Bacaan
Ekaristi : Kej. 12:1-4a; Mzm. 33:4-5.18-19.20.22; 2Tim. 1:8b-10, Mat. 17:1-9.
Saudara-saudari
terkasih,
Saya
senang berada di antaramu dan dapat mendengarkan sabda Allah bersama seluruh
komunitas parokimu. Hari Minggu ini membawa kita berhadapan dengan perjalanan
Abraham (bdk. Kej 12:1-4a) dan peristiwa perubahan rupa Yesus (bdk.Mat 17:1-9).
Bersama
Abraham, kita dapat mengenali diri kita masing-masing sedang berada dalam
sebuah perjalanan. Hidup adalah sebuah perjalanan yang menuntut kepercayaan,
menuntut penyerahan diri kepada sabda Allah yang memanggil kita dan terkadang
meminta kita untuk meninggalkan segalanya. Kita mungkin tergoda untuk melarikan
diri dari ketidakpastian seperti keterburu-buruan yang memusingkan, namun
justru dari dalam diri kitalah kita dapat menghargai janji keagungan yang tak
terduga. Hal itu terjadi setiap hari — karena begitulah cara dunia berpikir — bahwa
kita menilai segala sesuatu, kita berusaha untuk mengendalikan segala sesuatu.
Tetapi dengan cara ini, kita kehilangan kesempatan untuk menemukan harta karun
sejati, mutiara yang sangat berharga, sebagaimana Injil mengajarkan kita, yang
secara mengejutkan dipendam Allah di ladang kita (bdk. Mat 13:44).
Perjalanan
Abraham dimulai dengan sebuah kehilangan: tanah dan rumah yang menyimpan
kenangan masa lalunya. Namun, perjalanan itu akan tergenapi di tanah baru dan
dalam garis keturunan yang luas, di mana segalanya menjadi berkat. Kita pun,
jika kita membiarkan iman memanggil kita untuk menempuh perjalanan ini, untuk
mengambil risiko dalam membuat keputusan baru dalam hidup dan cinta, akan
berhenti takut kehilangan sesuatu, karena kita akan merasa bahwa kita bertumbuh
dalam kekayaan yang tak seorang pun dapat mencurinya.
Murid-murid
Yesus juga menghadapi perjalanan yang akan membawa mereka ke Yerusalem (bdk.
Luk 9:51). Di sana, di Kota Suci, Sang Guru akan menggenapi misi-Nya,
memberikan nyawa-Nya di kayu salib dan menjadi berkat bagi semua orang untuk
selama-lamanya. Kita tahu betapa besar perlawanan yang diberikan Petrus dan
semua murid lainnya dalam mengikuti-Nya. Tetapi mereka harus memahami bahwa
seseorang hanya dapat menjadi berkat dengan mengatasi naluri untuk membela diri
dan menerima apa yang dipercayakan Yesus kepada kita dalam tata gerak Ekaristi:
keinginan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai roti untuk dimakan, hidup
dan mati demi memberi kehidupan. Inilah hari Minggu, saudara-saudari terkasih:
jeda dalam perjalanan yang mengumpulkan kita di sekitar Yesus. Yesus mendorong
kita untuk tidak berhenti dan tidak mengubah arah. Tidak ada janji yang lebih
besar, tidak ada harta yang lebih berharga daripada hidup untuk memberi
kehidupan!
Tak
lama sebelum berubah rupa, Yesus telah mempercayakan kepada murid-murid-Nya
puncak dari perjalanan yang mereka lakukan: penderitaan, kematian, dan
kebangkitan-Nya. Kamu tentu ingat penentangan Petrus dan reaksi Yesus, yang
berkata kepadanya: "Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau
bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan
manusia" (Mat 16:23). Dan sekarang, enam hari kemudian, Yesus meminta
Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk menemani-Nya naik ke gunung. Kata-kata yang
sulit didengar itu masih terngiang di telinga mereka; mereka masih memiliki
gambaran yang tidak dapat diterima tentang Mesias yang dihukum mati.
Kegelapan
batin para murid inilah yang dihancurkan Yesus ketika, di puncak gunung, Ia
menampakkan diri di hadapan mata mereka dalam wujud yang berubah rupa dengan
cahaya yang menyilaukan dan tak terbayangkan. Dan dalam penglihatan yang mulia
ini, Musa dan Elia juga muncul di samping-Nya, sebagai saksi bahwa seluruh
Kitab Suci digenapi dalam diri Yesus (bdk. Mat 17:2-3).
Sekali
lagi, Petrus menjadi juru bicara dunia lama kita dan kebutuhan putus asa untuk
menghentikan segala sesuatu, untuk mengendalikannya. Ini sedikit mirip dengan
ketika kita tidak ingin mimpi yang kita jadikan tempat berlindung berakhir.
Tetapi di sini bukan mimpi, melainkan dunia baru yang dapat kita masuki: tujuan
perjalanan kita, tujuan yang dipenuhi cahaya dan dibentuk oleh kemanusiawian
dan keilahian Yesus. Dengan mendirikan kemah, Petrus ingin menghentikan
perjalanan ini, yang justru harus berlanjut ke Yerusalem (bdk. ayat 4).
Suara
yang datang dari awan itu adalah suara Bapa, dan seperti sebuah permohonan:
"Inilah Putra-Ku yang terkasih; dengarkanlah Dia" (ayat 5). Suara itu
bergema kepada kita hari ini: "Dengarkanlah Yesus!" Dan saya,
saudara-saudari terkasih di antaramu, ingin menggemakan permohonan itu dan
mengatakan kepadamu: saya memohon kepadamu, saudara-saudari, marilah kita
mendengarkan Dia! Dia berjalan bersama kita, bahkan hari ini, untuk mengajari
kita di kota ini nalar kasih tanpa syarat, meninggalkan setiap pembelaan yang
menjadi serangan. Marilah kita mendengarkan Dia, marilah kita masuk ke dalam
terang-Nya untuk menjadi terang dunia, dimulai dari lingkungan tempat kita
tinggal. Seluruh kehidupan paroki dan kelompok-kelompoknya ada untuk ini:
pelayanan kepada terang, pelayanan kepada sukacita.
Setelah
perubahan rupa di gunung, perjalanan Yesus tidak berhenti (lihat ayat 9). Dan
Gereja, bahkan paroki kalian, menerima misi dari Injil ini. Dihadapkan dengan
berbagai masalah kompleks di wilayah ini, yang membayangi hari-hari Anda di
sini, Anda dipercayakan dengan pedagogi pandangan iman, yang mengubah segalanya
dengan harapan, melepaskan semangat, berbagi, dan kreativitas sebagai obat
untuk berbagai luka di lingkungan ini.
Saya
sangat senang mengetahui bahwa komunitas paroki ini adalah komunitas yang
dinamis dan bersemangat yang, meskipun menghadapi masalah serius dalam konteks
lokal, dengan berani memberikan kesaksian tentang Injil. Dengan motto
"Mari Membangun Komunitas," paroki ini telah memulai perjalanan untuk
memperkuat rasa kebersamaan dan menyambut semua orang, sungguh semua orang,
dengan tangan terbuka! Saya senang dan saya mendorong Anda: lanjutkan
perjalanan keterbukaan terhadap komunitas lokal dan penyembuhan luka-lukanya.
Dan saya berharap orang lain akan bergabung dengan Anda untuk menjadi ragi
kebaikan dan keadilan di Quarticciolo ini.
Orang
muda, komitmenmu juga patut didukung. Program "Magis," yang kamu
perkenalkan kepada saya beberapa menit yang lalu dan yang telah ditawarkan di
sini selama beberapa tahun, mengacu pada "melebihi" yang dibicarakan
Santo Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohani. Ini adalah insentif bagi
remaja untuk mengatasi mediokritas mereka dengan memilih kehidupan yang berani,
otentik, dan baik, yang menemukan "Magis" yang unggul dalam Yesus
Kristus.
Saudara-saudari
terkasih, kamu adalah tanda harapan. Terang perubahan rupa sudah hadir di
komunitas ini, karena Tuhan sedang bekerja di sini dan karena begitu banyak
dari kamu percaya pada kuasa-Nya yang lembut yang mengubah segalanya. Ketika
kita menyadari bahwa begitu banyak hal di sekitar kita tidak berjalan dengan
baik, terkadang kita bertanya-tanya: apakah yang kita lakukan memiliki arti?
Godaan untuk berkecil hati muncul, dengan hilangnya motivasi dan momentum.
Sebaliknya, justru di hadapan misteri kejahatan itulah kita harus memberi
kesaksian tentang jati diri kita sebagai orang kristiani, sebagai orang-orang
yang ingin mewujudkan Kerajaan Allah di tempat dan waktu di mana mereka hidup.
Inilah harapan saya untuk kamu semua, komunitas paroki ini, dan banyak
saudara-saudari yang belum mengenali dalam Yesus terang dan sukacita sejati.
Di
hadapan segala sesuatu yang merusak kemanusiaan dan kehidupan, kita terus mewartakan
dan memberi kesaksian tentang Injil, yang mengubah dan memberi kehidupan.
Semoga Santa Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dan menjadi perantara
kita.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 2 Maret 2026)


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.