Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA PENTAKOSTA 24 Mei 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:1-11; Mzm. 104:1ab,24ac,29c-30,31,34; 1Kor. 12:3b-7,12-13; Yoh. 20:19-23.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Masa Paskah mencapai puncaknya hari ini pada Hari Raya Pentakosta. Untuk menyoroti kesinambungan peristiwa penyelamatan ini, Bacaan Injil membawa kita kembali ke “hari pertama minggu” (Yoh 20:19), yaitu, hari baru di mana Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepada para murid, memperlihatkan “tangan dan lambung-Nya” kepada mereka (ayat 20). Tuhan mengungkapkan tubuh-Nya yang mulia, khususnya luka-luka-Nya, tanda-tanda penyaliban. Tanda-tanda sengsara ini, yang lebih bermakna daripada kata-kata, kini diubah rupa; Dia yang telah mati hidup selama-lamanya.

 

Setelah melihat Tuhan, para murid pun dipulihkan kembali ke kehidupan. Mereka telah mengurung diri di Ruang Atas, diliputi rasa takut, tetapi Yesus datang dan berdiri di antara mereka, meskipun pintu-pintu tertutup, dan memenuhi mereka dengan sukacita. Ia melewati “kematian” kita, membuka kubur dan membukanya lebar-lebar ketika tidak ada jalan keluar bagi kita. Kristus menyertai tindakan-Nya dengan kata-kata: “Damai sejahtera bagi kamu” (ayat 19); dan segera setelah itu, Ia mengembusi Roh Kudus atas para murid. Yesus yang telah bangkit adalah kepenuhan kehidupan. Setelah membuktikan bahwa Ia telah dipulihkan kembali ke kehidupan sebagai manusia sejati, Ia menganugerahkan kehidupan Allah sebagai Putra Bapa yang terkasih yang telah menjadi, demi kita, saudara dan Penebus kita. Juga di Ruang Atas tempat Ia menetapkan perjanjian baru dan kekal, Yesus mencurahkan Roh Kudus. Tempat Perjamuan Terakhir dan pengkhianatan diubah rupa; bagi seluruh Gereja kubur para Rasul menjadi rahim kebangkitan. Oleh karena itu, Pentakosta adalah perayaan Paskah dan perayaan tubuh Kristus, yang berkat rahmat adalah kita semua.

 

Dalam merayakan misteri ini, saya ingin berfokus pada tiga aspek.

 

Pertama, Roh Yesus yang bangkit adalah Roh damai sejahtera. Sesungguhnya, melalui misteri Paskah-Nya, Kristus memulihkan damai sejahtera antara Allah dan umat manusia, dan Roh Kudus mencurahkan damai sejahtera ini ke dalam hati kita dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Damai sejahtera ini berasal dari pengampunan dan menuntun kita kepada pengampunan. Damai sejahtera ini dimulai dengan pengampunan yang diberikan oleh Yesus sendiri, yang telah kita khianati, hukum, dan salibkan. Mengejutkan kita dengan kasih-Nya, Yesus yang bangkit mengatakan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni” (Yoh 20:23). Dengan kata-kata ini, Yesus melibatkan kita dalam karya ilahi, karena hanya Allah yang dapat mengampuni dosa (bdk. Mrk 2:7). Otoritas ini diberikan sebagai tanda rekonsiliasi universal: Tuhan mencurahkan Roh damai sejahtera-Nya dari satu ujung sejarah ke ujung lainnya, karena Ia yang telah menebus semua orang dari kematian tidak mengecualikan siapa pun. Sesungguhnya, Roh Kudus adalah Tuhan dan pemberi kehidupan sejak awal penciptaan, ketika Ia melayang-layang di atas permukaan air (bdk. Kej 1:2); dan sekarang, dengan memperbarui ciptaan, Ia mengubah rupa sejarah dunia. Pentakosta benar-benar tampak sebagai perayaan Perjanjian Baru, Perjanjian antara Allah dan semua bangsa di dunia. Sementara suara gemuruh dari atas, angin keras dan lidah api di Ruang Atas mengingatkan kita pada tanda-tanda kuno di Sinai (bdk. Kis 2:2-3; Kel 19:16-19), hukum Allah yang kudus tertulis di dalam hati kita, diukir oleh Roh dengan huruf kasih dalam daging Kristus dan tubuh-Nya, yaitu Gereja.

 

Hukum ini adalah peraturan damai sejahtera: Perintah kasih ganda yang diingatkan Roh Kudus kepada kita oleh setiap degup hati. Dengan hati kita, kita dapat berdoa “Veni Sancte Spiritus,” karena Ia telah diberikan kepada kita. Kita dapat merindukan-Nya, karena Ia telah dijanjikan kepada kita. Kita dapat menyambut-Nya, karena Ia sendiri adalah tamu yang manis bagi jiwa.

 

Kedua, Roh Yesus yang bangkit adalah Roh perutusan: “Sama seperti Bapa telah mengutus Aku,” kata Tuhan, “sekarang Aku juga mengutus kamu” (Yoh 20:21). Oleh karena itu, kita ditarik ke dalam perutusan Yesus, perutusan dari Dia yang berasal dari Allah dan kembali kepada Allah melalui kuasa Roh Kudus — yang pada gilirannya berasal dari Bapa dan Putra, dan disembah serta dimuliakan bersama mereka sebagai satu Allah. Roh Kudus adalah kasih Kristus yang hidup yang memenuhi, mendorong, dan menopang kita dalam perutusan kita (bdk. 2 Kor 5:14). Seraya menganugerahkan kuasa untuk berkhotbah kepada para Rasul (bdk. Kis. 2:4), Roh yang sama mengajarkan sabda keselamatan kepada umat manusia. Sekarang setelah para Rasul menerima nafas Yesus yang bangkit di dalam diri mereka, pemberitaan ini mengalir dari bibir mereka, disampaikan melalui suara Petrus dan orang-orang yang bersamanya. Pada hari Pentakosta itu sendiri, para Rasul mulai memberitakan Yesus, yang disalibkan dan bangkit. Dengan kata lain, “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kis. 2:11) dirangkum dalam penebusan, yang dimulai dengan iman. Sesungguhnya, karya pertama Roh Kudus dalam diri kita adalah iman yang dengannya kita mengakui: “Yesus adalah Tuhan!” (1Kor. 12:3). Iman ini hidup dan diungkapkan dalam setiap perbuatan baik, dalam setiap tindakan belas kasihan dan kebajikan. Oleh karena itu, karya Allah adalah kita masing-masing, yang hari ini datang ke sini dari seluruh penjuru dunia, diundang ke meja Tuhan, berkumpul untuk mendengarkan sabda-Nya dan dipanggil untuk memberi kesaksian tentangnya di mana pun juga.

 

Saudara-saudari terkasih, kita sungguh rekan kerja Injil: seluruh Gereja adalah tokoh utamanya, bukan sekadar penjaganya. Melalui kuasa Roh Kudus, pewartaan kita dipenuhi dengan sukacita dan pengharapan, karena kita — ya, kita sendiri — adalah kebaruan dunia, terang dan garam dunia (bdk. Mat 5:13-14). Tentu bukan karena jasa atau hak istimewa kita sendiri, tetapi karena sabda Tuhan, yang menguduskan orang berdosa, menyembuhkan penderita kusta, dan mengubah rupa orang yang menyangkal-Nya menjadi rasul. Sebagaimana dapat kita lihat dengan jelas, ada perubahan yang tidak membawa kehidupan baru bagi dunia, tetapi membuatnya menua melalui kesalahan dan kekerasan. Namun demikian, Roh Kudus menerangi pikiran dan menanamkan vitalitas baru di dalam hati kita. Beginilah cara Ia mengubah rupa sejarah, membukanya kepada keselamatan, yang merupakan anugerah yang ditawarkan Tuhan kepada setiap orang. Perutusan Gereja menjadi saksi atas tawaran ini, sehingga mengubah rupa kesimpangsiuran dunia menjadi persekutuan dengan Allah dan di antara kita.

 

Perutusan ini dimulai dengan mewartakan kebenaran tentang Allah dan manusia, karena Roh Yesus yang bangkit adalah “Roh Kebenaran” (Yoh 14:17), yang dijanjikan Tuhan sendiri kepada kita, memohon persatuan Gereja-Nya — persatuan yang didasarkan pada kasih Allah, sumber kasih kita. Roh Kudus, yang telah berbicara melalui para nabi, selalu mendorong persatuan dalam kebenaran, karena Ia menanamkan dalam diri kita pemahaman, kerukunan, dan keselarasan hidup. Santo Agustinus mengajarkan, “Roh Kudus menghendaki agar ini menjadi tanda kehadiran-Nya” (Diskursus 269, 1): Karunia berbahasa lidah yang dipahami dalam satu iman. Sang Penghibur melindungi kita dari segala sesuatu yang menghalangi pemahaman ini, termasuk keberpihakan, kemunafikan, dan kecenderungan yang mengaburkan terang Injil. Kebenaran yang diberikan Allah kepada kita dengan demikian menjadi sabda yang membebaskan bagi semua bangsa, sebuah pesan yang mengubah rupa setiap budaya dari dalam.

 

Ketiga, sesungguhnya, Roh Yesus yang bangkit tidak dicurahkan sekali untuk selamanya, tetapi terus-menerus. Sama seperti Ekaristi adalah kehadiran Kristus yang hidup, yang terus-menerus memberi kita santapan rohani, demikian pula Roh Kudus menanamkan karakter-Nya dalam diri kita dalam sakramen baptis, yang menjadikan kita umat Kristiani, dalam sakramen krisma, yang meneguhkan kita sebagai saksi; dan dalam sakramen imamat, yang menjadikan kita pelayan dan gembala bagi umat Allah. Dalam setiap sakramen, Ia adalah dator munerum, sumber kekudusan yang melipatgandakan karunia dan karisma melalui doa, karya belas kasih, dan mempelajari sabda Allah. Rasul Paulus mengajarkan, “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor. 12:7). Justru karena alasan inilah kita adalah Gereja, satu tubuh yang hidup di dalam Allah dan melayani dunia. Berkat Roh Kudus, kita dapat membawa damai sejahtera sejati kepada semua orang, kebenaran yang menyelamatkan — Kristus Tuhan kita yang sama.

 

Sahabat-sahabat terkasih, dengan hati yang berkobar-kobar, hari ini marilah kita berdoa agar Roh Yesus yang bangkit menyelamatkan kita dari kejahatan perang, yang diatasi bukan oleh adikekuatan, tetapi oleh kemahakuasaan kasih. Marilah kita berdoa agar Ia membebaskan umat manusia dari penderitaan, yang ditebus bukan oleh kekayaan yang tak terukur, tetapi oleh karunia yang tak habis-habisnya. Marilah kita berdoa agar Ia menyembuhkan kita dari cambuk dosa melalui keselamatan yang diberitakan kepada semua bangsa dalam nama Yesus. Inilah rahmat yang menanamkan keberanian pada para Rasul; semoga Ia juga menanamkannya pada kita, hari ini dan selalu, melalui perantaraan Maria, Bunda Gereja.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 24 Mei 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.