Saudara-saudari
terkasih,
Berkumpul
di sekeliling altar, marilah kita menemani saudara kita Paul Emil Tscherrig,
Kardinal, saat ia menghadap Tuhan untuk menerima ganjaran atas kebaikan yang
telah dilakukannya dalam hidup ini dan pengampunan atas kesalahan yang mungkin
disebabkan oleh kelemahan manusiawinya.
Inilah
momen agung dan khidmat perjumpaannya dengan Tuhan, yang dilayaninya dengan
begitu murah hati, dengan Sang Sahabat yang selalu di sisinya ia berjalan
dengan setia sepanjang hidupnya, yang lebih dari separuhnya dihabiskan dalam
pelayanan Takhta Apostolik di berbagai perwakilan kepausan dan Sekretariat
Negara.
Melalui
karyanya – yang seringkali tidak mencolok, meski berat tetap tekun, kekhasan
pelayanan yang dijalaninya – ia berkontribusi pada pertumbuhan Kerajaan Allah
yang perwujudannya secara penuh telah dijelaskan kepada kita dalam Bacaan
pertama: Kerajaan di mana lautan kekacauan tidak ada lagi, dan sebagai gantinya
Yerusalem baru bersinar, dibangun di atas fondasi para Rasul, diterangi oleh
terang Sang Anak Domba dan dihiasi oleh jasa-jasa para kudus.
Komitmennya
sebagai seorang diplomat, dan sebelumnya sebagai gembala Gereja, membuat
saudara kita ini bekerja selama bertahun-tahun, dengan sabar dan penuh
pengorbanan, untuk menyatukan dalam kerukunan bangsa-bangsa yang telah
dipercayakan ketaatan kepadanya (bdk. Mzm 121), seraya menghadapi rintangan dan
tantangan yang harus dihadapi oleh seorang perwakilan kepausan demi kebaikan
semua. Ia menjalankan misinya pertama-tama sebagai kolaborator di berbagai
nunsiatur, hingga pengangkatannya, pada tahun 1996, sebagai nunsio apostolik di
Burundi; kemudian di Trinidad dan Tobago dan di berbagai negara Karibia, Korea
Selatan dan Mongolia; selanjutnya di Swedia, Denmark, Finlandia, Islandia dan
Norwegia; Kemudian di Argentina, sebelum mencapai Italia dan San Marino pada
tahun 2017. Pengalaman gerejawi dan internasionalnya yang luas menjadi bukti
kesediaan dan kemampuannya untuk beradaptasi, dalam kasihnya sebagai seorang
gembala, dengan beraneka ragam lingkungan: berbagai tempat dan bangsa di mana
ia diutus, atas nama Bapa Suci, untuk menjalin ikatan persekutuan antara
Gereja-gereja lokal dan Takhta Apostolik, serta untuk memperkuat ikatan
persahabatan.
Kini
Kardinal Paul Emil akan bertemu dengan Tuhannya, Alfa dan Omega, awal dan akhir
keberadaannya (bdk. Why. 21:6). Kita menemaninya dalam perjalanan misterius
ini, yang diterangi oleh misteri Paskah, mempersembahkan baginya kurban
Ekaristi dan doa-doa kita; dan kita ingin menjadikan momen ini juga sebagai
kesempatan untuk refleksi dan dorongan, untuk menghargai kebaikan yang telah ia
berikan, dengan rahmat Allah, seorang penyalur, dengan iman dan pengabdian.
Paus
Fransiskus – yang pernah ditemui Kardinal Tscherrig ketika Paus masih menjadi
Uskup Agung Buenos Aires – dalam pidatonya kepada Korps Diplomatik mengajak
mereka untuk membiarkan pengharapan tumbuh subur di sekitar mereka, sebagai
tanggapan atas keinginan dan harapan rakyat akan kebaikan (Pidato kepada Korps
Diplomatik, 9 Januari 2025). Sebuah ajakan yang juga dapat kita terima hari
ini, mempraktikkannya di mana pun kita dipanggil untuk melayani dan mengasihi
saudara-saudari kita. Dunia kita sangat membutuhkan para pembawa pesan yang
dapat membantunya menemukan kembali kepercayaan, dan kesaksian yang baik dari
mereka yang telah dipilih Allah sebagai pelayan-Nya dapat menopang kita dalam
menanggapi panggilan ini.
Namun
demikian, pada saat yang sama, dihadapkan pada misteri kematian, kita juga
ingin mengingatkan bahwa, di luar perubahan-perubahan dunia ini, demi kebaikan
yang merupakan panggilan kita untuk mengabdikan diri dalam hidup ini, dasar
utama dari semua pengharapan kita terletak di luar sejarah dan berakar pada
kebangkitan Kristus, dalam kemenangan-Nya yang mulia atas dosa dan kematian.
Bacaan
Injil mengingatkan kita bagaimana Yesus, tak lama setelah sengsara-Nya,
menubuatkan misteri itu dengan menghidupkan kembali sahabat-Nya, Lazarus;
pembebasan diri-Nya dari kubur adalah tanda yang harus dilihat dengan iman,
sehingga kita dapat memahami pesannya yang mendalam. Sebuah tanda yang dapat
kita temukan dalam banyak mukjizat kebangkitan kembali yang dihasilkan oleh
kasih, juga melalui pelayanan kita dan komitmen kita sehari-hari terhadap
Injil. Namun, semua ini berbicara kepada kita tentang mukjizat terbesar: yaitu
kebangkitan menuju kehidupan kekal, yang memahkotai setiap usaha dan karya
kehidupan ini dan menggenapi peristiwa-peristiwanya di luar batas waktu.
Ini juga
mengingatkan kita akan dimensi penting perutusan Gereja, yang mencakup dan
menerangi setiap tingkat aktivitas duniawinya. Karena Gereja bekerja dalam
waktu, namun tujuan dari karyanya terletak di luar kenyataan dunia ini,
bertujuan untuk “mempersatukan di dalam Kristus segala sesuatu, baik yang di
surga maupun yang di bumi” (Ef 1:10), dan “penebusan yang menjadikan kita milik
Allah” (ayat 14).
Dalam
terang yang agung inilah kita mengucapkan selamat tinggal kepada Kardinal
terkasih kita, Paul Emil Tscherrig, sementara di dalam hati kita merasakan
kata-kata yang diucapkan Yesus kepada Marta ditujukan kepada kita: “Saudaramu
akan bangkit” (Yoh 11:23), “Akulah kebangkitan dan hidup” (ayat 25). Kita
mendengarkannya bersama dengan kata-kata yang dipilih sendiri oleh sang
Kardinal, tiga puluh tahun yang lalu, sebagai mottonya pada kesempatan
penahbisannya sebagai Uskup: “Spes mea Christus” (Kristus adalah
pengharapanku). Kristus, Tuhan kita, adalah pengharapannya sepanjang hidupnya:
pengharapan yang tidak pernah mengecewakannya, karena berakar pada kasih yang
dicurahkan Allah ke dalam hatinya oleh Roh Kudus (bdk. Rm. 5:5) dan yang kini
telah terpenuhi untuk selama-lamanya.
____
(Peter Suriadi - Bogor, 17 Mei 2026)


.jpeg)




