Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA VI DI PAROKI SANTA MARIA RATU DAMAI (OSTIA LIDO) 15 Februari 2026

Bacaan Ekaristi : Sir. 15:15-20; Mzm. 119:1-2.4-5.17-18.33-34; 1Kor. 2:6-10; Mat. 5:17-37.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sangat gembira berada di sini dan bersama komunitasmu mengalami peristiwa yang menjadi asal nama "Minggu". "Minggu" adalah "hari Tuhan" karena Yesus yang bangkit datang di antara kita, mendengarkan kita dan berbicara kepada kita, memberi kita makan dan mengutus kita. Demikianlah, dalam Injil yang kita dengar hari ini, Yesus memberitakan kepada kita "hukum-Nya yang baru": bukan hanya ajaran, tetapi kekuatan untuk melaksanakannya. Rahmat Roh Kudus yang secara tak terhapuskan menuliskan di dalam hati kita dan menggenapi perintah-perintah Perjanjian Lama (bdk. Mat 5:17-37).

 

Melalui Dasa Firman, setelah keluar dari Mesir, Allah menetapkan perjanjian dengan umat-Nya, menawarkan rencana hidup dan jalan keselamatan. Oleh karena itu, "Dasa Firman" ditempatkan dan dipahami dalam jalan pembebasan, berkatnya sekelompok suku yang terpecah dan tertindas diubah menjadi bangsa yang bersatu dan merdeka. Perintah-perintah itu tampak, dalam perjalanan panjang melalui padang gurun, sebagai terang yang menunjukkan jalan; dan ketaatan terhadap hukum-hukum itu dipahami dan dilakukan bukan hanya sebagai pemenuhan formal dari perintah-perintah, tetapi lebih sebagai tindakan kasih, sebagai bentuk rasa syukur dan kepercayaan kepada Allah perjanjian. Oleh karena itu, hukum yang diberikan Allah kepada umat-Nya tidak bertentangan dengan kebebasan mereka, tetapi sebaliknya merupakan syarat bagi berkembangnya kebebasan tersebut.

 

Oleh karena itu, Bacaan Pertama, yang diambil dari Kitab Putra Sirakh (bdk. 15:16-21), dan Mazmur 119, Mazmur Tanggapan yang kita nyanyikan, mengajak kita untuk melihat perintah Allah bukan sebagai hukum yang menindas, tetapi sebagai pedagogi-Nya bagi umat manusia dalam mencari kepenuhan hidup dan kebebasan.

 

Dalam hal ini, di awal Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, kita menemukan salah satu ungkapan terindah dari Konsili Vatikan II, di mana kita hampir merasakan jantung Allah berdetak melalui jantung Gereja. Konsili mengatakan: "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka." (Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 1).

 

Nubuat keselamatan ini diungkapkan secara berlimpah dalam khotbah Yesus, yang dimulai di tepi Danau Galilea dengan penyampaian Sabda Bahagia (bdk. Mat 5:1-12) dan berlanjut dengan menunjukkan makna penuh dan otentik dari hukum Allah. Tuhan berkata, "Kamu telah mendengar bahwa kepada nenek moyang kita dikatakan: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Namun, Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci-maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala." (Mat 5:21-22). Dengan demikian, Ia menunjukkan, sebagai jalan menuju pemenuhan manusia, kesetiaan kepada Allah yang didasarkan pada rasa hormat dan kepedulian terhadap sesama dalam kesucian mereka yang tak ternodai, yang harus dipupuk, bahkan sebelum gerak tubuh dan kata-kata, di dalam hati. Di sanalah, sesungguhnya, perasaan-perasaan paling mulia lahir, tetapi juga penodaan yang paling menyakitkan: penutupan diri, iri hati, cemburu, sehingga siapa pun yang berpikir buruk tentang saudaranya, menyimpan perasaan buruk terhadapnya, seolah-olah di dalam hatinya ia sudah membunuhnya. Bukan suatu kebetulan Santo Yohanes menyatakan, "Siapa yang membenci saudaranya adalah pembunuh manusia" (1Yoh 3:15).

 

Alangkah benarnya kata-kata ini! Dan ketika kita sendiri mendapati diri kita menghakimi dan meremehkan orang lain, marilah kita ingat bahwa kejahatan yang kita lihat di dunia berakar tepat di sana, di mana hati menjadi dingin, keras, dan tanpa belas kasihan.

 

Kita mengalaminya di sini juga, di Ostia, di mana, sayangnya, kekerasan ada dan menyakitkan, kadang-kadang berakar di kalangan kaum muda dan remaja, mungkin dipicu oleh penyalahgunaan narkoba; atau di tangan organisasi kriminal yang mengeksploitasi orang dengan melibatkan mereka dalam kejahatan dan mengejar kepentingan yang tidak adil dengan metode ilegal dan tidak bermoral.

 

Menghadapi fenomena ini, saya mengajak kamu semua, sebagai komunitas paroki, bersama dengan organisasi-organisasi berbudi luhur lainnya yang beroperasi di lingkungan ini, untuk terus mendedikasikan diri dengan murah hati dan berani untuk menabur benih Injil yang baik di jalan dan rumahmu. Jangan menyerah pada budaya pelecehan dan ketidakadilan. Sebaliknya, sebarkan rasa hormat dan kerukunan, dimulai dengan bahasa yang menenangkan dan kemudian menginvestasikan energi dan sumber daya dalam pendidikan, terutama untuk anak-anak dan kaum muda. Ya, semoga mereka belajar kejujuran, penerimaan, dan kasih yang melampaui batas-batas di paroki; belajar untuk membantu bukan hanya mereka yang membalas budi, dan menyapa bukan hanya mereka yang menyapa, tetapi mencakup semua orang dengan bebas dan tanpa pamrih. Belajarlah keselarasan antara iman dan kehidupan, seperti yang diajarkan Yesus kepada kita ketika Ia berkata, “Jikalau engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat bahwa saudaramu sakit hati terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-24).

 

Saudara-saudari terkasih, semoga ini menjadi tujuan usaha dan aktivitasmu, demi kebaikan orang-orang yang dekat maupun jauh, sehingga bahkan mereka yang diperbudak oleh kejahatan dapat bertemu, melalui dirimu, dengan Allah kasih, satu-satunya yang membebaskan hati dan membawa kebahagiaan sejati.

 

Seratus sepuluh tahun yang lalu, Paus Benediktus XV menamai paroki ini Santa Maria Ratu Damai. Beliau melakukannya di puncak Perang Dunia I, membayangkan komunitasmu sebagai secercah cahaya di langit kelabu perang. Sayangnya, seiring waktu, banyak awan masih menggelapkan dunia, dengan menyebarkan pola pikir yang bertentangan dengan Injil, pola pikir yang mengagungkan supremasi yang terkuat, mendorong kesombongan, dan memicu godaan kemenangan dengan segala cara, tuli terhadap jeritan orang-orang yang menderita dan tak berdaya.

 

Marilah kita lawan penyimpangan ini dengan kekuatan kelembutan yang melucuti senjata, terus memohon perdamaian, dan menyambut serta memupuk karunianya dengan kegigihan dan kerendahan hati. Santo Agustinus mengajarkan bahwa "tidak sulit untuk memiliki perdamaian [...]. Jika [...] kita ingin memilikinya, perdamaian itu ada di sana, dalam jangkauan kita, dan kita dapat memilikinya tanpa usaha apa pun" (Sermo 357, 1). Dan ini karena damai kita adalah Kristus, yang dicapai dengan membiarkan diri kita ditaklukkan dan diubah oleh-Nya, dengan membuka hati kita kepada-Nya, dan dengan membukanya, dengan rahmat-Nya, kepada mereka yang ditempatkan-Nya di jalan kita.

 

Lakukanlah ini juga, saudara-saudari terkasih, hari demi hari. Lakukanlah bersama-sama, sebagai sebuah komunitas, dengan bantuan Maria, Ratu Damai. Semoga ia, Bunda Allah dan Bunda kita, selalu menjaga dan melindungi kita. Amin.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Februari 2026).

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.