Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXXIII (HARI ORANG MISKIN SEDUNIA VII) 19 November 2023 : PERJALANAN YESUS DAN PERJALANAN HIDUP KITA

Bacaan Ekaristi : Ams. 31:10-13,19-20,30-31; Mzm. 128:1-2,3,4-5; 1Tes. 5:1-6; Mat. 25:14-30.


Tiga orang mendapati diri mereka diberi sejumlah besar uang, berkat kemurahan hati majikan mereka, yang akan bepergian melakukan perjalanan jauh. Sang tuan akan kembali suatu hari nanti dan memanggil para hambanya itu, percaya bahwa ia akan bersukacita bersama mereka atas upaya mereka telah melipatgandakan hartanya dan menghasilkan buah. Perumpamaan yang baru saja kita dengarkan (bdk. Mat 25:14-30) mengajak kita untuk merenungkan dua perjalanan : perjalanan Yesus dan perjalanan hidup kita.

 

Perjalanan Yesus. Pada awal perumpamaan ini, Tuhan berbicara tentang “seorang yang mau bepergian. Ia memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka” (ayat 14). “Perjalanan” ini mengingatkan kita pada perjalanan Kristus sendiri, dalam penjelmaan, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga. Kristus, yang turun dari Bapa untuk tinggal di antara kita, melalui kematian-Nya menghancurkan kematian dan setelah bangkit dari kematian, kembali kepada Bapa. Maka, pada akhir perutusan-Nya di bumi, Yesus melakukan “perjalanan pulang” kepada Bapa. Tetapi sebelum berangkat, Ia meninggalkan kita harta-Nya, sebuah “modal” yang sesungguhnya. Ia meninggalkan kita diri-Nya dalam Ekaristi. Ia meninggalkan kita sabda kehidupan-Nya, Ia memberi kita Bunda-Nya yang kudus untuk menjadi Bunda kita, dan Ia membagikan karunia-karunia Roh Kudus agar kita dapat melanjutkan karya-Nya di bumi. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa “talenta-talenta” ini diberikan “menurut kesanggupan masing-masing” (ayat 15) dan dengan demikian untuk perutusan pribadi yang dipercayakan Tuhan kepada kita dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam masyarakat dan Gereja. Rasul Paulus mengatakan hal yang sama : “Tetapi, kepada kita masing-masing telah diberikan anugerah menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya dikatakan, 'Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia'” (Ef. 4:7-8).

 

Marilah kita melihat sekali lagi kepada Yesus, yang menerima segala sesuatu dari tangan Bapa, tetapi tidak menyimpan harta ini untuk diri-Nya sendiri : “Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (Fil 2:6-7). Ia mengenakan kemanusiaan kita yang lemah. Sebagai orang Samaria yang baik hati, Ia menuangkan minyak ke atas luka kita. Ia menjadi miskin supaya kita menjadi kaya (2Kor. 8:9), dan ditinggikan di kayu salib. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita' (2 Kor 5:21). Karena kita. Yesus hidup untuk kita, karena kita. Itulah tujuan perjalanan-Nya di dunia, sebelum kembali kepada Bapa.

 

Perumpamaan hari ini juga memberitahu kita bahwa “lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka” (Mat 25:19). Perjalanan pertama Yesus menuju Bapa akan diikuti oleh perjalanan lainnya, di akhir zaman, ketika Ia akan kembali dalam kemuliaan dan menemui kita sekali lagi, untuk “mengadakan perhitungan” sejarah dan membawa kita ke dalam sukacita kehidupan kekal. Maka kita perlu bertanya pada diri kita sendiri : Dalam keadaan apa Tuhan akan mendapati kita ketika Ia datang kembali? Bagaimana aku akan menghadap-Nya pada waktu yang ditentukan?

 

Pertanyaan ini membawa kita pada permenungan kedua: perjalanan hidup kita. Jalan mana yang akan kita ambil dalam hidup kita: jalan Yesus, yang hidup-Nya sungguh merupakan karunia, atau jalan keegoisan? Jalan dengan tangan terbuka memberi kepada orang lain, memberikan diri kita, atau tangan tertutup agar kita punya lebih banyak harta benda dan hanya peduli pada diri kita sendiri? Perumpamaan tersebut memberitahu kita bahwa, menurut kesanggupan dan kemungkinan, kita masing-masing telah menerima “talenta” tertentu. Agar kita tidak disesatkan oleh istilah umum, kita perlu menyadari bahwa “talenta” itu bukan merupakan kesanggupan kita, melainkan sebagaimana telah kita katakan, karunia Tuhan yang ditinggalkan Kristus kepada kita ketika Ia kembali kepada Bapa. Bersama dengan karunia tersebut, Ia telah memberikan kepada kita Roh-Nya, yang di dalamnya kita menjadi anak-anak Allah dan berkat Roh itulah kita dapat menghabiskan hidup kita dengan memberikan kesaksian tentang Injil dan bekerja demi kedatangan kerajaan Allah. “Modal” yang sangat besar yang kita simpan adalah kasih Tuhan, landasan hidup dan sumber kekuatan kita dalam perjalanan kita.

 

Akibatnya, kita harus bertanya pada diri kita : Apa yang kulakukan dengan “talenta” ini dalam perjalanan hidupku? Perumpamaan tersebut menceritakan kepada kita bahwa dua hamba yang pertama melipatgandakan nilai pemberian yang telah mereka terima, sedangkan hamba yang ketiga, bukannya mempercayai tuannya yang telah memberinya talenta, malahan menjadi takut, dilumpuhkan oleh rasa takut. Menolak mengambil risiko, tidak mempertaruhkan diri, ia akhirnya mengubur talentanya. Hal ini juga berlaku bagi kita. Kita bisa melipatgandakan harta yang telah diberikan kepada kita, dan menjadikan hidup kita sebagai persembahan kasih demi sesama. Atau kita bisa menjalani kehidupan kita yang dihalangi oleh gambaran palsu tentang Allah, dan karena takut mengubur harta yang kita terima, hanya memikirkan diri kita, tidak peduli pada apa pun kecuali kenyamanan dan kepentingan kita, tetap tidak berkomitmen dan tidak terlibat. Pertanyaannya sangat jelas: dua hamba pertama mengambil risiko melalui transaksi mereka. Dan pertanyaan yang harus kita ajukan adalah : “Apakah aku mengambil risiko dalam hidupku? Apakah aku mengambil risiko melalui kekuatan imanku? Sebagai seorang kristiani, apakah aku tahu cara mengambil risiko atau apakah aku menutup diri karena takut atau pengecut?


Saudara-saudari, pada Hari Orang Miskin Sedunia ini perumpamaan tentang talenta merupakan sebuah panggilan untuk menelaah semangat kita dalam menghadapi perjalanan hidup kita. Kita telah menerima dari Tuhan karunia kasih-Nya dan kita dipanggil untuk menjadi karunia bagi orang lain. Kasih Yesus yang merawat kita, balsem belas kasihan-Nya, kasih sayang-Nya yang merawat luka-luka kita, nyala Roh yang memenuhi hati kita dengan sukacita dan harapan – semua ini adalah harta yang tidak bisa kita simpan begitu saja untuk diri kita, digunakan untuk tujuan kita sendiri atau dikubur di bawah tanah. Dicurahi dengan karunia, pada gilirannya kita dipanggil untuk menjadikan diri kita karunia. Kita yang sudah menerima banyak karunia harus menjadikan diri kita sebagai karunia bagi orang lain. Gambaran yang digunakan dalam perumpamaan ini sangat jelas: jika kita tidak menyebarkan kasih ke sekeliling kita, hidup kita akan tenggelam dalam kegelapan; jika kita tidak memanfaatkan talenta yang kita terima dengan baik, hidup kita akan terkubur di dalam tanah, seolah-olah kita sudah mati (bdk. ayat 25.30). Saudara-saudara, begitu banyak umat kristiani yang “terkubur di bawah tanah”! Banyak umat kristiani yang menghayati iman mereka seolah-olah mereka hidup di bawah tanah!

 

Maka marilah kita berpikir tentang semua bentuk kemiskinan material, budaya dan spiritual yang ada di dunia kita, tentang penderitaan besar yang terjadi di kota-kota kita, tentang orang-orang miskin yang terlupakan yang jeritan penderitaannya tidak terdengar dalam ketidakpedulian pada umumnya dari masyarakat yang sibuk dan terbagi-bagi perhatiannya. Ketika kita berpikir tentang kemiskinan, kita tidak boleh melupakan keleluasaannya: kemiskinan bersifat tersendiri; kemiskinan menyembunyikan dirinya. Kita harus berani pergi dan mencarinya. Marilah kita memikirkan mereka yang tertindas, letih atau terpinggirkan, para korban perang dan mereka yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka dengan mempertaruhkan nyawa, mereka yang kelaparan dan mereka yang tidak memiliki pekerjaan dan tanpa harapan. Begitu banyak kemiskinan setiap hari: bukan hanya satu, dua, atau tiga, melainkan banyak sekali. Jumlah penduduk miskin sangat banyak. Ketika kita memikirkan betapa banyaknya orang miskin di tengah-tengah kita, pesan Bacaan Injil hari ini jelas: janganlah kita menguburkan harta Tuhan! Marilah kita menebarkan harta amal kasih, berbagi roti dan memperbanyak kasih kita! Kemiskinan adalah sebuah skandal. Ketika Tuhan datang kembali, Ia akan melakukan perhitungan dengan kita dan – seperti kata-kata Santo Ambrosius – Ia akan berkata kepada kita: “Mengapa kamu membiarkan begitu banyak orang miskin mati kelaparan padahal kamu memiliki emas untuk membeli makanan bagi mereka? Mengapa begitu banyak budak yang dijual dan dianiaya oleh musuh, tanpa ada yang berusaha menebusnya?” (De Officiis: PL 16, 148-149).

 

Marilah kita berdoa agar kita masing-masing, sesuai dengan karunia yang kita terima dan perutusan yang dipercayakan kepada kita, dapat berusaha “membuat amal kasih membuahkan hasil” dan mendekatkan diri kepada orang miskin. Marilah kita berdoa agar di akhir perjalanan kita, setelah menyambut Kristus dalam diri saudara-saudari kita yang dengan mereka Ia menyatakan diri-Nya (bdk. Mat 25:40), kita juga dapat mendengarnya dikatakan kepada kita: “Bagus, hai hambaku yang baik dan setia ... Masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:21).

______

(Peter Suriadi - Bogor, 20 November 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN DI PEMAKAMAN PERANG, ROMA, 2 November 2023 : KENANGAN DAN HARAPAN

Bacaan Ekaristi : 2Mak. 12:43-46; Mzm. 143:1-2,5-6,7ab,8ab.10; 1Kor. 15:20-24a.25-28; Yoh. 6:37-40.

 

Perayaan seperti hari ini membawa kita kepada dua pemikiran : kenangan dan harapan.

 

Kenangan akan orang-orang yang telah mendahului kita, yang menghabiskan kehidupan mereka, yang telah mengakhiri kehidupan ini; kenangan akan begitu banyak orang yang telah berbuat baik kepada kita : di dalam keluarga, di antara teman-teman ... Dan juga kenangan akan orang-orang yang tidak berbuat banyak kebaikan, tetapi diterima dalam kenangan Allah, dalam kemurahan Allah. Sebuah misteri kemurahan Tuhan yang besar.

 

Dan kemudian, harapan. Hari ini adalah kenangan untuk melihat ke depan, untuk melihat jalan kita, jalur kita. Kita sedang berjalan menuju perjumpaan dengan Tuhan dan dengan semua orang. Dan kita harus memohonkan kepada Tuhan rahmat harapan ini : harapan yang tidak pernah menipu; harapan itulah keutamaan sehari-hari yang menuntun kita maju, yang membantu kita menyelesaikan masalah dan mencari jalan keluar. Tetapi selalu maju, maju. Harapan yang berbuah itu, harapan teologis setiap hari, setiap saat itu : saya akan menyebutnya sebagai keutamaan teologis “dapur,” karena keutamaan tersebut ada di tangan dan selalu membantu kita. Harapan yang tidak menipu : kita hidup dalam ketegangan antara kenangan dan harapan.

 

Saya ingin berhenti sejenak pada sesuatu yang terjadi pada saya di pintu masuk. Saya melihat usia para prajurit yang gugur ini. Kebanyakan berusia antara 20 dan 30 tahun. Kehidupan yang terpenggal, kehidupan tanpa masa depan. Dan saya memikirkan para ayah, para ibu yang menerima surat itu: “Nyonya, saya mendapat kehormatan untuk memberitahumu bahwa kamu memiliki seorang putra yang menjadi pahlawan”. “Ya, pahlawan, tetapi mereka telah mengambilnya dariku!” Berapa banyak air mata dalam kehidupan yang terpenggal itu. Dan saya tidak dapat menghindari memikirkan peperangan yang terjadi saat ini. Hal yang sama terjadi saat ini: begitu banyak kaum muda, dan kaum yang tidak terlalu muda. Dalam peperangan di dunia, termasuk peperangan yang paling dekat dengan kita, di Eropa dan sekitarnya: berapa banyak yang tewas! Hidup dihancurkan tanpa disadari.

 

Hari ini, dengan memikirkan orang yang meninggal, memelihara kenangan terhadap orang yang meninggal dan memelihara harapan, kita memohon perdamaian kepada Tuhan, agar manusia tidak lagi saling membunuh dalam peperangan. Begitu banyak orang tak berdosa yang tewas, begitu banyak tentara yang kehilangan nyawa. Tetapi ini, mengapa? Peperangan selalu merupakan kekalahan, selalu. Tidak ada kemenangan sepenuhnya, tidak. Ya, yang satu mengalahkan yang lain, tetapi dibalik itu selalu ada kekalahan dengan harga yang harus dibayar. Marilah kita berdoa kepada Tuhan untuk orang mati kita, untuk semua orang. Semoga Tuhan menerima semuanya. Dan marilah kita juga berdoa agar Tuhan mengasihani kita dan memberi kita harapan : harapan untuk maju dan agar kita semua menyertai Dia ketika Dia memanggil kita. Semoga.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 4 November 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PERINGATAN ARWAH PAUS BENEDIKTUS XVI SERTA PARA KARDINAL DAN PARA USKUP YANG MENINGGAL DALAM SETAHUN TERAKHIR 3 November 2023 : BELAS KASIHAN DAN KERENDAHAN HATI

Bacaan Ekaristi : Ayb 19:1,23-27a; Rm 5:17-21; Luk 7:11-17.

 

Yesus akan memasuki kota Nain; para murid dan “orang banyak yang berbondong-bondong" pergi bersama Dia (bdk. Luk 7:11). Saat Ia mendekati pintu gerbang kota, arak-arakan lain sedang dilakukan, tetapi dengan arah berlawanan : arak-arakan tersebut akan menguburkan anak tunggal seorang ibu yang sudah menjanda. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa, “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13). Yesus melihat apa yang terjadi dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Benediktus XVI, yang kita peringati hari ini, bersama dengan para kardinal dan para uskup yang meninggal dalam setahun terakhir, menulis dalam dnsiklik pertamanya bahwa program Yesus adalah “hati yang melihat” (Deus Caritas Est, 31). Berapa kali beliau mengingatkan kita iman pada dasarnya bukanlah sebuah gagasan yang harus dipahami atau sebuah aturan moral yang harus diikuti, tetapi sesosok pribadi yang harus dijumpai. Pribadi tersebut adalah Yesus Kristus, yang hati-Nya berdebar karena mengasihi kita, yang mata-Nya memandang iba penderitaan kita.

 

Tuhan berhenti di hadapan tragedi kematian. Penting untuk dicatat bahwa inilah pertama kalinya Injil Lukas menyebut Yesus “Tuhan” : “tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan”. Ia disebut Tuhan – Allah yang menjalankan kekuasaan atas segala sesuatu – karena Ia menunjukkan belas kasihan kepada seorang ibu yang menjanda yang kehilangan, bersamaan dengan putra tunggalnya, alasan untuk hidup. Di sini kita melihat Allah kita, yang keilahiannya bersinar saat kita merasakan duka dan duka, karena hati-Nya penuh belas kasihan. Kebangkitan pemuda itu, karunia kehidupan yang mengalahkan kematian, bersumber tepat di sana, dalam belas kasihan Tuhan, yang tergerak oleh kematian, penyebab terbesar penderitaan kita. Betapa pentingnya menyampaikan juga rasa belas kasih kepada semua orang yang berduka atas kematian orang-orang yang mereka cintai!

 

Belas kasihan Yesus nyata. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa “sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya” (bdk. Luk 7:14). Ia tidak perlu melakukan hal itu, dan bagaimanapun juga, pada masa itu, menyentuh jenazah orang yang sudah meninggal dianggap najis, menajiskan orang yang melakukannya. Tetapi Yesus tidak peduli akan hal itu; belas kasihan-Nya membuat-Nya menjangkau semua orang yang menderita. Itulah “gaya” Allah, "gaya" kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan. Dan satu dari sedikit kata. Kristus tidak mulai berkhotbah tentang kematian, tetapi sekadar memberitahu ibu pemuda tersebut : “Jangan menangis!” (Luk 7:13). Mengapa? Apakah menangis itu salah? Tidak, Yesus sendiri menangis dalam keempat Injil. Ia berkata kepada ibunya, “Jangan menangis”, karena bersama Tuhan air mata tidak bertahan selamanya; air mata memiliki kesudahan. Yesus adalah Allah yang, seperti dinubuatkan Kitab Suci, akan “menelan maut” dan “menghapuskan air mata dari semua muka” (Yes 25:8; bdk. Why 21:4). Ia telah menghapuskan air mata kita dengan menjadikan air mata-Nya.

 

Di sini, kita melihat belas kasihan Tuhan, yang menuntun-Nya untuk membangkitkan anak laki-laki itu. Tetapi di sini, tidak seperti mukjizat lain yang dilakukan-Nya, Yesus tidak terlebih dahulu meminta sang ibu untuk beriman. Mengapa mukjizat yang luar biasa dan tidak biasa ini terjadi? Karena mukjizat tersebut ada hubungannya dengan anak yatim dan janda, mereka yang menurut Kitab Suci, dan juga orang asing, dianggap paling kesepian dan terlantar, tidak punya siapa pun yang bisa dipercaya selain Allah. Janda, anak yatim, orang asing : inilah orang-orang yang paling dekat dan berkenan kepada Allah. Kita tidak bisa dekat dan berkenan kepada Allah jika kita mengabaikan mereka yang menikmati perlindungan dan kasih-Nya yang istimewa, karena suatu hari nanti merekalah yang akan menyambut kita di surga : janda, anak yatim, orang asing.

 

Dengan juga mempertimbangkan hal-hal tersebut, kita menemukan poin penting lainnya, yang akan saya rangkum menjadi kata kedua hari ini : kerendahan hati. Sebab anak yatim dan janda adalah orang-orang yang “rendah hati” yang paling unggul : mereka yang meletakkan seluruh pengharapan mereka pada Tuhan dan bukan pada diri mereka, telah menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan mereka. Mereka tidak lagi mengandalkan kekuatan mereka sendiri, tetapi Dia dan perhatian-Nya yang tiada henti. Dengan menolak segala anggapan bahwa mereka bisa mencukupi diri sendiri, mereka menyadari membutuhkan Allah dan meletakkan kepercayaan mereka kepada-Nya. Orang-orang yang rendah hati, yang miskin di hadapan Allah, yang mengungkapkan kepada kita “kekecilan” yang sangat berkenan kepada Tuhan, jalan yang menuntun ke surga. Allah mencari orang-orang yang rendah hati, yaitu orang-orang yang berharap kepada-Nya serta bukan pada diri dan rencana mereka. Saudara-saudari terkasih, inilah kerendahan hati Kristiani, yang bukan sekadar keutamaan di antara keutamaan-keutamaan lain, tetapi sifat dasar kehidupan : meyakini diri kita membutuhkan Allah, memberikan ruang bagi-Nya dan meletakkan segenap kepercayaan kita pada-Nya. Inilah kerendahan hati Kristiani.

 

Allah berkenan terhadap kerendahan hati karena kerendahan hati memungkinkan-Nya berinteraksi dengan kita. Terlebih lagi, Allah berkenan terhadap kerendahan hati karena Ia sendiri rendah hati. Ia datang kepada kita; Ia merendahkan diri-Nya; Ia tidak memaksakan diri-Nya; Ia memberi ruang kepada kita. Allah tidak hanya rendah hati; Ia adalah kerendahan hati itu sendiri. “Tuhan, Engkaulah kerendahan hati” adalah doa Santo Fransiskus dari Asisi (bdk. Lodi: FF 261). Kita berpikir tentang Bapa, yang nama-Nya sepenuhnya mengacu pada Putra, bukan pada diri-Nya sendiri, dan tentang Putra, yang nama-Nya sepenuhnya berhubungan dengan Bapa. Allah mengasihi mereka yang tidak menempatkan diri mereka sebagai pusat: orang yang rendah hati, yang paling mirip dengan-Nya. Itulah sebabnya, sebagaimana dikatakan Yesus, “Sebab siapa yang meninggikan diri, akan direndahkan” (Luk 14:11). Saya ingin mengingat kata-kata pertama yang diucapkan Paus Benediktus tentang dirinya setelah beliau terpilih : “seorang pekerja yang rendah hati di kebun anggur Tuhan”. Memang benar, umat Kristiani, khususnya Paus, para kardinal dan para uskup, dipanggil untuk menjadi pekerja yang rendah hati: melayani, bukan dilayani dan mengutamakan hasil kebun anggur Tuhan di atas keuntungan pribadi mereka. Menyerahkan diri kita demi Gereja Yesus sungguh merupakan suatu hal yang baik!

 

Saudara-saudari, marilah kita memohon kepada Allah agar memberi kita tatapan penuh kasih dan kerendahan hati. Semoga kita tidak pernah bosan mengajukan hal ini, karena melalui belas kasihan dan kerendahan hati Tuhan memberikan kepada kita nyawa-Nya, yang mengatasi maut. Marilah kita mendoakan saudara-saudara kita tercinta yang telah meninggal dunia. Hati mereka bersifat pastoral, penuh kasih sayang dan rendah hati, karena Tuhan adalah pusat kehidupan mereka. Di dalam Dia semoga mereka menemukan kedamaian abadi. Semoga mereka bersukacita bersama Maria, yang ditinggikan Tuhan yang melihat kerendahan hatinya (bdk. Luk 1:48).

____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 November 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXX (PENUTUPAN SIDANG UMUM BIASA SINODE PARA USKUP) 29 Oktober 2023 : KITA MENGASIHI ALLAH MELALUI PENYEMBAHAN DAN PELAYANAN

Bacaan Ekaristi : Kel. 22:21-27; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab; 1Tes. 1:5c-10; Mat. 22:34-40.


Seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dengan berdalih, untuk mencobai Dia. Tetapi, pertanyaan yang ia ajukan adalah pertanyaan yang penting dan bertahan lama, yang terkadang muncul dalam hati kita dan dalam kehidupan Gereja : “Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (Mat 22:36). Kita juga, yang tenggelam dalam arus Tradisi yang hidup, dapat bertanya : “Apa hal yang paling penting? Apa kekuatan pendorongnya?” Prinsip apakah yang lebih penting untuk dijadikan panduan segala sesuatu? Jawaban Yesus jelas: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-39).

 

Saudara para kardinal, para uskup dan para imam, para rohaniwan dan rohaniwati, saudara dan saudari terkasih, di akhir tahap perjalanan kita ini, penting untuk melihat “prinsip dan landasan” yang sungguh menjadi awal mula segala sesuatu : dengan mengasihi. Mengasihi Allah dengan segenap kehidupan kita dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Bukan strategi kita, perhitungan manusiawi kita, jalan dunia, tetapi kasih kepada Allah dan sesama: itulah inti dari segala sesuatu. Dan bagaimana kita menyalurkan momentum kasih ini? Saya akan mengusulkan dua kata kerja, dua gerakan hati, yang ingin saya renungkan: menyembah dan melayani. Kita mengasihi Allah melalui penyembahan dan pelayanan.

 

Kata kerja pertama, menyembah. Mengasihi berarti menyembah. Penyembahan adalah tanggapan pertama yang dapat kita berikan terhadap kasih Allah yang cuma-cuma dan menakjubkan. Keheranan penyembahan, keajaiban penyembahan, merupakan sesuatu yang hakiki dalam kehidupan Gereja, terutama pada zaman kita dewasa ini di mana kita telah meninggalkan praktek penyembahan. Menyembah Allah berarti mengakui dalam iman bahwa hanya Dialah Tuhan dan kehidupan kita masing-masing, perjalanan Gereja dan hasil akhir sejarah semuanya bergantung pada kelembutan kasih-Nya. Ia memberi makna pada kehidupan kita.

 

Dalam menyembah Allah, kita menemukan kembali bahwa kita bebas. Itulah sebabnya Kitab Suci sering kali mengaitkan mengasihi Allah dengan perjuangan melawan segala bentuk penyembahan berhala. Mereka yang menyembah Allah menolak berhala-hala karena justru Allah memerdekakan, berhala-hala memperbudak. Berhala-hala menipu kita dan tidak pernah mewujudkan apa yang dijanjikannya, karena berhala-hala adalah “buatan tangan manusia” (Mzm 115:4). Kitab Suci tegas berkaitan dengan penyembahan berhala, karena berhala-hala dibuat dan dimanipulasi oleh manusia, sedangkan Allah, Allah yang hidup, hadir dan transenden; Ia “tidak seperti yang kubayangkan, yang tidak bergantung pada apa yang kuharapkan dari-Nya dan yang dengan demikian dapat menggagalkan harapanku, justru karena Ia tetap hidup. Bukti bahwa kita tidak selalu memiliki gagasan yang benar tentang Allah yakni kadang-kadang kita kecewa: Kita berpikir: 'Aku mengharapkan satu hal, aku membayangkan Allah akan berperilaku seperti ini, tetapi aku salah'. Tetapi dengan cara ini, kita kembali ke jalan penyembahan berhala, menginginkan Tuhan bertindak sesuai dengan gambaran yang kita miliki tentang Dia” (C.M. Martini, I grandi della Bibbia. Esercizi spirituali con l’Antico Testamento, Fiorentina, 2022, 826-827). Kita selalu berisiko berpikir bahwa kita bisa “mengendalikan Allah”, bahwa kita bisa membatasi kasih-Nya pada agenda kita. Sebaliknya, cara Ia bertindak selalu tidak dapat diduga, melampaui pemikiran kita, dan akibatnya cara bertindak Allah menuntut keheranan dan penyembahan. Keheranan sangat penting!

Kita harus terus-menerus berjuang melawan segala jenis penyembahan berhala; bukan hanya hal-hal duniawi, yang seringkali berasal dari keangkuhan, seperti nafsu akan kesuksesan, egoisme, keserakahan akan uang – jangan lupa iblis masuk “melalui kantong”, godaan karirisme; tetapi juga bentuk-bentuk penyembahan berhala yang disamarkan sebagai spiritualitas – spiritualitasku : gagasan-gagasan keagamaanku, keterampilan pastoralku ... Marilah kita waspada, jangan sampai kita menemukan bahwa kita menempatkan diri kita sebagai pusatnya dan bukan Dia. Dan marilah kita kembali menyembah. Semoga penyembahan menjadi pusat perhatian kita sebagai para gembala : marilah kita meluangkan waktu setiap hari untuk menjalin keintiman dengan Yesus Sang Gembala yang baik, dan menyembah Dia yang ada di dalam tabernakel. Semoga Gereja menyembah : di setiap keuskupan, di setiap paroki, di setiap komunitas, marilah kita menyembah Tuhan! Hanya dengan cara inilah kita akan berpaling kepada Yesus dan bukan kepada diri kita. Karena hanya melalui penyembahan yang teduh Sabda Allah akan hidup dalam perkataan kita; hanya di hadirat-Nya kita akan dimurnikan, diubah rupa, dan diperbarui oleh api Roh-Nya. Saudara-saudari, marilah kita menyembah Tuhan Yesus!

 

Kata kerja kedua adalah melayani. Mengasihi berarti melayani. Dalam perintah agung, Kristus mengikat Allah dan sesama sehingga mereka tidak akan pernah terputus. Tidak akan ada pengalaman keagamaan sejati yang tuli terhadap jeritan dunia. Tidak ada kasih kepada Allah tanpa kepedulian dan keprihatinan terhadap sesama kita; jika tidak, kita berisiko menjadi orang Farisi. Kita mungkin punya banyak gagasan bagus tentang bagaimana mereformasi Gereja, tetapi marilah kita ingat: menyembah Allah dan mengasihi saudara-saudari kita dengan kasih-Nya, itulah reformasi besar dan abadi. Menjadi Gereja yang menyembah dan Gereja yang melayani, membasuh kaki umat manusia yang terluka, mendampingi mereka yang rapuh, lemah dan terpinggirkan, pergi keluar dengan penuh kasih menjumpai orang-orang miskin. Kita mendengar pada Bacaan Pertama bagaimana Allah memerintahkan hal ini.

 

Saudara-saudari, saya memikirkan para korban kekejaman perang; penderitaan para migran, penderitaan tersembunyi dari mereka yang hidup sendirian dan dalam kemiskinan; mereka yang tertimpa beban hidup; mereka yang tidak punya air mata lagi untuk ditumpahkan, mereka yang tidak punya suara. Dan saya juga memikirkan betapa seringnya, di balik kata-kata manis dan janji-janji menarik, orang dieksploitasi atau tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mencegah hal tersebut terjadi. Mengeksploitasi kelompok yang rentan adalah dosa besar, dosa besar yang merusak persaudaraan dan menghancurkan masyarakat. Sebagai murid Yesus, kita ingin membawa ke dunia jenis ragi yang berbeda, yaitu ragi Injil. Mendahulukan Allah dan, bersama-sama Dia, orang-orang yang sangat Ia kasihi: kaum miskin dan kaum lemah.

 

Saudara-saudari sekalian, inilah Gereja yang mana kita dipanggil untuk “memimpikan” : sebuah Gereja yang menjadi pelayan bagi semua orang, pelayan bagi saudara-saudari kita yang terkecil. Gereja yang tidak pernah menuntut pengakuan atas “perilaku baik”, tetapi menerima, melayani, mengasihi, dan mengampuni. Sebuah Gereja dengan pintu terbuka yang merupakan surga belas kasihan. “Orang yang penuh belas kasihan”, kata Yohanes Krisostomus, “adalah seperti pelabuhan bagi mereka yang membutuhkan; dan pelabuhan menerima semua orang yang melarikan diri dari kapal karam, dan membebaskan mereka dari bahaya, baik mereka yang jahat maupun yang baik; siapapun mereka yang berada dalam bahaya akan diterima di tempat perlindungan. Demikian pula, jika kamu melihat seseorang terdampar di darat karena kemiskinan, janganlah kamu menghakiminya atau menuntut penjelasan, tetapi singkirkanlah kesusahannya” (In pauperem Lazarum, II, 5).

 

Saudara-saudara, Sidang Umum Sinode kini telah selesai. Dalam “percakapan Roh” ini, kita telah mengalami kehadiran Tuhan yang penuh kasih dan menemukan indahnya persaudaraan. Kita telah saling mendengarkan dan yang terpenting, dalam keberagaman latar belakang dan keprihatinan, kita telah mendengarkan Roh Kudus. Saat ini kita tidak melihat hasil proses ini sepenuhnya, tetapi dengan pandangan jauh ke depan kita memandang cakrawala yang terbuka di hadapan kita. Tuhan akan membimbing kita dan membantu kita menjadi Gereja yang semakin sinodal dan misioner, Gereja yang menyembah Allah dan melayani orang-orang di zaman kita, yang berjalan maju untuk membawa sukacita Injil yang menghibur kepada semua orang.

 

Saudara-saudari, saya berterima kasih atas semua yang telah kamu lakukan selama Sinode dan atas semua yang terus kamu lakukan. Terima kasih atas perjalanan yang telah kita lalui bersama, atas pendengaran dan dialogmu. Sebagai ungkapan terima kasih, saya juga ingin memanjatkan doa untuk kita semua: semoga kita bertumbuh dalam penyembahan kita kepada Allah dan dalam pelayanan kita kepada sesama. Menyembah dan melayani. Semoga Tuhan menyertai kita. Marilah kita berjalan maju dengan sukacita!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Oktober 2023)


HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PEMBUKAAN SIDANG UMUM BIASA SINODE PARA USKUP 4 Oktober 2023 : TATAPAN YESUS

Bacaan Ekaristi : Gal 6:14-18; Mat 11:25-30.

 

Bacaan Injil yang baru saja kita dengar didahului oleh kisah tentang saat sulit dalam perutusan Yesus, yang mungkin kita sebut sebagai “kehancuran pastoral”. Yohanes Pembaptis meragukan apakah Yesus benar-benar Mesias; begitu banyak kota yang Ia lewati, meskipun berbagai mukjizat yang Ia lakukan, tidak bertobat; orang-orang menuduh-Nya sebagai seorang pelahap dan peminum, padahal tadinya mereka mengeluh tentang Yohanes Pembaptis karena ia terlalu keras (bdk. Mat 11:2-24). Tetapi kita melihat bahwa Yesus tidak membiarkan diri-Nya diliputi kesedihan, melainkan menengadah ke langit dan bersyukur kepada Bapa karena Ia telah menyatakan misteri Kerajaan Allah kepada orang kecil : “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Maka, di saat-saat kesedihan, Yesus memiliki tatapan yang mampu melihat lebih jauh: Ia memuji kebijaksanaan Bapa dan mampu melihat kebaikan yang tumbuh tak terlihat, benih Sabda yang disambut oleh orang-orang kecil, terang Kerajaan Allah yang menunjukkan jalan bahkan di malam hari.

 

Saudara para kardinal yang terkasih, saudara para uskup, para saudara dan saudari, kita sedang menghadiri pembukaan Sidang Umum Sinode. Di sini kita tidak memerlukan visi yang murni alami, yang berupa strategi manusiawi, perhitungan politis, atau pertarungan ideologis. Jika Sinode memperkenankan hal ini terjadi, “pihak lain” akan membukakan pintu untuknya. Ini tidak kita perlukan. Ki9ta di sini bukan untuk melaksanakan rapat dewan perwakilan rakyat atau rencana reformasi. Sinode, saudara dan saudari terkasih, bukan sebuah dewan perwakilan rakyat. Roh Kudus adalah tokoh utamanya. Kita di sini bukan untuk membentuk dewan perwakilan rakyat tetapi berjalan bersama dengan tatapan Yesus, yang bersyukur kepada Bapa dan menyambut orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat. Maka marilah kita mulai dari tatapan Yesus, yaitu tatapan penuh berkat dan menyambut.

 

1.       Marilah kita lihat aspek pertama : tatapan yang penuh syukur. Sekalipun mengalami penolakan dan melihat di sekeliling begitu banyak kekerasan hati, Kristus tidak membiarkan diri-Nya terpenjara oleh kekecewaan, Ia tidak menjadi getir, Ia tidak berhenti memuji; hati-Nya, yang berlandaskan keutamaan Bapa, tetap tenang bahkan di tengah badai.

 

Tatapan Tuhan yang penuh syukur ini juga mengajak kita menjadi Gereja yang, dengan hati gembira, merenungkan perbuatan Allah dan melakukan pembedaan roh terhadap masa kini. Dan Gereja yang, di tengah gelombang zaman yang kadang-kadang bergejolak, tidak berkecil hati, tidak mencari celah ideologis, tidak membentengi diri di balik anggapan yang sudah ada sebelumnya, tidak menyerah pada penyelesaian yang mudah, tidak membiarkan dunia mendikte agendanya. Inilah kebijaksanaan rohani Gereja, yang dirangkum dengan teduh oleh Santo Yohanes XXIII : “Pertama-tama, Gereja tidak boleh menyimpang dari warisan suci kebenaran yang diterima dari para Bapa. Tetapi pada saat yang sama Gereja harus selalu melihat ke masa kini, pada kondisi-kondisi baru dan bentuk-bentuk kehidupan baru yang diperkenalkan ke dalam dunia modern yang telah membuka jalan-jalan baru bagi kerasulan Katolik” (Pidato pada Pembukaan Konsili Ekumenis Vatikan II, 11 Oktober 1962).

 

Tatapan Yesus yang penuh syukur mengajak kita menjadi Gereja yang tidak menghadapi tantangan dan persoalan masa kini dengan semangat memecah-belah dan suka bertengkar, tetapi sebaliknya, mengarahkan pandangan kepada Allah yang mempersatukan dan, dengan rasa heran dan rendah hati, bersyukur dan menyembah-Nya. , mengakui-Nya sebagai satu-satunya Tuhannya. Kita adalah milik-Nya dan – ingatlah – kita ada hanya untuk melahirkan-Nya ke dunia. Sebagaimana dikatakan Rasul Paulus kepada kita, kita “sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (Gal. 6:14). Ini cukup bagi kita; Ia cukup bagi kita. Kita tidak menginginkan kemegahan duniawi; kita tidak ingin menjadikan diri kita menarik di mata dunia, tetapi ingin menjangkaunya dengan penghiburan Injil, memberikan kesaksian tentang kasih Allah yang tak terbatas, dengan cara yang lebih baik dan kepada semua orang. Memang benar, sebagaimana dikatakan Benediktus XVI, tepatnya ketika berbicara di hadapan sidang sinode, “pertanyaan bagi kita adalah ini : Allah telah bersabda, Ia sungguh telah memecah keheningan yang besar, Ia telah menunjukkan diri-Nya, tetapi bagaimana kita dapat menyampaikan kenyataan ini kepada bangsa-bangsa dewasa ini, sehingga menjadi keselamatan?” (Permenungan, Kongregasi Umum I Sidang Umum Biasa XIII Sinode Para Uskup, 8 Oktober 2012). Ini adalah pertanyaan dasariah. Dan inilah tugas utama Sinode : memfokuskan kembali tatapan kita kepada Allah, menjadi Gereja yang memandang umat manusia dengan penuh belas kasihan. Sebuah Gereja yang bersatu dan bersaudara – atau setidaknya berupaya untuk bersatu dan bersaudara –, yang mendengarkan dan berdialog; sebuah Gereja yang memberkati dan memberi semangat, yang membantu mereka yang mencari Tuhan, yang dengan penuh kasih membangkitkan semangat mereka yang acuh tak acuh, yang membuka jalan untuk menarik orang ke dalam keindahan iman. Sebuah Gereja yang berpusat pada Allah dan oleh karena itu, tidak terpecah belah secara internal dan tidak pernah bersikap kasar secara eksternal. Sebuah Gereja yang mengambil risiko dalam mengikut Yesus. Inilah yang diinginkan Yesus dari Gereja, mempelai perempuan.

 

2.     Setelah merenungkan tatapan yang penuh syukur, kini marilah kita melihat tatapan Kristus yang menyambut. Ketika orang-orang yang menganggap dirinya bijak tidak menyadari karya Allah, Yesus bersukacita di dalam Bapa karena Ia menyatakan diri-Nya kepada orang-orang kecil, orang-orang sederhana, dan orang-orang yang miskin di hadapan Allah. Suatu ketika ada suatu masalah di sebuah paroki dan hal itu dibicarakan oleh umat. Inilah yang mereka katakan pada saya. Seorang perempuan yang sangat renta, seorang perempuan yang berasal dari masyarakat yang praktis buta huruf, turun tangan, seolah-olah ia adalah seorang teolog, dan dengan kelembutan dan kebijaksanaan rohani yang besar memberikan wawasannya. Saya mengingat dengan gembira saat tersebut sebagai penyataan diri Tuhan. Terlintas dalam benak saya untuk bertanya kepadanya : “Katakanlah kepada saya, Nyonya, di manakah kamu belajar teologi, bersama Royo Marín, seorang teolog hebatkah?” Orang bijak di antara kita mempunyai keyakinan seperti ini. Sepanjang hidup-Nya, Yesus memberikan tatapan yang menyambut kepada mereka yang paling lemah, yang menderita, dan yang terbuang. Khususnya kepada mereka, Ia menyampaikan kata-kata yang kita dengar : “"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28).

 

Tatapan Yesus yang menyambut ini juga mengajak kita untuk menjadi sebuah Gereja yang menyambut, bukan sebuah Gereja yang pintunya tertutup. Di masa yang begitu rumit seperti sekarang ini, muncul tantangan-tantangan budaya dan pastoral baru yang memerlukan sikap batin yang hangat dan ramah sehingga kita saling dapat bertemu tanpa rasa takut. Dalam dialog sinode, dalam “perjalanan Roh Kudus” yang indah yang kita jalani bersama sebagai Umat Allah, kita dapat bertumbuh dalam kesatuan dan persahabatan dengan Tuhan untuk melihat tantangan-tantangan dewasa ini dengan tatapan-Nya; menjadi, dengan menggunakan ungkapan halus Santo Paulus VI, sebuah Gereja yang “menjadikan dirinya bahan perbincangan” (Ensiklik Ecclesiam Suam, 65). Gereja “dengan kuk yang lemah lembut” (bdk. Mat 11:30), yang tidak membebani dan mengulangi kepada setiap orang: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, yang tersesat atau merasa jauh, yang telah menutup pintu harapan : Gereja ada di sini untukmu!” Pintu Gereja terbuka untuk semua orang, semua orang, semua orang!

 

3.     Saudara dan saudari, Umat Allah yang kudus, dalam menghadapi kesulitan dan tantangan yang ada di depan, tatapan Yesus yang penuh syukur dan menyambut mencegah kita jatuh ke dalam godaan-godaan berbahaya: menjadi sebuah Gereja yang kaku – sebuah tempat tugas tertentu –, yang mempersenjatai diri melawan dunia dan melihat ke belakang; menjadi sebuah Gereja yang suam-suam kuku, yang menyerah pada mode dunia; menjadi Gereja yang letih lesu, menyerahkan diri pada dirinya sendiri. Dalam Kitab Wahyu, Tuhan bersabda, “Aku berdiri di depan pintu dan mengetuknya supaya dibukakan”; tetapi seringkali, saudara dan saudari, Ia berdiri di depan pintu sambil mengetuk pintu tetapi dari dalam Gereja sehingga kita dapat memperkenankan-Nya keluar bersama Gereja untuk mewartakan Injil-Nya.

 

Marilah kita berjalan bersama : rendah hati, bersemangat dan gembira. Marilah kita mengikuti jejak Santo Fransiskus dari Asisi, santo kemiskinan dan perdamaian, “orang dungu Allah” yang mengenakan stigmata Yesus di dalam tubuhnya dan, untuk mengenakannya, ia menanggalkan segalanya. Betapa sulitnya bagi kita semua untuk melakukan pengosongan diri lahir dan batin ini. Hal serupa juga berlaku bagi lembaga-lembaga. Santo Bonaventura menceritakan bahwa ketika ia sedang berdoa, Yesus yang tersalib berkata kepadanya, “Pergilah dan perbaikilah gereja-Nu” (Legenda maior, II, 1). Sinode berfungsi untuk mengingatkan kita akan hal ini : Bunda kita, Gereja, selalu membutuhkan pemurnian, “diperbaiki”, karena kita adalah umat yang terdiri dari para pendosa yang telah diampuni – kedua unsurnya: para pendosa yang telah diampuni –, yang selalu butuh kembali ke sumbernya yaitu Yesus dan menempatkan diri kita kembali pada jalan Roh untuk menjangkau semua orang dengan Injil-Nya. Fransiskus dari Asisi, di masa pergulatan dan perpecahan besar, antara kekuatan duniawi dan agama, antara lembaga Gereja dan aliran sesat, antara umat Kristiani dan umat beriman lainnya, tidak mengkritik atau menyerang siapa pun. Ia hanya menggunakan senjata Injil: kerendahan hati dan persatuan, doa dan amal kasih. Marilah kita melakukan hal yang sama: kerendahan hati, persatuan, doa dan amal kasih!

 

Dan jika umat Allah yang kudus bersama para gembalanya dari seluruh dunia mempunyai pengharapan, harapan dan bahkan ketakutan terhadap sinode yang sedang kita mulai, marilah kita terus mengingat bahwa sinode bukan sebuah ajang pertemuan politik, melainkan sebuah pertemuan dalam Roh; bukan dewan perwakilan rakyat yang terkutub-kutub, tetapi tempat kasih karunia dan persekutuan. Roh Kudus sering kali menghancurkan harapan kita untuk menciptakan sesuatu yang baru yang melampaui prediksi dan negativitas kita. Mungkin saya dapat mengatakan bahwa momen-momen Sinode yang lebih bermanfaat adalah momen-momen yang terhubung dengan doa, suasana doa, yang melaluinya Tuhan bekerja di dalam diri kita. Marilah kita membuka diri kita kepada-Nya dan berseru kepada-Nya, sang tokoh utama, Roh Kudus. Marilah kita memperkenankan-Nya menjadi tokoh utama Sinode! Dan marilah kita berjalan bersama-Nya, dengan penuh kepercayaan dan sukacita.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Oktober 2023)