Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA BERSAMA KORPS KEPOLISIAN VATIKAN DI LOURDES GROTTO, TAMAN VATIKAN 28 September 2019


Bacaan Ekaristi : Am. 6:1a,4-7; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; 1Tim. 6:11-16; Luk. 16:19-31.

Bacaan Injil yang pertama, perikop Injil ini, mungkin dapat membuat kita keliru dengan pesan pengajaran Yesus yang mendukung derma, mendukung keadilan, yaitu, pengajaran Yesus yang semacam moral. Tetapi itu sesuatu yang lain. tepatnya Yesus ingin memasuki jalan manusia seumur hidup, dan karena Injil ini Ia berbicara tentang dua kehidupan : kehidupan seorang kaya dan kehidupan seorang miskin, jalan kehidupan masing-masing. Injil ini membuat kita melihat takdir - bukan takdir magis, bukan - takdir yang dapat dibuat oleh manusia untuk dirinya sendiri, karena kita membuat takdir kita, kita melakukan perjalanan di jalan kita dan seringkali kita membuat jalan kita sendiri. Terkadang Tuhan campur tangan, Tuhan memberi rahmat, tetapi kita bertanggung jawab atas perjalanan kita. Tuhan memberi kita rahmat secara cuma-cuma, Ia membantu kita untuk selalu pergi ke hadirat-Nya, tetapi perjalanan kita, perjalanan kita, adalah tanggung jawab kita. Saya ingin memasukkan sedikit ke dalam pesan ini.


"Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan". Ini adalah satu kehidupan. Ada lagi : ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya". Dua kehidupan. Bukan momen kehidupan : dua jalan kehidupan, karena orang kaya terus menjalani kehidupan ini dan orang miskin terus menderita dalam kemiskinan. Ini bukan hal yang aneh : ini terjadi setiap hari di setiap kota, di setiap belahan dunia. Tuhan menceritakan perikop Injil ini dengan penuh kedamaian dan ketenangan.

Sebaliknya, dalam Bacaan Pertama kita mendengar nabi Amos, yang tidak membicarakan hal ini dengan ketenangan seperti itu. “Celaka”, ia memulai, “celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria! Orang-orang yang berbaring di tempat tidur dari gading dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan anak-anak domba dari kumpulan kambing domba dan anak-anak lembu dari tengah-tengah kawanan binatang yang tambun; yang bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya; yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf! Sebab itu sekarang, mereka akan pergi sebagai orang buangan di kepala barisan, dan berlalulah keriuhan pesta orang-orang yang duduk berjuntai itu". Ada pesta pora, ada orang kaya dan ada ketidakadilan terhadap orang-orang pilihan Tuhan, dan di sini ada ancaman dari Tuhan yang menghukum dengan mengirim ke pembuangan.

Sejauh ini itu tampaknya hanya sebuah ajaran moral : tolong berlaku adil satu sama lain. Tetapi hal yang paling penting, yang paling kuat, kunci untuk memahami hal ini diberikan dalam doa awal, Doa Pembuka, yang mengatakan: "Ya Allah, Engkau memanggil nama orang miskin, sementara orang kaya tidak dipanggil namanya". Ini masalahnya. Keduanya menjalani hidup mereka, masing-masing dengan pilihan kehidupan yang ia buat. Orang miskin telah berhasil memiliki nama, membuat nama untuk dirinya sendiri, dipanggil namanya, dengan kata benda; yang lainnya, orang kaya, kita tidak tahu siapa namanya - kita hanya memiliki kata sifat, "kaya" : ia gagal mengembangkan nama, martabat di hadapan Allah. Kehidupan dimainkan : perpaduan memiliki nama atau ketidakmantapan yang membuat kita tidak memiliki nama. Orang kaya itu tahu bahwa di pintu rumahnya ada orang miskin ini dan berpura-pura tidak melihatnya, karena ia hanya memandang dirinya sendiri, ia fokus pada dirinya sendiri, pada kesombongan, ia percaya dirinya sebagai penguasa alam semesta, dan khawatir akan kekayaan serta berbagai pesta dan hal yang ia lakukan. Apakah ia tidak tahu siapakah nama orang miskin itu? Ya, ia mengetahuinya, karena ketika ia berada di neraka ia bertanya kepada Abraham : "Suruhlah Lazarus". Kemunafikan kesombongan, kemunafikan orang-orang yang percaya bahwa mereka dapat menjadi penebus bagi diri mereka sendiri, untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, hanya dengan berbagai hal. Tetapi nama mereka tidak tumbuh, mereka tidak memiliki nama, mereka tanpa nama. Sebaliknya, dalam teks Injil, lima kali nama orang miskin itu disebutkan. Lima kali, berlebihan, tetapi mengapa Yesus melakukan ini? Karena seperti yang dikatakan dalam doa: “Tuhan, panggil orang miskinmu dengan nama, sedangkan orang kaya tidak punya nama”. Ini adalah kisah Injil ini, kisah dua jalan kehidupan : yang satu yang telah berhasil membawa namanya sendiri; dan yang lain, yang menyangkut dirinya sendiri, menyangkut keegoisan, tidak mampu membuat kepribadiannya, martabatnya tumbuh. Ia tidak memiliki nama.

Seluruh kehidupan kita adalah semacam jalan menuju konsolidasi, untuk memperkuat nama kita dengan kejujuran hidup, dengan jalan yang ditunjukkan Tuhan kepada kita, dan untuk ini kita harus saling membantu.

Seseorang mungkin berkata kepada saya : “Bapa, Injil baik-baik saja, tetapi apa hubungannya dengan Kepolisian hari ini? Kamu juga harus menjaga semua orang yang ada di sini, yang memiliki kemungkinan untuk tumbuh dewasa, memiliki nama. Kamu adalah orang-orang yang bekerja untuk martabat kita masing-masing sehingga kita masing-masing dapat memiliki nama dan membawa namanya sendiri, nama yang diinginkan Tuhan untuk kita bawa. Dan ketika kamu melakukan beberapa tindakan disipliner - "Ini tidak bisa dilakukan" - justru untuk menghentikan pesta pora tanpa nama yang terburuk dari pesta pora manusia ini : tidak menerima nama dan ingin kembali ke kegelapan tanpa nama. Itulah sebabnya terpikir oleh saya bahwa dapat dikatakan Kepolisian adalah penjaga nama, penjaga seluruh nama kita. Tidak membersihkan file setiap orang : jika ada sesuatu yang buruk, kita membakarnya ... Tidak, "nama" ini tidak valid. Tetapi untuk membantu mendisiplinkan negara Kota Vatikan, untuk memungkinkan setiap penghuninya memiliki nama. Dan untuk itu saya mengucapkan banyak terima kasih. Lanjutkan dengan cara ini, untuk bekerja demi martabat orang-orang, masing-masing orang, dan dengan cara ini kamu akan melanjutkan panggilanmu.

Akhirnya, saya ingin mengatakan satu kata tentang dosa yang telah saya lakukan hari ini, dan kepada kamu yang adalah polisi : hari ini saya telah menyelundupkan! Saya menyelundupkan ke dalam Misa ini sebuah keluarga teman-teman yang merayakan 50 tahun ulang tahun pernikahan mereka, dan saya mengadakan Misa ini dan mereka ingin saya merayakannya untuk mereka, jadi saya menyelundupkan mereka di sini dalam Misa ini bersama kamu. Mereka empat puluh enam pasang, mereka ada di sana. Pasangan suami istri, anak-anak dan cucu-cucu. Sebanyak empat puluh enam pasang. Sebuah keluarga yang menyenangkan! Berdoalah untuk mereka juga, agar mereka memiliki nama. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.