Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 18 September 2017 : DOAKANLAH PARA PEMIMPINMU MESKIPUN MEREKA BERBUAT SALAH

Bacaan Ekaristi : 1Tim. 2:1-8; Mzm. 28:2,7,8-9; Luk. 7:1-10

Sebagai umat kristiani kita harus mendoakan para pemimpin kita yang terpilih, bahkan jika kita tidak sepaham dengan politik mereka. Itulah pokok homili Paus Fransiskus dalam Misa harian Senin pagi 18 September 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan.

Paus Fransiskus mengacu Bacaan Pertama liturgi hari itu (1Tim. 2:1-8), yang di dalamnya Santo Paulus meminta agar "permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur" dinaikkan "untuk raja-raja dan untuk semua pembesar". Dalam Injil hari itu, seorang pemimpin Romawi, perwira Romawi, mendoakan agar hambanya disembuhkan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 15 September 2017 : BUNDA MARIA BERDUKACITA

Bacaan Ekaristi : Ibr 5:7-9; Mzm 31:2-6,15-16,20; Yoh 19:25-27

Homili Paus Fransiskus selama Misa harian Jumat pagi 15 September 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan, berfokus pada sosok Bunda Maria Berdukacita yang dirayakan hari itu. Kita perlu merenungkan Bunda Yesus, kata Paus Fransiskus, kita perlu merenungkan "tanda perbantahan ini, karena Yesus adalah sang pemenang, tetapi di atas kayu Salib". Ini adalah sebuah pertentangan, beliau mengatakan, yang tidak bisa kita pahami. "Perlu iman untuk memahaminya, paling tidak mendekati (untuk memahami) misteri ini".

Maria memahami dan menjalani seluruh hidupnya dengan hati yang tertusuk. "Ia mengikuti Yesus dan mendengarkan komentar orang banyak terhadap Yesus, terkadang bernada positif, terkadang bernada negatif. Tetapi ia selalu berada tepat di belakang Putranya. Itulah sebabnya kita menyebutnya murid pertama". Keprihatinan Marialah, lanjut Paus Fransiskus, yang menimbulkan "tanda perbantahan" ini di dalam hatinya.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA SALIB SUCI 14 September 2017 : SALIB KRISTUS ADALAH MISTERI KASIH

Bacaan Ekaristi : Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17

Paus Fransiskus kembali merayakan misa harian pagi di Casa Santa Marta, Vatikan, pada hari Kamis 14 September 2017 setelah liburan musim panas. Dalam Misa yang bertepatan dengan Pesta Salib Suci tersebut, Paus Fransiskus memusatkan homilinya pada misteri kasih, yaitu Salib Kristus dan memperingatkan terhadap dua godaan rohani yang terkait dengannya.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI WILAYAH PELABUHAN CARTAGENA (KOLOMBIA) 10 September 2017 : MARTABAT DAN HAK ASASI MANUSIA


Bacaan Ekaristi : Yeh. 33:7-9; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 13:8-10; Mat. 18:15-20

Di kota ini, yang telah disebut "heroik" karena kegigihannya dalam mempertahankan kebebasan dua ratus tahun yang lalu, saya merayakan Misa penutup kunjungan saya ke Kolombia. Selama tiga puluh dua tahun terakhir Cartagena de Indias juga merupakan kantor pusat di Kolombia untuk Hak Asasi Manusia. Karena di sini orang-orang menyimpan dalam hati kenyataan bahwa, "berkat tim misioner yang dibentuk oleh para imam Yesuit Petrus Claver y Corberó dan Alonso de Sandoval serta Bruder Yesuit Nicolás González, yang didampingi oleh banyak warga kota Cartagena de Indias pada abad ketujuh belas, keinginan terlahir untuk meringankan situasi orang-orang yang tertindas pada masa itu, terutama para budak, mereka yang memohon perlakuan dan kebebasan yang adil" (Kongres Kolombia 1985, hukum 95, pasal 1).

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI BANDARA ENRIQUE OLAYA HERRERA, MEDELLIN (KOLOMBIA) 9 September 2017 : KEHIDUPAN KRISTIANI SEBAGAI PEMURIDAN

Bacaan Ekaristi : 1Kor. 4:6b-15; Mzm. 145:17-18,19-20,21; Luk. 6:1-5.

Saudara dan saudari yang terkasih,

Dalam Misa pada hari Kamis (7 September 2017) di Bogotá, kita mendengar Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama; bagian dari Injil Lukas yang dibuka dengan perikop ini, diakhiri dengan panggilan Kelompok Dua Belas. Apa yang sedang diingatkan para penginjil kepada kita di antara dua peristiwa ini? Bahwa perjalanan mengikuti Yesus ini melibatkan sebuah karya besar pemurnian dalam diri para pengikut-Nya yang pertama. Beberapa perintah, larangan dan mandat membuat mereka merasa aman; melaksanakan praktek dan ritus tertentu membebaskan mereka dari pertanyaan yang tidak nyaman : "Allah menginginkan kami melakukan apa?" Tuhan Yesus mengatakan kepada mereka bahwa pelaksanaan praktek dan ritus tersebut termasuk mengikuti-Nya, dan bahwa perjalanan ini akan membuat mereka berjumpa dengan orang-orang kusta, orang-orang lumpuh dan orang-orang berdosa. Kenyataan-kenyataan ini menuntut lebih dari sekedar rumusan, norma yang tak terpungkiri. Para murid mempelajari bahwa mengikuti Yesus mengandaikan prioritas-prioritas lain, pertimbangan-pertimbangan lain guna melayani Allah. Bagi Tuhan, juga bagi jemaat perdana, sangatlah penting bagi kita yang menyebut diri murid-murid tidak melekat pada sebuah gaya tertentu atau terhadap praktek-praktek tertentu yang menyebabkan kita menjadi semakin seperti orang-orang Farisi ketimbang seperti Yesus. Kebebasan Yesus berbeda dengan tidak adanya kebebasan yang terlihat dakam diri para ahli Taurat masa itu, yang dilumpuhkan oleh penafsiran dan praktek hukum yang ketat. Yesus tidak hidup berdasarkan ketaatan yang "benar-benar" dangkal; Ia membawa hukum menuju penggenapannya. Inilah yang Ia inginkan terhadap kita, mengikuti-Nya sedemikian rupa untuk mengetahui apa yang penting, diperbaharui, dan terlibat. Inilah tiga sikap yang harus membentuk kehidupan kita sebagai para murid.