Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 14 Oktober 2016 : KEMUNAFIKAN ADALAH SEMACAM SKIZOFRENIA ROHANI

Bacaan Ekaristi : Ef. 1:11-14; Mzm. 33:1-2,4-5,12-13; Luk. 12:1-7

Paus Fransiskus mendesak orang-orang Kristen untuk selalu mengatakan kebenaran demi menghindari mengalah pada kemunafikan yang beliau gambarkan sebagai semacam skizofrenia rohani yang membuat kita mengatakan banyak hal, tetapi tanpa mengamalkannya. Itulah yang beliau katakan dalam homilinya selama Misa harian Jumat pagi 14 Oktober 2016 di kapel Casa Santa Marta, Vatikan.

Dalam homilinya yang mengacu pada bacaan-bacaan liturgi hari itu, Paus Fransiskus merenungkan bahaya kemunafikan dengan memperingatkan orang-orang Kristen terhadap ragi orang Farisi. Memperhatikan bahwa ada ragi yang baik dan ragi yang buruk, beliau mengatakan ragi yang baik membangun kerajaan Allah sedangkan ragi yang buruk hanya menciptakan tampak luar Kerajaan Allah.

Ragi yang baik, Paus Fransiskus mengatakan, selalu muncul dan tumbuh secara terus menerus dan berhakekat serta menjadi roti yang baik, kue yang baik. Tetapi beliau melanjutkan dengan memperingatkan bahwa ragi yang buruk tidak tumbuh dengan baik dan beliau menggunakan anekdot dari masa kecilnya sendiri untuk menjelaskan konsep tersebut.

"Saya ingat bahwa untuk karnaval, ketika kami masih anak-anak, nenek kami membuat biskuit dan biskuit itu sangat tipis, tipis, kue yang tipis yang ia buat. Setelah itu ia menempatkannya dalam minyak dan kue itu mengembang dan mengembang serta ketika kami mulai memakannya, biskuit itu tak berisi. Dan nenek kami mengatakan kepada kami bahwa dalam dialek mereka disebut kebohongan - 'ini adalah seperti kebohongan : mereka tampak besar tetapi tidak ada sesuatu pun di dalam mereka, tidak ada sesuatu pun yang benar di sana, tidak ada hakekat apapun'. Dan Yesus mengatakan kepada kita : 'Waspadalah terhadap ragi yang buruk, ragi orang-orang Farisi'. Dan apa itu? Kemunafikan. Waspadalah terhadap ragi orang-orang Farisi yang adalah kemunafikan".

Paus Fransiskus kemudian menjelaskan bahwa kemunafikan adalah ketika kita memanggil Tuhan dengan bibir kita tetapi hati kita jauh daripada-Nya. "Kemunafikan adalah sebuah perpecahan batin. Kita mengatakan satu hal dan kita melakukan hal lain. Semacam skizofrenia rohani. Selain itu, kemunafikan adalah seorang yang berpura-pura : mereka tampak baik dan sopan tetapi mereka memiliki sebuah pisau belati di belakang punggung mereka, kan? Lihatlah Herodes : ketakutan dalam batin tetapi betapa sopannya ia menerima para Majus! Dan kemudian ketika ia menawarkan mereka perpisahan, ia mengatakan kepada mereka : "Pergilah dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia!' Untuk membunuh-Nya! Ia orang munafik bermuka dua, orang yang berpura-pura. Yesus ketika berbicara kepada para ahli Taurat, mengatakan : orang-orang ini mengatakan ini dan tidak melakukannya: inilah macam kemunafikan lainnya. Keberadaan nama saja : orang-orang yang percaya bahwa dengan mengatakan hal-hal itu semuanya terlaksana. Tidak. Hal-hal tersebut harus dilakukan bukan hanya dikatakan. Dan seorang yang munafik adalah seorang yang bernama saja yang percaya bahwa dengan mengatakannya, semuanya terlaksana. Selain itu, orang-orang munafik tidak mampu menuding dirinya sendiri : mereka tidak pernah menemukan noda pada diri mereka sendiri, mereka menuding orang lain. Pikirkanlah tentang selumbar dan balok? Dan dengan cara inilah kita dapat menggambarkan ragi yang adalah kemunafikan itu".

Paus Fransiskus mendesak orang-orang Kristen memeriksa hati nurani mereka untuk memahami apakah mereka sedang tumbuh dengan ragi yang baik atau buruk dengan menanyakan diri sendiri : Dengan semangat apakah saya melakukan hal-hal? Dengan semangat apa saya berdoa? Dengan semangat apakah saya berpaling kepada orang lain? Dengan semangat yang membangun? Ataukah dengan semangat yang mengudara? Kesimpulannya, beliau menekankan pentingnya tidak menipu diri mereka sendiri dan mengatakan kebenaran bukan kebohongan.

"Betapa tulusnya anak-anak ketika mereka mengakui dosa-dosa mereka! Anak-anak tidak pernah berbohong selama pengakuan dosa; mereka tidak pernah berbicara tentang hal-hal yang abstrak. "Saya sudah melakukan ini, saya sudah melakukan itu, saya sudah melakukan ......' Hal-hal nyata. Anak-anak berbicara tentang hal-hal nyata ketika mereka berada di hadapan Allah dan di hadapan orang lain. Mengapa demikian? Itu karena mereka memiliki ragi yang baik, ragi yang membuat mereka bertumbuh seperti Kerajaan Allah bertumbuh. Semoga Tuhan memberikan kepada kita semua Roh Kudus dan rahmat kejernihan tersebut untuk membedakan dengan ragi yang mana saya bertumbuh, dengan ragi yang mana saya berperilaku. Apakah saya orang yang setia dan berterus terang atau saya orang yang munafik?"

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.