Bacaan
Ekaristi : Keb 13:1–9; Mat 6:24–34.
Saudara-saudari
yang terkasih,
Pada Hari
Doa Sedunia Untuk Kepedulian Terhadap Ciptaan ini, bacaan-bacaan yang dipilih
untuk liturgi hari ini menawarkan dua ajakan kepada kita untuk merenungkan
karya-karya Tuhan — sebuah tugas yang tentu saja tidak sulit dilakukan di
tengah keindahan taman-taman ini.
Kitab
Kebijaksanaan mengajak kita untuk merenungkan keindahan dan kuasa ciptaan, agar
kita dapat menghargai Sang Pencipta (bdk. Keb 13:1–9). Sungguh dangkal jika
kita hanya mengagumi api, angin, derasnya air, atau bintang-bintang di langit,
tanpa mengarahkan pandangan kita kepada Sang Pencipta segala keajaiban itu.
Mazmur 18
mendorong kita menengadah untuk merenungkan langit, yang mewartakan kemuliaan
Allah, serta cakrawala, yang menyatakan karya tangan-Nya. Seluruh ciptaan
berbicara kepada kita tentang keagungan Sang Pencipta, asalkan mata dan hati
kita tetap terbuka terhadap misteri yang sangat agung ini.
Demikian
pula, perikop Injil Matius (bdk. Mat 6:24–34) mengajak kita untuk merenungkan
ciptaan, seraya menegaskan kasih istimewa Tuhan bagi manusia. Saat kita
memandang burung-burung di udara dan bunga bakung di ladang dengan penuh
kekaguman — yang sangat berharga di mata Sang Pencipta — kita pun memahami
betapa besarnya kasih Allah bagi kita. Jika Tuhan tidak lalai menganugerahkan
keindahan yang begitu memukau kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan serta mencukupi
segala kebutuhan mereka, betapa lebih besarnya perhatian-Nya terhadap kebutuhan
anak-anak-Nya yang terkasih!
Petang
ini, seraya kita menerima ajakan untuk berhenti sejenak dan berefleksi di
hadapan karya-karya Allah, kita mengawali "Masa Ciptaan" — suatu masa
selama lima pekan yang dikhususkan untuk doa dan komitmen dalam memelihara
"rumah kita bersama." Oleh karena itu, pada hari ini dan di
pekan-pekan mendatang, marilah kita meluangkan waktu sejenak untuk jeda dari
hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, demi menikmati keselarasan mendalam yang di
dalamnya kita sendiri menjadi bagian. Marilah kita "heningkan"
berbagai kebisingan akibat aktivitas manusia, agar kita dapat mendengar suara
merdu ciptaan, yang melaluinya Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, berbicara
kepada kita.
Tugas
permenungan ini, yang memampukan kita untuk berjumpa dengan Tuhan, merupakan
langkah awal menuju "pertobatan ekologis sejati, di mana dampak perjumpaan
kita dengan Yesus Kristus menjadi nyata dalam hubungan kita dengan dunia di
sekitar kita" (Pesan untuk Hari Doa Sedunia Untuk Kepedulian Terhadap
Ciptaan XI, 1 September 2026).
Dari
permenungan akan ciptaan dan perjumpaan dengan Sang Pencipta, lahirlah
kesadaran akan tempat khusus kita dalam rencana Allah yang mengagumkan, serta
akan tanggung jawab yang kita pikul — baik secara pribadi maupun bersama —
untuk melestarikan keselarasan awal tersebut. Dengan demikian, seraya menyadari
kekurangan dan kegagalan kita, kita dapat memperbarui komitmen untuk memulihkan
hubungan di antara segenap ciptaan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta mereka.
Oleh
karena itu, Pesan untuk Hari Doa Sedunia Untuk Kepedulian Terhadap Ciptaan
tahun ini menggemakan “seruan kenabian untuk ‘menempa pedang menjadi mata
bajak’ (Yes 2:4)… mengubah hal yang merusak menjadi kehidupan.” Belum
terlambat, dan Masa Ciptaan memanggil kita untuk melakukan pertobatan yang
mendalam: “Apa yang selama ini digunakan untuk kehancuran dapat diarahkan
kembali demi kehidupan, demi kepedulian terhadap kaum miskin, pemenuhan
kebutuhan mereka yang lapar, serta pelestarian ciptaan” (idem).
Masa yang
kita awali hari ini akan berakhir pada tanggal 4 Oktober, saat kita merayakan
peringatan delapan abad Transitus Santo Fransiskus dari Asisi. Paus Fransiskus
memperoleh inspirasi khusus darinya dalam menyusun Surat Ensiklik Laudato Si’
dan menghadirkan taman yang menyambut kita hari ini.
Oleh
karena itu, marilah kita bersatu secara rohani dengan Sang Poverello dari Asisi
dan jadikanlah kidung pujiannya sebagai kidung pujian kita:
Terpujilah
Engkau, Tuhanku, bersama semua makhluk-Mu, terutama Tuan Saudara Matahari ...
Terpujilah
Engkau, Tuhanku, karena Saudari Bulan dan bintang-bintang ...
Terpujilah
Engkau, Tuhanku, karena Saudara Angin ...
Terpujilah
Engkau, Tuhanku, karena Saudara Air ...
Terpujilah
Engkau, Tuhanku, karena Saudara Api ...
Terpujilah
Engkau, Tuhanku, karena saudari kami Ibu Pertiwi; dia menyuap dan mengasuh kami
...
Bersama
Santo Fransiskus, marilah kita memperbarui komitmen kita untuk menghayati dan
mengembangkan persaudaraan semesta yang tak terpisahkan dari tugas peduli
terhadap ciptaan.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 2 September 2026)
