Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI STADION MALABO, GUINEA KHATULISTIWA 23 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 8:26-40; Mzm. 66:8-9.16-17.20; Yoh. 6:44-51.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya ingin memulai dengan menyampaikan salam hangat kepada Gereja lokal Malabo, beserta gembalanya. Pada saat yang sama, saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh komunitas Keuskupan Agung, para imam, dan anggota keluarga dari Vikaris Jenderal Anda yang baru saja meninggal, Pastor Fortunato Nsue Esono, yang kita kenang dalam perayaan Ekaristi ini.

 

Saya mengajakmu untuk menghayati saat-saat duka ini dengan semangat iman, dan saya percaya bahwa, tanpa terpengaruh oleh spekulasi atau kesimpulan yang terburu-buru, keadaan seputar kematiannya akan sepenuhnya diklarifikasi.

 

Bacaan yang baru saja kita dengar menantang kita untuk bertanya apakah kita benar-benar tahu bagaimana menafsirkan perikop bacaan Kitab Suci hari ini. Pertanyaan ini serius dan penuh berkat, karena mempersiapkan kita untuk membaca bersama buku sejarah, yaitu perikop kehidupan kita sendiri, yang terus diilhami Allah dengan hikmat-Nya.

 

Ketika diakon Filipus mendekati seorang pengembara yang sedang dalam perjalanan pulang dari Yerusalem ke Afrika, ia bertanya, “Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?” (Kis. 8:30). Pengembara itu, seorang kepala perbendaharaan istana Ratu Etiopia, segera menjawab dengan hikmat yang rendah hati, “Bagaimana aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (ayat 31). Pertanyaannya bukan hanya pencarian kebenaran, tetapi juga ungkapan keterbukaan dan keinginan. Marilah kita merefleksikan orang ini: ia kaya, seperti negerinya, namun ia adalah seorang hamba. Kekayaan yang ia kelola bukan miliknya sendiri: semua yang dimilikinya adalah hasil kerjanya, yang bermanfaat bagi orang lain. Ia cerdas dan berbudaya, sebagaimana ditunjukkan dalam pekerjaan dan doanya, tetapi ia tidak sepenuhnya bebas. Kenyataan menyakitkan ini bahkan tercermin pada tubuhnya: ia sebenarnya adalah seorang sida-sida. Ia tidak dapat melahirkan kehidupan; seluruh vitalitasnya diperuntukkan bagi kekuatan yang mengendalikan dan memerintahnya.

 

Namun, ketika ia kembali ke tanah kelahirannya di Afrika, yang baginya telah menjadi tempat perbudakan, pemberitaan Injil membebaskannya. Sabda Allah yang dipegangnya menghasilkan buah yang tak terduga dalam hidupnya. Melalui perjumpaannya dengan Filipus, seorang saksi Kristus yang disalibkan dan bangkit, sida-sida itu berubah dari sekadar pembaca — seorang penonton— Kitab Suci menjadi pelaku utama dalam kisah yang memikatnya, karena sekarang kisah itu menyangkut dirinya secara pribadi. Teks suci berbicara kepadanya, membangkitkan dalam dirinya kerinduan akan kebenaran. Orang Afrika ini pun memasuki Kitab Suci, yang menyambut setiap pembaca yang ingin memahami sabda Allah. Ia melangkah ke dalam sejarah keselamatan, yang merangkul setiap orang, terutama yang tertindas, terpinggirkan, dan paling hina di antara kita. Sabda tertulis kemudian menjadi kenyataan yang dihayati: melalui baptisan, ia bukan lagi orang asing, tetapi menjadi anak Allah, saudara kita dalam iman. Meskipun seorang hamba dan tidak memiliki anak, ia dilahirkan kembali ke dalam kehidupan baru dan bebas dalam nama Tuhan Yesus. Dan kita berbicara tentang keselamatan-Nya hingga hari ini, persis seperti saat kita membaca Kitab Suci ini!

 

Seperti dia, kita pun telah menjadi umat kristiani melalui baptisan, menerima terang yang sama, yaitu iman yang sama yang dengannya kita membaca sabda Allah: merefleksikan nubuat, mendoakan mazmur, mempelajari Hukum dan mewartakan Injil melalui hidup kita. Semua teks Kitab Suci, pada kenyataannya, mengungkapkan makna sebenarnya dalam iman, karena teks-teks itu ditulis dan diturunkan kepada kita melalui iman. Oleh karena itu, membacanya selalu merupakan tindakan pribadi dan gerejawi; bukan sesuatu yang dilakukan secara tersendiri atau hanya secara mekanis.

 

Bersama-sama kita membaca Kitab Suci sebagai warisan bersama Gereja, dibimbing oleh Roh Kudus, yang mengilhami penyusunannya, dan Tradisi Apostolik, yang telah melestarikan dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Seperti sida-sida itu, kita pun dapat memahami sabda Allah dengan bantuan seorang pembimbing yang menemani kita dalam perjalanan iman kita. Demikianlah halnya dengan diakon Filipus, yang “mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya” (ayat 35). Peziarah Afrika itu sedang membaca nubuat yang telah tergenapi baginya, sama seperti yang tergenapi bagi kita hari ini. Hamba yang menderita yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya (bdk. Yes 53:7-8) adalah Yesus, yang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya menebus kita dari dosa dan maut. Ia adalah Sabda yang menjadi daging, di dalam Dia setiap sabda Allah menemukan penggenapannya; Ia mengungkapkan maksud asli, makna penuh, dan tujuan akhirnya.

 

Sebagaimana dikatakan Kristus sendiri, “Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa” (Yoh 6:46). Dalam Putra, Bapa sendiri menyatakan kemuliaan-Nya: Allah menjadikan diri-Nya terlihat, terdengar, dan tersentuh. Melalui tindakan Yesus, Sang Penebus, Ia menggenapi apa yang selalu Ia lakukan: memberikan kehidupan. Ia menciptakan dunia, menyelamatkannya, dan mengasihinya selamanya. Yesus mengingatkan mereka yang mendengarkan Dia tentang tanda akan kepedulian yang terus-menerus ini: “Nenek moyangmu makan manna di padang gurun” (ayat 49). Ia merujuk pada pengalaman Keluaran: perjalanan pembebasan dari perbudakan yang berubah menjadi masa pengembaraan selama empat puluh tahun yang melelahkan. Penundaan ini terjadi karena orang-orang tidak percaya pada janji Tuhan; mereka bahkan tetap merindukan kehidupan di Mesir (bdk. Kel 16:3). Memang, di bawah pemerintahan Firaun, mereka memiliki makanan dari tanah; namun, Allah membawa mereka ke padang gurun, di mana roti hanya dapat diperoleh dari pemeliharaan-Nya. Manna, dengan demikian, adalah tanda, berkat, dan janji yang digenapi melalui kedatangan Yesus. Simbol kuno ini sekarang memberi jalan kepada sakramen perjanjian baru dan kekal: Ekaristi — roti yang dikonsekrasikan oleh Dia yang turun dari surga untuk menjadi makanan kita. Jika mereka yang makan manna mati (bdk. Yoh 6:49), siapa saja yang makan roti ini akan hidup selama-lamanya (bdk. ayat 51), karena Kristus hidup! Ia adalah Yang Bangkit, dan terus memberikan hidup-Nya bagi kita.

 

Melalui Paskah Yesus, keluaran yang definitif, setiap bangsa dibebaskan dari perbudakan kejahatan. Saat kita merayakan misteri keselamatan ini, Tuhan memanggil kita untuk membuat pilihan yang menentukan: “Siapa saja yang percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” (ayat 47). Dalam Yesus, kita diberi prospek yang menakjubkan: Allah memberikan diri-Nya untuk kita. Apakah aku percaya bahwa kasih-Nya lebih kuat daripada kematianku? Dengan memutuskan untuk percaya kepada-Nya, kita masing-masing memilih antara keputusasaan yang tak terhindarkan dan pengharapan yang ditawarkan Allah. Rasa lapar kita akan hidup dan keadilan kemudian dipuaskan oleh perkataan Yesus: “Roti yang akan Kuberikan untuk hidup dunia ialah daging-Ku” (ayat 51).

 

Terima kasih, Tuhan! Kami memuji dan bersyukur kepada-Mu, karena Engkau memilih untuk menjadi Ekaristi bagi kami, roti hidup yang kekal, sehingga kami dapat hidup selama-lamanya. Sahabat-sahabat terkasih, pada saat ini juga, saat kita merayakan sakramen keselamatan ini, kita dapat dengan penuh sukacita menyatakan: Kristus adalah segala-galanya bagi kita! Di dalam Dia kita menemukan kepenuhan hidup dan makna. “Jika kamu tertindas oleh ketidakadilan, Dialah keadilan; jika kamu membutuhkan pertolongan, Dialah kekuatan; jika kamu takut akan kematian, Dialah hidup; jika kamu mendambakan Surga, Dialah jalan; jika kamu berada dalam kegelapan, Dialah terang” (Santo Ambrosius, De Virginitate, 16:99). Masalah kita tidak lenyap di hadapan Tuhan, tetapi diterangi. Sama seperti setiap salib menemukan penebusan dalam Yesus, demikian pula kisah hidup kita menemukan maknanya dalam Injil. Karena itu, hari ini kita masing-masing dapat berkata: “Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dariku” (Mzm. 66:20). Ia selalu mengasihi kita terlebih dahulu. Sabda-Nya adalah Kabar Baik bagi kita, dan kita tidak mempunyai hal yang lebih besar untuk diwartakan kepada dunia. Kita semua dipanggil untuk penginjilan ini sejak saat kita menerima sakramen baptis, sakramen persatuan persaudaraan, air pembersih pengampunan dan sumber pengharapan. Melalui kesaksian kita, pemberitaan keselamatan menjadi nyata dalam tindakan, pelayanan, dan pengampunan — singkatnya, pemberitaan tersebut menjadi Gereja!

 

Sebagaimana diajarkan Paus Fransiskus, “Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 1). Pada saat yang sama, ketika kita ambil bagian dalam sukacita ini, kita juga menjadi semakin sadar akan bahaya “kesedihan dan kecemasan yang lahir dari hati yang puas diri namun tamak, pengejaran akan kesenangan sembrono dan hati nurani yang tumpul. Ketika kehidupan batin kita terbelenggu dalam kepentingan dan kepeduliannya sendiri, tak ada lagi ruang bagi sesama, tak ada tempat bagi si miskin papa. Suara Allah tak lagi didengar dan sukacita kasih-Nya tak lagi dirasakan” (idem, 2). Dalam menghadapi sikap tertutup seperti itu, justru kasih Tuhanlah yang menopang upaya kita, terutama dalam pelayanan keadilan dan solidaritas.

 

Karena alasan ini, saya mendorong kamu semua, sebagai Gereja yang hidup di Guinea Khatulistiwa, untuk melanjutkan perutusan murid-murid pertama Yesus dengan penuh sukacita. Saat kamu membaca Injil bersama-sama, wartakanlah dengan penuh semangat, seperti yang dilakukan diakon Filipus. Dan saat kamu merayakan Ekaristi bersama-sama, berikanlah kesaksian melalui hidupmu tentang iman yang menyelamatkan, agar sabda Allah menjadi ragi yang baik bagi semua orang.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BASILIKA KATEDRAL SANTA MARIA DIKANDUNG TANPA NODA, MONGOMO, GUINEA KHATULISTIWA 22 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 8:1b-8; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a; Yoh. 6:35-40.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita berkumpul di Basilika Katedral yang megah ini, yang didedikasikan untuk Santa Maria Dikandung Tanpa Noda, Bunda dari Sabda yang menjelma dan Pelindung Guinea Khatulistiwa, untuk mendengarkan sabda Tuhan dan merayakan peringatan bahwa Ia telah meninggalkan kita sebagai sumber dan puncak kehidupan dan perutusan Gereja. Ekaristi benar-benar mengandung setiap kebaikan rohani Gereja: Kristus, Paskah kita, yang memberikan diri-Nya kepada kita, Ia adalah Roti hidup yang memelihara kita. Kehadiran-Nya dalam Ekaristi mengungkapkan kasih Allah yang tak terbatas bagi seluruh keluarga manusia dan cara Ia menjumpai setiap orang bahkan hingga hari ini.

 

Saya senang dapat merayakan bersamamu dan mengucap syukur kepada Allah atas 170 tahun penginjilan di Guinea Khatulistiwa. Sebuah kesempatan yang tepat untuk mengingat semua kebaikan yang telah dilakukan Tuhan, dan pada saat yang sama, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya kepada banyak misionaris, imam diosesan, katekis, dan umat awam yang telah mengabdikan hidup mereka untuk melayani Injil.

 

Mereka telah menangani aspirasi, pertanyaan, dan luka umatmu, dan meneranginya dengan sabda Tuhan, sehingga mereka sendiri menjadi tanda kasih Allah di antaramu. Melalui teladan hidup, mereka telah memainkan peran dalam mewujudkan Kerajaan Allah, tanpa takut menderita karena kesetiaan mereka kepada Kristus.

 

Ini adalah sejarah yang tidak boleh kamu lupakan. Di satu sisi, sejarah ini menghubungkanmu dengan Gereja universal dan apostolik yang telah ada sebelum kamu. Di sisi lain, sejarah ini telah menjadikan kamu pelaku utama pewartaan Injil dan kesaksian iman, menggenapi kata-kata kenabian yang diucapkan oleh Paus Santo Paulus VI di tanah Afrika: “Rakyat Afrika, mulai sekarang, kamu adalah misionaris bagi dirimu sendiri. Gereja Kristus telah tertanam dengan baik dan benar di tanah yang diberkati ini” (Homili pada Penutup Simposium yang diselenggarakan oleh para uskup Afrika, Kampala, Uganda, 31 Juli 1969).

 

Dengan mengingat hal ini, hari ini kamu dipanggil untuk mengikuti jejak para misionaris, gembala, dan umat awam yang telah mendahului kamu. Kamu masing-masing diundang untuk membuat komitmen pribadi yang mencakup seluruh hidupmu, sehingga iman— yang dirayakan dengan penuh sukacita dalam komunitas dan liturgimu — juga dapat memelihara karya amal kasihmu dan rasa tanggung jawab terhadap sesama, untuk membangun kebaikan bersama.

 

Komitmen seperti itu membutuhkan ketekunan; menuntut usaha dan, kadang-kadang, pengurbanan. Namun, juga tanda bahwa kita benar-benar Gereja Kristus. Bahkan, Bacaan Pertama yang kita dengar menceritakan hanya dalam beberapa ayat bagaimana Gereja yang dengan berani dan penuh sukacita mewartakan Injil juga merupakan Gereja yang, justru karena alasan inilah, dapat dianiaya (bdk. Kis. 8:1-8). Namun demikian, Kisah Para Rasul memberitahu kita bahwa, meski umat kristiani terpaksa mengungsi dan tercerai-berai, banyak yang mendekat kepada sabda Tuhan dan dapat melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana orang-orang yang sakit jasmani dan rohani disembuhkan: ini adalah tanda-tanda ajaib kehadiran Allah, yang membawa sukacita besar bagi seluruh kota (bdk. ayat 6-8).

 

Saudara-saudari, bahkan ketika menghadapi situasi pribadi, keluarga, dan sosial yang tidak selalu menguntungkan, kita dapat percaya bahwa Tuhan sedang bekerja, membuat benih baik Kerajaan-Nya tumbuh dengan cara yang tidak kita ketahui, termasuk ketika segala sesuatu di sekitar kita tampak gersang, dan bahkan di saat-saat kegelapan. Dengan keyakinan seperti itu, yang berakar pada kuasa kasih-Nya dan bukan pada jasa kita sendiri, kita dipanggil untuk tetap setia kepada Injil, mewartakannya, menghayatinya sepenuhnya, dan memberi kesaksian tentangnya dengan penuh sukacita. Allah tidak akan gagal memberikan tanda-tanda kehadiran-Nya, dan sebagaimana dikatakan Yesus kepada kita dalam Bacaan Injil yang telah kita dengar, Ia sekali lagi akan menjadi bagi kita “roti kehidupan” yang memuaskan rasa lapar kita (bdk. Yoh 6:35).

 

Lapar akan apa yang kita rasakan? Dan apa yang dirindukan bangsa ini saat ini? Moto yang dipilih untuk kunjungan saya adalah “Kristus, Terang Guinea Khatulistiwa, Menuju Masa Depan yang Penuh Pengharapan.” Mungkin justru inilah rasa lapar terbesar saat ini. Ada rasa lapar akan masa depan yang dipenuhi pengharapan, yang mampu menumbuhkan rasa keadilan baru dan menghasilkan buah perdamaian dan persaudaraan. Ini bukanlah masa depan yang tidak diketahui yang harus kita tunggu secara pasif, melainkan masa depan yang kita sendiri dipanggil untuk membangunnya dengan rahmat Allah. Masa depan Guinea Khatulistiwa bergantung pada pilihanmu; masa depan itu dipercayakan kepada rasa tanggung jawabmu dan komitmen bersamamu untuk menjaga kehidupan dan martabat setiap orang.

 

Oleh karena itu, penting bagi semua orang yang dibaptis untuk merasa bahwa mereka adalah bagian dari karya penginjilan, dan dengan demikian menjadi rasul amal kasih dan saksi bagi kemanusiaan yang baru.

 

Ini adalah soal mengambil bagian, dengan terang dan kekuatan Injil, dalam pembangunan terpadu negeri ini, dalam pembaharuan dan perubahan rupanya. Sang Pencipta telah menganugerahimu kekayaan alam yang besar: Saya mendesakmu untuk bekerja sama agar hal itu menjadi berkat bagi semua orang. Semoga Tuhan membantumu untuk menjadi masyarakat di mana setiap orang, masing-masing sesuai dengan tanggung jawabnya, bekerja semakin penuh untuk melayani kebaikan bersama daripada kepentingan pribadi, menjembatani kesenjangan antara yang beruntung dan yang kurang beruntung. Semoga ada ruang yang lebih besar untuk kebebasan, dan semoga martabat manusia selalu dijaga. Pikiran saya tertuju kepada kaum miskin, keluarga yang mengalami kesulitan dan para tahanan yang sering dipaksa untuk hidup dalam kondisi kebersihan dan sanitasi yang mengkhawatirkan.

 

Saudara-saudari, ada kebutuhan bagi umat kristiani untuk mengambil alih nasib Guinea Khatulistiwa. Karena alasan ini, saya ingin mendorongmu: jangan takut untuk mewartakan Injil dan memberikan kesaksian tentangnya dengan hidupmu! Jadilah pembangun masa depan yang penuh pengharapan, perdamaian, dan rekonsiliasi, melanjutkan karya yang dimulai oleh para misionaris 170 tahun yang lalu.

 

Semoga Bunda Maria yang Tak Bernoda menyertaimu dalam perjalanan ini. Semoga ia menjadi perantaramu dan membantumu menjadi murid Kristus yang murah hati dan penuh sukacita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 22 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI SAURIMO (ANGOLA) 20 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 6:8-15; Mzm. 119:23-24,26-27,29-30; Yoh. 6:22-29.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Di pelbagai belahan dunia, Gereja hidup sebagai umat yang berjalan sebagai murid Kristus, saudara dan Penebus kita. Ia, yang bangkit, menerangi jalan kita menuju Bapa dan dengan kekuatan Roh-Nya Ia menguduskan kita sehingga kita dapat mengubah rupa cara hidup kita selaras dengan kasih-Nya. Inilah Kabar Baik, Injil yang mengalir seperti darah dalam pembuluh darah kita, menopang kita dalam perjalanan. Sebuah perjalanan yang membawa saya ke sini bersamamu hari ini! Dalam sukacita dan keindahan pertemuan kita, bersatu dalam nama Yesus, marilah kita mendengarkan Sabda keselamatan dengan hati terbuka karena Sabda keselamatan membantu kita merefleksikan motivasi dan tujuan kita mengikuti Tuhan.

 

Memang benar, ketika Putra Allah menjadi manusia, Ia melakukan mukjizat yang luar biasa untuk mewujudkan kehendak Bapa: Ia membuat terang bersinar dalam kegelapan dengan memberikan penglihatan kepada orang buta, Ia memberikan suara kepada mereka yang tertindas dengan melonggarkan lidah orang bisu, Ia memuaskan rasa haus kita akan keadilan dengan melipatgandakan roti bagi mereka yang miskin dan lemah. Siapa pun yang mendengar tentang pekerjaan ini berangkat mencari Yesus. Pada saat yang sama, Tuhan melihat ke dalam hati kita dan bertanya apakah kita mencari Dia karena rasa syukur atau demi kepentingan diri sendiri, dengan perhitungan atau dengan cinta. Bahkan, Ia berkata kepada orang-orang yang mengikuti Dia, “Kamu mencari Aku, bukan karena kamu melihat tanda-tandanya, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang” (Yoh. 6:26). Kata-kata-Nya mengungkapkan rancangan orang-orang yang tidak ingin berjumpa dengan seseorang, bahkan ingin mengonsumsi sesuatu. Orang banyak melihat Yesus sebagai alat untuk mencapai tujuan, penyedia layanan. Jika Ia tidak memberi mereka makan, tindakan dan ajaran-Nya tidak akan menarik minat mereka.

 

Hal ini terjadi ketika iman sejati digantikan dengan praktik takhayul, yang menjadikan Allah sebagai berhala yang dicari hanya jika bermanfaat bagi kita dan hanya selama bermanfaat. Bahkan anugerah terindah Tuhan, yang selalu diperuntukkan bagi umat-Nya, malah menjadi dalih, hadiah atau alat tawar-menawar, dan disalahartikan oleh mereka yang menerimanya. Maka, kisah Injil membantu kita memahami bahwa ada motivasi yang salah dalam mencari Kristus, khususnya ketika Ia dianggap sebagai guru atau jimat keberuntungan. Bahkan motivasi orang banyak pun tidak memadai: mereka tidak mencari seorang guru yang mereka cintai, namun seorang pemimpin yang bisa diberi tepuk tangan demi keuntungan mereka sendiri.

 

Alangkah berbedanya sikap Yesus terhadap kita. Namun, Ia tidak menolak pencarian yang tidak tulus ini, namun mendorong pertobatannya. Ia tidak mengabaikan orang banyak, namun mengajak setiap orang untuk menelaah apa yang menggugah dalam hati kita. Kristus memanggil kita menuju kemerdekaan: Ia tidak menginginkan pelayan atau klien, namun Ia mencari saudara dan saudari yang kepadanya Ia dapat mengabdikan diri sepenuhnya. Untuk menanggapi kasih ini dengan iman, tidaklah cukup hanya dengan mendengarkan Yesus berbicara: kita harus menerima makna sabda-Nya. Melihat apa yang dilakukan Yesus saja tidak cukup: kita harus mengikuti dan meneladan Dia. Ketika dalam tanda roti yang dibagikan kita melihat kehendak Juruselamat, yang memberikan diri-Nya bagi kita, barulah kita semakin dekat pada perjumpaan sejati dengan Yesus, yang menjadi pemuridan, perutusan dan pelayanan.

 

Nasihat yang disampaikan Tuhan kepada orang banyak kemudian diubah rupa menjadi sebuah undangan: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh 6:27). Dengan kata-kata ini, Kristus mengungkapkan anugerah-Nya yang sejati kepada kita: Ia tidak memanggil kita untuk tidak tertarik pada roti kita sehari-hari, yang Ia lipatgandakan dengan berlimpah dan ajarkan kepada kita untuk memintanya dalam doa. Sebaliknya, Ia mengajarkan kita cara yang benar untuk mencari roti hidup, makanan yang menopang kita selamanya. Keinginan orang banyak mendapat tanggapan yang jauh lebih besar dan lebih mengejutkan: Yesus tidak memberi kita makanan yang akan binasa, tetapi roti yang kekal karena merupakan makanan hidup yang kekal.

 

Anugerah-Nya menerangi situasi kita saat ini. Hari ini kita dapat melihat bagaimana pengharapan banyak orang digagalkan oleh kekerasan, dieksploitasi oleh orang-orang yang berkuasa dan ditipu oleh orang-orang kaya. Akibatnya, ketika ketidakadilan merusak hati, roti bagi semua orang menjadi milik segelintir orang. Dalam menghadapi kejahatan-kejahatan ini, Kristus mendengar jeritan orang-orang dan memperbarui sejarah kita dengan mengangkat kita dari setiap kejatuhan, menghibur kita dalam setiap penderitaan, dan mendorong kita dalam perutusan kita. Sama seperti Ekaristi adalah roti hidup yang tidak pernah berhenti Ia berikan kepada kita, demikian pula sejarah-Nya tidak berkesudahan. Karena alasan ini, Yesus yang bangkit membuka hidup kita melalui kuasa Roh-Nya dan menghapus akhir sejarah kita, yaitu kematian. Kristus hidup! Dialah Penebus kita. Inilah Injil yang kita bagikan, menjadikan semua orang di bumi sebagai saudara-saudari kita. Inilah pemberitaan yang mengubah dosa menjadi pengampunan. Inilah iman yang menyelamatkan jiwa!

 

Oleh karena itu, kesaksian Paskah tentu saja selain berkaitan dengan Kristus, yang disalibkan dan telah bangkit, tetapi juga berkaitan dengan kita karena di dalam Dia pemberitaan kebangkitan kita menemukan suaranya. Kita tidak datang ke dunia untuk mati. Kita tidak dilahirkan untuk menjadi hamba, baik bagi kerusakan daging maupun jiwa: setiap bentuk penindasan, kekerasan, eksploitasi, dan ketidakjujuran meniadakan kebangkitan Kristus, anugerah tertinggi kebebasan kita. Pembebasan dari kematian ini, sebenarnya, tidak hanya terjadi di akhir hidup kita, tetapi setiap hari dalam hidup kita. Apa yang harus kita lakukan untuk menyambut anugerah seperti itu? Bacaan Injil mengajarkan kita: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ya, marilah kita percaya! Hari ini, marilah kita mengatakannya bersama-sama dengan kekuatan dan rasa syukur kepada Engkau, Tuhan Yesus. Kami ingin mengikuti dan melayani Engkau dalam diri sesama kami: sabda-Mu adalah pedoman hidup dan patokan kebenaran kami.

 

“Berbahagialah orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut hukum Tuhan” (Mzm. 119:1). Inilah Mazmur yang kita nyanyikan. Sahabat-sahabatku, Tuhanlah yang menunjukkan jalan bagi kita dalam perjalanan ini, bukan tuntutan kita, atau tren yang sedang populer. Karena alasan ini, dalam terang kemuridan kita, perjalanan gerejawi adalah “sinode kebangkitan dan pengharapan,” yang ditegaskan oleh Santo Yohanes Paulus II dalam seruan apostoliknya tentang Afrika (Ecclesia in Africa, 13). Marilah kita melangkah ke arah yang bijaksana ini! Dengan Injil di dalam hatimu, kamu akan memiliki keberanian dalam menghadapi kesulitan dan kekecewaan: jalan yang telah Allah bukakan bagi kita, tidak pernah gagal. Sesungguhnya, Tuhan selalu berjalan bersama kita, sehingga kita dapat terus berada di jalan-Nya. Kristus sendiri membimbing dan menguatkan perjalanan kita, sebuah perjalanan yang ingin kita pelajari untuk dijalani semakin sebagaimana mestinya, yaitu secara sinodal.

 

Dalam hal ini, “Gereja mewartakan Kabar Baik Kristus bukan hanya melalui pewartaan sabda yang telah diterimanya dari Tuhan, tetapi juga melalui kesaksian hidup, yang berkatnya murid-murid Kristus memberi kesaksian tentang iman, pengharapan, dan kasih yang ada di dalam diri mereka” (idem, 55). Dengan ambil bagian dalam Ekaristi, roti hidup yang kekal, kita dipanggil untuk melayani umat kita dengan dedikasi yang mengangkat semua orang yang telah jatuh, membangun kembali ketika kekerasan menghancurkan, dan dengan sukacita ambil bagian dalam ikatan persaudaraan kita. Melalui kita, prakarsa rahmat ilahi menghasilkan buah yang baik terutama dalam kesulitan, sebagaimana diteladankan oleh Stefanus, martir pertama (bdk. Kis. 6:8-15).

 

Saudara-saudara terkasih, kesaksian para martir dan para kudus mendorong dan menuntun kita menuju jalan pengharapan, rekonsiliasi, dan perdamaian, di mana anugerah Allah menjadi tanggung jawab kepala keluarga, dalam komunitas kristiani, dalam masyarakat sipil. Bersama-sama menempuh perjalanan ini, dalam terang Injil, Gereja di Angola bertumbuh sesuai dengan buah rohani yang berasal dari Ekaristi dan berlanjut dalam perhatian menyeluruh terhadap setiap orang dan seluruh umat. Secara khusus, vitalitas panggilan yang kamu alami merupakan tanda bahwa kamu menanggapi anugerah Tuhan, yang selalu berlimpah bagi mereka yang menerimanya dengan hati yang murni. Berkat Roti Hidup yang kita bagikan hari ini, kita dapat melanjutkan perjalanan seluruh Gereja, yang tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang terangnya adalah iman dan darah kehidupannya adalah amal kasih.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 20 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PASKAH III DI KILAMBA (ANGOLA) 19 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:14,22-33; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; 1Ptr. 1:17-21; Luk. 24:13-35.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya merayakan Ekaristi di antaramu dengan hati yang penuh syukur. Syukur kepada Allah atas anugerah ini, dan terima kasih atas sambutanmu yang hangat!

 

Pada Hari Minggu Paskah III ini, Tuhan telah berbicara kepada kita melalui Bacaan Injil tentang para murid di jalan menuju Emaus (bdk. Luk 24:13-35). Marilah kita memperkenankan diri kita diterangi oleh sabda kehidupan ini.

 

Dua murid Tuhan, dengan hati yang hancur dan sedih, berangkat dari Yerusalem untuk kembali ke desa Emaus. Mereka telah melihat kematian Yesus, yang telah mereka ikuti dengan setia. Mereka pulang dengan kecewa dan patah semangat. Di perjalanan, mereka "bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi" (Luk 24:14). Mereka terdorong untuk membicarakannya, menceritakan sekali lagi apa yang telah mereka lihat dan berbagi apa yang telah mereka alami. Namun, dengan melakukan hal itu, mereka berisiko menjadi tawanan kesedihan dan tertutup terhadap pengharapan.

 

Saudara-saudari, dalam kalimat pembuka Bacaan Injil ini, saya melihat refleksi sejarah Angola, negara yang indah namun terluka ini, yang lapar dan haus akan pengharapan, perdamaian, dan persaudaraan. Sesungguhnya, percakapan di sepanjang jalan antara kedua murid, yang merefleksikan dengan sedih apa yang telah terjadi pada Guru mereka, mengingatkan kita pada penderitaan yang telah menandai negaramu: perang saudara yang panjang dengan akibatnya berupa permusuhan dan perpecahan, pemborosan sumber daya dan kemiskinan.

 

Ketika terlalu lama tenggelam dalam sejarah yang sarat penderitaan, kita berisiko kehilangan pengharapan dan tetap lumpuh oleh keputusasaan, seperti kedua murid itu. Memang, mereka sedang berjalan, namun mereka tetap terpaku pada peristiwa tiga hari sebelumnya ketika mereka melihat kematian Yesus. Mereka bercakap-cakap, tetapi tanpa pengharapan akan solusi. Mereka terus berbicara tentang apa yang telah terjadi, dengan kelelahan orang-orang yang tidak tahu bagaimana memulai kembali atau melakukan apa yang mungkin.

 

Saudara-saudara terkasih, Kabar Baik Tuhan, bahkan bagi kita hari ini, persis seperti ini: Ia hidup, Ia telah bangkit, dan Ia berjalan di samping kita saat kita menempuh jalan penderitaan dan kepahitan, membuka mata kita sehingga kita dapat mengenali karya-Nya dan memberi kita rahmat untuk memulai kembali dan membangun masa depan.

 

Tuhan berjalan di samping kedua murid yang kecewa, yang hampir kehilangan pengharapan. Sebagai teman perjalanan, Ia membantu mereka menyatukan kembali kepingan-kepingan kisah itu, melihat melampaui penderitaan mereka, menemukan bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan dan bahwa masa depan, yang masih dihuni oleh Allah yang penuh kasih, menanti mereka. Ketika Ia berhenti untuk makan bersama mereka, duduk di meja dan memecahkan roti, maka “terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenali Dia” (Luk 24:31).

 

Pun di sinilah jalan yang terbentang bagi kita, bagimu, saudara-saudari Angola yang terkasih, untuk memulai kembali. Di satu sisi, ada kepastian bahwa Tuhan menyertai kita dan berbela rasa kepada kita, dan di sisi lain, Ia meminta kita untuk berkomitmen.

 

Kita mengalami persahabatan dengan Tuhan terutama dalam hubungan kita dengan Dia, dalam doa, dalam mendengarkan sabda-Nya yang mengobarkan hati kita seperti yang terjadi pada hati kedua murid. Ini terutama terjadi dalam perayaan Ekaristi. Di sinilah kita berjumpa Allah. Karena alasan ini, kita harus selalu waspada terhadap bentuk-bentuk keagamaan tradisional yang tentu saja termasuk dalam akar budaya kita, tetapi pada saat yang sama berisiko membingungkan dan mencampuradukkan unsur-unsur magis dan takhayul yang tidak membantu perjalanan spiritual kita. Tetaplah setia pada ajaran Gereja, percayalah pada para gembala kita, dan tetaplah memusatkan pandangan kita pada Yesus, yang menyatakan diri-Nya dalam sabda dan Ekaristi. Dalam keduanya kita mengalami bahwa Tuhan yang telah bangkit berjalan di samping kita dan, bersatu dengan-Nya, kita pun mengatasi "kematian" yang mengepung kita dan hidup sebagai orang-orang yang telah "bangkit."

 

Kepastian bahwa kita tidak sendirian dalam perjalanan ini mencakup komitmen yang sangat besar dari pihak kita untuk menenangkan luka dan menghidupkan kembali pengharapan. Sesungguhnya, jika kedua murid di jalan menuju Emaus mengenali Yesus dalam pemecahan roti, ini berarti kita pun harus mengenali-Nya dengan cara ini: bukan hanya dalam Ekaristi, tetapi di mana pun ada kehidupan yang menjadi seperti roti yang dipecah-pecahkan, di mana pun seseorang mempersembahkan dirinya sebagai anugerah bela rasa seperti Dia.

 

Sejarah negaramu, konsekuensi sulit yang terus kamu alami, masalah sosial dan ekonomi, serta berbagai bentuk kemiskinan menuntut kehadiran Gereja yang tahu bagaimana berjalan bersamamu dan bagaimana mendengarkan seruan anak-anaknya. Gereja yang, dengan terang sabda dan santapan Ekaristi, tahu bagaimana membangkitkan kembali pengharapan yang hilang. Gereja yang terdiri dari orang-orang seperti kamu yang memberikan diri seperti Yesus memberikan diri-Nya dalam pemecahan roti bagi kedua murid di jalan menuju Emaus. Angola membutuhkan uskup, imam, misionaris, biarawan dan biarawati, serta umat awam yang membawa dalam hati mereka keinginan untuk "mengurbankan" hidup mereka dan memberikannya kepada sesama, berkomitmen pada saling mengasihi dan mengampuni, membangun ruang persaudaraan dan perdamaian, dan melakukan tindakan bela rasa dan solidaritas terhadap mereka yang paling membutuhkan.

 

Melalui rahmat Kristus yang bangkit, kita dapat menjadi seperti roti yang dipecah-pecahkan ini yang mengubah rupa kenyataan. Sebagaimana Ekaristi mengingatkan kita bahwa kita adalah satu tubuh dan satu roh, bersatu dalam satu Tuhan, demikian pula dimungkinkan untuk membangun bersama sebuah negara di mana perpecahan lama diatasi sekali dan untuk selamanya, di mana kebencian dan kekerasan sirna, dan di mana momok korupsi disembuhkan oleh budaya keadilan dan berbagi yang baru. Hanya dengan cara inilah masa depan yang menjanjikan akan terwujud, terutama bagi banyak kaum muda yang telah kehilangan pengharapan.

 

Saudara-saudari, hari ini kita perlu memandang masa depan dengan penuh pengharapan dan membangun pengharapan aka masa depan. Jangan takut untuk melakukannya! Yesus yang telah bangkit, yang berjalan bersamamu di jalan ini dan memecahkan diri-Nya sebagai roti bagimu, mendorongmu untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya dan pelaku utama kemanusiaan dan masyarakat baru.

 

Dalam perjalanan ini, sahabat-sahabat terkasih, kamu dapat mengandalkan kedekatan dan doa Paus! Tetapi saya pun tahu saya dapat mengandalkanmu, dan saya berterima kasih kepadamu! Saya mempercayakanmu kepada perlindungan dan perantaraan Bunda Maria, Bunda Maria dari Muxima, agar ia selalu menopangmu dalam iman, pengharapan, dan kasih.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BANDARA YAOUNDÉ-VILLE (KAMERUN) 18 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis 6:1-7; Mzm 33:1-2.4-5.18-19; Yoh 6:16-21.

 

Saudara-saudari terkasih, damai sejahtera besertamu! Itulah damai sejahtera Kristus, yang kehadiran-Nya menerangi jalan kita dan menenangkan badai kehidupan.

 

Kita merayakan Misa Kudus ini di akhir kunjungan saya di Kamerun, dan saya sangat bersyukur atas sambutan hangat yang diberikan kepada saya dan atas momen-momen sukacita dan iman yang telah kita alami bersama.

 

Sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Injil, iman tidak menyelamatkan kita dari kekacauan dan kesengsaraan. Kadang-kadang, tampaknya rasa takut menguasai kita. Namun, kita tahu bahwa bahkan di saat-saat seperti itu, Yesus tidak meninggalkan kita, sama seperti Ia tidak meninggalkan para murid di Danau Galilea.

 

Tiga dari empat penginjil menceritakan peristiwa yang diwartakan hari ini, masing-masing dengan caranya masing-masing, dengan pesan yang sesuai untuk orang-orang yang dituju. Santo Markus (bdk. 6:45-52) menceritakan bahwa Tuhan datang kepada para murid ketika mereka bersusah payah mendayung karena angin sakal, yang berhenti segera setelah Yesus naik ke perahu bersama mereka. Santo Matius (bdk. 14:22-33) lebih memerinci: Petrus ingin pergi kepada Tuhan dengan berjalan di atas air. Namun, begitu ia melangkah keluar dari perahu, ia membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa takut dan ia mulai tenggelam. Kristus memegang tangannya, menyelamatkan dan menegurnya karena ketidakpercayaannya.

 

Dalam versi Santo Yohanes, yang diwartakan hari ini (bdk. 6:16-21), sang Juruselamat yang berjalan di atas air mendekati murid-murid-Nya dan berkata, “Ini Aku, jangan takut” (ayat 20). Penginjil menekankan bahwa “ketika hari mulai malam” (ayat 16). Menurut tradisi Yahudi, “air” dengan kedalaman dan misterinya, sering mengingatkan pada dunia bawah, kekacauan, bahaya, dan kematian. Bersama dengan kegelapan, ia membangkitkan kekuatan jahat, yang tidak dapat dikuasai manusia dengan kekuatan mereka sendiri. Namun, pada saat yang sama, dengan mengingat mukjizat yang terjadi dalam peristiwa keluaran, air dipahami sebagai tempat persinggahan, penyeberangan di mana Allah dengan penuh kuasa membebaskan umat-Nya dari perbudakan.

 

Sepanjang zaman, Gereja telah melewati banyak badai dan “angin sakal.” Kita pun dapat merasakan ketakutan dan keraguan yang dialami para murid saat menyeberangi Danau Tiberias. Demikian pula pengalaman kita di saat-saat ketika kita seolah tenggelam, dikalahkan oleh kekuatan yang merugikan, ketika segala sesuatu tampak suram dan kita merasa sendirian dan lemah. Tetapi tidak demikian. Yesus selalu bersama kita, lebih kuat dari kekuatan jahat apa pun. Dalam setiap badai, Ia datang kepada kita dan mengulangi, “Aku ada di sini bersamamu: jangan takut.” Inilah sebabnya mengapa kita dapat bangkit kembali setiap kali jatuh, tidak membiarkan diri kita dihentikan oleh badai apa pun. Sebaliknya, kita selalu maju dengan keberanian dan kepercayaan. Dan berkat Dialah, sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, begitu banyak “orang … yang menghormati umat kita, yang menghormati Gereja kita… kuat dalam melanjutkan hidup, keluarga, pekerjaan, dan iman mereka” (Katekese, 14 Mei 2014, 2).

 

Yesus mendekati kita. Ia tidak langsung menenangkan badai, tetapi datang kepada kita di tengah bahaya, dan mengajak kita, dalam suka dan duka, untuk tetap bersama-Nya, seperti para murid, di perahu yang sama. Ia mengajak kita bukan untuk menjauhkan diri dari mereka yang menderita, tetapi mendekati mereka, merangkul mereka. Tidak seorang pun boleh dibiarkan sendirian menghadapi kesulitan hidup. Karena alasan ini, setiap komunitas memiliki kewajiban untuk menciptakan dan mempertahankan struktur solidaritas dan saling membantu di mana, ketika menghadapi krisis –– baik sosial, politik, medis, maupun ekonomi –– setiap orang dapat memberi dan menerima bantuan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka masing-masing. Kata-kata Yesus, “Akulah Dia,” mengingatkan kita bahwa dalam masyarakat yang didirikan atas dasar penghormatan terhadap martabat manusia, kontribusi setiap orang dihargai penting dan unik, terlepas dari status atau posisi mereka di mata dunia.

 

Seruan “jangan takut,” kemudian, memiliki makna yang lebih luas, bahkan pada tingkat sosial dan politik, sebagai dorongan untuk menghadapi masalah dan tantangan –– khususnya yang berkaitan dengan kemiskinan dan keadilan –– bersama-sama, dengan rasa tanggung jawab sipil sebagai warga negara. Iman tidak memisahkan hal spiritual dari hal sosial. Bahkan, iman memberi umat kristiani kekuatan untuk berinteraksi dengan dunia, menanggapi kebutuhan orang lain, terutama yang paling lemah. Upaya individu yang tersendiri tidak cukup untuk keselamatan suatu komunitas: sebaliknya, yang dibutuhkan adalah komitmen komunal, yang memadukan dimensi spiritual dan moral injili sebagai landasan lembaga dan struktur lokal, menjadikannya sarana untuk kebaikan bersama, dan bukan tempat konflik, kepentingan pribadi, atau perjuangan yang sia-sia.

 

Bacaan Pertama hari ini (bdk. Kis. 6:1-7) berbicara tentang hal ini. Dalam perikop ini, kita melihat bagaimana Gereja menghadapi krisis pertamanya mengenai pertumbuhan. Peningkatan pesat jumlah murid (ayat 1) membawa tantangan baru bagi komunitas dalam menjalankan amal kasih, yang tidak lagi mampu dilakukan oleh para Rasul sendiri. Beberapa orang terabaikan dalam pembagian makanan, dan karena alasan ini keluhan semakin meningkat dan rasa ketidakadilan mengancam persatuan. Pelayanan sehari-hari kepada kaum miskin merupakan praktik penting dalam Gereja perdana, yang dimaksudkan untuk mendukung kaum yang paling lemah, khususnya para janda dan yatim piatu. Namun, pelayanan ini perlu diseimbangkan dengan kebutuhan mendesak lainnya, yaitu berkhotbah dan mengajar. Solusinya tidak sederhana. Para Rasul kemudian berkumpul dan berbagi kekhawatiran mereka, membahas masalah-masalah tersebut dalam terang ajaran Yesus. Mereka bersatu dalam doa untuk mengatasi rintangan dan kesalahpahaman yang pada pandangan pertama tampak tak teratasi. Dengan demikian, mereka memberi kehidupan pada sesuatu yang baru, memilih orang-orang yang “terkenal baik dan penuh dengan Roh dan hikmat” (ayat 3) dan menunjuk mereka, melalui penumpangan tangan, untuk melakukan pelayanan dengan perutusan rohani. Dengan mendengarkan suara Roh Kudus dan memperhatikan jeritan orang-orang yang menderita, mereka tidak hanya menghindari perpecahan di dalam komunitas, tetapi mereka juga melengkapinya dengan sarana-sarana baru yang sesuai dengan pertumbuhannya, mengubah momen krisis menjadi kesempatan untuk pengayaan dan pengembangan bagi semua orang.

 

Terkadang, kehidupan keluarga dan masyarakat membutuhkan keberanian untuk mengubah pola pikir dan struktur, agar martabat manusia selalu tetap menjadi fokus utama dan agar kesenjangan dan marginalisasi dapat diatasi. Lagipula, Allah yang menjadi manusia mengidentifikasi diri-Nya dengan yang paling hina, dan ini menjadikan perhatian khusus kepada kaum miskin sebagai bagian mendasar dari jati diri kristiani kita (bdk. Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 198; Seruan Apostolik Dilexi Te, 16-17).

 

Saudara-saudari, hari ini kita saling mengucapkan selamat tinggal. Masing-masing kembali ke pekerjaannya dan perahu Gereja terus berlayar menuju tujuan akhir, berkat rahmat Allah dan komitmen setiap orang. Marilah kita menjaga kenangan akan saat-saat indah yang telah kita alami bersama tetap hidup di dalam hati kita. Bahkan di tengah kesulitan, marilah kita terus memberi ruang bagi Yesus, membiarkan Dia menerangi dan memperbarui kita setiap hari melalui kehadiran-Nya. Gereja di Kamerun hidup, muda, diberkati dengan anugerah dan antusiasme, energik dalam keberagamannya dan sangat luar biasa dalam kerukunan. Dengan pertolongan Bunda Maria, Bunda kita, semoga kehadiranmu yang penuh sukacita terus berkembang. Dan semoga angin sakal, yang tidak pernah tidak ada dalam kehidupan, menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam pelayanan yang penuh sukacita kepada Allah dan saudara-saudari kita melalui berbagi, mendengarkan, berdoa, dan keinginan untuk bertumbuh bersama.

 

[Kata Penutup]

 

Saudara-saudari terkasih, perayaan ini menandai berakhirnya kunjungan saya ke Kamerun. Saya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Uskup Agung dan kepada semua gembala Gereja di negara ini.

 

Saya kembali menyampaikan apresiasi saya kepada Otoritas Sipil dan semua pihak yang telah membantu mempersiapkan dan menyelenggarakan perjalanan ini.

 

Terima kasih kepada semua orang, terutama kepada orang sakit, lansia, dan biarawati yang telah mendoakan mereka.

 

Umat ​​Allah yang tinggal dan berziarah di Kamerun, jangan takut! Tetaplah teguh bersatu dengan Kristus Tuhan kita! Dengan kuasa Roh-Nya, kamu mampu menjadi garam dan terang negeri ini! Terima kasih banyak.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)