Bacaan
Ekaristi : 1Kor. 12:1-11; Yoh 15:1-10.
Saudara-saudari
terkasih,
Kita
telah berkumpul di sekitar altar Tuhan, di makam Santo Petrus, untuk memulai
konsistori ini. Dari pelbagai penjuru dunia, kita datang untuk merayakan
Ekaristi ini. Marilah kita mempersembahkan kepada Allah hidup kita serta
komunitas-komunitas dan bangsa-bangsa yang kita kasihi, serta rencana pastoral
dan pengalaman kita dengan segala sukacita dan dukacitanya.
Keanekaragaman
emosi dan pikiran ini kini menyatu dan menemukan pusatnya yang bercahaya di
dalam Kristus, yang berbicara kepada kita, dengan berkata: “Akulah pokok anggur
yang benar” (Yoh. 15:1). Melalui Yesus, anugerah dan kebenaran mengalir ke
dalam hidup kita (bdk. Yoh. 1:17), memperbarui diri kita. Karunia ilahi ini
juga merupakan santapan yang memberi kehidupan bagi konsistori yang kita
resmikan hari ini. Bacaan Injil mempersiapkan landasan agar konsistori ini
berbuah: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 15:4). Di satu
sisi, Sang Guru memperingatkan kita bahwa “di luar Aku kamu tidak dapat berbuat
apa-apa” (ayat 5), dan di sisi lain, Ia ingin murid-murid-Nya “berbuah banyak”
(ayat 8). Memang banyak buah, karena anugerah Allah tidak menghambat
pertumbuhan mereka yang menerimanya, justru berkembang pesat. Sesungguhnya,
Sabda yang kekal menjadi manusia supaya semua orang dapat “mempunyai hidup, dan
mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Setelah dimulai dengan iman,
hidup ini diperkuat bahkan melalui cobaan pemangkasan, karena dipupuk oleh
perhatian Bapa.
Saat kita
memohon kepada Allah untuk menganugerahkan kekuatan dan kebijaksanaan kepada
kita, sangatlah penting bahwa konsistori kita berlangsung menjelang Hari Raya
Santo Petrus dan Santo Paulus. Marilah kita berhenti sejenak untuk mengingat
kedua pilar Gereja Katolik Roma ini, kedua martir misioner yang khotbahnya
menyatu dengan hidup mereka, hingga menjadi bagian dari Kitab Suci.
Saat kita
mendengarkan kata-kata Santo Paulus kepada jemaat Korintus hari ini, kita dapat
melihat betapa indahnya kata-kata itu selaras dengan Bacaan Injil.
Sesungguhnya, berbagai karisma, pelayanan, dan kegiatan gerejawi bagaikan
carang-carang dari satu pokok anggur — yaitu, dari Tuhan yang sama (bdk. 1Kor.
12:4-6), yang mencurahkan Roh Kudus kepada Gereja-Nya. Sesuai dengan kesatuan
organik ini, standar yang menjadikan semua bentuk pelayanan dalam Gereja baik
dan berbuah adalah standar kepentingan bersama (bdk. ayat 7).
Saudara-saudari
terkasih, guna membimbing pertimbangan kita selama hari-hari ini, saya ingin
mengambil beberapa wawasan dari sabda Allah yang baru saja kita dengar.
Pertama,
teladan Santo Petrus dan Santo Paulus mendorong kita untuk berbagi dalam
kebebasan iman yang sejati. Bahkan, justru hubungan kita dengan Tuhan Yesus
yang membebaskan kita dari dosa dan ketakutan. Sebagaimana Ia memanggil kita
untuk mengikuti-Nya, Ia sendiri mengutus kita ke dunia sebagai penerus para
Rasul. Oleh karena itu, mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan mengabdikan
diri kepada kawanan Tuhan terwujud dan berbuah sejauh kita percaya kepada Dia,
sang Gembala yang baik. Iman adalah kebajikan — yang tidak boleh dianggap remeh
— yang memberi kehidupan kepada Gereja, karena iman adalah anugerah yang
memelihara carang-carang dari satu pokok anggur. Gereja yang hidup adalah
Gereja yang percaya berkat karunia Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam hati
kita. Dan Gereja ini berbuah banyak. Dengan demikian, sebagaimana rahmat ilahi
mendahului kebebasan manusia, iman Gereja mendahului iman kita dan menuntut
kesaksian yang sungguh-sungguh. Perutusan ini memiliki Kristus sebagai awal dan
akhirnya. Mengutip kata-kata pemazmur, “Kabarkanlah karya keselamatan-Nya dari
hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa” (Mzm 96:2-3).
Kedua,
kita memohon karunia perdamaian dalam persatuan. Bahkan ketika kita mengajak
semua bangsa kepada iman yang benar-benar membebaskan kita, ketegangan dan
konflik internasional sangat melukai keluarga manusia. Pada saat yang sama,
Gereja dan dunia tidak kekurangan prakarsa dan pengalaman yang menyerukan
penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, supremasi hukum, dan sekadar
apa yang manusiawi. Memang, ada banyak contoh seperti itu. Ini adalah sumber
pengharapan, karena membuktikan keindahan karya Allah, yang menciptakan kita
menurut gambar dan rupa-Nya sebagai tanda kemuliaan-Nya di dunia. Setiap kali
tanda ini terluka, kita semua terluka. Setiap kali tanda ini dirusak, kita
semua menderita. Setiap kali tanda ini dihancurkan, kita semua merasa terkoyak.
Oleh karena itu, perang tidak pernah layak bagi kemanusiaan, dan tidak pernah
diberkati Allah, karena, meskipun kita dilengkapi dengan senjata berteknologi
tinggi, Sang Pencipta telah menganugerahi kita kecerdasan dan kehendak bebas
untuk menyelesaikan konflik sebagai manusia dan bukan sebagai binatang. Bahwa
persatuan keluarga manusia lebih diutamakan daripada bangsa dan negara secara
individu bukan sekadar fakta biologis, melainkan prinsip etika. Perdamaian
adalah kewajiban keadilan karena kita adalah satu keluarga manusia, sebuah magnifica
humanitas yang menemukan kepala dan penebusnya dalam Kristus.
Saat kita
merefleksikan ensiklik yang saya umumkan pada tanggal 15 Mei lalu, kita harus
tekun menempuh jalan yang digariskan oleh Santo Paulus VI, karena ketika ia
“mencetuskan frasa ‘peradaban kasih,’ dunia berada di tengah-tengah Perang
Dingin, perlombaan senjata, dan ketidakstabilan ekonomi yang parah. Dalam
konteks itu, Gereja mengusulkan jalan alternatif selain oposisi ideologis
antarsistem, dan membayangkan tatanan sosial di mana keadilan dan kasih sayang
saling terkait” (Surat Ensiklik Magnifica Humanitas, 186. Bdk. Santo Paulus VI,
Regina Caeli, 17 Mei 1970). Sesungguhnya, inilah bagaimana kesaksian kristiani
menjadi nubuat, penginjilan, dan pelayanan bagi dunia baru, serta proyek budaya
dan sosial yang mendorong pembangunan manusia secara utuh. Saat Gereja
mewartakan Injil, di tengah sukacita dan penganiayaan, Gereja tidak pernah
pilih kasih, karena ia untuk semua orang, dan kepada setiap orang Gereja
menyampaikan pesan pertobatan dan keselamatan yang sama.
Ketiga,
hari ini dan selalu, marilah kita menikmati keselarasan melalui ketaatan —
yaitu, mendengarkan yang mengenali karunia sang Sabda yang menjadi daging bagi
kita. Melalui pendengaran seperti itu, Roh Kudus membimbing kita, menunjukkan
tantangan dan peluang pastoral, memurnikan niat kita dan mengoreksi apa pun
yang menyimpang dari jalan kita bersama. Pelaksanaan Sinode, yang telah menjadi
komitmen kita, mengajak semua orang untuk bergerak maju dalam kesatuan iman,
dalam mempromosikan perdamaian, dan dalam ketaatan kepada Yesus, sang Sabda
yang hidup. Dalam terang ini, “perubahan budaya masa kini yang cepat dan luas
menuntut bahwa kita terus berupaya mencari cara-cara mengungkapkan kebenaran
yang tak berubah dalam bahasa yang menimbulkan kebaruannya yang abadi.” (Paus
Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 41). Sabda yang menjadi daging
tersebut sesungguhnya diungkapkan dalam semua bahasa: Kristus yang wafat dan
bangkit kembali adalah pokok anggur yang benar, yang berbuah melalui semua
budaya yang diubah rupa oleh umat kristiani dari dalam. Dengan demikian, ketika
ideologi-ideologi dunia lenyap, Roh Kudus membuat kerukunan persaudaraan, amal
kasih, dan semangat misioner berkembang di dalam Gereja.
Kerjasama
kita secara kolegial mewujudkan sinodalitas di mana semua orang yang dibaptis
berpartisipasi dalam kesatuan umat Allah. Sinodalitas dan kolegialitas, pada
kenyataannya, adalah bentuk persaudaraan kristiani, yang mengikat kita bersama
sebagai orang yang dibaptis dan sebagai uskup. Oleh karena itu, dalam membantu
saya dalam menjalankan pelayanan Petrus, kamu akan menemukan dalam diri saya
seseorang yang meminta, bukan memerintah. Lebih jauh lagi, otoritas keutamaan
dimiliki oleh orang yang mendengarkan dan baru kemudian memimpin, oleh orang
yang belajar dan baru kemudian mengajar, selalu mengikuti satu-satunya Guru.
Semoga perantaraan Santo Petrus dan Santo Paulus Rasul menyertai kita dalam
perjalanan yang mempesona ini.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 26 Juni 2026)

.jpeg)
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.