Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI SAURIMO (ANGOLA) 20 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 6:8-15; Mzm. 119:23-24,26-27,29-30; Yoh. 6:22-29.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Di pelbagai belahan dunia, Gereja hidup sebagai umat yang berjalan sebagai murid Kristus, saudara dan Penebus kita. Ia, yang bangkit, menerangi jalan kita menuju Bapa dan dengan kekuatan Roh-Nya Ia menguduskan kita sehingga kita dapat mengubah rupa cara hidup kita selaras dengan kasih-Nya. Inilah Kabar Baik, Injil yang mengalir seperti darah dalam pembuluh darah kita, menopang kita dalam perjalanan. Sebuah perjalanan yang membawa saya ke sini bersamamu hari ini! Dalam sukacita dan keindahan pertemuan kita, bersatu dalam nama Yesus, marilah kita mendengarkan Sabda keselamatan dengan hati terbuka karena Sabda keselamatan membantu kita merefleksikan motivasi dan tujuan kita mengikuti Tuhan.

 

Memang benar, ketika Putra Allah menjadi manusia, Ia melakukan mukjizat yang luar biasa untuk mewujudkan kehendak Bapa: Ia membuat terang bersinar dalam kegelapan dengan memberikan penglihatan kepada orang buta, Ia memberikan suara kepada mereka yang tertindas dengan melonggarkan lidah orang bisu, Ia memuaskan rasa haus kita akan keadilan dengan melipatgandakan roti bagi mereka yang miskin dan lemah. Siapa pun yang mendengar tentang pekerjaan ini berangkat mencari Yesus. Pada saat yang sama, Tuhan melihat ke dalam hati kita dan bertanya apakah kita mencari Dia karena rasa syukur atau demi kepentingan diri sendiri, dengan perhitungan atau dengan cinta. Bahkan, Ia berkata kepada orang-orang yang mengikuti Dia, “Kamu mencari Aku, bukan karena kamu melihat tanda-tandanya, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang” (Yoh. 6:26). Kata-kata-Nya mengungkapkan rancangan orang-orang yang tidak ingin berjumpa dengan seseorang, bahkan ingin mengonsumsi sesuatu. Orang banyak melihat Yesus sebagai alat untuk mencapai tujuan, penyedia layanan. Jika Ia tidak memberi mereka makan, tindakan dan ajaran-Nya tidak akan menarik minat mereka.

 

Hal ini terjadi ketika iman sejati digantikan dengan praktik takhayul, yang menjadikan Allah sebagai berhala yang dicari hanya jika bermanfaat bagi kita dan hanya selama bermanfaat. Bahkan anugerah terindah Tuhan, yang selalu diperuntukkan bagi umat-Nya, malah menjadi dalih, hadiah atau alat tawar-menawar, dan disalahartikan oleh mereka yang menerimanya. Maka, kisah Injil membantu kita memahami bahwa ada motivasi yang salah dalam mencari Kristus, khususnya ketika Ia dianggap sebagai guru atau jimat keberuntungan. Bahkan motivasi orang banyak pun tidak memadai: mereka tidak mencari seorang guru yang mereka cintai, namun seorang pemimpin yang bisa diberi tepuk tangan demi keuntungan mereka sendiri.

 

Alangkah berbedanya sikap Yesus terhadap kita. Namun, Ia tidak menolak pencarian yang tidak tulus ini, namun mendorong pertobatannya. Ia tidak mengabaikan orang banyak, namun mengajak setiap orang untuk menelaah apa yang menggugah dalam hati kita. Kristus memanggil kita menuju kemerdekaan: Ia tidak menginginkan pelayan atau klien, namun Ia mencari saudara dan saudari yang kepadanya Ia dapat mengabdikan diri sepenuhnya. Untuk menanggapi kasih ini dengan iman, tidaklah cukup hanya dengan mendengarkan Yesus berbicara: kita harus menerima makna sabda-Nya. Melihat apa yang dilakukan Yesus saja tidak cukup: kita harus mengikuti dan meneladan Dia. Ketika dalam tanda roti yang dibagikan kita melihat kehendak Juruselamat, yang memberikan diri-Nya bagi kita, barulah kita semakin dekat pada perjumpaan sejati dengan Yesus, yang menjadi pemuridan, perutusan dan pelayanan.

 

Nasihat yang disampaikan Tuhan kepada orang banyak kemudian diubah rupa menjadi sebuah undangan: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh 6:27). Dengan kata-kata ini, Kristus mengungkapkan anugerah-Nya yang sejati kepada kita: Ia tidak memanggil kita untuk tidak tertarik pada roti kita sehari-hari, yang Ia lipatgandakan dengan berlimpah dan ajarkan kepada kita untuk memintanya dalam doa. Sebaliknya, Ia mengajarkan kita cara yang benar untuk mencari roti hidup, makanan yang menopang kita selamanya. Keinginan orang banyak mendapat tanggapan yang jauh lebih besar dan lebih mengejutkan: Yesus tidak memberi kita makanan yang akan binasa, tetapi roti yang kekal karena merupakan makanan hidup yang kekal.

 

Anugerah-Nya menerangi situasi kita saat ini. Hari ini kita dapat melihat bagaimana pengharapan banyak orang digagalkan oleh kekerasan, dieksploitasi oleh orang-orang yang berkuasa dan ditipu oleh orang-orang kaya. Akibatnya, ketika ketidakadilan merusak hati, roti bagi semua orang menjadi milik segelintir orang. Dalam menghadapi kejahatan-kejahatan ini, Kristus mendengar jeritan orang-orang dan memperbarui sejarah kita dengan mengangkat kita dari setiap kejatuhan, menghibur kita dalam setiap penderitaan, dan mendorong kita dalam perutusan kita. Sama seperti Ekaristi adalah roti hidup yang tidak pernah berhenti Ia berikan kepada kita, demikian pula sejarah-Nya tidak berkesudahan. Karena alasan ini, Yesus yang bangkit membuka hidup kita melalui kuasa Roh-Nya dan menghapus akhir sejarah kita, yaitu kematian. Kristus hidup! Dialah Penebus kita. Inilah Injil yang kita bagikan, menjadikan semua orang di bumi sebagai saudara-saudari kita. Inilah pemberitaan yang mengubah dosa menjadi pengampunan. Inilah iman yang menyelamatkan jiwa!

 

Oleh karena itu, kesaksian Paskah tentu saja selain berkaitan dengan Kristus, yang disalibkan dan telah bangkit, tetapi juga berkaitan dengan kita karena di dalam Dia pemberitaan kebangkitan kita menemukan suaranya. Kita tidak datang ke dunia untuk mati. Kita tidak dilahirkan untuk menjadi hamba, baik bagi kerusakan daging maupun jiwa: setiap bentuk penindasan, kekerasan, eksploitasi, dan ketidakjujuran meniadakan kebangkitan Kristus, anugerah tertinggi kebebasan kita. Pembebasan dari kematian ini, sebenarnya, tidak hanya terjadi di akhir hidup kita, tetapi setiap hari dalam hidup kita. Apa yang harus kita lakukan untuk menyambut anugerah seperti itu? Bacaan Injil mengajarkan kita: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ya, marilah kita percaya! Hari ini, marilah kita mengatakannya bersama-sama dengan kekuatan dan rasa syukur kepada Engkau, Tuhan Yesus. Kami ingin mengikuti dan melayani Engkau dalam diri sesama kami: sabda-Mu adalah pedoman hidup dan patokan kebenaran kami.

 

“Berbahagialah orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut hukum Tuhan” (Mzm. 119:1). Inilah Mazmur yang kita nyanyikan. Sahabat-sahabatku, Tuhanlah yang menunjukkan jalan bagi kita dalam perjalanan ini, bukan tuntutan kita, atau tren yang sedang populer. Karena alasan ini, dalam terang kemuridan kita, perjalanan gerejawi adalah “sinode kebangkitan dan pengharapan,” yang ditegaskan oleh Santo Yohanes Paulus II dalam seruan apostoliknya tentang Afrika (Ecclesia in Africa, 13). Marilah kita melangkah ke arah yang bijaksana ini! Dengan Injil di dalam hatimu, kamu akan memiliki keberanian dalam menghadapi kesulitan dan kekecewaan: jalan yang telah Allah bukakan bagi kita, tidak pernah gagal. Sesungguhnya, Tuhan selalu berjalan bersama kita, sehingga kita dapat terus berada di jalan-Nya. Kristus sendiri membimbing dan menguatkan perjalanan kita, sebuah perjalanan yang ingin kita pelajari untuk dijalani semakin sebagaimana mestinya, yaitu secara sinodal.

 

Dalam hal ini, “Gereja mewartakan Kabar Baik Kristus bukan hanya melalui pewartaan sabda yang telah diterimanya dari Tuhan, tetapi juga melalui kesaksian hidup, yang berkatnya murid-murid Kristus memberi kesaksian tentang iman, pengharapan, dan kasih yang ada di dalam diri mereka” (idem, 55). Dengan ambil bagian dalam Ekaristi, roti hidup yang kekal, kita dipanggil untuk melayani umat kita dengan dedikasi yang mengangkat semua orang yang telah jatuh, membangun kembali ketika kekerasan menghancurkan, dan dengan sukacita ambil bagian dalam ikatan persaudaraan kita. Melalui kita, prakarsa rahmat ilahi menghasilkan buah yang baik terutama dalam kesulitan, sebagaimana diteladankan oleh Stefanus, martir pertama (bdk. Kis. 6:8-15).

 

Saudara-saudara terkasih, kesaksian para martir dan para kudus mendorong dan menuntun kita menuju jalan pengharapan, rekonsiliasi, dan perdamaian, di mana anugerah Allah menjadi tanggung jawab kepala keluarga, dalam komunitas kristiani, dalam masyarakat sipil. Bersama-sama menempuh perjalanan ini, dalam terang Injil, Gereja di Angola bertumbuh sesuai dengan buah rohani yang berasal dari Ekaristi dan berlanjut dalam perhatian menyeluruh terhadap setiap orang dan seluruh umat. Secara khusus, vitalitas panggilan yang kamu alami merupakan tanda bahwa kamu menanggapi anugerah Tuhan, yang selalu berlimpah bagi mereka yang menerimanya dengan hati yang murni. Berkat Roti Hidup yang kita bagikan hari ini, kita dapat melanjutkan perjalanan seluruh Gereja, yang tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang terangnya adalah iman dan darah kehidupannya adalah amal kasih.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 20 April 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.