Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN 5 April 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini seluruh ciptaan bersinar terang dengan cahaya baru, lagu pujian menggema dari bumi, dan hati kita bersukacita: Kristus telah bangkit dari antara orang mati, dan bersama Dia, kita pun bangkit menuju kehidupan baru!

 

Pujian Paskah ini mencakup misteri hidup kita dan takdir sejarah, menjangkau kita bahkan di kedalaman kematian, di mana kita merasa terancam dan terkadang kewalahan. Pujian Paskah membuka kita kepada pengharapan yang tak pernah gagal, kepada cahaya yang tak pernah pudar, kepada sukacita penuh yang tak dapat diambil oleh apa pun: kematian telah ditaklukkan selamanya; kematian tidak lagi berkuasa atas kita!

 

Ini adalah pesan yang tidak selalu mudah diterima, janji yang sulit kita terima, karena kuasa kematian terus-menerus mengancam kita, baik dari dalam maupun dari luar.

 

Dari dalam, kekuatan ini mengancam kita ketika beban dosa kita menghalangi kita untuk "membentangkan sayap" dan terbang, atau ketika kekecewaan atau kesepian yang kita alami menguras pengharapan kita. Demikian pula, kekuatan ini membayangi kita ketika kekhawatiran atau kebencian kita mencekik kegembiraan hidup, ketika kita sedih atau lelah, atau ketika kita merasa dikhianati atau ditolak. Ketika kita harus berdamai dengan kelemahan kita, dengan penderitaan dan rutinitas kehidupan sehari-hari, kita dapat merasa seolah-olah kita telah berakhir di terowongan yang terlihat tanpa ujung.

 

Dari luar, kematian selalu mengintai. Kita melihatnya hadir dalam ketidakadilan, keegoisan pihak tertentu, penindasan terhadap kaum miskin, kurangnya perhatian yang diberikan kepada kaum yang paling rentan. Kita melihatnya dalam kekerasan, luka-luka dunia, jeritan kesakitan yang muncul dari setiap sudut karena penyalahgunaan yang menghancurkan orang yang terlemah, pemujaan keuntungan yang menjarah sumber daya bumi, kekerasan perang yang membunuh dan menghancurkan.

 

Dengan kenyataan ini, Paskah Tuhan mengajak kita untuk memandang ke atas dan membuka hati kita. Paskah terus memelihara benih kemenangan yang dijanjikan di dalam roh kita dan sepanjang sejarah. Paskah menggerakkan kita, seperti Maria Magdalena dan para Rasul, sehingga kita dapat menemukan bahwa kubur Yesus kosong, dan karena itu dalam setiap kematian yang kita alami, ada juga ruang bagi kehidupan baru untuk bangkit. Tuhan hidup dan tetap bersama kita. Melalui celah-celah kebangkitan yang terbuka dalam kegelapan, Ia mempercayakan hati kita kepada pengharapan yang menopang kita: kuasa kematian bukanlah takdir akhir hidup kita. Kita semua diarahkan, sekali dan untuk selamanya, pada jalan menuju penggenapan, karena di dalam Kristus kita juga telah bangkit.

 

Dengan kata-kata yang tulus, Paus Fransiskus mengingatkan kita akan hal ini dalam seruan apostoliknya yang pertama, Evangelii Gaudium, menegaskan bahwa kebangkitan Kristus “bukanlah peristiwa masa lalu; peristiwa itu mengandung kekuatan vital  yang telah meresapi dunia ini. Di mana segala hal tampak mati, tanda-tanda kebangkitan tiba-tiba muncul. Ini adalah daya kekuatan yang tidak dapat ditolak. Benar bahwa seringkali seakan-akan Allah tidak ada: di sekitar kita terus menerus tampak ketidakadilan, kejahatan, ketakpedulian dan kekejaman. Tetapi benar juga bahwa di tengah-tengah kegelapan sesuatu yang baru selalu muncul dalam kehidupan dan cepat atau lambat menghasilkan buah” (no. 276).

 

Saudara-saudari, Paskah memberi kita pengharapan ini, saat kita mengingat bahwa dalam Kristus yang bangkit, penciptaan baru dimungkinkan setiap hari. Inilah yang dikatakan Bacaan Injil hari ini kepada kita, karena dengan jelas menggambarkan peristiwa kebangkitan terjadi pada “hari pertama minggu itu” (Yoh 20:1). Hari kebangkitan Kristus membawa kita kembali ke hari pertama ketika Allah menciptakan dunia, dan sekaligus menyatakan bahwa kehidupan baru, yang lebih kuat dari kematian, kini sedang terbit bagi umat manusia.

 

Paskah adalah penciptaan baru yang dihasilkan oleh Tuhan yang telah bangkit; Paskah adalah permulaan baru; Paskah adalah kehidupan yang akhirnya dijadikan kekal oleh kemenangan Allah atas musuh sejak dahulu kala.

 

Hari ini kita membutuhkan lagu pengharapan ini. Kitalah, yang telah bangkit bersama Kristus, yang harus membawa Dia ke jalan-jalan dunia. Marilah kita berlari seperti Maria Magdalena, mewartakan Dia kepada semua orang, menghidupi sukacita kebangkitan, sehingga di mana pun bayangan kematian masih ada, terang kehidupan dapat bersinar.

 

Semoga Kristus, Paskah kita, memberkati kita dan memberikan damai sejahtera-Nya kepada seluruh dunia!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 5 April 2026)

HOMILI PASTOR ROBERTO PASOLINI, OFMCAP, PENGKHOTBAH RUMAH TANGGA KEPAUSAN, DALAM IBADAT JUMAT AGUNG DI BASILIKA SANTO PETRUS 3 April 2026

Saudara-saudari, pada hari suci ini liturgi mengajak kita untuk merefleksikan penderitaan Tuhan.

 

Kita hampir tidak pernah mendengarnya dalam kidung. Di hadapan misteri kematian dan kemuliaan ini, berkumpul dalam keheningan untuk berdoa wajar. Namun, salib Kristus berisiko tetap tak terpahami jika kita menganggapnya sebagai peristiwa terasing, kejadian yang tak dapat dijelaskan. Pada kenyataannya, salib Kristus adalah puncak dari sebuah perjalanan, kepenuhan hidup di mana Yesus belajar untuk mendengarkan dan menerima suara Bapa, membiarkan diri-Nya dibimbing hari demi hari menuju kasih yang terbesar. Untuk memahami perjalanan ini, selama Pekan Suci liturgi telah mengajak kita untuk mendengarkan apa yang disebut Kidung Hamba Tuhan. Kidung Hamba Tuhan adalah teks puitis di mana Nabi Yesaya menguraikan sosok hamba misterius yang melaluinya Allah dapat menyelamatkan dunia dari kejahatan dan dosa.

 

Tradisi kristiani telah mengenali dalam kidung ini sebuah gambaran awal yang mencolok dan dramatis tentang langkah yang diambil Yesus, yang mengidentifikasi diri-Nya sebagai manusia yang penuh sengsara yang mengosongkan diri-Nya, bahkan hingga mati, menanggung dosa banyak orang. Dalam kidung pertama, hamba itu digambarkan sebagai seseorang yang dipanggil untuk sebuah perutusan penting dan indah: mencelikkan mata orang buta dan membebaskan para tawanan dari penjara, mereka yang berada dalam kegelapan penjara. Tugas seumur hidup yang ditujukan kepada mereka yang tertindas oleh penderitaan, ketidakadilan, dan dosa. Namun, hamba itu harus melaksanakannya dengan kelembutan yang luar biasa, mengikuti cara yang tepat: ia tidak akan berteriak, ia tidak akan menyaringkan suaranya, tidak akan memperdengarkan suaranya di jalan, buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tidak ada kekerasan, tidak ada pemaksaan, tidak ada godaan untuk menghancurkan agar dapat memulai semuanya dari awal lagi. Hamba itu harus mencari kehidupan di tengah kegelapan kejahatan. Kita tahu bahwa tidak mudah untuk mengemban perutusan ini.

 

Kita semua tergoda untuk memaksakan keadaan, menggunakan sedikit agresi, sedikit kekerasan, berpikir bahwa inilah cara yang tanpanya masalah tidak akan pernah terselesaikan. Hamba Tuhan tidak mau menyerah pada naluri ini; ia harus mempertahankan kelembutan hati sebagai satu-satunya kekuatan untuk menghadapi kegelapan kejahatan.

 

Pada kidung kedua, segalanya percuma. Setelah berusaha memenuhi perutusannya, hamba itu menyadari bahwa semua usahanya untuk berbuat baik telah sia-sia dan berkata, "Aku telah bersusah payah dengan percuma." Kebaikan yang ditaburnya tampaknya tidak tumbuh; semuanya tampak diam di tempat dan terhambat. Sebuah krisis yang cepat atau lambat akan menimpa setiap orang yang telah memilih untuk mengikuti Tuhan. Perasaan berputar-putar tanpa hasil, tidak mencapai apa pun, tetap setia pada sesuatu yang tidak menghasilkan buah, sebenarnya hanyalah sebuah kesan. Karena dengan mengatakan "percuma," Nabi Yesaya tidak memaksudkan hamba itu telah bertindak percuma, tetapi lebih tepatnya bahwa ia tidak dapat memverifikasi hasil pekerjaannya. Dengan membawa terang ke dalam kegelapan, hamba Tuhan telah memasuki ruang di mana segala sesuatu tidak lagi dipahami menurut kriteria kita, tetapi mengikuti rancangan lain, rancangan paradoks, yaitu keselamatan yang datang dari Allah.

 

Dalam kidung ketiga, muncul kejutan baru: sang hamba menyadari bahwa orang-orang yang ingin ia bantu justru bereaksi dengan permusuhan, kemarahan, bahkan kekerasan. Mereka yang hidup dalam kegelapan tidak selalu menerima terang; terkadang mereka menolaknya dan mencoba menghalanginya, karena terang tidak hanya menyoroti apa yang indah, tetapi juga apa yang ingin kita sembunyikan: luka, kebohongan, dan ambiguitas kita, dan ini membuat kita takut. Tetapi sang hamba tidak mundur; ia terus melanjutkan jalan yang ditunjukkan Tuhan tanpa melarikan diri. Ia memberi punggungnya kepada orang-orang yang memukulnya, pipinya kepada orang-orang yang mencabut janggutnya; ia tidak menyembunyikan mukanya ketika ia dihina dan diludahi.

 

Dalam kidung keempat, yang telah kita dengar dalam liturgi hari ini, terjadi sesuatu yang membingungkan: kekerasan yang diderita oleh hamba itu begitu hebat sehingga merusak mukanya, membuatnya tidak dapat dikenali. Ia tidak memiliki penampilan atau kecantikan, namun justru dalam perjalanan inilah hamba itu belajar untuk tidak membalas. Ketika kejahatan menimpa kita, naluri kita adalah bereaksi, menolaknya, membalas dendam. Namun, hamba itu tidak menyerah pada nalar ini; ia menerima semuanya tanpa membalas dengan kekerasan. Kejahatan mendatanginya, dan di situlah ia berhenti. Itulah sebabnya ia menanggung dosa banyak orang dan mendoakan orang-orang yang bersalah kepadanya.

 

Saudara-saudari, Yesus tidak hanya mendengarkan Kidung Hamba Tuhan ini; Ia menafsirkan dan menghayatinya dengan sungguh-sungguh, dengan kepercayaan penuh pada kehendak Bapa, sampai pada titik mengubah penyaliban-Nya menjadi tindakan keselamatan. Menghadapi kejahatan, dunia ini hanya mengenal dua jalan: menyerah atau membalasnya. Kita melihatnya setiap hari dalam perang, perpecahan, dan luka yang menandai semua hubungan kita. Kejahatan terus beredar karena kamu menemukan seseorang yang bersedia membayarnya dan melipatgandakannya.

 

Yesus memutus rantai ini, bukan dengan memaksakan diri dengan kekuatan yang lebih besar, tetapi dengan menerima apa yang terjadi pada-Nya dan mengenali di dalamnya ganjaran dramatis dari penderitaan-Nya, mengenali melodi kidung kasih dan pelayanan yang telah dipercayakan Bapa kepada hidup-Nya. Ia tidak memenuhi melodi ini secara mekanis, tetapi dengan menerjemahkan kata-kata kenabian ke dalam perbuatan, pengampunan, dan keheningan yang dipenuhi belas kasihan. Demikianlah, dengan menempuh jalan salib, saya telah belajar ketaatan yang paling sulit: yaitu mengasihi sesama, bahkan ketika sesama kita tampak sebagai musuh.

 

Kita hidup di dunia di mana suara Allah tidak lagi menuntun jalan bersama umat manusia seperti dulu, bukan karena suara Allah telah lenyap, tetapi karena seringkali hanya satu suara di antara banyak suara lainnya, tenggelam oleh kata-kata lain yang menjanjikan jaminan, kemajuan, dan kesejahteraan. Inilah prinsip panduan yang membentuk banyak keputusan dan menentukan arah kehidupan kita bersama. Namun, dunia tetap menjadi tempat di mana orang menderita dan mati, seringkali tanpa kesalahan atau alasan. Perang terus berlanjut, ketidakadilan berlipat ganda, dan orang yang paling rentan menanggung akibatnya. Seolah-olah ada kata yang hilang, sebuah kata yang mampu menyatukan perjalanan umat manusia, sebuah kidung yang dapat menuntun langkah kita menuju dunia yang semakin adil dan bersaudara. Namun, justru dalam konteks inilah, jika kita melihat lebih dekat, kita dapat melihat sesuatu yang mengejutkan: banyak orang yang diam memilih untuk mendengarkan suara yang berbeda.

 

Sebagian orang jelas mengenalinya sebagai kehendak Allah; yang lain mendengarnya sebagai panggilan yang dalam dan sangat diperlukan dari hati nurani mereka sendiri. Suara yang tidak berteriak, yang tidak memaksakan diri, yang tidak menjanjikan jalan pintas. Kidung yang bijaksana dan terus-menerus yang mengajak kita untuk mencintai, tetap tinggal, dan tidak lagi membalas kerugian yang diterima.

 

Sebagian orang memilih untuk mendengarkan kidung ini. Mereka adalah orang-orang biasa yang berjalan, terkadang tanpa menyadarinya, di jalan yang sama dengan hamba Tuhan. Mereka tidak melakukan tindakan luar biasa; mereka hanya bangun setiap hari dan mencoba menjadikan hidup mereka melayani tidak hanya diri mereka sendiri tetapi juga sesama. Mereka memikul beban yang tidak mereka pilih, merangkul luka tanpa mengeraskan hati, tidak pernah berhenti mencari kebaikan bahkan ketika tampaknya percuma, mereka tidak membuat keributan, mereka tidak menguasai panggung, tetapi mereka tetap membuka kemungkinan dunia yang berbeda. Berkat mereka, kejahatan tidak memiliki kata terakhir, dan sejarah tidak berakhir dengan kekerasan. Banyak orang bersaksi bahwa kidung hamba yang dikasihi Allah itu terus bergema di dalam hati manusia, hanya menunggu seseorang yang bersedia menerjemahkannya ke dalam partitur konkret kehidupan mereka sendiri, bahkan jika itu berarti harus memikul salib.

 

Sebentar lagi kita akan menyembah salib Tuhan dengan gerakan, keheningan, dan doa. Ini akan menjadi kesempatan istimewa untuk mengakui misteri Tuhan dan mendamaikan diri kita dengan kelemahan dan kekuatan kasih-Nya bagi kita dan semua orang. Jika kita tidak ingin mengambil risiko mereduksi liturgi ini menjadi sekadar formalitas, kita dapat mengatakan, setidaknya dalam hati kita, bahwa kita meletakkan senjata yang masih kita pegang. Mungkin senjata itu tidak tampak berbahaya seperti yang dipegang oleh orang-orang berkuasa di dunia ini; Namun, senjata itu pun merupakan sarana kematian karena cukup untuk melemahkan, melukai, dan mengosongkan hubungan kita sehari-hari dari makna dan kasih sayang.

 

Kemarin, seperti hari ini, dunia perlu diselamatkan dari kekerasan, kejahatan, ketidakadilan yang membunuh, dan perpecahan yang mempermalukan. Tetapi keselamatan ini tidak datang dari atas, dan tidak dapat dijamin melalui keputusan politik, ekonomi, atau militer. Dunia terus diselamatkan oleh mereka yang bersedia merangkul kidung hamba Tuhan sebagai dasar hidup mereka. Inilah yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia sungguh menanggapi kehendak Bapa, merangkulnya seperti partitur musik yang harus dimainkan hingga akhir, dengan tangisan dan air mata yang keras. Karena alasan inilah, pada saat yang menentukan, Ia ditangkap dan dapat menyatakan, "Akulah Dia," untuk dengan bebas memasuki penderitaan kasih-Nya.

 

Saudara-saudari, kita pun diberi naskah salib hari ini. Kita dapat menerimanya dengan bebas jika kita mengakui bahwa tidak ada keadaan sulit yang tidak dapat kita hadapi, tidak ada yang dapat disalahkan, tidak ada musuh yang dapat mencegah kita untuk mengasihi dan melayani. Sebaliknya, kitalah yang memilih untuk tidak membalas dan tetap sabar dalam kesengsaraan, percaya pada kebaikan bahkan ketika kegelapan tampaknya menelan segalanya.

 

Kita dapat menjadi hamba yang dibutuhkan Tuhan untuk membawa keselamatan ke dunia. Di zaman seperti sekarang ini, yang begitu ternoda oleh kebencian dan kekerasan, di mana bahkan nama Tuhan pun digunakan untuk membenarkan perang dan keputusan yang mematikan, kita sebagai umat kristiani dipanggil untuk mendekati salib Tuhan tanpa rasa takut, melainkan dengan penuh kepercayaan, mengetahui bahwa salib adalah takhta tempat kita dapat duduk dan belajar memerintah bersama-Nya, menempatkan hidup kita untuk melayani sesama. Jika kita mampu tetap teguh dalam pengakuan iman ini, hari-hari kita pun dapat menyuarakan kidung sukacita dan penderitaan, pada partitur salib yang misterius di mana nada-nada kasih terbesar dikenali.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 4 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA MALAM PASKAH 4 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kej. 1:1-2:2; Kej. 22:1-18; Kel. 14:15-15:1; Yes. 54:5-14; Yes. 55:1-11; Bar. 3:9-15,32-4:4; Yeh. 36:16-17a,18-28; Rm 6:3-11; Mat. 28:1-10.

 

Penyucian malam ini […] menghalau dengki dan memupuk kerukunan serta menundukkan kekuasaan” (Pujian Paskah).

 

Saudara-saudari terkasih, demikianlah diakon pada awal perayaan ini memuji terang Kristus yang bangkit, yang dilambangkan oleh Lilin Paskah. Dari satu lilin ini, kita semua telah menyalakan lilin kita masing-masing, dan, masing-masing membawa nyala api kecil yang diambil dari api yang sama, kita telah menerangi basilika besar ini. Tanda terang Paskah ini menyatukan kita di dalam Gereja sebagai pelita bagi dunia. Terhadap Pujian Paskah oleh diakon, kita menjawab “Amin,” menegaskan komitmen kita untuk menerima perutusan ini, dan segera kita akan mengulangi “ya” kita dengan pembaharuan janji baptis.

 

Saudara-saudari terkasih, Vigili yang dipenuhi cahaya ini, tertua dalam tradisi kristiani, disebut "ibu dari semua vigili." Di dalamnya, kita menghidupkan kembali kenangan kemenangan Tuhan sang pemilik kehidupan atas maut dan neraka. Kita melakukannya setelah menempuh perjalanan, dalam beberapa hari terakhir, seakan dalam satu perayaan besar, melalui misteri sengsara Allah yang menjadi "manusia yang penuh kesengsaraan" (Yes. 53:3), "dihina dan dihindari orang" (Yes. 53:3), disiksa dan disalibkan bagi kita.

 

Adakah kasih yang lebih besar, tindakan rahmat yang lebih sempurna? Selain sebagai Pencipta alam semesta, sebagaimana pada awal sejarah Ia memberi kita keberadaan dari ketiadaan, Yesus yang bangkit telah memberi kita kehidupan setelah di kayu salib Ia menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang tak terbatas

 

Bacaan Pertama mengingatkan kita akan hal ini dengan berkisah tentang asal usul. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (bdk. Kej. 1:1), menciptakan kosmos dari kekacauan, keteraturan dari ketidakteraturan, dan mempercayakan kepada kita, yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, tugas untuk menjadi menjaga amanah-Nya. Dan bahkan ketika, karena dosa, umat manusia gagal memenuhi rencana ini, Tuhan tidak meninggalkan kita, tetapi menyatakan wajah-Nya yang penuh belas kasih dengan cara yang bahkan lebih mengejutkan: melalui pengampunan.

 

Lalu, "malam suci" ini juga berakar pada tempat di mana kegagalan pertama umat manusia terjadi, dan berlanjut sepanjang abad sebagai jalan rekonsiliasi dan rahmat.

 

Sepanjang jalan ini, liturgi telah menawarkan kepada kita beberapa tahapan melalui bacaan Kitab Suci yang telah kita dengar. Liturgi telah mengingatkan kita bagaimana Allah menghentikan tangan Abraham, yang siap mengurbankan Ishak, anak laki-lakinya, untuk menunjukkan kepada kita bahwa Ia tidak menginginkan kematian kita, melainkan agar kita menguduskan diri kita untuk menjadi, di tangan-Nya, anggota yang hidup dari garis keturunan orang-orang yang diselamatkan (bdk. Kej. 22:11-12, 15-18). Demikian pula, liturgi telah mengajak kita untuk merefleksikan bagaimana Tuhan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, menjadikan laut, tempat kematian dan rintangan yang tak teratasi, sebagai gerbang menuju awal kehidupan baru dan bebas. Dan pesan yang sama telah bergema dalam perkataan para nabi, di mana kita telah mendengar pujian kepada Tuhan sebagai mempelai yang memanggil dan mengumpulkan (bdk. Yes. 55:5-7), mata air yang memuaskan, air yang membuat berbuah (bdk. Yes. 55:1, 10), terang yang menunjukkan jalan damai sejahtera (bdk. Bar. 3:14), Roh yang mengubah dan memperbarui hati (Yeh. 36:26).

 

Dalam semua momen sejarah keselamatan ini, kita telah melihat bagaimana Allah, berhadapan dengan kekerasan dosa yang memecah belah dan membunuh, menanggapi dengan kuasa kasih yang mempersatukan dan memulihkan kehidupan. Kita telah mengingatnya bersama-sama, menjalin narasi dengan mazmur dan doa, untuk mengingatkan kita bahwa, melalui Paskah Kristus, “kita telah dikuburkan bersama Dia dalam kematian […] kita dimungkinkan hidup dalam hidup yang baru […] telah mati terhadap dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm. 6:4-11), dikuduskan dalam Baptisan untuk mengasihi Bapa, dipersatukan dalam persekutuan para kudus, berkat rahmat dijadikan batu yang hidup untuk membangun Kerajaan-Nya (bdk. 1 Ptr. 2:4-5).

 

Dalam terang semua ini, kita membaca kisah kebangkitan, yang telah kita dengar dalam Bacaan Injil menurut Matius. Pada pagi Paskah, para perempuan, mengatasi kesedihan dan ketakutan mereka, berangkat. Mereka ingin pergi ke kubur Yesus. Mereka berharap menemukan kubur itu tertutup rapat, dengan batu besar di pintu masuk dan serdadu yang berjaga. Inilah dosa: penghalang yang sangat berat yang memenjarakan kita dan memisahkan kita dari Allah, mencoba membunuh sabda pengharapan-Nya di dalam diri kita. Namun, Maria Magdalena dan Maria yang lain tidak gentar. Mereka pergi ke kubur dan, berkat iman dan kasih, mereka menjadi saksi-saksi pertama kebangkitan. Dalam gempa bumi dan malaikat Tuhan yang datang ke batu penutup kubur, mereka melihat kuasa kasih Allah, lebih kuat dari kuasa kejahatan apa pun, mampu "menghalau kebencian" dan "menundukkan kekuasaan." Manusia dapat membunuh tubuh, tetapi hidup Allah yang penuh kasih adalah hidup kekal; hidup itu melampaui kematian, dan tidak ada kubur yang dapat memenjarakannya. Demikianlah, Yesus yang disalibkan memerintah dari salib, malaikat datang ke batu penutup kubur, dan Yesus yang hidup menampakkan diri di hadapan mereka sambil berkata, "Salam bagimu!" (Mat. 28:9).

 

Saudara-saudari terkasih, ini juga pesan kita kepada dunia saat ini: perjumpaan yang ingin kita persaksikan, dengan kata-kata iman dan perbuatan kasih, menyanyikan dengan hidup kita "Aleluia" yang kita wartakan dengan bibir kita (bdk. Santo Agustinus, Khotbah 256, 1). Seperti para perempuan yang berlari untuk memberitahukannya kepada saudara-saudarinya, malam ini kita pun ingin berangkat dari basilika ini untuk menyampaikan kepada semua orang kabar baik bahwa Yesus telah bangkit dan bahwa, berkat kuasa-Nya, dibangkitkan bersama dengan Dia, kita pun dapat memberi kehidupan kepada dunia baru yang damai dan bersatu, seperti "banyak orang dan satu orang; banyak orang kristiani dan satu Kristus" (Santo Agustinus, Ulasan Mazmur 127, 3).

 

Untuk perutusan inilah saudara-saudari yang hadir di sini, yang datang dari berbagai belahan dunia dan akan segera menerima Baptisan, dikhususkan. Setelah perjalanan panjang katekumenat, hari ini mereka dilahirkan kembali dalam Kristus untuk menjadi ciptaan baru (bdk. 2Kor 5:17), saksi-saksi Injil. Bagi mereka, dan bagi kita semua, kita mengulangi apa yang dikatakan Santo Agustinus kepada umat kristiani pada zamannya: “Wartakanlah Kristus; taburlah […]. Sebarkanlah Injil; apa yang telah kamu resapi dalam hatimu” (Khotbah 116, 7).

 

Saudara-saudari, bahkan hari ini pun tidak kekurangan kubur yang perlu dibuka, dan seringkali batu-batu yang menyegelnya begitu berat dan dijaga dengan begitu ketat sehingga tampak tak tergoyahkan. Beberapa hal sangat membebani hati manusia, seperti ketidakpercayaan, ketakutan, keegoisan, dan kebencian; yang lain, sebagai konsekuensi dari semua itu, memutuskan ikatan di antara kita, seperti perang, ketidakadilan, dan keterasingan antarbangsa dan negara. Jangan biarkan hal-hal itu melumpuhkan kita! Banyak orang selama berabad-abad, dengan pertolongan Allah, telah menyingkirkan hal-hal tersebut, mungkin dengan usaha yang besar, kadang-kadang dengan mengurbankan nyawa mereka, tetapi buah kebaikannya masih kita manfaatkan hingga hari ini. Mereka bukanlah tokoh-tokoh yang tidak terjangkau, tetapi orang-orang seperti kita yang, dikuatkan oleh rahmat Yesus yang bangkit, dalam kasih dan kebenaran, memiliki keberanian untuk berbicara, sebagaimana dikatakan rasul Petrus, sebagai "orang yang menyampaikan sabda Allah" (1Ptr. 4:11) dan melakukannya "dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu" (1Ptr. 4:11).

 

Marilah kita terinspirasi oleh teladan-Nya dan, pada Malam Suci ini, marilah kita menjadikan komitmen-Nya sebagai komitmen kita, sehingga di mana pun dan kapan pun, di dunia, anugerah Paskah berupa kerukunan dan perdamaian dapat tumbuh dan berkembang.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 5 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI KAMIS PUTIH DI BASILIKA SANTO YOHANES LATERAN 2 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Liturgi khidmat malam ini menandai kita telah memasuki Trihari Suci Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan Tuhan. Kita melangkah melewati ambang batas ini bukan hanya sebagai penonton, atau karena kebiasaan, tetapi sebagai orang-orang yang diundang secara pribadi oleh Yesus sendiri sebagai tamu di Perjamuan di mana roti dan anggur menjadi sakramen keselamatan bagi kita. Sesungguhnya, kita ambil bagian dalam perjamuan di mana Kristus “mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1). Kasih-Nya menjadi gestur dan makanan bagi semua orang, yang mengungkapkan keadilan Allah. Di dunia ini, dan khususnya di tempat-tempat di mana kejahatan merajalela, Yesus mengasihi secara definitif — selamanya, dan dengan segenap keberadaan-Nya.

 

Selama Perjamuan Terakhir ini, Ia membasuh kaki para rasul-Nya, seraya berkata, “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15). Tindakan Tuhan ini tidak dapat dipisahkan dari meja yang juga telah Ia undangkan kepada kita. Tindakan ini adalah contoh nyata yang mengalir dari sakramen: seraya mengungkapkan makna misteri Ekaristi, tindakan ini juga mempercayakan kepada kita sebuah tugas — sebuah perutusan yang menjadi panggilan untuk kita jalani sebagai makanan bagi kehidupan kita. Penginjil Yohanes memilih kata Yunani upódeigma untuk menggambarkan peristiwa yang disaksikannya: artinya “apa yang ditunjukkan di hadapan matamu.” Apa yang ditunjukkan Tuhan kepada kita — mengambil air, baskom, dan handuk — jauh lebih dari sekadar contoh moral. Ia mempercayakan kepada kita jalan hidup-Nya sendiri. Pembasuhan kaki adalah tindakan yang merangkum wahyu Allah: tanda keteladanan dari Sang Sabda yang menjadi daging, kenangan-Nya yang tak salah lagi. Dengan mengambil posisi sebagai hamba, Sang Putra mengungkapkan kemuliaan Bapa, menumbangkan standar duniawi yang seringkali membelokkan hati nurani kita.

 

Bersamaan dengan kekaguman diam-diam para murid-Nya, bahkan kesombongan manusia pun tidak dapat tetap buta terhadap apa yang sedang terjadi. Seperti Petrus, yang pada awalnya menolak prakarsa Yesus, kita pun harus “berulang kali belajar bahwa kebesaran Allah berbeda dari gagasan kita tentang kebesaran… karena kita secara sistematis menginginkan Allah yang sukses dan bukan Allah yang menderita” (Homili pada Misa Perjamuan Tuhan, 20 Maret 2008). Kata-kata Paus Benediktus XVI ini dengan jujur ​​mengakui bahwa kita selalu tergoda untuk mencari Allah yang melayani kita, yang memberi kita kemenangan, yang terbukti berguna seperti kekayaan atau kekuasaan. Namun kita gagal menyadari bahwa Allah memang melayani kita melalui tindakan cuma-cuma dan rendah hati berupa pembasuhan kaki. Inilah kemahakuasaan Allah yang sesungguhnya. Dengan cara ini, keinginan-Nya untuk mengabdikan diri kepada mereka yang keberadaannya bergantung pada karunia-Nya tergenapi. Karena kasih, Tuhan berlutut untuk membasuh kita masing-masing, dan karunia ilahi-Nya mengubah rupa kita.

 

Sesungguhnya, melalui tindakan ini, Yesus memurnikan bukan hanya gambaran kita tentang Allah — dari penyembahan berhala dan penghujatan yang telah membelokkannya — tetapi juga gambaran kita tentang kemanusiaan. Karena kita cenderung menganggap diri kita berkuasa ketika kita mendominasi, menang ketika kita menghancurkan sesama kita, hebat ketika kita ditakuti. Sebaliknya, sebagai yang sungguh Allah dan sungguh manusia, Kristus menawarkan kepada kita teladan pengurbanan diri, pelayanan, dan kasih. Kita membutuhkan teladan-Nya untuk belajar bagaimana mengasihi, bukan karena kita tidak mampu melakukannya, tetapi justru mengajarkan kepada diri kita sendiri dan satu sama lain apa itu kasih sejati. Belajar bertindak seperti Yesus — tanda hidup yang telah ditempatkan Allah dalam sejarah dunia — adalah pekerjaan seumur hidup.

 

Ia adalah patokan yang sesungguhnya, "Guru dan Tuhan" (Yoh 13:13) yang menyingkirkan setiap topeng ilahi dan manusiawi. Ia menawarkan keteladanan bukan ketika semua orang puas dan setia kepada-Nya, tetapi pada malam Ia dikhianati, dalam kegelapan ketidakpahaman dan kekerasan. Dengan cara ini, menjadi jelas bahwa kasih Tuhan mendahului kebaikan atau kemurnian kita; Ia mengasihi kita terlebih dahulu, dan dalam kasih itu, Ia mengampuni dan memulihkan kita. Kasih-Nya bukan hadiah atas penerimaan kita terhadap belas kasih-Nya; sebaliknya, Ia mengasihi kita, dan karena itu menyucikan kita, sehingga memungkinkan kita untuk menanggapi kasih-Nya.

 

Oleh karena itu, marilah kita belajar dari Yesus tentang pelayanan timbal balik ini. Ia tidak meminta kita untuk membalas budi terhadap-Nya, tetapi berbagi karunia-Nya di antara kita: “Kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14). Paus Fransiskus pernah mengatakan berkaitan dengan hal tersebut: ini “adalah kewajiban yang datang dari hatiku: aku menyukainya. Aku menyukai hal ini dan senang melakukannya karena itulah yang diajarkan Tuhan kepadaku” (Homili Misa Kamis Putih, 28 Maret 2013). Ia tidak berbicara tentang perintah abstrak, atau perintah formal dan kosong, tetapi mengungkapkan ketaatannya yang tulus kepada kasih Kristus, yang merupakan sumber dan model kasih kita. Sesungguhnya, teladan yang diberikan oleh Yesus tidak dapat diteladani karena kenyamanan, keengganan, atau kemunafikan, tetapi hanya karena kasih.

 

Oleh karena itu, membiarkan diri kita dilayani oleh Tuhan adalah syarat yang diperlukan untuk melayani seperti yang Ia lakukan. “Jikalau Aku tidak membasuh engkau,” kata Yesus kepada Petrus, “engkau tidak mendapat bagian bersama Aku” (Yoh 13:8): jika engkau tidak menerima Aku sebagai hamba-Mu, engkau tidak dapat benar-benar percaya kepada-Ku atau mengikut Aku sebagai Tuhan. Dengan membasuh tubuh kita, Yesus menyucikan jiwa kita. Di dalam Dia, Allah telah memberi kita teladan — bukan tentang bagaimana mendominasi, tetapi tentang bagaimana membebaskan; bukan tentang bagaimana menghancurkan kehidupan, tetapi tentang bagaimana memberikannya.

 

Ketika umat manusia bertekuk lutut karena begitu banyak tindakan kebrutalan, marilah kita juga berlutut sebagai saudara dan saudari bersama orang-orang yang tertindas. Dengan cara ini, kita berusaha mengikuti teladan Tuhan, menggenapi apa yang telah kita dengar dari Kitab Keluaran: “Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu” (12:14). Sesungguhnya, seluruh sejarah Kitab Suci bertemu di satu titik dalam Yesus, Sang Anak Domba Paskah sejati. Di dalam Dia, tokoh-tokoh dahulu kala menemukan penggenapannya, karena Kristus Sang Juruselamat menggenapi Paskah umat manusia, membuka jalan bagi semua orang dari dosa menuju pengampunan, dari kematian menuju kehidupan kekal: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu. Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku” (1Kor. 11:24).

 

Dengan memperbarui tindakan dan sabda Tuhan malam ini, kita memperingati penetapan Ekaristi dan Sakramen Imamat. Ikatan hakiki antara kedua sakramen ini mengungkapkan pemberian diri Yesus yang sempurna, Sang Imam Agung dan Ekaristi yang hidup dan kekal. Sebab dalam roti dan anggur yang telah dikonsekrasi terdapat “sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikurniai jaminan kemuliaan yang akan datang” (Konstitusi Dogmatis Sacrosantum Concilium, 4 Desember 1963, 47). Melalui para uskup dan imam, yang ditetapkan sebagai “imam-imam Perjanjian Baru” menurut perintah Tuhan (Konsili Trent; De Missae Sacrificio, 1), hadirlah tanda kasih-Nya kepada seluruh Umat Allah. Saudara-saudari terkasih dalam imamat, kita dipanggil untuk melayani Umat Allah dengan seluruh hidup kita.

 

Oleh karena itu, Kamis Putih adalah hari penuh syukur dan persaudaraan sejati. Semoga adorasi Ekaristi malam ini, di setiap paroki dan komunitas, menjadi waktu untuk merenungkan tindakan Yesus, berlutut seperti Dia, dan memohon kekuatan untuk meneladan pelayanan-Nya dengan kasih yang sama.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA KRISMA 2 April 2026

Bacaan Liturgi : Yes. 61:1-3a,6a,8b-9; Mzm. 89:21-22,25,27; Why. 1:5-8; Luk. 4:16-21.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita sekarang berada di ambang Trihari Suci. Sekali lagi, Tuhan akan menuntun kita menuju puncak perutusan-Nya, sehingga penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya dapat menjadi pokok perutusan kita. Apa yang akan kita alami kembali, sesungguhnya, memiliki kuasa untuk mengubah rupa apa yang cenderung dikeraskan oleh kesombongan manusia: jati diri dan keberadaan kita di dunia. Kebebasan Yesus mengubah hati, menyembuhkan luka, menyegarkan dan mencerahkan wajah kita, mendamaikan dan mengumpulkan kita bersama, serta mengampuni dan meninggikan kita.

 

Pada tahun pertama saya memimpin Misa Krisma sebagai Uskup Roma, saya ingin merefleksikan bersamamu perutusan yang merupakan panggilan kita sebagai umat Allah. Panggilan kita adalah perutusan kristiani, sama seperti perutusan Yesus, bukan yang lain. Kita masing-masing ambil bagian di dalamnya sesuai dengan panggilan kita dalam ketaatan yang sangat pribadi kepada suara Roh, namun tidak pernah tanpa orang lain, tidak pernah mengabaikan atau melanggar persekutuan! Para uskup dan imam, saat kita memperbarui janji kita, kita berada dalam pelayanan umat misioner. Bersama dengan semua orang yang telah dibaptis, kita adalah tubuh Kristus, yang diurapi oleh Roh-Nya yang membebaskan dan menghibur, Roh nubuat dan persatuan.

 

Apa yang dialami Yesus pada saat-saat puncak perutusan-Nya diisyaratkan oleh perikop dari kitab Nabi Yesaya, yang dikutip-Nya saat Ia berada di rumah ibadat di Nazaret sebagai nas yang digenapi “hari ini” (bdk. Luk 4:21). Sesungguhnya, pada saat Paskah, menjadi jelas bahwa Allah menguduskan untuk mengutus. “Ia telah mengutus Aku” (Luk 4:18), kata Yesus, menggambarkan gerakan yang mengikatkan tubuh-Nya kepada orang-orang miskin, orang-orang tawanan, orang-orang yang meraba-raba dalam kegelapan dan yang tertindas. Kita, sebagai anggota tubuh-Nya, berbicara tentang Gereja yang “apostolik,” diutus, didorong melampaui dirinya sendiri, dan dikuduskan bagi Allah dalam pelayanan kepada ciptaan-Nya. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, sekarang Aku juga mengutus kamu” (Yoh 20:21).

 

Kita tahu bahwa diutus berarti, pertama dan terutama, ketidakterikatan, yaitu, risiko meninggalkan apa yang sudah dikenal dan pasti, berani terjun ke dalam sesuatu yang baru. Menariknya, “dalam kuasa Roh Kudus” (Luk 4:14), yang turun ke atasnya setelah Ia dibaptis di Sungai Yordan, Yesus kembali ke Galilea dan datang “ke Nazaret, tempat Ia dibesarkan” (Luk 4:16). Tempat itulah yang sekarang harus Ia tinggalkan. Ia pindah “menurut kebiasaan-Nya” (ayat 16), bahkan mengantarkan era baru. Ia sekarang harus meninggalkan desa itu selamanya, agar apa yang telah berakar di sana, Sabat demi Sabat, melalui ketaatan mendengarkan sabda Allah, dapat berbuah. Demikian pula, Ia akan mengajak orang lain untuk berangkat, mengambil risiko, agar tidak ada tempat yang menjadi penjara, tidak ada jati diri yang menjadi tempat persembunyian.

 

Saudara-saudari terkasih, kita mengikuti Yesus yang “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi mengosongkan diri-Nya” (Flp. 2:6-7). Setiap perutusan dimulai dengan pengosongan diri semacam itu di mana segala sesuatu dilahirkan kembali. Martabat kita sebagai putra dan putri Allah tidak dapat diambil dari kita, juga tidak dapat hilang, bahkan kasih sayang, tempat, dan pengalaman di awal kehidupan kita pun tidak dapat dihapus. Kita adalah ahli waris dari sangat banyak kebaikan dan, pada saat yang sama, dari keterbatasan sejarah yang harus diterangi dan diselamatkan oleh Injil, pengampunan dan penyembuhan. Dengan demikian, tidak ada perutusan tanpa rekonsiliasi dengan masa lalu kita, dengan karunia dan keterbatasan pendidikan yang telah kita terima; tetapi, pada saat yang sama, tidak ada kedamaian tanpa memulai, tidak ada kesadaran tanpa ketidakterikatan, tidak ada sukacita tanpa risiko. Kita adalah tubuh Kristus jika kita bergerak maju, berdamai dengan masa lalu tanpa dipenjara olehnya: segala sesuatu dipulihkan dan dilipatgandakan jika pertama-tama dilepaskan, tanpa rasa takut. Inilah rahasia dasariah perutusan. Bukan sesuatu yang hanya dialami sekali, tetapi di setiap awal yang baru, di setiap keberangkatan yang baru.

 

Perjalanan Yesus mengungkapkan kepada kita bahwa kesediaan untuk kehilangan diri sendiri, mengosongkan diri, bukanlah tujuan akhir, melainkan syarat untuk perjumpaan dan keintiman. Kasih sungguh sejati ketika ia tidak dijaga; ia tidak membutuhkan banyak keributan, tidak pamer, dan dengan lembut menghargai kelemahan dan kerentanan. Kita berjuang untuk mengabdikan diri pada perutusan yang mengekspos kita dengan cara ini, namun tidak ada "kabar baik bagi orang miskin" (bdk. Luk 4:18) jika kita pergi kepada mereka dengan membawa tanda-tanda kekuasaan, dan tidak ada pembebasan sejati jika kita tidak membebaskan diri dari keterikatan. Di sini kita menyentuh rahasia kedua dari perutusan kristiani. Hukum perjumpaan muncul setelah ketidakterikatan. Kita tahu bahwa sepanjang sejarah, perutusan sering kali diselewengkan oleh keinginan untuk mendominasi, yang sama sekali asing bagi jalan Yesus Kristus. Santo Yohanes Paulus II mempunyai kejelasan dan keberanian untuk mengakui bahwa “karena ikatan yang mempersatukan kita satu sama lain dalam Tubuh Mistik, kita semua, meskipun tidak bertanggung jawab secara pribadi dan tanpa melanggar penghakiman Allah yang mengetahui setiap hati, memikul beban kesalahan dan kekurangan orang-orang yang telah mendahului kita.”[1]

 

Oleh karena itu, mengingat bahwa baik dalam ranah pastoral maupun dalam ranah sosial dan politik, kebaikan tidak akan datang dari penyalahgunaan kekuasaan, kini menjadi prioritas. Para misionaris besar memberikan kesaksian tentang pendekatan yang teduh dan tidak mencolok, yang metodenya adalah ambil bagian kehidupan, pelayanan tanpa pamrih, penolakan terhadap strategi, dialog, dan rasa hormat yang berpamrih. Itulah jalan inkarnasi, yang selalu mengambil bentuk inkulturasi. Keselamatan, pada kenyataannya, hanya dapat diterima oleh setiap orang melalui bahasa ibunya masing-masing. “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri?” (Kis. 2:8). Kejutan Pentakosta terulang kembali ketika kita tidak menganggap diri kita mampu mengendalikan waktu Allah, tetapi menaruh kepercayaan kita pada Roh Kudus, yang “hadir, bahkan hari ini, seperti pada zaman Yesus dan para Rasul: hadir dan bekerja, datang sebelum kita, bekerja lebih keras dan lebih baik daripada kita; bukan tugas kita untuk menabur atau membangkitkan Dia, tetapi pertama dan terutama untuk mengenali Dia, menyambut Dia, berjalan bersama Dia, membuka jalan bagi Dia, dan mengikuti Dia. Ia hadir dan tidak pernah kehilangan semangat mengenai zaman kita; sebaliknya, Ia tersenyum, menari, menembus, meliputi, menyelimuti, dan menjangkau bahkan ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan.”[2]

 

Untuk membangun keselarasan dengan yang transenden ini, kita harus pergi ke tempat kita diutus dengan kesederhanaan, menghormati misteri yang dibawa oleh setiap orang dan setiap komunitas di dalam diri mereka. Sebagai umat Kristiani, kita adalah tamu. Hal ini juga berlaku jika kita adalah uskup, imam, atau biarawan dan biarawati. Untuk menjadi tuan rumah, sebenarnya, kita sendiri harus belajar menjadi tamu. Bahkan tempat-tempat di mana sekularisasi tampak paling berkembang bukanlah tanah yang harus ditaklukkan atau direbut kembali: “Budaya-budaya baru senantiasa lahir dalam wilayah kediaman manusia yang sangat besar ini di mana umat Kristiani biasanya tak lagi menjadi penafsir atau pembangkit makna. Sebaliknya, mereka menerima dari budaya-budaya ini bahasa-bahasa, simbol-simbol, pesan-pesan dan paradigma-paradigma baru yang mengajukan pendekatan-pendekatan baru akan kehidupan, pendekatan-pendekatan yang seringkali berlawanan dengan Injil Yesus … Evangelisasi ini harus menjangkau tempat-tempat di mana narasi-narasi dan paradigma-paradigma baru sedang dibentuk, dengan membawa sabda Yesus kepada relung terdalam jiwa-jiwa di kota-kota kita.”[3] Hal ini hanya terjadi jika kita berjalan bersama sebagai Gereja, jika perutusan bukanlah petualangan heroik yang diperuntukkan bagi sedikit orang, tetapi kesaksian hidup dari satu Tubuh dengan banyak anggota.

 

Ada juga dimensi ketiga, mungkin yang paling radikal, dari perutusan kristiani. Kemungkinan dramatis kesalahpahaman dan penolakan, yang sudah terlihat dalam reaksi keras penduduk Nazaret terhadap perkataan Yesus. “Mendengar hal itu semua orang di rumah ibadat itu sangat marah. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu” (Luk. 4:28-29). Meskipun bacaan liturgi telah menghilangkan bagian ini, apa yang akan kita rayakan malam ini mengajak kita untuk tidak melarikan diri, tetapi “melewati” pencobaan itu, seperti yang dilakukan Yesus. Yesus “lewat di tengah-tengah mereka, lalu pergi” (Luk 4:30). Salib adalah bagian dari perutusan: pengutusan menjadi lebih pahit dan menakutkan, tetapi juga lebih membebaskan dan mengubah rupa. Pendudukan imperialis atas dunia dengan demikian terganggu dari dalam; kekerasan yang sampai sekarang menjadi hukum terungkap. Mesias yang miskin, dipenjara, dan ditolak itu turun ke dalam kegelapan kematian, namun dengan demikian Ia membawa ciptaan baru menuju terang.

 

Betapa banyak panggilan “kebangkitan” yang harus kita alami ketika, bebas dari sikap defensif, kita membenamkan diri dalam pelayanan seperti benih di dalam bumi! Dalam kehidupan, kita mungkin menghadapi situasi di mana semuanya tampak telah berakhir. Kemudian kita bertanya pada diri sendiri apakah perutusan kita sia-sia. Meskipun benar bahwa, tidak seperti Yesus, kita juga mengalami kegagalan yang berasal dari kekurangan kita sendiri atau orang lain, seringkali dari jalinan tanggung jawab yang rumit antara terang dan gelap, kita dapat menjadikan pengharapan banyak saksi sebagai pengharapan kita. Saya ingat seseorang yang sangat saya sayangi. Sebulan sebelum kematiannya, dalam buku catatan Latihan Rohani-nya, Uskup Óscar Romero yang kudus menulis, ‘Nuncio di Kosta Rika telah memperingatkan saya tentang bahaya yang akan segera terjadi pekan ini… Keadaan yang tak terduga ini akan dihadapi dengan rahmat Allah. Yesus Kristus menolong para martir dan, jika perlu, aku akan merasakan Dia sangat dekat ketika aku mempercayakan napas terakhirku kepada-Nya.’ Namun, lebih dari saat-saat terakhir kehidupan, yang terpenting adalah memberikan seluruh hidup kita kepada-Nya dan hidup untuk-Nya… Cukuplah bagiku, berbahagia dan percaya diri, mengetahui dengan pasti bahwa di dalam Dia ada kehidupan dan kematianku; bahwa, meskipun aku berdosa, aku telah menaruh kepercayaanku kepada-Nya dan tidak akan berkecil hati, karena orang lain akan melanjutkan, dengan kebijaksanaan dan kekudusan yang lebih besar, karya untuk Gereja dan tanah air.”

 

Saudara-saudari terkasih, para kudus menciptakan sejarah. Inilah pesan Kitab Wahyu: “Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya” (Why. 1:4). Salam ini merangkum perjalanan Yesus di dunia yang terkoyak oleh kekuatan-kekuatan yang menghancurkannya. Di dalamnya muncul umat baru, bukan korban, tetapi saksi. Di saat-saat gelap sejarah ini, Allah berkenan mengutus kita untuk menyebarkan keharuman Kristus di tempat di mana bau kematian berkuasa. Marilah kita memperbarui “ya” kita terhadap perutusan ini yang menyerukan persatuan dan membawa kedamaian. Ya, kita di sini! Marilah kita mengatasi rasa ketidakberdayaan dan ketakutan! Kami mewartakan wafat-Mu, ya Tuhan, dan kami mewartakan kebangkitan-Mu, seraya menantikan kedatangan-Mu.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 2 April 2026)



[1] Yohanes Paulus II, Bulla Indiksi Yubileum Agung 2000 Incarnationis Mysterium (29 November 1998), 11.

[2] CM. Martini, Tiga Kisah Roh, Milan 1997, 11.

[3] Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 73-74.