Bacaan Ekaristi : Kis 4:32-37; Mzm.
93:1ab.1c-2.5; Yoh 3:7-15.
Saudara-saudari terkasih,
Sabda ilahi meresapi sejarah dan
memperbaruinya melalui suara manusiawi Sang Juruselamat. Hari ini kita
mendengarkan Bacaan Injil, Kabar Baik sepanjang masa, di Basilika di Annaba ini
yang didedikasikan untuk Santo Agustinus, Uskup kota kuno Hippo. Selama
berabad-abad, nama-nama tempat yang menyambut kita telah berubah, tetapi para
kudus terus berperan sebagai pelindung kita dan saksi setia hubungan dengan
negeri yang berasal dari surga. Justru dinamika inilah yang diungkapkan Tuhan
pada malam hari kepada Nikodemus: inilah kekuatan yang ditanamkan Kristus dalam
kelemahan iman dan kegigihan pencariannya.
Diutus oleh Roh Allah, yang “engkau
tidak tahu dari mana Ia datang atau ke mana Ia pergi” (Yoh 3:8), Yesus adalah
tamu istimewa bagi Nikodemus. Bahkan, Ia memanggilnya kepada kehidupan baru,
mempercayakan kepada lawan bicaranya — dan juga kepada kita — suatu tugas yang
mengejutkan: “Kamu harus dilahirkan kembali” (ayat 7). Demikianlah undangan
bagi setiap orang yang mencari keselamatan! Undangan Yesus melahirkan perutusan
seluruh Gereja, dan akibatnya bagi komunitas kristiani di Aljazair: dilahirkan
kembali dari atas, yaitu dari Allah. Dalam sudut pandang ini, iman mengatasi
kesulitan duniawi dan rahmat Tuhan membuat padang gurun menjadi subur. Namun
keindahan seruan ini juga membawa tantangan, yang sesuai ajakan Bacaan Injil
harus kita hadapi bersama.
Faktanya, kata-kata Kristus mengandung
seluruh kekuatan sebuah perintah: kamu harus dilahirkan kembali dari atas!
Perintah seperti itu terdengar di telinga kita sebagai suatu prestasi yang
mustahil. Namun, ketika kita mendengarkan dengan saksama Dia yang memberi
perintah, kita akan memahami bahwa ini bukan paksaan yang lalim atau
ketidakleluasaan, apalagi kutukan atas kegagalan. Sebaliknya, kewajiban yang
diungkapkan oleh Yesus tersebut merupakan anugerah kebebasan bagi kita, karena
mengungkapkan kemungkinan yang tak terduga: kita dapat dilahirkan kembali dari
atas berkat Allah. Oleh karena itu, kita harus melakukannya sesuai dengan
kehendak kasih-Nya, yang ingin memperbarui umat manusia dengan memanggil kita
kepada persekutuan hidup yang dimulai dengan iman. Seraya mengajak kita untuk
memperbarui hidup kita sepenuhnya, Kristus juga memberi kita kekuatan untuk
melakukannya. Santo Agustinus membuktikan hal ini dengan baik ketika berdoa
seperti ini, “Berilah, ya Tuhan, apa yang Engkau perintahkan dan perintahkanlah
apa yang Engkau kehendaki” (Pengakuan-pengakuan, X, 29, 40).
Oleh karena itu, ketika kita bertanya
pada diri sendiri bagaimana masa depan yang penuh keadilan, perdamaian,
kerukunan, dan keselamatan akan mungkin terjadi, kita harus ingat bahwa kita
sedang mengajukan pertanyaan yang sama kepada Allah seperti yang diajukan
Nikodemus: dapatkah kisah hidup kita benar-benar berubah? Kita sangat terbebani
oleh masalah, kesulitan, dan kesengsaraan! Dapatkah kita benar-benar memulai
hidup kita kembali? Ya! Jawaban Tuhan, yang penuh kasih, memenuhi hati kita
dengan pengharapan. Betapa pun terbebaninya kita oleh penderitaan atau dosa:
Yesus yang disalibkan menanggung semua beban ini bersama kita dan untuk kita.
Betapa pun putus asanya kita karena kelemahan kita: justru pada saat itulah
Allah menyatakan kekuatan-Nya, Allah yang telah membangkitkan Kristus dari
kematian untuk memberikan hidup kepada dunia. Kita masing-masing dapat
mengalami kebebasan hidup baru yang berasal dari iman kepada Sang Penebus.
Sekali lagi, Santo Agustinus memberi kita teladan tentang hal ini: kita menghormatinya
karena pertobatannya yang bahkan melebihi kebijaksanaannya. Dalam kelahiran
kembali ini, yang secara ilahi disertai dengan air mata ibunya, Santa Monika,
ia mendapati dirinya berseru: “Oleh karena itu, aku tidak dapat ada, tidak
dapat ada sama sekali, ya Allahku, kecuali Engkau ada di dalam diriku. Atau
bukankah seharusnya aku berkata, bahwa aku tidak dapat ada kecuali aku ada di
dalam Engkau” (Pengakuan-pengakuan, I, 2).
Umat kristiani benar-benar dilahirkan
dari atas, diperbarui oleh Allah sebagai saudara dan saudari Yesus, dan Gereja
yang memelihara mereka dengan sakramen-sakramen adalah pelukan hangat bagi
semua orang. Seperti yang baru saja kita dengar, Kisah Para Rasul menjadi saksi
atas hal ini dengan menggambarkan gaya hidup yang menjadi ciri khas umat
manusia ketika telah diperbarui oleh Roh Kudus (bdk. Kis. 4:32-37). Bahkan hari
ini, kita harus menerima ketentuan apostolik ini dan mempraktikkannya,
merenungkannya sebagai kriteria otentik untuk reformasi gerejawi: reformasi
yang harus dimulai dari hati, jika ingin menjadi tulus, dan harus mencakup
semua orang jika ingin efektif.
Pertama, “kumpulan orang yang telah
percaya itu sehati dan sejiwa” (ayat 32). Kesatuan rohani ini adalah concordia:
sebuah kata yang tepat menggambarkan persekutuan hati yang berdenyut sebagai
kesatuan karena mereka bersatu dengan hati Kristus. Oleh karena itu, Gereja
perdana tidak didasarkan pada kontrak sosial, melainkan pada keselarasan iman,
kasih sayang, gagasan, dan keputusan hidup yang berpusat pada kasih Allah yang
menjadi manusia untuk menyelamatkan semua bangsa di bumi.
Kedua, marilah kita mengagumi dampak
nyata dari kesatuan rohani di antara orang-orang percaya: “segala sesuatu
adalah kepunyaan mereka bersama” (ayat 32). Setiap orang memiliki segala
sesuatu, saling berbagi harta benda sebagai anggota satu tubuh. Tidak seorang
pun kehilangan apa pun, karena setiap orang berbagi apa yang mereka miliki.
Karena kepunyaan dapat diubah menjadi pemberian, pengabdian persaudaraan ini
bukan utopia. Hanya hati yang terpecah belah dan jiwa yang dikuasai oleh
keserakahan yang percaya bahwa itu adalah utopia. Sebaliknya, iman kepada satu
Allah, Tuhan langit dan bumi, mempersatukan manusia menurut keadilan yang
sempurna, yang berseru kepada setiap orang untuk berbuat kasih — yaitu,
mengasihi setiap makhluk dengan kasih yang diberikan Allah kepada kita di dalam
Kristus. Karena itu, dalam menghadapi kemiskinan dan penindasan, kasih
merupakan prinsip utama bagi umat kristiani: marilah kita berbuat kepada sesama
kita seperti yang kita kehendaki supaya mereka perbuat kepada kita (bdk. Mat
7:12). Terinspirasi oleh hukum ini, yang ditulis Allah di dalam hati kita,
Gereja terus menerus dilahirkan kembali, karena di mana ada keputusasaan, ia
menyalakan pengharapan, di mana ada penderitaan, ia membawa martabat, dan di
mana ada pertikaian, ia membawa rekonsiliasi.
Ketiga, perikop dari Kisah Para Rasul
menunjukkan kepada kita dasar kehidupan baru ini, yang mencakup orang-orang
dari setiap bahasa dan budaya: “Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi
kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam anugerah
yang melimpah-limpah” (ayat 33). Amal kasih yang memotivasi mereka lebih dari
sekadar komitmen moral; suatu tanda keselamatan: para rasul memberitakan bahwa
hidup kita dapat berubah karena Kristus telah bangkit dari antara orang mati.
Oleh karena itu, tugas utama para gembala sebagai pelayan Injil adalah memberi
kesaksian tentang Allah di hadapan dunia dengan sehati dan sejiwa, tidak
membiarkan kekhawatiran kita menyesatkan kita melalui rasa takut, atau tren
melemahkan kita melalui kompromi. Bersamamu, saudara-saudara dalam episkopat
dan presbiterat, marilah kita senantiasa memperbarui perutusan ini demi mereka
yang dipercayakan kepada kita, sehingga melalui pelayanannya, seluruh Gereja
dapat menjadi pesan kehidupan baru bagi mereka yang kita temui.
Saudara-saudara kristiani di Aljazair
yang terkasih, kamu tetap menjadi tanda kasih Kristus yang rendah hati dan
setia di negeri ini. Berikan kesaksian tentang Injil melalui tindakan
sederhana, hubungan yang tulus, dan dialog yang dijalani sehari-hari: dengan
cara ini, kamu membawa cita rasa dan terang ke tempat tinggalmu. Kehadiranmu di
negeri ini seperti dupa: sebutir dupa yang menyala dan menyebarkan keharuman
karena memuliakan Tuhan serta memberikan sukacita dan penghiburan kepada begitu
banyak saudara dan saudari. Dupa ini adalah unsur kecil yang berharga yang
tidak menarik perhatian pada dirinya sendiri, tetapi mengajak kita untuk
mengarahkan hati kita kepada Allah, saling mendorong untuk bertahan di tengah
kesulitan masa kini. Dari pedupaan hati kita, semoga muncul pujian, berkat, dan
permohonan, menyebarkan keharuman yang semerbak (bdk. Ef 5:2) dari belas
kasihan, sedekah, dan pengampunan. Sejarahmu adalah sejarah keramahan yang
murah hati dan ketahanan di masa-masa sulit. Di sinilah para martir berdoa; di
sinilah Santo Agustinus mengasihi kawanan dombanya, dengan sungguh-sungguh
mencari kebenaran dan melayani Kristus dengan iman yang teguh. Jadilah pewaris
tradisi ini, memberikan kesaksian melalui kasih persaudaraan akan kebebasan
mereka yang lahir dari atas sebagai pengharapan keselamatan bagi dunia.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 15 April 2026)


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.