Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI PARQUE PARÍS LONDRES (PAYSANDÚ, URUGUAY) 7 November 2026

Bacaan Ekaristi: Flp. 4:10-19; Mzm. 112:1-2.5-6.8a.9; Luk. 16:9-15.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Bacaan-bacaan yang baru saja kita dengar menggambarkan sosok orang benar yang ditolong dan dikuatkan oleh Tuhan, agar ia dapat melaksanakan perutusan yang dipercayakan kepadanya. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Santo Paulus mengungkapkan rasa syukur atas dukungan komunitas terhadap karya perutusannya; ia sadar bahwa di tengah kekurangannya, Allah adalah satu-satunya kekayaannya, dan penyelenggaraan ilahi dinyatakan melalui saudara-saudari yang menjadi sasaran perutusannya.

 

Di sisi lain Mazmur menyebut berbahagia orang-orang yang mencintai hukum Tuhan dan perbuatannya selaras dengan iman mereka. Demikian pula dalam Bacaan Injil, Yesus menekankan pentingnya pribadi yang jujur, yang mengabdi kepada Allah dan menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupannya, serta tetap setia dalam segala hal yang dipercayakan kepadanya, baik hal-hal besar maupun hal-hal kecil.

 

Hari ini, saat kita berkumpul di Paysandú untuk merayakan Ekaristi — dengan sukacita melihat begitu banyak anggota Gereja di Uruguay berhimpun di sekeliling meja yang sama, bersama para peziarah dari negara-negara tetangga — Liturgi Sabda mengajak kita untuk mengenang kehadiran begitu banyak orang beriman yang datang ke wilayah Río de la Plata. Sejak masa-masa awal pewartaan Injil di benua ini, mereka datang demi nama Tuhan untuk mewartakan sukacita besar yang telah mereka alami sendiri saat berjumpa dengan Kristus. Seperti para malaikat yang menampakkan diri kepada para gembala (bdk. Luk 2:10), mereka dengan penuh sukacita membagikan Kabar Baik Injil, seraya mengungkapkan iman mereka melalui karya amal kasih dan kerahiman.

 

Dalam perayaan ini, kita juga ingin mengenang dan mengucap syukur kepada Allah atas kehidupan serta pelayanan seorang putra tanah ini: Beato Jacinto Vera, Uskup Montevideo. Ia memberikan kesaksian yang setia terhadap iman yang diwartakannya melalui amal kasih yang berlimpah dan pengabdian penuh pada perutusan apostolik. Ia menjalankan semangat pastoralnya secara luas, tanpa mempedulikan pengorbanan apa pun. Sebagai contoh, ia sering bepergian dengan menunggang kuda untuk merawat orang sakit, meskipun harus menempuh jarak yang jauh, menghadapi bahaya di sepanjang perjalanan, serta cuaca yang tidak bersahabat. Sang “uskup gaucho” ini telah menjelajahi seluruh pelosok Uruguay hingga tiga kali, membawa iman dan harapan bagi penduduknya. Selama peristiwa bersejarah Pengepungan Paysandú pada tahun 1864, Uskup Vera tinggal di Isla de la Caridad — yang terletak di seberang kota yang terkepung — demi merawat para pengungsi dan orang-orang yang terluka dari kedua belah pihak. Ia tetap berada di sana hingga pengepungan berakhir, mendampingi umatnya serta memohon demi nama Allah agar pihak-pihak yang bertikai — yang sejatinya bersaudara — dapat saling merangkul dalam kasih persaudaraan.

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini giliran kita untuk melanjutkan warisan yang ditinggalkan oleh para penabur Injil ini. Kita harus melakukannya dengan senantiasa mengingat sabda Allah: dengan keadilan, kejujuran, dan kesetiaan, seraya menyadari bahwa pesan yang kita wartakan bukan milik kita. Pesan itu adalah harta yang telah kita terima dari Tuhan, yang kita bawa dalam bejana tanah liat (bdk. 2Kor 4:7).

 

Tiga simbol yang mencirikan wilayah ini dapat membantu kita merefleksikan khazanah iman yang telah kita terima serta perutusan yang kini dipercayakan kepada kita. Simbol pertama adalah jembatan; yang kedua adalah kebun palem; dan yang ketiga adalah minuman mate.

 

Di kota Paysandú ini terdapat Jembatan Internasional General Artigas, yang membentang melintasi Sungai Uruguay dan menghubungkan dua negara tetangga. Tidaklah sulit untuk membayangkan manfaat yang dihadirkan oleh sebuah jembatan: keterbukaan, komunikasi, dan pertukaran. Itulah sebabnya menjadi pembangun jembatan menjadi sangat penting! Inilah panggilan yang ditujukan kepada kita semua: membangun jembatan, memperkuat ikatan, mempersatukan, berkomunikasi, dan berbagi sukacita iman — seperti yang dilakukan oleh Beato Jacinto Vera — "baik atau tidak baik waktunya" (2Tim 4:2).

 

Terlebih lagi, sebuah jembatan memerlukan fondasi yang kokoh agar mampu bertahan bahkan terhadap arus yang paling kuat sekalipun. Sebagaimana rumah yang dibangun di atas batu akan tetap tegak di tengah badai, sementara rumah yang dibangun di atas pasir berisiko runtuh (bdk. Mat 7:24-27), demikian pula sebuah jembatan membutuhkan fondasi yang tepat untuk menahan kekuatan angin dan air. Setiap kali kamu pergi ke tepi sungai dan melihat jembatan itu, ingatlah bahwa simbol ini mewakili kita dan mengingatkan kita akan pentingnya pembinaan Kristiani yang kokoh. Kita perlu dipersiapkan dengan baik untuk memberi pertanggungjawaban iman kita kepada siapa pun yang bertanya (bdk. 1Ptr 3:15) dan tidak membiarkan diri kita disesatkan oleh “berbagai ajaran asing” (Ibr 13:9). Hanya dengan cara inilah kita dapat menjadi sarana persatuan dan ikatan kasih.

 

Simbol kedua yang mencirikan dan memperindah tanah ini adalah kebun palem. Kitab Mazmur menyatakan bahwa “orang benar akan bertunas seperti pohon kurma” (Mzm 92:12). Pohon ini mampu bertahan terhadap angin kencang, memiliki akar yang dalam, tumbuh menjulang lurus ke langit demi mengejar cahaya, serta menghasilkan buah yatay yang manis. Ini merupakan gambaran yang indah mengenai asal-usul kita dan tujuan akhir panggilan hidup kita: berakar di dalam Kristus — Sang Alfa dan Omega, Awal dan Akhir dari kehidupan kita — sehingga dengan tetap bersatu dengan Dia, kita dapat menghasilkan buah yang baik (bdk. Yoh 15:5).

 

Pada saat yang sama, kita melihat bahwa pohon palem di wilayah ini tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh berkelompok; jumlahnya banyak, namun tidak ada yang berdiri sendirian ataupun berjauhan. Demikian pula, Gereja merupakan komunitas saudara-saudari yang menanamkan akar dan menimba dari sumber yang sama: sabda Allah, sakramen-sakramen, doa, dan karya amal kasih. Bersama-sama, umat beriman mengarahkan pandangan mereka untuk memuji Kristus — sang surya pagi dari tempat yang tinggi, yang cahayanya menuntun langkah umat manusia ke jalan damai sejahtera (bdk. Luk 1:78-79).

 

Akhirnya, mari kita renungkan sebuah simbol yang dapat ditemukan di setiap rumah di negeri ini, di setiap tempat belajar dan bekerja, serta dalam setiap pertemuan antarsahabat. Yang saya maksud adalah mate, minuman yang sangat khas dari Amerika Selatan, yang makna mendalamnya tentu lebih baik kamu yang jelaskan ketimbang saya. Pasti banyak di antaramu yang telah menikmati mate dalam perjalanan menuju perayaan hari ini, dan akan menikmatinya lagi dalam perjalanan pulang nanti. Mate bahkan telah sampai ke Roma!

 

Mate merupakan lambang keakraban, persahabatan, dan perjumpaan. Ia mengajarkan kita untuk berbagi dan bersama-sama, serta mempererat ikatan yang mempersatukan kita sebagai saudara. Mate menjadi tanda penerimaan, pemaduan, dan nilai-nilai yang dianut bersama. "Minum mate" adalah sebuah ritual yang kaya akan simbolisme; di dalamnya, dialog terjalin tanpa perlu kata-kata, dan setiap rinciannya memiliki makna tersendiri. Saya juga teringat pada saat-saat seseorang menikmati mate seorang diri, dalam keheningan dan doa. Dalam momen-momen kesendirian tersebut, betapa sering kamu menyerahkan segala kekhawatiran, kebutuhan, serta hasrat dan kerinduan terdalammu kepada Allah!

 

Saudara-saudari terkasih, kita perlu merefleksikan simbol-simbol yang kita miliki bersama ini — simbol yang memberi kita jati diri dan rasa memiliki, yang menuturkan kisah tentang asal-usul kita, sekaligus mengarahkan pandangan kita ke masa depan. Iman pun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Uruguay sejak masa-masa awal, dan iman ini harus diteruskan kepada generasi mendatang dengan keberanian yang kreatif.

 

Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita akan pentingnya bersikap setia terhadap karunia-karunia yang telah kita terima: “Siapa yang setia dalam hal kecil, setia juga dalam hal besar” (Luk 16:10). Banyak orang, seperti Uskup Jacinto Vera, menghayati kata-kata ini. Dengan setia menjalankan panggilan yang telah mereka terima, mereka menaburkan benih Injil di dalam hati rakyat Uruguay. Benih-benih itu tetap hidup di tengah komunitas, namun penting untuk terus menyediakan kondisi yang diperlukan agar benih tersebut dapat tumbuh dan mencapai potensi sepenuhnya. Hal ini mencakup upaya berkelanjutan untuk mendidik anak-anak dan kaum muda dalam iman, mendampingi keluarga-keluarga, mendukung para lansia, serta melaksanakan karya amal kasih.

 

Saudara-saudari terkasih, saya mendorongmu untuk meneruskan perutusan pewartaan Injil dengan penuh semangat. Jadilah jembatan, agar banyak orang dapat berjumpa Yesus. Jadilah komunitas persaudaraan yang berkumpul bersama dan saling berbagi kehidupan, rencana, impian, serta harapan — terutama dengan orang-orang yang paling membutuhkan. Jadilah komunitas doa yang senantiasa menjalin dialog dengan Tuhan, layaknya seorang sahabat berbicara kepada sahabatnya (bdk. Yoh 15:15). Kristus mengandalkan kamu semua! Kristus mengandalkanmu!

 

Semoga Bunda surgawi kita, Bunda dari Tiga Puluh Tiga, melindungimu dalam perjalanan hidupmu dan senantiasa menuntunmu untuk berjumpa Yesus, Putranya.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 8 November 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA BAGI PARA KARDINAL DAN USKUP YANG TELAH WAFAT SELAMA SETAHUN TERAKHIR 5 November 2026

Bacaan Ekaristi : 2Mak. 12:43-46; Mzm. 143:1-2.5-6.7ab.8ab.10; 1Kor. 15:20-24a.25-28; Yoh. 6:37-40.

 

“Siapa yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada” (Yoh 12:26). Kata-kata Yesus ini menyentuh hati kita secara langsung, memanggil kita untuk mengikuti Dia di sepanjang jalan yang telah Ia tempuh sendiri: jalan menuju kemuliaan melalui salib. Dalam perjalanan ini — di mana kita tidak luput dari berbagai pencobaan dan penderitaan — kita dibimbing dan dikuatkan oleh suatu janji: janji akan persekutuan yang tidak dapat dikuasai oleh maut. Sesungguhnya, siapa pun yang mengikuti Kristus menjadi pelayan-Nya dan akan senantiasa berada di tempat Ia berada, justru karena mereka telah menempuh jalan-Nya. Oleh karena itu, Santo Paulus menegaskan: “Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia” (2Tim 2:11). Saudara-saudari terkasih, kepastian iman dan pengharapan inilah yang mendasari perayaan kita demi kedamaian jiwa para kardinal dan uskup yang telah meninggalkan kita sepanjang tahun yang lalu. Kita ingin berdoa kepada Tuhan bagi mereka, agar Ia berkenan memberikan upah kepada para pelayan-Nya yang setia.

 

Kenangan dalam doa ini mengajak kita untuk merefleksikan nilai rohani dari ingatan. Saat berpamitan dengan putra-putranya, Agustinus dan Navigius, menjelang ajalnya, Santa Monika berkata, “Hanya satu hal yang kuminta darimu: ingatlah aku di mezbah Tuhan, di mana pun kamu berada” (Santo Agustinus, Pengakuan-pengakuan, IX, 11, 27). Di sini, misteri kematian dikaitkan dengan doa bagi orang yang telah meninggal — sebuah praktik yang telah dijalankan Gereja sejak awal mula sebagai salah satu kewajiban dasariahnya.

 

Dalam terang sabda Allah, kita dapat merefleksikan secara singkat dua kebenaran yang menerangi doa kita bagi orang yang telah meninggal: harapan akan kebangkitan dan persekutuan para kudus.

 

Kisah tentang Yudas Makabe yang kita dengar dalam Bacaan Pertama (2 Mak 12:43-46) membantu kita merefleksikan perihal kebangkitan. Setelah beberapa rekannya, yang telah berdosa karena menyembah berhala, gugur dalam pertempuran, Yudas menyerahkan mereka kepada kerahiman Allah dan mengatur agar persembahan penghapus dosa dipersembahkan bagi mereka, supaya mereka dapat dibebaskan dari dosa mereka. Tindakan ini didasarkan pada keyakinan bahwa persekutuan yang kita alami satu sama lain di dunia ini — meskipun penuh dengan keterbatasan dan kegagalan — tidak berakhir ketika diserahkan ke dalam tangan Allah. Dengan demikian, kesaksian dari zaman Makabe ini mengantisipasi apa yang kemudian digenapi dalam liturgi Kristiani. Sebab, peringatan kita akan saudara-saudari yang telah mendahului kita di hadapan mezbah Tuhan berlandaskan pada janji bahwa hidup kita, di dalam Kristus, tidak akan sirna, karena hidup itu telah ditebus.

 

Tindakan Yudas, pertama-tama dan terutama, merupakan suatu tindakan iman, karena ia mempersembahkan kurbannya “dengan harapan teguh bahwa mereka yang telah meninggal akan bangkit kembali” (ayat 44). Dalam terang Yesus — yang merupakan sumber kebangkitan itu sendiri — kita pun berdoa bagi mereka yang telah mendahului kita, berkat harapan besar yang dianugerahkan kepada kita dalam misteri Paskah. Sebab, sebagaimana ditegaskan oleh Kitab Suci, jika tidak ada kebangkitan, maka sia-sialah doa bagi orang mati (bdk. ayat 44). Rasul Paulus pun menyampaikan pernyataan yang tegas ini: “Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, Kristus juga tidak dibangkitkan. Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:13-14).

 

Saudara-saudari terkasih, mendoakan mereka yang telah meninggal berarti merayakan kehidupan — terutama kehidupan Kristus Tuhan yang telah bangkit, dan kemudian, berkat rahmat-Nya, kehidupan kita sendiri yang turut bangkit di dalam Dia. Kurban Ekaristi merupakan kenangan akan Paskah-Nya, peristiwa di mana Ia menyelamatkan kita dengan menyerahkan diri-Nya bagi kita. Oleh karena itu, janganlah kita membiarkan pengenangan akan orang yang telah meninggal sekadar menjadi nostalgia belaka. Dalam iman, marilah kita merenungkan misteri kematian tanpa rasa takut, karena Tuhan itu hidup, menantikan kita, dan telah menyediakan tempat bagi kita di rumah Bapa-Nya (bdk. Yoh 14:2-3).

 

Gereja merayakan tindakan penyerahan diri dan pengharapan ini di dalam persekutuan para kudus. Ketika kita berdoa bagi mereka yang telah meninggal, kita melakukannya bukan hanya untuk mereka, melainkan juga bersama mereka — terlibat dalam suatu hubungan timbal balik yang dihidupkan oleh Roh Kudus di dalam hati kita. Gereja merupakan misteri persekutuan antara Kristus, sang Kepala, dengan kita, anggota-anggota tubuh-Nya: dari Dialah kita menerima kehidupan. Persekutuan ini mempersatukan jiwa-jiwa bahagia yang telah memandang wajah Allah dengan semua orang yang, baik di surga maupun di bumi, sedang dalam perjalanan menuju tujuan yang gilang-gemilang itu.

 

Saudara-saudari terkasih, di dalam Kristus, kematian tidak memutuskan ikatan di antara kita. Sebaliknya, kematian mengubah ikatan tersebut ke dalam dimensi baru — dimensi yang hanya dapat dipahami melalui misteri kasih-Nya, kasih yang diberikan hingga tuntas di atas kayu salib dan dicurahkan setelah kemenangan Paskah-Nya. Dengan menyambut kasih Tuhan yang telah bangkit dalam Ekaristi kudus, marilah kita menjaga dan memelihara persekutuan ini sepanjang perjalanan hidup kita. Dengan demikian, kelak saat tiba giliran kita, kita pun dapat menerima doa dari saudara-saudari kita yang masih dalam peziarahan, serta bersukacita bersama seluruh orang kudus dalam kebahagiaan di tanah air surgawi.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 November 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN 2 November 2026

Bacaan Ekaristi : 2Mak. 12:43-46; Mzm. 143:1-2.5-6.7ab.8ab.10; 1Kor. 15:20-24a.25-28; Yoh. 6:37-40.

 

Saudara-saudari terkasih, kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi di tempat doa dan kenangan, tempat yang penuh kasih sayang dan harapan ini. Kita mempersembahkannya demi keselamatan jiwa-jiwa umat beriman yang telah berpulang, khususnya bagi mereka yang beristirahat di sini dan bagi mereka yang senantiasa kita bawa dalam hati kita masing-masing.

 

Mengenang umat beriman yang telah berpulang, tepat sehari setelah Hari Raya Semua Orang Kudus, mengarahkan doa kita. Kita berpaling kepada Bapa surgawi agar kehidupan dalam kekudusan dan kebahagiaan — yang telah dinikmati oleh begitu banyak putra dan putri-Nya — dapat melingkupi jiwa-jiwa mereka yang kini beristirahat dalam damai.

 

Iman kita diterangi oleh Sabda yang telah diwartakan, yang semakin meneguhkan kepercayaan kita akan tangan Allah. Sebagaimana diingatkan oleh Kitab Kebijaksanaan, tangan Allah yang penuh kuasa mampu menjaga jiwa orang-orang benar: “Siksaan tidak akan pernah menimpa mereka” (Keb 3:1). Inilah janji keselamatan yang, khususnya pada hari ini, menjadi inti dari permohonan yang kita panjatkan kepada Tuhan Sang Pemilik Kehidupan bagi semua orang beriman yang telah berpulang.

 

Semoga tangan-Nya yang penuh kasih kebapaan dan teguh senantiasa menjaga mereka untuk selama-lamanya, agar mereka dapat menikmati sepenuhnya kepemilikan yang hidup dan timbal balik yang dijanjikan Tuhan kepada umat-Nya dalam Kitab Wahyu: “Mereka akan menjadi umat-Nya dan Allah sendiri akan menyertai mereka sebagai Allah mereka” (Why 21:3). Doa kita menjadi perantaraan agar persekutuan hidup yang kekal ini — yang dijanjikan oleh Sang Gembala yang baik kepada domba-domba-Nya — dapat terwujud; domba-domba yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan-Nya (bdk. Yoh 10:28).

 

Saudara-saudari terkasih, kita telah mendengarkan Bacaan Injil tentang Sabda Bahagia (Mat 5:1-12). Sabda Bahagia ibarat potret diri Yesus, yang Ia berikan kepada para murid-Nya saat Ia mewartakan “Berbahagialah kamu!” (ayat 11). Sabda Bahagia merupakan jalan menuju kehidupan yang utuh dan terpenuhi, baik saat ini maupun untuk kekekalan. Ketika kita mendengarnya dibacakan dalam liturgi — kita tahu — Tuhan yang bangkit yang sedang berbicara kepada kita. Pewartaan keselamatan yang terkandung dalam Sabda Bahagia ini bergema dengan kekuatan rohani yang istimewa di sebuah pemakaman, yang ibarat ambang batas antara dunia ini dan dunia yang akan datang, antara kehidupan di bumi dan apa yang menanti kita di sana. Yesus yang bangkit berkata kepada kita bahwa berbahagialah mereka yang hidup menurut jalan ini karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.

 

Di antara delapan Sabda Bahagia dalam Injil Matius, ada satu yang menyentuh kita secara khusus hari ini: “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Mat 5:4). Pada saat ini, kita ingin mendoakan mereka yang baru saja kehilangan orang yang dicintai; khususnya bagi mereka yang orang-orang terkasihnya telah direnggut oleh kekerasan perang yang tidak masuk akal. Semoga air mata begitu banyak ibu, anak-anak, dan lansia mengetuk hati nurani mereka yang memiliki kuasa untuk membungkam senjata!

 

Pada peringatan delapan abad wafatnya Santo Fransiskus dari Asisi, secara spontan muncul ingatan akan “sabda bahagia” yang ia tambahkan ke dalam Gita Sang Surya saat ia menyadari bahwa ajalnya telah dekat: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami, Maut Jasmani darinya tiada insan hidup terlepas. Malanglah yang mati dalam dosa. Bahagialah yang didapati dalam kehendak suci-Mu, maut kedua takan mencelakakannya."

 

Saudara-saudari terkasih, iman kepada Kristus menyatakan kepada kita bahwa ikatan kita dengan umat beriman yang telah meninggal tidaklah terputus, melainkan diubah. Melalui doa permohonan bagi arwah, kita mendampingi orang-orang yang kita kasihi menuju persekutuan penuh dengan Tuhan — persekutuan yang sesungguhnya telah kita rasakan di sini, dalam sakramen Ekaristi. Dengan didorong oleh iman yang penuh pengharapan ini, marilah kita melanjutkan perjalanan hidup kita di dunia ini, seraya menantikan hari ketika Ia akan menghapus segala air mata, saat “maut tidak akan ada lagi. Tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why 21:4).

______

(Peter Suriadi - Bogor, 3 November 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA INAGURASI TAHUN AKADEMIK UNIVERSITAS-UNIVERSITAS KEPAUSAN 8 Oktober 2026

Bacaan Ekaristi : Gal. 3:1-5; Luk. 1:69-70.71-72.73-75; Luk. 11:5-13.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Ekaristi seraya memohon karunia Roh Kudus, agar awal tahun akademik baru universitas-universitas kepausan ini menjadi lebih dari sekadar dimulainya kembali kegiatan studi dan penelitian akademik. Kita ingin membuka pikiran dan relasi pendidikan kita terhadap hembusan kreatif Yesus yang bangkit, yang menganugerahkan damai dan kesatuan, agar kita masing-masing dapat mengemban perutusan kita dan dengan demikian menanggapi Allah yang memanggil kita, serta umat manusia yang menantikan kita. Oleh karena itu, biarlah awal yang baru ini menjadi momen yang sungguh-sungguh bersifat gerejawi, di mana perhimpunan di sekeliling meja Tuhan memupuk perutusan bersama kita. Dengan cara ini, tidak ada seorang pun yang akan mengajar, belajar, atau melakukan penelitian semata-mata untuk diri sendiri, melainkan bersama orang lain, demi orang lain, dan terutama bersama serta bagi Tuhan. Sungguh, sebagaimana telah kita dengar dalam Surat kepada jemaat di Galatia, akal budi merupakan hal dasariah baik bagi iman maupun perutusan.

 

Rasul Paulus, yang merasa cemas dengan kabar yang diterimanya dari jemaat di Galatia, menulis surat yang mengajak jemaat untuk berefleksi. Nada suratnya penuh semangat dan mendesak; namun, apa yang mungkin tampak sebagai teguran sebenarnya merupakan seruan untuk menggunakan akal budi, ingatan, dan pemikiran kritis. Di setiap zaman, selalu ada guru-guru palsu yang memanfaatkan sentimen keagamaan kebanyakan orang beriman demi kepentingan mereka sendiri; mereka sering kali mendorong orang untuk meradikalisasi aspek-aspek tertentu dari ajaran yang telah diterima, dengan mengorbankan keutuhan ajaran tersebut — yaitu keutuhan yang berpusat pada Kristus dan Injil-Nya.

 

Sahabat-sahabat terkasih, pandanglah kegiatan studi sebagai pelayanan bagi iman dan kebenaran: demi kebaikan dirimu dan kebaikan begitu banyak saudara-saudari yang karenanya Tuhan telah menyerahkan hidup-Nya. Sebab, meskipun perjumpaan dengan Dia sungguh mendatangkan sukacita dan semangat, hal itu sama sekali bukan soal menjadi "terguna-guna" atau "terpesona" (bdk. Gal 3:1). Akal budi — yang mengajukan pertanyaan dalam terang sabda Allah dan Tradisi Gereja — merupakan bagian penting dari perjalanan iman dalam mengikuti Yesus Kristus. Justru karena alasan inilah, Gereja memiliki keinginan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keutuhan harta kekayaan pewahyuan serta mengembangkannya —dalam berbagai konteks — melalui pemahaman yang disertai doa, refleksi ilmiah, mediasi budaya, dan penerapan praktis. Semua ini merupakan ungkapan dari satu kasih yang kini memanggil, menopang, dan mengutusmu dalam pencarian bersama ini. Ini adalah sebuah perutusan. Panggilan kita mungkin berbeda, namun perutusannya satu.

 

Kita memperoleh nasihat tambahan dari kata-kata Santo Paulus, yang mendesak jemaat Galatia untuk mengingat kembali titik awal perjalanan mereka. Ia menulis: "Apakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang kamu mau mengakhirinya dengan daging? Sia-siakah begitu banyak derita yang telah kamu alami itu?" (Gal 3:3-4). Oleh karena itu, kecerdasan harus bersumber pada ingatan. Akal budi tidak boleh sekadar mengumpulkan data — seperti yang kini dilakukan algoritma dengan kecepatan yang melampaui kemampuan kita —melainkan harus mengenang pengalaman hidup yang sarat akan makna mendalam yang hanya dapat dikenali oleh jiwa manusia, serta membangun hubungan yang lebih erat dengan kebaikan yang terkandung dalam pengalaman-pengalaman tersebut. Segala sesuatu yang baik bermula "dengan Roh" dan karenanya memiliki napas kehidupan, dinamisme, serta semangat persekutuan yang, begitu dialami, akan terpatri dalam hati. Rutinitas, ambisi, persaingan, dan faktor-faktor negatif lainnya dapat, seiring berjalannya waktu, mengalihkan perhatian dan energi kita, hingga membuat kita kelelahan, lesu, gemar bertikai, dan diliputi kesedihan. Maka, kita harus kembali ke hati. Di sanalah segalanya bermula; sebuah titik awal yang selalu bisa kita tuju kembali. Sahabat-sahabat terkasih, jagalah hatimu. Baik sebagai mahasiswa, peneliti, maupun pengajar, jagalah hatimu agar setiap tahapan hidup dan tanggung jawab dapat dijalani "dengan Roh."

 

Sahabat-sahabat terkasih, selama masa kuliahmu, pupuklah persahabatan yang merupakan anugerah berharga, terutama ketika persahabatan itu dijalani dalam semangat pencarian kebenaran bersama di dalam Kristus. Tetaplah berakar pada umat Allah, hargailah sensus fidei (cita rasa iman) mereka, dan terbukalah terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka. Dan janganlah melupakan kaum miskin; mereka terkadang adalah sosok sahabat yang dengan gigih datang mengetuk pintu di tengah malam (bdk. Luk 11:5–13). Hidupkanlah studimu dan bawalah studimu ke dalam kehidupan, dengan mengikuti nalar Inkarnasi — sebuah nalar yang tanpanya pewahyuan akan membisu. Sungguh, semakin jauh kita menyimpang dari kenyataan sepenuhnya yang dijalani oleh Putra Allah dengan kasih tak terhingga, semakin sedikit pula hal yang dapat kita sampaikan dan semakin terbatas kesempatan kita untuk memahami. Saudara-saudari, marilah kita mendengarkan kerinduan Allah yang hari ini kembali mengetuk pintu hati kita, dan marilah kita membawanya ke dalam ranah penelitian ilmiah. Marilah kita berbagi apa yang menjadi santapan rohani kita. Banyak orang tidak memiliki kesempatan pendidikan yang sama seperti yang telah kita terima. Marilah kita membuka pintu; janganlah kita menutup diri.

 

Sebagaimana telah saya sampaikan dalam ensiklik pertama saya, hari ini kita dipanggil untuk meneladani sikap umat pada zaman Nehemia demi membangun kota tempat Allah berkehendak untuk tinggal bersama seluruh umat manusia dalam damai (bdk. Ensiklik Magnifica Humanitas, 8). Setiap orang memiliki peran dalam upaya ini, yang menuntut kerja sama di antara kita. Sebagai contoh, mereka yang bergulat dengan fragmentasi pengetahuan dan dampak teknologi baru terhadap pikiran manusia menyadari bahwa “kita perlu mengembangkan kebiasaan menjaga kesehatan perhatian: menyediakan waktu untuk hening, belajar secara mendalam, membaca, dan berdialog dengan penuh pertimbangan. Tanpa itu semua, kebebasan batin dapat terganggu” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 146).

 

Studi teologi tidak asing dengan tantangan-tantangan ini. Dalam upaya pembangunan "Kota Allah," penelitian teologis turut menerangi karya semua pihak serta menjadi titik temu bagi berbagai bidang ilmu pengetahuan. Secara khusus, komunitas gerejawi di Roma — melalui panggilannya untuk melayani seluruh Gereja Katolik — berperan sebagai tempat pertemuan dan wadah bagi dialog serta saling memperkaya di antara beragam kepekaan, budaya, dan tradisi; di dalamnya, Injil menyingkapkan kekayaan yang tak habis-habisnya.

 

Saudara-saudari terkasih, semoga kamu menjalani masa-masamu di Roma dengan sepenuh hati. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa makna. Di tempat inilah Petrus menyatakan imannya hingga mencapai kemartiran. Di tempat inilah Paulus — sang penerjemah agung pengalaman Kristiani bagi begitu banyak bangsa, bahasa, dan budaya —mengakhiri pertandingannya setelah memelihara iman (bdk. 2Tim 4:7). Perhatikanlah sekelilingmu di universitas: dunia hadir di dalam ruang-ruang kelasmu. Kamu belajar bersama orang-orang dari Afrika, Asia, Amerika, Eropa, dan Oseania. Jangan membatasi diri hanya dengan duduk berdampingan: kenalilah satu sama lain, berbicaralah satu sama lain, dengarkanlah satu sama lain, bagikan pengalamanmu tentang Gereja, berdoalah bersama, nikmati waktu senggang bersama, dan jalinlah persahabatan yang akan bertahan seumur hidup.

 

Tuhan bersabda kepada kita: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Sebab, setiap orang yang meminta, menerima; dan setiap orang yang mencari, mendapat; yang mengetuk, baginya pintu dibukakan” (Luk 11:9–10). Dengan dikuatkan oleh janji ini, marilah kita bertekun bersama dalam doa. Marilah kita menyerahkan tahun ajaran baru ini kepada perantaraan keibuan Bunda Maria, Takhta Kebijaksanaan, dan menyambut Roh Kudus, yang senantiasa dianugerahkan oleh Bapa surgawi kepada mereka yang memohon dengan penuh kepercayaan sebagai anak.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Oktober 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXVII BERSAMA KEPOLISIAN VATIKAN 3 Oktober 2026

Bacaan Ekaristi : Yes. 5:1-7; Mzm. 80:9.12.13-14.15-16.19-20; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sangat senang dapat merayakan Ekaristi untukmu dan bersamamu, pada pesta santo pelindungmu, Santo Mikael Malaikat Agung. Lima belas dari kamu baru-baru ini mengucapkan sumpah. Ini adalah waktu untuk berdoa. Secara khusus, marilah kita sekarang berhenti sejenak untuk merenungkan sabda Allah yang telah kita dengar: sabda itu membantu kita memahami apa artinya melayani, menjaga, dan melindungi.

 

Nabi Yesaya (5:1-7) berbicara kepada kita tentang kebun anggur yang dikasihi dan dipelihara dengan saksama. Kebun anggur tersebut melambangkan kasih Allah kepada umat-Nya. Allah telah melakukan segala sesuatu untuk kebun anggur-Nya dan mengharapkan buah yang baik darinya. Dan Allah memanggil semua anak-anak-Nya untuk bekerja di kebun anggur-Nya, sehingga kita menjadi kebun anggur sekaligus pekerja. Bagimu, para polisi Vatikan, pelayanan ini adalah cara untuk menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan. Tempat, pintu masuk, bangunan, tetapi yang terpenting, orang-orang, dipercayakan kepadamu. Satu sifat yang menonjol dalam pertemuan kita adalah kepedulian ini: sungguh indah melihat bagaimana kamu memandang orang lain bukan sebagai masalah yang harus dipecahkan, tetapi sebagai manusia yang harus dihormati dan diperhatikan.

 

Dalam Bacaan Injil (Mat 21:33-43), perumpamaan Yesus menunjukkan kepada kita contoh negatif: para penggarap kebun anggur yang, seiring waktu, lupa bahwa kebun anggur itu bukan milik mereka, melainkan dipercayakan kepada mereka untuk dipelihara. Ini adalah pengingat yang berharga bagi mereka yang hidup dalam pelayanan: apa yang kita terima adalah tanggung jawab yang harus dijaga dengan kerendahan hati dan pengabdian, dijalani dengan kebijaksanaan dan rasa tanggung jawab. Kamu tahu betul bahwa kewenangan, dalam terang Injil, diungkapkan pertama dan terutama dalam kemampuan untuk melindungi, mendengarkan, dan mendampingi, dengan keseimbangan, ketegasan, dan rasa hormat.

 

Kemudian Yesus memberitahu kita bahwa pemilik kebun anggur mengutus anaknya. Anak ini, yang melambangkan Kristus, merupakan pusat perumpamaan. Dan Dia - Yesus Kristus - yang harus menjadi pusat kehidupan dan pelayananmu. Bahkan sebelum menjadi polisi, kamu adalah orang-orang yang dipanggil untuk mengikuti Dia. Dari Dia kita belajar kekuatan yang dapat menjadi kelembutan, kewaspadaan yang lahir dari kepercayaan, kewenangan yang berjalan seiring dengan kerendahan hati, dan keberanian untuk bertindak dengan hati yang penuh belas kasihan.

 

Dalam Bacaan Kedua (Flp. 4:6-9), Santo Paulus berkata kepada kita: "Janganlah khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah" (Filipi 4:6). Ini juga merupakan ungkapan yang sangat tepat untuk pelayananmu. Akan ada hari-hari yang tenang dan hari-hari yang sulit; saat-saat ketika perlu mengambil keputusan cepat; situasi yang akan menimbulkan kelelahan dan kekhawatiran. Polisi tidak memikul semuanya sendirian: ia berdoa, tahu bagaimana mempercayai, tahu bagaimana menemukan kedamaian dalam Tuhan yang memungkinkannya untuk bertindak dengan jelas dan hati yang tenang.

 

Rasul Paulus menambahkan, "Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu" (bdk. Filipi 4:8). Inilah ciri lain dari "jati diri"-mu: hati dan pikiran yang terlatih dalam kebaikan. Sebelum tindakan lahiriah apa pun, ada pandangan batiniah. Mereka yang melindungi orang lain harus terlebih dahulu melindungi kebenaran, keadilan, kebaikan, dan rasa hormat di dalam diri mereka sendiri. Melindungi orang lain membutuhkan hati yang dilindungi oleh Tuhan.

 

Pekerjaanmu tentu menuntut kewaspadaan, tetapi sabda Allah hari ini mengajakmu kepada sesuatu yang lebih mendalam: menjaga dirimu dengan saksama. Jagalah hatimu, agar tidak menjadi keras tetapi selalu taat kepada Allah dan memperhatikan sesama; jagalah hati nuranimu, agar terus membimbingmu dengan kebenaran; jagalah persaudaraan di antaramu, agar setiap orang merasa diterima, didukung, dan tidak pernah sendirian. Karena suatu kelompok benar-benar menjadi "komunitas" ketika anggotanya saling peduli dan belajar berjalan bersama, saling mendukung dengan kesederhanaan dan kasih.

 

Saya juga menutup tahun ini dengan ungkapan kasih sayang dan rasa syukur kepada keluargamu. Kepada orang tua, istri, anak-anak, dan pacarmu: terima kasih! Kamu tahu pengorbanan, ketidakhadiran, jadwal, kekhawatiran, dan bahkan beban pelayanan yang tidak selalu terlihat.

 

Kepada mereka yang telah melayani selama bertahun-tahun dan kepada lima belas orang yang mengucapkan sumpah hari ini, saya katakan: jangan pernah lupa siapa dan apa yang kamu pilih untuk layani. Jadilah orang yang dapat dipercaya, bijaksana, dan setia. Biarkan Yesus menginspirasi pelayananmu. Semoga lencanamu yang terindah adalah hati yang tahu bagaimana melindungi.

 

Kita mempercayakan semua ini kepada Bunda Maria. Semoga Maria, perempuan yang penuh perhatian dan dapat dipercaya, menyertai keluargamu dan kamu masing-masing. Dan kita memohon kepada Santo Mikael Malaikat Agung untuk berada di sisimu dalam kewaspadaan dan perjuangan melawan segala kejahatan. Semoga ia melindungimu dalam pelayananmu dan membantumu tetap setia, sehingga Tuhan Yesus selalu menjadi pusat kehidupan, pelayanan, dan hatimu.

______

(Bogor, 4 Oktober 2026)