Bacaan
Ekaristi : 1Sam. 16:1b.6-7.10-13a; Mzm. 23:1-3a.3b-4.5.6; Ef. 5:8-14; Yoh.
9:1-41.
Saudara-saudari
terkasih,
Perayaan
Ekaristi kita hari ini melebihi sebelumnya selaras dengan sukacita.
Sesungguhnya, keindahan pertemuan kita sesuai dengan konteks hari Minggu yang
disebut "laetare," yang berarti "bersukacitalah," yang
berasal dari kata-kata Nabi Yesaya: "Bersukacitalah bersama
Yerusalem!" (Antifon Pembuka, bdk. Yes 66:10).
Hal ini
membuat kita berpikir. Banyak saudara dan saudari kita saat ini menderita
akibat konflik kekerasan, yang disebabkan oleh klaim tak masuk akal bahwa
masalah dan perselisihan dapat diselesaikan melalui perang. Padahal, kita harus
mengupayakan dialog tanpa henti untuk perdamaian. Beberapa bahkan mencoba
melibatkan Allah dalam keputusan-keputusan yang mematikan ini, tetapi Allah
tidak dapat dimanfaatkan oleh kegelapan. Sebaliknya, Ia selalu datang untuk
memberikan terang, pengharapan, dan perdamaian kepada umat manusia, dan
perdamaian itulah yang harus diupayakan oleh mereka yang memohon kepada-Nya.
Inilah
pesan hari Minggu ini: melampaui jurang mana pun yang dapat ditimpakan manusia
karena dosa-dosanya, Kristus datang untuk membawa terang yang lebih kuat, yang
mampu membebaskannya dari kebutaan kejahatan, sehingga ia dapat memulai hidup
baru.
Perjumpaan
Yesus dan orang yang buta sejak lahirnya (bdk. Yoh 9:1-41), sebenarnya, dapat
dibandingkan dengan kisah kelahiran, berkatnya manusia, seperti seorang anak
yang datang kepada terang, menemukan dunia baru, melihat dirinya sendiri, orang
lain, dan kehidupan dengan mata Allah (bdk. 1Sam 16:9).
Marilah
kita bertanya pada diri kita sendiri: berupa apa tatapan ini? Apa yang
diungkapkannya? Apa artinya "melihat dengan mata Allah"?
Menurut
penginjil Yohanes, melihat dengan mata Allah pertama-tama berarti mengatasi
prasangka orang-orang yang, ketika berhadapan dengan orang yang menderita,
hanya melihat orang yang tercampakkan yang harus dihina, atau masalah yang
harus dihindari, mundur ke menara pertahanan individualisme yang egois. Kita
sering mendengar hal-hal seperti: "Ketika keadaan baik, aku mempunyai
banyak teman; tetapi di masa-masa sulit, banyak yang pergi, menghilang!"
Yesus tidak melakukan hal ini: Ia memandang orang buta itu dengan kasih, bukan
sebagai makhluk yang lebih rendah atau kehadiran yang mengganggu, tetapi
sebagai orang yang dikasihi yang membutuhkan pertolongan. Dengan demikian,
perjumpaan mereka menjadi kesempatan bagi karya Allah dinyatakan dalam diri
semua orang.
Dalam
"tanda," mukjizat itu, Yesus mengungkapkan kuasa ilahi dan
manusiawi-Nya, mengulangi mirip karya penciptaan — lumpur, ludah — kembali
sepenuhnya mengungkapkan keindahan dan martabatnya sebagai makhluk yang
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan demikian, setelah matanya
dicelikkan, ia menjadi saksi terang.
Tentu
saja, hal ini membutuhkan usaha: harus membiasakan diri dengan banyak hal yang
sebelumnya tidak dikenal, belajar membedakan warna dan bentuk, membangun
kembali hubungan, dan itu tidak mudah. Memang, permusuhan di sekitar diri-Nya semakin
meningkat, memprovokasi-Nya, dan bahkan orang tua-Nya pun tidak berani
membela-Nya (bdk. Yoh 9:18-23). Tampaknya hampir tidak masuk akal orang-orang
terdekatnya ingin membatalkan apa yang telah terjadi. Terlebih lagi, dalam
interogasi yang dialami oleh orang buta yang sekarang dapat melihat itu, yang
diadili terutama adalah Yesus, yang dituduh telah melanggar hari Sabat karena
menyembuhkannya.
Dengan
demikian, kebutaan lain, yang berbeda dan bahkan lebih serius, terungkap pada
mereka yang hadir: yaitu ketidakmampuan untuk melihat, tepat di depan mereka,
wajah Allah, dan dengan demikian mereka memperdagangkan kemungkinan perjumpaan
yang menyelamatkan dengan ketaatan legalistik terhadap ajaran formal.
Menghadapi kebodohan seperti itu, Yesus tidak berhenti, menunjukkan bahwa tidak
ada "hari Sabat" yang dapat menghalangi tindakan kasih. Lagipula,
makna istirahat pada hari Sabat, bagi umat Israel — dan bagi kita pada hari
Minggu, hari Tuhan — justru untuk merayakan misteri kehidupan sebagai anugerah,
di hadapan di mana tidak seorang pun dapat mengabaikan seruan minta tolong dari
saudara-saudari yang sedang menderita.
Mungkin,
kadang-kadang, dalam pengertian ini, kita pun bisa buta, ketika kita gagal
memperhatikan orang lain dan masalah mereka. Namun, Yesus meminta kita untuk
hidup berbeda, sebagaimana dipahami dengan baik oleh komunitas kristiani
pertama, di mana saudara dan saudari, selain tekun berdoa, berbagi segala
sesuatu dengan sukacita dan kesederhanaan hati (bdk. Kis 2:42-47). Bukan
berarti tidak ada kesengsaraan dan rintangan, bahkan pada masa itu. Namun,
mereka tidak menyerah: dikuatkan oleh karunia baptisan, mereka tetap berusaha
untuk hidup sebagai ciptaan baru, hidup dalam persekutuan dan perdamaian dengan
semua orang dan menemukan dalam komunitas sebuah keluarga yang menyertai dan
mendukung mereka.
Saudara-saudari
terkasih, inilah buah-buah panggilan yang harus kita hasilkan sebagai anak-anak
terang (bdk. 1Tes 5:4-5). Selama hampir sembilan puluh tahun, parokimu telah
dengan setia menjalankan misi ini, dengan memberi perhatian khusus kepada
situasi kemiskinan, marginalisasi, dan keadaan darurat, dengan memberi
perhatian kepada keberadaan, di wilayahnya, kepada penjara Rebibbia dan dengan
banyak tanda kepekaan dan solidaritas lainnya.
Saya tahu
kamu membantu banyak saudara dan saudari dari negara lain untuk menetap di
sini: belajar bahasa, menemukan rumah yang layak, dan menemukan pekerjaan yang
jujur dan aman. Ada banyak
tantangan, sayangnya terkadang diperparah oleh mereka yang tanpa malu-malu
mengeksploitasi kemiskinan orang-orang yang paling rentan untuk mengedepankan
kepentingan mereka. Namun, saya menyadari betapa berkomitmennya kamu semua
untuk mengatasi tantangan-tantangan ini melalui layanan Caritas, rumah-rumah
keluarga untuk perempuan dan ibu yang mengalami kesulitan, dan banyak prakarsa
lainnya. Saya juga menyadari vitalitas dan kemurahan hati yang kamu curahkan
untuk pendidikan kaum muda dan anak-anak, dengan oratorium dan prakarsa
pendidikan lainnya.
Santo
Agustinus, berbicara tentang wajah Allah, di mana kita dipanggil untuk menjadi
cerminnya di dunia, berkata kepada orang-orang kristiani pada zamannya,
"Wajah apakah yang dimiliki kasih? Bentuk apakah, ukuran apakah, kaki
apakah, tangan apakah? […] Ia memiliki kaki, yang menuntun ke Gereja; ia
memiliki tangan, yang memberi kepada orang miskin; ia memiliki mata, yang
dengannya kita mengenal mereka yang membutuhkan" (In Epistolam Joannis ad
Parthos, 7, 10) dan ia menambahkan, merujuk pada kasih: "Peganglah,
rangkullah: tidak ada yang lebih manis darinya" (idem).
Saudara-saudari
terkasih, inilah karunia terang yang dipercayakan kepadamu, agar kamu dapat
membiarkannya tumbuh di dalam dirimu dan di antaramu dalam segala kemanisannya
dan menyebarkannya ke seluruh dunia, melalui doa, sering menerima Sakramen, dan
melakukan amal kasih. Teruslah berjuang dengan cara ini dalam perjalananmu.
Semoga
Hati Kudus Yesus, yang menjadi dedikasi parokimu, semakin membentuk dan
melindungi komunitas yang indah ini, sehingga, dengan perasaan yang sama
seperti Kristus (bdk. Flp 2:5), komunitas ini dapat hidup dan bersaksi dengan
sukacita dan mengabdi kepada khazanah rahmat yang telah kamu terima.
[Sambutan
pada akhir Misa]
Terima
kasih banyak atas karunia yang indah ini. Ini sebuah foto paroki, agar kita
selalu mengingatnya, selain itu di sini kamu dapat melihat kehidupan paroki,
yang sangat penting! Terima kasih semuanya!
Dan kami
mempersembahkan piala ini sebagai hadiah kecil untuk paroki, yang melambangkan
apa yang kita rayakan dalam Ekaristi: tubuh dan darah Kristus, persekutuan di
antara kamu semua. Salam hangat untukmu dan terima kasih!
____
(Peter Suriadi - Bogor, 16 Maret 2026)




