Berangkat dari meja Ekaristi, sebagian dari mereka dibawa ke keheningan biara, sebagian lainnya ke tuntutan kerasulan; sebagian ke ruang kelas sekolah, sebagian lainnya ke kemiskinan jalanan atau jerih payah perutusan. Iman ini juga yang mendorong mereka untuk kembali, berulang kali, dengan rendah hati dan bijaksana, ke kaki Salib dan Tabernakel, di mana mereka mempersembahkan segalanya dan menemukan dalam Allah baik sumber maupun tujuan dari semua tindakan mereka. Melalui kuasa rahmat, mereka juga memulai usaha-usaha yang berbahaya. Mereka menjadi kehadiran yang penuh doa di lingkungan yang bermusuhan atau acuh tak acuh; tangan yang murah hati dan bahu yang ramah di tengah kemerosotan dan pengabaian; dan saksi perdamaian dan rekonsiliasi dalam situasi yang ditandai dengan kekerasan dan kebencian. Mereka siap menanggung konsekuensi melawan arus, menjadi, di dalam Kristus, sebuah "tanda yang menimbulkan perbantahan" (Luk 2:34), bahkan kadang-kadang sampai pada titik kemartiran.

 

Paus Benediktus XVI menulis bahwa “penafsiran Kitab Suci akan tetap tidak lengkap jika tidak mencakup mendengarkan mereka yang benar-benar menghidupi sabda Allah” (Seruan Apostolik Pascasinodal Verbum Domini, 48). Hari ini, kita menghormati saudara-saudari kita yang telah mendahului kita sebagai pelaku utama “tradisi kenabian ini, di mana sabda Allah menempatkan kehidupan kenabian itu sendiri untuk melayaninya” (idem, 49). Kita melakukannya terutama dengan meneruskan warisan mereka.



Bahkan hari ini, melalui pengakuanmu akan nasihat-nasihat Injil dan banyak karya kegiatan yang kamu lakukan, kamu dipanggil untuk memberi kesaksian tentang kehadiran penyelamatan Allah dalam sejarah bagi semua bangsa (bdk. Luk 2:30-31), bahkan dalam masyarakat di mana pemahaman yang salah dan mereduksi tentang pribadi manusia semakin memperlebar jurang antara iman dan kehidupan. Kamu dipanggil untuk bersaksi bahwa kaum muda, kaum tua, orang miskin, orang sakit, dan orang yang dipenjara menduduki tempat suci terutama di altar Allah dan di dalam hati-Nya. Pada saat yang sama, mereka masing-masing adalah tempat kudus kehadiran Allah yang tak dapat diganggu gugat, yang di hadapan-Nya kita harus berlutut, untuk berjumpa, menyembah, dan memuliakan-Nya.

 

Bukti hal ini dapat dilihat dalam banyaknya “pos terdepan Injil” yang telah didirikan oleh komunitasmu di berbagai konteks yang menantang, bahkan di tengah konflik. Komunitas-komunitas ini tidak meninggalkan umat mereka, juga tidak melarikan diri; mereka tetap tinggal, seringkali tanpa perlindungan sama sekali, sebagai pengingat hidup — lebih mengesankan daripada kata-kata — tentang kesucian hidup yang tak tergoyahkan dalam kondisi yang paling rentan. Bahkan di tempat di mana senjata bergemuruh dan kesombongan, kepentingan diri sendiri, dan kekerasan tampaknya berkuasa, kehadiran mereka menyatakan sabda Yesus: “Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari yang kecil ini. Sebab, Malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:10).

 

Dalam terang ini, saya ingin merefleksikan doa Simeon yang sudah lanjut usia, yang kita ucapkan setiap hari: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang dari-Mu” (Luk 2:29-30). Kehidupan kaum hidup bakti, dalam ketenangan dan keterpisahannya dari segala sesuatu yang fana, mengungkapkan ikatan yang tak terpisahkan antara kepedulian yang tulus terhadap kenyataan duniawi dan pengharapan yang dipenuhi kasih akan apa yang kekal — hal-hal baik yang telah dipilih dalam hidup ini sebagai tujuan akhir dan definitif, dan dengan demikian mampu memberi makna bagi segala sesuatu yang lainnya. Simeon mengenali keselamatan dalam diri Yesus dan berdiri bebas di hadapan hidup dan mati. Sebagai seorang yang “benar dan saleh” (Luk 2:25), bersama dengan Hana, yang “tidak pernah meninggalkan Bait Allah” (ayat 37), ia tetap memusatkan pandangannya pada janji dunia yang akan datang.

 

Konsili Vatikan II mengingatkan kita bahwa “Gereja baru mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga ... bila bersama dengan umat manusia dunia semesta pun ... akan diperbaharui secara sempurna dalam Kristus” (Lumen Gentium, 48). Visi kenabian ini juga menyangkutmu: orang-orang yang teguh berakar pada kenyataan masa kini, namun “selalu memperhatikan hal-hal yang di atas” (Misa Romawi, Doa Kolekta untuk Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga). Kristus wafat dan bangkit untuk “membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut” (Ibr 2:15). Melalui komitmenmu untuk mengikuti-Nya lebih dekat — turut serta dalam pengosongan diri-Nya dan dalam hidup-Nya di dalam Roh (bdk. Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius Perfectae Caritatis, 5) — kamu dapat menunjukkan kepada dunia jalan untuk mengatasi konflik, menabur persaudaraan melalui kebebasan orang-orang yang mengasihi dan mengampuni tanpa batas.

 

Saudara-saudari terkasih yang telah mengikrarkan kaul, hari ini Gereja mengucap syukur kepada Tuhan dan kepadamu atas kehadiranmu. Gereja mendorongmu untuk menjadi ragi perdamaian dan tanda pengharapan di mana pun penyelenggaraan ilahi menuntunmu. Saat kita memperbarui persembahan hidup kita kepada Allah di atas altar, kita mempercayakan karyamu kepada perantaraan Santa Maria, bersama dengan semua pendiri tarekatmu yang kudus.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Februari 2026)