Bacaan
Ekaristi : Yeh. 18:25-28; Mzm. 25:4bc-5.6-7.8-9; Flp. 2:1-11; Mat. 21:28-32.
Saudara-saudari,
para peziarah dari Prancis dan dari seluruh penjuru dunia, saat melihat kamu
semua berkumpul di sini pagi ini di rumah Bunda kita, saya melihat wajah Gereja
yang universal. Sebagian dari kamu telah melintasi benua, menempuh perjalanan
jauh, serta membawa sukacita dan beban hidupmu ke gua yang kudus ini. Sungguh
suatu sukacita bisa bersama-sama, sehati dan sekeluarga.
Secara
khusus, saya ingin menyapa para peziarah yang datang dari setiap provinsi dan
keuskupan di Prancis. Hari ini, kamu berdiri di tanah yang terberkati yang
telah menerima rahmat yang berlimpah. Semoga peziarahan ini menyalakan kembali
api iman di rumah dan parokimu. Bawalah penghiburan dari Lourdes bagi sesama,
orang-orang terkasih, dan seluruh rakyat Prancis.
Bacaan
hari Minggu ini menyentuh bagian pokok pesan yang dipercayakan Perawan Maria
kepada Santa Bernadette: panggilan untuk bertobat, yang disampaikan dengan
penuh kelembutan namun mendesak. Dalam Bacaan Injil, Yesus memandang dengan
penuh kebenaran dan kesedihan mendalam hati yang tetap tertutup: "kamu
tidak menyesal" (Mat 21:32). Mengapa hal ini melukai hati Kristus? Karena
Allah tidak menghendaki anak-anak-Nya binasa. Nabi Yehezkiel mengingatkan kita,
"Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan, ia
akan mati karenanya." Namun, karena "ia insaf dan bertobat dari
segala pelanggaran yang dilakukannya, maka ia pasti akan hidup, ia tidak akan
mati" (Yeh 18:26,28). Inilah sebabnya mengapa panggilan untuk bertobat terus
bergema dalam Kitab Suci dan pewartaan Injil sepanjang zaman. Keseriusan
panggilan ini mengingatkan kita akan kemendesakan dan keharusan pertobatan.
Hari ini — bukan besok— saatnya kita harus bertobat. Sesungguhnya, sekaranglah
waktu perkenanan itu, sekaranglah hari penyelamatan itu (bdk. 2Kor 6:2). Allah
menghendaki kita hidup, membuka mata dan kembali kepada-Nya. Bertobat berarti
meninggalkan jalan yang membuat kita tersesat dan mengikuti jalan kehidupan,
serta membuka hati kita bagi satu-satunya sukacita yang tak pernah sirna.
Yesus
sendiri berbicara secara lugas saat memanggil kita untuk bertobat. Sebagaimana
dikisahkan oleh Santo Lukas, "Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan
binasa" (Luk 13:5). Namun, Ia juga memperluas cakrawala pandang kita,
melampaui kehidupan duniawi ini menuju cakrawala kehidupan kekal. Sebab,
sementara kebahagiaan di dunia ini bersifat sementara dan relatif — dan
sayangnya terkadang sulit digapai oleh sebagian orang — kebahagiaan sejati
dijanjikan kepada setiap orang dalam pengharapan; inilah yang patut kita cari
melebihi segalanya, dalam segala usaha dan pilihan kita. Bukankah Perawan Maria
pernah berkata kepada Santa Bernadette, "Bukankah aku tidak menjanjikan
akan membuatmu bahagia di dunia ini, melainkan di dunia yang akan datang?”
Janji
yang diucapkan di tempat ini memiliki makna khusus di negeri Prancis ini, dan
menantang cara kita berpikir saat ini. Di tengah zaman dan masyarakat yang
mengejar kemajuan serta kesejahteraan materi — namun terkadang melupakan
cakrawala kekekalan — Maria hadir untuk mengingatkan kita akan keagungan dan
kekayaan panggilan hidup kita, yakni panggilan menuju hidup kekal. Menghadapi
kecenderungan masa kini yang berupaya mendefinisikan ulang nilai kehidupan
manusia dalam kondisi sakit, penderitaan, dan usia lanjut, Gua Massabielle
berdiri sebagai tempat pengharapan umat kristiani. Di sini, tak seorang pun
ditolak karena kelemahan fisiknya. Tongkat penyangga, kursi roda, dan air mata
yang tersembunyi bukan penghalang; justru di tempat inilah kamu sepenuhnya
dihormati dan disambut, serta dapat mengalami perjumpaan yang mengubah hidup
dengan kasih Allah yang tak terbatas. Lourdes diberkati sebagai tempat untuk
mengakui keindahan dan kesucian hidup, karena di sini kehidupan disambut
sebagai anugerah berharga dari Allah dan dipanggil untuk berkembang selamanya
dalam kasih Bapa.
“Aku
berjanji kepadamu!” Sungguh, hidup kekal adalah janji yang teguh dan pasti yang
diberikan Tuhan kepada kita. Ia telah memenangkannya bagi kita melalui
wafat-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya, dan melalui rahmat pembaptisan, Ia
mewujudkannya dalam diri kita setiap hari. Hidup kekal itu berada dalam
jangkauan kita, namun kita harus menyambutnya dengan bebas, merangkulnya, dan
tidak menghalanginya. Sebab penghalang bagi rahmat dan hidup kekal —
satu-satunya penghalang bagi kasih ini — adalah dosa, yang membuat kita
berpaling pada diri sendiri, menolak Allah, dan mengurung diri dalam kegelapan
kita. Oleh karena itu, tanggung jawab pribadi kita memegang peranan penting,
dan sungguh besar tanggung jawab tersebut. Allah telah menciptakan kita sebagai
makhluk yang bebas, karena kebebasan itu perlu bagi kasih; tak seorang pun
dapat dipaksa untuk mengasihi. Maka, kita harus menggunakan kebebasan kita
untuk berkata "ya" kepada Kristus, dengan mengandalkan rahmat-Nya,
seperti yang dilakukan Maria. Ini adalah jawaban "ya" yang kita
perbarui hingga embusan napas terakhir — "sekarang dan pada waktu kami
mati" — seperti yang kita ucapkan dalam doa Salam Maria.
Kita juga
mendengar seruan mendesak untuk bertobat dalam kata-kata yang diucapkan Maria
tepat di sini: "Bertobatlah! Bertobatlah! Bertobatlah!" Ia mengulangi
kata itu tiga kali. Dan ia meminta Bernadette untuk melakukan tindakan
pertobatan tertentu. Mengapa? Apakah kita lamban untuk mengerti? Apakah kita
terlalu mudah menganggap diri kita bebas dari dosa? Apakah kita kurang
melakukan pertobatan? Sang Perawan meminta kita untuk bertobat bukan hanya demi
diri kita sendiri — karena kita pun membutuhkannya — melainkan juga "bagi
orang-orang berdosa," bagi dunia yang sedang tersesat. Bagaimana mungkin
hati kita tidak tergerak oleh berbagai konflik yang menyebar dan menghancurkan
begitu banyak nyawa tak berdosa? Padahal, kejahatan di zaman kita ini bersumber
dari hati manusia. Allah tidak bertanggung jawab atas hal itu. Sebagaimana Ia
berfirman kepada bangsa Israel: "Apakah tindakan-Ku yang tidak tepat
ataukah tindakanmu yang tidak tepat?" (Yeh 18:25). Oleh karena itu, hati
manusialah yang harus berubah, dimulai dari hati kita sendiri.
Pertobatan
adalah tindakan kasih yang dilakukan dalam semangat solidaritas dengan keluarga
umat manusia. Pertobatan adalah tindakan kasih kepada Allah, karena kita ingin
memulihkan luka yang ditimbulkan oleh dosa-dosa kita pada hati-Nya. Ini juga
merupakan tindakan kasih bagi saudara-saudari kita yang tidak mengindahkan
seruan pertobatan ini, dan yang dosa-dosanya membawa mereka menuju kematian.
Seruan pertobatan ini juga menyangkut Gereja itu sendiri dalam perjalanannya di
dunia ini. Gereja harus memiliki keberanian untuk memulai dari dirinya sendiri.
Demi menyembuhkan luka yang dalam, ketidaksetiaan, dan kesalahan menyakitkan
yang telah terjadi di dalamnya, kita harus dengan rendah hati menempatkan diri
di bawah tatapan Tuhan yang memurnikan. Menyadari kesalahan sendiri adalah hal
yang penting bagi pertumbuhan rohani kita. Sebagaimana ditulis Santo Agustinus:
"Janganlah merasa puas dengan keadaanmu saat ini, jika engkau ingin
menjadi sosok yang belum engkau capai" (Pembedaan Roh 169, 15, 18).
Pengingat
dari Bunda kita mengenai kewajiban untuk berdoa dan bertobat memberikan kita
pengharapan yang besar, karena ia menunjukkan bahwa cara untuk mengubah keadaan
adalah dengan menyatukan diri kita pada sengsara Kristus. Sahabat-sahabat yang
sedang sakit, kebanyakan dari kamu di Lourdes ini akrab dengan penderitaan.
Kamu dapat menjalani cobaan dan penderitaan dengan semangat persembahan, dan
dengan demikian ambil bagian dalam karya penebusan yang sangat dibutuhkan
dunia. Dengan cara ini, kamu sungguh berada di hati Gereja, dan peranmu tak
tergantikan.
Para
peziarah, saudara-saudari, kamu tidak akan meninggalkan Lourdes dengan keadaan
yang sama seperti saat kamu tiba. Kamu akan pergi sebagai pewarta pengharapan.
Sungguh, mukjizat Lourdes adalah kemampuannya membangkitkan sukacita
pengharapan di tengah penderitaan dan kesulitan. Perawan Maria memulihkan cara
pandang kita dan mengubah hati kita, serta menganugerahkan kedamaian. Di
negara, keuskupan, dan keluargamu, jadilah saksi hidup bagi kekuatan dan
kelembutan ilahi ini, yang membantu kita untuk terus melangkah menuju tujuan
kita. Dengan dikuatkan oleh doa orang-orang sakit dan kasih Bunda kita,
melangkahlah dengan penuh keyakinan menuju masa depan. Janganlah takut akan
badai dunia, sebab Santa Bunda Allah senantiasa menjaga perjalananmu; ia
melindungi Gereja di bawah naungan kasihnya yang lembut dan, sebagai Bintang
Fajar yang bercahaya, ia menuntun langkahmu, agar dengan sukacita ia dapat
membawamu pada kelahiran baru dalam kehidupan Putra-Nya, Yesus. Amin.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 27 September 2026)

.jpeg)
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.