Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 31 Maret 2014 : JANGAN MENJADI “PELANCONG” PADA PERJALANAN ROHANI IMAN


Bacaan Ekaristi : Yes 65:17-21; Yoh 4:43-54

Di mana Anda berada pada perjalanan rohani Anda? Apakah Anda mengembara tanpa tujuan seperti seorang pelancong? Apakah Anda telah berhenti atau kehilangan jalan Anda? Atau apakah sedang Anda menuju langsung tujuan Anda? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pusat permenungan Paus Fransiskus selama homilinya pada Misa harian Senin pagi 31 Maret 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 28 Maret 2014 : ALLAH TIDAK PERNAH LELAH MENGAMPUNI KITA


Bacaan Ekaristi : Hos 14:2-10; Mrk 12:28b-34

Allah menanti kita dan tidak pernah lelah mengampuni kita. Inilah tema utama homili Paus Fransiskus dalam Misa harian Jumat pagi 28 Maret 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan. Bapa Suci merenungkan bacaan pertama dari Kitab Nabi Hosea (14:2-10), yang mengingatkan panggilan Allah bagi pertobatan dan pengampunan bagi umat Israel.

"Bertobatlah, hai Israel, kepada TUHAN, Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu. Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada TUHAN!”, bacaan menyatakan.  Kata-kata ini, Paus mengatakan, merupakan sebuah seruan dari seorang Bapa kepada anak laki-lakinya. "Dengan kata-kata ini saja, kita dapat melewati doa berjam-jam".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 27 Maret 2014 : BUKA HATI ANDA BAGI ALLAH


Bacaan Ekaristi : Yer 7:23-28; Luk 11:14-23

Paus Fransiskus merayakan Misa Kamis pagi 27 Maret 2014 di Basilika Santo Petrus, Vatikan, bersama dengan hampir 500 anggota Parlemen Italia. Di antara mereka yang hadir pagi itu adalah 9 menteri dan juru bicara Senat dan DPR Italia, Piero Grasso dan Laura Boldrini. Paus memusatkan homilinya pada bacaan pertama dari Kitab Yeremia (7:23-28), di mana nabi mencela angkatan yang “menegarkan tengkuknya, berbuat lebih jahat dari pada nenek moyang mereka”. Kenyataan ini juga ditampilkan dalam Injil (Luk 11:14-23), di mana beberapa dari orang banyak menuduh Kristus mengusir setan "dengan kuasa penghulu setan".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 25 Maret 2014 : KESELAMATAN MERUPAKAN KARUNIA YANG DITERIMA DENGAN KERENDAHAN HATI, SAMA SEPERTI MARIA


Bacaan Ekaristi : Yes 7:10-14;8:10; Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38

Paus Fransiskus mengatakan keselamatan tidak dapat dibeli atau dijual tetapi merupakan sebuah karunia yang membutuhkan kerendahan hati sama seperti Maria. Sifat-sifat yang diperlukan bagi keselamatan adalah fokus homili Paus Fransiskus pada Misa harian Selasa pagi 25 Maret 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan, yang bertepatan dengan Hari Raya Kabar Sukacita.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 24 Maret 2014 : KERENDAHAN HATI ADALAH JALAN MENUJU KESELAMATAN

Bacaan Ekaristi : 2Raj 5:1-15a; Luk 4:24-30

Keselamatan kita tidak hanya dalam menaati perintah-perintah Allah, tetapi dalam kerendahan hati untuk selalu merasa perlu disembuhkan oleh Allah. Inilah pesan yang dikumandangkan oleh Paus Fransiskus selama Misa harian Senin pagi 24 Maret 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan. Homili Paus Fransiskus pada Misa tersebut mengambil inspirasi dalam kata-kata yang ditujukan Yesus kepada sesama penduduk di Nazareth : "Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya". Merupakan sebuah tempat di mana Ia tidak pernah mengerjakan mukjizat-mukjizat karena "mereka tidak memiliki iman". Yesus mengingatkan dua kisah biblis : mukjizat penyembuhan Naaman yang menderita kusta, dan pertemuan nabi Elia dengan janda dari Sarfat yang berbagi sepotong terakhir makanannya dan diselamatkan dari kelaparan. "Orang-orang kusta dan para janda - Paus Fransiskus menjelaskan - pada masa itu adalah orang-orang buangan masyarakat". Namun, dua orang buangan ini, menyambut para nabi dan diselamatkan, sementara orang-orang Nazaret tidak menerima Yesus karena "mereka merasa begitu kuat dalam iman mereka", begitu yakin akan ketaatan loyal mereka terhadap perintah-perintah Allah, mereka merasa mereka tidak memerlukan keselamatan lain".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 21 Maret 2014 : KERENDAHAN HATI DAN DOA DIPERLUKAN UNTUK MENAATI SABDA ALLAH


Bacaan Ekaristi : Kej 37:3-4,12-13a,17b-28; Mat 21:33-43,45-46

Kerendahan hati dan doa adalah dua sikap yang diperlukan untuk tidak memelintir Sabda Allah sesuai dengan kepentingan dan keinginan kita sendiri. Inilah tema utama homili Paus Fransiskus pada Misa harian Jumat pagi 21 Maret 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan. Bapa Suci mendasarkan homilinya pada Injil menurut Matius (21:33-43,45-46), yang menceritakan perumpamaan Yesus tentang para penyewa yang kejam yang membunuh anak pemilik tanah mereka dengan tujuan merampok warisannya. Paus mengatakan bahwa perumpamaan itu ditujukan kepada orang-orang Farisi, para tua-tua umat dan para imam untuk menunjukkan di mana "mereka telah memiliki kebiasaan tidak memiliki hati yang terbuka bagi Sabda Allah".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 20 Maret 2014 : PERCAYALAH PADA ALLAH, BUKAN PADA DIRI ANDA


Bacaan Ekaristi : Yer 17:5-10; Luk 16:19-31

"Orang yang percaya pada dirinya sendiri, pada kekayaan atau ideologinya sendiri ditakdirkan bagi ketidakbahagiaan. Orang yang percaya kepada Tuhan, di sisi lain, menghasilkan buah bahkan pada tahun kering". Itulah pesan Paus Fransiskus dalam homilinya selama Misa harian Kamis pagi 20 Maret 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 18 Maret 2014 : SATU-SATUNYA YANG MEMBENARKAN KITA ADALAH YESUS KRISTUS


Bacaan Ekaristi : Yes 1:10,16-20; Mat 23:1-12

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 18 Maret 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus merenungkan Masa Prapaskah, menyebutnya sebuah waktu "untuk menyesuaikan kehidupan seseorang". Bacaan pertama dari nabi Yesaya (Yes 1:10,16-20) memanggil bagi pertobatan "penguasa Sodom" dan "rakyat Gomora", sebuah panggilan, Bapa Suci mencatat, yang mendesak kita untuk "mengubah hidup kita" dan menjaga "kebaikan jiwa-jiwa kita".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 17 Maret 2014 : BELAS KASIH MEMBERI KITA KEDAMAIAN


Bacaan Ekaristi : Dan 9:4b-10; Luk 6:36-38

"Pria dan wanita yang bermurah hati memiliki hati yang terbuka", kata Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 17 Maret 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan. "Mereka selalu memaafkan orang lain dan memikirkan dosa-dosa mereka sendiri". Bapa Suci merenungkan Injil Santo Lukas (6:36-38), yang menceritakan panggilan Yesus untuk "bermurah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 16 Maret 2014 : DENGARKAN DAN PANDANGLAH YESUS UNTUK MENERANGI JIWA


Bacaan Ekaristi : Kej 12:1-4a; 2Tim 1:8b-10; Mat 17:1-9


"Tugas pertama orang Kristiani adalah mendengarkan Sabda Allah, mendengarkan Yesus, karena Ia berbicara kepada kita, dan Ia menyelamatkan kita dengan Sabda-Nya. Dan Ia membuat iman kita lebih kuat dan lebih berakal sehat, dengan Sabda-Nya". Paus Fransiskus mengalamatkan kata-kata tersebut kepada umat yang menunggunya Minggu, 16 Maret 2014 pukul 4 sore di Paroki Santa Maria dell'Orazione di Setteville di Guidonia, di sebelah utara ibukota Italia. Paus bertemu dengan berbagai kelompok dalam paroki, khususnya orang-orang sakit dan cacat, anak-anak dan para katekumen muda yang mempersiapkan diri untuk menerima Komuni pertama, Penguatan dan Pascapenguatan mereka, Komunitas-komunitas Neokatekumenat dan keluarga-keluarga dengan anak-anak yang dibaptis selama beberapa bulan terakhir. Sebelum memulai perayaan, Paus Fransiskus melayani Sakramen Tobat untuk beberapa peniten. Berikut adalah homili lengkap Paus Fransiskus dalam Misa tersebut.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 7 Maret 2014 : AMAL (ATAU PUASA) YANG PALING SULIT ADALAH MEMBUNGKUK DAN MEMELUK ORANG YANG TERLUKA


Bacaan Ekaristi : Yes 58:1-9a; Mat 9:14-15

Apakah kita malu menjamah tubuh saudara dan saudari kita yang terluka atau menderita? Inilah salah satu pertanyaan kunci yang diajukan oleh Paus Fransiskus selama homilinya pada Misa harian Jumat pagi di kediaman Santa Marta, Vatikan. Paus menekankan bahwa kehidupan iman kita berhubungan erat dengan sebuah kehidupan amal dan orang-orang Kristiani yang tidak mempraktekkan keduanya adalah orang-orang munafik.

Paus Fransiskus mempergunakan homilinya untuk merenungkan peran penting amal dalam kehidupan setiap orang Kristiani. Beliau mengatakan Kekristenan bukanlah sebuah tempat penyimpanan ketaatan formal bagi orang-orang yang mengenakan sebuah penampilan yang baik penuh kepura-puraan untuk menyembunyikan hati mereka yang kosong akan amal apapun. Kekristenan adalah menunjukkan tubuh Yesus yang membungkuk tanpa rasa malu di depan siapa pun yang menderita. Ini berbeda juah dengan orang-orang Farisi yang mengkritik Yesus dan para murid karena tidak menjalankan perintah untuk berpuasa dan yang sebagai para ahli Hukum mengubah ketaatan akan perintah-perintah ini ke dalam sebuah formalitas dan mengubah kehidupan rohani menjadi sebuah etika.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 6 Maret 2014 : TIDAK ADA “LANGGAM” KRISTIANI TANPA YESUS ATAU SALIB


Bacaan Ekaristi : Ul 30:15-20; Luk 9:22-25

Kerendahan hati, kelemahlembutan, kemurahan hati : inilah "langgam" Kristiani, sebuah cara hidup yang bergerak sepanjang jalan salib, seperti yang dilakukan Yesus, dan merupakan sebuah kehidupan yang mengarah kepada sukacita. Itulah pesan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 6 Maret 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan.

PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 5 Maret 2014 : HARI RABU ABU


Bacaan Ekaristi : Yl 2:12-18; 2Kor 5:20-6:2; Mat 6:1-6,16-18

“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu” (Yoel 2:13). Dengan kata-kata mendalam nabi Yoel ini, liturgi memperkenalkan kita ke dalam Masa Prapaskah hari ini, menunjukkan ciri pertobatan hati dari saat rahmat ini. Panggilan kenabian tersebut merupakan sebuah tantangan bagi kita semua, tanpa kecuali, dan mengingatkan kita bahwa pertobatan bukan sebuah perkara yang dapat dikurangi menjadi bentuk luar atau niat samar-samar, tetapi melibatkan dan mengubah seluruh keberadaan seseorang dari pusat orang itu, dari hati nurani. Kita diajak untuk memulai sebuah perjalanan yang di dalamnya, dalam tentangan rutinitas, kita berusaha  membuka mata dan telinga kita, tetapi terutama hati, melampaui “kebun kecil” kita. Membuka diri seseorang kepada Allah dan kepada orang lain : kita hidup dalam dunia yang semakin dibuat-buat, dalam sebuah budaya "melakukan", [sebuah budaya] "berguna", yang di dalamnya kita mengecualikan Allah dari cakrawala kita bahkan tanpa menyadarinya.

PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 4 Maret 2014 : SAAT INI ADA ORANG-ORANG KRISTIANI DIKUTUK KARENA MEMILIKI ALKITAB


Bacaan Ekaristi : 1Ptr 1:10-16; Mrk 10:28-31

Penganiayaan terhadap orang-orang Kristiani dalam masyarakat zaman sekarang adalah perhatian utama homili Paus Fransiskus dalam Misa harian Selasa pagi 4 Maret 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau memperingatkan bahwa Salib selalu di jalan seorang Kristiani, dan mengatakan ada martir lebih banyak martir Kristiani saat ini dibandingkan pada masa-masa awal Gereja.

PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 3 Maret 2014 : HATI YANG PENUH KEINGINAN UNTUK MEMILIKI ADALAH "KEKOSONGAN ALLAH"


Bacaan Ekaristi : 1Ptr 1:3-9; Mrk 10:17-27


Selama homilinya dalam Misa harian Senin pagi 3 Maret 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus meminta umat beriman untuk berdoa bagi panggilan untuk membebaskan penyembahan berhala dunia ini. Bapa Suci mendasarkan homilinya pada Injil hari itu dari Santo Markus (10:17-27), yang menceritakan pertemuan antara Yesus dan orang muda kaya. "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?", orang muda itu bertanya kepada Kristus. Paus mencatat bahwa meskipun orang muda itu adalah orang yang baik yang mengamati perintah-perintah, ia ingin lebih. "Roh Kudus mendesaknya", kata Paus.

PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 28 Februari 2014 : PEMIKIRAN YANG BERKENAAN DENGAN NORMA MERUPAKAN SEBUAH PERANGKAP MENENTANG ALLAH DAN KITA


Bacaan Ekaristi :  Yak 5:9-12; Mrk 10:1-12

Penggunaan penalaran sehat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan moral, atau yang berkenaan dengan norma, merupakan sebuah perangkap menentang Allah dan kita. Paus Fransiskus menekankan hal ini selama homilinya dalam Misa harian Jumat pagi 28 Februari 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan. Bapa Suci merenungkan tentang sifat perkawinan, yang diambil dari Injil hari itu dari Santo Markus (10:1-12) yang mengingatkan tanggapan Kristus terhadap orang-orang Farisi mengenai masalah perceraian. Orang-orang Farisi, beliau berkata, mencoba untuk mengambil otoritas moral Yesus melalui penggunaan hal yang berkenaan dengan norma. "Apakah diperbolehkan seorang suami untuk menceraikan isterinya?", orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus. Di balik pemikiran orang-orang Farisi yang berkenaan dengan norma, "selalu ada sebuah perangkap".