Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RABU ABU DI BASILIKA SANTA SABINA 22 Februari 2023 : MASA PRAPASKAH ADALAH WAKTU PERKENANAN UNTUK KEMBALI KEPADA APA YANG PENTING

Bacaan Ekaristi : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20 - 6:2; Mat. 6:1-6,16-18.


"Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu!” (2 Kor 6:2). Dengan kata-kata ini, Rasul Paulus membantu kita memasuki semangat Masa Prapaskah. Masa Prapaskah memang merupakan “waktu perkenanan” untuk kembali kepada apa yang penting, melepaskan diri kita dari segala yang membebani kita, berdamai dengan Allah, dan menyalakan kembali api Roh Kudus yang tersembunyi di bawah abu kemanusiaan kita yang rapuh. Kembali kepada apa yang penting. Masa rahmat adalah masa ketika kita melaksanakan apa yang diminta Tuhan dari kita di awal Bacaan Pertama hari ini : “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu” (Yl 2:12). Kembali kepada apa yang penting : kembali kepada Tuhan.

 

Ritus penerimaan abu berfungsi sebagai awal perjalanan kembali ini. Ritus penerimaan abu menasihati kita untuk melakukan dua hal : kembali kepada kebenaran tentang diri kita serta kembali kepada Allah dan saudara-saudari kita.

Pertama, kembali kepada kebenaran tentang diri kita. Abu mengingatkan kita siapa kita dan dari mana kita berasal. Abu membawa kita kembali kepada kebenaran hakiki kehidupan kita : Tuhan adalah satu-satunya Allah dan kita adalah buatan tangan-Nya. Itulah kebenaran tentang siapa kita. Kita memiliki kehidupan, sedangkan Allah adalah kehidupan. Ia adalah Sang Pencipta, sedangkan kita adalah tanah liat yang rapuh yang dibuat oleh tangan-Nya. Kita berasal dari bumi dan membutuhkan surga; kita membutuhkan-Nya. Bersama Allah, kita akan bangkit dari abu kita, tetapi tanpa Dia, kita hanyalah debu. Ketika kita dengan rendah hati menundukkan kepala untuk menerima abu, kita diingatkan akan kebenaran ini : kita adalah milik Tuhan; kita adalah milik-Nya. Karena Allah “membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya” (Kej 2:7); kita ada karena Ia menghembuskan nafas hidup ke dalam diri kita. Sebagai Bapa yang lembut dan penuh belas kasihan, Allah juga mengalami Masa Prapaskah, karena Ia memperhatikan kita; Ia menunggu kita; Ia menunggu kita kembali. Dan Ia terus-menerus mendesak kita untuk tidak berputus asa, bahkan ketika kita terbaring dalam debu kelemahan dan dosa kita, sebab "Ia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu” (Mzm 103:14). Marilah kita kembali mendengarkan kata-kata tersebut : Dia ingat, bahwa kita ini debu. Allah tahu hal ini; tetapi kita sering melupakannya, dan berpikir bahwa kita memadai, kuat dan tak terkalahkan tanpa Dia. Kita berdandan dan berpikir kita lebih baik dari diri kita yang sebenarnya. Kita adalah debu.

 

Jadi, Masa Prapaskah adalah waktu untuk mengingatkan kita siapa Sang Pencipta dan siapa ciptaan. Waktu untuk mewartakan bahwa Allah satu-satunya Tuhan, menyingkirkan kepura-puraan memadai dan kebutuhan untuk menempatkan diri kita sebagai pusat segala sesuatu, menjadi yang teratas, berpikir bahwa dengan kemampuan kita, kita dapat berhasil dalam kehidupan dan mengubah rupa dunia di sekitar kita. Sekarang adalah waktu perkenanan untuk bertobat, berhenti melihat diri kita dan mulai melihat ke dalam diri kita. Berapa banyak gangguan dan hal-hal sepele yang mengalihkan perhatian kita dari hal-hal yang benar-benar penting! Seberapa sering kita terjebak dalam keinginan dan kebutuhan kita, kehilangan pokok persoalan, dan gagal memahami makna sebenarnya dari kehidupan kita di dunia ini! Masa Prapaskah adalah masa kebenaran, masa untuk melepaskan topeng yang kita kenakan setiap hari agar tampil sempurna di mata dunia. Masa Prapaskah adalah masa, sebagaimana dikatakan Yesus dalam Bacaan Injil, untuk menentang kebohongan dan kemunafikan : bukan kebohongan dan kemunafikan sesama, tetapi kebohongan dan kemunafikan kita : Kita menatap mata kebohongan dan kemunafikan serta menentangnya.

 

Tetapi ada langkah kedua : abu mengundang kita juga untuk kembali kepada Allah dan kepada saudara-saudari kita. Begitu kita kembali kepada kebenaran tentang diri kita dan mengingatkan diri kita bahwa kita tidak memadai, kita menyadari bahwa kita ada hanya melalui hubungan : hubungan primordial kita dengan Tuhan dan hubungan vital kita dengan sesama. Abu yang kita terima sore ini memberitahu kita bahwa setiap anggapan memadai keliru dan pemujaan diri merusak, memenjarakan kita dalam keterasingan dan kesepian : kita melihat cermin dan percaya bahwa kita sempurna, pusat dunia. Sebaliknya, kehidupan adalah sebuah hubungan : kita menerimanya dari Allah dan kedua orangtua kita, serta kita selalu dapat menghidupkan dan memperbaruinya berkat Tuhan dan orang-orang yang Ia tempatkan di samping kita. Maka, Masa Prapaskah adalah masa rahmat ketika kita dapat membangun kembali hubungan kita dengan Allah dan sesama, membuka hati kita dalam keheningan doa dan bangkit dari benteng memadai kita. Masa Prapaskah adalah waktu perkenanan ketika kita dapat memutuskan belenggu individualisme dan keterasingan kita, serta menemukan kembali, melalui perjumpaan dan mendengarkan, rekan-rekan perjalanan kita setiap hari. Dan belajar sekali lagi untuk mengasihi mereka sebagai saudara dan saudari.

 

Bagaimana kita bisa melakukan hal ini? Untuk melakukan perjalanan ini, kembali kepada kebenaran tentang diri kita serta kembali kepada Allah dan sesama, kita dianjurkan untuk menempuh tiga jalan agung : sedekah, doa dan puasa. Ketiganya adalah cara tradisional, dan tidak memerlukan hal-hal baru. Yesus mengatakannya dengan jelas : sedekah, doa dan puasa. Ketiganya tidak hanya tentang ritus lahiriah, ketiganya harus menjadi tindakan yang mengungkapkan pembaharuan hati kita. Sedekah bukan tindakan tergesa-gesa yang dilakukan untuk menenangkan hati nurani kita, mengimbangi ketidakseimbangan batin kita; sebaliknya, sedekah adalah cara menjamah penderitaan kaum miskin dengan tangan dan hati kita. Doa bukan ritual, tetapi dialog yang jujur ​​dan penuh kasih dengan Bapa. Puasa bukan devosi yang pelik, tetapi isyarat yang kuat untuk mengingatkan diri kita apa yang benar-benar penting dan apa yang hanya sesaat. Yesus memberikan “nasihat yang tetap mempertahankan nilai yang bermanfaat bagi kita : isyarat lahiriah harus selalu diimbangi dengan hati yang tulus dan perilaku yang konsisten. Sungguh, apa gunanya mengoyak pakaian kita jika hati kita tetap jauh dari Tuhan, yaitu dari kebaikan dan keadilan?” (Benediktus XVI, Homili Hari Rabu Abu, 1 Maret 2006). Terlalu sering, perilaku tubuh dan ritus kita tidak berdampak pada kehidupan kita; keduanya tetap dangkal. Mungkin kita melakukannya hanya untuk mendapatkan kekaguman atau penghargaan dari orang lain. Marilah kita mengingat hal ini : dalam kehidupan pribadi kita, seperti dalam kehidupan Gereja, tampilan lahiriah, penilaian manusiawi dan persetujuan dunia tidak berarti apa-apa; satu-satunya hal yang benar-benar penting adalah kebenaran dan kasih yang dipandang Allah semata.

 

Jika kita berdiri dengan rendah hati di hadapan tatapan-Nya, maka sedekah, doa dan puasa tidak hanya akan menjadi tampilan lahiriah, tetapi akan mengungkapkan siapa diri kita yang sebenarnya : anak-anak Allah, saling bersaudara. Sedekah, amal, akan menjadi tanda belas kasihan kita terhadap mereka yang membutuhkan, dan membantu kita untuk kembali kepada sesama. Doa akan menyuarakan keinginan kita yang mendalam untuk berjumpa dengan Bapa, dan akan membawa kita kembali kepada-Nya. Puasa akan menjadi tempat latihan rohani di mana kita dengan senang hati meninggalkan hal-hal berlebihan yang membebani kita, bertumbuh dalam kebebasan batin dan kembali kepada kebenaran tentang diri kita. Berjumpa Bapa, kebebasan batin, belas kasihan.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita menundukkan kepala, menerima abu, dan meringankan hati kita. Marilah kita berangkat di jalan amal. Kita telah diberikan empat puluh hari, “waktu perkenanan” untuk mengingatkan diri kita bahwa dunia lebih besar daripada kebutuhan pribadi kita yang sempit, dan menemukan kembali sukacita, bukan berupa mengumpulkan benda-benda materi, tetapi peduli terhadap orang miskin dan menderita. Maka, marilah kita berangkat di jalan doa dan menggunakan empat puluh hari ini untuk memulihkan keutamaan Allah dalam kehidupan kita dan berdialog dengan-Nya dari hati, dan tidak hanya di saat-saat senggang. Marilah kita memulai jalan puasa dan mempergunakan empat puluh hari ini untuk memeriksa diri kita, membebaskan diri kita dari kediktatoran jadwal yang padat, agenda yang sibuk dan kebutuhan yang dangkal, serta memilih hal-hal yang benar-benar penting.

 

Saudara-saudari, marilah kita tidak mengabaikan rahmat masa suci ini, tetapi mengarahkan pandangan kita pada salib dan berangkat, menanggapi dengan murah hati dorongan kuat Masa Prapaskah. Di akhir perjalanan, kita akan berjumpa dengan Tuhan sang empunya kehidupan dengan sukacita yang lebih besar, kita akan bertemu dengan Dia, satu-satunya yang dapat membangkitkan kita dari abu kita.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Februari 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI MUSOLEUM JOHN GARANG, JUBA (SUDAN SELATAN) 5 Februari 2023 : APA YANG DIMAKSUD GAMBARAN GARAM DUNIA DAN TERANG DUNIA?

Bacaan Ekaristi : Yes. 58:7-10; Mzm. 112:4-5,6-7,8a,9; 1Kor. 2:1-5; Mat. 5:13-16.

 

Hari ini saya ingin mengutip kata-kata yang ditujukan Rasul Paulus kepada jemaat Korintus dalam Bacaan Kedua dan mengulanginya di sini di hadapanmu : “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1 Kor 2:1-2). Ya, keprihatinan Paulus juga menjadi keprihatinan saya, karena saya berkumpul di sini bersamamu dalam nama Yesus Kristus, Allah kasih, Allah yang mencapai damai sejahtera melalui salib-Nya; Yesus, Tuhan yang disalibkan untuk kita semua; Yesus, disalibkan dalam diri mereka yang menderita; Yesus, disalibkan dalam kehidupan begitu banyak dari kamu, dalam begitu banyak orang di negeri ini; Yesus, Tuhan yang bangkit, sang pemenang atas kejahatan dan maut. Saya datang ke sini untuk mewartakan-Nya dan meneguhkanmu di dalam Dia, karena pesan Kristus adalah pesan pengharapan. Yesus tahu kesedihanmu dan harapan yang kamu miliki di dalam hatimu, sukacita dan pergumulan yang menandai hidupmu, kegelapan yang melandamu dan iman yang, seperti nyanyian di malam hari, kamu lambungkan ke surga. Yesus mengenal dan mengasihimu. Jika kita tinggal di dalam Dia, kita tidak boleh takut, karena bagi kita juga, setiap salib akan berubah menjadi kebangkitan, setiap kesedihan menjadi harapan, dan setiap ratapan menjadi tarian.

 

Maka saya ingin merenungkan kata-kata kehidupan yang dikatakan Yesus Tuhan kita kepada kita dalam Bacaan Injil hari ini : “Kamu adalah garam dunia ... Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:13-14 ). Apa yang dikatakan gambaran ini kepada kita, sebagai murid Kristus?

 

Pertama-tama, kita adalah garam dunia. Garam digunakan untuk membumbui hidangan. Garam adalah bahan tak terlihat yang memberi rasa pada seluruh hidangan. Justru karena alasan inilah, sejak zaman kuno, garam telah menjadi lambang hikmat, suatu keutamaan yang tidak dapat dilihat, tetapi menambah semangat hidup, yang tanpanya hidup menjadi hambar, tanpa rasa. Tetapi hikmat macam apa yang dimaksudkan Yesus? Ia menggunakan gambaran garam segera setelah mengajarkan Sabda Bahagia kepada murid-murid-Nya. Maka, kita melihat Sabda Bahagia adalah garam kehidupan Kristiani, karena Sabda Bahagia membawa hikmat surgawi turun ke bumi. Sabda Bahagia merevolusi standar dunia ini dan cara berpikir kita yang biasa. Dan apa yang dikatakan Sabda Bahagia? Singkatnya, Sabda Bahagia memberitahu kita bahwa untuk berbahagia, bergembira dan terpenuhi, kita tidak boleh bertujuan untuk menjadi kuat, kaya dan berkuasa, tetapi rendah hati, lemah lembut, bermurah hati; tidak hanya tidak melakukan kejahatan kepada siapa pun, tetapi menjadi pembawa damai bagi semua orang. Ini, kata Yesus, adalah hikmat seorang murid; pemberi cita rasa pada dunia di sekitar kita. Marilah kita mengingat hal ini : jika kita mengamalkan Sabda Bahagia, jika kita mewujudkan hikmat Kristus, kita akan memberikan keharuman tidak hanya untuk hidup kita, tetapi juga untuk kehidupan masyarakat dan negara tempat kita tinggal.

 

Garam tidak hanya menghasilkan rasa; garam juga memiliki fungsi lain, yang sangat penting pada zaman Kristus : mengawetkan makanan agar tidak rusak dan membusuk. Kitab Suci telah mengatakan bahwa ada satu “makanan”, satu kebaikan hakiki yang harus dilestarikan di atas segalanya, yaitu perjanjian dengan Allah. Jadi pada masa itu, setiap kali dipersembahkan korban sajian kepada Allah, sedikit garam dibubuhkan ke dalamnya. Marilah kita mendengar apa yang dikatakan Kitab Suci tentang hal ini : “Janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam” (Im 2:13). Garam dengan demikian berfungsi sebagai pengingat akan kebutuhan dasariah kita untuk menjaga hubungan kita dengan Allah, karena Ia setia kepada kita, dan perjanjian-Nya dengan kita tidak dapat rusak, tidak dapat diganggu gugat, dan untuk selama-lamanya (bdk. Bil 18:19; 2 Taw 13:5). Oleh karena itu, setiap murid Yesus, sebagai garam dunia, adalah saksi dari perjanjian yang dibuat Allah dan yang kita rayakan dalam setiap Misa : sebuah perjanjian yang baru dan kekal yang tak berkesudahan (bdk. 1Kor 11:25; Ibr. 9), serta kasih kepada kita yang tak tergoyahkan bahkan oleh ketidaktaatan kita.

 

Saudara-saudari, kita adalah saksi-saksi keheranan ini. Pada zaman dahulu, ketika orang atau bangsa menjalin perjanjian persahabatan satu sama lain, mereka sering memetereikannya dengan bertukar sedikit garam. Sebagai garam dunia, dengan sukacita dan rasa syukur, kita dipanggil untuk menjadi saksi perjanjian dengan Allah, dan dengan demikian menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang mampu menciptakan ikatan persahabatan dan hidup persaudaraan. Orang-orang yang mampu membangun hubungan manusiawi yang baik sebagai cara untuk mengekang korupsi kejahatan, penyakit perpecahan, kotornya kecurangan transaksi bisnis dan wabah ketidakadilan.

 

Hari ini saya ingin mengucapkan terima kasih, karena kamu adalah garam dunia di negeri ini. Tetapi, ketika kamu memikirkan banyaknya luka, kekerasan yang meningkatkan racun kebencian, serta ketidakadilan yang menyebabkan kesengsaraan dan kemiskinan, kamu mungkin merasa kecil dan tidak berdaya. Setiap kali godaan itu melandamu, cobalah melihat garam dan butiran-butirannya yang kecil. Garam adalah bahan yang sangat kecil dan, begitu diletakkan di atas makanan, ia lenyap, larut; tetapi justru dengan cara itu membumbui seluruh hidangan. Dengan cara yang sama, meskipun kita kecil dan rapuh, bahkan ketika kekuatan kita tampak remeh di hadapan besarnya permasalahan kita dan amukan kekerasan yang membabi buta, kita orang Kristiani mampu memberikan kontribusi yang menentukan untuk mengubah sejarah. Yesus ingin kita menjadi seperti garam : sejumput saja larut dan memberikan rasa yang berbeda untuk segala sesuatu. Akibatnya, kita tidak bisa mundur, karena tanpa sejumput kecil itu, tanpa kontribusi kecil kita, semuanya menjadi hambar. Jadi marilah kita mulai dari hal-hal kecil, hal-hal yang hakiki, bukan dari apa yang mungkin muncul di buku-buku sejarah, tetapi dari apa yang mengubah sejarah. Dalam nama Yesus dan Sabda Bahagia, marilah kita meletakkan senjata kebencian dan balas dendam, guna mengambil senjata doa dan amal. Marilah kita atasi ketidaksukaan dan kebencian yang lama kelamaan menjadi kronis dan berisiko saling mengadu domba suku dan kelompok etnis. Marilah kita belajar menerapkan garam pengampunan pada luka-luka kita; garam membakar tetapi juga menyembuhkan. Sekalipun hati kita berdarah karena kesalahan yang telah kita derita, marilah kita menolak, untuk selamanya, membalas kejahatan dengan kejahatan, dan batin kita akan tumbuh sehat. Marilah kita saling menerima dan mengasihi dengan tulus dan murah hati, sebagaimana Allah mengasihi kita. Marilah kita menghargai kebaikan kita, dan tidak membiarkan diri kita dirusak oleh kejahatan!

Marilah kita beralih ke gambaran kedua yang digunakan oleh Yesus, yaitu terang : kamu adalah terang dunia. Sebuah nubuat besar diberitahukan tentang Israel : "Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi" (Yes 49:6). Sekarang nubuat itu telah tergenapi, karena Allah Bapa telah mengutus Putra-Nya, yang adalah terang dunia (bdk. Yoh 8:12), terang sejati yang menerangi setiap orang dan setiap bangsa, terang yang bersinar dalam kegelapan dan menghalau setiap awan kesuraman (bdk. Yoh 1:5.9). Yesus, sang terang dunia, memberitahu murid-murid-Nya bahwa mereka juga adalah terang dunia. Ini berarti, ketika kita menerima terang Kristus, terang yang adalah Kristus, kita menjadi “bercahaya”; kita memancarkan terang Allah!

Yesus selanjutnya mengatakan : “Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu” (Mat 5:14-15). Sekali lagi, ini adalah gambaran umum pada masa itu. Banyak desa di Galilea dibangun di lereng bukit dan terlihat dari jarak yang sangat jauh. Lampu di rumah-rumah ditempatkan tinggi, sehingga bisa menerangi seluruh sudut ruangan. Untuk memadamkannya, lampu tersebut ditutupi dengan sebuah benda yang terbuat dari tanah liat yang disebut "gantang", yang menghilangkan nyala oksigen dan dengan demikian cahaya lampu tersebut padam.

Saudara-saudari, menjadi jelas apa yang dimaksudkan Yesus dengan meminta kita untuk menjadi terang dunia : kita, para murid-Nya, dipanggil untuk bersinar seperti kota yang terletak di atas bukit, seperti lampu yang nyalanya tidak pernah padam. Dengan kata lain, sebelum kita mengkhawatirkan kegelapan yang mengelilingi kita, sebelum kita berharap bahwa bayangan di sekitar kita akan menjadi terang, kita dipanggil untuk memancarkan terang, memberikan kecerahan ke kota kita, desa dan rumah kita, kenalan kita dan seluruh kegiatan kita sehari-hari berkat hidup dan perbuatan baik kita. Tuhan akan memberi kita kekuatan, kekuatan untuk menjadi terang di dalam Dia, sehingga setiap orang akan melihat perbuatan baik kita, dan melihatnya, sebagaimana diingatkan Yesus kepada kita, mereka akan bersukacita di dalam Allah dan memuliakan Dia. Jika kita hidup sebagai putra dan putri, saudara dan saudari di bumi, orang-orang akan mengetahui bahwa kita semua memiliki Bapa di surga. Maka, kita diminta untuk menyalakan dengan kasih, tidak pernah membiarkan terang kita padam, tidak pernah membiarkan oksigen amal kasih memudar dari hidup kita sehingga perbuatan jahat dapat menghilangkan udara murni kesaksian kita. Negara ini, begitu indah namun dirusak oleh kekerasan, membutuhkan terang yang dimiliki oleh kamu masing-masing, atau lebih baik, terang yang adalah diri kamu masing-masing.

 

Saudara-saudari terkasih, saya berdoa agar kamu menjadi garam yang menyebar, larut dan membumbui Sudan Selatan dengan rasa persaudaraan Injil. Semoga komunitas Kristianimu bersinar terang, sehingga, seperti kota-kota yang dibangun di atas bukit, mereka akan memancarkan terang kebaikan kepada semua orang dan menunjukkan indahnya dan memungkinkannya hidup dengan kemurahan hati dan penyerahan diri, memiliki harapan, dan bersama-sama membangun masa depan yang diperdamaikan. Saudara-saudari, saya bersamamu dan saya meyakinkanmu tentang doa saya bahwa kamu akan mengalami sukacita Injil, rasa dan terang yang ingin dicurahkan Tuhan, “Allah sumber damai sejahtera” (Flp 4:9), “Allah sumber segala penghiburan” (2Kor 1:3), ke atas diri kamu masing-masing.

 

[Sambutan Terakhir Paus Fransiskus]

 

Saudara Stefanus yang terkasih, terima kasih atas kata-katamu yang baik. Saya menyapa Presiden Republik Sudan Selatan, serta otoritas sipil dan agama yang hadir.

 

Saya sekarang telah sampai pada akhir peziarahan di antaramu ini, serta saya ingin mengungkapkan rasa terima kasih saya atas sambutan hangat yang diberikan kepada saya dan untuk semua pekerjaan yang telah dilakukan untuk mempersiapkan kunjungan ini, yang merupakan kunjungan persaudaraan tiga orang.

 

Saya berterima kasih kepada kamu semua, saudara-saudari, yang telah datang ke sini dalam jumlah besar dari berbagai tempat, menghabiskan berjam-jam, bahkan berhari-hari, di jalan! Saya berterima kasih atas kasih sayang yang telah kamu tunjukkan kepada saya, tetapi juga atas iman dan kesabaranmu, atas kebaikan yang kamu lakukan dan kesulitan yang dengan rela kamu persembahkan kepada Allah tanpa patah semangat tetapi terus bergerak maju. Sudan Selatan memiliki Gereja yang berani, berkaitan erat dengan Gereja di Sudan, sebagaimana dicatat oleh Uskup Agung sehubungan dengan Santa Josephina Bakhita, seorang perempuan yang hebat yang berkat rahmat Allah mengubah seluruh penderitaan yang ia alami menjadi pengharapan. Sebagaimana dicatat oleh Paus Benediktus XVI : “Pengharapan yang timbul dalam dirinya dan telah 'menebusnya', tidak boleh disimpannya sendiri, sebab pengharapan ini harus menjangkau banyak orang, menjangkau semua orang” (Spe Salvi, 3). Pengharapan adalah kata yang akan saya tinggalkan kepada kamu masing-masing, sebagai karunia yang harus dibagikan, benih yang harus menghasilkan buah. Sebagaimana diingatkan Santa Josephina kepada kita, perempuan, khususnya di sini, adalah tanda pengharapan, serta secara khusus saya berterima kasih dan memberkati seluruh perempuan di negara ini.

 

Berpengharapan, saya akan mengaitkan kata lain, kata yang bergema di hari-hari ini : damai sejahtera. Saya datang ke sini bersama dua orang saudara saya Yustinus dan Iain, yang dengan tulus saya ucapkan terima kasih kepada keduanya; kami bertiga bersama-sama akan terus menyertai langkahmu dan melakukan segala yang kami bisa untuk menjadikan segalanya langkah perdamaian, langkah menuju perdamaian. Saya ingin mempercayakan jalan seluruh bangsa bersama kami bertiga, jalan rekonsiliasi dan perdamaian ini, kepada perempuan lain. Ia adalah Bunda Maria yang penuh kasih, Sang Ratu Damai. Ia telah menyertai kita dengan kehadirannya yang penuh perhatian dan teduh. Kita berdoa kepadanya sekarang, dan kita mempercayakan kepadanya tujuan perdamaian di Sudan Selatan dan di seluruh benua Afrika. Kepada Bunda Maria kita juga mempercayakan perdamaian di dunia kita, terutama di banyak negara yang berperang, seperti Ukraina, yang sangat menderita.

Saudara-saudari terkasih, kami bertiga kembali ke rumah kami masing-masing, dengan kamu semakin dekat di hati kami. Saya ulangi : kamu ada di hati kami, kamu ada di hati kami, kamu ada di hati umat Kristiani di seluruh dunia! Jangan pernah kehilangan pengharapan. Dan jangan kehilangan kesempatan untuk membangun perdamaian. Semoga pengharapan dan perdamaian bersemayam di antaramu. Semoga pengharapan dan perdamaian bersemayam di Sudan Selatan!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Februari 2023)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI BANDARA NDOLO, KINSHASA (REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO) 1 Februari 2023 : TIGA SUMBER DAMAI SEJAHTERA - PENGAMPUNAN, KOMUNITAS DAN PERUTUSAN

Bacaan Ekaristi : Yes 57:15-19; Yoh 20:19-23.

 

Bandeko, bobóto [Saudara-saudari, damai sejahtera bagi kamu!]

 

R/ Bondeko [Persaudaraan]

 

Bondéko [Persaudaraan]

 

R/Esengo [Sukacita]

 

Esengo, sukacita : melihat dan berjumpamu merupakan sukacita yang luar biasa. Saya sangat menantikan momen ini; kita harus menunggu tahun baru! Terima kasih telah hadir di sini!

 

Bacaan Injil baru saja memberitahu kita bahwa sukacita para murid pada malam Paskah juga luar biasa, dan sukacita itu meledak “ketika mereka melihat Tuhan” (Yoh 20:20). Dalam suasana sukacita dan keheranan ini, Yesus yang bangkit berbicara kepada mereka. Apa yang dikatakan-Nya kepada mereka? Terutama, empat kata sederhana : "Damai sejahtera bagi kamu!" (ayat 19). Sebuah salam, tetapi lebih dari sekadar salam : sebuah karunia. Karena damai sejahtera, damai sejahtera yang diwartakan para malaikat pada senja kelahiran-Nya di Betlehem (bdk. Luk 2:14), damai sejahtera yang dijanjikan Yesus untuk diwariskan kepada para murid-Nya (bdk. Yoh 14:27), sekarang, untuk pertama kalinya, dengan khidmat diberikan kepada mereka. Damai sejahtera Yesus, yang juga diberikan kepada kita setiap kali Misa, adalah damai sejahtera Paskah : berasal dari kebangkitan, karena Tuhan pertama-tama harus mengalahkan musuh kita, dosa dan maut, serta mendamaikan dunia dengan Bapa. Ia harus mengalami kesendirian dan diabaikan oleh kita, neraka kita, merangkul serta mengenyahkan jarak yang memisahkan kita dari kehidupan dan harapan. Sekarang, setelah mengenyahkan jarak antara langit dan bumi, antara Allah dan manusia, Yesus memberikan damai sejahtera kepada murid-murid-Nya.

 

Marilah kita tempatkan diri kita pada posisi mereka. Hari itu mereka benar-benar malu dengan skandal salib, luka batin karena melarikan diri dan meninggalkan Yesus, kecewa dengan jalan hidup akhir-Nya dan takut hidup mereka akan berakhir dengan jalan yang sama. Mereka merasa bersalah, frustrasi, sedih dan takut … Namun, Yesus datang dan mewartakan damai sejahtera, bahkan ketika hati murid-murid-Nya tertekan. Ia mewartakan kehidupan, bahkan saat mereka merasa dikelilingi oleh maut. Dengan kata lain, damai sejahtera Yesus tiba tepat pada saat, tiba-tiba dan mengejutkan mereka, segalanya tampak berakhir bagi mereka, bahkan tanpa secercah damai sejahtera sekalipun. Itulah yang diperbuat Tuhan : Ia mengejutkan kita; Ia memegang tangan kita saat kita jatuh; Ia mengangkat kita saat kita mencapai titik terendah. Saudara-saudari, bersama Yesus, kejahatan tidak pernah menang, kejahatan tidak pernah memiliki kata akhir. “Karena Dialah damai sejahtera kita” (Ef 2:14), dan damai sejahtera-Nya selalu berjaya. Akibatnya, kita yang menjadi milik Yesus tidak boleh menyerah pada kesedihan; kita tidak boleh membiarkan kepasrahan dan fatalisme menguasai diri kita. Meskipun suasana tersebut berkuasa di sekitar kita, tidak demikian bagi kita. Di dunia yang berkecil hati oleh kekerasan dan perang, umat Kristiani harus seperti Yesus. Seolah-olah ingin menekankan hal itu, Yesus sekaliagi memberitahu para murid-Nya : Damai sejahtera bagi kamu! (bdk. Yoh 20:19, 21). Kita dipanggil untuk menjadikan milik kita pesan damai sejahtera Tuhan yang tak terduga dan profetik serta mewartakannya di hadapan dunia.

 

Pada saat yang sama, kita dapat bertanya pada diri kita : bagaimana kita dapat menjaga dan memupuk damai sejahtera Yesus? Ia sendiri menunjuk pada tiga mata air damai sejahtera, tiga sumber yang dapat kita ambil saat kita terus membina damai sejahtera. Tiga mata air tersebut adalah pengampunan, komunitas dan perutusan.

 

Marilah kita melihat sumber pertama : pengampunan. Yesus berkata kepada para murid-Nya : “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni” (ayat 23). Tetapi sebelum memberi kuasa mengampuni kepada para rasul, Ia mengampuni mereka, bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan, perbuatan pertama Tuhan yang bangkit. Injil memberitahu kita bahwa, “Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka” (ayat 20). Yesus menunjukkan luka-luka-Nya kepada mereka. Ia menunjukkan luka-luka-Nya kepada mereka, karena pengampunan lahir dari luka-luka. Pengampunan lahir ketika luka kita tidak meninggalkan bekas kebencian, tetapi menjadi sarana kita memberi ruang bagi sesama dan menerima kelemahan mereka. Kelemahan kita menjadi kesempatan, dan pengampunan menjadi jalan menuju damai sejahtera. Ini tidak berarti bahwa kita berputar balik dan berbuat seolah-olah tidak ada yang berubah; sebaliknya, kita membuka hati kita dalam kasih kepada sesama. Itulah yang diperbuat Yesus : berhadapan kesedihan dan rasa malu dari orang-orang yang telah menyangkal-Nya dan melarikan diri, Ia menunjukkan luka-luka-Nya dan menyingkapkan mata air belas kasihan. Ia tidak melipatgandakan kata-kata, tetapi membuka lebar hati-Nya yang terluka, untuk memberitahu kita bahwa Ia senantiasa terluka demi mengasihi kita.

 

Saudara, saudari, ketika rasa bersalah dan kesedihan menguasai kita, ketika segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik, kita tahu ke mana harus mencari: luka-luka Yesus, yang senantiasa siap mengampuni kita dengan kasih-Nya yang tak terbatas dan terluka. Ia tahu luka-lukamu; Ia tahu luka-luka negaramu, rakyatmu, negerimu! Semuanya adalah luka-luka yang sakit, terus-menerus terpapar oleh kebencian dan kekerasan, sementara obat keadilan dan baluran harapan sepertinya tidak pernah sampai. Saudaraku, saudariku, Yesus menderita bersamamu. Ia melihat luka-luka yang kamu bawa, serta Ia ingin menghibur dan menyembuhkanmu; Ia menawarkan kepadamu hati-Nya yang terluka. Kepada hatimu, Allah mengulangi kata-kata yang Ia ucapkan hari ini melalui nabi Yesaya : “Aku akan menyembuhkan dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan” (Yes 57:18).

 

Bersama-sama, kita percaya bahwa selain senantiasa memberi kita kemungkinan untuk diampuni dan memulai kembali, Yesus juga kekuatan untuk mengampuni diri kita, sesama, dan sejarah! Itulah yang diinginkan Kristus. Ia ingin mengurapi kita dengan pengampunan-Nya, memberi kita damai sejahtera dan keberanian untuk mengampuni sesama pada gilirannya, keberanian untuk memberikan amnesti hati yang besar kepada sesama. Alangkah baiknya kita membersihkan hati kita dari kemarahan dan penyesalan, dari setiap bekas kebencian dan permusuhan! Saudara-saudari terkasih, semoga hari ini menjadi saat rahmat bagimu untuk menerima dan mengalami pengampunan Yesus! Semoga menjadi saat yang tepat bagimu yang sedang menanggung beban berat di hati dan rindu untuk diangkat agar kembali dapat bernafas lega. Dan semoga ini adalah saat yang tepat bagi kamu semua di negara ini yang menyebut dirimu umat Krisiani tetapi terlibat dalam kekerasan. Tuhan sedang memberitahumu : "Ulurkanlah tanganmu, rangkullah belas kasihan". Kepada semua orang yang terluka dan tertindas, Ia sedang memberitahu : "Janganlah takut untuk mengubur luka-lukamu di dalam luka-luka-Ku". Marilah kita perbuat ini, saudara-saudara. Janganlah takut untuk mengambil salib dari lehermu dan mengeluarkannya dari sakumu, bawalah dan pegang erat-erat dalam hatimu, untuk berbagi luka-lukamu dengan luka-luka Yesus. Kemudian, saat kamu pulang ke rumah, ambillah salib dari dinding dan rangkullah. Berilah Kristus kesempatan untuk menyembuhkan hatimu, serahkanlah masa lalumu kepada-Nya, bersama dengan segala ketakutan dan masalahmu. Betapa indahnya membuka pintu hati dan rumahmu untuk damai sejahtera-Nya! Dan mengapa tidak menulis perkataan-Nya di dindingmu, memakainya dalam busanamu, dan menaruhnya sebagai tanda di rumahmu : Damai sejahtera bagi kamu! Menampilkan kata-kata ini akan menjadi pernyataan kenabian untuk negaramu, dan berkat Tuhan atas semua orang yang kamu jumpai. Damai sejahtera bagi kamu : marilah kita menerima pengampunan Allah dan pada gilirannya saling mengampuni!

 

Sekarang marilah kita melihat sumber damai sejahtera yang kedua : komunitas. Yesus yang bangkit tidak hanya berbicara kepada salah seorang murid-Nya; Ia tampak bagi mereka sebagai sebuah kelompok. Atas hal ini, komunitas Kristiani perdana, Ia memberikan damai sejahtera-Nya. Tidak ada kekristenan tanpa komunitas, sama seperti tidak ada damai sejahtera tanpa persaudaraan. Tetapi sebagai sebuah komunitas, ke mana kita menuju, ke mana kita akan menemukan damai sejahtera? Marilah kita lihat kembali para murid. Sebelum Paskah, mereka berjalan di belakang Yesus, bahkan terus berpikir dalam pemahaman manusiawi : mereka mengharapkan seorang Mesias yang berjaya yang akan mengalahkan musuh-musuhnya, melakukan hal yang menakjubkan dan mukjizat, serta membuat mereka kaya dan terkenal. Tetapi keinginan-keinginan duniawi itu meninggalkan mereka dengan tangan kosong dan merampas damai sejahtera komunitas mereka, menimbulkan perdebatan dan pertentangan (bdk. Luk 9:46; 22:24). Kita menghadapi bahaya yang sama: bersama sesama, tetapi menempuh jalan kita sendiri; dalam masyarakat, dan bahkan dalam Gereja, kita mencari kekuasaan, karier, ambisi kita sendiri … Kita menempuh jalan kita sendiri alih-alih jalan Allah, dan kita berakhir seperti para murid : di balik pintu yang terkunci, tanpa harapan, serta dipenuhi dengan ketakutan dan kekecewaan. Tetapi pada Paskah mereka sekali lagi menemukan jalan menuju damai sejahtera, bersyukur kepada Yesus, yang menghembusi mereka dan berkata : “Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:22). Berkat Roh Kudus, mereka tidak lagi melihat apa yang memisahkan mereka, tetapi apa yang mempersatukan mereka. Mereka akan pergi ke dunia bukan lagi untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk sesama; bukan untuk mendapatkan perhatian, tetapi untuk menawarkan harapan; bukan untuk mendapatkan persetujuan, tetapi untuk menghabiskan hidup mereka dengan sukacita bagi Tuhan dan bagi sesama.

 

Saudara-saudari, senantiasa ada bahaya bahwa kita dapat mengikuti roh dunia daripada Roh Kristus. Bagaimana kita bisa menolak iming-iming kekuasaan dan uang serta tidak menyerah pada perpecahan, godaan karirisme yang merusak masyarakat, dan khayalan palsu tentang kesenangan dan sihir yang membuat kita menjadi egois? Sekali lagi, melalui nabi Yesaya, Tuhan menunjukkan caranya kepada kita. Ia memberitahu kita : "Aku bersemayam ... bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk" (Yes 57:15). Caranya adalah berbagi dengan orang miskin : itulah penangkal terbaik melawan godaan perpecahan dan keduniawian. Memiliki keberanian untuk memandang orang miskin dan mendengarkan mereka, karena mereka adalah anggota komunitas kita dan bukan orang asing yang dijauhkan dari pandangan dan hati nurani kita. Marilah kita membuka hati kita terhadap sesama, daripada menutup diri pada masalah atau kekhawatiran kita yang dangkal. Marilah kita mulai dari orang miskin dan kita akan menemukan kita semua memiliki kemiskinan batin, kita semua membutuhkan Roh Allah untuk membebaskan kita dari roh dunia, dan kerendahan hati adalah keagungan dan persaudaraan adalah kekayaan sejati setiap umat Kristiani. Marilah kita percaya pada komunitas dan, dengan pertolongan Allah, membangun Gereja yang bebas dari roh duniawi dan penuh dengan Roh Kudus, tidak berkepentingan untuk menimbun kekayaan dan dipenuhi dengan kasih persaudaraan!

 

Akhirnya, kita sampai pada sumber damai sejahtera yang ketiga: perutusan. Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Ia mengutus kita, sama seperti Bapa mengutus-Nya. Tetapi bagaimana Bapa mengutus-Nya ke dunia? Ia mengutus-Nya untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi umat manusia (bdk. Mrk 10:45), menunjukkan belas kasihan-Nya kepada setiap orang (bdk. Luk 15) dan mencari mereka yang jauh (bdk. Mat 9:13 ). Singkatnya, Bapa mengutus-Nya untuk semua orang : bukan hanya untuk orang benar, tetapi untuk semua orang. Dalam hal ini, kata-kata Nabi Yesaya bergema sekali lagi : "Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat -- firman TUHAN" (Yes 57:19). Pertama kepada mereka yang jauh, dan kemudian kepada mereka yang dekat : tidak hanya kepada "komunitas kita", tetapi kepada semua orang.

 

Saudara-saudari, kita dipanggil untuk menjadi para misionaris damai sejahtera, dan hal ini akan memberi kita damai sejahtera. Sebuah keputusan yang harus kita buat. Kita perlu menemukan ruang dalam hati kita untuk semua orang; meyakini bahwa perbedaan suku, daerah, sosial, agama dan budaya adalah hal sekunder dan bukan halangan; bahwa sesama adalah saudara-saudari kita, anggota komunitas manusia yang sama; dan damai sejahtera yang dibawa ke dunia oleh Yesus dimaksudkan untuk semua orang. Kita perlu percaya bahwa kita umat Kristiani dipanggil untuk bekerja sama dengan semua orang, memutus daur kekerasan, membongkar intrik kebencian. Ya, umat Kristiani, yang diutus oleh Kristus, dimaksudkan dipanggil untuk menjadi hati nurani damai sejahtera di dunia kita. Bukan hanya hati nurani yang kritis, tetapi terutama saksi-saksi kasih. Tidak peduli dengan perkara mereka sendiri, tetapi dengan perkara Injil, yaitu persaudaraan, kasih dan pengampunan. Tidak peduli dengan urusan mereka sendiri, tetapi para misionaris orang-orang "cinta gila" Allah untuk setiap manusia.

 

Damai sejahtera bagi kamu, kata Yesus hari ini kepada setiap keluarga, komunitas, kelompok etnis, lingkungan dan kota di negara besar ini. Damai sejahtera senantiasa bersamamu! Semoga petkataan Tuhan kita bergema dalam keheningan hati kita. Marilah kita mendengar perkataan ditujukan kepada kita tersebut dan marilah kita memilih untuk menjadi saksi-saksi pengampunan, pembangun komunitas, orang-orang yang ditugasi perutusan perdamaian di dunia kita.

 

Moto azalí na matóyi ma koyóka [Barang siapa bertelinga hendaknya mendengar]

 

R/ Ayoka [Dengarlah]

 

Moto azalí na motéma mwa kondima [Barang siapa memiliki hati yang tulus hendaknya berkenan]

 

R/Andima [Berkenanlah]

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Februari 2023)