Bacaan
Ekaristi : Kis. 2:14,22-33; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; 1Ptr. 1:17-21; Luk.
24:13-35.
Saudara-saudari
terkasih,
Saya
merayakan Ekaristi di antaramu dengan hati yang penuh syukur. Syukur kepada
Allah atas anugerah ini, dan terima kasih atas sambutanmu yang hangat!
Pada Hari
Minggu Paskah III ini, Tuhan telah berbicara kepada kita melalui Bacaan Injil
tentang para murid di jalan menuju Emaus (bdk. Luk 24:13-35). Marilah kita
memperkenankan diri kita diterangi oleh sabda kehidupan ini.
Dua murid
Tuhan, dengan hati yang hancur dan sedih, berangkat dari Yerusalem untuk
kembali ke desa Emaus. Mereka telah melihat kematian Yesus, yang telah mereka
ikuti dengan setia. Mereka pulang dengan kecewa dan patah semangat. Di
perjalanan, mereka "bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah
terjadi" (Luk 24:14). Mereka terdorong untuk membicarakannya, menceritakan
sekali lagi apa yang telah mereka lihat dan berbagi apa yang telah mereka
alami. Namun, dengan melakukan hal itu, mereka berisiko menjadi tawanan
kesedihan dan tertutup terhadap pengharapan.
Saudara-saudari,
dalam kalimat pembuka Bacaan Injil ini, saya melihat refleksi sejarah Angola,
negara yang indah namun terluka ini, yang lapar dan haus akan pengharapan,
perdamaian, dan persaudaraan. Sesungguhnya, percakapan di sepanjang jalan
antara kedua murid, yang merefleksikan dengan sedih apa yang telah terjadi pada
Guru mereka, mengingatkan kita pada penderitaan yang telah menandai negaramu:
perang saudara yang panjang dengan akibatnya berupa permusuhan dan perpecahan,
pemborosan sumber daya dan kemiskinan.
Ketika
terlalu lama tenggelam dalam sejarah yang sarat penderitaan, kita berisiko
kehilangan pengharapan dan tetap lumpuh oleh keputusasaan, seperti kedua murid
itu. Memang, mereka sedang berjalan, namun mereka tetap terpaku pada peristiwa
tiga hari sebelumnya ketika mereka melihat kematian Yesus. Mereka
bercakap-cakap, tetapi tanpa pengharapan akan solusi. Mereka terus berbicara
tentang apa yang telah terjadi, dengan kelelahan orang-orang yang tidak tahu
bagaimana memulai kembali atau melakukan apa yang mungkin.
Saudara-saudara
terkasih, Kabar Baik Tuhan, bahkan bagi kita hari ini, persis seperti ini: Ia
hidup, Ia telah bangkit, dan Ia berjalan di samping kita saat kita menempuh
jalan penderitaan dan kepahitan, membuka mata kita sehingga kita dapat
mengenali karya-Nya dan memberi kita rahmat untuk memulai kembali dan membangun
masa depan.
Tuhan
berjalan di samping kedua murid yang kecewa, yang hampir kehilangan
pengharapan. Sebagai teman perjalanan, Ia membantu mereka menyatukan kembali
kepingan-kepingan kisah itu, melihat melampaui penderitaan mereka, menemukan
bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan dan bahwa masa depan, yang masih
dihuni oleh Allah yang penuh kasih, menanti mereka. Ketika Ia berhenti untuk
makan bersama mereka, duduk di meja dan memecahkan roti, maka “terbukalah mata
mereka dan mereka pun mengenali Dia” (Luk 24:31).
Pun di
sinilah jalan yang terbentang bagi kita, bagimu, saudara-saudari Angola yang
terkasih, untuk memulai kembali. Di satu sisi, ada kepastian bahwa Tuhan
menyertai kita dan berbela rasa kepada kita, dan di sisi lain, Ia meminta kita
untuk berkomitmen.
Kita
mengalami persahabatan dengan Tuhan terutama dalam hubungan kita dengan Dia,
dalam doa, dalam mendengarkan sabda-Nya yang mengobarkan hati kita seperti yang
terjadi pada hati kedua murid. Ini terutama terjadi dalam perayaan Ekaristi. Di
sinilah kita berjumpa Allah. Karena alasan ini, kita harus selalu waspada
terhadap bentuk-bentuk keagamaan tradisional yang tentu saja termasuk dalam
akar budaya kita, tetapi pada saat yang sama berisiko membingungkan dan
mencampuradukkan unsur-unsur magis dan takhayul yang tidak membantu perjalanan
spiritual kita. Tetaplah setia pada ajaran Gereja, percayalah pada para gembala
kita, dan tetaplah memusatkan pandangan kita pada Yesus, yang menyatakan
diri-Nya dalam sabda dan Ekaristi. Dalam keduanya kita mengalami bahwa Tuhan
yang telah bangkit berjalan di samping kita dan, bersatu dengan-Nya, kita pun
mengatasi "kematian" yang mengepung kita dan hidup sebagai
orang-orang yang telah "bangkit."
Kepastian
bahwa kita tidak sendirian dalam perjalanan ini mencakup komitmen yang sangat
besar dari pihak kita untuk menenangkan luka dan menghidupkan kembali
pengharapan. Sesungguhnya, jika kedua murid di jalan menuju Emaus mengenali
Yesus dalam pemecahan roti, ini berarti kita pun harus mengenali-Nya dengan
cara ini: bukan hanya dalam Ekaristi, tetapi di mana pun ada kehidupan yang
menjadi seperti roti yang dipecah-pecahkan, di mana pun seseorang
mempersembahkan dirinya sebagai anugerah bela rasa seperti Dia.
Sejarah
negaramu, konsekuensi sulit yang terus kamu alami, masalah sosial dan ekonomi,
serta berbagai bentuk kemiskinan menuntut kehadiran Gereja yang tahu bagaimana
berjalan bersamamu dan bagaimana mendengarkan seruan anak-anaknya. Gereja yang,
dengan terang sabda dan santapan Ekaristi, tahu bagaimana membangkitkan kembali
pengharapan yang hilang. Gereja yang terdiri dari orang-orang seperti kamu yang
memberikan diri seperti Yesus memberikan diri-Nya dalam pemecahan roti bagi
kedua murid di jalan menuju Emaus. Angola membutuhkan uskup, imam, misionaris,
biarawan dan biarawati, serta umat awam yang membawa dalam hati mereka
keinginan untuk "mengurbankan" hidup mereka dan memberikannya kepada
sesama, berkomitmen pada saling mengasihi dan mengampuni, membangun ruang
persaudaraan dan perdamaian, dan melakukan tindakan bela rasa dan solidaritas
terhadap mereka yang paling membutuhkan.
Melalui
rahmat Kristus yang bangkit, kita dapat menjadi seperti roti yang
dipecah-pecahkan ini yang mengubah rupa kenyataan. Sebagaimana Ekaristi
mengingatkan kita bahwa kita adalah satu tubuh dan satu roh, bersatu dalam satu
Tuhan, demikian pula dimungkinkan untuk membangun bersama sebuah negara di mana
perpecahan lama diatasi sekali dan untuk selamanya, di mana kebencian dan
kekerasan sirna, dan di mana momok korupsi disembuhkan oleh budaya keadilan dan
berbagi yang baru. Hanya dengan cara inilah masa depan yang menjanjikan akan
terwujud, terutama bagi banyak kaum muda yang telah kehilangan pengharapan.
Saudara-saudari,
hari ini kita perlu memandang masa depan dengan penuh pengharapan dan membangun
pengharapan aka masa depan. Jangan takut untuk melakukannya! Yesus yang telah
bangkit, yang berjalan bersamamu di jalan ini dan memecahkan diri-Nya sebagai roti
bagimu, mendorongmu untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya dan pelaku utama
kemanusiaan dan masyarakat baru.
Dalam
perjalanan ini, sahabat-sahabat terkasih, kamu dapat mengandalkan kedekatan dan
doa Paus! Tetapi saya pun tahu saya dapat mengandalkanmu, dan saya berterima
kasih kepadamu! Saya mempercayakanmu kepada perlindungan dan perantaraan Bunda
Maria, Bunda Maria dari Muxima, agar ia selalu menopangmu dalam iman,
pengharapan, dan kasih.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.