Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BANDARA YAOUNDÉ-VILLE (KAMERUN) 18 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis 6:1-7; Mzm 33:1-2.4-5.18-19; Yoh 6:16-21.

 

Saudara-saudari terkasih, damai sejahtera besertamu! Itulah damai sejahtera Kristus, yang kehadiran-Nya menerangi jalan kita dan menenangkan badai kehidupan.

 

Kita merayakan Misa Kudus ini di akhir kunjungan saya di Kamerun, dan saya sangat bersyukur atas sambutan hangat yang diberikan kepada saya dan atas momen-momen sukacita dan iman yang telah kita alami bersama.

 

Sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Injil, iman tidak menyelamatkan kita dari kekacauan dan kesengsaraan. Kadang-kadang, tampaknya rasa takut menguasai kita. Namun, kita tahu bahwa bahkan di saat-saat seperti itu, Yesus tidak meninggalkan kita, sama seperti Ia tidak meninggalkan para murid di Danau Galilea.

 

Tiga dari empat penginjil menceritakan peristiwa yang diwartakan hari ini, masing-masing dengan caranya masing-masing, dengan pesan yang sesuai untuk orang-orang yang dituju. Santo Markus (bdk. 6:45-52) menceritakan bahwa Tuhan datang kepada para murid ketika mereka bersusah payah mendayung karena angin sakal, yang berhenti segera setelah Yesus naik ke perahu bersama mereka. Santo Matius (bdk. 14:22-33) lebih memerinci: Petrus ingin pergi kepada Tuhan dengan berjalan di atas air. Namun, begitu ia melangkah keluar dari perahu, ia membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa takut dan ia mulai tenggelam. Kristus memegang tangannya, menyelamatkan dan menegurnya karena ketidakpercayaannya.

 

Dalam versi Santo Yohanes, yang diwartakan hari ini (bdk. 6:16-21), sang Juruselamat yang berjalan di atas air mendekati murid-murid-Nya dan berkata, “Ini Aku, jangan takut” (ayat 20). Penginjil menekankan bahwa “ketika hari mulai malam” (ayat 16). Menurut tradisi Yahudi, “air” dengan kedalaman dan misterinya, sering mengingatkan pada dunia bawah, kekacauan, bahaya, dan kematian. Bersama dengan kegelapan, ia membangkitkan kekuatan jahat, yang tidak dapat dikuasai manusia dengan kekuatan mereka sendiri. Namun, pada saat yang sama, dengan mengingat mukjizat yang terjadi dalam peristiwa keluaran, air dipahami sebagai tempat persinggahan, penyeberangan di mana Allah dengan penuh kuasa membebaskan umat-Nya dari perbudakan.

 

Sepanjang zaman, Gereja telah melewati banyak badai dan “angin sakal.” Kita pun dapat merasakan ketakutan dan keraguan yang dialami para murid saat menyeberangi Danau Tiberias. Demikian pula pengalaman kita di saat-saat ketika kita seolah tenggelam, dikalahkan oleh kekuatan yang merugikan, ketika segala sesuatu tampak suram dan kita merasa sendirian dan lemah. Tetapi tidak demikian. Yesus selalu bersama kita, lebih kuat dari kekuatan jahat apa pun. Dalam setiap badai, Ia datang kepada kita dan mengulangi, “Aku ada di sini bersamamu: jangan takut.” Inilah sebabnya mengapa kita dapat bangkit kembali setiap kali jatuh, tidak membiarkan diri kita dihentikan oleh badai apa pun. Sebaliknya, kita selalu maju dengan keberanian dan kepercayaan. Dan berkat Dialah, sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, begitu banyak “orang … yang menghormati umat kita, yang menghormati Gereja kita… kuat dalam melanjutkan hidup, keluarga, pekerjaan, dan iman mereka” (Katekese, 14 Mei 2014, 2).

 

Yesus mendekati kita. Ia tidak langsung menenangkan badai, tetapi datang kepada kita di tengah bahaya, dan mengajak kita, dalam suka dan duka, untuk tetap bersama-Nya, seperti para murid, di perahu yang sama. Ia mengajak kita bukan untuk menjauhkan diri dari mereka yang menderita, tetapi mendekati mereka, merangkul mereka. Tidak seorang pun boleh dibiarkan sendirian menghadapi kesulitan hidup. Karena alasan ini, setiap komunitas memiliki kewajiban untuk menciptakan dan mempertahankan struktur solidaritas dan saling membantu di mana, ketika menghadapi krisis –– baik sosial, politik, medis, maupun ekonomi –– setiap orang dapat memberi dan menerima bantuan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka masing-masing. Kata-kata Yesus, “Akulah Dia,” mengingatkan kita bahwa dalam masyarakat yang didirikan atas dasar penghormatan terhadap martabat manusia, kontribusi setiap orang dihargai penting dan unik, terlepas dari status atau posisi mereka di mata dunia.

 

Seruan “jangan takut,” kemudian, memiliki makna yang lebih luas, bahkan pada tingkat sosial dan politik, sebagai dorongan untuk menghadapi masalah dan tantangan –– khususnya yang berkaitan dengan kemiskinan dan keadilan –– bersama-sama, dengan rasa tanggung jawab sipil sebagai warga negara. Iman tidak memisahkan hal spiritual dari hal sosial. Bahkan, iman memberi umat kristiani kekuatan untuk berinteraksi dengan dunia, menanggapi kebutuhan orang lain, terutama yang paling lemah. Upaya individu yang tersendiri tidak cukup untuk keselamatan suatu komunitas: sebaliknya, yang dibutuhkan adalah komitmen komunal, yang memadukan dimensi spiritual dan moral injili sebagai landasan lembaga dan struktur lokal, menjadikannya sarana untuk kebaikan bersama, dan bukan tempat konflik, kepentingan pribadi, atau perjuangan yang sia-sia.

 

Bacaan Pertama hari ini (bdk. Kis. 6:1-7) berbicara tentang hal ini. Dalam perikop ini, kita melihat bagaimana Gereja menghadapi krisis pertamanya mengenai pertumbuhan. Peningkatan pesat jumlah murid (ayat 1) membawa tantangan baru bagi komunitas dalam menjalankan amal kasih, yang tidak lagi mampu dilakukan oleh para Rasul sendiri. Beberapa orang terabaikan dalam pembagian makanan, dan karena alasan ini keluhan semakin meningkat dan rasa ketidakadilan mengancam persatuan. Pelayanan sehari-hari kepada kaum miskin merupakan praktik penting dalam Gereja perdana, yang dimaksudkan untuk mendukung kaum yang paling lemah, khususnya para janda dan yatim piatu. Namun, pelayanan ini perlu diseimbangkan dengan kebutuhan mendesak lainnya, yaitu berkhotbah dan mengajar. Solusinya tidak sederhana. Para Rasul kemudian berkumpul dan berbagi kekhawatiran mereka, membahas masalah-masalah tersebut dalam terang ajaran Yesus. Mereka bersatu dalam doa untuk mengatasi rintangan dan kesalahpahaman yang pada pandangan pertama tampak tak teratasi. Dengan demikian, mereka memberi kehidupan pada sesuatu yang baru, memilih orang-orang yang “terkenal baik dan penuh dengan Roh dan hikmat” (ayat 3) dan menunjuk mereka, melalui penumpangan tangan, untuk melakukan pelayanan dengan perutusan rohani. Dengan mendengarkan suara Roh Kudus dan memperhatikan jeritan orang-orang yang menderita, mereka tidak hanya menghindari perpecahan di dalam komunitas, tetapi mereka juga melengkapinya dengan sarana-sarana baru yang sesuai dengan pertumbuhannya, mengubah momen krisis menjadi kesempatan untuk pengayaan dan pengembangan bagi semua orang.

 

Terkadang, kehidupan keluarga dan masyarakat membutuhkan keberanian untuk mengubah pola pikir dan struktur, agar martabat manusia selalu tetap menjadi fokus utama dan agar kesenjangan dan marginalisasi dapat diatasi. Lagipula, Allah yang menjadi manusia mengidentifikasi diri-Nya dengan yang paling hina, dan ini menjadikan perhatian khusus kepada kaum miskin sebagai bagian mendasar dari jati diri kristiani kita (bdk. Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 198; Seruan Apostolik Dilexi Te, 16-17).

 

Saudara-saudari, hari ini kita saling mengucapkan selamat tinggal. Masing-masing kembali ke pekerjaannya dan perahu Gereja terus berlayar menuju tujuan akhir, berkat rahmat Allah dan komitmen setiap orang. Marilah kita menjaga kenangan akan saat-saat indah yang telah kita alami bersama tetap hidup di dalam hati kita. Bahkan di tengah kesulitan, marilah kita terus memberi ruang bagi Yesus, membiarkan Dia menerangi dan memperbarui kita setiap hari melalui kehadiran-Nya. Gereja di Kamerun hidup, muda, diberkati dengan anugerah dan antusiasme, energik dalam keberagamannya dan sangat luar biasa dalam kerukunan. Dengan pertolongan Bunda Maria, Bunda kita, semoga kehadiranmu yang penuh sukacita terus berkembang. Dan semoga angin sakal, yang tidak pernah tidak ada dalam kehidupan, menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam pelayanan yang penuh sukacita kepada Allah dan saudara-saudari kita melalui berbagi, mendengarkan, berdoa, dan keinginan untuk bertumbuh bersama.

 

[Kata Penutup]

 

Saudara-saudari terkasih, perayaan ini menandai berakhirnya kunjungan saya ke Kamerun. Saya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Uskup Agung dan kepada semua gembala Gereja di negara ini.

 

Saya kembali menyampaikan apresiasi saya kepada Otoritas Sipil dan semua pihak yang telah membantu mempersiapkan dan menyelenggarakan perjalanan ini.

 

Terima kasih kepada semua orang, terutama kepada orang sakit, lansia, dan biarawati yang telah mendoakan mereka.

 

Umat ​​Allah yang tinggal dan berziarah di Kamerun, jangan takut! Tetaplah teguh bersatu dengan Kristus Tuhan kita! Dengan kuasa Roh-Nya, kamu mampu menjadi garam dan terang negeri ini! Terima kasih banyak.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.