Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI KAMIS PUTIH DI BASILIKA SANTO YOHANES LATERAN 2 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Liturgi khidmat malam ini menandai kita telah memasuki Trihari Suci Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan Tuhan. Kita melangkah melewati ambang batas ini bukan hanya sebagai penonton, atau karena kebiasaan, tetapi sebagai orang-orang yang diundang secara pribadi oleh Yesus sendiri sebagai tamu di Perjamuan di mana roti dan anggur menjadi sakramen keselamatan bagi kita. Sesungguhnya, kita ambil bagian dalam perjamuan di mana Kristus “mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1). Kasih-Nya menjadi gestur dan makanan bagi semua orang, yang mengungkapkan keadilan Allah. Di dunia ini, dan khususnya di tempat-tempat di mana kejahatan merajalela, Yesus mengasihi secara definitif — selamanya, dan dengan segenap keberadaan-Nya.

 

Selama Perjamuan Terakhir ini, Ia membasuh kaki para rasul-Nya, seraya berkata, “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15). Tindakan Tuhan ini tidak dapat dipisahkan dari meja yang juga telah Ia undangkan kepada kita. Tindakan ini adalah contoh nyata yang mengalir dari sakramen: seraya mengungkapkan makna misteri Ekaristi, tindakan ini juga mempercayakan kepada kita sebuah tugas — sebuah perutusan yang menjadi panggilan untuk kita jalani sebagai makanan bagi kehidupan kita. Penginjil Yohanes memilih kata Yunani upódeigma untuk menggambarkan peristiwa yang disaksikannya: artinya “apa yang ditunjukkan di hadapan matamu.” Apa yang ditunjukkan Tuhan kepada kita — mengambil air, baskom, dan handuk — jauh lebih dari sekadar contoh moral. Ia mempercayakan kepada kita jalan hidup-Nya sendiri. Pembasuhan kaki adalah tindakan yang merangkum wahyu Allah: tanda keteladanan dari Sang Sabda yang menjadi daging, kenangan-Nya yang tak salah lagi. Dengan mengambil posisi sebagai hamba, Sang Putra mengungkapkan kemuliaan Bapa, menumbangkan standar duniawi yang seringkali membelokkan hati nurani kita.

 

Bersamaan dengan kekaguman diam-diam para murid-Nya, bahkan kesombongan manusia pun tidak dapat tetap buta terhadap apa yang sedang terjadi. Seperti Petrus, yang pada awalnya menolak prakarsa Yesus, kita pun harus “berulang kali belajar bahwa kebesaran Allah berbeda dari gagasan kita tentang kebesaran… karena kita secara sistematis menginginkan Allah yang sukses dan bukan Allah yang menderita” (Homili pada Misa Perjamuan Tuhan, 20 Maret 2008). Kata-kata Paus Benediktus XVI ini dengan jujur ​​mengakui bahwa kita selalu tergoda untuk mencari Allah yang melayani kita, yang memberi kita kemenangan, yang terbukti berguna seperti kekayaan atau kekuasaan. Namun kita gagal menyadari bahwa Allah memang melayani kita melalui tindakan cuma-cuma dan rendah hati berupa pembasuhan kaki. Inilah kemahakuasaan Allah yang sesungguhnya. Dengan cara ini, keinginan-Nya untuk mengabdikan diri kepada mereka yang keberadaannya bergantung pada karunia-Nya tergenapi. Karena kasih, Tuhan berlutut untuk membasuh kita masing-masing, dan karunia ilahi-Nya mengubah rupa kita.

 

Sesungguhnya, melalui tindakan ini, Yesus memurnikan bukan hanya gambaran kita tentang Allah — dari penyembahan berhala dan penghujatan yang telah membelokkannya — tetapi juga gambaran kita tentang kemanusiaan. Karena kita cenderung menganggap diri kita berkuasa ketika kita mendominasi, menang ketika kita menghancurkan sesama kita, hebat ketika kita ditakuti. Sebaliknya, sebagai yang sungguh Allah dan sungguh manusia, Kristus menawarkan kepada kita teladan pengurbanan diri, pelayanan, dan kasih. Kita membutuhkan teladan-Nya untuk belajar bagaimana mengasihi, bukan karena kita tidak mampu melakukannya, tetapi justru mengajarkan kepada diri kita sendiri dan satu sama lain apa itu kasih sejati. Belajar bertindak seperti Yesus — tanda hidup yang telah ditempatkan Allah dalam sejarah dunia — adalah pekerjaan seumur hidup.

 

Ia adalah patokan yang sesungguhnya, "Guru dan Tuhan" (Yoh 13:13) yang menyingkirkan setiap topeng ilahi dan manusiawi. Ia menawarkan keteladanan bukan ketika semua orang puas dan setia kepada-Nya, tetapi pada malam Ia dikhianati, dalam kegelapan ketidakpahaman dan kekerasan. Dengan cara ini, menjadi jelas bahwa kasih Tuhan mendahului kebaikan atau kemurnian kita; Ia mengasihi kita terlebih dahulu, dan dalam kasih itu, Ia mengampuni dan memulihkan kita. Kasih-Nya bukan hadiah atas penerimaan kita terhadap belas kasih-Nya; sebaliknya, Ia mengasihi kita, dan karena itu menyucikan kita, sehingga memungkinkan kita untuk menanggapi kasih-Nya.

 

Oleh karena itu, marilah kita belajar dari Yesus tentang pelayanan timbal balik ini. Ia tidak meminta kita untuk membalas budi terhadap-Nya, tetapi berbagi karunia-Nya di antara kita: “Kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14). Paus Fransiskus pernah mengatakan berkaitan dengan hal tersebut: ini “adalah kewajiban yang datang dari hatiku: aku menyukainya. Aku menyukai hal ini dan senang melakukannya karena itulah yang diajarkan Tuhan kepadaku” (Homili Misa Kamis Putih, 28 Maret 2013). Ia tidak berbicara tentang perintah abstrak, atau perintah formal dan kosong, tetapi mengungkapkan ketaatannya yang tulus kepada kasih Kristus, yang merupakan sumber dan model kasih kita. Sesungguhnya, teladan yang diberikan oleh Yesus tidak dapat diteladani karena kenyamanan, keengganan, atau kemunafikan, tetapi hanya karena kasih.

 

Oleh karena itu, membiarkan diri kita dilayani oleh Tuhan adalah syarat yang diperlukan untuk melayani seperti yang Ia lakukan. “Jikalau Aku tidak membasuh engkau,” kata Yesus kepada Petrus, “engkau tidak mendapat bagian bersama Aku” (Yoh 13:8): jika engkau tidak menerima Aku sebagai hamba-Mu, engkau tidak dapat benar-benar percaya kepada-Ku atau mengikut Aku sebagai Tuhan. Dengan membasuh tubuh kita, Yesus menyucikan jiwa kita. Di dalam Dia, Allah telah memberi kita teladan — bukan tentang bagaimana mendominasi, tetapi tentang bagaimana membebaskan; bukan tentang bagaimana menghancurkan kehidupan, tetapi tentang bagaimana memberikannya.

 

Ketika umat manusia bertekuk lutut karena begitu banyak tindakan kebrutalan, marilah kita juga berlutut sebagai saudara dan saudari bersama orang-orang yang tertindas. Dengan cara ini, kita berusaha mengikuti teladan Tuhan, menggenapi apa yang telah kita dengar dari Kitab Keluaran: “Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu” (12:14). Sesungguhnya, seluruh sejarah Kitab Suci bertemu di satu titik dalam Yesus, Sang Anak Domba Paskah sejati. Di dalam Dia, tokoh-tokoh dahulu kala menemukan penggenapannya, karena Kristus Sang Juruselamat menggenapi Paskah umat manusia, membuka jalan bagi semua orang dari dosa menuju pengampunan, dari kematian menuju kehidupan kekal: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu. Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku” (1Kor. 11:24).

 

Dengan memperbarui tindakan dan sabda Tuhan malam ini, kita memperingati penetapan Ekaristi dan Sakramen Imamat. Ikatan hakiki antara kedua sakramen ini mengungkapkan pemberian diri Yesus yang sempurna, Sang Imam Agung dan Ekaristi yang hidup dan kekal. Sebab dalam roti dan anggur yang telah dikonsekrasi terdapat “sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikurniai jaminan kemuliaan yang akan datang” (Konstitusi Dogmatis Sacrosantum Concilium, 4 Desember 1963, 47). Melalui para uskup dan imam, yang ditetapkan sebagai “imam-imam Perjanjian Baru” menurut perintah Tuhan (Konsili Trent; De Missae Sacrificio, 1), hadirlah tanda kasih-Nya kepada seluruh Umat Allah. Saudara-saudari terkasih dalam imamat, kita dipanggil untuk melayani Umat Allah dengan seluruh hidup kita.

 

Oleh karena itu, Kamis Putih adalah hari penuh syukur dan persaudaraan sejati. Semoga adorasi Ekaristi malam ini, di setiap paroki dan komunitas, menjadi waktu untuk merenungkan tindakan Yesus, berlutut seperti Dia, dan memohon kekuatan untuk meneladan pelayanan-Nya dengan kasih yang sama.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 April 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.