Liturgical Calendar

Featured Posts

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION MIKHEIL MESKHI, TBILISI (GEORGIA) 1 Oktober 2016

Bacaan Ekaristi : Yes. 66:10-14b; Mzm. 131:1.2.3; Mat. 18:1-4.

Di antara banyak khazanah negara yang megah ini, salah satu khazanah yang menonjol adalah pentingnya kaum perempuan. Seperti ditulis Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus, yang kita peringati hari ini : "mereka mengasihi Allah dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada kaum laki-laki" (Otobiografi, Naskah A, VI). Di sini, di Georgia ada sejumlah besar nenek dan ibu yang tak henti-hentinya membela dan meneruskan iman yang ditaburkan di negeri Santo Nino ini; dan mereka membawa air segar penghiburan Allah untuk situasi gersang dan perseteruan yang tak terhitung jumlahnya.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 27 September 2016 : TUHAN MENGAJARKAN KITA UNTUK BERDOA DI TENGAH-TENGAH KEHANCURAN ROHANI

Bacaan Ekaristi : Ayb 3:1-3,11-17,20-23; Mzm 88:2-3,4-5,6,7-8; Luk 9:51-56

Paus Fransiskus mengatakan keheningan dan doa adalah cara untuk mengatasi saat-saat tergelap kita, ketimbang beralih ke obat-obatan atau minuman beralkohol untuk melarikan diri dari kesengsaraan kita. Beliau menyampaikan hal ini dalam homilinya selama Misa harian pagi Selasa 27 September 2016 di kapel Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXVI (MISA YUBILEUM PARA KATEKIS) 25 September 2016

Bacaan Ekaristi : Am 6:1a,4-7; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; 1Tim. 6:11-16; Luk. 16:19-31

Dalam Bacaan Kedua Rasul Paulus menawarkan kepada Timotius, tetapi juga kepada kita, beberapa saran yang dekat dengan hatinya. Antara lain, ia menuntut dirinya "turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela" (1 Tim 6:14). Ia membicarakan hanya sebuah perintah. Tampaknya ia ingin menjaga perhatian kita tetap teguh pada apa yang penting bagi iman kita. Santo Paulus, memang, tidak sedang menunjukkan segala macam titik perbedaan, tetapi sedang menekankan inti dari iman. Pusat ini yang di sekitarnya segalanya berputar, jantung yang berdetak ini yang memberi kehidupan kepada segalanya adalah pewartaan Paskah, pewartaan yang pertama : Tuhan Yesus telah bangkit, Tuhan Yesus mengasihi kalian, dan Ia telah memberikan hidup-Nya untuk kalian; bangkit dan tetap hidup, Ia dekat dengan kalian dan menunggu kalian setiap hari. Kita tidak boleh melupakan hal ini. Pada Yubileum untuk Para Katekis ini, kita sedang diminta untuk tidak bosan mengedepankan dan mengutamakan pesan utama iman : Tuhan telah bangkit. Tidak ada yang lebih penting; tidak ada yang lebih jelas atau lebih relevan daripada ini. Segalanya dalam iman menjadi indah ketika dihubungkan dengan pusat ini, jika ia jenuh oleh pemakluman Paskah. Jika ia tetap terasing, namun, ia kehilangan akal dan kekuatannya. Kita dipanggil selalu hidup keluar dan memaklumkan kebaruan kasih Tuhan : "Yesus benar-benar mengasihi kalian, seperti apa adanya. Berilah Dia ruang : terlepas dari kekecewaan-kekecewaan dan luka-luka dalam kehidupan kalian, memberi-Nya kesempatan untuk mengasihi kalian. Ia tidak akan mengecewakan kalian".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 22 September 2016 : KESIA-SIAAN ADALAH OSTEOPOROSIS JIWA

Bacaan Ekaristi : Pkh. 1:2-11; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Luk. 9:7-9

Paus Fransiskus mempertentangkan kegelisahan yang berasal dari Roh Kudus dan kegelisahan yang berasal dari hati nurani yang kotor. Dalam homilinya selama Misa harian Kamis pagi 22 September 2016 di Casa Santa Marta, Vatikan, beliau juga berbicara tentang kesombongan, yang "menopengi" kehidupan, membuatnya terlihat tidak seperti seharusnya.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 20 September 2016 : TIDAK ADA ALLAH PEPERANGAN; ALLAH ADALAH ALLAH PERDAMAIAN

Bacaan Ekaristi : Ams. 21:1-6,10-13; Mzm. 119:1,27,30,34,35,44; Luk. 8:19-21

Dunia perlu berjalan "mengatasi perpecahan agama-agama", dan merasa "malu" akan peperangan, tanpa menutup "telinga" terhadap jeritan mereka yang sedang menderita : itulah apa yang dikatakan Paus Fransiskus dalam homilinya selama Misa harian Selasa pagi 20 September 2016 di Casa Santa Marta, Vatikan. Bapa Suci berbicara hanya beberapa jam sebelum beliau berangkat ke Asisi, kota perbukitan Umbria, di mana beliau akan mengambil bagian dalam penutupan KTT internasional para pemimpin lintas agama untuk mendoakan perdamaian dunia. Pertemuan serupa pertama kali diadakan di Asisi atas prakarsa Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1986.