Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BASILIKA SANTO AGUSTINUS, ANNABA (ALJAZAIR) 14 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis 4:32-37; Mzm. 93:1ab.1c-2.5; Yoh 3:7-15.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sabda ilahi meresapi sejarah dan memperbaruinya melalui suara manusiawi Sang Juruselamat. Hari ini kita mendengarkan Bacaan Injil, Kabar Baik sepanjang masa, di Basilika di Annaba ini yang didedikasikan untuk Santo Agustinus, Uskup kota kuno Hippo. Selama berabad-abad, nama-nama tempat yang menyambut kita telah berubah, tetapi para kudus terus berperan sebagai pelindung kita dan saksi setia hubungan dengan negeri yang berasal dari surga. Justru dinamika inilah yang diungkapkan Tuhan pada malam hari kepada Nikodemus: inilah kekuatan yang ditanamkan Kristus dalam kelemahan iman dan kegigihan pencariannya.

 

Diutus oleh Roh Allah, yang “engkau tidak tahu dari mana Ia datang atau ke mana Ia pergi” (Yoh 3:8), Yesus adalah tamu istimewa bagi Nikodemus. Bahkan, Ia memanggilnya kepada kehidupan baru, mempercayakan kepada lawan bicaranya — dan juga kepada kita — suatu tugas yang mengejutkan: “Kamu harus dilahirkan kembali” (ayat 7). Demikianlah undangan bagi setiap orang yang mencari keselamatan! Undangan Yesus melahirkan perutusan seluruh Gereja, dan akibatnya bagi komunitas kristiani di Aljazair: dilahirkan kembali dari atas, yaitu dari Allah. Dalam sudut pandang ini, iman mengatasi kesulitan duniawi dan rahmat Tuhan membuat padang gurun menjadi subur. Namun keindahan seruan ini juga membawa tantangan, yang sesuai ajakan Bacaan Injil harus kita hadapi bersama.

 

Faktanya, kata-kata Kristus mengandung seluruh kekuatan sebuah perintah: kamu harus dilahirkan kembali dari atas! Perintah seperti itu terdengar di telinga kita sebagai suatu prestasi yang mustahil. Namun, ketika kita mendengarkan dengan saksama Dia yang memberi perintah, kita akan memahami bahwa ini bukan paksaan yang lalim atau ketidakleluasaan, apalagi kutukan atas kegagalan. Sebaliknya, kewajiban yang diungkapkan oleh Yesus tersebut merupakan anugerah kebebasan bagi kita, karena mengungkapkan kemungkinan yang tak terduga: kita dapat dilahirkan kembali dari atas berkat Allah. Oleh karena itu, kita harus melakukannya sesuai dengan kehendak kasih-Nya, yang ingin memperbarui umat manusia dengan memanggil kita kepada persekutuan hidup yang dimulai dengan iman. Seraya mengajak kita untuk memperbarui hidup kita sepenuhnya, Kristus juga memberi kita kekuatan untuk melakukannya. Santo Agustinus membuktikan hal ini dengan baik ketika berdoa seperti ini, “Berilah, ya Tuhan, apa yang Engkau perintahkan dan perintahkanlah apa yang Engkau kehendaki” (Pengakuan-pengakuan, X, 29, 40).

 

Oleh karena itu, ketika kita bertanya pada diri sendiri bagaimana masa depan yang penuh keadilan, perdamaian, kerukunan, dan keselamatan akan mungkin terjadi, kita harus ingat bahwa kita sedang mengajukan pertanyaan yang sama kepada Allah seperti yang diajukan Nikodemus: dapatkah kisah hidup kita benar-benar berubah? Kita sangat terbebani oleh masalah, kesulitan, dan kesengsaraan! Dapatkah kita benar-benar memulai hidup kita kembali? Ya! Jawaban Tuhan, yang penuh kasih, memenuhi hati kita dengan pengharapan. Betapa pun terbebaninya kita oleh penderitaan atau dosa: Yesus yang disalibkan menanggung semua beban ini bersama kita dan untuk kita. Betapa pun putus asanya kita karena kelemahan kita: justru pada saat itulah Allah menyatakan kekuatan-Nya, Allah yang telah membangkitkan Kristus dari kematian untuk memberikan hidup kepada dunia. Kita masing-masing dapat mengalami kebebasan hidup baru yang berasal dari iman kepada Sang Penebus. Sekali lagi, Santo Agustinus memberi kita teladan tentang hal ini: kita menghormatinya karena pertobatannya yang bahkan melebihi kebijaksanaannya. Dalam kelahiran kembali ini, yang secara ilahi disertai dengan air mata ibunya, Santa Monika, ia mendapati dirinya berseru: “Oleh karena itu, aku tidak dapat ada, tidak dapat ada sama sekali, ya Allahku, kecuali Engkau ada di dalam diriku. Atau bukankah seharusnya aku berkata, bahwa aku tidak dapat ada kecuali aku ada di dalam Engkau” (Pengakuan-pengakuan, I, 2).

 

Umat kristiani benar-benar dilahirkan dari atas, diperbarui oleh Allah sebagai saudara dan saudari Yesus, dan Gereja yang memelihara mereka dengan sakramen-sakramen adalah pelukan hangat bagi semua orang. Seperti yang baru saja kita dengar, Kisah Para Rasul menjadi saksi atas hal ini dengan menggambarkan gaya hidup yang menjadi ciri khas umat manusia ketika telah diperbarui oleh Roh Kudus (bdk. Kis. 4:32-37). Bahkan hari ini, kita harus menerima ketentuan apostolik ini dan mempraktikkannya, merenungkannya sebagai kriteria otentik untuk reformasi gerejawi: reformasi yang harus dimulai dari hati, jika ingin menjadi tulus, dan harus mencakup semua orang jika ingin efektif.

 

Pertama, “kumpulan orang yang telah percaya itu sehati dan sejiwa” (ayat 32). Kesatuan rohani ini adalah concordia: sebuah kata yang tepat menggambarkan persekutuan hati yang berdenyut sebagai kesatuan karena mereka bersatu dengan hati Kristus. Oleh karena itu, Gereja perdana tidak didasarkan pada kontrak sosial, melainkan pada keselarasan iman, kasih sayang, gagasan, dan keputusan hidup yang berpusat pada kasih Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan semua bangsa di bumi.

 

Kedua, marilah kita mengagumi dampak nyata dari kesatuan rohani di antara orang-orang percaya: “segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (ayat 32). Setiap orang memiliki segala sesuatu, saling berbagi harta benda sebagai anggota satu tubuh. Tidak seorang pun kehilangan apa pun, karena setiap orang berbagi apa yang mereka miliki. Karena kepunyaan dapat diubah menjadi pemberian, pengabdian persaudaraan ini bukan utopia. Hanya hati yang terpecah belah dan jiwa yang dikuasai oleh keserakahan yang percaya bahwa itu adalah utopia. Sebaliknya, iman kepada satu Allah, Tuhan langit dan bumi, mempersatukan manusia menurut keadilan yang sempurna, yang berseru kepada setiap orang untuk berbuat kasih — yaitu, mengasihi setiap makhluk dengan kasih yang diberikan Allah kepada kita di dalam Kristus. Karena itu, dalam menghadapi kemiskinan dan penindasan, kasih merupakan prinsip utama bagi umat kristiani: marilah kita berbuat kepada sesama kita seperti yang kita kehendaki supaya mereka perbuat kepada kita (bdk. Mat 7:12). Terinspirasi oleh hukum ini, yang ditulis Allah di dalam hati kita, Gereja terus menerus dilahirkan kembali, karena di mana ada keputusasaan, ia menyalakan pengharapan, di mana ada penderitaan, ia membawa martabat, dan di mana ada pertikaian, ia membawa rekonsiliasi.

 

Ketiga, perikop dari Kisah Para Rasul menunjukkan kepada kita dasar kehidupan baru ini, yang mencakup orang-orang dari setiap bahasa dan budaya: “Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam anugerah yang melimpah-limpah” (ayat 33). Amal kasih yang memotivasi mereka lebih dari sekadar komitmen moral; suatu tanda keselamatan: para rasul memberitakan bahwa hidup kita dapat berubah karena Kristus telah bangkit dari antara orang mati. Oleh karena itu, tugas utama para gembala sebagai pelayan Injil adalah memberi kesaksian tentang Allah di hadapan dunia dengan sehati dan sejiwa, tidak membiarkan kekhawatiran kita menyesatkan kita melalui rasa takut, atau tren melemahkan kita melalui kompromi. Bersamamu, saudara-saudara dalam episkopat dan presbiterat, marilah kita senantiasa memperbarui perutusan ini demi mereka yang dipercayakan kepada kita, sehingga melalui pelayanannya, seluruh Gereja dapat menjadi pesan kehidupan baru bagi mereka yang kita temui.

 

Saudara-saudara kristiani di Aljazair yang terkasih, kamu tetap menjadi tanda kasih Kristus yang rendah hati dan setia di negeri ini. Berikan kesaksian tentang Injil melalui tindakan sederhana, hubungan yang tulus, dan dialog yang dijalani sehari-hari: dengan cara ini, kamu membawa cita rasa dan terang ke tempat tinggalmu. Kehadiranmu di negeri ini seperti dupa: sebutir dupa yang menyala dan menyebarkan keharuman karena memuliakan Tuhan serta memberikan sukacita dan penghiburan kepada begitu banyak saudara dan saudari. Dupa ini adalah unsur kecil yang berharga yang tidak menarik perhatian pada dirinya sendiri, tetapi mengajak kita untuk mengarahkan hati kita kepada Allah, saling mendorong untuk bertahan di tengah kesulitan masa kini. Dari pedupaan hati kita, semoga muncul pujian, berkat, dan permohonan, menyebarkan keharuman yang semerbak (bdk. Ef 5:2) dari belas kasihan, sedekah, dan pengampunan. Sejarahmu adalah sejarah keramahan yang murah hati dan ketahanan di masa-masa sulit. Di sinilah para martir berdoa; di sinilah Santo Agustinus mengasihi kawanan dombanya, dengan sungguh-sungguh mencari kebenaran dan melayani Kristus dengan iman yang teguh. Jadilah pewaris tradisi ini, memberikan kesaksian melalui kasih persaudaraan akan kebebasan mereka yang lahir dari atas sebagai pengharapan keselamatan bagi dunia.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 April 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.