Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH (HARI PERDAMAIAN SEDUNIA KE-57) 1 Januari 2024 : KEGENAPAN WAKTU

Bacaan Ekaristi : Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21.

 

Kata-kata Rasul Paulus menerangi permulaan tahun baru: “Setelah genap waktunya, Allah mengutus Putra-Nya yang lahir dari seorang perempuan” (Gal. 4:4). Ungkapan “genap waktunya” sungguh mengejutkan. Pada zaman dulu, merupakan kebiasaan untuk mengukur waktu dengan mengosongkan dan mengisi amphorae: ketika amphorae kosong, periode waktu baru dimulai, yang berakhir ketika amphorae sudah penuh. Inilah kepenuhan waktu: ketika amphora sejarah penuh, rahmat ilahi melimpah: Tuhan menjadi manusia dan melakukannya dalam nama seorang perempuan, Maria. Dia adalah jalan yang dipilih oleh Tuhan; dialah titik kedatangan banyak orang dan generasi yang, “setetes demi setetes”, telah mempersiapkan kedatangan Tuhan ke dunia. Oleh karena itu, Ibu berada di jantung waktu: Tuhan berkenan membuat sejarah berputar melalui dirinya, sang perempuan. Dengan kata ini, Kitab Suci merujuk kita pada asal usul, pada Kejadian, dan menyarankan bahwa Ibu dengan Anak menandai ciptaan baru, permulaan baru. Oleh karena itu, pada awal masa keselamatan ada Bunda Allah yang kudus, Bunda Suci kita.

 

Kata-kata Rasul Paulus menerangi permulaan tahun baru ini: “Setelah genap waktunya, Allah mengutus Putra-Nya yang lahir dari seorang perempuan” (Gal. 4:4). Ungkapan ”genap waktunya” sungguh mengejutkan. Pada zaman dulu, waktu diukur dengan menggunakan jambanganair; berlalunya waktu ditandai dengan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi jambangan kosong. Oleh karena itu makna ungkapan “genap waktunya” : begitu jambangan sejarah terisi, rahmat ilahi pun melimpah. Allah menjadi manusia dan Ia melakukannya melalui seorang perempuan, Maria. Maria adalah sarana yang dipilih Allah, puncak dari garis panjang individu dan generasi tersebut yang “setetes demi setetes” bersiap menyambut kedatangan Tuhan ke dalam dunia. Maka, Bunda Maria berdiri di tengah-tengah misteri waktu. Allah berkenan untuk membalikkan sejarah melalui dia, perempuan itu. Dengan satu kata, “perempuan”, Kitab Suci membawa kita kembali ke permulaan, ke Kitab Kejadian, dan menyadarkan kita bahwa ibu dan anak menandai ciptaan baru, permulaan baru. Jadi, pada awal masa keselamatan, ada Bunda Allah yang kudus, Bunda kita yang kudus.

 

Oleh karena itu, sudah sepantasnya tahun dibuka dengan memohon kepadanya; Sudah sepantasnya umat Allah yang setia memujinya dengan sukacita, sebagaimana pernah dilakukan oleh umat kristiani yang pemberani di Efesus, sebagai Bunda Allah yang kudus. Karena kata-kata ini, Bunda Allah, mengungkapkan kepastian penuh sukacita bahwa Tuhan, seorang Anak mungil dalam gendongan ibu-Nya, telah mempersatukan diri-Nya selamanya dengan kemanusiaan kita, hingga titik di mana kemanusiaan bukan lagi milik kita saja, melainkan milik-Nya juga. Bunda Allah: sebuah ungkapan sederhana yang mengakui perjanjian kekal Tuhan dengan kita. Bunda Allah: sebuah dogma iman, tetapi juga sebuah “dogma harapan”; Allah di dalam manusia, dan manusia di dalam Allah, selamanya. Bunda Allah yang kudus.

 

Setelah genap waktunya, Bapa mengutus Putra-Nya yang lahir dari seorang perempuan. Namun Santo Paulus juga berbicara tentang pengutusan kedua : “Allah telah menyuruh Roh Putra-Nya ke dalam hati kita, yang berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’” (Gal. 4:6). Dalam pengutusan Roh Kudus, Bunda Maria juga memainkan peran sentral : Roh Kudus akan turun atasnya pada saat Kabar Sukacita (bdk. Luk 1:35); kemudian, pada saat kelahiran Gereja, Ia turun atas para rasul yang berkumpul dalam doa “bersama Maria, ibu Yesus” (Kis 1:14). Penerimaan Maria terhadap karya Roh Kudus memberikan kepada kita karunia terbesar: ia “memungkinkan Tuhan Yang Maha Mulia menjadi saudara kita” (Thomas dari Celano, Vita secunda, CL, 198: FF 786), sehingga Roh Kudus dapat berseru dalam hati kita: “Ya Abba, ya Bapa!” Keibuan Maria adalah jalan yang menuntun kita menuju kelembutan kebapaan Allah, jalan yang paling dekat, langsung dan termudah. Inilah “gaya” Allah: kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan. Sesungguhnya Bunda Maria menuntun kita kepada permulaan dan pokok iman, yang bukan sekadar teori atau tugas, melainkan karunia tak terbatas yang menjadikan kita putra dan putri terkasih, tabernakel kasih Bapa. Oleh karena itu, menyambut Bunda Maria ke dalam hidup kita bukanlah soal devosi melainkan syarat iman: “Jika kita ingin menjadi umat Kristiani, kita harus menjadi 'pengikut Maria'” (Santo Paulus VI, Homili di Cagliari, 24 April 1970), yaitu “anak-anak Maria”.

 

Gereja membutuhkan Maria untuk memulihkan wajah perempuannya, semakin sepenuhnya menyerupai perempuan, perawan dan ibu, yang menjadi teladan dan gambaran sempurnanya (bdk. Lumen Gentium, 63), memberi ruang bagi perempuan dan menjadi “generatif” melalui pelayanan pastoral yang ditandai dengan keprihatinan dan kepedulian, kesabaran dan keberanian keibuan. Dunia juga perlu bergantung pada para ibu dan perempuan untuk menemukan kedamaian, keluar dari jalinan kekerasan dan kebencian, serta sekali lagi melihat segala sesuatunya dengan mata dan hati manusiawi. Setiap masyarakat perlu menerima karunia yang dimiliki oleh perempuan, setiap perempuan: menghormati, membela dan menghargai perempuan, dengan kesadaran bahwa siapapun yang menyakiti seorang perempuan yang belum bersuami, berarti mencemarkan nama Allah, yang “lahir dari seorang perempuan”.

 

Sama seperti Maria yang memainkan peran menentukan dalam kegenapan waktu, perempuan juga menentukan kehidupan kita masing-masing, karena tidak ada seorang pun yang mengenal dengan lebih baik daripada seorang ibu mengenal tahap-tahap pertumbuhan dan kebutuhan mendesak anak-anaknya. Maria menunjukkan kepada kita hal ini dalam “permulaan” yang lain: tanda pertama yang dilakukan Yesus, pada pesta perkawinan di Kana. Di sana, dialah yang menyadari bahwa anggur telah habis, dan memohon kepada Yesus (bdk. Yoh 2:3). Kebutuhan anak-anaknya menggerakkan Maria, sang ibu, untuk memohon agar Yesus turun tangan. Di Kana, Yesus berkata, “'Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air'. Mereka pun mengisinya sampai penuh” (Yoh. 2:7). Maria mengetahui kebutuhan kita; ia berdoa agar rahmat melimpah dalam kehidupan kita dan membimbing mereka menuju penggenapan sejati. Saudara-saudara, kita semua mempunyai kekurangan, masa-masa kesepian, kekosongan batin yang menuntut untuk diisi. Kita masing-masing mengetahui hal ini dengan baik. Siapa yang dapat mengisi kekosongan kita kalau bukan Maria, Bunda penggenapan? Kapan pun kita tergoda untuk menarik diri, marilah kita berlari ke arahnya; kapanpun kita tidak mampu lagi melepaskan ikatan dalam hidup kita, marilah kita berlindung padanya. Saat ini, yang kehilangan kedamaian, membutuhkan seorang ibu yang dapat mempersatukan kembali keluarga umat manusia. Marilah kita memandang Maria, untuk menjadi seniman persatuan. Marilah kita melakukan hal ini dengan kreativitas dan kepedulian keibuannya terhadap anak-anaknya. Karena ia mempersatukan dan menghibur mereka; ia mendengarkan kesusahan dan mengeringkan air mata mereka. Dan marilah kita melihat ikon lembut Madonna [dari Biara Montevergine]. Begitulah sikap ibu kita: betapa lembutnya dia menjaga dan mendekatkan kita. Ia peduli pada kita dan tetap dekat dengan kita.

 

Marilah kita mempercayakan tahun yang datang ini kepada Bunda Allah. Marilah kita mempersembahkan hidup kita kepadanya. Dengan cinta yang lembut, ia akan membuka mata kita terhadap kegenapan. Sebab ia akan menuntun kita kepada Yesus, yang adalah “kegenapan waktu”, kegenapan setiap waktu, kegenapan waktu kita, kegenapan setiap kita. Memang benar, sebagaimana pernah ditulis : “Bukan kegenapan waktu yang menyebabkan diutusnya Putra Allah, tetapi diutusnya Putra yang menghasilkan kegenapan waktu” (bdk. Martin Luther, Vorlesung über den Galaterbrief 1516-1517, 18). Saudara-saudari, semoga tahun ini dipenuhi dengan penghiburan Tuhan! Semoga tahun ini dipenuhi dengan kelembutan cinta keibuan Maria, Bunda Allah yang kudus.

 

Sekarang saya mengajak kita semua bersama-sama untuk menyerukan tiga kali : Bunda Allah yang kudus! Bunda Allah yang kudus! Bunda Allah yang kudus!
______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2024)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.