Bacaan
Ekaristi : . Yeh 47:1-2, 8-9, 12; Yoh 7:37-44.
Saudara-saudari
yang terkasih,
Saya
mengucap syukur kepada Allah atas rahmat yang membuat saya bisa berada di sini
bersamamu hari ini, di Place de la Concorde, untuk merayakan Ekaristi. Sungguh
alangkah indahnya dan menyenangkannya ketika saudara-saudari hidup bersama
dalam kesatuan (bdk. Mzm 133:1) untuk mewartakan kebesaran Allah. Saya sungguh
mengharapkan kunjungan ini dapat menguatkan imanmu dan mendorongmu untuk
bersinar semakin terang, dengan membagikan kehidupan, damai sejahtera, dan
kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
“Siapa
yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum” (Yoh 7:37). Saudara-saudari,
dalam kehausan kita berpaling kepada Kristus, sumber air hidup: air yang
memuaskan kehausan kita dan membuat hidup berkembang, yakni air kasih Allah
yang “dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan
kepada kita” (Rm 5:5).
Kerinduan
akan Allah bersemayam jauh di dalam hati kita, dan kita berseru bersama
pemazmur, “Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup” (Mzm 42:3). Inilah
seruan yang rendah hati dan penuh gairah, yang kehausan terdalam dan paling
eksistensialnya terus bertumbuh. Dan Yesus Kristuslah — melalui Inkarnasi-Nya —
yang datang menjumpai setiap orang di tengah kisah hidup mereka masing-masing,
serta menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup sejati yang mampu memuaskan
kehausan kita. Kehausan yang bersemayam di dalam setiap hati manusia ini
bukanlah terutama kehausan akan materi, melainkan kehausan akan makna,
kebenaran, dan kepenuhan hidup. Yesus menjawab kerinduan mendalam kita akan
relasi dan persekutuan dengan Allah, yang di dalam Dia kepenuhan hidup bersemayam
untuk selama-lamanya.
Dalam
Bacaan Pertama, Nabi Yehezkiel melihat air mengalir keluar dari Bait Allah dan
menyebar ke padang gurun, menyucikan serta menghidupkan segala sesuatu yang
dilewatinya (bdk. Yeh 47:1-2, 8-9, 12). Kemudian, Santo Yohanes melihat air
mengalir dari lambung Yesus yang tertikam saat Ia menyerahkan nyawa-Nya (bdk.
Yoh 19:30-34). Kini, setiap orang dapat minum dari mata air ini untuk menerima
karunia Roh dan dilahirkan kembali, menjadi anak-anak Allah, suatu ciptaan
baru.
Saudara-saudari,
kita harus mengakui bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang dapat
memuaskan kita sepenuhnya. Ketika kita mengira pekerjaan kita akhirnya telah
usai dan jerih payah kita telah membuahkan hasil, kekosongan batin sering kali
muncul kembali, bahkan lebih dalam dari sebelumnya. Maka, dalam upaya untuk
mengisinya, kita mungkin mencari kesenangan baru, berhasrat memiliki lebih
banyak hal, atau melakukan apa saja untuk mengalihkan perhatian demi meredam
kegelisahan batin tersebut.
Liturgi
Sabda hari ini mengajak kita untuk menyelami hati kita dan bertanya: apakah
kerinduan terdalamku? Apa sebenarnya yang kucari dalam hidup ini? Kita semua
mendambakan kebahagiaan, kasih, dan kepuasan batin. Namun, dari sumber manakah
kita berusaha memuaskan kehausan kita? Apakah kita merasa cukup dengan harta
benda, kepuasan sesaat, serta berbagai berhala kecil yang menjanjikan segalanya
namun justru meninggalkan kehampaan dalam hati kita? Kita telah dibaptis dan
menerima air hidup yang dikisahkan dalam Bacaan Injil, namun sudahkah kita
sungguh berjumpa secara pribadi dengan Kristus? Pada hakikatnya, manusia adalah
makhluk yang penuh kerinduan, dan hanya Allah yang mampu mengisi kekosongan di
dalam diri kita.
Ya,
Saudara-saudari, Yesus Kristus — Sang Gembala yang Baik — menuntun kita,
sebagaimana seorang gembala menuntun domba-dombanya, menuju sumber kebahagiaan
dan damai sejahtera. Ia mengenal kita masing-masing secara pribadi. Tiada satu
pun hal tentang diri kita yang tersembunyi bagi-Nya — baik rahasia, niat,
maupun kelemahan kita. Ia menyelami kedalaman hati kita. Ia telah menyerahkan
hidup-Nya bagi kita dan terus memberikannya kepada kita melalui
sakramen-sakramen. Ia memanggul domba-domba yang letih dan terluka di atas
bahu-Nya, serta dengan lembut membawa kembali mereka yang telah tersesat. Yesus
menyingkapkan kasih Allah yang tanpa syarat bagi kita. Di mata-Nya, tak seorang
pun dari kita hanyalah sekadar angka atau catatan dalam daftar, melainkan
pribadi yang unik dan tak tergantikan.
Melihat
kamu semua berkumpul di sini, saudara-saudari, pewaris sejarah iman Prancis
yang panjang dan indah, saya berkata kepadamu: minumlah dari sumber yang tak
lain adalah hati Yesus yang tertikam. Ya, kamu haus akan Allah, akan kehidupan,
kebenaran, persatuan, damai sejahtera, persekutuan, dan kebahagiaan. Kamu rindu
untuk menemukan kembali cakrawala yang penuh cahaya dan membangun bangsa yang
diperbarui di atas akar-akar yang dipupuk oleh iman. Janganlah menyimpan iman
kepada Yesus Kristus ini hanya untuk diri sendiri. Biarlah iman itu meluap,
agar orang-orang yang kamu jumpai dapat disegarkan dan kehausan mereka
terpuaskan. Kamu dipanggil untuk membawa harapan di mana pun keputusasaan dan
kekeringan rohani merajalela.
Sungguh,
dengan bersedia hidup dalam kebenaran di hadapan pandangan Yesuslah kita dapat
menjadi pribadi yang otentik dan memandang hidup kita dengan jujur. Hidup kita
rapuh, rentan, dan ditakdirkan untuk melewati kematian; namun, hidup ini juga
indah dan ajaib, mampu diperbarui melalui relasi-relasi kita serta terbuka
terhadap kasih yang sejati.
“Siapa
yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum. Siapa yang percaya kepada-Ku,
seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: ‘Dari dalam hatinya akan mengalir
sungai-sungai air hidup’” (Yoh 7:37-38). Saat kita minum dari sumber yang
merupakan hati Kristus, kita sendiri menjadi — seperti yang ditulis Origenes —
sumur, mata air, dan sungai bagi orang lain (bdk. Homili 12, 1, 2-3). Sungguh,
orang beriman yang minum dari sumber ini juga menjadi sumber kehidupan melalui
hubungan yang hidup dengan Kristus, serta membagikan kehidupan yang sama itu
kepada orang lain.
Saudara-saudari
terkasih, air hidup Roh Kudus telah dicurahkan dengan limpah dan terus
menghasilkan buah di dalam Gereja melalui para misionaris dan saksi iman di
setiap budaya dan di tengah setiap bangsa. Air ini menghidupkan semua orang
yang disentuhnya dan mengubah mereka, memampukan mereka untuk menghasilkan
buah. Inilah kekudusan mereka yang menyembah Allah yang benar dan dengan murah
hati melayani saudara-saudari mereka dalam kasih. Di negeri Prancis yang indah
ini, banyak orang telah minum dari air hidup ini sepanjang berabad-abad dan
membaktikan hidup mereka sepenuhnya demi kebaikan sesama: para martir pertama,
seperti Blandina, Pothinus, dan Ireneus; para pendiri tarekat religius yang
kudus; para uskup kudus seperti Martinus dan Fransiskus dari Sales; serta pria
dan wanita yang hatinya peka terhadap kebutuhan sesama, seperti Vincentius a
Paulo, Frédéric Ozanam, dan Jeanne Jugan, serta banyak lagi lainnya. Bahkan
saat ini, ada begitu banyak orang di tengah masyarakatmu, di paroki-paroki,
dan di setiap ranah kehidupan, yang terus membaktikan diri demi kehidupan,
keluarga, kebenaran, perdamaian, persaudaraan, dan keadilan.
Dari kota
Paris yang indah ini, saya berdoa dengan sungguh-sungguh agar air kehidupan Roh
Kudus mengalir ke seluruh penjuru Prancis. Saya memikirkanmu, keluarga-keluarga
terkasih, yang — meskipun menghadapi berbagai kesulitan setiap hari — tetap
teguh dan berani dalam panggilan serta perutusanmu. Saya mengucapkan terima
kasih dari lubuk hati yang terdalam atas segala kebaikan yang terwujud melalui
dirimu. Semoga kehadiran nyata Yesus di dalam dirimu tidak pernah kering. Saya
juga memikirkanmu, kaum muda terkasih: Kamu adalah Gereja masa kini. Sungguh
indah melihat antusiasme, energi, dan komitmenmu, serta sukacita yang kamu bawa
bagi komunitas-komunitas Kristiani. Saya juga memikirkan, para katekumen dan
orang-oarng yang baru dibaptis, yang telah memulai perjalanan iman, pertobatan,
dan inisiasi Kristiani. Semoga kamu dapat menjadi saksi bagi orang-orang di
sekitarmu mengenai perjalanan yang sedang kamu tempuh, serta menginspirasi
mereka untuk turut bertanya pada diri sendiri. Semoga karunia Roh Kudus
menjadikanmu saksi-saksi yang hidup, yang siap menyebarkan peradaban kasih di
tengah lingkunganmu.
Saudara-saudari,
marilah kita berpaling kepada Bunda Allah, sumber keselamatan, yang membimbing
kita menuju Putra-Nya, sumber segala rahmat. Melalui jawaban "ya"
yang diucapkannya dengan bebas dan penuh kepercayaan, ia menjadi bejana pilihan
Allah yang rendah hati, tempat kasih Bapa yang menjadi manusia dan menyerahkan
diri bagi dunia.
Marilah
kita memohon kepadanya dengan penuh keyakinan, agar melalui perantaraannya,
mata air kehidupan memancar di tengah Umat Allah dan menumbuhkan benih-benih
iman, harapan, dan kasih di seluruh Prancis. Amin.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 27 September 2026)
.jpeg)


