Bacaan
Ekaristi : Kis. 2:1-11; Mzm. 104:1ab,24ac,29c-30,31,34; 1Kor. 12:3b-7,12-13;
Yoh. 20:19-23.
Saudara-saudari
terkasih,
Masa
Paskah mencapai puncaknya hari ini pada Hari Raya Pentakosta. Untuk menyoroti
kesinambungan peristiwa penyelamatan ini, Bacaan Injil membawa kita kembali ke
“hari pertama minggu” (Yoh 20:19), yaitu, hari baru di mana Yesus yang telah
bangkit menampakkan diri kepada para murid, memperlihatkan “tangan dan
lambung-Nya” kepada mereka (ayat 20). Tuhan mengungkapkan tubuh-Nya yang mulia,
khususnya luka-luka-Nya, tanda-tanda penyaliban. Tanda-tanda sengsara ini, yang
lebih bermakna daripada kata-kata, kini diubah rupa; Dia yang telah mati hidup
selama-lamanya.
Setelah
melihat Tuhan, para murid pun dipulihkan kembali ke kehidupan. Mereka telah
mengurung diri di Ruang Atas, diliputi rasa takut, tetapi Yesus datang dan
berdiri di antara mereka, meskipun pintu-pintu tertutup, dan memenuhi mereka
dengan sukacita. Ia melewati “kematian” kita, membuka kubur dan membukanya
lebar-lebar ketika tidak ada jalan keluar bagi kita. Kristus menyertai
tindakan-Nya dengan kata-kata: “Damai sejahtera bagi kamu” (ayat 19); dan
segera setelah itu, Ia mengembusi Roh Kudus atas para murid. Yesus yang telah
bangkit adalah kepenuhan kehidupan. Setelah membuktikan bahwa Ia telah
dipulihkan kembali ke kehidupan sebagai manusia sejati, Ia menganugerahkan
kehidupan Allah sebagai Putra Bapa yang terkasih yang telah menjadi, demi kita,
saudara dan Penebus kita. Juga di Ruang Atas tempat Ia menetapkan perjanjian
baru dan kekal, Yesus mencurahkan Roh Kudus. Tempat Perjamuan Terakhir dan
pengkhianatan diubah rupa; bagi seluruh Gereja kubur para Rasul menjadi rahim
kebangkitan. Oleh karena itu, Pentakosta adalah perayaan Paskah dan perayaan
tubuh Kristus, yang berkat rahmat adalah kita semua.
Dalam
merayakan misteri ini, saya ingin berfokus pada tiga aspek.
Pertama,
Roh Yesus yang bangkit adalah Roh damai sejahtera. Sesungguhnya, melalui
misteri Paskah-Nya, Kristus memulihkan damai sejahtera antara Allah dan umat
manusia, dan Roh Kudus mencurahkan damai sejahtera ini ke dalam hati kita dan
menyebarkannya ke seluruh dunia. Damai sejahtera ini berasal dari pengampunan
dan menuntun kita kepada pengampunan. Damai sejahtera ini dimulai dengan
pengampunan yang diberikan oleh Yesus sendiri, yang telah kita khianati, hukum,
dan salibkan. Mengejutkan kita dengan kasih-Nya, Yesus yang bangkit mengatakan,
“Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni” (Yoh 20:23). Dengan
kata-kata ini, Yesus melibatkan kita dalam karya ilahi, karena hanya Allah yang
dapat mengampuni dosa (bdk. Mrk 2:7). Otoritas ini diberikan sebagai tanda
rekonsiliasi universal: Tuhan mencurahkan Roh damai sejahtera-Nya dari satu
ujung sejarah ke ujung lainnya, karena Ia yang telah menebus semua orang dari
kematian tidak mengecualikan siapa pun. Sesungguhnya, Roh Kudus adalah Tuhan
dan pemberi kehidupan sejak awal penciptaan, ketika Ia melayang-layang di atas
permukaan air (bdk. Kej 1:2); dan sekarang, dengan memperbarui ciptaan, Ia
mengubah rupa sejarah dunia. Pentakosta benar-benar tampak sebagai perayaan
Perjanjian Baru, Perjanjian antara Allah dan semua bangsa di dunia. Sementara
suara gemuruh dari atas, angin keras dan lidah api di Ruang Atas mengingatkan
kita pada tanda-tanda kuno di Sinai (bdk. Kis 2:2-3; Kel 19:16-19), hukum Allah
yang kudus tertulis di dalam hati kita, diukir oleh Roh dengan huruf kasih
dalam daging Kristus dan tubuh-Nya, yaitu Gereja.
Hukum ini
adalah peraturan damai sejahtera: Perintah kasih ganda yang diingatkan Roh
Kudus kepada kita oleh setiap degup hati. Dengan hati kita, kita dapat berdoa
“Veni Sancte Spiritus,” karena Ia telah diberikan kepada kita. Kita dapat
merindukan-Nya, karena Ia telah dijanjikan kepada kita. Kita dapat
menyambut-Nya, karena Ia sendiri adalah tamu yang manis bagi jiwa.
Kedua,
Roh Yesus yang bangkit adalah Roh perutusan: “Sama seperti Bapa telah mengutus
Aku,” kata Tuhan, “sekarang Aku juga mengutus kamu” (Yoh 20:21). Oleh karena
itu, kita ditarik ke dalam perutusan Yesus, perutusan dari Dia yang berasal
dari Allah dan kembali kepada Allah melalui kuasa Roh Kudus — yang pada
gilirannya berasal dari Bapa dan Putra, dan disembah serta dimuliakan bersama
mereka sebagai satu Allah. Roh Kudus adalah kasih Kristus yang hidup yang
memenuhi, mendorong, dan menopang kita dalam perutusan kita (bdk. 2 Kor 5:14).
Seraya menganugerahkan kuasa untuk berkhotbah kepada para Rasul (bdk. Kis.
2:4), Roh yang sama mengajarkan sabda keselamatan kepada umat manusia. Sekarang
setelah para Rasul menerima nafas Yesus yang bangkit di dalam diri mereka,
pemberitaan ini mengalir dari bibir mereka, disampaikan melalui suara Petrus
dan orang-orang yang bersamanya. Pada hari Pentakosta itu sendiri, para Rasul
mulai memberitakan Yesus, yang disalibkan dan bangkit. Dengan kata lain,
“perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kis. 2:11) dirangkum dalam
penebusan, yang dimulai dengan iman. Sesungguhnya, karya pertama Roh Kudus
dalam diri kita adalah iman yang dengannya kita mengakui: “Yesus adalah Tuhan!”
(1Kor. 12:3). Iman ini hidup dan diungkapkan dalam setiap perbuatan baik, dalam
setiap tindakan belas kasihan dan kebajikan. Oleh karena itu, karya Allah
adalah kita masing-masing, yang hari ini datang ke sini dari seluruh penjuru
dunia, diundang ke meja Tuhan, berkumpul untuk mendengarkan sabda-Nya dan
dipanggil untuk memberi kesaksian tentangnya di mana pun juga.
Saudara-saudari
terkasih, kita sungguh rekan kerja Injil: seluruh Gereja adalah tokoh utamanya,
bukan sekadar penjaganya. Melalui kuasa Roh Kudus, pewartaan kita dipenuhi
dengan sukacita dan pengharapan, karena kita — ya, kita sendiri — adalah
kebaruan dunia, terang dan garam dunia (bdk. Mat 5:13-14). Tentu bukan karena
jasa atau hak istimewa kita sendiri, tetapi karena sabda Tuhan, yang
menguduskan orang berdosa, menyembuhkan penderita kusta, dan mengubah rupa
orang yang menyangkal-Nya menjadi rasul. Sebagaimana dapat kita lihat dengan
jelas, ada perubahan yang tidak membawa kehidupan baru bagi dunia, tetapi
membuatnya menua melalui kesalahan dan kekerasan. Namun demikian, Roh Kudus
menerangi pikiran dan menanamkan vitalitas baru di dalam hati kita. Beginilah
cara Ia mengubah rupa sejarah, membukanya kepada keselamatan, yang merupakan
anugerah yang ditawarkan Tuhan kepada setiap orang. Perutusan Gereja menjadi
saksi atas tawaran ini, sehingga mengubah rupa kesimpangsiuran dunia menjadi
persekutuan dengan Allah dan di antara kita.
Perutusan
ini dimulai dengan mewartakan kebenaran tentang Allah dan manusia, karena Roh
Yesus yang bangkit adalah “Roh Kebenaran” (Yoh 14:17), yang dijanjikan Tuhan
sendiri kepada kita, memohon persatuan Gereja-Nya — persatuan yang didasarkan
pada kasih Allah, sumber kasih kita. Roh Kudus, yang telah berbicara melalui
para nabi, selalu mendorong persatuan dalam kebenaran, karena Ia menanamkan
dalam diri kita pemahaman, kerukunan, dan keselarasan hidup. Santo Agustinus
mengajarkan, “Roh Kudus menghendaki agar ini menjadi tanda kehadiran-Nya”
(Diskursus 269, 1): Karunia berbahasa lidah yang dipahami dalam satu iman. Sang
Penghibur melindungi kita dari segala sesuatu yang menghalangi pemahaman ini,
termasuk keberpihakan, kemunafikan, dan kecenderungan yang mengaburkan terang
Injil. Kebenaran yang diberikan Allah kepada kita dengan demikian menjadi sabda
yang membebaskan bagi semua bangsa, sebuah pesan yang mengubah rupa setiap
budaya dari dalam.
Ketiga, sesungguhnya,
Roh Yesus yang bangkit tidak dicurahkan sekali untuk selamanya, tetapi
terus-menerus. Sama seperti Ekaristi adalah kehadiran Kristus yang hidup, yang
terus-menerus memberi kita santapan rohani, demikian pula Roh Kudus menanamkan
karakter-Nya dalam diri kita dalam sakramen baptis, yang menjadikan kita umat
Kristiani, dalam sakramen krisma, yang meneguhkan kita sebagai saksi; dan dalam
sakramen imamat, yang menjadikan kita pelayan dan gembala bagi umat Allah.
Dalam setiap sakramen, Ia adalah dator munerum, sumber kekudusan yang
melipatgandakan karunia dan karisma melalui doa, karya belas kasih, dan
mempelajari sabda Allah. Rasul Paulus mengajarkan, “Kepada tiap-tiap orang
dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor. 12:7). Justru
karena alasan inilah kita adalah Gereja, satu tubuh yang hidup di dalam Allah
dan melayani dunia. Berkat Roh Kudus, kita dapat membawa damai sejahtera sejati
kepada semua orang, kebenaran yang menyelamatkan — Kristus Tuhan kita yang
sama.
Sahabat-sahabat
terkasih, dengan hati yang berkobar-kobar, hari ini marilah kita berdoa agar
Roh Yesus yang bangkit menyelamatkan kita dari kejahatan perang, yang diatasi
bukan oleh adikekuatan, tetapi oleh kemahakuasaan kasih. Marilah kita berdoa
agar Ia membebaskan umat manusia dari penderitaan, yang ditebus bukan oleh
kekayaan yang tak terukur, tetapi oleh karunia yang tak habis-habisnya. Marilah
kita berdoa agar Ia menyembuhkan kita dari cambuk dosa melalui keselamatan yang
diberitakan kepada semua bangsa dalam nama Yesus. Inilah rahmat yang menanamkan
keberanian pada para Rasul; semoga Ia juga menanamkannya pada kita, hari ini
dan selalu, melalui perantaraan Maria, Bunda Gereja.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 24 Mei 2026)
.jpeg)


.jpeg)
