Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA BAGI PARA KARDINAL DAN USKUP YANG TELAH WAFAT SELAMA SETAHUN TERAKHIR 5 November 2026

Bacaan Ekaristi : 2Mak. 12:43-46; Mzm. 143:1-2.5-6.7ab.8ab.10; 1Kor. 15:20-24a.25-28; Yoh. 6:37-40.

 

“Siapa yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada” (Yoh 12:26). Kata-kata Yesus ini menyentuh hati kita secara langsung, memanggil kita untuk mengikuti Dia di sepanjang jalan yang telah Ia tempuh sendiri: jalan menuju kemuliaan melalui salib. Dalam perjalanan ini — di mana kita tidak luput dari berbagai pencobaan dan penderitaan — kita dibimbing dan dikuatkan oleh suatu janji: janji akan persekutuan yang tidak dapat dikuasai oleh maut. Sesungguhnya, siapa pun yang mengikuti Kristus menjadi pelayan-Nya dan akan senantiasa berada di tempat Ia berada, justru karena mereka telah menempuh jalan-Nya. Oleh karena itu, Santo Paulus menegaskan: “Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia” (2Tim 2:11). Saudara-saudari terkasih, kepastian iman dan pengharapan inilah yang mendasari perayaan kita demi kedamaian jiwa para kardinal dan uskup yang telah meninggalkan kita sepanjang tahun yang lalu. Kita ingin berdoa kepada Tuhan bagi mereka, agar Ia berkenan memberikan upah kepada para pelayan-Nya yang setia.

 

Kenangan dalam doa ini mengajak kita untuk merefleksikan nilai rohani dari ingatan. Saat berpamitan dengan putra-putranya, Agustinus dan Navigius, menjelang ajalnya, Santa Monika berkata, “Hanya satu hal yang kuminta darimu: ingatlah aku di mezbah Tuhan, di mana pun kamu berada” (Santo Agustinus, Pengakuan-pengakuan, IX, 11, 27). Di sini, misteri kematian dikaitkan dengan doa bagi orang yang telah meninggal — sebuah praktik yang telah dijalankan Gereja sejak awal mula sebagai salah satu kewajiban dasariahnya.

 

Dalam terang sabda Allah, kita dapat merefleksikan secara singkat dua kebenaran yang menerangi doa kita bagi orang yang telah meninggal: harapan akan kebangkitan dan persekutuan para kudus.

 

Kisah tentang Yudas Makabe yang kita dengar dalam Bacaan Pertama (2 Mak 12:43-46) membantu kita merefleksikan perihal kebangkitan. Setelah beberapa rekannya, yang telah berdosa karena menyembah berhala, gugur dalam pertempuran, Yudas menyerahkan mereka kepada kerahiman Allah dan mengatur agar persembahan penghapus dosa dipersembahkan bagi mereka, supaya mereka dapat dibebaskan dari dosa mereka. Tindakan ini didasarkan pada keyakinan bahwa persekutuan yang kita alami satu sama lain di dunia ini — meskipun penuh dengan keterbatasan dan kegagalan — tidak berakhir ketika diserahkan ke dalam tangan Allah. Dengan demikian, kesaksian dari zaman Makabe ini mengantisipasi apa yang kemudian digenapi dalam liturgi Kristiani. Sebab, peringatan kita akan saudara-saudari yang telah mendahului kita di hadapan mezbah Tuhan berlandaskan pada janji bahwa hidup kita, di dalam Kristus, tidak akan sirna, karena hidup itu telah ditebus.

 

Tindakan Yudas, pertama-tama dan terutama, merupakan suatu tindakan iman, karena ia mempersembahkan kurbannya “dengan harapan teguh bahwa mereka yang telah meninggal akan bangkit kembali” (ayat 44). Dalam terang Yesus — yang merupakan sumber kebangkitan itu sendiri — kita pun berdoa bagi mereka yang telah mendahului kita, berkat harapan besar yang dianugerahkan kepada kita dalam misteri Paskah. Sebab, sebagaimana ditegaskan oleh Kitab Suci, jika tidak ada kebangkitan, maka sia-sialah doa bagi orang mati (bdk. ayat 44). Rasul Paulus pun menyampaikan pernyataan yang tegas ini: “Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, Kristus juga tidak dibangkitkan. Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:13-14).

 

Saudara-saudari terkasih, mendoakan mereka yang telah meninggal berarti merayakan kehidupan — terutama kehidupan Kristus Tuhan yang telah bangkit, dan kemudian, berkat rahmat-Nya, kehidupan kita sendiri yang turut bangkit di dalam Dia. Kurban Ekaristi merupakan kenangan akan Paskah-Nya, peristiwa di mana Ia menyelamatkan kita dengan menyerahkan diri-Nya bagi kita. Oleh karena itu, janganlah kita membiarkan pengenangan akan orang yang telah meninggal sekadar menjadi nostalgia belaka. Dalam iman, marilah kita merenungkan misteri kematian tanpa rasa takut, karena Tuhan itu hidup, menantikan kita, dan telah menyediakan tempat bagi kita di rumah Bapa-Nya (bdk. Yoh 14:2-3).

 

Gereja merayakan tindakan penyerahan diri dan pengharapan ini di dalam persekutuan para kudus. Ketika kita berdoa bagi mereka yang telah meninggal, kita melakukannya bukan hanya untuk mereka, melainkan juga bersama mereka — terlibat dalam suatu hubungan timbal balik yang dihidupkan oleh Roh Kudus di dalam hati kita. Gereja merupakan misteri persekutuan antara Kristus, sang Kepala, dengan kita, anggota-anggota tubuh-Nya: dari Dialah kita menerima kehidupan. Persekutuan ini mempersatukan jiwa-jiwa bahagia yang telah memandang wajah Allah dengan semua orang yang, baik di surga maupun di bumi, sedang dalam perjalanan menuju tujuan yang gilang-gemilang itu.

 

Saudara-saudari terkasih, di dalam Kristus, kematian tidak memutuskan ikatan di antara kita. Sebaliknya, kematian mengubah ikatan tersebut ke dalam dimensi baru — dimensi yang hanya dapat dipahami melalui misteri kasih-Nya, kasih yang diberikan hingga tuntas di atas kayu salib dan dicurahkan setelah kemenangan Paskah-Nya. Dengan menyambut kasih Tuhan yang telah bangkit dalam Ekaristi kudus, marilah kita menjaga dan memelihara persekutuan ini sepanjang perjalanan hidup kita. Dengan demikian, kelak saat tiba giliran kita, kita pun dapat menerima doa dari saudara-saudari kita yang masih dalam peziarahan, serta bersukacita bersama seluruh orang kudus dalam kebahagiaan di tanah air surgawi.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 November 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN 2 November 2026

Bacaan Ekaristi : 2Mak. 12:43-46; Mzm. 143:1-2.5-6.7ab.8ab.10; 1Kor. 15:20-24a.25-28; Yoh. 6:37-40.

 

Saudara-saudari terkasih, kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi di tempat doa dan kenangan, tempat yang penuh kasih sayang dan harapan ini. Kita mempersembahkannya demi keselamatan jiwa-jiwa umat beriman yang telah berpulang, khususnya bagi mereka yang beristirahat di sini dan bagi mereka yang senantiasa kita bawa dalam hati kita masing-masing.

 

Mengenang umat beriman yang telah berpulang, tepat sehari setelah Hari Raya Semua Orang Kudus, mengarahkan doa kita. Kita berpaling kepada Bapa surgawi agar kehidupan dalam kekudusan dan kebahagiaan — yang telah dinikmati oleh begitu banyak putra dan putri-Nya — dapat melingkupi jiwa-jiwa mereka yang kini beristirahat dalam damai.

 

Iman kita diterangi oleh Sabda yang telah diwartakan, yang semakin meneguhkan kepercayaan kita akan tangan Allah. Sebagaimana diingatkan oleh Kitab Kebijaksanaan, tangan Allah yang penuh kuasa mampu menjaga jiwa orang-orang benar: “Siksaan tidak akan pernah menimpa mereka” (Keb 3:1). Inilah janji keselamatan yang, khususnya pada hari ini, menjadi inti dari permohonan yang kita panjatkan kepada Tuhan Sang Pemilik Kehidupan bagi semua orang beriman yang telah berpulang.

 

Semoga tangan-Nya yang penuh kasih kebapaan dan teguh senantiasa menjaga mereka untuk selama-lamanya, agar mereka dapat menikmati sepenuhnya kepemilikan yang hidup dan timbal balik yang dijanjikan Tuhan kepada umat-Nya dalam Kitab Wahyu: “Mereka akan menjadi umat-Nya dan Allah sendiri akan menyertai mereka sebagai Allah mereka” (Why 21:3). Doa kita menjadi perantaraan agar persekutuan hidup yang kekal ini — yang dijanjikan oleh Sang Gembala yang baik kepada domba-domba-Nya — dapat terwujud; domba-domba yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan-Nya (bdk. Yoh 10:28).

 

Saudara-saudari terkasih, kita telah mendengarkan Bacaan Injil tentang Sabda Bahagia (Mat 5:1-12). Sabda Bahagia ibarat potret diri Yesus, yang Ia berikan kepada para murid-Nya saat Ia mewartakan “Berbahagialah kamu!” (ayat 11). Sabda Bahagia merupakan jalan menuju kehidupan yang utuh dan terpenuhi, baik saat ini maupun untuk kekekalan. Ketika kita mendengarnya dibacakan dalam liturgi — kita tahu — Tuhan yang bangkit yang sedang berbicara kepada kita. Pewartaan keselamatan yang terkandung dalam Sabda Bahagia ini bergema dengan kekuatan rohani yang istimewa di sebuah pemakaman, yang ibarat ambang batas antara dunia ini dan dunia yang akan datang, antara kehidupan di bumi dan apa yang menanti kita di sana. Yesus yang bangkit berkata kepada kita bahwa berbahagialah mereka yang hidup menurut jalan ini karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.

 

Di antara delapan Sabda Bahagia dalam Injil Matius, ada satu yang menyentuh kita secara khusus hari ini: “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Mat 5:4). Pada saat ini, kita ingin mendoakan mereka yang baru saja kehilangan orang yang dicintai; khususnya bagi mereka yang orang-orang terkasihnya telah direnggut oleh kekerasan perang yang tidak masuk akal. Semoga air mata begitu banyak ibu, anak-anak, dan lansia mengetuk hati nurani mereka yang memiliki kuasa untuk membungkam senjata!

 

Pada peringatan delapan abad wafatnya Santo Fransiskus dari Asisi, secara spontan muncul ingatan akan “sabda bahagia” yang ia tambahkan ke dalam Gita Sang Surya saat ia menyadari bahwa ajalnya telah dekat: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami, Maut Jasmani darinya tiada insan hidup terlepas. Malanglah yang mati dalam dosa. Bahagialah yang didapati dalam kehendak suci-Mu, maut kedua takan mencelakakannya."

 

Saudara-saudari terkasih, iman kepada Kristus menyatakan kepada kita bahwa ikatan kita dengan umat beriman yang telah meninggal tidaklah terputus, melainkan diubah. Melalui doa permohonan bagi arwah, kita mendampingi orang-orang yang kita kasihi menuju persekutuan penuh dengan Tuhan — persekutuan yang sesungguhnya telah kita rasakan di sini, dalam sakramen Ekaristi. Dengan didorong oleh iman yang penuh pengharapan ini, marilah kita melanjutkan perjalanan hidup kita di dunia ini, seraya menantikan hari ketika Ia akan menghapus segala air mata, saat “maut tidak akan ada lagi. Tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why 21:4).

______

(Peter Suriadi - Bogor, 3 November 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA INAGURASI TAHUN AKADEMIK UNIVERSITAS-UNIVERSITAS KEPAUSAN 8 Oktober 2026

Bacaan Ekaristi : Gal. 3:1-5; Luk. 1:69-70.71-72.73-75; Luk. 11:5-13.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Ekaristi seraya memohon karunia Roh Kudus, agar awal tahun akademik baru universitas-universitas kepausan ini menjadi lebih dari sekadar dimulainya kembali kegiatan studi dan penelitian akademik. Kita ingin membuka pikiran dan relasi pendidikan kita terhadap hembusan kreatif Yesus yang bangkit, yang menganugerahkan damai dan kesatuan, agar kita masing-masing dapat mengemban perutusan kita dan dengan demikian menanggapi Allah yang memanggil kita, serta umat manusia yang menantikan kita. Oleh karena itu, biarlah awal yang baru ini menjadi momen yang sungguh-sungguh bersifat gerejawi, di mana perhimpunan di sekeliling meja Tuhan memupuk perutusan bersama kita. Dengan cara ini, tidak ada seorang pun yang akan mengajar, belajar, atau melakukan penelitian semata-mata untuk diri sendiri, melainkan bersama orang lain, demi orang lain, dan terutama bersama serta bagi Tuhan. Sungguh, sebagaimana telah kita dengar dalam Surat kepada jemaat di Galatia, akal budi merupakan hal dasariah baik bagi iman maupun perutusan.

 

Rasul Paulus, yang merasa cemas dengan kabar yang diterimanya dari jemaat di Galatia, menulis surat yang mengajak jemaat untuk berefleksi. Nada suratnya penuh semangat dan mendesak; namun, apa yang mungkin tampak sebagai teguran sebenarnya merupakan seruan untuk menggunakan akal budi, ingatan, dan pemikiran kritis. Di setiap zaman, selalu ada guru-guru palsu yang memanfaatkan sentimen keagamaan kebanyakan orang beriman demi kepentingan mereka sendiri; mereka sering kali mendorong orang untuk meradikalisasi aspek-aspek tertentu dari ajaran yang telah diterima, dengan mengorbankan keutuhan ajaran tersebut — yaitu keutuhan yang berpusat pada Kristus dan Injil-Nya.

 

Sahabat-sahabat terkasih, pandanglah kegiatan studi sebagai pelayanan bagi iman dan kebenaran: demi kebaikan dirimu dan kebaikan begitu banyak saudara-saudari yang karenanya Tuhan telah menyerahkan hidup-Nya. Sebab, meskipun perjumpaan dengan Dia sungguh mendatangkan sukacita dan semangat, hal itu sama sekali bukan soal menjadi "terguna-guna" atau "terpesona" (bdk. Gal 3:1). Akal budi — yang mengajukan pertanyaan dalam terang sabda Allah dan Tradisi Gereja — merupakan bagian penting dari perjalanan iman dalam mengikuti Yesus Kristus. Justru karena alasan inilah, Gereja memiliki keinginan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keutuhan harta kekayaan pewahyuan serta mengembangkannya —dalam berbagai konteks — melalui pemahaman yang disertai doa, refleksi ilmiah, mediasi budaya, dan penerapan praktis. Semua ini merupakan ungkapan dari satu kasih yang kini memanggil, menopang, dan mengutusmu dalam pencarian bersama ini. Ini adalah sebuah perutusan. Panggilan kita mungkin berbeda, namun perutusannya satu.

 

Kita memperoleh nasihat tambahan dari kata-kata Santo Paulus, yang mendesak jemaat Galatia untuk mengingat kembali titik awal perjalanan mereka. Ia menulis: "Apakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang kamu mau mengakhirinya dengan daging? Sia-siakah begitu banyak derita yang telah kamu alami itu?" (Gal 3:3-4). Oleh karena itu, kecerdasan harus bersumber pada ingatan. Akal budi tidak boleh sekadar mengumpulkan data — seperti yang kini dilakukan algoritma dengan kecepatan yang melampaui kemampuan kita —melainkan harus mengenang pengalaman hidup yang sarat akan makna mendalam yang hanya dapat dikenali oleh jiwa manusia, serta membangun hubungan yang lebih erat dengan kebaikan yang terkandung dalam pengalaman-pengalaman tersebut. Segala sesuatu yang baik bermula "dengan Roh" dan karenanya memiliki napas kehidupan, dinamisme, serta semangat persekutuan yang, begitu dialami, akan terpatri dalam hati. Rutinitas, ambisi, persaingan, dan faktor-faktor negatif lainnya dapat, seiring berjalannya waktu, mengalihkan perhatian dan energi kita, hingga membuat kita kelelahan, lesu, gemar bertikai, dan diliputi kesedihan. Maka, kita harus kembali ke hati. Di sanalah segalanya bermula; sebuah titik awal yang selalu bisa kita tuju kembali. Sahabat-sahabat terkasih, jagalah hatimu. Baik sebagai mahasiswa, peneliti, maupun pengajar, jagalah hatimu agar setiap tahapan hidup dan tanggung jawab dapat dijalani "dengan Roh."

 

Sahabat-sahabat terkasih, selama masa kuliahmu, pupuklah persahabatan yang merupakan anugerah berharga, terutama ketika persahabatan itu dijalani dalam semangat pencarian kebenaran bersama di dalam Kristus. Tetaplah berakar pada umat Allah, hargailah sensus fidei (cita rasa iman) mereka, dan terbukalah terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka. Dan janganlah melupakan kaum miskin; mereka terkadang adalah sosok sahabat yang dengan gigih datang mengetuk pintu di tengah malam (bdk. Luk 11:5–13). Hidupkanlah studimu dan bawalah studimu ke dalam kehidupan, dengan mengikuti nalar Inkarnasi — sebuah nalar yang tanpanya pewahyuan akan membisu. Sungguh, semakin jauh kita menyimpang dari kenyataan sepenuhnya yang dijalani oleh Putra Allah dengan kasih tak terhingga, semakin sedikit pula hal yang dapat kita sampaikan dan semakin terbatas kesempatan kita untuk memahami. Saudara-saudari, marilah kita mendengarkan kerinduan Allah yang hari ini kembali mengetuk pintu hati kita, dan marilah kita membawanya ke dalam ranah penelitian ilmiah. Marilah kita berbagi apa yang menjadi santapan rohani kita. Banyak orang tidak memiliki kesempatan pendidikan yang sama seperti yang telah kita terima. Marilah kita membuka pintu; janganlah kita menutup diri.

 

Sebagaimana telah saya sampaikan dalam ensiklik pertama saya, hari ini kita dipanggil untuk meneladani sikap umat pada zaman Nehemia demi membangun kota tempat Allah berkehendak untuk tinggal bersama seluruh umat manusia dalam damai (bdk. Ensiklik Magnifica Humanitas, 8). Setiap orang memiliki peran dalam upaya ini, yang menuntut kerja sama di antara kita. Sebagai contoh, mereka yang bergulat dengan fragmentasi pengetahuan dan dampak teknologi baru terhadap pikiran manusia menyadari bahwa “kita perlu mengembangkan kebiasaan menjaga kesehatan perhatian: menyediakan waktu untuk hening, belajar secara mendalam, membaca, dan berdialog dengan penuh pertimbangan. Tanpa itu semua, kebebasan batin dapat terganggu” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 146).

 

Studi teologi tidak asing dengan tantangan-tantangan ini. Dalam upaya pembangunan "Kota Allah," penelitian teologis turut menerangi karya semua pihak serta menjadi titik temu bagi berbagai bidang ilmu pengetahuan. Secara khusus, komunitas gerejawi di Roma — melalui panggilannya untuk melayani seluruh Gereja Katolik — berperan sebagai tempat pertemuan dan wadah bagi dialog serta saling memperkaya di antara beragam kepekaan, budaya, dan tradisi; di dalamnya, Injil menyingkapkan kekayaan yang tak habis-habisnya.

 

Saudara-saudari terkasih, semoga kamu menjalani masa-masamu di Roma dengan sepenuh hati. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa makna. Di tempat inilah Petrus menyatakan imannya hingga mencapai kemartiran. Di tempat inilah Paulus — sang penerjemah agung pengalaman Kristiani bagi begitu banyak bangsa, bahasa, dan budaya —mengakhiri pertandingannya setelah memelihara iman (bdk. 2Tim 4:7). Perhatikanlah sekelilingmu di universitas: dunia hadir di dalam ruang-ruang kelasmu. Kamu belajar bersama orang-orang dari Afrika, Asia, Amerika, Eropa, dan Oseania. Jangan membatasi diri hanya dengan duduk berdampingan: kenalilah satu sama lain, berbicaralah satu sama lain, dengarkanlah satu sama lain, bagikan pengalamanmu tentang Gereja, berdoalah bersama, nikmati waktu senggang bersama, dan jalinlah persahabatan yang akan bertahan seumur hidup.

 

Tuhan bersabda kepada kita: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Sebab, setiap orang yang meminta, menerima; dan setiap orang yang mencari, mendapat; yang mengetuk, baginya pintu dibukakan” (Luk 11:9–10). Dengan dikuatkan oleh janji ini, marilah kita bertekun bersama dalam doa. Marilah kita menyerahkan tahun ajaran baru ini kepada perantaraan keibuan Bunda Maria, Takhta Kebijaksanaan, dan menyambut Roh Kudus, yang senantiasa dianugerahkan oleh Bapa surgawi kepada mereka yang memohon dengan penuh kepercayaan sebagai anak.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Oktober 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXVII BERSAMA KEPOLISIAN VATIKAN 3 Oktober 2026

Bacaan Ekaristi : Yes. 5:1-7; Mzm. 80:9.12.13-14.15-16.19-20; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sangat senang dapat merayakan Ekaristi untukmu dan bersamamu, pada pesta santo pelindungmu, Santo Mikael Malaikat Agung. Lima belas dari kamu baru-baru ini mengucapkan sumpah. Ini adalah waktu untuk berdoa. Secara khusus, marilah kita sekarang berhenti sejenak untuk merenungkan sabda Allah yang telah kita dengar: sabda itu membantu kita memahami apa artinya melayani, menjaga, dan melindungi.

 

Nabi Yesaya (5:1-7) berbicara kepada kita tentang kebun anggur yang dikasihi dan dipelihara dengan saksama. Kebun anggur tersebut melambangkan kasih Allah kepada umat-Nya. Allah telah melakukan segala sesuatu untuk kebun anggur-Nya dan mengharapkan buah yang baik darinya. Dan Allah memanggil semua anak-anak-Nya untuk bekerja di kebun anggur-Nya, sehingga kita menjadi kebun anggur sekaligus pekerja. Bagimu, para polisi Vatikan, pelayanan ini adalah cara untuk menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan. Tempat, pintu masuk, bangunan, tetapi yang terpenting, orang-orang, dipercayakan kepadamu. Satu sifat yang menonjol dalam pertemuan kita adalah kepedulian ini: sungguh indah melihat bagaimana kamu memandang orang lain bukan sebagai masalah yang harus dipecahkan, tetapi sebagai manusia yang harus dihormati dan diperhatikan.

 

Dalam Bacaan Injil (Mat 21:33-43), perumpamaan Yesus menunjukkan kepada kita contoh negatif: para penggarap kebun anggur yang, seiring waktu, lupa bahwa kebun anggur itu bukan milik mereka, melainkan dipercayakan kepada mereka untuk dipelihara. Ini adalah pengingat yang berharga bagi mereka yang hidup dalam pelayanan: apa yang kita terima adalah tanggung jawab yang harus dijaga dengan kerendahan hati dan pengabdian, dijalani dengan kebijaksanaan dan rasa tanggung jawab. Kamu tahu betul bahwa kewenangan, dalam terang Injil, diungkapkan pertama dan terutama dalam kemampuan untuk melindungi, mendengarkan, dan mendampingi, dengan keseimbangan, ketegasan, dan rasa hormat.

 

Kemudian Yesus memberitahu kita bahwa pemilik kebun anggur mengutus anaknya. Anak ini, yang melambangkan Kristus, merupakan pusat perumpamaan. Dan Dia - Yesus Kristus - yang harus menjadi pusat kehidupan dan pelayananmu. Bahkan sebelum menjadi polisi, kamu adalah orang-orang yang dipanggil untuk mengikuti Dia. Dari Dia kita belajar kekuatan yang dapat menjadi kelembutan, kewaspadaan yang lahir dari kepercayaan, kewenangan yang berjalan seiring dengan kerendahan hati, dan keberanian untuk bertindak dengan hati yang penuh belas kasihan.

 

Dalam Bacaan Kedua (Flp. 4:6-9), Santo Paulus berkata kepada kita: "Janganlah khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah" (Filipi 4:6). Ini juga merupakan ungkapan yang sangat tepat untuk pelayananmu. Akan ada hari-hari yang tenang dan hari-hari yang sulit; saat-saat ketika perlu mengambil keputusan cepat; situasi yang akan menimbulkan kelelahan dan kekhawatiran. Polisi tidak memikul semuanya sendirian: ia berdoa, tahu bagaimana mempercayai, tahu bagaimana menemukan kedamaian dalam Tuhan yang memungkinkannya untuk bertindak dengan jelas dan hati yang tenang.

 

Rasul Paulus menambahkan, "Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu" (bdk. Filipi 4:8). Inilah ciri lain dari "jati diri"-mu: hati dan pikiran yang terlatih dalam kebaikan. Sebelum tindakan lahiriah apa pun, ada pandangan batiniah. Mereka yang melindungi orang lain harus terlebih dahulu melindungi kebenaran, keadilan, kebaikan, dan rasa hormat di dalam diri mereka sendiri. Melindungi orang lain membutuhkan hati yang dilindungi oleh Tuhan.

 

Pekerjaanmu tentu menuntut kewaspadaan, tetapi sabda Allah hari ini mengajakmu kepada sesuatu yang lebih mendalam: menjaga dirimu dengan saksama. Jagalah hatimu, agar tidak menjadi keras tetapi selalu taat kepada Allah dan memperhatikan sesama; jagalah hati nuranimu, agar terus membimbingmu dengan kebenaran; jagalah persaudaraan di antaramu, agar setiap orang merasa diterima, didukung, dan tidak pernah sendirian. Karena suatu kelompok benar-benar menjadi "komunitas" ketika anggotanya saling peduli dan belajar berjalan bersama, saling mendukung dengan kesederhanaan dan kasih.

 

Saya juga menutup tahun ini dengan ungkapan kasih sayang dan rasa syukur kepada keluargamu. Kepada orang tua, istri, anak-anak, dan pacarmu: terima kasih! Kamu tahu pengorbanan, ketidakhadiran, jadwal, kekhawatiran, dan bahkan beban pelayanan yang tidak selalu terlihat.

 

Kepada mereka yang telah melayani selama bertahun-tahun dan kepada lima belas orang yang mengucapkan sumpah hari ini, saya katakan: jangan pernah lupa siapa dan apa yang kamu pilih untuk layani. Jadilah orang yang dapat dipercaya, bijaksana, dan setia. Biarkan Yesus menginspirasi pelayananmu. Semoga lencanamu yang terindah adalah hati yang tahu bagaimana melindungi.

 

Kita mempercayakan semua ini kepada Bunda Maria. Semoga Maria, perempuan yang penuh perhatian dan dapat dipercaya, menyertai keluargamu dan kamu masing-masing. Dan kita memohon kepada Santo Mikael Malaikat Agung untuk berada di sisimu dalam kewaspadaan dan perjuangan melawan segala kejahatan. Semoga ia melindungimu dalam pelayananmu dan membantumu tetap setia, sehingga Tuhan Yesus selalu menjadi pusat kehidupan, pelayanan, dan hatimu.

______

(Bogor, 4 Oktober 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI KATEDRAL SANTO STEFANUS, METZ, PRANCIS 28 September 2026

Bacaan Ekaristi : Yes 32:15-18; Mat 5:38-48.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Saya sangat bersukacita dapat memimpin perayaan Ekaristi ini, di mana kita mempercayakan komunitas Keuskupan Metz dan seluruh Eropa ke dalam tangan Tuhan. Di wilayah Moselle yang bersejarah ini — yang senantiasa menjadi titik pertemuan bagi berbagai bangsa dan telah menanggung penderitaan akibat letaknya di garis depan Eropa — hari ini janji Allah bergema dengan kekuatan yang luar biasa.

 

Dalam Bacaan Pertama (bdk. Yes 32:15-18), Nabi Yesaya berbicara tentang kedatangan Kerajaan Allah dalam kaitannya dengan kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera. Ia menggunakan tiga gambaran: padang gurun, kebun, dan rumah.

 

Di padang gurun — tempat yang penuh kesahajaan dan keheningan — keadilan ditegakkan; yakni hukum yang menuntun orang untuk berjalan di jalan kebaikan. Gambaran yang bersahaja ini mengingatkan kita akan pentingnya kesederhanaan dan hal-hal yang hakiki, yang memungkinkan kita memberikan nilai yang tepat bagi segala sesuatu, sekaligus mengajarkan kita sikap penyangkalan diri dan pengorbanan.

 

Gambaran kedua adalah taman tempat keadilan bertakhta. Jika padang gurun melambangkan hal yang hakiki, maka taman melambangkan keindahan. Di sana terdapat air, benih bertunas, pucuk bermunculan, dan bunga-bunga mekar, masing-masing dengan keindahannya yang khas. Inilah buah dari kehidupan yang benar, yang memampukan seseorang untuk berkembang sepenuhnya dengan bebas mengikuti rencana Tuhan.

 

Gambaran ketiga adalah rumah, sebuah tempat damai sejahtera. Perhatikanlah bahwa sementara padang gurun dan taman merupakan tempat di mana karya Allah mendominasi — menumbuhkan dan mengembangkan segala sesuatu — membangun rumah justru menuntut kontribusi yang lebih langsung dan signifikan dari manusia. Hal ini melibatkan pengerahan kekuatan dan keterampilan melalui upaya bersama; sungguh sebuah "proyek pembangunan" yang nyata. Demikian pula, damai sejahtera — sebagai anugerah Allah — memerlukan tanggapan manusia melalui usaha bersama. Bagaimanapun juga, rumah lebih dari sekadar bangunan batu; rumah adalah tempat bagi kehadiran dan kasih sayang manusia. Dalam pengertian ini, perkataan sang nabi mengingatkan kita bahwa di dunia yang penuh keterbatasan, kerukunan hanya dapat dibangun melalui kasih — kasih yang tahu cara berbagi suka dan duka, yang tahu cara memberi semangat dan mengampuni tanpa perhitungan ataupun batasan, persis seperti dalam sebuah keluarga.

 

Bacaan Injil yang baru saja kita dengar juga membahas hal ini (bdk. Mat 5:38–48). Di dunia yang ditandai oleh begitu banyak kekerasan, manipulasi, dan kesombongan di berbagai tingkatan, Yesus mengajar kita cara mengubah padang gurun menjadi oasis, menanami kebun, dan membangun rumah. Ia menunjukkan kepada kita jalan yang ditempuh melalui pengampunan, belas kasih, dan keluhuran hati: "Siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil" (Mat 5:39–41).

 

Bagi sebagian orang, kata-kata ini mungkin tampak sebagai tanda kelemahan atau sikap mengalah terhadap kejahatan, namun kenyataannya tidaklah demikian. Mari kita cermati diri kita dan lingkungan sekitar kita: Apa dampak dari sikap seperti dendam, pembalasan, dan penolakan, baik di dunia maupun di dalam diri kita sendiri? Masa depan seperti apa yang menanti umat manusia akibat hubungan dan sistem yang diliputi mentalitas kejam yang bersumber dari sikap-sikap tersebut? Kamu, yang merupakan anak-anak dari negeri yang di masa lalu terkoyak oleh konflik antarsaudara, sangat memahami bahwa tidaklah benar jika dikatakan mereka yang menuntut balas lebih kuat daripada mereka yang mengampuni. Tidaklah benar bahwa mereka yang menolak untuk mengalah lebih kuat daripada mereka yang mengupayakan rekonsiliasi. Tidaklah benar bahwa mereka yang memilih untuk pergi lebih kuat daripada mereka yang menghadapi tantangan untuk berjalan bersama.

 

Metz dan Moselle menjadi saksi bagi seluruh dunia bahwa rekonsiliasi hanya mungkin terjadi ketika kita memiliki keberanian untuk memutus rantai kebencian. Dibutuhkan kekuatan dan integritas yang besar untuk tidak dikuasai oleh kejahatan, terutama ketika luka yang ditimbulkan begitu mendalam. Namun, dalam menghadapi ketidakadilan, satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia adalah kasih yang peduli terhadap sesama dan berupaya memberikan kepercayaan terlepas dari situasi apa pun, bahkan saat berhadapan dengan perilaku yang paling sulit untuk diterima (bdk. Mat 5:42). Dengan demikian, hukum, keadilan, dan damai sejahtera merupakan tahapan dalam jalan pertobatan yang bermula sebagai perjalanan pribadi dan kian berkembang menjadi perjalanan bersama, yang mengarah pada peradaban yang menghormati manusia serta Sang Pencipta mereka.

 

Bukanlah suatu kebetulan bahwa Santo Agustinus mendefinisikan damai sejahtera kota surgawi sebagai persekutuan yang harmonis, di mana orang-orang menemukan sukacita dalam Allah dan sesama melalui Dia (bdk. *De Civitate Dei*, XIX, 13,1). Ia juga menggambarkan damai sejahtera antarmanusia sebagai buah dari *tranquillitas ordinis* (ketenangan dalam keteraturan), di mana setiap orang mengakui dan menghormati martabat serta peran yang unik dan sakral dari sesamanya.

 

Di sini, di Metz, patut diingat bahwa nilai-nilai inilah yang menjadi landasan bagi Eropa yang kita kenal sekarang selama berabad-abad, di mana warisan rohani dan moral mendahului warisan ekonomi dan politiknya. Sebagaimana diingatkan kembali dengan penuh haru oleh Santo Yohanes Paulus II, Eropa berakar pada kehidupan dan karya orang-orang — baik pria maupun wanita — yang hidup, mewartakan, dan membagikan ajaran Injil (bdk. Wejangan pada Acara Pro-UE, Santiago de Compostela, 9 November 1982). Hal ini tampak jelas dalam kontribusi besar — baik di bidang rohani, budaya, maupun pertanian dan kerajinan tangan — yang diberikan oleh kehidupan biara bagi sejarah benua ini, serta melalui karya para orang kudus seperti Chrodegang yang agung, gembala yang tak kenal lelah bagi komunitas ini. Sungguh, tepat di tempat inilah ia mewujudkan persekutuan gerejawi dalam Hukum Kanonik.

 

Prinsip-prinsip moral yang mengatur dunia tempat kita hidup ini diwariskan kepada kita dari sana: prinsip-prinsip seperti keutamaan pribadi manusia serta sifat hidup manusia yang kudus dan tak dapat diganggu gugat pada setiap tahap dan dalam segala keadaan; perlindungan terhadap kebebasan individu; peran utama keluarga sebagai landasan masyarakat; kepedulian terhadap kaum miskin dan orang-orang yang paling kurang beruntung; sikap menyambut pendatang; serta penghormatan terhadap kaum lanjut usia.

 

Gereja setempatmu, yang berkat status istimewanya melestarikan warisan unik dari dialog yang berbuah antara masyarakat sipil dan iman, memikul tanggung jawab untuk menjadi laboratorium hidup bagi kesetiaan ini. Tetap setia pada prinsip-prinsip ini tidak pernah mudah, bahkan bagi mereka yang mendahului kita. Namun, melalui kesetiaan dan ketekunan, para leluhur kita mewariskannya kepada kita sebagai harta berharga untuk kemudian diteruskan kepada generasi mendatang, serta diperkaya oleh pengalaman, nilai dari upaya, dan kisah kita.

 

Katedral megah di kota tempat kita berkumpul hari ini menggambarkan semua hal tersebut dengan sangat baik. Katedral ini dikenal sebagai "Lanterne du Bon Dieu" (Lentera Tuhan) berkat jendela kaca patri seluas 6.500 meter persegi yang menampilkan berbagai peristiwa biblis. Tampaknya para pembangunnya berupaya meminimalkan dinding — yang tetap kokoh — agar cahaya dapat membanjiri umat beriman dengan melimpah. Dengan demikian, siapa pun yang memasukinya akan larut dalam kekayaan *biblia pauperum* (alkitab bagi mereka yang tidak bisa membaca) — sebuah sumber doa dan permenungan — melalui refleksi seribu warna. Di tempat yang penuh cahaya ini, keindahan jendela kaca patri yang bersejarah tersebut baru-baru ini diperkaya oleh sentuhan jenius Marc Chagall. Karya pelukis Yahudi ternama ini, yang dipasang pada dinding katedral, mengubah "Lanterne du Bon Dieu" menjadi simbol luar biasa bagi ekumenisme dan dialog antaragama. Katedral ini mengajarkan kita bahwa cahaya Allah tidak melenyapkan keunikan jatidiri kita, melainkan menyatukan berbagai sejarah dan budaya yang berbeda ke dalam satu mozaik perdamaian yang menakjubkan — sesuatu yang sangat dibutuhkan di zaman kita saat ini, yang terkoyak oleh perpecahan dan konflik baru. Saat kita merenungkan jendela kaca patri ini, kita belajar bahwa masa depan Eropa tidak terletak pada keseragaman, melainkan pada kerukunan dalam perbedaan, di mana luka-luka masa lalu menjadi celah bagi cahaya untuk bersinar.

 

Di sinilah terletak simbol jati diri kita sebagai Gereja. Kita pun memanfaatkan berbagai sarana yang hanya bermakna sejauh sarana tersebut membantu kita membawa terang Injil ke tengah dunia. Tanpa kaca patri ini, jendela Katedral Santo Stefanus hanyalah ruang yang dibanjiri cahaya yang menyilaukan. Namun, dengan adanya kaca patri ini, jendela tersebut menjadi "buku" yang menyatukan kita untuk mengenang kisah indah penuh kepahlawanan, kebaikan, belas kasih, cinta, dan keindahan moral — kisah-kisah yang menuntut kita untuk memberi kesaksian yang berlimpah dan berani.

 

Seiring akan segera berakhirnya perjalanan saya ke Prancis, dengan penuh rasa syukur dan kepercayaan, inilah harapan yang saya sampaikan bagi komunitas di Metz — komunitas yang kini lebih dari sebelumnya dipanggil untuk menjadi mercusuar pengharapan bagi negeri ini, Eropa, dan dunia — dan saya mempercayakan hal ini kepada pengantaraan Santa Perawan Maria serta santo-santa pelindungmu.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 28 September 2026)