Bacaan
Ekaristi : Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26;
Yoh. 13:1-15.
Saudara-saudari
terkasih,
Liturgi
khidmat malam ini menandai kita telah memasuki Trihari Suci Sengsara, Wafat,
dan Kebangkitan Tuhan. Kita melangkah melewati ambang batas ini bukan hanya
sebagai penonton, atau karena kebiasaan, tetapi sebagai orang-orang yang
diundang secara pribadi oleh Yesus sendiri sebagai tamu di Perjamuan di mana
roti dan anggur menjadi sakramen keselamatan bagi kita. Sesungguhnya, kita
ambil bagian dalam perjamuan di mana Kristus “mengasihi orang-orang milik-Nya
yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya” (Yoh
13:1). Kasih-Nya menjadi gestur dan makanan bagi semua orang, yang
mengungkapkan keadilan Allah. Di dunia ini, dan khususnya di tempat-tempat di
mana kejahatan merajalela, Yesus mengasihi secara definitif — selamanya, dan
dengan segenap keberadaan-Nya.
Selama
Perjamuan Terakhir ini, Ia membasuh kaki para rasul-Nya, seraya berkata, “Aku
telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama
seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15). Tindakan Tuhan ini tidak
dapat dipisahkan dari meja yang juga telah Ia undangkan kepada kita. Tindakan
ini adalah contoh nyata yang mengalir dari sakramen: seraya mengungkapkan makna
misteri Ekaristi, tindakan ini juga mempercayakan kepada kita sebuah tugas —
sebuah perutusan yang menjadi panggilan untuk kita jalani sebagai makanan bagi
kehidupan kita. Penginjil Yohanes memilih kata Yunani upódeigma untuk
menggambarkan peristiwa yang disaksikannya: artinya “apa yang ditunjukkan di
hadapan matamu.” Apa yang ditunjukkan Tuhan kepada kita — mengambil air,
baskom, dan handuk — jauh lebih dari sekadar contoh moral. Ia mempercayakan
kepada kita jalan hidup-Nya sendiri. Pembasuhan kaki adalah tindakan yang
merangkum wahyu Allah: tanda keteladanan dari Sang Sabda yang menjadi daging,
kenangan-Nya yang tak salah lagi. Dengan mengambil posisi sebagai hamba, Sang
Putra mengungkapkan kemuliaan Bapa, menumbangkan standar duniawi yang
seringkali membelokkan hati nurani kita.
Bersamaan
dengan kekaguman diam-diam para murid-Nya, bahkan kesombongan manusia pun tidak
dapat tetap buta terhadap apa yang sedang terjadi. Seperti Petrus, yang pada
awalnya menolak prakarsa Yesus, kita pun harus “berulang kali belajar bahwa
kebesaran Allah berbeda dari gagasan kita tentang kebesaran… karena kita secara
sistematis menginginkan Allah yang sukses dan bukan Allah yang menderita”
(Homili pada Misa Perjamuan Tuhan, 20 Maret 2008). Kata-kata Paus Benediktus
XVI ini dengan jujur mengakui bahwa kita
selalu tergoda untuk mencari Allah yang “melayani”
kita, yang memberi kita kemenangan, yang terbukti berguna seperti kekayaan atau
kekuasaan. Namun kita gagal menyadari bahwa Allah memang melayani kita melalui
tindakan cuma-cuma dan rendah hati berupa pembasuhan kaki. Inilah kemahakuasaan
Allah yang sesungguhnya. Dengan cara ini, keinginan-Nya untuk mengabdikan diri
kepada mereka yang keberadaannya bergantung pada karunia-Nya tergenapi. Karena
kasih, Tuhan berlutut untuk membasuh kita masing-masing, dan karunia ilahi-Nya
mengubah rupa kita.
Sesungguhnya,
melalui tindakan ini, Yesus memurnikan bukan hanya gambaran kita tentang Allah
— dari penyembahan berhala dan penghujatan yang telah membelokkannya — tetapi
juga gambaran kita tentang kemanusiaan. Karena kita cenderung menganggap diri
kita berkuasa ketika kita mendominasi, menang ketika kita menghancurkan sesama
kita, hebat ketika kita ditakuti. Sebaliknya, sebagai yang sungguh Allah dan
sungguh manusia, Kristus menawarkan kepada kita teladan pengurbanan diri,
pelayanan, dan kasih. Kita membutuhkan teladan-Nya untuk belajar bagaimana
mengasihi, bukan karena kita tidak mampu melakukannya, tetapi justru
mengajarkan kepada diri kita sendiri dan satu sama lain apa itu kasih sejati.
Belajar bertindak seperti Yesus — tanda hidup yang telah ditempatkan Allah
dalam sejarah dunia — adalah pekerjaan seumur hidup.
Ia adalah
patokan yang sesungguhnya, "Guru dan Tuhan" (Yoh 13:13) yang
menyingkirkan setiap topeng ilahi dan manusiawi. Ia menawarkan keteladanan
bukan ketika semua orang puas dan setia kepada-Nya, tetapi pada malam Ia
dikhianati, dalam kegelapan ketidakpahaman dan kekerasan. Dengan cara ini,
menjadi jelas bahwa kasih Tuhan mendahului kebaikan atau kemurnian kita; Ia
mengasihi kita terlebih dahulu, dan dalam kasih itu, Ia mengampuni dan
memulihkan kita. Kasih-Nya bukan hadiah atas penerimaan kita terhadap belas
kasih-Nya; sebaliknya, Ia mengasihi kita, dan karena itu menyucikan kita,
sehingga memungkinkan kita untuk menanggapi kasih-Nya.
Oleh
karena itu, marilah kita belajar dari Yesus tentang pelayanan timbal balik ini.
Ia tidak meminta kita untuk membalas budi terhadap-Nya, tetapi berbagi
karunia-Nya di antara kita: “Kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh
13:14). Paus Fransiskus pernah mengatakan berkaitan dengan hal tersebut: ini
“adalah kewajiban yang datang dari hatiku: aku menyukainya. Aku menyukai hal
ini dan senang melakukannya karena itulah yang diajarkan Tuhan kepadaku”
(Homili Misa Kamis Putih, 28 Maret 2013). Ia tidak berbicara tentang perintah
abstrak, atau perintah formal dan kosong, tetapi mengungkapkan ketaatannya yang
tulus kepada kasih Kristus, yang merupakan sumber dan model kasih kita.
Sesungguhnya, teladan yang diberikan oleh Yesus tidak dapat diteladani karena
kenyamanan, keengganan, atau kemunafikan, tetapi hanya karena kasih.
Oleh
karena itu, membiarkan diri kita dilayani oleh Tuhan adalah syarat yang
diperlukan untuk melayani seperti yang Ia lakukan. “Jikalau Aku tidak membasuh
engkau,” kata Yesus kepada Petrus, “engkau tidak mendapat bagian bersama Aku”
(Yoh 13:8): jika engkau tidak menerima Aku sebagai hamba-Mu, engkau tidak dapat
benar-benar percaya kepada-Ku atau mengikut Aku sebagai Tuhan. Dengan membasuh
tubuh kita, Yesus menyucikan jiwa kita. Di dalam Dia, Allah telah memberi kita
teladan — bukan tentang bagaimana mendominasi, tetapi tentang bagaimana
membebaskan; bukan tentang bagaimana menghancurkan kehidupan, tetapi tentang
bagaimana memberikannya.
Ketika
umat manusia bertekuk lutut karena begitu banyak tindakan kebrutalan, marilah
kita juga berlutut sebagai saudara dan saudari bersama orang-orang yang
tertindas. Dengan cara ini, kita berusaha mengikuti teladan Tuhan, menggenapi
apa yang telah kita dengar dari Kitab Keluaran: “Hari ini akan menjadi hari
peringatan bagimu” (12:14). Sesungguhnya, seluruh sejarah Kitab Suci bertemu di
satu titik dalam Yesus, Sang Anak Domba Paskah sejati. Di dalam Dia,
tokoh-tokoh dahulu kala menemukan penggenapannya, karena Kristus Sang
Juruselamat menggenapi Paskah umat manusia, membuka jalan bagi semua orang dari
dosa menuju pengampunan, dari kematian menuju kehidupan kekal: “Inilah
tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu. Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku”
(1Kor. 11:24).
Dengan
memperbarui tindakan dan sabda Tuhan malam ini, kita memperingati penetapan
Ekaristi dan Sakramen Imamat. Ikatan hakiki antara kedua sakramen ini
mengungkapkan pemberian diri Yesus yang sempurna, Sang Imam Agung dan Ekaristi
yang hidup dan kekal. Sebab dalam roti dan anggur yang telah dikonsekrasi
terdapat “sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan
Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita
dikurniai jaminan kemuliaan yang akan datang” (Konstitusi Dogmatis Sacrosantum
Concilium, 4 Desember 1963, 47). Melalui para uskup dan imam, yang ditetapkan
sebagai “imam-imam Perjanjian Baru” menurut perintah Tuhan (Konsili Trent; De
Missae Sacrificio, 1), hadirlah tanda kasih-Nya kepada seluruh Umat Allah.
Saudara-saudari terkasih dalam imamat, kita dipanggil untuk melayani Umat Allah
dengan seluruh hidup kita.
Oleh
karena itu, Kamis Putih adalah hari penuh syukur dan persaudaraan sejati.
Semoga adorasi Ekaristi malam ini, di setiap paroki dan komunitas, menjadi
waktu untuk merenungkan tindakan Yesus, berlutut seperti Dia, dan memohon
kekuatan untuk meneladan pelayanan-Nya dengan kasih yang sama.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 3 April 2026)




