Bacaan
Ekaristi : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat.
6:1-6,16-18.
Saudara-saudari
terkasih,
Pada
awal setiap masa liturgi, dengan penuh sukacita kita menemukan kembali rahmat
menjadi Gereja, yaitu sebuah komunitas yang berkumpul untuk mendengarkan sabda
Allah. Suara Nabi Yo'el berbicara kepada kita, membawa kita masing-masing
keluar dari keterasingan kita dan menunjukkan kepada kita kebutuhan mendesak
akan pertobatan, yang selalu bersifat pribadi dan publik: “Kumpulkanlah bangsa
ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah
anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu” (2:16). Ia menyebutkan orang-orang
yang paling rapuh dan paling tidak cocok untuk pertemuan besar, mereka yang
ketidakhadirannya mudah dibenarkan. Nabi kemudian merujuk kepada suami dan
istri: ia tampaknya memanggil mereka dari privasi kehidupan perkawinan mereka,
agar mereka merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar. Kemudian ia
beralih kepada para imam, yang sudah mendapati diri mereka — hampir karena
kewajiban — “di antara serambi depan dan mezbah” (ayat 17). Mereka diundang
untuk menangis dan mengungkapkan kata-kata yang tepat ini atas nama semua
orang: “Ya Tuhan, sayangilah umat-Mu!” (idem).
Bahkan
hingga hari ini, Masa Prapaskah tetap menjadi waktu yang penuh kekuatan untuk
kebersamaan: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah” (Yoel 2:16). Kita
tahu bahwa semakin sulit untuk mengumpulkan orang-orang dan membuat mereka
merasa seperti sebuah komunitas — bukan dalam cara yang nasionalistik dan
agresif, tetapi dalam persekutuan di mana kita masing-masing menemukan
tempatnya. Sesungguhnya, selama Masa Prapaskah, terbentuk umat yang mengakui
dosa-dosanya. Dosa-dosa ini adalah kejahatan yang bukan berasal dari musuh yang
dianggap, tetapi menimpa hati kita, dan ada di dalam diri kita. Kita perlu
menanggapinya dengan berani menerima tanggung jawab atasnya. Lebih jauh lagi,
kita harus menerima bahwa meskipun bertentangan dengan budaya arus utama, sikap
ini merupakan pilihan yang otentik, jujur, dan menarik, terutama di zaman kita,
ketika begitu mudah untuk merasa tidak berdaya di hadapan dunia yang berada
dalam bara. Sesungguhnya, Gereja ada sebagai komunitas saksi yang mengakui
dosa-dosa mereka.
Tentu
saja, meskipun bersifat pribadi, dosa mengambil bentuk dalam konteks kehidupan
nyata dan virtual, dalam sikap yang kita adopsi terhadap satu sama lain yang
saling memengaruhi kita, dan seringkali dalam kenyataan "struktur
dosa" ekonomi, budaya, politik, dan bahkan agama. Kitab Suci mengajarkan
kita bahwa menentang penyembahan berhala dengan penyembahan kepada Allah yang
hidup berarti berani untuk bebas, dan menemukan kembali kebebasan melalui
sebuah eksodus, sebuah perjalanan, di mana kita tidak lagi lumpuh, kaku, atau
puas dengan posisi kita, tetapi berkumpul bersama untuk bergerak dan berubah.
Betapa langkanya menemukan orang dewasa yang bertobat — individu, pelaku usaha,
dan lembaga yang mengakui bahwa mereka telah berbuat salah!
Hari
ini, kita sedang merefleksikan secara tepat kemungkinan pertobatan ini. Memang,
bukan suatu kebetulan bahwa, bahkan dalam konteks sekuler, banyak kaum muda,
lebih dari sebelumnya, terbuka terhadap undangan Hari Rabu Abu. Kaum muda
khususnya memahami dengan jelas bahwa hidup yang adil itu mungkin, dan bahwa
harus ada pertanggungjawaban atas kesalahan di dalam Gereja dan dunia. Karena
itu, kita harus mulai dari mana kita bisa, dengan orang-orang di sekitar kita.
“Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini
adalah hari penyelamatan itu” (2Kor 6:2). Karena itu, marilah kita merangkul makna
misioner Masa Prapaskah, bukan dengan cara yang mengalihkan perhatian kita dari
upaya individu kita, tetapi dengan cara memperkenalkan masa ini kepada banyak
orang yang gelisah dan berkehendak baik yang mencari cara otentik untuk
memperbarui hidup mereka, dalam konteks Kerajaan Allah dan keadilan-Nya.
“Mengapa
dikatakan di antara bangsa-bangsa: ‘Di mana Allah mereka?’” (Yoel 2:17).
Pertanyaan nabi Yo'el adalah sebuah peringatan. Masa Prapaskah juga
mengingatkan kita tentang apa yang orang lain pikirkan tentang kita, terutama
mereka yang mengamati umat Allah dari luar. Masa Prapaskah mendorong kita untuk
mengubah arah — pertobatan — yang membuat pemberitaan kita semakin dapat
dipercaya.
Enam
puluh tahun yang lalu, beberapa pekan setelah berakhirnya Konsili Vatikan II,
Santo Paulus VI memutuskan untuk merayakan Ritus Abu secara terbuka selama
Audiensi Umum di Basilika Santo Petrus, sehingga tindakan yang akan kita
lakukan hari ini dapat dilihat oleh semua orang. Ia menyebutnya sebagai
"upacara pertobatan yang keras dan mencolok" (Paulus VI, Audiensi
Umum, 23 Februari 1966) yang menentang akal sehat dan sekaligus menjawab
tuntutan budaya kita. Ia berkata: "Di zaman kita sekarang, kita mungkin
bertanya pada diri sendiri apakah pedagogi ini masih dapat dipahami. Kita
menjawab dengan tegas, karena ini adalah pedagogi yang realistis. Sebuah
pengingat yang keras akan kebenaran. Kita dibawa kepada persepsi yang akurat
tentang keberadaan dan takdir kita."
Paulus
VI mengatakan bahwa "pedagogi pertobatan ini mengejutkan manusia modern
dalam dua hal": yang pertama adalah "kapasitasnya yang luar biasa
untuk khayalan, sugesti diri, dan penipuan diri yang sistematis tentang
kenyataan hidup dan nilainya." Aspek kedua adalah “pesimisme mendasar”
yang ditemukan Paulus VI di mana-mana: “Sebagian besar materi yang ditawarkan
kepada kita saat ini oleh filsafat, sastra, dan hiburan,” katanya, “berakhir
dengan menyatakan kesia-siaan yang tak terhindarkan dari segala sesuatu,
kesedihan hidup yang luar biasa, metafisika absurditas dan kehampaan. Materi
ini merupakan pembenaran atas penggunaan abu.”
Hari
ini, kita dapat menyadari bahwa kata-katanya bersifat kenabian karena kita
melihat dalam abu yang ditorehkan pada dahi kita beban dunia yang terang
benderang, beban seluruh kota yang hancur oleh perang. Ini juga tercermin dalam
abu hukum internasional dan keadilan antarbangsa, abu seluruh ekosistem dan
kerukunan antarbangsa, abu pemikiran kritis dan kearifan lokal kuno, abu rasa
sakral yang bersemayam di setiap ciptaan.
“Di
mana Allah mereka?”, tanya bangsa-bangsa itu pada diri mereka sendiri. Ya,
sahabat-sahabatku, sejarah, dan terlebih lagi, hati nurani kita sendiri,
meminta kita untuk menyebut kematian apa adanya, dan membawa bekasnya di dalam
diri kita seraya memberi kesaksian tentang kebangkitan. Kita mengakui dosa-dosa
kita agar kita dapat bertobat; hal ini sendiri merupakan tanda dan kesaksian
kebangkitan. Sesungguhnya, itu berarti kita tidak akan tetap berada di antara
abu, tetapi akan bangkit dan membangun kembali. Kemudian Trihari Suci, yang
akan kita rayakan sebagai puncak perjalanan Masa Prapaskah, akan melepaskan
semua keindahan dan maknanya. Hal ini akan terjadi jika kita berpartisipasi,
melalui pertobatan, dalam peralihan dari kematian menuju kehidupan, dari
ketidakberdayaan menuju kemungkinan-kemungkinan yang diberikan Allah.
Para
martir zaman dahulu dan zaman sekarang bersinar sebagai pelopor dalam
perjalanan kita menuju Paskah. Tradisi Romawi kuno tentang perhentian Masa
Prapaskah — yang dimulai hari ini dengan perhentian pertama — sangatlah
bermanfaat: tradisi ini merujuk pada pergerakan, sebagai peziarah, dan pada
perhentian, statio, pada "peringatan" para martir, di mana
basilika-basilika Roma berdiri. Bukankah ini mungkin sebuah undangan untuk
mengikuti jejak para saksi iman yang mengagumkan, yang kini dapat ditemukan di
seluruh dunia? Marilah kita mengingat tempat, kisah, dan nama mereka yang telah
memilih jalan Sabda Bahagia dan menghidupinya hingga akhir. Kehidupan mereka
adalah benih yang tak terhitung jumlahnya yang, bahkan ketika tampaknya
tersebar, terkubur di bumi dan mempersiapkan panen berlimpah yang merupakan
panggilan kita untuk mengumpulkannya. Masa Prapaskah, sebagaimana telah kita
lihat dalam Bacaan Injil, membebaskan kita dari keinginan untuk dilihat dengan
segala cara (bdk. Mat 6:2,5,16), dan sebaliknya mengajarkan kita untuk melihat
apa yang sedang lahir, apa yang sedang tumbuh, dan mendorong kita untuk
melayaninya. Itulah keselarasan mendalam yang terjalin dengan Allah kehidupan,
Bapa kita dan Bapa segala sesuatu, dalam rahasia orang-orang yang berpuasa,
berdoa, dan mengasihi. Marilah kita mengarahkan kembali, dengan kesungguhan dan
penuh sukacita, seluruh hidup dan hati kita kepada Allah.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 19 Februari 2026)




