Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU PRAPASKAH III DI GEREJA SANTA MARIA DELLA PRESENTAZIONE (ROMA) 8 Maret 2026

Bacaan Ekaristi : Kel. 17:3-7; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42.

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya senang berada di antaramu pada Hari Minggu Prapaskah III ini. Hari Minggu Prapaskah III adalah langkah penting dalam mengikuti Yesus, menuju Paskah-Nya yang penuh dengan penderitaan, kematian, dan kebangkitan.

 

Dalam perjalanan ini, kedekatan Allah dan kehidupan iman kita sangat terjalin: dengan memperbarui rahmat baptisan dalam diri kita masing-masing, Allah memanggil kita untuk bertobat, bahkan ketika Ia menyucikan hati kita dengan kasih-Nya dan karya amal kasih yang Ia ajak untuk kita lakukan. Dalam hal ini, perjumpaan Yesus dan perempuan Samaria sangat menyentuh kita. Bacaan Injil hari ini, sesungguhnya, tidak hanya berbicara kepada kita, tetapi juga tentang kita dan membantu kita memikirkan kembali hubungan kita dengan Allah.

 

Rasa haus perempuan Samaria akan hidup dan kasih adalah rasa haus kita: rasa haus Gereja dan seluruh umat manusia, yang terluka oleh dosa tetapi bahkan lebih intim diliputi oleh kerinduan akan Allah. Kita mencari Dia seperti air, bahkan ketika kita tidak menyadarinya, setiap kali kita mempertanyakan makna peristiwa, setiap kali kita merasa betapa kita kekurangan kebaikan yang kita inginkan untuk diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

 

Dalam pencarian ini, kita berjumpa Yesus. Ia sudah ada di sana, di sumur, tempat perempuan Samaria itu menemukan-Nya sendirian, di bawah terik matahari siang, lelah karena perjalanannya. Perempuan itu pergi ke sumur pada jam yang tidak biasa, mungkin untuk menghindari pandangan penuh prasangka dari perempuan-perempuan lain. Yesus membaca dalam hatinya alasan pengucilan ini: pernikahannya yang gagal dan hidupnya saat ini membuatnya tidak layak berada di antara para anak perempuan, istri, dan ibu di desa itu. Namun, Yesus duduk di dekat sumur seolah-olah menunggunya. Perjumpaan yang mengejutkan ini adalah salah satu cara di mana, sebagaimana sering kali diulangi Paus Fransiskus, Kristus mengungkapkan Allah yang penuh kejutan: perjumpaan yang paling indah, perjumpaan yang mengubah hidup, di mana pun orang berjumpa Dia dan bagaimana pun ia menampilkan dirinya di hadapan Tuhan.

 

Yesus mengasihi perempuan Samaria itu seperti tidak ada orang lain sebelumnya. Sementara perempuan itu mencari air setiap hari, Ia ingin memberinya air baru, air hidup, yang mampu memuaskan setiap rasa haus dan menenangkan setiap kegelisahan, karena air ini memancar dari hati Allah, kepenuhan yang tak habis-habisnya dari setiap pengharapan.

 

Prakarsa Yesus ini mengawali pencarian akan kebaikan yang melebihi air itu sendiri: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah," kata Tuhan kepada perempuan itu. Ini bukanlah celaan, melainkan janji: "Aku di sini untuk memperkenalkanmu kepada Allah, yang memberikan diri-Nya kepadamu." Ya, tepatnya untukmu, yang tidak mengenal-Nya, yang menganggap dirimu jauh dan terkutuk. Karunia ini akan mengubahmu: kamu sendiri akan menjadi mata air yang memancar sampai pada hidup yang kekal. Sebagai ganti rasa haus sebelumnya, yang dipenuhi kepahitan dan kekeringan rohani, Putra Allah menawarkan karunia hidup yang diperbarui oleh air yang memancar dari belas kasih Bapa. Segala sesuatu berubah dalam perjumpaan dengan Tuhan: perempuan yang haus menjadi mata air, orang yang terbuang menjadi percaya diri. Perempuan yang dipenuhi rasa malu kini dipenuhi sukacita; ia yang tetap diam di desa menjadi misionaris bagi seluruh penduduknya.

 

Ia tidak pernah membayangkan bahwa ia, yang begitu bingung dan dikalahkan oleh kehidupan, suatu hari akan mencicipi air segar, karunia Allah yang sesungguhnya, dan pada gilirannya menjadi karunia bagi sesamanya. Bagaimana ini bisa terjadi? Melalui perjumpaan dengan Yesus, melalui percakapan dengan-Nya, sabda Allah yang hidup yang menjadi manusia demi keselamatan kita.

 

Narasi Injil dengan cermat menggambarkan perjalanan pertumbuhan perempuan itu, saat ia secara bertahap mengenali ciri khas jatidiri Yesus: manusia, nabi, Mesias, dan Juruselamat. Berdiri di samping-Nya dan menikmati kebersamaan dengan-Nya, perempuan Samaria itu kemudian menjadi sumber kebenaran. Air baru karunia Allah mulai memancar di hatinya, dan ia segera merasa terdorong untuk berlari kembali ke desanya, akhirnya bebas dari rasa malu dan bersemangat untuk memperkenalkan sang Pembebasnya kepada semua orang, Yesuslah yang memungkinkan semua keajaiban itu. Ia berlari kepada orang yang sebelumnya menghukumnya, bahkan ketika Allah telah mengampuninya, dan ia memberitakan, menyatakan, dan memberi kesaksian. Kebutuhan akan air, yang telah mendorongnya ke sumur, kini digantikan oleh keinginan untuk berbagi kebaruan yang luar biasa yang telah mengubahnya.

 

Saudara-saudara terkasih, dengan baptisan, kita semua telah menerima karunia air baru, yang membersihkan setiap dosa dan memuaskan setiap rasa haus. Seperti perempuan Samaria, hari ini dalam Masa Prapaskah kita diberi waktu untuk menemukan kembali karunia sakramen ini, yang, seperti sebuah pintu, memperkenalkan kita pada iman dan kehidupan kristiani. Sebagai Gembala yang baik dan penuh kasih, Tuhan menanti kita dan selalu menyertai kita, di mana pun kita berada dan seperti apa pun kita. Ia dengan penuh belas kasih menyembuhkan luka-luka kita dan menjadi karunia bagi kita, sehingga kita pada gilirannya dapat menjadi karunia bagi saudara-saudari kita.

 

Saya tahu betul komunitas parokimu hidup di wilayah dengan beragam tantangan. Termasuk adanya marginalisasi yang mengkhawatirkan, kemiskinan materi dan moral. Bahkan remaja dan kaum muda berisiko tumbuh dewasa tertipu oleh para pedagang kematian atau kecewa tentang masa depan. Banyak yang menantikan rumah, pekerjaan yang menjamin kehidupan yang bermartabat, lingkungan yang aman di mana mereka dapat berjumpa, bermain, dan merencanakan sesuatu yang indah bersama-sama.

 

Seperti di sumur dalam Bacaan Injil, orang-orang tiba di paroki ini dengan jiwa yang terluka, martabat mereka ternoda, dan haus akan harapan. Kamu bertugas menunjukkan kedekatan Yesus, keinginan-Nya untuk menebus keberadaan kita dari kejahatan yang mengancamnya dengan tawaran untuk kehidupan yang adil, benar, dan memuaskan. Dimulai dari Ekaristi, jantung setiap komunitas kristiani, saya mendorongmu untuk memastikan bahwa kegiatan paroki merupakan tanda Gereja yang — seperti seorang ibu — peduli terhadap anak-anaknya, tanpa menghukum mereka, tetapi lebih menyambut, mendengarkan, dan mendukung mereka dalam menghadapi bahaya. Semoga sabda Injil, yang memancar dalam diri kita sebagai sumber kebenaran, membantu kita masing-masing untuk membuka mata, agar mampu dengan bijaksana menilai apa yang baik dan apa yang jahat, sehingga membentuk hati nurani yang bebas dan dewasa.

 

Saudara-saudari terkasih, majulah dengan penuh keyakinan! Dalam setiap situasi, Allah menyertai dan mendukung kita di sepanjang jalan. Semoga Bunda Maria selalu menyertai langkah-langkah imanmu, dan menganugerahkan kepadamu sukacita menjadi pewarta Injil-Nya yang rendah hati dan berani.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Maret 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.