Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA DI BASILIKA KATEDRAL SANTA MARIA DIKANDUNG TANPA NODA, MONGOMO, GUINEA KHATULISTIWA 22 April 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 8:1b-8; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a; Yoh. 6:35-40.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita berkumpul di Basilika Katedral yang megah ini, yang didedikasikan untuk Santa Maria Dikandung Tanpa Noda, Bunda dari Sabda yang menjelma dan Pelindung Guinea Khatulistiwa, untuk mendengarkan sabda Tuhan dan merayakan peringatan bahwa Ia telah meninggalkan kita sebagai sumber dan puncak kehidupan dan perutusan Gereja. Ekaristi benar-benar mengandung setiap kebaikan rohani Gereja: Kristus, Paskah kita, yang memberikan diri-Nya kepada kita, Ia adalah Roti hidup yang memelihara kita. Kehadiran-Nya dalam Ekaristi mengungkapkan kasih Allah yang tak terbatas bagi seluruh keluarga manusia dan cara Ia menjumpai setiap orang bahkan hingga hari ini.

 

Saya senang dapat merayakan bersamamu dan mengucap syukur kepada Allah atas 170 tahun penginjilan di Guinea Khatulistiwa. Sebuah kesempatan yang tepat untuk mengingat semua kebaikan yang telah dilakukan Tuhan, dan pada saat yang sama, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya kepada banyak misionaris, imam diosesan, katekis, dan umat awam yang telah mengabdikan hidup mereka untuk melayani Injil.

 

Mereka telah menangani aspirasi, pertanyaan, dan luka umatmu, dan meneranginya dengan sabda Tuhan, sehingga mereka sendiri menjadi tanda kasih Allah di antaramu. Melalui teladan hidup, mereka telah memainkan peran dalam mewujudkan Kerajaan Allah, tanpa takut menderita karena kesetiaan mereka kepada Kristus.

 

Ini adalah sejarah yang tidak boleh kamu lupakan. Di satu sisi, sejarah ini menghubungkanmu dengan Gereja universal dan apostolik yang telah ada sebelum kamu. Di sisi lain, sejarah ini telah menjadikan kamu pelaku utama pewartaan Injil dan kesaksian iman, menggenapi kata-kata kenabian yang diucapkan oleh Paus Santo Paulus VI di tanah Afrika: “Rakyat Afrika, mulai sekarang, kamu adalah misionaris bagi dirimu sendiri. Gereja Kristus telah tertanam dengan baik dan benar di tanah yang diberkati ini” (Homili pada Penutup Simposium yang diselenggarakan oleh para uskup Afrika, Kampala, Uganda, 31 Juli 1969).

 

Dengan mengingat hal ini, hari ini kamu dipanggil untuk mengikuti jejak para misionaris, gembala, dan umat awam yang telah mendahului kamu. Kamu masing-masing diundang untuk membuat komitmen pribadi yang mencakup seluruh hidupmu, sehingga iman— yang dirayakan dengan penuh sukacita dalam komunitas dan liturgimu — juga dapat memelihara karya amal kasihmu dan rasa tanggung jawab terhadap sesama, untuk membangun kebaikan bersama.

 

Komitmen seperti itu membutuhkan ketekunan; menuntut usaha dan, kadang-kadang, pengurbanan. Namun, juga tanda bahwa kita benar-benar Gereja Kristus. Bahkan, Bacaan Pertama yang kita dengar menceritakan hanya dalam beberapa ayat bagaimana Gereja yang dengan berani dan penuh sukacita mewartakan Injil juga merupakan Gereja yang, justru karena alasan inilah, dapat dianiaya (bdk. Kis. 8:1-8). Namun demikian, Kisah Para Rasul memberitahu kita bahwa, meski umat kristiani terpaksa mengungsi dan tercerai-berai, banyak yang mendekat kepada sabda Tuhan dan dapat melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana orang-orang yang sakit jasmani dan rohani disembuhkan: ini adalah tanda-tanda ajaib kehadiran Allah, yang membawa sukacita besar bagi seluruh kota (bdk. ayat 6-8).

 

Saudara-saudari, bahkan ketika menghadapi situasi pribadi, keluarga, dan sosial yang tidak selalu menguntungkan, kita dapat percaya bahwa Tuhan sedang bekerja, membuat benih baik Kerajaan-Nya tumbuh dengan cara yang tidak kita ketahui, termasuk ketika segala sesuatu di sekitar kita tampak gersang, dan bahkan di saat-saat kegelapan. Dengan keyakinan seperti itu, yang berakar pada kuasa kasih-Nya dan bukan pada jasa kita sendiri, kita dipanggil untuk tetap setia kepada Injil, mewartakannya, menghayatinya sepenuhnya, dan memberi kesaksian tentangnya dengan penuh sukacita. Allah tidak akan gagal memberikan tanda-tanda kehadiran-Nya, dan sebagaimana dikatakan Yesus kepada kita dalam Bacaan Injil yang telah kita dengar, Ia sekali lagi akan menjadi bagi kita “roti kehidupan” yang memuaskan rasa lapar kita (bdk. Yoh 6:35).

 

Lapar akan apa yang kita rasakan? Dan apa yang dirindukan bangsa ini saat ini? Moto yang dipilih untuk kunjungan saya adalah “Kristus, Terang Guinea Khatulistiwa, Menuju Masa Depan yang Penuh Pengharapan.” Mungkin justru inilah rasa lapar terbesar saat ini. Ada rasa lapar akan masa depan yang dipenuhi pengharapan, yang mampu menumbuhkan rasa keadilan baru dan menghasilkan buah perdamaian dan persaudaraan. Ini bukanlah masa depan yang tidak diketahui yang harus kita tunggu secara pasif, melainkan masa depan yang kita sendiri dipanggil untuk membangunnya dengan rahmat Allah. Masa depan Guinea Khatulistiwa bergantung pada pilihanmu; masa depan itu dipercayakan kepada rasa tanggung jawabmu dan komitmen bersamamu untuk menjaga kehidupan dan martabat setiap orang.

 

Oleh karena itu, penting bagi semua orang yang dibaptis untuk merasa bahwa mereka adalah bagian dari karya penginjilan, dan dengan demikian menjadi rasul amal kasih dan saksi bagi kemanusiaan yang baru.

 

Ini adalah soal mengambil bagian, dengan terang dan kekuatan Injil, dalam pembangunan terpadu negeri ini, dalam pembaharuan dan perubahan rupanya. Sang Pencipta telah menganugerahimu kekayaan alam yang besar: Saya mendesakmu untuk bekerja sama agar hal itu menjadi berkat bagi semua orang. Semoga Tuhan membantumu untuk menjadi masyarakat di mana setiap orang, masing-masing sesuai dengan tanggung jawabnya, bekerja semakin penuh untuk melayani kebaikan bersama daripada kepentingan pribadi, menjembatani kesenjangan antara yang beruntung dan yang kurang beruntung. Semoga ada ruang yang lebih besar untuk kebebasan, dan semoga martabat manusia selalu dijaga. Pikiran saya tertuju kepada kaum miskin, keluarga yang mengalami kesulitan dan para tahanan yang sering dipaksa untuk hidup dalam kondisi kebersihan dan sanitasi yang mengkhawatirkan.

 

Saudara-saudari, ada kebutuhan bagi umat kristiani untuk mengambil alih nasib Guinea Khatulistiwa. Karena alasan ini, saya ingin mendorongmu: jangan takut untuk mewartakan Injil dan memberikan kesaksian tentangnya dengan hidupmu! Jadilah pembangun masa depan yang penuh pengharapan, perdamaian, dan rekonsiliasi, melanjutkan karya yang dimulai oleh para misionaris 170 tahun yang lalu.

 

Semoga Bunda Maria yang Tak Bernoda menyertaimu dalam perjalanan ini. Semoga ia menjadi perantaramu dan membantumu menjadi murid Kristus yang murah hati dan penuh sukacita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 22 April 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.