Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA INAGURASI TAHUN AKADEMIK UNIVERSITAS-UNIVERSITAS KEPAUSAN 8 Oktober 2026

Bacaan Ekaristi : Gal. 3:1-5; Luk. 1:69-70.71-72.73-75; Luk. 11:5-13.

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Ekaristi seraya memohon karunia Roh Kudus, agar awal tahun akademik baru universitas-universitas kepausan ini menjadi lebih dari sekadar dimulainya kembali kegiatan studi dan penelitian akademik. Kita ingin membuka pikiran dan relasi pendidikan kita terhadap hembusan kreatif Yesus yang bangkit, yang menganugerahkan damai dan kesatuan, agar kita masing-masing dapat mengemban perutusan kita dan dengan demikian menanggapi Allah yang memanggil kita, serta umat manusia yang menantikan kita. Oleh karena itu, biarlah awal yang baru ini menjadi momen yang sungguh-sungguh bersifat gerejawi, di mana perhimpunan di sekeliling meja Tuhan memupuk perutusan bersama kita. Dengan cara ini, tidak ada seorang pun yang akan mengajar, belajar, atau melakukan penelitian semata-mata untuk diri sendiri, melainkan bersama orang lain, demi orang lain, dan terutama bersama serta bagi Tuhan. Sungguh, sebagaimana telah kita dengar dalam Surat kepada jemaat di Galatia, akal budi merupakan hal dasariah baik bagi iman maupun perutusan.

 

Rasul Paulus, yang merasa cemas dengan kabar yang diterimanya dari jemaat di Galatia, menulis surat yang mengajak jemaat untuk berefleksi. Nada suratnya penuh semangat dan mendesak; namun, apa yang mungkin tampak sebagai teguran sebenarnya merupakan seruan untuk menggunakan akal budi, ingatan, dan pemikiran kritis. Di setiap zaman, selalu ada guru-guru palsu yang memanfaatkan sentimen keagamaan kebanyakan orang beriman demi kepentingan mereka sendiri; mereka sering kali mendorong orang untuk meradikalisasi aspek-aspek tertentu dari ajaran yang telah diterima, dengan mengorbankan keutuhan ajaran tersebut — yaitu keutuhan yang berpusat pada Kristus dan Injil-Nya.

 

Sahabat-sahabat terkasih, pandanglah kegiatan studi sebagai pelayanan bagi iman dan kebenaran: demi kebaikan dirimu dan kebaikan begitu banyak saudara-saudari yang karenanya Tuhan telah menyerahkan hidup-Nya. Sebab, meskipun perjumpaan dengan Dia sungguh mendatangkan sukacita dan semangat, hal itu sama sekali bukan soal menjadi "terguna-guna" atau "terpesona" (bdk. Gal 3:1). Akal budi — yang mengajukan pertanyaan dalam terang sabda Allah dan Tradisi Gereja — merupakan bagian penting dari perjalanan iman dalam mengikuti Yesus Kristus. Justru karena alasan inilah, Gereja memiliki keinginan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keutuhan harta kekayaan pewahyuan serta mengembangkannya —dalam berbagai konteks — melalui pemahaman yang disertai doa, refleksi ilmiah, mediasi budaya, dan penerapan praktis. Semua ini merupakan ungkapan dari satu kasih yang kini memanggil, menopang, dan mengutusmu dalam pencarian bersama ini. Ini adalah sebuah perutusan. Panggilan kita mungkin berbeda, namun perutusannya satu.

 

Kita memperoleh nasihat tambahan dari kata-kata Santo Paulus, yang mendesak jemaat Galatia untuk mengingat kembali titik awal perjalanan mereka. Ia menulis: "Apakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang kamu mau mengakhirinya dengan daging? Sia-siakah begitu banyak derita yang telah kamu alami itu?" (Gal 3:3-4). Oleh karena itu, kecerdasan harus bersumber pada ingatan. Akal budi tidak boleh sekadar mengumpulkan data — seperti yang kini dilakukan algoritma dengan kecepatan yang melampaui kemampuan kita —melainkan harus mengenang pengalaman hidup yang sarat akan makna mendalam yang hanya dapat dikenali oleh jiwa manusia, serta membangun hubungan yang lebih erat dengan kebaikan yang terkandung dalam pengalaman-pengalaman tersebut. Segala sesuatu yang baik bermula "dengan Roh" dan karenanya memiliki napas kehidupan, dinamisme, serta semangat persekutuan yang, begitu dialami, akan terpatri dalam hati. Rutinitas, ambisi, persaingan, dan faktor-faktor negatif lainnya dapat, seiring berjalannya waktu, mengalihkan perhatian dan energi kita, hingga membuat kita kelelahan, lesu, gemar bertikai, dan diliputi kesedihan. Maka, kita harus kembali ke hati. Di sanalah segalanya bermula; sebuah titik awal yang selalu bisa kita tuju kembali. Sahabat-sahabat terkasih, jagalah hatimu. Baik sebagai mahasiswa, peneliti, maupun pengajar, jagalah hatimu agar setiap tahapan hidup dan tanggung jawab dapat dijalani "dengan Roh."

 

Sahabat-sahabat terkasih, selama masa kuliahmu, pupuklah persahabatan yang merupakan anugerah berharga, terutama ketika persahabatan itu dijalani dalam semangat pencarian kebenaran bersama di dalam Kristus. Tetaplah berakar pada umat Allah, hargailah sensus fidei (cita rasa iman) mereka, dan terbukalah terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka. Dan janganlah melupakan kaum miskin; mereka terkadang adalah sosok sahabat yang dengan gigih datang mengetuk pintu di tengah malam (bdk. Luk 11:5–13). Hidupkanlah studimu dan bawalah studimu ke dalam kehidupan, dengan mengikuti nalar Inkarnasi — sebuah nalar yang tanpanya pewahyuan akan membisu. Sungguh, semakin jauh kita menyimpang dari kenyataan sepenuhnya yang dijalani oleh Putra Allah dengan kasih tak terhingga, semakin sedikit pula hal yang dapat kita sampaikan dan semakin terbatas kesempatan kita untuk memahami. Saudara-saudari, marilah kita mendengarkan kerinduan Allah yang hari ini kembali mengetuk pintu hati kita, dan marilah kita membawanya ke dalam ranah penelitian ilmiah. Marilah kita berbagi apa yang menjadi santapan rohani kita. Banyak orang tidak memiliki kesempatan pendidikan yang sama seperti yang telah kita terima. Marilah kita membuka pintu; janganlah kita menutup diri.

 

Sebagaimana telah saya sampaikan dalam ensiklik pertama saya, hari ini kita dipanggil untuk meneladani sikap umat pada zaman Nehemia demi membangun kota tempat Allah berkehendak untuk tinggal bersama seluruh umat manusia dalam damai (bdk. Ensiklik Magnifica Humanitas, 8). Setiap orang memiliki peran dalam upaya ini, yang menuntut kerja sama di antara kita. Sebagai contoh, mereka yang bergulat dengan fragmentasi pengetahuan dan dampak teknologi baru terhadap pikiran manusia menyadari bahwa “kita perlu mengembangkan kebiasaan menjaga kesehatan perhatian: menyediakan waktu untuk hening, belajar secara mendalam, membaca, dan berdialog dengan penuh pertimbangan. Tanpa itu semua, kebebasan batin dapat terganggu” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 146).

 

Studi teologi tidak asing dengan tantangan-tantangan ini. Dalam upaya pembangunan "Kota Allah," penelitian teologis turut menerangi karya semua pihak serta menjadi titik temu bagi berbagai bidang ilmu pengetahuan. Secara khusus, komunitas gerejawi di Roma — melalui panggilannya untuk melayani seluruh Gereja Katolik — berperan sebagai tempat pertemuan dan wadah bagi dialog serta saling memperkaya di antara beragam kepekaan, budaya, dan tradisi; di dalamnya, Injil menyingkapkan kekayaan yang tak habis-habisnya.

 

Saudara-saudari terkasih, semoga kamu menjalani masa-masamu di Roma dengan sepenuh hati. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa makna. Di tempat inilah Petrus menyatakan imannya hingga mencapai kemartiran. Di tempat inilah Paulus — sang penerjemah agung pengalaman Kristiani bagi begitu banyak bangsa, bahasa, dan budaya —mengakhiri pertandingannya setelah memelihara iman (bdk. 2Tim 4:7). Perhatikanlah sekelilingmu di universitas: dunia hadir di dalam ruang-ruang kelasmu. Kamu belajar bersama orang-orang dari Afrika, Asia, Amerika, Eropa, dan Oseania. Jangan membatasi diri hanya dengan duduk berdampingan: kenalilah satu sama lain, berbicaralah satu sama lain, dengarkanlah satu sama lain, bagikan pengalamanmu tentang Gereja, berdoalah bersama, nikmati waktu senggang bersama, dan jalinlah persahabatan yang akan bertahan seumur hidup.

 

Tuhan bersabda kepada kita: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Sebab, setiap orang yang meminta, menerima; dan setiap orang yang mencari, mendapat; yang mengetuk, baginya pintu dibukakan” (Luk 11:9–10). Dengan dikuatkan oleh janji ini, marilah kita bertekun bersama dalam doa. Marilah kita menyerahkan tahun ajaran baru ini kepada perantaraan keibuan Bunda Maria, Takhta Kebijaksanaan, dan menyambut Roh Kudus, yang senantiasa dianugerahkan oleh Bapa surgawi kepada mereka yang memohon dengan penuh kepercayaan sebagai anak.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Oktober 2026)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.