Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PRAPASKAH I DI GEREJA HATI KUDUS YESUS CASTRO PRETORIO 22 FebruarI 2026

Bacaan Ekaristi : Kej. 2:7-9; 3:1-7; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; Rm. 5:12-19; Mat. 4:1-11.

 

Saudara-saudari terkasih:

 

Beberapa hari yang lalu, dengan Misa Rabu Abu, kita memulai perjalanan Masa Prapaskah kita. Prapaskah adalah masa liturgi yang intens, yang memberi kita kesempatan untuk menemukan kembali kekayaan baptisan kita, hidup sebagai ciptaan yang sepenuhnya diperbarui melalui inkarnasi, wafat, dan kebangkitan Yesus.

 

Bacaan pertama dan Bacaan Injil yang baru saja kita dengar, dalam dialog satu sama lain, membantu kita menemukan kembali karunia baptisan sebagai rahmat yang membuka kunci kebebasan kita. Kisah Kejadian mengingatkan kita akan kondisi kita sebagai ciptaan, yang dicobai bukan oleh larangan, sebagaimana sering kita yakini, tetapi oleh sebuah kemungkinan: kemungkinan sebuah hubungan. Manusia bebas untuk mengenali dan menerima perbedaan Sang Pencipta, yang mengenali dan menerima perbedaan ciptaan-Nya. Untuk mencegah kemungkinan ini, ular menyarankan anggapan bahwa ia mampu meniadakan semua perbedaan antara ciptaan dan Sang Pencipta, menggoda manusia dengan khayalan menjadi Allah. Iblis mendesak mereka untuk merebut sesuatu yang, menurutnya, akan ditolak Allah agar mereka tetap berada dalam keadaan inferioritas selamanya. Gambaran yang jelas dari Kejadian ini adalah mahakarya yang tak tertandingi yang menggambarkan drama kebebasan.

 

Bacaan Injil tampaknya menjawab dilema yang sudah lama ada: Dapatkah aku menjalani hidupku sepenuhnya dengan mengatakan "ya" kepada Allah? Atau, agar bebas dan bahagia, haruskah aku membebaskan diri dari Dia?

 

Adegan pencobaan Kristus, pada intinya, membahas pertanyaan dramatis ini. Adegan ini menuntun kita untuk menemukan kemanusiaan sejati Yesus, yang, sebagaimana diajarkan oleh Konstitusi Konsili Gaudium et Spes, mengungkapkan manusia kepada dirinya sendiri: “Sesungguhnya hanya dalam misteri Sabda yang menjelamalah misteri manusia benar-benar menjadi jelas.” (GS, 22). Sesungguhnya, kita melihat Putra Allah yang, dengan menolak jerat seteru abadi, menunjukkan kepada kita manusia baru, manusia bebas, sebuah penampakan kebebasan yang terwujud dengan mengatakan “ya” kepada Allah.

 

Kemanusiaan baru ini lahir dari bejana baptis. Oleh karena itu, khususnya dalam Masa Prapaskah ini, kita dipanggil untuk menemukan kembali rahmat baptisan, sebagai sumber kehidupan yang berdiam di dalam diri kita dan yang, secara dinamis, menyertai kita dengan penuh hormat terhadap kebebasan kita.

 

Pertama, Sakramen itu sendiri bersifat dinamis, karena apa yang ditawarkannya tidak terbatas pada ruang dan waktu ritus, tetapi merupakan rahmat yang senantiasa menyertai kita sepanjang hidup kita, menopang ketaatan kita kepada Kristus. Tetapi baptisan juga dinamis karena selalu menuntun kita ke jalan yang baru, karena rahmat adalah suara batin yang mendorong kita untuk menyesuaikan diri dengan Yesus, membebaskan kebebasan kita sehingga dapat menemukan kepenuhannya dalam mengasihi Allah dan sesama.

 

Dengan demikian kita memahami sifat relasional baptisan, yang memanggil kita untuk hidup dalam persahabatan dengan Yesus dan, dengan cara ini, masuk ke dalam persekutuan Dia dengan Bapa. Hubungan yang penuh rahmat ini memungkinkan kita untuk juga hidup dalam kedekatan yang autentik dengan sesama kita, kebebasan yang — tidak seperti yang ditawarkan Iblis kepada Yesus— bukan pengejaran kekuasaan pribadi, tetapi kasih yang memberi diri dan menjadikan kita semua saudara dan saudari. Sesungguhnya, Santo Paulus menegaskan, “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28).

 

Saudara-saudari, Paus Leo XIII meminta Santo Yohanes Bosco untuk membangun gereja tempat kita berada hari ini. Beliau telah merasakan pentingnya tempat ini, di sebelah Stasiun Termini dan di persimpangan unik di kota ini, yang ditakdirkan untuk menjadi semakin penting seiring berjalannya waktu.

 

Oleh karena itu, saudara-saudari terkasih, saat saya bertemumu hari ini, saya melihat dalam dirimu kehadiran kedekatan yang istimewa, solidaritas dengan tantangan wilayah ini. Memang, tempat ini adalah rumah bagi banyak mahasiswa, pelancong yang datang dan pergi untuk bekerja, imigran yang mencari pekerjaan, dan pengungsi muda yang, berkat inisiatif Salesian, telah menemukan di gedung tetangga kesempatan untuk bertemu dengan kaum muda Italia seusia mereka dan berpartisipasi dalam proyek integrasi. Dan kemudian ada saudara-saudari kita yang tunawisma dan mencari perlindungan di pusat-pusat Caritas di Via Marsala. Dalam beberapa meter saja, kita dapat menyaksikan kontradiksi zaman kita: kehidupan tanpa beban dari mereka yang datang dan pergi dengan segala kenyamanan dan mereka yang tunawisma; banyaknya kesempatan untuk berbuat baik dan kekerasan yang merajalela; keinginan untuk bekerja jujur ​​serta perdagangan ilegal narkoba dan prostitusi.

 

Parokimu dipanggil untuk bertanggung jawab atas kenyataan ini, menjadi ragi Injil dalam adonan wilayah ini, menjadi tanda kedekatan dan amal kasih. Saya berterima kasih kepada para Salesian atas kerja tanpa lelah yang mereka lakukan setiap hari, dan saya mendorong semua orang untuk terus menjadi nyala api kecil terang dan pengharapan di sini.

 

Semoga Maria Penolong Orang Kristen selalu menopang jalan kita, menguatkan kita di saat-saat godaan dan pencobaan, sehingga kita dapat sepenuhnya menghayati kebebasan dan persaudaraan anak-anak Allah.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Februari 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.