Bacaan
Ekaristi : Kis. 8:26-40; Mzm. 66:8-9.16-17.20; Yoh. 6:44-51.
Saudara-saudari
terkasih,
Saya
ingin memulai dengan menyampaikan salam hangat kepada Gereja lokal Malabo,
beserta gembalanya. Pada saat yang sama, saya menyampaikan belasungkawa yang
mendalam kepada seluruh komunitas Keuskupan Agung, para imam, dan anggota
keluarga dari Vikaris Jenderal Anda yang baru saja meninggal, Pastor Fortunato
Nsue Esono, yang kita kenang dalam perayaan Ekaristi ini.
Saya
mengajakmu untuk menghayati saat-saat duka ini dengan semangat iman, dan saya
percaya bahwa, tanpa terpengaruh oleh spekulasi atau kesimpulan yang
terburu-buru, keadaan seputar kematiannya akan sepenuhnya diklarifikasi.
Bacaan
yang baru saja kita dengar menantang kita untuk bertanya apakah kita
benar-benar tahu bagaimana menafsirkan perikop bacaan Kitab Suci hari ini.
Pertanyaan ini serius dan penuh berkat, karena mempersiapkan kita untuk membaca
bersama buku sejarah, yaitu perikop kehidupan kita sendiri, yang terus diilhami
Allah dengan hikmat-Nya.
Ketika
diakon Filipus mendekati seorang pengembara yang sedang dalam perjalanan pulang
dari Yerusalem ke Afrika, ia bertanya, “Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca
itu?” (Kis. 8:30). Pengembara itu, seorang kepala perbendaharaan istana Ratu
Etiopia, segera menjawab dengan hikmat yang rendah hati, “Bagaimana aku dapat
mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (ayat 31). Pertanyaannya bukan
hanya pencarian kebenaran, tetapi juga ungkapan keterbukaan dan keinginan.
Marilah kita merefleksikan orang ini: ia kaya, seperti negerinya, namun ia
adalah seorang hamba. Kekayaan yang ia kelola bukan miliknya sendiri: semua
yang dimilikinya adalah hasil kerjanya, yang bermanfaat bagi orang lain. Ia
cerdas dan berbudaya, sebagaimana ditunjukkan dalam pekerjaan dan doanya,
tetapi ia tidak sepenuhnya bebas. Kenyataan menyakitkan ini bahkan tercermin
pada tubuhnya: ia sebenarnya adalah seorang sida-sida. Ia tidak dapat
melahirkan kehidupan; seluruh vitalitasnya diperuntukkan bagi kekuatan yang
mengendalikan dan memerintahnya.
Namun,
ketika ia kembali ke tanah kelahirannya di Afrika, yang baginya telah menjadi
tempat perbudakan, pemberitaan Injil membebaskannya. Sabda Allah yang
dipegangnya menghasilkan buah yang tak terduga dalam hidupnya. Melalui
perjumpaannya dengan Filipus, seorang saksi Kristus yang disalibkan dan
bangkit, sida-sida itu berubah dari sekadar pembaca — seorang penonton— Kitab
Suci menjadi pelaku utama dalam kisah yang memikatnya, karena sekarang kisah
itu menyangkut dirinya secara pribadi. Teks suci berbicara kepadanya,
membangkitkan dalam dirinya kerinduan akan kebenaran. Orang Afrika ini pun
memasuki Kitab Suci, yang menyambut setiap pembaca yang ingin memahami sabda
Allah. Ia melangkah ke dalam sejarah keselamatan, yang merangkul setiap orang,
terutama yang tertindas, terpinggirkan, dan paling hina di antara kita. Sabda
tertulis kemudian menjadi kenyataan yang dihayati: melalui baptisan, ia bukan
lagi orang asing, tetapi menjadi anak Allah, saudara kita dalam iman. Meskipun
seorang hamba dan tidak memiliki anak, ia dilahirkan kembali ke dalam kehidupan
baru dan bebas dalam nama Tuhan Yesus. Dan kita berbicara tentang
keselamatan-Nya hingga hari ini, persis seperti saat kita membaca Kitab Suci
ini!
Seperti
dia, kita pun telah menjadi umat kristiani melalui baptisan, menerima terang
yang sama, yaitu iman yang sama yang dengannya kita membaca sabda Allah:
merefleksikan nubuat, mendoakan mazmur, mempelajari Hukum dan mewartakan Injil
melalui hidup kita. Semua teks Kitab Suci, pada kenyataannya, mengungkapkan
makna sebenarnya dalam iman, karena teks-teks itu ditulis dan diturunkan kepada
kita melalui iman. Oleh karena itu, membacanya selalu merupakan tindakan
pribadi dan gerejawi; bukan sesuatu yang dilakukan secara tersendiri atau hanya
secara mekanis.
Bersama-sama
kita membaca Kitab Suci sebagai warisan bersama Gereja, dibimbing oleh Roh
Kudus, yang mengilhami penyusunannya, dan Tradisi Apostolik, yang telah
melestarikan dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Seperti sida-sida itu, kita
pun dapat memahami sabda Allah dengan bantuan seorang pembimbing yang menemani
kita dalam perjalanan iman kita. Demikianlah halnya dengan diakon Filipus, yang
“mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus
kepadanya” (ayat 35). Peziarah Afrika itu sedang membaca nubuat yang telah
tergenapi baginya, sama seperti yang tergenapi bagi kita hari ini. Hamba yang
menderita yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya (bdk. Yes 53:7-8) adalah Yesus,
yang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya menebus kita dari dosa dan
maut. Ia adalah Sabda yang menjadi daging, di dalam Dia setiap sabda Allah
menemukan penggenapannya; Ia mengungkapkan maksud asli, makna penuh, dan tujuan
akhirnya.
Sebagaimana
dikatakan Kristus sendiri, “Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah
melihat Bapa” (Yoh 6:46). Dalam Putra, Bapa sendiri menyatakan kemuliaan-Nya:
Allah menjadikan diri-Nya terlihat, terdengar, dan tersentuh. Melalui tindakan
Yesus, Sang Penebus, Ia menggenapi apa yang selalu Ia lakukan: memberikan
kehidupan. Ia menciptakan dunia, menyelamatkannya, dan mengasihinya selamanya.
Yesus mengingatkan mereka yang mendengarkan Dia tentang tanda akan kepedulian
yang terus-menerus ini: “Nenek moyangmu makan manna di padang gurun” (ayat 49).
Ia merujuk pada pengalaman Keluaran: perjalanan pembebasan dari perbudakan yang
berubah menjadi masa pengembaraan selama empat puluh tahun yang melelahkan.
Penundaan ini terjadi karena orang-orang tidak percaya pada janji Tuhan; mereka
bahkan tetap merindukan kehidupan di Mesir (bdk. Kel 16:3). Memang, di bawah
pemerintahan Firaun, mereka memiliki makanan dari tanah; namun, Allah membawa
mereka ke padang gurun, di mana roti hanya dapat diperoleh dari pemeliharaan-Nya.
Manna, dengan demikian, adalah tanda, berkat, dan janji yang digenapi melalui
kedatangan Yesus. Simbol kuno ini sekarang memberi jalan kepada sakramen
perjanjian baru dan kekal: Ekaristi — roti yang dikonsekrasikan oleh Dia yang
turun dari surga untuk menjadi makanan kita. Jika mereka yang makan manna mati
(bdk. Yoh 6:49), siapa saja yang makan roti ini akan hidup selama-lamanya (bdk.
ayat 51), karena Kristus hidup! Ia adalah Yang Bangkit, dan terus memberikan
hidup-Nya bagi kita.
Melalui
Paskah Yesus, keluaran yang definitif, setiap bangsa dibebaskan dari perbudakan
kejahatan. Saat kita merayakan misteri keselamatan ini, Tuhan memanggil kita
untuk membuat pilihan yang menentukan: “Siapa saja yang percaya, ia mempunyai
hidup yang kekal” (ayat 47). Dalam Yesus, kita diberi prospek yang menakjubkan:
Allah memberikan diri-Nya untuk kita. Apakah aku percaya bahwa kasih-Nya lebih
kuat daripada kematianku? Dengan memutuskan untuk percaya kepada-Nya, kita
masing-masing memilih antara keputusasaan yang tak terhindarkan dan pengharapan
yang ditawarkan Allah. Rasa lapar kita akan hidup dan keadilan kemudian
dipuaskan oleh perkataan Yesus: “Roti yang akan Kuberikan untuk hidup dunia
ialah daging-Ku” (ayat 51).
Terima
kasih, Tuhan! Kami memuji dan bersyukur kepada-Mu, karena Engkau memilih untuk
menjadi Ekaristi bagi kami, roti hidup yang kekal, sehingga kami dapat hidup
selama-lamanya. Sahabat-sahabat terkasih, pada saat ini juga, saat kita
merayakan sakramen keselamatan ini, kita dapat dengan penuh sukacita
menyatakan: Kristus adalah segala-galanya bagi kita! Di dalam Dia kita
menemukan kepenuhan hidup dan makna. “Jika kamu tertindas oleh ketidakadilan,
Dialah keadilan; jika kamu membutuhkan pertolongan, Dialah kekuatan; jika kamu
takut akan kematian, Dialah hidup; jika kamu mendambakan Surga, Dialah jalan;
jika kamu berada dalam kegelapan, Dialah terang” (Santo Ambrosius, De
Virginitate, 16:99). Masalah kita tidak lenyap di hadapan Tuhan, tetapi
diterangi. Sama seperti setiap salib menemukan penebusan dalam Yesus, demikian
pula kisah hidup kita menemukan maknanya dalam Injil. Karena itu, hari ini kita
masing-masing dapat berkata: “Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan
tidak menjauhkan kasih setia-Nya dariku” (Mzm. 66:20). Ia selalu mengasihi kita
terlebih dahulu. Sabda-Nya adalah Kabar Baik bagi kita, dan kita tidak
mempunyai hal yang lebih besar untuk diwartakan kepada dunia. Kita semua
dipanggil untuk penginjilan ini sejak saat kita menerima sakramen baptis,
sakramen persatuan persaudaraan, air pembersih pengampunan dan sumber
pengharapan. Melalui kesaksian kita, pemberitaan keselamatan menjadi nyata
dalam tindakan, pelayanan, dan pengampunan — singkatnya, pemberitaan tersebut
menjadi Gereja!
Sebagaimana
diajarkan Paus Fransiskus, “Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang
yang menjumpai Yesus” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 1). Pada saat
yang sama, ketika kita ambil bagian dalam sukacita ini, kita juga menjadi
semakin sadar akan bahaya “kesedihan dan kecemasan yang lahir dari hati yang
puas diri namun tamak, pengejaran akan kesenangan sembrono dan hati nurani yang
tumpul. Ketika kehidupan batin kita terbelenggu dalam kepentingan dan
kepeduliannya sendiri, tak ada lagi ruang bagi sesama, tak ada tempat bagi si
miskin papa. Suara Allah tak lagi didengar dan sukacita kasih-Nya tak lagi
dirasakan” (idem, 2). Dalam menghadapi sikap tertutup seperti itu,
justru kasih Tuhanlah yang menopang upaya kita, terutama dalam pelayanan
keadilan dan solidaritas.
Karena
alasan ini, saya mendorong kamu semua, sebagai Gereja yang hidup di Guinea
Khatulistiwa, untuk melanjutkan perutusan murid-murid pertama Yesus dengan
penuh sukacita. Saat kamu membaca Injil bersama-sama, wartakanlah dengan penuh
semangat, seperti yang dilakukan diakon Filipus. Dan saat kamu merayakan
Ekaristi bersama-sama, berikanlah kesaksian melalui hidupmu tentang iman yang
menyelamatkan, agar sabda Allah menjadi ragi yang baik bagi semua orang.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 23 April 2026)




