Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PASKAH III DI KILAMBA (ANGOLA) 19 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:14,22-33; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; 1Ptr. 1:17-21; Luk. 24:13-35.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya merayakan Ekaristi di antaramu dengan hati yang penuh syukur. Syukur kepada Allah atas anugerah ini, dan terima kasih atas sambutanmu yang hangat!

 

Pada Hari Minggu Paskah III ini, Tuhan telah berbicara kepada kita melalui Bacaan Injil tentang para murid di jalan menuju Emaus (bdk. Luk 24:13-35). Marilah kita memperkenankan diri kita diterangi oleh sabda kehidupan ini.

 

Dua murid Tuhan, dengan hati yang hancur dan sedih, berangkat dari Yerusalem untuk kembali ke desa Emaus. Mereka telah melihat kematian Yesus, yang telah mereka ikuti dengan setia. Mereka pulang dengan kecewa dan patah semangat. Di perjalanan, mereka "bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi" (Luk 24:14). Mereka terdorong untuk membicarakannya, menceritakan sekali lagi apa yang telah mereka lihat dan berbagi apa yang telah mereka alami. Namun, dengan melakukan hal itu, mereka berisiko menjadi tawanan kesedihan dan tertutup terhadap pengharapan.

 

Saudara-saudari, dalam kalimat pembuka Bacaan Injil ini, saya melihat refleksi sejarah Angola, negara yang indah namun terluka ini, yang lapar dan haus akan pengharapan, perdamaian, dan persaudaraan. Sesungguhnya, percakapan di sepanjang jalan antara kedua murid, yang merefleksikan dengan sedih apa yang telah terjadi pada Guru mereka, mengingatkan kita pada penderitaan yang telah menandai negaramu: perang saudara yang panjang dengan akibatnya berupa permusuhan dan perpecahan, pemborosan sumber daya dan kemiskinan.

 

Ketika terlalu lama tenggelam dalam sejarah yang sarat penderitaan, kita berisiko kehilangan pengharapan dan tetap lumpuh oleh keputusasaan, seperti kedua murid itu. Memang, mereka sedang berjalan, namun mereka tetap terpaku pada peristiwa tiga hari sebelumnya ketika mereka melihat kematian Yesus. Mereka bercakap-cakap, tetapi tanpa pengharapan akan solusi. Mereka terus berbicara tentang apa yang telah terjadi, dengan kelelahan orang-orang yang tidak tahu bagaimana memulai kembali atau melakukan apa yang mungkin.

 

Saudara-saudara terkasih, Kabar Baik Tuhan, bahkan bagi kita hari ini, persis seperti ini: Ia hidup, Ia telah bangkit, dan Ia berjalan di samping kita saat kita menempuh jalan penderitaan dan kepahitan, membuka mata kita sehingga kita dapat mengenali karya-Nya dan memberi kita rahmat untuk memulai kembali dan membangun masa depan.

 

Tuhan berjalan di samping kedua murid yang kecewa, yang hampir kehilangan pengharapan. Sebagai teman perjalanan, Ia membantu mereka menyatukan kembali kepingan-kepingan kisah itu, melihat melampaui penderitaan mereka, menemukan bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan dan bahwa masa depan, yang masih dihuni oleh Allah yang penuh kasih, menanti mereka. Ketika Ia berhenti untuk makan bersama mereka, duduk di meja dan memecahkan roti, maka “terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenali Dia” (Luk 24:31).

 

Pun di sinilah jalan yang terbentang bagi kita, bagimu, saudara-saudari Angola yang terkasih, untuk memulai kembali. Di satu sisi, ada kepastian bahwa Tuhan menyertai kita dan berbela rasa kepada kita, dan di sisi lain, Ia meminta kita untuk berkomitmen.

 

Kita mengalami persahabatan dengan Tuhan terutama dalam hubungan kita dengan Dia, dalam doa, dalam mendengarkan sabda-Nya yang mengobarkan hati kita seperti yang terjadi pada hati kedua murid. Ini terutama terjadi dalam perayaan Ekaristi. Di sinilah kita berjumpa Allah. Karena alasan ini, kita harus selalu waspada terhadap bentuk-bentuk keagamaan tradisional yang tentu saja termasuk dalam akar budaya kita, tetapi pada saat yang sama berisiko membingungkan dan mencampuradukkan unsur-unsur magis dan takhayul yang tidak membantu perjalanan spiritual kita. Tetaplah setia pada ajaran Gereja, percayalah pada para gembala kita, dan tetaplah memusatkan pandangan kita pada Yesus, yang menyatakan diri-Nya dalam sabda dan Ekaristi. Dalam keduanya kita mengalami bahwa Tuhan yang telah bangkit berjalan di samping kita dan, bersatu dengan-Nya, kita pun mengatasi "kematian" yang mengepung kita dan hidup sebagai orang-orang yang telah "bangkit."

 

Kepastian bahwa kita tidak sendirian dalam perjalanan ini mencakup komitmen yang sangat besar dari pihak kita untuk menenangkan luka dan menghidupkan kembali pengharapan. Sesungguhnya, jika kedua murid di jalan menuju Emaus mengenali Yesus dalam pemecahan roti, ini berarti kita pun harus mengenali-Nya dengan cara ini: bukan hanya dalam Ekaristi, tetapi di mana pun ada kehidupan yang menjadi seperti roti yang dipecah-pecahkan, di mana pun seseorang mempersembahkan dirinya sebagai anugerah bela rasa seperti Dia.

 

Sejarah negaramu, konsekuensi sulit yang terus kamu alami, masalah sosial dan ekonomi, serta berbagai bentuk kemiskinan menuntut kehadiran Gereja yang tahu bagaimana berjalan bersamamu dan bagaimana mendengarkan seruan anak-anaknya. Gereja yang, dengan terang sabda dan santapan Ekaristi, tahu bagaimana membangkitkan kembali pengharapan yang hilang. Gereja yang terdiri dari orang-orang seperti kamu yang memberikan diri seperti Yesus memberikan diri-Nya dalam pemecahan roti bagi kedua murid di jalan menuju Emaus. Angola membutuhkan uskup, imam, misionaris, biarawan dan biarawati, serta umat awam yang membawa dalam hati mereka keinginan untuk "mengurbankan" hidup mereka dan memberikannya kepada sesama, berkomitmen pada saling mengasihi dan mengampuni, membangun ruang persaudaraan dan perdamaian, dan melakukan tindakan bela rasa dan solidaritas terhadap mereka yang paling membutuhkan.

 

Melalui rahmat Kristus yang bangkit, kita dapat menjadi seperti roti yang dipecah-pecahkan ini yang mengubah rupa kenyataan. Sebagaimana Ekaristi mengingatkan kita bahwa kita adalah satu tubuh dan satu roh, bersatu dalam satu Tuhan, demikian pula dimungkinkan untuk membangun bersama sebuah negara di mana perpecahan lama diatasi sekali dan untuk selamanya, di mana kebencian dan kekerasan sirna, dan di mana momok korupsi disembuhkan oleh budaya keadilan dan berbagi yang baru. Hanya dengan cara inilah masa depan yang menjanjikan akan terwujud, terutama bagi banyak kaum muda yang telah kehilangan pengharapan.

 

Saudara-saudari, hari ini kita perlu memandang masa depan dengan penuh pengharapan dan membangun pengharapan aka masa depan. Jangan takut untuk melakukannya! Yesus yang telah bangkit, yang berjalan bersamamu di jalan ini dan memecahkan diri-Nya sebagai roti bagimu, mendorongmu untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya dan pelaku utama kemanusiaan dan masyarakat baru.

 

Dalam perjalanan ini, sahabat-sahabat terkasih, kamu dapat mengandalkan kedekatan dan doa Paus! Tetapi saya pun tahu saya dapat mengandalkanmu, dan saya berterima kasih kepadamu! Saya mempercayakanmu kepada perlindungan dan perantaraan Bunda Maria, Bunda Maria dari Muxima, agar ia selalu menopangmu dalam iman, pengharapan, dan kasih.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.