Saudara-saudari
terkasih,
Kita
berkumpul di Basilika Katedral yang megah ini, yang didedikasikan untuk Santa
Maria Dikandung Tanpa Noda, Bunda dari Sabda yang menjelma dan Pelindung Guinea
Khatulistiwa, untuk mendengarkan sabda Tuhan dan merayakan peringatan bahwa Ia
telah meninggalkan kita sebagai sumber dan puncak kehidupan dan perutusan
Gereja. Ekaristi benar-benar mengandung setiap kebaikan rohani Gereja: Kristus,
Paskah kita, yang memberikan diri-Nya kepada kita, Ia adalah Roti hidup yang
memelihara kita. Kehadiran-Nya dalam Ekaristi mengungkapkan kasih Allah yang
tak terbatas bagi seluruh keluarga manusia dan cara Ia menjumpai setiap orang
bahkan hingga hari ini.
Saya
senang dapat merayakan bersamamu dan mengucap syukur kepada Allah atas 170
tahun penginjilan di Guinea Khatulistiwa. Sebuah kesempatan yang tepat untuk
mengingat semua kebaikan yang telah dilakukan Tuhan, dan pada saat yang sama,
saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya kepada banyak misionaris, imam
diosesan, katekis, dan umat awam yang telah mengabdikan hidup mereka untuk
melayani Injil.
Mereka
telah menangani aspirasi, pertanyaan, dan luka umatmu, dan meneranginya dengan
sabda Tuhan, sehingga mereka sendiri menjadi tanda kasih Allah di antaramu.
Melalui teladan hidup, mereka telah memainkan peran dalam mewujudkan Kerajaan
Allah, tanpa takut menderita karena kesetiaan mereka kepada Kristus.
Ini
adalah sejarah yang tidak boleh kamu lupakan. Di satu sisi, sejarah ini
menghubungkanmu dengan Gereja universal dan apostolik yang telah ada sebelum
kamu. Di sisi lain, sejarah ini telah menjadikan kamu pelaku utama pewartaan
Injil dan kesaksian iman, menggenapi kata-kata kenabian yang diucapkan oleh
Paus Santo Paulus VI di tanah Afrika: “Rakyat Afrika, mulai sekarang, kamu
adalah misionaris bagi dirimu sendiri. Gereja Kristus telah tertanam dengan
baik dan benar di tanah yang diberkati ini” (Homili pada Penutup Simposium yang
diselenggarakan oleh para uskup Afrika, Kampala, Uganda, 31 Juli 1969).
Dengan
mengingat hal ini, hari ini kamu dipanggil untuk mengikuti jejak para
misionaris, gembala, dan umat awam yang telah mendahului kamu. Kamu
masing-masing diundang untuk membuat komitmen pribadi yang mencakup seluruh
hidupmu, sehingga iman— yang dirayakan dengan penuh sukacita dalam komunitas
dan liturgimu — juga dapat memelihara karya amal kasihmu dan rasa tanggung
jawab terhadap sesama, untuk membangun kebaikan bersama.
Komitmen
seperti itu membutuhkan ketekunan; menuntut usaha dan, kadang-kadang,
pengurbanan. Namun, juga tanda bahwa kita benar-benar Gereja Kristus. Bahkan,
Bacaan Pertama yang kita dengar menceritakan hanya dalam beberapa ayat
bagaimana Gereja yang dengan berani dan penuh sukacita mewartakan Injil juga
merupakan Gereja yang, justru karena alasan inilah, dapat dianiaya (bdk. Kis.
8:1-8). Namun demikian, Kisah Para Rasul memberitahu kita bahwa, meski umat
kristiani terpaksa mengungsi dan tercerai-berai, banyak yang mendekat kepada
sabda Tuhan dan dapat melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana
orang-orang yang sakit jasmani dan rohani disembuhkan: ini adalah tanda-tanda
ajaib kehadiran Allah, yang membawa sukacita besar bagi seluruh kota (bdk. ayat
6-8).
Saudara-saudari,
bahkan ketika menghadapi situasi pribadi, keluarga, dan sosial yang tidak
selalu menguntungkan, kita dapat percaya bahwa Tuhan sedang bekerja, membuat
benih baik Kerajaan-Nya tumbuh dengan cara yang tidak kita ketahui, termasuk
ketika segala sesuatu di sekitar kita tampak gersang, dan bahkan di saat-saat
kegelapan. Dengan keyakinan seperti itu, yang berakar pada kuasa kasih-Nya dan
bukan pada jasa kita sendiri, kita dipanggil untuk tetap setia kepada Injil,
mewartakannya, menghayatinya sepenuhnya, dan memberi kesaksian tentangnya
dengan penuh sukacita. Allah tidak akan gagal memberikan tanda-tanda
kehadiran-Nya, dan sebagaimana dikatakan Yesus kepada kita dalam Bacaan Injil
yang telah kita dengar, Ia sekali lagi akan menjadi bagi kita “roti kehidupan”
yang memuaskan rasa lapar kita (bdk. Yoh 6:35).
Lapar akan
apa yang kita rasakan? Dan apa yang dirindukan bangsa ini saat ini? Moto yang
dipilih untuk kunjungan saya adalah “Kristus, Terang Guinea Khatulistiwa,
Menuju Masa Depan yang Penuh Pengharapan.” Mungkin justru inilah rasa lapar
terbesar saat ini. Ada rasa lapar akan masa depan yang dipenuhi pengharapan,
yang mampu menumbuhkan rasa keadilan baru dan menghasilkan buah perdamaian dan
persaudaraan. Ini bukanlah masa depan yang tidak diketahui yang harus kita
tunggu secara pasif, melainkan masa depan yang kita sendiri dipanggil untuk
membangunnya dengan rahmat Allah. Masa depan Guinea Khatulistiwa bergantung
pada pilihanmu; masa depan itu dipercayakan kepada rasa tanggung jawabmu dan
komitmen bersamamu untuk menjaga kehidupan dan martabat setiap orang.
Oleh
karena itu, penting bagi semua orang yang dibaptis untuk merasa bahwa mereka
adalah bagian dari karya penginjilan, dan dengan demikian menjadi rasul amal
kasih dan saksi bagi kemanusiaan yang baru.
Ini
adalah soal mengambil bagian, dengan terang dan kekuatan Injil, dalam
pembangunan terpadu negeri ini, dalam pembaharuan dan perubahan rupanya. Sang
Pencipta telah menganugerahimu kekayaan alam yang besar: Saya mendesakmu untuk
bekerja sama agar hal itu menjadi berkat bagi semua orang. Semoga Tuhan
membantumu untuk menjadi masyarakat di mana setiap orang, masing-masing sesuai
dengan tanggung jawabnya, bekerja semakin penuh untuk melayani kebaikan bersama
daripada kepentingan pribadi, menjembatani kesenjangan antara yang beruntung
dan yang kurang beruntung. Semoga ada ruang yang lebih besar untuk kebebasan,
dan semoga martabat manusia selalu dijaga. Pikiran saya tertuju kepada kaum
miskin, keluarga yang mengalami kesulitan dan para tahanan yang sering dipaksa
untuk hidup dalam kondisi kebersihan dan sanitasi yang mengkhawatirkan.
Saudara-saudari,
ada kebutuhan bagi umat kristiani untuk mengambil alih nasib Guinea
Khatulistiwa. Karena alasan ini, saya ingin mendorongmu: jangan takut untuk
mewartakan Injil dan memberikan kesaksian tentangnya dengan hidupmu! Jadilah
pembangun masa depan yang penuh pengharapan, perdamaian, dan rekonsiliasi,
melanjutkan karya yang dimulai oleh para misionaris 170 tahun yang lalu.
Semoga
Bunda Maria yang Tak Bernoda menyertaimu dalam perjalanan ini. Semoga ia
menjadi perantaramu dan membantumu menjadi murid Kristus yang murah hati dan
penuh sukacita.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 22 April 2026)




