Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI KATEDRAL SANTO STEFANUS, METZ, PRANCIS 28 September 2026

Bacaan Ekaristi : Yes 32:15-18; Mat 5:38-48.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Saya sangat bersukacita dapat memimpin perayaan Ekaristi ini, di mana kita mempercayakan komunitas Keuskupan Metz dan seluruh Eropa ke dalam tangan Tuhan. Di wilayah Moselle yang bersejarah ini — yang senantiasa menjadi titik pertemuan bagi berbagai bangsa dan telah menanggung penderitaan akibat letaknya di garis depan Eropa — hari ini janji Allah bergema dengan kekuatan yang luar biasa.

 

Dalam Bacaan Pertama (bdk. Yes 32:15-18), Nabi Yesaya berbicara tentang kedatangan Kerajaan Allah dalam kaitannya dengan kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera. Ia menggunakan tiga gambaran: padang gurun, kebun, dan rumah.

 

Di padang gurun — tempat yang penuh kesahajaan dan keheningan — keadilan ditegakkan; yakni hukum yang menuntun orang untuk berjalan di jalan kebaikan. Gambaran yang bersahaja ini mengingatkan kita akan pentingnya kesederhanaan dan hal-hal yang hakiki, yang memungkinkan kita memberikan nilai yang tepat bagi segala sesuatu, sekaligus mengajarkan kita sikap penyangkalan diri dan pengorbanan.

 

Gambaran kedua adalah taman tempat keadilan bertakhta. Jika padang gurun melambangkan hal yang hakiki, maka taman melambangkan keindahan. Di sana terdapat air, benih bertunas, pucuk bermunculan, dan bunga-bunga mekar, masing-masing dengan keindahannya yang khas. Inilah buah dari kehidupan yang benar, yang memampukan seseorang untuk berkembang sepenuhnya dengan bebas mengikuti rencana Tuhan.

 

Gambaran ketiga adalah rumah, sebuah tempat damai sejahtera. Perhatikanlah bahwa sementara padang gurun dan taman merupakan tempat di mana karya Allah mendominasi — menumbuhkan dan mengembangkan segala sesuatu — membangun rumah justru menuntut kontribusi yang lebih langsung dan signifikan dari manusia. Hal ini melibatkan pengerahan kekuatan dan keterampilan melalui upaya bersama; sungguh sebuah "proyek pembangunan" yang nyata. Demikian pula, damai sejahtera — sebagai anugerah Allah — memerlukan tanggapan manusia melalui usaha bersama. Bagaimanapun juga, rumah lebih dari sekadar bangunan batu; rumah adalah tempat bagi kehadiran dan kasih sayang manusia. Dalam pengertian ini, perkataan sang nabi mengingatkan kita bahwa di dunia yang penuh keterbatasan, kerukunan hanya dapat dibangun melalui kasih — kasih yang tahu cara berbagi suka dan duka, yang tahu cara memberi semangat dan mengampuni tanpa perhitungan ataupun batasan, persis seperti dalam sebuah keluarga.

 

Bacaan Injil yang baru saja kita dengar juga membahas hal ini (bdk. Mat 5:38–48). Di dunia yang ditandai oleh begitu banyak kekerasan, manipulasi, dan kesombongan di berbagai tingkatan, Yesus mengajar kita cara mengubah padang gurun menjadi oasis, menanami kebun, dan membangun rumah. Ia menunjukkan kepada kita jalan yang ditempuh melalui pengampunan, belas kasih, dan keluhuran hati: "Siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil" (Mat 5:39–41).

 

Bagi sebagian orang, kata-kata ini mungkin tampak sebagai tanda kelemahan atau sikap mengalah terhadap kejahatan, namun kenyataannya tidaklah demikian. Mari kita cermati diri kita dan lingkungan sekitar kita: Apa dampak dari sikap seperti dendam, pembalasan, dan penolakan, baik di dunia maupun di dalam diri kita sendiri? Masa depan seperti apa yang menanti umat manusia akibat hubungan dan sistem yang diliputi mentalitas kejam yang bersumber dari sikap-sikap tersebut? Kamu, yang merupakan anak-anak dari negeri yang di masa lalu terkoyak oleh konflik antarsaudara, sangat memahami bahwa tidaklah benar jika dikatakan mereka yang menuntut balas lebih kuat daripada mereka yang mengampuni. Tidaklah benar bahwa mereka yang menolak untuk mengalah lebih kuat daripada mereka yang mengupayakan rekonsiliasi. Tidaklah benar bahwa mereka yang memilih untuk pergi lebih kuat daripada mereka yang menghadapi tantangan untuk berjalan bersama.

 

Metz dan Moselle menjadi saksi bagi seluruh dunia bahwa rekonsiliasi hanya mungkin terjadi ketika kita memiliki keberanian untuk memutus rantai kebencian. Dibutuhkan kekuatan dan integritas yang besar untuk tidak dikuasai oleh kejahatan, terutama ketika luka yang ditimbulkan begitu mendalam. Namun, dalam menghadapi ketidakadilan, satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia adalah kasih yang peduli terhadap sesama dan berupaya memberikan kepercayaan terlepas dari situasi apa pun, bahkan saat berhadapan dengan perilaku yang paling sulit untuk diterima (bdk. Mat 5:42). Dengan demikian, hukum, keadilan, dan damai sejahtera merupakan tahapan dalam jalan pertobatan yang bermula sebagai perjalanan pribadi dan kian berkembang menjadi perjalanan bersama, yang mengarah pada peradaban yang menghormati manusia serta Sang Pencipta mereka.

 

Bukanlah suatu kebetulan bahwa Santo Agustinus mendefinisikan damai sejahtera kota surgawi sebagai persekutuan yang harmonis, di mana orang-orang menemukan sukacita dalam Allah dan sesama melalui Dia (bdk. *De Civitate Dei*, XIX, 13,1). Ia juga menggambarkan damai sejahtera antarmanusia sebagai buah dari *tranquillitas ordinis* (ketenangan dalam keteraturan), di mana setiap orang mengakui dan menghormati martabat serta peran yang unik dan sakral dari sesamanya.

 

Di sini, di Metz, patut diingat bahwa nilai-nilai inilah yang menjadi landasan bagi Eropa yang kita kenal sekarang selama berabad-abad, di mana warisan rohani dan moral mendahului warisan ekonomi dan politiknya. Sebagaimana diingatkan kembali dengan penuh haru oleh Santo Yohanes Paulus II, Eropa berakar pada kehidupan dan karya orang-orang — baik pria maupun wanita — yang hidup, mewartakan, dan membagikan ajaran Injil (bdk. Wejangan pada Acara Pro-UE, Santiago de Compostela, 9 November 1982). Hal ini tampak jelas dalam kontribusi besar — baik di bidang rohani, budaya, maupun pertanian dan kerajinan tangan — yang diberikan oleh kehidupan biara bagi sejarah benua ini, serta melalui karya para orang kudus seperti Chrodegang yang agung, gembala yang tak kenal lelah bagi komunitas ini. Sungguh, tepat di tempat inilah ia mewujudkan persekutuan gerejawi dalam Hukum Kanonik.

 

Prinsip-prinsip moral yang mengatur dunia tempat kita hidup ini diwariskan kepada kita dari sana: prinsip-prinsip seperti keutamaan pribadi manusia serta sifat hidup manusia yang kudus dan tak dapat diganggu gugat pada setiap tahap dan dalam segala keadaan; perlindungan terhadap kebebasan individu; peran utama keluarga sebagai landasan masyarakat; kepedulian terhadap kaum miskin dan orang-orang yang paling kurang beruntung; sikap menyambut pendatang; serta penghormatan terhadap kaum lanjut usia.

 

Gereja setempatmu, yang berkat status istimewanya melestarikan warisan unik dari dialog yang berbuah antara masyarakat sipil dan iman, memikul tanggung jawab untuk menjadi laboratorium hidup bagi kesetiaan ini. Tetap setia pada prinsip-prinsip ini tidak pernah mudah, bahkan bagi mereka yang mendahului kita. Namun, melalui kesetiaan dan ketekunan, para leluhur kita mewariskannya kepada kita sebagai harta berharga untuk kemudian diteruskan kepada generasi mendatang, serta diperkaya oleh pengalaman, nilai dari upaya, dan kisah kita.

 

Katedral megah di kota tempat kita berkumpul hari ini menggambarkan semua hal tersebut dengan sangat baik. Katedral ini dikenal sebagai "Lanterne du Bon Dieu" (Lentera Tuhan) berkat jendela kaca patri seluas 6.500 meter persegi yang menampilkan berbagai peristiwa biblis. Tampaknya para pembangunnya berupaya meminimalkan dinding — yang tetap kokoh — agar cahaya dapat membanjiri umat beriman dengan melimpah. Dengan demikian, siapa pun yang memasukinya akan larut dalam kekayaan *biblia pauperum* (alkitab bagi mereka yang tidak bisa membaca) — sebuah sumber doa dan permenungan — melalui refleksi seribu warna. Di tempat yang penuh cahaya ini, keindahan jendela kaca patri yang bersejarah tersebut baru-baru ini diperkaya oleh sentuhan jenius Marc Chagall. Karya pelukis Yahudi ternama ini, yang dipasang pada dinding katedral, mengubah "Lanterne du Bon Dieu" menjadi simbol luar biasa bagi ekumenisme dan dialog antaragama. Katedral ini mengajarkan kita bahwa cahaya Allah tidak melenyapkan keunikan jatidiri kita, melainkan menyatukan berbagai sejarah dan budaya yang berbeda ke dalam satu mozaik perdamaian yang menakjubkan — sesuatu yang sangat dibutuhkan di zaman kita saat ini, yang terkoyak oleh perpecahan dan konflik baru. Saat kita merenungkan jendela kaca patri ini, kita belajar bahwa masa depan Eropa tidak terletak pada keseragaman, melainkan pada kerukunan dalam perbedaan, di mana luka-luka masa lalu menjadi celah bagi cahaya untuk bersinar.

 

Di sinilah terletak simbol jati diri kita sebagai Gereja. Kita pun memanfaatkan berbagai sarana yang hanya bermakna sejauh sarana tersebut membantu kita membawa terang Injil ke tengah dunia. Tanpa kaca patri ini, jendela Katedral Santo Stefanus hanyalah ruang yang dibanjiri cahaya yang menyilaukan. Namun, dengan adanya kaca patri ini, jendela tersebut menjadi "buku" yang menyatukan kita untuk mengenang kisah indah penuh kepahlawanan, kebaikan, belas kasih, cinta, dan keindahan moral — kisah-kisah yang menuntut kita untuk memberi kesaksian yang berlimpah dan berani.

 

Seiring akan segera berakhirnya perjalanan saya ke Prancis, dengan penuh rasa syukur dan kepercayaan, inilah harapan yang saya sampaikan bagi komunitas di Metz — komunitas yang kini lebih dari sebelumnya dipanggil untuk menjadi mercusuar pengharapan bagi negeri ini, Eropa, dan dunia — dan saya mempercayakan hal ini kepada pengantaraan Santa Perawan Maria serta santo-santa pelindungmu.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 28 September 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXVI DI GUA MARIA LOURDES, PRANCIS 27 September 2026

Bacaan Ekaristi : Yeh. 18:25-28; Mzm. 25:4bc-5.6-7.8-9; Flp. 2:1-11; Mat. 21:28-32.

 

Saudara-saudari, para peziarah dari Prancis dan dari seluruh penjuru dunia, saat melihat kamu semua berkumpul di sini pagi ini di rumah Bunda kita, saya melihat wajah Gereja yang universal. Sebagian dari kamu telah melintasi benua, menempuh perjalanan jauh, serta membawa sukacita dan beban hidupmu ke gua yang kudus ini. Sungguh suatu sukacita bisa bersama-sama, sehati dan sekeluarga.

 

Secara khusus, saya ingin menyapa para peziarah yang datang dari setiap provinsi dan keuskupan di Prancis. Hari ini, kamu berdiri di tanah yang terberkati yang telah menerima rahmat yang berlimpah. Semoga peziarahan ini menyalakan kembali api iman di rumah dan parokimu. Bawalah penghiburan dari Lourdes bagi sesama, orang-orang terkasih, dan seluruh rakyat Prancis.

 

Bacaan hari Minggu ini menyentuh bagian pokok pesan yang dipercayakan Perawan Maria kepada Santa Bernadette: panggilan untuk bertobat, yang disampaikan dengan penuh kelembutan namun mendesak. Dalam Bacaan Injil, Yesus memandang dengan penuh kebenaran dan kesedihan mendalam hati yang tetap tertutup: "kamu tidak menyesal" (Mat 21:32). Mengapa hal ini melukai hati Kristus? Karena Allah tidak menghendaki anak-anak-Nya binasa. Nabi Yehezkiel mengingatkan kita, "Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan, ia akan mati karenanya." Namun, karena "ia insaf dan bertobat dari segala pelanggaran yang dilakukannya, maka ia pasti akan hidup, ia tidak akan mati" (Yeh 18:26,28). Inilah sebabnya mengapa panggilan untuk bertobat terus bergema dalam Kitab Suci dan pewartaan Injil sepanjang zaman. Keseriusan panggilan ini mengingatkan kita akan kemendesakan dan keharusan pertobatan. Hari ini — bukan besok— saatnya kita harus bertobat. Sesungguhnya, sekaranglah waktu perkenanan itu, sekaranglah hari penyelamatan itu (bdk. 2Kor 6:2). Allah menghendaki kita hidup, membuka mata dan kembali kepada-Nya. Bertobat berarti meninggalkan jalan yang membuat kita tersesat dan mengikuti jalan kehidupan, serta membuka hati kita bagi satu-satunya sukacita yang tak pernah sirna.

 

Yesus sendiri berbicara secara lugas saat memanggil kita untuk bertobat. Sebagaimana dikisahkan oleh Santo Lukas, "Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa" (Luk 13:5). Namun, Ia juga memperluas cakrawala pandang kita, melampaui kehidupan duniawi ini menuju cakrawala kehidupan kekal. Sebab, sementara kebahagiaan di dunia ini bersifat sementara dan relatif — dan sayangnya terkadang sulit digapai oleh sebagian orang — kebahagiaan sejati dijanjikan kepada setiap orang dalam pengharapan; inilah yang patut kita cari melebihi segalanya, dalam segala usaha dan pilihan kita. Bukankah Perawan Maria pernah berkata kepada Santa Bernadette, "Bukankah aku tidak menjanjikan akan membuatmu bahagia di dunia ini, melainkan di dunia yang akan datang?”

 

Janji yang diucapkan di tempat ini memiliki makna khusus di negeri Prancis ini, dan menantang cara kita berpikir saat ini. Di tengah zaman dan masyarakat yang mengejar kemajuan serta kesejahteraan materi — namun terkadang melupakan cakrawala kekekalan — Maria hadir untuk mengingatkan kita akan keagungan dan kekayaan panggilan hidup kita, yakni panggilan menuju hidup kekal. Menghadapi kecenderungan masa kini yang berupaya mendefinisikan ulang nilai kehidupan manusia dalam kondisi sakit, penderitaan, dan usia lanjut, Gua Massabielle berdiri sebagai tempat pengharapan umat kristiani. Di sini, tak seorang pun ditolak karena kelemahan fisiknya. Tongkat penyangga, kursi roda, dan air mata yang tersembunyi bukan penghalang; justru di tempat inilah kamu sepenuhnya dihormati dan disambut, serta dapat mengalami perjumpaan yang mengubah hidup dengan kasih Allah yang tak terbatas. Lourdes diberkati sebagai tempat untuk mengakui keindahan dan kesucian hidup, karena di sini kehidupan disambut sebagai anugerah berharga dari Allah dan dipanggil untuk berkembang selamanya dalam kasih Bapa.

 

“Aku berjanji kepadamu!” Sungguh, hidup kekal adalah janji yang teguh dan pasti yang diberikan Tuhan kepada kita. Ia telah memenangkannya bagi kita melalui wafat-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya, dan melalui rahmat pembaptisan, Ia mewujudkannya dalam diri kita setiap hari. Hidup kekal itu berada dalam jangkauan kita, namun kita harus menyambutnya dengan bebas, merangkulnya, dan tidak menghalanginya. Sebab penghalang bagi rahmat dan hidup kekal — satu-satunya penghalang bagi kasih ini — adalah dosa, yang membuat kita berpaling pada diri sendiri, menolak Allah, dan mengurung diri dalam kegelapan kita. Oleh karena itu, tanggung jawab pribadi kita memegang peranan penting, dan sungguh besar tanggung jawab tersebut. Allah telah menciptakan kita sebagai makhluk yang bebas, karena kebebasan itu perlu bagi kasih; tak seorang pun dapat dipaksa untuk mengasihi. Maka, kita harus menggunakan kebebasan kita untuk berkata "ya" kepada Kristus, dengan mengandalkan rahmat-Nya, seperti yang dilakukan Maria. Ini adalah jawaban "ya" yang kita perbarui hingga embusan napas terakhir — "sekarang dan pada waktu kami mati" — seperti yang kita ucapkan dalam doa Salam Maria.

 

Kita juga mendengar seruan mendesak untuk bertobat dalam kata-kata yang diucapkan Maria tepat di sini: "Bertobatlah! Bertobatlah! Bertobatlah!" Ia mengulangi kata itu tiga kali. Dan ia meminta Bernadette untuk melakukan tindakan pertobatan tertentu. Mengapa? Apakah kita lamban untuk mengerti? Apakah kita terlalu mudah menganggap diri kita bebas dari dosa? Apakah kita kurang melakukan pertobatan? Sang Perawan meminta kita untuk bertobat bukan hanya demi diri kita sendiri — karena kita pun membutuhkannya — melainkan juga "bagi orang-orang berdosa," bagi dunia yang sedang tersesat. Bagaimana mungkin hati kita tidak tergerak oleh berbagai konflik yang menyebar dan menghancurkan begitu banyak nyawa tak berdosa? Padahal, kejahatan di zaman kita ini bersumber dari hati manusia. Allah tidak bertanggung jawab atas hal itu. Sebagaimana Ia berfirman kepada bangsa Israel: "Apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat?" (Yeh 18:25). Oleh karena itu, hati manusialah yang harus berubah, dimulai dari hati kita sendiri.

 

Pertobatan adalah tindakan kasih yang dilakukan dalam semangat solidaritas dengan keluarga umat manusia. Pertobatan adalah tindakan kasih kepada Allah, karena kita ingin memulihkan luka yang ditimbulkan oleh dosa-dosa kita pada hati-Nya. Ini juga merupakan tindakan kasih bagi saudara-saudari kita yang tidak mengindahkan seruan pertobatan ini, dan yang dosa-dosanya membawa mereka menuju kematian. Seruan pertobatan ini juga menyangkut Gereja itu sendiri dalam perjalanannya di dunia ini. Gereja harus memiliki keberanian untuk memulai dari dirinya sendiri. Demi menyembuhkan luka yang dalam, ketidaksetiaan, dan kesalahan menyakitkan yang telah terjadi di dalamnya, kita harus dengan rendah hati menempatkan diri di bawah tatapan Tuhan yang memurnikan. Menyadari kesalahan sendiri adalah hal yang penting bagi pertumbuhan rohani kita. Sebagaimana ditulis Santo Agustinus: "Janganlah merasa puas dengan keadaanmu saat ini, jika engkau ingin menjadi sosok yang belum engkau capai" (Pembedaan Roh 169, 15, 18).

 

Pengingat dari Bunda kita mengenai kewajiban untuk berdoa dan bertobat memberikan kita pengharapan yang besar, karena ia menunjukkan bahwa cara untuk mengubah keadaan adalah dengan menyatukan diri kita pada sengsara Kristus. Sahabat-sahabat yang sedang sakit, kebanyakan dari kamu di Lourdes ini akrab dengan penderitaan. Kamu dapat menjalani cobaan dan penderitaan dengan semangat persembahan, dan dengan demikian ambil bagian dalam karya penebusan yang sangat dibutuhkan dunia. Dengan cara ini, kamu sungguh berada di hati Gereja, dan peranmu tak tergantikan.

 

Para peziarah, saudara-saudari, kamu tidak akan meninggalkan Lourdes dengan keadaan yang sama seperti saat kamu tiba. Kamu akan pergi sebagai pewarta pengharapan. Sungguh, mukjizat Lourdes adalah kemampuannya membangkitkan sukacita pengharapan di tengah penderitaan dan kesulitan. Perawan Maria memulihkan cara pandang kita dan mengubah hati kita, serta menganugerahkan kedamaian. Di negara, keuskupan, dan keluargamu, jadilah saksi hidup bagi kekuatan dan kelembutan ilahi ini, yang membantu kita untuk terus melangkah menuju tujuan kita. Dengan dikuatkan oleh doa orang-orang sakit dan kasih Bunda kita, melangkahlah dengan penuh keyakinan menuju masa depan. Janganlah takut akan badai dunia, sebab Santa Bunda Allah senantiasa menjaga perjalananmu; ia melindungi Gereja di bawah naungan kasihnya yang lembut dan, sebagai Bintang Fajar yang bercahaya, ia menuntun langkahmu, agar dengan sukacita ia dapat membawamu pada kelahiran baru dalam kehidupan Putra-Nya, Yesus. Amin.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 September 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI PLACE DE LA CONCORDE, PARIS, PRANCIS 26 September 2026

Bacaan Ekaristi : . Yeh 47:1-2, 8-9, 12; Yoh 7:37-44.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Saya mengucap syukur kepada Allah atas rahmat yang membuat saya bisa berada di sini bersamamu hari ini, di Place de la Concorde, untuk merayakan Ekaristi. Sungguh alangkah indahnya dan menyenangkannya ketika saudara-saudari hidup bersama dalam kesatuan (bdk. Mzm 133:1) untuk mewartakan kebesaran Allah. Saya sungguh mengharapkan kunjungan ini dapat menguatkan imanmu dan mendorongmu untuk bersinar semakin terang, dengan membagikan kehidupan, damai sejahtera, dan kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

 

“Siapa yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum” (Yoh 7:37). Saudara-saudari, dalam kehausan kita berpaling kepada Kristus, sumber air hidup: air yang memuaskan kehausan kita dan membuat hidup berkembang, yakni air kasih Allah yang “dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5).

 

Kerinduan akan Allah bersemayam jauh di dalam hati kita, dan kita berseru bersama pemazmur, “Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup” (Mzm 42:3). Inilah seruan yang rendah hati dan penuh gairah, yang kehausan terdalam dan paling eksistensialnya terus bertumbuh. Dan Yesus Kristuslah — melalui Inkarnasi-Nya — yang datang menjumpai setiap orang di tengah kisah hidup mereka masing-masing, serta menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup sejati yang mampu memuaskan kehausan kita. Kehausan yang bersemayam di dalam setiap hati manusia ini bukanlah terutama kehausan akan materi, melainkan kehausan akan makna, kebenaran, dan kepenuhan hidup. Yesus menjawab kerinduan mendalam kita akan relasi dan persekutuan dengan Allah, yang di dalam Dia kepenuhan hidup bersemayam untuk selama-lamanya.

 

Dalam Bacaan Pertama, Nabi Yehezkiel melihat air mengalir keluar dari Bait Allah dan menyebar ke padang gurun, menyucikan serta menghidupkan segala sesuatu yang dilewatinya (bdk. Yeh 47:1-2, 8-9, 12). Kemudian, Santo Yohanes melihat air mengalir dari lambung Yesus yang tertikam saat Ia menyerahkan nyawa-Nya (bdk. Yoh 19:30-34). Kini, setiap orang dapat minum dari mata air ini untuk menerima karunia Roh dan dilahirkan kembali, menjadi anak-anak Allah, suatu ciptaan baru.

 

Saudara-saudari, kita harus mengakui bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang dapat memuaskan kita sepenuhnya. Ketika kita mengira pekerjaan kita akhirnya telah usai dan jerih payah kita telah membuahkan hasil, kekosongan batin sering kali muncul kembali, bahkan lebih dalam dari sebelumnya. Maka, dalam upaya untuk mengisinya, kita mungkin mencari kesenangan baru, berhasrat memiliki lebih banyak hal, atau melakukan apa saja untuk mengalihkan perhatian demi meredam kegelisahan batin tersebut.

 

Liturgi Sabda hari ini mengajak kita untuk menyelami hati kita dan bertanya: apakah kerinduan terdalamku? Apa sebenarnya yang kucari dalam hidup ini? Kita semua mendambakan kebahagiaan, kasih, dan kepuasan batin. Namun, dari sumber manakah kita berusaha memuaskan kehausan kita? Apakah kita merasa cukup dengan harta benda, kepuasan sesaat, serta berbagai berhala kecil yang menjanjikan segalanya namun justru meninggalkan kehampaan dalam hati kita? Kita telah dibaptis dan menerima air hidup yang dikisahkan dalam Bacaan Injil, namun sudahkah kita sungguh berjumpa secara pribadi dengan Kristus? Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang penuh kerinduan, dan hanya Allah yang mampu mengisi kekosongan di dalam diri kita.

 

Ya, Saudara-saudari, Yesus Kristus — Sang Gembala yang Baik — menuntun kita, sebagaimana seorang gembala menuntun domba-dombanya, menuju sumber kebahagiaan dan damai sejahtera. Ia mengenal kita masing-masing secara pribadi. Tiada satu pun hal tentang diri kita yang tersembunyi bagi-Nya — baik rahasia, niat, maupun kelemahan kita. Ia menyelami kedalaman hati kita. Ia telah menyerahkan hidup-Nya bagi kita dan terus memberikannya kepada kita melalui sakramen-sakramen. Ia memanggul domba-domba yang letih dan terluka di atas bahu-Nya, serta dengan lembut membawa kembali mereka yang telah tersesat. Yesus menyingkapkan kasih Allah yang tanpa syarat bagi kita. Di mata-Nya, tak seorang pun dari kita hanyalah sekadar angka atau catatan dalam daftar, melainkan pribadi yang unik dan tak tergantikan.

 

Melihat kamu semua berkumpul di sini, saudara-saudari, pewaris sejarah iman Prancis yang panjang dan indah, saya berkata kepadamu: minumlah dari sumber yang tak lain adalah hati Yesus yang tertikam. Ya, kamu haus akan Allah, akan kehidupan, kebenaran, persatuan, damai sejahtera, persekutuan, dan kebahagiaan. Kamu rindu untuk menemukan kembali cakrawala yang penuh cahaya dan membangun bangsa yang diperbarui di atas akar-akar yang dipupuk oleh iman. Janganlah menyimpan iman kepada Yesus Kristus ini hanya untuk diri sendiri. Biarlah iman itu meluap, agar orang-orang yang kamu jumpai dapat disegarkan dan kehausan mereka terpuaskan. Kamu dipanggil untuk membawa harapan di mana pun keputusasaan dan kekeringan rohani merajalela.

 

Sungguh, dengan bersedia hidup dalam kebenaran di hadapan pandangan Yesuslah kita dapat menjadi pribadi yang otentik dan memandang hidup kita dengan jujur. Hidup kita rapuh, rentan, dan ditakdirkan untuk melewati kematian; namun, hidup ini juga indah dan ajaib, mampu diperbarui melalui relasi-relasi kita serta terbuka terhadap kasih yang sejati.

 

“Siapa yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum. Siapa yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: ‘Dari dalam hatinya akan mengalir sungai-sungai air hidup’” (Yoh 7:37-38). Saat kita minum dari sumber yang merupakan hati Kristus, kita sendiri menjadi — seperti yang ditulis Origenes — sumur, mata air, dan sungai bagi orang lain (bdk. Homili 12, 1, 2-3). Sungguh, orang beriman yang minum dari sumber ini juga menjadi sumber kehidupan melalui hubungan yang hidup dengan Kristus, serta membagikan kehidupan yang sama itu kepada orang lain.

 

Saudara-saudari terkasih, air hidup Roh Kudus telah dicurahkan dengan limpah dan terus menghasilkan buah di dalam Gereja melalui para misionaris dan saksi iman di setiap budaya dan di tengah setiap bangsa. Air ini menghidupkan semua orang yang disentuhnya dan mengubah mereka, memampukan mereka untuk menghasilkan buah. Inilah kekudusan mereka yang menyembah Allah yang benar dan dengan murah hati melayani saudara-saudari mereka dalam kasih. Di negeri Prancis yang indah ini, banyak orang telah minum dari air hidup ini sepanjang berabad-abad dan membaktikan hidup mereka sepenuhnya demi kebaikan sesama: para martir pertama, seperti Blandina, Pothinus, dan Ireneus; para pendiri tarekat religius yang kudus; para uskup kudus seperti Martinus dan Fransiskus dari Sales; serta pria dan wanita yang hatinya peka terhadap kebutuhan sesama, seperti Vincentius a Paulo, Frédéric Ozanam, dan Jeanne Jugan, serta banyak lagi lainnya. Bahkan saat ini, ada begitu banyak orang di tengah masyarakatmu, di paroki-paroki, dan di setiap ranah kehidupan, yang terus membaktikan diri demi kehidupan, keluarga, kebenaran, perdamaian, persaudaraan, dan keadilan.

 

Dari kota Paris yang indah ini, saya berdoa dengan sungguh-sungguh agar air kehidupan Roh Kudus mengalir ke seluruh penjuru Prancis. Saya memikirkanmu, keluarga-keluarga terkasih, yang — meskipun menghadapi berbagai kesulitan setiap hari — tetap teguh dan berani dalam panggilan serta perutusanmu. Saya mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam atas segala kebaikan yang terwujud melalui dirimu. Semoga kehadiran nyata Yesus di dalam dirimu tidak pernah kering. Saya juga memikirkanmu, kaum muda terkasih: Kamu adalah Gereja masa kini. Sungguh indah melihat antusiasme, energi, dan komitmenmu, serta sukacita yang kamu bawa bagi komunitas-komunitas Kristiani. Saya juga memikirkan, para katekumen dan orang-oarng yang baru dibaptis, yang telah memulai perjalanan iman, pertobatan, dan inisiasi Kristiani. Semoga kamu dapat menjadi saksi bagi orang-orang di sekitarmu mengenai perjalanan yang sedang kamu tempuh, serta menginspirasi mereka untuk turut bertanya pada diri sendiri. Semoga karunia Roh Kudus menjadikanmu saksi-saksi yang hidup, yang siap menyebarkan peradaban kasih di tengah lingkunganmu.

 

Saudara-saudari, marilah kita berpaling kepada Bunda Allah, sumber keselamatan, yang membimbing kita menuju Putra-Nya, sumber segala rahmat. Melalui jawaban "ya" yang diucapkannya dengan bebas dan penuh kepercayaan, ia menjadi bejana pilihan Allah yang rendah hati, tempat kasih Bapa yang menjadi manusia dan menyerahkan diri bagi dunia.

 

Marilah kita memohon kepadanya dengan penuh keyakinan, agar melalui perantaraannya, mata air kehidupan memancar di tengah Umat Allah dan menumbuhkan benih-benih iman, harapan, dan kasih di seluruh Prancis. Amin.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 September 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA VIGILI PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA DI BASILIKA TEMPAT ZIARAH BUNDA PENASIHAT YANG BAIK, GENAZZANO (ITALIA) 7 September 2026

Bacaan Ekaristi : Mi. 5:1-4a; Mzm. 13:6ab.6cd; Mat. 1:18-23.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Sebagaimana mungkin kamu ingat, "pada hari-hari awal masa kepausan, saya merasakan kewajiban dan hasrat yang mendalam untuk datang ke Genazzano, ke tempat ziarah Bunda Penasihat yang Baik, yang sepanjang hidup saya telah mendampingi saya dengan kehadiran keibuan, kebijaksanaan, serta teladan kasihnya kepada Sang Putra, yang senantiasa menjadi pusat iman saya" (Dedikasi dalam buku tamu Tempat Ziarah Bunda Penasihat yang Baik, 10 Mei 2025).

 

Dengan sukacita saya hadir kembali di sini untuk merayakan bersamamu Vigili Kelahiran Santa Perawan Maria dan mempercayakan kepada Kanak Maria apa yang kini sedang lahir dalam kemanusiaan yang papa namun agung ini: sesuatu yang rapuh bagaikan tunas, namun merupakan tanda kesetiaan Allah. Ya, Maria adalah fajar bagi hari yang baru, bagi dunia kita yang akhirnya dibebaskan dari kejahatan. Dan kita berada di sini, di sampingnya, di sekeliling altar tempat keselamatan datang kepada kita dan mengubah rupa kita — anak-anak di dalam Sang Putra. Marilah kita memohon nasihatnya yang bijak agar kita dapat menyambut sang Sabda ilahi, menyimpannya di dalam hati, serta melahirkannya melalui keputusan-keputusan yang berani dan bijaksana — keputusan pertobatan yang otentik.

 

Sahabat-sahabat terkasih, di tempat yang memiliki jejak sejarah kehadiran tarekat Agustinian ini, saya ingin kembali merenungkan perikop Kitab Suci yang baru saja kita dengarkan. Saya akan melakukannya dengan bimbingan Santo Thomas dari Villanova, seorang biarawan dan uskup Agustinian yang — seraya membaktikan hidupnya untuk melayani kaum miskin — mendalami kebenaran iman secara mendalam. Ia mampu melihat paradoks antara kerendahan Maria — atau boleh dikatakan, posisi Maria yang tampak terpinggirkan — dengan peran sentral yang dimainkannya dalam karya keselamatan.

 

Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: apa makna kelahiran seorang anak perempuan pada zaman Yoakim dan Ana? Santo Thomas merefleksikan, "Saya sering merefleksikan — tulisnya — dan bertanya-tanya mengapa para penginjil, yang berbicara begitu panjang lebar tentang Santo Yohanes Pembaptis dan para rasul, justru menceritakan kisah Perawan Maria — yang mengatasi semua orang dengan sejarah dan sosok pribadinya — dengan cara yang begitu singkat. Mengapa, saya bertanya-tanya, hal-hal seperti cara ia dikandung, dilahirkan, bertumbuh, serta kebiasaan-kebiasaan, kebajikan-kebajikan yang menghiasi dirinya, hubungan manusiawi yang ia jalin dengan Putranya, bagaimana ia berinteraksi dengan Yesus, juga bagaimana ia hidup bersama para rasul setelah kenaikan Yesus ke surga, tidak digambarkan kepada kita? Semua hal ini penting; umat beriman pasti akan membacanya dengan penuh devosi yang istimewa, dan hal-hal itu pasti akan menyenangkan hati banyak orang. Ya, para penginjil, kepadamulah saya berbicara! Mengapa kamu merampas sukacita yang begitu besar dari kami dengan sikap diammu? Mengapa kamu melewatkan rincian-rincian yang begitu menggembirakan, begitu dinanti-nantikan, dan begitu menyenangkan?" (Karya Lengkap VII, 266,8).

 

Dalam kata-kata ini, kita menemukan sebuah anjuran penting bagi iman kita: mengajukan pertanyaan kepada Kitab Suci dan para penulisnya, berdiskusi dengan teks dan berdialog dengan para saksi pewahyuan, layaknya dengan para sahabat. Sesungguhnya, kita adalah "kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah" (Ef 2:19), dan dari Maria sendiri kita belajar tentang kecerdasan yang bercakap-cakap dengan Allah, yang mengajukan pertanyaan (bdk. Luk 1:34), serta menafsirkan peristiwa-peristiwa dengan cara menyimpannya dan merenungkannya di dalam hati (bdk. Luk 2:19,51).

 

Akan tetapi, Bacaan Injil menurut Matius tampaknya membenarkan pandangan Santo Thomas dari Villanova melalui sikap diamnya. Kita telah mendengarnya: Bacaan Injil mencatat kehadiran Maria, namun tidak memuat satu kata pun yang diucapkannya. Kendati demikian, keberadaan Maria yang bersahaja — beserta Sang Putra di dalam rahimnya — menggerakkan seluruh sejarah: sejarah Yusuf dan seluruh rumah tangganya. Kehadiran Maria seolah memicu sebuah lompatan dalam silsilah, menghadirkan sesuatu yang baru dan tak terduga, yang mampu mengubah tidak hanya harapan, tetapi juga perilaku seorang pria yang sebelumnya dapat diprediksi.

 

Apa yang didengar, diputuskan, dan dilakukan Yusuf pada hakikatnya merupakan tanggapan terhadap Allah dan kehadiran Maria — terhadap keunikan mutlak Maria yang melampaui segala wacana atau narasi apa pun. Di dalam diri Maria, keselamatan menemukan tempatnya: Allah beserta kita!

 

Santo Thomas juga menulis, "Nah, terkait refleksi saya yang telah saya sebutkan tadi — mengenai mengapa tidak ada buku yang ditulis khusus tentang peristiwa-peristiwa kehidupan Sang Perawan, sebagaimana dilakukan terhadap peristiwa-peristiwa hidup Paulus, […] satu-satunya alasan yang terpikir oleh saya adalah karena demikianlah kehendak Roh Kudus; atas dorongan-Nya, para penulis Injil tidak banyak mengisahkan tentang Maria. Alasannya sederhana: kemuliaan Sang Perawan — sebagaimana kita baca dalam Mazmur — sepenuhnya berada di dalam batinnya (bdk. Mzm 44:14 Vulgata), sehingga lebih dapat dibayangkan daripada dilukiskan dengan kata-kata. Selain itu, sebagai ringkasan riwayat hidupnya, cukuplah ungkapan yang tercantum dalam gelar ini: bahwa Yesus lahir dari dia. Apa lagi yang ingin kamu ketahui? Apa lagi yang kamu cari pada diri Sang Perawan? Cukuplah kamu mengetahui bahwa ia adalah Bunda Allah" (Karya Lengkap VII, 266,8).

 

Saudara-saudari terkasih, kita merasa seolah-olah mengalami vertigo di hadapan misteri ini: sungguh mustahil untuk sekadar terbiasa dengannya! Kita merayakan kelahiran seorang gadis yang dipanggil untuk menjadi Bunda bagi Sang Penciptanya, Bunda bagi Allah yang menyelamatkan. Namun, yang lahir hanyalah seorang gadis biasa, sama seperti anak-anak perempuan dan cucu-cucu perempuan yang kita timang.

Dewasa ini kita menyematkan gelar-gelar mulia dan agung baginya — sebagai Bunda dan Ratu — namun cara Allah senantiasa lebih sederhana dan hening, kendati sama sekali tidak mengurangi kuasanya dalam membawa perubahan. Itulah jalan Yesus sendiri, "yang sulung di antara banyak saudara" (Rm 8:29).

 

Maka, seperti Maria, kita pun "ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya" (Rm 8:29): tentu saja melalui rahmat, namun juga dengan hasrat dan pilihan untuk mengutamakan jalan, pilihan, dan langkah-Nya ketimbang jalan-jalan lain. Di dalam diri Yesus Kristus, Allah memilih situasi sejarah yang paling bersahaja serta makhluk yang paling rendah hati untuk menyatakan keunikan Kerajaan-Nya; sebuah Kerajaan di mana kesombongan tidak mendapat tempat, dan mahakuasa berarti penciptaan, pelayanan, serta pemeliharaan kehidupan.

 

Santo Thomas dari Villanova kemudian menambahkan, "Biarkan imajinasimu mengembara bebas, perluaslah batas-batas pemahaman, dan lukiskanlah di lubuk jiwamu sosok perempuan muda yang paling murni, bijaksana, indah, saleh, rendah hati, lembut, penuh rahmat, kaya akan kekudusan, dihiasi dengan segala kebajikan, diperindah oleh segala karunia, dan sungguh berkenan di hati Allah; agungkanlah dia semampu yang kamu bisa, bayangkanlah sebanyak yang kamu mampu" {Karya Lengkap VII, 266,8).

 

Santo Thomas mengajak kita melakukan latihan imajinasi yang luar biasa ini. Dan ia mengamati, "Roh Kudus tidak melukiskan sosoknya dalam tulisan, melainkan menantikanmu untuk melukiskan sosoknya di dalam batinmu" (Karya Lengkap VII, 266,9).

 

Saudara-saudari terkasih, memang demikianlah adanya: dalam doa kontemplatif, hal-hal yang tidak disampaikan oleh dunia — namun sebenarnya sudah ada — mulai terbentuk; hal-hal yang masih tak terlihat, namun menyimpan kekuatan jenis baru di dalamnya. Ini bukanlah soal fantasi, melainkan soal nubuat. Kita membutuhkannya — di tengah masa kehancuran dan ketidakpastian — untuk melihat karya Allah dan melayaninya.

 

Nabi Mikha, di kota kecil Betlehem, menangkap isyarat akan bangkitnya seorang Raja damai; berkat Dia, kita akhirnya dapat hidup tenteram di negeri ini (bdk. Mi 5:1-4). Dan hari ini, dalam doa pembuka, seraya menyapa Maria yang masih kecil, kita memohon agar "perayaan kelahirannya menumbuhkan damai sejahtera di dalam diri kita."

 

Ya, sahabat-sahabat terkasih, kita ingin membayangkan damai sejahtera — memperluas cakrawala pemahaman dan melukiskannya di dalam jiwa kita — untuk menyadari bahwa damai sejahtera itu sudah ada, serta menyambut dan melayaninya. Damai sejahtera adalah anugerah Allah, embusan napas Yesus yang bangkit, dan karya Roh Kudus.

 

Biarlah damai sejahtera tumbuh di dalam diri kita. Damai sejahtera itu akan bertunas di dunia. Dan Bunda Penasihat yang Baik akan mendampingi kita dalam perutusan ini.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 September 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA UNTUK KEPEDULIAN TERHADAP CIPTAAN DI TAMAN MADONNINA DEL BORGO LAUDATO SI’ (TAMAN KEPAUSAN CASTEL GANDOLFO) 1 September 2026

Bacaan Ekaristi : Keb 13:1–9; Mat 6:24–34.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Pada Hari Doa Sedunia Untuk Kepedulian Terhadap Ciptaan ini, bacaan-bacaan yang dipilih untuk liturgi hari ini menawarkan dua ajakan kepada kita untuk merenungkan karya-karya Tuhan — sebuah tugas yang tentu saja tidak sulit dilakukan di tengah keindahan taman-taman ini.

 

Kitab Kebijaksanaan mengajak kita untuk merenungkan keindahan dan kuasa ciptaan, agar kita dapat menghargai Sang Pencipta (bdk. Keb 13:1–9). Sungguh dangkal jika kita hanya mengagumi api, angin, derasnya air, atau bintang-bintang di langit, tanpa mengarahkan pandangan kita kepada Sang Pencipta segala keajaiban itu.

 

Mazmur 18 mendorong kita menengadah untuk merenungkan langit, yang mewartakan kemuliaan Allah, serta cakrawala, yang menyatakan karya tangan-Nya. Seluruh ciptaan berbicara kepada kita tentang keagungan Sang Pencipta, asalkan mata dan hati kita tetap terbuka terhadap misteri yang sangat agung ini.

 

Demikian pula, perikop Injil Matius (bdk. Mat 6:24–34) mengajak kita untuk merenungkan ciptaan, seraya menegaskan kasih istimewa Tuhan bagi manusia. Saat kita memandang burung-burung di udara dan bunga bakung di ladang dengan penuh kekaguman — yang sangat berharga di mata Sang Pencipta — kita pun memahami betapa besarnya kasih Allah bagi kita. Jika Tuhan tidak lalai menganugerahkan keindahan yang begitu memukau kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan serta mencukupi segala kebutuhan mereka, betapa lebih besarnya perhatian-Nya terhadap kebutuhan anak-anak-Nya yang terkasih!

 

Petang ini, seraya kita menerima ajakan untuk berhenti sejenak dan berefleksi di hadapan karya-karya Allah, kita mengawali "Masa Ciptaan" — suatu masa selama lima pekan yang dikhususkan untuk doa dan komitmen dalam memelihara "rumah kita bersama." Oleh karena itu, pada hari ini dan di pekan-pekan mendatang, marilah kita meluangkan waktu sejenak untuk jeda dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, demi menikmati keselarasan mendalam yang di dalamnya kita sendiri menjadi bagian. Marilah kita "heningkan" berbagai kebisingan akibat aktivitas manusia, agar kita dapat mendengar suara merdu ciptaan, yang melaluinya Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, berbicara kepada kita.

 

Tugas permenungan ini, yang memampukan kita untuk berjumpa dengan Tuhan, merupakan langkah awal menuju "pertobatan ekologis sejati, di mana dampak perjumpaan kita dengan Yesus Kristus menjadi nyata dalam hubungan kita dengan dunia di sekitar kita" (Pesan untuk Hari Doa Sedunia Untuk Kepedulian Terhadap Ciptaan XI, 1 September 2026).

 

Dari permenungan akan ciptaan dan perjumpaan dengan Sang Pencipta, lahirlah kesadaran akan tempat khusus kita dalam rencana Allah yang mengagumkan, serta akan tanggung jawab yang kita pikul — baik secara pribadi maupun bersama — untuk melestarikan keselarasan awal tersebut. Dengan demikian, seraya menyadari kekurangan dan kegagalan kita, kita dapat memperbarui komitmen untuk memulihkan hubungan di antara segenap ciptaan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta mereka.

 

Oleh karena itu, Pesan untuk Hari Doa Sedunia Untuk Kepedulian Terhadap Ciptaan tahun ini menggemakan “seruan kenabian untuk ‘menempa pedang menjadi mata bajak’ (Yes 2:4)… mengubah hal yang merusak menjadi kehidupan.” Belum terlambat, dan Masa Ciptaan memanggil kita untuk melakukan pertobatan yang mendalam: “Apa yang selama ini digunakan untuk kehancuran dapat diarahkan kembali demi kehidupan, demi kepedulian terhadap kaum miskin, pemenuhan kebutuhan mereka yang lapar, serta pelestarian ciptaan” (idem).

 

Masa yang kita awali hari ini akan berakhir pada tanggal 4 Oktober, saat kita merayakan peringatan delapan abad Transitus Santo Fransiskus dari Asisi. Paus Fransiskus memperoleh inspirasi khusus darinya dalam menyusun Surat Ensiklik Laudato Si’ dan menghadirkan taman yang menyambut kita hari ini.

 

Oleh karena itu, marilah kita bersatu secara rohani dengan Sang Poverello dari Asisi dan jadikanlah kidung pujiannya sebagai kidung pujian kita:

 

Terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama semua makhluk-Mu, terutama Tuan Saudara Matahari ...

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Bulan dan bintang-bintang ...

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudara Angin ...

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudara Air ...

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudara Api ...

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami Ibu Pertiwi; dia menyuap dan mengasuh kami ...

 

Bersama Santo Fransiskus, marilah kita memperbarui komitmen kita untuk menghayati dan mengembangkan persaudaraan semesta yang tak terpisahkan dari tugas peduli terhadap ciptaan.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 2 September 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXI DI PELABUHAN RIMINI, SAN MARINO 22 Agustus 2026

Bacaan Liturgi : Yes. 22:19-23; Mzm. 138:1-2a.2bc-3.6.8bc; Rm. 11:33-36; Mat. 16:13-20.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sangat senang dapat memimpin Ekaristi ini bersama dan untukmu, Gereja di Rimini. Saya melakukannya sebagai puncak dari hari yang padat, di mana saya mengunjungi Republik San Marino dan "Pertemuan untuk Persahabatan Antarbangsa." Sekarang, saat kita memasuki Hari Tuhan, saatnya untuk merayakan misteri yang memberi makna pada segala sesuatu dan merupakan puncak serta sumber dari semua tindakan pastoral kita.

 

Dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengar (Mat 16:13-20), Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" (ayat 15). Petrus menjawab, atas nama semua murid: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup" (ayat 16). Kita pun, setelah dua milenium, dipanggil untuk memperbarui pengakuan iman yang sama: kita berada di sini karena kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Bapa yang kekal, yang dikuduskan dan diutus ke dunia "untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat 20:28).

 

Saudara-saudari terkasih, dalam kata-kata Petrus, kita mengenali kebenaran yang memenuhi kita dengan sukacita dan harapan, dan kita menemukan jalan yang menuntun kepada kehidupan: jalan Allah yang menempatkan diri-Nya untuk melayani umat manusia (bdk. Flp 2:5-8), jalan Sang Guru yang membungkuk untuk membasuh kaki murid-murid-Nya (bdk. Yoh 13:12-15), jalan Sang Gembala yang mengurbankan diri-Nya untuk kawanan domba-Nya (bdk. Yoh 10:11). Dan dalam terang inilah kita melihat tindakan Yesus menyerahkan kunci kepada Petrus (bdk. Mat 16:19-20), karena di dalam Gereja, di setiap tingkatan, otoritas adalah pelayanan.

 

Paus, para Uskup, para imam, dan para diakon adalah orang-orang pertama menghidupinya dengan cara ini, dan seluruh umat Allah harus bergabung dengan mereka, masing-masing sesuai dengan panggilan khusus mereka. Di antaramu, Hamba Allah, Pastor Oreste Benzi, memberikan kesaksian yang sangat baik tentang hal ini ketika beliau berkata: "Panggilan kita terdiri dari […] membiarkan diri kita disesuaikan dengan Kristus yang papa, dengan Kristus Sang Hamba, dengan Kristus yang menebus dosa-dosa dunia, dengan Kristus, Allah-Manusia yang menjelma yang hidup di antara kita dalam bentuk persekutuan langsung, dimulai dari yang terkecil" (Dengan Jubah Usang Ini, disunting oleh Valerio Lessi, Bologna 1991, hlm. 42).

 

Dalam Gereja, sesungguhnya, perutusan untuk "mengikat" dan "melepaskan," di satu sisi menyangkut peran mereka yang, atas nama Tuhan, dipanggil untuk menjalankan otoritas, di sisi lain menggambarkan gaya dan tugas yang melibatkan setiap orang yang dibaptis: yaitu merangkul, menyatukan kembali, menyambut, membebaskan, mengampuni, dan memerdekakan siapa pun yang menjadi tawanan dosa dan akibatnya, menjadikan kita pengelola yang benar dan bijaksana atas harta benda yang dipercayakan Allah kepada kita, sehingga semua dapat bekerja bersama, dalam kasih, untuk kebaikan semua.

 

Dalam Bacaan Pertama (Yes 22:19-23), Nabi Yesaya berbicara tentang Sebna, seorang pejabat yang dipercaya Raja Hizkia untuk proyek besar pembaruan agama, moral, dan sosial Yerusalem dan kerajaan Yehuda. Namun, karena ambisi dan keserakahan, orang yang berkuasa ini mulai menyalahgunakan wewenang yang diberikan kepadanya, menimbun kekayaan untuk dirinya sendiri dan lingkaran teman serta kerabatnya, dan menguasai orang lain. Ia telah melupakan bahwa hal terpenting dalam petualangan yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya bukanlah sarana ekonomi dan kekuasaan, tetapi kemungkinan, melalui hal-hal tersebut, untuk mempromosikan rencana kelahiran kembali demi kebaikan seluruh komunitas. Karena alasan ini, ia dipecat dan perutusannya dipercayakan kepada Elyakim, seorang yang jujur ​​dan bebas dari batasan, teguh dalam kejujurannya seperti patok yang ditancapkan ke tembok yang kokoh, sebagaimana dikatakan Nabi Yesaya (lihat ayat 23).

 

Pesannya jelas: segala sesuatu yang kita miliki dan ciptakan adalah anugerah Allah, yang dipercayakan kepada kita agar, di tangan-Nya, kita dapat menjadi sarana keselamatan dalam keadilan bagi sesama, dimulai dari tempat dan orang-orang yang bersama kita hidup dan bekerja setiap hari, sehingga kita dapat menjangkau seluruh dunia dengan hati yang besar dan terbuka.

 

Dalam Bacaan Kedua, Santo Paulus berbicara kepada kita tentang rencana Allah dan mengatakan bahwa rencana itu tak terduga: bukan karena kerumitan penalarannya, tetapi karena kebesaran kasih-Nya yang menakjubkan, yang melampaui semua kemampuan dan harapan kita, "sebab, segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia", kata Rasul Paulus (Rm 11:36). Allah itu sederhana, karena Ia adalah kasih yang murni, dan Ia juga memanggil kita untuk mengasihi dengan hati seperti hati-Nya, menyesuaikan jalan kita dengan jalan-Nya dan pikiran kita dengan pikiran-Nya (lihat ayat 33).

 

Nilai kejujuran, kemurahan hati, dan kebaikan ini sangat dihargai oleh penduduk Romagna, yang tulus dan memiliki sifat riang, pekerja keras, dan suka membantu. Buktinya, banyaknya teladan santo-santa dan beato-beata yang lahir di sini, yang mempraktikkan kasih dan menghidupi Injil, terkadang sampai menjadi martir. Hal ini juga dibuktikan oleh komitmen berkelanjutan dalam berbagai kelompok gerejawi, paroki, keluarga, Aksi Katolik, berbagai gerakan dan lembaga, serta pendidikan kristiani dan karya amal. Tentu saja, karena kekayaan ini, serta keindahan alam dan seni pesisir Adriatik dan daerah pedalamannya, begitu banyak orang dari seluruh Italia dan dunia datang ke sini setiap tahun untuk berlibur.

 

Dan, dalam hal ini, saya ingin mendorongmu untuk melanjutkan upayamu guna memastikan wilayah ini ramah, tidak hanya untuk penyegaran dan hiburan, tetapi juga untuk jiwa. Santo Yohanes Paulus II, yang mengunjungi tempat ini bertahun-tahun yang lalu, berbicara tentang panggilan ini, menekankan bahwa "istirahat bukan berarti memisahkan diri dari diri sendiri. Sebaliknya," katanya, "istirahat berarti bertemu dengan diri sendiri dan mendamaikan diri dengan batin terdalam" (Homili pada Misa Kudus di Rimini, 29 Agustus 1982).

 

Dunia tempat kita hidup menawarkan banyak bentuk rekreasi, beberapa di antaranya, bagaimanapun, mengarah pada penyebaran dan kehancuran daripada "kembali kepada diri sendiri" yang sejati, dan meninggalkan kekosongan di dalam hati. Beberapa menyebutnya "pelarian," seolah-olah kehidupan biasa adalah penjara yang harus dihindari. Tetapi kita tahu bahwa tempat yang paling tepat untuk menemukan penyegaran, bertemu Tuhan dan benar-benar bertemu satu sama lain, bukan di luar, di tengah kekacauan, tetapi di dalam diri kita sendiri, di kedalaman jiwa kita. Sebagai komunitas kristiani, kita secara khusus dipanggil untuk memupuk pengalaman ini dan menyebarkannya, melalui keterbukaan dan keramahan, baik dalam lingkungan pribadi maupun kelembagaan kita, melalui kepedulian dan perenungan gereja-gereja kita, melalui kesediaan kita untuk membantu dan memberikan sedekah. Ini berlaku baik bagi mereka yang mencari istirahat yang layak setelah setahun bekerja maupun bagi mereka yang terluka secara fisik dan spiritual yang mencari perlindungan, makanan, dan bantuan jauh dari tanah air mereka.

 

Uskupmu, dalam suratnya kepada keuskupan, menulis: "Doa, persatuan, mendengarkan, keberanian, kesederhanaan, rasa syukur, keindahan [...] ingin menunjukkan sikap yang selalu hadir dalam setiap aspek kehidupan" (Uskup Nicolò Anselmi, Surat Pastoral, kamu akan mencintai, akan bahagia dan akan menikmati setiap hal baik, sekarang dan selamanya, 14 Oktober 2024). Saudara-saudari terkasih, saat saya sekali lagi menyampaikan undangan penting ini kepada kamu semua, atas refleksi dan komitmenmu, saya sekali lagi berterima kasih atas sambutanmu, partisipasimu yang penuh iman dan sukacita, dan saya mempercayakanmu kepada perantaraan Santa Maria, Santo Gaudensius, dan para santo-santa pelindungmu.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 22 Agustus 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA DI PAROKI SANTO THOMAS DARI VILLANOVA (CASTEL GANDOLFO) 15 Agustus 2026

Bacaan Ekaristi : Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab; Mzm. 45:10c-12,16; 1Kor. 15:20-26; Luk. 1:39-56.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Dengan penuh sukacita, saya kembali merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga bersamamu pada tahun ini.

 

Magisterium Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Maria, "setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat dengan tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi" (Pius XII, Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus, 1 November 1950), dan dalam misteri ini menunjukkan kepada kita penggenapan rahmat paling sempurna yang dianugerahkan Allah kepadanya pada saat ia dikandung tanpa noda (bdk. idem).

 

Oleh karena itu, banyak karya seni menggambarkan dirinya sebagai seorang perempuan muda yang cantik yang secara fisik terangkat dari bumi menuju surga pada akhir hidupnya di dunia. Karya-karya ini terinspirasi oleh gambaran yang termuat dalam kutipan Kitab Wahyu yang kita dengar dalam Bacaan Pertama: "Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya" (Why 12:1); hal ini melambangkan bahwa di dalam hati Maria, surga dan bumi, waktu dan kekekalan, bertemu.

 

Sekilas, gambaran ini tampak bertolak belakang dengan pengalaman kita mengenai dampak berlalunya waktu terhadap diri kita. Seiring bertambahnya usia, tubuh kita tidak menjadi lebih lincah, melainkan semakin berat; kulit kita tidak menjadi lebih segar, melainkan menunjukkan tanda-tanda penuaan; rambut kita tidak bertambah warna dan kilaunya, melainkan memutih. Lantas, apa kesamaan kita dengan sosok perempuan muda nan jelita yang digambarkan pada panel altar di gereja-gereja kita?

 

Untuk memahaminya, kita harus menyatukan kedua tanda yang telah disebutkan tadi: tubuh Bunda Allah yang tidak mengalami kerusakan dan hati-Nya yang tak bernoda. Sebab, kemurnian jiwalah yang — baik pada diri Maria maupun pada diri kita — berkat rahmat Allah, menerangi dan mengubah rupa seluruh pribadi kita, serta menuntun kita menuju kemuliaan surga.

 

Pemuliaan Maria, baik tubuh maupun jiwanya, mengajarkan kita bahwa keindahan sejati kita tidak terletak pada upaya menyembunyikan tanda-tanda penuaan, melainkan pada penampakan tanda-tanda kasih yang tidak berkesudahan, yang bahkan terpatri pada raga kita (bdk. 1Kor 13:8).

 

Dengan mempertimbangkan hal ini, kita diajak untuk meninjau kembali berbagai standar estetika — yang sebagian besar bersifat hedonistik dan konsumeristik — yang dipaksakan oleh dunia kepada kita. Standar-standar ini berisiko menjebak kita dalam ekspektasi yang membebani, membuat kita membuang-buang energi berharga untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting dan fana Dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai orang-orang yang wajahnya mencerminkan perjalanan waktu dan penderitaan, namun mampu memancarkan ketenangan, kebaikan, dan kedamaian di sekeliling mereka; sebagaimana kita juga mungkin melihat orang lain yang mungkin tampak menarik secara lahiriah, namun memiliki hati yang keras dan dingin. Mudah untuk melihat di mana letak keindahan sejati dan di mana, sebaliknya, masih diperlukan pertobatan, pengampunan, dan penyembuhan.

 

Jika kita sungguh ingin menemukan dan memelihara keindahan ilahi yang melingkupi kita — keindahan yang menjadi tujuan penciptaan kita — serta membagikannya kepada sesama, kita harus belajar melihatnya pada kerutan wajah seorang lansia maupun wajah lembut seorang anak, pada kedewasaan orang dewasa maupun semangat hidup kaum muda, serta pada busana dan peralatan kerja maupun hiasan perayaan. Kita harus menyimak kisah kasih unik yang dituturkan oleh setiap kenyataan ini, seraya mengenali di dalamnya sekilas gambaran tentang surga.

 

Kasih adalah perhiasan terindah bagi umat manusia. Kasih mengubah bentuk, mengubah rupa, memuliakan, dan mengangkat kita; menjadikan kita tanpa beban, bebas, dan dekat dengan Allah, bahkan di tengah pasang surut kehidupan.

 

Saat merenungkan misteri Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga, Santo Paulus VI mengatakan bahwa untuk memahami maknanya, “kita harus mengubah rupa istilah-istilah yang kita gunakan dalam bahasa duniawi seraya menjadi istilah yang bersifat superlatif dan mutlak [...], untuk membayangkan hal yang kekal dalam skala kecil” (Homili, 15 Agustus 1969). Mengenai perjumpaan antara yang tak terbatas dan yang terbatas dalam diri Bunda Allah, Paus Fransiskus menulis: “Maria mampu mengubah kandang menjadi rumah bagi Yesus, dengan kain lampin sederhana dan kasih yang melimpah” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 286).

 

Mukjizat yang dialami Maria, gadis dari Nazaret, di dalam hatinya yang murni — yang membawanya menuju kemuliaan surga — merupakan pertemuan antara dua hal yang sangat kontras, sebagaimana ia sendiri ungkapkan dalam kata-kata Magnificat yang diilhami Roh Kudus, yang telah kita dengar dalam Injil (bdk. Luk 1:46–55). Dalam nyanyian pujian ini, melalui ungkapan iman yang rendah hati, Bunda Allah berbicara kepada kita dengan bahasa sederhana mengenai misteri agung yang dialaminya, seperti peristiwa Allah menjadi manusia di dalam dirinya demi menyelamatkan umat manusia, dan Sang Kekal yang menyatakan diri-Nya dalam ruang dan waktu untuk membuka kembali jalan menuju keabadian bagi kita. Pada saat yang sama, dalam kedudukannya sebagai “hamba yang rendah hati,” Santo Paulus VI mengatakan bahwa Maria memperlihatkan kepada kita “dimensi kerendahan hati” di mana kita pun dapat berjumpa Tuhan.

 

Kita tidak perlu mencari jauh-jauh untuk menemukan keluhuran misteri yang kita rayakan. Kita dapat menjumpainya di mana pun terdapat kasih sejati. Misalnya, dalam tatapan mata seorang ayah dan ibu yang pulang ke rumah setelah seharian beraktivitas — lelah, namun bahagia bisa berkumpul dengan anak-anak mereka. Pada wajah para kakek nenek yang, meski didera rasa sakit dan nyeri akibat usia lanjut, dipenuhi energi tak terduga saat merawat cucu-cucu mereka. Dalam komitmen kaum muda yang berupaya untuk tumbuh dalam moralitas dan ketulusan, bahkan siap untuk mengambil jalan yang berbeda dari arus umum "apa yang dilakukan orang kebanyakan." Akhirnya, dalam karya sehari-hari begitu banyak orang yang, dengan iman dan dedikasi, turut menghadirkan secercah surga ke bumi dan mendekatkan bumi kepada surga.

 

Saudara-saudari terkasih, wajah indah Bunda Maria yang Diangkat ke Surga sungguh unik; wajah itu melampaui segala bentuk penggambaran yang mungkin ada, namun pada saat yang sama, terasa begitu akrab bagi kita. Bahkan saat ini pun, kita dapat melihat wajahnya pada orang-orang yang dekat dengan kita, seperti saudara-saudari yang bersama-sama dengan kita — dalam iman — mempersembahkan hidup kita sehari-hari. Oleh karena itu, komunitas orang beriman melihat dirinya tercermin dalam sosok perempuan yang dikisahkan dalam Kitab Wahyu, dan Konsili Vatikan II menggambarkan Maria sebagai “citra serta awal Gereja, […] sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan” (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, 68). Dalam kodrat kemanusiaannya yang kudus, berkat rahmat Allah, kita juga melihat kodrat kita sendiri; maka, kita pun dipanggil untuk menjalani kehidupan penuh rahmat yang sama seperti yang dijalaninya serta turut ambil bagian dalam kemuliaannya.

 

Saat berbicara mengenai kebangkitan Kristus, Santo Agustinus mengajak umat kristiani pada zamannya untuk menjadikan peristiwa itu sebagai kompas dan pusat kehidupan mereka. Ia berkata: “Kristus bangkit dari antara orang mati agar Ia tidak lagi mati untuk selama-lamanya […]. Ubahlah arah hidupmu, ikutilah terang itu! Mulailah bangkit dari tempat Ia bangkit” (Enarratio in Psalmos, 126:7).

 

Mari kita terima undangan-Nya. Marilah kita ikuti terang Tuhan yang bangkit, seraya mengubah arah perjalanan jika perlu. Marilah kita melakukannya, khususnya pada hari ini, dengan memandang kepada Maria — yang telah dimahkotai kemuliaan oleh Allah baik jiwa maupun raganya, serta yang telah Ia karuniakan kepada kita sebagai Ibu, pembimbing, teman seperjalanan, dan pelindung di jalan menuju surga.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Agustus 2026)