Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXIX (HARI MINGGU MISI SEDUNIA) 20 Oktober 2019 : BERCERMIN PADA TIGA KATA : “GUNUNG”, “NAIK” DAN “SEGALA”


Bacaan Ekaristi : Kel. 17:8-13; Mzm. 121:1-2,3-4,5-6,7-8; 2Tim. 3:14-4:2; Luk. 18:1-8.

Saya ingin bercermin pada tiga kata yang diambil dari bacaan-bacaan yang baru saja kita dengar : sebuah kata benda, sebuah kata kerja dan sebuah kata sifat. Kata benda adalah gunung : Yesaya berbicara tentang hal itu ketika ia bernubuat tentang gunung Tuhan, yang menjulang tinggi di atas bukit-bukit, segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana (bdk. Yes 2:2). Kita melihat kembali gambaran gunung dalam Injil ketika Yesus, setelah kebangkitan-Nya, memberitahu murid-murid-Nya untuk menemui-Nya di gunung Galilea; Galilea dihuni berbagai bangsa : "Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain" (bdk. Mat 4:15). Maka, tampaknya gunung adalah tempat yang paling disukai Allah untuk berjumpa dengan umat manusia. Gunung adalah tempat Ia bertemu kita, seperti yang kita lihat dalam Kitab Suci, dimulai dengan Gunung Sinai dan Gunung Karmel, seluruh jalan menuju Yesus, yang mewartakan Sabda Bahagia di gunung, berubah rupa di Gunung Tabor, memberikan nyawa-Nya di Gunung Kalvari dan naik ke surga dari Bukit Zaitun. Gunung, tempat perjumpaan agung antara Allah dan manusia, juga merupakan tempat Yesus menghabiskan beberapa jam dalam doa (bdk. Mrk 6:46) untuk menyatukan surga dan bumi, dan untuk mempersatukan kita, saudara-saudari-Nya, dengan Bapa.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 15 Oktober 2019 : BELAJARLAH MENGARAHKAN JARI PADA DIRIMU SENDIRI AGAR KAMU TERBEBAS DARI KEMUNAFIKAN


Bacaan Ekaristi : Rm. 1:16-25; Mzm. 19:2-3,4-5; Luk. 11:37-41.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi, 15 Oktober 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Yesus tidak mentolerir kemunafikan. “Kita harus disembuhkan dari kemunafikan”, katanya, “dan penyembuhnya adalah mengetahui bagaimana mengarahkan jari pada diri kita di hadapan Allah”, karena barangsiapa yang tidak dapat melakukannya “bukan orang kristiani yang baik”.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA KANONISASI BEATO JOHN HENRY NEWMAN, BEATA GIUSEPPINA VANNINI, BEATA MARIAM THRESIA CHIRAMEL MANKIDIYAN, BEATA DULCE LOPES PONTES DAN BEATA MARGUERITE BAYS DI LAPANGAN SANTO PETRUS (VATIKAN) 13 Oktober 2019


Bacaan Ekaristi : 2Raj. 5:14-17; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; 2Tim. 2:8-13; Luk. 17:11-19.

"Imanmu telah menyelamatkan engkau" (Luk 17:19). Inilah puncak Bacaan Injil hari ini, yang mencerminkan perjalanan iman. Ada tiga langkah dalam perjalanan iman ini. Kita melihat ketiga langkah tersebut dalam tindakan para penderita kusta yang disembuhkan oleh Yesus. Mereka berteriak, berjalan dan bersyukur.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 8 Oktober 2019 : IDEOLOGI SEHARUSNYA TIDAK MENGGANTIKAN IMAN


Bacaan Ekaristi : Yun. 3:1-10; Mzm. 130:1-2,3-4ab,7-8; Luk. 10:38-42.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi, 8 Oktober 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus berkaca pada sosok Yunus dalam Perjanjian Lama yang melarikan diri dari Allah yang menginginkannya menjadi nabi-Nya untuk mewartakan pertobatan kepada orang-orang Niniwe agar mereka tidak dihukum. Berangkat berlayar ke Tarsis, ia harus dilempar ke laut untuk menenangkan badai yang ganas yang telah diturunkan Tuhan di laut. Seekor ikan besar yang menelannya, melemparkannya ke pantai setelah tiga hari, sebuah gambaran, kata Paus Fransiskus, yang mengingatkan kita akan kebangkitan Kristus pada hari ketiga.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PEMBUKAAN SIDANG KHUSUS SINODE PARA USKUP WILAYAH PAN-AMAZON DI BASILIKA SANTO PETRUS (VATIKAN) 6 Oktober 2019


Bacaan Ekaristi : Hab. 1:2-3;2:2-4; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; 2Tim. 1:6-8,13-14; Luk. 17:5-10.

Rasul Paulus, misionaris terbesar dalam sejarah Gereja, membantu kita menjadikan "sinode" ini, "perjalanan bersama" ini. Kata-katanya kepada Timotius tampaknya ditujukan kepada kita, sebagai para gembala dalam pelayanan Umat Allah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA TAHBISAN EPISKOPAL MGR MICHAEL CZERNY, SJ, MGR PAOLO BORGIA, MGR ANTOINE CAMILLEN DAN MGR PAOLO RUDELLI DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN, 4 Oktober 2019


Bacaan Ekaristi : Yer 1:4-9; Mat 5:13-16

Saudara-saudara dan putra-putra,

Marilah kita sedikit merenungkan apa tanggung jawab gerejawi yang luhur dari saudara-saudara kita yang telah ditahbiskan ini. Tuhan kita Yesus Kristus yang diutus oleh Bapa untuk menebus manusia, pada gilirannya, mengutus Dua Belas Rasul ke dunia sehingga, penuh dengan kuasa Roh Kudus, mereka seharusnya mewartakan Injil kepada segala bangsa, mengumpulkan segala bangsa di bawah satu gembala, untuk menguduskan mereka dan menuntun mereka kepada keselamatan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA BERSAMA KORPS KEPOLISIAN VATIKAN DI LOURDES GROTTO, TAMAN VATIKAN 28 September 2019


Bacaan Ekaristi : Am. 6:1a,4-7; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; 1Tim. 6:11-16; Luk. 16:19-31.

Bacaan Injil yang pertama, perikop Injil ini, mungkin dapat membuat kita keliru dengan pesan pengajaran Yesus yang mendukung derma, mendukung keadilan, yaitu, pengajaran Yesus yang semacam moral. Tetapi itu sesuatu yang lain. tepatnya Yesus ingin memasuki jalan manusia seumur hidup, dan karena Injil ini Ia berbicara tentang dua kehidupan : kehidupan seorang kaya dan kehidupan seorang miskin, jalan kehidupan masing-masing. Injil ini membuat kita melihat takdir - bukan takdir magis, bukan - takdir yang dapat dibuat oleh manusia untuk dirinya sendiri, karena kita membuat takdir kita, kita melakukan perjalanan di jalan kita dan seringkali kita membuat jalan kita sendiri. Terkadang Tuhan campur tangan, Tuhan memberi rahmat, tetapi kita bertanggung jawab atas perjalanan kita. Tuhan memberi kita rahmat secara cuma-cuma, Ia membantu kita untuk selalu pergi ke hadirat-Nya, tetapi perjalanan kita, perjalanan kita, adalah tanggung jawab kita. Saya ingin memasukkan sedikit ke dalam pesan ini.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 3 Oktober 2019 : SABDA ALLAH MEMENUHI DIRI KITA DENGAN SUKACITA DAN SUKACITA INILAH KEKUATAN KITA


Bacaan Ekaristi : Neh. 8:1-4a,5-6,7b-12; Mzm. 19:8,9,10,11; Luk. 10:1-12.

Kita harus membuka hati untuk berjumpa dengan Sabda Allah sehingga diri kita dipenuhi dengan sukacita, dan inilah kekuatan kita. Hal ini disampaikan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi, 3 Oktober 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan. Paus Fransiskus juga menekankan bahwa kita tidak dapat memahami pesta hari Minggu tanpa Sabda Allah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 30 September 2019 : MEMBERDAYAKAN BUDAYA HARAPAN DENGAN KEPEDULIAN TERHADAP KAUM MUDA DAN KAUM TUA


Bacaan Ekaristi : Za. 8:1-8; Mzm. 102:16-18,19-21,29,22-23; Luk. 9:46-50.

Mengabaikan anak-anak dan orang tua karena mereka tidak produktif bukanlah tanda kehadiran Allah. Oleh karena itu kita harus peduli terhadap kaum muda dan kaum tua, dalam keluarga dan dalam masyarakat pada umumnya. Hal tersebut disampaikan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi, 30 September 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXVI (HARI MIGRAN DAN PENGUNGSI SEDUNIA) 29 September 2019


Bacaan Ekaristi : Am. 6:1a,4-7; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; 1Tim. 6:11-16; Luk. 16:19-31.

Mazmur Tanggapan hari Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan menjunjung tinggi orang asing serta janda dan anak yatim di antara umat-Nya. Pemazmur secara eksplisit menyebutkan orang-orang yang sangat rentan, sering dilupakan dan menjadi sasaran penindasan. Tuhan memiliki perhatian khusus terhadap orang asing, janda dan anak yatim, karena mereka tidak memiliki hak, tercampakkan dan terpinggirkan. Inilah sebabnya Allah mengatakan kepada umat Israel untuk memberikan perhatian khusus terhadap mereka.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 26 September 2019 : SPIRITUALITAS YANG SUAM-SUAM KUKU MENGUBAH HIDUP KITA MENJADI KUBURAN


Bacaan Ekaristi : Hag. 1:1-8; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9; Luk. 9:7-9.

Jangan berpuas diri dengan kedamaian batin palsu yang tidak menghasilkan buah. Itulah ajakan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi, 26 September 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan. Berkaca pada Bacaan Pertama yang diambil dari Kitab Hagai (1:1-8), Paus Fransiskus berbicara tentang bagaimana Tuhan mendesak umat-Nya untuk berkaca pada perilaku mereka dan mengubahnya dengan bekerja untuk membangun kembali bait Allah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA BERSAMA KOMUNITAS NUOVI ORIZZONTI DI FROSINONE (ITALIA) 24 September 2019 : ALLAH SELALU MEMBANTU UNTUK MEMBANGUN KEMBALI HIDUPMU


Pada hari Selasa pagi 24 September 2019 Paus Fransiskus merayakan Misa Kudus bersama anggota Komunitas "Nuovi Orizzonti" selatan Roma. Misa dihadiri oleh ratusan orang terlantar yang telah dibantu oleh Komunitas "Nuovi Orizzonti" untuk mengatasi dan menangani bekas luka pelecehan, kemiskinan, ketergantungan dan penyakit mental.

Dalam homilinya Paus Fransiskus mendorong umat yang hadir untuk berani terus membangun kembali hidup mereka, meskipun mereka telah mengalami kesulitan dan kegagalan yang besar. Berkaca pada Bacaan dari Kitab Ezra yang menceritakan tentang pembangunan kembali bait Allah yang telah hancur lebur, Paus Fransskus mengatakan, “bukanlah hal yang mudah untuk membangun kembali”.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI ALBANO (ITALIA) 21 September 2019 : KITA BUKANLAH PENGAMAT KEHIDUPAN ORANG LAIN


Kisah yang baru saja kita dengar terjadi di Yerikho, kota terkenal yang dihancurkan pada zaman Yosua, yang, menurut Kitab Suci, tidak akan dibangun kembali (bdk. Hak 6) : kota tersebut seharusnya "kota yang terlupakan". Tetapi Yesus, kata Injil, 19:1 masuk dan berjalan melintasi (bdk. Luk 19:1). Dan di kota ini, yang berada di bawah permukaan laut, Ia tidak takut untuk mencapai tingkatan terendah, yang diwakili oleh Zakheus. Ia adalah seorang pemungut pajak, pada kenyataannya, "seorang kepala pemungut cukai", yaitu <salah satu dari> orang-orang Yahudi yang dibenci oleh orang-orang, yang mengumpulkan pajak untuk Kekaisaran Romawi. Ia adalah “seorang yang kaya” (ayat 2) dan mudah untuk memahami bagaimana ia menjadi seperti itu: dengan mengorbankan sesama warganya, mengeksploitasi sesama warganya. Di mata mereka, Zakheus adalah orang yang paling jahat, tidak bisa diselamatkan. Tetapi tidak di mata Yesus, yang memanggil namanya, Zakheus, yang berarti “Allah mengingat”. Di kota yang terlupakan, Allah mengingat orang yang paling berdosa.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 20 September 2019 : EMPAT CARA YANG HARUS DITEMPUH OLEH PARA PELAYAN TERTAHBIS GUNA MEMELIHARA KEDEKATAN


Bacaan Ekaristi : 1Tim. 6:2c-12; Mzm. 49:6-7,8-9,17-20; Luk. 8:1-3.

Dalam homilinya pada misa harian Jumat pagi 20 September 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus meminta doa untuk para imam dan para uskup agar mereka tidak akan pernah mengabaikan karunia pelayanan mereka. Selain itu beliau mendesak semua orang yang telah menerima karunia imamat untuk dekat satu sama lain dan dengan umat Allah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 19 September 2019 : PELAYANAN ADALAH KARUNIA YANG HARUS DIRENUNGKAN


Bacaan Ekaristi : 1Tim. 4:12-16; Mzm. 111:7-8,9-10; Luk. 7:36-50.

Paus Fransiskus berkaca pada pelayanan para klerus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 19 September 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, yang dihadiri oleh sekelompok imam dan uskup yang merayakan 25 tahun tahbisan mereka. Beliau mengatakan Yesus menawarkan karunia ini kepada para diakon, imam, dan uskup agar mereka dapat melayani sesama.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 17 September 2019 : BELAS KASIHAN ADALAH BAHASA ALLAH


Bacaan Ekaristi : 1Tim. 3:1-13; Mzm. 101:1-2ab,2cd-3ab,5,6; Luk. 7:11-17.

Keutamaan belas kasihan adalah pokok permenungan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 17 September 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan. Belas kasihan adalah bahasa Allah, sedangkan sering kali bahasa manusia adalah bahasa ketidakpedulian. Beliau mengajak umat yang hadir untuk membuka hati terhadap belas kasihan dan tidak “menutup diri” dengan bersikap acuh tak acuh.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 16 September 2019 : MENDOAKAN APARAT PEMERINTAHAN DAN PARA PEMIMPIN POLITIK


Bacaan Ekaristi : 1Tim. 2:1-8; Mzm. 28:2,7,8-9; Luk. 7:1-10.

Paus Fransiskus kembali merayakan Misa harian pagi di Casa Santa Marta, Vatikan, pada hari Senin, 16 September 2019, setelah jeda liburan musim panas. Dalam homilinya beliau mengajak umat yang hadir untuk mendoakan aparat pemerintahan dan para pemimpin politik, ketimbang mencerca mereka. Mendoakan agar mereka “dapat bekerja demi kebaikan bersama”.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI MONUMEN MARIA RATU PERDAMAIAN, PORT-LOUIS (MAURITIUS) 9 September 2019


Bacaan Ekaristi : Yes 52:7-10; 1Kor 2:1-5; Mat 5:1-12a

Di sini, di hadapan altar ini yang didedikasikan untuk Maria Ratu Perdamaian, di gunung ini yang daripadanya kita dapat melihat kota dan laut nun jauh, kita adalah sekumpulan besar orang, sebuah lautan wajah datang dari Mauritius dan pulau-pulau lain di wilayah Samudra Hindia ini untuk mendengarkan Yesus memberitakan Sabda Bahagia. Kita telah mendengar sabda kehidupan yang sama bahwa hari ini, seperti dua ribu tahun yang lalu, memiliki kekuatan dan api yang mampu menghangatkan hati yang terdingin. Bersama-sama kita dapat berkata kepada Tuhan : Kami percaya kepada-Mu, dan dengan terang iman dan setiap denyut hati kami, kami memahami kebenaran perkataan nabi Yesaya : mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, mengabarkan berita selamat ... Allah kita telah memerintah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI LAPANGAN KEUSKUPAN SOAMANDRAKIZAY, ANTANANARIVO (MADAGASKAR) 8 September 2019


Bacaan Ekaristi : Keb 9:13-18; Flm 1:9b-10,12-17; Luk 14:25-33

Bacaan Injil memberitahu kita bahwa "banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus" (Luk 14:25). Seperti banyak orang berkumpul di sepanjang jalan yang dilalui-Nya, kamu juga telah datang dalam jumlah besar untuk menerima pesan-Nya dan mengikuti jejak langkah-Nya. Tetapi kamu juga tahu bahwa mengikuti Yesus tidaklah mudah. Hari ini, Injil Lukas mengingatkan kita bahwa mengikut Yesus betapa menuntut ketetapan hati.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION ZIMPETO, MAPUTO (MOZAMBIK) 6 September 2019


Bacaan Ekaristi : Kol 3:12-17; Luk 6:27-38

Saudara dan saudari yang terkasih,

Kita telah mendengar bagian dari Khotbah di Bukit, yang diambil dari Injil Lukas. Setelah memilih murid-murid-Nya dan memberitakan Sabda Bahagia, Yesus menambahkan, “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu" (Luk 6:27). Hari ini, perkataan-Nya juga ditujukan kepada kita, yang mendengarnya di Stadion ini.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA UNTUK PARA MIGRAN 8 JulI 2019 : MIGRAN MELAMBANGKAN ORANG YANG DICAMPAKKAN MASYARAKAT


Bacaan Ekaristi : Kej. 28:10-22a; Mzm. 91:1-2,3-4,14-15ab; Mat. 9:18-26.

Hari ini sabda Allah berbicara kepada kita tentang keselamatan dan pembebasan.

Keselamatan. Selama perjalanannya dari Bersyeba ke Haran, Yakub memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di tempat yang sunyi. Dalam mimpi, ia melihat sebuah tangga : pijakannya terletak di bumi dan puncaknya sampai di langit (bdk. Kej 28:10-22). Tangga, tempat malaikat Allah naik dan turun, melambangkan hubungan antara yang ilahi dan yang manusiawi, tergenapi secara historis dalam penjelmaan Kristus (bdk. Yoh 1:51), yang merupakan karunia pewahyuan dan keselamatan yang penuh kasih dari Bapa. Tangga adalah sebuah kiasan tindakan ilahi yang mendahului segala kegiatan manusiawi. Tangga adalah kebalikan dari Menara Babel, yang dibangun oleh orang-orang dengan kekuatan mereka sendiri, yang ingin mencapai surga untuk menjadi allah. Namun dalam hal ini, Allahlah yang turun; Tuhanlah yang mewahyukan diri-Nya; Allahlah yang menyelamatkan. Dan Imanuel, Allah beserta kita, menggenapi janji saling memiliki antara Tuhan dan umat manusia, dalam tanda kasih yang menjelma dan murah hati yang memberi kehidupan dalam kelimpahan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTO PETRUS DAN PAULUS DI BASILIKA SANTO PETRUS (VATIKAN) 29 Juni 2019 : SANTO PETRUS DAN PAULUS ADALAH SAKSI-SAKSI KEHIDUPAN, PENGAMPUNAN DAN BAGI YESUS


Bacaan Ekaristi : Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19.

Rasul Petrus dan Paulus berdiri di depan kita sebagai para saksi. Mereka tidak pernah lelah berkhotbah dan melakukan perjalanan sebagai misionaris dari negeri Yesus menuju Roma itu sendiri. Di sini mereka memberikan kesaksian pamungkas mereka, mempersembahkan nyawa mereka sebagai martir. Jika kita masuk ke inti kesaksian itu, kita dapat melihat mereka sebagai para saksi kehidupan, para saksi pengampunan dan para saksi bagi Yesus.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS DI WILAYAH CASAL BERTONE, ROMA (ITALIA), 23 Juni 2019 : MENGUCAP DAN MEMBERI


Bacaan Ekaristi : Kej. 14:18-20; Mzm. 110:1,2,3,4; 1Kor. 11:23-26; Luk. 9:11b-17.

Hari ini, sabda Allah membantu kita untuk semakin dalam menghargai dua kata kerja yang sederhana namun penting untuk kehidupan sehari-hari : mengucap dan memberi.

Mengucap. Dalam Bacaan Pertama, Melkisedek mengucapkan : "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi ... dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi" (Kej 14:19-20). Bagi Melkisedek, mengucap adalah memberkati. Ia memberkati Abraham, di dalam dirinya semua kaum keluarga di muka bumi akan mendapat berkat (bdk. Kej 12:3; Gal 3:8). Segalanya dimulai dengan berkat : ucapan kebaikan menciptakan sebuah sejarah kebaikan. Hal yang sama terjadi dalam Injil : sebelum penggandaan roti, Yesus memberkati roti-roti tersebut : "Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya" (Luk 9:16). Berkat mengubah lima roti menjadi makanan yang cukup untuk sejumlah besar orang banyak : berkat mengeluarkan sebuah riam kebaikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA TAHBISAN EPISKOPAL MGR. ALBERTO RICCARDO LORENZELLI DI BASILIKA SANTO PETRUS (VATIKAN) 22 JunI 2019


Bacaan Ekaristi : Yes 6:1-3a; Flp 4:4-9; Yoh 10:11-16


Saudara-saudara dan anak-anak yang terkasih,

Marilah kita merenungkan dengan seksama tentang apa tanggung jawab gerejawi tertinggi yang dipromosikan kepada saudara kita. Tuhan kita Yesus Kristus yang diutus oleh Bapa untuk menebus manusia mengutus dua belas rasul ke dunia, sehingga penuh dengan kuasa Roh Kudus mereka akan memberitakan Injil kepada semua orang dan mengumpulkan mereka bersama di bawah satu gembala, menguduskan mereka dan membawa mereka kepada keselamatan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI CAMERINO, ITALIA, 16 Juni 2019 : MENGINGAT, HARAPAN DAN KEDEKATAN


Bacaan Ekaristi : Ams. 8:22-31; Mzm. 8:4-5,6-7,8-9; Rm. 5:1-5; Yoh. 16:12-15.

“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?”, kita mendoakan Mazmur (8:5) tersebut. Kata-kata ini muncul di benak saya ketika sedang memikirkan kalian. Di hadapan apa yang kalian lihat dan derita, di hadapan berbagai rumah dan bangunan yang runtuh menjadi puing-puing, pertanyaan ini muncul : “Apakah manusia? Apakah dia, jika apa yang ia bangun bisa runtuh dalam sekejap? Apakah ia, jika harapannya bisa berakhir menjadi debu? Apakah manusia? Jawabannya tampaknya berasal dari kelanjutan ungkapan tersebut : Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Tentang kita, sama seperti kita, dengan kerapuhan-kerapuhan kita, Allah mengingat <kita>. Dalam ketidakpastian yang kita rasakan secara lahiriah dan batiniah, Tuhan memberi kita kepastian : Ia mengingat kita. Ia berbalik dengan hati-Nya kepada kita, karena Ia peduli tentang kita. Dan sementara di sini terlalu banyak hal yang dilupakan dengan tergesa-gesa, Allah tidak membiarkan kita terlupakan. Tidak ada seorang pun yang hina di mata-Nya; masing-masing orang memiliki nilai tak terbatas bagi-Nya : kita kecil di bawah langit dan tidak berdaya ketika gempa bumi, tetapi bagi Allah, kita lebih berharga daripada apa pun.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA ARWAH USKUP AGUNG LÉON KALENGA BADIKEBELE, NUNCIO UNTUK ARGENTINA, DI BASILIKA SANTO PETRUS (VATIKAN), 15 Juni 2019


Ekaristi ini diakhiri dengan doa pamitan, yaitu kata perpisahan : “mengucapkan kata perpisahan” kepada saudara. Kata perpisahan tersebut seperti mengatakan : kami memperkenankan kamu pergi kepada Allah, pergi ke tangan Allah. Kitab Suci memberitahu kita dalam Kitab Kebijaksanaan bahwa jiwa orang benar ada di tangan Allah (bdk. 3:1). Tangan Allah, yang merupakan tangan yang paling indah, terluka dengan kasih, tangan yang terluka dengan kasih. Dan kita mempercayakan saudara kita ke tangan Allah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA Selasa 11 Juni 2019 : BERIKANLAH DENGAN CUMA-CUMA APA YANG TELAH KAMU PEROLEH DENGAN CUMA-CUMA


Bacaan Ekaristi : Kis. 11:21b-26;13:1-3; Mzm. 98:2-3ab,3c-4,5-6; Mat. 10:7-13.

"Berikanlah dengan cuma-cuma apa yang telah kamu peroleh dengan cuma-cuma", kata Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi, 11 Juni 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan. Paus Fransiskus menyampaikan hal tersebut untuk membahas hubungan umat Kristiani dengan Allah. Kita dipanggil untuk melayani dan mengasihi saudara dan saudari kita dengan cara yang sama seperti yang telah diperbuat Allah dengan kita.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA PENTAKOSTA DI LAPANGAN SANTO PETRUS (VATIKAN) 9 Juni 2019 : ROH KUDUS MEREMAJAKAN PARA RASUL


Bacaan Ekaristi : Kis. 2:1-11; Mzm. 104:1ab,24ac, 29bc-30,31,34; Rm. 8:8-17; Yoh. 14:15-16,23b-26.

Pentakosta tiba, bagi para murid, setelah lima puluh hari ketidakpastian. Benar, Yesus telah bangkit. Dengan sangat gembira, mereka telah melihat-Nya, mendengarkan kata-kata-Nya dan bahkan makan bersama dengan-Nya. Namun mereka tidak mengatasi keraguan dan ketakutan mereka: mereka bertemu di balik pintu yang tertutup (bdk. Yoh 20:19.26), tidak yakin akan masa depan dan tidak siap untuk mewartakan Tuhan yang bangkit. Kemudian Roh Kudus datang dan kekhawatiran mereka lenyap. Sekarang para rasul menunjukkan diri mereka tanpa rasa takut, bahkan di hadapan orang-orang dikirim untuk menangkap mereka. Sebelumnya, mereka khawatir akan keselamatan hidup mereka; sekarang mereka tidak takut mati. Sebelumnya, mereka telah berkumpul di Ruang Atas; sekarang mereka pergi untuk membawa kabar ke setiap bangsa. Sebelum kenaikan Yesus, mereka menantikan kerajaan Allah datang kepada mereka (bdk. Kis 1:6); sekarang mereka dipenuhi semangat untuk melakukan perjalanan ke negeri-negeri tak dikenal. Sebelumnya, mereka hampir tidak pernah berbicara di depan umum, dan ketika mereka melakukannya, mereka sering melakukan kekeliruan, seperti ketika Petrus menyangkal Yesus; sekarang mereka berbicara dengan terus terang kepada semua orang. Perjalanan para murid tampaknya telah mencapai garis akhir ketika tiba-tiba mereka diremajakan oleh Roh Kudus. Diliputi dengan ketidakpastian, ketika mereka berpikir segalanya sudah berakhir, mereka diubahrupa oleh sukacita yang memberi mereka kelahiran baru. Roh Kudus melakukan hal ini. Roh Kudus jauh dari kenyataan yang abstrak : Ia adalah Pribadi yang paling berwujud dan dekat, Pribadi yang mengubah hidup kita. Bagaimana Ia melakukan hal ini? Marilah kita memperhatikan para Rasul. Roh Kudus tidak menjadikan segalanya lebih mudah bagi mereka, Ia tidak melakukan berbagai mukjizat yang spektakuler, Ia tidak mengenyahkan berbagai kesulitan dan seteru mereka. Roh Kudus membawa kerukunan ke dalam kehidupan para murid yang tidak rukun, kerukunan-Nya, karena Ia adalah kerukunan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA VIGILI PENTAKOSTA DI LAPANGAN SANTO PETRUS (VATIKAN) 8 Juni 2019


Bacaan Ekaristi : Kej 11:1-9; Yl 3:1-5; Rm 8:22-27; Yoh 7:37-39


Malam ini juga, malam hari terakhir Masa Paskah, Hari Raya Pentakosta, Yesus ada di antara kita dan memberitakan dengan lantang : "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup" (Yoh 7:37-38).

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI GUA MARIA SUMULEU-CIUC (RUMANIA) 1 Juni 2019 : BUNDA MARIA MENGAJARKAN KITA UNTUK MENENUN MASA DEPAN

Dengan bersukacita dan bersyukur kepada Allah, saya bergabung dengan kalian hari ini, saudara dan saudari terkasih, di Gua Maria yang dicintai ini, yang begitu kaya akan sejarah dan iman. Kita datang ke sini sebagai anak-anak untuk bertemu dengan Bunda kita dan mengakui bahwa kita semua adalah saudara dan saudari. Berbagai gua Maria adalah laksana "sakramen-sakramen" dari sebuah Gereja yang merupakan sebuah rumah sakit darurat : berbagai gua Maria tetap menghidupkan ingatan umat Allah yang, di tengah-tengah kesusahan besar, terus mencari sumber air hidup yang memperbarui pengharapan kita. Berbagai gua Maria adalah tempat pesta dan perayaan, air mata dan permohonan. Kita tiba di kaki Bunda kita, dengan sedikit kata-kata, guna memperkenankan dia menatap kita, dan dengan tatapan itu membawa kita kepada Yesus, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 14:6).

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI KATEDRAL SANTO YOSEF, BUCHAREST (RUMANIA) 31 Mei 2019 : MARIA ADALAH SOKOGURU PERJUMPAAN DAN SUKACITA

Pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet
Bacaan Ekaristi : Zef. 3:14-18a; Yes. 12:2-3,4-bcd,5-6; Luk. 1:46-53.

Bacaan Injil (Luk 1:46-53) yang baru saja kita dengar menarik kita ke dalam perjumpaan antara dua perempuan yang berpelukan, dipenuhi dengan sukacita dan pujian. Sang anak melompat kegirangan dalam rahim Elisabet dan ia menyatakan sanaknya berbahagia karena imannya. Maria melambungkan kidung puji-pujian tentang perbuatan-perbuatan besar yang telah diperbuat Tuhan terhadap hamba-Nya yang rendah hati; kidung puji-pujiannya adalah kidung pengharapan yang besar bagi mereka yang tidak dapat lagi bernyanyi karena mereka kehilangan suara mereka. Kidung pengharapan itu juga dimaksudkan untuk membangunkan kita hari ini, dan membuat kita menggabungkan suara kita kepadanya. Dari hal ini ada tiga unsur yang berharga yang dapat kita renungkan di dalam diri para murid yang pertama : Maria melakukan perjalanan, Maria mengalami perjumpaan, Maria bergembira.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 28 Mei 2019 : DOSA MENUAKAN JIWA, ROH KUDUS MENJAGA JIWA AWET MUDA

Bacaan Ekaristi : Kis. 16:22-34; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,7c-8; Yoh. 16:5-11.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi, 28 Mei 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus bercermin pada Roh Kudus yang menjadi tokoh utama Bacaan Injil hari itu (Yoh. 16:5-11). Mengulas pidato perpisahan Yesus kepada para murid sebelum Ia pergi ke surga, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Yesus memberi kita katekese yang sesungguhnya tentang Roh Kudus.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PEMBUKAAN SIDANG UMUM KE-21 KARITAS INTERNASIONAL DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN 23 Mei 2019 : INJIL ADALAH PROGRAM KEHIDUPAN KITA

Bacaan Ekaristi : Kis. 15:7-21; Mzm. 96:1-2a,2b-3,10; Yoh. 15:9-11.

Dalam Bacaan Pertama hari ini yang diambil dari Kisah Para Rasul (15:7-21), sabda Allah menceritakan pertemuan besar pertama dalam sejarah Gereja. Situasi yang tidak terduga sedang diperlihatkan : orang-orang kafir sedang datang kepada iman. Dan muncul sebuah pertanyaan : haruskah mereka juga menyesuaikan diri, seperti yang lainnya, dengan seluruh aturan Hukum yang lama? Suatu keputusan yang sulit diambil, dan Tuhan tidak lagi hadir.  Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa Yesus tidak meninggalkan saran untuk setidaknya menyelesaikan "diskusi besar" pertama ini (Kis. 15:7)? Sedikit petunjuk bagi para Rasul sudah mencukupi, yang selama bertahun-tahun bersama-Nya setiap hari. Mengapa Yesus tidak selalu memberikan aturan yang jelas dan cepat dalam menentukan?

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 21 Mei 2019 : DAMAI SEJAHTERA YESUS LAKSANA TEDUHNYA LAUT YANG DALAM

Bacaan Ekaristi : Kis. 14:19-28; Mzm. 145:10-11,12-13ab,21; Yoh. 14:27-31a.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 21 Mei 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus membahas pertanyaan tentang bagaimana kita dapat memperdamaikan "kesengsaraan" dan penganiayaan yang diderita oleh Santo Paulus, terkait dalam Bacaan Pertama (Kis. 14:19-28); dengan damai sejahtera yang dijanjikan Yesus kepada para murid-Nya dalam kata-kata terakhir-Nya selama Perjamuan Terakhir, "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu", yang dicatat dalam Bacaan Injil hari itu (Yoh. 14:27-31a).

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA TAHBISAN 19 IMAM DI BASILIKA SANTO PETRUS 12 Mei 2019

Bacaan Ekaristi : Kis. 13:14,43-52; Mzm. 100:2,3,5; Why. 7:9,14b-17; Yoh. 10:27-30.

Saudara dan saudari terkasih,

Putra-putra kita ini telah dipanggil untuk jenjang presbiterat. Ada baiknya kita merenungkan dengan seksama pelayanan yang untuknya mereka akan diangkat dalam Gereja. Seperti yang kalian ketahui dengan baik, saudara-saudara, Tuhan Yesus adalah satu-satunya Imam tertinggi Perjanjian Baru; Namun, di dalam diri-Nya, segenap umat Allah yang kudus merupakan sebuah umat imami. Meskipun demikian, di antara semua murid-Nya, Tuhan Yesus akan memilih beberapa orang, khususnya, sehingga, di depan umum melaksanakan jabatan imami dalam Gereja dengan dukungan semua orang, perutusan pribadi-Nya sebagai guru, imam dan gembala akan terus berlanjut. Sebagaimana, pada kenyataannya, Ia diutus untuk hal ini oleh Bapa, sehingga Ia pada gilirannya diutus ke dunia, pertama-tama para Rasul dan kemudian para uskup dan para pengganti mereka, kepada mereka akhirnya diberikan para imam sebagai rekan kerja yang, dipersatukan dengan mereka dalam pelayanan imamat, dipanggil untuk melayani Umat Allah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA Jumat 10 Mei 2019 : SANTO PAULUS, KERAS KEPALA TETAPI TIDAK KERAS HATI

Bacaan Ekaristi : Kis. 9:1-20; Mzm. 117:1,2; Yoh. 6:52-59.

Dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 10 Mei 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengundang umat Kristiani untuk taat kepada suara Tuhan, seturut teladan Santo Paulus. Dengan mengacu pada kisah pertobatan Santo Paulus di jalan menuju Damsyik, yang diceritakan dalam Bacaan Pertama liturgi hari itu (Kis. 9:1-20), Paus Fransiskus mengatakan bahwa Rasul bagi bangsa-bangsa lain tersebut keras kepala tetapi tidak keras hati.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI SKOPJE (MASEDONIA) 7 April 2019

Bacaan Ekaristi : Kis. 7:51-8:1a; Mzm. 31:3cd-4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh. 6:30-35.

"Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi" (Yoh 6:35). Kita baru saja mendengar Tuhan mengucapkan kata-kata ini.

Dalam Bacaan Injil, orang banyak telah berkumpul di sekitar Yesus. Mereka baru saja melihat penggandaan roti; penggandaan roti adalah salah satu peristiwa yang tetap terukir dalam pikiran dan hati komunitas pertama para murid. Ada sebuah pesta : sebuah pesta perjamuan yang menunjukkan kemurahan hati dan kepedulian Allah yang melimpah terhadap anak-anak-Nya, yang menjadi saudara dan saudari dalam berbagi roti. Marilah kita membayangkan sejenak orang banyak itu. Sesuatu telah berubah. Selama beberapa saat, orang-orang yang kehausan dan membisu yang mengikuti Yesus dalam mencari sebuah sabda tersebut dapat menyentuh dengan tangan mereka dan merasakan di dalam tubuh mereka mukjizat persaudaraan yang mampu memuaskan secara berlimpah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DAN PENERIMAAN KOMUNI PERTAMA DI GEREJA HATI KUDUS, RAKOVSKY (BULGARIA) 6 Mei 2019

Bacaan Ekaristi : 1Kor 11:23-26; Yoh 6:1-15

Saudara dan saudari yang terkasih,

Saya senang menyambut para putra dan putri belia yang akan menerima Komuni Pertama mereka dan para orangtua, para kerabat dan para sahabat mereka. Kepada kalian semua, saya menyampaikan salam yang indah yang saling disampaikan di negara kalian pada waktu Paskah : “Kristus bangkit!” Salam ini merupakan ungkapan sukacita kita sebagai umat Kristiani, sebagai murid-murid Yesus. Kita bergembira karena demi mengasihi kita, Yesus menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib dan menghancurkan dosa. Ia bangkit kembali dan menjadikan kita putra dan putri angkat Allah Bapa. Kita bersukacita karena Ia hidup dan hadir di antara kita, hari ini dan senantiasa.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DI LAPANGAN PANGERAN ALEKSANDER I, SOFIA (BULGARIA) 5 Mei 2019 : TIGA HAL MENAKJUBKAN DARI KEHIDUPAN SEORANG MURID

Bacaan Ekaristi : Kis. 5:27b-32,40b-41; Mzm. 30:2,4,5,6,11,12a,13b; Why. 5:11-14; Yoh. 21:1-19

Saudara dan saudari terkasih,

Kristus bangkit!

Sungguh luar biasa melihat bagaimana dengan kata-kata ini umat Kristiani di negaramu saling menyapa dalam sukacita Tuhan yang bangkit selama Masa Paskah.

Seluruh peristiwa yang baru saja kita dengar, yang diambil dari halaman terakhir dari keempat Injil, membantu kita membenamkan diri dalam sukacita ini yang dimohonkan Tuhan untuk kita sebarkan. Dengan melakukannya kita diingatkan akan tiga hal menakjubkan yang menjadi bagian dari kehidupan kita sebagai para murid : Allah memanggil, Allah mengejutkan, Allah mengasihi.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 30 April 2019 : ROH KUDUS ADALAH TOKOH UTAMA KEHIDUPAN KITA

Bacaan Ekaristi : Kis. 4:32-37; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Yoh. 3:7-15

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 30 April 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengatakan kita dapat dilahirkan kembali dari "keberadaan kita yang penuh dosa" hanya dengan "bantuan kuasa yang juga membangkitkan Tuhan : kuasa Allah". Itulah sebabnya, beliau melanjutkan, “Tuhan mengutus Roh Kudus kepada kita” karena kita sendiri tidak dapat melakukannya.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA MALAM PASKAH DI BASILIKA SANTO PETRUS (VATIKAN) 20 April 2019 : MENGAPA KAMU MENCARI DIA YANG HIDUP, DI ANTARA ORANG MATI?

Bacaan Ekaristi : Kej. 1:1-2:2; Kej. 22:1-18; Kel. 14:15-15:1; Yes. 54:5-14; Yes. 55:1-11; Bar. 3:9-15,32-4:4; Yeh. 36:16-17a,18-28; Rm. 6:3-11; Luk. 24:1-12.

Para perempuan membawa rempah-rempah ke kubur, tetapi mereka takut perjalanan mereka sia-sia, karena sebuah batu besar menghalangi jalan masuk ke kubur. Perjalanan para perempuan itu juga merupakan perjalanan kita; perjalanan itu menyerupai perjalanan keselamatan yang telah kita buat malam ini. Kadang-kadang, segala sesuatunya tampak membentur sebuah batu: keindahan penciptaan membentur tragedi dosa; pembebasan dari perbudakan membentur ketidaksetiaan terhadap perjanjian; janji-janji para nabi membentur ketidakpedulian umat yang letih lesu. Demikian juga, dalam sejarah Gereja dan dalam sejarah pribadi kita sendiri. Tampaknya langkah yang kita ambil tidak pernah membawa kita ke tujuan. Kita bisa tergoda untuk berpikir bahwa harapan yang hancur adalah hukum kehidupan yang suram.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI KAMIS PUTIH DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN VELLETRI, ROMA 18 April 2019

Bacaan Ekaristi : Kel 12:1-8,11-14; Mzm 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15.

Saya menyapa kalian semua dan saya mengucapkan terima kasih atas keramahan kalian.

Saya menerima sebuah surat yang indah beberapa hari yang lalu, dari beberapa orang dari kalian yang tidak akan berada di sini hari ini. Mereka mengatakan hal-hal yang begitu indah kepada saya dan saya berterima kasih kepada mereka atas apa yang mereka tulis.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA KRISMA DI BASILIKA SANTO PETRUS (VATIKAN) 18 April 2019 : RAHMAT UNTUK PARA IMAM - RAHMAT MENGIKUTI, RAHMAT KEHERANAN DAN RAHMAT PEMAHAMAN

Bacaan Ekaristi : Yes 61:1-3a,6a,8b-9; Mzm 89:21-22,25,27; Why 1:5-8; Luk 4:16-21

Injil Lukas, yang baru saja kita dengar, membuat kita menghidupkan kembali keheranan saat itu ketika dengan sungguh-sungguh Tuhan membacakan nubuat nabi Yesaya di tengah-tengah bangsa-Nya. Rumah ibadat di Nazaret dipenuhi oleh kaum kerabat, para tetangga, kenalan, teman-teman-Nya ... dan tidak hanya itu. Seluruh mata mereka tertuju pada-Nya. Gereja selalu memiliki mata yang tertuju pada Yesus Kristus, Orang yang terurapi, yang diutus Roh Kudus untuk mengurapi umat Allah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALA MISA HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN (HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-34) 14 April 2019

Bacaan Ekaristi : Luk. 19:28-40; Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Luk. 22:14-23:56.

Teriakan penuh sukacita ketika Yesus memasuki kota Yerusalem, diikuti dengan penghinaan terhadap-Nya. Pekik kurang ajar diikuti oleh penyiksaan yang tak berperikemanusiaan. Setiap tahun misteri ganda ini menyertai kita memasuki Pekan Suci, sebagaimana tercermin dalam dua saat yang menjadi ciri khas perayaan hari ini : perarakan awal dengan daun palma dan khidmatnya pembacaan Kisah Sengsara.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 9 April 2019 : JANGAN MENYERAH PADA KEGAGALAN

Bacaan Ekaristi : Bil. 21:4-9; Mzm. 102:2-3, 16-18, 19-21; Yoh. 8:21-30

Berkaca pada Bacaan Pertama hari itu (Bil. 21:4-9), Paus Fransiskus mengatakan bahwa kadang-kadang umat Kristiani “lebih menyukai kegagalan”, meninggalkan ruang untuk keluh kesah dan ketidakpuasan, sebuah medan yang sempurna tempat iblis menabur benihnya.

Berdasarkan Bacaan Pertama, umat Allah, beliau menjelaskan, tidak tahan menanggung perjalanan : kegairahan dan harapan mereka ketika mereka terbebas dari perbudakan di Mesir berangsur-angsur memudar, kesabaran mereka habis, dan mereka mulai bersungut-sungut dan berkeluh kesah kepada Allah : "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini?".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 4 April 2019 : BERDOA DENGAN KEBERANIAN, MEMPERTARUHKAN SEGALA RESIKO

Bacaan Ekaristi : Kel. 32: 7-14; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Yoh. 5:31-47

Dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 4 April 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengundang kita untuk berani berdoa kepada Tuhan, terutama selama Masa Prapaskah, dengan membawa seluruh hidup kita.

Doa, beliau mengatakan, merupakan salah satu dari tiga cara - bersama dengan puasa dan kegiatan amal - kita mempersiapkan diri selama Masa Prapaskah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI STADION PANGERAN MOULAY ABDELLAH, RABAT (MAROKO) 31 Maret 2019

Bacaan Ekaristi : Yos. 5:9a,10-12; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7; 2Kor. 5:17-21; Luk. 15:1-3,11-32.

"Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia” (Luk 15:20).

Di sini Injil membawa kita ke inti perumpamaan, menunjukkan tanggapan sang ayah ketika melihat kepulangan anaknya. Sangat tergerak hatinya, ia berlari untuk menemuinya bahkan sebelum ia sampai ke rumah. Seorang anak yang sudah lama ditunggu-tunggu. Seorang ayah yang bersukacita melihatnya pulang.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 28 Maret 2019 : HATI YANG MENGERAS MERAGUKAN DAN MENGUMPAT TUHAN

Bacaan Ekaristi : Yer. 7:23-28; Mzm. 95:1-2,6-7.8-9; Luk. 11:14-23

Hati yang mengeras yang tidak mendengarkan suara Tuhan selama "berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun", laksana tanah tanpa air. Dan ketika ada sesuatu yang tidak kita sukai berkenaan dengan Allah, kita meragukan dan mengumpat-Nya. Paus Fransiskus memperingatkan hal tersebut dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi, 28 Maret 2019, di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 18 Maret 2019 : MENELADAN KEMURAHAN HATI TUHAN

Bacaan Ekaristi : Dan. 9:4b-10; Mzm. 79:8,9,11,13; Luk. 6:36-38.

Jangan menghakimi orang lain; jangan mengutuk; mengampuni : dengan cara ini kamu meneladan kemurahan hati Bapa. Dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 18 Maret 2019 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengingatkan kita agar supaya “tidak tersesat” dalam kehidupan, kita perlu “meneladan Allah”, “berjalan di hadapan Bapa”. Dimulai dengan Bacaan Injil (Luk 6:36-38) hari itu, Paus Fransiskus berbicara terutama tentang kemurahan hati Allah, yang mampu mengampuni bahkan berbagai tindakan "yang paling buruk".