Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA INAGURASI TAHUN AKADEMIK UNIVERSITAS-UNIVERSITAS KEPAUSAN 8 Oktober 2026

Bacaan Ekaristi : Gal. 3:1-5; Luk. 1:69-70.71-72.73-75; Luk. 11:5-13.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Ekaristi seraya memohon karunia Roh Kudus, agar awal tahun akademik baru universitas-universitas kepausan ini menjadi lebih dari sekadar dimulainya kembali kegiatan studi dan penelitian akademik. Kita ingin membuka pikiran dan relasi pendidikan kita terhadap hembusan kreatif Yesus yang bangkit, yang menganugerahkan damai dan kesatuan, agar kita masing-masing dapat mengemban perutusan kita dan dengan demikian menanggapi Allah yang memanggil kita, serta umat manusia yang menantikan kita. Oleh karena itu, biarlah awal yang baru ini menjadi momen yang sungguh-sungguh bersifat gerejawi, di mana perhimpunan di sekeliling meja Tuhan memupuk perutusan bersama kita. Dengan cara ini, tidak ada seorang pun yang akan mengajar, belajar, atau melakukan penelitian semata-mata untuk diri sendiri, melainkan bersama orang lain, demi orang lain, dan terutama bersama serta bagi Tuhan. Sungguh, sebagaimana telah kita dengar dalam Surat kepada jemaat di Galatia, akal budi merupakan hal dasariah baik bagi iman maupun perutusan.

 

Rasul Paulus, yang merasa cemas dengan kabar yang diterimanya dari jemaat di Galatia, menulis surat yang mengajak jemaat untuk berefleksi. Nada suratnya penuh semangat dan mendesak; namun, apa yang mungkin tampak sebagai teguran sebenarnya merupakan seruan untuk menggunakan akal budi, ingatan, dan pemikiran kritis. Di setiap zaman, selalu ada guru-guru palsu yang memanfaatkan sentimen keagamaan kebanyakan orang beriman demi kepentingan mereka sendiri; mereka sering kali mendorong orang untuk meradikalisasi aspek-aspek tertentu dari ajaran yang telah diterima, dengan mengorbankan keutuhan ajaran tersebut — yaitu keutuhan yang berpusat pada Kristus dan Injil-Nya.

 

Sahabat-sahabat terkasih, pandanglah kegiatan studi sebagai pelayanan bagi iman dan kebenaran: demi kebaikan dirimu dan kebaikan begitu banyak saudara-saudari yang karenanya Tuhan telah menyerahkan hidup-Nya. Sebab, meskipun perjumpaan dengan Dia sungguh mendatangkan sukacita dan semangat, hal itu sama sekali bukan soal menjadi "terguna-guna" atau "terpesona" (bdk. Gal 3:1). Akal budi — yang mengajukan pertanyaan dalam terang sabda Allah dan Tradisi Gereja — merupakan bagian penting dari perjalanan iman dalam mengikuti Yesus Kristus. Justru karena alasan inilah, Gereja memiliki keinginan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keutuhan harta kekayaan pewahyuan serta mengembangkannya —dalam berbagai konteks — melalui pemahaman yang disertai doa, refleksi ilmiah, mediasi budaya, dan penerapan praktis. Semua ini merupakan ungkapan dari satu kasih yang kini memanggil, menopang, dan mengutusmu dalam pencarian bersama ini. Ini adalah sebuah perutusan. Panggilan kita mungkin berbeda, namun perutusannya satu.

 

Kita memperoleh nasihat tambahan dari kata-kata Santo Paulus, yang mendesak jemaat Galatia untuk mengingat kembali titik awal perjalanan mereka. Ia menulis: "Apakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang kamu mau mengakhirinya dengan daging? Sia-siakah begitu banyak derita yang telah kamu alami itu?" (Gal 3:3-4). Oleh karena itu, kecerdasan harus bersumber pada ingatan. Akal budi tidak boleh sekadar mengumpulkan data — seperti yang kini dilakukan algoritma dengan kecepatan yang melampaui kemampuan kita —melainkan harus mengenang pengalaman hidup yang sarat akan makna mendalam yang hanya dapat dikenali oleh jiwa manusia, serta membangun hubungan yang lebih erat dengan kebaikan yang terkandung dalam pengalaman-pengalaman tersebut. Segala sesuatu yang baik bermula "dengan Roh" dan karenanya memiliki napas kehidupan, dinamisme, serta semangat persekutuan yang, begitu dialami, akan terpatri dalam hati. Rutinitas, ambisi, persaingan, dan faktor-faktor negatif lainnya dapat, seiring berjalannya waktu, mengalihkan perhatian dan energi kita, hingga membuat kita kelelahan, lesu, gemar bertikai, dan diliputi kesedihan. Maka, kita harus kembali ke hati. Di sanalah segalanya bermula; sebuah titik awal yang selalu bisa kita tuju kembali. Sahabat-sahabat terkasih, jagalah hatimu. Baik sebagai mahasiswa, peneliti, maupun pengajar, jagalah hatimu agar setiap tahapan hidup dan tanggung jawab dapat dijalani "dengan Roh."

 

Sahabat-sahabat terkasih, selama masa kuliahmu, pupuklah persahabatan yang merupakan anugerah berharga, terutama ketika persahabatan itu dijalani dalam semangat pencarian kebenaran bersama di dalam Kristus. Tetaplah berakar pada umat Allah, hargailah sensus fidei (cita rasa iman) mereka, dan terbukalah terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka. Dan janganlah melupakan kaum miskin; mereka terkadang adalah sosok sahabat yang dengan gigih datang mengetuk pintu di tengah malam (bdk. Luk 11:5–13). Hidupkanlah studimu dan bawalah studimu ke dalam kehidupan, dengan mengikuti nalar Inkarnasi — sebuah nalar yang tanpanya pewahyuan akan membisu. Sungguh, semakin jauh kita menyimpang dari kenyataan sepenuhnya yang dijalani oleh Putra Allah dengan kasih tak terhingga, semakin sedikit pula hal yang dapat kita sampaikan dan semakin terbatas kesempatan kita untuk memahami. Saudara-saudari, marilah kita mendengarkan kerinduan Allah yang hari ini kembali mengetuk pintu hati kita, dan marilah kita membawanya ke dalam ranah penelitian ilmiah. Marilah kita berbagi apa yang menjadi santapan rohani kita. Banyak orang tidak memiliki kesempatan pendidikan yang sama seperti yang telah kita terima. Marilah kita membuka pintu; janganlah kita menutup diri.

 

Sebagaimana telah saya sampaikan dalam ensiklik pertama saya, hari ini kita dipanggil untuk meneladani sikap umat pada zaman Nehemia demi membangun kota tempat Allah berkehendak untuk tinggal bersama seluruh umat manusia dalam damai (bdk. Ensiklik Magnifica Humanitas, 8). Setiap orang memiliki peran dalam upaya ini, yang menuntut kerja sama di antara kita. Sebagai contoh, mereka yang bergulat dengan fragmentasi pengetahuan dan dampak teknologi baru terhadap pikiran manusia menyadari bahwa “kita perlu mengembangkan kebiasaan menjaga kesehatan perhatian: menyediakan waktu untuk hening, belajar secara mendalam, membaca, dan berdialog dengan penuh pertimbangan. Tanpa itu semua, kebebasan batin dapat terganggu” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 146).

 

Studi teologi tidak asing dengan tantangan-tantangan ini. Dalam upaya pembangunan "Kota Allah," penelitian teologis turut menerangi karya semua pihak serta menjadi titik temu bagi berbagai bidang ilmu pengetahuan. Secara khusus, komunitas gerejawi di Roma — melalui panggilannya untuk melayani seluruh Gereja Katolik — berperan sebagai tempat pertemuan dan wadah bagi dialog serta saling memperkaya di antara beragam kepekaan, budaya, dan tradisi; di dalamnya, Injil menyingkapkan kekayaan yang tak habis-habisnya.

 

Saudara-saudari terkasih, semoga kamu menjalani masa-masamu di Roma dengan sepenuh hati. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa makna. Di tempat inilah Petrus menyatakan imannya hingga mencapai kemartiran. Di tempat inilah Paulus — sang penerjemah agung pengalaman Kristiani bagi begitu banyak bangsa, bahasa, dan budaya —mengakhiri pertandingannya setelah memelihara iman (bdk. 2Tim 4:7). Perhatikanlah sekelilingmu di universitas: dunia hadir di dalam ruang-ruang kelasmu. Kamu belajar bersama orang-orang dari Afrika, Asia, Amerika, Eropa, dan Oseania. Jangan membatasi diri hanya dengan duduk berdampingan: kenalilah satu sama lain, berbicaralah satu sama lain, dengarkanlah satu sama lain, bagikan pengalamanmu tentang Gereja, berdoalah bersama, nikmati waktu senggang bersama, dan jalinlah persahabatan yang akan bertahan seumur hidup.

 

Tuhan bersabda kepada kita: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Sebab, setiap orang yang meminta, menerima; dan setiap orang yang mencari, mendapat; yang mengetuk, baginya pintu dibukakan” (Luk 11:9–10). Dengan dikuatkan oleh janji ini, marilah kita bertekun bersama dalam doa. Marilah kita menyerahkan tahun ajaran baru ini kepada perantaraan keibuan Bunda Maria, Takhta Kebijaksanaan, dan menyambut Roh Kudus, yang senantiasa dianugerahkan oleh Bapa surgawi kepada mereka yang memohon dengan penuh kepercayaan sebagai anak.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Oktober 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXVII BERSAMA KEPOLISIAN VATIKAN 3 Oktober 2026

Bacaan Ekaristi : Yes. 5:1-7; Mzm. 80:9.12.13-14.15-16.19-20; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sangat senang dapat merayakan Ekaristi untukmu dan bersamamu, pada pesta santo pelindungmu, Santo Mikael Malaikat Agung. Lima belas dari kamu baru-baru ini mengucapkan sumpah. Ini adalah waktu untuk berdoa. Secara khusus, marilah kita sekarang berhenti sejenak untuk merenungkan sabda Allah yang telah kita dengar: sabda itu membantu kita memahami apa artinya melayani, menjaga, dan melindungi.

 

Nabi Yesaya (5:1-7) berbicara kepada kita tentang kebun anggur yang dikasihi dan dipelihara dengan saksama. Kebun anggur tersebut melambangkan kasih Allah kepada umat-Nya. Allah telah melakukan segala sesuatu untuk kebun anggur-Nya dan mengharapkan buah yang baik darinya. Dan Allah memanggil semua anak-anak-Nya untuk bekerja di kebun anggur-Nya, sehingga kita menjadi kebun anggur sekaligus pekerja. Bagimu, para polisi Vatikan, pelayanan ini adalah cara untuk menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan. Tempat, pintu masuk, bangunan, tetapi yang terpenting, orang-orang, dipercayakan kepadamu. Satu sifat yang menonjol dalam pertemuan kita adalah kepedulian ini: sungguh indah melihat bagaimana kamu memandang orang lain bukan sebagai masalah yang harus dipecahkan, tetapi sebagai manusia yang harus dihormati dan diperhatikan.

 

Dalam Bacaan Injil (Mat 21:33-43), perumpamaan Yesus menunjukkan kepada kita contoh negatif: para penggarap kebun anggur yang, seiring waktu, lupa bahwa kebun anggur itu bukan milik mereka, melainkan dipercayakan kepada mereka untuk dipelihara. Ini adalah pengingat yang berharga bagi mereka yang hidup dalam pelayanan: apa yang kita terima adalah tanggung jawab yang harus dijaga dengan kerendahan hati dan pengabdian, dijalani dengan kebijaksanaan dan rasa tanggung jawab. Kamu tahu betul bahwa kewenangan, dalam terang Injil, diungkapkan pertama dan terutama dalam kemampuan untuk melindungi, mendengarkan, dan mendampingi, dengan keseimbangan, ketegasan, dan rasa hormat.

 

Kemudian Yesus memberitahu kita bahwa pemilik kebun anggur mengutus anaknya. Anak ini, yang melambangkan Kristus, merupakan pusat perumpamaan. Dan Dia - Yesus Kristus - yang harus menjadi pusat kehidupan dan pelayananmu. Bahkan sebelum menjadi polisi, kamu adalah orang-orang yang dipanggil untuk mengikuti Dia. Dari Dia kita belajar kekuatan yang dapat menjadi kelembutan, kewaspadaan yang lahir dari kepercayaan, kewenangan yang berjalan seiring dengan kerendahan hati, dan keberanian untuk bertindak dengan hati yang penuh belas kasihan.

 

Dalam Bacaan Kedua (Flp. 4:6-9), Santo Paulus berkata kepada kita: "Janganlah khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah" (Filipi 4:6). Ini juga merupakan ungkapan yang sangat tepat untuk pelayananmu. Akan ada hari-hari yang tenang dan hari-hari yang sulit; saat-saat ketika perlu mengambil keputusan cepat; situasi yang akan menimbulkan kelelahan dan kekhawatiran. Polisi tidak memikul semuanya sendirian: ia berdoa, tahu bagaimana mempercayai, tahu bagaimana menemukan kedamaian dalam Tuhan yang memungkinkannya untuk bertindak dengan jelas dan hati yang tenang.

 

Rasul Paulus menambahkan, "Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu" (bdk. Filipi 4:8). Inilah ciri lain dari "jati diri"-mu: hati dan pikiran yang terlatih dalam kebaikan. Sebelum tindakan lahiriah apa pun, ada pandangan batiniah. Mereka yang melindungi orang lain harus terlebih dahulu melindungi kebenaran, keadilan, kebaikan, dan rasa hormat di dalam diri mereka sendiri. Melindungi orang lain membutuhkan hati yang dilindungi oleh Tuhan.

 

Pekerjaanmu tentu menuntut kewaspadaan, tetapi sabda Allah hari ini mengajakmu kepada sesuatu yang lebih mendalam: menjaga dirimu dengan saksama. Jagalah hatimu, agar tidak menjadi keras tetapi selalu taat kepada Allah dan memperhatikan sesama; jagalah hati nuranimu, agar terus membimbingmu dengan kebenaran; jagalah persaudaraan di antaramu, agar setiap orang merasa diterima, didukung, dan tidak pernah sendirian. Karena suatu kelompok benar-benar menjadi "komunitas" ketika anggotanya saling peduli dan belajar berjalan bersama, saling mendukung dengan kesederhanaan dan kasih.

 

Saya juga menutup tahun ini dengan ungkapan kasih sayang dan rasa syukur kepada keluargamu. Kepada orang tua, istri, anak-anak, dan pacarmu: terima kasih! Kamu tahu pengorbanan, ketidakhadiran, jadwal, kekhawatiran, dan bahkan beban pelayanan yang tidak selalu terlihat.

 

Kepada mereka yang telah melayani selama bertahun-tahun dan kepada lima belas orang yang mengucapkan sumpah hari ini, saya katakan: jangan pernah lupa siapa dan apa yang kamu pilih untuk layani. Jadilah orang yang dapat dipercaya, bijaksana, dan setia. Biarkan Yesus menginspirasi pelayananmu. Semoga lencanamu yang terindah adalah hati yang tahu bagaimana melindungi.

 

Kita mempercayakan semua ini kepada Bunda Maria. Semoga Maria, perempuan yang penuh perhatian dan dapat dipercaya, menyertai keluargamu dan kamu masing-masing. Dan kita memohon kepada Santo Mikael Malaikat Agung untuk berada di sisimu dalam kewaspadaan dan perjuangan melawan segala kejahatan. Semoga ia melindungimu dalam pelayananmu dan membantumu tetap setia, sehingga Tuhan Yesus selalu menjadi pusat kehidupan, pelayanan, dan hatimu.

______

(Bogor, 4 Oktober 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI KATEDRAL SANTO STEFANUS, METZ, PRANCIS 28 September 2026

Bacaan Ekaristi : Yes 32:15-18; Mat 5:38-48.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Saya sangat bersukacita dapat memimpin perayaan Ekaristi ini, di mana kita mempercayakan komunitas Keuskupan Metz dan seluruh Eropa ke dalam tangan Tuhan. Di wilayah Moselle yang bersejarah ini — yang senantiasa menjadi titik pertemuan bagi berbagai bangsa dan telah menanggung penderitaan akibat letaknya di garis depan Eropa — hari ini janji Allah bergema dengan kekuatan yang luar biasa.

 

Dalam Bacaan Pertama (bdk. Yes 32:15-18), Nabi Yesaya berbicara tentang kedatangan Kerajaan Allah dalam kaitannya dengan kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera. Ia menggunakan tiga gambaran: padang gurun, kebun, dan rumah.

 

Di padang gurun — tempat yang penuh kesahajaan dan keheningan — keadilan ditegakkan; yakni hukum yang menuntun orang untuk berjalan di jalan kebaikan. Gambaran yang bersahaja ini mengingatkan kita akan pentingnya kesederhanaan dan hal-hal yang hakiki, yang memungkinkan kita memberikan nilai yang tepat bagi segala sesuatu, sekaligus mengajarkan kita sikap penyangkalan diri dan pengorbanan.

 

Gambaran kedua adalah taman tempat keadilan bertakhta. Jika padang gurun melambangkan hal yang hakiki, maka taman melambangkan keindahan. Di sana terdapat air, benih bertunas, pucuk bermunculan, dan bunga-bunga mekar, masing-masing dengan keindahannya yang khas. Inilah buah dari kehidupan yang benar, yang memampukan seseorang untuk berkembang sepenuhnya dengan bebas mengikuti rencana Tuhan.

 

Gambaran ketiga adalah rumah, sebuah tempat damai sejahtera. Perhatikanlah bahwa sementara padang gurun dan taman merupakan tempat di mana karya Allah mendominasi — menumbuhkan dan mengembangkan segala sesuatu — membangun rumah justru menuntut kontribusi yang lebih langsung dan signifikan dari manusia. Hal ini melibatkan pengerahan kekuatan dan keterampilan melalui upaya bersama; sungguh sebuah "proyek pembangunan" yang nyata. Demikian pula, damai sejahtera — sebagai anugerah Allah — memerlukan tanggapan manusia melalui usaha bersama. Bagaimanapun juga, rumah lebih dari sekadar bangunan batu; rumah adalah tempat bagi kehadiran dan kasih sayang manusia. Dalam pengertian ini, perkataan sang nabi mengingatkan kita bahwa di dunia yang penuh keterbatasan, kerukunan hanya dapat dibangun melalui kasih — kasih yang tahu cara berbagi suka dan duka, yang tahu cara memberi semangat dan mengampuni tanpa perhitungan ataupun batasan, persis seperti dalam sebuah keluarga.

 

Bacaan Injil yang baru saja kita dengar juga membahas hal ini (bdk. Mat 5:38–48). Di dunia yang ditandai oleh begitu banyak kekerasan, manipulasi, dan kesombongan di berbagai tingkatan, Yesus mengajar kita cara mengubah padang gurun menjadi oasis, menanami kebun, dan membangun rumah. Ia menunjukkan kepada kita jalan yang ditempuh melalui pengampunan, belas kasih, dan keluhuran hati: "Siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil" (Mat 5:39–41).

 

Bagi sebagian orang, kata-kata ini mungkin tampak sebagai tanda kelemahan atau sikap mengalah terhadap kejahatan, namun kenyataannya tidaklah demikian. Mari kita cermati diri kita dan lingkungan sekitar kita: Apa dampak dari sikap seperti dendam, pembalasan, dan penolakan, baik di dunia maupun di dalam diri kita sendiri? Masa depan seperti apa yang menanti umat manusia akibat hubungan dan sistem yang diliputi mentalitas kejam yang bersumber dari sikap-sikap tersebut? Kamu, yang merupakan anak-anak dari negeri yang di masa lalu terkoyak oleh konflik antarsaudara, sangat memahami bahwa tidaklah benar jika dikatakan mereka yang menuntut balas lebih kuat daripada mereka yang mengampuni. Tidaklah benar bahwa mereka yang menolak untuk mengalah lebih kuat daripada mereka yang mengupayakan rekonsiliasi. Tidaklah benar bahwa mereka yang memilih untuk pergi lebih kuat daripada mereka yang menghadapi tantangan untuk berjalan bersama.

 

Metz dan Moselle menjadi saksi bagi seluruh dunia bahwa rekonsiliasi hanya mungkin terjadi ketika kita memiliki keberanian untuk memutus rantai kebencian. Dibutuhkan kekuatan dan integritas yang besar untuk tidak dikuasai oleh kejahatan, terutama ketika luka yang ditimbulkan begitu mendalam. Namun, dalam menghadapi ketidakadilan, satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia adalah kasih yang peduli terhadap sesama dan berupaya memberikan kepercayaan terlepas dari situasi apa pun, bahkan saat berhadapan dengan perilaku yang paling sulit untuk diterima (bdk. Mat 5:42). Dengan demikian, hukum, keadilan, dan damai sejahtera merupakan tahapan dalam jalan pertobatan yang bermula sebagai perjalanan pribadi dan kian berkembang menjadi perjalanan bersama, yang mengarah pada peradaban yang menghormati manusia serta Sang Pencipta mereka.

 

Bukanlah suatu kebetulan bahwa Santo Agustinus mendefinisikan damai sejahtera kota surgawi sebagai persekutuan yang harmonis, di mana orang-orang menemukan sukacita dalam Allah dan sesama melalui Dia (bdk. *De Civitate Dei*, XIX, 13,1). Ia juga menggambarkan damai sejahtera antarmanusia sebagai buah dari *tranquillitas ordinis* (ketenangan dalam keteraturan), di mana setiap orang mengakui dan menghormati martabat serta peran yang unik dan sakral dari sesamanya.

 

Di sini, di Metz, patut diingat bahwa nilai-nilai inilah yang menjadi landasan bagi Eropa yang kita kenal sekarang selama berabad-abad, di mana warisan rohani dan moral mendahului warisan ekonomi dan politiknya. Sebagaimana diingatkan kembali dengan penuh haru oleh Santo Yohanes Paulus II, Eropa berakar pada kehidupan dan karya orang-orang — baik pria maupun wanita — yang hidup, mewartakan, dan membagikan ajaran Injil (bdk. Wejangan pada Acara Pro-UE, Santiago de Compostela, 9 November 1982). Hal ini tampak jelas dalam kontribusi besar — baik di bidang rohani, budaya, maupun pertanian dan kerajinan tangan — yang diberikan oleh kehidupan biara bagi sejarah benua ini, serta melalui karya para orang kudus seperti Chrodegang yang agung, gembala yang tak kenal lelah bagi komunitas ini. Sungguh, tepat di tempat inilah ia mewujudkan persekutuan gerejawi dalam Hukum Kanonik.

 

Prinsip-prinsip moral yang mengatur dunia tempat kita hidup ini diwariskan kepada kita dari sana: prinsip-prinsip seperti keutamaan pribadi manusia serta sifat hidup manusia yang kudus dan tak dapat diganggu gugat pada setiap tahap dan dalam segala keadaan; perlindungan terhadap kebebasan individu; peran utama keluarga sebagai landasan masyarakat; kepedulian terhadap kaum miskin dan orang-orang yang paling kurang beruntung; sikap menyambut pendatang; serta penghormatan terhadap kaum lanjut usia.

 

Gereja setempatmu, yang berkat status istimewanya melestarikan warisan unik dari dialog yang berbuah antara masyarakat sipil dan iman, memikul tanggung jawab untuk menjadi laboratorium hidup bagi kesetiaan ini. Tetap setia pada prinsip-prinsip ini tidak pernah mudah, bahkan bagi mereka yang mendahului kita. Namun, melalui kesetiaan dan ketekunan, para leluhur kita mewariskannya kepada kita sebagai harta berharga untuk kemudian diteruskan kepada generasi mendatang, serta diperkaya oleh pengalaman, nilai dari upaya, dan kisah kita.

 

Katedral megah di kota tempat kita berkumpul hari ini menggambarkan semua hal tersebut dengan sangat baik. Katedral ini dikenal sebagai "Lanterne du Bon Dieu" (Lentera Tuhan) berkat jendela kaca patri seluas 6.500 meter persegi yang menampilkan berbagai peristiwa biblis. Tampaknya para pembangunnya berupaya meminimalkan dinding — yang tetap kokoh — agar cahaya dapat membanjiri umat beriman dengan melimpah. Dengan demikian, siapa pun yang memasukinya akan larut dalam kekayaan *biblia pauperum* (alkitab bagi mereka yang tidak bisa membaca) — sebuah sumber doa dan permenungan — melalui refleksi seribu warna. Di tempat yang penuh cahaya ini, keindahan jendela kaca patri yang bersejarah tersebut baru-baru ini diperkaya oleh sentuhan jenius Marc Chagall. Karya pelukis Yahudi ternama ini, yang dipasang pada dinding katedral, mengubah "Lanterne du Bon Dieu" menjadi simbol luar biasa bagi ekumenisme dan dialog antaragama. Katedral ini mengajarkan kita bahwa cahaya Allah tidak melenyapkan keunikan jatidiri kita, melainkan menyatukan berbagai sejarah dan budaya yang berbeda ke dalam satu mozaik perdamaian yang menakjubkan — sesuatu yang sangat dibutuhkan di zaman kita saat ini, yang terkoyak oleh perpecahan dan konflik baru. Saat kita merenungkan jendela kaca patri ini, kita belajar bahwa masa depan Eropa tidak terletak pada keseragaman, melainkan pada kerukunan dalam perbedaan, di mana luka-luka masa lalu menjadi celah bagi cahaya untuk bersinar.

 

Di sinilah terletak simbol jati diri kita sebagai Gereja. Kita pun memanfaatkan berbagai sarana yang hanya bermakna sejauh sarana tersebut membantu kita membawa terang Injil ke tengah dunia. Tanpa kaca patri ini, jendela Katedral Santo Stefanus hanyalah ruang yang dibanjiri cahaya yang menyilaukan. Namun, dengan adanya kaca patri ini, jendela tersebut menjadi "buku" yang menyatukan kita untuk mengenang kisah indah penuh kepahlawanan, kebaikan, belas kasih, cinta, dan keindahan moral — kisah-kisah yang menuntut kita untuk memberi kesaksian yang berlimpah dan berani.

 

Seiring akan segera berakhirnya perjalanan saya ke Prancis, dengan penuh rasa syukur dan kepercayaan, inilah harapan yang saya sampaikan bagi komunitas di Metz — komunitas yang kini lebih dari sebelumnya dipanggil untuk menjadi mercusuar pengharapan bagi negeri ini, Eropa, dan dunia — dan saya mempercayakan hal ini kepada pengantaraan Santa Perawan Maria serta santo-santa pelindungmu.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 28 September 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXVI DI GUA MARIA LOURDES, PRANCIS 27 September 2026

Bacaan Ekaristi : Yeh. 18:25-28; Mzm. 25:4bc-5.6-7.8-9; Flp. 2:1-11; Mat. 21:28-32.

 

Saudara-saudari, para peziarah dari Prancis dan dari seluruh penjuru dunia, saat melihat kamu semua berkumpul di sini pagi ini di rumah Bunda kita, saya melihat wajah Gereja yang universal. Sebagian dari kamu telah melintasi benua, menempuh perjalanan jauh, serta membawa sukacita dan beban hidupmu ke gua yang kudus ini. Sungguh suatu sukacita bisa bersama-sama, sehati dan sekeluarga.

 

Secara khusus, saya ingin menyapa para peziarah yang datang dari setiap provinsi dan keuskupan di Prancis. Hari ini, kamu berdiri di tanah yang terberkati yang telah menerima rahmat yang berlimpah. Semoga peziarahan ini menyalakan kembali api iman di rumah dan parokimu. Bawalah penghiburan dari Lourdes bagi sesama, orang-orang terkasih, dan seluruh rakyat Prancis.

 

Bacaan hari Minggu ini menyentuh bagian pokok pesan yang dipercayakan Perawan Maria kepada Santa Bernadette: panggilan untuk bertobat, yang disampaikan dengan penuh kelembutan namun mendesak. Dalam Bacaan Injil, Yesus memandang dengan penuh kebenaran dan kesedihan mendalam hati yang tetap tertutup: "kamu tidak menyesal" (Mat 21:32). Mengapa hal ini melukai hati Kristus? Karena Allah tidak menghendaki anak-anak-Nya binasa. Nabi Yehezkiel mengingatkan kita, "Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan, ia akan mati karenanya." Namun, karena "ia insaf dan bertobat dari segala pelanggaran yang dilakukannya, maka ia pasti akan hidup, ia tidak akan mati" (Yeh 18:26,28). Inilah sebabnya mengapa panggilan untuk bertobat terus bergema dalam Kitab Suci dan pewartaan Injil sepanjang zaman. Keseriusan panggilan ini mengingatkan kita akan kemendesakan dan keharusan pertobatan. Hari ini — bukan besok— saatnya kita harus bertobat. Sesungguhnya, sekaranglah waktu perkenanan itu, sekaranglah hari penyelamatan itu (bdk. 2Kor 6:2). Allah menghendaki kita hidup, membuka mata dan kembali kepada-Nya. Bertobat berarti meninggalkan jalan yang membuat kita tersesat dan mengikuti jalan kehidupan, serta membuka hati kita bagi satu-satunya sukacita yang tak pernah sirna.

 

Yesus sendiri berbicara secara lugas saat memanggil kita untuk bertobat. Sebagaimana dikisahkan oleh Santo Lukas, "Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa" (Luk 13:5). Namun, Ia juga memperluas cakrawala pandang kita, melampaui kehidupan duniawi ini menuju cakrawala kehidupan kekal. Sebab, sementara kebahagiaan di dunia ini bersifat sementara dan relatif — dan sayangnya terkadang sulit digapai oleh sebagian orang — kebahagiaan sejati dijanjikan kepada setiap orang dalam pengharapan; inilah yang patut kita cari melebihi segalanya, dalam segala usaha dan pilihan kita. Bukankah Perawan Maria pernah berkata kepada Santa Bernadette, "Bukankah aku tidak menjanjikan akan membuatmu bahagia di dunia ini, melainkan di dunia yang akan datang?”

 

Janji yang diucapkan di tempat ini memiliki makna khusus di negeri Prancis ini, dan menantang cara kita berpikir saat ini. Di tengah zaman dan masyarakat yang mengejar kemajuan serta kesejahteraan materi — namun terkadang melupakan cakrawala kekekalan — Maria hadir untuk mengingatkan kita akan keagungan dan kekayaan panggilan hidup kita, yakni panggilan menuju hidup kekal. Menghadapi kecenderungan masa kini yang berupaya mendefinisikan ulang nilai kehidupan manusia dalam kondisi sakit, penderitaan, dan usia lanjut, Gua Massabielle berdiri sebagai tempat pengharapan umat kristiani. Di sini, tak seorang pun ditolak karena kelemahan fisiknya. Tongkat penyangga, kursi roda, dan air mata yang tersembunyi bukan penghalang; justru di tempat inilah kamu sepenuhnya dihormati dan disambut, serta dapat mengalami perjumpaan yang mengubah hidup dengan kasih Allah yang tak terbatas. Lourdes diberkati sebagai tempat untuk mengakui keindahan dan kesucian hidup, karena di sini kehidupan disambut sebagai anugerah berharga dari Allah dan dipanggil untuk berkembang selamanya dalam kasih Bapa.

 

“Aku berjanji kepadamu!” Sungguh, hidup kekal adalah janji yang teguh dan pasti yang diberikan Tuhan kepada kita. Ia telah memenangkannya bagi kita melalui wafat-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya, dan melalui rahmat pembaptisan, Ia mewujudkannya dalam diri kita setiap hari. Hidup kekal itu berada dalam jangkauan kita, namun kita harus menyambutnya dengan bebas, merangkulnya, dan tidak menghalanginya. Sebab penghalang bagi rahmat dan hidup kekal — satu-satunya penghalang bagi kasih ini — adalah dosa, yang membuat kita berpaling pada diri sendiri, menolak Allah, dan mengurung diri dalam kegelapan kita. Oleh karena itu, tanggung jawab pribadi kita memegang peranan penting, dan sungguh besar tanggung jawab tersebut. Allah telah menciptakan kita sebagai makhluk yang bebas, karena kebebasan itu perlu bagi kasih; tak seorang pun dapat dipaksa untuk mengasihi. Maka, kita harus menggunakan kebebasan kita untuk berkata "ya" kepada Kristus, dengan mengandalkan rahmat-Nya, seperti yang dilakukan Maria. Ini adalah jawaban "ya" yang kita perbarui hingga embusan napas terakhir — "sekarang dan pada waktu kami mati" — seperti yang kita ucapkan dalam doa Salam Maria.

 

Kita juga mendengar seruan mendesak untuk bertobat dalam kata-kata yang diucapkan Maria tepat di sini: "Bertobatlah! Bertobatlah! Bertobatlah!" Ia mengulangi kata itu tiga kali. Dan ia meminta Bernadette untuk melakukan tindakan pertobatan tertentu. Mengapa? Apakah kita lamban untuk mengerti? Apakah kita terlalu mudah menganggap diri kita bebas dari dosa? Apakah kita kurang melakukan pertobatan? Sang Perawan meminta kita untuk bertobat bukan hanya demi diri kita sendiri — karena kita pun membutuhkannya — melainkan juga "bagi orang-orang berdosa," bagi dunia yang sedang tersesat. Bagaimana mungkin hati kita tidak tergerak oleh berbagai konflik yang menyebar dan menghancurkan begitu banyak nyawa tak berdosa? Padahal, kejahatan di zaman kita ini bersumber dari hati manusia. Allah tidak bertanggung jawab atas hal itu. Sebagaimana Ia berfirman kepada bangsa Israel: "Apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat?" (Yeh 18:25). Oleh karena itu, hati manusialah yang harus berubah, dimulai dari hati kita sendiri.

 

Pertobatan adalah tindakan kasih yang dilakukan dalam semangat solidaritas dengan keluarga umat manusia. Pertobatan adalah tindakan kasih kepada Allah, karena kita ingin memulihkan luka yang ditimbulkan oleh dosa-dosa kita pada hati-Nya. Ini juga merupakan tindakan kasih bagi saudara-saudari kita yang tidak mengindahkan seruan pertobatan ini, dan yang dosa-dosanya membawa mereka menuju kematian. Seruan pertobatan ini juga menyangkut Gereja itu sendiri dalam perjalanannya di dunia ini. Gereja harus memiliki keberanian untuk memulai dari dirinya sendiri. Demi menyembuhkan luka yang dalam, ketidaksetiaan, dan kesalahan menyakitkan yang telah terjadi di dalamnya, kita harus dengan rendah hati menempatkan diri di bawah tatapan Tuhan yang memurnikan. Menyadari kesalahan sendiri adalah hal yang penting bagi pertumbuhan rohani kita. Sebagaimana ditulis Santo Agustinus: "Janganlah merasa puas dengan keadaanmu saat ini, jika engkau ingin menjadi sosok yang belum engkau capai" (Pembedaan Roh 169, 15, 18).

 

Pengingat dari Bunda kita mengenai kewajiban untuk berdoa dan bertobat memberikan kita pengharapan yang besar, karena ia menunjukkan bahwa cara untuk mengubah keadaan adalah dengan menyatukan diri kita pada sengsara Kristus. Sahabat-sahabat yang sedang sakit, kebanyakan dari kamu di Lourdes ini akrab dengan penderitaan. Kamu dapat menjalani cobaan dan penderitaan dengan semangat persembahan, dan dengan demikian ambil bagian dalam karya penebusan yang sangat dibutuhkan dunia. Dengan cara ini, kamu sungguh berada di hati Gereja, dan peranmu tak tergantikan.

 

Para peziarah, saudara-saudari, kamu tidak akan meninggalkan Lourdes dengan keadaan yang sama seperti saat kamu tiba. Kamu akan pergi sebagai pewarta pengharapan. Sungguh, mukjizat Lourdes adalah kemampuannya membangkitkan sukacita pengharapan di tengah penderitaan dan kesulitan. Perawan Maria memulihkan cara pandang kita dan mengubah hati kita, serta menganugerahkan kedamaian. Di negara, keuskupan, dan keluargamu, jadilah saksi hidup bagi kekuatan dan kelembutan ilahi ini, yang membantu kita untuk terus melangkah menuju tujuan kita. Dengan dikuatkan oleh doa orang-orang sakit dan kasih Bunda kita, melangkahlah dengan penuh keyakinan menuju masa depan. Janganlah takut akan badai dunia, sebab Santa Bunda Allah senantiasa menjaga perjalananmu; ia melindungi Gereja di bawah naungan kasihnya yang lembut dan, sebagai Bintang Fajar yang bercahaya, ia menuntun langkahmu, agar dengan sukacita ia dapat membawamu pada kelahiran baru dalam kehidupan Putra-Nya, Yesus. Amin.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 September 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI PLACE DE LA CONCORDE, PARIS, PRANCIS 26 September 2026

Bacaan Ekaristi : . Yeh 47:1-2, 8-9, 12; Yoh 7:37-44.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Saya mengucap syukur kepada Allah atas rahmat yang membuat saya bisa berada di sini bersamamu hari ini, di Place de la Concorde, untuk merayakan Ekaristi. Sungguh alangkah indahnya dan menyenangkannya ketika saudara-saudari hidup bersama dalam kesatuan (bdk. Mzm 133:1) untuk mewartakan kebesaran Allah. Saya sungguh mengharapkan kunjungan ini dapat menguatkan imanmu dan mendorongmu untuk bersinar semakin terang, dengan membagikan kehidupan, damai sejahtera, dan kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

 

“Siapa yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum” (Yoh 7:37). Saudara-saudari, dalam kehausan kita berpaling kepada Kristus, sumber air hidup: air yang memuaskan kehausan kita dan membuat hidup berkembang, yakni air kasih Allah yang “dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5).

 

Kerinduan akan Allah bersemayam jauh di dalam hati kita, dan kita berseru bersama pemazmur, “Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup” (Mzm 42:3). Inilah seruan yang rendah hati dan penuh gairah, yang kehausan terdalam dan paling eksistensialnya terus bertumbuh. Dan Yesus Kristuslah — melalui Inkarnasi-Nya — yang datang menjumpai setiap orang di tengah kisah hidup mereka masing-masing, serta menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup sejati yang mampu memuaskan kehausan kita. Kehausan yang bersemayam di dalam setiap hati manusia ini bukanlah terutama kehausan akan materi, melainkan kehausan akan makna, kebenaran, dan kepenuhan hidup. Yesus menjawab kerinduan mendalam kita akan relasi dan persekutuan dengan Allah, yang di dalam Dia kepenuhan hidup bersemayam untuk selama-lamanya.

 

Dalam Bacaan Pertama, Nabi Yehezkiel melihat air mengalir keluar dari Bait Allah dan menyebar ke padang gurun, menyucikan serta menghidupkan segala sesuatu yang dilewatinya (bdk. Yeh 47:1-2, 8-9, 12). Kemudian, Santo Yohanes melihat air mengalir dari lambung Yesus yang tertikam saat Ia menyerahkan nyawa-Nya (bdk. Yoh 19:30-34). Kini, setiap orang dapat minum dari mata air ini untuk menerima karunia Roh dan dilahirkan kembali, menjadi anak-anak Allah, suatu ciptaan baru.

 

Saudara-saudari, kita harus mengakui bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang dapat memuaskan kita sepenuhnya. Ketika kita mengira pekerjaan kita akhirnya telah usai dan jerih payah kita telah membuahkan hasil, kekosongan batin sering kali muncul kembali, bahkan lebih dalam dari sebelumnya. Maka, dalam upaya untuk mengisinya, kita mungkin mencari kesenangan baru, berhasrat memiliki lebih banyak hal, atau melakukan apa saja untuk mengalihkan perhatian demi meredam kegelisahan batin tersebut.

 

Liturgi Sabda hari ini mengajak kita untuk menyelami hati kita dan bertanya: apakah kerinduan terdalamku? Apa sebenarnya yang kucari dalam hidup ini? Kita semua mendambakan kebahagiaan, kasih, dan kepuasan batin. Namun, dari sumber manakah kita berusaha memuaskan kehausan kita? Apakah kita merasa cukup dengan harta benda, kepuasan sesaat, serta berbagai berhala kecil yang menjanjikan segalanya namun justru meninggalkan kehampaan dalam hati kita? Kita telah dibaptis dan menerima air hidup yang dikisahkan dalam Bacaan Injil, namun sudahkah kita sungguh berjumpa secara pribadi dengan Kristus? Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang penuh kerinduan, dan hanya Allah yang mampu mengisi kekosongan di dalam diri kita.

 

Ya, Saudara-saudari, Yesus Kristus — Sang Gembala yang Baik — menuntun kita, sebagaimana seorang gembala menuntun domba-dombanya, menuju sumber kebahagiaan dan damai sejahtera. Ia mengenal kita masing-masing secara pribadi. Tiada satu pun hal tentang diri kita yang tersembunyi bagi-Nya — baik rahasia, niat, maupun kelemahan kita. Ia menyelami kedalaman hati kita. Ia telah menyerahkan hidup-Nya bagi kita dan terus memberikannya kepada kita melalui sakramen-sakramen. Ia memanggul domba-domba yang letih dan terluka di atas bahu-Nya, serta dengan lembut membawa kembali mereka yang telah tersesat. Yesus menyingkapkan kasih Allah yang tanpa syarat bagi kita. Di mata-Nya, tak seorang pun dari kita hanyalah sekadar angka atau catatan dalam daftar, melainkan pribadi yang unik dan tak tergantikan.

 

Melihat kamu semua berkumpul di sini, saudara-saudari, pewaris sejarah iman Prancis yang panjang dan indah, saya berkata kepadamu: minumlah dari sumber yang tak lain adalah hati Yesus yang tertikam. Ya, kamu haus akan Allah, akan kehidupan, kebenaran, persatuan, damai sejahtera, persekutuan, dan kebahagiaan. Kamu rindu untuk menemukan kembali cakrawala yang penuh cahaya dan membangun bangsa yang diperbarui di atas akar-akar yang dipupuk oleh iman. Janganlah menyimpan iman kepada Yesus Kristus ini hanya untuk diri sendiri. Biarlah iman itu meluap, agar orang-orang yang kamu jumpai dapat disegarkan dan kehausan mereka terpuaskan. Kamu dipanggil untuk membawa harapan di mana pun keputusasaan dan kekeringan rohani merajalela.

 

Sungguh, dengan bersedia hidup dalam kebenaran di hadapan pandangan Yesuslah kita dapat menjadi pribadi yang otentik dan memandang hidup kita dengan jujur. Hidup kita rapuh, rentan, dan ditakdirkan untuk melewati kematian; namun, hidup ini juga indah dan ajaib, mampu diperbarui melalui relasi-relasi kita serta terbuka terhadap kasih yang sejati.

 

“Siapa yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum. Siapa yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: ‘Dari dalam hatinya akan mengalir sungai-sungai air hidup’” (Yoh 7:37-38). Saat kita minum dari sumber yang merupakan hati Kristus, kita sendiri menjadi — seperti yang ditulis Origenes — sumur, mata air, dan sungai bagi orang lain (bdk. Homili 12, 1, 2-3). Sungguh, orang beriman yang minum dari sumber ini juga menjadi sumber kehidupan melalui hubungan yang hidup dengan Kristus, serta membagikan kehidupan yang sama itu kepada orang lain.

 

Saudara-saudari terkasih, air hidup Roh Kudus telah dicurahkan dengan limpah dan terus menghasilkan buah di dalam Gereja melalui para misionaris dan saksi iman di setiap budaya dan di tengah setiap bangsa. Air ini menghidupkan semua orang yang disentuhnya dan mengubah mereka, memampukan mereka untuk menghasilkan buah. Inilah kekudusan mereka yang menyembah Allah yang benar dan dengan murah hati melayani saudara-saudari mereka dalam kasih. Di negeri Prancis yang indah ini, banyak orang telah minum dari air hidup ini sepanjang berabad-abad dan membaktikan hidup mereka sepenuhnya demi kebaikan sesama: para martir pertama, seperti Blandina, Pothinus, dan Ireneus; para pendiri tarekat religius yang kudus; para uskup kudus seperti Martinus dan Fransiskus dari Sales; serta pria dan wanita yang hatinya peka terhadap kebutuhan sesama, seperti Vincentius a Paulo, Frédéric Ozanam, dan Jeanne Jugan, serta banyak lagi lainnya. Bahkan saat ini, ada begitu banyak orang di tengah masyarakatmu, di paroki-paroki, dan di setiap ranah kehidupan, yang terus membaktikan diri demi kehidupan, keluarga, kebenaran, perdamaian, persaudaraan, dan keadilan.

 

Dari kota Paris yang indah ini, saya berdoa dengan sungguh-sungguh agar air kehidupan Roh Kudus mengalir ke seluruh penjuru Prancis. Saya memikirkanmu, keluarga-keluarga terkasih, yang — meskipun menghadapi berbagai kesulitan setiap hari — tetap teguh dan berani dalam panggilan serta perutusanmu. Saya mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam atas segala kebaikan yang terwujud melalui dirimu. Semoga kehadiran nyata Yesus di dalam dirimu tidak pernah kering. Saya juga memikirkanmu, kaum muda terkasih: Kamu adalah Gereja masa kini. Sungguh indah melihat antusiasme, energi, dan komitmenmu, serta sukacita yang kamu bawa bagi komunitas-komunitas Kristiani. Saya juga memikirkan, para katekumen dan orang-oarng yang baru dibaptis, yang telah memulai perjalanan iman, pertobatan, dan inisiasi Kristiani. Semoga kamu dapat menjadi saksi bagi orang-orang di sekitarmu mengenai perjalanan yang sedang kamu tempuh, serta menginspirasi mereka untuk turut bertanya pada diri sendiri. Semoga karunia Roh Kudus menjadikanmu saksi-saksi yang hidup, yang siap menyebarkan peradaban kasih di tengah lingkunganmu.

 

Saudara-saudari, marilah kita berpaling kepada Bunda Allah, sumber keselamatan, yang membimbing kita menuju Putra-Nya, sumber segala rahmat. Melalui jawaban "ya" yang diucapkannya dengan bebas dan penuh kepercayaan, ia menjadi bejana pilihan Allah yang rendah hati, tempat kasih Bapa yang menjadi manusia dan menyerahkan diri bagi dunia.

 

Marilah kita memohon kepadanya dengan penuh keyakinan, agar melalui perantaraannya, mata air kehidupan memancar di tengah Umat Allah dan menumbuhkan benih-benih iman, harapan, dan kasih di seluruh Prancis. Amin.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 September 2026)