Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA VI (MISA KANONISASI BEATA MARÍA ANTONIA DE PAZ DE SAN JOSÉ) 11 Februari 2024 : KETAKUTAN, PRASANGKA DAN KEAGAMAAN YANG KELIRU

Bacaan Ekaristi : Im. 13:1-2,45-46; Mzm. 32:1-2,5,11; 1Kor. 10:31-11:1; Mrk. 1:40-45.

 

Bacaan Pertama (bdk. Im 13:1-2.45-46) dan Bacaan Injil (bdk. Mrk 1:40-45) berbicara tentang kusta : suatu penyakit yang menyebabkan fisik orang yang terkenanya semakin merosot dan, tragisnya, bahkan hingga saat ini, di beberapa tempat menyebabkan mereka dikucilkan. Kusta dan pengucilan. Inilah penyakit yang ingin dibebaskan Yesus dari orang yang ditemui-Nya dalam Bacaan Injil. Marilah kita melihat keadaannya.

 

Orang yang menderita sakit kusta tersebut terpaksa tinggal di luar kota. Meski penyakit tersebut membuatnya lemah, alih-alih dibantu oleh orang-orang sebangsanya, ia malah ditinggalkan serta semakin terluka oleh pengucilan dan penolakan. Mengapa? Pertama, karena takut, takut tertular penyakit tersebut dan menemui akhir yang sama: “Allah melarang hal itu terjadi juga pada kita! Kita jangan mengambil risiko, tetapi menjaga jarak!” Takut. Kemudian, prasangka: “Jika ia mengidap penyakit yang mengerikan ini” – sebagaimana dipikirkan orang – “pastinya karena Allah sedang menghukumnya atas dosa yang dilakukannya; jadi ia pantas mendapatkannya!”.

 

Inilah prasangka. Dan yang terakhir, karena keagamaan yang keliru: pada masa itu ada anggapan bahwa menyentuh orang mati membuat seseorang menjadi najis, dan orang yang terkena kusta seperti orang mati yang sedang berjalan. Diperkirakan bahwa sedikit saja kontak dengan mereka akan membuat seseorang menjadi najis seperti mereka. Kasus keagamaan yang melenceng, yang membangun penghalang dan mengubur rasa kasihan.

 

Ketakutan, prasangka, dan keagamaan palsu. Inilah tiga penyebab ketidakadilan yang luar biasa. Tiga “penyakit kusta jiwa” yang menyebabkan orang lemah menderita dan kemudian dikucilkan begitu saja. Saudara-saudari, janganlah kita berpikir bahwa ini hanya peninggalan masa lalu. Berapa banyak orang sedang menderita yang kita temui di trotoar kota kita! Dan betapa banyak ketakutan, prasangka dan ketidakkonsistenan, bahkan di antara orang beriman dan menyebut diri mereka kristiani, terus menerus melukai mereka! Di zaman kita juga, terdapat kasus-kasus pengucilan yang mencolok, hambatan-hambatan yang perlu dirobohkan, dan bentuk-bentuk “kusta” yang harus disembuhkan. Tetapi bagaimana caranya? Bagaimana kita bisa melakukannya? Apa yang dilakukan Yesus? Ia melakukan dua hal: ia menyentuh dan menyembuhkan.

 

Hal pertama: Ia menyentuh orang itu. Yesus menanggapi seruan minta tolongnya (bdk. ayat 40); Ia merasa kasihan, Ia berhenti, Ia mengulurkan tangan-Nya dan menyentuhnya (bdk. ayat 41), Ia mengetahui sepenuhnya bahwa dengan melakukan hal itu Ia pada gilirannya akan menjadi “sampah masyarakat”. Anehnya, peran tersebut kini terbalik: setelah sembuh, orang yang sakit kusta tersebut dapat pergi kepada imam dan diterima kembali di dalam komunitas; Yesus, sebaliknya, tidak dapat lagi masuk ke dalam kota mana pun (bdk. ayat 45). Tuhan bisa saja menghindari menyentuh orang itu; melakukan “penyembuhan jarak jauh” sudah cukup. Namun itu bukanlah cara Kristus. Cara-Nya adalah kasih yang mendekatkan diri kepada orang-orang yang menderita, berkontak dengan mereka dan menyentuh luka-luka mereka. Kedekatan Allah; Yesus dekat dengan kita, Allah dekat dengan kita. Allah kita, saudara-saudari terkasih, tidak tinggal jauh di surga, namun di dalam Yesus, Ia menjadi manusia untuk menyentuh kemiskinan kita. Dan di hadapan kasus terburuk “kusta”, yaitu dosa, Ia tidak segan-segan wafat di kayu salib, di luar tembok kota, ditolak seperti orang berdosa, seperti penderita sakit kusta, menyentuh kedalaman kenyataan kemanusiaan kita. Seorang santo pernah menulis : “Ia menjadi penderita kusta demi kita”.

 

Apakah kita yang mengasihi dan mengikuti Yesus mampu mencontoh “sentuhan”-Nya? Hal itu tidak mudah dilakukan, dan kita harus waspada jangan sampai hati kita menyimpan naluri yang bertentangan dengan sikap-Nya yang “mendekat” dan “menjadi pemberian” bagi orang lain. Misalnya saja ketika kita menarik diri dari orang lain dan hanya memikirkan diri kita; ketika kita mereduksi dunia di sekitar kita hingga ke batas “zona nyaman” kita; ketika kita meyakini bahwa masalahnya selalu dan hanya pada orang lain… Dalam kasus seperti ini, kita perlu penuh perhatian, karena diagnosanya jelas: “kusta jiwa”: penyakit yang membutakan kita terhadap cinta dan kasih sayang, penyakit yang membuat kita dihancurkan oleh “kanker” keegoisan, prasangka, ketidakpedulian dan intoleransi. Marilah kita juga waspada, saudara-saudari, karena seperti gejala awal penyakit kusta yang muncul di kulit, jika kita tidak segera melakukan campur tangan maka infeksinya akan semakin membesar dan berakibat fatal. Dalam menghadapi bahaya ini, kemungkinan penyakit dalam jiwa kita, kita bertanya pada diri kita apakah ada obatnya?

 

Di sini kita dibantu oleh hal kedua yang dilakukan Yesus: Ia menyembuhkan (bdk. ayat 42). “Sentuhan”-Nya bukan hanya pertanda kedekatan, tetapi juga awal dari proses penyembuhan. Kedekatan adalah gaya Allah: Allah selalu dekat, penuh kasih sayang dan lembut. Kedekatan, kasih sayang dan kelembutan. Ini adalah gaya Allah. Apakah kita terbuka terhadap gaya Allah? Begitu kita membiarkan diri kita disentuh oleh Yesus, kita mulai menyembuhkan diri kita sendiri, di dalam hati kita. Jika kita memperkenankan diri kita disentuh oleh-Nya dalam doa dan penyembahan, jika kita memperkenankan Dia bertindak di dalam diri kita melalui Sabda dan sakramen-sakramen-Nya, maka kontak tersebut benar-benar mengubah diri kita. Kontak tersebut menyembuhkan kita dari dosa, membebaskan kita dari sikap mementingkan diri sendiri, dan mengubah diri kita melampaui apa pun yang dapat kita capai dengan diri dan usaha kita. Luka-luka kita – luka hati dan jiwa –, penyakit jiwa kita, perlu dibawa kepada Yesus. Doa dapat mewujudkan hal ini: bukan doa sebagai serangkaian rumusan yang abstrak dan berulang-ulang, melainkan doa yang sepenuh hati dan hidup yang menempatkan kesengsaraan, kelemahan, kegagalan, dan ketakutan kita di kaki Kristus. Marilah kita renungkan dan tanyakan pada diri kita: Apakah aku memperkenankan Yesus menyentuh “penyakit kusta”-ku untuk menyembuhkanku?

 

Melalui “sentuhan” Yesus, hal terbaik diri kita dilahirkan kembali: jaringan hati kita beregenerasi; darah kreatif kita terdorong, diisi dengan cinta, mulai mengalir kembali; luka akibat kesalahan masa lalu kita sembuh serta kulit hubungan kita menjadi segar dan sehat. Keindahan yang kita miliki, keindahan diri kita, dipulihkan. Berkat kasih Kristus, kita menemukan kembali sukacita dalam memberikan diri kita kepada orang lain, tanpa rasa takut dan prasangka, meninggalkan keagamaan yang membosankan dan tidak berwujud serta mengalami kemampuan baru untuk mencintai orang lain secara murah hati dan tanpa pamrih.

 

Kemudian, sebagaimana diceritakan dalam perikop Kitab Suci yang luar biasa (bdk. Yeh 37:1-14), dari apa yang tampak seperti lembah tulang-tulang kering, tubuh-tubuh yang hidup muncul serta komunitas saudara-saudari dilahirkan kembali dan diselamatkan. Namun, adalah sebuah khayalan jika kita berpikir bahwa mukjizat ini terjadi dengan cara yang megah dan spektakuler. Mukjizat paling sering terjadi dalam amal kasih tersembunyi yang dilakukan setiap hari di dalam keluarga kita, di tempat kerja, paroki dan sekolah, di jalanan, di kantor dan toko kita. Sebuah amal kasih yang tidak mencari ketenaran dan tidak membutuhkan tepuk tangan, karena cinta saja sudah cukup (bdk. Santo Agustinus, Enn. dalam Mazmur 118, 8, 3). Yesus memperjelas hal ini hari ini, ketika Ia memerintahkan orang tersebut, yang kini telah sembuh, untuk “tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun” (ayat 44): kedekatan dan kehati-hatian. Saudara-saudari, begitulah Allah mengasihi kita, dan jika kita memperkenankan diri kita disentuh oleh-Nya, kita pun, dengan kuasa Roh-Nya, akan mampu menjadi saksi kasih-Nya yang menyelamatkan!

 

Hari ini, kita merenungkan kehidupan María Antonia de San José, “Mama Antula”. Ia adalah seorang “pelancong” Roh. Ia melakukan perjalanan ribuan kilometer dengan berjalan kaki, melintasi gurun dan jalan berbahaya, untuk membawa Allah kepada orang lain. Ia adalah teladan semangat dan keberanian kerasulan. Ketika para Yesuit diusir, Roh Kudus menyalakan api misioner dalam dirinya yang berlandaskan kepercayaan pada Penyelenggaraan Ilahi dan ketekunan. Ia memohon perantaraan Santo Yosef dan, agar tidak terlalu melelahkannya; ia juga memohon perantaraan Santo Gaetano Thiene. Inilah bagaimana devosi kepada Santo Gaetano Thiene diperkenalkan; gambarnya pertama kali tiba di Buenos Aires pada abad kedelapan belas. Terima kasih kepada Mama Antula, santa ini, pengantara Penyelenggaraan Ilahi, berhasil melintasi rumah-rumah, lingkungan sekitar, transportasi umum, toko-toko, pabrik-pabrik dan hati-hati untuk menawarkan kehidupan yang bermartabat melalui kerja, keadilan dan makanan sehari-hari di atas meja orang miskin. Marilah kita berdoa agar María Antonia, Santa María Antonia de Paz de San José, sudi membantu kita. Semoga Allah memberkati semua orang!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Februari 2024)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH (HARI HIDUP BAKTI KE-28) 2 Februari 2024 : DUA KENDALA YANG MEMBUAT KITA KEHILANGAN KEMAMPUAN UNTUK MENANTI

Bacaan Ekaristi : Mal 3:1-4; Mzm 24:7.8.9.10; Luk 2:22-40.


Seraya orang-orang menantikan keselamatan Tuhan, para nabi mewartakan kedatangan-Nya, sebagaimana diwartakan oleh nabi Maleakhi, “Tiba-tiba Tuhan yang kamu cari itu akan datang ke bait-Nya! Utusan Perjanjian yang kamu inginkan itu, sesungguhnya, Ia datang" (3:1). Simeon dan Hana adalah gambaran dan sosok kerinduan ini. Ketika melihat Tuhan memasuki bait-Nya, keduanya diterangi oleh Roh Kudus dan mengenali anak yang digendong Maria tersebut. Mereka telah menantikan Dia sepanjang hidup mereka: Simeon, “seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel dan Roh Kudus ada di atasnya” (Luk 2:25); Hana, yang “tidak pernah meninggalkan Bait Allah” (Luk 2:37).

 

Ada baiknya kita menelaah kedua orang tua ini yang sabar menanti, tetap berjaga-jaga dan bertekun dalam doa. Hati mereka tetap berjaga, laksana nyala api abadi. Mereka sudah lanjut usia, namun berjiwa muda. Keduanya tidak membiarkan hari-hari melelahkan mereka, karena mata mereka tetap tertuju pada Allah dalam pengharapan (bdk. Mzm 145:15). Terpaku pada Allah dalam pengharapan, selalu dalam pengharapan. Sepanjang perjalanan hidup, mereka pernah mengalami kesukaran dan kekecewaan, namun mereka tidak menyerah kalah: mereka belum “memensiunkan” harapan. Ketika mereka merenungkan anak itu, mereka menyadari bahwa waktunya telah tiba, nubuat telah tergenapi, Ia yang mereka cari dan dambakan, Mesias segala bangsa, telah tiba. Dengan tetap berjaga dalam pengharapan akan Tuhan, mereka mampu menyambut kebaruan kedatangan-Nya.

 

Saudara-saudari, menantikan Allah juga penting bagi kita, bagi perjalanan iman kita. Setiap hari Tuhan mengunjungi kita, berbicara kepada kita, menyatakan diri-Nya dengan cara yang tidak terduga dan, pada akhir kehidupan dan waktu, Ia akan datang. Ia sendiri menasihati kita untuk tetap berjaga, waspada, dan bertekun dalam penantian. Memang, hal terburuk yang bisa terjadi pada kita adalah membiarkan “semangat kita tertidur”, membiarkan hati tertidur, membius jiwa, mengunci harapan di sudut gelap kekecewaan dan kepasrahan.

 

Saya memikirkanmu, saudara-saudari para pelaku hidup bakti, dan tentang karunia yang kamu miliki; saya memikirkan kita sebagai umat Kristiani dewasa ini: apakah kita masih mampu menanti? Bukankah kita kadang-kadang terlalu sibuk dengan diri kita sendiri, dengan berbagai hal, dan dengan irama kehidupan sehari-hari yang padat, sampai-sampai melupakan Allah yang selalu datang? Bukankah kita terlalu terpesona dengan perbuatan baik kita, yang bahkan berisiko mengubah kehidupan beragama dan kristiani menjadi “banyak hal yang harus dilakukan” dan mengabaikan untuk mencari Tuhan setiap hari? Bukankah kita terkadang mengambil risiko merencanakan kehidupan pribadi dan bermasyarakat dengan memperhitungkan peluang keberhasilan, alih-alih memupuk benih kecil yang dipercayakan kepada kita dengan suka cita dan kerendahan hati, dengan kesabaran orang yang menabur tanpa mengharapkan apa pun dan orang yang tahu bagaimana menanti waktu Allah dan memperkenankan-Nya mengejutkan kita? Kadang-kadang kita harus menyadari bahwa kita telah kehilangan kemampuan untuk menanti. Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala, dan saya ingin menyoroti dua di antaranya.

 

Kendala pertama yang membuat kita kehilangan kemampuan menanti adalah mengabaikan kehidupan batin. Inilah yang terjadi ketika keletihan mengalahkan keheranan, ketika kebiasaan menggantikan antusiasme, ketika kita kehilangan ketekunan dalam perjalanan rohani, ketika pengalaman-pengalaman buruk, perselisihank atau buah yang tampaknya tertunda mengubah kita menjadi orang-orang yang getir dan sakit hati. Terus memikirkan kepahitan tidak baik karena dalam keluarga rohani, seperti halnya dalam komunitas dan keluarga mana pun, orang-orang yang pahit dan “berwajah masam” sedang mengempis, orang-orang yang seolah-olah memiliki cuka di dalam hatinya. Maka kita perlu memulihkan rahmat yang hilang: kembali dan, melalui peningkatan kehidupan batin, kembali ke semangat kerendahan hati yang penuh sukacita, rasa syukur yang hening. Hal ini dipupuk oleh penyembahan, jerih payah lutut dan hati, doa yang berwujud pergumulan dan pengantaraan, yang mampu membangkitkan kembali kerinduan akan Allah, cinta awal, keheranan di hari pertama, rasa penantian.

 

Kendala kedua adalah beradaptasi dengan gaya hidup duniawi, yang pada akhirnya menggantikan Injil. Dunia kita sering kali berjalan dengan sangat cepat, yang mengagung-agungkan “segalanya dan saat ini”, yang tenggelam dalam aktivisme dan berusaha menghilangkan ketakutan dan kegelisahan hidup di kuil-kuil konsumerisme kafir atau hiburan dengan segala cara. Dalam konteks seperti ini, di mana keheningan disingkirkan dan hilang, menanti bukanlah hal yang mudah, karena memerlukan sikap pasif yang sehat, keberanian untuk memperlambat langkah, tidak kewalahan dengan aktivitas, memberikan ruang dalam diri kita untuk tindakan Allah. Ini adalah pelajaran mistisisme kristiani. Maka marilah kita berhati-hati agar roh dunia tidak masuk ke dalam komunitas rohani kita, kehidupan gerejawi dan perjalanan pribadi kita, jika tidak maka kita tidak akan menghasilkan buah. Kehidupan kristiani dan perutusan kerasulan memerlukan pengalaman penantian. Matang dalam doa dan kesetiaan sehari-hari, penantian membebaskan kita dari mitos efisiensi, dari obsesi terhadap kinerja dan, terutama, dari kepura-puraan yang menyingkirkan Allah, karena Ia selalu datang dengan cara yang tidak terduga, Ia selalu datang pada waktu yang tidak kita pilih dan dengan cara yang tidak kita duga.

 

Sebagaimana dinyatakan mistikus dan filsuf Prancis, Simone Weil, kita adalah mempelai perempuan yang menanti di malam hari kedatangan mempelai laki-laki, dan: “Peran calon istri adalah menanti…. Merindukan Allah dan meninggalkan segala sesuatu yang lain, hanya itu saja yang bisa menyelamatkan kita” (Menanti Allah, Milan 1991, 196). Saudari-saudari, dalam doa marilah kita membina semangat menantikan Tuhan dan belajar tentang “kepasifan Roh” secara tepat: dengan demikian, kita akan mampu membuka diri terhadap kebaruan Allah.

 

Seperti Simeon, marilah kita juga menggendong anak ini, Allah kebaruan dan kejutan. Dengan menyambut Tuhan, masa lalu terbuka terhadap masa depan, hal lama dalam diri kita terbuka terhadap hal baru yang dibangkitkan-Nya. Ini tidak mudah, kita tahu ini, karena dalam kehidupan beragama seperti dalam kehidupan setiap umat kristiani, sulit untuk melawan “kekuatan lama”. “Tidaklah mudah bagi manusia lama kita untuk menyambut sang anak, yang baru – menyambut yang baru, di masa tua kita menyambut yang baru – … Kebaruan Allah menampilkan dirinya sebagai seorang anak dan kita, dengan semua kebiasaan, ketakutan, perasaan was-was, iri hati kita, – marilah kita memikirkan iri hati! – khawatir, bertatap muka dengan anak ini. Akankah kita merangkul anak tersebut, menyambut anak tersebut, memberikan ruang bagi anak tersebut? Akankah kebaruan ini benar-benar masuk ke dalam kehidupan kita atau justru kita akan mencoba menggabungkan yang lama dan yang baru, berusaha membiarkan diri kita diganggu sesedikit mungkin oleh kehadiran kebaruan Allah?” (C.M. Martini, Sesuatu yang Sangat Pribadi. Meditasi Tentang Doa, Milan 2009, 32-33).

 

Saudara-saudari, pertanyaan-pertanyaan ini ditujukan untuk kita, untuk kita masing-masing, untuk komunitas kita, dan untuk Gereja. Biarlah kita gelisah, marilah kita digerakkan oleh Roh, seperti Simeon dan Hana. Jika, seperti mereka, kita hidup dalam pengharapan, menjaga kehidupan batin kita dan selaras dengan Injil, jika, seperti mereka, kita hidup dalam pengharapan, kita akan memeluk Yesus, yang merupakan terang dan pengharapan kehidupan.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Februari 2024)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA III (HARI MINGGU SABDA ALLAH) 21 Januari 2024 : KITA TIDAK BISA HIDUP TANPA SABDA ALLAH SERTA KUASANYA YANG TEDUH DAN SEDERHANA

Bacaan Ekaristi : Yun. 3:1-5,10; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9; 1Kor. 7:29-31; Mrk. 1:14-20.

 

Kita baru saja mendengar Yesus berkata kepada mereka : “Mari, ikutlah Aku … Lalu mereka segera meninggalkan jala mereka dan mengikuti Dia” (Mrk 1:17-18). Sabda Allah mempunyai kuasa yang sangat besar, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Pertama: “Datanglah firman Tuhan kepada Yunus untuk kedua kalinya, 'Pergilah segera ke Niniwe ... dan serukanlah kepadanya ... Yunuspun segera pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Tuhan" (Yun 3:1-3). Sabda Allah melancarkan kuasa Roh Kudus, sebuah kuasa yang menarik manusia kepada Allah, seperti nelayan muda yang dilanda oleh perkataan Yesus itu, dan mengutus orang lain, seperti Yunus, kepada mereka yang jauh dari Tuhan. Sabda menarik kita kepada Allah dan mengutus kita kepada orang lain : sabda menarik kita kepada Allah dan mengutus kita kepada orang lain: begitulah cara Sabda bekerja. Sabda tidak membuat kita mementingkan diri sendiri, namun melapangkan hati, mengubah perjalanan, menjungkirbalikkan kebiasaan, membuka skenario baru dan menyingkapkan cakrawala yang tak terpikirkan.

 

Saudara-saudari, itulah apa yang ingin dilakukan sabda Allah dalam diri kita masing-masing. Seperti halnya murid-murid pertama yang, setelah mendengar perkataan Yesus, meninggalkan jala mereka dan memulai petualangan yang luar biasa, demikian pula, di tepi pantai kehidupan kita, di samping perahu keluarga kita dan jala pekerjaan kita sehari-hari, sabda Allah membuat kita mendengar panggilan Yesus. Sabda Allah memanggil kita untuk berangkat bersama-Nya demi kepentingan orang lain. Sabda Allah menjadikan kita misionaris, utusan dan saksi Allah bagi dunia yang tenggelam dalam kata-kata, namun haus akan sabda sejati yang seringkali terabaikan. Gereja hidup dari dinamika ini: dipanggil oleh Kristus dan tertarik kepada-Nya, Gereja diutus ke dunia untuk memberi kesaksian tentang Dia. Inilah dinamika dalam Gereja.

 

Kita tidak bisa hidup tanpa sabda Allah serta kuasanya yang teduh dan sederhana, yang seolah-olah dalam dialog pribadi, menyentuh hati, berkesan dalam jiwa dan memperbaharuinya dengan damai Yesus, yang pada gilirannya membuat kita peduli terhadap orang lain. Jika kita memandang sahabat-sahabat Allah, para saksi Injil sepanjang sejarah dan orang-orang kudus, kita melihat bahwa sabda Allah sangat menentukan bagi mereka masing-masing. Kita memikirkan tentang biarawan pertama, Santo Antonius, yang, karena terkesan dengan bacaan Injil ketika sedang merayakan Misa, meninggalkan segalanya demi Tuhan. Kita memikirkan Santo Agustinus, yang hidupnya mengalami perubahan yang menentukan ketika sabda Allah membawa kesembuhan dalam hatinya. Kita memikirkan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, yang menemukan panggilannya dengan membaca surat-surat Santo Paulus. Dan kita juga memikirkan santo yang namanya saya sandang, Fransiskus dari Asisi, yang, setelah berdoa, membaca Injil bahwa Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk berkhotbah dan berseru: “Itulah apa yang Kuinginkan; itulah apa yang Kumohon, itulah apa yang ingin Kulakukan dengan segenap hati!” (Thomas dari Celano, Vita Prima, IX, 22). Hidup mereka diubah oleh sabda kehidupan, oleh sabda Tuhan.

 

Namun saya bertanya-tanya: bagaimana bisa, bagi banyak dari kita, hal yang sama tidak terjadi? Kita sering mendengar sabda Allah, namun masuk ke satu telinga dan keluar di telinga yang lain: mengapa? Mungkin karena, sebagaimana dijelaskan oleh para saksi di atas, kita perlu berhenti bersikap “tuli” terhadap sabda Allah. Ini merupakan risiko bagi kita semua: karena terbebani oleh rentetan kata-kata, kita membiarkan sabda Allah berlalu begitu saja: kita mendengarnya, namun kita gagal mendengarkannya; kita mendengarkannya, namun kita tidak menyimpannya; kita menyimpannya, namun kita tidak membiarkannya mendorong kita untuk berubah. Melebihi segalanya, kita membacanya tetapi kita tidak berdoa dengannya, padahal “doa harus menyertai pembacaan Kitab suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusia” (Dei Verbum, 25). Kita jangan melupakan dua aspek dasariah doa Kristiani: mendengarkan sabda dan menyembah Tuhan. Marilah kita memberikan ruang untuk membaca sabda Yesus dengan penuh doa. Kemudian kita akan mempunyai pengalaman yang sama seperti murid-murid pertama itu. Kembali ke Injil hari ini, kita melihat dua hal yang terjadi setelah Yesus berbicara: “mereka meninggalkan jala mereka dan mengikuti Dia” (Mrk 1:18). Mereka meninggalkan dan mengikuti. Marilah kita renungkan secara singkat kedua hal ini.

 

Mereka meninggalkan. Apa yang mereka tinggalkan? Perahu dan jala mereka, mau dikatakan itulah kehidupan yang mereka jalani selama ini. Betapa seringnya kita berjuang untuk meninggalkan rasa aman, rutinitas kita, karena hal ini menjerat kita seperti ikan dalam jala. Namun mereka yang menanggapi sabda akan mengalami kesembuhan dari jerat masa lalu, karena sabda yang hidup memberikan makna baru dalam kehidupan mereka dan memulihkan ingatan mereka yang terluka dengan mencangkokkan ke dalamnya ingatan akan Allah dan karya-karya-Nya bagi kita. Kitab Suci meneguhkan kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita siapa diri kita sebenarnya: anak-anak Allah, yang diselamatkan dan dikasihi. “Sabda Tuhan yang harum” (Santo Fransiskus dari Asisi, Surat kepada Umat Beriman) ibarat madu, memberi rasa pada hidup kita dan membuat kita merasakan manisnya Allah. Sabda Tuhan menyehatkan jiwa, menyingkirkan rasa takut dan mengatasi kesepian. Sebagaimana sabda Tuhan menuntun para murid untuk meninggalkan kehidupan monoton yang berpusat pada perahu dan jala, sabda Tuhan juga memperbarui iman kita, memurnikannya, membebaskannya dari sampah dan membawanya kembali ke asal-usulnya, sumber Injil yang murni. Ketika menceritakan hal-hal menakjubkan yang telah dilakukan Allah bagi kita, Kitab Suci melancarkan iman yang lumpuh dan membuat kita menikmati kembali kehidupan Kristiani sebagaimana adanya: kisah cinta dengan Tuhan.

 

Para murid meninggalkan dan kemudian mengikuti. Mengikuti jejak sang Guru, mereka bergerak maju. Karena sabda Kristus tidak hanya membebaskan kita dari beban yang kita tanggung, dulu dan sekarang; sabda Kristus juga membuat kita dewasa dalam kebenaran dan amal kasih. Sabda Kristus menghidupkan hati, menantangnya, memurnikannya dari kemunafikan dan memenuhinya dengan harapan. Kitab Suci juga membuktikan bahwa sabda nyata dan efektif : “seperti hujan dan salju” bagi tanah (bdk. Yes 55:10-11), seperti pedang bermata dua yang “menilai pikiran dan niat hati” (Ibr 4:12), dan benih yang tidak fana (1Ptr 1:23), yang kecil dan tersembunyi, namun bertunas dan menghasilkan buah (bdk. Mat 13). “Demikian besarlah daya dan kekuatan sabda Allah, sehingga bagi putra-putri Gereja menjadi kekuatan iman” (Dei Verbum, 21).

 

Saudara-saudara, semoga Hari Minggu Sabda Allah menolong kita untuk kembali dengan sukacita kepada sumber iman kita, yang lahir dari mendengarkan Yesus, Sabda Allah yang hidup. Semoga kita, yang dihujani oleh kata-kata tentang Gereja, terbantu untuk menemukan kembali sabda kehidupan yang bergema dalam Gereja! Jika tidak, kita akhirnya lebih banyak berbicara tentang diri kita daripada tentang Dia, dan sering kali kita berkonsentrasi pada pikiran dan masalah kita dibandingkan pada Kristus dan sabda-Nya. Marilah kita kembali ke sumber, untuk menawarkan kepada dunia air kehidupan yang dirindukan dan tidak dapat ditemukan, dan sementara masyarakat dan media sosial mencerminkan kekerasan kata-kata, marilah kita mendekat kepada, dan memupuk, sabda Allah yang teduh yang membawa keselamatan, lemah lembut, tidak bersuara lantang dan masuk ke dalam hati kita.

 

Terakhir, marilah kita mengajukan pada diri kita beberapa pertanyaan. Ruang apa yang kubuat untuk sabda Allah di tempat tinggalku? Di tengah banyaknya buku, majalah, televisi dan telepon, di manakah Kitab Suci? Di kamarku, apakah Injil mudah dijangkau? Apakah aku membacanya setiap hari agar setia pada jalan hidupku? Apakah aku membawa salinan kecil Injil agar aku dapat membacanya? Saya sering berbicara tentang Injil yang selalu kita bawa, di saku dan tas kita, di telepon genggam kita. Jika Kristus lebih kusayangi daripada apa pun, bagaimana aku bisa meninggalkan Dia di rumah dan tidak membawa sabda-Nya bersamaku? Dan satu pertanyaan terakhir: Sudahkah aku membaca setidaknya salah satu dari keempat Injil? Injil adalah kitab kehidupan. Sederhana dan singkat, namun banyak orang percaya bahkan belum pernah membaca satu pun Injil dari awal sampai akhir.

 

Saudara-saudari, Allah, menurut Kitab Suci, adalah “sumber keindahan” (Keb 13:3). Marilah kita memperkenankan diri kita ditaklukkan oleh keindahan yang dihadirkan sabda Allah ke dalam hidup kita.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 21 Januari 2024)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN 6 Januari 2024 : PARA MAJUS MELAYANGKAN MATA KE LANGIT, NAMUN MEREKA MENGINJAKKAN KAKI BUMI, DAN HATI MEREKA TERTUNDUK DALAM PENYEMBAHAN

Bacaan Ekaristi : Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13. Ef. 3:2-3a,5-6; Mat. 2:1-12.

 

Para Majus berangkat mencari Sang Raja yang baru saja dilahirkan. Mereka adalah gambaran orang-orang di dunia yang sedang melakukan perjalanan mencari Allah, gambaran orang-orang asing yang kini dituntun ke gunung Tuhan (bdk. Yes 56:6-7), gambaran orang-orang yang sekarang, dari jauh, dapat mendengar pesan keselamatan (bdk. Yes 33:13), gambaran semua orang yang hilang dan sekarang mendengar isyarat suara yang bersahabat. Karena kini, dalam rupa Bayi Betlehem, kemuliaan Tuhan telah dinyatakan kepada seluruh bangsa (bdk. Yes 40:5) dan “semua orang akan melihat keselamatan dari Allah” (Luk 3:6). Ini adalah peziarahan umat manusia, kita masing-masing, bergerak dari kejauhan menuju kedekatan.

 

Para Majus melayangkan mata ke langit, namun mereka menginjakkan kaki bumi, dan hati mereka tertunduk dalam penyembahan. Perkenankanlah saya mengulangi hal ini : mereka melayangkan mata ke langit, mereka menginjakkan kaki di bumi dan hati mereka tertunduk dalam penyembahan.

 

Pertama, mereka melayangkan mata ke langit. Para Majus dipenuhi dengan kerinduan akan hal yang tak terbatas, sehingga mereka menatap bintang-bintang di langit senja. Mereka tidak melewatkan hidup mereka dengan hanya menatap kaki mereka, mementingkan diri sendiri, terkekang oleh cakrawala duniawi, berjalan lamban dalam kepasrahan atau ratapan. Mereka mengangkat kepala tinggi-tinggi dan menantikan terang yang dapat menerangi makna kehidupan mereka, keselamatan yang datang dari tempat tinggi. Mereka kemudian melihat sebuah bintang, lebih terang dari bintang lainnya, yang membuat mereka terpesona dan membuat mereka memulai perjalanan. Di sini kita melihat kunci untuk menemukan makna kehidupan kita yang sebenarnya: jika kita tetap tertutup dalam batasan sempit hal-hal duniawi, jika kita tercampakkan, kepala tertunduk, tersandera oleh kegagalan dan penyesalan; jika kita haus akan kekayaan dan kenyamanan duniawi – yang ada saat ini dan sirna di esok hari – alih-alih menjadi pencari kehidupan dan cinta, hidup kita perlahan-lahan kehilangan cahayanya. Para Majus yang masih merupakan orang asing dan belum berjumpa Yesus, mengajarkan kita untuk menatap ke tempat tinggi, melayangkan mata ke langit, ke gunung-gunung, yang darinya pertolongan kita akan datang, karena pertolongan kita berasal dari Tuhan (bdk. Mzm 121:1-2).

 

Saudara-saudari, marilah kita melayangkan mata ke langit! Kita perlu mengangkat pandangan kita ke tempat tinggi, agar dapat melihat kenyataan dari tempat tinggi. Kita membutuhkan hal ini dalam perjalanan hidup kita, kita perlu membiarkan diri kita berjalan dalam persahabatan dengan Tuhan, kita membutuhkan kasih-Nya untuk menopang kita, dan cahaya sabda-Nya untuk membimbing kita, seperti bintang di malam hari. Kita perlu memulai perjalanan ini, sehingga iman kita tidak hanya sekadar kumpulan ibadah keagamaan atau sekadar penampilan lahiriah, namun malah menjadi api yang menyala-nyala di dalam diri kita, menjadikan kita pencari wajah Tuhan yang penuh gairah dan saksi-saksi Injil-Nya. Kita membutuhkan hal ini di dalam Gereja, di mana, alih-alih terpecah menjadi beberapa kelompok berdasarkan gagasan kita, kita dipanggil untuk menempatkan kembali Allah sebagai pusat. Kita perlu melepaskan ideologi-ideologi gerejawi agar kita dapat menemukan makna Gereja induk yang kudus, kebiasaan gerejawi. Ideologi gerejawi, tidak; panggilan gerejawi, ya. Tuhan, bukan gagasan atau proyek kitai, harus menjadi pusat. Marilah kita berangkat kembali dari Allah; marilah kita memohon kepada-Nya keberanian untuk tidak putus asa dalam menghadapi kesulitan, kekuatan untuk mengatasi segala rintangan, kegembiraan untuk hidup dalam persekutuan yang rukun.

 

Para Majus tidak hanya memandangi bintang-bintang, benda-benda di tempat tinggi; mereka juga memiliki kaki yang melakukan perjalanan di bumi. Mereka berangkat ke Yerusalem dan bertanya, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2). Satu hal: kaki mereka terhubung dengan kontemplasi. Bintang yang bersinar di langit mengutus mereka untuk melakukan perjalanan keliling dunia. Melayangkan pandangan mereka ke tempat tinggi, mereka dituntun untuk menurunkannya ke dunia ini. Mencari Allah, mereka dituntun untuk menemukannya dalam diri manusia, dalam diri seorang Anak kecil yang terbaring di palungan. Karena di sanalah Allah yang Maha Besar menyatakan diri-Nya: dalam yang kecil, yang tak terhingga kecilnya. Kita memerlukan kebijaksanaan, kita memerlukan pertolongan Roh Kudus, untuk memahami besar kecilnya perwujudan Allah.

 

Saudara-saudari, marilah kita terus melangkahkan kaki kita di muka bumi ini! Karunia iman diberikan kepada kita bukan untuk terus memandang ke langit (bdk. Kis 1:11), namun untuk melakukan perjalanan di sepanjang jalan dunia sebagai saksi Injil. Terang yang menerangi hidup kita, Tuhan Yesus, diberikan kepada kita bukan untuk menghangatkan malam kita, namun untuk membiarkan sinar terang menerobos bayang-bayang gelap yang menyelimuti begitu banyak situasi di masyarakat kita. Kita menemukan Allah yang datang mengunjungi kita, bukan dengan menikmati teori agama yang elegan, namun dengan melakukan perjalanan, mencari tanda-tanda kehadiran-Nya dalam kehidupan sehari-hari, dan yang terpenting dengan berjumpa dan menjamah tubuh saudara-saudari kita. Merenungkan Allah memang indah, namun baru membuahkan hasil jika kita mengambil risiko, risiko pelayanan membawa Allah kepada sesama. Para Majus berangkat mencari Allah, Allah yang agung, dan mereka menemukan seorang anak. Hal ini penting: menemukan Allah dalam daging dan tulang, dalam wajah orang-orang yang kita jumpai setiap hari, dan khususnya dalam diri orang-orang miskin. Para Majus mengajarkan kita bahwa perjumpaan dengan Allah selalu membuka kita pada kenyataan yang lebih besar, yang membuat kita mengubah cara hidup dan mengubah rupa dunia kita. Paus Benediktus XVI mengatakan, “Ketika harapan sejati tidak ada, kebahagiaan dicari dengan mabuk-mabukan, dalam hal-hal yang berlebihan, secara berlebihan, dan kita merusak diri kita dan dunia… Oleh karena itu, kita membutuhkan orang-orang yang membina harapan besar dan dengan demikian memiliki keberanian besar: keberanian para Majus, yang melakukan perjalanan jauh mengikuti sebuah bintang, dan mampu berlutut di hadapan seorang Anak dan memberikan kepada-Nya hadiah-hadiah berharga yang mereka bawa” (Homili, 6 Januari 2008).

 

Yang terakhir, marilah kita juga memikirkan bahwa para Majus memiliki hati yang tertunduk dalam penyembahan. Mereka mengamati bintang di langit, namun mereka tidak berlindung pada pengabdian dunia lain; mereka berangkat, tetapi mereka tidak berkelana seperti wisatawan yang tidak mempunyai tujuan. Mereka datang ke Betlehem, dan ketika mereka melihat anak itu, “mereka sujud menyembah Dia” (Mat 2:11). Kemudian mereka membuka tempat harta benda mereka dan mempersembahkan kepada-Nya emas, dupa dan mur. “Dengan pemberian mistik ini mereka memberitahukan jatidiri orang yang mereka sembah: dengan emas, mereka menyatakan bahwa Ia adalah seorang Raja; dengan dupa, Ia adalah Allah; dengan mur, Ia ditakdirkan untuk mati” (SANTO GREGORY THE GREAT, Hom. X dalam Evangelia, 6). Seorang Raja yang datang untuk melayani kita, seorang Dewa yang menjadi manusia. Di hadapan misteri ini, kita dipanggil untuk menundukkan hati dan bertekuk lutut dalam beribadah: menyembah Tuhan yang datang dalam kekecilan, yang diam di rumah kita, yang mati demi cinta. Tuhan yang, “meskipun dimanifestasikan oleh besarnya langit dan tanda-tanda bintang, memilih untuk ditemukan… di bawah atap yang rendah. Dalam tubuh lemah seorang anak yang baru lahir, dibungkus dengan lampin, dia disembah oleh orang Majus dan menimbulkan ketakutan pada orang jahat” (Santo Agustinus, Khotbah. 200). Saudara-saudari, kita telah kehilangan kebiasaan melakukan penyembahan, kita telah kehilangan kemampuan yang membuat kita memyembah. Marilah kita menemukan kembali selera kita akan doa penyembahan. Marilah kita mengakui Yesus sebagai Allah dan Tuhan kita, serta menyembah Dia. Hari ini para Majus mengundang kita untuk menyembah Dia. Saat ini ada kekurangan penyembahan di antara kita.

 

Saudara-saudari, seperti para Majus, marilah kita melayangkan pandangan kita ke surga, marilah kita berangkat mencari Tuhan, marilah kita menundukkan hati dalam penyembahan. Memandang ke langit, memulai perjalanan dan menyembah-Nya. Dan marilah kita memohon rahmat agar tidak pernah putus asa: keberanian menjadi pencari Allah, manusia pengharapan, pemimpi yang berani menatap langit, keberanian ketekunan dalam perjalanan menyusuri jalan dunia dengan keletihan perjalanan nyata, dan keberanian untuk menyembah, keberanian untuk menatap Tuhan yang mencerahkan setiap manusia. Semoga Tuhan menganugerahkan kita rahmat ini, terutama rahmat untuk mengetahui bagaimana cara menyembah.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Januari 2024)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH (HARI PERDAMAIAN SEDUNIA KE-57) 1 Januari 2024 : KEGENAPAN WAKTU

Bacaan Ekaristi : Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21.

 

Kata-kata Rasul Paulus menerangi permulaan tahun baru: “Setelah genap waktunya, Allah mengutus Putra-Nya yang lahir dari seorang perempuan” (Gal. 4:4). Ungkapan “genap waktunya” sungguh mengejutkan. Pada zaman dulu, merupakan kebiasaan untuk mengukur waktu dengan mengosongkan dan mengisi amphorae: ketika amphorae kosong, periode waktu baru dimulai, yang berakhir ketika amphorae sudah penuh. Inilah kepenuhan waktu: ketika amphora sejarah penuh, rahmat ilahi melimpah: Tuhan menjadi manusia dan melakukannya dalam nama seorang perempuan, Maria. Dia adalah jalan yang dipilih oleh Tuhan; dialah titik kedatangan banyak orang dan generasi yang, “setetes demi setetes”, telah mempersiapkan kedatangan Tuhan ke dunia. Oleh karena itu, Ibu berada di jantung waktu: Tuhan berkenan membuat sejarah berputar melalui dirinya, sang perempuan. Dengan kata ini, Kitab Suci merujuk kita pada asal usul, pada Kejadian, dan menyarankan bahwa Ibu dengan Anak menandai ciptaan baru, permulaan baru. Oleh karena itu, pada awal masa keselamatan ada Bunda Allah yang kudus, Bunda Suci kita.

 

Kata-kata Rasul Paulus menerangi permulaan tahun baru ini: “Setelah genap waktunya, Allah mengutus Putra-Nya yang lahir dari seorang perempuan” (Gal. 4:4). Ungkapan ”genap waktunya” sungguh mengejutkan. Pada zaman dulu, waktu diukur dengan menggunakan jambanganair; berlalunya waktu ditandai dengan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi jambangan kosong. Oleh karena itu makna ungkapan “genap waktunya” : begitu jambangan sejarah terisi, rahmat ilahi pun melimpah. Allah menjadi manusia dan Ia melakukannya melalui seorang perempuan, Maria. Maria adalah sarana yang dipilih Allah, puncak dari garis panjang individu dan generasi tersebut yang “setetes demi setetes” bersiap menyambut kedatangan Tuhan ke dalam dunia. Maka, Bunda Maria berdiri di tengah-tengah misteri waktu. Allah berkenan untuk membalikkan sejarah melalui dia, perempuan itu. Dengan satu kata, “perempuan”, Kitab Suci membawa kita kembali ke permulaan, ke Kitab Kejadian, dan menyadarkan kita bahwa ibu dan anak menandai ciptaan baru, permulaan baru. Jadi, pada awal masa keselamatan, ada Bunda Allah yang kudus, Bunda kita yang kudus.

 

Oleh karena itu, sudah sepantasnya tahun dibuka dengan memohon kepadanya; Sudah sepantasnya umat Allah yang setia memujinya dengan sukacita, sebagaimana pernah dilakukan oleh umat kristiani yang pemberani di Efesus, sebagai Bunda Allah yang kudus. Karena kata-kata ini, Bunda Allah, mengungkapkan kepastian penuh sukacita bahwa Tuhan, seorang Anak mungil dalam gendongan ibu-Nya, telah mempersatukan diri-Nya selamanya dengan kemanusiaan kita, hingga titik di mana kemanusiaan bukan lagi milik kita saja, melainkan milik-Nya juga. Bunda Allah: sebuah ungkapan sederhana yang mengakui perjanjian kekal Tuhan dengan kita. Bunda Allah: sebuah dogma iman, tetapi juga sebuah “dogma harapan”; Allah di dalam manusia, dan manusia di dalam Allah, selamanya. Bunda Allah yang kudus.

 

Setelah genap waktunya, Bapa mengutus Putra-Nya yang lahir dari seorang perempuan. Namun Santo Paulus juga berbicara tentang pengutusan kedua : “Allah telah menyuruh Roh Putra-Nya ke dalam hati kita, yang berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’” (Gal. 4:6). Dalam pengutusan Roh Kudus, Bunda Maria juga memainkan peran sentral : Roh Kudus akan turun atasnya pada saat Kabar Sukacita (bdk. Luk 1:35); kemudian, pada saat kelahiran Gereja, Ia turun atas para rasul yang berkumpul dalam doa “bersama Maria, ibu Yesus” (Kis 1:14). Penerimaan Maria terhadap karya Roh Kudus memberikan kepada kita karunia terbesar: ia “memungkinkan Tuhan Yang Maha Mulia menjadi saudara kita” (Thomas dari Celano, Vita secunda, CL, 198: FF 786), sehingga Roh Kudus dapat berseru dalam hati kita: “Ya Abba, ya Bapa!” Keibuan Maria adalah jalan yang menuntun kita menuju kelembutan kebapaan Allah, jalan yang paling dekat, langsung dan termudah. Inilah “gaya” Allah: kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan. Sesungguhnya Bunda Maria menuntun kita kepada permulaan dan pokok iman, yang bukan sekadar teori atau tugas, melainkan karunia tak terbatas yang menjadikan kita putra dan putri terkasih, tabernakel kasih Bapa. Oleh karena itu, menyambut Bunda Maria ke dalam hidup kita bukanlah soal devosi melainkan syarat iman: “Jika kita ingin menjadi umat Kristiani, kita harus menjadi 'pengikut Maria'” (Santo Paulus VI, Homili di Cagliari, 24 April 1970), yaitu “anak-anak Maria”.

 

Gereja membutuhkan Maria untuk memulihkan wajah perempuannya, semakin sepenuhnya menyerupai perempuan, perawan dan ibu, yang menjadi teladan dan gambaran sempurnanya (bdk. Lumen Gentium, 63), memberi ruang bagi perempuan dan menjadi “generatif” melalui pelayanan pastoral yang ditandai dengan keprihatinan dan kepedulian, kesabaran dan keberanian keibuan. Dunia juga perlu bergantung pada para ibu dan perempuan untuk menemukan kedamaian, keluar dari jalinan kekerasan dan kebencian, serta sekali lagi melihat segala sesuatunya dengan mata dan hati manusiawi. Setiap masyarakat perlu menerima karunia yang dimiliki oleh perempuan, setiap perempuan: menghormati, membela dan menghargai perempuan, dengan kesadaran bahwa siapapun yang menyakiti seorang perempuan yang belum bersuami, berarti mencemarkan nama Allah, yang “lahir dari seorang perempuan”.

 

Sama seperti Maria yang memainkan peran menentukan dalam kegenapan waktu, perempuan juga menentukan kehidupan kita masing-masing, karena tidak ada seorang pun yang mengenal dengan lebih baik daripada seorang ibu mengenal tahap-tahap pertumbuhan dan kebutuhan mendesak anak-anaknya. Maria menunjukkan kepada kita hal ini dalam “permulaan” yang lain: tanda pertama yang dilakukan Yesus, pada pesta perkawinan di Kana. Di sana, dialah yang menyadari bahwa anggur telah habis, dan memohon kepada Yesus (bdk. Yoh 2:3). Kebutuhan anak-anaknya menggerakkan Maria, sang ibu, untuk memohon agar Yesus turun tangan. Di Kana, Yesus berkata, “'Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air'. Mereka pun mengisinya sampai penuh” (Yoh. 2:7). Maria mengetahui kebutuhan kita; ia berdoa agar rahmat melimpah dalam kehidupan kita dan membimbing mereka menuju penggenapan sejati. Saudara-saudara, kita semua mempunyai kekurangan, masa-masa kesepian, kekosongan batin yang menuntut untuk diisi. Kita masing-masing mengetahui hal ini dengan baik. Siapa yang dapat mengisi kekosongan kita kalau bukan Maria, Bunda penggenapan? Kapan pun kita tergoda untuk menarik diri, marilah kita berlari ke arahnya; kapanpun kita tidak mampu lagi melepaskan ikatan dalam hidup kita, marilah kita berlindung padanya. Saat ini, yang kehilangan kedamaian, membutuhkan seorang ibu yang dapat mempersatukan kembali keluarga umat manusia. Marilah kita memandang Maria, untuk menjadi seniman persatuan. Marilah kita melakukan hal ini dengan kreativitas dan kepedulian keibuannya terhadap anak-anaknya. Karena ia mempersatukan dan menghibur mereka; ia mendengarkan kesusahan dan mengeringkan air mata mereka. Dan marilah kita melihat ikon lembut Madonna [dari Biara Montevergine]. Begitulah sikap ibu kita: betapa lembutnya dia menjaga dan mendekatkan kita. Ia peduli pada kita dan tetap dekat dengan kita.

 

Marilah kita mempercayakan tahun yang datang ini kepada Bunda Allah. Marilah kita mempersembahkan hidup kita kepadanya. Dengan cinta yang lembut, ia akan membuka mata kita terhadap kegenapan. Sebab ia akan menuntun kita kepada Yesus, yang adalah “kegenapan waktu”, kegenapan setiap waktu, kegenapan waktu kita, kegenapan setiap kita. Memang benar, sebagaimana pernah ditulis : “Bukan kegenapan waktu yang menyebabkan diutusnya Putra Allah, tetapi diutusnya Putra yang menghasilkan kegenapan waktu” (bdk. Martin Luther, Vorlesung über den Galaterbrief 1516-1517, 18). Saudara-saudari, semoga tahun ini dipenuhi dengan penghiburan Tuhan! Semoga tahun ini dipenuhi dengan kelembutan cinta keibuan Maria, Bunda Allah yang kudus.

 

Sekarang saya mengajak kita semua bersama-sama untuk menyerukan tiga kali : Bunda Allah yang kudus! Bunda Allah yang kudus! Bunda Allah yang kudus!
______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2024)