Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU PASKAH IV DI LAPANGAN KOSSUTH LAJOS, BUDAPEST (HUNGARIA) 30 April 2023 : RUPA SANG GEMBALA YANG BAIK DAN DUA HAL ISTIMEWA YANG IA PERBUAT TERHADAP DOMBA-DOMBA-NYA

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:14a,36-41; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; 1Ptr. 2:20b-25; Yoh. 10:1-10.

 

Kata-kata terakhir Yesus dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengar merangkum makna perutusan-Nya : “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Itulah yang diperbuat oleh seorang gembala yang baik : ia memberikan nyawanya untuk domba-dombanya. Yesus, seperti seorang gembala yang pergi mencari kawanan dombanya, datang untuk menemukan kita saat kita tersesat. Seperti seorang gembala, Ia datang untuk merenggut kita dari kematian. Seperti seorang gembala yang mengenal masing-masing dombanya dan mengasihi mereka dengan kelembutan yang tak terbatas, Ia membawa kita kembali ke kandang domba Bapa dan menjadikan kita anak-anak-Nya.

 

Maka, marilah kita renungkan rupa Sang Gembala yang baik dan dua hal istimewa yang, menurut Bacaan Injil, Ia perbuat terhadap domba-domba-Nya. Ia memanggil mereka masing-masing menurut namanya, dan kemudian Ia menuntunnya keluar.

 

Pertama, “Ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya” (ayat 3). Sejarah keselamatan tidak dimulai dari kita, dengan jasa, kemampuan dan tatanan kita. Sejarah keselamatan dimulai dengan panggilan Allah, dengan keinginan-Nya untuk datang kepada kita, dengan kepedulian-Nya terhadap kita masing-masing, dengan limpahan kerahiman-Nya. Tuhan ingin menyelamatkan kita dari dosa dan kematian, memberi kita hidup yang berkelimpahan dan sukacita tanpa akhir. Yesus datang sebagai Gembala yang baik umat manusia, memanggil kita dan membawa kita pulang. Dengan rasa syukur, kita semua bisa mengingat kembali kasih yang Ia tunjukkan saat kita mengembara jauh dari-Nya. Ketika kita, seperti domba-domba, telah “tersesat” dan kita masing-masing “mengambil jalannya sendiri” (Yes 53:6). Yesus menanggung kesalahan dan dosa kita, menuntun kita kembali ke hati Bapa. Inilah yang kita dengar dari Rasul Petrus dalam Bacaan Kedua hari ini : “Dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu" (1Ptr 2:25). Hari ini juga, Yesus memanggil kita, dalam setiap situasi, di setiap saat ketika kita merasa bingung dan takut, kewalahan dan terbebani oleh kesedihan dan mengasihani diri sendiri. Ia datang kepada kita sebagai Gembala yang baik, Ia memanggil kita menurut nama dan memberitahu kita alangkah berharganya kita di mata-Nya. Ia menyembuhkan luka-luka kita, menanggung kelemahan kita dan mengumpulkan kita ke dalam kesatuan kawanan domba-Nya, sebagai anak-anak Bapa dan saudara-saudari satu sama lain.

 

Maka, saudara-saudari, pagi ini, di tempat ini, kita merasakan sukacita menjadi umat Allah yang kudus. Kita semua lahir dari panggilannya. Ia memanggil kita bersama-sama, sehingga kita menjadi umat-Nya, kawanan domba-Nya, Gereja-Nya. Meskipun kita beragam dan berasal dari komunitas yang berbeda, Tuhan telah mempersatukan kita, sehingga kasih-Nya yang besar dapat mendekap kita dalam satu pelukan. Ada baiknya kita bersama-sama : para uskup dan para imam, kaum religius dan kaum awam. Dan sungguh indah membagikan sukacita kita ini dengan para delegasi ekumenis, para pemimpin komunitas Yahudi, perwakilan lembaga sipil dan perwakilan diplomatik. Inilah arti kekatolikan : kita semua, yang dipanggil menurut nama oleh Sang Gembala yang baik, dipanggil untuk menerima dan menyebarkan kasih-Nya, menjadikan kandang domba-Nya menyertakan dan tidak pernah mengecualikan siapapun. Oleh karena itu, kita semua dipanggil untuk membina hubungan persaudaraan dan kerjasama, menghindari perpecahan, tidak menarik diri ke dalam komunitas kita, tidak semata peduli menjaga wilayah pribadi kita, melainkan membuka hati kita untuk saling mengasihi.

 

Setelah memanggil domba-domba-Nya, Sang Gembala “menuntunnya keluar” (Yoh 10:3). Pertama, Ia membawa mereka ke kandang, memanggil mereka masing-masing menurut namanya; sekarang Ia mengutus mereka keluar. Kita juga pertama-tama dikumpulkan ke dalam keluarga Allah untuk menjadi umat-Nya; kemudian kita juga diutus ke dunia agar, dengan berani dan tanpa rasa takut, kita dapat menjadi pewarta Kabar Baik, saksi cinta yang telah memberi kita kelahiran baru. Kita dapat menghargai proses “masuk” dan “keluar” ini dari gambaran lain yang dipergunakan Yesus. Ia berkata, “Akulah pintu. Siapa yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput” (ayat 9). Marilah kita dengarkan lagi kata-kata itu: “ia akan masuk dan keluar”. Di satu sisi, Yesus adalah pintu yang terbuka lebar yang memampukan kita untuk masuk ke dalam persekutuan Bapa dan mengalami kerahiman-Nya. Namun, sebagaimana diketahui kita semua, pintu terbuka tidak hanya untuk masuk, tetapi juga untuk keluar. Setelah membawa kita kembali ke pelukan Allah dan ke dalam Gereja, Yesus adalah pintu yang membawa kita kembali ke dunia. Ia mendesak kita untuk pergi menemui saudara dan saudari kita. Jangan pernah lupa bahwa kita semua, tanpa kecuali, dipanggil untuk ini; kita dipanggil untuk keluar dari zona nyaman kita dan menemukan keberanian untuk menjangkau seluruh pinggiran yang memerlukan terang Injil (bdk. Evangelii Gaudium, 20).

 

Saudara-saudari, “keluar” berarti kita, seperti Yesus, harus membuka pintu. Alangkah menyedihkan dan menyakitkan melihat pintu yang tertutup. Pintu tertutup keegoisan kita terhadap sesama kita; pintu tertutup individualisme kita di tengah masyarakat yang semakin terasing; pintu tertutup ketidakpedulian kita terhadap orang yang kurang mampu dan orang yang menderita; pintu yang kita tutup terhadap orang asing atau orang yang tidak seperti kita, terhadap pendatang atau kaum miskin. Pintu tertutup juga di dalam komunitas gerejawi kita : pintu tertutup bagi sesamakita, tertutup bagi dunia, tertutup bagi orang yang “tidak karuan”, tertutup bagi orang yang merindukan pengampunan Allah. Tolong, saudara-saudari, marilah kita membuka pintu! Marilah kita berusaha – dalam perkataan, perbuatan, dan kegiatan sehari-hari – seperti Yesus, menjadi sebuah pintu yang terbuka : sebuah pintu yang tidak pernah tertutup di hadapan siapa pun, sebuah pintu yang memampukan setiap orang untuk masuk dan mengalami keindahan kasih dan pengampunan Tuhan.

 

Saya ulangi hal ini terutama untuk diri saya sendiri dan saudara saya para uskup dan para imam : bagi kita para gembala. Yesus memberitahu kita bahwa gembala yang baik bukanlah perampok atau pencuri (bdk. Yoh 10:8). Dengan kata lain, ia tidak memanfaatkan perannya; ia tidak memerintah atas kawanan domba yang dipercayakan kepadanya; ia tidak menempati ruang milik kaum awam saudara dan saudarinya; ia tidak menjalankan kewenangan yang tidak lentur. Saudara-saudara, marilah kita saling mendorong untuk semakin membuka pintu : “fasilitator” rahmat Allah, sang empunya kedekatan; marilah kita siap mempersembahkan hidup kita, sama seperti Kristus, Tuhan kita dan segalanya kita, mengajar kita dengan tangan terentang dari takhta salib dan setiap hari menunjukkan kita sebagai Roti hidup yang dipecah-pecahkan bagi kita di altar. Saya mengatakan hal ini juga kepada kaum awam saudara dan saudari kita, kepada para katekis dan para pekerja pastoral, kepada orang-orang yang memiliki tanggung jawab politik dan sosial, dan kepada orang-orang yang menjalani kehidupan sehari-hari mereka, yang terkadang tidak mudah. Jadilah pintu terbuka! Perkenankanlah Tuhan sang empunya kehidupan memasuki hati kita, dengan kata-kata penghiburan dan penyembuhan-Nya, sehingga kita kemudian dapat keluar sebagai pintu terbuka di dalam masyarakat. Bersikaplah terbuka dan menyertakan, dengan demikian, dan dengan cara ini, tolonglah Hungaria bertumbuh dalam persaudaraan, yang merupakan jalan perdamaian.

 

Saudara-saudari terkasih, Yesus Sang Gembala yang baik memanggil kita menurut nama dan memperhatikan kita dengan kasih yang lembut tak terhingga. Ia adalah pintu, dan semua yang masuk melalui Dia memiliki kehidupan yang kekal. Ia adalah masa depan kita, masa depan “kehidupan yang berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Janganlah pernah kita berputus asa. Janganlah kita pernah direnggut dari sukacita dan kedamaian yang telah Ia berikan kepada kita. Janganlah kita pernah menarik diri ke dalam masalah kita atau berpaling dari sesama kita dengan sikap acuh tak acuh. Semoga Sang Gembala yang baik selalu menyertai kita : bersama-Nya, kehidupan kita, keluarga kita, komunitas Kristiani kita dan seluruh Hungaria akan berkembang dengan kehidupan yang baru dan berlimpah-limpah!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 30 April 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA MALAM PASKAH 8 April 2023 : MARILAH KITA KEMBALI KE GALILEA

Bacaan Ekaristi : Kej. 1:1-2:2; Mzm. 104:1-2a,5-6,10,12,13-14,24,35c atau Mzm. 33:4-5,6-7,12-13,20,22; Kej. 22:1-18; Mzm. 16:5,8,9-10,11; Kel. 14:15 - 15:1; MT Kel. 15:1-2,3-4,5-6,17-18; Yes. 54:5-14; Mzm. 30:2,4,5-6,11,12a,13b; Yes. 55:1-11; MT Yes. 12:2-3,4bcd,5-6; Bar. 3:9-15,32 - 4:4; Mzm. 19:8,9,10,11; Yeh. 36:16-17a,18-28; Mzm. 42:3,5bcd; 43:3,4 (kalau ada pembaptisan MT Yes. 12:2-3,4bcd,5-6 atau Mzm. 51:12-13,14-15,18-19); Rm. 6:3-11; Mzm. 118:1-2,16ab-17,22-23; Mat. 28:1-10.

 

Malam berangsur sirna dan cahaya pertama fajar muncul di cakrawala saat para perempuan berangkat menuju kubur Yesus. Mereka berjalan maju, bingung dan cemas, hati mereka diliputi kesedihan atas kematian yang merenggut Orang yang mereka kasihi. Tetapi setelah tiba dan melihat kubur yang kosong, mereka berputar dan menelusuri kembali langkah mereka. Mereka meninggalkan kubur dan lari kepada murid-murid untuk memberitahukan perubahan haluan : Yesus telah bangkit dan menunggu mereka di Galilea. Dalam hidup mereka, para perempuan itu mengalami Paskah sebagai Pesah, sebuah pelintasan. Mereka beralih dari berjalan dengan sedih menuju kubur menjadi berlari kembali dengan penuh sukacita kepada para murid untuk memberitahu mereka tidak hanya bahwa Tuhan telah bangkit, tetapi juga bahwa mereka harus segera berangkat untuk mencapai suatu tujuan, Galilea. Di sana mereka akan bertemu dengan Tuhan yang bangkit; di sanalah kebangkitan akan menuntun mereka. Kelahiran kembali para murid, kebangkitan hati mereka, melintasi Galilea. Marilah kita memasuki perjalanan para murid dari kubur menuju Galilea.

 

Bacaan Injil memberitahu kita bahwa para perempuan pergi “untuk menengok kubur” (Mat 28:1). Mereka berpikir bahwa mereka akan menemukan Yesus di tempat kematian dan segalanya sudah berakhir, selamanya. Kadang-kadang kita juga mungkin berpikir bahwa sukacita perjumpaan kita dengan Yesus adalah sesuatu yang berasal dari masa lalu, sedangkan saat ini sebagian besar terdiri dari kubur yang tersegel : kubur kekecewaan, kepahitan, dan kubur ketidakpercayaan, kubur kecemasan karena berpikir bahwa “tidak ada lagi yang bisa dilakukan”, “hal-hal tidak akan pernah berubah”, “lebih baik hidup untuk hari ini”, karena “tidak ada kepastian tentang hari esok”. Jika kita menjadi mangsa dukacita, dibebani oleh kesedihan, direndahkan oleh dosa, sakit hati oleh kegagalan, atau terganggu oleh beberapa masalah, kita juga maklum dengan rasa pahit keletihan dan tidak adanya sukacita.

 

Kadang-kadang, kita mungkin merasa letih dengan rutinitas sehari-hari, letih mengambil risiko di dunia yang dingin dan keras di mana hanya orang pandai dan kuat yang tampak maju. Di lain waktu, kita mungkin merasa tidak berdaya dan putus asa di hadapan kekuatan jahat, perselisihan yang menghancurkan hubungan, sikap perhitungan dan ketidakpedulian yang tampaknya merajalela dalam masyarakat, kanker korupsi - ada begitu banyak - penyebaran ketidakadilan, angin dingin peperangan. Kemudian juga, kita mungkin berhadapan muka dengan kematian, karena kematian itu merampas kehadiran orang-orang yang kita kasihi atau karena kita menghadapinya dalam keadaan sakit atau kemerosotan yang serius. Maka mudah menyerah pada kekecewaan, segera sesudah mata air harapan mengering. Dalam situasi ini atau situasi serupa - kita masing-masing tahu jalan kita - jalan kita terhenti di depan deretan kubur, dan kita berdiri di sana, dipenuhi dengan kesedihan dan penyesalan, sendirian dan tidak berdaya, mengulangi pertanyaan, "Mengapa?" Rantai "mengapa" itu. Namun, para perempuan pada Paskah tidak berdiri membeku di depan kubur; sebaliknya, Bacaan Injil memberitahu kita, “Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus” (ayat 8). Mereka membawa berita yang akan mengubah hidup dan sejarah selamanya: Kristus telah bangkit! (ayat 6). Pada saat yang sama, mereka ingat untuk menyampaikan panggilan Tuhan kepada para murid untuk pergi ke Galilea, karena di sana mereka akan melihat Dia (bdk. ayat 7). Saudara-saudari, apa artinya pergi ke Galilea? Dua hal : di satu pihak, meninggalkan ketertutupan Ruang Atas dan pergi ke negeri bangsa-bangsa lain (bdk. Mat 4:15), keluar dari persembunyian dan membuka diri untuk perutusan, meninggalkan rasa takut dan berangkat untuk masa depan. Di sisi lain – dan ini sangat baik – kembali ke asal-usul, karena justru di Galilea segalanya dimulai. Di sana Tuhan bertemu dan pertama kali memanggil para murid. Jadi, pergi ke Galilea berarti kembali ke rahmat permulaan, mendapatkan kembali ingatan yang menghidupkan kembali harapan, "kenangan akan masa depan" yang dianugerahkan kepada kita oleh Yesus yang bangkit.

 

Maka, inilah yang dilaksanakan Paskah Tuhan : Paskah Tuhan memotivasi kita untuk bergerak maju, meninggalkan rasa kekalahan kita, menggulingkan batu kubur di mana kita sering memenjarakan harapan kita, dan dengan percaya diri melihat masa depan, karena Kristus telah bangkit dan telah mengubah haluan sejarah. Tetapi, untuk melakukan hal ini, Paskah Tuhan membawa kita kembali ke masa lalu kita; Paskah Tuhan membawa kita kembali ke Galilea, tempat kisah cinta kita dengan Yesus dimulai, tempat panggilan pertama kita. Dengan kata lain, Paskah Tuhan meminta kita untuk menghidupkan kembali saat tersebut, situasi tersebut, pengalaman di mana kita bertemu Tuhan, mengalami kasih-Nya, dan menerima cara baru yang bersinar untuk melihat diri kita, dunia di sekitar kita, dan misteri kehidupan itu sendiri. Untuk bangkit kembali, memulai kembali, memulai perjalanan, kita selalu perlu kembali ke Galilea, yaitu, berjalan pulang, bukan kepada Yesus yang abstrak atau ideal, tetapi kepada ingatan perjumpaan pertama kita dengan-Nya yang hidup, nyata, dan gamblang. Ya, saudara-saudari, untuk maju kita perlu mundur, mengingat; untuk memiliki harapan, kita perlu menghidupkan kembali ingatan kita. Inilah yang diminta untuk kita lakukan : mengingat dan berjalan maju! Jika kamu memulihkan cinta pertama itu, keajaiban dan sukacita perjumpaanmu dengan Allah, kamu akan terus maju. Jadi ingatlah, dan teruslah bergerak maju. Ingatlah, dan teruslah bergerak maju.

 

Ingatlah Galileamu dan berjalanlah ke sana, karena itu adalah "tempat" di mana kamu mengenal Yesus secara pribadi, di mana Ia tidak lagi sekadar sosok lain masa lalu yang jauh, tetapi pribadi yang hidup : bukan Allah yang jauh tetapi Allah yang ada di sampingmu, yang melebihi siapapun mengenal dan mengasihimu. Saudara-saudariku, ingatlah Galilea, Galileamu, dan panggilanmu. Ingat Sabda Allah yang pada saat yang tepat berbicara langsung kepadamu. Ingatlah pengalaman Roh yang penuh kuasa itu; sukacita pengampunan yang besar yang dialami setelah pengakuan kita itu; saat doa yang intens dan tak terlupakan itu; cahaya yang menyala di dalam dirimu dan mengubah hidupmu; perjumpaan itu, peziarahan itu. ... Kita masing-masing mengetahui tempat kebangkitan batin kita, permulaan dan landasan itu, tempat di mana segala sesuatunya berubah. Kita tidak bisa meninggalkan hal ini di masa lalu; Tuhan yang bangkit mengundang kita kembali ke sana untuk merayakan Paskah. Ingatlah Galileamu, ingatlah.

Hari ini, hidupkanlah kembali ingatan itu. Kembali ke perjumpaan pertama itu. Pikirkanlah kembali seperti apa, serta reka ulanglah konteks, waktu, dan tempat. Ingatlah perasaan dan sensasi; lihatlah warnanya dan nikmatilah rasanya. Karena, kamu tahu, saat kamu melupakan cinta pertama itu ketika kamu gagal mengingat perjumpaan pertama itu, debu mulai mengendap di hatimu. Saat itulah kamu mengalami kesedihan dan, seperti para murid, kamu melihat masa depan kosong, seperti kubur dengan batu yang menutup seluruh harapan. Tetapi hari ini, saudara-saudari, daya Paskah memanggilmu untuk menyingkirkan setiap batu kekecewaan dan ketidakpercayaan. Tuhan adalah pakar dalam menggulingkan batu dosa dan ketakutan. Ia ingin menerangi ingatanmu yang kudus, ingatanmu yang paling indah, dan membuatmu menghidupkan kembali perjumpaan pertamamu dengan-Nya. Ingatlah dan teruslah bergerak maju. Kembalilah kepada-Nya dan temukanlah kembali rahmat kebangkitan Tuhan di dalam dirimu. Kembalilah ke Galilea, kembalilah ke Galileamu.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita mengikuti Yesus ke Galilea, berjumpa dengan-Nya, dan menyembah-Nya di sana, tempat Ia menunggu kita masing-masing. Marilah kita menghidupkan kembali keindahan saat itu ketika kita menyadari bahwa Ia hidup dan kita menjadikannya Tuhan atas hidup kita. Marilah kita kembali ke Galilea, ke Galilea cinta pertama. Marilah kita masing-masing kembali ke Galilea kita, ke tempat pertama kali kita berjumpa dengan-Nya. Marilah kita bangkit untuk hidup baru!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 April 2023)

KHOTBAH RANIERO KARDINAL CANTALAMESSA, OFMCAP DALAM IBADAT JUMAT AGUNG DI BASILIKA SANTO PETRUS VATIKAN 7 April 2023 : "WAFAT-MU, TUHAN, KAMI WARTAKAN!"

Selama dua ribu tahun, Gereja telah mewartakan dan merayakan, pada hari ini, wafat Sang Putra Allah di kayu salib. Dalam setiap Misa, setelah konsekrasi, kita mengucapkan atau melantunkan: "Wafat-Mu, Tuhan, kami wartakan, kebangkitan-Mu kami muliakan, hingga Engkau datang".

 

Namun “wafat Allah” lainnya telah diwartakan selama satu setengah abad di dunia Barat kita yang tidak lagi Kristiani. Ketika, di antara kaum terpelajar, kita berbicara tentang "wafat Allah", wafat Allah yang lain ini - secara ideologis dan bukan secara historis - yang dimaksudkan. Untuk mengikuti perkembangan zaman, beberapa teolog bergegas membangun teologi di sekitarnya : “Teologi wafat Allah".

 

Kita tidak bisa berpura-pura mengabaikan keberadaan narasi yang berbeda ini, tanpa menimbulkan kecurigaan banyak orang beriman. Wafat Tuhan yang berbeda ini telah menemukan ungkapannya yang paling penuh dalam pemberitaan terkenal yang dimasukkan Nietzsche ke dalam mulut "orang gila" yang tiba di kota dengan terengah-engah : "'Di manakah Allah?'", ia berseru; "'Aku akan memberitahumu. Kita telah membunuhnya - kamu dan aku... Tidak pernah ada perbuatan yang lebih besar; dan siapa pun yang lahir setelah kita - demi perbuatan ini, ia akan menjadi bagian dari sejarah yang lebih besar dari seluruh sejarah hingga kini'".

 

Dengan nalar kata-kata ini (dan, saya percaya, dengan harapan penulis) sejarah tidak lagi dibagi menjadi sebelum Kristus dan sesudah Kristus, melainkan menjadi sebelum Nietzsche dan sesudah Nietzsche. Rupanya, bukan tidak ada yang menggantikan Allah, justru manusia, dan lebih tepatnya "manusia unggul", atau "manusia yang jauh melampaui". Manusia baru ini sekarang harus berseru - dengan perasaan puas dan bangga, serta bukan lagi belas kasihan - : "Ecce homo!" - Inilah manusia sejati! Tetapi, tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa, jika dibiarkan sendirian, manusia memang bukan apa-apa.

 

"Apa yang kita lakukan ketika kita melepaskan bumi ini dari mataharinya? Ke mana ia bergerak sekarang? Ke mana kita bergerak? Jauh dari seluruh matahari? Apakah kita tidak terus-menerus terjun? Mundur, ke samping, ke depan, ke segala arah? Apakah masih ada naik atau turun? Apakah kita tidak tersesat seperti melalui ketiadaan yang tak terbatas?"

 

Jawaban yang meyakinkan, tersirat, dari "orang gila" terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu ini adalah : "Tidak, karena manusia akan melaksanakan tugas Allah hingga saat ini". Sebaliknya, jawaban kita sebagai orang percaya adalah : “Ya, dan itulah yang terjadi dan sedang terjadi” – mengembara seolah-olah melalui ketiadaan yang tak terbatas! Sangatlah penting bahwa, tepat setelah pemikiran Nietzsche, beberapa orang telah mendefinisikan keberadaan manusia sebagai "makhluk untuk kematian" dan menganggap seluruh kemungkinan manusiawi yang dianggap benar sebagai "ketidaksahan sejak awal".

 

"Melampaui allah dan kejahatan," adalah seruan perang lainnya dari sang penulis. Di luar allah dan kejahatan, bagaimanapun, hanya ada "keinginan untuk berkuasa", dan kita secara dramatis kembali menyaksikan ke mana arahnya ...

 

Bukan hak kita untuk menilai hati seseorang yang hanya diketahui Allah. Bahkan penulis pemberitaan itu memiliki andil dalam penderitaan hidupnya, dan penderitaan mempersatukan kepada Kristus mungkin lebih dari sekadar cacian yang terpisah daripada-Nya. Doa Yesus di kayu salib : “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34), tidak hanya diucapkan mereka yang hadir di Kalvari hari itu!

 

Sebuah gambaran yang kadang-kadang saya amati secara langsung muncul di benak saya (yang saya harapkan telah menjadi kenyataan, tetapi sebenarnya, bagi penulis pemberitaan itu!) : seorang anak yang marah berusaha meninju dan mencakar wajah ayahnya dengan tinjunya, sampai, kelelahan, ia jatuh menangis ke dalam pelukan ayahnya yang menenangkan dan mendekapnya.

 

Janganlah kita menilai, saya ulangi, orang yang hanya dikenal Allah. Akibatnya, bagaimanapun, pewartaannya itu telah kita dapat dan harus nilai. Pewartaannya itu telah ditolak dengan cara dan nama yang paling beragam, hingga menjadi mode dan suasana yang menguasai lingkaran intelektual dunia Barat "pascamodern". Penyebut yang sama adalah relativisme total di setiap bidang - etika, bahasa, filsafat, seni, dan, tentu saja, agama. Tidak ada lagi yang berbentuk padat; semuanya berbentuk cair, atau bahkan menguap. Pada masa Romantisisme, orang biasanya tenggelam dalam kemurungan, kini dalam nihilisme!


Sebagai orang beriman, kita bertugas untuk menunjukkan apa yang ada di balik, atau di bawah, pewartaan itu, yaitu kedipan api kuno, letusan gunung berapi yang tiba-tiba yang tidak pernah padam sejak awal dunia. Drama manusia juga memiliki "prolog di surga", dalam "semangat penyangkalan" yang tidak menerima keberadaan dalam rahmat orang lain. Sejak itu, Ia merekrut pendukung perjuangannya, Adam dan Hawa yang naif menjadi korban pertamanya. Kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej 3:5)..

 

Bagi manusia modern semua ini hanyalah mitos etiologis untuk menjelaskan kejahatan di dunia. Dan – dalam arti positif yang diberikan pada mitos hari ini – begitulah adanya! Tetapi sejarah, sastra, dan pengalaman pribadi kita memberitahu kita bahwa di balik "mitos" ini, ada kebenaran transenden yang tidak dapat disampaikan oleh catatan sejarah atau penalaran filosofis apa pun kepada kita.

 

Allah tahu betapa angkuhnya kita dan datang membantu kita dengan mengosongkan diri-Nya di hadapan kita. Kristus Yesus, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Flp 2:6-8).

"Allah? Kita membunuh-Nya : kamu dan aku!”, teriak "orang gila" tersebut. Hal yang mengerikan ini, sebenarnya, pernah disadari sekali dalam sejarah manusia, tetapi dalam pengertian yang sangat berbeda. Karena memang benar, saudara-saudari : Kitalah – kamu dan aku yang telah membunuh Yesus dari Nazaret! Ia wafat untuk dosa kita dan dosa seluruh dunia (1Yoh 2:2)! Kebangkitan Kristus dari antara orang mati meyakinkan kita, bagaimanapun, bahwa jika kita bertobat, jalan ini tidak mengarah pada kekalahan, tetapi pada "titik tertinggi kehidupan" yang dicari dengan sia-sia di tempat lain.

 

Mengapa kita membicarakan semua ini selama liturgi Jumat Agung? Bukan untuk meyakinkan kaum ateis bahwa Allah tidak wafat. Orang yang paling terkenal di antara mereka menemukannya pada diri mereka sendiri, pada saat mereka menutup mata terhadap cahaya - lebih baik, menuju kegelapan - dunia ini. Adapun mereka yang masih hidup di antara kita, diperlukan cara selain kata-kata seorang pengkhotbah tua untuk meyakinkan mereka. Berarti Tuhan tidak akan gagal mengabulkan mereka yang memiliki hati yang terbuka terhadap kebenaran, yang kepada mereka kita akan memohonkan pengantaraan dalam doa semesta berikut.

 

Tidak, tujuan sebenarnya adalah hal lain; tujuannya adalah untuk menjaga orang percaya – siapa tahu, bahkan mungkin hanya satu atau dua mahasiswa – dari tarikan ke dalam pusaran nihilisme yang merupakan “lubang hitam” sejati yang merupakan alam semesta rohani. Tujuannya agar peringatan Dante Alighieri kembali bergema di antara kita : Umat ​​Kristiani, jadilah semakin sungguh-sungguh dalam sikapmu; janganlah kamu seperti bulu di setiap angin, dan berpikir tidak setiap air membasuhmu.

 

Oleh karena itu, marilah kita terus mengulangi, dengan rasa syukur yang tulus dan semakin yakin dari sebelumnya, kata-kata yang kita wartakan dalam setiap Misa : Wafat-Mu, Tuhan, kami wartakan, kebangkitan-Mu kami muliakan, hingga Engkau datang.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 April 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA KRISMA 6 April 2023 : DUA PENGURAPAN ROH KUDUS

Bacaan Ekaristi : Yes. 61:1-3a,6a,8b-9; Mzm. 89:21-22,25,27; Why. 1:5-8; Luk. 4:16-21.

 

“Roh Tuhan ada pada-Ku” (Luk 4:18). Yesus memulai khotbah-Nya dengan ayat ini, yang juga mengawali Bacaan Pertama hari ini (bdk. Yes 61:1). Jadi, pada mulanya Roh Tuhan hadir.

 

Saudara-saudara terkasih dalam jenjang imamat, hari ini saya ingin merenungkan bersamamu tentang Roh Kudus. Karena tanpa Roh Tuhan, tidak akan ada kehidupan Kristiani; tanpa pengurapan-Nya, tidak akan ada kekudusan. Ia pusatnya dan selayaknya hari ini, pada hari ulang tahun imamat, kita mengakui kehadiran-Nya pada asal mula pelayanan kita, serta asal mula kehidupan dan daya hidup setiap imam. Gereja Bunda yang kudus mengajarkan kita untuk mengakui bahwa Roh Kudus adalah “pemberi kehidupan”.[1] Yesus memberitahu kita : “Rohlah yang memberi hidup” (Yoh 6:63). Ajaran-Nya diambil oleh rasul Paulus, yang menulis bahwa “hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2 Kor 3:6) dan berbicara tentang “hukum Roh kehidupan dalam Kristus Yesus” (Rm 8:2). Tanpa Roh Kudus, Gereja tidak akan menjadi Mempelai Kristus yang hidup, tetapi, setidaknya, sebuah perkumpulan keagamaan. Bukan Tubuh Kristus, tetapi bait suci yang dibangun oleh tangan manusia. Lalu bagaimana kita membangun Gereja, jika tidak dimulai dengan kenyataan bahwa kita adalah “bait Roh Kudus” yang “diam di dalam kita” (bdk. 1 Kor 6:19; 3:16)? Kita tidak dapat mengunci Roh di luar rumah, atau memarkirnya di dalam beberapa zona devosional. Setiap hari kita perlu mengatakan : “Datanglah, karena tanpa kekuatan-Mu, kami tersesat”.[2]

 

Roh Tuhan ada padaku. Kita masing-masing dapat mengatakan ini, bukan karena anggapan, tetapi sebagai kenyataan. Segenap umat Kristiani, dan para imam khususnya, dapat menerapkan pada diri mereka sendiri kata-kata berikut : "Oleh karena TUHAN telah mengurapi aku" (Yes 61:1). Saudara-saudara terkasih, terlepas dari segala jasa kita, dan dengan rahmat semata, kita telah menerima pengurapan yang menjadikan kita bapa dan gembala di antara Umat Allah yang kudus. Maka, marilah kita renungkan aspek Roh ini : pengurapan-Nya.

 

Setelah pengurapan awal-Nya, yang terjadi di dalam rahim Maria, Roh Kudus turun ke atas Yesus di sungai Yordan. Setelah itu, seperti dijelaskan oleh Santo Basilius, “setiap tindakan [Kristus] dilakukan dengan kehadiran bersama Roh Kudus”.[3] Dalam kuasa pengurapan yang terakhir itu, Yesus berkhotbah dan mengerjakan tanda-tanda; berkat pengurapan itu, “ada kuasa yang keluar daripada-Nya dan semua orang disembuhkan-Nya” (Luk 6:19). Yesus dan Roh Kudus selalu bekerja sama, bagaikan dua tangan Bapa[4] yang menjangkau untuk merangkul dan mengangkat kita. Dengan tangan itu, tangan kita sendiri dimeteraikan, diurapi oleh Roh Kristus. Ya, saudara-saudaraku, Tuhan tidak hanya memilih kita dan memanggil kita : Ia telah mencurahkan ke atas diri kita pengurapan Roh Kudus, Roh Kudus juga turun ke atas para rasul.

 

Sekarang marilah kita mengalihkan perhatian kita kepada mereka, kepada para rasul. Yesus memilih mereka dan atas panggilan-Nya, mereka meninggalkan perahu, jala, dan rumah mereka. Pengurapan Sabda mengubah hidup mereka. Dengan sangat antusias, mereka mengikuti Sang Guru dan mulai berkhotbah, yakin bahwa mereka akan terus mencapai hal-hal yang lebih besar. Kemudian datanglah Paskah. Semuanya tampak terhenti: mereka bahkan menyangkal dan meninggalkan Guru mereka. Mereka menyadari kegagalan mereka; mereka menyadari bahwa mereka tidak memahami-Nya. Kata-kata yang diucapkan Petrus di halaman imam besar setelah Perjamuan Terakhir - "Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!" (Mrk 14:71) - bukan hanya upaya seturut kata hati untuk membela diri, tetapi pengakuan ketidaktahuan rohani. Ia dan murid-murid yang lain mungkin mengharapkan kehidupan kemenangan di balik Mesias yang menarik banyak orang dan melakukan berbagai mukjizat, tetapi mereka gagal memahami skandal salib, yang menyebabkan kepastian mereka runtuh. Yesus tahu bahwa, dengan sendirinya, mereka tidak akan berhasil, jadi Ia berjanji untuk mengutus Sang Penolong kepada mereka. Tepatnya “pengurapan kedua”, pada hari Pentakosta, yang mengubah para murid dan menuntun mereka untuk tidak lagi menggembalakan diri mereka sendiri tetapi menggembalakan kawanan domba Tuhan. Pengurapan dengan api itulah yang memadamkan "kesalehan" yang berfokus pada diri dan kemampuan mereka sendiri. Setelah menerima Roh Kudus, ketakutan dan kebimbangan Petrus sirna; Yakobus dan Yohanes, dengan hasrat membara untuk memberikan hidup mereka, tidak lagi mencari tempat terhormat (bdk. Mrk 10:35-45); murid-murid lain yang meringkuk ketakutan di Ruang Atas, pergi ke dunia sebagai rasul.

 

Saudara-saudara terkasih, hal serupa terjadi dalam kehidupan imamat dan kerasulan kita. Kita juga mengalami pengurapan awal, yang dimulai dengan panggilan penuh kasih yang memikat hati kita dan membawa kita dalam perjalanan; kuasa Roh Kudus turun ke atas antusiasme kita yang tulus dan menguduskan kita. Kemudian, pada saat Allah yang baik, kita masing-masing mengalami Paskah, yang melambangkan momen kebenaran. Masa krisis mengambil berbagai bentuk. Cepat atau lambat, kita semua mengalami kekecewaan, frustrasi, dan kelemahan; cita-cita kita tampaknya surut di hadapan kenyataan tersebut, kekuatan kebiasaan tertentu mengambil alih, dan kesulitan yang dulunya tampak tak terbayangkan tampaknya menantang kesetiaan kita. Bagi kaum terurapi, tahapan ini adalah daerah aliran sungai. Kita bisa keluar daripadanya dengan buruk, hanyut ke arah biasa-biasa saja dan memilih rutinitas yang suram, di mana tiga godaan berbahaya bisa muncul. Godaan kompromi, di mana kita puas hanya dengan melakukan apa yang seharusnya dilakukan; godaan pengganti, di mana untuk menemukan kepuasan kita tidak melihat pengurapan kita, tetapi di tempat lain; dan godaan keputusasaan, di mana ketidakpuasan menyebabkan kelambanan. Ini adalah bahaya besar : seraya penampilan lahiriah tetap utuh, kita menutup diri dan puas hanya dengan bertahan. Keharuman pengurapan kita tidak lagi tercium dalam hidup kita; hati kita tidak lagi mengembang tetapi mengerut, kecewa dan tidak terpesona.

 

Namun krisis ini juga berpotensi menjadi titik balik dalam keimamatan kita, “tahap kehidupan rohani yang menentukan, di mana pilihan terakhir harus dibuat antara Yesus dan dunia, antara amal heroik dan biasa-biasa saja, antara salib dan kenyamanan, antara kekudusan dan ketaatan pada kewajiban agama kita”.[5] Momen yang dipenuhi rahmat ketika, seperti para murid pada Paskah, kita dipanggil untuk “dengan cukup rendah hati mengakui bahwa kita telah dimenangkan oleh Kristus yang menderita dan disalibkan, serta memulai perjalanan baru, yaitu perjalanan Kristus. Roh Kudus, iman dan cinta yang kuat, namun tanpa khayalan”.[6] Saat yang tepat menyadarkan kita bahwa “tidaklah cukup meninggalkan perahu dan jala untuk mengikuti Yesus selama waktu tertentu; saat yang tepat juga menuntut pergi ke Kalvari, mempelajari pelajarannya dan menerima buahnya, serta bertekun dengan pertolongan Roh Kudus sampai akhir hidup yang dimaksudkan untuk diakhiri dalam kesempurnaan kasih ilahi”.[7] Dengan pertolongan Roh Kudus : bagi kita seperti bagi para rasul, ini adalah waktu “pengurapan kedua”, di mana Roh Kudus dicurahkan tidak lagi pada antusiasme harapan dan impian kita, tetapi pada kebebasan situasi nyata kita. Pengurapan yang menembus ke kedalaman kenyataan kita, di mana Roh Kudus mengurapi kelemahan, keletihan dan kemiskinan batin kita. Pengurapan yang membawa keharuman baru : pengurapan Roh Kudus, bukan pengurapan diri kita.

 

Hal ini terjadi ketika kita mengakui kenyataan kelemahan kita. Itulah yang “dikatakan oleh Roh kebenaran (Yoh 16:13) kepada kita untuk dilakukan; Ia mendorong kita untuk melihat jauh ke dalam dan bertanya : Apakah pemenuhanku bergantung pada kemampuanku, posisiku, pujian yang kuterima, promosiku, rasa hormat dari atasan atau rekan kerjaku, kenyamanan yang mengelilingi diriku? Atau pengurapan yang menyebarkan keharumannya di mana-mana dalam hidupku? Saudara-saudara terkasih, kedewasaan imamat datang dari Roh Kudus dan dicapai ketika Ia menjadi pelaku utama dalam hidup kita. Begitu hal itu terjadi, semuanya berbalik, bahkan kekecewaan dan pengalaman pahit, karena kita tidak lagi berusaha menemukan kebahagiaan dengan menyesuaikan rinciannya, tetapi dengan memberikan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan yang mengurapi kita dan yang menginginkan pengurapan itu menembus kedalaman keberadaan kita. Kita menemukan bahwa kehidupan rohani menjadi membebaskan dan menyenangkan, sekali kita tidak lagi peduli untuk memelihara penampilan dan membuat perbaikan cepat, tetapi menyerahkan prakarsa kepada Roh Kudus dan, dalam keterbukaan rencana-Nya, menunjukkan kesediaan kita untuk melayani di manapun dan bagaimanapun kita diminta. Imamat kita tidak tumbuh dengan perbaikan cepat tetapi dengan limpahan rahmat!

 

Jika kita membiarkan Roh Kebenaran bertindak di dalam diri kita, kita akan memelihara pengurapan-Nya, karena berbagai ketidakbenaran yang dengannya kehidupan kita dicobai akan terungkap. Dan Roh Kudus yang "membersihkan apa yang najis", tanpa lelah akan menyarankan kepada kita "untuk tidak menajiskan pengurapan kita", bahkan sedikit pun. Kita memikirkan ungkapan Pengkhotbah, yang mengatakan bahwa “lalat yang mati menyebabkan urapan dari pembuat urapan berbau busuk” (10:1). Memang benar, setiap bentuk kepalsuan yang menyindir dirinya berbahaya : tidak boleh ditoleransi, tetapi dibawa ke dalam terang Roh Kudus. Karena “betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yer 17:9). Roh Kudus, hanya Dia, memulihkan penyelewengan kita (bdk. Hos 14:4). Bagi kita, ini adalah perjuangan yang tak terhindarkan : sangat diperlukan, seperti ditulis Santo Gregorius Agung, bahwa “mereka yang mewartakan sabda Allah, pertama-tama harus memperhatikan cara hidup mereka; kemudian, berdasarkan kehidupannya, ia dapat belajar apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya... Janganlah ada orang yang berani mengatakan lebih dari apa yang pertama kali ia dengar di dalam hatinya”.[8] Roh Kudus adalah guru batin yang harus kita dengarkan, sadari bahwa Ia ingin mengurapi setiap bagian diri kita. Saudara-saudara, marilah kita menjaga pengurapan kita, memohon Roh Kudus bukan sebagai tindakan kesalehan sesekali, tetapi sebagai nafas setiap hari. Ditahbiskan oleh-Nya, aku dipanggil untuk membenamkan diri di dalam Dia, membuat kehidupan-Nya menembus kegelapanku, sehingga aku dapat menemukan kembali kebenaran tentang siapa dan apa diriku. Marilah kita membiarkan diri kita didorong oleh-Nya untuk memerangi ketidakbenaran yang bergumul di dalam diri kita. Dan marilah kita membiarkan diri kita dilahirkan kembali daripada-Nya melalui penyembahan, karena ketika kita menyembah Tuhan, Ia mencurahkan Roh-Nya ke dalam hati kita.

 

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku; Ia telah mengutus Aku”, demikian nas itu selanjutnya, untuk menyampaikan kabar baik, kebebasan, kesembuhan dan rahmat (bdk. Yes 61:1-2; Luk 4:18-19): singkatnya, menyampaikan keselarasan di mana pun juga. Setelah berbicara kepadamu tentang pengurapan, saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu tentang keselarasan yang merupakan akibatnya. Karena Roh Kudus adalah keselarasan. Terutama di surga: Santo Basilius mencatat bahwa "seluruh keselarasan yang luar biasa dan tak terkatakan dalam pelayanan kepada Allah dan dalam simfoni timbal balik kekuatan adikosmik, tidak mungkin dipertahankan, jika bukan karena otoritas Roh".[9] Seperti halnya di bumi: di dalam Gereja, Roh Kudus adalah “keselarasan ilahi dan musikal”[10] yang menyatukan semuanya. Ia membangkitkan keragaman karisma dan menyatukannya; Ia menciptakan keselarasan bukan berdasarkan keseragaman, melainkan daya cipta amal. Dengan cara ini, Ia menciptakan keselarasan dari keragaman. Pada saat Konsili Vatikan II, yang merupakan karunia Roh Kudus, seorang teolog menerbitkan sebuah penelitian di mana ia berbicara tentang Roh Kudus bukan sebagai bentuk tunggal, tetapi sebagai bentuk jamak. Beliau menyarankan memikirkan Roh Kudus sebagai pribadi ilahi yang tidak hanya dalam bentuk tunggal tetapi dalam bentuk "jamak", sebagai "Kita Allah", "Kita" Bapa dan Putra, karena Ia adalah ikatan mereka. Roh Kudus dalam dirinya adalah kerukunan, persekutuan dan keselarasan.[11]

 

Menciptakan keselarasan adalah apa yang diinginkan Roh Kudus, terutama melalui orang-orang yang diurapi-Nya. Saudara-saudara, membangun keselarasan di antara kita bukan sekadar cara yang baik untuk meningkatkan berfungsinya tatanan gerejawi, atau masalah strategi atau kesantunan : menciptakan keselarasan merupakan tuntutan intrinsik kehidupan Roh Kudus. Kita berdosa terhadap Roh Kudus yang adalah persekutuan setiap kali kita menjadi, bahkan secara tidak sengaja, sarana perpecahan; dan setiap kali kita memainkan permainan musuh, yang tidak pernah terbuka, yang menyukai gosip dan sindiran, memicu pesta dan kelompok, mengobarkan nostalgia masa lalu, ketidakpercayaan, pesimisme, dan ketakutan. Tolong, marilah kita berhati-hati, untuk tidak mencemarkan pengurapan Roh Kudus dan jubah Gereja Induk dengan perpecahan, pengutuban atau ketiadaan kasih dan persekutuan. Marilah kita ingat bahwa Roh Kudus, sebagai "Kita Allah", lebih memilih "bentuk" komunitas : kesediaan untuk kebutuhan kita, kepatuhan untuk selera kita, kerendahan hati untuk klaim kita.

 

Keselarasan bukanlah satu keutamaan di antara yang lainnya; keselarasan adalah sesuatu yang lebih. Seperti ditulis Santo Gregorius Agung: “nilai keselarasan ditunjukkan oleh kenyataan bahwa tanpanya, keutamaan lainnya tidak memiliki nilai apa pun”.[12] Marilah kita saling membantu, saudara-saudara, untuk menjaga keselarasan, tidak dimulai dari orang lain tetapi dari diri kita masing-masing. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : Dalam perkataanku, dalam komentarku, dalam apa yang kukatakan dan tulis, apakah ada meterai Roh Kudus atau meterai dunia? Apakah aku berpikir tentang kebaikan imam : jika umat melihat, dalam diri kita juga, umat yang tidak puas dan tidak berkenan, yang mengkritik dan menuding, di mana lagi mereka akan menemukan keselarasan? Berapa banyak orang yang gagal mendekati kita, atau menjaga jarak, karena dalam Gereja mereka merasa tidak diterima dan tidak dikasihi, dipandang dengan kecurigaan dan dihakimi? Dalam nama Allah, marilah kita menyambut dan mengampuni, selalu! Dan marilah kita ingat bahwa mudah tersinggung dan penuh keluhan tidak menghasilkan buah yang baik, tetapi merusak pewartaan kita, karena merupakan kesaksian tandingan bagi Allah, yang merupakan persekutuan yang selaras. Terutama, tidak berkenan bagi Roh Kudus, sehingga rasul Paulus mendesak agar jangan mendukakan-Nya (bdk. Ef 4:30).

 

Saudara-saudara terkasih, saya meninggalkanmu dengan pemikiran yang saya sayangi ini, dan saya menyimpulkan dengan dua kata sederhana dan penting : Terima kasih. Terima kasih atas kesaksian dan pelayananmu. Terima kasih atas kebaikan tersembunyi yang kamu lakukan, serta atas pengampunan dan penghiburan yang kamu berikan atas nama Allah. Terima kasih atas pelayananmu, yang sering dilakukan dengan usaha keras dan sedikit pengakuan. Semoga Roh Allah, yang tidak mengecewakan orang-orang yang percaya kepada-Nya, memenuhimu dengan kedamaian dan menyelesaikan pekerjaan baik yang telah Ia mulai di dalam dirimu, sehingga kamu dapat menjadi saksi kenabian pengurapan-Nya dan para rasul keselarasan.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 6 April 2023)



[1]Syahadat Nicea-Konstantinopel.

[2]Bdk. Sekuensia Hari Raya Pentakosta.

[3]De Spiritu Sancto, 16.39.

[4]Bdk. Ireneus, Melawan Bidaah IV, 20, 1.

[5]R. VOILLAUME, “La seconda chiamata”, dalam S. STEVEN, ed. La seconda chiama. Il coraggio della fragilità, Bologna. 2018, 15.

[6]idem, 24.

[7]idem, 16.

[8]Homili tentang Yehezkiel, I, X, 13-14.

[9]De Spiritu Sancto, XVI, 38.

[10]Dalam Mzm. 29.1.

[11]Bdk. H. MÃœHLEN, Der Heilige Gest als Person. Ich-Du-Wir, Münster in W., 1963.

[12]Homili tentang Yehezkiel, I, VIII, 8.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI KAMIS PUTIH DI PENJARA ANAK CASAL DEL MARMO (ROMA) 6 APRIL 2023 : HIDUP ITU INDAH KETIKA KITA SALING MENOLONG

Bacaan Ekaristi :  Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15.

 

Yang menarik perhatian kita adalah bagaimana Yesus, sehari sebelum disalibkan, melakukan perbuatan ini. Membasuh kaki merupakan kebiasaan pada masa itu karena jalanan berdebu. Orang-orang yang berniat masuk dari luar dan, saat memasuki sebuah rumah, sebelum makan, sebelum berkumpul, mereka akan membasuh kaki mereka. Tetapi siapa yang akan membasuh kaki mereka? Para hamba, para budak – karena ini adalah pekerjaan yang diserahkan kepada para budak.

 

Marilah kita bayangkan bagaimana para murid terheran-heran ketika mereka melihat Yesus mulai melakukan tugas yang cocok untuk para budak ini … Ia ingin membuat mereka memahami pesan untuk hari berikutnya ketika Ia akan wafat seperti seorang budak demi membayar hutang kita semua. Jika kita mendengarkan hal-hal ini dari Yesus, hidup akan menjadi begitu indah karena kita akan bergegas untuk saling menolong alih-alih mendapatkan yang terbaik dari orang lain, saling mengambil keuntungan, seperti yang diajarkan oleh para penipu. Saling menolong, menolong sangat indah – ini adalah perilaku sejagat manusiawi yang lahir dari hati yang mulia. Dan dengan perayaan hari ini, Yesus ingin mengajarkan kita hal ini : keluhuran hati. Kita masing-masing kita dapat berkata : "Tetapi andaikan Paus hanya mengetahui hal-hal yang kumiliki di dalam hatiku…." Tetapi Yesus tahu itu, dan Ia mengasihi kita sama seperti kita mengasihi diri kita! Dan Ia membasuh kaki kita masing-masing. Yesus tidak pernah terkejut dengan kelemahan kita. Ia tidak pernah heran, karena Ia sudah membayarnya. Ia hanya ingin menemani kita; Ia ingin memegang tangan kita sehingga hidup kita tidak terlalu keras.

 

Saya juga akan melakukan perbuatan membasuh kaki, yang bukan merupakan cerita rakyat, bukan. Kita semua dapat menganggapnya sebagai perilaku yang memberitahu kita bagaimana kita harus memperlakukan satu sama lain. Dalam masyarakat, kita melihat betapa banyak orang memanfaatkan orang lain; berapa banyak orang yang terpojok dan tidak bisa keluar…. Berapa banyak ketidakadilan, berapa banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan, berapa banyak orang yang bekerja dan dibayar setengahnya, berapa banyak orang yang tidak memiliki uang untuk membeli obat, berapa banyak keluarga yang hancur, begitu banyak hal yang mengerikan….

 

Dan tidak ada seorang pun di antara kita yang bisa berkata, “Syukur kepada Allah aku tidak seperti itu, lho”. “Jika aku tidak seperti itu, itu karena rahmat Allah!” Kita masing-masing bisa tergelincir, kita masing-masing. Dan kesadaran ini, kepastian bahwa kita masing-masing dapat tergelincir, inilah yang memberi kita martabat – dengarkanlah kata ini – “martabat” sebagai orang-orang berdosa. Dan Yesus menginginkan kita seperti ini, dan oleh karena hal ini Ia ingin membasuh kaki [murid-murid-Nya] dan berkata: "Aku datang untuk menyelamatkanmu, untuk melayanimu".

 

Sekarang, saya akan melakukan hal yang sama sebagai kenangan akan apa yang diajarkan Yesus kepada kita, saling menolong dan dengan cara ini, hidup menjadi lebih indah dan kita dapat melanjutkan seperti ini. Selama membasuh kaki – saya berharap saya berhasil melakukannya karena saya tidak dapat berjalan dengan baik – tetapi selama membasuh kaki, renungkan hal ini : “Yesus telah membasuh kakiku. Yesus telah menyelamatkanku, dan aku mengalami kesulitan ini sekarang”. Tetapi itu akan berlalu, tetapi Tuhan selalu di sampingmu, Ia tidak pernah meninggalkan, tidak pernah. Pikirkanlah semua ini.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 7 April 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN 2 April 2023 : YESUS MENGALAMI PENDERITAAN TUBUH, ROH DAN JIWA

Bacaan Ekaristi : Mat. 21:1-11; Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Mat. 26:14-27:66 (Mat. 27:11-54).

 

“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46). Inilah seruan yang diulangi liturgi hari ini dalam Mazmur Tanggapan (bdk. Mzm 22:2), satu-satunya seruan yang dibuat Yesus dari salib dalam Injil yang telah kita dengar. Kata-kata itu membawa kita ke inti sengsara Kristus, puncak penderitaan yang Ia alami demi keselamatan kita. "Mengapa Engkau meninggalkan Aku?".

 

Penderitaan Yesus sangat banyak, dan setiap kali kita mendengarkan Kisah Sengsara, penderitaan itu menusuk hati kita. Ada penderitaan tubuh : marilah kita pikirkan tentang tamparan dan pukulan, cambukan dan pemahkotaan dengan duri, dan pada akhirnya, kekejaman penyaliban. Ada juga penderitaan jiwa : pengkhianatan Yudas, penyangkalan Petrus, kutukan otoritas agama dan sipil, ejekan para penjaga, ejekan di kaki salib, penolakan orang banyak, kegagalan total dan pelarian para murid. Namun, di tengah semua duka ini, Yesus tetap yakin akan satu hal : kedekatan Bapa. Namun sekarang, hal yang tak terpikirkan telah terjadi. Sebelum wafat, Ia berseru : "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Ditinggalkannya Yesus.

Inilah penderitaan yang paling membara dari seluruh penderitaan, penderitaan roh. Pada saat yang paling tragis, Yesus mengalami ditinggalkan oleh Allah. Sebelum saat itu, Ia tidak pernah memanggil Bapa dengan nama generik-Nya, "Allah". Untuk menyampaikan dampak dari hal ini, Injil juga melaporkan perkataan-Nya dalam bahasa Aram. Ini adalah satu-satunya perkataan Yesus dari salib yang sampai kepada kita dalam bahasa aslinya. Peristiwa sebenarnya adalah kehinaan yang ekstrim, ditinggalkan oleh Bapa, ditinggalkan oleh Allah. Kita merasa sulit bahkan untuk memahami betapa besar penderitaan yang Ia terima demi kasih-Nya kepada kita. Ia melihat gerbang surga tertutup, Ia menemukan diri-Nya di ujung yang pahit, kapal karam kehidupan, runtuhnya kepastian. Dan Ia berseru : "Mengapa?" Sebuah "mengapa" yang mencakup setiap "mengapa" lainnya yang pernah diucapkan. "Mengapa, Allah?".

 

“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dalam Kitab Suci, kata "meninggalkan" sangat kuat. Kita mendengarnya pada saat-saat kesakitan yang luar biasa : kasih yang gagal, atau ditolak atau dikhianati; anak yang ditolak dan diaborsi; situasi penolakan, banyak janda dan anak yatim; pernikahan yang kandas, bentuk pengucilan sosial, ketidakadilan dan penindasan; kesendirian penyakit. Singkatnya, dalam pemutusan ikatan yang menyatukan kita dengan orang lain secara drastis. Di sana, kata ini diucapkan : "ditinggalkan". Kristus membawa semua ini ke kayu salib; di atas bahu-Nya, Ia menanggung dosa dunia. Dan pada saat tertinggi, Yesus, Putra tunggal Bapa yang terkasih, mengalami situasi yang sama sekali asing bagi keberadaan-Nya: ditinggalkan, jauh dari Allah.

 

Mengapa harus sampai seperti ini? Ia melakukannya untuk kita. Tidak ada jawaban lain. Untuk kita. Saudara-saudari, hari ini hal ini bukan sekadar pertunjukan. Kita masing-masing, mendengar tentang ditinggalkannya Yesus, dapat berkata : untukku. Ditinggalkan ini adalah harga yang Ia bayar untukku. Ia menjadi satu dengan kita masing-masing untuk sepenuhnya dan secara definitif menjadi satu dengan kita sampai kesudahan. Ia mengalami ditinggalkan agar tidak meninggalkan kita menjadi mangsa keputusasaan, agar tetap berada di samping kita selamanya. Ia melakukan hal ini untukku, untukmu, karena setiap kali kamu atau aku atau orang lain tampaknya terjepit di dinding, tersesat di jalan buntu, terjun ke jurang ditinggalkan, tersedot ke dalam angin puting beliung begitu banyak "mengapa" tanpa jawaban, masih ada harapan : Yesus sendiri, untukmu, untukku. Ini bukan kesudahan, karena Yesus ada di sana dan bahkan sekarang, Ia ada di sampingmu. Ia menanggung jarak ditinggalkan untuk mengambil ke dalam kasih-Nya setiap jarak yang bisa kita rasakan. Agar kita masing-masing dapat mengatakan : dalam kegagalanku, dan kita masing-masing telah gagal berkali-kali, dalam kesedihanku, setiap kali aku merasa dikhianati atau dicampakkan orang lain, setiap kali aku merasa tersingkir atau telah menyisihkan orang lain, setiap kali aku merasa ditinggalkan atau telah meninggalkan orang lain, marilah kita memikirkan Yesus, yang ditinggalkan, dikhianati dan dicampakkan. Di sana, kita menemukan-Nya. Ketika aku merasa tersesat dan bingung, ketika aku merasa tidak dapat melanjutkan, Ia ada di sampingku. Di tengah semua pertanyaan “mengapa...?”-ku yang belum terjawab, Ia ada di sana.

 

Demikianlah cara Tuhan menyelamatkan kita, dari dalam pertanyaan “mengapa?” kita. Dari dalam pertanyaan itu, Ia membuka cakrawala harapan yang tidak mengecewakan. Di kayu salib, bahkan saat Ia merasa benar-benar ditinggalkan – ini adalah tujuan akhir – Yesus menolak untuk menyerah pada keputusasaan; sebaliknya, Ia berdoa dan percaya. Ia berseru “mengapa?” dalam kata-kata pemazmur (22:2), dan menyerahkan diri-Nya ke dalam tangan Bapa, terlepas dari seberapa jauh Ia rasakan (bdk. Luk 23:46) atau lebih tepatnya, seberapa jauh yang tidak Ia rasakan, karena justru Ia merasa diri-Nya ditinggalkan. Pada saat ditinggalkan, Yesus terus percaya. Pada saat ditinggalkan, Ia terus mengasihi murid-murid-Nya yang melarikan diri, meninggalkan-Nya sendirian. Dalam ditinggalkan Ia mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya (ayat 34). Di sini kita melihat jurang dari banyak kejahatan kita tenggelam dalam kasih yang lebih besar, akibatnya keterasingan kita menjadi pengikutsertaan.

 

Saudara-saudari, kasih seperti ini, merangkul kita sepenuhnya dan sampai kesudahan, kasih Yesus, dapat mengubah hati kita yang keras menjadi hati daging Kasih-Nya adalah kasih belas kasihan, kelembutan dan kasih sayang. Ini adalah gaya Allah : kedekatan, kasih sayang dan kelembutan. Allah seperti ini. Kristus, dalam ditinggalkan, menggerakkan kita untuk mencari dan mengasihi-Nya serta orang-orang yang ditinggalkan. Karena di dalamnya kita tidak hanya melihat orang-orang yang membutuhkan, tetapi Yesus sendiri, yang ditinggalkan : Yesus, yang menyelamatkan kita dengan turun ke kedalaman keadaan manusiawi kita. Ia bersama mereka masing-masing, ditinggalkan bahkan sampai wafat … Saya memikirkan "orang jalanan" asal Jerman, yang meninggal di bawah barisan tiang (Lapangan Santo Petrus), sendirian dan ditinggalkan. Ia adalah Yesus bagi kita masing-masing. Begitu banyak orang yang membutuhkan kedekatan kita, begitu banyak orang yang terlantar. Saya juga membutuhkan Yesus untuk membelai saya dan mendekat kepada saya, serta karena alasan ini saya pergi untuk menemukan-Nya dalam diri orang-orang yang ditinggalkan, di dalam diri orang-orang yang kesepian. Ia ingin kita peduli terhadap saudara-saudari kita yang paling mirip dengan-Nya, mereka yang mengalami penderitaan dan kesendirian yang luar biasa. Hari ini, saudara-saudari terkasih, jumlah mereka sangat banyak. Seluruh bangsa dieksploitasi dan ditinggalkan; orang miskin tinggal di jalanan dan kita melihat ke arah lain; ada pendatang yang bukan lagi wajah melainkan angka; ada narapidana yang tidak diakui; orang dianggap sebagai masalah. Tak terhitung banyaknya orang terlantar di tengah-tengah kita, tidak terlihat, tersembunyi, dicampakkan dengan sarung tangan putih: anak-anak yang belum lahir, orang tua yang hidup sendiri : mereka mungkin ayah atau ibumu, kakek atau nenekmu, ditinggal sendirian di panti jompo, orang sakit yang tidak ada yang mengunjungi, orang cacat yang diabaikan, dan orang muda yang terbebani oleh kekosongan batin yang besar, tanpa ada yang siap mendengarkan jeritan penderitaan mereka. Dan mereka tidak menemukan jalan lain selain bunuh diri. Ditinggalkan di zaman kita. “Kristus” di zaman kita.

Yesus, dalam ditinggalkan, meminta kita untuk membuka mata dan hati kita kepada semua orang yang menemukan diri mereka ditinggalkan. Bagi kita, sebagai murid Tuhan yang “ditinggalkan”, tidak ada pria, wanita atau anak yang dapat dianggap sebagai orang buangan, tidak ada yang dibiarkan sendiri. Marilah kita ingat bahwa orang-orang yang ditolak dan dikucilkan adalah ikon Kristus yang hidup: mereka mengingatkan kita akan kasih-Nya yang cuma-cuma, ditinggalkan-Nya yang membebaskan kita dari setiap bentuk kesepian dan keterasingan. Saudara-saudari, hari ini marilah kita memohon rahmat ini : mengasihi Yesus dalam ditinggalkan-Nya dan mengasihi Yesus dalam ditinggalkan di sekitar kita. Marilah kita mohon rahmat untuk melihat dan mengakui Tuhan yang terus berseru dalam diri mereka. Semoga kita tidak membiarkan suara-Nya tidak terdengar di tengah keheningan ketidakpedulian yang memekakkan telinga. Allah tidak meninggalkan kita sendirian; marilah kita peduli, kemudian, terhadap mereka yang merasa sendirian dan ditinggalkan. Kemudian, dan hanya pada saat itu, kita akan menjadi sehati sepikiran dengan Dia yang, demi kita, "mengosongkan diri-Nya" (Flp 2:7). Ia mengosongkan diri-Nya sepenuhnya untuk kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 2 April 2023)