Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI STADION LOUIS II, MONACO 28 Maret 2026

Bacaan Ekaristi : Yer. 37:21-28; Yer. 31:10.11-12ab.13; Yoh. 11:45-56.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Bacaan Injil yang telah kita dengar (bdk. Yoh. 11:45–56) menceritakan hukuman kejam yang dijatuhkan kepada Yesus; Bacaan Injil menceritakan tentang hari ketika anggota Mahkamah Agama “sepakat untuk membunuh Dia” (ayat 53). Mengapa hal ini terjadi pada-Nya? Karena Ia membangkitkan Lazarus dari kematian, memulihkan hidup sahabat-Nya, yang di makamnya Ia menangis, turut berduka cita bersama Marta dan Maria. Yesus, yang datang ke dunia untuk membebaskan kita dari hukuman mati, justru dihukum mati. Ini bukanlah takdir, melainkan keputusan yang disengaja dan dipertimbangkan dengan cermat.

 

Keputusan Kayafas dan Mahkamah Agama berasal dari perhitungan politik yang didasarkan pada rasa takut: jika Yesus terus menginspirasi pengharapan dan mengubah kesedihan orang-orang menjadi sukacita, “orang-orang Roma akan datang” dan merampas bangsa itu (ayat 48). Ketimbang mengakui Orang Nazaret itu sebagai Mesias — Kristus yang telah lama dinantikan — para pemimpin agama melihatnya sebagai ancaman. Sebagai pengajar Hukum Taurat, pandangan mereka begitu menyimpang sehingga mereka sendiri melanggar ajaran hukum Taurat. Melupakan janji Allah kepada umat-Nya, mereka berusaha membunuh orang yang tidak bersalah, dan di balik rasa takut mereka terdapat keinginan untuk mempertahankan kekuasaan. Meskipun mereka telah melupakan hukum Taurat, yang memerintahkan, “Jangan membunuh,” Allah tidak melupakan janji yang akan mempersiapkan dunia untuk keselamatan. Pemeliharaan-Nya mengubah putusan yang mematikan itu menjadi sarana untuk mengungkapkan tindakan kasih yang tertinggi: betapapun jahatnya Kayafas, ia “bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu” (ayat 51).

 

Dengan demikian, kita menjadi saksi dua kekuatan yang berlawanan: di satu sisi, wahyu Allah, yang menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat yang maha kuasa; dan di sisi lain, rencana tersembunyi dari para penguasa yang ingin membunuh tanpa ragu-ragu. Bukankah ini juga terjadi hari ini? Di mana kekuatan-kekuatan ini bertemu, di situlah terletak tanda Yesus: memberikan nyawa-Nya. Tanda ini dinubuatkan dalam kebangkitan Lazarus, yang merupakan nubuat terdekat dari peristiwa-peristiwa yang kemudian akan terungkap dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Pada Paskah, Sang Putra akan menggenapi pekerjaan Bapa melalui kuasa Roh Kudus. Sama seperti Allah menciptakan kehidupan dari ketiadaan pada permulaan waktu, demikian pula pada kegenapan waktu Ia menebus setiap kehidupan dari kematian, sumber kehancuran dalam ciptaan.

 

Sukacita dan kekuatan kesaksian kita berasal dari penebusan, di setiap tempat dan waktu. Sesungguhnya, kisah kita sendiri tercakup dalam kisah Yesus, dimulai dari kehidupan orang-orang yang rentan dan tertindas. Bahkan hari ini, betapa banyak rencana jahat yang disusun di seluruh dunia untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah! Betapa banyak alasan yang dibuat untuk membenarkan pembinasaan mereka! Namun, terlepas dari kegigihan kejahatan, keadilan Allah yang kekal selalu menyelamatkan kita dari kuburan kita, seperti yang terjadi pada Lazarus, dan memberi kita kehidupan baru. Tuhan membebaskan kita dari penderitaan dengan menanamkan pengharapan. Ia mengubah hati kita yang keras dengan mengubah rupa kuasa menjadi pelayanan, mengungkapkan nama sejati kemahakuasaan-Nya: belas kasih. Belas kasihlah yang menyelamatkan dunia. Belas kasih memelihara setiap kehidupan manusia dalam segala kerapuhannya, sejak ia tumbuh di dalam rahim hingga ia layu. Sebagaimana diajarkan Paus Fransiskus kepada kita, budaya belas kasih menolak budaya mencampakkan.

 

Seperti yang telah kita dengar, suara para nabi bersaksi tentang bagaimana Allah melaksanakan rencana keselamatan-Nya. Dalam Bacaan Pertama, Nabi Yehezkiel menyatakan bahwa karya Allah dimulai dengan pembebasan (Yeh. 37:23) dan diwujudkan melalui pengudusan umat (bdk. ayat 28), yang sedang dalam perjalanan pertobatan, seperti halnya perjalanan Paskah kita. Ini adalah undangan untuk terlibat, ketimbang tetap berada pada tingkat pribadi atau individual, sehingga hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama dapat diubah rupa.

 

Pertama, pembebasan mengambil bentuk pengudusan dari “berhala-berhala” yang menajiskan umat (ayat 23). Tetapi apakah berhala itu? Nabi Yehezkiel menggunakan istilah ini untuk merujuk pada semua hal yang memperbudak hati kita, menipu dan merusaknya. Kata “berhala-berhala” berarti “gagasan kecil,” yaitu, visi yang dipersempit, yang tidak hanya merusak kemuliaan Yang Mahakuasa dengan mengubah rupa-Nya menjadi objek, tetapi juga pikiran manusia. Penyembah berhala adalah orang-orang yang berpikiran sempit yang melihat apa yang memikat pandangan mereka, yang pada akhirnya menggelapkannya. Dan demikianlah, hal-hal besar dan indah di bumi ini menjadi berhala-berhala dan menimbulkan bentuk-bentuk perbudakan — bukan bagi mereka yang kekurangan hal-hal ini, tetapi bagi mereka yang melahapnya, meninggalkan sesama mereka dalam kesengsaraan dan kesedihan. Pembebasan dari berhala-berhala adalah pembebasan dari kekuasaan yang dipahami sebagai dominasi, dari kekayaan yang berubah menjadi keserakahan, dari kesombongan yang menyamar sebagai keindahan.

 

Allah tidak meninggalkan kita ketika godaan-godaan ini datang, tetapi mengulurkan tangan kepada mereka yang lemah dan berduka, kepada mereka yang percaya bahwa berhala-berhala dunia dapat menyelamatkan mereka. Sebagaimana diajarkan Santo Agustinus, “manusia dibebaskan dari kekuasaannya ketika ia percaya kepada Dia yang telah memberikan teladan kerendahan hati” (De Civitate Dei, VII, 33). Teladan ini adalah kehidupan Yesus sendiri, Allah yang menjadi manusia untuk keselamatan kita. Ketimbang menghukum kita, Ia menghancurkan kejahatan melalui kasih-Nya, sehingga menggenapi janji yang agung: “Aku akan menahirkan mereka, sehingga mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahnya” (Yeh. 37:23). Tuhan mengubah jalannya sejarah dengan memanggil kita dari penyembahan berhala kepada iman yang sejati, dari kematian kepada kehidupan.

 

Oleh karena itu, saudara-saudari terkasih, di tengah banyaknya ketidakadilan yang menimpa bangsa-bangsa dan peperangan yang memecah belah negara-negara, sabda nabi Yeremia, yang hari ini dikumandangkan sebagai mazmur, bergema dengan penuh kekuatan: “Aku akan mengubah dukacita mereka menjadi sukacita, akan menghibur dan membuat mereka gembira lepas dari kedukaan mereka” (Yer 31:13). Penyembahan berhala menjadikan manusia budak satu sama lain, tetapi penahiran dari penyembahan berhala menguduskan mereka. Karunia rahmat ini menjadikan manusia anak-anak Allah, dan saudara-saudari satu sama lain. Karunia ini menerangi masa kini kita, karena peperangan yang menodainya dengan darah adalah buah dari penyembahan berhala kekuasaan dan uang. Setiap nyawa yang dipersingkat melukai tubuh Kristus. Janganlah kita terbiasa dengan hiruk pikuk senjata dan gambaran perang! Perdamaian bukanlah sekadar keseimbangan kekuatan; perdamaian adalah karya hati yang dimurnikan, karya mereka yang melihat orang lain sebagai saudara-saudari yang harus dilindungi, bukan musuh yang harus dikalahkan.

 

Gereja di Monaco dipanggil untuk menjadi saksi hidup dalam damai dan dengan berkat Allah. Karena itu, sahabat-sahabat terkasih, bawalah kebahagiaan kepada orang lain melalui imanmu, dengan mewujudkan sukacita sejati, yang tidak diperoleh melalui taruhan, tetapi dibagikan melalui kasih. Kasih Allah adalah sumber sukacita ini: kasih untuk kehidupan baru dan rentan, yang harus selalu disambut dan dipelihara; kasih untuk kaum muda dan tua, yang harus menerima dorongan melalui tantangan hidup; kasih untuk orang sehat dan sakit, yang terkadang sendirian, dan selalu membutuhkan pendampingan yang penuh perhatian. Semoga Bunda Maria, Pelindungmu, membantumu menyediakan ruang yang ramah dan bermartabat bagi kaum kecil dan miskin, dan untuk mempromosikan pembangunan yang menyeluruh dan menyertakan.

 

Dalam Masa Prapaskah dunia yang panjang, ketika kejahatan merajalela dan penyembahan berhala membuat hati menjadi acuh tak acuh, Tuhan mempersiapkan Paskah-Nya. Manusia adalah tanda dari peristiwa ini: Lazarus, karena ia dipanggil dari kubur; kita, yang telah diampuni dosa-dosanya; Yesus yang disalibkan dan bangkit, adalah sumber keselamatan. Dialah "jalan, kebenaran, dan hidup" (Yoh 14:6), yang menopang peziarahan kita dan perutusan Gereja di dunia, yaitu memberikan kehidupan Allah. Tugas ini luhur dan tampaknya mustahil jika kita tidak memberikan hidup kita kepada sesama kita. Sebuah tugas yang menggembirakan dan berbuah, dan Injil menerangi langkah kita.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Maret 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.