Bacaan
Ekaristi : Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab; Mzm. 45:10c-12,16; 1Kor. 15:20-26; Luk.
1:39-56.
Saudara-saudari
yang terkasih,
Dengan
penuh sukacita, saya kembali merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat
Ke Surga bersamamu pada tahun ini.
Magisterium
Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Maria, "setelah menyelesaikan
perjalanan hidupnya di dunia, diangkat dengan tubuh dan jiwanya ke dalam
kemuliaan surgawi" (Pius XII, Konstitusi Apostolik Munificentissimus
Deus, 1 November 1950), dan dalam misteri ini menunjukkan kepada kita
penggenapan rahmat paling sempurna yang dianugerahkan Allah kepadanya pada saat
ia dikandung tanpa noda (bdk. idem).
Oleh
karena itu, banyak karya seni menggambarkan dirinya sebagai seorang perempuan
muda yang cantik yang secara fisik terangkat dari bumi menuju surga pada akhir
hidupnya di dunia. Karya-karya ini terinspirasi oleh gambaran yang termuat
dalam kutipan Kitab Wahyu yang kita dengar dalam Bacaan Pertama: "Seorang
perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya" (Why
12:1); hal ini melambangkan bahwa di dalam hati Maria, surga dan bumi, waktu
dan kekekalan, bertemu.
Sekilas,
gambaran ini tampak bertolak belakang dengan pengalaman kita mengenai dampak
berlalunya waktu terhadap diri kita. Seiring bertambahnya usia, tubuh kita
tidak menjadi lebih lincah, melainkan semakin berat; kulit kita tidak menjadi
lebih segar, melainkan menunjukkan tanda-tanda penuaan; rambut kita tidak
bertambah warna dan kilaunya, melainkan memutih. Lantas, apa kesamaan kita
dengan sosok perempuan muda nan jelita yang digambarkan pada panel altar di
gereja-gereja kita?
Untuk
memahaminya, kita harus menyatukan kedua tanda yang telah disebutkan tadi:
tubuh Bunda Allah yang tidak mengalami kerusakan dan hati-Nya yang tak bernoda.
Sebab, kemurnian jiwalah yang — baik pada diri Maria maupun pada diri kita —
berkat rahmat Allah, menerangi dan mengubah rupa seluruh pribadi kita, serta
menuntun kita menuju kemuliaan surga.
Pemuliaan
Maria, baik tubuh maupun jiwanya, mengajarkan kita bahwa keindahan sejati kita
tidak terletak pada upaya menyembunyikan tanda-tanda penuaan, melainkan pada
penampakan tanda-tanda kasih yang tidak berkesudahan, yang bahkan terpatri pada
raga kita (bdk. 1Kor 13:8).
Dengan
mempertimbangkan hal ini, kita diajak untuk meninjau kembali berbagai standar
estetika — yang sebagian besar bersifat hedonistik dan konsumeristik — yang
dipaksakan oleh dunia kepada kita. Standar-standar ini berisiko menjebak kita
dalam ekspektasi yang membebani, membuat kita membuang-buang energi berharga
untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting dan fana Dalam kehidupan
sehari-hari, kita menjumpai orang-orang yang wajahnya mencerminkan perjalanan
waktu dan penderitaan, namun mampu memancarkan ketenangan, kebaikan, dan
kedamaian di sekeliling mereka; sebagaimana kita juga mungkin melihat orang
lain yang mungkin tampak menarik secara lahiriah, namun memiliki hati yang
keras dan dingin. Mudah untuk melihat di mana letak keindahan sejati dan di mana,
sebaliknya, masih diperlukan pertobatan, pengampunan, dan penyembuhan.
Jika kita
sungguh ingin menemukan dan memelihara keindahan ilahi yang melingkupi kita —
keindahan yang menjadi tujuan penciptaan kita — serta membagikannya kepada
sesama, kita harus belajar melihatnya pada kerutan wajah seorang lansia maupun
wajah lembut seorang anak, pada kedewasaan orang dewasa maupun semangat hidup
kaum muda, serta pada busana dan peralatan kerja maupun hiasan perayaan. Kita
harus menyimak kisah kasih unik yang dituturkan oleh setiap kenyataan ini,
seraya mengenali di dalamnya sekilas gambaran tentang surga.
Kasih
adalah perhiasan terindah bagi umat manusia. Kasih mengubah bentuk, mengubah
rupa, memuliakan, dan mengangkat kita; menjadikan kita tanpa beban, bebas, dan
dekat dengan Allah, bahkan di tengah pasang surut kehidupan.
Saat
merenungkan misteri Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga, Santo Paulus VI
mengatakan bahwa untuk memahami maknanya, “kita harus mengubah rupa
istilah-istilah yang kita gunakan dalam bahasa duniawi seraya menjadi istilah
yang bersifat superlatif dan mutlak [...], untuk membayangkan hal yang kekal
dalam skala kecil” (Homili, 15 Agustus 1969). Mengenai perjumpaan antara
yang tak terbatas dan yang terbatas dalam diri Bunda Allah, Paus Fransiskus
menulis: “Maria mampu mengubah kandang menjadi rumah bagi Yesus, dengan kain
lampin sederhana dan kasih yang melimpah” (Seruan Apostolik Evangelii
Gaudium, 286).
Mukjizat
yang dialami Maria, gadis dari Nazaret, di dalam hatinya yang murni — yang
membawanya menuju kemuliaan surga — merupakan pertemuan antara dua hal yang
sangat kontras, sebagaimana ia sendiri ungkapkan dalam kata-kata Magnificat
yang diilhami Roh Kudus, yang telah kita dengar dalam Injil (bdk. Luk 1:46–55).
Dalam nyanyian pujian ini, melalui ungkapan iman yang rendah hati, Bunda Allah
berbicara kepada kita dengan bahasa sederhana mengenai misteri agung yang
dialaminya, seperti peristiwa Allah menjadi manusia di dalam dirinya demi
menyelamatkan umat manusia, dan Sang Kekal yang menyatakan diri-Nya dalam ruang
dan waktu untuk membuka kembali jalan menuju keabadian bagi kita. Pada saat
yang sama, dalam kedudukannya sebagai “hamba yang rendah hati,” Santo Paulus VI
mengatakan bahwa Maria memperlihatkan kepada kita “dimensi kerendahan hati” di
mana kita pun dapat berjumpa Tuhan.
Kita
tidak perlu mencari jauh-jauh untuk menemukan keluhuran misteri yang kita
rayakan. Kita dapat menjumpainya di mana pun terdapat kasih sejati. Misalnya,
dalam tatapan mata seorang ayah dan ibu yang pulang ke rumah setelah seharian
beraktivitas — lelah, namun bahagia bisa berkumpul dengan anak-anak mereka.
Pada wajah para kakek nenek yang, meski didera rasa sakit dan nyeri akibat usia
lanjut, dipenuhi energi tak terduga saat merawat cucu-cucu mereka. Dalam
komitmen kaum muda yang berupaya untuk tumbuh dalam moralitas dan ketulusan,
bahkan siap untuk mengambil jalan yang berbeda dari arus umum "apa yang
dilakukan orang kebanyakan." Akhirnya, dalam karya sehari-hari begitu
banyak orang yang, dengan iman dan dedikasi, turut menghadirkan secercah surga
ke bumi dan mendekatkan bumi kepada surga.
Saudara-saudari
terkasih, wajah indah Bunda Maria yang Diangkat ke Surga sungguh unik; wajah
itu melampaui segala bentuk penggambaran yang mungkin ada, namun pada saat yang
sama, terasa begitu akrab bagi kita. Bahkan saat ini pun, kita dapat melihat
wajahnya pada orang-orang yang dekat dengan kita, seperti saudara-saudari yang
bersama-sama dengan kita — dalam iman — mempersembahkan hidup kita sehari-hari.
Oleh karena itu, komunitas orang beriman melihat dirinya tercermin dalam sosok
perempuan yang dikisahkan dalam Kitab Wahyu, dan Konsili Vatikan II
menggambarkan Maria sebagai “citra serta awal Gereja, […] sebagai tanda harapan
yang pasti dan penghiburan” (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, 68).
Dalam kodrat kemanusiaannya yang kudus, berkat rahmat Allah, kita juga melihat
kodrat kita sendiri; maka, kita pun dipanggil untuk menjalani kehidupan penuh
rahmat yang sama seperti yang dijalaninya serta turut ambil bagian dalam
kemuliaannya.
Saat
berbicara mengenai kebangkitan Kristus, Santo Agustinus mengajak umat kristiani
pada zamannya untuk menjadikan peristiwa itu sebagai kompas dan pusat kehidupan
mereka. Ia berkata: “Kristus bangkit dari antara orang mati agar Ia tidak lagi
mati untuk selama-lamanya […]. Ubahlah arah hidupmu, ikutilah terang itu!
Mulailah bangkit dari tempat Ia bangkit” (Enarratio in Psalmos, 126:7).
Mari kita
terima undangan-Nya. Marilah kita ikuti terang Tuhan yang bangkit, seraya
mengubah arah perjalanan jika perlu. Marilah kita melakukannya, khususnya pada
hari ini, dengan memandang kepada Maria — yang telah dimahkotai kemuliaan oleh
Allah baik jiwa maupun raganya, serta yang telah Ia karuniakan kepada kita
sebagai Ibu, pembimbing, teman seperjalanan, dan pelindung di jalan menuju
surga.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 15 Agustus 2026)