Bacaan
Ekaristi : Ul. 8:2-3,14-16; Mzm. 147:12-15,19-20; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58.
Yang
Terkemuka dan Yang Terhormat,
Para
imam, biarawan, dan biarawati yang terkasih,
Yang
Mulia Raja dan Ratu,
Saudara-saudari
terkasih,
Ketika
saya memulai kunjungan saya ke Spanyol, dengan hati yang penuh sukacita saya
memimpin perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini.
Kita
berkumpul di sekitar Ekaristi, karunia kehadiran Kristus yang hidup di antara
kita. Dia yang bermaksud mempersembahkan hidup-Nya bagi kita agar kita dapat
masuk ke dalam persekutuan dengan Bapa dan menjadi anak-anak-Nya, hadir di sini
sebagai Roti hidup yang telah turun dari surga, untuk memberi kita makanan
dengan hidup Allah sendiri, dengan kasih yang lebih kuat daripada kematian.
Kesadaran
akan kehadiran Tuhan dalam Roti Ekaristi ini berakar kuat dalam iman dan
sejarah umatmu. Di Madrid, seperti di banyak bagian Spanyol lainnya, Hari Raya
Tubuh dan Darah Kristus lebih dari sekadar perayaan lain dalam kalender
liturgi. Suatu cara untuk kembali ke inti iman guna memperbarui kasih dan
kesetiaan kita kepada Allah. Prosesi khidmat yang diadakan pada hari ini selama
berabad-abad telah membentuk kesalehan, seni, musik, arsitektur, dan kehidupan
rakyat Spanyol. Bahkan hingga hari ini, prosesi tersebut masih mengungkapkan
dan mewujudkan kepekaan perasaan spiritual negara ini melalui keindahan dan
keanggunan karpet bunga, altar yang didirikan di jalanan, monstrans dan alas
yang dibuat dengan cermat, madah pujian, dan busana liturgi. Ini bukanlah
pameran, remah-remah cerita rakyat, atau sekadar pertunjukan keindahan. Sebuah
pengakuan iman di hadapan Tuhan yang telah bangkit, yang hidup dan terus
berjalan di antara kita, yang menjadi roti untuk memuaskan rasa lapar kita akan
hidup, dan mengunjungi relung hati dan sejarah kita, bahkan yang diselimuti
kegelapan.
Sebagaimana
Kristus memberikan diri-Nya sebagai santapan dalam perayaan Ekaristi, prosesi
ini menunjukkan bahwa Ia tidak terbatas pada gereja, tetapi keluar untuk
menemui kita. Yesus berjalan di jalan-jalan, melintasi alun-alun, dan
mengunjungi lingkungan kita, berdiam di tengah kehidupan kita sehari-hari. Ia
adalah Allah yang dekat dengan kita, yang berjalan bersama umat-Nya, Tuhan
sejarah. Ia adalah penghibur bagi yang lemah, terang bagi keluarga, pengharapan
bagi yang sakit, dan damai sejahtera bagi mereka yang menderita. Kristus yang
diarak melalui jalan-jalan dalam monstrans adalah Kristus yang sama yang
mengidentifikasi diri dengan orang miskin, yang tertindas, mereka yang
sendirian dan terlantar. Bukan suatu kebetulan bahwa Gereja di Spanyol telah lama
menggabungkan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dengan Hari Amal.
Hari Raya
Tubuh dan Darah Kristus bukan sekadar soal membawa monstrans, tetapi juga soal
membiarkan diri kita keluar dari keegoisan dan ketidakpedulian, dari iman yang
nyaman dan bersifat pribadi, sehingga kita dapat menanggapi undangan-Nya untuk
bertobat, mengubah sudut pandang kita, dan menyambut kehadiran-Nya yang
mengubah rupa diri kita dan menjadikan kita pembangun sebuah dunia baru.
Oleh
karena itu, ingatan sejarah tentang prosesi Tubuh dan Darah Kristus tidak
terbatas pada nostalgia yang penuh kerinduan. Sebaliknya, itu berdiri sebagai
undangan di saat ini, dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam hubungan kita,
dalam masyarakat, dan dalam membangun masa depan. Dalam konteks inilah kita
harus memahami undangan untuk "mengingat" yang kita dengar dalam
bacaan pertama: "Ingatlah akan seluruh perjalanan yang kaulakukan atas
pimpinan TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini"
(Ul. 8:2); ingatlah bagaimana Ia memberi makan kamu dengan manna ketika kamu
lapar. Kita harus "mengingat" justru agar tidak melupakan siapa
Tuhan, agar tidak jatuh ke dalam godaan untuk mempercayai berhala-berhala lain
dan makan roti yang tidak memuaskan.
Inilah
tugas Spanyol saat ini dan di masa depan: memastikan bahwa keagamaan yang telah
membentuk dan mendefinisikan negara ini selama berabad-abad bukanlah museum
masa lalu yang hanya dikunjungi, tetapi sekolah iman yang dapat kita ambil
pelajarannya hingga saat ini: Sekolah yang mengajarkan kita untuk berlutut di
hadapan Tuhan dan sesama, karena tidak seorang pun dapat berlutut di hadapan
Tuhan seraya menghina saudaranya; Sekolah yang mengajarkan kita tentang rasa
syukur akan kasih yang menjadi anugerah, sehingga dapat mengalir di antara kita
dan memutus rantai segala keegoisan; Sekolah tempat kita belajar bahwa Allah
adalah kehadiran yang nyata dan bahwa kita pun dipanggil untuk hadir dalam
kenyataan dan tantangan masyarakat, tidak menghindar, tetapi secara pribadi
berkomitmen untuk membangun kebaikan bersama.
Saudara-saudari,
saya ingin mengingat Santo Manuel González, uskup tabernakel yang
ditelantarkan. Kehidupannya mengingatkan kita bahwa Ekaristi harus dihormati
bukan hanya selama perayaan besar atau pada kesempatan khusus, tetapi juga
melalui kesetiaan yang hening dari mereka yang menyertai Tuhan dengan
persahabatan yang rendah hati dan tenang yang dipelihara hari demi hari. Saya
juga ingin mengingat kembali bait-bait puisi Santo Yohanes dari Salib: “Karena
aku mengenal dengan baik mata air yang mengalir dan terus mengalir, meskipun
malam tiba” (Nyanyian Jiwa yang Bersukacita dalam Mengenal Allah melalui Iman).
Saat dipenjara dalam kondisi tak bersahabat di penjara biara Toledo, tepat
sekitar saat Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada tahun 1578, ia mengenali
kehadiran Tuhan yang tersembunyi dalam kegelapan selnya, suatu kehadiran yang
memancarkan cahaya yang tidak pernah pudar dan mengalirkan kehidupan yang tidak
pernah berkurang. Yesus Ekaristi adalah “mata air abadi yang tersembunyi” —
mata air yang mengalir dan memuaskan dahaga, namun tanpa membutakan, tanpa
memaksakan diri melalui kekuatan lahiriah, tanpa menampilkan diri secara
spektakuler (bdk. idem).
Marilah
kita kembali kepada-Nya dengan kasih yang tulus. Marilah kita membuka diri
untuk berjumpa Dia, marilah kita membiarkan Dia memuaskan dahaga hati kita,
sehingga kita dapat melangkah maju di jalan kehidupan dan sejarah, membawa
kepada orang-orang aliran air segar ini, aliran kasih, damai, keadilan, dan
sukacita. Marilah kita minum kembali dari mata air Ekaristi ini, yang tidak
mengurung kita dalam devosi pribadi, tetapi mengutus kita untuk menyegarkan
saudara-saudari kita, keluarga kita, kaum miskin, yang menderita, dan mereka
yang telah kehilangan pengharapan. Rahmat Ekaristi mengubah rupa diri kita dan
menjadikan kita pelaku utama perubahan rupa sejarah, tanda pengharapan bagi
mereka yang kita temui.
Semoga
Tuhan Yesus, yang hadir dalam Ekaristi, mengubah rupa dirimu menjadi roti yang
dipecah-pecahkan, diberikan, dan dipersembahkan, sehingga kehidupan yang penuh
dapat tumbuh bagimu, keluargamu, dan negaramu.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 7 Juni 2026)
.jpeg)