Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RABU ABU DI BASILIKA SANTA SABINA, PEGUNUNGAN AVENTINE 18 Februari 2026

Bacaan Ekaristi : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pada awal setiap masa liturgi, dengan penuh sukacita kita menemukan kembali rahmat menjadi Gereja, yaitu sebuah komunitas yang berkumpul untuk mendengarkan sabda Allah. Suara Nabi Yo'el berbicara kepada kita, membawa kita masing-masing keluar dari keterasingan kita dan menunjukkan kepada kita kebutuhan mendesak akan pertobatan, yang selalu bersifat pribadi dan publik: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu” (2:16). Ia menyebutkan orang-orang yang paling rapuh dan paling tidak cocok untuk pertemuan besar, mereka yang ketidakhadirannya mudah dibenarkan. Nabi kemudian merujuk kepada suami dan istri: ia tampaknya memanggil mereka dari privasi kehidupan perkawinan mereka, agar mereka merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar. Kemudian ia beralih kepada para imam, yang sudah mendapati diri mereka — hampir karena kewajiban — “di antara serambi depan dan mezbah” (ayat 17). Mereka diundang untuk menangis dan mengungkapkan kata-kata yang tepat ini atas nama semua orang: “Ya Tuhan, sayangilah umat-Mu!” (idem).

 

Bahkan hingga hari ini, Masa Prapaskah tetap menjadi waktu yang penuh kekuatan untuk kebersamaan: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah” (Yoel 2:16). Kita tahu bahwa semakin sulit untuk mengumpulkan orang-orang dan membuat mereka merasa seperti sebuah komunitas — bukan dalam cara yang nasionalistik dan agresif, tetapi dalam persekutuan di mana kita masing-masing menemukan tempatnya. Sesungguhnya, selama Masa Prapaskah, terbentuk umat yang mengakui dosa-dosanya. Dosa-dosa ini adalah kejahatan yang bukan berasal dari musuh yang dianggap, tetapi menimpa hati kita, dan ada di dalam diri kita. Kita perlu menanggapinya dengan berani menerima tanggung jawab atasnya. Lebih jauh lagi, kita harus menerima bahwa meskipun bertentangan dengan budaya arus utama, sikap ini merupakan pilihan yang otentik, jujur, dan menarik, terutama di zaman kita, ketika begitu mudah untuk merasa tidak berdaya di hadapan dunia yang berada dalam bara. Sesungguhnya, Gereja ada sebagai komunitas saksi yang mengakui dosa-dosa mereka.

 

Tentu saja, meskipun bersifat pribadi, dosa mengambil bentuk dalam konteks kehidupan nyata dan virtual, dalam sikap yang kita adopsi terhadap satu sama lain yang saling memengaruhi kita, dan seringkali dalam kenyataan "struktur dosa" ekonomi, budaya, politik, dan bahkan agama. Kitab Suci mengajarkan kita bahwa menentang penyembahan berhala dengan penyembahan kepada Allah yang hidup berarti berani untuk bebas, dan menemukan kembali kebebasan melalui sebuah eksodus, sebuah perjalanan, di mana kita tidak lagi lumpuh, kaku, atau puas dengan posisi kita, tetapi berkumpul bersama untuk bergerak dan berubah. Betapa langkanya menemukan orang dewasa yang bertobat — individu, pelaku usaha, dan lembaga yang mengakui bahwa mereka telah berbuat salah!

 

Hari ini, kita sedang merefleksikan secara tepat kemungkinan pertobatan ini. Memang, bukan suatu kebetulan bahwa, bahkan dalam konteks sekuler, banyak kaum muda, lebih dari sebelumnya, terbuka terhadap undangan Hari Rabu Abu. Kaum muda khususnya memahami dengan jelas bahwa hidup yang adil itu mungkin, dan bahwa harus ada pertanggungjawaban atas kesalahan di dalam Gereja dan dunia. Karena itu, kita harus mulai dari mana kita bisa, dengan orang-orang di sekitar kita. “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2Kor 6:2). Karena itu, marilah kita merangkul makna misioner Masa Prapaskah, bukan dengan cara yang mengalihkan perhatian kita dari upaya individu kita, tetapi dengan cara memperkenalkan masa ini kepada banyak orang yang gelisah dan berkehendak baik yang mencari cara otentik untuk memperbarui hidup mereka, dalam konteks Kerajaan Allah dan keadilan-Nya.

 

“Mengapa dikatakan di antara bangsa-bangsa: ‘Di mana Allah mereka?’” (Yoel 2:17). Pertanyaan nabi Yo'el adalah sebuah peringatan. Masa Prapaskah juga mengingatkan kita tentang apa yang orang lain pikirkan tentang kita, terutama mereka yang mengamati umat Allah dari luar. Masa Prapaskah mendorong kita untuk mengubah arah — pertobatan — yang membuat pemberitaan kita semakin dapat dipercaya.

 

Enam puluh tahun yang lalu, beberapa pekan setelah berakhirnya Konsili Vatikan II, Santo Paulus VI memutuskan untuk merayakan Ritus Abu secara terbuka selama Audiensi Umum di Basilika Santo Petrus, sehingga tindakan yang akan kita lakukan hari ini dapat dilihat oleh semua orang. Ia menyebutnya sebagai "upacara pertobatan yang keras dan mencolok" (Paulus VI, Audiensi Umum, 23 Februari 1966) yang menentang akal sehat dan sekaligus menjawab tuntutan budaya kita. Ia berkata: "Di zaman kita sekarang, kita mungkin bertanya pada diri sendiri apakah pedagogi ini masih dapat dipahami. Kita menjawab dengan tegas, karena ini adalah pedagogi yang realistis. Sebuah pengingat yang keras akan kebenaran. Kita dibawa kepada persepsi yang akurat tentang keberadaan dan takdir kita."

 

Paulus VI mengatakan bahwa "pedagogi pertobatan ini mengejutkan manusia modern dalam dua hal": yang pertama adalah "kapasitasnya yang luar biasa untuk khayalan, sugesti diri, dan penipuan diri yang sistematis tentang kenyataan hidup dan nilainya." Aspek kedua adalah “pesimisme mendasar” yang ditemukan Paulus VI di mana-mana: “Sebagian besar materi yang ditawarkan kepada kita saat ini oleh filsafat, sastra, dan hiburan,” katanya, “berakhir dengan menyatakan kesia-siaan yang tak terhindarkan dari segala sesuatu, kesedihan hidup yang luar biasa, metafisika absurditas dan kehampaan. Materi ini merupakan pembenaran atas penggunaan abu.”

 

Hari ini, kita dapat menyadari bahwa kata-katanya bersifat kenabian karena kita melihat dalam abu yang ditorehkan pada dahi kita beban dunia yang terang benderang, beban seluruh kota yang hancur oleh perang. Ini juga tercermin dalam abu hukum internasional dan keadilan antarbangsa, abu seluruh ekosistem dan kerukunan antarbangsa, abu pemikiran kritis dan kearifan lokal kuno, abu rasa sakral yang bersemayam di setiap ciptaan.

 

“Di mana Allah mereka?”, tanya bangsa-bangsa itu pada diri mereka sendiri. Ya, sahabat-sahabatku, sejarah, dan terlebih lagi, hati nurani kita sendiri, meminta kita untuk menyebut kematian apa adanya, dan membawa bekasnya di dalam diri kita seraya memberi kesaksian tentang kebangkitan. Kita mengakui dosa-dosa kita agar kita dapat bertobat; hal ini sendiri merupakan tanda dan kesaksian kebangkitan. Sesungguhnya, itu berarti kita tidak akan tetap berada di antara abu, tetapi akan bangkit dan membangun kembali. Kemudian Trihari Suci, yang akan kita rayakan sebagai puncak perjalanan Masa Prapaskah, akan melepaskan semua keindahan dan maknanya. Hal ini akan terjadi jika kita berpartisipasi, melalui pertobatan, dalam peralihan dari kematian menuju kehidupan, dari ketidakberdayaan menuju kemungkinan-kemungkinan yang diberikan Allah.

 

Para martir zaman dahulu dan zaman sekarang bersinar sebagai pelopor dalam perjalanan kita menuju Paskah. Tradisi Romawi kuno tentang perhentian Masa Prapaskah — yang dimulai hari ini dengan perhentian pertama — sangatlah bermanfaat: tradisi ini merujuk pada pergerakan, sebagai peziarah, dan pada perhentian, statio, pada "peringatan" para martir, di mana basilika-basilika Roma berdiri. Bukankah ini mungkin sebuah undangan untuk mengikuti jejak para saksi iman yang mengagumkan, yang kini dapat ditemukan di seluruh dunia? Marilah kita mengingat tempat, kisah, dan nama mereka yang telah memilih jalan Sabda Bahagia dan menghidupinya hingga akhir. Kehidupan mereka adalah benih yang tak terhitung jumlahnya yang, bahkan ketika tampaknya tersebar, terkubur di bumi dan mempersiapkan panen berlimpah yang merupakan panggilan kita untuk mengumpulkannya. Masa Prapaskah, sebagaimana telah kita lihat dalam Bacaan Injil, membebaskan kita dari keinginan untuk dilihat dengan segala cara (bdk. Mat 6:2,5,16), dan sebaliknya mengajarkan kita untuk melihat apa yang sedang lahir, apa yang sedang tumbuh, dan mendorong kita untuk melayaninya. Itulah keselarasan mendalam yang terjalin dengan Allah kehidupan, Bapa kita dan Bapa segala sesuatu, dalam rahasia orang-orang yang berpuasa, berdoa, dan mengasihi. Marilah kita mengarahkan kembali, dengan kesungguhan dan penuh sukacita, seluruh hidup dan hati kita kepada Allah.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Februari 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.