Bacaan Ekaristi : Yer. 37:21-28; Yer. 31:10.11-12ab.13; Yoh. 11:45-56.
Saudara-saudari
terkasih,
Bacaan
Injil yang telah kita dengar (bdk. Yoh. 11:45–56) menceritakan hukuman kejam
yang dijatuhkan kepada Yesus; Bacaan Injil menceritakan tentang hari ketika
anggota Mahkamah Agama “sepakat untuk membunuh Dia” (ayat 53). Mengapa hal ini
terjadi pada-Nya? Karena Ia membangkitkan Lazarus dari kematian, memulihkan
hidup sahabat-Nya, yang di makamnya Ia menangis, turut berduka cita bersama
Marta dan Maria. Yesus, yang datang ke dunia untuk membebaskan kita dari
hukuman mati, justru dihukum mati. Ini bukanlah takdir, melainkan keputusan
yang disengaja dan dipertimbangkan dengan cermat.
Keputusan
Kayafas dan Mahkamah Agama berasal dari perhitungan politik yang didasarkan
pada rasa takut: jika Yesus terus menginspirasi pengharapan dan mengubah
kesedihan orang-orang menjadi sukacita, “orang-orang Roma akan datang” dan
merampas bangsa itu (ayat 48). Ketimbang mengakui Orang Nazaret itu sebagai
Mesias — Kristus yang telah lama dinantikan — para pemimpin agama melihatnya
sebagai ancaman. Sebagai pengajar Hukum Taurat, pandangan mereka begitu
menyimpang sehingga mereka sendiri melanggar ajaran hukum Taurat. Melupakan
janji Allah kepada umat-Nya, mereka berusaha membunuh orang yang tidak
bersalah, dan di balik rasa takut mereka terdapat keinginan untuk
mempertahankan kekuasaan. Meskipun mereka telah melupakan hukum Taurat, yang
memerintahkan, “Jangan membunuh,” Allah tidak melupakan janji yang akan
mempersiapkan dunia untuk keselamatan. Pemeliharaan-Nya mengubah putusan yang
mematikan itu menjadi sarana untuk mengungkapkan tindakan kasih yang tertinggi:
betapapun jahatnya Kayafas, ia “bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa
itu” (ayat 51).
Dengan
demikian, kita menjadi saksi dua kekuatan yang berlawanan: di satu sisi, wahyu
Allah, yang menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat yang maha kuasa;
dan di sisi lain, rencana tersembunyi dari para penguasa yang ingin membunuh
tanpa ragu-ragu. Bukankah ini juga terjadi hari ini? Di mana kekuatan-kekuatan
ini bertemu, di situlah terletak tanda Yesus: memberikan nyawa-Nya. Tanda ini
dinubuatkan dalam kebangkitan Lazarus, yang merupakan nubuat terdekat dari
peristiwa-peristiwa yang kemudian akan terungkap dalam penderitaan, kematian,
dan kebangkitan Kristus. Pada Paskah, Sang Putra akan menggenapi pekerjaan Bapa
melalui kuasa Roh Kudus. Sama seperti Allah menciptakan kehidupan dari
ketiadaan pada permulaan waktu, demikian pula pada kegenapan waktu Ia menebus
setiap kehidupan dari kematian, sumber kehancuran dalam ciptaan.
Sukacita
dan kekuatan kesaksian kita berasal dari penebusan, di setiap tempat dan waktu.
Sesungguhnya, kisah kita sendiri tercakup dalam kisah Yesus, dimulai dari
kehidupan orang-orang yang rentan dan tertindas. Bahkan hari ini, betapa banyak
rencana jahat yang disusun di seluruh dunia untuk membunuh orang-orang yang
tidak bersalah! Betapa banyak alasan yang dibuat untuk membenarkan pembinasaan
mereka! Namun, terlepas dari kegigihan kejahatan, keadilan Allah yang kekal
selalu menyelamatkan kita dari kuburan kita, seperti yang terjadi pada Lazarus,
dan memberi kita kehidupan baru. Tuhan membebaskan kita dari penderitaan dengan
menanamkan pengharapan. Ia mengubah hati kita yang keras dengan mengubah rupa
kuasa menjadi pelayanan, mengungkapkan nama sejati kemahakuasaan-Nya: belas
kasih. Belas kasihlah yang menyelamatkan dunia. Belas kasih memelihara setiap
kehidupan manusia dalam segala kerapuhannya, sejak ia tumbuh di dalam rahim
hingga ia layu. Sebagaimana diajarkan Paus Fransiskus kepada kita, budaya belas
kasih menolak budaya mencampakkan.
Seperti
yang telah kita dengar, suara para nabi bersaksi tentang bagaimana Allah
melaksanakan rencana keselamatan-Nya. Dalam Bacaan Pertama, Nabi Yehezkiel
menyatakan bahwa karya Allah dimulai dengan pembebasan (Yeh. 37:23) dan
diwujudkan melalui pengudusan umat (bdk. ayat 28), yang sedang dalam perjalanan
pertobatan, seperti halnya perjalanan Paskah kita. Ini adalah undangan untuk
terlibat, ketimbang tetap berada pada tingkat pribadi atau individual, sehingga
hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama dapat diubah rupa.
Pertama,
pembebasan mengambil bentuk pengudusan dari “berhala-berhala” yang menajiskan
umat (ayat 23). Tetapi apakah berhala itu? Nabi Yehezkiel menggunakan istilah
ini untuk merujuk pada semua hal yang memperbudak hati kita, menipu dan
merusaknya. Kata “berhala-berhala” berarti “gagasan kecil,” yaitu, visi yang
dipersempit, yang tidak hanya merusak kemuliaan Yang Mahakuasa dengan mengubah
rupa-Nya menjadi objek, tetapi juga pikiran manusia. Penyembah berhala adalah
orang-orang yang berpikiran sempit yang melihat apa yang memikat pandangan
mereka, yang pada akhirnya menggelapkannya. Dan demikianlah, hal-hal besar dan
indah di bumi ini menjadi berhala-berhala dan menimbulkan bentuk-bentuk
perbudakan — bukan bagi mereka yang kekurangan hal-hal ini, tetapi bagi mereka
yang melahapnya, meninggalkan sesama mereka dalam kesengsaraan dan kesedihan.
Pembebasan dari berhala-berhala adalah pembebasan dari kekuasaan yang dipahami
sebagai dominasi, dari kekayaan yang berubah menjadi keserakahan, dari
kesombongan yang menyamar sebagai keindahan.
Allah
tidak meninggalkan kita ketika godaan-godaan ini datang, tetapi mengulurkan
tangan kepada mereka yang lemah dan berduka, kepada mereka yang percaya bahwa
berhala-berhala dunia dapat menyelamatkan mereka. Sebagaimana diajarkan Santo
Agustinus, “manusia dibebaskan dari kekuasaannya ketika ia percaya kepada Dia
yang telah memberikan teladan kerendahan hati” (De Civitate Dei, VII, 33).
Teladan ini adalah kehidupan Yesus sendiri, Allah yang menjadi manusia untuk
keselamatan kita. Ketimbang menghukum kita, Ia menghancurkan kejahatan melalui
kasih-Nya, sehingga menggenapi janji yang agung: “Aku akan menahirkan mereka,
sehingga mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahnya” (Yeh.
37:23). Tuhan mengubah jalannya sejarah dengan memanggil kita dari penyembahan
berhala kepada iman yang sejati, dari kematian kepada kehidupan.
Oleh
karena itu, saudara-saudari terkasih, di tengah banyaknya ketidakadilan yang
menimpa bangsa-bangsa dan peperangan yang memecah belah negara-negara, sabda
nabi Yeremia, yang hari ini dikumandangkan sebagai mazmur, bergema dengan penuh
kekuatan: “Aku akan mengubah dukacita mereka menjadi sukacita, akan menghibur
dan membuat mereka gembira lepas dari kedukaan mereka” (Yer 31:13). Penyembahan
berhala menjadikan manusia budak satu sama lain, tetapi penahiran dari
penyembahan berhala menguduskan mereka. Karunia rahmat ini menjadikan manusia
anak-anak Allah, dan saudara-saudari satu sama lain. Karunia ini menerangi masa
kini kita, karena peperangan yang menodainya dengan darah adalah buah dari
penyembahan berhala kekuasaan dan uang. Setiap nyawa yang dipersingkat melukai
tubuh Kristus. Janganlah kita terbiasa dengan hiruk pikuk senjata dan gambaran
perang! Perdamaian bukanlah sekadar keseimbangan kekuatan; perdamaian adalah
karya hati yang dimurnikan, karya mereka yang melihat orang lain sebagai
saudara-saudari yang harus dilindungi, bukan musuh yang harus dikalahkan.
Gereja
di Monaco dipanggil untuk menjadi saksi hidup dalam damai dan dengan berkat
Allah. Karena itu, sahabat-sahabat terkasih, bawalah kebahagiaan kepada orang
lain melalui imanmu, dengan mewujudkan sukacita sejati, yang tidak diperoleh
melalui taruhan, tetapi dibagikan melalui kasih. Kasih Allah adalah sumber
sukacita ini: kasih untuk kehidupan baru dan rentan, yang harus selalu disambut
dan dipelihara; kasih untuk kaum muda dan tua, yang harus menerima dorongan
melalui tantangan hidup; kasih untuk orang sehat dan sakit, yang terkadang
sendirian, dan selalu membutuhkan pendampingan yang penuh perhatian. Semoga
Bunda Maria, Pelindungmu, membantumu menyediakan ruang yang ramah dan
bermartabat bagi kaum kecil dan miskin, dan untuk mempromosikan pembangunan
yang menyeluruh dan menyertakan.
Dalam
Masa Prapaskah dunia yang panjang, ketika kejahatan merajalela dan penyembahan
berhala membuat hati menjadi acuh tak acuh, Tuhan mempersiapkan Paskah-Nya.
Manusia adalah tanda dari peristiwa ini: Lazarus, karena ia dipanggil dari
kubur; kita, yang telah diampuni dosa-dosanya; Yesus yang disalibkan dan bangkit,
adalah sumber keselamatan. Dialah "jalan, kebenaran, dan hidup" (Yoh
14:6), yang menopang peziarahan kita dan perutusan Gereja di dunia, yaitu
memberikan kehidupan Allah. Tugas ini luhur dan tampaknya mustahil jika kita
tidak memberikan hidup kita kepada sesama kita. Sebuah tugas yang
menggembirakan dan berbuah, dan Injil menerangi langkah kita.
_______
(Peter Suriadi - Bogor, 28 Maret 2026)


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.