Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA VIGILI PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA DI BASILIKA TEMPAT ZIARAH BUNDA PENASIHAT YANG BAIK, GENAZZANO (ITALIA) 7 September 2026

Bacaan Ekaristi : Mi. 5:1-4a; Mzm. 13:6ab.6cd; Mat. 1:18-23.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Sebagaimana mungkin kamu ingat, "pada hari-hari awal masa kepausan, saya merasakan kewajiban dan hasrat yang mendalam untuk datang ke Genazzano, ke tempat ziarah Bunda Penasihat yang Baik, yang sepanjang hidup saya telah mendampingi saya dengan kehadiran keibuan, kebijaksanaan, serta teladan kasihnya kepada Sang Putra, yang senantiasa menjadi pusat iman saya" (Dedikasi dalam buku tamu Tempat Ziarah Bunda Penasihat yang Baik, 10 Mei 2025).

 

Dengan sukacita saya hadir kembali di sini untuk merayakan bersamamu Vigili Kelahiran Santa Perawan Maria dan mempercayakan kepada Kanak Maria apa yang kini sedang lahir dalam kemanusiaan yang papa namun agung ini: sesuatu yang rapuh bagaikan tunas, namun merupakan tanda kesetiaan Allah. Ya, Maria adalah fajar bagi hari yang baru, bagi dunia kita yang akhirnya dibebaskan dari kejahatan. Dan kita berada di sini, di sampingnya, di sekeliling altar tempat keselamatan datang kepada kita dan mengubah rupa kita — anak-anak di dalam Sang Putra. Marilah kita memohon nasihatnya yang bijak agar kita dapat menyambut sang Sabda ilahi, menyimpannya di dalam hati, serta melahirkannya melalui keputusan-keputusan yang berani dan bijaksana — keputusan pertobatan yang otentik.

 

Sahabat-sahabat terkasih, di tempat yang memiliki jejak sejarah kehadiran tarekat Agustinian ini, saya ingin kembali merenungkan perikop Kitab Suci yang baru saja kita dengarkan. Saya akan melakukannya dengan bimbingan Santo Thomas dari Villanova, seorang biarawan dan uskup Agustinian yang — seraya membaktikan hidupnya untuk melayani kaum miskin — mendalami kebenaran iman secara mendalam. Ia mampu melihat paradoks antara kerendahan Maria — atau boleh dikatakan, posisi Maria yang tampak terpinggirkan — dengan peran sentral yang dimainkannya dalam karya keselamatan.

 

Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: apa makna kelahiran seorang anak perempuan pada zaman Yoakim dan Ana? Santo Thomas merefleksikan, "Saya sering merefleksikan — tulisnya — dan bertanya-tanya mengapa para penginjil, yang berbicara begitu panjang lebar tentang Santo Yohanes Pembaptis dan para rasul, justru menceritakan kisah Perawan Maria — yang mengatasi semua orang dengan sejarah dan sosok pribadinya — dengan cara yang begitu singkat. Mengapa, saya bertanya-tanya, hal-hal seperti cara ia dikandung, dilahirkan, bertumbuh, serta kebiasaan-kebiasaan, kebajikan-kebajikan yang menghiasi dirinya, hubungan manusiawi yang ia jalin dengan Putranya, bagaimana ia berinteraksi dengan Yesus, juga bagaimana ia hidup bersama para rasul setelah kenaikan Yesus ke surga, tidak digambarkan kepada kita? Semua hal ini penting; umat beriman pasti akan membacanya dengan penuh devosi yang istimewa, dan hal-hal itu pasti akan menyenangkan hati banyak orang. Ya, para penginjil, kepadamulah saya berbicara! Mengapa kamu merampas sukacita yang begitu besar dari kami dengan sikap diammu? Mengapa kamu melewatkan rincian-rincian yang begitu menggembirakan, begitu dinanti-nantikan, dan begitu menyenangkan?" (Karya Lengkap VII, 266,8).

 

Dalam kata-kata ini, kita menemukan sebuah anjuran penting bagi iman kita: mengajukan pertanyaan kepada Kitab Suci dan para penulisnya, berdiskusi dengan teks dan berdialog dengan para saksi pewahyuan, layaknya dengan para sahabat. Sesungguhnya, kita adalah "kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah" (Ef 2:19), dan dari Maria sendiri kita belajar tentang kecerdasan yang bercakap-cakap dengan Allah, yang mengajukan pertanyaan (bdk. Luk 1:34), serta menafsirkan peristiwa-peristiwa dengan cara menyimpannya dan merenungkannya di dalam hati (bdk. Luk 2:19,51).

 

Akan tetapi, Bacaan Injil menurut Matius tampaknya membenarkan pandangan Santo Thomas dari Villanova melalui sikap diamnya. Kita telah mendengarnya: Bacaan Injil mencatat kehadiran Maria, namun tidak memuat satu kata pun yang diucapkannya. Kendati demikian, keberadaan Maria yang bersahaja — beserta Sang Putra di dalam rahimnya — menggerakkan seluruh sejarah: sejarah Yusuf dan seluruh rumah tangganya. Kehadiran Maria seolah memicu sebuah lompatan dalam silsilah, menghadirkan sesuatu yang baru dan tak terduga, yang mampu mengubah tidak hanya harapan, tetapi juga perilaku seorang pria yang sebelumnya dapat diprediksi.

 

Apa yang didengar, diputuskan, dan dilakukan Yusuf pada hakikatnya merupakan tanggapan terhadap Allah dan kehadiran Maria — terhadap keunikan mutlak Maria yang melampaui segala wacana atau narasi apa pun. Di dalam diri Maria, keselamatan menemukan tempatnya: Allah beserta kita!

 

Santo Thomas juga menulis, "Nah, terkait refleksi saya yang telah saya sebutkan tadi — mengenai mengapa tidak ada buku yang ditulis khusus tentang peristiwa-peristiwa kehidupan Sang Perawan, sebagaimana dilakukan terhadap peristiwa-peristiwa hidup Paulus, […] satu-satunya alasan yang terpikir oleh saya adalah karena demikianlah kehendak Roh Kudus; atas dorongan-Nya, para penulis Injil tidak banyak mengisahkan tentang Maria. Alasannya sederhana: kemuliaan Sang Perawan — sebagaimana kita baca dalam Mazmur — sepenuhnya berada di dalam batinnya (bdk. Mzm 44:14 Vulgata), sehingga lebih dapat dibayangkan daripada dilukiskan dengan kata-kata. Selain itu, sebagai ringkasan riwayat hidupnya, cukuplah ungkapan yang tercantum dalam gelar ini: bahwa Yesus lahir dari dia. Apa lagi yang ingin kamu ketahui? Apa lagi yang kamu cari pada diri Sang Perawan? Cukuplah kamu mengetahui bahwa ia adalah Bunda Allah" (Karya Lengkap VII, 266,8).

 

Saudara-saudari terkasih, kita merasa seolah-olah mengalami vertigo di hadapan misteri ini: sungguh mustahil untuk sekadar terbiasa dengannya! Kita merayakan kelahiran seorang gadis yang dipanggil untuk menjadi Bunda bagi Sang Penciptanya, Bunda bagi Allah yang menyelamatkan. Namun, yang lahir hanyalah seorang gadis biasa, sama seperti anak-anak perempuan dan cucu-cucu perempuan yang kita timang.

Dewasa ini kita menyematkan gelar-gelar mulia dan agung baginya — sebagai Bunda dan Ratu — namun cara Allah senantiasa lebih sederhana dan hening, kendati sama sekali tidak mengurangi kuasanya dalam membawa perubahan. Itulah jalan Yesus sendiri, "yang sulung di antara banyak saudara" (Rm 8:29).

 

Maka, seperti Maria, kita pun "ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya" (Rm 8:29): tentu saja melalui rahmat, namun juga dengan hasrat dan pilihan untuk mengutamakan jalan, pilihan, dan langkah-Nya ketimbang jalan-jalan lain. Di dalam diri Yesus Kristus, Allah memilih situasi sejarah yang paling bersahaja serta makhluk yang paling rendah hati untuk menyatakan keunikan Kerajaan-Nya; sebuah Kerajaan di mana kesombongan tidak mendapat tempat, dan mahakuasa berarti penciptaan, pelayanan, serta pemeliharaan kehidupan.

 

Santo Thomas dari Villanova kemudian menambahkan, "Biarkan imajinasimu mengembara bebas, perluaslah batas-batas pemahaman, dan lukiskanlah di lubuk jiwamu sosok perempuan muda yang paling murni, bijaksana, indah, saleh, rendah hati, lembut, penuh rahmat, kaya akan kekudusan, dihiasi dengan segala kebajikan, diperindah oleh segala karunia, dan sungguh berkenan di hati Allah; agungkanlah dia semampu yang kamu bisa, bayangkanlah sebanyak yang kamu mampu" {Karya Lengkap VII, 266,8).

 

Santo Thomas mengajak kita melakukan latihan imajinasi yang luar biasa ini. Dan ia mengamati, "Roh Kudus tidak melukiskan sosoknya dalam tulisan, melainkan menantikanmu untuk melukiskan sosoknya di dalam batinmu" (Karya Lengkap VII, 266,9).

 

Saudara-saudari terkasih, memang demikianlah adanya: dalam doa kontemplatif, hal-hal yang tidak disampaikan oleh dunia — namun sebenarnya sudah ada — mulai terbentuk; hal-hal yang masih tak terlihat, namun menyimpan kekuatan jenis baru di dalamnya. Ini bukanlah soal fantasi, melainkan soal nubuat. Kita membutuhkannya — di tengah masa kehancuran dan ketidakpastian — untuk melihat karya Allah dan melayaninya.

 

Nabi Mikha, di kota kecil Betlehem, menangkap isyarat akan bangkitnya seorang Raja damai; berkat Dia, kita akhirnya dapat hidup tenteram di negeri ini (bdk. Mi 5:1-4). Dan hari ini, dalam doa pembuka, seraya menyapa Maria yang masih kecil, kita memohon agar "perayaan kelahirannya menumbuhkan damai sejahtera di dalam diri kita."

 

Ya, sahabat-sahabat terkasih, kita ingin membayangkan damai sejahtera — memperluas cakrawala pemahaman dan melukiskannya di dalam jiwa kita — untuk menyadari bahwa damai sejahtera itu sudah ada, serta menyambut dan melayaninya. Damai sejahtera adalah anugerah Allah, embusan napas Yesus yang bangkit, dan karya Roh Kudus.

 

Biarlah damai sejahtera tumbuh di dalam diri kita. Damai sejahtera itu akan bertunas di dunia. Dan Bunda Penasihat yang Baik akan mendampingi kita dalam perutusan ini.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 September 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA UNTUK KEPEDULIAN TERHADAP CIPTAAN DI TAMAN MADONNINA DEL BORGO LAUDATO SI’ (TAMAN KEPAUSAN CASTEL GANDOLFO) 1 September 2026

Bacaan Ekaristi : Keb 13:1–9; Mat 6:24–34.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Pada Hari Doa Sedunia Untuk Kepedulian Terhadap Ciptaan ini, bacaan-bacaan yang dipilih untuk liturgi hari ini menawarkan dua ajakan kepada kita untuk merenungkan karya-karya Tuhan — sebuah tugas yang tentu saja tidak sulit dilakukan di tengah keindahan taman-taman ini.

 

Kitab Kebijaksanaan mengajak kita untuk merenungkan keindahan dan kuasa ciptaan, agar kita dapat menghargai Sang Pencipta (bdk. Keb 13:1–9). Sungguh dangkal jika kita hanya mengagumi api, angin, derasnya air, atau bintang-bintang di langit, tanpa mengarahkan pandangan kita kepada Sang Pencipta segala keajaiban itu.

 

Mazmur 18 mendorong kita menengadah untuk merenungkan langit, yang mewartakan kemuliaan Allah, serta cakrawala, yang menyatakan karya tangan-Nya. Seluruh ciptaan berbicara kepada kita tentang keagungan Sang Pencipta, asalkan mata dan hati kita tetap terbuka terhadap misteri yang sangat agung ini.

 

Demikian pula, perikop Injil Matius (bdk. Mat 6:24–34) mengajak kita untuk merenungkan ciptaan, seraya menegaskan kasih istimewa Tuhan bagi manusia. Saat kita memandang burung-burung di udara dan bunga bakung di ladang dengan penuh kekaguman — yang sangat berharga di mata Sang Pencipta — kita pun memahami betapa besarnya kasih Allah bagi kita. Jika Tuhan tidak lalai menganugerahkan keindahan yang begitu memukau kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan serta mencukupi segala kebutuhan mereka, betapa lebih besarnya perhatian-Nya terhadap kebutuhan anak-anak-Nya yang terkasih!

 

Petang ini, seraya kita menerima ajakan untuk berhenti sejenak dan berefleksi di hadapan karya-karya Allah, kita mengawali "Masa Ciptaan" — suatu masa selama lima pekan yang dikhususkan untuk doa dan komitmen dalam memelihara "rumah kita bersama." Oleh karena itu, pada hari ini dan di pekan-pekan mendatang, marilah kita meluangkan waktu sejenak untuk jeda dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, demi menikmati keselarasan mendalam yang di dalamnya kita sendiri menjadi bagian. Marilah kita "heningkan" berbagai kebisingan akibat aktivitas manusia, agar kita dapat mendengar suara merdu ciptaan, yang melaluinya Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, berbicara kepada kita.

 

Tugas permenungan ini, yang memampukan kita untuk berjumpa dengan Tuhan, merupakan langkah awal menuju "pertobatan ekologis sejati, di mana dampak perjumpaan kita dengan Yesus Kristus menjadi nyata dalam hubungan kita dengan dunia di sekitar kita" (Pesan untuk Hari Doa Sedunia Untuk Kepedulian Terhadap Ciptaan XI, 1 September 2026).

 

Dari permenungan akan ciptaan dan perjumpaan dengan Sang Pencipta, lahirlah kesadaran akan tempat khusus kita dalam rencana Allah yang mengagumkan, serta akan tanggung jawab yang kita pikul — baik secara pribadi maupun bersama — untuk melestarikan keselarasan awal tersebut. Dengan demikian, seraya menyadari kekurangan dan kegagalan kita, kita dapat memperbarui komitmen untuk memulihkan hubungan di antara segenap ciptaan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta mereka.

 

Oleh karena itu, Pesan untuk Hari Doa Sedunia Untuk Kepedulian Terhadap Ciptaan tahun ini menggemakan “seruan kenabian untuk ‘menempa pedang menjadi mata bajak’ (Yes 2:4)… mengubah hal yang merusak menjadi kehidupan.” Belum terlambat, dan Masa Ciptaan memanggil kita untuk melakukan pertobatan yang mendalam: “Apa yang selama ini digunakan untuk kehancuran dapat diarahkan kembali demi kehidupan, demi kepedulian terhadap kaum miskin, pemenuhan kebutuhan mereka yang lapar, serta pelestarian ciptaan” (idem).

 

Masa yang kita awali hari ini akan berakhir pada tanggal 4 Oktober, saat kita merayakan peringatan delapan abad Transitus Santo Fransiskus dari Asisi. Paus Fransiskus memperoleh inspirasi khusus darinya dalam menyusun Surat Ensiklik Laudato Si’ dan menghadirkan taman yang menyambut kita hari ini.

 

Oleh karena itu, marilah kita bersatu secara rohani dengan Sang Poverello dari Asisi dan jadikanlah kidung pujiannya sebagai kidung pujian kita:

 

Terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama semua makhluk-Mu, terutama Tuan Saudara Matahari ...

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Bulan dan bintang-bintang ...

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudara Angin ...

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudara Air ...

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudara Api ...

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami Ibu Pertiwi; dia menyuap dan mengasuh kami ...

 

Bersama Santo Fransiskus, marilah kita memperbarui komitmen kita untuk menghayati dan mengembangkan persaudaraan semesta yang tak terpisahkan dari tugas peduli terhadap ciptaan.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 2 September 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXI DI PELABUHAN RIMINI, SAN MARINO 22 Agustus 2026

Bacaan Liturgi : Yes. 22:19-23; Mzm. 138:1-2a.2bc-3.6.8bc; Rm. 11:33-36; Mat. 16:13-20.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sangat senang dapat memimpin Ekaristi ini bersama dan untukmu, Gereja di Rimini. Saya melakukannya sebagai puncak dari hari yang padat, di mana saya mengunjungi Republik San Marino dan "Pertemuan untuk Persahabatan Antarbangsa." Sekarang, saat kita memasuki Hari Tuhan, saatnya untuk merayakan misteri yang memberi makna pada segala sesuatu dan merupakan puncak serta sumber dari semua tindakan pastoral kita.

 

Dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengar (Mat 16:13-20), Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" (ayat 15). Petrus menjawab, atas nama semua murid: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup" (ayat 16). Kita pun, setelah dua milenium, dipanggil untuk memperbarui pengakuan iman yang sama: kita berada di sini karena kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Bapa yang kekal, yang dikuduskan dan diutus ke dunia "untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat 20:28).

 

Saudara-saudari terkasih, dalam kata-kata Petrus, kita mengenali kebenaran yang memenuhi kita dengan sukacita dan harapan, dan kita menemukan jalan yang menuntun kepada kehidupan: jalan Allah yang menempatkan diri-Nya untuk melayani umat manusia (bdk. Flp 2:5-8), jalan Sang Guru yang membungkuk untuk membasuh kaki murid-murid-Nya (bdk. Yoh 13:12-15), jalan Sang Gembala yang mengurbankan diri-Nya untuk kawanan domba-Nya (bdk. Yoh 10:11). Dan dalam terang inilah kita melihat tindakan Yesus menyerahkan kunci kepada Petrus (bdk. Mat 16:19-20), karena di dalam Gereja, di setiap tingkatan, otoritas adalah pelayanan.

 

Paus, para Uskup, para imam, dan para diakon adalah orang-orang pertama menghidupinya dengan cara ini, dan seluruh umat Allah harus bergabung dengan mereka, masing-masing sesuai dengan panggilan khusus mereka. Di antaramu, Hamba Allah, Pastor Oreste Benzi, memberikan kesaksian yang sangat baik tentang hal ini ketika beliau berkata: "Panggilan kita terdiri dari […] membiarkan diri kita disesuaikan dengan Kristus yang papa, dengan Kristus Sang Hamba, dengan Kristus yang menebus dosa-dosa dunia, dengan Kristus, Allah-Manusia yang menjelma yang hidup di antara kita dalam bentuk persekutuan langsung, dimulai dari yang terkecil" (Dengan Jubah Usang Ini, disunting oleh Valerio Lessi, Bologna 1991, hlm. 42).

 

Dalam Gereja, sesungguhnya, perutusan untuk "mengikat" dan "melepaskan," di satu sisi menyangkut peran mereka yang, atas nama Tuhan, dipanggil untuk menjalankan otoritas, di sisi lain menggambarkan gaya dan tugas yang melibatkan setiap orang yang dibaptis: yaitu merangkul, menyatukan kembali, menyambut, membebaskan, mengampuni, dan memerdekakan siapa pun yang menjadi tawanan dosa dan akibatnya, menjadikan kita pengelola yang benar dan bijaksana atas harta benda yang dipercayakan Allah kepada kita, sehingga semua dapat bekerja bersama, dalam kasih, untuk kebaikan semua.

 

Dalam Bacaan Pertama (Yes 22:19-23), Nabi Yesaya berbicara tentang Sebna, seorang pejabat yang dipercaya Raja Hizkia untuk proyek besar pembaruan agama, moral, dan sosial Yerusalem dan kerajaan Yehuda. Namun, karena ambisi dan keserakahan, orang yang berkuasa ini mulai menyalahgunakan wewenang yang diberikan kepadanya, menimbun kekayaan untuk dirinya sendiri dan lingkaran teman serta kerabatnya, dan menguasai orang lain. Ia telah melupakan bahwa hal terpenting dalam petualangan yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya bukanlah sarana ekonomi dan kekuasaan, tetapi kemungkinan, melalui hal-hal tersebut, untuk mempromosikan rencana kelahiran kembali demi kebaikan seluruh komunitas. Karena alasan ini, ia dipecat dan perutusannya dipercayakan kepada Elyakim, seorang yang jujur ​​dan bebas dari batasan, teguh dalam kejujurannya seperti patok yang ditancapkan ke tembok yang kokoh, sebagaimana dikatakan Nabi Yesaya (lihat ayat 23).

 

Pesannya jelas: segala sesuatu yang kita miliki dan ciptakan adalah anugerah Allah, yang dipercayakan kepada kita agar, di tangan-Nya, kita dapat menjadi sarana keselamatan dalam keadilan bagi sesama, dimulai dari tempat dan orang-orang yang bersama kita hidup dan bekerja setiap hari, sehingga kita dapat menjangkau seluruh dunia dengan hati yang besar dan terbuka.

 

Dalam Bacaan Kedua, Santo Paulus berbicara kepada kita tentang rencana Allah dan mengatakan bahwa rencana itu tak terduga: bukan karena kerumitan penalarannya, tetapi karena kebesaran kasih-Nya yang menakjubkan, yang melampaui semua kemampuan dan harapan kita, "sebab, segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia", kata Rasul Paulus (Rm 11:36). Allah itu sederhana, karena Ia adalah kasih yang murni, dan Ia juga memanggil kita untuk mengasihi dengan hati seperti hati-Nya, menyesuaikan jalan kita dengan jalan-Nya dan pikiran kita dengan pikiran-Nya (lihat ayat 33).

 

Nilai kejujuran, kemurahan hati, dan kebaikan ini sangat dihargai oleh penduduk Romagna, yang tulus dan memiliki sifat riang, pekerja keras, dan suka membantu. Buktinya, banyaknya teladan santo-santa dan beato-beata yang lahir di sini, yang mempraktikkan kasih dan menghidupi Injil, terkadang sampai menjadi martir. Hal ini juga dibuktikan oleh komitmen berkelanjutan dalam berbagai kelompok gerejawi, paroki, keluarga, Aksi Katolik, berbagai gerakan dan lembaga, serta pendidikan kristiani dan karya amal. Tentu saja, karena kekayaan ini, serta keindahan alam dan seni pesisir Adriatik dan daerah pedalamannya, begitu banyak orang dari seluruh Italia dan dunia datang ke sini setiap tahun untuk berlibur.

 

Dan, dalam hal ini, saya ingin mendorongmu untuk melanjutkan upayamu guna memastikan wilayah ini ramah, tidak hanya untuk penyegaran dan hiburan, tetapi juga untuk jiwa. Santo Yohanes Paulus II, yang mengunjungi tempat ini bertahun-tahun yang lalu, berbicara tentang panggilan ini, menekankan bahwa "istirahat bukan berarti memisahkan diri dari diri sendiri. Sebaliknya," katanya, "istirahat berarti bertemu dengan diri sendiri dan mendamaikan diri dengan batin terdalam" (Homili pada Misa Kudus di Rimini, 29 Agustus 1982).

 

Dunia tempat kita hidup menawarkan banyak bentuk rekreasi, beberapa di antaranya, bagaimanapun, mengarah pada penyebaran dan kehancuran daripada "kembali kepada diri sendiri" yang sejati, dan meninggalkan kekosongan di dalam hati. Beberapa menyebutnya "pelarian," seolah-olah kehidupan biasa adalah penjara yang harus dihindari. Tetapi kita tahu bahwa tempat yang paling tepat untuk menemukan penyegaran, bertemu Tuhan dan benar-benar bertemu satu sama lain, bukan di luar, di tengah kekacauan, tetapi di dalam diri kita sendiri, di kedalaman jiwa kita. Sebagai komunitas kristiani, kita secara khusus dipanggil untuk memupuk pengalaman ini dan menyebarkannya, melalui keterbukaan dan keramahan, baik dalam lingkungan pribadi maupun kelembagaan kita, melalui kepedulian dan perenungan gereja-gereja kita, melalui kesediaan kita untuk membantu dan memberikan sedekah. Ini berlaku baik bagi mereka yang mencari istirahat yang layak setelah setahun bekerja maupun bagi mereka yang terluka secara fisik dan spiritual yang mencari perlindungan, makanan, dan bantuan jauh dari tanah air mereka.

 

Uskupmu, dalam suratnya kepada keuskupan, menulis: "Doa, persatuan, mendengarkan, keberanian, kesederhanaan, rasa syukur, keindahan [...] ingin menunjukkan sikap yang selalu hadir dalam setiap aspek kehidupan" (Uskup Nicolò Anselmi, Surat Pastoral, kamu akan mencintai, akan bahagia dan akan menikmati setiap hal baik, sekarang dan selamanya, 14 Oktober 2024). Saudara-saudari terkasih, saat saya sekali lagi menyampaikan undangan penting ini kepada kamu semua, atas refleksi dan komitmenmu, saya sekali lagi berterima kasih atas sambutanmu, partisipasimu yang penuh iman dan sukacita, dan saya mempercayakanmu kepada perantaraan Santa Maria, Santo Gaudensius, dan para santo-santa pelindungmu.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 22 Agustus 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA DI PAROKI SANTO THOMAS DARI VILLANOVA (CASTEL GANDOLFO) 15 Agustus 2026

Bacaan Ekaristi : Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab; Mzm. 45:10c-12,16; 1Kor. 15:20-26; Luk. 1:39-56.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Dengan penuh sukacita, saya kembali merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga bersamamu pada tahun ini.

 

Magisterium Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Maria, "setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat dengan tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi" (Pius XII, Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus, 1 November 1950), dan dalam misteri ini menunjukkan kepada kita penggenapan rahmat paling sempurna yang dianugerahkan Allah kepadanya pada saat ia dikandung tanpa noda (bdk. idem).

 

Oleh karena itu, banyak karya seni menggambarkan dirinya sebagai seorang perempuan muda yang cantik yang secara fisik terangkat dari bumi menuju surga pada akhir hidupnya di dunia. Karya-karya ini terinspirasi oleh gambaran yang termuat dalam kutipan Kitab Wahyu yang kita dengar dalam Bacaan Pertama: "Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya" (Why 12:1); hal ini melambangkan bahwa di dalam hati Maria, surga dan bumi, waktu dan kekekalan, bertemu.

 

Sekilas, gambaran ini tampak bertolak belakang dengan pengalaman kita mengenai dampak berlalunya waktu terhadap diri kita. Seiring bertambahnya usia, tubuh kita tidak menjadi lebih lincah, melainkan semakin berat; kulit kita tidak menjadi lebih segar, melainkan menunjukkan tanda-tanda penuaan; rambut kita tidak bertambah warna dan kilaunya, melainkan memutih. Lantas, apa kesamaan kita dengan sosok perempuan muda nan jelita yang digambarkan pada panel altar di gereja-gereja kita?

 

Untuk memahaminya, kita harus menyatukan kedua tanda yang telah disebutkan tadi: tubuh Bunda Allah yang tidak mengalami kerusakan dan hati-Nya yang tak bernoda. Sebab, kemurnian jiwalah yang — baik pada diri Maria maupun pada diri kita — berkat rahmat Allah, menerangi dan mengubah rupa seluruh pribadi kita, serta menuntun kita menuju kemuliaan surga.

 

Pemuliaan Maria, baik tubuh maupun jiwanya, mengajarkan kita bahwa keindahan sejati kita tidak terletak pada upaya menyembunyikan tanda-tanda penuaan, melainkan pada penampakan tanda-tanda kasih yang tidak berkesudahan, yang bahkan terpatri pada raga kita (bdk. 1Kor 13:8).

 

Dengan mempertimbangkan hal ini, kita diajak untuk meninjau kembali berbagai standar estetika — yang sebagian besar bersifat hedonistik dan konsumeristik — yang dipaksakan oleh dunia kepada kita. Standar-standar ini berisiko menjebak kita dalam ekspektasi yang membebani, membuat kita membuang-buang energi berharga untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting dan fana Dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai orang-orang yang wajahnya mencerminkan perjalanan waktu dan penderitaan, namun mampu memancarkan ketenangan, kebaikan, dan kedamaian di sekeliling mereka; sebagaimana kita juga mungkin melihat orang lain yang mungkin tampak menarik secara lahiriah, namun memiliki hati yang keras dan dingin. Mudah untuk melihat di mana letak keindahan sejati dan di mana, sebaliknya, masih diperlukan pertobatan, pengampunan, dan penyembuhan.

 

Jika kita sungguh ingin menemukan dan memelihara keindahan ilahi yang melingkupi kita — keindahan yang menjadi tujuan penciptaan kita — serta membagikannya kepada sesama, kita harus belajar melihatnya pada kerutan wajah seorang lansia maupun wajah lembut seorang anak, pada kedewasaan orang dewasa maupun semangat hidup kaum muda, serta pada busana dan peralatan kerja maupun hiasan perayaan. Kita harus menyimak kisah kasih unik yang dituturkan oleh setiap kenyataan ini, seraya mengenali di dalamnya sekilas gambaran tentang surga.

 

Kasih adalah perhiasan terindah bagi umat manusia. Kasih mengubah bentuk, mengubah rupa, memuliakan, dan mengangkat kita; menjadikan kita tanpa beban, bebas, dan dekat dengan Allah, bahkan di tengah pasang surut kehidupan.

 

Saat merenungkan misteri Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga, Santo Paulus VI mengatakan bahwa untuk memahami maknanya, “kita harus mengubah rupa istilah-istilah yang kita gunakan dalam bahasa duniawi seraya menjadi istilah yang bersifat superlatif dan mutlak [...], untuk membayangkan hal yang kekal dalam skala kecil” (Homili, 15 Agustus 1969). Mengenai perjumpaan antara yang tak terbatas dan yang terbatas dalam diri Bunda Allah, Paus Fransiskus menulis: “Maria mampu mengubah kandang menjadi rumah bagi Yesus, dengan kain lampin sederhana dan kasih yang melimpah” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 286).

 

Mukjizat yang dialami Maria, gadis dari Nazaret, di dalam hatinya yang murni — yang membawanya menuju kemuliaan surga — merupakan pertemuan antara dua hal yang sangat kontras, sebagaimana ia sendiri ungkapkan dalam kata-kata Magnificat yang diilhami Roh Kudus, yang telah kita dengar dalam Injil (bdk. Luk 1:46–55). Dalam nyanyian pujian ini, melalui ungkapan iman yang rendah hati, Bunda Allah berbicara kepada kita dengan bahasa sederhana mengenai misteri agung yang dialaminya, seperti peristiwa Allah menjadi manusia di dalam dirinya demi menyelamatkan umat manusia, dan Sang Kekal yang menyatakan diri-Nya dalam ruang dan waktu untuk membuka kembali jalan menuju keabadian bagi kita. Pada saat yang sama, dalam kedudukannya sebagai “hamba yang rendah hati,” Santo Paulus VI mengatakan bahwa Maria memperlihatkan kepada kita “dimensi kerendahan hati” di mana kita pun dapat berjumpa Tuhan.

 

Kita tidak perlu mencari jauh-jauh untuk menemukan keluhuran misteri yang kita rayakan. Kita dapat menjumpainya di mana pun terdapat kasih sejati. Misalnya, dalam tatapan mata seorang ayah dan ibu yang pulang ke rumah setelah seharian beraktivitas — lelah, namun bahagia bisa berkumpul dengan anak-anak mereka. Pada wajah para kakek nenek yang, meski didera rasa sakit dan nyeri akibat usia lanjut, dipenuhi energi tak terduga saat merawat cucu-cucu mereka. Dalam komitmen kaum muda yang berupaya untuk tumbuh dalam moralitas dan ketulusan, bahkan siap untuk mengambil jalan yang berbeda dari arus umum "apa yang dilakukan orang kebanyakan." Akhirnya, dalam karya sehari-hari begitu banyak orang yang, dengan iman dan dedikasi, turut menghadirkan secercah surga ke bumi dan mendekatkan bumi kepada surga.

 

Saudara-saudari terkasih, wajah indah Bunda Maria yang Diangkat ke Surga sungguh unik; wajah itu melampaui segala bentuk penggambaran yang mungkin ada, namun pada saat yang sama, terasa begitu akrab bagi kita. Bahkan saat ini pun, kita dapat melihat wajahnya pada orang-orang yang dekat dengan kita, seperti saudara-saudari yang bersama-sama dengan kita — dalam iman — mempersembahkan hidup kita sehari-hari. Oleh karena itu, komunitas orang beriman melihat dirinya tercermin dalam sosok perempuan yang dikisahkan dalam Kitab Wahyu, dan Konsili Vatikan II menggambarkan Maria sebagai “citra serta awal Gereja, […] sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan” (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, 68). Dalam kodrat kemanusiaannya yang kudus, berkat rahmat Allah, kita juga melihat kodrat kita sendiri; maka, kita pun dipanggil untuk menjalani kehidupan penuh rahmat yang sama seperti yang dijalaninya serta turut ambil bagian dalam kemuliaannya.

 

Saat berbicara mengenai kebangkitan Kristus, Santo Agustinus mengajak umat kristiani pada zamannya untuk menjadikan peristiwa itu sebagai kompas dan pusat kehidupan mereka. Ia berkata: “Kristus bangkit dari antara orang mati agar Ia tidak lagi mati untuk selama-lamanya […]. Ubahlah arah hidupmu, ikutilah terang itu! Mulailah bangkit dari tempat Ia bangkit” (Enarratio in Psalmos, 126:7).

 

Mari kita terima undangan-Nya. Marilah kita ikuti terang Tuhan yang bangkit, seraya mengubah arah perjalanan jika perlu. Marilah kita melakukannya, khususnya pada hari ini, dengan memandang kepada Maria — yang telah dimahkotai kemuliaan oleh Allah baik jiwa maupun raganya, serta yang telah Ia karuniakan kepada kita sebagai Ibu, pembimbing, teman seperjalanan, dan pelindung di jalan menuju surga.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Agustus 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI LAPANGAN OLAHRAGA “ARENA”, SALINA, LAMPEDUSA (ITALIA) 4 Juli 2026

Bacaan Ekaristi : Ibr. 13:1-5; Luk 10:25–37.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Allah selalu mengasihi kita terlebih dahulu. Keindahan laut, pulau ini, dan wajah-wajahmu adalah cerminan dari prakarsa-Nya yang tanpa pamrih: kasih mendahului, mengelilingi, dan menyatukan kita. Saya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan untuk mengunjungimu, mengikuti jejak Paus Fransiskus, yang memilih untuk mengunjungi Lampedusa pada tanggal 8 Juli 2013 sebagai perjalanan pertamanya sebagai Penerus Petrus.

 

Sebagaimana kamu ketahui, para Rasul berlayar di Laut Mediterania dan mengalami keramahan penduduk pulau-pulau dan pesisirnya, yang telah menjadi persimpangan peradaban selama ribuan tahun. Injil bergema di tempat orang-orang bertemu, orang-orang saling menyambut, kehidupan mereka saling terkait, dan aneka budaya terlibat dalam dialog. Namun, Injil menjadi sunyi ketika setiap orang menjadikan dirinya sebuah pulau, menghindari dan memutuskan kontak. Dalam pengertian ini, perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati, yang baru saja kita dengar, menggambarkan sebuah kisah yang terus berbicara kepada kita (bdk. Luk 10:25–37), dan Ensiklik Fratelli Tutti telah membantu kita untuk meninjaunya kembali dalam terang keadaan sejarah yang menantang untuk kita hadapi. Sabda Allah selalu relevan untuk hari ini dan mengajak kita ke dalam percakapan yang menjadi sumber perubahan kita. Lalu, bagaimana kita akan menanggapi kasih dari Dia yang telah mengasihi kita terlebih dahulu?

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini Lampedusa dan Linosa terbentang di sepanjang jalan yang sama berbahayanya dengan jalan dari Yerusalem ke Yerikho (bdk. ayat 30). Di sini kamu telah melihat bukan hanya satu, tetapi ribuan manusia jatuh ke tangan penyamun yang telah mengambil segala sesuatu dari mereka, memukuli mereka dengan membabi-buta dan pergi begitu saja, meninggalkan mereka dalam keadaan setengah mati (bdk. idem). Laut telah merenggut nyawa orang-orang lainnya — mereka yang tidak berhasil mencapai tujuan yang mereka harapkan. Namun kita merasakan kehadiran mereka, yang menantang kita setidaknya kehadiran mereka yang telah mendarat dan membutuhkan perhatian dan pertolongan. Sesungguhnya, sebelum pertimbangan intelektual atau keyakinan ideologis apa pun, perjumpaan dengan mereka yang terbaring di hadapan kita, yang telah kehilangan segalanya, memanggil kita untuk dekat dengan mereka. Surat kepada orang Ibrani mengatakan kepada kita: “Ingatlah juga orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini” (13:3). Inilah inti dari perumpamaan Injil: kita menjadi sesama dengan bertindak sebagai sesama (bdk. Luk 10:36-37)!

 

Saya datang untuk mengucapkan terima kasih kepadamu, saudara-saudari Lampedusa, atas solidaritas yang telah ditunjukkan oleh begitu banyak pendudukmu. Sekali lagi, mukjizat belas kasihan telah terjadi: “Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” (ayat 33). Sebuah revolusi batin yang memunculkan “hati” Allah di dalam diri kita dan memperluas pikiran, hati, dan hidup kita. Saya berterima kasih kepada para sukarelawan, organisasi-organisasi yang bersatu dalam “Forum Lampedusa Solidale,” lembaga-lembaga sipil, Penjaga Pantai, para walikota dan pemerintah daerah yang telah melayani selama bertahun-tahun. Saya juga berterima kasih kepada para diakon, imam, biarawati, dokter, psikolog, dan pendidik, serta aparat keamanan dan semua orang yang, dengan atau tanpa karunia iman, telah memilih untuk saling mengasihi. Ya, kasih telah terwujud di antaramu. Belas kasihan, yang mengenali saudara-saudari yang berada dalam bahaya di laut, adalah dorongan pertamanya: sebuah panggilan mendalam untuk melakukan apa yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Saya menyapa para migran yang berada di sini. Mereka sendiri tidak hanya menerima solidaritas tetapi sering menunjukkannya dalam perjalanan mereka, sebagai orang miskin yang membantu orang yang paling miskin. Terima kasih, saudara-saudari, karena tidak ada yang bisa dianggap remeh dalam uluran tanganmu kepada sesama; tidak ada yang terjadi secara otomatis.

 

Perumpamaan memberitahu kita bahwa kasih selalu berakar pada kebebasan, dan kebebasan terletak pada keputusan yang kita buat. Ada juga mereka yang memilih untuk tidak menjadi sesama dan mereka yang memilih untuk tidak membuat keputusan. Mereka yang telah kehilangan nyawa di laut ini adalah korban dari keputusan yang telah dibuat dan keputusan yang tidak dibuat. Ketidakpedulian terhadap kebaikan bersama dan korupsi di negara asal mereka; sistem ekonomi global yang menghasilkan kemiskinan dan pengucilan; ketakutan yang memicu prasangka dan penghinaan; keyakinan bahwa masalah-masalah tersebut tidak menyangkut kita; perhitungan kriminal dari mereka yang mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain; transisi yang lambat dan sulit dari sekadar manajemen darurat ke pengembangan kebijakan yang komprehensif dan bersama — semuanya merupakan gema masa kini "melewati" dengan tergesa-gesa (ayat 31-32) dalam narasi Injil.

 

Dalam perumpamaan itu, seorang imam berada di sana “secara kebetulan ” (ayat 31), diikuti oleh seorang Lewi. Keduanya melihat apa yang sedang terjadi, tetapi mereka melanjutkan perjalanan mereka. Sayangnya, di setiap zaman ada orang-orang yang takut “terkontaminasi” akibat berkontak dengan orang lain, sehingga menyangkal — bahkan di hadapan penderitaan dan kematian — asal usul kita yang sama di dalam Allah, martabat tak terbatas setiap manusia, dan panggilan untuk mengasihi yang tak terbatas. Sudah saatnya untuk mengakui dan menegaskan bahwa afiliasi agama tidak boleh menjadi alasan untuk diskriminasi, seolah-olah iman memiliki batasan daripada menjadi panggilan universal untuk keselamatan. Di mana ada tembok pemisah, Kristus merobohkannya (bdk. Ef 2:14). Tidak ada kasih kepada Allah tanpa kasih kepada sesama, dan tidak ada sesama jika saya tidak mendekat. Berhenti sejenak, tergerak, membungkuk, menangis di hadapan penderitaan orang lain — sebagaimana dilakukan Yesus — berarti memasuki dinamika kasih, gerakan di mana Allah telah menyatakan diri-Nya.

 

Sahabat-sahabatku terkasih, orang-orang yang membiarkan diri mereka ditarik ke dalam dinamika bela rasa dan belas kasihan ini mulai hidup secara berbeda, menjadi warga negara dengan cara yang berbeda, dan bekerja secara berbeda. Kemudian peradaban kasih — yang diimpikan oleh para santo pendahulu saya, Yohanes XXIII, Paulus VI, dan Yohanes Paulus II — dapat benar-benar muncul. Bersama dengan sejumlah besar nabi dan martir abad lalu, mereka memahami bahwa hanya belas kasihan yang dapat menanggapi kedalaman hati manusia dan kengerian perang dengan membuka jalan menuju awal yang baru. Sekarang, berdiri di atas pundak para raksasa ini, kita telah memasuki milenium di mana kita harus memberikan ungkapan spiritual, budaya, hukum, politik, dan ekonomi kepada peradaban kasih. Semoga besarnya penderitaan yang kita saksikan membantu kita memahami sifat radikal dari panggilan ini.

 

Sebagaimana orang Samaria yang murah hati, kita selalu dapat mengubah rencana dan arah kita. Melebihi orang Samaria yang murah hati, kita memiliki sumber daya dan kesempatan untuk memberikan harapan sebuah kenyataan sejarah yang konkret. Ia “mendekati dia, lalu membalut luka-lukanya sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke penginapan dan merawatnya” (Luk 10:34). Kita pun harus menyadari bahwa “peradaban kasih tidak akan muncul dari satu tindakan tunggal atau spektakuler, tetapi dari keseluruhan tindakan kesetiaan kecil dan teguh yang berfungsi sebagai benteng melawan dehumanisasi” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 213). Untuk ini, sahabat-sahabat Lampedusa, kamu adalah saksinya! Di sini, saat kita bertemu satu sama lain, kita memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang zaman kita, dan kita masing-masing dapat menilai arah hidup kita sendiri. “Tentu saja, tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama untuk membuat perbedaan… Namun, tidak seorang pun tanpa tanggung jawab. Kita semua memiliki bidang tindakan masing-masing, dan justru di situlah — dan bukan di tempat lain — kita harus memilih apakah akan memicu mentalitas kekerasan (walaupun hanya melalui ketidakpedulian, sinisme, kebohongan, atau kebencian), atau melestarikan pola pikir perdamaian (dengan kebenaran, moderasi, kedekatan, dan kepedulian)” (idem., 212).

 

Dari sudut terpencil Eropa di Laut Mediterania ini, kita dapat lebih jelas memahami tantangan besar yang ditimbulkan oleh fenomena migrasi bagi masyarakat Eropa. Dalam hal ini, seperti halnya transisi ekologis dan promosi perdamaian, Eropa memiliki potensi unik, yang berasal dari sejarah dan budayanya, dan oleh karena itu memikul tanggung jawab yang sesuai. Berkat lokasi geografis dan kerangka kelembagaannya, Eropa mampu mengatasi krisis — di wilayah ini — secara komprehensif, mengintegrasikan upaya bantuan segera ke dalam rencana strategis jangka panjang yang mampu menerima, melindungi, mendukung, dan mengintegrasikan migran, sekaligus membantu negara-negara berkembang agar tidak ada yang terpaksa bermigrasi. Semua ini harus dilakukan dengan waspada, memastikan penghormatan terhadap martabat masing-masing orang. Tugas ini bukan hanya untuk lembaga publik tetapi juga untuk masyarakat sipil secara keseluruhan dan Gereja.

 

Saudara-saudari, sebagaimana saya katakan baru-baru ini di Tenerife selama Perjalanan Apostolik saya ke Spanyol, di Lampedusa juga, budaya keramahan memiliki dimensi pariwisata, yang sayangnya, dapat merasa terancam oleh jalur migrasi dan menimbulkan ketidakpedulian, atau bahkan penentangan, terhadap aspek dramatisnya. Memang, bagi banyak orang, liburan hanyalah pengalihan perhatian, waktu untuk bersenang-senang dan menikmati hidup tanpa beban. Kemudian, seolah-olah tembok tak terlihat harus didirikan antara lautan migran yang terdampar dan para wisatawan. Beranilah untuk berpikir berbeda. Sedikit demi sedikit, dengan sedikit kreativitas, kamu akan dapat memastikan bahwa siapa pun yang menghabiskan waktu di pulau ini, meskipun hanya untuk beristirahat, menjadi lebih manusiawi, terinspirasi oleh kedermawananmu, apa yang telah diajarkan laut kepadamu, dan pertemuan-pertemuan yang telah membentukmu. Ada istirahat yang autentik ketika makna hidup ditemukan kembali, dan kesejahteraan sejati ketika ekonomi adil dan bersaudara. Dalam ekonomi seperti itu, kepedulian terhadap ciptaan dan persahabatan sosial bersatu dalam sintesis yang sedang dicari umat manusia saat ini.

 

Bacaan Pertama mengingatkan kita bahwa, dengan mempraktikkan keramahan, “beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (Ibr. 13:2). Semoga kamu, dengan caramu sendiri yang sederhana, menjadi tanda kenabian tentang apa yang dapat kita cita-citakan bersama dalam skala yang lebih besar. Kamu dan keluargamu akan menjadi yang pertama mendapatkan manfaat dari hal ini, mengatasi perpecahan dan perbedaan yang hanya dapat diatasi oleh kasih. Paroki, khususnya, harus menjadi komunitas di mana, dituntun oleh Injil, kita belajar untuk menyambut, menemani, dan mengintegrasikan satu sama lain dalam semangat persekutuan.

 

Di sini, di samping altar, kita memiliki gambar Bunda Maria Pelindung Pelabuhan, pelindung Lampedusa. Mungkin kamu tahu bahwa Santo Agustinus suka menggambarkan kehidupan manusia sebagai perjalanan melintasi laut yang berbadai dan takdir seseorang sebagai pelabuhan yang aman dan terlindungi. Janganlah kita dikalahkan oleh rasa takut, tetapi sebaliknya pandanglah kesulitan sehari-hari sebagai waktu kesempatan dan kesaksian. Semoga imanmu, sahabat-sahabat terkasih, dikuatkan oleh tahun-tahun pencobaan dan komitmen yang berlimpah ini. Semoga gambar yang dihormati ini berbicara kepadamu sekali lagi dengan kekuatan yang sama seperti di masa lalu, ketika mereka yang mewariskan devosi ini mempercayakan diri mereka kepada perantaraan Perawan Maria dengan ketulusan yang radikal. Di dalam Allah kita semua memiliki tempat berlindung yang aman, dan setiap komunitas kristiani dipanggil untuk menjadi cerminannya di bumi. Dan kepadamu, komunitas Lampedusa dan Linosa, semoga kamu tidak pernah kekurangan nafas iman, harapan, dan kasih: “O’sciĆ !” [salam tradisional penduduk Lampedusa].

____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Juli 2026)