Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA REQUIEM EMIL PAUL KARDINAL TSCHERRIG DI BASILIKA SANTO PETRUS VATIKAN 15 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Berkumpul di sekeliling altar, marilah kita menemani saudara kita Paul Emil Tscherrig, Kardinal, saat ia menghadap Tuhan untuk menerima ganjaran atas kebaikan yang telah dilakukannya dalam hidup ini dan pengampunan atas kesalahan yang mungkin disebabkan oleh kelemahan manusiawinya.

 

Inilah momen agung dan khidmat perjumpaannya dengan Tuhan, yang dilayaninya dengan begitu murah hati, dengan Sang Sahabat yang selalu di sisinya ia berjalan dengan setia sepanjang hidupnya, yang lebih dari separuhnya dihabiskan dalam pelayanan Takhta Apostolik di berbagai perwakilan kepausan dan Sekretariat Negara.

 

Melalui karyanya – yang seringkali tidak mencolok, meski berat tetap tekun, kekhasan pelayanan yang dijalaninya – ia berkontribusi pada pertumbuhan Kerajaan Allah yang perwujudannya secara penuh telah dijelaskan kepada kita dalam Bacaan pertama: Kerajaan di mana lautan kekacauan tidak ada lagi, dan sebagai gantinya Yerusalem baru bersinar, dibangun di atas fondasi para Rasul, diterangi oleh terang Sang Anak Domba dan dihiasi oleh jasa-jasa para kudus.

 

Komitmennya sebagai seorang diplomat, dan sebelumnya sebagai gembala Gereja, membuat saudara kita ini bekerja selama bertahun-tahun, dengan sabar dan penuh pengorbanan, untuk menyatukan dalam kerukunan bangsa-bangsa yang telah dipercayakan ketaatan kepadanya (bdk. Mzm 121), seraya menghadapi rintangan dan tantangan yang harus dihadapi oleh seorang perwakilan kepausan demi kebaikan semua. Ia menjalankan misinya pertama-tama sebagai kolaborator di berbagai nunsiatur, hingga pengangkatannya, pada tahun 1996, sebagai nunsio apostolik di Burundi; kemudian di Trinidad dan Tobago dan di berbagai negara Karibia, Korea Selatan dan Mongolia; selanjutnya di Swedia, Denmark, Finlandia, Islandia dan Norwegia; Kemudian di Argentina, sebelum mencapai Italia dan San Marino pada tahun 2017. Pengalaman gerejawi dan internasionalnya yang luas menjadi bukti kesediaan dan kemampuannya untuk beradaptasi, dalam kasihnya sebagai seorang gembala, dengan beraneka ragam lingkungan: berbagai tempat dan bangsa di mana ia diutus, atas nama Bapa Suci, untuk menjalin ikatan persekutuan antara Gereja-gereja lokal dan Takhta Apostolik, serta untuk memperkuat ikatan persahabatan.

 

Kini Kardinal Paul Emil akan bertemu dengan Tuhannya, Alfa dan Omega, awal dan akhir keberadaannya (bdk. Why. 21:6). Kita menemaninya dalam perjalanan misterius ini, yang diterangi oleh misteri Paskah, mempersembahkan baginya kurban Ekaristi dan doa-doa kita; dan kita ingin menjadikan momen ini juga sebagai kesempatan untuk refleksi dan dorongan, untuk menghargai kebaikan yang telah ia berikan, dengan rahmat Allah, seorang penyalur, dengan iman dan pengabdian.

 

Paus Fransiskus – yang pernah ditemui Kardinal Tscherrig ketika Paus masih menjadi Uskup Agung Buenos Aires – dalam pidatonya kepada Korps Diplomatik mengajak mereka untuk membiarkan pengharapan tumbuh subur di sekitar mereka, sebagai tanggapan atas keinginan dan harapan rakyat akan kebaikan (Pidato kepada Korps Diplomatik, 9 Januari 2025). Sebuah ajakan yang juga dapat kita terima hari ini, mempraktikkannya di mana pun kita dipanggil untuk melayani dan mengasihi saudara-saudari kita. Dunia kita sangat membutuhkan para pembawa pesan yang dapat membantunya menemukan kembali kepercayaan, dan kesaksian yang baik dari mereka yang telah dipilih Allah sebagai pelayan-Nya dapat menopang kita dalam menanggapi panggilan ini.

 

Namun demikian, pada saat yang sama, dihadapkan pada misteri kematian, kita juga ingin mengingatkan bahwa, di luar perubahan-perubahan dunia ini, demi kebaikan yang merupakan panggilan kita untuk mengabdikan diri dalam hidup ini, dasar utama dari semua pengharapan kita terletak di luar sejarah dan berakar pada kebangkitan Kristus, dalam kemenangan-Nya yang mulia atas dosa dan kematian.

 

Bacaan Injil mengingatkan kita bagaimana Yesus, tak lama setelah sengsara-Nya, menubuatkan misteri itu dengan menghidupkan kembali sahabat-Nya, Lazarus; pembebasan diri-Nya dari kubur adalah tanda yang harus dilihat dengan iman, sehingga kita dapat memahami pesannya yang mendalam. Sebuah tanda yang dapat kita temukan dalam banyak mukjizat kebangkitan kembali yang dihasilkan oleh kasih, juga melalui pelayanan kita dan komitmen kita sehari-hari terhadap Injil. Namun, semua ini berbicara kepada kita tentang mukjizat terbesar: yaitu kebangkitan menuju kehidupan kekal, yang memahkotai setiap usaha dan karya kehidupan ini dan menggenapi peristiwa-peristiwanya di luar batas waktu.

 

Ini juga mengingatkan kita akan dimensi penting perutusan Gereja, yang mencakup dan menerangi setiap tingkat aktivitas duniawinya. Karena Gereja bekerja dalam waktu, namun tujuan dari karyanya terletak di luar kenyataan dunia ini, bertujuan untuk “mempersatukan di dalam Kristus segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi” (Ef 1:10), dan “penebusan yang menjadikan kita milik Allah” (ayat 14).

 

Dalam terang yang agung inilah kita mengucapkan selamat tinggal kepada Kardinal terkasih kita, Paul Emil Tscherrig, sementara di dalam hati kita merasakan kata-kata yang diucapkan Yesus kepada Marta ditujukan kepada kita: “Saudaramu akan bangkit” (Yoh 11:23), “Akulah kebangkitan dan hidup” (ayat 25). Kita mendengarkannya bersama dengan kata-kata yang dipilih sendiri oleh sang Kardinal, tiga puluh tahun yang lalu, sebagai mottonya pada kesempatan penahbisannya sebagai Uskup: “Spes mea Christus” (Kristus adalah pengharapanku). Kristus, Tuhan kita, adalah pengharapannya sepanjang hidupnya: pengharapan yang tidak pernah mengecewakannya, karena berakar pada kasih yang dicurahkan Allah ke dalam hatinya oleh Roh Kudus (bdk. Rm. 5:5) dan yang kini telah terpenuhi untuk selama-lamanya.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Mei 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI LAPANGAN BARTOLO LONGO, DEPAN TEMPAT SUCI SANTA PERAWAN MARIA ROSARIO SUCI DARI POMPEII 8 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih!

 

“Jiwaku memuliakan Tuhan.” Kata-kata ini, yang kita ucapkan sebagai tanggapan terhadap Bacaan Pertama, berasal dari hati Perawan Maria ketika ia mempersembahkan kepada Elisabet buah tubuhnya, Yesus, Sang Juruselamat. Setelahnya, Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis, dan Simeon yang lanjut usia akan menyanyikan pujian kepada Kristus. Ketiga kidung ini merupakan kidung pujian harian Gereja dalam Brevir. Ketiganya adalah merupakan pandangan Israel kuno, yang melihat janji-janjinya tergenapi; ketiganya merupakan pandangan Gereja, sang mempelai perempuan, yang mengulurkan tangan kepada sang mempelai laki-laki ilahinya; ketiganya, secara tersirat, merupakan pandangan seluruh umat manusia, yang menemukan jawaban atas kerinduan mereka akan keselamatan.

 

Seratus lima puluh tahun yang lalu, dengan meletakkan batu fondasi tempat suci ini, di lokasi di mana letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 M telah mengubur jejak peradaban besar di bawah abu, melestarikannya selama berabad-abad, Santo Bartolo Longo, bersama istrinya Countess Marianna Farnararo De Fusco, meletakkan fondasi bukan hanya sebuah tempat suci, tetapi seluruh kota marian. Dengan demikian ia mengungkapkan kesadarannya akan rencana Allah, yang oleh Santo Yohanes Paulus II, yang berbicara di tempat rahmat ini pada tanggal 7 Oktober 2003, pada penutupan Tahun Rosario, diluncurkan kembali untuk Milenium Ketiga, dalam konteks evangelisasi baru: “Saat ini,” katanya, “seperti pada zaman Pompeii kuno, mewartakan Kristus kepada masyarakat yang menjauh dari nilai-nilai kristiani dan bahkan melupakannya sangat penting.”

 

Tepat setahun yang lalu, ketika saya dipercayakan dengan pelayanan Penerus Petrus, tepat pada hari permohonan kepada Perawan Maria, hari yang indah ini, hari permohonan kepada Bunda Maria Rosario dari Pompeii! Jadi, saya harus datang ke sini, untuk menempatkan pelayanan saya di bawah perlindungan sang Perawan Suci. Pilihan nama Leo menempatkan saya dalam jejak langkah Leo XIII, yang, di antara jasa-jasanya yang lain, juga mengembangkan Magisterium yang luas tentang Rosario Suci. Ditambah lagi dengan kanonisasi Santo Bartolo Longo baru-baru ini, rasul Rosario. Konteks ini memberi kita kunci untuk merefleksikan sabda Allah yang baru saja kita dengar.

 

Injil Kabar Sukacita memperkenalkan kita kepada saat Sabda Allah menjelma dalam rahim Maria. Dari rahim inilah terpancar Terang yang memberi makna penuh pada sejarah dan dunia. Salam yang disampaikan Malaikat Gabriel kepada Perawan Maria adalah ajakan untuk bersukacita: “Salam, penuh rahmat” (Luk 1:28; bdk. Zef 3:14). Ya, Salam Maria adalah ajakan untuk bersukacita: doa ini memberitahu Maria, dan melalui dia juga kita semua, bahwa di atas reruntuhan kemanusiaan kita, yang dicobai oleh dosa dan karena itu selalu rentan terhadap penindasan, pelecehan, dan perang, belaian Allah telah datang, belaian belas kasihan, yang mengambil wajah manusia dalam diri Yesus. Dengan demikian Maria menjadi Bunda Belas Kasihan. Seorang murid Sabda dan sarana Inkarnasi-Nya, ia benar-benar menyatakan dirinya sebagai “penuh rahmat”. Segala sesuatu dalam dirinya adalah rahmat! Dengan mempersembahkan tubuhnya sendiri kepada Sabda, ia pun menjadi, sebagaimana diajarkan Konsili Vatikan II, mengutip Santo Agustinus, “Bunda para anggota (Kristus) ... Karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu” (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, 53; bdk. Santo Agustinus, De S. Virginitate, 6). Dalam “Jadilah padaku” yang diucapkan Maria, bukan hanya Yesus yang dilahirkan, tetapi juga Gereja, dan Maria menjadi Bunda Allah – Theotòkos – dan Bunda Gereja.

 

Betapa agungnya misteri ini! Segala sesuatu terjadi dalam kuasa Roh Kudus, yang menaungi Maria dan menjadikan rahim perawannya mengandung. Momen dalam sejarah ini memiliki kelembutan dan kekuatan yang menarik hati dan mengangkatnya ke ketinggian kontemplatif di mana doa Rosario Suci berakar. Doa yang, setelah muncul dan berkembang secara progresif selama milenium kedua, berakar pada sejarah keselamatan, dan menemukan pendahuluannya tepat pada salam Malaikat kepada Perawan Maria. “Salam Maria”! Pengulangan doa ini dalam Rosario seperti gema salam Gabriel, gema yang melintasi abad dan membimbing pandangan orang percaya kepada Yesus, yang dilihat melalui mata dan hati Ibu-Nya. Yesus disembah, direnungkan, dan dihayati dalam setiap misteri-Nya, sehingga bersama Santo Paulus kita dapat berkata: “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

 

Didahului oleh pewartaan Sabda Allah, yang terletak di antara Doa Bapa Kami dan Kemuliaan, Salam Maria yang diulang dalam Rosario Suci adalah sebuah tindakan kasih. Bukankah mengulang, tanpa lelah, merupakan ciri khas kasih: “Aku mengasihi Engkau”? Suatu tindakan kasih yang, melalui butir-butir rosario, seperti yang terlihat jelas dalam lukisan Maria di tempat suci ini, membawa kita kembali kepada Yesus dan membawa kita kepada Ekaristi, “sumber dan puncak seluruh hidup kristiani” (Lumen Gentium, 11). Santo Bartolo Longo yakin akan hal ini ketika ia menulis: “Ekaristi adalah Rosario yang hidup, dan seluruh misteri ditemukan dalam Sakramen Suci dalam bentuk yang aktif dan vital” (Rosario dan Pompeii Baru, 1914, hlm. 86). Ia benar. Dalam Ekaristi, misteri-misteri kehidupan Kristus seluruhnya ditemukan, bisa dikatakan, terkonsentrasi dalam kenangan akan pengurbanan-Nya dan dalam kehadiran-Nya yang nyata. Rosario berciri khas Maria, tetapi berinti Kristologi dan Ekaristi (bdk. Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, 1). Jika Brevir merupakan irama pujian Gereja, Rosario merupakan irama hidup kita, terus-menerus membawanya kembali kepada Yesus dan Ekaristi.

 

Generasi-generasi umat beriman telah dibentuk dan ditopang oleh doa ini, yang sederhana dan populer, namun pada saat yang sama mampu mencapai ketinggian mistik dan berfungsi sebagai khazanah teologi kristiani yang paling penting. Karena apa yang lebih penting daripada misteri Kristus, daripada nama-Nya yang kudus, yang diucapkan dengan kelembutan Perawan Maria? Hanya dalam nama inilah, dan bukan dalam nama lain, kita dapat diselamatkan (bdk. Kis 4:12). Dengan mengulanginya dalam setiap Salam Maria, kita dalam beberapa hal mengalami rumah Nazaret, hampir mendengar sekali lagi suara Maria dan Yusuf selama bertahun-tahun ketika Yesus tinggal bersama mereka. Kita juga mengalami Ruang Atas, tempat para Rasul, bersama Maria, menantikan pencurahan Roh Kudus. Inilah yang ditunjukkan oleh Bacaan Pertama kepada kita. Bagaimana mungkin kita gagal membayangkan bahwa, pada masa antara Kenaikan Tuhan dan Pentakosta, Maria dan para Rasul berlomba-lomba mengingat berbagai momen kehidupan Yesus? Tidak satu pun rincian yang boleh diabaikan! Segala sesuatu harus diingat, dicerna, dan diteladani. Demikianlah lahir perjalanan kontemplatif Gereja, di mana, dalam kemiripan dengan Tahun Liturgi, Rosario menawarkan sintesis dalam meditasi harian atas misteri-misteri suci. Rosario memang pantas dianggap sebagai ringkasan Injil, sebagaimana dikehendaki Santo Yohanes Paulus II, yang dipadukan dengan Misteri Terang. Dimensi ini juga sangat hidup dalam diri Santo Bartolo Longo, yang menawarkan meditasi mendalam kepada para peziarah untuk menyelamatkan Rosario Suci dari godaan pembacaan mekanis dan memastikan bahwa Rosario tetap mempertahankan semangat biblis, Kristologis, dan kontemplatif yang harus menjadi ciri khasnya.

 

Saudara-saudari, jika Rosario "didoakan" dan, saya berani mengatakan, "dirayakan" dengan cara ini, maka sebagai konsekuensi alami, ia juga menjadi sumber kasih. Kasih kepada Allah, kasih kepada sesama: dua sisi mata uang yang sama, sebagaimana diingatkan oleh Bacaan Kedua, yang diambil dari Surat Pertama Santo Yohanes, yang diakhiri dengan nasihat: 'Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran' (1Yoh 3:18). Karena alasan inilah, Santo Bartolomeus Longo adalah rasul Rosario dan, pada saat yang sama, rasul kasih. Di kota marian ini, ia menerima anak yatim dan anak-anak tahanan, menunjukkan kekuatan kasih yang meregenerasi. Di sini, bahkan yang terkecil dan terlemah pun disambut dan dirawat dalam Karya Tempat Suci. Doa Rosario mengarahkan pandangan kita kepada kebutuhan dunia, sebagaimana ditekankan dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, khususnya mengusulkan dua ujud yang tetap sangat relevan: keluarga, yang menderita akibat melemahnya ikatan perkawinan, serta perdamaian, yang terancam oleh ketegangan internasional dan ekonomi yang memprioritaskan perdagangan senjata daripada penghormatan terhadap kehidupan manusia.

 

Ketika Santo Yohanes Paulus II mencanangkan Tahun Rosario – tahun depan merupakan peringatan seperempat abadnya – beliau ingin menempatkannya secara khusus di bawah tatapan Bunda Maria dari Pompeii. Keadaan belum membaik sejak saat itu. Perang yang masih berkecamuk di begitu banyak wilayah di dunia kembali menuntut komitmen, tidak hanya ekonomi dan politik, tetapi juga spiritual dan religius. Perdamaian lahir di dalam hati. Paus yang sama, pada Oktober 1986, mengumpulkan para pemimpin agama-agama besar di Asisi, mengundang semua orang untuk berdoa bagi perdamaian. Pada beberapa kesempatan, termasuk baru-baru ini, baik Paus Fransiskus maupun saya telah meminta umat beriman di seluruh dunia untuk berdoa bagi ujud ini. Kita tidak dapat pasrah pada gambaran kematian yang disajikan berita kepada kita setiap hari. Dari tempat suci ini, yang fasadnya dirancang oleh Santo Bartolo Longo sebagai monumen perdamaian, kita dengan setia memanjatkan permohonan kita hari ini. Yesus berkata kepada kita bahwa doa yang dipanjatkan dengan iman dapat memperoleh apa pun (bdk. Mat 21:22). Dan Santo Bartolo Longo, merefleksikan iman Maria, menggambarkannya sebagai "mahakuasa karena berkat rahmat". Melalui perantaraannya, semoga Allah damai sejahtera mencurahkan limpahan rahmat yang berlimpah, menyentuh hati, meredakan dendam dan kebencian antarsaudara, serta menerangi mereka yang memikul tanggung jawab khusus dalam pemerintahan.

 

Saudara-saudari, tidak ada kekuatan duniawi yang dapat menyelamatkan dunia, melainkan hanya kekuatan ilahi kasih, kekuatan ilahi kasih yang telah Yesus, Tuhan, nyatakan dan berikan kepada kita. Marilah kita percaya kepada-Nya, marilah kita berharap kepada-Nya, marilah kita mengikuti-Nya!
____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Mei 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA TAHBISAN USKUP DI BASILIKA SANTO YOHANES LATERAN 2 Mei 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 6:1-7; Mzm. 33:1-2.4.5.18-19; 1Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dengan berpegang teguh pada Kristus, kita menjadi rumah yang kokoh dan hangat: inilah sukacita yang kita alami terutama selama Masa Paskah, dan khususnya hari ini saat kita merayakan penahbisan empat uskup auksiler baru Keuskupan Roma.

 

Gereja ini memiliki panggilan yang unik untuk universalitas dan amal kasih berkat ikatan istimewanya dengan Kristus, yang telah bangkit dan hidup, fondasi bangunan rohani dari batu-batu hidup yang merupakan umat Allah yang kudus. Mendekat kepada Kristus berarti mendekat satu sama lain dan bertumbuh bersama dalam persatuan: inilah misteri yang melibatkan kita dan mengubah rupa kota dari dalam. Untuk melayani dinamikanya, yang dibawa ke Roma oleh Rasul Petrus dan Rasul Paulus, saudara-saudara kita Andrea (Carlevale), Stefano (Sparapani), Marco (Valenti), dan Alessandro (Zenobbi) ditahbiskan menjadi uskup. Sebuah perayaan umat, karena mereka berasal dari umat ini dan dari presbiterat yang dengan penuh kasih peduli terhadap mereka.

 

Komunitas keuskupan kita berkumpul hari ini untuk berdoa memohon Roh Kudus, yang akan mengurapi para uskup baru, agar mereka dapat sepenuhnya mengabdikan diri pada pelayanan Injil Kristus. Dialah batu yang dibuang yang, "dipilih oleh Allah," telah "menjadi batu penjuru" (1Ptr. 2:4,7; bdk. Mzm. 118:22).

 

Bagi umat Kristiani perdana, metafora ini, yang sangat akrab karena muncul dalam sebuah mazmur, pasti tampak sangat bermakna. Yesus sang Mesias telah ditolak bukan hanya karena Ia tidak diakui sebagai Putra Allah, tetapi, bahkan sebelum itu, karena telah mengambil kondisi sebagai makhluk ciptaan, yang dipahami sebagai tidak layak di hadapan Allah. Setia pada jalan belas kasih ini, Ia pergi mencari domba-domba yang ditolak, duduk di meja bersama mereka, melucuti tangan dan hati yang ingin melempari mereka dengan batu. Dengan cara ini, sebagaimana dikatakan Bacaan Injil yang diwartakan dalam liturgi ini, sang Putra menunjukkan wajah Bapa: di dalam Dia karya-karya-Nya digenapi. "Telah sekian lama Aku bersama kamu, Fi;ipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?" (Yoh. 14:8-9).

 

Gereja yang hidup di Roma, batu yang dibuang adalah pokok pesan mesianik, yang menghadapkan kita pada mereka yang telah dan terus dicampakkan oleh masyarakat. Juga pokok pesan kita, pokok perutusan kita. Kita telah melihat Yang Kudus menyentuh yang najis, Yang Adil mengampuni orang berdosa, Kehidupan menyembuhkan orang sakit, Sang Guru membasuh kaki murid-murid-Nya yang kotor dan lelah.

 

Di kota ini, ibu kota kekaisaran besar, batu yang dibuang menjadi panji pengharapan baru, yaitu Kerajaan Allah, sebagaimana digambarkan dalam Khotbah di Bukit dan dinyanyikan dalam Magnificat. Dengan menumbangkan nalar dominasi, yaitu nalar mereka yang mengejar ambisi tanpa arti untuk menentukan arsitektur Bumi, di dalam Kristuslah orang-orang yang ditolak menemukan kembali martabat mereka dan merasa dipilih untuk Kerajaan Allah. "Jika tidak demikian," kata Yesus kepada murid-murid-Nya, "tentu Aku mengatakannya kepadamu: Sebab, Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Apabila Aku telah pergi dan menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada" (Yoh.14:2-3).

 

Saudara-saudari terkasih, inilah sebabnya, hingga hari ini, kita menjadi batu yang dibuang manusia dan dipilih oleh Allah: ketika, dengan hidup dan kata-kata kita, kita tidak menentang rencana yang menghancurkan kaum lemah, gagal menghormati martabat setiap orang, mengeksploitasi konflik dengan berpihak pada yang terkuat, seraya mengabaikan mereka yang tertinggal, mereka yang terpuruk, menganggap mereka yang menyerah sebagai ampas sejarah. Yesus berjalan di antara kita sebagai nabi yang melucuti, dan ketika Ia ditolak, Ia tidak mengubah jalan-Nya.

 

Dan sekarang saya berpaling kepadamu, saudara-saudara terkasih, yang mulai hari ini akan menjadi uskup auksiler Gereja ini, yang kepeduliannya telah saya terima sebagai anugerah; kepada kamu yang, bersama Kardinal Vikaris, sudi membantu saya untuk menjadi cerminan Gembala yang baik bagi umat Roma dan memimpin amal kasih seluruh umat Allah yang kudus yang tersebar di seluruh muka bumi.

 

Saya mendorongmu untuk menjangkau batu-batu yang dibuang di kota ini dan mewartakan kepada mereka bahwa di dalam Kristus, batu penjuru kita, tidak seorang pun dikecualikan untuk menjadi bagian aktif dari bangunan suci Gereja dan persaudaraan manusia. Gambaran ini menggemakan seruan Anjuran Apostolik Paus Fransiskus Evangelii Gaudium: untuk menjadi Gereja "rumah sakit lapangan", menjadi gembala jalanan, menaruh pinggiran materi dan eksistensial di dalam hati kita. Sebagai imam, kamu telah menerima undangan ini, bersama dengan komunitas paroki yang telah kamu dampingi. Sekarang datang panggilan baru, panggilan selanjutnya, yang selalu memiliki inti yang sama: tidak seorang pun, sama sekali tidak seorang pun, boleh menganggap diri mereka ditolak oleh Allah, dan kamu akan menjadi pembawa kabar baik ini yang merupakan inti dari Injil.

 

Perkenankanlah Roh nubuat bekerja di dalam dirimu: jangan puas dengan hak istimewa yang mungkin ditawarkan oleh kedudukanmu, jangan mengikuti nalar duniawi untuk memiliki tempat pertama, jadilah saksi Kristus yang datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani (bdk. Mrk 10:45). Kamu akan menjadi nabi dalam pelayananmu jika kamu adalah orang-orang yang cinta damai dan persatuan, menjembatani, dengan benang rahmat dan belas kasihan, ruang-ruang yang luas dan padat penduduk di Keuskupan ini, menyelaraskan perbedaan, menyambut, mendengarkan, dan mengampuni.

 

Jangan perkenankan dirimu dicari, perkenankan dirimu ditemukan. Dan pastikan bahwa para imam, diakon, biarawan dan biarawati, serta umat awam yang terlibat dalam kerasulan tidak pernah merasa sendirian. Bantulah mereka untuk membangkitkan kembali pengharapan dalam berbagai pelayanan mereka dan merasa menjadi bagian dari perutusan yang sama. Selalu ketahuilah bagaimana memotivasi individu dan komunitas tanpa lelah, hanya dengan mengingat keindahan Injil.

 

Semoga kaum miskin Roma, para peziarah, dan para pengunjung yang datang dari seluruh penjuru dunia, menemukan dalam penduduk kota ini, dalam lembaga-lembaganya, dan dalam para gembalanya, keibuan yang merupakan wajah otentik Gereja. Semoga Salus Populi Romani, Bunda kepercayaan kita, selalu membimbing dan melindungi kita sepanjang jalan.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Mei 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PASKAH IV 26 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:14a,36-41; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; 1Ptr. 2:20b-25; Yoh. 10:1-10.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Salam saya terutama ditujukan kepada mereka yang baru saja ditahbiskan menjadi imam, keluargamu, para imam Roma, yang banyak di antaranya ditahbiskan pada hari Minggu Paskah IV ini, dan semua yang hadir.

 

Hari Minggu ini adalah kepenuhan hidup! Meskipun kematian mengelilingi kita, janji Yesus sudah mulai terwujud: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Kita melihat kemurahan hati dan antusiasme yang besar dalam kesediaan orang-orang muda ini yang hari ini dipanggil Gereja untuk ditahbiskan sebagai imam. Sebagai komunitas yang banyak dan beragam yang berkumpul di sekitar satu Guru, kita merasakan kehadiran yang memperbarui kita. Roh Kudus mempersatukan orang dan panggilan dalam kebebasan sehingga seorang pun tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Setiap hari Minggu memanggil kita keluar dari “kuburan” pengasingan dan keterpencilan, sehingga kita dapat bertemu di taman persekutuan di mana Yesus yang bangkit adalah penjaga kita.

 

Panggilan saudara-saudara kita ini mengajak kita untuk merefleksikan pelayanan imamat, yang merupakan pelayanan persekutuan. “Hidup yang berlimpah-limpah,” sesungguhnya, bukan hanya datang kepada kita dalam perjumpaan pribadi yang mendalam dengan pribadi Putra, tetapi segera membuka mata kita kepada saudara-saudari kita yang sudah mengalami, atau yang masih mencari, “hak supaya menjadi anak-anak Allah” (Yoh 1:12). Inilah salah satu rahasia hidup seorang imam. Para calon imam yang terkasih, semakin dalam ikatanmu dengan Kristus, semakin radikal keterikatanmu dengan seluruh umat manusia. Tidak ada pertentangan, atau persaingan, antara surga dan bumi; di dalam Yesus keduanya bersatu selama-lamanya. Misteri yang hidup dan dinamis ini mengikat hati pada kasih yang tak terpisahkan: ia mengikat dan memenuhinya. Tentu saja, seperti kasih suami istri, kasih yang menginspirasi selibat untuk Kerajaan Allah juga harus dijaga dan terus diperbarui, karena setiap kasih sayang sejati akan matang dan berbuah seiring waktu. Kamu dipanggil untuk cara mencintai yang khas, tak mencolok, dan sulit, dan terlebih lagi, membiarkan dirimu dicintai dalam kebebasan. Hal ini akan menjadikanmu bukan hanya imam yang baik, tetapi juga warga negara yang jujur ​​dan suka membantu, pembangun perdamaian dan persahabatan sosial.

 

Dalam hal ini, sungguh mencolok bahwa dalam Bacaan Injil yang diwartakan (Yoh 10:1-10), Yesus merujuk pada tokoh dan tindakan agresif: orang asing, pencuri, dan perampok yang mengabaikan batasan dan mengganggu Dia dan orang-orang yang dikasihi-Nya. Mereka datang, kata Yesus, “hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan” (ayat 10). Suara mereka berbeda dari suara-Nya, dan tidak dapat dikenali (bdk. ayat 5). Kata-kata Tuhan penuh dengan kenyataan. Ia mengetahui kekejaman dunia, tempat Ia berjalan bersama kita. Dengan kata-kata-Nya, Ia membangkitkan bukan hanya bentuk agresi fisik, tetapi terutama agresi spiritual. Namun, ini tidak menghalangi-Nya untuk menyerahkan hidup-Nya. Kecaman tidak menjadi penolakan; bahaya tidak menyebabkan pelarian. Ini adalah rahasia lain bagi hidup seorang imam: kita tidak boleh takut akan kenyataan. Tuhan kehidupanlah yang memanggil kita. Semoga pelayanan yang dipercayakan kepadamu, saudara-saudara terkasih, menyampaikan kedamaian orang-orang yang tahu bahwa mereka aman, bahkan di tengah bahaya.

 

Dewasa ini, kebutuhan akan keamanan membuat orang menjadi agresif, menyebabkan komunitas menutup diri, dan mendorong orang untuk mencari musuh dan kambing hitam. Rasa takut seringkali hadir di sekitar kita dan mungkin di dalam diri kita. Semoga keamananmu tidak terletak pada peran yang kamu emban, tetapi pada kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, serta pada partisipasimu, bersama dengan umatmu, dalam kisah keselamatan. Keselamatan ini sudah bekerja dalam banyak perbuatan baik yang diam-diam dilakukan oleh orang-orang yang berkehendak baik di paroki dan lingkungan tempatmu akan bergabung dengan mereka sebagai sesama pengembara. Apa yang kamu wartakan dan rayakan akan melindungimu, bahkan di masa-masa sulit.

 

Di komunitas tempatmu akan diutus, Yesus yang bangkit telah hadir, dan banyak yang telah mengikuti-Nya dengan patut dipuji. Kamu akan mengenali luka-luka-Nya dan membedakan suara-Nya. Kamu akan bertemu dengan orang-orang yang akan mengarahkanmu kepada-Nya. Komunitas-komunitas ini juga akan membantumu menjadi orang-orang kudus! Sebagai bagianmu, bantulah mereka untuk berjalan bersama, mengikuti Yesus, Gembala yang baik, sehingga mereka dapat menjadi tempat — taman — kehidupan yang bangkit kembali dan berbagi diri dengan orang lain. Orang-orang sering kali kekurangan tempat di mana mereka dapat memahami bahwa lebih baik dan indah untuk bersama, dan bahwa mungkin untuk rukun. Memfasilitasi pertemuan, membantu menyatukan mereka yang mungkin tidak akan pernah bertemu, dan mendamaikan perpecahan adalah satu dan sama dengan merayakan Ekaristi dan Sakramen Tobat. Bersatu selalu berarti menanam kembali Gereja.

 

Pada suatu bagian dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus mulai berbicara tentang diri-Nya menggunakan sebuah gambaran penting. Ia menggambarkan diri-Nya sebagai "gembala," tetapi mereka yang mendengarkan tampaknya tidak mengerti. Maka Ia mengubah metafora tersebut: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Akulah pintu bagi domba-domba itu" (Yoh 10:7). Di Yerusalem, ada sebuah pintu yang disebut persis seperti itu, "pintu domba," di dekat kolam Betesda. Domba dan anak domba memasuki bait suci melalui pintu itu, pertama-tama dicelupkan ke dalam air, dan kemudian diperuntukkan untuk dikorbankan. Gambaran ini segera mengingatkan kita pada baptisan.

 

“Akulah pintu,” kata Yesus. Yubileum menunjukkan kepada kita bahwa gambaran ini terus berbicara kepada hati jutaan orang. Selama berabad-abad, pintu — seringkali portal sejati — telah mengundang orang untuk melewati ambang Gereja. Dalam beberapa kasus, bejana baptis dibangun di luar, seperti Kolam Betesda kuno, di serambi-serambinya “berbaring sejumlah besar orang sakit — orang-orang buta, orang-orang timpang, dan orang-orang lumpuh” (Yoh 5:3). Para calon imam yang terkasih, anggaplah dirimu sebagai bagian dari umat manusia yang menderita ini, yang menantikan kehidupan yang berlimpah-limpah. Dengan memperkenalkan orang lain kepada iman, kamu akan menghidupkan kembali imanmu sendiri. Bersama dengan umat beriman yang telah dibaptis, kamu akan melewati ambang misteri setiap hari — ambang yang memuat wajah dan nama Yesus. Jangan pernah menyembunyikan pintu suci ini. Jangan menghalanginya; jangan menjadi penghalang bagi mereka yang ingin masuk. “Kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi” (Luk 11:52): ini adalah teguran keras Yesus kepada mereka yang telah menyembunyikan kunci menuju jalan yang seharusnya terbuka untuk semua orang.

 

Dewasa ini, lebih dari sebelumnya, terutama ketika statistik tampaknya menunjukkan adanya jurang pemisah antara orang-orang dan Gereja, tetaplah membuka pintu! Biarkan orang masuk, dan bersiaplah untuk keluar. Ini adalah rahasia lain untuk hidupmu: kamu adalah saluran, bukan penyaring. Banyak orang percaya bahwa mereka sudah tahu apa yang ada di balik ambang pintu. Mereka membawa kenangan, mungkin dari masa lalu yang jauh. Seringkali, ada sesuatu di dalam diri mereka yang hidup dan belum mati; ini menarik mereka masuk. Namun, di lain waktu, ada sesuatu yang lain di dalam diri mereka yang masih berdarah dan menolak mereka. Tuhan tahu, dan Ia menunggu. Jadilah cerminan kesabaran dan kelembutan-Nya. Kamu milik semua orang dan untuk semua orang! Biarlah ini menjadi tujuan mendasar perutusanmu: menjaga ambang pintu tetap terbuka dan mengarahkan orang lain ke sana, tanpa menggunakan terlalu banyak kata.

 

Di sisi lain, Yesus menegaskan dan menjelaskan, “Akulah pintu. Siapa yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput” (Yoh 10:9). Ia tidak membatasi kebebasan kita. Ada komunitas yang menyesakkan; beberapa kelompok mudah dimasuki tetapi hampir mustahil untuk ditinggalkan. Ini bukan kasus Gereja Tuhan, atau komunitas murid-murid-Nya. Siapa pun yang diselamatkan, kata Yesus, dapat “masuk dan keluar serta menemukan padang rumput.” Kita semua mencari perlindungan, kelegaan, dan kepedulian. Pintu Gereja terbuka, tetapi bukan untuk memisahkan kita dari kehidupan: kehidupan tidak berakhir di paroki, sebuah perkumpulan, sebuah gerakan, sebuah kelompok. Siapa yang diselamatkan dapat “keluar dan menemukan padang rumput.”

 

Saudara-saudara terkasih, keluarlah dan temukan budaya, orang-orang, dan kehidupan! Kagumi hal-hal yang Allah tumbuhkan tanpa kita menaburnya. Orang-orang yang akan kamu layani sebagai imam — umat awam dan keluarga, muda dan tua, anak-anak dan orang sakit — mendiami padang rumput yang harus kamu kenal. Terkadang kamu mungkin merasa kekurangan peta yang diperlukan. Tetapi Gembala yang baik memilikinya; dengarkan suara-Nya yang sangat dikenal. Begitu banyak orang saat ini merasa tersesat! Banyak yang merasa tidak lagi dapat menemukan arah. Dalam hal ini, tidak ada kesaksian yang lebih berharga daripada ini: “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar demi nama-Nya” (Mzm. 23:2-3). Nama-Nya adalah Yesus: “Allah menyelamatkan”! Kamu adalah saksi akan hal ini. “Kebaikan dan kasih belaka akan mengikuti aku seumur hidupku” (Mzm. 23:6). Saudara-saudari terkasih, dan kaum muda: semoga demikian adanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 26 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI STADION MALABO, GUINEA KHATULISTIWA 23 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 8:26-40; Mzm. 66:8-9.16-17.20; Yoh. 6:44-51.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya ingin memulai dengan menyampaikan salam hangat kepada Gereja lokal Malabo, beserta gembalanya. Pada saat yang sama, saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh komunitas Keuskupan Agung, para imam, dan anggota keluarga dari Vikaris Jenderal Anda yang baru saja meninggal, Pastor Fortunato Nsue Esono, yang kita kenang dalam perayaan Ekaristi ini.

 

Saya mengajakmu untuk menghayati saat-saat duka ini dengan semangat iman, dan saya percaya bahwa, tanpa terpengaruh oleh spekulasi atau kesimpulan yang terburu-buru, keadaan seputar kematiannya akan sepenuhnya diklarifikasi.

 

Bacaan yang baru saja kita dengar menantang kita untuk bertanya apakah kita benar-benar tahu bagaimana menafsirkan perikop bacaan Kitab Suci hari ini. Pertanyaan ini serius dan penuh berkat, karena mempersiapkan kita untuk membaca bersama buku sejarah, yaitu perikop kehidupan kita sendiri, yang terus diilhami Allah dengan hikmat-Nya.

 

Ketika diakon Filipus mendekati seorang pengembara yang sedang dalam perjalanan pulang dari Yerusalem ke Afrika, ia bertanya, “Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?” (Kis. 8:30). Pengembara itu, seorang kepala perbendaharaan istana Ratu Etiopia, segera menjawab dengan hikmat yang rendah hati, “Bagaimana aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (ayat 31). Pertanyaannya bukan hanya pencarian kebenaran, tetapi juga ungkapan keterbukaan dan keinginan. Marilah kita merefleksikan orang ini: ia kaya, seperti negerinya, namun ia adalah seorang hamba. Kekayaan yang ia kelola bukan miliknya sendiri: semua yang dimilikinya adalah hasil kerjanya, yang bermanfaat bagi orang lain. Ia cerdas dan berbudaya, sebagaimana ditunjukkan dalam pekerjaan dan doanya, tetapi ia tidak sepenuhnya bebas. Kenyataan menyakitkan ini bahkan tercermin pada tubuhnya: ia sebenarnya adalah seorang sida-sida. Ia tidak dapat melahirkan kehidupan; seluruh vitalitasnya diperuntukkan bagi kekuatan yang mengendalikan dan memerintahnya.

 

Namun, ketika ia kembali ke tanah kelahirannya di Afrika, yang baginya telah menjadi tempat perbudakan, pemberitaan Injil membebaskannya. Sabda Allah yang dipegangnya menghasilkan buah yang tak terduga dalam hidupnya. Melalui perjumpaannya dengan Filipus, seorang saksi Kristus yang disalibkan dan bangkit, sida-sida itu berubah dari sekadar pembaca — seorang penonton— Kitab Suci menjadi pelaku utama dalam kisah yang memikatnya, karena sekarang kisah itu menyangkut dirinya secara pribadi. Teks suci berbicara kepadanya, membangkitkan dalam dirinya kerinduan akan kebenaran. Orang Afrika ini pun memasuki Kitab Suci, yang menyambut setiap pembaca yang ingin memahami sabda Allah. Ia melangkah ke dalam sejarah keselamatan, yang merangkul setiap orang, terutama yang tertindas, terpinggirkan, dan paling hina di antara kita. Sabda tertulis kemudian menjadi kenyataan yang dihayati: melalui baptisan, ia bukan lagi orang asing, tetapi menjadi anak Allah, saudara kita dalam iman. Meskipun seorang hamba dan tidak memiliki anak, ia dilahirkan kembali ke dalam kehidupan baru dan bebas dalam nama Tuhan Yesus. Dan kita berbicara tentang keselamatan-Nya hingga hari ini, persis seperti saat kita membaca Kitab Suci ini!

 

Seperti dia, kita pun telah menjadi umat kristiani melalui baptisan, menerima terang yang sama, yaitu iman yang sama yang dengannya kita membaca sabda Allah: merefleksikan nubuat, mendoakan mazmur, mempelajari Hukum dan mewartakan Injil melalui hidup kita. Semua teks Kitab Suci, pada kenyataannya, mengungkapkan makna sebenarnya dalam iman, karena teks-teks itu ditulis dan diturunkan kepada kita melalui iman. Oleh karena itu, membacanya selalu merupakan tindakan pribadi dan gerejawi; bukan sesuatu yang dilakukan secara tersendiri atau hanya secara mekanis.

 

Bersama-sama kita membaca Kitab Suci sebagai warisan bersama Gereja, dibimbing oleh Roh Kudus, yang mengilhami penyusunannya, dan Tradisi Apostolik, yang telah melestarikan dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Seperti sida-sida itu, kita pun dapat memahami sabda Allah dengan bantuan seorang pembimbing yang menemani kita dalam perjalanan iman kita. Demikianlah halnya dengan diakon Filipus, yang “mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya” (ayat 35). Peziarah Afrika itu sedang membaca nubuat yang telah tergenapi baginya, sama seperti yang tergenapi bagi kita hari ini. Hamba yang menderita yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya (bdk. Yes 53:7-8) adalah Yesus, yang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya menebus kita dari dosa dan maut. Ia adalah Sabda yang menjadi daging, di dalam Dia setiap sabda Allah menemukan penggenapannya; Ia mengungkapkan maksud asli, makna penuh, dan tujuan akhirnya.

 

Sebagaimana dikatakan Kristus sendiri, “Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa” (Yoh 6:46). Dalam Putra, Bapa sendiri menyatakan kemuliaan-Nya: Allah menjadikan diri-Nya terlihat, terdengar, dan tersentuh. Melalui tindakan Yesus, Sang Penebus, Ia menggenapi apa yang selalu Ia lakukan: memberikan kehidupan. Ia menciptakan dunia, menyelamatkannya, dan mengasihinya selamanya. Yesus mengingatkan mereka yang mendengarkan Dia tentang tanda akan kepedulian yang terus-menerus ini: “Nenek moyangmu makan manna di padang gurun” (ayat 49). Ia merujuk pada pengalaman Keluaran: perjalanan pembebasan dari perbudakan yang berubah menjadi masa pengembaraan selama empat puluh tahun yang melelahkan. Penundaan ini terjadi karena orang-orang tidak percaya pada janji Tuhan; mereka bahkan tetap merindukan kehidupan di Mesir (bdk. Kel 16:3). Memang, di bawah pemerintahan Firaun, mereka memiliki makanan dari tanah; namun, Allah membawa mereka ke padang gurun, di mana roti hanya dapat diperoleh dari pemeliharaan-Nya. Manna, dengan demikian, adalah tanda, berkat, dan janji yang digenapi melalui kedatangan Yesus. Simbol kuno ini sekarang memberi jalan kepada sakramen perjanjian baru dan kekal: Ekaristi — roti yang dikonsekrasikan oleh Dia yang turun dari surga untuk menjadi makanan kita. Jika mereka yang makan manna mati (bdk. Yoh 6:49), siapa saja yang makan roti ini akan hidup selama-lamanya (bdk. ayat 51), karena Kristus hidup! Ia adalah Yang Bangkit, dan terus memberikan hidup-Nya bagi kita.

 

Melalui Paskah Yesus, keluaran yang definitif, setiap bangsa dibebaskan dari perbudakan kejahatan. Saat kita merayakan misteri keselamatan ini, Tuhan memanggil kita untuk membuat pilihan yang menentukan: “Siapa saja yang percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” (ayat 47). Dalam Yesus, kita diberi prospek yang menakjubkan: Allah memberikan diri-Nya untuk kita. Apakah aku percaya bahwa kasih-Nya lebih kuat daripada kematianku? Dengan memutuskan untuk percaya kepada-Nya, kita masing-masing memilih antara keputusasaan yang tak terhindarkan dan pengharapan yang ditawarkan Allah. Rasa lapar kita akan hidup dan keadilan kemudian dipuaskan oleh perkataan Yesus: “Roti yang akan Kuberikan untuk hidup dunia ialah daging-Ku” (ayat 51).

 

Terima kasih, Tuhan! Kami memuji dan bersyukur kepada-Mu, karena Engkau memilih untuk menjadi Ekaristi bagi kami, roti hidup yang kekal, sehingga kami dapat hidup selama-lamanya. Sahabat-sahabat terkasih, pada saat ini juga, saat kita merayakan sakramen keselamatan ini, kita dapat dengan penuh sukacita menyatakan: Kristus adalah segala-galanya bagi kita! Di dalam Dia kita menemukan kepenuhan hidup dan makna. “Jika kamu tertindas oleh ketidakadilan, Dialah keadilan; jika kamu membutuhkan pertolongan, Dialah kekuatan; jika kamu takut akan kematian, Dialah hidup; jika kamu mendambakan Surga, Dialah jalan; jika kamu berada dalam kegelapan, Dialah terang” (Santo Ambrosius, De Virginitate, 16:99). Masalah kita tidak lenyap di hadapan Tuhan, tetapi diterangi. Sama seperti setiap salib menemukan penebusan dalam Yesus, demikian pula kisah hidup kita menemukan maknanya dalam Injil. Karena itu, hari ini kita masing-masing dapat berkata: “Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dariku” (Mzm. 66:20). Ia selalu mengasihi kita terlebih dahulu. Sabda-Nya adalah Kabar Baik bagi kita, dan kita tidak mempunyai hal yang lebih besar untuk diwartakan kepada dunia. Kita semua dipanggil untuk penginjilan ini sejak saat kita menerima sakramen baptis, sakramen persatuan persaudaraan, air pembersih pengampunan dan sumber pengharapan. Melalui kesaksian kita, pemberitaan keselamatan menjadi nyata dalam tindakan, pelayanan, dan pengampunan — singkatnya, pemberitaan tersebut menjadi Gereja!

 

Sebagaimana diajarkan Paus Fransiskus, “Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 1). Pada saat yang sama, ketika kita ambil bagian dalam sukacita ini, kita juga menjadi semakin sadar akan bahaya “kesedihan dan kecemasan yang lahir dari hati yang puas diri namun tamak, pengejaran akan kesenangan sembrono dan hati nurani yang tumpul. Ketika kehidupan batin kita terbelenggu dalam kepentingan dan kepeduliannya sendiri, tak ada lagi ruang bagi sesama, tak ada tempat bagi si miskin papa. Suara Allah tak lagi didengar dan sukacita kasih-Nya tak lagi dirasakan” (idem, 2). Dalam menghadapi sikap tertutup seperti itu, justru kasih Tuhanlah yang menopang upaya kita, terutama dalam pelayanan keadilan dan solidaritas.

 

Karena alasan ini, saya mendorong kamu semua, sebagai Gereja yang hidup di Guinea Khatulistiwa, untuk melanjutkan perutusan murid-murid pertama Yesus dengan penuh sukacita. Saat kamu membaca Injil bersama-sama, wartakanlah dengan penuh semangat, seperti yang dilakukan diakon Filipus. Dan saat kamu merayakan Ekaristi bersama-sama, berikanlah kesaksian melalui hidupmu tentang iman yang menyelamatkan, agar sabda Allah menjadi ragi yang baik bagi semua orang.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 April 2026)