Bacaan
Ekaristi : Ul. 7:6-11; Mzm. 103:1-4,6-8,10; 1Yoh. 4:7-16; Mat. 11:25–30.
Saudara-saudari
terkasih,
Berkumpul
bersama pada hari ini ketika hati Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita sebagai
jantung sejarah sungguh merupakan suatu berkat. Saya senang merayakan Ekaristi
bersamamu, mengucap syukur atas banyaknya kesaksian iman dan kasih yang telah
saya alami dalam perjalanan apostolik ini. Inilah yang menjadikan kepulauan
ini, yang begitu terkenal akan keindahan dan keramahannya, sebagai tempat di
mana Tuhan yang bangkit mendahului kita dan menyatakan diri-Nya kepada kita.
Laut di hadapan kita membangkitkan ketakterhinggaan, demikian pula langitnya;
tetapi bahkan lebih tak terbatas lagi adalah kerinduan tak terhingga yang
menyatukan hati Allah dengan begitu banyak hati manusia, yang sukacita dan
pengharapan, kesedihan dan kecemasannya menemukan gema di dalam hati Gereja
(bdk. Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Modern Gaudium et Spes,
1). Tidak ada manusia yang merupakan sebuah pulau. Lokasi geografis keuskupan
ini dan tantangan pastoral yang dihadapinya menjadi saksi bahwa kita dilahirkan
untuk berjumpa dan bahwa tidak ada halangan, jarak, bahaya, atau ancaman yang
dapat mencegah siapa pun untuk melakukan perjalanan ini. Entah kita
menghabiskan seluruh hidup kita di satu tempat atau memilih — atau dipaksa —
untuk pergi, tidak ada seorang pun yang tetap tidak berubah. Inilah rahasia
hati: panggilan batin untuk eksodus dan berjumpa.
Namun
hati Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana agar tidak tersesat dalam
perjuangan yang sia-sia: “Allah telah mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dalam
dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1Yoh. 4:9). Hidup sejati kita terletak pada
pemberian diri kita sendiri. Jika tidak, kita akan berputar-putar dalam
kehampaan. Memang, “sebagaimana diingatkan oleh Konsili, manusia dipanggil
untuk bersekutu dengan Allah dan ‘hanya dapat sepenuhnya menemukan jati diri
mereka yang sejati dalam pemberian diri yang tulus.’ Sesungguhnya, panggilan
terdalam mereka adalah memasuki dinamika kasih Allah Tritunggal yang diterima”
(Ensiklik Magnifica Humanitas, 48). Paus Fransiskus juga mengamati: “Banyak
orang dewasa ini merasakan ketidakseimbangan yang mendalam yang mendorong mereka
pada aktivitas yang hiruk pikuk dan membuat mereka merasa sibuk, selalu
terburu-buru, yang pada gilirannya membuat mereka menginjak-injak segala
sesuatu di sekitar mereka. Ini juga memengaruhi bagaimana mereka memperlakukan
lingkungan” (Ensiklik Laudato Si’, 225). Kata-kata ini juga menantang
Tenerife dalam panggilannya untuk keramahan, berbicara baik kepada hati
orang-orang yang memilih untuk menghabiskan liburan mereka di sini maupun
kepada hati orang-orang yang tinggal dan bekerja di pulau itu, menyambut para
pengunjung dari begitu banyak negara di seluruh dunia. Apa yang dicari hati
manusia? Bagaimana kita dapat menanggapi dahaganya dengan cara yang tidak
munafik? Penting, terutama bagi mereka yang dibimbing oleh Injil, untuk tidak
mereduksi segala sesuatu menjadi perdagangan dan keuntungan. “Pada
kenyataannya, mereka yang lebih menikmati setiap momen dan menghayatinya lebih
baik, adalah mereka yang berhenti untuk mematuk di sana-sini, selalu mencari
apa yang tidak mereka miliki. Mereka mengalami apa artinya menghargai setiap
orang, setiap perkara; belajar menjalin hubungan, dan tahu menikmati hal-hal
sederhana. Kebutuhan mereka yang tak terpenuhi menjadi lebih sedikit, sehingga
mereka menjadi kurang lelah dan kurang susah” (Laudato Si’, 223). Pahami
panggilanmu untuk keramahan dengan cara ini, saudara-saudari terkasih.
Bacaan
Injil hari ini tampaknya membawa tantangan ini ke titik ekstrem dan
mengingatkan kita akan kekayaan orang miskin, sebuah paradoks yang menunjuk
langsung pada kehidupan Yesus, kebenaran-Nya, jalan yang terus Ia minta untuk
kita ikuti. Dalam perikop yang telah kita dengar, ia bersyukur kepada Bapa atas
hal ini: bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya kepada orang kecil — kepada yang
paling hina di antara kita, kepada mereka yang pikiran dan perkataannya
diabaikan. Ia telah memperkaya mereka dengan apa yang tersembunyi dari mereka
yang dikelilingi oleh kekaguman dan kesuksesan. Dengan Seruan Apostolik Dilexi
Te, saya ingin memberi perhatian pada tempat istimewa orang miskin dalam
Wahyu ilahi dan perutusan Gereja.
Misteri
ini bergema secara unik di kepulauan ini, di pusat jalur migrasi yang
menjadikannya tempat penyambutan awal bagi saudara-saudari yang perjalanannya
umumnya terpapar bahaya dan kekerasan yang tak terbayangkan. Di hadapan mereka
yang memanfaatkan keputusasaan, kita sebagai umat Kristiani dapat melakukan
lebih dari sekadar meneladani Tuhan yang berkata, “Marilah kepada-Ku, semua
yang letih dan berbeban berat, dan Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat
11:28). Anugerah terbesar adalah membiarkan diri kita diinjili oleh mereka yang
kita bantu dan mengenali hikmat Allah yang misterius yang tertulis dalam daging
mereka. “Tumbuh dalam situasi yang genting, belajar untuk bertahan hidup dalam
kondisi yang paling buruk, percaya kepada Allah dengan keyakinan bahwa tidak
seorang pun menganggap mereka serius, dan saling membantu di saat-saat yang
paling gelap, kaum miskin telah belajar banyak hal yang mereka simpan
tersembunyi di dalam hati mereka. Mereka di antara kita yang belum memiliki
pengalaman serupa dalam menjalani hidup dengan cara ini tentu memiliki banyak
hal untuk dipelajari dari sumber kebijaksanaan yaitu pengalaman kaum miskin.
Hanya dengan menghubungkan keluhan kita dengan penderitaan dan kekurangan
mereka, kita dapat mengalami teguran yang dapat menantang kita untuk
menyederhanakan hidup kita.” (Dilexi Te, 102). Tuhan, yang menegur dan
mengoreksi orang-orang yang dikasihi-Nya (bdk. Why. 3:19), ingin menjadikan
hidup kita sederhana dan penuh sukacita.
Saudara-saudari
terkasih, terima kasih atas siapa dirimu dan apa yang kamu lakukan, karena
telah menjadikan pulau ini tempat perjumpaan dengan hati Kristus dalam
wajah-wajah bersahabat dan penuh keramahan orang-orang dan komunitas
persaudaraan. “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada
kita” (1Yoh. 4:16): semoga pengakuan iman ini, yang diwariskan dalam Surat
Pertama Yohanes, selalu bersinar dalam dirimu dan menginspirasimu untuk berdoa
dan bertindak. Perhatikanlah remaja dan kaum muda, orang kaya dan miskin,
penduduk dan tamu: mereka semua perlu dipandang dengan pandangan yang melihat
melampaui penampilan dan mengenali kedalaman hati mereka yang gelisah, yang
tidak jarang sudah berorientasi, mungkin tanpa disadari, kepada Kerajaan Allah
dan keadilan-Nya. Semoga menjadi nyata di antaramu bahwa “Allah adalah kasih,
dan siapa yang tetap tinggal di dalam kasih, ia tetap tinggal di dalam Allah
dan Allah di dalam dia” (1Yoh. 4:16). Inilah inti Injil, inti Kristus. Siapa
yang membenamkan diri di dalamnya, ia tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri.
Bukalah lautan kasih ini bagi semua orang! Inilah harapan dan doa saya untukmu
dan untuk semua orang yang akan mengenalmu.
[Kata
Penutup]
Saya
ingin menyampaikan rasa terima kasih saya kepada Yang Mulia dan kepada
masyarakat Tenerife serta para imam dan pejabat sipil mereka.
Saudara-saudari
terkasih, perayaan Ekaristi ini menandai berakhirnya perjalanan apostolik saya
di Spanyol. Saya mengucap syukur kepada Allah dan semua orang yang telah
menyambut saya dan, dalam berbagai cara, telah membantu mempersiapkan dan
melaksanakan berbagai acara di Madrid, Barcelona, dan Montserrat, serta
di sini di Kepulauan Canary.
Saya
kembali ke Roma dengan sangat terharu oleh kasih sayang yang besar yang telah
saya terima dan terhibur oleh kesaksian iman dan cinta kepada Gereja, yang
merupakan bukti semangat Katolik yang mendalam di Spanyol.
Dari
pelabuhan ini, yang menyandang nama Salib Suci, pikiran saya tertuju pada
seluruh dunia dan luka-lukanya, yang menyebabkan seluruh penduduk menderita.
Kepada semuanya, saya ingin menyampaikan motto perjalanan ini: “Angkatlah
pandanganmu!” Ya, marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Kristus yang
disalibkan; hati-Nya adalah sumber belas kasihan, yang semata dapat
menyelamatkan umat manusia — yang membutuhkan pengampunan dan rekonsiliasi —
sehingga dapat mencapai kedamaian sejati dan abadi. Marilah kita mengangkat
pandangan kita, seperti yang dilakukan Maria, Bunda semua orang yang menderita,
dan dipandu olehnya, marilah kita melanjutkan perjalanan kita dengan penuh
harapan!
Saudara-saudari
terkasih, terima kasih dari lubuk hati saya! Marilah kita tetap bersatu dalam
doa dan persekutuan di dalam Kristus dan Gereja yang kudus.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 12 Juni 2026)

.jpeg)
.jpeg)
