Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS DI PLAZA DE CIBELES, MADRID, SPANYOL 7 Juni 2026

Bacaan Ekaristi : Ul. 8:2-3,14-16; Mzm. 147:12-15,19-20; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58.

 

Yang Terkemuka dan Yang Terhormat,

Para imam, biarawan, dan biarawati yang terkasih,

Yang Mulia Raja dan Ratu,

Saudara-saudari terkasih,

 

Ketika saya memulai kunjungan saya ke Spanyol, dengan hati yang penuh sukacita saya memimpin perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini.

 

Kita berkumpul di sekitar Ekaristi, karunia kehadiran Kristus yang hidup di antara kita. Dia yang bermaksud mempersembahkan hidup-Nya bagi kita agar kita dapat masuk ke dalam persekutuan dengan Bapa dan menjadi anak-anak-Nya, hadir di sini sebagai Roti hidup yang telah turun dari surga, untuk memberi kita makanan dengan hidup Allah sendiri, dengan kasih yang lebih kuat daripada kematian.

 

Kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam Roti Ekaristi ini berakar kuat dalam iman dan sejarah umatmu. Di Madrid, seperti di banyak bagian Spanyol lainnya, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus lebih dari sekadar perayaan lain dalam kalender liturgi. Suatu cara untuk kembali ke inti iman guna memperbarui kasih dan kesetiaan kita kepada Allah. Prosesi khidmat yang diadakan pada hari ini selama berabad-abad telah membentuk kesalehan, seni, musik, arsitektur, dan kehidupan rakyat Spanyol. Bahkan hingga hari ini, prosesi tersebut masih mengungkapkan dan mewujudkan kepekaan perasaan spiritual negara ini melalui keindahan dan keanggunan karpet bunga, altar yang didirikan di jalanan, monstrans dan alas yang dibuat dengan cermat, madah pujian, dan busana liturgi. Ini bukanlah pameran, remah-remah cerita rakyat, atau sekadar pertunjukan keindahan. Sebuah pengakuan iman di hadapan Tuhan yang telah bangkit, yang hidup dan terus berjalan di antara kita, yang menjadi roti untuk memuaskan rasa lapar kita akan hidup, dan mengunjungi relung hati dan sejarah kita, bahkan yang diselimuti kegelapan.

 

Sebagaimana Kristus memberikan diri-Nya sebagai santapan dalam perayaan Ekaristi, prosesi ini menunjukkan bahwa Ia tidak terbatas pada gereja, tetapi keluar untuk menemui kita. Yesus berjalan di jalan-jalan, melintasi alun-alun, dan mengunjungi lingkungan kita, berdiam di tengah kehidupan kita sehari-hari. Ia adalah Allah yang dekat dengan kita, yang berjalan bersama umat-Nya, Tuhan sejarah. Ia adalah penghibur bagi yang lemah, terang bagi keluarga, pengharapan bagi yang sakit, dan damai sejahtera bagi mereka yang menderita. Kristus yang diarak melalui jalan-jalan dalam monstrans adalah Kristus yang sama yang mengidentifikasi diri dengan orang miskin, yang tertindas, mereka yang sendirian dan terlantar. Bukan suatu kebetulan bahwa Gereja di Spanyol telah lama menggabungkan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dengan Hari Amal.

 

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus bukan sekadar soal membawa monstrans, tetapi juga soal membiarkan diri kita keluar dari keegoisan dan ketidakpedulian, dari iman yang nyaman dan bersifat pribadi, sehingga kita dapat menanggapi undangan-Nya untuk bertobat, mengubah sudut pandang kita, dan menyambut kehadiran-Nya yang mengubah rupa diri kita dan menjadikan kita pembangun sebuah dunia baru.

 

Oleh karena itu, ingatan sejarah tentang prosesi Tubuh dan Darah Kristus tidak terbatas pada nostalgia yang penuh kerinduan. Sebaliknya, itu berdiri sebagai undangan di saat ini, dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam hubungan kita, dalam masyarakat, dan dalam membangun masa depan. Dalam konteks inilah kita harus memahami undangan untuk "mengingat" yang kita dengar dalam bacaan pertama: "Ingatlah akan seluruh perjalanan yang kaulakukan atas pimpinan TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini" (Ul. 8:2); ingatlah bagaimana Ia memberi makan kamu dengan manna ketika kamu lapar. Kita harus "mengingat" justru agar tidak melupakan siapa Tuhan, agar tidak jatuh ke dalam godaan untuk mempercayai berhala-berhala lain dan makan roti yang tidak memuaskan.

 

Inilah tugas Spanyol saat ini dan di masa depan: memastikan bahwa keagamaan yang telah membentuk dan mendefinisikan negara ini selama berabad-abad bukanlah museum masa lalu yang hanya dikunjungi, tetapi sekolah iman yang dapat kita ambil pelajarannya hingga saat ini: Sekolah yang mengajarkan kita untuk berlutut di hadapan Tuhan dan sesama, karena tidak seorang pun dapat berlutut di hadapan Tuhan seraya menghina saudaranya; Sekolah yang mengajarkan kita tentang rasa syukur akan kasih yang menjadi anugerah, sehingga dapat mengalir di antara kita dan memutus rantai segala keegoisan; Sekolah tempat kita belajar bahwa Allah adalah kehadiran yang nyata dan bahwa kita pun dipanggil untuk hadir dalam kenyataan dan tantangan masyarakat, tidak menghindar, tetapi secara pribadi berkomitmen untuk membangun kebaikan bersama.

 

Saudara-saudari, saya ingin mengingat Santo Manuel González, uskup tabernakel yang ditelantarkan. Kehidupannya mengingatkan kita bahwa Ekaristi harus dihormati bukan hanya selama perayaan besar atau pada kesempatan khusus, tetapi juga melalui kesetiaan yang hening dari mereka yang menyertai Tuhan dengan persahabatan yang rendah hati dan tenang yang dipelihara hari demi hari. Saya juga ingin mengingat kembali bait-bait puisi Santo Yohanes dari Salib: “Karena aku mengenal dengan baik mata air yang mengalir dan terus mengalir, meskipun malam tiba” (Nyanyian Jiwa yang Bersukacita dalam Mengenal Allah melalui Iman). Saat dipenjara dalam kondisi tak bersahabat di penjara biara Toledo, tepat sekitar saat Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada tahun 1578, ia mengenali kehadiran Tuhan yang tersembunyi dalam kegelapan selnya, suatu kehadiran yang memancarkan cahaya yang tidak pernah pudar dan mengalirkan kehidupan yang tidak pernah berkurang. Yesus Ekaristi adalah “mata air abadi yang tersembunyi” — mata air yang mengalir dan memuaskan dahaga, namun tanpa membutakan, tanpa memaksakan diri melalui kekuatan lahiriah, tanpa menampilkan diri secara spektakuler (bdk. idem).

 

Marilah kita kembali kepada-Nya dengan kasih yang tulus. Marilah kita membuka diri untuk berjumpa Dia, marilah kita membiarkan Dia memuaskan dahaga hati kita, sehingga kita dapat melangkah maju di jalan kehidupan dan sejarah, membawa kepada orang-orang aliran air segar ini, aliran kasih, damai, keadilan, dan sukacita. Marilah kita minum kembali dari mata air Ekaristi ini, yang tidak mengurung kita dalam devosi pribadi, tetapi mengutus kita untuk menyegarkan saudara-saudari kita, keluarga kita, kaum miskin, yang menderita, dan mereka yang telah kehilangan pengharapan. Rahmat Ekaristi mengubah rupa diri kita dan menjadikan kita pelaku utama perubahan rupa sejarah, tanda pengharapan bagi mereka yang kita temui.

 

Semoga Tuhan Yesus, yang hadir dalam Ekaristi, mengubah rupa dirimu menjadi roti yang dipecah-pecahkan, diberikan, dan dipersembahkan, sehingga kehidupan yang penuh dapat tumbuh bagimu, keluargamu, dan negaramu.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Juni 2026)