Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RABU ABU DI BASILIKA SANTA SABINA, PEGUNUNGAN AVENTINE 18 Februari 2026

Bacaan Ekaristi : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pada awal setiap masa liturgi, dengan penuh sukacita kita menemukan kembali rahmat menjadi Gereja, yaitu sebuah komunitas yang berkumpul untuk mendengarkan sabda Allah. Suara Nabi Yo'el berbicara kepada kita, membawa kita masing-masing keluar dari keterasingan kita dan menunjukkan kepada kita kebutuhan mendesak akan pertobatan, yang selalu bersifat pribadi dan publik: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu” (2:16). Ia menyebutkan orang-orang yang paling rapuh dan paling tidak cocok untuk pertemuan besar, mereka yang ketidakhadirannya mudah dibenarkan. Nabi kemudian merujuk kepada suami dan istri: ia tampaknya memanggil mereka dari privasi kehidupan perkawinan mereka, agar mereka merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar. Kemudian ia beralih kepada para imam, yang sudah mendapati diri mereka — hampir karena kewajiban — “di antara serambi depan dan mezbah” (ayat 17). Mereka diundang untuk menangis dan mengungkapkan kata-kata yang tepat ini atas nama semua orang: “Ya Tuhan, sayangilah umat-Mu!” (idem).

 

Bahkan hingga hari ini, Masa Prapaskah tetap menjadi waktu yang penuh kekuatan untuk kebersamaan: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah” (Yoel 2:16). Kita tahu bahwa semakin sulit untuk mengumpulkan orang-orang dan membuat mereka merasa seperti sebuah komunitas — bukan dalam cara yang nasionalistik dan agresif, tetapi dalam persekutuan di mana kita masing-masing menemukan tempatnya. Sesungguhnya, selama Masa Prapaskah, terbentuk umat yang mengakui dosa-dosanya. Dosa-dosa ini adalah kejahatan yang bukan berasal dari musuh yang dianggap, tetapi menimpa hati kita, dan ada di dalam diri kita. Kita perlu menanggapinya dengan berani menerima tanggung jawab atasnya. Lebih jauh lagi, kita harus menerima bahwa meskipun bertentangan dengan budaya arus utama, sikap ini merupakan pilihan yang otentik, jujur, dan menarik, terutama di zaman kita, ketika begitu mudah untuk merasa tidak berdaya di hadapan dunia yang berada dalam bara. Sesungguhnya, Gereja ada sebagai komunitas saksi yang mengakui dosa-dosa mereka.

 

Tentu saja, meskipun bersifat pribadi, dosa mengambil bentuk dalam konteks kehidupan nyata dan virtual, dalam sikap yang kita adopsi terhadap satu sama lain yang saling memengaruhi kita, dan seringkali dalam kenyataan "struktur dosa" ekonomi, budaya, politik, dan bahkan agama. Kitab Suci mengajarkan kita bahwa menentang penyembahan berhala dengan penyembahan kepada Allah yang hidup berarti berani untuk bebas, dan menemukan kembali kebebasan melalui sebuah eksodus, sebuah perjalanan, di mana kita tidak lagi lumpuh, kaku, atau puas dengan posisi kita, tetapi berkumpul bersama untuk bergerak dan berubah. Betapa langkanya menemukan orang dewasa yang bertobat — individu, pelaku usaha, dan lembaga yang mengakui bahwa mereka telah berbuat salah!

 

Hari ini, kita sedang merefleksikan secara tepat kemungkinan pertobatan ini. Memang, bukan suatu kebetulan bahwa, bahkan dalam konteks sekuler, banyak kaum muda, lebih dari sebelumnya, terbuka terhadap undangan Hari Rabu Abu. Kaum muda khususnya memahami dengan jelas bahwa hidup yang adil itu mungkin, dan bahwa harus ada pertanggungjawaban atas kesalahan di dalam Gereja dan dunia. Karena itu, kita harus mulai dari mana kita bisa, dengan orang-orang di sekitar kita. “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2Kor 6:2). Karena itu, marilah kita merangkul makna misioner Masa Prapaskah, bukan dengan cara yang mengalihkan perhatian kita dari upaya individu kita, tetapi dengan cara memperkenalkan masa ini kepada banyak orang yang gelisah dan berkehendak baik yang mencari cara otentik untuk memperbarui hidup mereka, dalam konteks Kerajaan Allah dan keadilan-Nya.

 

“Mengapa dikatakan di antara bangsa-bangsa: ‘Di mana Allah mereka?’” (Yoel 2:17). Pertanyaan nabi Yo'el adalah sebuah peringatan. Masa Prapaskah juga mengingatkan kita tentang apa yang orang lain pikirkan tentang kita, terutama mereka yang mengamati umat Allah dari luar. Masa Prapaskah mendorong kita untuk mengubah arah — pertobatan — yang membuat pemberitaan kita semakin dapat dipercaya.

 

Enam puluh tahun yang lalu, beberapa pekan setelah berakhirnya Konsili Vatikan II, Santo Paulus VI memutuskan untuk merayakan Ritus Abu secara terbuka selama Audiensi Umum di Basilika Santo Petrus, sehingga tindakan yang akan kita lakukan hari ini dapat dilihat oleh semua orang. Ia menyebutnya sebagai "upacara pertobatan yang keras dan mencolok" (Paulus VI, Audiensi Umum, 23 Februari 1966) yang menentang akal sehat dan sekaligus menjawab tuntutan budaya kita. Ia berkata: "Di zaman kita sekarang, kita mungkin bertanya pada diri sendiri apakah pedagogi ini masih dapat dipahami. Kita menjawab dengan tegas, karena ini adalah pedagogi yang realistis. Sebuah pengingat yang keras akan kebenaran. Kita dibawa kepada persepsi yang akurat tentang keberadaan dan takdir kita."

 

Paulus VI mengatakan bahwa "pedagogi pertobatan ini mengejutkan manusia modern dalam dua hal": yang pertama adalah "kapasitasnya yang luar biasa untuk khayalan, sugesti diri, dan penipuan diri yang sistematis tentang kenyataan hidup dan nilainya." Aspek kedua adalah “pesimisme mendasar” yang ditemukan Paulus VI di mana-mana: “Sebagian besar materi yang ditawarkan kepada kita saat ini oleh filsafat, sastra, dan hiburan,” katanya, “berakhir dengan menyatakan kesia-siaan yang tak terhindarkan dari segala sesuatu, kesedihan hidup yang luar biasa, metafisika absurditas dan kehampaan. Materi ini merupakan pembenaran atas penggunaan abu.”

 

Hari ini, kita dapat menyadari bahwa kata-katanya bersifat kenabian karena kita melihat dalam abu yang ditorehkan pada dahi kita beban dunia yang terang benderang, beban seluruh kota yang hancur oleh perang. Ini juga tercermin dalam abu hukum internasional dan keadilan antarbangsa, abu seluruh ekosistem dan kerukunan antarbangsa, abu pemikiran kritis dan kearifan lokal kuno, abu rasa sakral yang bersemayam di setiap ciptaan.

 

“Di mana Allah mereka?”, tanya bangsa-bangsa itu pada diri mereka sendiri. Ya, sahabat-sahabatku, sejarah, dan terlebih lagi, hati nurani kita sendiri, meminta kita untuk menyebut kematian apa adanya, dan membawa bekasnya di dalam diri kita seraya memberi kesaksian tentang kebangkitan. Kita mengakui dosa-dosa kita agar kita dapat bertobat; hal ini sendiri merupakan tanda dan kesaksian kebangkitan. Sesungguhnya, itu berarti kita tidak akan tetap berada di antara abu, tetapi akan bangkit dan membangun kembali. Kemudian Trihari Suci, yang akan kita rayakan sebagai puncak perjalanan Masa Prapaskah, akan melepaskan semua keindahan dan maknanya. Hal ini akan terjadi jika kita berpartisipasi, melalui pertobatan, dalam peralihan dari kematian menuju kehidupan, dari ketidakberdayaan menuju kemungkinan-kemungkinan yang diberikan Allah.

 

Para martir zaman dahulu dan zaman sekarang bersinar sebagai pelopor dalam perjalanan kita menuju Paskah. Tradisi Romawi kuno tentang perhentian Masa Prapaskah — yang dimulai hari ini dengan perhentian pertama — sangatlah bermanfaat: tradisi ini merujuk pada pergerakan, sebagai peziarah, dan pada perhentian, statio, pada "peringatan" para martir, di mana basilika-basilika Roma berdiri. Bukankah ini mungkin sebuah undangan untuk mengikuti jejak para saksi iman yang mengagumkan, yang kini dapat ditemukan di seluruh dunia? Marilah kita mengingat tempat, kisah, dan nama mereka yang telah memilih jalan Sabda Bahagia dan menghidupinya hingga akhir. Kehidupan mereka adalah benih yang tak terhitung jumlahnya yang, bahkan ketika tampaknya tersebar, terkubur di bumi dan mempersiapkan panen berlimpah yang merupakan panggilan kita untuk mengumpulkannya. Masa Prapaskah, sebagaimana telah kita lihat dalam Bacaan Injil, membebaskan kita dari keinginan untuk dilihat dengan segala cara (bdk. Mat 6:2,5,16), dan sebaliknya mengajarkan kita untuk melihat apa yang sedang lahir, apa yang sedang tumbuh, dan mendorong kita untuk melayaninya. Itulah keselarasan mendalam yang terjalin dengan Allah kehidupan, Bapa kita dan Bapa segala sesuatu, dalam rahasia orang-orang yang berpuasa, berdoa, dan mengasihi. Marilah kita mengarahkan kembali, dengan kesungguhan dan penuh sukacita, seluruh hidup dan hati kita kepada Allah.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Februari 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA VI DI PAROKI SANTA MARIA RATU DAMAI (OSTIA LIDO) 15 Februari 2026

Bacaan Ekaristi : Sir. 15:15-20; Mzm. 119:1-2.4-5.17-18.33-34; 1Kor. 2:6-10; Mat. 5:17-37.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sangat gembira berada di sini dan bersama komunitasmu mengalami peristiwa yang menjadi asal nama "Minggu". "Minggu" adalah "hari Tuhan" karena Yesus yang bangkit datang di antara kita, mendengarkan kita dan berbicara kepada kita, memberi kita makan dan mengutus kita. Demikianlah, dalam Injil yang kita dengar hari ini, Yesus memberitakan kepada kita "hukum-Nya yang baru": bukan hanya ajaran, tetapi kekuatan untuk melaksanakannya. Rahmat Roh Kudus yang secara tak terhapuskan menuliskan di dalam hati kita dan menggenapi perintah-perintah Perjanjian Lama (bdk. Mat 5:17-37).

 

Melalui Dasa Firman, setelah keluar dari Mesir, Allah menetapkan perjanjian dengan umat-Nya, menawarkan rencana hidup dan jalan keselamatan. Oleh karena itu, "Dasa Firman" ditempatkan dan dipahami dalam jalan pembebasan, berkatnya sekelompok suku yang terpecah dan tertindas diubah menjadi bangsa yang bersatu dan merdeka. Perintah-perintah itu tampak, dalam perjalanan panjang melalui padang gurun, sebagai terang yang menunjukkan jalan; dan ketaatan terhadap hukum-hukum itu dipahami dan dilakukan bukan hanya sebagai pemenuhan formal dari perintah-perintah, tetapi lebih sebagai tindakan kasih, sebagai bentuk rasa syukur dan kepercayaan kepada Allah perjanjian. Oleh karena itu, hukum yang diberikan Allah kepada umat-Nya tidak bertentangan dengan kebebasan mereka, tetapi sebaliknya merupakan syarat bagi berkembangnya kebebasan tersebut.

 

Oleh karena itu, Bacaan Pertama, yang diambil dari Kitab Putra Sirakh (bdk. 15:16-21), dan Mazmur 119, Mazmur Tanggapan yang kita nyanyikan, mengajak kita untuk melihat perintah Allah bukan sebagai hukum yang menindas, tetapi sebagai pedagogi-Nya bagi umat manusia dalam mencari kepenuhan hidup dan kebebasan.

 

Dalam hal ini, di awal Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, kita menemukan salah satu ungkapan terindah dari Konsili Vatikan II, di mana kita hampir merasakan jantung Allah berdetak melalui jantung Gereja. Konsili mengatakan: "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka." (Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 1).

 

Nubuat keselamatan ini diungkapkan secara berlimpah dalam khotbah Yesus, yang dimulai di tepi Danau Galilea dengan penyampaian Sabda Bahagia (bdk. Mat 5:1-12) dan berlanjut dengan menunjukkan makna penuh dan otentik dari hukum Allah. Tuhan berkata, "Kamu telah mendengar bahwa kepada nenek moyang kita dikatakan: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Namun, Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci-maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala." (Mat 5:21-22). Dengan demikian, Ia menunjukkan, sebagai jalan menuju pemenuhan manusia, kesetiaan kepada Allah yang didasarkan pada rasa hormat dan kepedulian terhadap sesama dalam kesucian mereka yang tak ternodai, yang harus dipupuk, bahkan sebelum gerak tubuh dan kata-kata, di dalam hati. Di sanalah, sesungguhnya, perasaan-perasaan paling mulia lahir, tetapi juga penodaan yang paling menyakitkan: penutupan diri, iri hati, cemburu, sehingga siapa pun yang berpikir buruk tentang saudaranya, menyimpan perasaan buruk terhadapnya, seolah-olah di dalam hatinya ia sudah membunuhnya. Bukan suatu kebetulan Santo Yohanes menyatakan, "Siapa yang membenci saudaranya adalah pembunuh manusia" (1Yoh 3:15).

 

Alangkah benarnya kata-kata ini! Dan ketika kita sendiri mendapati diri kita menghakimi dan meremehkan orang lain, marilah kita ingat bahwa kejahatan yang kita lihat di dunia berakar tepat di sana, di mana hati menjadi dingin, keras, dan tanpa belas kasihan.

 

Kita mengalaminya di sini juga, di Ostia, di mana, sayangnya, kekerasan ada dan menyakitkan, kadang-kadang berakar di kalangan kaum muda dan remaja, mungkin dipicu oleh penyalahgunaan narkoba; atau di tangan organisasi kriminal yang mengeksploitasi orang dengan melibatkan mereka dalam kejahatan dan mengejar kepentingan yang tidak adil dengan metode ilegal dan tidak bermoral.

 

Menghadapi fenomena ini, saya mengajak kamu semua, sebagai komunitas paroki, bersama dengan organisasi-organisasi berbudi luhur lainnya yang beroperasi di lingkungan ini, untuk terus mendedikasikan diri dengan murah hati dan berani untuk menabur benih Injil yang baik di jalan dan rumahmu. Jangan menyerah pada budaya pelecehan dan ketidakadilan. Sebaliknya, sebarkan rasa hormat dan kerukunan, dimulai dengan bahasa yang menenangkan dan kemudian menginvestasikan energi dan sumber daya dalam pendidikan, terutama untuk anak-anak dan kaum muda. Ya, semoga mereka belajar kejujuran, penerimaan, dan kasih yang melampaui batas-batas di paroki; belajar untuk membantu bukan hanya mereka yang membalas budi, dan menyapa bukan hanya mereka yang menyapa, tetapi mencakup semua orang dengan bebas dan tanpa pamrih. Belajarlah keselarasan antara iman dan kehidupan, seperti yang diajarkan Yesus kepada kita ketika Ia berkata, “Jikalau engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat bahwa saudaramu sakit hati terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-24).

 

Saudara-saudari terkasih, semoga ini menjadi tujuan usaha dan aktivitasmu, demi kebaikan orang-orang yang dekat maupun jauh, sehingga bahkan mereka yang diperbudak oleh kejahatan dapat bertemu, melalui dirimu, dengan Allah kasih, satu-satunya yang membebaskan hati dan membawa kebahagiaan sejati.

 

Seratus sepuluh tahun yang lalu, Paus Benediktus XV menamai paroki ini Santa Maria Ratu Damai. Beliau melakukannya di puncak Perang Dunia I, membayangkan komunitasmu sebagai secercah cahaya di langit kelabu perang. Sayangnya, seiring waktu, banyak awan masih menggelapkan dunia, dengan menyebarkan pola pikir yang bertentangan dengan Injil, pola pikir yang mengagungkan supremasi yang terkuat, mendorong kesombongan, dan memicu godaan kemenangan dengan segala cara, tuli terhadap jeritan orang-orang yang menderita dan tak berdaya.

 

Marilah kita lawan penyimpangan ini dengan kekuatan kelembutan yang melucuti senjata, terus memohon perdamaian, dan menyambut serta memupuk karunianya dengan kegigihan dan kerendahan hati. Santo Agustinus mengajarkan bahwa "tidak sulit untuk memiliki perdamaian [...]. Jika [...] kita ingin memilikinya, perdamaian itu ada di sana, dalam jangkauan kita, dan kita dapat memilikinya tanpa usaha apa pun" (Sermo 357, 1). Dan ini karena damai kita adalah Kristus, yang dicapai dengan membiarkan diri kita ditaklukkan dan diubah oleh-Nya, dengan membuka hati kita kepada-Nya, dan dengan membukanya, dengan rahmat-Nya, kepada mereka yang ditempatkan-Nya di jalan kita.

 

Lakukanlah ini juga, saudara-saudari terkasih, hari demi hari. Lakukanlah bersama-sama, sebagai sebuah komunitas, dengan bantuan Maria, Ratu Damai. Semoga ia, Bunda Allah dan Bunda kita, selalu menjaga dan melindungi kita. Amin.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Februari 2026).

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH (HARI HIDUP BAKTI SEDUNIA KE-30) 3 Februari 2026

Bacaan Ekaristi : Mal 3:1-4; Mzm 24:7.8.9.10; Luk 2:22-40.

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini, pada Pesta Yesus Dipersembahkan Di Bait Allah, Bacaan Injil menceritakan bagaimana Simeon dan Hana mengenali dan memberitakan Yesus sebagai Mesias di Bait Allah (bdk. Luk 2:22-40). Apa yang terungkap di hadapan kita adalah pertemuan antara dua gerakan kasih: kasih Allah, yang datang untuk menyelamatkan umat-Nya, dan kasih umat manusia, yang menantikan kedatangan-Nya dengan iman yang teguh.

 

Dari pihak Allah, fakta bahwa Yesus dipersembahkan sebagai anak dari keluarga miskin di tengah kemegahan Yerusalem menunjukkan kepada kita bagaimana Ia menawarkan diri-Nya kepada kita dengan penuh hormat terhadap kebebasan kita, sepenuhnya ambil bagian dalam kemiskinan kita. Tidak ada paksaan dalam tindakan-Nya; hanya ada kekuatan yang melucuti senjata dari kemurahan hati-Nya yang tanpa senjata. Di sisi lain, pengharapan umat manusia — khususnya umat Israel — menemukan ungkapan penuh dalam diri dua orang lanjut usia: Simeon dan Hana. Momen ini mewakili puncak dari sejarah panjang keselamatan yang membentang dari Taman Firdaus hingga pelataran Bait Allah — sebuah sejarah yang ditandai oleh terang dan gelap, kegagalan dan pembaharuan, namun selalu didorong oleh satu keinginan vital: untuk memulihkan persekutuan penuh antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Dan demikianlah, hanya beberapa langkah dari "Tempat Mahakudus," Sang Air Mancur Cahaya menawarkan diri-Nya sebagai lentera bagi dunia, dan Yang Tak Terbatas memberikan diri-Nya kepada yang terbatas dengan cara yang sangat rendah hati sehingga hampir tak disadari.

 

Hari ini kita merayakan Hari Hidup Bakti Sedunia ke-30 dengan mengingat adegan ini, mengakuinya sebagai gambaran perutusan para pelaku hidup bakti di dalam Gereja dan dunia. Paus Fransiskus mendesaknya, “‘Bangkitkanlah dunia,’ karena tanda khas kehidupan kaum hidup bakti adalah nubuat” (Surat Apostolik kepada Para Pelaku Hidup Bakti, 21 November 2014, II, 2). Saudara-saudari terkasih, Gereja memintamu untuk menjadi nabi — utusan yang mewartakan kehadiran Tuhan dan mempersiapkan jalan bagi-Nya. Dengan meminjam ungkapan Nabi Maleakhi, yang kita dengar dalam Bacaan Pertama, kamu diundang untuk menjadi, melalui “pengosongan” diri sepenuhnya bagi Tuhan, perbaraan api pemurni dan bejana sabun penatu (bdk. Mal 3:1-3). Melalui persembahan ini, Kristus — satu-satunya utusan abadi perjanjian, yang tetap hadir di antara umat manusia hari ini — dapat melunakkan dan menyucikan hati dengan kasih, rahmat, dan belas kasihan-Nya. Kamu dipanggil untuk perutusan ini terutama melalui pengurbanan hidupmu, yang berakar pada doa dan kesediaan untuk menghabiskan diri demi karya kegiatan (bdk. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, 44).

 

Para pendiri tarekatmu, yang taat pada tindakan Roh Kudus, menawarkan kepadamu teladan yang luar biasa tentang bagaimana memenuhi amanat ini dengan setia dan efektif. Hidup dalam ketegangan yang terus menerus antara bumi dan surga, mereka membiarkan diri mereka dibimbing dengan iman dan keberanian. Berangkat dari meja Ekaristi, sebagian dari mereka dibawa ke keheningan biara, sebagian lainnya ke tuntutan kerasulan; sebagian ke ruang kelas sekolah, sebagian lainnya ke kemiskinan jalanan atau jerih payah perutusan. Iman ini juga yang mendorong mereka untuk kembali, berulang kali, dengan rendah hati dan bijaksana, ke kaki Salib dan Tabernakel, di mana mereka mempersembahkan segalanya dan menemukan dalam Allah baik sumber maupun tujuan dari semua tindakan mereka. Melalui kuasa rahmat, mereka juga memulai usaha-usaha yang berbahaya. Mereka menjadi kehadiran yang penuh doa di lingkungan yang bermusuhan atau acuh tak acuh; tangan yang murah hati dan bahu yang ramah di tengah kemerosotan dan pengabaian; dan saksi perdamaian dan rekonsiliasi dalam situasi yang ditandai dengan kekerasan dan kebencian. Mereka siap menanggung konsekuensi melawan arus, menjadi, di dalam Kristus, sebuah "tanda yang menimbulkan perbantahan" (Luk 2:34), bahkan kadang-kadang sampai pada titik kemartiran.

 

Paus Benediktus XVI menulis bahwa “penafsiran Kitab Suci akan tetap tidak lengkap jika tidak mencakup mendengarkan mereka yang benar-benar menghidupi sabda Allah” (Seruan Apostolik Pascasinodal Verbum Domini, 48). Hari ini, kita menghormati saudara-saudari kita yang telah mendahului kita sebagai pelaku utama “tradisi kenabian ini, di mana sabda Allah menempatkan kehidupan kenabian itu sendiri untuk melayaninya” (idem, 49). Kita melakukannya terutama dengan meneruskan warisan mereka.



Bahkan hari ini, melalui pengakuanmu akan nasihat-nasihat Injil dan banyak karya kegiatan yang kamu lakukan, kamu dipanggil untuk memberi kesaksian tentang kehadiran penyelamatan Allah dalam sejarah bagi semua bangsa (bdk. Luk 2:30-31), bahkan dalam masyarakat di mana pemahaman yang salah dan mereduksi tentang pribadi manusia semakin memperlebar jurang antara iman dan kehidupan. Kamu dipanggil untuk bersaksi bahwa kaum muda, kaum tua, orang miskin, orang sakit, dan orang yang dipenjara menduduki tempat suci terutama di altar Allah dan di dalam hati-Nya. Pada saat yang sama, mereka masing-masing adalah tempat kudus kehadiran Allah yang tak dapat diganggu gugat, yang di hadapan-Nya kita harus berlutut, untuk berjumpa, menyembah, dan memuliakan-Nya.

 

Bukti hal ini dapat dilihat dalam banyaknya “pos terdepan Injil” yang telah didirikan oleh komunitasmu di berbagai konteks yang menantang, bahkan di tengah konflik. Komunitas-komunitas ini tidak meninggalkan umat mereka, juga tidak melarikan diri; mereka tetap tinggal, seringkali tanpa perlindungan sama sekali, sebagai pengingat hidup — lebih mengesankan daripada kata-kata — tentang kesucian hidup yang tak tergoyahkan dalam kondisi yang paling rentan. Bahkan di tempat di mana senjata bergemuruh dan kesombongan, kepentingan diri sendiri, dan kekerasan tampaknya berkuasa, kehadiran mereka menyatakan sabda Yesus: “Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari yang kecil ini. Sebab, Malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:10).

 

Dalam terang ini, saya ingin merefleksikan doa Simeon yang sudah lanjut usia, yang kita ucapkan setiap hari: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang dari-Mu” (Luk 2:29-30). Kehidupan kaum hidup bakti, dalam ketenangan dan keterpisahannya dari segala sesuatu yang fana, mengungkapkan ikatan yang tak terpisahkan antara kepedulian yang tulus terhadap kenyataan duniawi dan pengharapan yang dipenuhi kasih akan apa yang kekal — hal-hal baik yang telah dipilih dalam hidup ini sebagai tujuan akhir dan definitif, dan dengan demikian mampu memberi makna bagi segala sesuatu yang lainnya. Simeon mengenali keselamatan dalam diri Yesus dan berdiri bebas di hadapan hidup dan mati. Sebagai seorang yang “benar dan saleh” (Luk 2:25), bersama dengan Hana, yang “tidak pernah meninggalkan Bait Allah” (ayat 37), ia tetap memusatkan pandangannya pada janji dunia yang akan datang.

 

Konsili Vatikan II mengingatkan kita bahwa “Gereja baru mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga ... bila bersama dengan umat manusia dunia semesta pun ... akan diperbaharui secara sempurna dalam Kristus” (Lumen Gentium, 48). Visi kenabian ini juga menyangkutmu: orang-orang yang teguh berakar pada kenyataan masa kini, namun “selalu memperhatikan hal-hal yang di atas” (Misa Romawi, Doa Kolekta untuk Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga). Kristus wafat dan bangkit untuk “membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut” (Ibr 2:15). Melalui komitmenmu untuk mengikuti-Nya lebih dekat — turut serta dalam pengosongan diri-Nya dan dalam hidup-Nya di dalam Roh (bdk. Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius Perfectae Caritatis, 5) — kamu dapat menunjukkan kepada dunia jalan untuk mengatasi konflik, menabur persaudaraan melalui kebebasan orang-orang yang mengasihi dan mengampuni tanpa batas.

 

Saudara-saudari terkasih yang telah mengikrarkan kaul, hari ini Gereja mengucap syukur kepada Tuhan dan kepadamu atas kehadiranmu. Gereja mendorongmu untuk menjadi ragi perdamaian dan tanda pengharapan di mana pun penyelenggaraan ilahi menuntunmu. Saat kita memperbarui persembahan hidup kita kepada Allah di atas altar, kita mempercayakan karyamu kepada perantaraan Santa Maria, bersama dengan semua pendiri tarekatmu yang kudus.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Februari 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA PESTA PEMBAPTISAN TUHAN 11 Januari 2026

Bacaan Ekaristi : Yes. 42:1-4,6-7; Mzm. 29:1a,2,3ac-4,3b,9b-10; Kis. 10:34-38; Mat. 3:13-17.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Ketika Tuhan memasuki sejarah, Ia mendekati kehidupan setiap orang dengan hati yang terbuka dan rendah hati. Ia mencari tatapan kita dengan tatapan-Nya sendiri, penuh kasih, dan berbicara dengan kita, mengungkapkan Sabda keselamatan. Menjadi manusia, Putra Allah memungkinkan bagi setiap orang suatu kemungkinan yang mengejutkan, mengawali zaman baru yang tak terduga, bahkan bagi para nabi.

 

Yohanes Pembaptis segera menyadari hal ini dan bertanya kepada Yesus, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, tetapi Engkau yang datang kepadaku?” (Mat 3:14). Seperti terang dalam kegelapan, Tuhan membiarkan diri-Nya ditemukan di tempat yang paling tidak kita duga: Yang Maha Kudus di antara orang berdosa yang ingin tinggal di antara kita tanpa menjaga jarak, tetapi sepenuhnya merangkul semua yang manusiawi. “Biarlah hal itu terjadi sekarang,” jawab Yesus kepada Yohanes, “karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kebenaran” (ayat 15). Kebenaran apa? Kebenaran Allah, yang dalam pembaptisan Yesus menghasilkan pembenaran kita: dalam belas kasihan-Nya yang tak terbatas, Bapa menjadikan kita benar melalui Kristus-Nya, satu-satunya Juruselamat semua orang. Bagaimana ini terjadi? Yesus yang dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan menjadikan tindakan ini sebagai tanda baru kematian dan kebangkitan, pengampunan dan persekutuan. Inilah sakramen yang kita rayakan hari ini untuk anak-anak-Mu ini: karena Allah mengasihi mereka, mereka menjadi umat kristiani, saudara-saudari kita.

 

Anak-anak yang kini kamu gendong telah berubah menjadi ciptaan baru. Sama seperti mereka menerima kehidupan darimu, orang tua mereka, kini mereka menerima makna untuk menjalani hidup: iman. Ketika kita tahu sesuatu itu penting, kita segera mencarinya untuk orang-orang yang kita cintai. Siapa di antara kita yang akan meninggalkan bayi yang baru lahir tanpa pakaian atau makanan, menunggu mereka memilih cara berpakaian dan apa yang akan dimakan ketika mereka dewasa? Saudara-saudari terkasih, jika makanan dan pakaian diperlukan untuk hidup, iman bahkan lebih diperlukan, karena bersama Allah, hidup menemukan keselamatan.

 

Kasih ilahi-Nya terwujud di bumi melalui dirimu, para ibu dan ayah, yang memohon iman bagi anak-anakmu. Tentu, akan datang hari ketika mereka menjadi terlalu berat untuk digendong, dan akan datang pula hari ketika merekalah yang akan menopangmu. Semoga pembaptisan, yang menyatukan kita dalam satu keluarga Gereja, menguduskan seluruh keluargamu setiap saat, memberikan kekuatan dan keteguhan pada kasih sayang yang mengikatmu bersama.

 

Gerakan-gerakan yang akan kita lakukan sebentar lagi adalah kesaksian yang indah akan hal ini: air dari bejana baptis adalah pembasuhan dalam Roh, yang menyucikan kita dari segala dosa; pakaian putih adalah busana baru yang diberikan Allah Bapa kepada kita untuk pesta abadi Kerajaan-Nya; lilin yang dinyalakan dari lilin Paskah adalah terang Kristus yang bangkit, yang menerangi jalan kita. Saya berharap kamu mengikutinya dengan sukacita selama tahun yang baru saja dimulai dan sepanjang hidupmu, dengan keyakinan bahwa Tuhan akan selalu menyertai langkahmu.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Januari 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA KONSISTORI LUAR BIASA 8 Januari 2026

Bacaan Ekaristi : 1Yoh 4:7-10; Mzm 72:2.3-4ab.7-8; Mrk 6:34-44.

 

Saudara-saudara yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah” (1Yoh 4:7). Liturgi menghadirkan nasihat ini di hadapan kita saat kita merayakan konsistori luar biasa, suatu momen rahmat di mana persatuan kita dalam pelayanan Gereja menemukan ungkapannya.

 

Sebagaimana kita ketahui, kata "konsistori" (consistorium, atau “sidang”) dapat dipahami melalui akar kata kerja consistere, yang berarti “berhenti sejenak.” Memang, kita semua telah “berhenti sejenak” untuk berada di sini. Kita telah mengesampingkan kegiatan kita untuk sementara waktu, dan bahkan membatalkan komitmen penting, agar dapat bersama-sama memahami apa yang diminta Tuhan dari kita demi kebaikan umat-Nya. Hal ini dengan sendirinya sudah merupakan tindakan yang sangat penting dan profetik, terutama dalam konteks masyarakat yang hiruk pikuk tempat kita hidup. Konsistori mengingatkan kita akan pentingnya, dalam setiap aspek kehidupan, berhenti sejenak untuk berdoa, mendengarkan, dan melakukan refleksi. Dengan berbuat demikian, kita memfokuskan kembali perhatian kita dengan lebih jelas pada tujuan kita, mengarahkan setiap upaya dan sumber daya pada tujuan, agar kita tidak berisiko berlari tanpa tujuan atau “memukul angin” dengan sia-sia, sebagaimana diperingatkan Rasul Paulus (bdk. 1Kor 9:26). Kita berkumpul bukan untuk mempromosikan “agenda” pribadi atau kelompok, tetapi untuk mempercayakan rencana dan inspirasi kita kepada kebijaksanaan yang melampaui diri kita – “seperti tingginya langit dari bumi” (Yes 55:9) – dan berasal dari Tuhan semata.

 

Oleh karena itu, selama Ekaristi ini kita meletakkan setiap pengharapan dan gagasan kita di atas altar merupakan sesuatu yang penting. Bersama-sama pemberian hidup kita, kita mempersembahkannya kepada Bapa dalam persatuan dengan kurban Kristus, sehingga kita dapat menerimanya kembali dalam keadaan yang dimurnikan, tercerahkan, dipersatukan, dan diubah rupa oleh rahmat menjadi satu Roti. Sesungguhnya, hanya dengan cara inilah kita akan benar-benar tahu bagaimana mendengarkan suara-Nya, dan menyambutnya melalui pemberian kita kepada satu sama lain – yang merupakan alasan utama kita berkumpul.

 

Dewan Kardinal kita, meskipun kaya akan banyak keterampilan dan karunia yang luar biasa, tidak terutama dipanggil untuk menjadi sekadar kelompok pakar, tetapi komunitas iman. Hanya ketika karunia yang dibawa setiap orang dipersembahkan kepada Tuhan dan dikembalikan oleh-Nya, barulah karunia itu akan menghasilkan buah terbesar sesuai dengan rencana-Nya.

 

Lebih jauh lagi, kasih Allah, kasih kita sebagai murid dan rasul, adalah kasih yang “bersifat tritunggal” dan “relasional”. Itulah sumber spiritualitas persekutuan, yang dengannya mempelai Kristus hidup serta ingin menjadi rumah dan sekolah (bdk. Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, 6 Januari 2001, 43). Menyatakan pengharapan bahwa spiritualitas ini akan berkembang pada awal milenium ketiga, Santo Yohanes Paulus II menggambarkannya sebagai “kontemplasi hati akan misteri Tritunggal yang berdiam di dalam diri kita, dan yang cahayanya juga harus dapat kita lihat bersinar di wajah saudara-saudari di sekitar kita” (idem).

 

“Berhenti sejenak” kita, pertama dan terutama, adalah tindakan kasih yang mendalam kepada Allah, Gereja, dan orang-orang di seluruh dunia. Melalui hal ini, kita membiarkan diri kita dibentuk oleh Roh: selain terutama dalam doa dan keheningan, juga dengan saling berhadapan dan mendengarkan. Dalam kebersamaan kita, kita menjadi suara bagi semua orang yang telah dipercayakan Tuhan kepada pelayanan pastoral kita di berbagai belahan dunia. Kita harus menjalani tindakan ini dengan rendah hati dan murah hati, menyadari bahwa kita berada di sini karena rahmat. Selain itu, kita tidak membawa apa pun yang belum kita terima terlebih dahulu sebagai karunia atau talenta, yang tidak boleh disia-siakan, tetapi harus diinvestasikan dengan bijaksana dan teguh hati (bdk. Mat 25:14-30).

 

Santo Leo Agung mengajarkan bahwa “seluruh umat Kristus bersama-sama mengerjakan tugas yang sama, dan semua tingkatan dan golongan … bekerja sama dengan satu Roh yang sama merupakan sesuatu yang agung dan sangat berharga di mata Tuhan.” Dengan cara ini, “orang yang lapar diberi makan, orang yang telanjang diberi pakaian, orang sakit dikunjungi, dan tidak seorang pun mencari kepentingannya sendiri, melainkan kepentingan sesamanya” (Khotbah 88, 4). Inilah semangat yang ingin kita terapkan dalam bekerja bersama: semangat mereka yang menginginkan agar setiap anggota Tubuh Mistik Kristus bekerja sama secara tertib demi kebaikan semua orang (bdk. Ef 4:11–13). Semoga kita sepenuhnya melaksanakan pelayanan kita dengan bermartabat di bawah bimbingan Roh Kudus, dengan senang hati mempersembahkan pekerjaan kita dan melihat hasilnya yang terbaik. Semoga kita juga menerima pekerjaan sesama kita dan bersukacita melihatnya berkembang (bdk. Santo Leo Agung, Khotbah 88, 5).

 

Selama dua milenium, Gereja telah mewujudkan misteri ini dalam keindahannya yang beraneka ragam (bdk. Fransiskus, Ensiklik Fratelli Tutti, 280). Sidang ini sendiri menjadi saksi akan hal itu melalui keanekaragaman asal usul dan zaman kita, dan dalam kesatuan rahmat dan iman yang menyatukan kita dan menjadikan kita bersaudara.

 

Tentu saja, kita berdiri di hadapan "sejumlah besar" umat manusia yang haus akan kebaikan dan perdamaian. Di dunia di mana kepuasan dan kelaparan, kelimpahan dan penderitaan, dan perjuangan untuk bertahan hidup bersama dengan kekosongan keberadaan yang putus asa terus memecah belah dan melukai individu, komunitas, dan bangsa, kita mungkin merasa tidak mampu. Dihadapkan dengan kata-kata Sang Guru, "Kamu harus memberi mereka makan" (Mrk 6:37), kita pun mungkin merasa, seperti para murid, kekurangan sarana yang diperlukan. Namun Yesus mengulangi kepada kita sekali lagi, "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa" (Mrk 6:38). Inilah yang dapat kita lakukan bersama. Kita mungkin tidak selalu menemukan solusi langsung untuk masalah yang kita hadapi, namun di setiap tempat dan keadaan, kita akan dapat saling membantu – dan khususnya, membantu Paus – untuk menemukan "lima roti dan dua ikan" yang selalu disediakan oleh takdir di mana pun anak-anak-Nya meminta pertolongan. Ketika kita menerima karunia-karunia ini, menyerahkannya, menerima dan membagikannya, karunia-karunia itu diperkaya oleh berkat Allah serta iman dan kasih akan semua orang, sehingga tak seorang pun kekurangan apa yang dibutuhkan (bdk. Mrk 6:42).

 

Saudara-saudara terkasih, apa yang kamu persembahkan kepada Gereja melalui pelayananmu, di setiap tingkatan, adalah sesuatu yang mendalam dan sangat pribadi, unik bagi kamu masing-masing dan berharga bagi semua orang. Tanggung jawab yang kamu emban bersama Penerus Petrus memang berat dan menuntut.

 

Karena alasan ini, saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepadamu, dan saya ingin mengakhiri dengan mempercayakan karya dan perutusan kita kepada Tuhan dengan kata-kata Santo Agustinus: “Engkau memberi kami banyak hal ketika kami berdoa, dan segala kebaikan yang kami terima sebelum kami berdoa untuk itu, telah kami terima dari Engkau. Kami juga telah menerima dari Engkau rahmat yang kemudian kami sadari... Ingatlah, Tuhan, ‘bahwa kami hanyalah debu.’ Engkau telah menjadikan manusia dari debu” (Pengakuan-pengakuan, 10, xxxi, 45). Karena itu, kami berkata kepada-Mu: “Berikanlah apa yang Engkau perintahkan, dan perintahkanlah apa yang Engkau kehendaki” (idem).

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Januari 2026)