Saudara-saudari
terkasih,
Saat
Yesus menjalani Jalan Salib, kita menempatkan diri di belakang-Nya, mengikuti
jejak-Nya. Saat kita berjalan bersama-Nya, kita merenungkan sengsara-Nya demi
umat manusia, hati-Nya yang hancur, dan hidup-Nya sebagai anugerah kasih.
Kita
mengarahkan pandangan kepada Yesus, yang menyatakan diri-Nya sebagai Raja
Damai, bahkan ketika perang mengancam di sekitar-Nya. Ia tetap teguh dalam
kelembutan hati, sementara orang lain membangkitkan kekerasan. Ia menawarkan
diri untuk merangkul umat manusia, bahkan ketika orang lain mengangkat pedang
dan tongkat pemukul. Ia adalah terang dunia, meskipun kegelapan akan menelan
bumi. Ia datang untuk membawa kehidupan, bahkan ketika berbagai rencana untuk
menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya terkuak.
Raja
Damai. Yesus ingin membawa dunia ke dalam pelukan Bapa-Nya, merobohkan setiap
penghalang yang memisahkan kita dari Allah dan sesama kita, karena “Dialah
damai sejahtera kita” (Ef. 2:14).
Raja
Damai. Yesus memasuki Yerusalem bukan dengan menunggang kuda, tetapi dengan
menunggang keledai, menggenapi nubuat kuno yang menyerukan sukacita atas
kedatangan Mesias: “Lihatlah, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia
lemah lembut dan menunggang seekor keledai, seekor keledai yang muda, anak
keledai betina. Ia akan melenyapkan kereta dari Efraim dan kuda dari Yerusalem;
busur perang akan dilenyapkan. Ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa”
(Zak. 9:9-10).
Raja
Damai. Ketika salah seorang murid-Nya menghunus pedang untuk membela-Nya dan
menyerang hamba imam besar, Yesus segera mencegahnya, dengan berkata, “Masukkan
pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab semua orang yang menggunakan
pedang, akan binasa oleh pedang” (Mat. 26:52).
Raja
Damai. Meskipun Ia memikul penderitaan kita dan ditikam karena dosa-dosa kita,
Yesus “tidak membuka mulut-Nya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian;
seperti induk domba yang kelu di depan mereka yang menggunting bulunya” (Yes.
53:7). Ia tidak mempersenjatai diri, membela diri, atau berperang. Ia
menyatakan wajah Allah yang lembut, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih
menyelamatkan diri-Nya sendiri, Ia membiarkan diri-Nya dipaku di kayu salib,
merangkul setiap salib yang dipikul di setiap waktu dan tempat sepanjang
sejarah manusia.
Saudara-saudari,
inilah Allah kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat
digunakan siapa pun untuk membenarkan perang. Ia tidak mendengarkan doa orang
yang berperang, tetapi menolaknya, dengan berkata, “Sekalipun kamu berkali-kali
berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah”
(Yes. 1:15).
Saat kita
memandang Yesus yang disalibkan untuk kita, kita dapat melihat kemanusiaan yang
disalibkan. Dalam luka-luka-Nya, kita melihat penderitaan begitu banyak manusia
saat ini. Dalam seruan terakhir-Nya kepada Bapa, kita mendengar seruan
orang-orang yang hancur, yang tidak memiliki pengharapan, yang sakit dan
sendirian. Terutama, kita mendengar rintihan menyakitkan dari semua orang yang
tertindas oleh kekerasan dan menjadi korban perang.
Kristus,
Raja Damai, kembali berseru dari salib-Nya: Allah adalah kasih! Kasihanilah!
Letakkan senjatamu! Ingatlah bahwa kamu adalah saudara dan saudari!
Dengan
menggunakan kata-kata Hamba Allah, Uskup Tonino Bello, saya ingin mempercayakan
seruan ini kepada Santa Maria, yang berdiri di bawah salib Putranya dan juga
menangis di kaki mereka yang disalibkan hari ini:
“Santa
Maria, perempuan hari ketiga, anugerahi kami kepastian bahwa, terlepas dari
segalanya, kematian tidak akan lagi berkuasa atas kami; ketidakadilan yang
menimpa berbagai bangsa telah dihitung; kilatan perang memudar ke dalam senja;
penderitaan orang miskin sedang menghembuskan napas terakhirnya. Dan, akhirnya,
anugerahilah agar air mata semua korban kekerasan dan penderitaan segera
mengering seperti embun beku di bawah sinar matahari musim semi” (Maria,
donna dei nostri giorni).
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 29 Maret 2026)


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.