Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA VIGILI PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA DI BASILIKA TEMPAT ZIARAH BUNDA PENASIHAT YANG BAIK, GENAZZANO (ITALIA) 7 September 2026

Bacaan Ekaristi : Mi. 5:1-4a; Mzm. 13:6ab.6cd; Mat. 1:18-23.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Sebagaimana mungkin kamu ingat, "pada hari-hari awal masa kepausan, saya merasakan kewajiban dan hasrat yang mendalam untuk datang ke Genazzano, ke tempat ziarah Bunda Penasihat yang Baik, yang sepanjang hidup saya telah mendampingi saya dengan kehadiran keibuan, kebijaksanaan, serta teladan kasihnya kepada Sang Putra, yang senantiasa menjadi pusat iman saya" (Dedikasi dalam buku tamu Tempat Ziarah Bunda Penasihat yang Baik, 10 Mei 2025).

 

Dengan sukacita saya hadir kembali di sini untuk merayakan bersamamu Vigili Kelahiran Santa Perawan Maria dan mempercayakan kepada Kanak Maria apa yang kini sedang lahir dalam kemanusiaan yang papa namun agung ini: sesuatu yang rapuh bagaikan tunas, namun merupakan tanda kesetiaan Allah. Ya, Maria adalah fajar bagi hari yang baru, bagi dunia kita yang akhirnya dibebaskan dari kejahatan. Dan kita berada di sini, di sampingnya, di sekeliling altar tempat keselamatan datang kepada kita dan mengubah rupa kita — anak-anak di dalam Sang Putra. Marilah kita memohon nasihatnya yang bijak agar kita dapat menyambut sang Sabda ilahi, menyimpannya di dalam hati, serta melahirkannya melalui keputusan-keputusan yang berani dan bijaksana — keputusan pertobatan yang otentik.

 

Sahabat-sahabat terkasih, di tempat yang memiliki jejak sejarah kehadiran tarekat Agustinian ini, saya ingin kembali merenungkan perikop Kitab Suci yang baru saja kita dengarkan. Saya akan melakukannya dengan bimbingan Santo Thomas dari Villanova, seorang biarawan dan uskup Agustinian yang — seraya membaktikan hidupnya untuk melayani kaum miskin — mendalami kebenaran iman secara mendalam. Ia mampu melihat paradoks antara kerendahan Maria — atau boleh dikatakan, posisi Maria yang tampak terpinggirkan — dengan peran sentral yang dimainkannya dalam karya keselamatan.

 

Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: apa makna kelahiran seorang anak perempuan pada zaman Yoakim dan Ana? Santo Thomas merefleksikan, "Saya sering merefleksikan — tulisnya — dan bertanya-tanya mengapa para penginjil, yang berbicara begitu panjang lebar tentang Santo Yohanes Pembaptis dan para rasul, justru menceritakan kisah Perawan Maria — yang mengatasi semua orang dengan sejarah dan sosok pribadinya — dengan cara yang begitu singkat. Mengapa, saya bertanya-tanya, hal-hal seperti cara ia dikandung, dilahirkan, bertumbuh, serta kebiasaan-kebiasaan, kebajikan-kebajikan yang menghiasi dirinya, hubungan manusiawi yang ia jalin dengan Putranya, bagaimana ia berinteraksi dengan Yesus, juga bagaimana ia hidup bersama para rasul setelah kenaikan Yesus ke surga, tidak digambarkan kepada kita? Semua hal ini penting; umat beriman pasti akan membacanya dengan penuh devosi yang istimewa, dan hal-hal itu pasti akan menyenangkan hati banyak orang. Ya, para penginjil, kepadamulah saya berbicara! Mengapa kamu merampas sukacita yang begitu besar dari kami dengan sikap diammu? Mengapa kamu melewatkan rincian-rincian yang begitu menggembirakan, begitu dinanti-nantikan, dan begitu menyenangkan?" (Karya Lengkap VII, 266,8).

 

Dalam kata-kata ini, kita menemukan sebuah anjuran penting bagi iman kita: mengajukan pertanyaan kepada Kitab Suci dan para penulisnya, berdiskusi dengan teks dan berdialog dengan para saksi pewahyuan, layaknya dengan para sahabat. Sesungguhnya, kita adalah "kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah" (Ef 2:19), dan dari Maria sendiri kita belajar tentang kecerdasan yang bercakap-cakap dengan Allah, yang mengajukan pertanyaan (bdk. Luk 1:34), serta menafsirkan peristiwa-peristiwa dengan cara menyimpannya dan merenungkannya di dalam hati (bdk. Luk 2:19,51).

 

Akan tetapi, Bacaan Injil menurut Matius tampaknya membenarkan pandangan Santo Thomas dari Villanova melalui sikap diamnya. Kita telah mendengarnya: Bacaan Injil mencatat kehadiran Maria, namun tidak memuat satu kata pun yang diucapkannya. Kendati demikian, keberadaan Maria yang bersahaja — beserta Sang Putra di dalam rahimnya — menggerakkan seluruh sejarah: sejarah Yusuf dan seluruh rumah tangganya. Kehadiran Maria seolah memicu sebuah lompatan dalam silsilah, menghadirkan sesuatu yang baru dan tak terduga, yang mampu mengubah tidak hanya harapan, tetapi juga perilaku seorang pria yang sebelumnya dapat diprediksi.

 

Apa yang didengar, diputuskan, dan dilakukan Yusuf pada hakikatnya merupakan tanggapan terhadap Allah dan kehadiran Maria — terhadap keunikan mutlak Maria yang melampaui segala wacana atau narasi apa pun. Di dalam diri Maria, keselamatan menemukan tempatnya: Allah beserta kita!

 

Santo Thomas juga menulis, "Nah, terkait refleksi saya yang telah saya sebutkan tadi — mengenai mengapa tidak ada buku yang ditulis khusus tentang peristiwa-peristiwa kehidupan Sang Perawan, sebagaimana dilakukan terhadap peristiwa-peristiwa hidup Paulus, […] satu-satunya alasan yang terpikir oleh saya adalah karena demikianlah kehendak Roh Kudus; atas dorongan-Nya, para penulis Injil tidak banyak mengisahkan tentang Maria. Alasannya sederhana: kemuliaan Sang Perawan — sebagaimana kita baca dalam Mazmur — sepenuhnya berada di dalam batinnya (bdk. Mzm 44:14 Vulgata), sehingga lebih dapat dibayangkan daripada dilukiskan dengan kata-kata. Selain itu, sebagai ringkasan riwayat hidupnya, cukuplah ungkapan yang tercantum dalam gelar ini: bahwa Yesus lahir dari dia. Apa lagi yang ingin kamu ketahui? Apa lagi yang kamu cari pada diri Sang Perawan? Cukuplah kamu mengetahui bahwa ia adalah Bunda Allah" (Karya Lengkap VII, 266,8).

 

Saudara-saudari terkasih, kita merasa seolah-olah mengalami vertigo di hadapan misteri ini: sungguh mustahil untuk sekadar terbiasa dengannya! Kita merayakan kelahiran seorang gadis yang dipanggil untuk menjadi Bunda bagi Sang Penciptanya, Bunda bagi Allah yang menyelamatkan. Namun, yang lahir hanyalah seorang gadis biasa, sama seperti anak-anak perempuan dan cucu-cucu perempuan yang kita timang.

Dewasa ini kita menyematkan gelar-gelar mulia dan agung baginya — sebagai Bunda dan Ratu — namun cara Allah senantiasa lebih sederhana dan hening, kendati sama sekali tidak mengurangi kuasanya dalam membawa perubahan. Itulah jalan Yesus sendiri, "yang sulung di antara banyak saudara" (Rm 8:29).

 

Maka, seperti Maria, kita pun "ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya" (Rm 8:29): tentu saja melalui rahmat, namun juga dengan hasrat dan pilihan untuk mengutamakan jalan, pilihan, dan langkah-Nya ketimbang jalan-jalan lain. Di dalam diri Yesus Kristus, Allah memilih situasi sejarah yang paling bersahaja serta makhluk yang paling rendah hati untuk menyatakan keunikan Kerajaan-Nya; sebuah Kerajaan di mana kesombongan tidak mendapat tempat, dan mahakuasa berarti penciptaan, pelayanan, serta pemeliharaan kehidupan.

 

Santo Thomas dari Villanova kemudian menambahkan, "Biarkan imajinasimu mengembara bebas, perluaslah batas-batas pemahaman, dan lukiskanlah di lubuk jiwamu sosok perempuan muda yang paling murni, bijaksana, indah, saleh, rendah hati, lembut, penuh rahmat, kaya akan kekudusan, dihiasi dengan segala kebajikan, diperindah oleh segala karunia, dan sungguh berkenan di hati Allah; agungkanlah dia semampu yang kamu bisa, bayangkanlah sebanyak yang kamu mampu" {Karya Lengkap VII, 266,8).

 

Santo Thomas mengajak kita melakukan latihan imajinasi yang luar biasa ini. Dan ia mengamati, "Roh Kudus tidak melukiskan sosoknya dalam tulisan, melainkan menantikanmu untuk melukiskan sosoknya di dalam batinmu" (Karya Lengkap VII, 266,9).

 

Saudara-saudari terkasih, memang demikianlah adanya: dalam doa kontemplatif, hal-hal yang tidak disampaikan oleh dunia — namun sebenarnya sudah ada — mulai terbentuk; hal-hal yang masih tak terlihat, namun menyimpan kekuatan jenis baru di dalamnya. Ini bukanlah soal fantasi, melainkan soal nubuat. Kita membutuhkannya — di tengah masa kehancuran dan ketidakpastian — untuk melihat karya Allah dan melayaninya.

 

Nabi Mikha, di kota kecil Betlehem, menangkap isyarat akan bangkitnya seorang Raja damai; berkat Dia, kita akhirnya dapat hidup tenteram di negeri ini (bdk. Mi 5:1-4). Dan hari ini, dalam doa pembuka, seraya menyapa Maria yang masih kecil, kita memohon agar "perayaan kelahirannya menumbuhkan damai sejahtera di dalam diri kita."

 

Ya, sahabat-sahabat terkasih, kita ingin membayangkan damai sejahtera — memperluas cakrawala pemahaman dan melukiskannya di dalam jiwa kita — untuk menyadari bahwa damai sejahtera itu sudah ada, serta menyambut dan melayaninya. Damai sejahtera adalah anugerah Allah, embusan napas Yesus yang bangkit, dan karya Roh Kudus.

 

Biarlah damai sejahtera tumbuh di dalam diri kita. Damai sejahtera itu akan bertunas di dunia. Dan Bunda Penasihat yang Baik akan mendampingi kita dalam perutusan ini.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 September 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.