Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI STADION GRAN CANARIA, LAS PALMAS, SPANYOL 11 Juni 2026

Bacaan Ekaristi : Ul. 7:6-11; Mzm. 103:1-4,6-8,10; 1Yoh. 4:7-16; Mat. 11:25–30.

 

Saudara-saudari terkasih, setelah pertemuan dan berbagi seharian penuh, saat saya merayakan Ekaristi ini bersamamu, pertama-tama saya ingin mengucap syukur kepada Allah atas kebaikan besar yang terlaksana di sini setiap hari, mempercayakan kepada-Nya komitmen semua orang dan, pada saat yang sama, penderitaan yang menjadi saksi negeri ini. Saya juga mengajakmu untuk berdoa bersama, dalam Misa Kudus ini, untuk jiwa-jiwa saudara-saudari kita yang telah kehilangan nyawa di laut.

 

Kita akan meletakkan semua ini di atas altar bersama roti dan anggur, saat kita merayakan Vigili Hari Raya Hati Yesus yang Maha Kudus, yang disembah oleh seluruh Spanyol. Marilah kita memohon kepada Allah agar pada saat ini perasaan kemanusiaan, belas kasihan, dan kasih sayang hati Sang Juru Selamat juga dapat hidup di dalam diri kita.

 

Marilah kita menggunakan bacaan-bacaan yang baru saja kita dengar untuk membantu permenungan kita.

 

Dalam Bacaan Pertama, Tuhan mengingatkan bangsa Israel akan kemurahan hati-Nya dalam mengasihi mereka. Ia memilih mereka bukan karena mereka memiliki hak istimewa, karunia, atau jasa khusus, tetapi karena kasih semata (lihat Ul. 7:7-9), dan Ia akan terus mengasihi mereka selalu, bahkan ketika, karena hati mereka yang keras, mereka tidak membalas perasaan-Nya.

 

Inilah kasih Allah, akar panggilan kita untuk mengasihi: bukan berdasarkan perhitungan, bukan pula sentimen semata, bukan pula filantropi belaka, tetapi meresap ke seluruh keberadaan kita: api bagi jiwa, cahaya bagi pikiran, dorongan yang tak tertahankan menuju kebebasan, kedamaian dan, pada saat yang sama, siksaan bagi hati, yang berdenyut selaras dengan hati-hati lain, melibatkan seluruh pribadi. Karena mengasihi adalah bawaan manusia; sesungguhnya, mengasihi adalah syarat kepenuhan dalam keberadaannya sendiri.

 

Beginilah kasih tampak bagi kita dalam kemanusiaan Sang Juruselamat dan dalam gerakan hati kudus-Nya: tak berubah dan setia bahkan di hadapan kesalahpahaman dan penolakan, ketakutan, kesedihan, dan perlawanan manusia (lihat Luk. 22:39-46).

 

Dan dalam wajah Tuhan ini, yang selalu "dalam kasih," yang sepenuhnya dan terus-menerus menginginkan kebaikan dan kebahagiaan kita sepenuhnya, kita mengenali jalan hidup, mempelajari cara baru untuk hidup dan berhubungan, tolok ukur yang berbeda untuk mengevaluasi pilihan, pembaharuan dan regenerasi gaya persekutuan. Paus Fransiskus, berbicara tentang kasih Kristus, mengatakan bahwa "tanggapan terbaik kita terhadap kasih Hati Kristus adalah mengasihi saudara-saudari kita" (Ensiklik Dilexit Nos, 167, 24 Oktober 2024, 167), menambahkan, "Tidak ada tindakan lain yang lebih besar bagi kita untuk membalas kasih untuk kasih" (Ensiklik Dilexit Nos, 167). "Membalas kasih untuk kasih": inilah pertukaran yang menakjubkan, "admirabile commercium" (bdk. Vespers Pertama Hari Raya Santa Perawan Maria, Bunda Allah, Antifon Pembuka) di mana Bacaan Injil mengajak kita untuk terlibat, menerjemahkan ukuran kasih Allah yang tak terbatas ke dalam kemurahan hati yang dengannya kita melayani Dia setiap hari, dalam diri saudara-saudari yang Ia sendiri tempatkan di jalan kita, terutama mereka yang paling membutuhkan, tak berdaya, dan tak mampu membalas (bdk. Luk. 6:32-36). Sama seperti yang terjadi di pulau ini, dalam penyambutan, berbagi, pemberian tanpa pamrih.

 

Namun, kemurahan Hati Kristus tidak berhenti di situ. Ia melangkah lebih jauh, berkomitmen untuk membantu setiap orang tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga mendapatkan kembali kepercayaan diri dan melanjutkan perjalanan, untuk tumbuh dan berkembang sepenuhnya dalam keunikan mereka, demi kebaikan semua. Dalam hal ini, Paus Benediktus XVI menulis bahwa amal kasih "yang dipersaksikan Yesus Kristus melalui kehidupan duniawi-Nya [...] adalah kekuatan pendorong utama bagi perkembangan otentik setiap orang dan umat manusia secara keseluruhan" (Ensiklik Caritas in Veritate, 29 Juni 2009, 1).

 

Dalam Bacaan Kedua, Santo Yohanes mengingatkan kita bahwa "Allah telah mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya" (1Yoh. 4:9). Kata-katanya mengingatkan kita pada kata-kata Yesus, yang berkata bahwa Ia datang supaya kita memperoleh hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah (bdk. Yoh. 10:10), dan yang memerintahkan orang lumpuh yang disembuhkan: "Bangunlah, angkatlah tikarmu, dan berjalanlah" (Mrk 2:9). Dalam kata-kata ini, kita menyadari ajakan untuk merangkul mereka yang menderita dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu, tetapi pada saat yang sama mempersiapkan dan mendorong mereka yang telah terluka untuk bangkit dan kembali ke jalan yang benar, menuju kehidupan yang bebas dan bermartabat.

 

Sesungguhnya, amal kasih kita tidak boleh hanya sekadar kesejahteraan, tetapi bertujuan untuk mengintegrasikan orang-orang, demi penggenapan penuh mereka — secara rohani, intelektual, dan fisik — dan penyertaan mereka yang bermartabat dan membangun dalam masyarakat (bdk. Ensiklik Fratelli Tutti, 3 Oktober 2020, 129). Hanya dengan cara inilah perjumpaan kita, bahkan di tengah peristiwa yang sulit dan menyakitkan, dapat menjadi kesempatan untuk menabur benih pengharapan dalam perjalanan umat manusia menuju masa depan yang lebih baik.

 

Namun, saya ingin merefleksikan, dalam terang sabda Allah yang telah kita dengar, satu ciri terakhir dari Hati Kristus: kerendahan hati (bdk. Mat 11:29). Hati Yesus rendah hati, dan karena itu denyutnya tidak dirasakan oleh orang "pandai" dan "bijak" — yaitu, orang-orang yang menganggap diri mereka cukup, mengetahui segala sesuatu, dan tidak membutuhkan Allah atau orang lain. Sesungguhnya, orang-orang ini, yang terpukau oleh gema "aku" yang berlebihan, hadir di mana-mana, dan gelisah, tiada keheningan yang diperlukan untuk mendengar denyut nadi cinta yang tersembunyi di dalam diri mereka dan saudara-saudari mereka.

 

"Tak jarang, kemakmuran kita dapat membutakan kita terhadap kebutuhan orang lain, dan bahkan membuat kita berpikir bahwa kebahagiaan dan kepuasan kita bergantung pada diri kita sendiri, terlepas dari orang lain." (Seruan Apostolik Dilexi Te, 4 Oktober 2025, 108). Yesus justru mengajarkan kita bahwa untuk mengalami sukacita sejati dalam hidup, yang ditemukan dalam kasih, kita harus turun dari singgasana kesombongan yang memecah belah dan bertemu satu sama lain dalam kerendahan hati yang mempersatukan kita.

 

Santo Agustinus berkata: "Di mana ada kasih, di situ ada damai sejahtera, dan di mana ada kerendahan hati, di situ ada kasih" (In Epistolam Joannis ad Parthos, prolog). Tepat sekali. Di mana ada kerendahan hati yang sejati, di situ ada kasih, dan di mana ada kasih, di situ ada damai sejahtera, karena hanya dalam kerendahan hati kita benar-benar tahu siapa diri kita dan karena itu dapat saling mengasihi, saling bertemu, saling memberi, dan saling mengampuni dalam kebenaran.

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita menyembah Hati Kudus Yesus, yang sering kita gambarkan dimahkotai duri dan menyala dengan api, menurut penglihatan Santa Margareta Maria Alacoque. Marilah kita ingat bahwa kita adalah kehadiran Allah yang hidup di dunia (bdk. Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, 16 November 1964, 8). Karena itu, marilah kita saling memandang, bukan hanya pada hari ini tetapi selalu, dengan hormat dan percaya, dan marilah kita memperbarui, dalam kesadaran ini, komitmen kita untuk melengkapi dalam diri kita, dalam kasih, apa yang kurang dalam penderitaan Kristus, demi kebaikan Gereja (bdk. Kolose 1:24). Dikobarkan oleh kasih Hati-Nya, marilah kita menjadi pembawa rahmat dan damai-Nya, sehingga peperangan di dunia dapat berhenti dan kemanusiaan baru, yang diperdamaikan dalam kasih, dapat tumbuh di sekitar kita.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Juni 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.