Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXI DI PELABUHAN RIMINI, SAN MARINO 22 Agustus 2026

Bacaan Liturgi : Yes. 22:19-23; Mzm. 138:1-2a.2bc-3.6.8bc; Rm. 11:33-36; Mat. 16:13-20.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sangat senang dapat memimpin Ekaristi ini bersama dan untukmu, Gereja di Rimini. Saya melakukannya sebagai puncak dari hari yang padat, di mana saya mengunjungi Republik San Marino dan "Pertemuan untuk Persahabatan Antarbangsa." Sekarang, saat kita memasuki Hari Tuhan, saatnya untuk merayakan misteri yang memberi makna pada segala sesuatu dan merupakan puncak serta sumber dari semua tindakan pastoral kita.

 

Dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengar (Mat 16:13-20), Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" (ayat 15). Petrus menjawab, atas nama semua murid: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup" (ayat 16). Kita pun, setelah dua milenium, dipanggil untuk memperbarui pengakuan iman yang sama: kita berada di sini karena kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Bapa yang kekal, yang dikuduskan dan diutus ke dunia "untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat 20:28).

 

Saudara-saudari terkasih, dalam kata-kata Petrus, kita mengenali kebenaran yang memenuhi kita dengan sukacita dan harapan, dan kita menemukan jalan yang menuntun kepada kehidupan: jalan Allah yang menempatkan diri-Nya untuk melayani umat manusia (bdk. Flp 2:5-8), jalan Sang Guru yang membungkuk untuk membasuh kaki murid-murid-Nya (bdk. Yoh 13:12-15), jalan Sang Gembala yang mengurbankan diri-Nya untuk kawanan domba-Nya (bdk. Yoh 10:11). Dan dalam terang inilah kita melihat tindakan Yesus menyerahkan kunci kepada Petrus (bdk. Mat 16:19-20), karena di dalam Gereja, di setiap tingkatan, otoritas adalah pelayanan.

 

Paus, para Uskup, para imam, dan para diakon adalah orang-orang pertama menghidupinya dengan cara ini, dan seluruh umat Allah harus bergabung dengan mereka, masing-masing sesuai dengan panggilan khusus mereka. Di antaramu, Hamba Allah, Pastor Oreste Benzi, memberikan kesaksian yang sangat baik tentang hal ini ketika beliau berkata: "Panggilan kita terdiri dari […] membiarkan diri kita disesuaikan dengan Kristus yang papa, dengan Kristus Sang Hamba, dengan Kristus yang menebus dosa-dosa dunia, dengan Kristus, Allah-Manusia yang menjelma yang hidup di antara kita dalam bentuk persekutuan langsung, dimulai dari yang terkecil" (Dengan Jubah Usang Ini, disunting oleh Valerio Lessi, Bologna 1991, hlm. 42).

 

Dalam Gereja, sesungguhnya, perutusan untuk "mengikat" dan "melepaskan," di satu sisi menyangkut peran mereka yang, atas nama Tuhan, dipanggil untuk menjalankan otoritas, di sisi lain menggambarkan gaya dan tugas yang melibatkan setiap orang yang dibaptis: yaitu merangkul, menyatukan kembali, menyambut, membebaskan, mengampuni, dan memerdekakan siapa pun yang menjadi tawanan dosa dan akibatnya, menjadikan kita pengelola yang benar dan bijaksana atas harta benda yang dipercayakan Allah kepada kita, sehingga semua dapat bekerja bersama, dalam kasih, untuk kebaikan semua.

 

Dalam Bacaan Pertama (Yes 22:19-23), Nabi Yesaya berbicara tentang Sebna, seorang pejabat yang dipercaya Raja Hizkia untuk proyek besar pembaruan agama, moral, dan sosial Yerusalem dan kerajaan Yehuda. Namun, karena ambisi dan keserakahan, orang yang berkuasa ini mulai menyalahgunakan wewenang yang diberikan kepadanya, menimbun kekayaan untuk dirinya sendiri dan lingkaran teman serta kerabatnya, dan menguasai orang lain. Ia telah melupakan bahwa hal terpenting dalam petualangan yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya bukanlah sarana ekonomi dan kekuasaan, tetapi kemungkinan, melalui hal-hal tersebut, untuk mempromosikan rencana kelahiran kembali demi kebaikan seluruh komunitas. Karena alasan ini, ia dipecat dan perutusannya dipercayakan kepada Elyakim, seorang yang jujur ​​dan bebas dari batasan, teguh dalam kejujurannya seperti patok yang ditancapkan ke tembok yang kokoh, sebagaimana dikatakan Nabi Yesaya (lihat ayat 23).

 

Pesannya jelas: segala sesuatu yang kita miliki dan ciptakan adalah anugerah Allah, yang dipercayakan kepada kita agar, di tangan-Nya, kita dapat menjadi sarana keselamatan dalam keadilan bagi sesama, dimulai dari tempat dan orang-orang yang bersama kita hidup dan bekerja setiap hari, sehingga kita dapat menjangkau seluruh dunia dengan hati yang besar dan terbuka.

 

Dalam Bacaan Kedua, Santo Paulus berbicara kepada kita tentang rencana Allah dan mengatakan bahwa rencana itu tak terduga: bukan karena kerumitan penalarannya, tetapi karena kebesaran kasih-Nya yang menakjubkan, yang melampaui semua kemampuan dan harapan kita, "sebab, segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia", kata Rasul Paulus (Rm 11:36). Allah itu sederhana, karena Ia adalah kasih yang murni, dan Ia juga memanggil kita untuk mengasihi dengan hati seperti hati-Nya, menyesuaikan jalan kita dengan jalan-Nya dan pikiran kita dengan pikiran-Nya (lihat ayat 33).

 

Nilai kejujuran, kemurahan hati, dan kebaikan ini sangat dihargai oleh penduduk Romagna, yang tulus dan memiliki sifat riang, pekerja keras, dan suka membantu. Buktinya, banyaknya teladan santo-santa dan beato-beata yang lahir di sini, yang mempraktikkan kasih dan menghidupi Injil, terkadang sampai menjadi martir. Hal ini juga dibuktikan oleh komitmen berkelanjutan dalam berbagai kelompok gerejawi, paroki, keluarga, Aksi Katolik, berbagai gerakan dan lembaga, serta pendidikan kristiani dan karya amal. Tentu saja, karena kekayaan ini, serta keindahan alam dan seni pesisir Adriatik dan daerah pedalamannya, begitu banyak orang dari seluruh Italia dan dunia datang ke sini setiap tahun untuk berlibur.

 

Dan, dalam hal ini, saya ingin mendorongmu untuk melanjutkan upayamu guna memastikan wilayah ini ramah, tidak hanya untuk penyegaran dan hiburan, tetapi juga untuk jiwa. Santo Yohanes Paulus II, yang mengunjungi tempat ini bertahun-tahun yang lalu, berbicara tentang panggilan ini, menekankan bahwa "istirahat bukan berarti memisahkan diri dari diri sendiri. Sebaliknya," katanya, "istirahat berarti bertemu dengan diri sendiri dan mendamaikan diri dengan batin terdalam" (Homili pada Misa Kudus di Rimini, 29 Agustus 1982).

 

Dunia tempat kita hidup menawarkan banyak bentuk rekreasi, beberapa di antaranya, bagaimanapun, mengarah pada penyebaran dan kehancuran daripada "kembali kepada diri sendiri" yang sejati, dan meninggalkan kekosongan di dalam hati. Beberapa menyebutnya "pelarian," seolah-olah kehidupan biasa adalah penjara yang harus dihindari. Tetapi kita tahu bahwa tempat yang paling tepat untuk menemukan penyegaran, bertemu Tuhan dan benar-benar bertemu satu sama lain, bukan di luar, di tengah kekacauan, tetapi di dalam diri kita sendiri, di kedalaman jiwa kita. Sebagai komunitas kristiani, kita secara khusus dipanggil untuk memupuk pengalaman ini dan menyebarkannya, melalui keterbukaan dan keramahan, baik dalam lingkungan pribadi maupun kelembagaan kita, melalui kepedulian dan perenungan gereja-gereja kita, melalui kesediaan kita untuk membantu dan memberikan sedekah. Ini berlaku baik bagi mereka yang mencari istirahat yang layak setelah setahun bekerja maupun bagi mereka yang terluka secara fisik dan spiritual yang mencari perlindungan, makanan, dan bantuan jauh dari tanah air mereka.

 

Uskupmu, dalam suratnya kepada keuskupan, menulis: "Doa, persatuan, mendengarkan, keberanian, kesederhanaan, rasa syukur, keindahan [...] ingin menunjukkan sikap yang selalu hadir dalam setiap aspek kehidupan" (Uskup Nicolò Anselmi, Surat Pastoral, kamu akan mencintai, akan bahagia dan akan menikmati setiap hal baik, sekarang dan selamanya, 14 Oktober 2024). Saudara-saudari terkasih, saat saya sekali lagi menyampaikan undangan penting ini kepada kamu semua, atas refleksi dan komitmenmu, saya sekali lagi berterima kasih atas sambutanmu, partisipasimu yang penuh iman dan sukacita, dan saya mempercayakanmu kepada perantaraan Santa Maria, Santo Gaudensius, dan para santo-santa pelindungmu.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 22 Agustus 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA DI PAROKI SANTO THOMAS DARI VILLANOVA (CASTEL GANDOLFO) 15 Agustus 2026

Bacaan Ekaristi : Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab; Mzm. 45:10c-12,16; 1Kor. 15:20-26; Luk. 1:39-56.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Dengan penuh sukacita, saya kembali merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga bersamamu pada tahun ini.

 

Magisterium Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Maria, "setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat dengan tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi" (Pius XII, Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus, 1 November 1950), dan dalam misteri ini menunjukkan kepada kita penggenapan rahmat paling sempurna yang dianugerahkan Allah kepadanya pada saat ia dikandung tanpa noda (bdk. idem).

 

Oleh karena itu, banyak karya seni menggambarkan dirinya sebagai seorang perempuan muda yang cantik yang secara fisik terangkat dari bumi menuju surga pada akhir hidupnya di dunia. Karya-karya ini terinspirasi oleh gambaran yang termuat dalam kutipan Kitab Wahyu yang kita dengar dalam Bacaan Pertama: "Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya" (Why 12:1); hal ini melambangkan bahwa di dalam hati Maria, surga dan bumi, waktu dan kekekalan, bertemu.

 

Sekilas, gambaran ini tampak bertolak belakang dengan pengalaman kita mengenai dampak berlalunya waktu terhadap diri kita. Seiring bertambahnya usia, tubuh kita tidak menjadi lebih lincah, melainkan semakin berat; kulit kita tidak menjadi lebih segar, melainkan menunjukkan tanda-tanda penuaan; rambut kita tidak bertambah warna dan kilaunya, melainkan memutih. Lantas, apa kesamaan kita dengan sosok perempuan muda nan jelita yang digambarkan pada panel altar di gereja-gereja kita?

 

Untuk memahaminya, kita harus menyatukan kedua tanda yang telah disebutkan tadi: tubuh Bunda Allah yang tidak mengalami kerusakan dan hati-Nya yang tak bernoda. Sebab, kemurnian jiwalah yang — baik pada diri Maria maupun pada diri kita — berkat rahmat Allah, menerangi dan mengubah rupa seluruh pribadi kita, serta menuntun kita menuju kemuliaan surga.

 

Pemuliaan Maria, baik tubuh maupun jiwanya, mengajarkan kita bahwa keindahan sejati kita tidak terletak pada upaya menyembunyikan tanda-tanda penuaan, melainkan pada penampakan tanda-tanda kasih yang tidak berkesudahan, yang bahkan terpatri pada raga kita (bdk. 1Kor 13:8).

 

Dengan mempertimbangkan hal ini, kita diajak untuk meninjau kembali berbagai standar estetika — yang sebagian besar bersifat hedonistik dan konsumeristik — yang dipaksakan oleh dunia kepada kita. Standar-standar ini berisiko menjebak kita dalam ekspektasi yang membebani, membuat kita membuang-buang energi berharga untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting dan fana Dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai orang-orang yang wajahnya mencerminkan perjalanan waktu dan penderitaan, namun mampu memancarkan ketenangan, kebaikan, dan kedamaian di sekeliling mereka; sebagaimana kita juga mungkin melihat orang lain yang mungkin tampak menarik secara lahiriah, namun memiliki hati yang keras dan dingin. Mudah untuk melihat di mana letak keindahan sejati dan di mana, sebaliknya, masih diperlukan pertobatan, pengampunan, dan penyembuhan.

 

Jika kita sungguh ingin menemukan dan memelihara keindahan ilahi yang melingkupi kita — keindahan yang menjadi tujuan penciptaan kita — serta membagikannya kepada sesama, kita harus belajar melihatnya pada kerutan wajah seorang lansia maupun wajah lembut seorang anak, pada kedewasaan orang dewasa maupun semangat hidup kaum muda, serta pada busana dan peralatan kerja maupun hiasan perayaan. Kita harus menyimak kisah kasih unik yang dituturkan oleh setiap kenyataan ini, seraya mengenali di dalamnya sekilas gambaran tentang surga.

 

Kasih adalah perhiasan terindah bagi umat manusia. Kasih mengubah bentuk, mengubah rupa, memuliakan, dan mengangkat kita; menjadikan kita tanpa beban, bebas, dan dekat dengan Allah, bahkan di tengah pasang surut kehidupan.

 

Saat merenungkan misteri Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga, Santo Paulus VI mengatakan bahwa untuk memahami maknanya, “kita harus mengubah rupa istilah-istilah yang kita gunakan dalam bahasa duniawi seraya menjadi istilah yang bersifat superlatif dan mutlak [...], untuk membayangkan hal yang kekal dalam skala kecil” (Homili, 15 Agustus 1969). Mengenai perjumpaan antara yang tak terbatas dan yang terbatas dalam diri Bunda Allah, Paus Fransiskus menulis: “Maria mampu mengubah kandang menjadi rumah bagi Yesus, dengan kain lampin sederhana dan kasih yang melimpah” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 286).

 

Mukjizat yang dialami Maria, gadis dari Nazaret, di dalam hatinya yang murni — yang membawanya menuju kemuliaan surga — merupakan pertemuan antara dua hal yang sangat kontras, sebagaimana ia sendiri ungkapkan dalam kata-kata Magnificat yang diilhami Roh Kudus, yang telah kita dengar dalam Injil (bdk. Luk 1:46–55). Dalam nyanyian pujian ini, melalui ungkapan iman yang rendah hati, Bunda Allah berbicara kepada kita dengan bahasa sederhana mengenai misteri agung yang dialaminya, seperti peristiwa Allah menjadi manusia di dalam dirinya demi menyelamatkan umat manusia, dan Sang Kekal yang menyatakan diri-Nya dalam ruang dan waktu untuk membuka kembali jalan menuju keabadian bagi kita. Pada saat yang sama, dalam kedudukannya sebagai “hamba yang rendah hati,” Santo Paulus VI mengatakan bahwa Maria memperlihatkan kepada kita “dimensi kerendahan hati” di mana kita pun dapat berjumpa Tuhan.

 

Kita tidak perlu mencari jauh-jauh untuk menemukan keluhuran misteri yang kita rayakan. Kita dapat menjumpainya di mana pun terdapat kasih sejati. Misalnya, dalam tatapan mata seorang ayah dan ibu yang pulang ke rumah setelah seharian beraktivitas — lelah, namun bahagia bisa berkumpul dengan anak-anak mereka. Pada wajah para kakek nenek yang, meski didera rasa sakit dan nyeri akibat usia lanjut, dipenuhi energi tak terduga saat merawat cucu-cucu mereka. Dalam komitmen kaum muda yang berupaya untuk tumbuh dalam moralitas dan ketulusan, bahkan siap untuk mengambil jalan yang berbeda dari arus umum "apa yang dilakukan orang kebanyakan." Akhirnya, dalam karya sehari-hari begitu banyak orang yang, dengan iman dan dedikasi, turut menghadirkan secercah surga ke bumi dan mendekatkan bumi kepada surga.

 

Saudara-saudari terkasih, wajah indah Bunda Maria yang Diangkat ke Surga sungguh unik; wajah itu melampaui segala bentuk penggambaran yang mungkin ada, namun pada saat yang sama, terasa begitu akrab bagi kita. Bahkan saat ini pun, kita dapat melihat wajahnya pada orang-orang yang dekat dengan kita, seperti saudara-saudari yang bersama-sama dengan kita — dalam iman — mempersembahkan hidup kita sehari-hari. Oleh karena itu, komunitas orang beriman melihat dirinya tercermin dalam sosok perempuan yang dikisahkan dalam Kitab Wahyu, dan Konsili Vatikan II menggambarkan Maria sebagai “citra serta awal Gereja, […] sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan” (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, 68). Dalam kodrat kemanusiaannya yang kudus, berkat rahmat Allah, kita juga melihat kodrat kita sendiri; maka, kita pun dipanggil untuk menjalani kehidupan penuh rahmat yang sama seperti yang dijalaninya serta turut ambil bagian dalam kemuliaannya.

 

Saat berbicara mengenai kebangkitan Kristus, Santo Agustinus mengajak umat kristiani pada zamannya untuk menjadikan peristiwa itu sebagai kompas dan pusat kehidupan mereka. Ia berkata: “Kristus bangkit dari antara orang mati agar Ia tidak lagi mati untuk selama-lamanya […]. Ubahlah arah hidupmu, ikutilah terang itu! Mulailah bangkit dari tempat Ia bangkit” (Enarratio in Psalmos, 126:7).

 

Mari kita terima undangan-Nya. Marilah kita ikuti terang Tuhan yang bangkit, seraya mengubah arah perjalanan jika perlu. Marilah kita melakukannya, khususnya pada hari ini, dengan memandang kepada Maria — yang telah dimahkotai kemuliaan oleh Allah baik jiwa maupun raganya, serta yang telah Ia karuniakan kepada kita sebagai Ibu, pembimbing, teman seperjalanan, dan pelindung di jalan menuju surga.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Agustus 2026)