Bacaan
Ekaristi : Kis. 6:8-15; Mzm. 119:23-24,26-27,29-30; Yoh. 6:22-29.
Saudara-saudari
terkasih,
Di
pelbagai belahan dunia, Gereja hidup sebagai umat yang berjalan sebagai murid
Kristus, saudara dan Penebus kita. Ia, yang bangkit, menerangi jalan kita
menuju Bapa dan dengan kekuatan Roh-Nya Ia menguduskan kita sehingga kita dapat
mengubah rupa cara hidup kita selaras dengan kasih-Nya. Inilah Kabar Baik,
Injil yang mengalir seperti darah dalam pembuluh darah kita, menopang kita
dalam perjalanan. Sebuah perjalanan yang membawa saya ke sini bersamamu hari
ini! Dalam sukacita dan keindahan pertemuan kita, bersatu dalam nama Yesus,
marilah kita mendengarkan Sabda keselamatan dengan hati terbuka karena Sabda
keselamatan membantu kita merefleksikan motivasi dan tujuan kita mengikuti
Tuhan.
Memang
benar, ketika Putra Allah menjadi manusia, Ia melakukan mukjizat yang luar
biasa untuk mewujudkan kehendak Bapa: Ia membuat terang bersinar dalam
kegelapan dengan memberikan penglihatan kepada orang buta, Ia memberikan suara
kepada mereka yang tertindas dengan melonggarkan lidah orang bisu, Ia memuaskan
rasa haus kita akan keadilan dengan melipatgandakan roti bagi mereka yang
miskin dan lemah. Siapa pun yang mendengar tentang pekerjaan ini berangkat
mencari Yesus. Pada saat yang sama, Tuhan melihat ke dalam hati kita dan
bertanya apakah kita mencari Dia karena rasa syukur atau demi kepentingan diri
sendiri, dengan perhitungan atau dengan cinta. Bahkan, Ia berkata kepada
orang-orang yang mengikuti Dia, “Kamu mencari Aku, bukan karena kamu melihat
tanda-tandanya, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang” (Yoh.
6:26). Kata-kata-Nya mengungkapkan rancangan orang-orang yang tidak ingin
berjumpa dengan seseorang, bahkan ingin mengonsumsi sesuatu. Orang banyak
melihat Yesus sebagai alat untuk mencapai tujuan, penyedia layanan. Jika Ia
tidak memberi mereka makan, tindakan dan ajaran-Nya tidak akan menarik minat
mereka.
Hal ini
terjadi ketika iman sejati digantikan dengan praktik takhayul, yang menjadikan
Allah sebagai berhala yang dicari hanya jika bermanfaat bagi kita dan hanya
selama bermanfaat. Bahkan anugerah terindah Tuhan, yang selalu diperuntukkan
bagi umat-Nya, malah menjadi dalih, hadiah atau alat tawar-menawar, dan
disalahartikan oleh mereka yang menerimanya. Maka, kisah Injil membantu kita
memahami bahwa ada motivasi yang salah dalam mencari Kristus, khususnya ketika
Ia dianggap sebagai guru atau jimat keberuntungan. Bahkan motivasi orang banyak
pun tidak memadai: mereka tidak mencari seorang guru yang mereka cintai, namun
seorang pemimpin yang bisa diberi tepuk tangan demi keuntungan mereka sendiri.
Alangkah
berbedanya sikap Yesus terhadap kita. Namun, Ia tidak menolak pencarian yang
tidak tulus ini, namun mendorong pertobatannya. Ia tidak mengabaikan orang
banyak, namun mengajak setiap orang untuk menelaah apa yang menggugah dalam
hati kita. Kristus memanggil kita menuju kemerdekaan: Ia tidak menginginkan
pelayan atau klien, namun Ia mencari saudara dan saudari yang kepadanya Ia
dapat mengabdikan diri sepenuhnya. Untuk menanggapi kasih ini dengan iman,
tidaklah cukup hanya dengan mendengarkan Yesus berbicara: kita harus menerima
makna sabda-Nya. Melihat apa yang dilakukan Yesus saja tidak cukup: kita harus
mengikuti dan meneladan Dia. Ketika dalam tanda roti yang dibagikan kita
melihat kehendak Juruselamat, yang memberikan diri-Nya bagi kita, barulah kita
semakin dekat pada perjumpaan sejati dengan Yesus, yang menjadi pemuridan,
perutusan dan pelayanan.
Nasihat
yang disampaikan Tuhan kepada orang banyak kemudian diubah rupa menjadi sebuah
undangan: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan binasa, melainkan untuk
makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh 6:27). Dengan
kata-kata ini, Kristus mengungkapkan anugerah-Nya yang sejati kepada kita: Ia
tidak memanggil kita untuk tidak tertarik pada roti kita sehari-hari, yang Ia
lipatgandakan dengan berlimpah dan ajarkan kepada kita untuk memintanya dalam
doa. Sebaliknya, Ia mengajarkan kita cara yang benar untuk mencari roti hidup,
makanan yang menopang kita selamanya. Keinginan orang banyak mendapat tanggapan
yang jauh lebih besar dan lebih mengejutkan: Yesus tidak memberi kita makanan
yang akan binasa, tetapi roti yang kekal karena merupakan makanan hidup yang
kekal.
Anugerah-Nya
menerangi situasi kita saat ini. Hari ini kita dapat melihat bagaimana
pengharapan banyak orang digagalkan oleh kekerasan, dieksploitasi oleh
orang-orang yang berkuasa dan ditipu oleh orang-orang kaya. Akibatnya, ketika
ketidakadilan merusak hati, roti bagi semua orang menjadi milik segelintir
orang. Dalam menghadapi kejahatan-kejahatan ini, Kristus mendengar jeritan
orang-orang dan memperbarui sejarah kita dengan mengangkat kita dari setiap
kejatuhan, menghibur kita dalam setiap penderitaan, dan mendorong kita dalam
perutusan kita. Sama seperti Ekaristi adalah roti hidup yang tidak pernah
berhenti Ia berikan kepada kita, demikian pula sejarah-Nya tidak berkesudahan.
Karena alasan ini, Yesus yang bangkit membuka hidup kita melalui kuasa Roh-Nya
dan menghapus akhir sejarah kita, yaitu kematian. Kristus hidup! Dialah Penebus
kita. Inilah Injil yang kita bagikan, menjadikan semua orang di bumi sebagai
saudara-saudari kita. Inilah pemberitaan yang mengubah dosa menjadi
pengampunan. Inilah iman yang menyelamatkan jiwa!
Oleh
karena itu, kesaksian Paskah tentu saja selain berkaitan dengan Kristus, yang
disalibkan dan telah bangkit, tetapi juga berkaitan dengan kita karena di dalam
Dia pemberitaan kebangkitan kita menemukan suaranya. Kita tidak datang ke dunia
untuk mati. Kita tidak dilahirkan untuk menjadi hamba, baik bagi kerusakan
daging maupun jiwa: setiap bentuk penindasan, kekerasan, eksploitasi, dan
ketidakjujuran meniadakan kebangkitan Kristus, anugerah tertinggi kebebasan
kita. Pembebasan dari kematian ini, sebenarnya, tidak hanya terjadi di akhir
hidup kita, tetapi setiap hari dalam hidup kita. Apa yang harus kita lakukan
untuk menyambut anugerah seperti itu? Bacaan Injil mengajarkan kita: “Inilah
pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang
telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ya, marilah kita percaya! Hari ini, marilah
kita mengatakannya bersama-sama dengan kekuatan dan rasa syukur kepada Engkau,
Tuhan Yesus. Kami ingin mengikuti dan melayani Engkau dalam diri sesama kami:
sabda-Mu adalah pedoman hidup dan patokan kebenaran kami.
“Berbahagialah
orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut hukum Tuhan” (Mzm.
119:1). Inilah Mazmur yang kita nyanyikan. Sahabat-sahabatku, Tuhanlah yang
menunjukkan jalan bagi kita dalam perjalanan ini, bukan tuntutan kita, atau
tren yang sedang populer. Karena alasan ini, dalam terang kemuridan kita,
perjalanan gerejawi adalah “sinode kebangkitan dan pengharapan,” yang
ditegaskan oleh Santo Yohanes Paulus II dalam seruan apostoliknya tentang
Afrika (Ecclesia in Africa, 13). Marilah kita melangkah ke arah yang bijaksana
ini! Dengan Injil di dalam hatimu, kamu akan memiliki keberanian dalam
menghadapi kesulitan dan kekecewaan: jalan yang telah Allah bukakan bagi kita,
tidak pernah gagal. Sesungguhnya, Tuhan selalu berjalan bersama kita, sehingga kita
dapat terus berada di jalan-Nya. Kristus sendiri membimbing dan menguatkan
perjalanan kita, sebuah perjalanan yang ingin kita pelajari untuk dijalani
semakin sebagaimana mestinya, yaitu secara sinodal.
Dalam hal
ini, “Gereja mewartakan Kabar Baik Kristus bukan hanya melalui pewartaan sabda
yang telah diterimanya dari Tuhan, tetapi juga melalui kesaksian hidup, yang
berkatnya murid-murid Kristus memberi kesaksian tentang iman, pengharapan, dan
kasih yang ada di dalam diri mereka” (idem, 55). Dengan ambil bagian dalam
Ekaristi, roti hidup yang kekal, kita dipanggil untuk melayani umat kita dengan
dedikasi yang mengangkat semua orang yang telah jatuh, membangun kembali ketika
kekerasan menghancurkan, dan dengan sukacita ambil bagian dalam ikatan
persaudaraan kita. Melalui kita, prakarsa rahmat ilahi menghasilkan buah yang
baik terutama dalam kesulitan, sebagaimana diteladankan oleh Stefanus, martir
pertama (bdk. Kis. 6:8-15).
Saudara-saudara
terkasih, kesaksian para martir dan para kudus mendorong dan menuntun kita
menuju jalan pengharapan, rekonsiliasi, dan perdamaian, di mana anugerah Allah
menjadi tanggung jawab kepala keluarga, dalam komunitas kristiani, dalam
masyarakat sipil. Bersama-sama menempuh perjalanan ini, dalam terang Injil,
Gereja di Angola bertumbuh sesuai dengan buah rohani yang berasal dari Ekaristi
dan berlanjut dalam perhatian menyeluruh terhadap setiap orang dan seluruh
umat. Secara khusus, vitalitas panggilan yang kamu alami merupakan tanda bahwa
kamu menanggapi anugerah Tuhan, yang selalu berlimpah bagi mereka yang
menerimanya dengan hati yang murni. Berkat Roti Hidup yang kita bagikan hari
ini, kita dapat melanjutkan perjalanan seluruh Gereja, yang tujuannya adalah
Kerajaan Allah, yang terangnya adalah iman dan darah kehidupannya adalah amal
kasih.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 20 April 2026)


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.