Bacaan Liturgi : Yes. 22:19-23; Mzm. 138:1-2a.2bc-3.6.8bc; Rm. 11:33-36; Mat. 16:13-20.
Saudara-saudari
terkasih,
Saya
sangat senang dapat memimpin Ekaristi ini bersama dan untukmu, Gereja di
Rimini. Saya melakukannya sebagai puncak dari hari yang padat, di mana saya
mengunjungi Republik San Marino dan "Pertemuan untuk Persahabatan
Antarbangsa." Sekarang, saat kita memasuki Hari Tuhan, saatnya untuk
merayakan misteri yang memberi makna pada segala sesuatu dan merupakan puncak
serta sumber dari semua tindakan pastoral kita.
Dalam
Bacaan Injil yang baru saja kita dengar (Mat 16:13-20), Yesus bertanya kepada
murid-murid-Nya: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" (ayat 15). Petrus
menjawab, atas nama semua murid: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang
hidup" (ayat 16). Kita pun, setelah dua milenium, dipanggil untuk
memperbarui pengakuan iman yang sama: kita berada di sini karena kita percaya
bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Bapa yang kekal, yang dikuduskan dan diutus ke
dunia "untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi
banyak orang" (Mat 20:28).
Saudara-saudari
terkasih, dalam kata-kata Petrus, kita mengenali kebenaran yang memenuhi kita
dengan sukacita dan harapan, dan kita menemukan jalan yang menuntun kepada
kehidupan: jalan Allah yang menempatkan diri-Nya untuk melayani umat manusia
(bdk. Flp 2:5-8), jalan Sang Guru yang membungkuk untuk membasuh kaki
murid-murid-Nya (bdk. Yoh 13:12-15), jalan Sang Gembala yang mengurbankan
diri-Nya untuk kawanan domba-Nya (bdk. Yoh 10:11). Dan dalam terang inilah kita
melihat tindakan Yesus menyerahkan kunci kepada Petrus (bdk. Mat 16:19-20),
karena di dalam Gereja, di setiap tingkatan, otoritas adalah pelayanan.
Paus,
para Uskup, para imam, dan para diakon adalah orang-orang pertama menghidupinya
dengan cara ini, dan seluruh umat Allah harus bergabung dengan mereka,
masing-masing sesuai dengan panggilan khusus mereka. Di antaramu, Hamba Allah,
Pastor Oreste Benzi, memberikan kesaksian yang sangat baik tentang hal ini
ketika beliau berkata: "Panggilan kita terdiri dari […] membiarkan diri
kita disesuaikan dengan Kristus yang papa, dengan Kristus Sang Hamba, dengan
Kristus yang menebus dosa-dosa dunia, dengan Kristus, Allah-Manusia yang
menjelma yang hidup di antara kita dalam bentuk persekutuan langsung, dimulai
dari yang terkecil" (Dengan Jubah Usang Ini, disunting oleh Valerio Lessi,
Bologna 1991, hlm. 42).
Dalam
Gereja, sesungguhnya, perutusan untuk "mengikat" dan
"melepaskan," di satu sisi menyangkut peran mereka yang, atas nama
Tuhan, dipanggil untuk menjalankan otoritas, di sisi lain menggambarkan gaya
dan tugas yang melibatkan setiap orang yang dibaptis: yaitu merangkul,
menyatukan kembali, menyambut, membebaskan, mengampuni, dan memerdekakan siapa
pun yang menjadi tawanan dosa dan akibatnya, menjadikan kita pengelola yang
benar dan bijaksana atas harta benda yang dipercayakan Allah kepada kita,
sehingga semua dapat bekerja bersama, dalam kasih, untuk kebaikan semua.
Dalam
Bacaan Pertama (Yes 22:19-23), Nabi Yesaya berbicara tentang Sebna, seorang
pejabat yang dipercaya Raja Hizkia untuk proyek besar pembaruan agama, moral,
dan sosial Yerusalem dan kerajaan Yehuda. Namun, karena ambisi dan keserakahan,
orang yang berkuasa ini mulai menyalahgunakan wewenang yang diberikan
kepadanya, menimbun kekayaan untuk dirinya sendiri dan lingkaran teman serta
kerabatnya, dan menguasai orang lain. Ia telah melupakan bahwa hal terpenting
dalam petualangan yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya bukanlah sarana
ekonomi dan kekuasaan, tetapi kemungkinan, melalui hal-hal tersebut, untuk
mempromosikan rencana kelahiran kembali demi kebaikan seluruh komunitas. Karena
alasan ini, ia dipecat dan perutusannya dipercayakan kepada Elyakim, seorang
yang jujur dan bebas dari batasan,
teguh dalam kejujurannya seperti patok yang ditancapkan ke tembok yang kokoh,
sebagaimana dikatakan Nabi Yesaya (lihat ayat 23).
Pesannya
jelas: segala sesuatu yang kita miliki dan ciptakan adalah anugerah Allah, yang
dipercayakan kepada kita agar, di tangan-Nya, kita dapat menjadi sarana
keselamatan dalam keadilan bagi sesama, dimulai dari tempat dan orang-orang
yang bersama kita hidup dan bekerja setiap hari, sehingga kita dapat menjangkau
seluruh dunia dengan hati yang besar dan terbuka.
Dalam
Bacaan Kedua, Santo Paulus berbicara kepada kita tentang rencana Allah dan
mengatakan bahwa rencana itu tak terduga: bukan karena kerumitan penalarannya,
tetapi karena kebesaran kasih-Nya yang menakjubkan, yang melampaui semua
kemampuan dan harapan kita, "sebab, segala sesuatu adalah dari Dia, oleh
Dia, dan kepada Dia", kata Rasul Paulus (Rm 11:36). Allah itu sederhana,
karena Ia adalah kasih yang murni, dan Ia juga memanggil kita untuk mengasihi
dengan hati seperti hati-Nya, menyesuaikan jalan kita dengan jalan-Nya dan
pikiran kita dengan pikiran-Nya (lihat ayat 33).
Nilai
kejujuran, kemurahan hati, dan kebaikan ini sangat dihargai oleh penduduk
Romagna, yang tulus dan memiliki sifat riang, pekerja keras, dan suka membantu.
Buktinya, banyaknya teladan santo-santa dan beato-beata yang lahir di sini,
yang mempraktikkan kasih dan menghidupi Injil, terkadang sampai menjadi martir.
Hal ini juga dibuktikan oleh komitmen berkelanjutan dalam berbagai kelompok
gerejawi, paroki, keluarga, Aksi Katolik, berbagai gerakan dan lembaga, serta
pendidikan kristiani dan karya amal. Tentu saja, karena kekayaan ini, serta
keindahan alam dan seni pesisir Adriatik dan daerah pedalamannya, begitu banyak
orang dari seluruh Italia dan dunia datang ke sini setiap tahun untuk berlibur.
Dan,
dalam hal ini, saya ingin mendorongmu untuk melanjutkan upayamu guna memastikan
wilayah ini ramah, tidak hanya untuk penyegaran dan hiburan, tetapi juga untuk
jiwa. Santo Yohanes Paulus II, yang mengunjungi tempat ini bertahun-tahun yang
lalu, berbicara tentang panggilan ini, menekankan bahwa "istirahat bukan
berarti memisahkan diri dari diri sendiri. Sebaliknya," katanya,
"istirahat berarti bertemu dengan diri sendiri dan mendamaikan diri dengan
batin terdalam" (Homili pada Misa Kudus di Rimini, 29 Agustus 1982).
Dunia
tempat kita hidup menawarkan banyak bentuk rekreasi, beberapa di antaranya,
bagaimanapun, mengarah pada penyebaran dan kehancuran daripada "kembali
kepada diri sendiri" yang sejati, dan meninggalkan kekosongan di dalam
hati. Beberapa menyebutnya "pelarian," seolah-olah kehidupan biasa
adalah penjara yang harus dihindari. Tetapi kita tahu bahwa tempat yang paling
tepat untuk menemukan penyegaran, bertemu Tuhan dan benar-benar bertemu satu
sama lain, bukan di luar, di tengah kekacauan, tetapi di dalam diri kita
sendiri, di kedalaman jiwa kita. Sebagai komunitas kristiani, kita secara
khusus dipanggil untuk memupuk pengalaman ini dan menyebarkannya, melalui
keterbukaan dan keramahan, baik dalam lingkungan pribadi maupun kelembagaan
kita, melalui kepedulian dan perenungan gereja-gereja kita, melalui kesediaan
kita untuk membantu dan memberikan sedekah. Ini berlaku baik bagi mereka yang
mencari istirahat yang layak setelah setahun bekerja maupun bagi mereka yang
terluka secara fisik dan spiritual yang mencari perlindungan, makanan, dan
bantuan jauh dari tanah air mereka.
Uskupmu,
dalam suratnya kepada keuskupan, menulis: "Doa, persatuan, mendengarkan,
keberanian, kesederhanaan, rasa syukur, keindahan [...] ingin menunjukkan sikap
yang selalu hadir dalam setiap aspek kehidupan" (Uskup Nicolò Anselmi,
Surat Pastoral, kamu akan mencintai, akan bahagia dan akan menikmati setiap hal
baik, sekarang dan selamanya, 14 Oktober 2024). Saudara-saudari terkasih, saat
saya sekali lagi menyampaikan undangan penting ini kepada kamu semua, atas
refleksi dan komitmenmu, saya sekali lagi berterima kasih atas sambutanmu,
partisipasimu yang penuh iman dan sukacita, dan saya mempercayakanmu kepada perantaraan
Santa Maria, Santo Gaudensius, dan para santo-santa pelindungmu.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 22 Agustus 2026)


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.