Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BANDARA INTERNATIONAL BAMENDA (KAMERUN) 16 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36.

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

 

Sebagai seorang peziarah perdamaian dan persatuan, mengunjungi wilayahmu dan, yang terpenting, ambil bagian dalam perjalanan, perjuangan, dan pengharapanmu merupakan sebuah sukacita bagi saya.

 

Perayaan meriah yang menyertai liturgimu dan sukacita yang mengalir dari doa-doa yang kamu panjatkan adalah tanda penyerahan dirimu yang penuh kepercayaan kepada Allah, pengharapanmu yang tak tergoyahkan dan keterikatanmu, dengan segenap kekuatanmu, pada kasih Bapa yang mendekat dan memandang dengan bela rasa penderitaan anak-anak-Nya. Dalam Mazmur, kita bersama-sama menyanyikan kepercayaan kita kepada Allah, di mana kita dipanggil untuk memperbaruinya hari ini: “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang remuk hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang patah semangat” (Mzm. 34:19).

 

Saudara-saudari, ada banyak situasi dalam hidup yang menghancurkan hati kita dan menjerumuskan kita ke dalam kesedihan. Pengharapan kita akan masa depan yang damai dan rekonsiliasi, di mana martabat setiap manusia dihormati dan hak-hak dasarnya dijamin, terus-menerus dikecewakan oleh banyak masalah yang melanda negeri yang indah ini. Termasuk di antaranya berbagai bentuk kemiskinan, yang bahkan baru-baru ini telah memengaruhi begitu banyak orang di tengah krisis pangan yang terus berlangsung. Ada korupsi moral, sosial, dan politik, yang terlihat terutama dalam pengelolaan kekayaan, yang menghambat pengembangan lembaga dan infrastruktur. Kita juga melihat masalah serius yang memengaruhi sistem pendidikan dan kesehatan, serta migrasi besar-besaran ke negara asing, khususnya kaum muda. Ditambah masalah internal ini, yang sering kali dipicu oleh kebencian dan kekerasan, kerusakan yang disebabkan dari luar, oleh mereka yang, atas nama keuntungan, terus menguasai benua Afrika dengan mengeksploitasi dan menjarahnya,

 

Semua ini dapat membuat kita merasa tidak berdaya dan mengurangi kepercayaan diri kita. Namun inilah saatnya untuk berubah, mengubah rupa kisah negara ini. Waktunya telah tiba, hari ini dan bukan besok, sekarang dan bukan di masa depan, untuk memulihkan mozaik persatuan dengan menyatukan keragaman dan kekayaan negara dan benua ini. Dengan cara ini, akan mungkin untuk menciptakan masyarakat di mana perdamaian dan rekonsiliasi berkuasa.

 

Memang benar bahwa ketika suatu situasi tetap sama untuk beberapa waktu, ada risiko menyerah pada keputusasaan dan ketidakberdayaan, karena kita tidak mengharapkan sesuatu yang baru. Namun sabda Allah membuka kemungkinan baru dan membawa perubahan rupa serta pemulihan. Sabda Allah mampu menggerakkan hati kita, menantang jalannya peristiwa normal yang dengan mudah kita biasakan, dan menjadikan kita agen perubahan yang aktif. Marilah kita ingat hal ini: Allah adalah kebaruan, Allah menciptakan hal-hal baru, Allah menjadikan kita orang-orang yang berani yang, ketika menghadapi kejahatan, membangun kebaikan.

 

Kita melihat hal ini dalam kesaksian para Rasul, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Pertama. Ketika para penguasa Mahkamah Agama menginterogasi, menegur dan mengancam mereka karena mereka secara terbuka memberitakan Kristus, para Rasul menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu bunuh dengan menggantung Dia pada kayu salib” (Kis. 5:29-30).

 

Keberanian para Rasul menjadi suara hati nurani, sebuah nubuat, sebuah kecaman terhadap kejahatan, dan ini adalah langkah pertama menuju perubahan. Sesungguhnya, taat kepada Allah bukan tindakan penyerahan diri yang menindas kita atau meniadakan kebebasan kita; sebaliknya, taat kepada Allah membebaskan kita, karena berarti mempercayakan hidup kita kepada-Nya dan membiarkan sabda-Nya menginspirasi cara kita berpikir dan bertindak. Demikianlah, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Injil, yang menceritakan bagian akhir dialog antara Yesus dan Nikodemus, “siapa yang berasal dari bumi adalah dari bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya” (Yoh 3:31). Mereka yang taat kepada Allah daripada kepada manusia dan berpikir secara duniawi menemukan kembali kebebasan batin mereka, berhasil menemukan nilai kebaikan dan tidak menyerah pada kejahatan. Mereka menemukan kembali jalan hidup mereka dan menjadi pembangun perdamaian dan persaudaraan.

 

Saudara-saudari, penghiburan bagi hati yang hancur dan pengharapan akan perubahan dalam masyarakat dimungkinkan jika kita mempercayakan diri kepada Allah dan sabda-Nya. Namun, kita harus selalu menyimpan nasihat Rasul Petrus di dalam hati kita dan mengingatnya: taatilah Allah, bukan manusia. Taatilah Dia, karena hanya Dialah Allah. Hal ini mengajak kita untuk memupuk inkulturasi Injil. Hal ini juga mengajak kita untuk waspada, bahkan terhadap praktik keagamaan kita, agar tidak jatuh ke dalam perangkap mencampurkan iman Katolik dengan kepercayaan dan tradisi lain yang bersifat esoteris atau Gnostik, yang pada kenyataannya seringkali melayani tujuan politik dan ekonomi. Hanya Allah yang membebaskan kita; hanya sabda-Nya yang membuka jalan menuju kebebasan; hanya Roh-Nya yang menjadikan kita manusia baru yang mampu mengubah negeri ini.

 

Saya menyertaimu dengan doa yang tiada henti dan memberkati khususnya Gereja yang berkumpul di sini: banyak imam, misionaris, biarawan/biarawati, dan umat awam yang semuanya bekerja untuk menjadi sumber penghiburan dan pengharapan. Saya mendorongmu untuk terus menempuh jalan ini dan mempercayakanmu kepada perantaraan Santa Maria, Ratu Para Rasul dan Bunda Gereja.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 16 April 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.