Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI STADION MALABO, GUINEA KHATULISTIWA 23 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 8:26-40; Mzm. 66:8-9.16-17.20; Yoh. 6:44-51.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya ingin memulai dengan menyampaikan salam hangat kepada Gereja lokal Malabo, beserta gembalanya. Pada saat yang sama, saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh komunitas Keuskupan Agung, para imam, dan anggota keluarga dari Vikaris Jenderal Anda yang baru saja meninggal, Pastor Fortunato Nsue Esono, yang kita kenang dalam perayaan Ekaristi ini.

 

Saya mengajakmu untuk menghayati saat-saat duka ini dengan semangat iman, dan saya percaya bahwa, tanpa terpengaruh oleh spekulasi atau kesimpulan yang terburu-buru, keadaan seputar kematiannya akan sepenuhnya diklarifikasi.

 

Bacaan yang baru saja kita dengar menantang kita untuk bertanya apakah kita benar-benar tahu bagaimana menafsirkan perikop bacaan Kitab Suci hari ini. Pertanyaan ini serius dan penuh berkat, karena mempersiapkan kita untuk membaca bersama buku sejarah, yaitu perikop kehidupan kita sendiri, yang terus diilhami Allah dengan hikmat-Nya.

 

Ketika diakon Filipus mendekati seorang pengembara yang sedang dalam perjalanan pulang dari Yerusalem ke Afrika, ia bertanya, “Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?” (Kis. 8:30). Pengembara itu, seorang kepala perbendaharaan istana Ratu Etiopia, segera menjawab dengan hikmat yang rendah hati, “Bagaimana aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (ayat 31). Pertanyaannya bukan hanya pencarian kebenaran, tetapi juga ungkapan keterbukaan dan keinginan. Marilah kita merefleksikan orang ini: ia kaya, seperti negerinya, namun ia adalah seorang hamba. Kekayaan yang ia kelola bukan miliknya sendiri: semua yang dimilikinya adalah hasil kerjanya, yang bermanfaat bagi orang lain. Ia cerdas dan berbudaya, sebagaimana ditunjukkan dalam pekerjaan dan doanya, tetapi ia tidak sepenuhnya bebas. Kenyataan menyakitkan ini bahkan tercermin pada tubuhnya: ia sebenarnya adalah seorang sida-sida. Ia tidak dapat melahirkan kehidupan; seluruh vitalitasnya diperuntukkan bagi kekuatan yang mengendalikan dan memerintahnya.

 

Namun, ketika ia kembali ke tanah kelahirannya di Afrika, yang baginya telah menjadi tempat perbudakan, pemberitaan Injil membebaskannya. Sabda Allah yang dipegangnya menghasilkan buah yang tak terduga dalam hidupnya. Melalui perjumpaannya dengan Filipus, seorang saksi Kristus yang disalibkan dan bangkit, sida-sida itu berubah dari sekadar pembaca — seorang penonton— Kitab Suci menjadi pelaku utama dalam kisah yang memikatnya, karena sekarang kisah itu menyangkut dirinya secara pribadi. Teks suci berbicara kepadanya, membangkitkan dalam dirinya kerinduan akan kebenaran. Orang Afrika ini pun memasuki Kitab Suci, yang menyambut setiap pembaca yang ingin memahami sabda Allah. Ia melangkah ke dalam sejarah keselamatan, yang merangkul setiap orang, terutama yang tertindas, terpinggirkan, dan paling hina di antara kita. Sabda tertulis kemudian menjadi kenyataan yang dihayati: melalui baptisan, ia bukan lagi orang asing, tetapi menjadi anak Allah, saudara kita dalam iman. Meskipun seorang hamba dan tidak memiliki anak, ia dilahirkan kembali ke dalam kehidupan baru dan bebas dalam nama Tuhan Yesus. Dan kita berbicara tentang keselamatan-Nya hingga hari ini, persis seperti saat kita membaca Kitab Suci ini!

 

Seperti dia, kita pun telah menjadi umat kristiani melalui baptisan, menerima terang yang sama, yaitu iman yang sama yang dengannya kita membaca sabda Allah: merefleksikan nubuat, mendoakan mazmur, mempelajari Hukum dan mewartakan Injil melalui hidup kita. Semua teks Kitab Suci, pada kenyataannya, mengungkapkan makna sebenarnya dalam iman, karena teks-teks itu ditulis dan diturunkan kepada kita melalui iman. Oleh karena itu, membacanya selalu merupakan tindakan pribadi dan gerejawi; bukan sesuatu yang dilakukan secara tersendiri atau hanya secara mekanis.

 

Bersama-sama kita membaca Kitab Suci sebagai warisan bersama Gereja, dibimbing oleh Roh Kudus, yang mengilhami penyusunannya, dan Tradisi Apostolik, yang telah melestarikan dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Seperti sida-sida itu, kita pun dapat memahami sabda Allah dengan bantuan seorang pembimbing yang menemani kita dalam perjalanan iman kita. Demikianlah halnya dengan diakon Filipus, yang “mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya” (ayat 35). Peziarah Afrika itu sedang membaca nubuat yang telah tergenapi baginya, sama seperti yang tergenapi bagi kita hari ini. Hamba yang menderita yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya (bdk. Yes 53:7-8) adalah Yesus, yang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya menebus kita dari dosa dan maut. Ia adalah Sabda yang menjadi daging, di dalam Dia setiap sabda Allah menemukan penggenapannya; Ia mengungkapkan maksud asli, makna penuh, dan tujuan akhirnya.

 

Sebagaimana dikatakan Kristus sendiri, “Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa” (Yoh 6:46). Dalam Putra, Bapa sendiri menyatakan kemuliaan-Nya: Allah menjadikan diri-Nya terlihat, terdengar, dan tersentuh. Melalui tindakan Yesus, Sang Penebus, Ia menggenapi apa yang selalu Ia lakukan: memberikan kehidupan. Ia menciptakan dunia, menyelamatkannya, dan mengasihinya selamanya. Yesus mengingatkan mereka yang mendengarkan Dia tentang tanda akan kepedulian yang terus-menerus ini: “Nenek moyangmu makan manna di padang gurun” (ayat 49). Ia merujuk pada pengalaman Keluaran: perjalanan pembebasan dari perbudakan yang berubah menjadi masa pengembaraan selama empat puluh tahun yang melelahkan. Penundaan ini terjadi karena orang-orang tidak percaya pada janji Tuhan; mereka bahkan tetap merindukan kehidupan di Mesir (bdk. Kel 16:3). Memang, di bawah pemerintahan Firaun, mereka memiliki makanan dari tanah; namun, Allah membawa mereka ke padang gurun, di mana roti hanya dapat diperoleh dari pemeliharaan-Nya. Manna, dengan demikian, adalah tanda, berkat, dan janji yang digenapi melalui kedatangan Yesus. Simbol kuno ini sekarang memberi jalan kepada sakramen perjanjian baru dan kekal: Ekaristi — roti yang dikonsekrasikan oleh Dia yang turun dari surga untuk menjadi makanan kita. Jika mereka yang makan manna mati (bdk. Yoh 6:49), siapa saja yang makan roti ini akan hidup selama-lamanya (bdk. ayat 51), karena Kristus hidup! Ia adalah Yang Bangkit, dan terus memberikan hidup-Nya bagi kita.

 

Melalui Paskah Yesus, keluaran yang definitif, setiap bangsa dibebaskan dari perbudakan kejahatan. Saat kita merayakan misteri keselamatan ini, Tuhan memanggil kita untuk membuat pilihan yang menentukan: “Siapa saja yang percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” (ayat 47). Dalam Yesus, kita diberi prospek yang menakjubkan: Allah memberikan diri-Nya untuk kita. Apakah aku percaya bahwa kasih-Nya lebih kuat daripada kematianku? Dengan memutuskan untuk percaya kepada-Nya, kita masing-masing memilih antara keputusasaan yang tak terhindarkan dan pengharapan yang ditawarkan Allah. Rasa lapar kita akan hidup dan keadilan kemudian dipuaskan oleh perkataan Yesus: “Roti yang akan Kuberikan untuk hidup dunia ialah daging-Ku” (ayat 51).

 

Terima kasih, Tuhan! Kami memuji dan bersyukur kepada-Mu, karena Engkau memilih untuk menjadi Ekaristi bagi kami, roti hidup yang kekal, sehingga kami dapat hidup selama-lamanya. Sahabat-sahabat terkasih, pada saat ini juga, saat kita merayakan sakramen keselamatan ini, kita dapat dengan penuh sukacita menyatakan: Kristus adalah segala-galanya bagi kita! Di dalam Dia kita menemukan kepenuhan hidup dan makna. “Jika kamu tertindas oleh ketidakadilan, Dialah keadilan; jika kamu membutuhkan pertolongan, Dialah kekuatan; jika kamu takut akan kematian, Dialah hidup; jika kamu mendambakan Surga, Dialah jalan; jika kamu berada dalam kegelapan, Dialah terang” (Santo Ambrosius, De Virginitate, 16:99). Masalah kita tidak lenyap di hadapan Tuhan, tetapi diterangi. Sama seperti setiap salib menemukan penebusan dalam Yesus, demikian pula kisah hidup kita menemukan maknanya dalam Injil. Karena itu, hari ini kita masing-masing dapat berkata: “Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dariku” (Mzm. 66:20). Ia selalu mengasihi kita terlebih dahulu. Sabda-Nya adalah Kabar Baik bagi kita, dan kita tidak mempunyai hal yang lebih besar untuk diwartakan kepada dunia. Kita semua dipanggil untuk penginjilan ini sejak saat kita menerima sakramen baptis, sakramen persatuan persaudaraan, air pembersih pengampunan dan sumber pengharapan. Melalui kesaksian kita, pemberitaan keselamatan menjadi nyata dalam tindakan, pelayanan, dan pengampunan — singkatnya, pemberitaan tersebut menjadi Gereja!

 

Sebagaimana diajarkan Paus Fransiskus, “Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 1). Pada saat yang sama, ketika kita ambil bagian dalam sukacita ini, kita juga menjadi semakin sadar akan bahaya “kesedihan dan kecemasan yang lahir dari hati yang puas diri namun tamak, pengejaran akan kesenangan sembrono dan hati nurani yang tumpul. Ketika kehidupan batin kita terbelenggu dalam kepentingan dan kepeduliannya sendiri, tak ada lagi ruang bagi sesama, tak ada tempat bagi si miskin papa. Suara Allah tak lagi didengar dan sukacita kasih-Nya tak lagi dirasakan” (idem, 2). Dalam menghadapi sikap tertutup seperti itu, justru kasih Tuhanlah yang menopang upaya kita, terutama dalam pelayanan keadilan dan solidaritas.

 

Karena alasan ini, saya mendorong kamu semua, sebagai Gereja yang hidup di Guinea Khatulistiwa, untuk melanjutkan perutusan murid-murid pertama Yesus dengan penuh sukacita. Saat kamu membaca Injil bersama-sama, wartakanlah dengan penuh semangat, seperti yang dilakukan diakon Filipus. Dan saat kamu merayakan Ekaristi bersama-sama, berikanlah kesaksian melalui hidupmu tentang iman yang menyelamatkan, agar sabda Allah menjadi ragi yang baik bagi semua orang.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 April 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.