Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 21 Mei 2019 : DAMAI SEJAHTERA YESUS LAKSANA TEDUHNYA LAUT YANG DALAM

Bacaan Ekaristi : Kis. 14:19-28; Mzm. 145:10-11,12-13ab,21; Yoh. 14:27-31a.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 21 Mei 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus membahas pertanyaan tentang bagaimana kita dapat memperdamaikan "kesengsaraan" dan penganiayaan yang diderita oleh Santo Paulus, terkait dalam Bacaan Pertama (Kis. 14:19-28); dengan damai sejahtera yang dijanjikan Yesus kepada para murid-Nya dalam kata-kata terakhir-Nya selama Perjamuan Terakhir, "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu", yang dicatat dalam Bacaan Injil hari itu (Yoh. 14:27-31a).

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA TAHBISAN 19 IMAM DI BASILIKA SANTO PETRUS 12 Mei 2019

Bacaan Ekaristi : Kis. 13:14,43-52; Mzm. 100:2,3,5; Why. 7:9,14b-17; Yoh. 10:27-30.

Saudara dan saudari terkasih,

Putra-putra kita ini telah dipanggil untuk jenjang presbiterat. Ada baiknya kita merenungkan dengan seksama pelayanan yang untuknya mereka akan diangkat dalam Gereja. Seperti yang kalian ketahui dengan baik, saudara-saudara, Tuhan Yesus adalah satu-satunya Imam tertinggi Perjanjian Baru; Namun, di dalam diri-Nya, segenap umat Allah yang kudus merupakan sebuah umat imami. Meskipun demikian, di antara semua murid-Nya, Tuhan Yesus akan memilih beberapa orang, khususnya, sehingga, di depan umum melaksanakan jabatan imami dalam Gereja dengan dukungan semua orang, perutusan pribadi-Nya sebagai guru, imam dan gembala akan terus berlanjut. Sebagaimana, pada kenyataannya, Ia diutus untuk hal ini oleh Bapa, sehingga Ia pada gilirannya diutus ke dunia, pertama-tama para Rasul dan kemudian para uskup dan para pengganti mereka, kepada mereka akhirnya diberikan para imam sebagai rekan kerja yang, dipersatukan dengan mereka dalam pelayanan imamat, dipanggil untuk melayani Umat Allah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA Jumat 10 Mei 2019 : SANTO PAULUS, KERAS KEPALA TETAPI TIDAK KERAS HATI

Bacaan Ekaristi : Kis. 9:1-20; Mzm. 117:1,2; Yoh. 6:52-59.

Dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 10 Mei 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengundang umat Kristiani untuk taat kepada suara Tuhan, seturut teladan Santo Paulus. Dengan mengacu pada kisah pertobatan Santo Paulus di jalan menuju Damsyik, yang diceritakan dalam Bacaan Pertama liturgi hari itu (Kis. 9:1-20), Paus Fransiskus mengatakan bahwa Rasul bagi bangsa-bangsa lain tersebut keras kepala tetapi tidak keras hati.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI SKOPJE (MASEDONIA) 7 April 2019

Bacaan Ekaristi : Kis. 7:51-8:1a; Mzm. 31:3cd-4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh. 6:30-35.

"Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi" (Yoh 6:35). Kita baru saja mendengar Tuhan mengucapkan kata-kata ini.

Dalam Bacaan Injil, orang banyak telah berkumpul di sekitar Yesus. Mereka baru saja melihat penggandaan roti; penggandaan roti adalah salah satu peristiwa yang tetap terukir dalam pikiran dan hati komunitas pertama para murid. Ada sebuah pesta : sebuah pesta perjamuan yang menunjukkan kemurahan hati dan kepedulian Allah yang melimpah terhadap anak-anak-Nya, yang menjadi saudara dan saudari dalam berbagi roti. Marilah kita membayangkan sejenak orang banyak itu. Sesuatu telah berubah. Selama beberapa saat, orang-orang yang kehausan dan membisu yang mengikuti Yesus dalam mencari sebuah sabda tersebut dapat menyentuh dengan tangan mereka dan merasakan di dalam tubuh mereka mukjizat persaudaraan yang mampu memuaskan secara berlimpah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DAN PENERIMAAN KOMUNI PERTAMA DI GEREJA HATI KUDUS, RAKOVSKY (BULGARIA) 6 Mei 2019

Bacaan Ekaristi : 1Kor 11:23-26; Yoh 6:1-15

Saudara dan saudari yang terkasih,

Saya senang menyambut para putra dan putri belia yang akan menerima Komuni Pertama mereka dan para orangtua, para kerabat dan para sahabat mereka. Kepada kalian semua, saya menyampaikan salam yang indah yang saling disampaikan di negara kalian pada waktu Paskah : “Kristus bangkit!” Salam ini merupakan ungkapan sukacita kita sebagai umat Kristiani, sebagai murid-murid Yesus. Kita bergembira karena demi mengasihi kita, Yesus menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib dan menghancurkan dosa. Ia bangkit kembali dan menjadikan kita putra dan putri angkat Allah Bapa. Kita bersukacita karena Ia hidup dan hadir di antara kita, hari ini dan senantiasa.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DI LAPANGAN PANGERAN ALEKSANDER I, SOFIA (BULGARIA) 5 Mei 2019 : TIGA HAL MENAKJUBKAN DARI KEHIDUPAN SEORANG MURID

Bacaan Ekaristi : Kis. 5:27b-32,40b-41; Mzm. 30:2,4,5,6,11,12a,13b; Why. 5:11-14; Yoh. 21:1-19

Saudara dan saudari terkasih,

Kristus bangkit!

Sungguh luar biasa melihat bagaimana dengan kata-kata ini umat Kristiani di negaramu saling menyapa dalam sukacita Tuhan yang bangkit selama Masa Paskah.

Seluruh peristiwa yang baru saja kita dengar, yang diambil dari halaman terakhir dari keempat Injil, membantu kita membenamkan diri dalam sukacita ini yang dimohonkan Tuhan untuk kita sebarkan. Dengan melakukannya kita diingatkan akan tiga hal menakjubkan yang menjadi bagian dari kehidupan kita sebagai para murid : Allah memanggil, Allah mengejutkan, Allah mengasihi.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 30 April 2019 : ROH KUDUS ADALAH TOKOH UTAMA KEHIDUPAN KITA

Bacaan Ekaristi : Kis. 4:32-37; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Yoh. 3:7-15

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 30 April 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengatakan kita dapat dilahirkan kembali dari "keberadaan kita yang penuh dosa" hanya dengan "bantuan kuasa yang juga membangkitkan Tuhan : kuasa Allah". Itulah sebabnya, beliau melanjutkan, “Tuhan mengutus Roh Kudus kepada kita” karena kita sendiri tidak dapat melakukannya.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA MALAM PASKAH DI BASILIKA SANTO PETRUS (VATIKAN) 20 April 2019 : MENGAPA KAMU MENCARI DIA YANG HIDUP, DI ANTARA ORANG MATI?

Bacaan Ekaristi : Kej. 1:1-2:2; Kej. 22:1-18; Kel. 14:15-15:1; Yes. 54:5-14; Yes. 55:1-11; Bar. 3:9-15,32-4:4; Yeh. 36:16-17a,18-28; Rm. 6:3-11; Luk. 24:1-12.

Para perempuan membawa rempah-rempah ke kubur, tetapi mereka takut perjalanan mereka sia-sia, karena sebuah batu besar menghalangi jalan masuk ke kubur. Perjalanan para perempuan itu juga merupakan perjalanan kita; perjalanan itu menyerupai perjalanan keselamatan yang telah kita buat malam ini. Kadang-kadang, segala sesuatunya tampak membentur sebuah batu: keindahan penciptaan membentur tragedi dosa; pembebasan dari perbudakan membentur ketidaksetiaan terhadap perjanjian; janji-janji para nabi membentur ketidakpedulian umat yang letih lesu. Demikian juga, dalam sejarah Gereja dan dalam sejarah pribadi kita sendiri. Tampaknya langkah yang kita ambil tidak pernah membawa kita ke tujuan. Kita bisa tergoda untuk berpikir bahwa harapan yang hancur adalah hukum kehidupan yang suram.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI KAMIS PUTIH DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN VELLETRI, ROMA 18 April 2019

Bacaan Ekaristi : Kel 12:1-8,11-14; Mzm 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15.

Saya menyapa kalian semua dan saya mengucapkan terima kasih atas keramahan kalian.

Saya menerima sebuah surat yang indah beberapa hari yang lalu, dari beberapa orang dari kalian yang tidak akan berada di sini hari ini. Mereka mengatakan hal-hal yang begitu indah kepada saya dan saya berterima kasih kepada mereka atas apa yang mereka tulis.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA KRISMA DI BASILIKA SANTO PETRUS (VATIKAN) 18 April 2019 : RAHMAT UNTUK PARA IMAM - RAHMAT MENGIKUTI, RAHMAT KEHERANAN DAN RAHMAT PEMAHAMAN

Bacaan Ekaristi : Yes 61:1-3a,6a,8b-9; Mzm 89:21-22,25,27; Why 1:5-8; Luk 4:16-21

Injil Lukas, yang baru saja kita dengar, membuat kita menghidupkan kembali keheranan saat itu ketika dengan sungguh-sungguh Tuhan membacakan nubuat nabi Yesaya di tengah-tengah bangsa-Nya. Rumah ibadat di Nazaret dipenuhi oleh kaum kerabat, para tetangga, kenalan, teman-teman-Nya ... dan tidak hanya itu. Seluruh mata mereka tertuju pada-Nya. Gereja selalu memiliki mata yang tertuju pada Yesus Kristus, Orang yang terurapi, yang diutus Roh Kudus untuk mengurapi umat Allah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALA MISA HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN (HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-34) 14 April 2019

Bacaan Ekaristi : Luk. 19:28-40; Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Luk. 22:14-23:56.

Teriakan penuh sukacita ketika Yesus memasuki kota Yerusalem, diikuti dengan penghinaan terhadap-Nya. Pekik kurang ajar diikuti oleh penyiksaan yang tak berperikemanusiaan. Setiap tahun misteri ganda ini menyertai kita memasuki Pekan Suci, sebagaimana tercermin dalam dua saat yang menjadi ciri khas perayaan hari ini : perarakan awal dengan daun palma dan khidmatnya pembacaan Kisah Sengsara.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 9 April 2019 : JANGAN MENYERAH PADA KEGAGALAN

Bacaan Ekaristi : Bil. 21:4-9; Mzm. 102:2-3, 16-18, 19-21; Yoh. 8:21-30

Berkaca pada Bacaan Pertama hari itu (Bil. 21:4-9), Paus Fransiskus mengatakan bahwa kadang-kadang umat Kristiani “lebih menyukai kegagalan”, meninggalkan ruang untuk keluh kesah dan ketidakpuasan, sebuah medan yang sempurna tempat iblis menabur benihnya.

Berdasarkan Bacaan Pertama, umat Allah, beliau menjelaskan, tidak tahan menanggung perjalanan : kegairahan dan harapan mereka ketika mereka terbebas dari perbudakan di Mesir berangsur-angsur memudar, kesabaran mereka habis, dan mereka mulai bersungut-sungut dan berkeluh kesah kepada Allah : "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini?".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 4 April 2019 : BERDOA DENGAN KEBERANIAN, MEMPERTARUHKAN SEGALA RESIKO

Bacaan Ekaristi : Kel. 32: 7-14; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Yoh. 5:31-47

Dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 4 April 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengundang kita untuk berani berdoa kepada Tuhan, terutama selama Masa Prapaskah, dengan membawa seluruh hidup kita.

Doa, beliau mengatakan, merupakan salah satu dari tiga cara - bersama dengan puasa dan kegiatan amal - kita mempersiapkan diri selama Masa Prapaskah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION PANGERAN MOULAY ABDELLAH, RABAT (MAROKO) 31 Maret 2019

Bacaan Ekaristi : Yos. 5:9a,10-12; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7; 2Kor. 5:17-21; Luk. 15:1-3,11-32.

"Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia” (Luk 15:20).

Di sini Injil membawa kita ke inti perumpamaan, menunjukkan tanggapan sang ayah ketika melihat kepulangan anaknya. Sangat tergerak hatinya, ia berlari untuk menemuinya bahkan sebelum ia sampai ke rumah. Seorang anak yang sudah lama ditunggu-tunggu. Seorang ayah yang bersukacita melihatnya pulang.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 28 Maret 2019 : HATI YANG MENGERAS MERAGUKAN DAN MENGUMPAT TUHAN

Bacaan Ekaristi : Yer. 7:23-28; Mzm. 95:1-2,6-7.8-9; Luk. 11:14-23

Hati yang mengeras yang tidak mendengarkan suara Tuhan selama "berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun", laksana tanah tanpa air. Dan ketika ada sesuatu yang tidak kita sukai berkenaan dengan Allah, kita meragukan dan mengumpat-Nya. Paus Fransiskus memperingatkan hal tersebut dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi, 28 Maret 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 18 Maret 2019 : MENELADAN KEMURAHAN HATI TUHAN

Bacaan Ekaristi : Dan. 9:4b-10; Mzm. 79:8,9,11,13; Luk. 6:36-38.

Jangan menghakimi orang lain; jangan mengutuk; mengampuni : dengan cara ini kamu meneladan kemurahan hati Bapa. Dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 18 Maret 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengingatkan kita agar supaya “tidak tersesat” dalam kehidupan, kita perlu “meneladan Allah”, “berjalan di hadapan Bapa”. Dimulai dengan Bacaan Injil (Luk 6:36-38) hari itu, Paus Fransiskus berbicara terutama tentang kemurahan hati Allah, yang mampu mengampuni bahkan berbagai tindakan "yang paling buruk".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 8 Maret 2019 : PERBEDAAN ANTARA KENYATAAN DAN PENAMPILAN MENYEBABKAN KITA MUNAFIK

Bacaan Ekaristi : Yes. 58:1-9a; Mzm. 51:3-4,5-6a,18-19; Mat.9:14-15

Dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 8 Maret 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, dengan mengacu pada Bacaan Pertama liturgi hari itu (Yes. 58:1-9a), Paus Fransiskus mengutuk segala bentuk kemunafikan dan menjelaskan perbedaan yang ada di antara kenyataan yang obyektif dan formal.

Kenyataan formal, kata Paus Fransiskus, adalah ungkapan kenyataan yang obyektif, tetapi keduanya harus berjalan seiring, jika tidak kita akhirnya hidup dengan keberadaan "penampilan", kehidupan "tanpa kebenaran".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 7 Maret 2019 : MEMELIHARA INGATAN AKAN APA YANG TELAH DILAKUKAN TUHAN

Bacaan Ekaristi : Ul. 30:15-20; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 9:22-25.

Dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 7 Maret 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus berfokus pada tiga ungkapan pokok dari Bacaan Pertama hari itu (Ul. 30:15-20). Untuk mempersiapkan mereka memasuki Tanah Terjanji, Musa menempatkan sebuah tantangan di hadapan mereka, yang juga merupakan sebuah pilihan antara hidup dan mati. “Tantangan tersebut merupakan permohonan bagi kebebasan kita”, Paus Fransiskus menjelaskan, ketika beliau berfokus pada tiga ungkapan pokok yang digunakan oleh Musa : "jika hatimu berpaling”; jika engkau “tidak mau mendengar”; serta "engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RABU ABU DI BASILIKA SANTA SABINA, ROMA, 6 Maret 2019 : DOA, SEDEKAH, PUASA ADALAH INVESTASI UNTUK HARTA YANG BERTAHAN LAMA


Bacaan Ekaristi : Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18

“Tiuplah sangkakala [...] adakanlah puasa yang kudus” (Yl 2:15), kata nabi Yoel dalam Bacaan Pertama. Masa Prapaskah dibuka dengan bunyi yang melengking, yaitu bunyi sangkakala yang tidak menyenangkan telinga tetapi sebaliknya menyatakan puasa. Bunyi yang keras tersebut berusaha mengendurkan hidup kita, yang serba cepat, namun seringkali tanpa arah. Bunyi tersebut adalah panggilan untuk berhenti, berfokus pada apa yang penting, berpuasa dari hal-hal yang tidak perlu yang mengganggu kita. Bunyi tersebut adalah panggilan yang membangunkan jiwa.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI PAROKI SANTO KRISPINUS DARI VITERBO, LABARO (KEUSKUPAN ROMA) 4 Maret 2019 : KITA SEMUA ADALAH PAKAR PERGUNJINGAN

Bacaan Pertama : Sir. 27:4-7; Mzm. 92:2-3,13-14,15-26; 1Kor. 15:54-58; Luk. 6:39-45.

Kita telah mendengar Injil yang di dalamnya Yesus menjelaskan kebijaksanaan kristiani kepada orang-orang dengan perumpamaan. Misalnya, seorang buta tidak dapat menuntun orang buta lainnya; maka, seorang murid tidak lebih besar dari pada gurunya; maka tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang buruk. Jadi, dengan perumpamaan ini, Ia mengajar orang-orang.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 28 Februari 2019 : JANGAN MENUNDA UNTUK BERTOBAT HINGGA BESOK

Bacaan Ekaristi : Sir. 5:1-8; Mzm. 1:1-2.3.4.6; Mrk. 9:41-50

Berhentilah sejenak untuk mengakui kegagalan-kegagalan kita, sadarilah bahwa kesudahan itu akan datang kapan saja, dan janganlah kita terus hidup seperti yang kita inginkan terkesan bahwa kerahiman Allah tidak terbatas. Inilah saran Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi, 28 Februari 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan. Berkaca pada “nasihat” dalam Bacaan Pertama (Sir 5:1-8), Paus Fransiskus mendesak untuk mengubah hati dan bertobat kepada Tuhan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 19 Februari 2019 : PEPERANGAN ADALAH AIR BAH MASA KINI

Bacaan Ekaristi : Kej.6:5-8;7:1-5,10; Mzm.29:1a,2,3ac4,3b,9b-10; Mrk. 8:14-21

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 19 Februari 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus membandingkan air bah pada zaman Nuh dengan banyak peperangan yang terjadi di dunia dewasa ini. Merenungkan Bacaan Pertama hari itu (Kej 6:5-8;7:1-5,10), Bapa Suci mengatakan bahwa ada sebuah benang merah yang menghubungkan kisah air bah dengan pertikaian masa kini.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 18 Februari 2019 : "DI MANA SAUDARAMU?"

Bacaan Ekaristi : Kej. 4:1-15,25; Mzm. 50:1,8,16bc-17,20-21; Mrk. 8:11-13

“Di mana saudaramu?” Inilah pertanyaan yang ditanyakan Allah kepada hati kita masing-masing mengenai saudara kita yang sakit, di dalam penjara atau kelaparan. Paus Fransiskus menjadikan hal ini sebagai permenungan dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 18 Februari 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PEMBUKAAN PERTEMUAN STRUKTUR PENERIMAAN “BEBAS DARI KETAKUTAN” UNTUK PARA MIGRAN DI FRATERNA DOMUS, SACROFANO (ROMA) 15 Februari 2019 : JANGANLAH TAKUT

Kekayaan Bacaan-Bacaan yang dipilih untuk Perayaan Ekaristi ini dapat dirangkum dalam satu ungkapan : "Janganlah takut".

Perikop dari Kitab Keluaran menyajikan kepada kita umat Israel di Laut Merah, takut dengan kenyataan bahwa pasukan Firaun mengikuti mereka dan akan menggapai mereka. Banyak yang berpikir : lebih baik tinggal di Mesir dan hidup sebagai budak daripada mati di padang gurun. Namun, Musa mengajak umat untuk tidak takut, karena Tuhan menyertai mereka. “ "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu” (Kel 14:13). Perjalanan panjang melintasi padang gurun, yang diperlukan untuk mencapai Tanah Terjanji, dimulai dengan ujian besar ini. Israel dipanggil untuk memandang melampaui berbagai kesulitan saat itu, untuk mengatasi ketakutannya dan menaruh kepercayaan penuh pada tindakan Tuhan yang menyelamatkan dan misterius. Dalam perikop Injil (Mat 14:22-33), para murid terkejut dan berteriak-teriak karena takut ketika melihat Sang Guru berjalan di atas air, berpikir bahwa Ia adalah hantu.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 8 Februari 2019 : HIDUP MEMILIKI NILAI HANYA KETIKA DIBERIKAN

Bacaan Ekaristi : Ibr. 13:1-8; Mzm. 27:1,3,5,8b-9abc; Mrk. 6:14-29.

Menurut Yesus, kemartiran Yohanes, manusia terbesar yang lahir dari seorang perempuan, adalah sebuah kesaksian besar terhadap kenyataan bahwa hidup hanya memiliki nilai ketika diberikan kepada orang lain "dalam kasih, dalam kebenaran, dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga". Paus Fransiskus mengutarakan hal itu dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi, 8 Februari 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 7 Februari 2019 : KITA SEMUA MEMILIKI KUASA UNTUK MENYEMBUHKAN

Bacaan Ekaristi : Ibr. 12:18-19,21-24; Mzm. 48:2-3a,3b-4,9,10,11; Mrk. 6:7-13.

Kita semua membutuhkan kesembuhan. Lakukanlah demikian : bertobat, sembuh dan jadilah baru. Paus Fransiskus menekankan hal ini dalam homilinya selama Misa harian Kamis pagi 7 Februari 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, ketika beliau merenungkan pertobatan dan penyembuhan yang dibutuhkan kita semua.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION ZAYED SPORTS CITY, ABU DHABI (UNI EMIRAT ARAB) 5 Februari 2019 : SABDA BAHAGIA ADALAH PETA PERJALANAN HIDUP KITA

Berbahagialah : inilah kata yang mengawali khotbah Yesus dalam Injil Matius. Dan kata tersebut merupakan sebuah refren yang Ia ulangi hari ini, seolah-olah untuk menetapkan dalam hati kita, melebihi apa pun, sebuah pesan penting : jika kamu bersama Yesus, jika kamu suka mendengarkan sabda-Nya seperti yang dilakukan para murid pada waktu itu, jika kamu berusaha mengamalkan sabda ini setiap hari, maka kamu berbahagia. Kamu bukan akan berbahagia, tetapi kamu berbahagia; inilah kebenaran pertama yang kita ketahui tentang kehidupan Kristiani. Kehidupan Kristiani bukan sekedar daftar pedoman lahiriah yang harus dipenuhi atau seperangkat ajaran yang harus diketahui. Kehidupan Kristiani, pertama-tama dan terutama, bukan hal ini; melainkan pengetahuan bahwa, di dalam Yesus, kita adalah anak-anak Bapa yang tercinta. Kehidupan Kristiani berarti menghayati dengan penuh sukacita hal berbahagia ini, ingin menjalani kehidupan sebagai sebuah kisah kasih, kisah kesetiaan kasih Allah, Ia yang tidak pernah meninggalkan kita dan berharap selalu bersekutu dengan kita. Inilah alasan kita untuk bersukacita, sebuah sukacita yang tak dapat diambil dari kita oleh siapapun di dunia ini dan keadaan sekitar kehidupan kita. Kehidupan Kristiani adalah sebuah sukacita yang memberikan kedamaian juga di tengah-tengah penderitaan, sebuah sukacita yang sudah membuat kita ikut serta dalam kebahagiaan abadi yang menanti kita. Saudara dan saudari terkasih, dalam sukacita bertemu kalian, inilah kata yang telah saya sampaikan kepada kalian : berbahagialah!

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH (HARI HIDUP BAKTI SEDUNIA KE-23) 2 Februari 2019

Bacaan Ekaristi : Mal. 3:1-4; Mzm. 24:7,8,9,10; Ibr. 2:14-18; Luk. 2:22-40.

Liturgi hari ini menunjukkan Yesus yang pergi keluar untuk menemui umat-Nya. Liturgi hari ini adalah hari pesta perjumpaan : kebaruan Sang Anak berjumpa dengan tradisi bait Allah; janji tergenapi; Maria dan Yosef yang masih muda berjumpa dengan Simeon dan Hana yang sudah tua. Oleh karena itu, segala sesuatunya bertemu ketika Yesus datang.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 1 Februari 2019 : BERTEKUN DALAM INGATAN DAN HARAPAN PADA SAAT-SAAT KEHANCURAN

Bacaan Ekaristi : Ibr. 10:32-39; Mzm. 37:3-4,5-6,23-24,39-40; Mrk. 4:26-34.

Kehancuran dan saat-saat kelam membuat kita kehilangan makna akan berbagai hal yang harus dipertahankan umat Kristiani untuk menggapai janji Tuhan tanpa jatuh atau mundur. Inilah permenungan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi, 1 Februari 2019, di kapel Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau merujuk pada Bacaan Pertama (Ibr. 10:32-39), yang dialamatkan penulisnya kepada umat Kristiani yang sedang melalui saat penganiayaan yang kelam, sama seperti yang dilalui oleh setiap orang, termasuk Yesus yang mengalami saat-saat kehancuran.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 31 Januari 2019 : PARA IMAM SEHARUSNYA BERSUKACITA SEPERTI SANTO YOHANES BOSCO

Bacaan Ekaristi : Ibr. 10:19-25; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Mrk. 4:21-25.

Para imam seharusnya bersukacita dan melihat berbagai hal dari sudut pandang manusia dan ilahi, seperti yang dilakukan Santo Yohanes Bosco. Itulah pesan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 31 Januari 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau mendorong para imam untuk meneladan Don Bosco, yang memandang kenyataan dengan hati seorang bapa dan seorang guru, seperti yang kita baca dalam Doa Pembukaan. Sudut pandang tersebut menunjukkan kepadanya jalan ke depan : ia tergerak melihat kaum muda yang malang di jalanan, dan mencari cara untuk membantu mereka tumbuh. Ia berjalan bersama mereka, dan ia menangis bersama mereka.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PENUTUPAN HARI ORANG MUDA SEDUNIA DI KOTA PANAMA (PANAMA) 27 Januari 2019

Bacaan Ekaristi : Neh. 8:3-5a,6-7,9-11; Mzm. 19:8,9,10,15; 1Kor. 12:12-30; Luk. 1:1-4;4:14-21.

"Mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: 'Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya'" (Luk 4:20-21)

Dengan kata-kata ini, Injil menghadirkan awal pelayanan Yesus di muka umum. Awal pelayanan tersebut dimulai di rumah ibadat yang melihat-Nya bertumbuh dewasa; Ia berada di tengah-tengah tetangga dan orang-orang yang Ia kenal, dan mungkin bahkan beberapa “katekis” masa kecil-Nya yang telah mengajari-Nya Hukum Taurat. Awal pelayanan tersebut adalah saat penting dalam kehidupan Sang Guru : anak yang dididik dan dibesarkan dalam komunitas itu, berdiri dan duduk kembali untuk mewartakan dan melaksanakan impian Allah. Sebuah nas yang sebelumnya diwartakan hanya sebagai sebuah janji masa depan, tetapi sekarang, di bibir Yesus sendiri, dapat diucapkan dalam bentuk saat ini, karena nas itu menjadi kenyataan : "Pada hari ini genaplah nas ini".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PEMBERKATAN ALTAR KATEDRAL SANTA MARIA LA ANTIGUA, KOTA PANAMA (PANAMA) 26 Januari 2019 : TUHAN MEMBANTU KELETIHAN PERJALANAN KITA

"Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: 'Berilah Aku minum'" (Yoh 4:6-7).

Injil yang telah kita dengar tidak segan-segan menunjukkan kepada kita Yesus sangat letih oleh perjalanan-Nya. Pada tengah hari, ketika matahari menjadikan segenap daya dan kekuatannya terasa, kita menjumpai-Nya di pinggir sumur. Ia perlu meringankan dan memuaskan dahaga-Nya, menyegarkan langkah-langkah-Nya, memulihkan kekuatan-Nya untuk melanjutkan perutusan-Nya.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 21 Januari 2019 : LANGGAM KRISTIANI ADALAH SABDA BAHAGIA

Bacaan Ekaristi : Ibr. 5:1-10; Mzm. 110:1,2,3,4; Mrk. 2:18-22.

Injil, Sabda Tuhan, adalah "anggur yang baru" yang telah dikaruniakan kepada kita, tetapi untuk menjadi orang Kristiani yang baik kita membutuhkan "perilaku yang baru", "langgam yang baru" yang benar-benar merupakan "langgam Kristiani", dan langgam ini ditunjukkan oleh Sabda Bahagia. Inilah makna dari "kata kunci" yang mengakhiri Bacaan Injil liturgi hari itu (2:18-22) : "Anggur yang baru dalam kantong yang baru". Paus Fransiskus menjadikan hal ini tema homilinya dalam Misa harian Senin pagi 21 Januari 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 17 Januari 2019 : SABDA ALLAH BUKAN IDEOLOGI MELAINKAN MERUPAKAN KEHIDUPAN YANG MEMBUAT KITA BERTUMBUH

Bacaan Ekaristi : Ibr. 3:7-14; Mzm. 95:6-7,8-9,10-11; Mrk. 1:40-45.

Bagi umat Kristiani, apa artinya memiliki "hati yang sesat", hati yang dapat mengarah kepada kepicikan, ideologi, dan permufakatan? Itulah tema homili Paus Fransiskus pada Misa harian Kamis pagi 17 Januari 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan.

“Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup" (Ibr 3:12). Inilah “pesan” yang keras, “peringatan”, Paus Fransiskus menyebutnya demikian, yang dialamatkan penulis kitab Ibrani kepada umat Kristiani dalam liturgi hari ini. Paus Fransiskus memperingatkan bahwa umat Kristiani, dengan segenap anggotanya - “para imam, para biarawati, para uskup” - menghadapi bahaya “tergelincir ke arah hati yang sesat” ini.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA PEMBAPTISAN TUHAN DI KAPEL SISTINA (VATIKAN) 13 Januari 2019 : TUGAS ORANGTUA ADALAH MENYAMPAIKAN IMAN KEPADA ANAK-ANAK MEREKA

Bacaan Ekaristi : Yes. 42:1-4,6-7; Mzm. 29:1a,2,3ac-4,3b,9b-10; Kis. 10:34-38; Luk. 3:15-16,21-22.

Pada awal upacara, kalian semua mengajukan pertanyaan : apa yang kalian minta untuk anak-anak kalian? Dan kalian semua menanggapi : iman. Kalian memintakan iman kepada Gereja untuk anak-anak kalian. Dan hari ini, mereka akan menerima Roh Kudus, karunia iman dalam hati mereka, dalam roh mereka. Dan iman ini harus berkembang. Iman harus bertumbuh. Seseorang bisa mengatakan : ya, ya, mereka perlu mempelajarinya. Ya. Ketika mereka pergi ke katekese, mereka akan mempelajari dengan baik tentang iman. Mereka akan belajar iman. Tetapi sebelum mempelajari iman, iman harus disampaikan, dan hal ini adalah tugas yang jatuh pada kalian ... Inilah tugas kalian : menyampaikan iman. Dan hal ini kalian lakukan di rumah, karena iman harus selalu disampaikan dalam logat, dalam logat keluarga, logat rumah ... Inilah tugas kalian, menyampaikan iman dengan keteladanan, dengan perkataan, mengajarkan mereka cara membuat tanda Salib. Hal ini penting. Kalian tahu ada anak-anak yang tidak tahu cara membuat tanda Salib. Mereka melakukan sesuatu seperti ini [dan Paus Fransiskus menunjukkan bagaimana beberapa orang yang tidak tahu bagaimana membuat tanda Salib berusaha untuk melakukannya], dan kalian tidak mengerti apa itu.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 10 Januari 2019 : KASIHMU TERHADAP ALLAH HANYA DAPAT DILIHAT JIKA KAMU MENGASIHI SESAMAMU

Bacaan Ekaristi : 1Yoh. 4:19-5:4; Mzm. 72:2,14,15bc,17; Luk. 4:14-22a.

Dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi, 10 Januari 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengatakan bahwa untuk mengasihi Allah secara nyata, kita juga harus mengasihi saudara dan saudari kita - mereka semua : baik orang-orang yang kita sukai maupun orang-orang yang tidak kita sukai. Paus Fransiskus juga mengatakan bahwa umat Kristiani yang baik tidak boleh lalai untuk mendoakan bahkan "musuh", atau tidak boleh memberi jalan kepada perasaan cemburu atau terlibat dalam pergunjingan yang merugikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 8 Januari 2019 : KETIDAKPEDULIAN BERTENTANGAN DENGAN KASIH ALLAH

Bacaan Ekaristi : 1Yoh. 4:7-10; Mzm. 72:2,3-4ab,7-8; Mrk. 6:34-44.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi, 8 Januari 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengulas Bacaan Injil (Mrk 6:34-44) dan Bacaan Pertama (1 Yoh 4:7-10) liturgi hari itu.

Mengacu pada Bacaan Pertama, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Rasul Yohanes menjelaskan "bagaimana Allah mewujudkan kasih-Nya di dalam diri kita" dengan menulis, "Marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah". Inilah misteri kasih : Allah mengasihi kita terlebih dahulu. Ia mengambil langkah pertama. "Allah mengasihi kita meskipun kita tidak tahu bagaimana cara mengasihi" dan kita "membutuhkan belaian Allah untuk mengasihi", lanjut Bapa Suci. Langkah pertama yang diambil Allah adalah Putra-Nya. Ia mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan kita dan memberi makna bagi kehidupan kita serta memperbarui dan menciptakan kita kembali.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 7 Januari 2019 : PERWUJUDAN ADALAH UKURAN KEKRISTENAN

Bacaan Ekaristi : 1Yoh. 3:22-4:6; Mzm. 2:7-8,10-11; Mat. 4:12-17,23-25.

Dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi, 7 Januari 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengatakan bahwa perintah-perintah Allah "berwujud" dan perwujudannya adalah "ukuran" kekristenan.

Dengan melukiskan orang-orang kudus sebagai "orang-orang yang gila akan perwujudan", Paus Fransiskus mengharapkan mereka akan membantu kita mengarungi jalan ini dan memahami hal-hal berwujud yang diinginkan Tuhan, yang bertentangan dengan khayalan dan angan-angan para nabi palsu yang dibicarakan Santo Yohanes dalam bukunya yang pertama.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN 6 Januari 2019

Bacaan Ekaristi : Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13; Ef. 3:2-3a,5-6; Mat. 2:1-12.

Hari Raya Penampakan Tuhan : kata ini menunjukkan pengejawantahan Tuhan, yang, seperti dikatakan Santo Paulus dalam Bacaan Kedua (bdk. Ef 3:6), menjadikan diri-Nya dikenal oleh semua bangsa, hari ini diwakili oleh para Majus. Dengan cara ini, kita melihat terungkapnya kemuliaan Allah yang telah datang untuk semua orang : semua bangsa, bahasa dan orang disambut dan dikasihi oleh-Nya. Hal tersebut dilambangkan oleh terang, yang menembus dan menyinari segala sesuatu.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH 1 Januari 2019 : ALLAH SENDIRI MEMBUTUHKAN SEORANG IBU, KITA PUN DEMIKIAN

Bacaan Ekaristi : Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21.

“Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka” (Luk 2:18). Heran : inilah yang diminta dari kita hari ini, pada akhir Oktaf Natal, ketika kita terus merenungkan Sang Anak yang dilahirkan untuk kita, tidak memiliki segalanya namun berlimpah kasih. Keheranan adalah apa yang seharusnya kita rasakan di awal tahun, karena hidup adalah karunia yang terus menerus memberi kita kesempatan untuk membuat awal yang baru.