Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PRAPASKAH II DI GEREJA TUHAN KITA YESUS KRISTUS DIANGKAT KE SURGA 1 Maret 2026

Bacaan Ekaristi : Kej. 12:1-4a; Mzm. 33:4-5.18-19.20.22; 2Tim. 1:8b-10, Mat. 17:1-9.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya senang berada di antaramu dan dapat mendengarkan sabda Allah bersama seluruh komunitas parokimu. Hari Minggu ini membawa kita berhadapan dengan perjalanan Abraham (bdk. Kej 12:1-4a) dan peristiwa perubahan rupa Yesus (bdk.Mat 17:1-9).

 

Bersama Abraham, kita dapat mengenali diri kita masing-masing sedang berada dalam sebuah perjalanan. Hidup adalah sebuah perjalanan yang menuntut kepercayaan, menuntut penyerahan diri kepada sabda Allah yang memanggil kita dan terkadang meminta kita untuk meninggalkan segalanya. Kita mungkin tergoda untuk melarikan diri dari ketidakpastian seperti keterburu-buruan yang memusingkan, namun justru dari dalam diri kitalah kita dapat menghargai janji keagungan yang tak terduga. Hal itu terjadi setiap hari — karena begitulah cara dunia berpikir — bahwa kita menilai segala sesuatu, kita berusaha untuk mengendalikan segala sesuatu. Tetapi dengan cara ini, kita kehilangan kesempatan untuk menemukan harta karun sejati, mutiara yang sangat berharga, sebagaimana Injil mengajarkan kita, yang secara mengejutkan dipendam Allah di ladang kita (bdk. Mat 13:44).

 

Perjalanan Abraham dimulai dengan sebuah kehilangan: tanah dan rumah yang menyimpan kenangan masa lalunya. Namun, perjalanan itu akan tergenapi di tanah baru dan dalam garis keturunan yang luas, di mana segalanya menjadi berkat. Kita pun, jika kita membiarkan iman memanggil kita untuk menempuh perjalanan ini, untuk mengambil risiko dalam membuat keputusan baru dalam hidup dan cinta, akan berhenti takut kehilangan sesuatu, karena kita akan merasa bahwa kita bertumbuh dalam kekayaan yang tak seorang pun dapat mencurinya.

 

Murid-murid Yesus juga menghadapi perjalanan yang akan membawa mereka ke Yerusalem (bdk. Luk 9:51). Di sana, di Kota Suci, Sang Guru akan menggenapi misi-Nya, memberikan nyawa-Nya di kayu salib dan menjadi berkat bagi semua orang untuk selama-lamanya. Kita tahu betapa besar perlawanan yang diberikan Petrus dan semua murid lainnya dalam mengikuti-Nya. Tetapi mereka harus memahami bahwa seseorang hanya dapat menjadi berkat dengan mengatasi naluri untuk membela diri dan menerima apa yang dipercayakan Yesus kepada kita dalam tata gerak Ekaristi: keinginan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai roti untuk dimakan, hidup dan mati demi memberi kehidupan. Inilah hari Minggu, saudara-saudari terkasih: jeda dalam perjalanan yang mengumpulkan kita di sekitar Yesus. Yesus mendorong kita untuk tidak berhenti dan tidak mengubah arah. Tidak ada janji yang lebih besar, tidak ada harta yang lebih berharga daripada hidup untuk memberi kehidupan!

 

Tak lama sebelum berubah rupa, Yesus telah mempercayakan kepada murid-murid-Nya puncak dari perjalanan yang mereka lakukan: penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Kamu tentu ingat penentangan Petrus dan reaksi Yesus, yang berkata kepadanya: "Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia" (Mat 16:23). Dan sekarang, enam hari kemudian, Yesus meminta Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk menemani-Nya naik ke gunung. Kata-kata yang sulit didengar itu masih terngiang di telinga mereka; mereka masih memiliki gambaran yang tidak dapat diterima tentang Mesias yang dihukum mati.

 

Kegelapan batin para murid inilah yang dihancurkan Yesus ketika, di puncak gunung, Ia menampakkan diri di hadapan mata mereka dalam wujud yang berubah rupa dengan cahaya yang menyilaukan dan tak terbayangkan. Dan dalam penglihatan yang mulia ini, Musa dan Elia juga muncul di samping-Nya, sebagai saksi bahwa seluruh Kitab Suci digenapi dalam diri Yesus (bdk. Mat 17:2-3).

 

Sekali lagi, Petrus menjadi juru bicara dunia lama kita dan kebutuhan putus asa untuk menghentikan segala sesuatu, untuk mengendalikannya. Ini sedikit mirip dengan ketika kita tidak ingin mimpi yang kita jadikan tempat berlindung berakhir. Tetapi di sini bukan mimpi, melainkan dunia baru yang dapat kita masuki: tujuan perjalanan kita, tujuan yang dipenuhi cahaya dan dibentuk oleh kemanusiawian dan keilahian Yesus. Dengan mendirikan kemah, Petrus ingin menghentikan perjalanan ini, yang justru harus berlanjut ke Yerusalem (bdk. ayat 4).

 

Suara yang datang dari awan itu adalah suara Bapa, dan seperti sebuah permohonan: "Inilah Putra-Ku yang terkasih; dengarkanlah Dia" (ayat 5). Suara itu bergema kepada kita hari ini: "Dengarkanlah Yesus!" Dan saya, saudara-saudari terkasih di antaramu, ingin menggemakan permohonan itu dan mengatakan kepadamu: saya memohon kepadamu, saudara-saudari, marilah kita mendengarkan Dia! Dia berjalan bersama kita, bahkan hari ini, untuk mengajari kita di kota ini nalar kasih tanpa syarat, meninggalkan setiap pembelaan yang menjadi serangan. Marilah kita mendengarkan Dia, marilah kita masuk ke dalam terang-Nya untuk menjadi terang dunia, dimulai dari lingkungan tempat kita tinggal. Seluruh kehidupan paroki dan kelompok-kelompoknya ada untuk ini: pelayanan kepada terang, pelayanan kepada sukacita.

 

Setelah perubahan rupa di gunung, perjalanan Yesus tidak berhenti (lihat ayat 9). Dan Gereja, bahkan paroki kalian, menerima misi dari Injil ini. Dihadapkan dengan berbagai masalah kompleks di wilayah ini, yang membayangi hari-hari Anda di sini, Anda dipercayakan dengan pedagogi pandangan iman, yang mengubah segalanya dengan harapan, melepaskan semangat, berbagi, dan kreativitas sebagai obat untuk berbagai luka di lingkungan ini.

 

Saya sangat senang mengetahui bahwa komunitas paroki ini adalah komunitas yang dinamis dan bersemangat yang, meskipun menghadapi masalah serius dalam konteks lokal, dengan berani memberikan kesaksian tentang Injil. Dengan motto "Mari Membangun Komunitas," paroki ini telah memulai perjalanan untuk memperkuat rasa kebersamaan dan menyambut semua orang, sungguh semua orang, dengan tangan terbuka! Saya senang dan saya mendorong Anda: lanjutkan perjalanan keterbukaan terhadap komunitas lokal dan penyembuhan luka-lukanya. Dan saya berharap orang lain akan bergabung dengan Anda untuk menjadi ragi kebaikan dan keadilan di Quarticciolo ini.

 

Orang muda, komitmenmu juga patut didukung. Program "Magis," yang kamu perkenalkan kepada saya beberapa menit yang lalu dan yang telah ditawarkan di sini selama beberapa tahun, mengacu pada "melebihi" yang dibicarakan Santo Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohani. Ini adalah insentif bagi remaja untuk mengatasi mediokritas mereka dengan memilih kehidupan yang berani, otentik, dan baik, yang menemukan "Magis" yang unggul dalam Yesus Kristus.

 

Saudara-saudari terkasih, kamu adalah tanda harapan. Terang perubahan rupa sudah hadir di komunitas ini, karena Tuhan sedang bekerja di sini dan karena begitu banyak dari kamu percaya pada kuasa-Nya yang lembut yang mengubah segalanya. Ketika kita menyadari bahwa begitu banyak hal di sekitar kita tidak berjalan dengan baik, terkadang kita bertanya-tanya: apakah yang kita lakukan memiliki arti? Godaan untuk berkecil hati muncul, dengan hilangnya motivasi dan momentum. Sebaliknya, justru di hadapan misteri kejahatan itulah kita harus memberi kesaksian tentang jati diri kita sebagai orang kristiani, sebagai orang-orang yang ingin mewujudkan Kerajaan Allah di tempat dan waktu di mana mereka hidup. Inilah harapan saya untuk kamu semua, komunitas paroki ini, dan banyak saudara-saudari yang belum mengenali dalam Yesus terang dan sukacita sejati.

 

Di hadapan segala sesuatu yang merusak kemanusiaan dan kehidupan, kita terus mewartakan dan memberi kesaksian tentang Injil, yang mengubah dan memberi kehidupan. Semoga Santa Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dan menjadi perantara kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Maret 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.