Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHA KUDUS DI PELABUHAN SANTA CRUZ, TENERIFE, SPANYOL 12 Juni 2026

Bacaan Ekaristi : Ul. 7:6-11; Mzm. 103:1-4,6-8,10; 1Yoh. 4:7-16; Mat. 11:25–30.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Berkumpul bersama pada hari ini ketika hati Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita sebagai jantung sejarah sungguh merupakan suatu berkat. Saya senang merayakan Ekaristi bersamamu, mengucap syukur atas banyaknya kesaksian iman dan kasih yang telah saya alami dalam perjalanan apostolik ini. Inilah yang menjadikan kepulauan ini, yang begitu terkenal akan keindahan dan keramahannya, sebagai tempat di mana Tuhan yang bangkit mendahului kita dan menyatakan diri-Nya kepada kita. Laut di hadapan kita membangkitkan ketakterhinggaan, demikian pula langitnya; tetapi bahkan lebih tak terbatas lagi adalah kerinduan tak terhingga yang menyatukan hati Allah dengan begitu banyak hati manusia, yang sukacita dan pengharapan, kesedihan dan kecemasannya menemukan gema di dalam hati Gereja (bdk. Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Modern Gaudium et Spes, 1). Tidak ada manusia yang merupakan sebuah pulau. Lokasi geografis keuskupan ini dan tantangan pastoral yang dihadapinya menjadi saksi bahwa kita dilahirkan untuk berjumpa dan bahwa tidak ada halangan, jarak, bahaya, atau ancaman yang dapat mencegah siapa pun untuk melakukan perjalanan ini. Entah kita menghabiskan seluruh hidup kita di satu tempat atau memilih — atau dipaksa — untuk pergi, tidak ada seorang pun yang tetap tidak berubah. Inilah rahasia hati: panggilan batin untuk eksodus dan berjumpa.

 

Namun hati Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana agar tidak tersesat dalam perjuangan yang sia-sia: “Allah telah mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1Yoh. 4:9). Hidup sejati kita terletak pada pemberian diri kita sendiri. Jika tidak, kita akan berputar-putar dalam kehampaan. Memang, “sebagaimana diingatkan oleh Konsili, manusia dipanggil untuk bersekutu dengan Allah dan ‘hanya dapat sepenuhnya menemukan jati diri mereka yang sejati dalam pemberian diri yang tulus.’ Sesungguhnya, panggilan terdalam mereka adalah memasuki dinamika kasih Allah Tritunggal yang diterima” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 48). Paus Fransiskus juga mengamati: “Banyak orang dewasa ini merasakan ketidakseimbangan yang mendalam yang mendorong mereka pada aktivitas yang hiruk pikuk dan membuat mereka merasa sibuk, selalu terburu-buru, yang pada gilirannya membuat mereka menginjak-injak segala sesuatu di sekitar mereka. Ini juga memengaruhi bagaimana mereka memperlakukan lingkungan” (Ensiklik Laudato Si’, 225). Kata-kata ini juga menantang Tenerife dalam panggilannya untuk keramahan, berbicara baik kepada hati orang-orang yang memilih untuk menghabiskan liburan mereka di sini maupun kepada hati orang-orang yang tinggal dan bekerja di pulau itu, menyambut para pengunjung dari begitu banyak negara di seluruh dunia. Apa yang dicari hati manusia? Bagaimana kita dapat menanggapi dahaganya dengan cara yang tidak munafik? Penting, terutama bagi mereka yang dibimbing oleh Injil, untuk tidak mereduksi segala sesuatu menjadi perdagangan dan keuntungan. “Pada kenyataannya, mereka yang lebih menikmati setiap momen dan menghayatinya lebih baik, adalah mereka yang berhenti untuk mematuk di sana-sini, selalu mencari apa yang tidak mereka miliki. Mereka mengalami apa artinya menghargai setiap orang, setiap perkara; belajar menjalin hubungan, dan tahu menikmati hal-hal sederhana. Kebutuhan mereka yang tak terpenuhi menjadi lebih sedikit, sehingga mereka menjadi kurang lelah dan kurang susah” (Laudato Si’, 223). Pahami panggilanmu untuk keramahan dengan cara ini, saudara-saudari terkasih.

 

Bacaan Injil hari ini tampaknya membawa tantangan ini ke titik ekstrem dan mengingatkan kita akan kekayaan orang miskin, sebuah paradoks yang menunjuk langsung pada kehidupan Yesus, kebenaran-Nya, jalan yang terus Ia minta untuk kita ikuti. Dalam perikop yang telah kita dengar, ia bersyukur kepada Bapa atas hal ini: bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya kepada orang kecil — kepada yang paling hina di antara kita, kepada mereka yang pikiran dan perkataannya diabaikan. Ia telah memperkaya mereka dengan apa yang tersembunyi dari mereka yang dikelilingi oleh kekaguman dan kesuksesan. Dengan Seruan Apostolik Dilexi Te, saya ingin memberi perhatian pada tempat istimewa orang miskin dalam Wahyu ilahi dan perutusan Gereja.

 

Misteri ini bergema secara unik di kepulauan ini, di pusat jalur migrasi yang menjadikannya tempat penyambutan awal bagi saudara-saudari yang perjalanannya umumnya terpapar bahaya dan kekerasan yang tak terbayangkan. Di hadapan mereka yang memanfaatkan keputusasaan, kita sebagai umat Kristiani dapat melakukan lebih dari sekadar meneladani Tuhan yang berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih dan berbeban berat, dan Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Anugerah terbesar adalah membiarkan diri kita diinjili oleh mereka yang kita bantu dan mengenali hikmat Allah yang misterius yang tertulis dalam daging mereka. “Tumbuh dalam situasi yang genting, belajar untuk bertahan hidup dalam kondisi yang paling buruk, percaya kepada Allah dengan keyakinan bahwa tidak seorang pun menganggap mereka serius, dan saling membantu di saat-saat yang paling gelap, kaum miskin telah belajar banyak hal yang mereka simpan tersembunyi di dalam hati mereka. Mereka di antara kita yang belum memiliki pengalaman serupa dalam menjalani hidup dengan cara ini tentu memiliki banyak hal untuk dipelajari dari sumber kebijaksanaan yaitu pengalaman kaum miskin. Hanya dengan menghubungkan keluhan kita dengan penderitaan dan kekurangan mereka, kita dapat mengalami teguran yang dapat menantang kita untuk menyederhanakan hidup kita.” (Dilexi Te, 102). Tuhan, yang menegur dan mengoreksi orang-orang yang dikasihi-Nya (bdk. Why. 3:19), ingin menjadikan hidup kita sederhana dan penuh sukacita.

 

Saudara-saudari terkasih, terima kasih atas siapa dirimu dan apa yang kamu lakukan, karena telah menjadikan pulau ini tempat perjumpaan dengan hati Kristus dalam wajah-wajah bersahabat dan penuh keramahan orang-orang dan komunitas persaudaraan. “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1Yoh. 4:16): semoga pengakuan iman ini, yang diwariskan dalam Surat Pertama Yohanes, selalu bersinar dalam dirimu dan menginspirasimu untuk berdoa dan bertindak. Perhatikanlah remaja dan kaum muda, orang kaya dan miskin, penduduk dan tamu: mereka semua perlu dipandang dengan pandangan yang melihat melampaui penampilan dan mengenali kedalaman hati mereka yang gelisah, yang tidak jarang sudah berorientasi, mungkin tanpa disadari, kepada Kerajaan Allah dan keadilan-Nya. Semoga menjadi nyata di antaramu bahwa “Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap tinggal di dalam kasih, ia tetap tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1Yoh. 4:16). Inilah inti Injil, inti Kristus. Siapa yang membenamkan diri di dalamnya, ia tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Bukalah lautan kasih ini bagi semua orang! Inilah harapan dan doa saya untukmu dan untuk semua orang yang akan mengenalmu.

 

[Kata Penutup]

 

Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya kepada Yang Mulia dan kepada masyarakat Tenerife serta para imam dan pejabat sipil mereka.

 

Saudara-saudari terkasih, perayaan Ekaristi ini menandai berakhirnya perjalanan apostolik saya di Spanyol. Saya mengucap syukur kepada Allah dan semua orang yang telah menyambut saya dan, dalam berbagai cara, telah membantu mempersiapkan dan melaksanakan berbagai acara di Madrid, Barcelona, ​​dan Montserrat, serta di sini di Kepulauan Canary.

 

Saya kembali ke Roma dengan sangat terharu oleh kasih sayang yang besar yang telah saya terima dan terhibur oleh kesaksian iman dan cinta kepada Gereja, yang merupakan bukti semangat Katolik yang mendalam di Spanyol.

 

Dari pelabuhan ini, yang menyandang nama Salib Suci, pikiran saya tertuju pada seluruh dunia dan luka-lukanya, yang menyebabkan seluruh penduduk menderita. Kepada semuanya, saya ingin menyampaikan motto perjalanan ini: “Angkatlah pandanganmu!” Ya, marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Kristus yang disalibkan; hati-Nya adalah sumber belas kasihan, yang semata dapat menyelamatkan umat manusia — yang membutuhkan pengampunan dan rekonsiliasi — sehingga dapat mencapai kedamaian sejati dan abadi. Marilah kita mengangkat pandangan kita, seperti yang dilakukan Maria, Bunda semua orang yang menderita, dan dipandu olehnya, marilah kita melanjutkan perjalanan kita dengan penuh harapan!

 

Saudara-saudari terkasih, terima kasih dari lubuk hati saya! Marilah kita tetap bersatu dalam doa dan persekutuan di dalam Kristus dan Gereja yang kudus.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Juni 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.