Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI SAURIMO (ANGOLA) 20 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 6:8-15; Mzm. 119:23-24,26-27,29-30; Yoh. 6:22-29.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Di pelbagai belahan dunia, Gereja hidup sebagai umat yang berjalan sebagai murid Kristus, saudara dan Penebus kita. Ia, yang bangkit, menerangi jalan kita menuju Bapa dan dengan kekuatan Roh-Nya Ia menguduskan kita sehingga kita dapat mengubah rupa cara hidup kita selaras dengan kasih-Nya. Inilah Kabar Baik, Injil yang mengalir seperti darah dalam pembuluh darah kita, menopang kita dalam perjalanan. Sebuah perjalanan yang membawa saya ke sini bersamamu hari ini! Dalam sukacita dan keindahan pertemuan kita, bersatu dalam nama Yesus, marilah kita mendengarkan Sabda keselamatan dengan hati terbuka karena Sabda keselamatan membantu kita merefleksikan motivasi dan tujuan kita mengikuti Tuhan.

 

Memang benar, ketika Putra Allah menjadi manusia, Ia melakukan mukjizat yang luar biasa untuk mewujudkan kehendak Bapa: Ia membuat terang bersinar dalam kegelapan dengan memberikan penglihatan kepada orang buta, Ia memberikan suara kepada mereka yang tertindas dengan melonggarkan lidah orang bisu, Ia memuaskan rasa haus kita akan keadilan dengan melipatgandakan roti bagi mereka yang miskin dan lemah. Siapa pun yang mendengar tentang pekerjaan ini berangkat mencari Yesus. Pada saat yang sama, Tuhan melihat ke dalam hati kita dan bertanya apakah kita mencari Dia karena rasa syukur atau demi kepentingan diri sendiri, dengan perhitungan atau dengan cinta. Bahkan, Ia berkata kepada orang-orang yang mengikuti Dia, “Kamu mencari Aku, bukan karena kamu melihat tanda-tandanya, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang” (Yoh. 6:26). Kata-kata-Nya mengungkapkan rancangan orang-orang yang tidak ingin berjumpa dengan seseorang, bahkan ingin mengonsumsi sesuatu. Orang banyak melihat Yesus sebagai alat untuk mencapai tujuan, penyedia layanan. Jika Ia tidak memberi mereka makan, tindakan dan ajaran-Nya tidak akan menarik minat mereka.

 

Hal ini terjadi ketika iman sejati digantikan dengan praktik takhayul, yang menjadikan Allah sebagai berhala yang dicari hanya jika bermanfaat bagi kita dan hanya selama bermanfaat. Bahkan anugerah terindah Tuhan, yang selalu diperuntukkan bagi umat-Nya, malah menjadi dalih, hadiah atau alat tawar-menawar, dan disalahartikan oleh mereka yang menerimanya. Maka, kisah Injil membantu kita memahami bahwa ada motivasi yang salah dalam mencari Kristus, khususnya ketika Ia dianggap sebagai guru atau jimat keberuntungan. Bahkan motivasi orang banyak pun tidak memadai: mereka tidak mencari seorang guru yang mereka cintai, namun seorang pemimpin yang bisa diberi tepuk tangan demi keuntungan mereka sendiri.

 

Alangkah berbedanya sikap Yesus terhadap kita. Namun, Ia tidak menolak pencarian yang tidak tulus ini, namun mendorong pertobatannya. Ia tidak mengabaikan orang banyak, namun mengajak setiap orang untuk menelaah apa yang menggugah dalam hati kita. Kristus memanggil kita menuju kemerdekaan: Ia tidak menginginkan pelayan atau klien, namun Ia mencari saudara dan saudari yang kepadanya Ia dapat mengabdikan diri sepenuhnya. Untuk menanggapi kasih ini dengan iman, tidaklah cukup hanya dengan mendengarkan Yesus berbicara: kita harus menerima makna sabda-Nya. Melihat apa yang dilakukan Yesus saja tidak cukup: kita harus mengikuti dan meneladan Dia. Ketika dalam tanda roti yang dibagikan kita melihat kehendak Juruselamat, yang memberikan diri-Nya bagi kita, barulah kita semakin dekat pada perjumpaan sejati dengan Yesus, yang menjadi pemuridan, perutusan dan pelayanan.

 

Nasihat yang disampaikan Tuhan kepada orang banyak kemudian diubah rupa menjadi sebuah undangan: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh 6:27). Dengan kata-kata ini, Kristus mengungkapkan anugerah-Nya yang sejati kepada kita: Ia tidak memanggil kita untuk tidak tertarik pada roti kita sehari-hari, yang Ia lipatgandakan dengan berlimpah dan ajarkan kepada kita untuk memintanya dalam doa. Sebaliknya, Ia mengajarkan kita cara yang benar untuk mencari roti hidup, makanan yang menopang kita selamanya. Keinginan orang banyak mendapat tanggapan yang jauh lebih besar dan lebih mengejutkan: Yesus tidak memberi kita makanan yang akan binasa, tetapi roti yang kekal karena merupakan makanan hidup yang kekal.

 

Anugerah-Nya menerangi situasi kita saat ini. Hari ini kita dapat melihat bagaimana pengharapan banyak orang digagalkan oleh kekerasan, dieksploitasi oleh orang-orang yang berkuasa dan ditipu oleh orang-orang kaya. Akibatnya, ketika ketidakadilan merusak hati, roti bagi semua orang menjadi milik segelintir orang. Dalam menghadapi kejahatan-kejahatan ini, Kristus mendengar jeritan orang-orang dan memperbarui sejarah kita dengan mengangkat kita dari setiap kejatuhan, menghibur kita dalam setiap penderitaan, dan mendorong kita dalam perutusan kita. Sama seperti Ekaristi adalah roti hidup yang tidak pernah berhenti Ia berikan kepada kita, demikian pula sejarah-Nya tidak berkesudahan. Karena alasan ini, Yesus yang bangkit membuka hidup kita melalui kuasa Roh-Nya dan menghapus akhir sejarah kita, yaitu kematian. Kristus hidup! Dialah Penebus kita. Inilah Injil yang kita bagikan, menjadikan semua orang di bumi sebagai saudara-saudari kita. Inilah pemberitaan yang mengubah dosa menjadi pengampunan. Inilah iman yang menyelamatkan jiwa!

 

Oleh karena itu, kesaksian Paskah tentu saja selain berkaitan dengan Kristus, yang disalibkan dan telah bangkit, tetapi juga berkaitan dengan kita karena di dalam Dia pemberitaan kebangkitan kita menemukan suaranya. Kita tidak datang ke dunia untuk mati. Kita tidak dilahirkan untuk menjadi hamba, baik bagi kerusakan daging maupun jiwa: setiap bentuk penindasan, kekerasan, eksploitasi, dan ketidakjujuran meniadakan kebangkitan Kristus, anugerah tertinggi kebebasan kita. Pembebasan dari kematian ini, sebenarnya, tidak hanya terjadi di akhir hidup kita, tetapi setiap hari dalam hidup kita. Apa yang harus kita lakukan untuk menyambut anugerah seperti itu? Bacaan Injil mengajarkan kita: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ya, marilah kita percaya! Hari ini, marilah kita mengatakannya bersama-sama dengan kekuatan dan rasa syukur kepada Engkau, Tuhan Yesus. Kami ingin mengikuti dan melayani Engkau dalam diri sesama kami: sabda-Mu adalah pedoman hidup dan patokan kebenaran kami.

 

“Berbahagialah orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut hukum Tuhan” (Mzm. 119:1). Inilah Mazmur yang kita nyanyikan. Sahabat-sahabatku, Tuhanlah yang menunjukkan jalan bagi kita dalam perjalanan ini, bukan tuntutan kita, atau tren yang sedang populer. Karena alasan ini, dalam terang kemuridan kita, perjalanan gerejawi adalah “sinode kebangkitan dan pengharapan,” yang ditegaskan oleh Santo Yohanes Paulus II dalam seruan apostoliknya tentang Afrika (Ecclesia in Africa, 13). Marilah kita melangkah ke arah yang bijaksana ini! Dengan Injil di dalam hatimu, kamu akan memiliki keberanian dalam menghadapi kesulitan dan kekecewaan: jalan yang telah Allah bukakan bagi kita, tidak pernah gagal. Sesungguhnya, Tuhan selalu berjalan bersama kita, sehingga kita dapat terus berada di jalan-Nya. Kristus sendiri membimbing dan menguatkan perjalanan kita, sebuah perjalanan yang ingin kita pelajari untuk dijalani semakin sebagaimana mestinya, yaitu secara sinodal.

 

Dalam hal ini, “Gereja mewartakan Kabar Baik Kristus bukan hanya melalui pewartaan sabda yang telah diterimanya dari Tuhan, tetapi juga melalui kesaksian hidup, yang berkatnya murid-murid Kristus memberi kesaksian tentang iman, pengharapan, dan kasih yang ada di dalam diri mereka” (idem, 55). Dengan ambil bagian dalam Ekaristi, roti hidup yang kekal, kita dipanggil untuk melayani umat kita dengan dedikasi yang mengangkat semua orang yang telah jatuh, membangun kembali ketika kekerasan menghancurkan, dan dengan sukacita ambil bagian dalam ikatan persaudaraan kita. Melalui kita, prakarsa rahmat ilahi menghasilkan buah yang baik terutama dalam kesulitan, sebagaimana diteladankan oleh Stefanus, martir pertama (bdk. Kis. 6:8-15).

 

Saudara-saudara terkasih, kesaksian para martir dan para kudus mendorong dan menuntun kita menuju jalan pengharapan, rekonsiliasi, dan perdamaian, di mana anugerah Allah menjadi tanggung jawab kepala keluarga, dalam komunitas kristiani, dalam masyarakat sipil. Bersama-sama menempuh perjalanan ini, dalam terang Injil, Gereja di Angola bertumbuh sesuai dengan buah rohani yang berasal dari Ekaristi dan berlanjut dalam perhatian menyeluruh terhadap setiap orang dan seluruh umat. Secara khusus, vitalitas panggilan yang kamu alami merupakan tanda bahwa kamu menanggapi anugerah Tuhan, yang selalu berlimpah bagi mereka yang menerimanya dengan hati yang murni. Berkat Roti Hidup yang kita bagikan hari ini, kita dapat melanjutkan perjalanan seluruh Gereja, yang tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang terangnya adalah iman dan darah kehidupannya adalah amal kasih.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 20 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PASKAH III DI KILAMBA (ANGOLA) 19 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:14,22-33; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; 1Ptr. 1:17-21; Luk. 24:13-35.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya merayakan Ekaristi di antaramu dengan hati yang penuh syukur. Syukur kepada Allah atas anugerah ini, dan terima kasih atas sambutanmu yang hangat!

 

Pada Hari Minggu Paskah III ini, Tuhan telah berbicara kepada kita melalui Bacaan Injil tentang para murid di jalan menuju Emaus (bdk. Luk 24:13-35). Marilah kita memperkenankan diri kita diterangi oleh sabda kehidupan ini.

 

Dua murid Tuhan, dengan hati yang hancur dan sedih, berangkat dari Yerusalem untuk kembali ke desa Emaus. Mereka telah melihat kematian Yesus, yang telah mereka ikuti dengan setia. Mereka pulang dengan kecewa dan patah semangat. Di perjalanan, mereka "bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi" (Luk 24:14). Mereka terdorong untuk membicarakannya, menceritakan sekali lagi apa yang telah mereka lihat dan berbagi apa yang telah mereka alami. Namun, dengan melakukan hal itu, mereka berisiko menjadi tawanan kesedihan dan tertutup terhadap pengharapan.

 

Saudara-saudari, dalam kalimat pembuka Bacaan Injil ini, saya melihat refleksi sejarah Angola, negara yang indah namun terluka ini, yang lapar dan haus akan pengharapan, perdamaian, dan persaudaraan. Sesungguhnya, percakapan di sepanjang jalan antara kedua murid, yang merefleksikan dengan sedih apa yang telah terjadi pada Guru mereka, mengingatkan kita pada penderitaan yang telah menandai negaramu: perang saudara yang panjang dengan akibatnya berupa permusuhan dan perpecahan, pemborosan sumber daya dan kemiskinan.

 

Ketika terlalu lama tenggelam dalam sejarah yang sarat penderitaan, kita berisiko kehilangan pengharapan dan tetap lumpuh oleh keputusasaan, seperti kedua murid itu. Memang, mereka sedang berjalan, namun mereka tetap terpaku pada peristiwa tiga hari sebelumnya ketika mereka melihat kematian Yesus. Mereka bercakap-cakap, tetapi tanpa pengharapan akan solusi. Mereka terus berbicara tentang apa yang telah terjadi, dengan kelelahan orang-orang yang tidak tahu bagaimana memulai kembali atau melakukan apa yang mungkin.

 

Saudara-saudara terkasih, Kabar Baik Tuhan, bahkan bagi kita hari ini, persis seperti ini: Ia hidup, Ia telah bangkit, dan Ia berjalan di samping kita saat kita menempuh jalan penderitaan dan kepahitan, membuka mata kita sehingga kita dapat mengenali karya-Nya dan memberi kita rahmat untuk memulai kembali dan membangun masa depan.

 

Tuhan berjalan di samping kedua murid yang kecewa, yang hampir kehilangan pengharapan. Sebagai teman perjalanan, Ia membantu mereka menyatukan kembali kepingan-kepingan kisah itu, melihat melampaui penderitaan mereka, menemukan bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan dan bahwa masa depan, yang masih dihuni oleh Allah yang penuh kasih, menanti mereka. Ketika Ia berhenti untuk makan bersama mereka, duduk di meja dan memecahkan roti, maka “terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenali Dia” (Luk 24:31).

 

Pun di sinilah jalan yang terbentang bagi kita, bagimu, saudara-saudari Angola yang terkasih, untuk memulai kembali. Di satu sisi, ada kepastian bahwa Tuhan menyertai kita dan berbela rasa kepada kita, dan di sisi lain, Ia meminta kita untuk berkomitmen.

 

Kita mengalami persahabatan dengan Tuhan terutama dalam hubungan kita dengan Dia, dalam doa, dalam mendengarkan sabda-Nya yang mengobarkan hati kita seperti yang terjadi pada hati kedua murid. Ini terutama terjadi dalam perayaan Ekaristi. Di sinilah kita berjumpa Allah. Karena alasan ini, kita harus selalu waspada terhadap bentuk-bentuk keagamaan tradisional yang tentu saja termasuk dalam akar budaya kita, tetapi pada saat yang sama berisiko membingungkan dan mencampuradukkan unsur-unsur magis dan takhayul yang tidak membantu perjalanan spiritual kita. Tetaplah setia pada ajaran Gereja, percayalah pada para gembala kita, dan tetaplah memusatkan pandangan kita pada Yesus, yang menyatakan diri-Nya dalam sabda dan Ekaristi. Dalam keduanya kita mengalami bahwa Tuhan yang telah bangkit berjalan di samping kita dan, bersatu dengan-Nya, kita pun mengatasi "kematian" yang mengepung kita dan hidup sebagai orang-orang yang telah "bangkit."

 

Kepastian bahwa kita tidak sendirian dalam perjalanan ini mencakup komitmen yang sangat besar dari pihak kita untuk menenangkan luka dan menghidupkan kembali pengharapan. Sesungguhnya, jika kedua murid di jalan menuju Emaus mengenali Yesus dalam pemecahan roti, ini berarti kita pun harus mengenali-Nya dengan cara ini: bukan hanya dalam Ekaristi, tetapi di mana pun ada kehidupan yang menjadi seperti roti yang dipecah-pecahkan, di mana pun seseorang mempersembahkan dirinya sebagai anugerah bela rasa seperti Dia.

 

Sejarah negaramu, konsekuensi sulit yang terus kamu alami, masalah sosial dan ekonomi, serta berbagai bentuk kemiskinan menuntut kehadiran Gereja yang tahu bagaimana berjalan bersamamu dan bagaimana mendengarkan seruan anak-anaknya. Gereja yang, dengan terang sabda dan santapan Ekaristi, tahu bagaimana membangkitkan kembali pengharapan yang hilang. Gereja yang terdiri dari orang-orang seperti kamu yang memberikan diri seperti Yesus memberikan diri-Nya dalam pemecahan roti bagi kedua murid di jalan menuju Emaus. Angola membutuhkan uskup, imam, misionaris, biarawan dan biarawati, serta umat awam yang membawa dalam hati mereka keinginan untuk "mengurbankan" hidup mereka dan memberikannya kepada sesama, berkomitmen pada saling mengasihi dan mengampuni, membangun ruang persaudaraan dan perdamaian, dan melakukan tindakan bela rasa dan solidaritas terhadap mereka yang paling membutuhkan.

 

Melalui rahmat Kristus yang bangkit, kita dapat menjadi seperti roti yang dipecah-pecahkan ini yang mengubah rupa kenyataan. Sebagaimana Ekaristi mengingatkan kita bahwa kita adalah satu tubuh dan satu roh, bersatu dalam satu Tuhan, demikian pula dimungkinkan untuk membangun bersama sebuah negara di mana perpecahan lama diatasi sekali dan untuk selamanya, di mana kebencian dan kekerasan sirna, dan di mana momok korupsi disembuhkan oleh budaya keadilan dan berbagi yang baru. Hanya dengan cara inilah masa depan yang menjanjikan akan terwujud, terutama bagi banyak kaum muda yang telah kehilangan pengharapan.

 

Saudara-saudari, hari ini kita perlu memandang masa depan dengan penuh pengharapan dan membangun pengharapan aka masa depan. Jangan takut untuk melakukannya! Yesus yang telah bangkit, yang berjalan bersamamu di jalan ini dan memecahkan diri-Nya sebagai roti bagimu, mendorongmu untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya dan pelaku utama kemanusiaan dan masyarakat baru.

 

Dalam perjalanan ini, sahabat-sahabat terkasih, kamu dapat mengandalkan kedekatan dan doa Paus! Tetapi saya pun tahu saya dapat mengandalkanmu, dan saya berterima kasih kepadamu! Saya mempercayakanmu kepada perlindungan dan perantaraan Bunda Maria, Bunda Maria dari Muxima, agar ia selalu menopangmu dalam iman, pengharapan, dan kasih.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BANDARA YAOUNDÉ-VILLE (KAMERUN) 18 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis 6:1-7; Mzm 33:1-2.4-5.18-19; Yoh 6:16-21.

 

Saudara-saudari terkasih, damai sejahtera besertamu! Itulah damai sejahtera Kristus, yang kehadiran-Nya menerangi jalan kita dan menenangkan badai kehidupan.

 

Kita merayakan Misa Kudus ini di akhir kunjungan saya di Kamerun, dan saya sangat bersyukur atas sambutan hangat yang diberikan kepada saya dan atas momen-momen sukacita dan iman yang telah kita alami bersama.

 

Sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Injil, iman tidak menyelamatkan kita dari kekacauan dan kesengsaraan. Kadang-kadang, tampaknya rasa takut menguasai kita. Namun, kita tahu bahwa bahkan di saat-saat seperti itu, Yesus tidak meninggalkan kita, sama seperti Ia tidak meninggalkan para murid di Danau Galilea.

 

Tiga dari empat penginjil menceritakan peristiwa yang diwartakan hari ini, masing-masing dengan caranya masing-masing, dengan pesan yang sesuai untuk orang-orang yang dituju. Santo Markus (bdk. 6:45-52) menceritakan bahwa Tuhan datang kepada para murid ketika mereka bersusah payah mendayung karena angin sakal, yang berhenti segera setelah Yesus naik ke perahu bersama mereka. Santo Matius (bdk. 14:22-33) lebih memerinci: Petrus ingin pergi kepada Tuhan dengan berjalan di atas air. Namun, begitu ia melangkah keluar dari perahu, ia membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa takut dan ia mulai tenggelam. Kristus memegang tangannya, menyelamatkan dan menegurnya karena ketidakpercayaannya.

 

Dalam versi Santo Yohanes, yang diwartakan hari ini (bdk. 6:16-21), sang Juruselamat yang berjalan di atas air mendekati murid-murid-Nya dan berkata, “Ini Aku, jangan takut” (ayat 20). Penginjil menekankan bahwa “ketika hari mulai malam” (ayat 16). Menurut tradisi Yahudi, “air” dengan kedalaman dan misterinya, sering mengingatkan pada dunia bawah, kekacauan, bahaya, dan kematian. Bersama dengan kegelapan, ia membangkitkan kekuatan jahat, yang tidak dapat dikuasai manusia dengan kekuatan mereka sendiri. Namun, pada saat yang sama, dengan mengingat mukjizat yang terjadi dalam peristiwa keluaran, air dipahami sebagai tempat persinggahan, penyeberangan di mana Allah dengan penuh kuasa membebaskan umat-Nya dari perbudakan.

 

Sepanjang zaman, Gereja telah melewati banyak badai dan “angin sakal.” Kita pun dapat merasakan ketakutan dan keraguan yang dialami para murid saat menyeberangi Danau Tiberias. Demikian pula pengalaman kita di saat-saat ketika kita seolah tenggelam, dikalahkan oleh kekuatan yang merugikan, ketika segala sesuatu tampak suram dan kita merasa sendirian dan lemah. Tetapi tidak demikian. Yesus selalu bersama kita, lebih kuat dari kekuatan jahat apa pun. Dalam setiap badai, Ia datang kepada kita dan mengulangi, “Aku ada di sini bersamamu: jangan takut.” Inilah sebabnya mengapa kita dapat bangkit kembali setiap kali jatuh, tidak membiarkan diri kita dihentikan oleh badai apa pun. Sebaliknya, kita selalu maju dengan keberanian dan kepercayaan. Dan berkat Dialah, sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, begitu banyak “orang … yang menghormati umat kita, yang menghormati Gereja kita… kuat dalam melanjutkan hidup, keluarga, pekerjaan, dan iman mereka” (Katekese, 14 Mei 2014, 2).

 

Yesus mendekati kita. Ia tidak langsung menenangkan badai, tetapi datang kepada kita di tengah bahaya, dan mengajak kita, dalam suka dan duka, untuk tetap bersama-Nya, seperti para murid, di perahu yang sama. Ia mengajak kita bukan untuk menjauhkan diri dari mereka yang menderita, tetapi mendekati mereka, merangkul mereka. Tidak seorang pun boleh dibiarkan sendirian menghadapi kesulitan hidup. Karena alasan ini, setiap komunitas memiliki kewajiban untuk menciptakan dan mempertahankan struktur solidaritas dan saling membantu di mana, ketika menghadapi krisis –– baik sosial, politik, medis, maupun ekonomi –– setiap orang dapat memberi dan menerima bantuan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka masing-masing. Kata-kata Yesus, “Akulah Dia,” mengingatkan kita bahwa dalam masyarakat yang didirikan atas dasar penghormatan terhadap martabat manusia, kontribusi setiap orang dihargai penting dan unik, terlepas dari status atau posisi mereka di mata dunia.

 

Seruan “jangan takut,” kemudian, memiliki makna yang lebih luas, bahkan pada tingkat sosial dan politik, sebagai dorongan untuk menghadapi masalah dan tantangan –– khususnya yang berkaitan dengan kemiskinan dan keadilan –– bersama-sama, dengan rasa tanggung jawab sipil sebagai warga negara. Iman tidak memisahkan hal spiritual dari hal sosial. Bahkan, iman memberi umat kristiani kekuatan untuk berinteraksi dengan dunia, menanggapi kebutuhan orang lain, terutama yang paling lemah. Upaya individu yang tersendiri tidak cukup untuk keselamatan suatu komunitas: sebaliknya, yang dibutuhkan adalah komitmen komunal, yang memadukan dimensi spiritual dan moral injili sebagai landasan lembaga dan struktur lokal, menjadikannya sarana untuk kebaikan bersama, dan bukan tempat konflik, kepentingan pribadi, atau perjuangan yang sia-sia.

 

Bacaan Pertama hari ini (bdk. Kis. 6:1-7) berbicara tentang hal ini. Dalam perikop ini, kita melihat bagaimana Gereja menghadapi krisis pertamanya mengenai pertumbuhan. Peningkatan pesat jumlah murid (ayat 1) membawa tantangan baru bagi komunitas dalam menjalankan amal kasih, yang tidak lagi mampu dilakukan oleh para Rasul sendiri. Beberapa orang terabaikan dalam pembagian makanan, dan karena alasan ini keluhan semakin meningkat dan rasa ketidakadilan mengancam persatuan. Pelayanan sehari-hari kepada kaum miskin merupakan praktik penting dalam Gereja perdana, yang dimaksudkan untuk mendukung kaum yang paling lemah, khususnya para janda dan yatim piatu. Namun, pelayanan ini perlu diseimbangkan dengan kebutuhan mendesak lainnya, yaitu berkhotbah dan mengajar. Solusinya tidak sederhana. Para Rasul kemudian berkumpul dan berbagi kekhawatiran mereka, membahas masalah-masalah tersebut dalam terang ajaran Yesus. Mereka bersatu dalam doa untuk mengatasi rintangan dan kesalahpahaman yang pada pandangan pertama tampak tak teratasi. Dengan demikian, mereka memberi kehidupan pada sesuatu yang baru, memilih orang-orang yang “terkenal baik dan penuh dengan Roh dan hikmat” (ayat 3) dan menunjuk mereka, melalui penumpangan tangan, untuk melakukan pelayanan dengan perutusan rohani. Dengan mendengarkan suara Roh Kudus dan memperhatikan jeritan orang-orang yang menderita, mereka tidak hanya menghindari perpecahan di dalam komunitas, tetapi mereka juga melengkapinya dengan sarana-sarana baru yang sesuai dengan pertumbuhannya, mengubah momen krisis menjadi kesempatan untuk pengayaan dan pengembangan bagi semua orang.

 

Terkadang, kehidupan keluarga dan masyarakat membutuhkan keberanian untuk mengubah pola pikir dan struktur, agar martabat manusia selalu tetap menjadi fokus utama dan agar kesenjangan dan marginalisasi dapat diatasi. Lagipula, Allah yang menjadi manusia mengidentifikasi diri-Nya dengan yang paling hina, dan ini menjadikan perhatian khusus kepada kaum miskin sebagai bagian mendasar dari jati diri kristiani kita (bdk. Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 198; Seruan Apostolik Dilexi Te, 16-17).

 

Saudara-saudari, hari ini kita saling mengucapkan selamat tinggal. Masing-masing kembali ke pekerjaannya dan perahu Gereja terus berlayar menuju tujuan akhir, berkat rahmat Allah dan komitmen setiap orang. Marilah kita menjaga kenangan akan saat-saat indah yang telah kita alami bersama tetap hidup di dalam hati kita. Bahkan di tengah kesulitan, marilah kita terus memberi ruang bagi Yesus, membiarkan Dia menerangi dan memperbarui kita setiap hari melalui kehadiran-Nya. Gereja di Kamerun hidup, muda, diberkati dengan anugerah dan antusiasme, energik dalam keberagamannya dan sangat luar biasa dalam kerukunan. Dengan pertolongan Bunda Maria, Bunda kita, semoga kehadiranmu yang penuh sukacita terus berkembang. Dan semoga angin sakal, yang tidak pernah tidak ada dalam kehidupan, menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam pelayanan yang penuh sukacita kepada Allah dan saudara-saudari kita melalui berbagi, mendengarkan, berdoa, dan keinginan untuk bertumbuh bersama.

 

[Kata Penutup]

 

Saudara-saudari terkasih, perayaan ini menandai berakhirnya kunjungan saya ke Kamerun. Saya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Uskup Agung dan kepada semua gembala Gereja di negara ini.

 

Saya kembali menyampaikan apresiasi saya kepada Otoritas Sipil dan semua pihak yang telah membantu mempersiapkan dan menyelenggarakan perjalanan ini.

 

Terima kasih kepada semua orang, terutama kepada orang sakit, lansia, dan biarawati yang telah mendoakan mereka.

 

Umat ​​Allah yang tinggal dan berziarah di Kamerun, jangan takut! Tetaplah teguh bersatu dengan Kristus Tuhan kita! Dengan kuasa Roh-Nya, kamu mampu menjadi garam dan terang negeri ini! Terima kasih banyak.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI STADION JAPOMA, DOUALA (KAMERUN) 17 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis 5:34-42; Mzm 27:1.4.13-14; Yoh 6:1-15.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Bacaan Injil yang telah kita dengar (Yoh 6:1-15) adalah sabda keselamatan bagi seluruh umat manusia. Kabar Baik ini diberitakan di seluruh dunia saat ini; bagi Gereja di Kamerun, kabar ini bergema sebagai pemberitaan ilahi tentang kasih Allah dan persekutuan kita.

 

Rasul Yohanes menggambarkan kerumunan orang banyak (bdk. ayat 2-5), seperti kita sekarang. Namun, bagi semua orang itu, hanya ada sedikit makanan: hanya “lima roti jelai dan dua ikan” (ayat 9). Melihat ketimpangan ini, Yesus bertanya kepada kita hari ini, seperti yang Ia tanyakan kepada murid-murid-Nya saat itu: bagaimana kamu dapat menyelesaikan masalah ini? Lihatlah semua orang yang lapar ini, yang terbebani oleh kelelahan. Apa yang akan kamu lakukan?

 

Pertanyaan ini diajukan kepada kita masing-masing. Pertanyaan ini diajukan kepada para ayah dan ibu yang merawat keluarga mereka. Pertanyaan ini ditujukan kepada para gembala Gereja, yang menjaga kawanan domba Tuhan, dan juga kepada mereka yang memikul tanggung jawab sosial dan politik bagi rakyat dan mengupayakan kesejahteraan mereka. Kristus mengajukan pertanyaan ini kepada orang yang berkuasa dan orang yang lemah, kepada orang kaya dan orang miskin, kepada orang muda dan orang tua, karena kita semua lapar dengan cara yang sama. Kebutuhan kita mengingatkan kita bahwa kita adalah makhluk ciptaan. Kita perlu makan untuk hidup. Kita bukan Allah: tetapi di manakah Allah di hadapan kelaparan manusia?

 

Seraya menunggu jawaban kita, Yesus sendiri menjawabnya : “Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur, dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki” (ayat 11). Masalah serius diselesaikan dengan memberkati sedikit makanan yang ada dan membagi-bagikannya kepada semua orang yang lapar. Penggandaan roti dan ikan terjadi saat berbagi: itulah mukjizat! Ada roti untuk semua orang jika diberikan kepada semua orang. Ada roti untuk semua orang jika diambil, bukan dengan tangan yang merampas, tetapi dengan tangan yang memberi. Marilah kita perhatikan dengan saksama tindakan Yesus: ketika Putra Allah mengambil roti dan ikan, Ia terlebih dahulu mengucap syukur. Ia bersyukur kepada Bapa atas apa yang akan menjadi anugerah dan berkat bagi semua orang.

 

Dengan cara ini, makanan menjadi berlimpah. Makanan tidak dijatah berdasarkan kebutuhan. Makanan tidak dicuri dalam perselisihan. Makanan tidak disia-siakan oleh mereka yang melahap makanan di hadapan orang-orang yang tidak memiliki apa pun untuk dimakan. Setelah makanan berpindah dari tangan Kristus ke tangan murid-murid-Nya, makanan itu bertambah untuk semua orang; bahkan, berlimpah ruah (bdk. ayat 12-13). Terkagum-kagum oleh apa yang telah dilakukan Yesus, orang-orang berkata, “Dia ini benar-benar Nabi!” (ayat 14), yaitu, Orang yang berbicara dalam nama Allah, Sabda yang Maha Kuasa. Sungguh benar! Namun, Yesus tidak menggunakan kata-kata itu untuk keuntungan pribadi. Ia tidak ingin menjadi raja (bdk. ayat 15), karena Ia datang untuk melayani dengan kasih, bukan untuk menguasai.

 

Mukjizat yang dilakukan-Nya adalah tanda kasih ini. Mukjizat itu menunjukkan kepada kita bukan hanya bagaimana Allah menyediakan roti kehidupan bagi umat manusia, tetapi juga bagaimana kita dapat berbagi makanan ini dengan semua orang yang, seperti kita, mendambakan perdamaian, kebebasan, dan keadilan. Setiap tindakan solidaritas dan pengampunan, setiap usaha yang baik, menjadi sepotong roti bagi umat manusia yang membutuhkan perhatian. Namun, ini saja tidak cukup: makanan yang menopang tubuh harus disertai, dengan kasih yang sama, dengan makanan bagi jiwa — makanan yang menopang hati nurani kita dan menenangkan kita di saat gelap ketakutan dan di tengah bayang-bayang penderitaan. Makanan ini adalah Kristus sendiri, yang selalu memberikan makanan berlimpah kepada Gereja-Nya dan menguatkan kita dalam perjalanan kita dengan memberikan tubuh Ekaristis-Nya kepada kita.

 

Saudara-saudari, Ekaristi yang kita rayakan adalah sumber pembaruan iman, karena Yesus hadir di antara kita. Sakramen ini tidak hanya menghidupkan kembali kenangan yang jauh; ia menghadirkan "persahabatan" yang mengubah kita karena menguduskan kita. Berbahagialah mereka yang diundang ke Perjamuan Tuhan! Altar ini, tempat kita berkumpul untuk Ekaristi, menjadi pemberitaan pengharapan di tengah pencobaan sejarah dan ketidakadilan yang kita lihat di sekitar kita. Tanda kasih Allah; di dalam Kristus, Bapa mengundang kita untuk berbagi apa yang kita miliki, agar dapat dilipatgandakan dalam persekutuan gerejawi.

 

Tuhan meliputi langit dan bumi. Ia mengetahui hati kita dan segala situasi — baik yang menggembirakan maupun yang menyedihkan — yang kita alami. Dengan menjadi manusia untuk menyelamatkan kita, Ia memilih untuk turut serta dalam kebutuhan manusia yang paling sederhana dan sehari-hari. Kelaparan dengan demikian berbicara kepada kita bukan hanya tentang kemiskinan kita, tetapi, terutama, tentang kasih-Nya. Marilah kita mengingat hal ini setiap kali kita melihat di mata mereka seorang saudara atau saudari yang kekurangan kebutuhan hidup. Melalui mata mereka, pertanyaan yang diajukan Yesus kepada murid-murid-Nya diulangi: “Apa yang dapat kamu lakukan untuk semua orang ini?” Menjadi saksi Kristus dan meneladan tindakan kasih-Nya tentu melibatkan kesulitan dan rintangan, dari luar dan dari dalam diri kita, di mana kesombongan dapat merusak hati. Namun, dalam keadaan seperti itu, marilah kita mengulangi bersama pemazmur: “TUHAN terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (Mzm. 27:1). Sekalipun kita kadang-kadang goyah, Allah selalu menguatkan kita. “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Nantikanlah TUHAN!” (ayat 14).

 

Saudara-saudari muda yang terkasih, saya ingin menyampaikan undangan ini khususnya kepadamu, karena kamu adalah anak-anak terkasih dari benua Afrika! Sebagai saudara-saudari Yesus, lipatgandakanlah talentamu melalui iman, ketekunan, dan persahabatan yang menginspirasimu. Jadilah wajah dan tangan pertama yang membawa roti kehidupan kepada sesamamu, sediakanlah bagi mereka makanan hikmat dan pembebasan dari segala sesuatu yang tidak menyehatkan mereka, melainkan mengaburkan keinginan baik dan merampas martabat mereka.

 

Meskipun tanah di Kamerun kaya, banyak yang mengalami kemiskinan material dan spiritual. Jangan menyerah pada ketidakpercayaan dan keputusasaan. Tolak setiap bentuk penyalahgunaan atau kekerasan, yang menipu dengan menjanjikan keuntungan mudah tetapi mengeraskan hati dan membuatnya tidak peka. Jangan lupa bahwa bangsamu bahkan lebih kaya daripada negeri ini, karena hartamu terletak pada nilai-nilaimu: iman, keluarga, keramahan, dan kerja. Karena itu, jadilah pelaku utama masa depan, mengikuti panggilan Allah kepada dirimu masing-masing. Jangan biarkan dirimu dirusak oleh godaan yang membuang energimu dan tidak berfungsi mengembangkan masyarakat.

 

Untuk menjadikan semangat muliamu sebagai suara kenabian dunia baru, belajarlah dari teladan yang baru saja kita dengar dalam Kisah Para Rasul. Jemaat perdana memberikan kesaksian yang berani bagi Tuhan Yesus di tengah kesulitan dan ancaman, dan bertahan bahkan di tengah penganiayaan (bdk. Kis. 5:40-41). Para murid “setiap hari mereka mengajar di Bait Allah dan di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (ayat 42), yaitu Kristus, Pembebas dunia. Ya, Tuhan membebaskan kita dari dosa dan kematian. Memberitakan Injil ini tiada henti adalah perutusan setiap umat kristiani, dan perutusan yang saya percayakan khususnya kepadamu, kaum muda yang terkasih, dan kepada seluruh Gereja di Kamerun. Jadilah Kabar Baik bagi negaramu, seperti halnya Beato Floribert Bwana Chui bagi rakyat Kongo.

 

Saudara-saudari, pengajaran meninggalkan tanda, seperti bekas bajak petani di ladang, yang memungkinkan apa yang ditabur menghasilkan buah. Dengan cara yang sama, pemberitaan kristiani mengubah hidup kita, mengubah rupa pikiran dan hati. Memberitakan Yesus yang bangkit berarti meninggalkan tanda-tanda keadilan di negeri yang menderita dan tertindas, tanda-tanda perdamaian di tengah persaingan dan korupsi, tanda-tanda iman yang membebaskan kita dari takhayul dan ketidakpedulian. Dengan pesan Injil ini di dalam hati kita, sebentar lagi kita akan berbagi Roti Ekaristi yang menopang kita untuk selama-lamanya. Dengan iman yang penuh sukacita, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk melipatgandakan anugerah-Nya di antara kita demi kebaikan semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BANDARA INTERNATIONAL BAMENDA (KAMERUN) 16 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36.

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

 

Sebagai seorang peziarah perdamaian dan persatuan, mengunjungi wilayahmu dan, yang terpenting, ambil bagian dalam perjalanan, perjuangan, dan pengharapanmu merupakan sebuah sukacita bagi saya.

 

Perayaan meriah yang menyertai liturgimu dan sukacita yang mengalir dari doa-doa yang kamu panjatkan adalah tanda penyerahan dirimu yang penuh kepercayaan kepada Allah, pengharapanmu yang tak tergoyahkan dan keterikatanmu, dengan segenap kekuatanmu, pada kasih Bapa yang mendekat dan memandang dengan bela rasa penderitaan anak-anak-Nya. Dalam Mazmur, kita bersama-sama menyanyikan kepercayaan kita kepada Allah, di mana kita dipanggil untuk memperbaruinya hari ini: “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang remuk hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang patah semangat” (Mzm. 34:19).

 

Saudara-saudari, ada banyak situasi dalam hidup yang menghancurkan hati kita dan menjerumuskan kita ke dalam kesedihan. Pengharapan kita akan masa depan yang damai dan rekonsiliasi, di mana martabat setiap manusia dihormati dan hak-hak dasarnya dijamin, terus-menerus dikecewakan oleh banyak masalah yang melanda negeri yang indah ini. Termasuk di antaranya berbagai bentuk kemiskinan, yang bahkan baru-baru ini telah memengaruhi begitu banyak orang di tengah krisis pangan yang terus berlangsung. Ada korupsi moral, sosial, dan politik, yang terlihat terutama dalam pengelolaan kekayaan, yang menghambat pengembangan lembaga dan infrastruktur. Kita juga melihat masalah serius yang memengaruhi sistem pendidikan dan kesehatan, serta migrasi besar-besaran ke negara asing, khususnya kaum muda. Ditambah masalah internal ini, yang sering kali dipicu oleh kebencian dan kekerasan, kerusakan yang disebabkan dari luar, oleh mereka yang, atas nama keuntungan, terus menguasai benua Afrika dengan mengeksploitasi dan menjarahnya,

 

Semua ini dapat membuat kita merasa tidak berdaya dan mengurangi kepercayaan diri kita. Namun inilah saatnya untuk berubah, mengubah rupa kisah negara ini. Waktunya telah tiba, hari ini dan bukan besok, sekarang dan bukan di masa depan, untuk memulihkan mozaik persatuan dengan menyatukan keragaman dan kekayaan negara dan benua ini. Dengan cara ini, akan mungkin untuk menciptakan masyarakat di mana perdamaian dan rekonsiliasi berkuasa.

 

Memang benar bahwa ketika suatu situasi tetap sama untuk beberapa waktu, ada risiko menyerah pada keputusasaan dan ketidakberdayaan, karena kita tidak mengharapkan sesuatu yang baru. Namun sabda Allah membuka kemungkinan baru dan membawa perubahan rupa serta pemulihan. Sabda Allah mampu menggerakkan hati kita, menantang jalannya peristiwa normal yang dengan mudah kita biasakan, dan menjadikan kita agen perubahan yang aktif. Marilah kita ingat hal ini: Allah adalah kebaruan, Allah menciptakan hal-hal baru, Allah menjadikan kita orang-orang yang berani yang, ketika menghadapi kejahatan, membangun kebaikan.

 

Kita melihat hal ini dalam kesaksian para Rasul, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Pertama. Ketika para penguasa Mahkamah Agama menginterogasi, menegur dan mengancam mereka karena mereka secara terbuka memberitakan Kristus, para Rasul menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu bunuh dengan menggantung Dia pada kayu salib” (Kis. 5:29-30).

 

Keberanian para Rasul menjadi suara hati nurani, sebuah nubuat, sebuah kecaman terhadap kejahatan, dan ini adalah langkah pertama menuju perubahan. Sesungguhnya, taat kepada Allah bukan tindakan penyerahan diri yang menindas kita atau meniadakan kebebasan kita; sebaliknya, taat kepada Allah membebaskan kita, karena berarti mempercayakan hidup kita kepada-Nya dan membiarkan sabda-Nya menginspirasi cara kita berpikir dan bertindak. Demikianlah, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Injil, yang menceritakan bagian akhir dialog antara Yesus dan Nikodemus, “siapa yang berasal dari bumi adalah dari bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya” (Yoh 3:31). Mereka yang taat kepada Allah daripada kepada manusia dan berpikir secara duniawi menemukan kembali kebebasan batin mereka, berhasil menemukan nilai kebaikan dan tidak menyerah pada kejahatan. Mereka menemukan kembali jalan hidup mereka dan menjadi pembangun perdamaian dan persaudaraan.

 

Saudara-saudari, penghiburan bagi hati yang hancur dan pengharapan akan perubahan dalam masyarakat dimungkinkan jika kita mempercayakan diri kepada Allah dan sabda-Nya. Namun, kita harus selalu menyimpan nasihat Rasul Petrus di dalam hati kita dan mengingatnya: taatilah Allah, bukan manusia. Taatilah Dia, karena hanya Dialah Allah. Hal ini mengajak kita untuk memupuk inkulturasi Injil. Hal ini juga mengajak kita untuk waspada, bahkan terhadap praktik keagamaan kita, agar tidak jatuh ke dalam perangkap mencampurkan iman Katolik dengan kepercayaan dan tradisi lain yang bersifat esoteris atau Gnostik, yang pada kenyataannya seringkali melayani tujuan politik dan ekonomi. Hanya Allah yang membebaskan kita; hanya sabda-Nya yang membuka jalan menuju kebebasan; hanya Roh-Nya yang menjadikan kita manusia baru yang mampu mengubah negeri ini.

 

Saya menyertaimu dengan doa yang tiada henti dan memberkati khususnya Gereja yang berkumpul di sini: banyak imam, misionaris, biarawan/biarawati, dan umat awam yang semuanya bekerja untuk menjadi sumber penghiburan dan pengharapan. Saya mendorongmu untuk terus menempuh jalan ini dan mempercayakanmu kepada perantaraan Santa Maria, Ratu Para Rasul dan Bunda Gereja.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 16 April 2026)