Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI KAMIS PUTIH DI BASILIKA SANTO YOHANES LATERAN 2 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Liturgi khidmat malam ini menandai kita telah memasuki Trihari Suci Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan Tuhan. Kita melangkah melewati ambang batas ini bukan hanya sebagai penonton, atau karena kebiasaan, tetapi sebagai orang-orang yang diundang secara pribadi oleh Yesus sendiri sebagai tamu di Perjamuan di mana roti dan anggur menjadi sakramen keselamatan bagi kita. Sesungguhnya, kita ambil bagian dalam perjamuan di mana Kristus “mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1). Kasih-Nya menjadi gestur dan makanan bagi semua orang, yang mengungkapkan keadilan Allah. Di dunia ini, dan khususnya di tempat-tempat di mana kejahatan merajalela, Yesus mengasihi secara definitif — selamanya, dan dengan segenap keberadaan-Nya.

 

Selama Perjamuan Terakhir ini, Ia membasuh kaki para rasul-Nya, seraya berkata, “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15). Tindakan Tuhan ini tidak dapat dipisahkan dari meja yang juga telah Ia undangkan kepada kita. Tindakan ini adalah contoh nyata yang mengalir dari sakramen: seraya mengungkapkan makna misteri Ekaristi, tindakan ini juga mempercayakan kepada kita sebuah tugas — sebuah perutusan yang menjadi panggilan untuk kita jalani sebagai makanan bagi kehidupan kita. Penginjil Yohanes memilih kata Yunani upódeigma untuk menggambarkan peristiwa yang disaksikannya: artinya “apa yang ditunjukkan di hadapan matamu.” Apa yang ditunjukkan Tuhan kepada kita — mengambil air, baskom, dan handuk — jauh lebih dari sekadar contoh moral. Ia mempercayakan kepada kita jalan hidup-Nya sendiri. Pembasuhan kaki adalah tindakan yang merangkum wahyu Allah: tanda keteladanan dari Sang Sabda yang menjadi daging, kenangan-Nya yang tak salah lagi. Dengan mengambil posisi sebagai hamba, Sang Putra mengungkapkan kemuliaan Bapa, menumbangkan standar duniawi yang seringkali membelokkan hati nurani kita.

 

Bersamaan dengan kekaguman diam-diam para murid-Nya, bahkan kesombongan manusia pun tidak dapat tetap buta terhadap apa yang sedang terjadi. Seperti Petrus, yang pada awalnya menolak prakarsa Yesus, kita pun harus “berulang kali belajar bahwa kebesaran Allah berbeda dari gagasan kita tentang kebesaran… karena kita secara sistematis menginginkan Allah yang sukses dan bukan Allah yang menderita” (Homili pada Misa Perjamuan Tuhan, 20 Maret 2008). Kata-kata Paus Benediktus XVI ini dengan jujur ​​mengakui bahwa kita selalu tergoda untuk mencari Allah yang melayani kita, yang memberi kita kemenangan, yang terbukti berguna seperti kekayaan atau kekuasaan. Namun kita gagal menyadari bahwa Allah memang melayani kita melalui tindakan cuma-cuma dan rendah hati berupa pembasuhan kaki. Inilah kemahakuasaan Allah yang sesungguhnya. Dengan cara ini, keinginan-Nya untuk mengabdikan diri kepada mereka yang keberadaannya bergantung pada karunia-Nya tergenapi. Karena kasih, Tuhan berlutut untuk membasuh kita masing-masing, dan karunia ilahi-Nya mengubah rupa kita.

 

Sesungguhnya, melalui tindakan ini, Yesus memurnikan bukan hanya gambaran kita tentang Allah — dari penyembahan berhala dan penghujatan yang telah membelokkannya — tetapi juga gambaran kita tentang kemanusiaan. Karena kita cenderung menganggap diri kita berkuasa ketika kita mendominasi, menang ketika kita menghancurkan sesama kita, hebat ketika kita ditakuti. Sebaliknya, sebagai yang sungguh Allah dan sungguh manusia, Kristus menawarkan kepada kita teladan pengurbanan diri, pelayanan, dan kasih. Kita membutuhkan teladan-Nya untuk belajar bagaimana mengasihi, bukan karena kita tidak mampu melakukannya, tetapi justru mengajarkan kepada diri kita sendiri dan satu sama lain apa itu kasih sejati. Belajar bertindak seperti Yesus — tanda hidup yang telah ditempatkan Allah dalam sejarah dunia — adalah pekerjaan seumur hidup.

 

Ia adalah patokan yang sesungguhnya, "Guru dan Tuhan" (Yoh 13:13) yang menyingkirkan setiap topeng ilahi dan manusiawi. Ia menawarkan keteladanan bukan ketika semua orang puas dan setia kepada-Nya, tetapi pada malam Ia dikhianati, dalam kegelapan ketidakpahaman dan kekerasan. Dengan cara ini, menjadi jelas bahwa kasih Tuhan mendahului kebaikan atau kemurnian kita; Ia mengasihi kita terlebih dahulu, dan dalam kasih itu, Ia mengampuni dan memulihkan kita. Kasih-Nya bukan hadiah atas penerimaan kita terhadap belas kasih-Nya; sebaliknya, Ia mengasihi kita, dan karena itu menyucikan kita, sehingga memungkinkan kita untuk menanggapi kasih-Nya.

 

Oleh karena itu, marilah kita belajar dari Yesus tentang pelayanan timbal balik ini. Ia tidak meminta kita untuk membalas budi terhadap-Nya, tetapi berbagi karunia-Nya di antara kita: “Kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14). Paus Fransiskus pernah mengatakan berkaitan dengan hal tersebut: ini “adalah kewajiban yang datang dari hatiku: aku menyukainya. Aku menyukai hal ini dan senang melakukannya karena itulah yang diajarkan Tuhan kepadaku” (Homili Misa Kamis Putih, 28 Maret 2013). Ia tidak berbicara tentang perintah abstrak, atau perintah formal dan kosong, tetapi mengungkapkan ketaatannya yang tulus kepada kasih Kristus, yang merupakan sumber dan model kasih kita. Sesungguhnya, teladan yang diberikan oleh Yesus tidak dapat diteladani karena kenyamanan, keengganan, atau kemunafikan, tetapi hanya karena kasih.

 

Oleh karena itu, membiarkan diri kita dilayani oleh Tuhan adalah syarat yang diperlukan untuk melayani seperti yang Ia lakukan. “Jikalau Aku tidak membasuh engkau,” kata Yesus kepada Petrus, “engkau tidak mendapat bagian bersama Aku” (Yoh 13:8): jika engkau tidak menerima Aku sebagai hamba-Mu, engkau tidak dapat benar-benar percaya kepada-Ku atau mengikut Aku sebagai Tuhan. Dengan membasuh tubuh kita, Yesus menyucikan jiwa kita. Di dalam Dia, Allah telah memberi kita teladan — bukan tentang bagaimana mendominasi, tetapi tentang bagaimana membebaskan; bukan tentang bagaimana menghancurkan kehidupan, tetapi tentang bagaimana memberikannya.

 

Ketika umat manusia bertekuk lutut karena begitu banyak tindakan kebrutalan, marilah kita juga berlutut sebagai saudara dan saudari bersama orang-orang yang tertindas. Dengan cara ini, kita berusaha mengikuti teladan Tuhan, menggenapi apa yang telah kita dengar dari Kitab Keluaran: “Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu” (12:14). Sesungguhnya, seluruh sejarah Kitab Suci bertemu di satu titik dalam Yesus, Sang Anak Domba Paskah sejati. Di dalam Dia, tokoh-tokoh dahulu kala menemukan penggenapannya, karena Kristus Sang Juruselamat menggenapi Paskah umat manusia, membuka jalan bagi semua orang dari dosa menuju pengampunan, dari kematian menuju kehidupan kekal: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu. Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku” (1Kor. 11:24).

 

Dengan memperbarui tindakan dan sabda Tuhan malam ini, kita memperingati penetapan Ekaristi dan Sakramen Imamat. Ikatan hakiki antara kedua sakramen ini mengungkapkan pemberian diri Yesus yang sempurna, Sang Imam Agung dan Ekaristi yang hidup dan kekal. Sebab dalam roti dan anggur yang telah dikonsekrasi terdapat “sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikurniai jaminan kemuliaan yang akan datang” (Konstitusi Dogmatis Sacrosantum Concilium, 4 Desember 1963, 47). Melalui para uskup dan imam, yang ditetapkan sebagai “imam-imam Perjanjian Baru” menurut perintah Tuhan (Konsili Trent; De Missae Sacrificio, 1), hadirlah tanda kasih-Nya kepada seluruh Umat Allah. Saudara-saudari terkasih dalam imamat, kita dipanggil untuk melayani Umat Allah dengan seluruh hidup kita.

 

Oleh karena itu, Kamis Putih adalah hari penuh syukur dan persaudaraan sejati. Semoga adorasi Ekaristi malam ini, di setiap paroki dan komunitas, menjadi waktu untuk merenungkan tindakan Yesus, berlutut seperti Dia, dan memohon kekuatan untuk meneladan pelayanan-Nya dengan kasih yang sama.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA KRISMA 2 April 2026

Bacaan Liturgi : Yes. 61:1-3a,6a,8b-9; Mzm. 89:21-22,25,27; Why. 1:5-8; Luk. 4:16-21.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita sekarang berada di ambang Trihari Suci. Sekali lagi, Tuhan akan menuntun kita menuju puncak perutusan-Nya, sehingga penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya dapat menjadi pokok perutusan kita. Apa yang akan kita alami kembali, sesungguhnya, memiliki kuasa untuk mengubah rupa apa yang cenderung dikeraskan oleh kesombongan manusia: jati diri dan keberadaan kita di dunia. Kebebasan Yesus mengubah hati, menyembuhkan luka, menyegarkan dan mencerahkan wajah kita, mendamaikan dan mengumpulkan kita bersama, serta mengampuni dan meninggikan kita.

 

Pada tahun pertama saya memimpin Misa Krisma sebagai Uskup Roma, saya ingin merefleksikan bersamamu perutusan yang merupakan panggilan kita sebagai umat Allah. Panggilan kita adalah perutusan kristiani, sama seperti perutusan Yesus, bukan yang lain. Kita masing-masing ambil bagian di dalamnya sesuai dengan panggilan kita dalam ketaatan yang sangat pribadi kepada suara Roh, namun tidak pernah tanpa orang lain, tidak pernah mengabaikan atau melanggar persekutuan! Para uskup dan imam, saat kita memperbarui janji kita, kita berada dalam pelayanan umat misioner. Bersama dengan semua orang yang telah dibaptis, kita adalah tubuh Kristus, yang diurapi oleh Roh-Nya yang membebaskan dan menghibur, Roh nubuat dan persatuan.

 

Apa yang dialami Yesus pada saat-saat puncak perutusan-Nya diisyaratkan oleh perikop dari kitab Nabi Yesaya, yang dikutip-Nya saat Ia berada di rumah ibadat di Nazaret sebagai nas yang digenapi “hari ini” (bdk. Luk 4:21). Sesungguhnya, pada saat Paskah, menjadi jelas bahwa Allah menguduskan untuk mengutus. “Ia telah mengutus Aku” (Luk 4:18), kata Yesus, menggambarkan gerakan yang mengikatkan tubuh-Nya kepada orang-orang miskin, orang-orang tawanan, orang-orang yang meraba-raba dalam kegelapan dan yang tertindas. Kita, sebagai anggota tubuh-Nya, berbicara tentang Gereja yang “apostolik,” diutus, didorong melampaui dirinya sendiri, dan dikuduskan bagi Allah dalam pelayanan kepada ciptaan-Nya. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, sekarang Aku juga mengutus kamu” (Yoh 20:21).

 

Kita tahu bahwa diutus berarti, pertama dan terutama, ketidakterikatan, yaitu, risiko meninggalkan apa yang sudah dikenal dan pasti, berani terjun ke dalam sesuatu yang baru. Menariknya, “dalam kuasa Roh Kudus” (Luk 4:14), yang turun ke atasnya setelah Ia dibaptis di Sungai Yordan, Yesus kembali ke Galilea dan datang “ke Nazaret, tempat Ia dibesarkan” (Luk 4:16). Tempat itulah yang sekarang harus Ia tinggalkan. Ia pindah “menurut kebiasaan-Nya” (ayat 16), bahkan mengantarkan era baru. Ia sekarang harus meninggalkan desa itu selamanya, agar apa yang telah berakar di sana, Sabat demi Sabat, melalui ketaatan mendengarkan sabda Allah, dapat berbuah. Demikian pula, Ia akan mengajak orang lain untuk berangkat, mengambil risiko, agar tidak ada tempat yang menjadi penjara, tidak ada jati diri yang menjadi tempat persembunyian.

 

Saudara-saudari terkasih, kita mengikuti Yesus yang “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi mengosongkan diri-Nya” (Flp. 2:6-7). Setiap perutusan dimulai dengan pengosongan diri semacam itu di mana segala sesuatu dilahirkan kembali. Martabat kita sebagai putra dan putri Allah tidak dapat diambil dari kita, juga tidak dapat hilang, bahkan kasih sayang, tempat, dan pengalaman di awal kehidupan kita pun tidak dapat dihapus. Kita adalah ahli waris dari sangat banyak kebaikan dan, pada saat yang sama, dari keterbatasan sejarah yang harus diterangi dan diselamatkan oleh Injil, pengampunan dan penyembuhan. Dengan demikian, tidak ada perutusan tanpa rekonsiliasi dengan masa lalu kita, dengan karunia dan keterbatasan pendidikan yang telah kita terima; tetapi, pada saat yang sama, tidak ada kedamaian tanpa memulai, tidak ada kesadaran tanpa ketidakterikatan, tidak ada sukacita tanpa risiko. Kita adalah tubuh Kristus jika kita bergerak maju, berdamai dengan masa lalu tanpa dipenjara olehnya: segala sesuatu dipulihkan dan dilipatgandakan jika pertama-tama dilepaskan, tanpa rasa takut. Inilah rahasia dasariah perutusan. Bukan sesuatu yang hanya dialami sekali, tetapi di setiap awal yang baru, di setiap keberangkatan yang baru.

 

Perjalanan Yesus mengungkapkan kepada kita bahwa kesediaan untuk kehilangan diri sendiri, mengosongkan diri, bukanlah tujuan akhir, melainkan syarat untuk perjumpaan dan keintiman. Kasih sungguh sejati ketika ia tidak dijaga; ia tidak membutuhkan banyak keributan, tidak pamer, dan dengan lembut menghargai kelemahan dan kerentanan. Kita berjuang untuk mengabdikan diri pada perutusan yang mengekspos kita dengan cara ini, namun tidak ada "kabar baik bagi orang miskin" (bdk. Luk 4:18) jika kita pergi kepada mereka dengan membawa tanda-tanda kekuasaan, dan tidak ada pembebasan sejati jika kita tidak membebaskan diri dari keterikatan. Di sini kita menyentuh rahasia kedua dari perutusan kristiani. Hukum perjumpaan muncul setelah ketidakterikatan. Kita tahu bahwa sepanjang sejarah, perutusan sering kali diselewengkan oleh keinginan untuk mendominasi, yang sama sekali asing bagi jalan Yesus Kristus. Santo Yohanes Paulus II mempunyai kejelasan dan keberanian untuk mengakui bahwa “karena ikatan yang mempersatukan kita satu sama lain dalam Tubuh Mistik, kita semua, meskipun tidak bertanggung jawab secara pribadi dan tanpa melanggar penghakiman Allah yang mengetahui setiap hati, memikul beban kesalahan dan kekurangan orang-orang yang telah mendahului kita.”[1]

 

Oleh karena itu, mengingat bahwa baik dalam ranah pastoral maupun dalam ranah sosial dan politik, kebaikan tidak akan datang dari penyalahgunaan kekuasaan, kini menjadi prioritas. Para misionaris besar memberikan kesaksian tentang pendekatan yang teduh dan tidak mencolok, yang metodenya adalah ambil bagian kehidupan, pelayanan tanpa pamrih, penolakan terhadap strategi, dialog, dan rasa hormat yang berpamrih. Itulah jalan inkarnasi, yang selalu mengambil bentuk inkulturasi. Keselamatan, pada kenyataannya, hanya dapat diterima oleh setiap orang melalui bahasa ibunya masing-masing. “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri?” (Kis. 2:8). Kejutan Pentakosta terulang kembali ketika kita tidak menganggap diri kita mampu mengendalikan waktu Allah, tetapi menaruh kepercayaan kita pada Roh Kudus, yang “hadir, bahkan hari ini, seperti pada zaman Yesus dan para Rasul: hadir dan bekerja, datang sebelum kita, bekerja lebih keras dan lebih baik daripada kita; bukan tugas kita untuk menabur atau membangkitkan Dia, tetapi pertama dan terutama untuk mengenali Dia, menyambut Dia, berjalan bersama Dia, membuka jalan bagi Dia, dan mengikuti Dia. Ia hadir dan tidak pernah kehilangan semangat mengenai zaman kita; sebaliknya, Ia tersenyum, menari, menembus, meliputi, menyelimuti, dan menjangkau bahkan ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan.”[2]

 

Untuk membangun keselarasan dengan yang transenden ini, kita harus pergi ke tempat kita diutus dengan kesederhanaan, menghormati misteri yang dibawa oleh setiap orang dan setiap komunitas di dalam diri mereka. Sebagai umat Kristiani, kita adalah tamu. Hal ini juga berlaku jika kita adalah uskup, imam, atau biarawan dan biarawati. Untuk menjadi tuan rumah, sebenarnya, kita sendiri harus belajar menjadi tamu. Bahkan tempat-tempat di mana sekularisasi tampak paling berkembang bukanlah tanah yang harus ditaklukkan atau direbut kembali: “Budaya-budaya baru senantiasa lahir dalam wilayah kediaman manusia yang sangat besar ini di mana umat Kristiani biasanya tak lagi menjadi penafsir atau pembangkit makna. Sebaliknya, mereka menerima dari budaya-budaya ini bahasa-bahasa, simbol-simbol, pesan-pesan dan paradigma-paradigma baru yang mengajukan pendekatan-pendekatan baru akan kehidupan, pendekatan-pendekatan yang seringkali berlawanan dengan Injil Yesus … Evangelisasi ini harus menjangkau tempat-tempat di mana narasi-narasi dan paradigma-paradigma baru sedang dibentuk, dengan membawa sabda Yesus kepada relung terdalam jiwa-jiwa di kota-kota kita.”[3] Hal ini hanya terjadi jika kita berjalan bersama sebagai Gereja, jika perutusan bukanlah petualangan heroik yang diperuntukkan bagi sedikit orang, tetapi kesaksian hidup dari satu Tubuh dengan banyak anggota.

 

Ada juga dimensi ketiga, mungkin yang paling radikal, dari perutusan kristiani. Kemungkinan dramatis kesalahpahaman dan penolakan, yang sudah terlihat dalam reaksi keras penduduk Nazaret terhadap perkataan Yesus. “Mendengar hal itu semua orang di rumah ibadat itu sangat marah. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu” (Luk. 4:28-29). Meskipun bacaan liturgi telah menghilangkan bagian ini, apa yang akan kita rayakan malam ini mengajak kita untuk tidak melarikan diri, tetapi “melewati” pencobaan itu, seperti yang dilakukan Yesus. Yesus “lewat di tengah-tengah mereka, lalu pergi” (Luk 4:30). Salib adalah bagian dari perutusan: pengutusan menjadi lebih pahit dan menakutkan, tetapi juga lebih membebaskan dan mengubah rupa. Pendudukan imperialis atas dunia dengan demikian terganggu dari dalam; kekerasan yang sampai sekarang menjadi hukum terungkap. Mesias yang miskin, dipenjara, dan ditolak itu turun ke dalam kegelapan kematian, namun dengan demikian Ia membawa ciptaan baru menuju terang.

 

Betapa banyak panggilan “kebangkitan” yang harus kita alami ketika, bebas dari sikap defensif, kita membenamkan diri dalam pelayanan seperti benih di dalam bumi! Dalam kehidupan, kita mungkin menghadapi situasi di mana semuanya tampak telah berakhir. Kemudian kita bertanya pada diri sendiri apakah perutusan kita sia-sia. Meskipun benar bahwa, tidak seperti Yesus, kita juga mengalami kegagalan yang berasal dari kekurangan kita sendiri atau orang lain, seringkali dari jalinan tanggung jawab yang rumit antara terang dan gelap, kita dapat menjadikan pengharapan banyak saksi sebagai pengharapan kita. Saya ingat seseorang yang sangat saya sayangi. Sebulan sebelum kematiannya, dalam buku catatan Latihan Rohani-nya, Uskup Óscar Romero yang kudus menulis, ‘Nuncio di Kosta Rika telah memperingatkan saya tentang bahaya yang akan segera terjadi pekan ini… Keadaan yang tak terduga ini akan dihadapi dengan rahmat Allah. Yesus Kristus menolong para martir dan, jika perlu, aku akan merasakan Dia sangat dekat ketika aku mempercayakan napas terakhirku kepada-Nya.’ Namun, lebih dari saat-saat terakhir kehidupan, yang terpenting adalah memberikan seluruh hidup kita kepada-Nya dan hidup untuk-Nya… Cukuplah bagiku, berbahagia dan percaya diri, mengetahui dengan pasti bahwa di dalam Dia ada kehidupan dan kematianku; bahwa, meskipun aku berdosa, aku telah menaruh kepercayaanku kepada-Nya dan tidak akan berkecil hati, karena orang lain akan melanjutkan, dengan kebijaksanaan dan kekudusan yang lebih besar, karya untuk Gereja dan tanah air.”

 

Saudara-saudari terkasih, para kudus menciptakan sejarah. Inilah pesan Kitab Wahyu: “Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya” (Why. 1:4). Salam ini merangkum perjalanan Yesus di dunia yang terkoyak oleh kekuatan-kekuatan yang menghancurkannya. Di dalamnya muncul umat baru, bukan korban, tetapi saksi. Di saat-saat gelap sejarah ini, Allah berkenan mengutus kita untuk menyebarkan keharuman Kristus di tempat di mana bau kematian berkuasa. Marilah kita memperbarui “ya” kita terhadap perutusan ini yang menyerukan persatuan dan membawa kedamaian. Ya, kita di sini! Marilah kita mengatasi rasa ketidakberdayaan dan ketakutan! Kami mewartakan wafat-Mu, ya Tuhan, dan kami mewartakan kebangkitan-Mu, seraya menantikan kedatangan-Mu.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 2 April 2026)



[1] Yohanes Paulus II, Bulla Indiksi Yubileum Agung 2000 Incarnationis Mysterium (29 November 1998), 11.

[2] CM. Martini, Tiga Kisah Roh, Milan 1997, 11.

[3] Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 73-74.

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN 29 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Saat Yesus menjalani Jalan Salib, kita menempatkan diri di belakang-Nya, mengikuti jejak-Nya. Saat kita berjalan bersama-Nya, kita merenungkan sengsara-Nya demi umat manusia, hati-Nya yang hancur, dan hidup-Nya sebagai anugerah kasih.

 

Kita mengarahkan pandangan kepada Yesus, yang menyatakan diri-Nya sebagai Raja Damai, bahkan ketika perang mengancam di sekitar-Nya. Ia tetap teguh dalam kelembutan hati, sementara orang lain membangkitkan kekerasan. Ia menawarkan diri untuk merangkul umat manusia, bahkan ketika orang lain mengangkat pedang dan tongkat pemukul. Ia adalah terang dunia, meskipun kegelapan akan menelan bumi. Ia datang untuk membawa kehidupan, bahkan ketika berbagai rencana untuk menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya terkuak.

 

Raja Damai. Yesus ingin membawa dunia ke dalam pelukan Bapa-Nya, merobohkan setiap penghalang yang memisahkan kita dari Allah dan sesama kita, karena “Dialah damai sejahtera kita” (Ef. 2:14).

 

Raja Damai. Yesus memasuki Yerusalem bukan dengan menunggang kuda, tetapi dengan menunggang keledai, menggenapi nubuat kuno yang menyerukan sukacita atas kedatangan Mesias: “Lihatlah, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan menunggang seekor keledai, seekor keledai yang muda, anak keledai betina. Ia akan melenyapkan kereta dari Efraim dan kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan. Ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa” (Zak. 9:9-10).

 

Raja Damai. Ketika salah seorang murid-Nya menghunus pedang untuk membela-Nya dan menyerang hamba imam besar, Yesus segera mencegahnya, dengan berkata, “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab semua orang yang menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Mat. 26:52).

 

Raja Damai. Meskipun Ia memikul penderitaan kita dan ditikam karena dosa-dosa kita, Yesus “tidak membuka mulut-Nya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan mereka yang menggunting bulunya” (Yes. 53:7). Ia tidak mempersenjatai diri, membela diri, atau berperang. Ia menyatakan wajah Allah yang lembut, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih menyelamatkan diri-Nya sendiri, Ia membiarkan diri-Nya dipaku di kayu salib, merangkul setiap salib yang dipikul di setiap waktu dan tempat sepanjang sejarah manusia.

 

Saudara-saudari, inilah Allah kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang. Ia tidak mendengarkan doa orang yang berperang, tetapi menolaknya, dengan berkata, “Sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah” (Yes. 1:15).

 

Saat kita memandang Yesus yang disalibkan untuk kita, kita dapat melihat kemanusiaan yang disalibkan. Dalam luka-luka-Nya, kita melihat penderitaan begitu banyak manusia saat ini. Dalam seruan terakhir-Nya kepada Bapa, kita mendengar seruan orang-orang yang hancur, yang tidak memiliki pengharapan, yang sakit dan sendirian. Terutama, kita mendengar rintihan menyakitkan dari semua orang yang tertindas oleh kekerasan dan menjadi korban perang.

 

Kristus, Raja Damai, kembali berseru dari salib-Nya: Allah adalah kasih! Kasihanilah! Letakkan senjatamu! Ingatlah bahwa kamu adalah saudara dan saudari!

 

Dengan menggunakan kata-kata Hamba Allah, Uskup Tonino Bello, saya ingin mempercayakan seruan ini kepada Santa Maria, yang berdiri di bawah salib Putranya dan juga menangis di kaki mereka yang disalibkan hari ini:

 

“Santa Maria, perempuan hari ketiga, anugerahi kami kepastian bahwa, terlepas dari segalanya, kematian tidak akan lagi berkuasa atas kami; ketidakadilan yang menimpa berbagai bangsa telah dihitung; kilatan perang memudar ke dalam senja; penderitaan orang miskin sedang menghembuskan napas terakhirnya. Dan, akhirnya, anugerahilah agar air mata semua korban kekerasan dan penderitaan segera mengering seperti embun beku di bawah sinar matahari musim semi” (Maria, donna dei nostri giorni).

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Maret 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI STADION LOUIS II, MONACO 28 Maret 2026

Bacaan Ekaristi : Yer. 37:21-28; Yer. 31:10.11-12ab.13; Yoh. 11:45-56.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Bacaan Injil yang telah kita dengar (bdk. Yoh. 11:45–56) menceritakan hukuman kejam yang dijatuhkan kepada Yesus; Bacaan Injil menceritakan tentang hari ketika anggota Mahkamah Agama “sepakat untuk membunuh Dia” (ayat 53). Mengapa hal ini terjadi pada-Nya? Karena Ia membangkitkan Lazarus dari kematian, memulihkan hidup sahabat-Nya, yang di makamnya Ia menangis, turut berduka cita bersama Marta dan Maria. Yesus, yang datang ke dunia untuk membebaskan kita dari hukuman mati, justru dihukum mati. Ini bukanlah takdir, melainkan keputusan yang disengaja dan dipertimbangkan dengan cermat.

 

Keputusan Kayafas dan Mahkamah Agama berasal dari perhitungan politik yang didasarkan pada rasa takut: jika Yesus terus menginspirasi pengharapan dan mengubah kesedihan orang-orang menjadi sukacita, “orang-orang Roma akan datang” dan merampas bangsa itu (ayat 48). Ketimbang mengakui Orang Nazaret itu sebagai Mesias — Kristus yang telah lama dinantikan — para pemimpin agama melihatnya sebagai ancaman. Sebagai pengajar Hukum Taurat, pandangan mereka begitu menyimpang sehingga mereka sendiri melanggar ajaran hukum Taurat. Melupakan janji Allah kepada umat-Nya, mereka berusaha membunuh orang yang tidak bersalah, dan di balik rasa takut mereka terdapat keinginan untuk mempertahankan kekuasaan. Meskipun mereka telah melupakan hukum Taurat, yang memerintahkan, “Jangan membunuh,” Allah tidak melupakan janji yang akan mempersiapkan dunia untuk keselamatan. Pemeliharaan-Nya mengubah putusan yang mematikan itu menjadi sarana untuk mengungkapkan tindakan kasih yang tertinggi: betapapun jahatnya Kayafas, ia “bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu” (ayat 51).

 

Dengan demikian, kita menjadi saksi dua kekuatan yang berlawanan: di satu sisi, wahyu Allah, yang menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat yang maha kuasa; dan di sisi lain, rencana tersembunyi dari para penguasa yang ingin membunuh tanpa ragu-ragu. Bukankah ini juga terjadi hari ini? Di mana kekuatan-kekuatan ini bertemu, di situlah terletak tanda Yesus: memberikan nyawa-Nya. Tanda ini dinubuatkan dalam kebangkitan Lazarus, yang merupakan nubuat terdekat dari peristiwa-peristiwa yang kemudian akan terungkap dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Pada Paskah, Sang Putra akan menggenapi pekerjaan Bapa melalui kuasa Roh Kudus. Sama seperti Allah menciptakan kehidupan dari ketiadaan pada permulaan waktu, demikian pula pada kegenapan waktu Ia menebus setiap kehidupan dari kematian, sumber kehancuran dalam ciptaan.

 

Sukacita dan kekuatan kesaksian kita berasal dari penebusan, di setiap tempat dan waktu. Sesungguhnya, kisah kita sendiri tercakup dalam kisah Yesus, dimulai dari kehidupan orang-orang yang rentan dan tertindas. Bahkan hari ini, betapa banyak rencana jahat yang disusun di seluruh dunia untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah! Betapa banyak alasan yang dibuat untuk membenarkan pembinasaan mereka! Namun, terlepas dari kegigihan kejahatan, keadilan Allah yang kekal selalu menyelamatkan kita dari kuburan kita, seperti yang terjadi pada Lazarus, dan memberi kita kehidupan baru. Tuhan membebaskan kita dari penderitaan dengan menanamkan pengharapan. Ia mengubah hati kita yang keras dengan mengubah rupa kuasa menjadi pelayanan, mengungkapkan nama sejati kemahakuasaan-Nya: belas kasih. Belas kasihlah yang menyelamatkan dunia. Belas kasih memelihara setiap kehidupan manusia dalam segala kerapuhannya, sejak ia tumbuh di dalam rahim hingga ia layu. Sebagaimana diajarkan Paus Fransiskus kepada kita, budaya belas kasih menolak budaya mencampakkan.

 

Seperti yang telah kita dengar, suara para nabi bersaksi tentang bagaimana Allah melaksanakan rencana keselamatan-Nya. Dalam Bacaan Pertama, Nabi Yehezkiel menyatakan bahwa karya Allah dimulai dengan pembebasan (Yeh. 37:23) dan diwujudkan melalui pengudusan umat (bdk. ayat 28), yang sedang dalam perjalanan pertobatan, seperti halnya perjalanan Paskah kita. Ini adalah undangan untuk terlibat, ketimbang tetap berada pada tingkat pribadi atau individual, sehingga hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama dapat diubah rupa.

 

Pertama, pembebasan mengambil bentuk pengudusan dari “berhala-berhala” yang menajiskan umat (ayat 23). Tetapi apakah berhala itu? Nabi Yehezkiel menggunakan istilah ini untuk merujuk pada semua hal yang memperbudak hati kita, menipu dan merusaknya. Kata “berhala-berhala” berarti “gagasan kecil,” yaitu, visi yang dipersempit, yang tidak hanya merusak kemuliaan Yang Mahakuasa dengan mengubah rupa-Nya menjadi objek, tetapi juga pikiran manusia. Penyembah berhala adalah orang-orang yang berpikiran sempit yang melihat apa yang memikat pandangan mereka, yang pada akhirnya menggelapkannya. Dan demikianlah, hal-hal besar dan indah di bumi ini menjadi berhala-berhala dan menimbulkan bentuk-bentuk perbudakan — bukan bagi mereka yang kekurangan hal-hal ini, tetapi bagi mereka yang melahapnya, meninggalkan sesama mereka dalam kesengsaraan dan kesedihan. Pembebasan dari berhala-berhala adalah pembebasan dari kekuasaan yang dipahami sebagai dominasi, dari kekayaan yang berubah menjadi keserakahan, dari kesombongan yang menyamar sebagai keindahan.

 

Allah tidak meninggalkan kita ketika godaan-godaan ini datang, tetapi mengulurkan tangan kepada mereka yang lemah dan berduka, kepada mereka yang percaya bahwa berhala-berhala dunia dapat menyelamatkan mereka. Sebagaimana diajarkan Santo Agustinus, “manusia dibebaskan dari kekuasaannya ketika ia percaya kepada Dia yang telah memberikan teladan kerendahan hati” (De Civitate Dei, VII, 33). Teladan ini adalah kehidupan Yesus sendiri, Allah yang menjadi manusia untuk keselamatan kita. Ketimbang menghukum kita, Ia menghancurkan kejahatan melalui kasih-Nya, sehingga menggenapi janji yang agung: “Aku akan menahirkan mereka, sehingga mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahnya” (Yeh. 37:23). Tuhan mengubah jalannya sejarah dengan memanggil kita dari penyembahan berhala kepada iman yang sejati, dari kematian kepada kehidupan.

 

Oleh karena itu, saudara-saudari terkasih, di tengah banyaknya ketidakadilan yang menimpa bangsa-bangsa dan peperangan yang memecah belah negara-negara, sabda nabi Yeremia, yang hari ini dikumandangkan sebagai mazmur, bergema dengan penuh kekuatan: “Aku akan mengubah dukacita mereka menjadi sukacita, akan menghibur dan membuat mereka gembira lepas dari kedukaan mereka” (Yer 31:13). Penyembahan berhala menjadikan manusia budak satu sama lain, tetapi penahiran dari penyembahan berhala menguduskan mereka. Karunia rahmat ini menjadikan manusia anak-anak Allah, dan saudara-saudari satu sama lain. Karunia ini menerangi masa kini kita, karena peperangan yang menodainya dengan darah adalah buah dari penyembahan berhala kekuasaan dan uang. Setiap nyawa yang dipersingkat melukai tubuh Kristus. Janganlah kita terbiasa dengan hiruk pikuk senjata dan gambaran perang! Perdamaian bukanlah sekadar keseimbangan kekuatan; perdamaian adalah karya hati yang dimurnikan, karya mereka yang melihat orang lain sebagai saudara-saudari yang harus dilindungi, bukan musuh yang harus dikalahkan.

 

Gereja di Monaco dipanggil untuk menjadi saksi hidup dalam damai dan dengan berkat Allah. Karena itu, sahabat-sahabat terkasih, bawalah kebahagiaan kepada orang lain melalui imanmu, dengan mewujudkan sukacita sejati, yang tidak diperoleh melalui taruhan, tetapi dibagikan melalui kasih. Kasih Allah adalah sumber sukacita ini: kasih untuk kehidupan baru dan rentan, yang harus selalu disambut dan dipelihara; kasih untuk kaum muda dan tua, yang harus menerima dorongan melalui tantangan hidup; kasih untuk orang sehat dan sakit, yang terkadang sendirian, dan selalu membutuhkan pendampingan yang penuh perhatian. Semoga Bunda Maria, Pelindungmu, membantumu menyediakan ruang yang ramah dan bermartabat bagi kaum kecil dan miskin, dan untuk mempromosikan pembangunan yang menyeluruh dan menyertakan.

 

Dalam Masa Prapaskah dunia yang panjang, ketika kejahatan merajalela dan penyembahan berhala membuat hati menjadi acuh tak acuh, Tuhan mempersiapkan Paskah-Nya. Manusia adalah tanda dari peristiwa ini: Lazarus, karena ia dipanggil dari kubur; kita, yang telah diampuni dosa-dosanya; Yesus yang disalibkan dan bangkit, adalah sumber keselamatan. Dialah "jalan, kebenaran, dan hidup" (Yoh 14:6), yang menopang peziarahan kita dan perutusan Gereja di dunia, yaitu memberikan kehidupan Allah. Tugas ini luhur dan tampaknya mustahil jika kita tidak memberikan hidup kita kepada sesama kita. Sebuah tugas yang menggembirakan dan berbuah, dan Injil menerangi langkah kita.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Maret 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PRAPASKAH IV DI GEREJA HATI KUDUS YESUS PONTE MAMMOLO (ROMA) 15 Maret 2026

Bacaan Ekaristi : 1Sam. 16:1b.6-7.10-13a; Mzm. 23:1-3a.3b-4.5.6; Ef. 5:8-14; Yoh. 9:1-41.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Perayaan Ekaristi kita hari ini melebihi sebelumnya selaras dengan sukacita. Sesungguhnya, keindahan pertemuan kita sesuai dengan konteks hari Minggu yang disebut "laetare," yang berarti "bersukacitalah," yang berasal dari kata-kata Nabi Yesaya: "Bersukacitalah bersama Yerusalem!" (Antifon Pembuka, bdk. Yes 66:10).

 

Hal ini membuat kita berpikir. Banyak saudara dan saudari kita saat ini menderita akibat konflik kekerasan, yang disebabkan oleh klaim tak masuk akal bahwa masalah dan perselisihan dapat diselesaikan melalui perang. Padahal, kita harus mengupayakan dialog tanpa henti untuk perdamaian. Beberapa bahkan mencoba melibatkan Allah dalam keputusan-keputusan yang mematikan ini, tetapi Allah tidak dapat dimanfaatkan oleh kegelapan. Sebaliknya, Ia selalu datang untuk memberikan terang, pengharapan, dan perdamaian kepada umat manusia, dan perdamaian itulah yang harus diupayakan oleh mereka yang memohon kepada-Nya.

 

Inilah pesan hari Minggu ini: melampaui jurang mana pun yang dapat ditimpakan manusia karena dosa-dosanya, Kristus datang untuk membawa terang yang lebih kuat, yang mampu membebaskannya dari kebutaan kejahatan, sehingga ia dapat memulai hidup baru.

 

Perjumpaan Yesus dan orang yang buta sejak lahirnya (bdk. Yoh 9:1-41), sebenarnya, dapat dibandingkan dengan kisah kelahiran, berkatnya manusia, seperti seorang anak yang datang kepada terang, menemukan dunia baru, melihat dirinya sendiri, orang lain, dan kehidupan dengan mata Allah (bdk. 1Sam 16:9).

 

Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: berupa apa tatapan ini? Apa yang diungkapkannya? Apa artinya "melihat dengan mata Allah"?

 

Menurut penginjil Yohanes, melihat dengan mata Allah pertama-tama berarti mengatasi prasangka orang-orang yang, ketika berhadapan dengan orang yang menderita, hanya melihat orang yang tercampakkan yang harus dihina, atau masalah yang harus dihindari, mundur ke menara pertahanan individualisme yang egois. Kita sering mendengar hal-hal seperti: "Ketika keadaan baik, aku mempunyai banyak teman; tetapi di masa-masa sulit, banyak yang pergi, menghilang!" Yesus tidak melakukan hal ini: Ia memandang orang buta itu dengan kasih, bukan sebagai makhluk yang lebih rendah atau kehadiran yang mengganggu, tetapi sebagai orang yang dikasihi yang membutuhkan pertolongan. Dengan demikian, perjumpaan mereka menjadi kesempatan bagi karya Allah dinyatakan dalam diri semua orang.

 

Dalam "tanda," mukjizat itu, Yesus mengungkapkan kuasa ilahi dan manusiawi-Nya, mengulangi mirip karya penciptaan — lumpur, ludah — kembali sepenuhnya mengungkapkan keindahan dan martabatnya sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan demikian, setelah matanya dicelikkan, ia menjadi saksi terang.

 

Tentu saja, hal ini membutuhkan usaha: harus membiasakan diri dengan banyak hal yang sebelumnya tidak dikenal, belajar membedakan warna dan bentuk, membangun kembali hubungan, dan itu tidak mudah. ​​Memang, permusuhan di sekitar diri-Nya semakin meningkat, memprovokasi-Nya, dan bahkan orang tua-Nya pun tidak berani membela-Nya (bdk. Yoh 9:18-23). ​​Tampaknya hampir tidak masuk akal orang-orang terdekatnya ingin membatalkan apa yang telah terjadi. Terlebih lagi, dalam interogasi yang dialami oleh orang buta yang sekarang dapat melihat itu, yang diadili terutama adalah Yesus, yang dituduh telah melanggar hari Sabat karena menyembuhkannya.

 

Dengan demikian, kebutaan lain, yang berbeda dan bahkan lebih serius, terungkap pada mereka yang hadir: yaitu ketidakmampuan untuk melihat, tepat di depan mereka, wajah Allah, dan dengan demikian mereka memperdagangkan kemungkinan perjumpaan yang menyelamatkan dengan ketaatan legalistik terhadap ajaran formal. Menghadapi kebodohan seperti itu, Yesus tidak berhenti, menunjukkan bahwa tidak ada "hari Sabat" yang dapat menghalangi tindakan kasih. Lagipula, makna istirahat pada hari Sabat, bagi umat Israel — dan bagi kita pada hari Minggu, hari Tuhan — justru untuk merayakan misteri kehidupan sebagai anugerah, di hadapan di mana tidak seorang pun dapat mengabaikan seruan minta tolong dari saudara-saudari yang sedang menderita.

 

Mungkin, kadang-kadang, dalam pengertian ini, kita pun bisa buta, ketika kita gagal memperhatikan orang lain dan masalah mereka. Namun, Yesus meminta kita untuk hidup berbeda, sebagaimana dipahami dengan baik oleh komunitas kristiani pertama, di mana saudara dan saudari, selain tekun berdoa, berbagi segala sesuatu dengan sukacita dan kesederhanaan hati (bdk. Kis 2:42-47). Bukan berarti tidak ada kesengsaraan dan rintangan, bahkan pada masa itu. Namun, mereka tidak menyerah: dikuatkan oleh karunia baptisan, mereka tetap berusaha untuk hidup sebagai ciptaan baru, hidup dalam persekutuan dan perdamaian dengan semua orang dan menemukan dalam komunitas sebuah keluarga yang menyertai dan mendukung mereka.

 

Saudara-saudari terkasih, inilah buah-buah panggilan yang harus kita hasilkan sebagai anak-anak terang (bdk. 1Tes 5:4-5). Selama hampir sembilan puluh tahun, parokimu telah dengan setia menjalankan misi ini, dengan memberi perhatian khusus kepada situasi kemiskinan, marginalisasi, dan keadaan darurat, dengan memberi perhatian kepada keberadaan, di wilayahnya, kepada penjara Rebibbia dan dengan banyak tanda kepekaan dan solidaritas lainnya.

 

Saya tahu kamu membantu banyak saudara dan saudari dari negara lain untuk menetap di sini: belajar bahasa, menemukan rumah yang layak, dan menemukan pekerjaan yang jujur ​​dan aman. Ada banyak tantangan, sayangnya terkadang diperparah oleh mereka yang tanpa malu-malu mengeksploitasi kemiskinan orang-orang yang paling rentan untuk mengedepankan kepentingan mereka. Namun, saya menyadari betapa berkomitmennya kamu semua untuk mengatasi tantangan-tantangan ini melalui layanan Caritas, rumah-rumah keluarga untuk perempuan dan ibu yang mengalami kesulitan, dan banyak prakarsa lainnya. Saya juga menyadari vitalitas dan kemurahan hati yang kamu curahkan untuk pendidikan kaum muda dan anak-anak, dengan oratorium dan prakarsa pendidikan lainnya.

 

Santo Agustinus, berbicara tentang wajah Allah, di mana kita dipanggil untuk menjadi cerminnya di dunia, berkata kepada orang-orang kristiani pada zamannya, "Wajah apakah yang dimiliki kasih? Bentuk apakah, ukuran apakah, kaki apakah, tangan apakah? […] Ia memiliki kaki, yang menuntun ke Gereja; ia memiliki tangan, yang memberi kepada orang miskin; ia memiliki mata, yang dengannya kita mengenal mereka yang membutuhkan" (In Epistolam Joannis ad Parthos, 7, 10) dan ia menambahkan, merujuk pada kasih: "Peganglah, rangkullah: tidak ada yang lebih manis darinya" (idem).

 

Saudara-saudari terkasih, inilah karunia terang yang dipercayakan kepadamu, agar kamu dapat membiarkannya tumbuh di dalam dirimu dan di antaramu dalam segala kemanisannya dan menyebarkannya ke seluruh dunia, melalui doa, sering menerima Sakramen, dan melakukan amal kasih. Teruslah berjuang dengan cara ini dalam perjalananmu.

 

Semoga Hati Kudus Yesus, yang menjadi dedikasi parokimu, semakin membentuk dan melindungi komunitas yang indah ini, sehingga, dengan perasaan yang sama seperti Kristus (bdk. Flp 2:5), komunitas ini dapat hidup dan bersaksi dengan sukacita dan mengabdi kepada khazanah rahmat yang telah kamu terima.

 

[Sambutan pada akhir Misa]

 

Terima kasih banyak atas karunia yang indah ini. Ini sebuah foto paroki, agar kita selalu mengingatnya, selain itu di sini kamu dapat melihat kehidupan paroki, yang sangat penting! Terima kasih semuanya!

 

Dan kami mempersembahkan piala ini sebagai hadiah kecil untuk paroki, yang melambangkan apa yang kita rayakan dalam Ekaristi: tubuh dan darah Kristus, persekutuan di antara kamu semua. Salam hangat untukmu dan terima kasih!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 16 Maret 2026)