Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA UNTUK KORPS GENDARMERIE DI BASILIKA SANTO PETRUS 26 September 2020 : PERTOBATAN BERARTI MENGUBAH HIDUP


Bacaan Ekaristi :  Yeh. 18:25-28; Mzm. 25:4bc-5,6-7,8-9; Flp. 2:1-11 (Flp. 2:1-5); Mat. 21:28-32.

 

Bacaan-bacaan hari Minggu ini berbicara kepada kita tentang pertobatan. Pertobatan hati; pertobatan yang berarti “mengubah hidup”, yaitu hati yang tidak berjalan di jalan yang baik guna menemukan jalan yang baik.

 

Tetapi bukan hanya pertobatan kita : juga pertobatan Allah. “Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya - kita mendengar dalam Bacaan Pertama -  dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati“ (Yeh 18:27-28). Orang fasik bertobat. Marilah kita mengatakannya dengan lebih mudah : orang berdosa bertobat dan Allah juga bertobat menuju orang berdosa tersebut demi dirinya. Perjumpaan dengan Allah, pertobatan, ada di kedua belah pihak; keduanya mencoba untuk bertemu. Pengampunan tidak hanya pergi ke sana, mengetuk pintu dan berkata : "Maafkanlah aku", dan dari interkom, mereka menjawabmu : "Aku memaafkanmu. Keluarlah". Pengampunan selalu merupakan pelukan Allah. Tetapi Allah berjalan, ketika kita berjalan, untuk menemui kita.

 

Inilah pengampunan Allah, cara untuk bertobat. “Tetapi bagaimana aku bisa pergi kepada Allah? Aku sungguh orang berdosa!". Apa yang diinginkan Allah yaitu : kamu pergi, kamu pergi kepada-Nya. Apa yang dilakukan bapa dari anak yang hilang? – anak yang pergi dengan uang dan menghambur-hamburkan hartanya untuk kebiasaan buruk - Apa yang dilakukan sang bapa? Ketika ia melihat anaknya pulang - karena anaknya merasa ia harus kembali kepada bapanya; ia harus kembali karena terpaksa, tetapi bagaimanapun juga, anaknya mengambil langkah tersebut - sang bapa, yang berada di teras, segera keluar dan pergi menemui anaknya. Ia tidak menunggunya di pintu dengan menunjuk jarinya, ia memeluknya! Dan ketika anaknya berbicara memohon ampun, pelukan itu menutupi mulutnya. Inilah pertobatan. Inilah kasih Allah. Sebuah jalan untuk saling berjumpa.

 

Dan tentang hal ini saya ingin menekankan : hati yang selalu terbuka untuk berjumpa Allah - inilah pertobatan, terbuka untuk berjumpa Allah - apakah modelnya? Modelnya adalah Injil, orang kaya, orang miskin, modelnya adalah Yesus Kristus. Ia keluar untuk menemui kita. Kita mendengar Bacaan Kedua : “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. […] Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:5-8).

 

Jalan pertobatan adalah mendekati, jalan pertobatan adalah kedekatan, tetapi kedekatan yang merupakan pelayanan. Dan kata ini membuat saya memanggilmu, Saudara-saudara Gendarmes. Kapanpun kamu mendekati untuk melayani, teladanilah Yesus Kristus. Setiap kali kamu mengambil langkah untuk menertibkan, kamu memikirkan kamu sedang melakukan suatu pelayanan, kamu sedang melakukan suatu pertobatan yaitu pelayanan. Dan cara kamu melakukannya, kamu sudi sedang berbuat baik kepada orang lain. Dan untuk itu, saya ingin mengucapkan terima kasih. Pelayananmu adalah pertobatan ganda : pertobatanmu - seperti yang dilakukan oleh Yesus Kristus -, meninggalkan kenyamananmu, meninggalkan… "Aku akan melayani"; dan pertobatan lainnya, yaitu pertobatan lain, yang tidak merasa dihukum pada saat pertama tetapi mendengarkan, memperbaiki, dengan kerendahan hati Yesus. Jadi Yesus memintamu untuk menjadi seperti Dia : kuat, disiplin, tetapi rendah hati dan hamba.

 

Saya pernah mendengar seorang yang sudah lanjut usia yang, berbicara tentang anaknya yang memarahi anak-anaknya, berkata : “Anakku tidak mengerti bahwa setiap kali ia memarahi anak-anaknya, ia kehilangan kewibawaan”. Kewibawaanmu ada dalam pelayanan : membatasi, membuat sesuatu terjadi, tetapi dalam pelayanan, dalam amal kasih, dalam kebaikan. Dan inilah panggilanmu yang agung. Bagi saya, sangatlah menyedihkan andai seseorang mengatakan kepada saya : “Tidak, Korps Gendarmeriemu …, mereka adalah karyawan, karyawan, yang melakukan jadwal mereka dan kemudian tidak peduli…”. Tidak, tidak. Ini bukanlah cara bertobat dan mepertobatkan orang lain. Caramu adalah melayani, seperti seorang bapa yang pergi mengunjungi anaknya, seperti seorang saudara yang melihat sesuatu dan berkata : “Tidak, hal ini tidak dapat dilakukan, hal ini tidak baik”. Inilah caranya tetapi diucapkan dengan hati, diucapkan dengan kerendahan hati, diucapkan dengan kedekatan.

 

Kitab Suci mengatakan, dalam Injil, bahwa Yesus selalu bersama orang-orang berdosa, juga bersama para pelaku kejahatan, tetapi mereka merasa dekat dengan Yesus, mereka tidak merasa dihakimi. Tetapi Yesus tidak pernah mengatakan sebuah dusta, sebuah dusta. Tidak : “Inilah kebenaran, inilah caranya”. Tetapi Ia mengatakannya dengan kebaikan, Ia mengatakannya dengan hati-Nya, Ia mengatakannya sebagai seorang saudara.

 

Terima kasih atas pelayananmu. Terima kasih, karena saya melihat pelayananmu mengikuti cara ini. Terkadang seseorang bisa sedikit tergelincir, tetapi dalam hidup siapa yang tidak tergelincir? Semua! Tetapi kita bangun : “Aku tidak melakukannya dengan baik, tetapi sekarang…”. Selalu lanjutkan perjalanan ini demi pertobatan orang-orang dan juga demi pertobatan mereka sendiri. Dalam pelayanan Ia tidak pernah keliru karena pelayanan adalah kasih, pelayanan adalah amal kasih, pelayanan adalah kedekatan. Pelayanan adalah cara yang dipilih Allah dalam Yesus Kristus untuk mengampuni kita, untuk mengubah kita.

 

Terima kasih atas pelayananmu, dan maju terus, selalu dengan kedekatan yang rendah hati namun kuat yang diajarkan Yesus Kristus kepada kita. Terima kasih.

_____

 

(Peter Suriadi – Bogor, 28 September 2020)