Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BASILIKA SANTO AGUSTINUS, ANNABA (ALJAZAIR) 14 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis 4:32-37; Mzm. 93:1ab.1c-2.5; Yoh 3:7-15.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sabda ilahi meresapi sejarah dan memperbaruinya melalui suara manusiawi Sang Juruselamat. Hari ini kita mendengarkan Bacaan Injil, Kabar Baik sepanjang masa, di Basilika di Annaba ini yang didedikasikan untuk Santo Agustinus, Uskup kota kuno Hippo. Selama berabad-abad, nama-nama tempat yang menyambut kita telah berubah, tetapi para kudus terus berperan sebagai pelindung kita dan saksi setia hubungan dengan negeri yang berasal dari surga. Justru dinamika inilah yang diungkapkan Tuhan pada malam hari kepada Nikodemus: inilah kekuatan yang ditanamkan Kristus dalam kelemahan iman dan kegigihan pencariannya.

 

Diutus oleh Roh Allah, yang “engkau tidak tahu dari mana Ia datang atau ke mana Ia pergi” (Yoh 3:8), Yesus adalah tamu istimewa bagi Nikodemus. Bahkan, Ia memanggilnya kepada kehidupan baru, mempercayakan kepada lawan bicaranya — dan juga kepada kita — suatu tugas yang mengejutkan: “Kamu harus dilahirkan kembali” (ayat 7). Demikianlah undangan bagi setiap orang yang mencari keselamatan! Undangan Yesus melahirkan perutusan seluruh Gereja, dan akibatnya bagi komunitas kristiani di Aljazair: dilahirkan kembali dari atas, yaitu dari Allah. Dalam sudut pandang ini, iman mengatasi kesulitan duniawi dan rahmat Tuhan membuat padang gurun menjadi subur. Namun keindahan seruan ini juga membawa tantangan, yang sesuai ajakan Bacaan Injil harus kita hadapi bersama.

 

Faktanya, kata-kata Kristus mengandung seluruh kekuatan sebuah perintah: kamu harus dilahirkan kembali dari atas! Perintah seperti itu terdengar di telinga kita sebagai suatu prestasi yang mustahil. Namun, ketika kita mendengarkan dengan saksama Dia yang memberi perintah, kita akan memahami bahwa ini bukan paksaan yang lalim atau ketidakleluasaan, apalagi kutukan atas kegagalan. Sebaliknya, kewajiban yang diungkapkan oleh Yesus tersebut merupakan anugerah kebebasan bagi kita, karena mengungkapkan kemungkinan yang tak terduga: kita dapat dilahirkan kembali dari atas berkat Allah. Oleh karena itu, kita harus melakukannya sesuai dengan kehendak kasih-Nya, yang ingin memperbarui umat manusia dengan memanggil kita kepada persekutuan hidup yang dimulai dengan iman. Seraya mengajak kita untuk memperbarui hidup kita sepenuhnya, Kristus juga memberi kita kekuatan untuk melakukannya. Santo Agustinus membuktikan hal ini dengan baik ketika berdoa seperti ini, “Berilah, ya Tuhan, apa yang Engkau perintahkan dan perintahkanlah apa yang Engkau kehendaki” (Pengakuan-pengakuan, X, 29, 40).

 

Oleh karena itu, ketika kita bertanya pada diri sendiri bagaimana masa depan yang penuh keadilan, perdamaian, kerukunan, dan keselamatan akan mungkin terjadi, kita harus ingat bahwa kita sedang mengajukan pertanyaan yang sama kepada Allah seperti yang diajukan Nikodemus: dapatkah kisah hidup kita benar-benar berubah? Kita sangat terbebani oleh masalah, kesulitan, dan kesengsaraan! Dapatkah kita benar-benar memulai hidup kita kembali? Ya! Jawaban Tuhan, yang penuh kasih, memenuhi hati kita dengan pengharapan. Betapa pun terbebaninya kita oleh penderitaan atau dosa: Yesus yang disalibkan menanggung semua beban ini bersama kita dan untuk kita. Betapa pun putus asanya kita karena kelemahan kita: justru pada saat itulah Allah menyatakan kekuatan-Nya, Allah yang telah membangkitkan Kristus dari kematian untuk memberikan hidup kepada dunia. Kita masing-masing dapat mengalami kebebasan hidup baru yang berasal dari iman kepada Sang Penebus. Sekali lagi, Santo Agustinus memberi kita teladan tentang hal ini: kita menghormatinya karena pertobatannya yang bahkan melebihi kebijaksanaannya. Dalam kelahiran kembali ini, yang secara ilahi disertai dengan air mata ibunya, Santa Monika, ia mendapati dirinya berseru: “Oleh karena itu, aku tidak dapat ada, tidak dapat ada sama sekali, ya Allahku, kecuali Engkau ada di dalam diriku. Atau bukankah seharusnya aku berkata, bahwa aku tidak dapat ada kecuali aku ada di dalam Engkau” (Pengakuan-pengakuan, I, 2).

 

Umat kristiani benar-benar dilahirkan dari atas, diperbarui oleh Allah sebagai saudara dan saudari Yesus, dan Gereja yang memelihara mereka dengan sakramen-sakramen adalah pelukan hangat bagi semua orang. Seperti yang baru saja kita dengar, Kisah Para Rasul menjadi saksi atas hal ini dengan menggambarkan gaya hidup yang menjadi ciri khas umat manusia ketika telah diperbarui oleh Roh Kudus (bdk. Kis. 4:32-37). Bahkan hari ini, kita harus menerima ketentuan apostolik ini dan mempraktikkannya, merenungkannya sebagai kriteria otentik untuk reformasi gerejawi: reformasi yang harus dimulai dari hati, jika ingin menjadi tulus, dan harus mencakup semua orang jika ingin efektif.

 

Pertama, “kumpulan orang yang telah percaya itu sehati dan sejiwa” (ayat 32). Kesatuan rohani ini adalah concordia: sebuah kata yang tepat menggambarkan persekutuan hati yang berdenyut sebagai kesatuan karena mereka bersatu dengan hati Kristus. Oleh karena itu, Gereja perdana tidak didasarkan pada kontrak sosial, melainkan pada keselarasan iman, kasih sayang, gagasan, dan keputusan hidup yang berpusat pada kasih Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan semua bangsa di bumi.

 

Kedua, marilah kita mengagumi dampak nyata dari kesatuan rohani di antara orang-orang percaya: “segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (ayat 32). Setiap orang memiliki segala sesuatu, saling berbagi harta benda sebagai anggota satu tubuh. Tidak seorang pun kehilangan apa pun, karena setiap orang berbagi apa yang mereka miliki. Karena kepunyaan dapat diubah menjadi pemberian, pengabdian persaudaraan ini bukan utopia. Hanya hati yang terpecah belah dan jiwa yang dikuasai oleh keserakahan yang percaya bahwa itu adalah utopia. Sebaliknya, iman kepada satu Allah, Tuhan langit dan bumi, mempersatukan manusia menurut keadilan yang sempurna, yang berseru kepada setiap orang untuk berbuat kasih — yaitu, mengasihi setiap makhluk dengan kasih yang diberikan Allah kepada kita di dalam Kristus. Karena itu, dalam menghadapi kemiskinan dan penindasan, kasih merupakan prinsip utama bagi umat kristiani: marilah kita berbuat kepada sesama kita seperti yang kita kehendaki supaya mereka perbuat kepada kita (bdk. Mat 7:12). Terinspirasi oleh hukum ini, yang ditulis Allah di dalam hati kita, Gereja terus menerus dilahirkan kembali, karena di mana ada keputusasaan, ia menyalakan pengharapan, di mana ada penderitaan, ia membawa martabat, dan di mana ada pertikaian, ia membawa rekonsiliasi.

 

Ketiga, perikop dari Kisah Para Rasul menunjukkan kepada kita dasar kehidupan baru ini, yang mencakup orang-orang dari setiap bahasa dan budaya: “Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam anugerah yang melimpah-limpah” (ayat 33). Amal kasih yang memotivasi mereka lebih dari sekadar komitmen moral; suatu tanda keselamatan: para rasul memberitakan bahwa hidup kita dapat berubah karena Kristus telah bangkit dari antara orang mati. Oleh karena itu, tugas utama para gembala sebagai pelayan Injil adalah memberi kesaksian tentang Allah di hadapan dunia dengan sehati dan sejiwa, tidak membiarkan kekhawatiran kita menyesatkan kita melalui rasa takut, atau tren melemahkan kita melalui kompromi. Bersamamu, saudara-saudara dalam episkopat dan presbiterat, marilah kita senantiasa memperbarui perutusan ini demi mereka yang dipercayakan kepada kita, sehingga melalui pelayanannya, seluruh Gereja dapat menjadi pesan kehidupan baru bagi mereka yang kita temui.

 

Saudara-saudara kristiani di Aljazair yang terkasih, kamu tetap menjadi tanda kasih Kristus yang rendah hati dan setia di negeri ini. Berikan kesaksian tentang Injil melalui tindakan sederhana, hubungan yang tulus, dan dialog yang dijalani sehari-hari: dengan cara ini, kamu membawa cita rasa dan terang ke tempat tinggalmu. Kehadiranmu di negeri ini seperti dupa: sebutir dupa yang menyala dan menyebarkan keharuman karena memuliakan Tuhan serta memberikan sukacita dan penghiburan kepada begitu banyak saudara dan saudari. Dupa ini adalah unsur kecil yang berharga yang tidak menarik perhatian pada dirinya sendiri, tetapi mengajak kita untuk mengarahkan hati kita kepada Allah, saling mendorong untuk bertahan di tengah kesulitan masa kini. Dari pedupaan hati kita, semoga muncul pujian, berkat, dan permohonan, menyebarkan keharuman yang semerbak (bdk. Ef 5:2) dari belas kasihan, sedekah, dan pengampunan. Sejarahmu adalah sejarah keramahan yang murah hati dan ketahanan di masa-masa sulit. Di sinilah para martir berdoa; di sinilah Santo Agustinus mengasihi kawanan dombanya, dengan sungguh-sungguh mencari kebenaran dan melayani Kristus dengan iman yang teguh. Jadilah pewaris tradisi ini, memberikan kesaksian melalui kasih persaudaraan akan kebebasan mereka yang lahir dari atas sebagai pengharapan keselamatan bagi dunia.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN 5 April 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini seluruh ciptaan bersinar terang dengan cahaya baru, lagu pujian menggema dari bumi, dan hati kita bersukacita: Kristus telah bangkit dari antara orang mati, dan bersama Dia, kita pun bangkit menuju kehidupan baru!

 

Pujian Paskah ini mencakup misteri hidup kita dan takdir sejarah, menjangkau kita bahkan di kedalaman kematian, di mana kita merasa terancam dan terkadang kewalahan. Pujian Paskah membuka kita kepada pengharapan yang tak pernah gagal, kepada cahaya yang tak pernah pudar, kepada sukacita penuh yang tak dapat diambil oleh apa pun: kematian telah ditaklukkan selamanya; kematian tidak lagi berkuasa atas kita!

 

Ini adalah pesan yang tidak selalu mudah diterima, janji yang sulit kita terima, karena kuasa kematian terus-menerus mengancam kita, baik dari dalam maupun dari luar.

 

Dari dalam, kekuatan ini mengancam kita ketika beban dosa kita menghalangi kita untuk "membentangkan sayap" dan terbang, atau ketika kekecewaan atau kesepian yang kita alami menguras pengharapan kita. Demikian pula, kekuatan ini membayangi kita ketika kekhawatiran atau kebencian kita mencekik kegembiraan hidup, ketika kita sedih atau lelah, atau ketika kita merasa dikhianati atau ditolak. Ketika kita harus berdamai dengan kelemahan kita, dengan penderitaan dan rutinitas kehidupan sehari-hari, kita dapat merasa seolah-olah kita telah berakhir di terowongan yang terlihat tanpa ujung.

 

Dari luar, kematian selalu mengintai. Kita melihatnya hadir dalam ketidakadilan, keegoisan pihak tertentu, penindasan terhadap kaum miskin, kurangnya perhatian yang diberikan kepada kaum yang paling rentan. Kita melihatnya dalam kekerasan, luka-luka dunia, jeritan kesakitan yang muncul dari setiap sudut karena penyalahgunaan yang menghancurkan orang yang terlemah, pemujaan keuntungan yang menjarah sumber daya bumi, kekerasan perang yang membunuh dan menghancurkan.

 

Dengan kenyataan ini, Paskah Tuhan mengajak kita untuk memandang ke atas dan membuka hati kita. Paskah terus memelihara benih kemenangan yang dijanjikan di dalam roh kita dan sepanjang sejarah. Paskah menggerakkan kita, seperti Maria Magdalena dan para Rasul, sehingga kita dapat menemukan bahwa kubur Yesus kosong, dan karena itu dalam setiap kematian yang kita alami, ada juga ruang bagi kehidupan baru untuk bangkit. Tuhan hidup dan tetap bersama kita. Melalui celah-celah kebangkitan yang terbuka dalam kegelapan, Ia mempercayakan hati kita kepada pengharapan yang menopang kita: kuasa kematian bukanlah takdir akhir hidup kita. Kita semua diarahkan, sekali dan untuk selamanya, pada jalan menuju penggenapan, karena di dalam Kristus kita juga telah bangkit.

 

Dengan kata-kata yang tulus, Paus Fransiskus mengingatkan kita akan hal ini dalam seruan apostoliknya yang pertama, Evangelii Gaudium, menegaskan bahwa kebangkitan Kristus “bukanlah peristiwa masa lalu; peristiwa itu mengandung kekuatan vital  yang telah meresapi dunia ini. Di mana segala hal tampak mati, tanda-tanda kebangkitan tiba-tiba muncul. Ini adalah daya kekuatan yang tidak dapat ditolak. Benar bahwa seringkali seakan-akan Allah tidak ada: di sekitar kita terus menerus tampak ketidakadilan, kejahatan, ketakpedulian dan kekejaman. Tetapi benar juga bahwa di tengah-tengah kegelapan sesuatu yang baru selalu muncul dalam kehidupan dan cepat atau lambat menghasilkan buah” (no. 276).

 

Saudara-saudari, Paskah memberi kita pengharapan ini, saat kita mengingat bahwa dalam Kristus yang bangkit, penciptaan baru dimungkinkan setiap hari. Inilah yang dikatakan Bacaan Injil hari ini kepada kita, karena dengan jelas menggambarkan peristiwa kebangkitan terjadi pada “hari pertama minggu itu” (Yoh 20:1). Hari kebangkitan Kristus membawa kita kembali ke hari pertama ketika Allah menciptakan dunia, dan sekaligus menyatakan bahwa kehidupan baru, yang lebih kuat dari kematian, kini sedang terbit bagi umat manusia.

 

Paskah adalah penciptaan baru yang dihasilkan oleh Tuhan yang telah bangkit; Paskah adalah permulaan baru; Paskah adalah kehidupan yang akhirnya dijadikan kekal oleh kemenangan Allah atas musuh sejak dahulu kala.

 

Hari ini kita membutuhkan lagu pengharapan ini. Kitalah, yang telah bangkit bersama Kristus, yang harus membawa Dia ke jalan-jalan dunia. Marilah kita berlari seperti Maria Magdalena, mewartakan Dia kepada semua orang, menghidupi sukacita kebangkitan, sehingga di mana pun bayangan kematian masih ada, terang kehidupan dapat bersinar.

 

Semoga Kristus, Paskah kita, memberkati kita dan memberikan damai sejahtera-Nya kepada seluruh dunia!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 5 April 2026)

HOMILI PASTOR ROBERTO PASOLINI, OFMCAP, PENGKHOTBAH RUMAH TANGGA KEPAUSAN, DALAM IBADAT JUMAT AGUNG DI BASILIKA SANTO PETRUS 3 April 2026

Saudara-saudari, pada hari suci ini liturgi mengajak kita untuk merefleksikan penderitaan Tuhan.

 

Kita hampir tidak pernah mendengarnya dalam kidung. Di hadapan misteri kematian dan kemuliaan ini, berkumpul dalam keheningan untuk berdoa wajar. Namun, salib Kristus berisiko tetap tak terpahami jika kita menganggapnya sebagai peristiwa terasing, kejadian yang tak dapat dijelaskan. Pada kenyataannya, salib Kristus adalah puncak dari sebuah perjalanan, kepenuhan hidup di mana Yesus belajar untuk mendengarkan dan menerima suara Bapa, membiarkan diri-Nya dibimbing hari demi hari menuju kasih yang terbesar. Untuk memahami perjalanan ini, selama Pekan Suci liturgi telah mengajak kita untuk mendengarkan apa yang disebut Kidung Hamba Tuhan. Kidung Hamba Tuhan adalah teks puitis di mana Nabi Yesaya menguraikan sosok hamba misterius yang melaluinya Allah dapat menyelamatkan dunia dari kejahatan dan dosa.

 

Tradisi kristiani telah mengenali dalam kidung ini sebuah gambaran awal yang mencolok dan dramatis tentang langkah yang diambil Yesus, yang mengidentifikasi diri-Nya sebagai manusia yang penuh sengsara yang mengosongkan diri-Nya, bahkan hingga mati, menanggung dosa banyak orang. Dalam kidung pertama, hamba itu digambarkan sebagai seseorang yang dipanggil untuk sebuah perutusan penting dan indah: mencelikkan mata orang buta dan membebaskan para tawanan dari penjara, mereka yang berada dalam kegelapan penjara. Tugas seumur hidup yang ditujukan kepada mereka yang tertindas oleh penderitaan, ketidakadilan, dan dosa. Namun, hamba itu harus melaksanakannya dengan kelembutan yang luar biasa, mengikuti cara yang tepat: ia tidak akan berteriak, ia tidak akan menyaringkan suaranya, tidak akan memperdengarkan suaranya di jalan, buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tidak ada kekerasan, tidak ada pemaksaan, tidak ada godaan untuk menghancurkan agar dapat memulai semuanya dari awal lagi. Hamba itu harus mencari kehidupan di tengah kegelapan kejahatan. Kita tahu bahwa tidak mudah untuk mengemban perutusan ini.

 

Kita semua tergoda untuk memaksakan keadaan, menggunakan sedikit agresi, sedikit kekerasan, berpikir bahwa inilah cara yang tanpanya masalah tidak akan pernah terselesaikan. Hamba Tuhan tidak mau menyerah pada naluri ini; ia harus mempertahankan kelembutan hati sebagai satu-satunya kekuatan untuk menghadapi kegelapan kejahatan.

 

Pada kidung kedua, segalanya percuma. Setelah berusaha memenuhi perutusannya, hamba itu menyadari bahwa semua usahanya untuk berbuat baik telah sia-sia dan berkata, "Aku telah bersusah payah dengan percuma." Kebaikan yang ditaburnya tampaknya tidak tumbuh; semuanya tampak diam di tempat dan terhambat. Sebuah krisis yang cepat atau lambat akan menimpa setiap orang yang telah memilih untuk mengikuti Tuhan. Perasaan berputar-putar tanpa hasil, tidak mencapai apa pun, tetap setia pada sesuatu yang tidak menghasilkan buah, sebenarnya hanyalah sebuah kesan. Karena dengan mengatakan "percuma," Nabi Yesaya tidak memaksudkan hamba itu telah bertindak percuma, tetapi lebih tepatnya bahwa ia tidak dapat memverifikasi hasil pekerjaannya. Dengan membawa terang ke dalam kegelapan, hamba Tuhan telah memasuki ruang di mana segala sesuatu tidak lagi dipahami menurut kriteria kita, tetapi mengikuti rancangan lain, rancangan paradoks, yaitu keselamatan yang datang dari Allah.

 

Dalam kidung ketiga, muncul kejutan baru: sang hamba menyadari bahwa orang-orang yang ingin ia bantu justru bereaksi dengan permusuhan, kemarahan, bahkan kekerasan. Mereka yang hidup dalam kegelapan tidak selalu menerima terang; terkadang mereka menolaknya dan mencoba menghalanginya, karena terang tidak hanya menyoroti apa yang indah, tetapi juga apa yang ingin kita sembunyikan: luka, kebohongan, dan ambiguitas kita, dan ini membuat kita takut. Tetapi sang hamba tidak mundur; ia terus melanjutkan jalan yang ditunjukkan Tuhan tanpa melarikan diri. Ia memberi punggungnya kepada orang-orang yang memukulnya, pipinya kepada orang-orang yang mencabut janggutnya; ia tidak menyembunyikan mukanya ketika ia dihina dan diludahi.

 

Dalam kidung keempat, yang telah kita dengar dalam liturgi hari ini, terjadi sesuatu yang membingungkan: kekerasan yang diderita oleh hamba itu begitu hebat sehingga merusak mukanya, membuatnya tidak dapat dikenali. Ia tidak memiliki penampilan atau kecantikan, namun justru dalam perjalanan inilah hamba itu belajar untuk tidak membalas. Ketika kejahatan menimpa kita, naluri kita adalah bereaksi, menolaknya, membalas dendam. Namun, hamba itu tidak menyerah pada nalar ini; ia menerima semuanya tanpa membalas dengan kekerasan. Kejahatan mendatanginya, dan di situlah ia berhenti. Itulah sebabnya ia menanggung dosa banyak orang dan mendoakan orang-orang yang bersalah kepadanya.

 

Saudara-saudari, Yesus tidak hanya mendengarkan Kidung Hamba Tuhan ini; Ia menafsirkan dan menghayatinya dengan sungguh-sungguh, dengan kepercayaan penuh pada kehendak Bapa, sampai pada titik mengubah penyaliban-Nya menjadi tindakan keselamatan. Menghadapi kejahatan, dunia ini hanya mengenal dua jalan: menyerah atau membalasnya. Kita melihatnya setiap hari dalam perang, perpecahan, dan luka yang menandai semua hubungan kita. Kejahatan terus beredar karena kamu menemukan seseorang yang bersedia membayarnya dan melipatgandakannya.

 

Yesus memutus rantai ini, bukan dengan memaksakan diri dengan kekuatan yang lebih besar, tetapi dengan menerima apa yang terjadi pada-Nya dan mengenali di dalamnya ganjaran dramatis dari penderitaan-Nya, mengenali melodi kidung kasih dan pelayanan yang telah dipercayakan Bapa kepada hidup-Nya. Ia tidak memenuhi melodi ini secara mekanis, tetapi dengan menerjemahkan kata-kata kenabian ke dalam perbuatan, pengampunan, dan keheningan yang dipenuhi belas kasihan. Demikianlah, dengan menempuh jalan salib, saya telah belajar ketaatan yang paling sulit: yaitu mengasihi sesama, bahkan ketika sesama kita tampak sebagai musuh.

 

Kita hidup di dunia di mana suara Allah tidak lagi menuntun jalan bersama umat manusia seperti dulu, bukan karena suara Allah telah lenyap, tetapi karena seringkali hanya satu suara di antara banyak suara lainnya, tenggelam oleh kata-kata lain yang menjanjikan jaminan, kemajuan, dan kesejahteraan. Inilah prinsip panduan yang membentuk banyak keputusan dan menentukan arah kehidupan kita bersama. Namun, dunia tetap menjadi tempat di mana orang menderita dan mati, seringkali tanpa kesalahan atau alasan. Perang terus berlanjut, ketidakadilan berlipat ganda, dan orang yang paling rentan menanggung akibatnya. Seolah-olah ada kata yang hilang, sebuah kata yang mampu menyatukan perjalanan umat manusia, sebuah kidung yang dapat menuntun langkah kita menuju dunia yang semakin adil dan bersaudara. Namun, justru dalam konteks inilah, jika kita melihat lebih dekat, kita dapat melihat sesuatu yang mengejutkan: banyak orang yang diam memilih untuk mendengarkan suara yang berbeda.

 

Sebagian orang jelas mengenalinya sebagai kehendak Allah; yang lain mendengarnya sebagai panggilan yang dalam dan sangat diperlukan dari hati nurani mereka sendiri. Suara yang tidak berteriak, yang tidak memaksakan diri, yang tidak menjanjikan jalan pintas. Kidung yang bijaksana dan terus-menerus yang mengajak kita untuk mencintai, tetap tinggal, dan tidak lagi membalas kerugian yang diterima.

 

Sebagian orang memilih untuk mendengarkan kidung ini. Mereka adalah orang-orang biasa yang berjalan, terkadang tanpa menyadarinya, di jalan yang sama dengan hamba Tuhan. Mereka tidak melakukan tindakan luar biasa; mereka hanya bangun setiap hari dan mencoba menjadikan hidup mereka melayani tidak hanya diri mereka sendiri tetapi juga sesama. Mereka memikul beban yang tidak mereka pilih, merangkul luka tanpa mengeraskan hati, tidak pernah berhenti mencari kebaikan bahkan ketika tampaknya percuma, mereka tidak membuat keributan, mereka tidak menguasai panggung, tetapi mereka tetap membuka kemungkinan dunia yang berbeda. Berkat mereka, kejahatan tidak memiliki kata terakhir, dan sejarah tidak berakhir dengan kekerasan. Banyak orang bersaksi bahwa kidung hamba yang dikasihi Allah itu terus bergema di dalam hati manusia, hanya menunggu seseorang yang bersedia menerjemahkannya ke dalam partitur konkret kehidupan mereka sendiri, bahkan jika itu berarti harus memikul salib.

 

Sebentar lagi kita akan menyembah salib Tuhan dengan gerakan, keheningan, dan doa. Ini akan menjadi kesempatan istimewa untuk mengakui misteri Tuhan dan mendamaikan diri kita dengan kelemahan dan kekuatan kasih-Nya bagi kita dan semua orang. Jika kita tidak ingin mengambil risiko mereduksi liturgi ini menjadi sekadar formalitas, kita dapat mengatakan, setidaknya dalam hati kita, bahwa kita meletakkan senjata yang masih kita pegang. Mungkin senjata itu tidak tampak berbahaya seperti yang dipegang oleh orang-orang berkuasa di dunia ini; Namun, senjata itu pun merupakan sarana kematian karena cukup untuk melemahkan, melukai, dan mengosongkan hubungan kita sehari-hari dari makna dan kasih sayang.

 

Kemarin, seperti hari ini, dunia perlu diselamatkan dari kekerasan, kejahatan, ketidakadilan yang membunuh, dan perpecahan yang mempermalukan. Tetapi keselamatan ini tidak datang dari atas, dan tidak dapat dijamin melalui keputusan politik, ekonomi, atau militer. Dunia terus diselamatkan oleh mereka yang bersedia merangkul kidung hamba Tuhan sebagai dasar hidup mereka. Inilah yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia sungguh menanggapi kehendak Bapa, merangkulnya seperti partitur musik yang harus dimainkan hingga akhir, dengan tangisan dan air mata yang keras. Karena alasan inilah, pada saat yang menentukan, Ia ditangkap dan dapat menyatakan, "Akulah Dia," untuk dengan bebas memasuki penderitaan kasih-Nya.

 

Saudara-saudari, kita pun diberi naskah salib hari ini. Kita dapat menerimanya dengan bebas jika kita mengakui bahwa tidak ada keadaan sulit yang tidak dapat kita hadapi, tidak ada yang dapat disalahkan, tidak ada musuh yang dapat mencegah kita untuk mengasihi dan melayani. Sebaliknya, kitalah yang memilih untuk tidak membalas dan tetap sabar dalam kesengsaraan, percaya pada kebaikan bahkan ketika kegelapan tampaknya menelan segalanya.

 

Kita dapat menjadi hamba yang dibutuhkan Tuhan untuk membawa keselamatan ke dunia. Di zaman seperti sekarang ini, yang begitu ternoda oleh kebencian dan kekerasan, di mana bahkan nama Tuhan pun digunakan untuk membenarkan perang dan keputusan yang mematikan, kita sebagai umat kristiani dipanggil untuk mendekati salib Tuhan tanpa rasa takut, melainkan dengan penuh kepercayaan, mengetahui bahwa salib adalah takhta tempat kita dapat duduk dan belajar memerintah bersama-Nya, menempatkan hidup kita untuk melayani sesama. Jika kita mampu tetap teguh dalam pengakuan iman ini, hari-hari kita pun dapat menyuarakan kidung sukacita dan penderitaan, pada partitur salib yang misterius di mana nada-nada kasih terbesar dikenali.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 4 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA MALAM PASKAH 4 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kej. 1:1-2:2; Kej. 22:1-18; Kel. 14:15-15:1; Yes. 54:5-14; Yes. 55:1-11; Bar. 3:9-15,32-4:4; Yeh. 36:16-17a,18-28; Rm 6:3-11; Mat. 28:1-10.

 

Penyucian malam ini […] menghalau dengki dan memupuk kerukunan serta menundukkan kekuasaan” (Pujian Paskah).

 

Saudara-saudari terkasih, demikianlah diakon pada awal perayaan ini memuji terang Kristus yang bangkit, yang dilambangkan oleh Lilin Paskah. Dari satu lilin ini, kita semua telah menyalakan lilin kita masing-masing, dan, masing-masing membawa nyala api kecil yang diambil dari api yang sama, kita telah menerangi basilika besar ini. Tanda terang Paskah ini menyatukan kita di dalam Gereja sebagai pelita bagi dunia. Terhadap Pujian Paskah oleh diakon, kita menjawab “Amin,” menegaskan komitmen kita untuk menerima perutusan ini, dan segera kita akan mengulangi “ya” kita dengan pembaharuan janji baptis.

 

Saudara-saudari terkasih, Vigili yang dipenuhi cahaya ini, tertua dalam tradisi kristiani, disebut "ibu dari semua vigili." Di dalamnya, kita menghidupkan kembali kenangan kemenangan Tuhan sang pemilik kehidupan atas maut dan neraka. Kita melakukannya setelah menempuh perjalanan, dalam beberapa hari terakhir, seakan dalam satu perayaan besar, melalui misteri sengsara Allah yang menjadi "manusia yang penuh kesengsaraan" (Yes. 53:3), "dihina dan dihindari orang" (Yes. 53:3), disiksa dan disalibkan bagi kita.

 

Adakah kasih yang lebih besar, tindakan rahmat yang lebih sempurna? Selain sebagai Pencipta alam semesta, sebagaimana pada awal sejarah Ia memberi kita keberadaan dari ketiadaan, Yesus yang bangkit telah memberi kita kehidupan setelah di kayu salib Ia menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang tak terbatas

 

Bacaan Pertama mengingatkan kita akan hal ini dengan berkisah tentang asal usul. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (bdk. Kej. 1:1), menciptakan kosmos dari kekacauan, keteraturan dari ketidakteraturan, dan mempercayakan kepada kita, yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, tugas untuk menjadi menjaga amanah-Nya. Dan bahkan ketika, karena dosa, umat manusia gagal memenuhi rencana ini, Tuhan tidak meninggalkan kita, tetapi menyatakan wajah-Nya yang penuh belas kasih dengan cara yang bahkan lebih mengejutkan: melalui pengampunan.

 

Lalu, "malam suci" ini juga berakar pada tempat di mana kegagalan pertama umat manusia terjadi, dan berlanjut sepanjang abad sebagai jalan rekonsiliasi dan rahmat.

 

Sepanjang jalan ini, liturgi telah menawarkan kepada kita beberapa tahapan melalui bacaan Kitab Suci yang telah kita dengar. Liturgi telah mengingatkan kita bagaimana Allah menghentikan tangan Abraham, yang siap mengurbankan Ishak, anak laki-lakinya, untuk menunjukkan kepada kita bahwa Ia tidak menginginkan kematian kita, melainkan agar kita menguduskan diri kita untuk menjadi, di tangan-Nya, anggota yang hidup dari garis keturunan orang-orang yang diselamatkan (bdk. Kej. 22:11-12, 15-18). Demikian pula, liturgi telah mengajak kita untuk merefleksikan bagaimana Tuhan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, menjadikan laut, tempat kematian dan rintangan yang tak teratasi, sebagai gerbang menuju awal kehidupan baru dan bebas. Dan pesan yang sama telah bergema dalam perkataan para nabi, di mana kita telah mendengar pujian kepada Tuhan sebagai mempelai yang memanggil dan mengumpulkan (bdk. Yes. 55:5-7), mata air yang memuaskan, air yang membuat berbuah (bdk. Yes. 55:1, 10), terang yang menunjukkan jalan damai sejahtera (bdk. Bar. 3:14), Roh yang mengubah dan memperbarui hati (Yeh. 36:26).

 

Dalam semua momen sejarah keselamatan ini, kita telah melihat bagaimana Allah, berhadapan dengan kekerasan dosa yang memecah belah dan membunuh, menanggapi dengan kuasa kasih yang mempersatukan dan memulihkan kehidupan. Kita telah mengingatnya bersama-sama, menjalin narasi dengan mazmur dan doa, untuk mengingatkan kita bahwa, melalui Paskah Kristus, “kita telah dikuburkan bersama Dia dalam kematian […] kita dimungkinkan hidup dalam hidup yang baru […] telah mati terhadap dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm. 6:4-11), dikuduskan dalam Baptisan untuk mengasihi Bapa, dipersatukan dalam persekutuan para kudus, berkat rahmat dijadikan batu yang hidup untuk membangun Kerajaan-Nya (bdk. 1 Ptr. 2:4-5).

 

Dalam terang semua ini, kita membaca kisah kebangkitan, yang telah kita dengar dalam Bacaan Injil menurut Matius. Pada pagi Paskah, para perempuan, mengatasi kesedihan dan ketakutan mereka, berangkat. Mereka ingin pergi ke kubur Yesus. Mereka berharap menemukan kubur itu tertutup rapat, dengan batu besar di pintu masuk dan serdadu yang berjaga. Inilah dosa: penghalang yang sangat berat yang memenjarakan kita dan memisahkan kita dari Allah, mencoba membunuh sabda pengharapan-Nya di dalam diri kita. Namun, Maria Magdalena dan Maria yang lain tidak gentar. Mereka pergi ke kubur dan, berkat iman dan kasih, mereka menjadi saksi-saksi pertama kebangkitan. Dalam gempa bumi dan malaikat Tuhan yang datang ke batu penutup kubur, mereka melihat kuasa kasih Allah, lebih kuat dari kuasa kejahatan apa pun, mampu "menghalau kebencian" dan "menundukkan kekuasaan." Manusia dapat membunuh tubuh, tetapi hidup Allah yang penuh kasih adalah hidup kekal; hidup itu melampaui kematian, dan tidak ada kubur yang dapat memenjarakannya. Demikianlah, Yesus yang disalibkan memerintah dari salib, malaikat datang ke batu penutup kubur, dan Yesus yang hidup menampakkan diri di hadapan mereka sambil berkata, "Salam bagimu!" (Mat. 28:9).

 

Saudara-saudari terkasih, ini juga pesan kita kepada dunia saat ini: perjumpaan yang ingin kita persaksikan, dengan kata-kata iman dan perbuatan kasih, menyanyikan dengan hidup kita "Aleluia" yang kita wartakan dengan bibir kita (bdk. Santo Agustinus, Khotbah 256, 1). Seperti para perempuan yang berlari untuk memberitahukannya kepada saudara-saudarinya, malam ini kita pun ingin berangkat dari basilika ini untuk menyampaikan kepada semua orang kabar baik bahwa Yesus telah bangkit dan bahwa, berkat kuasa-Nya, dibangkitkan bersama dengan Dia, kita pun dapat memberi kehidupan kepada dunia baru yang damai dan bersatu, seperti "banyak orang dan satu orang; banyak orang kristiani dan satu Kristus" (Santo Agustinus, Ulasan Mazmur 127, 3).

 

Untuk perutusan inilah saudara-saudari yang hadir di sini, yang datang dari berbagai belahan dunia dan akan segera menerima Baptisan, dikhususkan. Setelah perjalanan panjang katekumenat, hari ini mereka dilahirkan kembali dalam Kristus untuk menjadi ciptaan baru (bdk. 2Kor 5:17), saksi-saksi Injil. Bagi mereka, dan bagi kita semua, kita mengulangi apa yang dikatakan Santo Agustinus kepada umat kristiani pada zamannya: “Wartakanlah Kristus; taburlah […]. Sebarkanlah Injil; apa yang telah kamu resapi dalam hatimu” (Khotbah 116, 7).

 

Saudara-saudari, bahkan hari ini pun tidak kekurangan kubur yang perlu dibuka, dan seringkali batu-batu yang menyegelnya begitu berat dan dijaga dengan begitu ketat sehingga tampak tak tergoyahkan. Beberapa hal sangat membebani hati manusia, seperti ketidakpercayaan, ketakutan, keegoisan, dan kebencian; yang lain, sebagai konsekuensi dari semua itu, memutuskan ikatan di antara kita, seperti perang, ketidakadilan, dan keterasingan antarbangsa dan negara. Jangan biarkan hal-hal itu melumpuhkan kita! Banyak orang selama berabad-abad, dengan pertolongan Allah, telah menyingkirkan hal-hal tersebut, mungkin dengan usaha yang besar, kadang-kadang dengan mengurbankan nyawa mereka, tetapi buah kebaikannya masih kita manfaatkan hingga hari ini. Mereka bukanlah tokoh-tokoh yang tidak terjangkau, tetapi orang-orang seperti kita yang, dikuatkan oleh rahmat Yesus yang bangkit, dalam kasih dan kebenaran, memiliki keberanian untuk berbicara, sebagaimana dikatakan rasul Petrus, sebagai "orang yang menyampaikan sabda Allah" (1Ptr. 4:11) dan melakukannya "dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu" (1Ptr. 4:11).

 

Marilah kita terinspirasi oleh teladan-Nya dan, pada Malam Suci ini, marilah kita menjadikan komitmen-Nya sebagai komitmen kita, sehingga di mana pun dan kapan pun, di dunia, anugerah Paskah berupa kerukunan dan perdamaian dapat tumbuh dan berkembang.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 5 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI KAMIS PUTIH DI BASILIKA SANTO YOHANES LATERAN 2 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Liturgi khidmat malam ini menandai kita telah memasuki Trihari Suci Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan Tuhan. Kita melangkah melewati ambang batas ini bukan hanya sebagai penonton, atau karena kebiasaan, tetapi sebagai orang-orang yang diundang secara pribadi oleh Yesus sendiri sebagai tamu di Perjamuan di mana roti dan anggur menjadi sakramen keselamatan bagi kita. Sesungguhnya, kita ambil bagian dalam perjamuan di mana Kristus “mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1). Kasih-Nya menjadi gestur dan makanan bagi semua orang, yang mengungkapkan keadilan Allah. Di dunia ini, dan khususnya di tempat-tempat di mana kejahatan merajalela, Yesus mengasihi secara definitif — selamanya, dan dengan segenap keberadaan-Nya.

 

Selama Perjamuan Terakhir ini, Ia membasuh kaki para rasul-Nya, seraya berkata, “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15). Tindakan Tuhan ini tidak dapat dipisahkan dari meja yang juga telah Ia undangkan kepada kita. Tindakan ini adalah contoh nyata yang mengalir dari sakramen: seraya mengungkapkan makna misteri Ekaristi, tindakan ini juga mempercayakan kepada kita sebuah tugas — sebuah perutusan yang menjadi panggilan untuk kita jalani sebagai makanan bagi kehidupan kita. Penginjil Yohanes memilih kata Yunani upódeigma untuk menggambarkan peristiwa yang disaksikannya: artinya “apa yang ditunjukkan di hadapan matamu.” Apa yang ditunjukkan Tuhan kepada kita — mengambil air, baskom, dan handuk — jauh lebih dari sekadar contoh moral. Ia mempercayakan kepada kita jalan hidup-Nya sendiri. Pembasuhan kaki adalah tindakan yang merangkum wahyu Allah: tanda keteladanan dari Sang Sabda yang menjadi daging, kenangan-Nya yang tak salah lagi. Dengan mengambil posisi sebagai hamba, Sang Putra mengungkapkan kemuliaan Bapa, menumbangkan standar duniawi yang seringkali membelokkan hati nurani kita.

 

Bersamaan dengan kekaguman diam-diam para murid-Nya, bahkan kesombongan manusia pun tidak dapat tetap buta terhadap apa yang sedang terjadi. Seperti Petrus, yang pada awalnya menolak prakarsa Yesus, kita pun harus “berulang kali belajar bahwa kebesaran Allah berbeda dari gagasan kita tentang kebesaran… karena kita secara sistematis menginginkan Allah yang sukses dan bukan Allah yang menderita” (Homili pada Misa Perjamuan Tuhan, 20 Maret 2008). Kata-kata Paus Benediktus XVI ini dengan jujur ​​mengakui bahwa kita selalu tergoda untuk mencari Allah yang melayani kita, yang memberi kita kemenangan, yang terbukti berguna seperti kekayaan atau kekuasaan. Namun kita gagal menyadari bahwa Allah memang melayani kita melalui tindakan cuma-cuma dan rendah hati berupa pembasuhan kaki. Inilah kemahakuasaan Allah yang sesungguhnya. Dengan cara ini, keinginan-Nya untuk mengabdikan diri kepada mereka yang keberadaannya bergantung pada karunia-Nya tergenapi. Karena kasih, Tuhan berlutut untuk membasuh kita masing-masing, dan karunia ilahi-Nya mengubah rupa kita.

 

Sesungguhnya, melalui tindakan ini, Yesus memurnikan bukan hanya gambaran kita tentang Allah — dari penyembahan berhala dan penghujatan yang telah membelokkannya — tetapi juga gambaran kita tentang kemanusiaan. Karena kita cenderung menganggap diri kita berkuasa ketika kita mendominasi, menang ketika kita menghancurkan sesama kita, hebat ketika kita ditakuti. Sebaliknya, sebagai yang sungguh Allah dan sungguh manusia, Kristus menawarkan kepada kita teladan pengurbanan diri, pelayanan, dan kasih. Kita membutuhkan teladan-Nya untuk belajar bagaimana mengasihi, bukan karena kita tidak mampu melakukannya, tetapi justru mengajarkan kepada diri kita sendiri dan satu sama lain apa itu kasih sejati. Belajar bertindak seperti Yesus — tanda hidup yang telah ditempatkan Allah dalam sejarah dunia — adalah pekerjaan seumur hidup.

 

Ia adalah patokan yang sesungguhnya, "Guru dan Tuhan" (Yoh 13:13) yang menyingkirkan setiap topeng ilahi dan manusiawi. Ia menawarkan keteladanan bukan ketika semua orang puas dan setia kepada-Nya, tetapi pada malam Ia dikhianati, dalam kegelapan ketidakpahaman dan kekerasan. Dengan cara ini, menjadi jelas bahwa kasih Tuhan mendahului kebaikan atau kemurnian kita; Ia mengasihi kita terlebih dahulu, dan dalam kasih itu, Ia mengampuni dan memulihkan kita. Kasih-Nya bukan hadiah atas penerimaan kita terhadap belas kasih-Nya; sebaliknya, Ia mengasihi kita, dan karena itu menyucikan kita, sehingga memungkinkan kita untuk menanggapi kasih-Nya.

 

Oleh karena itu, marilah kita belajar dari Yesus tentang pelayanan timbal balik ini. Ia tidak meminta kita untuk membalas budi terhadap-Nya, tetapi berbagi karunia-Nya di antara kita: “Kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14). Paus Fransiskus pernah mengatakan berkaitan dengan hal tersebut: ini “adalah kewajiban yang datang dari hatiku: aku menyukainya. Aku menyukai hal ini dan senang melakukannya karena itulah yang diajarkan Tuhan kepadaku” (Homili Misa Kamis Putih, 28 Maret 2013). Ia tidak berbicara tentang perintah abstrak, atau perintah formal dan kosong, tetapi mengungkapkan ketaatannya yang tulus kepada kasih Kristus, yang merupakan sumber dan model kasih kita. Sesungguhnya, teladan yang diberikan oleh Yesus tidak dapat diteladani karena kenyamanan, keengganan, atau kemunafikan, tetapi hanya karena kasih.

 

Oleh karena itu, membiarkan diri kita dilayani oleh Tuhan adalah syarat yang diperlukan untuk melayani seperti yang Ia lakukan. “Jikalau Aku tidak membasuh engkau,” kata Yesus kepada Petrus, “engkau tidak mendapat bagian bersama Aku” (Yoh 13:8): jika engkau tidak menerima Aku sebagai hamba-Mu, engkau tidak dapat benar-benar percaya kepada-Ku atau mengikut Aku sebagai Tuhan. Dengan membasuh tubuh kita, Yesus menyucikan jiwa kita. Di dalam Dia, Allah telah memberi kita teladan — bukan tentang bagaimana mendominasi, tetapi tentang bagaimana membebaskan; bukan tentang bagaimana menghancurkan kehidupan, tetapi tentang bagaimana memberikannya.

 

Ketika umat manusia bertekuk lutut karena begitu banyak tindakan kebrutalan, marilah kita juga berlutut sebagai saudara dan saudari bersama orang-orang yang tertindas. Dengan cara ini, kita berusaha mengikuti teladan Tuhan, menggenapi apa yang telah kita dengar dari Kitab Keluaran: “Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu” (12:14). Sesungguhnya, seluruh sejarah Kitab Suci bertemu di satu titik dalam Yesus, Sang Anak Domba Paskah sejati. Di dalam Dia, tokoh-tokoh dahulu kala menemukan penggenapannya, karena Kristus Sang Juruselamat menggenapi Paskah umat manusia, membuka jalan bagi semua orang dari dosa menuju pengampunan, dari kematian menuju kehidupan kekal: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu. Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku” (1Kor. 11:24).

 

Dengan memperbarui tindakan dan sabda Tuhan malam ini, kita memperingati penetapan Ekaristi dan Sakramen Imamat. Ikatan hakiki antara kedua sakramen ini mengungkapkan pemberian diri Yesus yang sempurna, Sang Imam Agung dan Ekaristi yang hidup dan kekal. Sebab dalam roti dan anggur yang telah dikonsekrasi terdapat “sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikurniai jaminan kemuliaan yang akan datang” (Konstitusi Dogmatis Sacrosantum Concilium, 4 Desember 1963, 47). Melalui para uskup dan imam, yang ditetapkan sebagai “imam-imam Perjanjian Baru” menurut perintah Tuhan (Konsili Trent; De Missae Sacrificio, 1), hadirlah tanda kasih-Nya kepada seluruh Umat Allah. Saudara-saudari terkasih dalam imamat, kita dipanggil untuk melayani Umat Allah dengan seluruh hidup kita.

 

Oleh karena itu, Kamis Putih adalah hari penuh syukur dan persaudaraan sejati. Semoga adorasi Ekaristi malam ini, di setiap paroki dan komunitas, menjadi waktu untuk merenungkan tindakan Yesus, berlutut seperti Dia, dan memohon kekuatan untuk meneladan pelayanan-Nya dengan kasih yang sama.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 April 2026)