Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI STADION JAPOMA, DOUALA (KAMERUN) 17 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis 5:34-42; Mzm 27:1.4.13-14; Yoh 6:1-15.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Bacaan Injil yang telah kita dengar (Yoh 6:1-15) adalah sabda keselamatan bagi seluruh umat manusia. Kabar Baik ini diberitakan di seluruh dunia saat ini; bagi Gereja di Kamerun, kabar ini bergema sebagai pemberitaan ilahi tentang kasih Allah dan persekutuan kita.

 

Rasul Yohanes menggambarkan kerumunan orang banyak (bdk. ayat 2-5), seperti kita sekarang. Namun, bagi semua orang itu, hanya ada sedikit makanan: hanya “lima roti jelai dan dua ikan” (ayat 9). Melihat ketimpangan ini, Yesus bertanya kepada kita hari ini, seperti yang Ia tanyakan kepada murid-murid-Nya saat itu: bagaimana kamu dapat menyelesaikan masalah ini? Lihatlah semua orang yang lapar ini, yang terbebani oleh kelelahan. Apa yang akan kamu lakukan?

 

Pertanyaan ini diajukan kepada kita masing-masing. Pertanyaan ini diajukan kepada para ayah dan ibu yang merawat keluarga mereka. Pertanyaan ini ditujukan kepada para gembala Gereja, yang menjaga kawanan domba Tuhan, dan juga kepada mereka yang memikul tanggung jawab sosial dan politik bagi rakyat dan mengupayakan kesejahteraan mereka. Kristus mengajukan pertanyaan ini kepada orang yang berkuasa dan orang yang lemah, kepada orang kaya dan orang miskin, kepada orang muda dan orang tua, karena kita semua lapar dengan cara yang sama. Kebutuhan kita mengingatkan kita bahwa kita adalah makhluk ciptaan. Kita perlu makan untuk hidup. Kita bukan Allah: tetapi di manakah Allah di hadapan kelaparan manusia?

 

Seraya menunggu jawaban kita, Yesus sendiri menjawabnya : “Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur, dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki” (ayat 11). Masalah serius diselesaikan dengan memberkati sedikit makanan yang ada dan membagi-bagikannya kepada semua orang yang lapar. Penggandaan roti dan ikan terjadi saat berbagi: itulah mukjizat! Ada roti untuk semua orang jika diberikan kepada semua orang. Ada roti untuk semua orang jika diambil, bukan dengan tangan yang merampas, tetapi dengan tangan yang memberi. Marilah kita perhatikan dengan saksama tindakan Yesus: ketika Putra Allah mengambil roti dan ikan, Ia terlebih dahulu mengucap syukur. Ia bersyukur kepada Bapa atas apa yang akan menjadi anugerah dan berkat bagi semua orang.

 

Dengan cara ini, makanan menjadi berlimpah. Makanan tidak dijatah berdasarkan kebutuhan. Makanan tidak dicuri dalam perselisihan. Makanan tidak disia-siakan oleh mereka yang melahap makanan di hadapan orang-orang yang tidak memiliki apa pun untuk dimakan. Setelah makanan berpindah dari tangan Kristus ke tangan murid-murid-Nya, makanan itu bertambah untuk semua orang; bahkan, berlimpah ruah (bdk. ayat 12-13). Terkagum-kagum oleh apa yang telah dilakukan Yesus, orang-orang berkata, “Dia ini benar-benar Nabi!” (ayat 14), yaitu, Orang yang berbicara dalam nama Allah, Sabda yang Maha Kuasa. Sungguh benar! Namun, Yesus tidak menggunakan kata-kata itu untuk keuntungan pribadi. Ia tidak ingin menjadi raja (bdk. ayat 15), karena Ia datang untuk melayani dengan kasih, bukan untuk menguasai.

 

Mukjizat yang dilakukan-Nya adalah tanda kasih ini. Mukjizat itu menunjukkan kepada kita bukan hanya bagaimana Allah menyediakan roti kehidupan bagi umat manusia, tetapi juga bagaimana kita dapat berbagi makanan ini dengan semua orang yang, seperti kita, mendambakan perdamaian, kebebasan, dan keadilan. Setiap tindakan solidaritas dan pengampunan, setiap usaha yang baik, menjadi sepotong roti bagi umat manusia yang membutuhkan perhatian. Namun, ini saja tidak cukup: makanan yang menopang tubuh harus disertai, dengan kasih yang sama, dengan makanan bagi jiwa — makanan yang menopang hati nurani kita dan menenangkan kita di saat gelap ketakutan dan di tengah bayang-bayang penderitaan. Makanan ini adalah Kristus sendiri, yang selalu memberikan makanan berlimpah kepada Gereja-Nya dan menguatkan kita dalam perjalanan kita dengan memberikan tubuh Ekaristis-Nya kepada kita.

 

Saudara-saudari, Ekaristi yang kita rayakan adalah sumber pembaruan iman, karena Yesus hadir di antara kita. Sakramen ini tidak hanya menghidupkan kembali kenangan yang jauh; ia menghadirkan "persahabatan" yang mengubah kita karena menguduskan kita. Berbahagialah mereka yang diundang ke Perjamuan Tuhan! Altar ini, tempat kita berkumpul untuk Ekaristi, menjadi pemberitaan pengharapan di tengah pencobaan sejarah dan ketidakadilan yang kita lihat di sekitar kita. Tanda kasih Allah; di dalam Kristus, Bapa mengundang kita untuk berbagi apa yang kita miliki, agar dapat dilipatgandakan dalam persekutuan gerejawi.

 

Tuhan meliputi langit dan bumi. Ia mengetahui hati kita dan segala situasi — baik yang menggembirakan maupun yang menyedihkan — yang kita alami. Dengan menjadi manusia untuk menyelamatkan kita, Ia memilih untuk turut serta dalam kebutuhan manusia yang paling sederhana dan sehari-hari. Kelaparan dengan demikian berbicara kepada kita bukan hanya tentang kemiskinan kita, tetapi, terutama, tentang kasih-Nya. Marilah kita mengingat hal ini setiap kali kita melihat di mata mereka seorang saudara atau saudari yang kekurangan kebutuhan hidup. Melalui mata mereka, pertanyaan yang diajukan Yesus kepada murid-murid-Nya diulangi: “Apa yang dapat kamu lakukan untuk semua orang ini?” Menjadi saksi Kristus dan meneladan tindakan kasih-Nya tentu melibatkan kesulitan dan rintangan, dari luar dan dari dalam diri kita, di mana kesombongan dapat merusak hati. Namun, dalam keadaan seperti itu, marilah kita mengulangi bersama pemazmur: “TUHAN terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (Mzm. 27:1). Sekalipun kita kadang-kadang goyah, Allah selalu menguatkan kita. “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Nantikanlah TUHAN!” (ayat 14).

 

Saudara-saudari muda yang terkasih, saya ingin menyampaikan undangan ini khususnya kepadamu, karena kamu adalah anak-anak terkasih dari benua Afrika! Sebagai saudara-saudari Yesus, lipatgandakanlah talentamu melalui iman, ketekunan, dan persahabatan yang menginspirasimu. Jadilah wajah dan tangan pertama yang membawa roti kehidupan kepada sesamamu, sediakanlah bagi mereka makanan hikmat dan pembebasan dari segala sesuatu yang tidak menyehatkan mereka, melainkan mengaburkan keinginan baik dan merampas martabat mereka.

 

Meskipun tanah di Kamerun kaya, banyak yang mengalami kemiskinan material dan spiritual. Jangan menyerah pada ketidakpercayaan dan keputusasaan. Tolak setiap bentuk penyalahgunaan atau kekerasan, yang menipu dengan menjanjikan keuntungan mudah tetapi mengeraskan hati dan membuatnya tidak peka. Jangan lupa bahwa bangsamu bahkan lebih kaya daripada negeri ini, karena hartamu terletak pada nilai-nilaimu: iman, keluarga, keramahan, dan kerja. Karena itu, jadilah pelaku utama masa depan, mengikuti panggilan Allah kepada dirimu masing-masing. Jangan biarkan dirimu dirusak oleh godaan yang membuang energimu dan tidak berfungsi mengembangkan masyarakat.

 

Untuk menjadikan semangat muliamu sebagai suara kenabian dunia baru, belajarlah dari teladan yang baru saja kita dengar dalam Kisah Para Rasul. Jemaat perdana memberikan kesaksian yang berani bagi Tuhan Yesus di tengah kesulitan dan ancaman, dan bertahan bahkan di tengah penganiayaan (bdk. Kis. 5:40-41). Para murid “setiap hari mereka mengajar di Bait Allah dan di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (ayat 42), yaitu Kristus, Pembebas dunia. Ya, Tuhan membebaskan kita dari dosa dan kematian. Memberitakan Injil ini tiada henti adalah perutusan setiap umat kristiani, dan perutusan yang saya percayakan khususnya kepadamu, kaum muda yang terkasih, dan kepada seluruh Gereja di Kamerun. Jadilah Kabar Baik bagi negaramu, seperti halnya Beato Floribert Bwana Chui bagi rakyat Kongo.

 

Saudara-saudari, pengajaran meninggalkan tanda, seperti bekas bajak petani di ladang, yang memungkinkan apa yang ditabur menghasilkan buah. Dengan cara yang sama, pemberitaan kristiani mengubah hidup kita, mengubah rupa pikiran dan hati. Memberitakan Yesus yang bangkit berarti meninggalkan tanda-tanda keadilan di negeri yang menderita dan tertindas, tanda-tanda perdamaian di tengah persaingan dan korupsi, tanda-tanda iman yang membebaskan kita dari takhayul dan ketidakpedulian. Dengan pesan Injil ini di dalam hati kita, sebentar lagi kita akan berbagi Roti Ekaristi yang menopang kita untuk selama-lamanya. Dengan iman yang penuh sukacita, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk melipatgandakan anugerah-Nya di antara kita demi kebaikan semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BANDARA INTERNATIONAL BAMENDA (KAMERUN) 16 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36.

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

 

Sebagai seorang peziarah perdamaian dan persatuan, mengunjungi wilayahmu dan, yang terpenting, ambil bagian dalam perjalanan, perjuangan, dan pengharapanmu merupakan sebuah sukacita bagi saya.

 

Perayaan meriah yang menyertai liturgimu dan sukacita yang mengalir dari doa-doa yang kamu panjatkan adalah tanda penyerahan dirimu yang penuh kepercayaan kepada Allah, pengharapanmu yang tak tergoyahkan dan keterikatanmu, dengan segenap kekuatanmu, pada kasih Bapa yang mendekat dan memandang dengan bela rasa penderitaan anak-anak-Nya. Dalam Mazmur, kita bersama-sama menyanyikan kepercayaan kita kepada Allah, di mana kita dipanggil untuk memperbaruinya hari ini: “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang remuk hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang patah semangat” (Mzm. 34:19).

 

Saudara-saudari, ada banyak situasi dalam hidup yang menghancurkan hati kita dan menjerumuskan kita ke dalam kesedihan. Pengharapan kita akan masa depan yang damai dan rekonsiliasi, di mana martabat setiap manusia dihormati dan hak-hak dasarnya dijamin, terus-menerus dikecewakan oleh banyak masalah yang melanda negeri yang indah ini. Termasuk di antaranya berbagai bentuk kemiskinan, yang bahkan baru-baru ini telah memengaruhi begitu banyak orang di tengah krisis pangan yang terus berlangsung. Ada korupsi moral, sosial, dan politik, yang terlihat terutama dalam pengelolaan kekayaan, yang menghambat pengembangan lembaga dan infrastruktur. Kita juga melihat masalah serius yang memengaruhi sistem pendidikan dan kesehatan, serta migrasi besar-besaran ke negara asing, khususnya kaum muda. Ditambah masalah internal ini, yang sering kali dipicu oleh kebencian dan kekerasan, kerusakan yang disebabkan dari luar, oleh mereka yang, atas nama keuntungan, terus menguasai benua Afrika dengan mengeksploitasi dan menjarahnya,

 

Semua ini dapat membuat kita merasa tidak berdaya dan mengurangi kepercayaan diri kita. Namun inilah saatnya untuk berubah, mengubah rupa kisah negara ini. Waktunya telah tiba, hari ini dan bukan besok, sekarang dan bukan di masa depan, untuk memulihkan mozaik persatuan dengan menyatukan keragaman dan kekayaan negara dan benua ini. Dengan cara ini, akan mungkin untuk menciptakan masyarakat di mana perdamaian dan rekonsiliasi berkuasa.

 

Memang benar bahwa ketika suatu situasi tetap sama untuk beberapa waktu, ada risiko menyerah pada keputusasaan dan ketidakberdayaan, karena kita tidak mengharapkan sesuatu yang baru. Namun sabda Allah membuka kemungkinan baru dan membawa perubahan rupa serta pemulihan. Sabda Allah mampu menggerakkan hati kita, menantang jalannya peristiwa normal yang dengan mudah kita biasakan, dan menjadikan kita agen perubahan yang aktif. Marilah kita ingat hal ini: Allah adalah kebaruan, Allah menciptakan hal-hal baru, Allah menjadikan kita orang-orang yang berani yang, ketika menghadapi kejahatan, membangun kebaikan.

 

Kita melihat hal ini dalam kesaksian para Rasul, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Pertama. Ketika para penguasa Mahkamah Agama menginterogasi, menegur dan mengancam mereka karena mereka secara terbuka memberitakan Kristus, para Rasul menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu bunuh dengan menggantung Dia pada kayu salib” (Kis. 5:29-30).

 

Keberanian para Rasul menjadi suara hati nurani, sebuah nubuat, sebuah kecaman terhadap kejahatan, dan ini adalah langkah pertama menuju perubahan. Sesungguhnya, taat kepada Allah bukan tindakan penyerahan diri yang menindas kita atau meniadakan kebebasan kita; sebaliknya, taat kepada Allah membebaskan kita, karena berarti mempercayakan hidup kita kepada-Nya dan membiarkan sabda-Nya menginspirasi cara kita berpikir dan bertindak. Demikianlah, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Injil, yang menceritakan bagian akhir dialog antara Yesus dan Nikodemus, “siapa yang berasal dari bumi adalah dari bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya” (Yoh 3:31). Mereka yang taat kepada Allah daripada kepada manusia dan berpikir secara duniawi menemukan kembali kebebasan batin mereka, berhasil menemukan nilai kebaikan dan tidak menyerah pada kejahatan. Mereka menemukan kembali jalan hidup mereka dan menjadi pembangun perdamaian dan persaudaraan.

 

Saudara-saudari, penghiburan bagi hati yang hancur dan pengharapan akan perubahan dalam masyarakat dimungkinkan jika kita mempercayakan diri kepada Allah dan sabda-Nya. Namun, kita harus selalu menyimpan nasihat Rasul Petrus di dalam hati kita dan mengingatnya: taatilah Allah, bukan manusia. Taatilah Dia, karena hanya Dialah Allah. Hal ini mengajak kita untuk memupuk inkulturasi Injil. Hal ini juga mengajak kita untuk waspada, bahkan terhadap praktik keagamaan kita, agar tidak jatuh ke dalam perangkap mencampurkan iman Katolik dengan kepercayaan dan tradisi lain yang bersifat esoteris atau Gnostik, yang pada kenyataannya seringkali melayani tujuan politik dan ekonomi. Hanya Allah yang membebaskan kita; hanya sabda-Nya yang membuka jalan menuju kebebasan; hanya Roh-Nya yang menjadikan kita manusia baru yang mampu mengubah negeri ini.

 

Saya menyertaimu dengan doa yang tiada henti dan memberkati khususnya Gereja yang berkumpul di sini: banyak imam, misionaris, biarawan/biarawati, dan umat awam yang semuanya bekerja untuk menjadi sumber penghiburan dan pengharapan. Saya mendorongmu untuk terus menempuh jalan ini dan mempercayakanmu kepada perantaraan Santa Maria, Ratu Para Rasul dan Bunda Gereja.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 16 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BASILIKA SANTO AGUSTINUS, ANNABA (ALJAZAIR) 14 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis 4:32-37; Mzm. 93:1ab.1c-2.5; Yoh 3:7-15.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sabda ilahi meresapi sejarah dan memperbaruinya melalui suara manusiawi Sang Juruselamat. Hari ini kita mendengarkan Bacaan Injil, Kabar Baik sepanjang masa, di Basilika di Annaba ini yang didedikasikan untuk Santo Agustinus, Uskup kota kuno Hippo. Selama berabad-abad, nama-nama tempat yang menyambut kita telah berubah, tetapi para kudus terus berperan sebagai pelindung kita dan saksi setia hubungan dengan negeri yang berasal dari surga. Justru dinamika inilah yang diungkapkan Tuhan pada malam hari kepada Nikodemus: inilah kekuatan yang ditanamkan Kristus dalam kelemahan iman dan kegigihan pencariannya.

 

Diutus oleh Roh Allah, yang “engkau tidak tahu dari mana Ia datang atau ke mana Ia pergi” (Yoh 3:8), Yesus adalah tamu istimewa bagi Nikodemus. Bahkan, Ia memanggilnya kepada kehidupan baru, mempercayakan kepada lawan bicaranya — dan juga kepada kita — suatu tugas yang mengejutkan: “Kamu harus dilahirkan kembali” (ayat 7). Demikianlah undangan bagi setiap orang yang mencari keselamatan! Undangan Yesus melahirkan perutusan seluruh Gereja, dan akibatnya bagi komunitas kristiani di Aljazair: dilahirkan kembali dari atas, yaitu dari Allah. Dalam sudut pandang ini, iman mengatasi kesulitan duniawi dan rahmat Tuhan membuat padang gurun menjadi subur. Namun keindahan seruan ini juga membawa tantangan, yang sesuai ajakan Bacaan Injil harus kita hadapi bersama.

 

Faktanya, kata-kata Kristus mengandung seluruh kekuatan sebuah perintah: kamu harus dilahirkan kembali dari atas! Perintah seperti itu terdengar di telinga kita sebagai suatu prestasi yang mustahil. Namun, ketika kita mendengarkan dengan saksama Dia yang memberi perintah, kita akan memahami bahwa ini bukan paksaan yang lalim atau ketidakleluasaan, apalagi kutukan atas kegagalan. Sebaliknya, kewajiban yang diungkapkan oleh Yesus tersebut merupakan anugerah kebebasan bagi kita, karena mengungkapkan kemungkinan yang tak terduga: kita dapat dilahirkan kembali dari atas berkat Allah. Oleh karena itu, kita harus melakukannya sesuai dengan kehendak kasih-Nya, yang ingin memperbarui umat manusia dengan memanggil kita kepada persekutuan hidup yang dimulai dengan iman. Seraya mengajak kita untuk memperbarui hidup kita sepenuhnya, Kristus juga memberi kita kekuatan untuk melakukannya. Santo Agustinus membuktikan hal ini dengan baik ketika berdoa seperti ini, “Berilah, ya Tuhan, apa yang Engkau perintahkan dan perintahkanlah apa yang Engkau kehendaki” (Pengakuan-pengakuan, X, 29, 40).

 

Oleh karena itu, ketika kita bertanya pada diri sendiri bagaimana masa depan yang penuh keadilan, perdamaian, kerukunan, dan keselamatan akan mungkin terjadi, kita harus ingat bahwa kita sedang mengajukan pertanyaan yang sama kepada Allah seperti yang diajukan Nikodemus: dapatkah kisah hidup kita benar-benar berubah? Kita sangat terbebani oleh masalah, kesulitan, dan kesengsaraan! Dapatkah kita benar-benar memulai hidup kita kembali? Ya! Jawaban Tuhan, yang penuh kasih, memenuhi hati kita dengan pengharapan. Betapa pun terbebaninya kita oleh penderitaan atau dosa: Yesus yang disalibkan menanggung semua beban ini bersama kita dan untuk kita. Betapa pun putus asanya kita karena kelemahan kita: justru pada saat itulah Allah menyatakan kekuatan-Nya, Allah yang telah membangkitkan Kristus dari kematian untuk memberikan hidup kepada dunia. Kita masing-masing dapat mengalami kebebasan hidup baru yang berasal dari iman kepada Sang Penebus. Sekali lagi, Santo Agustinus memberi kita teladan tentang hal ini: kita menghormatinya karena pertobatannya yang bahkan melebihi kebijaksanaannya. Dalam kelahiran kembali ini, yang secara ilahi disertai dengan air mata ibunya, Santa Monika, ia mendapati dirinya berseru: “Oleh karena itu, aku tidak dapat ada, tidak dapat ada sama sekali, ya Allahku, kecuali Engkau ada di dalam diriku. Atau bukankah seharusnya aku berkata, bahwa aku tidak dapat ada kecuali aku ada di dalam Engkau” (Pengakuan-pengakuan, I, 2).

 

Umat kristiani benar-benar dilahirkan dari atas, diperbarui oleh Allah sebagai saudara dan saudari Yesus, dan Gereja yang memelihara mereka dengan sakramen-sakramen adalah pelukan hangat bagi semua orang. Seperti yang baru saja kita dengar, Kisah Para Rasul menjadi saksi atas hal ini dengan menggambarkan gaya hidup yang menjadi ciri khas umat manusia ketika telah diperbarui oleh Roh Kudus (bdk. Kis. 4:32-37). Bahkan hari ini, kita harus menerima ketentuan apostolik ini dan mempraktikkannya, merenungkannya sebagai kriteria otentik untuk reformasi gerejawi: reformasi yang harus dimulai dari hati, jika ingin menjadi tulus, dan harus mencakup semua orang jika ingin efektif.

 

Pertama, “kumpulan orang yang telah percaya itu sehati dan sejiwa” (ayat 32). Kesatuan rohani ini adalah concordia: sebuah kata yang tepat menggambarkan persekutuan hati yang berdenyut sebagai kesatuan karena mereka bersatu dengan hati Kristus. Oleh karena itu, Gereja perdana tidak didasarkan pada kontrak sosial, melainkan pada keselarasan iman, kasih sayang, gagasan, dan keputusan hidup yang berpusat pada kasih Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan semua bangsa di bumi.

 

Kedua, marilah kita mengagumi dampak nyata dari kesatuan rohani di antara orang-orang percaya: “segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (ayat 32). Setiap orang memiliki segala sesuatu, saling berbagi harta benda sebagai anggota satu tubuh. Tidak seorang pun kehilangan apa pun, karena setiap orang berbagi apa yang mereka miliki. Karena kepunyaan dapat diubah menjadi pemberian, pengabdian persaudaraan ini bukan utopia. Hanya hati yang terpecah belah dan jiwa yang dikuasai oleh keserakahan yang percaya bahwa itu adalah utopia. Sebaliknya, iman kepada satu Allah, Tuhan langit dan bumi, mempersatukan manusia menurut keadilan yang sempurna, yang berseru kepada setiap orang untuk berbuat kasih — yaitu, mengasihi setiap makhluk dengan kasih yang diberikan Allah kepada kita di dalam Kristus. Karena itu, dalam menghadapi kemiskinan dan penindasan, kasih merupakan prinsip utama bagi umat kristiani: marilah kita berbuat kepada sesama kita seperti yang kita kehendaki supaya mereka perbuat kepada kita (bdk. Mat 7:12). Terinspirasi oleh hukum ini, yang ditulis Allah di dalam hati kita, Gereja terus menerus dilahirkan kembali, karena di mana ada keputusasaan, ia menyalakan pengharapan, di mana ada penderitaan, ia membawa martabat, dan di mana ada pertikaian, ia membawa rekonsiliasi.

 

Ketiga, perikop dari Kisah Para Rasul menunjukkan kepada kita dasar kehidupan baru ini, yang mencakup orang-orang dari setiap bahasa dan budaya: “Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam anugerah yang melimpah-limpah” (ayat 33). Amal kasih yang memotivasi mereka lebih dari sekadar komitmen moral; suatu tanda keselamatan: para rasul memberitakan bahwa hidup kita dapat berubah karena Kristus telah bangkit dari antara orang mati. Oleh karena itu, tugas utama para gembala sebagai pelayan Injil adalah memberi kesaksian tentang Allah di hadapan dunia dengan sehati dan sejiwa, tidak membiarkan kekhawatiran kita menyesatkan kita melalui rasa takut, atau tren melemahkan kita melalui kompromi. Bersamamu, saudara-saudara dalam episkopat dan presbiterat, marilah kita senantiasa memperbarui perutusan ini demi mereka yang dipercayakan kepada kita, sehingga melalui pelayanannya, seluruh Gereja dapat menjadi pesan kehidupan baru bagi mereka yang kita temui.

 

Saudara-saudara kristiani di Aljazair yang terkasih, kamu tetap menjadi tanda kasih Kristus yang rendah hati dan setia di negeri ini. Berikan kesaksian tentang Injil melalui tindakan sederhana, hubungan yang tulus, dan dialog yang dijalani sehari-hari: dengan cara ini, kamu membawa cita rasa dan terang ke tempat tinggalmu. Kehadiranmu di negeri ini seperti dupa: sebutir dupa yang menyala dan menyebarkan keharuman karena memuliakan Tuhan serta memberikan sukacita dan penghiburan kepada begitu banyak saudara dan saudari. Dupa ini adalah unsur kecil yang berharga yang tidak menarik perhatian pada dirinya sendiri, tetapi mengajak kita untuk mengarahkan hati kita kepada Allah, saling mendorong untuk bertahan di tengah kesulitan masa kini. Dari pedupaan hati kita, semoga muncul pujian, berkat, dan permohonan, menyebarkan keharuman yang semerbak (bdk. Ef 5:2) dari belas kasihan, sedekah, dan pengampunan. Sejarahmu adalah sejarah keramahan yang murah hati dan ketahanan di masa-masa sulit. Di sinilah para martir berdoa; di sinilah Santo Agustinus mengasihi kawanan dombanya, dengan sungguh-sungguh mencari kebenaran dan melayani Kristus dengan iman yang teguh. Jadilah pewaris tradisi ini, memberikan kesaksian melalui kasih persaudaraan akan kebebasan mereka yang lahir dari atas sebagai pengharapan keselamatan bagi dunia.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN 5 April 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini seluruh ciptaan bersinar terang dengan cahaya baru, lagu pujian menggema dari bumi, dan hati kita bersukacita: Kristus telah bangkit dari antara orang mati, dan bersama Dia, kita pun bangkit menuju kehidupan baru!

 

Pujian Paskah ini mencakup misteri hidup kita dan takdir sejarah, menjangkau kita bahkan di kedalaman kematian, di mana kita merasa terancam dan terkadang kewalahan. Pujian Paskah membuka kita kepada pengharapan yang tak pernah gagal, kepada cahaya yang tak pernah pudar, kepada sukacita penuh yang tak dapat diambil oleh apa pun: kematian telah ditaklukkan selamanya; kematian tidak lagi berkuasa atas kita!

 

Ini adalah pesan yang tidak selalu mudah diterima, janji yang sulit kita terima, karena kuasa kematian terus-menerus mengancam kita, baik dari dalam maupun dari luar.

 

Dari dalam, kekuatan ini mengancam kita ketika beban dosa kita menghalangi kita untuk "membentangkan sayap" dan terbang, atau ketika kekecewaan atau kesepian yang kita alami menguras pengharapan kita. Demikian pula, kekuatan ini membayangi kita ketika kekhawatiran atau kebencian kita mencekik kegembiraan hidup, ketika kita sedih atau lelah, atau ketika kita merasa dikhianati atau ditolak. Ketika kita harus berdamai dengan kelemahan kita, dengan penderitaan dan rutinitas kehidupan sehari-hari, kita dapat merasa seolah-olah kita telah berakhir di terowongan yang terlihat tanpa ujung.

 

Dari luar, kematian selalu mengintai. Kita melihatnya hadir dalam ketidakadilan, keegoisan pihak tertentu, penindasan terhadap kaum miskin, kurangnya perhatian yang diberikan kepada kaum yang paling rentan. Kita melihatnya dalam kekerasan, luka-luka dunia, jeritan kesakitan yang muncul dari setiap sudut karena penyalahgunaan yang menghancurkan orang yang terlemah, pemujaan keuntungan yang menjarah sumber daya bumi, kekerasan perang yang membunuh dan menghancurkan.

 

Dengan kenyataan ini, Paskah Tuhan mengajak kita untuk memandang ke atas dan membuka hati kita. Paskah terus memelihara benih kemenangan yang dijanjikan di dalam roh kita dan sepanjang sejarah. Paskah menggerakkan kita, seperti Maria Magdalena dan para Rasul, sehingga kita dapat menemukan bahwa kubur Yesus kosong, dan karena itu dalam setiap kematian yang kita alami, ada juga ruang bagi kehidupan baru untuk bangkit. Tuhan hidup dan tetap bersama kita. Melalui celah-celah kebangkitan yang terbuka dalam kegelapan, Ia mempercayakan hati kita kepada pengharapan yang menopang kita: kuasa kematian bukanlah takdir akhir hidup kita. Kita semua diarahkan, sekali dan untuk selamanya, pada jalan menuju penggenapan, karena di dalam Kristus kita juga telah bangkit.

 

Dengan kata-kata yang tulus, Paus Fransiskus mengingatkan kita akan hal ini dalam seruan apostoliknya yang pertama, Evangelii Gaudium, menegaskan bahwa kebangkitan Kristus “bukanlah peristiwa masa lalu; peristiwa itu mengandung kekuatan vital  yang telah meresapi dunia ini. Di mana segala hal tampak mati, tanda-tanda kebangkitan tiba-tiba muncul. Ini adalah daya kekuatan yang tidak dapat ditolak. Benar bahwa seringkali seakan-akan Allah tidak ada: di sekitar kita terus menerus tampak ketidakadilan, kejahatan, ketakpedulian dan kekejaman. Tetapi benar juga bahwa di tengah-tengah kegelapan sesuatu yang baru selalu muncul dalam kehidupan dan cepat atau lambat menghasilkan buah” (no. 276).

 

Saudara-saudari, Paskah memberi kita pengharapan ini, saat kita mengingat bahwa dalam Kristus yang bangkit, penciptaan baru dimungkinkan setiap hari. Inilah yang dikatakan Bacaan Injil hari ini kepada kita, karena dengan jelas menggambarkan peristiwa kebangkitan terjadi pada “hari pertama minggu itu” (Yoh 20:1). Hari kebangkitan Kristus membawa kita kembali ke hari pertama ketika Allah menciptakan dunia, dan sekaligus menyatakan bahwa kehidupan baru, yang lebih kuat dari kematian, kini sedang terbit bagi umat manusia.

 

Paskah adalah penciptaan baru yang dihasilkan oleh Tuhan yang telah bangkit; Paskah adalah permulaan baru; Paskah adalah kehidupan yang akhirnya dijadikan kekal oleh kemenangan Allah atas musuh sejak dahulu kala.

 

Hari ini kita membutuhkan lagu pengharapan ini. Kitalah, yang telah bangkit bersama Kristus, yang harus membawa Dia ke jalan-jalan dunia. Marilah kita berlari seperti Maria Magdalena, mewartakan Dia kepada semua orang, menghidupi sukacita kebangkitan, sehingga di mana pun bayangan kematian masih ada, terang kehidupan dapat bersinar.

 

Semoga Kristus, Paskah kita, memberkati kita dan memberikan damai sejahtera-Nya kepada seluruh dunia!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 5 April 2026)

HOMILI PASTOR ROBERTO PASOLINI, OFMCAP, PENGKHOTBAH RUMAH TANGGA KEPAUSAN, DALAM IBADAT JUMAT AGUNG DI BASILIKA SANTO PETRUS 3 April 2026

Saudara-saudari, pada hari suci ini liturgi mengajak kita untuk merefleksikan penderitaan Tuhan.

 

Kita hampir tidak pernah mendengarnya dalam kidung. Di hadapan misteri kematian dan kemuliaan ini, berkumpul dalam keheningan untuk berdoa wajar. Namun, salib Kristus berisiko tetap tak terpahami jika kita menganggapnya sebagai peristiwa terasing, kejadian yang tak dapat dijelaskan. Pada kenyataannya, salib Kristus adalah puncak dari sebuah perjalanan, kepenuhan hidup di mana Yesus belajar untuk mendengarkan dan menerima suara Bapa, membiarkan diri-Nya dibimbing hari demi hari menuju kasih yang terbesar. Untuk memahami perjalanan ini, selama Pekan Suci liturgi telah mengajak kita untuk mendengarkan apa yang disebut Kidung Hamba Tuhan. Kidung Hamba Tuhan adalah teks puitis di mana Nabi Yesaya menguraikan sosok hamba misterius yang melaluinya Allah dapat menyelamatkan dunia dari kejahatan dan dosa.

 

Tradisi kristiani telah mengenali dalam kidung ini sebuah gambaran awal yang mencolok dan dramatis tentang langkah yang diambil Yesus, yang mengidentifikasi diri-Nya sebagai manusia yang penuh sengsara yang mengosongkan diri-Nya, bahkan hingga mati, menanggung dosa banyak orang. Dalam kidung pertama, hamba itu digambarkan sebagai seseorang yang dipanggil untuk sebuah perutusan penting dan indah: mencelikkan mata orang buta dan membebaskan para tawanan dari penjara, mereka yang berada dalam kegelapan penjara. Tugas seumur hidup yang ditujukan kepada mereka yang tertindas oleh penderitaan, ketidakadilan, dan dosa. Namun, hamba itu harus melaksanakannya dengan kelembutan yang luar biasa, mengikuti cara yang tepat: ia tidak akan berteriak, ia tidak akan menyaringkan suaranya, tidak akan memperdengarkan suaranya di jalan, buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tidak ada kekerasan, tidak ada pemaksaan, tidak ada godaan untuk menghancurkan agar dapat memulai semuanya dari awal lagi. Hamba itu harus mencari kehidupan di tengah kegelapan kejahatan. Kita tahu bahwa tidak mudah untuk mengemban perutusan ini.

 

Kita semua tergoda untuk memaksakan keadaan, menggunakan sedikit agresi, sedikit kekerasan, berpikir bahwa inilah cara yang tanpanya masalah tidak akan pernah terselesaikan. Hamba Tuhan tidak mau menyerah pada naluri ini; ia harus mempertahankan kelembutan hati sebagai satu-satunya kekuatan untuk menghadapi kegelapan kejahatan.

 

Pada kidung kedua, segalanya percuma. Setelah berusaha memenuhi perutusannya, hamba itu menyadari bahwa semua usahanya untuk berbuat baik telah sia-sia dan berkata, "Aku telah bersusah payah dengan percuma." Kebaikan yang ditaburnya tampaknya tidak tumbuh; semuanya tampak diam di tempat dan terhambat. Sebuah krisis yang cepat atau lambat akan menimpa setiap orang yang telah memilih untuk mengikuti Tuhan. Perasaan berputar-putar tanpa hasil, tidak mencapai apa pun, tetap setia pada sesuatu yang tidak menghasilkan buah, sebenarnya hanyalah sebuah kesan. Karena dengan mengatakan "percuma," Nabi Yesaya tidak memaksudkan hamba itu telah bertindak percuma, tetapi lebih tepatnya bahwa ia tidak dapat memverifikasi hasil pekerjaannya. Dengan membawa terang ke dalam kegelapan, hamba Tuhan telah memasuki ruang di mana segala sesuatu tidak lagi dipahami menurut kriteria kita, tetapi mengikuti rancangan lain, rancangan paradoks, yaitu keselamatan yang datang dari Allah.

 

Dalam kidung ketiga, muncul kejutan baru: sang hamba menyadari bahwa orang-orang yang ingin ia bantu justru bereaksi dengan permusuhan, kemarahan, bahkan kekerasan. Mereka yang hidup dalam kegelapan tidak selalu menerima terang; terkadang mereka menolaknya dan mencoba menghalanginya, karena terang tidak hanya menyoroti apa yang indah, tetapi juga apa yang ingin kita sembunyikan: luka, kebohongan, dan ambiguitas kita, dan ini membuat kita takut. Tetapi sang hamba tidak mundur; ia terus melanjutkan jalan yang ditunjukkan Tuhan tanpa melarikan diri. Ia memberi punggungnya kepada orang-orang yang memukulnya, pipinya kepada orang-orang yang mencabut janggutnya; ia tidak menyembunyikan mukanya ketika ia dihina dan diludahi.

 

Dalam kidung keempat, yang telah kita dengar dalam liturgi hari ini, terjadi sesuatu yang membingungkan: kekerasan yang diderita oleh hamba itu begitu hebat sehingga merusak mukanya, membuatnya tidak dapat dikenali. Ia tidak memiliki penampilan atau kecantikan, namun justru dalam perjalanan inilah hamba itu belajar untuk tidak membalas. Ketika kejahatan menimpa kita, naluri kita adalah bereaksi, menolaknya, membalas dendam. Namun, hamba itu tidak menyerah pada nalar ini; ia menerima semuanya tanpa membalas dengan kekerasan. Kejahatan mendatanginya, dan di situlah ia berhenti. Itulah sebabnya ia menanggung dosa banyak orang dan mendoakan orang-orang yang bersalah kepadanya.

 

Saudara-saudari, Yesus tidak hanya mendengarkan Kidung Hamba Tuhan ini; Ia menafsirkan dan menghayatinya dengan sungguh-sungguh, dengan kepercayaan penuh pada kehendak Bapa, sampai pada titik mengubah penyaliban-Nya menjadi tindakan keselamatan. Menghadapi kejahatan, dunia ini hanya mengenal dua jalan: menyerah atau membalasnya. Kita melihatnya setiap hari dalam perang, perpecahan, dan luka yang menandai semua hubungan kita. Kejahatan terus beredar karena kamu menemukan seseorang yang bersedia membayarnya dan melipatgandakannya.

 

Yesus memutus rantai ini, bukan dengan memaksakan diri dengan kekuatan yang lebih besar, tetapi dengan menerima apa yang terjadi pada-Nya dan mengenali di dalamnya ganjaran dramatis dari penderitaan-Nya, mengenali melodi kidung kasih dan pelayanan yang telah dipercayakan Bapa kepada hidup-Nya. Ia tidak memenuhi melodi ini secara mekanis, tetapi dengan menerjemahkan kata-kata kenabian ke dalam perbuatan, pengampunan, dan keheningan yang dipenuhi belas kasihan. Demikianlah, dengan menempuh jalan salib, saya telah belajar ketaatan yang paling sulit: yaitu mengasihi sesama, bahkan ketika sesama kita tampak sebagai musuh.

 

Kita hidup di dunia di mana suara Allah tidak lagi menuntun jalan bersama umat manusia seperti dulu, bukan karena suara Allah telah lenyap, tetapi karena seringkali hanya satu suara di antara banyak suara lainnya, tenggelam oleh kata-kata lain yang menjanjikan jaminan, kemajuan, dan kesejahteraan. Inilah prinsip panduan yang membentuk banyak keputusan dan menentukan arah kehidupan kita bersama. Namun, dunia tetap menjadi tempat di mana orang menderita dan mati, seringkali tanpa kesalahan atau alasan. Perang terus berlanjut, ketidakadilan berlipat ganda, dan orang yang paling rentan menanggung akibatnya. Seolah-olah ada kata yang hilang, sebuah kata yang mampu menyatukan perjalanan umat manusia, sebuah kidung yang dapat menuntun langkah kita menuju dunia yang semakin adil dan bersaudara. Namun, justru dalam konteks inilah, jika kita melihat lebih dekat, kita dapat melihat sesuatu yang mengejutkan: banyak orang yang diam memilih untuk mendengarkan suara yang berbeda.

 

Sebagian orang jelas mengenalinya sebagai kehendak Allah; yang lain mendengarnya sebagai panggilan yang dalam dan sangat diperlukan dari hati nurani mereka sendiri. Suara yang tidak berteriak, yang tidak memaksakan diri, yang tidak menjanjikan jalan pintas. Kidung yang bijaksana dan terus-menerus yang mengajak kita untuk mencintai, tetap tinggal, dan tidak lagi membalas kerugian yang diterima.

 

Sebagian orang memilih untuk mendengarkan kidung ini. Mereka adalah orang-orang biasa yang berjalan, terkadang tanpa menyadarinya, di jalan yang sama dengan hamba Tuhan. Mereka tidak melakukan tindakan luar biasa; mereka hanya bangun setiap hari dan mencoba menjadikan hidup mereka melayani tidak hanya diri mereka sendiri tetapi juga sesama. Mereka memikul beban yang tidak mereka pilih, merangkul luka tanpa mengeraskan hati, tidak pernah berhenti mencari kebaikan bahkan ketika tampaknya percuma, mereka tidak membuat keributan, mereka tidak menguasai panggung, tetapi mereka tetap membuka kemungkinan dunia yang berbeda. Berkat mereka, kejahatan tidak memiliki kata terakhir, dan sejarah tidak berakhir dengan kekerasan. Banyak orang bersaksi bahwa kidung hamba yang dikasihi Allah itu terus bergema di dalam hati manusia, hanya menunggu seseorang yang bersedia menerjemahkannya ke dalam partitur konkret kehidupan mereka sendiri, bahkan jika itu berarti harus memikul salib.

 

Sebentar lagi kita akan menyembah salib Tuhan dengan gerakan, keheningan, dan doa. Ini akan menjadi kesempatan istimewa untuk mengakui misteri Tuhan dan mendamaikan diri kita dengan kelemahan dan kekuatan kasih-Nya bagi kita dan semua orang. Jika kita tidak ingin mengambil risiko mereduksi liturgi ini menjadi sekadar formalitas, kita dapat mengatakan, setidaknya dalam hati kita, bahwa kita meletakkan senjata yang masih kita pegang. Mungkin senjata itu tidak tampak berbahaya seperti yang dipegang oleh orang-orang berkuasa di dunia ini; Namun, senjata itu pun merupakan sarana kematian karena cukup untuk melemahkan, melukai, dan mengosongkan hubungan kita sehari-hari dari makna dan kasih sayang.

 

Kemarin, seperti hari ini, dunia perlu diselamatkan dari kekerasan, kejahatan, ketidakadilan yang membunuh, dan perpecahan yang mempermalukan. Tetapi keselamatan ini tidak datang dari atas, dan tidak dapat dijamin melalui keputusan politik, ekonomi, atau militer. Dunia terus diselamatkan oleh mereka yang bersedia merangkul kidung hamba Tuhan sebagai dasar hidup mereka. Inilah yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia sungguh menanggapi kehendak Bapa, merangkulnya seperti partitur musik yang harus dimainkan hingga akhir, dengan tangisan dan air mata yang keras. Karena alasan inilah, pada saat yang menentukan, Ia ditangkap dan dapat menyatakan, "Akulah Dia," untuk dengan bebas memasuki penderitaan kasih-Nya.

 

Saudara-saudari, kita pun diberi naskah salib hari ini. Kita dapat menerimanya dengan bebas jika kita mengakui bahwa tidak ada keadaan sulit yang tidak dapat kita hadapi, tidak ada yang dapat disalahkan, tidak ada musuh yang dapat mencegah kita untuk mengasihi dan melayani. Sebaliknya, kitalah yang memilih untuk tidak membalas dan tetap sabar dalam kesengsaraan, percaya pada kebaikan bahkan ketika kegelapan tampaknya menelan segalanya.

 

Kita dapat menjadi hamba yang dibutuhkan Tuhan untuk membawa keselamatan ke dunia. Di zaman seperti sekarang ini, yang begitu ternoda oleh kebencian dan kekerasan, di mana bahkan nama Tuhan pun digunakan untuk membenarkan perang dan keputusan yang mematikan, kita sebagai umat kristiani dipanggil untuk mendekati salib Tuhan tanpa rasa takut, melainkan dengan penuh kepercayaan, mengetahui bahwa salib adalah takhta tempat kita dapat duduk dan belajar memerintah bersama-Nya, menempatkan hidup kita untuk melayani sesama. Jika kita mampu tetap teguh dalam pengakuan iman ini, hari-hari kita pun dapat menyuarakan kidung sukacita dan penderitaan, pada partitur salib yang misterius di mana nada-nada kasih terbesar dikenali.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 4 April 2026)