Bacaan
Ekaristi : Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36.
Saudara-saudari
terkasih dalam Kristus,
Sebagai
seorang peziarah perdamaian dan persatuan, mengunjungi wilayahmu dan, yang
terpenting, ambil bagian dalam perjalanan, perjuangan, dan pengharapanmu
merupakan sebuah sukacita bagi saya.
Perayaan
meriah yang menyertai liturgimu dan sukacita yang mengalir dari doa-doa yang
kamu panjatkan adalah tanda penyerahan dirimu yang penuh kepercayaan kepada
Allah, pengharapanmu yang tak tergoyahkan dan keterikatanmu, dengan segenap
kekuatanmu, pada kasih Bapa yang mendekat dan memandang dengan bela rasa
penderitaan anak-anak-Nya. Dalam Mazmur, kita bersama-sama menyanyikan
kepercayaan kita kepada Allah, di mana kita dipanggil untuk memperbaruinya hari
ini: “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang remuk hati, dan Ia menyelamatkan
orang-orang yang patah semangat” (Mzm. 34:19).
Saudara-saudari,
ada banyak situasi dalam hidup yang menghancurkan hati kita dan menjerumuskan
kita ke dalam kesedihan. Pengharapan kita akan masa depan yang damai dan
rekonsiliasi, di mana martabat setiap manusia dihormati dan hak-hak dasarnya
dijamin, terus-menerus dikecewakan oleh banyak masalah yang melanda negeri yang
indah ini. Termasuk di antaranya berbagai bentuk kemiskinan, yang bahkan
baru-baru ini telah memengaruhi begitu banyak orang di tengah krisis pangan
yang terus berlangsung. Ada korupsi moral, sosial, dan politik, yang terlihat
terutama dalam pengelolaan kekayaan, yang menghambat pengembangan lembaga dan
infrastruktur. Kita juga melihat masalah serius yang memengaruhi sistem
pendidikan dan kesehatan, serta migrasi besar-besaran ke negara asing,
khususnya kaum muda. Ditambah masalah internal ini, yang sering kali dipicu
oleh kebencian dan kekerasan, kerusakan yang disebabkan dari luar, oleh mereka
yang, atas nama keuntungan, terus menguasai benua Afrika dengan mengeksploitasi
dan menjarahnya,
Semua ini
dapat membuat kita merasa tidak berdaya dan mengurangi kepercayaan diri kita.
Namun inilah saatnya untuk berubah, mengubah rupa kisah negara ini. Waktunya
telah tiba, hari ini dan bukan besok, sekarang dan bukan di masa depan, untuk
memulihkan mozaik persatuan dengan menyatukan keragaman dan kekayaan negara dan
benua ini. Dengan cara ini, akan mungkin untuk menciptakan masyarakat di mana
perdamaian dan rekonsiliasi berkuasa.
Memang
benar bahwa ketika suatu situasi tetap sama untuk beberapa waktu, ada risiko
menyerah pada keputusasaan dan ketidakberdayaan, karena kita tidak mengharapkan
sesuatu yang baru. Namun sabda Allah membuka kemungkinan baru dan membawa
perubahan rupa serta pemulihan. Sabda Allah mampu menggerakkan hati kita,
menantang jalannya peristiwa normal yang dengan mudah kita biasakan, dan
menjadikan kita agen perubahan yang aktif. Marilah kita ingat hal ini: Allah
adalah kebaruan, Allah menciptakan hal-hal baru, Allah menjadikan kita
orang-orang yang berani yang, ketika menghadapi kejahatan, membangun kebaikan.
Kita
melihat hal ini dalam kesaksian para Rasul, sebagaimana kita dengar dalam
Bacaan Pertama. Ketika para penguasa Mahkamah Agama menginterogasi, menegur dan
mengancam mereka karena mereka secara terbuka memberitakan Kristus, para Rasul
menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah
nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu bunuh dengan menggantung
Dia pada kayu salib” (Kis. 5:29-30).
Keberanian
para Rasul menjadi suara hati nurani, sebuah nubuat, sebuah kecaman terhadap
kejahatan, dan ini adalah langkah pertama menuju perubahan. Sesungguhnya, taat
kepada Allah bukan tindakan penyerahan diri yang menindas kita atau meniadakan
kebebasan kita; sebaliknya, taat kepada Allah membebaskan kita, karena berarti
mempercayakan hidup kita kepada-Nya dan membiarkan sabda-Nya menginspirasi cara
kita berpikir dan bertindak. Demikianlah, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan
Injil, yang menceritakan bagian akhir dialog antara Yesus dan Nikodemus, “siapa
yang berasal dari bumi adalah dari bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di
bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya” (Yoh 3:31). Mereka
yang taat kepada Allah daripada kepada manusia dan berpikir secara duniawi
menemukan kembali kebebasan batin mereka, berhasil menemukan nilai kebaikan dan
tidak menyerah pada kejahatan. Mereka menemukan kembali jalan hidup mereka dan
menjadi pembangun perdamaian dan persaudaraan.
Saudara-saudari,
penghiburan bagi hati yang hancur dan pengharapan akan perubahan dalam
masyarakat dimungkinkan jika kita mempercayakan diri kepada Allah dan
sabda-Nya. Namun, kita harus selalu menyimpan nasihat Rasul Petrus di dalam
hati kita dan mengingatnya: taatilah Allah, bukan manusia. Taatilah Dia, karena
hanya Dialah Allah. Hal ini mengajak kita untuk memupuk inkulturasi Injil. Hal
ini juga mengajak kita untuk waspada, bahkan terhadap praktik keagamaan kita,
agar tidak jatuh ke dalam perangkap mencampurkan iman Katolik dengan
kepercayaan dan tradisi lain yang bersifat esoteris atau Gnostik, yang pada
kenyataannya seringkali melayani tujuan politik dan ekonomi. Hanya Allah yang
membebaskan kita; hanya sabda-Nya yang membuka jalan menuju kebebasan; hanya
Roh-Nya yang menjadikan kita manusia baru yang mampu mengubah negeri ini.
Saya
menyertaimu dengan doa yang tiada henti dan memberkati khususnya Gereja yang
berkumpul di sini: banyak imam, misionaris, biarawan/biarawati, dan umat awam
yang semuanya bekerja untuk menjadi sumber penghiburan dan pengharapan. Saya
mendorongmu untuk terus menempuh jalan ini dan mempercayakanmu kepada
perantaraan Santa Maria, Ratu Para Rasul dan Bunda Gereja.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 16 April 2026)


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.