Bacaan
Ekaristi : Kej. 2:7-9; 3:1-7; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; Rm. 5:12-19; Mat.
4:1-11.
Saudara-saudari
terkasih:
Beberapa
hari yang lalu, dengan Misa Rabu Abu, kita memulai perjalanan Masa Prapaskah
kita. Prapaskah adalah masa liturgi yang intens, yang memberi kita kesempatan
untuk menemukan kembali kekayaan baptisan kita, hidup sebagai ciptaan yang
sepenuhnya diperbarui melalui inkarnasi, wafat, dan kebangkitan Yesus.
Bacaan
pertama dan Bacaan Injil yang baru saja kita dengar, dalam dialog satu sama
lain, membantu kita menemukan kembali karunia baptisan sebagai rahmat yang
membuka kunci kebebasan kita. Kisah Kejadian mengingatkan kita akan kondisi
kita sebagai ciptaan, yang dicobai bukan oleh larangan, sebagaimana sering kita
yakini, tetapi oleh sebuah kemungkinan: kemungkinan sebuah hubungan. Manusia
bebas untuk mengenali dan menerima perbedaan Sang Pencipta, yang mengenali dan
menerima perbedaan ciptaan-Nya. Untuk mencegah kemungkinan ini, ular
menyarankan anggapan bahwa ia mampu meniadakan semua perbedaan antara ciptaan
dan Sang Pencipta, menggoda manusia dengan khayalan menjadi Allah. Iblis
mendesak mereka untuk merebut sesuatu yang, menurutnya, akan ditolak Allah agar
mereka tetap berada dalam keadaan inferioritas selamanya. Gambaran yang jelas
dari Kejadian ini adalah mahakarya yang tak tertandingi yang menggambarkan
drama kebebasan.
Bacaan
Injil tampaknya menjawab dilema yang sudah lama ada: Dapatkah aku menjalani
hidupku sepenuhnya dengan mengatakan "ya" kepada Allah? Atau, agar
bebas dan bahagia, haruskah aku membebaskan diri dari Dia?
Adegan
pencobaan Kristus, pada intinya, membahas pertanyaan dramatis ini. Adegan ini
menuntun kita untuk menemukan kemanusiaan sejati Yesus, yang, sebagaimana
diajarkan oleh Konstitusi Konsili Gaudium et Spes, mengungkapkan manusia kepada
dirinya sendiri: “Sesungguhnya hanya dalam misteri Sabda yang menjelamalah
misteri manusia benar-benar menjadi jelas.” (GS, 22). Sesungguhnya, kita
melihat Putra Allah yang, dengan menolak jerat seteru abadi, menunjukkan kepada
kita manusia baru, manusia bebas, sebuah penampakan kebebasan yang terwujud
dengan mengatakan “ya” kepada Allah.
Kemanusiaan
baru ini lahir dari bejana baptis. Oleh karena itu, khususnya dalam Masa
Prapaskah ini, kita dipanggil untuk menemukan kembali rahmat baptisan, sebagai
sumber kehidupan yang berdiam di dalam diri kita dan yang, secara dinamis,
menyertai kita dengan penuh hormat terhadap kebebasan kita.
Pertama,
Sakramen itu sendiri bersifat dinamis, karena apa yang ditawarkannya tidak terbatas
pada ruang dan waktu ritus, tetapi merupakan rahmat yang senantiasa menyertai
kita sepanjang hidup kita, menopang ketaatan kita kepada Kristus. Tetapi
baptisan juga dinamis karena selalu menuntun kita ke jalan yang baru, karena
rahmat adalah suara batin yang mendorong kita untuk menyesuaikan diri dengan
Yesus, membebaskan kebebasan kita sehingga dapat menemukan kepenuhannya dalam
mengasihi Allah dan sesama.
Dengan
demikian kita memahami sifat relasional baptisan, yang memanggil kita untuk
hidup dalam persahabatan dengan Yesus dan, dengan cara ini, masuk ke dalam
persekutuan Dia dengan Bapa. Hubungan yang penuh rahmat ini memungkinkan kita
untuk juga hidup dalam kedekatan yang autentik dengan sesama kita, kebebasan
yang — tidak seperti yang ditawarkan Iblis kepada Yesus— bukan pengejaran
kekuasaan pribadi, tetapi kasih yang memberi diri dan menjadikan kita semua
saudara dan saudari. Sesungguhnya, Santo Paulus menegaskan, “Tidak ada orang
Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada
laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus”
(Gal 3:28).
Saudara-saudari,
Paus Leo XIII meminta Santo Yohanes Bosco untuk membangun gereja tempat kita
berada hari ini. Beliau telah merasakan pentingnya tempat ini, di sebelah
Stasiun Termini dan di persimpangan unik di kota ini, yang ditakdirkan untuk
menjadi semakin penting seiring berjalannya waktu.
Oleh
karena itu, saudara-saudari terkasih, saat saya bertemumu hari ini, saya
melihat dalam dirimu kehadiran kedekatan yang istimewa, solidaritas dengan
tantangan wilayah ini. Memang, tempat ini adalah rumah bagi banyak mahasiswa,
pelancong yang datang dan pergi untuk bekerja, imigran yang mencari pekerjaan,
dan pengungsi muda yang, berkat inisiatif Salesian, telah menemukan di gedung
tetangga kesempatan untuk bertemu dengan kaum muda Italia seusia mereka dan
berpartisipasi dalam proyek integrasi. Dan kemudian ada saudara-saudari kita
yang tunawisma dan mencari perlindungan di pusat-pusat Caritas di Via Marsala.
Dalam beberapa meter saja, kita dapat menyaksikan kontradiksi zaman kita:
kehidupan tanpa beban dari mereka yang datang dan pergi dengan segala
kenyamanan dan mereka yang tunawisma; banyaknya kesempatan untuk berbuat baik
dan kekerasan yang merajalela; keinginan untuk bekerja jujur serta perdagangan
ilegal narkoba dan prostitusi.
Parokimu
dipanggil untuk bertanggung jawab atas kenyataan ini, menjadi ragi Injil dalam
adonan wilayah ini, menjadi tanda kedekatan dan amal kasih. Saya berterima
kasih kepada para Salesian atas kerja tanpa lelah yang mereka lakukan setiap
hari, dan saya mendorong semua orang untuk terus menjadi nyala api kecil terang
dan pengharapan di sini.
Semoga
Maria Penolong Orang Kristen selalu menopang jalan kita, menguatkan kita di
saat-saat godaan dan pencobaan, sehingga kita dapat sepenuhnya menghayati
kebebasan dan persaudaraan anak-anak Allah.
_____
(Peter
Suriadi - Bogor, 23 Februari 2026)


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.