Bacaan
Ekaristi : Sir. 15:15-20; Mzm. 119:1-2.4-5.17-18.33-34; 1Kor. 2:6-10; Mat.
5:17-37.
Saudara-saudari
terkasih,
Saya
sangat gembira berada di sini dan bersama komunitasmu mengalami peristiwa yang
menjadi asal nama "Minggu". "Minggu" adalah "hari
Tuhan" karena Yesus yang bangkit datang di antara kita, mendengarkan kita
dan berbicara kepada kita, memberi kita makan dan mengutus kita. Demikianlah,
dalam Injil yang kita dengar hari ini, Yesus memberitakan kepada kita
"hukum-Nya yang baru": bukan hanya ajaran, tetapi kekuatan untuk
melaksanakannya. Rahmat Roh Kudus yang secara tak terhapuskan menuliskan di
dalam hati kita dan menggenapi perintah-perintah Perjanjian Lama (bdk. Mat
5:17-37).
Melalui
Dasa Firman, setelah keluar dari Mesir, Allah menetapkan perjanjian dengan
umat-Nya, menawarkan rencana hidup dan jalan keselamatan. Oleh karena itu,
"Dasa Firman" ditempatkan dan dipahami dalam jalan pembebasan,
berkatnya sekelompok suku yang terpecah dan tertindas diubah menjadi bangsa
yang bersatu dan merdeka. Perintah-perintah itu tampak, dalam perjalanan
panjang melalui padang gurun, sebagai terang yang menunjukkan jalan; dan
ketaatan terhadap hukum-hukum itu dipahami dan dilakukan bukan hanya sebagai
pemenuhan formal dari perintah-perintah, tetapi lebih sebagai tindakan kasih,
sebagai bentuk rasa syukur dan kepercayaan kepada Allah perjanjian. Oleh karena
itu, hukum yang diberikan Allah kepada umat-Nya tidak bertentangan dengan
kebebasan mereka, tetapi sebaliknya merupakan syarat bagi berkembangnya
kebebasan tersebut.
Oleh
karena itu, Bacaan Pertama, yang diambil dari Kitab Putra Sirakh (bdk.
15:16-21), dan Mazmur 119, Mazmur Tanggapan yang kita nyanyikan, mengajak kita
untuk melihat perintah Allah bukan sebagai hukum yang menindas, tetapi sebagai
pedagogi-Nya bagi umat manusia dalam mencari kepenuhan hidup dan kebebasan.
Dalam
hal ini, di awal Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, kita menemukan salah satu
ungkapan terindah dari Konsili Vatikan II, di mana kita hampir merasakan
jantung Allah berdetak melalui jantung Gereja. Konsili mengatakan:
"Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang,
terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan
harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang
sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka." (Konsili Ekumenis
Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 1).
Nubuat
keselamatan ini diungkapkan secara berlimpah dalam khotbah Yesus, yang dimulai
di tepi Danau Galilea dengan penyampaian Sabda Bahagia (bdk. Mat 5:1-12) dan
berlanjut dengan menunjukkan makna penuh dan otentik dari hukum Allah. Tuhan
berkata, "Kamu telah mendengar bahwa kepada nenek moyang kita dikatakan:
Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Namun, Aku berkata
kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang
mencaci-maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang
berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala." (Mat
5:21-22). Dengan demikian, Ia menunjukkan, sebagai jalan menuju pemenuhan
manusia, kesetiaan kepada Allah yang didasarkan pada rasa hormat dan kepedulian
terhadap sesama dalam kesucian mereka yang tak ternodai, yang harus dipupuk,
bahkan sebelum gerak tubuh dan kata-kata, di dalam hati. Di sanalah,
sesungguhnya, perasaan-perasaan paling mulia lahir, tetapi juga penodaan yang
paling menyakitkan: penutupan diri, iri hati, cemburu, sehingga siapa pun yang
berpikir buruk tentang saudaranya, menyimpan perasaan buruk terhadapnya,
seolah-olah di dalam hatinya ia sudah membunuhnya. Bukan suatu kebetulan Santo
Yohanes menyatakan, "Siapa yang membenci saudaranya adalah pembunuh
manusia" (1Yoh 3:15).
Alangkah
benarnya kata-kata ini! Dan ketika kita sendiri mendapati diri kita menghakimi
dan meremehkan orang lain, marilah kita ingat bahwa kejahatan yang kita lihat
di dunia berakar tepat di sana, di mana hati menjadi dingin, keras, dan tanpa
belas kasihan.
Kita
mengalaminya di sini juga, di Ostia, di mana, sayangnya, kekerasan ada dan
menyakitkan, kadang-kadang berakar di kalangan kaum muda dan remaja, mungkin
dipicu oleh penyalahgunaan narkoba; atau di tangan organisasi kriminal yang
mengeksploitasi orang dengan melibatkan mereka dalam kejahatan dan mengejar
kepentingan yang tidak adil dengan metode ilegal dan tidak bermoral.
Menghadapi
fenomena ini, saya mengajak kamu semua, sebagai komunitas paroki, bersama
dengan organisasi-organisasi berbudi luhur lainnya yang beroperasi di
lingkungan ini, untuk terus mendedikasikan diri dengan murah hati dan berani
untuk menabur benih Injil yang baik di jalan dan rumahmu. Jangan menyerah pada
budaya pelecehan dan ketidakadilan. Sebaliknya, sebarkan rasa hormat dan
kerukunan, dimulai dengan bahasa yang menenangkan dan kemudian menginvestasikan
energi dan sumber daya dalam pendidikan, terutama untuk anak-anak dan kaum
muda. Ya, semoga mereka belajar kejujuran, penerimaan, dan kasih yang melampaui
batas-batas di paroki; belajar untuk membantu bukan hanya mereka yang membalas
budi, dan menyapa bukan hanya mereka yang menyapa, tetapi mencakup semua orang
dengan bebas dan tanpa pamrih. Belajarlah keselarasan antara iman dan
kehidupan, seperti yang diajarkan Yesus kepada kita ketika Ia berkata, “Jikalau
engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat bahwa
saudaramu sakit hati terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan
mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk
mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-24).
Saudara-saudari
terkasih, semoga ini menjadi tujuan usaha dan aktivitasmu, demi kebaikan
orang-orang yang dekat maupun jauh, sehingga bahkan mereka yang diperbudak oleh
kejahatan dapat bertemu, melalui dirimu, dengan Allah kasih, satu-satunya yang
membebaskan hati dan membawa kebahagiaan sejati.
Seratus
sepuluh tahun yang lalu, Paus Benediktus XV menamai paroki ini Santa Maria Ratu
Damai. Beliau melakukannya di puncak Perang Dunia I, membayangkan komunitasmu
sebagai secercah cahaya di langit kelabu perang. Sayangnya, seiring waktu,
banyak awan masih menggelapkan dunia, dengan menyebarkan pola pikir yang
bertentangan dengan Injil, pola pikir yang mengagungkan supremasi yang terkuat,
mendorong kesombongan, dan memicu godaan kemenangan dengan segala cara, tuli
terhadap jeritan orang-orang yang menderita dan tak berdaya.
Marilah
kita lawan penyimpangan ini dengan kekuatan kelembutan yang melucuti senjata,
terus memohon perdamaian, dan menyambut serta memupuk karunianya dengan
kegigihan dan kerendahan hati. Santo Agustinus mengajarkan bahwa "tidak
sulit untuk memiliki perdamaian [...]. Jika [...] kita ingin memilikinya,
perdamaian itu ada di sana, dalam jangkauan kita, dan kita dapat memilikinya
tanpa usaha apa pun" (Sermo 357, 1). Dan ini karena damai kita adalah
Kristus, yang dicapai dengan membiarkan diri kita ditaklukkan dan diubah
oleh-Nya, dengan membuka hati kita kepada-Nya, dan dengan membukanya, dengan
rahmat-Nya, kepada mereka yang ditempatkan-Nya di jalan kita.
Lakukanlah
ini juga, saudara-saudari terkasih, hari demi hari. Lakukanlah bersama-sama,
sebagai sebuah komunitas, dengan bantuan Maria, Ratu Damai. Semoga ia, Bunda
Allah dan Bunda kita, selalu menjaga dan melindungi kita. Amin.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 15 Februari 2026).


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.