Bacaan
Ekaristi : Gal. 3:1-5; Luk. 1:69-70.71-72.73-75; Luk. 11:5-13.
Saudara-saudari
yang terkasih,
Hari ini
kita merayakan Ekaristi seraya memohon karunia Roh Kudus, agar awal tahun
akademik baru universitas-universitas kepausan ini menjadi lebih dari sekadar
dimulainya kembali kegiatan studi dan penelitian akademik. Kita ingin membuka
pikiran dan relasi pendidikan kita terhadap hembusan kreatif Yesus yang
bangkit, yang menganugerahkan damai dan kesatuan, agar kita masing-masing dapat
mengemban perutusan kita dan dengan demikian menanggapi Allah yang memanggil
kita, serta umat manusia yang menantikan kita. Oleh karena itu, biarlah awal
yang baru ini menjadi momen yang sungguh-sungguh bersifat gerejawi, di mana
perhimpunan di sekeliling meja Tuhan memupuk perutusan bersama kita. Dengan
cara ini, tidak ada seorang pun yang akan mengajar, belajar, atau melakukan
penelitian semata-mata untuk diri sendiri, melainkan bersama orang lain, demi
orang lain, dan terutama bersama serta bagi Tuhan. Sungguh, sebagaimana telah
kita dengar dalam Surat kepada jemaat di Galatia, akal budi merupakan hal
dasariah baik bagi iman maupun perutusan.
Rasul
Paulus, yang merasa cemas dengan kabar yang diterimanya dari jemaat di Galatia,
menulis surat yang mengajak jemaat untuk berefleksi. Nada suratnya penuh
semangat dan mendesak; namun, apa yang mungkin tampak sebagai teguran
sebenarnya merupakan seruan untuk menggunakan akal budi, ingatan, dan pemikiran
kritis. Di setiap zaman, selalu ada guru-guru palsu yang memanfaatkan sentimen
keagamaan kebanyakan orang beriman demi kepentingan mereka sendiri; mereka
sering kali mendorong orang untuk meradikalisasi aspek-aspek tertentu dari
ajaran yang telah diterima, dengan mengorbankan keutuhan ajaran tersebut —
yaitu keutuhan yang berpusat pada Kristus dan Injil-Nya.
Sahabat-sahabat
terkasih, pandanglah kegiatan studi sebagai pelayanan bagi iman dan kebenaran:
demi kebaikan dirimu dan kebaikan begitu banyak saudara-saudari yang karenanya
Tuhan telah menyerahkan hidup-Nya. Sebab, meskipun perjumpaan dengan Dia
sungguh mendatangkan sukacita dan semangat, hal itu sama sekali bukan soal
menjadi "terguna-guna" atau "terpesona" (bdk. Gal 3:1).
Akal budi — yang mengajukan pertanyaan dalam terang sabda Allah dan Tradisi
Gereja — merupakan bagian penting dari perjalanan iman dalam mengikuti Yesus
Kristus. Justru karena alasan inilah, Gereja memiliki keinginan sekaligus
tanggung jawab untuk menjaga keutuhan harta kekayaan pewahyuan serta
mengembangkannya —dalam berbagai konteks — melalui pemahaman yang disertai doa,
refleksi ilmiah, mediasi budaya, dan penerapan praktis. Semua ini merupakan
ungkapan dari satu kasih yang kini memanggil, menopang, dan mengutusmu dalam
pencarian bersama ini. Ini adalah sebuah perutusan. Panggilan kita mungkin
berbeda, namun perutusannya satu.
Kita
memperoleh nasihat tambahan dari kata-kata Santo Paulus, yang mendesak jemaat
Galatia untuk mengingat kembali titik awal perjalanan mereka. Ia menulis:
"Apakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang
kamu mau mengakhirinya dengan daging? Sia-siakah begitu banyak derita yang
telah kamu alami itu?" (Gal 3:3-4). Oleh karena itu, kecerdasan harus
bersumber pada ingatan. Akal budi tidak boleh sekadar mengumpulkan data —
seperti yang kini dilakukan algoritma dengan kecepatan yang melampaui kemampuan
kita —melainkan harus mengenang pengalaman hidup yang sarat akan makna mendalam
yang hanya dapat dikenali oleh jiwa manusia, serta membangun hubungan yang
lebih erat dengan kebaikan yang terkandung dalam pengalaman-pengalaman
tersebut. Segala sesuatu yang baik bermula "dengan Roh" dan karenanya
memiliki napas kehidupan, dinamisme, serta semangat persekutuan yang, begitu
dialami, akan terpatri dalam hati. Rutinitas, ambisi, persaingan, dan
faktor-faktor negatif lainnya dapat, seiring berjalannya waktu, mengalihkan
perhatian dan energi kita, hingga membuat kita kelelahan, lesu, gemar bertikai,
dan diliputi kesedihan. Maka, kita harus kembali ke hati. Di sanalah segalanya
bermula; sebuah titik awal yang selalu bisa kita tuju kembali. Sahabat-sahabat
terkasih, jagalah hatimu. Baik sebagai mahasiswa, peneliti, maupun pengajar,
jagalah hatimu agar setiap tahapan hidup dan tanggung jawab dapat dijalani
"dengan Roh."
Sahabat-sahabat
terkasih, selama masa kuliahmu, pupuklah persahabatan yang merupakan anugerah
berharga, terutama ketika persahabatan itu dijalani dalam semangat pencarian
kebenaran bersama di dalam Kristus. Tetaplah berakar pada umat Allah, hargailah
sensus fidei (cita rasa iman) mereka, dan terbukalah terhadap
pertanyaan-pertanyaan mereka. Dan janganlah melupakan kaum miskin; mereka
terkadang adalah sosok sahabat yang dengan gigih datang mengetuk pintu di
tengah malam (bdk. Luk 11:5–13). Hidupkanlah studimu dan bawalah studimu ke
dalam kehidupan, dengan mengikuti nalar Inkarnasi — sebuah nalar yang tanpanya
pewahyuan akan membisu. Sungguh, semakin jauh kita menyimpang dari kenyataan
sepenuhnya yang dijalani oleh Putra Allah dengan kasih tak terhingga, semakin
sedikit pula hal yang dapat kita sampaikan dan semakin terbatas kesempatan kita
untuk memahami. Saudara-saudari, marilah kita mendengarkan kerinduan Allah yang
hari ini kembali mengetuk pintu hati kita, dan marilah kita membawanya ke dalam
ranah penelitian ilmiah. Marilah kita berbagi apa yang menjadi santapan rohani
kita. Banyak orang tidak memiliki kesempatan pendidikan yang sama seperti yang
telah kita terima. Marilah kita membuka pintu; janganlah kita menutup diri.
Sebagaimana
telah saya sampaikan dalam ensiklik pertama saya, hari ini kita dipanggil untuk
meneladani sikap umat pada zaman Nehemia demi membangun kota tempat Allah
berkehendak untuk tinggal bersama seluruh umat manusia dalam damai (bdk.
Ensiklik Magnifica Humanitas, 8). Setiap orang memiliki peran dalam upaya ini,
yang menuntut kerja sama di antara kita. Sebagai contoh, mereka yang bergulat
dengan fragmentasi pengetahuan dan dampak teknologi baru terhadap pikiran
manusia menyadari bahwa “kita perlu mengembangkan kebiasaan menjaga kesehatan
perhatian: menyediakan waktu untuk hening, belajar secara mendalam, membaca,
dan berdialog dengan penuh pertimbangan. Tanpa itu semua, kebebasan batin dapat
terganggu” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 146).
Studi
teologi tidak asing dengan tantangan-tantangan ini. Dalam upaya pembangunan
"Kota Allah," penelitian teologis turut menerangi karya semua pihak
serta menjadi titik temu bagi berbagai bidang ilmu pengetahuan. Secara khusus,
komunitas gerejawi di Roma — melalui panggilannya untuk melayani seluruh Gereja
Katolik — berperan sebagai tempat pertemuan dan wadah bagi dialog serta saling
memperkaya di antara beragam kepekaan, budaya, dan tradisi; di dalamnya, Injil
menyingkapkan kekayaan yang tak habis-habisnya.
Saudara-saudari
terkasih, semoga kamu menjalani masa-masamu di Roma dengan sepenuh hati. Jangan
biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa makna. Di tempat inilah Petrus
menyatakan imannya hingga mencapai kemartiran. Di tempat inilah Paulus — sang
penerjemah agung pengalaman Kristiani bagi begitu banyak bangsa, bahasa, dan
budaya —mengakhiri pertandingannya setelah memelihara iman (bdk. 2Tim 4:7).
Perhatikanlah sekelilingmu di universitas: dunia hadir di dalam ruang-ruang
kelasmu. Kamu belajar bersama orang-orang dari Afrika, Asia, Amerika, Eropa,
dan Oseania. Jangan membatasi diri hanya dengan duduk berdampingan: kenalilah
satu sama lain, berbicaralah satu sama lain, dengarkanlah satu sama lain,
bagikan pengalamanmu tentang Gereja, berdoalah bersama, nikmati waktu senggang
bersama, dan jalinlah persahabatan yang akan bertahan seumur hidup.
Tuhan
bersabda kepada kita: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka
kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Sebab, setiap
orang yang meminta, menerima; dan setiap orang yang mencari, mendapat; yang
mengetuk, baginya pintu dibukakan” (Luk 11:9–10). Dengan dikuatkan oleh janji
ini, marilah kita bertekun bersama dalam doa. Marilah kita menyerahkan tahun
ajaran baru ini kepada perantaraan keibuan Bunda Maria, Takhta Kebijaksanaan,
dan menyambut Roh Kudus, yang senantiasa dianugerahkan oleh Bapa surgawi kepada
mereka yang memohon dengan penuh kepercayaan sebagai anak.
____
(Peter Suriadi - Bogor, 9 Oktober 2026)


.jpeg)
.jpeg)