Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA MALAM NATAL DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN 24 Desember 2021 : NATAL BERKAITAN DENGAN KEKECILAN

Bacaan Ekaristi : Yes. 9:1-6; Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14.

 

Dalam kegelapan, suatu cahaya bersinar. Seorang malaikat muncul, kemuliaan Tuhan bersinar di sekitar para gembala dan akhirnya pesan yang dinantikan selama berabad-abad terdengar : "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan" (Luk 2:11). Selanjutnya malaikat itu mengatakan sesuatu yang mengejutkan. Ia memberitahu para gembala bagaimana menemukan Allah yang telah turun ke bumi : “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan" (ayat 12). Itulah tandanya : seorang anak, seorang bayi yang terbaring dalam kemiskinan yang mengerikan di sebuah palungan. Tidak ada lagi cahaya terang atau paduan suara para malaikat. Hanya seorang anak. Tidak ada yang lain, bahkan sebagaimana telah dinubuatkan oleh Yesaya : “seorang anak telah lahir untuk kita” (Yes 9:6).

 

Injil menekankan kontras ini. Injil memaparkan kelahiran Yesus dimulai dengan Kaisar Augustus, yang memerintahkan cacah jiwa di seluruh dunia : Injil menghadirkan Kaisar pertama dalam seluruh keagungannya. Namun segera sesudahnya Injil membawa kita ke Betlehem, di mana tidak ada keagungan sama sekali: hanya seorang anak miskin yang terbungkus kain lampin, dengan para gembala berdiri di sampingnya. Di situlah Allah berada, dalam kekecilan. Inilah pesannya : Allah tidak muncul dalam keagungan, tetapi merendahkan diri-Nya ke dalam kekecilan. Kekecilan adalah jalan yang dipilih-Nya untuk mendekati kita, menyentuh hati kita, menyelamatkan kita dan membawa kita kembali kepada apa yang benar-benar penting.

 

Saudara-saudari, berdiri di depan kandang Natal, kita merenungkan apa yang sentral, di luar semua lampu dan dekorasi. Kita merenungkan sang anak. Dalam kekecilannya, Allah sungguh hadir. Marilah kita mengakui hal ini : "Bayi Yesus, Engkau adalah Allah, Allah yang menjadi seorang anak". Marilah kita takjub dengan kebenaran yang menghebohkan ini. Dia yang merangkul alam semesta perlu dipeluk orang lain. Dia yang menciptakan matahari perlu dihangatkan. Kelembutan yang menjelma perlu dimanjakan. Kasih yang tak terbatas memiliki hati yang sangat kecil yang berdetak dengan lembut. Sabda yang kekal adalah seorang “bayi”, seorang anak yang tidak bisa berkata-kata. Sang Roti kehidupan perlu diberi makan. Sang Pencipta dunia tidak memiliki rumah. Hari ini, semuanya terjungkir balik : Allah datang ke dunia dalam kekecilan. Keagungan-Nya tampak dalam kekecilan.

 

Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: dapatkah kita menerima cara Allah dalam melakukan segala sesuatu? Inilah tantangan Natal : Allah menyatakan diri-Nya, tetapi manusia gagal paham. Ia menjadikan diri-Nya kecil di mata dunia, sementara kita terus mencari keagungan di mata dunia, bahkan mungkin atas nama-Nya. Allah merendahkan diri dan kita berusaha menjadi besar. Yang Mahatinggi pergi mencari para gembala, yang tak terlihat di tengah-tengah kita, dan kita mencari keterlihatan. Yesus lahir untuk melayani, dan kita menghabiskan hidup dengan mengejar kesuksesan. Allah tidak mencari kekuasaan dan keperkasaan; Ia meminta kasih yang lembut dan kekecilan batin.

 

Inilah yang hendaknya kita mohonkan kepada Yesus pada hari Natal : rahmat kekecilan. “Tuhan, ajarilah kami untuk mencintai kekecilan. Tolonglah kami untuk memahami bahwa kekecilan adalah jalan menuju kebesaran sejati”. Apa artinya, secara nyata, menerima kekecilan? Pertama, percaya bahwa Allah ingin datang ke dalam hal-hal kecil dalam hidup kita; Ia ingin menghuni kehidupan kita sehari-hari, hal-hal yang kita lakukan setiap hari di rumah, dalam keluarga kita, di sekolah dan di tempat kerja. Di tengah pengalaman hidup kita yang biasa, Ia ingin melakukan hal-hal yang luar biasa. Pesan-Nya adalah pesan harapan yang sangat besar. Yesus meminta kita untuk menemukan kembali dan menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan. Jika Ia hadir di sana, apa lagi yang kita butuhkan? Marilah kita berhenti merindukan keagungan yang bukan milik kita. Marilah kita singkirkan keluhan dan wajah murung kita, serta keserakahan yang tak pernah terpuaskan!

 

Namun lebih dari itu. Yesus tidak ingin datang hanya dalam hal-hal kecil dalam kehidupan kita, tetapi juga dalam kekecilan kita : dalam pengalaman ketika kita merasa lemah, rapuh, tidak berdaya, bahkan mungkin “tidak karuan”. Saudara-saudari terkasih, jika, seperti di Betlehem, kegelapan malam menguasaimu, jika kamu merasa dikelilingi oleh ketidakpedulian yang tak berperasaan, jika luka batinmu berteriak, “Kamu tidak penting; kamu tidak berharga; kamu tidak akan pernah dikasihi seperti yang kamu inginkan”, malam ini Allah kembali menjawab. Malam ini Ia memberitahumu : “Aku mengasihimu apa adanya. Kekecilanmu tidak membuat-Ku takut, kegagalanmu tidak menyusahkan-Ku. Aku menjadi kecil demi kamu. Demi menjadi Allahmu, Aku menjadi saudaramu. Saudara terkasih, saudari terkasih, jangan takut pada-Ku. Temukan dalam diri-Ku ukuran kebesaranmu. Aku dekat denganmu, dan hanya satu hal yang Kumohon : percayalah dan bukalah hatimu untuk-Ku”.

 

Menerima kekecilan berarti sesuatu yang lain juga. Menerima kekecilan berarti merangkul Yesus dalam diri orang-orang kecil dewasa ini. Mengasihi-Nya, yaitu, dalam diri saudara-saudari kita. Melayani-Nya dalam diri kaum miskin, orang-orang yang paling serupa Yesus yang lahir dalam kemiskinan. Di dalam diri mereka Ia ingin dihormati. Pada malam kasih ini, semoga kita hanya memiliki satu ketakutan : yaitu menghina kasih Allah, menyakiti-Nya dengan meremehkan kaum miskin dengan ketidakpedulian kita. Yesus sangat mengasihi mereka, dan suatu hari mereka akan menyambut kita di surga. Seorang penyair pernah menulis: “Barangsiapa telah menemukan surga – di bawah – akan gagal di atas” (E. Dickinson, Puisi, P96-17). Janganlah kita melupakan surga; marilah kita merawat Yesus sekarang, membelai-Nya dalam diri orang-orang yang membutuhkan, karena di dalam diri mereka, Ia mnjadikan diri-Nya dikenal.

 

Sekali lagi kita menatap kandang Natal, dan kita melihat bahwa pada saat kelahiran-Nya Yesus justru dikelilingi oleh orang-orang kecil, oleh kaum miskin. Siapa mereka? Para gembala. Mereka adalah orang-orang yang paling sederhana, dan paling dekat dengan Tuhan. Mereka menemukan-Nya karena mereka tinggal di padang, “menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam” (Luk 2:8). Mereka berada di sana untuk bekerja, karena mereka miskin. Mereka tidak punya jadwal dalam kehidupan mereka ; semuanya tergantung pada kawanan ternak mereka. Di mana dan bagaimana mereka hidup tidak dapat sesuai dengan keinginan mereka, tetapi berdasarkan kebutuhan domba yang mereka gembalakan. Di sanalah Yesus dilahirkan: dekat mereka, dekat orang-orang pinggiran yang terlupakan. Ia datang di mana martabat manusia diuji. Ia datang untuk memuliakan orang-orang yang dikucilkan dan Ia pertama kali mengungkapkan dirinya kepada mereka : bukan kepada orang-orang terpelajar dan penting, tetapi kepada kaum pekerja miskin. Malam ini dengan bermartabat Allah datang untuk menggenapi kesederhanaan kerja. Ia mengingatkan kita pentingnya menganugerahkan martabat kepada manusia melalui kerja, tetapi juga memberikan martabat pada kerja manusia itu sendiri, karena manusia adalah tuannya dan bukan budaknya. Pada hari Kehidupan, marilah kita ulangi : tidak ada lagi kematian di tempat kerja! Dan marilah kita berkomitmen untuk memastikan hal ini.

 

Saat kita memandang kandang Natal untuk terakhir kalinya, di kejauhan, kita melihat sekilas para Majus, yang melakukan perjalanan untuk menyembah Tuhan. Saat kita melihat lebih dekat, kita melihat bahwa di sekitar Yesus segala sesuatu datang bersama-sama : kita tidak hanya memandang kaum miskin, para gembala, tetapi juga orang-orang terpelajar dan orang-orang kaya, para Majus. Di Betlehem, kaya-miskin berkumpul, mereka yang menyembah, seperti orang Majus, dan mereka yang bekerja, seperti para gembala. Semuanya bersatu ketika Yesus berada di pusat : bukan gagasan kita tentang Yesus, tetapi Yesus sendiri, Sosok yang hidup.

 

Jadi, saudara-saudari terkasih, marilah kita kembali ke Betlehem, marilah kita kembali ke asal-usul : pokok iman, cinta pertama kita, adorasi dan amal kasih. Marilah kita memandang para Majus yang melakukan peziarahan mereka, dan sebagai Gereja sinodal, Gereja yang melakukan perjalanan, marilah kita pergi ke Betlehem, di mana Allah ada di dalam manusia dan manusia di dalam Allah. Di sana Allah menempati tempat pertama dan disembah; di sana kaum miskin memiliki tempat terdekat dengan-Nya; di sana para gembala dan para Majus bergabung dalam persaudaraan melampaui semua penamaan dan penggolongan. Semoga Allah memampukan kita menjadi Gereja yang menyembah, miskin dan bersaudara. Itulah apa yang terpenting. Marilah kita kembali ke Betlehem.

 

Ada baiknya kita pergi ke sana, taat kepada Injil Natal, yang menunjukkan kepada kita Keluarga Kudus, para gembala, para Majus : semua orang yang berada dalam perjalanan. Saudara-saudari, marilah kita berangkat, karena hidup itu sendiri adalah peziarahan. Marilah kita membangunkan diri kita, karena malam ini sebuah terang telah dinyalakan, terang yang ramah, mengingatkan kita bahwa, dalam kekecilan kita, kita adalah putra-putri terkasih, anak-anak terang (bdk. 1 Tes 5:5). Marilah kita bersukacita bersama, karena tidak ada seorang pun yang mampu memadamkan terang ini, terang Yesus, yang malam ini bersinar terang di dunia kita.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 25 Desember 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU ADVEN II DI AULA KONSER MEGARON, ATHENA (YUNANI) 5 Desember 2021 : PADANG GURUN DAN PERTOBATAN

Bacaan Ekariti : Bar. 5:1-9; Mzm.126:1-2ab.2cd-3.4-5.6; Flp. 1:4-6.8-11; Luk. 3:1-6.

 

Pada Hari Minggu Adven II ini Sabda Allah menghadirkan kepada kita sosok Santo Yohanes Pembaptis. Bacaan Injil menggarisbawahi dua lingkupnya : tempat ditemukannya, padang gurun, dan isi pesannya, pertobatan. Padang gurun dan pertobatan : Bacaan Injil hari ini menekankan hal ini dan begitu banyak desakan yang membuat kita mengerti bahwa kata-kata ini menyangkut kita secara langsung. Marilah kita sambut keduanya.

 

Padang gurun. Penginjil Lukas memperkenalkan tempat ini secara khusus. Bahkan, ia berbicara tentang keadaan sesungguhnya dan orang-orang besar saat itu : ia menyebutkan tahun kelima belas pemerintahan Kaisar Tiberius, Pontius Pilatus, sang wali negeri, Raja Herodes dan "pemimpin politik" lainnya pada waktu itu; kemudian ia menyebutkan para pemimpin keagamaan, Hanas dan Kayafas, yang berada di dekat Bait Suci Yerusalem (bdk. Luk 3:1-2). Pada titik ini ia menyatakan : "Datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun (Luk 3.2).

 

Tetapi bagaimana caranya? Kita akan mengharapkan sabda Allah untuk berbicara kepada salah satu orang besar yang baru saja disebutkan. Tetapi saja tidak. Sebuah ironi halus muncul dari baris-baris Injil : dari lantai atas tempat tinggal para pemegang tampuk kekuasaan, sabda Allah tiba-tiba lewat menuju padang gurun, menuju seorang yang tidak dikenal dan menyendiri. Allah mengejutkan, pilihan-Nya mengejutkan : orang-orang yang tidak termasuk dalam prakiraan manusia, orang-orang yang tidak mengikuti kekuasaan dan kebesaran yang biasanya dikaitkan manusia dengannya. Tuhan lebih menyukai kekecilan dan kerendahan hati. Penebusan tidak dimulai di Yerusalem, Athena atau Roma, tetapi di padang gurun. Strategi yang bersifat paradoks ini memberi kita pesan yang sangat indah : memiliki kewenangan, berbudaya dan terkenal bukanlah jaminan berkenan bagi Allah; memang, itu semua bisa menyebabkan kesombongan dan menolak sabda Allah. Sebaliknya, miskin batin diperlukan, karena miskin adalah padang gurun.

 

Marilah kita menetap pada paradoks padang gurun. Perintis mempersiapkan kedatangan Kristus ke tempat yang tidak terjangkau dan tidak ramah, penuh bahaya ini. Sekarang, jika kamu ingin membuat pemberitahuan penting, kamu biasanya pergi ke tempat-tempat yang indah, di mana ada banyak orang, di mana ada jarak penglihatan. Yohanes, di sisi lain, berkhotbah di padang gurun. Tepatnya di sana, di tempat yang gersang, di ruang kosong yang terbentang sejauh mata memandang dan di mana hampir tidak ada kehidupan, di sanalah kemuliaan Tuhan dinyatakan, yang - sebagaimana dinubuatkan Kitab Suci (bdk. Yes 40:3-4) - mengubah padang gurun menjadi telaga, dan tanah kering menjadi mata air (bdk. Yes 41:18). Inilah pesan yang membesarkan hati lainnya : Allah, sekarang seperti dulu, mengalihkan pandangan-Nya ke tempat yang dikuasai kesedihan dan kesepian. Kita dapat mengalaminya dalam hidup : Ia sering gagal menjangkau kita saat kita berada di antara tepuk tangan dan hanya memikirkan diri kita sendiri; Ia berhasil terutama dalam jam-jam pengujian. Ia mengunjungi kita dalam situasi sulit, dalam kekosongan kita yang menyisakan ruang untuk-Nya, di padang gurun keberadaan kita. Di sanalah Tuhan mengunjungi kita.

 

Saudara-saudari terkasih, dalam kehidupan seseorang atau sekelompok orang tidak ada saat di mana seseorang tidak memiliki kesan berada di padang gurun. Dan di sinilah tepatnya Tuhan menghadirkan diri-Nya, yang seringkali tidak disambut oleh mereka yang merasa berhasil, tetapi oleh mereka yang merasa tidak dapat berhasil. Dan Ia datang dengan kata-kata kedekatan, kasih sayang dan kelembutan : "Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau" (ayat 10). Berkhotbah di padang gurun, Yohanes meyakinkan kita bahwa Tuhan datang untuk membebaskan kita dan kembali memberi kita kehidupan dalam situasi yang tampaknya tidak dapat ditebus, tanpa jalan keluar : di sanalah Ia datang. Oleh karena itu, tidak ada tempat yang tidak ingin dikunjungi Allah. Dan hari ini kita hanya bisa merasakan sukacita melihat-Nya memilih padang gurun, untuk menjangkau kita dalam kekecilan kita karena Ia mengasihi dan dalam kegersangan kita karena Ia ingin memuaskan dahaga kita! Jadi, orang-orang yang terkasih, jangan takut akan kekecilan, karena persoalannya bukanlah menjadi kecil dan sedikit, tetapi membuka diri terhadap Allah dan sesama, serta bahkan jangan takut akan kekeringan, karena Allah tidak menakut-nakuti mereka, yang datang ke sana untuk mengunjungi kita!

 

Marilah kita beralih ke aspek kedua, pertobatan. Yohanes Pembaptis mengkhotbahkannya tanpa henti dan dengan nada yang berapi-api (bdk. Luk 3:7). Ini juga merupakan masalah yang "tidak nyaman". Sama seperti padang gurun bukan tempat pertama yang ingin kita tuju, demikian pula ajakan untuk pertobatan tentu saja bukan tawaran pertama yang ingin kita dengar. Berbicara tentang pertobatan dapat membangkitkan kesedihan; pertobatan tampaknya sulit untuk didamaikan dengan Injil sukacita. Tetapi hal ini terjadi ketika pertobatan direduksi menjadi upaya moral, seolah-olah pertobatan hanya buah dari komitmen kita. Masalahnya justru terletak di sini, dalam mendasarkan segala sesuatu pada kekuatan kita. Hal ini keliru! Di sini kesedihan dan frustrasi rohani juga mengintai : kita ingin bertobat, menjadi lebih baik, mengatasi kekurangan kita, berubah, tetapi kita merasakan diri kita tidak sepenuhnya mampu dan, meskipun ada niat baik, kita selalu mundur. Kita memiliki pengalaman yang sama dengan Santo Paulus yang, tepatnya dari negeri-negeri ini, menulis: "Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (Rm 7:18-19). Oleh karena itu, jika sendirian, kita tidak memiliki kemampuan untuk berkeinginan berbuat baikan, apa artinya kita harus bertobat?

 

Bahasamu yang indah, bahasa Yunani, dapat membantu kita dengan etimologi dari kata kerja injili “bertobat”, metanoéin. Metanoéin terdiri dari kata depan metá, yang di sini berarti melampaui, dan kata kerja noéin, yang berarti berpikir. Maka, bertobat adalah berpikir melampaui, bertobat adalah berjalan melampaui cara berpikir biasa, melampaui skema mental biasa kita. Saya sedang memikirkan dengan tepat skema yang mengurangi segalanya yang diperuntukan bagi diri kita, klaim yang diperuntukan bagi kecukupan diri kita. Atau yang diperuntukan bagi mereka yang tertutup oleh kekakuan dan ketakutan yang melumpuhkan, oleh godaan "selalu dilakukan seperti ini, mengapa berubah?", Dengan gagasan bahwa padang gurun kehidupan adalah tempat kematian dan bukan tempat kehadiran Allah.

 

Dengan menasihati kita untuk bertobat, Yohanes mengajak kita untuk melangkah lebih jauh dan tidak berhenti di sini; melampaui apa yang dikatakan naluri dan potret pikiran kita, karena kenyataan lebih besar : kenyataan lebih besar dari naluri kita, dari pikiran kita. Kenyataannya yaitu Allah lebih besar. Pertobatan, kemudian, berarti tidak mendengarkan apa yang menghancurkan harapan, tidak mendengarkan orang-orang yang mengulangi bahwa tidak ada yang akan pernah berubah dalam kehidupan - orang-orang yang pesimis sepanjang masa. Menolak untuk percaya bahwa kita ditakdirkan untuk tenggelam ke dalam pasir hisap yang biasa-biasa saja. Tidak menyerah pada hantu batin, yang muncul terutama pada saat-saat pencobaan untuk mengecilkan hati kita dan memberitahu kita bahwa kita tidak akan berhasil, bahwa segalanya keliru dan menjadi kudus bukan untuk kita. Bukan seperti itu, karena ada Allah. Kita harus percaya kepada-Nya, karena Dialah masa depan kita, kekuatan kita. Segalanya berubah jika tempat pertama diserahkan kepada-Nya. Inilah pertobatan : pintu kita yang terbuka sudah cukup bagi Tuhan untuk masuk dan melakukan keajaiban, sama seperti padang gurun dan kata-kata Yohanes sudah cukup bagi-Nya untuk datang ke dunia. Ia tidak meminta lebih.

 

Kita memohon rahmat untuk percaya bahwa bersama Allah segalanya berubah, Ia menyembuhkan ketakutan kita, menyembuhkan luka kita, mengubah rupa tempat-tempat gersang menjadi mata air. Kita memohon rahmat harapan. Karena harapan menghidupkan kembali iman dan mengobarkan kembali amal. Karena diharapkan padang gurun dunia sedang kehausan dewasa ini. Dan sementara pertemuan kita ini memperbaharui diri kita dalam harapan dan sukacita Yesus, dan saya bersukacita berada bersamamu, kita memohon kepada Bunda kita, Bunda yang Mahakudus, untuk membantu kita menjadi, seperti dia, saksi harapan, penabur sukacita di sekitar kita - harapan, saudara-saudari, tidak pernah mengecewakan, tidak pernah mengecewakan -. Tidak hanya saat kita bahagia dan bersama, tetapi setiap hari, di padang gurun yang kita huni. Karena di sanalah, dengan rahmat Allah, hidup kita dipanggil untuk bertobat. Di sana, di banyak padang gurun batiniah atau lingkungan kita, di sana kehidupan dipanggil untuk berkembang. Semoga Tuhan memberi kita rahmat dan keberanian untuk menyambut kebenaran ini.

_____


(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi - Bogor, 6 Desember 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION GSP, SIPRUS 3 Desember 2021 : TIGA LANGKAH YANG DAPAT MEMBANTU KITA UNTUK MENYAMBUT TUHAN KETIKA IA DATANG

Bacaan Ekaristi : Yes 29:17-24; Mat 9:27-31.

 

Ketika Yesus lewat, dua orang buta berseru-seru dalam kesengsaraan dan harapan : "Kasihanilah kami, hai Anak Daud" (Mat 9:27). "Anak Daud" adalah gelar yang dikaitkan dengan Mesias, yang dinubuatkan akan datang dari garis keturunan Daud. Kedua orang dalam Injil hari ini buta, namun mereka melihat hal yang paling penting : mereka menyadari bahwa Yesus adalah Mesias yang telah datang ke dunia. Marilah kita bercermin pada tiga langkah dalam perjumpaan ini. Ketiga langkah tersebut dapat membantu kita pada gilirannya, selama masa Adven ini, untuk menyambut Tuhan ketika Ia datang.

 

Pertama : Mereka pergi kepada Yesus untuk disembuhkan. Teks mengatakan bahwa dua orang buta itu berseru-seru kepada Tuhan sambil mengikuti-Nya (bdk. ayat 27). Mereka tidak dapat melihat-Nya, tetapi mereka mendengar suara-Nya dan mengikuti jejak-Nya. Di dalam Kristus, mereka sedang mencari apa yang telah dinubuatkan oleh para nabi : tanda kuasa penyembuhan dan belas kasih Allah hadir di tengah-tengah umat-Nya. Yesaya telah menulis : “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan” (35:5). Dan nubuat lain, yang kita dengar dalam Bacaan Pertama hari ini, juga telah menjanjikan : “Lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat” (29:18). Kedua orang dalam Injil itu percaya kepada Yesus. Mereka mengikuti-Nya untuk mencari terang bagi mata mereka.

 

Saudara-saudari, mengapa mereka percaya kepada Yesus? Karena mereka menyadari bahwa, dalam kegelapan sejarah, Ia adalah terang yang menerangi “malam” hati dan dunia. Terang yang mengalahkan kegelapan dan mengatasi kebutaan. Kita juga memiliki semacam "kebutaan" dalam hati kita. Seperti kedua orang buta itu, kita sering seperti musafir, tenggelam dalam kegelapan hidup. Hal pertama yang harus dilakukan sebagai tanggapan adalah pergi kepada Yesus, seperti yang dikatakan-Nya kepada kita : "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Mat 11:28). Apakah ada di antara kita yang, dalam beberapa hal, tidak lelah atau berbeban berat? Namun, kita menolak datang kepada Yesus. Seringkali kita lebih suka tetap tertutup pada diri kita sendiri, sendirian dalam kegelapan, mengasihani diri sendiri dan puas memiliki kesedihan sebagai pendamping kita. Yesus adalah tabib ilahi : Ia sendiri adalah terang sejati yang menerangi setiap orang (bdk. Yoh 1:9), Ia yang memberi kita banyak terang, kehangatan dan kasih. Hanya Yesus yang membebaskan hati dari kejahatan. Jadi marilah kita bertanya pada diri kita : apakah aku tetap terbungkus dalam kegelapan keputusasaan dan ketidakbahagiaan, atau apakah aku pergi kepada Yesus dan memberikan hidupku kepada-Nya? Apakah aku mengikuti Yesus, menyeru-nyerukan kebutuhanku, dan menyerahkan kepahitanku kepada-Nya? Marilah kita melakukannya! Marilah kita memberi Yesus kesempatan untuk menyembuhkan hati kita. Itulah langkah pertama; tetapi penyembuhan batin membutuhkan dua langkah lanjutan.

 

Langkah selanjutnyab: Mereka bersama-sama menderita. Injil tidak berbicara tentang penyembuhan orang buta secara perorangan, seperti yang terjadi dengan Bartimeus, misalnya (bdk. Mrk 10:46-52) atau orang yang buta sejak lahir (bdk. Yoh 9:1-41). Di sini ada dua orang buta. Mereka bersama-sama berada di pinggir jalan. Mereka bersama-sama menderita, tidakbahagia karena buta, dan menginginkan terang yang bersinar di kalbu "malam" mereka. Ketika mereka berbicara, dalam bentuk jamak, karena mereka melakukan segala sesuatunya bersama-sama : keduanya mengikuti Yesus, keduanya berseru-seru kepada-Nya dan memohon kesembuhan; bukan masing-masing untuk dirinya sendiri, tetapi bersama-sama, sebagai kesatuan. Yang sangat penting, mereka berkata kepada Kristus : Kasihanilah kami. "Kami", bukan "aku". Mereka bersama-sama memohon pertolongan. Ini adalah tanda yang mengesankan dari kehidupan Kristiani dan ciri khas semangat gerejawi : berpikir, berbicara dan bertindak sebagai "kita", meninggalkan individualisme dan rasa kecukupan diri yang menjangkiti hati.

 

Dengan penderitaan bersama-sama dan persahabatan persaudaraan mereka, kedua orang buta ini mengajarkan banyak hal kepada kita. Kita masing-masing buta dalam beberapa hal sebagai akibat dosa, yang menghalangi kita untuk “melihat” Allah sebagai Bapa kita dan satu sama lain sebagai saudara dan saudari. Karena itulah apa yang dilakukan dosa; dosa memutarbalikkan kenyataan : dosa membuat kita melihat Allah sebagai penguasa yang lalim dan satu sama lain sebagai masalah. Ini adalah pekerjaan si penggoda, yang memutarbalikkan berbagai hal, menempatkannya dalam terang yang negatif, membuat kita jatuh ke dalam keputusasaan dan kepahitan. Dan kemudian kita menjadi mangsa kesedihan yang mengerikan, yang berbahaya dan bukan berasal dari Allah. Kita tidak harus menghadapi kegelapan sendirian. Jika kita menanggung kebutaan batin kita sendirian, kita bisa menjadi kewalahan. Kita perlu berdiri berdampingan satu sama lain, bersama-sama menderita dan menghadapi jalan di depan bersama-sama.

 

Saudara dan saudari terkasih, dihadapkan dengan kegelapan batin kita sendiri dan tantangan di depan kita dalam Gereja dan masyarakat, kita dipanggil untuk memperbarui rasa persaudaraan kita. Jika kita tetap terbagi-bagi, jika setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri, atau kelompoknya, jika kita menolak untuk bersatu, jika kita tidak berdialog dan berjalan bersama, kita tidak akan pernah sepenuhnya sembuh dari kebutaan kita. Penyembuhan terjadi ketika kita membawa penderitaan kita bersama-sama, ketika kita menghadapi masalah bersama-sama, ketika kita mendengarkan dan berbicara satu sama lain. Itulah anugerah hidup dalam komunitas, menyadari betapa pentingnya menjadi komunitas. Inilah yang saya minta darimu : kamu senantiasa tetap bersama-sama, senantiasa bersatu; kamu maju bersama-sama dengan sukacita sebagai saudara dan saudari Kristiani, anak-anak dari satu Bapa. Dan saya juga memintanya untuk diri saya sendiri.

 

Dan sekarang, langkah ketiga : Mereka dengan penuh sukacita mewartakan Kabar Baik. Setelah Yesus menyembuhkan mereka, dua orang dalam Injil itu, yang di dalam diri mereka kita dapat melihat cermin diri kita, mulai menyebarkan kabar baik ke seluruh wilayah. Ada sedikit ironi dalam hal ini. Yesus telah mengatakan kepada mereka untuk tidak memberitahu siapa pun apa yang telah terjadi, namun mereka justru melakukan sebaliknya (bdk. Mat 9:30-31). Dari apa yang diberitahukan kepada kita, jelas bahwa mereka tidak berniat untuk tidak menaati Tuhan; mereka sama sekali tidak dapat menahan sukacita mereka atas kesembuhan mereka dan sukacita perjumpaan mereka dengan Yesus. Ini adalah tanda khas lain dari orang Kristiani : sukacita Injil yang tak tertahankan, yang “memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus” (Evangelii Gaudium, 1), secara alami menuntun untuk bersaksi dan membebaskan kita dari risiko iman yang bersifat pribadi, suram dan bersungut-sungut.

 

Saudara dan saudari terkasih, saya senang melihatmu menghayati dengan penuh sukacita pesan Injil yang membebaskan. Saya berterima kasih atas hal ini. Bukan penyebaran agama, tetapi kesaksian; bukan moralisme yang menghakimi tetapi rahmat yang merangkul; bukan kesalehan yang dangkal tetapi kasih yang hidup. Saya mendorongmu untuk terus maju di jalan ini. Seperti dua orang buta dalam Injil, marilah kita sekali lagi berjumpa Yesus, dan keluar dari diri kita sendiri untuk menjadi saksi Yesus yang tak kenal takut bagi semua orang yang kita temui! Marilah kita berangkat, membawa terang yang telah kita terima. Marilah kita maju untuk menerangi malam yang sering mengelilingi kita! Kita membutuhkan umat Kristiani yang tercerahkan, tetapi terutama mereka yang dipenuhi terang, orang-orang yang dapat menjamah kebutaan saudara-saudari mereka dengan kasih yang lembut dan dengan tingkah laku dan kata-kata penghiburan yang menyalakan terang harapan di tengah kegelapan. Umat Kristiani yang dapat menabur benih Injil di ladang kering kehidupan sehari-hari, dan membawa kehangatan kepada tanah terlantar penderitaan dan kemiskinan.

 

Saudara dan saudari, Tuhan Yesus juga sedang melewati jalan-jalan di Siprus, mendengarkan seruan kebutaan kita. Ia ingin menjamah mata dan hati kita serta menuntun kita menuju terang, memberi kita kelahiran kembali secara rohani dan kekuatan baru. Kepada kita, Ia mengajukan pertanyaan yang Ia ajukan kepada kedua orang buta itu : "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" (Mat 9:28). Percayakah kita bahwa Yesus dapat melakukannya? Marilah kita perbarui iman kita kepada-Nya. Marilah kita katakan kepada-Nya : Yesus, kami percaya bahwa terang-Mu lebih besar dari kegelapan kami; kami percaya bahwa Engkau dapat menyembuhkan kami, Engkau dapat memperbarui persekutuan kami, Engkau dapat meningkatkan sukacita kami. Bersama seluruh Gereja, marilah kita berdoa : Datanglah, Tuhan Yesus!

_____


(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi - Bogor, 3 Desember 2021)