Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI STADION JAPOMA, DOUALA (KAMERUN) 17 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis 5:34-42; Mzm 27:1.4.13-14; Yoh 6:1-15.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Bacaan Injil yang telah kita dengar (Yoh 6:1-15) adalah sabda keselamatan bagi seluruh umat manusia. Kabar Baik ini diberitakan di seluruh dunia saat ini; bagi Gereja di Kamerun, kabar ini bergema sebagai pemberitaan ilahi tentang kasih Allah dan persekutuan kita.

 

Rasul Yohanes menggambarkan kerumunan orang banyak (bdk. ayat 2-5), seperti kita sekarang. Namun, bagi semua orang itu, hanya ada sedikit makanan: hanya “lima roti jelai dan dua ikan” (ayat 9). Melihat ketimpangan ini, Yesus bertanya kepada kita hari ini, seperti yang Ia tanyakan kepada murid-murid-Nya saat itu: bagaimana kamu dapat menyelesaikan masalah ini? Lihatlah semua orang yang lapar ini, yang terbebani oleh kelelahan. Apa yang akan kamu lakukan?

 

Pertanyaan ini diajukan kepada kita masing-masing. Pertanyaan ini diajukan kepada para ayah dan ibu yang merawat keluarga mereka. Pertanyaan ini ditujukan kepada para gembala Gereja, yang menjaga kawanan domba Tuhan, dan juga kepada mereka yang memikul tanggung jawab sosial dan politik bagi rakyat dan mengupayakan kesejahteraan mereka. Kristus mengajukan pertanyaan ini kepada orang yang berkuasa dan orang yang lemah, kepada orang kaya dan orang miskin, kepada orang muda dan orang tua, karena kita semua lapar dengan cara yang sama. Kebutuhan kita mengingatkan kita bahwa kita adalah makhluk ciptaan. Kita perlu makan untuk hidup. Kita bukan Allah: tetapi di manakah Allah di hadapan kelaparan manusia?

 

Seraya menunggu jawaban kita, Yesus sendiri menjawabnya : “Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur, dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki” (ayat 11). Masalah serius diselesaikan dengan memberkati sedikit makanan yang ada dan membagi-bagikannya kepada semua orang yang lapar. Penggandaan roti dan ikan terjadi saat berbagi: itulah mukjizat! Ada roti untuk semua orang jika diberikan kepada semua orang. Ada roti untuk semua orang jika diambil, bukan dengan tangan yang merampas, tetapi dengan tangan yang memberi. Marilah kita perhatikan dengan saksama tindakan Yesus: ketika Putra Allah mengambil roti dan ikan, Ia terlebih dahulu mengucap syukur. Ia bersyukur kepada Bapa atas apa yang akan menjadi anugerah dan berkat bagi semua orang.

 

Dengan cara ini, makanan menjadi berlimpah. Makanan tidak dijatah berdasarkan kebutuhan. Makanan tidak dicuri dalam perselisihan. Makanan tidak disia-siakan oleh mereka yang melahap makanan di hadapan orang-orang yang tidak memiliki apa pun untuk dimakan. Setelah makanan berpindah dari tangan Kristus ke tangan murid-murid-Nya, makanan itu bertambah untuk semua orang; bahkan, berlimpah ruah (bdk. ayat 12-13). Terkagum-kagum oleh apa yang telah dilakukan Yesus, orang-orang berkata, “Dia ini benar-benar Nabi!” (ayat 14), yaitu, Orang yang berbicara dalam nama Allah, Sabda yang Maha Kuasa. Sungguh benar! Namun, Yesus tidak menggunakan kata-kata itu untuk keuntungan pribadi. Ia tidak ingin menjadi raja (bdk. ayat 15), karena Ia datang untuk melayani dengan kasih, bukan untuk menguasai.

 

Mukjizat yang dilakukan-Nya adalah tanda kasih ini. Mukjizat itu menunjukkan kepada kita bukan hanya bagaimana Allah menyediakan roti kehidupan bagi umat manusia, tetapi juga bagaimana kita dapat berbagi makanan ini dengan semua orang yang, seperti kita, mendambakan perdamaian, kebebasan, dan keadilan. Setiap tindakan solidaritas dan pengampunan, setiap usaha yang baik, menjadi sepotong roti bagi umat manusia yang membutuhkan perhatian. Namun, ini saja tidak cukup: makanan yang menopang tubuh harus disertai, dengan kasih yang sama, dengan makanan bagi jiwa — makanan yang menopang hati nurani kita dan menenangkan kita di saat gelap ketakutan dan di tengah bayang-bayang penderitaan. Makanan ini adalah Kristus sendiri, yang selalu memberikan makanan berlimpah kepada Gereja-Nya dan menguatkan kita dalam perjalanan kita dengan memberikan tubuh Ekaristis-Nya kepada kita.

 

Saudara-saudari, Ekaristi yang kita rayakan adalah sumber pembaruan iman, karena Yesus hadir di antara kita. Sakramen ini tidak hanya menghidupkan kembali kenangan yang jauh; ia menghadirkan "persahabatan" yang mengubah kita karena menguduskan kita. Berbahagialah mereka yang diundang ke Perjamuan Tuhan! Altar ini, tempat kita berkumpul untuk Ekaristi, menjadi pemberitaan pengharapan di tengah pencobaan sejarah dan ketidakadilan yang kita lihat di sekitar kita. Tanda kasih Allah; di dalam Kristus, Bapa mengundang kita untuk berbagi apa yang kita miliki, agar dapat dilipatgandakan dalam persekutuan gerejawi.

 

Tuhan meliputi langit dan bumi. Ia mengetahui hati kita dan segala situasi — baik yang menggembirakan maupun yang menyedihkan — yang kita alami. Dengan menjadi manusia untuk menyelamatkan kita, Ia memilih untuk turut serta dalam kebutuhan manusia yang paling sederhana dan sehari-hari. Kelaparan dengan demikian berbicara kepada kita bukan hanya tentang kemiskinan kita, tetapi, terutama, tentang kasih-Nya. Marilah kita mengingat hal ini setiap kali kita melihat di mata mereka seorang saudara atau saudari yang kekurangan kebutuhan hidup. Melalui mata mereka, pertanyaan yang diajukan Yesus kepada murid-murid-Nya diulangi: “Apa yang dapat kamu lakukan untuk semua orang ini?” Menjadi saksi Kristus dan meneladan tindakan kasih-Nya tentu melibatkan kesulitan dan rintangan, dari luar dan dari dalam diri kita, di mana kesombongan dapat merusak hati. Namun, dalam keadaan seperti itu, marilah kita mengulangi bersama pemazmur: “TUHAN terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (Mzm. 27:1). Sekalipun kita kadang-kadang goyah, Allah selalu menguatkan kita. “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Nantikanlah TUHAN!” (ayat 14).

 

Saudara-saudari muda yang terkasih, saya ingin menyampaikan undangan ini khususnya kepadamu, karena kamu adalah anak-anak terkasih dari benua Afrika! Sebagai saudara-saudari Yesus, lipatgandakanlah talentamu melalui iman, ketekunan, dan persahabatan yang menginspirasimu. Jadilah wajah dan tangan pertama yang membawa roti kehidupan kepada sesamamu, sediakanlah bagi mereka makanan hikmat dan pembebasan dari segala sesuatu yang tidak menyehatkan mereka, melainkan mengaburkan keinginan baik dan merampas martabat mereka.

 

Meskipun tanah di Kamerun kaya, banyak yang mengalami kemiskinan material dan spiritual. Jangan menyerah pada ketidakpercayaan dan keputusasaan. Tolak setiap bentuk penyalahgunaan atau kekerasan, yang menipu dengan menjanjikan keuntungan mudah tetapi mengeraskan hati dan membuatnya tidak peka. Jangan lupa bahwa bangsamu bahkan lebih kaya daripada negeri ini, karena hartamu terletak pada nilai-nilaimu: iman, keluarga, keramahan, dan kerja. Karena itu, jadilah pelaku utama masa depan, mengikuti panggilan Allah kepada dirimu masing-masing. Jangan biarkan dirimu dirusak oleh godaan yang membuang energimu dan tidak berfungsi mengembangkan masyarakat.

 

Untuk menjadikan semangat muliamu sebagai suara kenabian dunia baru, belajarlah dari teladan yang baru saja kita dengar dalam Kisah Para Rasul. Jemaat perdana memberikan kesaksian yang berani bagi Tuhan Yesus di tengah kesulitan dan ancaman, dan bertahan bahkan di tengah penganiayaan (bdk. Kis. 5:40-41). Para murid “setiap hari mereka mengajar di Bait Allah dan di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (ayat 42), yaitu Kristus, Pembebas dunia. Ya, Tuhan membebaskan kita dari dosa dan kematian. Memberitakan Injil ini tiada henti adalah perutusan setiap umat kristiani, dan perutusan yang saya percayakan khususnya kepadamu, kaum muda yang terkasih, dan kepada seluruh Gereja di Kamerun. Jadilah Kabar Baik bagi negaramu, seperti halnya Beato Floribert Bwana Chui bagi rakyat Kongo.

 

Saudara-saudari, pengajaran meninggalkan tanda, seperti bekas bajak petani di ladang, yang memungkinkan apa yang ditabur menghasilkan buah. Dengan cara yang sama, pemberitaan kristiani mengubah hidup kita, mengubah rupa pikiran dan hati. Memberitakan Yesus yang bangkit berarti meninggalkan tanda-tanda keadilan di negeri yang menderita dan tertindas, tanda-tanda perdamaian di tengah persaingan dan korupsi, tanda-tanda iman yang membebaskan kita dari takhayul dan ketidakpedulian. Dengan pesan Injil ini di dalam hati kita, sebentar lagi kita akan berbagi Roti Ekaristi yang menopang kita untuk selama-lamanya. Dengan iman yang penuh sukacita, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk melipatgandakan anugerah-Nya di antara kita demi kebaikan semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 April 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.