Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA MALAM NATAL DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN, 24 Desember 2018 : PADA SAAT NATAL KITA MENJADIKAN BETLEHEM SEBAGAI RUMAH ROTI DAN KOTA DAUD

Bacaan Ekaristi : Yes. 9:1-6; Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14.

Yusuf bersama Maria tunangannya, pergi “ke kota Daud yang bernama Betlehem” (Luk 2:4). Malam ini, kita juga, pergi ke Betlehem, ke sana untuk menemukan misteri Natal.

Betlehem: nama itu berarti rumah roti. Dalam “rumah” ini, Tuhan hari ini ingin berjumpa seluruh umat manusia. Ia tahu bahwa kita membutuhkan santapan untuk hidup. Namun Ia juga tahu bahwa makanan dunia ini tidak memuaskan hati. Dalam Kitab Suci, dosa asal umat manusia terkait dengan mengambil makanan : orangtua pertama kita “mengambil buah dan memakannya”, Kitab Kejadian mengatakan (bdk. 3:6). Mereka mengambil dan makan. Umat manusia menjadi serakah dan rakus. Di zaman kita, bagi banyak orang, makna kehidupan ditemukan dalam memiliki, dalam memiliki benda-benda lahiriah secara berlebih. Keserakahan yang tak terpuaskan menandai segenap sejarah manusia, bahkan dewasa ini, ketika, secara berlawanan asas, beberapa orang makan dengan mewah sementara begitu banyak orang berjalan tanpa roti harian yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 20 Desember 2018 : KABAR SUKACITA MENGUBAH SEJARAH

Bacaan Ekaristi : Yes. 7:10-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6a; Luk. 1:26-38.

Sebuah perikop dari Injil Lukas (Luk 1:26-38) yang "sulit untuk dikhotbahkan", yang di dalamnya "Allah kejutan" mengubah takdir manusia. Hal inilah yang digarisbawahi Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 20 Desember 2018 di kapel Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 18 Desember 2018 : SANTO YOSEF ADALAH SEORANG MANUSIA MIMPI, BUKAN SEORANG PEMIMPI

Bacaan Ekaristi : Yer. 23:5-8; Mzm. 72:2,12-13,18-19; Mat. 1:18-25.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 18 Desember 2018 di kapel Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus berkaca pada teladan Santo Yosef. Santo Yosef disebutnya "seorang manusia mimpi ... yang tahu bagaimana menemani orang lain dalam keheningan". Beliau juga mendoakan beberapa anak-anak cacat asal Slowakia yang telah membuat dekorasi Natal untuk kapel tersebut.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA PERAWAN MARIA DARI GUADALUPE DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN, 12 Desember 2018 : KITA BELAJAR BERBAGAI HAL DALAM SEKOLAH MARIA

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:46-48). Jadi dimulai dengan kidung Magnificat dan, melaluinya, Maria menjadi “guru Injil” yang pertama (CELAM, Puebla, 290). Magnificat mengingatkan kita tentang janji-janji yang diberikan kepada  nenek moyang kita dan mengundang kita untuk menyanyikan belas kasih Tuhan.

Maria mengajarkan kita bahwa, dalam seni perutusan dan seni harapan, banyaknya kata dan program tidak diperlukan. Metodenya sangat sederhana: ia berjalan dan bernyanyi.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 11 Desember 2018 : PERKENANKANLAH DIRI KITA DIHIBUR OLEH ALLAH

Bacaan Ekaristi : Yes. 40:1-11; Mzm. 96:1-2,3,10ac,11-12,13; Mat. 18:12-14.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi, 11 Desember 2018, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengulas tentang penghiburan, yang seharusnya menjadi keadaan yang lumrah bagi umat Kristiani. Tetapi di dunia saat ini, beliau mengatakan, kata "kelembutan" telah berhasil dihilangkan dari kamus.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 10 Desember 2018 : MEMPERSIAPKAN NATAL DENGAN KETEGUHAN IMAN

Bacaan Ekaristi : Yes. 35:1-10; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; Luk. 5:17-26.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa iman memberi kita keteguhan dan menunjukkan kepada kita cara menjamah hati Tuhan. Hal tersebut disampaikan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 10 Desember 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 6 Desember 2018 : TIGA PASANG KATA KONTRAS DALAM KEHIDUPAN KRISTIANI

Bacaan Ekaristi : Yes. 26:1-6; Mzm. 118:1,8-9,19-21,25-27a; Mat. 7:21,24-27.

Dalam Misa harian Kamis pagi 6 Desember 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus memusatkan homilinya pada tiga pasang kata, yang diambil dari Bacaan-bacaan Kitab Suci liturgi hari itu : berbicara dan bertindak; pasir dan batu karang; tinggi dan rendah.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 4 Desember 2018 : MASA ADVEN ADALAH MASA UNTUK MEMBANGUN DAMAI DALAM JIWA, KELUARGA DAN LINGKUNGAN SEKITAR

Bacaan Ekaristi : Yes. 11:1-10; Mzm. 72:2,7-8,12-13,17; Luk. 10:21-24.

Paus Fransiskus mendesak umat Kristiani guna mempersiapkan diri mereka untuk Natal pada Masa Adven ini dengan bersikap rendah hati dan berusaha membangun damai dalam jiwa mereka, dalam keluarga mereka dan di dalam dunia.

Dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 4 Desember 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengatakan bahwa mengupayakan damai mencakup tidak berbicara buruk dan merugikan orang lain, sedikit bagaikan meniru Allah, yang merendahkan diri-Nya.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 3 Desember 2018 : MASA ADVEN ADALAH MASA UNTUK MEMURNIKAN IMAN

Bacaan Ekaristi : 1Kor. 9:16-19,22-23; Mzm. 117:1,2; Mrk. 16:15-20.

Masa Adven memiliki tiga matra : masa lalu, masa depan, dan masa kini. Dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 3 Desember 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa Masa Adven, yang dimulai pada hari Minggu kemarin, adalah masa yang tepat "untuk memurnikan roh, karena membuat iman bertumbuh dengan pemurnian ini". Paus Fransiskus merenungkan Bacaan Injil liturgi hari itu (Mat 8:5-11), yang menceritakan pertemuan Yesus dengan seorang perwira yang meminta-Nya untuk menyembuhkan hambanya di Kapernaum. Bahkan saat ini, beliau menjelaskan, ada kemungkinan iman bisa menjadi sebuah kebiasaan bagi kita; kita bisa terbiasa menggunakannya, melupakan “kelincahannya.” Ketika iman menjadi kebiasaan, beliau mengatakan, “kita kehilangan kekuatan iman itu, kebaruan iman yang selalu diperbarui”.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 30 November 2018 : UMAT KRISTIANI HARUS MEMBERIKAN KESAKSIAN YANG DAPAT DIPERCAYA DENGAN KEHIDUPAN MEREKA

Bacaan Ekaristi : Rm. 10:9-18; Mzm. 19:2-3,4-5; Mat. 4:18-22.

Dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 30 November 2018, yang bertepatan dengan Pesta Santo Andreas, Rasul, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengundang umat untuk "meninggalkan segalanya guna berjalan maju dalam pemberitaan dan kesaksian, seperti yang dilakukan Petrus dan Andreas". Beliau juga mengundang umat Kristiani untuk dekat dengan Gereja Konstantinopel dan mendoakan kesatuan di antara Gereja-Gereja.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 29 November 2018 : BAHAYA KEKAFIRAN KEHIDUPAN KRISTIANI

Bacaan Ekaristi : Why. 18:1-2,21-23;19:1-3,9a; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 21:20-28.

Dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi, 29 November 2018, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus membayangkan akhir dunia dan mengatakan kehidupan Kristiani tidak dapat diperdamaikan dengan mentalitas duniawi. Beliau mengacu pada Bacaan Pertama liturgi hari itu (Why 18:1-2,21-23;19:1-3,9a) yang menggambarkan kehancuran Babel, lambang keduniawian, dan Bacaan Injil (Luk 21:20-28) yang di dalamnya Yesus menceritakan tentang kehancuran kota suci Yerusalem.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 27 November 2018 : INGIN BAGAIMANAKAH KITA MENAMPILKAN DIRI KETIKA MENGHADAP TUHAN?

Bacaan Ekaristi : Why. 14:14-20; Mzm. 96:10,11-12,13; Luk. 21:5-11.

Dalam Misa harian Selasa pagi 27 November 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus menyampaikan homilinya dengan mengacu pada Bacaan Pertama liturgi hari itu (Why 14:14-20). Melakukan pemeriksaan batin adalah bijaksana, beliau mengatakan, mengingat kenyataan bahwa suatu hari kita akan menghadap Tuhan. Kita seharusnya bertanya ingin bagaimanakah kita menampilkan diri ketika kita bertemu Dia, beliau mengatakan. Hal itu akan membantu kita berkembang sehingga pertemuan itu akan menjadi saat yang "penuh sukacita".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 26 November 2018 : KONSUMERISME ADALAH SETERU KEMURAHAN HATI

Bacaan Ekaristi : Why. 14:1-3,4b-5; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 21:1-4.

Dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 26 November 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengundang umat Kristiani untuk bermurah hati terhadap orang-orang miskin. Beliau mengatakan bahwa sikap amal membuka hati dan membantu kita menjadi semakin baik hati seraya memperingatkan bahwa musuh kemurahan hati adalah konsumerisme, di mana kita membeli lebih banyak daripada yang kita butuhkan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI ORANG MISKIN SEDUNIA DI BASILIKA SANTO PETRUS (VATIKAN) 18 November 2018 : HARTA YANG SESUNGGUHNYA ADALAH ALLAH DAN SESAMA KITA

Marilah kita melihat tiga hal yang dilakukan Yesus dalam Injil hari ini.

Pertama : ketika hari masih siang, Ia “pergi”. Ia meninggalkan orang banyak di puncak keberhasilan-Nya, dielu-elukan karena Ia menggandakan roti. Meskipun para murid ingin bersenang-senang di dalam kemuliaan, Ia memerintahkan mereka mendahului-Nya dan kemudian menyuruh orang banyak pulang (bdk. Mat 14:22-23). Dicari oleh orang-orang, Ia pergi seorang diri; saat degup jantung-Nya sedang mereda, Ia naik ke atas bukit untuk berdoa. Kemudian, ketika hari sudah malam, Ia turun dan pergi ke para murid, berjalan di atas air yang terombang-ambingkan gelombang. Dalam semua ini, Yesus melawan arus : pertama, Ia meninggalkan keberhasilan, dan kemudian ketentraman. Ia mengajarkan kita keberanian untuk meninggalkan : meninggalkan keberhasilan yang menggembungkan hati dan ketentraman yang mematikan jiwa.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 15 November 2018 : KEMARTIRAN TIDAK MENJADI BERITA

Bacaan Ekaristi : Flm. 1:7-20; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Luk. 17:20-25.

Gereja tumbuh “dalam kesederhanaan, dalam keheningan, dalam pujian, dalam kurban Ekaristi, dalam komunitas persaudaraan, di mana semua orang dikasihi”, dan tak seorangpun diterlantarkan. Itulah pesan Paus Fransiskus dalam homilinya selama Misa harian Kamis pagi 15 November 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan. Membahas Bacaan Injil hari itu (Luk 17:20-25), Paus Fransiskus mengatakan bahwa Kerajaan Allah “tidak mengagumkan”, dan bahwa kerajaan tersebut tumbuh dalam keheningan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 12 November 2018 : USKUP, SEORANG HAMBA YANG RENDAH HATI DAN LEMBUT LEMBUT, BUKAN SEORANG PENGUASA

Bacaan Ekaristi : Tit. 1:1-9; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 17:1-6.

Seorang hamba yang rendah hati dan lemah lembut, bukan seorang penguasa. Inilah seharusnya seorang uskup. Paus Fransiskus menyampaikan hal tersebut tersebut dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 12 November 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan. Dengan mengacu pada Bacaan Pertama liturgi hari itu (Tit 1:1-9), Paus Fransiskus menguraikan secara terperinci sosok seorang uskup, untuk menertibkan dalam Gereja.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 9 November 2018 : BERHALA UANG DALAM GEREJA

Bacaan Ekaristi : Yeh. 47:1-2,8-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; 1Kor. 3:9b-11,16-17; Yoh. 2:13-22.

Dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 9 November 2018, bertepatan dengan Pesta Pemberkatan Basilika Lateran, Paus Fransiskus mendesak agar gereja-gereja dihormati sebagai “rumah Allah” dan tidak berubah rupa menjadi pasar atau tempat umum yang dikuasai oleh “keduniawian”. Gereja-gereja beresiko mengubah rupa diri mereka menjadi pasar dengan berbagai sakramen yang diobral secara cuma-cuma.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 8 November 2018 : MEMBERI KESAKSIAN, MENGGERUTU, MENGAJUKAN PERTANYAAN

Bacaan Ekaristi : Flp. 3:3-8a; Mzm. 105:2-3,4-5,6-7: Luk. 15:1-10.

Memberi kesaksian, menggerutu, mengacukan pertanyaan. Inilah tiga kata yang ditekankan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 8 November 2018 di Casa Santa Marta pada hari Kamis. Beliau merenungkan Bacaan Injil hari itu (Luk 15:1-10), yang dimulai dengan kesaksian yang diberikan oleh Yesus : para pemungut cukai dan orang-orang berdosa mendekati Dia dan mendengarkan Dia; serta Ia makan bersama mereka.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 6 November 2018 : YESUS MEMBERI KESEMPATAN KEDUA UNTUK MENGHADIRI PERJAMUAN SURGAWI

Bacaan Ekaristi : Flp. 2:5-11; Mzm. 22:26b-27,28-30a,31-32; Luk. 14:15-24.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa Yesus memberi kita kesempatan kedua untuk menghadiri perjamuan surgawi - tetapi Ia juga adil. Dengan mengacu pada Bacaan Injil hari itu (Luk 14:15-24), Bapa Suci menyampaikan hal tersebut dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi, 6 November 2018, di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 5 September 2018 : HATI-HATI TERHADAP AMBISI DIRI DAN KESOMBONGAN

Bacaan Ekaristi : Flp. 2:1-4; Mzm. 131:1,2,3; Luk. 14:12-14.

Paus Fransiskus memperingatkan bahwa "persaingan dan puji-pujian yang sia-sia" memiliki kekuatan untuk menghancurkan berbagai landasan jemaat dengan menebar perpecahan dan pertikaian. Hal tersebut disampaikan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi 5 November 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA ARWAH UNTUK PARA KARDINAL DAN PARA USKUP YANG WAFAT DALAM SATU TAHUN TERAKHIR 3 November 2018 : HIDUP ORANG KRISTIANI ADALAH BEPERGIAN UNTUK BERTEMU SANG MEMPELAI LAKI-LAKI

Dalam perumpamaan Injil hari ini, kita mendengar bahwa para pengiring mempelai, seluruhnya sepuluh gadis, "pergi menyongsong mempelai laki-laki" (Mat 25:1). Bagi kita semua, hidup adalah panggilan terus-menerus untuk bepergian : dari rahim ibu kita, dari rumah tempat kita dilahirkan, dari bayi hingga remaja, dari remaja hingga dewasa, semua jalan menuju kepergian kita dari dunia ini. Juga bagi para pelayan Injil, hidup berada dalam gerakan yang terus-menerus, ketika kita bepergian dari rumah keluarga kita menuju ke mana pun Gereja mengutus kita, dari satu macam pelayanan menuju pelayanan lainnya. Kita selalu bergerak sampai kita melakukan perjalanan terakhir kita.

Injil menunjukkan kepada kita makna bepergian yang terus menerus ini yaitu hidup : hidup adalah bepergian untuk bertemu Sang Mempelai Laki-laki. Inilah untuk apa hidup dimaksudkan untuk dijalani : panggilan yang bergema di tengah malam, menurut Injil, dan yang akan kita dengar pada saat kematian kita : “Mempelai datang! Songsonglah dia!" (ayat 6). Perjumpaan dengan Yesus, Sang Mempelai Laki-laki yang “telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Ef 5:25), memberi makna dan arah bagi kehidupan kita. Tidak lebih dari itu. Perjumpaan dengan Yesus adalah kesudahan yang menerangi segala sesuatu yang mendahuluinya. Sama seperti pembenihan dinilai oleh panen, demikian juga perjalanan hidup dibentuk oleh tujuan utamanya.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN DI PEMAKAMAN ANAK LAURENTINO (ROMA) 2 November 2018 : PENGENANGAN, HARAPAN DAN TERANG ADALAH TIGA MATRA KEHIDUPAN

Liturgi hari ini bersifat sesuai kenyataan, liturgi hari ini berwujud. Liturgi hari ini adalah bagian dari tiga matra kehidupan, matra yang bahkan dipahami anak-anak : masa lalu, masa depan, masa sekarang.

Hari ini adalah hari pengenangan masa lalu, hari untuk mengingat orang-orang yang berjalan sebelum kita, yang juga menyertai kita, memberi kita kehidupan. Ingatlah, ingatlah. Pengenangan adalah apa yang menguatkan suatu umat karena ia berakar dalam sebuah perjalanan, berakar dalam sejarah, berakar pada suatu umat. Pengenangan membuat kita memahami bahwa kita tidak sendirian, kita adalah suatu umat yang memiliki sejarah, yang telah berlalu, yang memiliki kehidupan. Pengenangan banyak orang yang telah ikut serta dalam sebuah perjalanan bersama kita, dan saya berada di sini [menunjukkan makam di sekitar]. Mengingat tidaklah mudah. Kita, sering kali, kita bergumul untuk kembali memikirkan apa yang terjadi dalam hidupku, dalam keluargaku, dalam umatku ... Tetapi hari ini adalah hari pengenangan, pengenangan yang membawa kita ke akar : ke akarku, ke akar umatku.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PENUTUPAN SIDANG UMUM BIASA SINODE TENTANG KAUM MUDA, IMAN DAN KEARIFAN PANGGILAN DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN, 28 Oktober 2018

Bacaan Ekaristi : Yer. 31:7-9; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Ibr. 5:1-6; Mrk. 10:46-52.

Kisah yang baru saja kita dengar adalah kisah terakhir dari kisah-kisah penginjil Markus yang berkaitan dengan pelayanan keliling Yesus, yang akan memasuki Yerusalem untuk wafat dan bangkit. Bartimeus dengan demikian adalah orang terakhir dari orang-orang yang mengikuti Yesus di sepanjang jalan : dari seorang pengemis di sepanjang jalan menuju Yerikho, ia menjadi seorang murid yang berjalan bersama murid-murid lainnya dalam perjalanan menuju Yerusalem. Kita juga telah berjalan saling berdampingan; kita telah menjadi sebuah "sinode". Injil ini memetereikan tiga langkah dasariah dalam perjalanan iman.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 26 Oktober 2018 : KERENDAHAN HATI, KELEMAHLEMBUTAN DAN KESABARAN MENYEBABKAN PERDAMAIAN

Bacaan Ekaristi : Ef. 4:1-6; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 12:54-59.

Jalan menuju perdamaian di dunia, di dalam masyarakat kita dan juga di dalam keluarga kita adalah kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Inilah inti pesan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 26 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan. Paus Fransiskus merenungkan Bacaan Pertama hari itu (Ef 4:1-6), di mana Santo Paulus dalam kesendirian di dalam penjara menulis kepada jemaat Efesus "madah menuju kesatuan" yang sesungguhnya, mengingatkan "martabat panggilan".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 25 Oktober 2018 : SIAPAKAH YESUS KRISTUS BAGIKU?

Bacaan Ekaristi : Ef. 4:14-21; Mzm. 33:1-2,4-5,11-12,18-19; Luk. 12:49-53.

Siapa Yesus Kristus bagimu? Paus Fransiskus mengajukan pertanyaan ini dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 25 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan. Jika seseorang mengajukan pertanyaan kepada kita, “Siapakah Yesus Kristus?”, kita seharusnya mengatakan apa yang telah kita pelajari : Dialah Juruselamat dunia, Putra Bapa, yang “kita ucapkan dalam Syahadat”. Tetapi, Paus Fransiskus mengatakan bahwa menjawab pertanyaan tentang siapakah Yesus Kristus "bagiku" sedikit lebih sulit. pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang dapat sedikit membuat kita canggung, karena untuk menjawab pertanyaan itu, "Aku harus menggali ke dalam hatiku"; yaitu, kita harus memulai dari pengalaman kita sendiri.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 23 Oktober 2018 : HARAPAN ADALAH HIDUP DALAM PENGHARAPAN AKAN PERJUMPAAN NYATA DENGAN YESUS

Bacaan Ekaristi : Ef. 2:12-22; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; Luk. 12:35-38.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 23 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus menjelaskan "harapan" dengan gambaran seorang perempuan hamil yang sedang menantikan kelahiran anaknya. Harapan, beliau mengatakan, bukanlah sesuatu yang tidak nyata. Sebaliknya, harapan berarti hidup dalam pengharapan akan perjumpaan nyata dengan Yesus. Dan kebijaksanaan mencakup kemampuan untuk bersukacita dalam "perjumpaan-perjumpaan kecil kehidupan bersama Yesus".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 19 Oktober 2018 : RAGI ORANG FARISI DAN RAGI ROH KUDUS

Bacaan Ekaristi : Ef. 1:11-14; Mzm. 33:1-2,4-5,12-13; Luk. 12:1-7.

Dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 19 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus merenungkan Bacaan Pertama (Ef 1:11-14) dan Bacaan Injil (Luk 12:1-7) liturgi hari itu. Beliau membandingkan “ragi” orang Farisi dengan ragi Roh Kudus yang mengarah pada dekapan “warisan” yang ditinggalkan Tuhan bagi semua orang.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 18 Oktober 2018 : TIGA BENTUK KEMISKINAN YANG HARUS DIJALANI SEORANG MURID

Bacaan Ekaristi : 2Tim. 4:10-17b; Mzm. 145:10-11,12-13ab,17-18; Luk. 10:1-9.

Dalam homilinya selama Misa harian Kamis pagi 18 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengulas tiga bentuk kemiskinan yang harus dijalani seorang murid : kemiskinan yang pertama adalah meninggalkan kekayaan, dengan hati yang tidak terikat uang, kemiskinan yang kedua adalah menerima penganiayaan, besar atau kecil, bahkan fitnah, oleh karena Injil, dan kemiskinan yang ketiga adalah kemiskinan karena kesepian, merasa sendirian di akhir hayat. Beliau mengawali permenungannya dengan Doa Pembukaan, yang menekankan bahwa melalui Santo Lukas, Tuhan ingin mengungkapkan kesukaan-Nya terhadap orang-orang miskin. Bacaan Injil hari itu (Luk 10:1-9) kemudian berbicara tentang pengutusan 72 murid ke dalam kemiskinan - "Janganlah membawa pundi-pundi, bekal atau kasut" - karena Tuhan menginginkan jalan sang murid menjadi jalan kemiskinan. Murid yang terikat pada uang atau kekayaan bukanlah murid yang sejati.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 16 Oktober 2018 : BERHATI-HATILAH DI SEKITAR UMAT KRISTIANI YANG KAKU

Bacaan Ekaristi : Gal. 4:31b-5:6; Mzm. 119:41,43,44,45,47,48; Luk. 11:37-41.

“Keselamatan adalah karunia dari Allah”, Ia memberi kita “roh kebebasan”. Paus Fransiskus mengatakan hal tersebut dalam homilinya selama Misa harian Selasa pagi 16 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau memperingatkan kita untuk waspada terhadap orang-orang munafik, yang hatinya tidak terbuka terhadap rahmat.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA KANONISASI 14 Oktober 2018 : DALAM KONTEKS YANG BERBEDA PARA KUDUS MENGAMALKAN SABDA TUHAN DALAM KEHIDUPAN MEREKA

Bacaan Ekaristi : Keb. 7:7-11; Mzm. 90:12-13,14-15, 16-17; Ibr. 4:12-13; Mrk. 10:17-30.

Bacaan Kedua (Ibr 4:12-13) mengatakan kepada kita bahwa “Sabda Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun" (ayat 12). Sesungguhnya : Sabda Allah bukan hanya seperangkat kebenaran atau kisah rohani yang membesarkan hati; bukan - sabda Allah adalah sabda yang hidup yang menyentuh kehidupan kita, yang mengubah kehidupan kita. Di sanalah, Yesus secara pribadi, Sabda Allah yang hidup, berbicara kepada hati kita.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 12 Oktober 2018 : BERHATI-HATILAH TERHADAP IBLIS YANG "SANTUN" DAN BERSAHABAT

Bacaan Ekaristi : Gal. 3:7-14; Mzm. 111:1-2,3-4,5-6; Luk. 11:15-26.

Ketika iblis tidak dapat menghantam dengan keburukan, peperangan atau ketidakadilan, ia melakukannya secara halus, secara bertahap menuntun orang-orang ke dalam roh dunia, membuat mereka merasa tidak ada yang salah. Itulah kata-kata yang disampaikan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 12 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 11 Oktober 2018 : YESUS MENGAJARKAN KITA UNTUK "MENDESAK" DALAM BERDOA

Bacaan Ekaristi : Gal. 3:1-5; Luk. 1:69-70,71-72,73-75; Luk. 11:5-13.

Kita harus berani ketika kita memohon kepada Tuhan. Allah adalah sahabat yang dapat memberi kita apa yang kita butuhkan. Hal tersebut disampaikan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi, 11 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan.

Bapa Suci mengambil inspirasi homilinya dari Bacaan Injil hari itu (Luk 11:5-13) yang bertema bagaimana kita harus berdoa. Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya tentang seorang yang, pada tengah malam, mengetuk rumah seorang sahabatnya untuk meminta roti. Dan sang sahabat menjawab bahwa bukanlah saat yang tepat untuk meminta roti, karena ia sudah berada di tempat tidur, tetapi kemudian bangun dan memberikan apa yang ia minta.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 9 Oktober 2018 : ORANG KRISTIANI SEJATI JATUH CINTA KEPADA TUHAN

Bacaan Ekaristi : Gal. 1:13-24; Mzm. 139:1-3,13-14ab,14c-15; Luk. 10:38-42.

Maria dan Marta mengajarkan kita bagaimana kehidupan kristiani harus dijalani : jatuh cinta kepada Tuhan. Itulah pesan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 9 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau mengajak kita untuk merenungkan cara kita bekerja maupun saat kita melakukan kontemplasi.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 8 OKTOBER 2018 : UMAT KRISTIANI SEJATI TIDAK TAKUT MENDAPATI TANGAN MEREKA KOTOR

Bacaan Ekaristi : Gal. 1:6-12; Mzm. 111:1-2,7-8,9,10c; Luk. 10:25-37.

Sebuah undangan untuk menjadi "umat kristiani yang bertekad", umat kristiani yang "tidak takut mendapati tangan mereka kotor, pakaian mereka, ketika mereka mendekat", umat kristiani "terbuka terhadap kejutan-kejutan" dan yang, seperti Yesus, "membayar untuk orang lain". Itu adalah kata-kata yang disampaikan Paus Fransiskus selama homilinya pada misa harian Senin pagi 8 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan. Mengacu pada Bacaan Injil hari itu (Luk 10:25-37), Paus Fransiskus mengulas "enam watak" dari perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus kepada para ahli Taurat yang, untuk "mencobai"-Nya, bertanya kepada-Nya : "Siapakah sesamaku manusia?". Kemudian beliau menyebutkan keenam watak tersebut, yaitu para penyamun, orang yang terluka, imam, orang Lewi, orang Samaria, dan pemilik penginapan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 5 Oktober 2018 : ORANG KRISTIANI YANG MUNAFIK BERPERILAKU SEPERTI ORANG KAFIR

Bacaan Ekaristi : Ayb. 38:1,12-21;39:36-38; Mzm. 139:1-3,7-8,9-10, 13-14ab; Luk. 10:13-16.

Dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 5 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengulas Bacaan Injil hari itu (Luk 10:13-16), di mana Yesus menegur orang-orang Betsaida, Khorazim, dan Kapernaum, yang menolak untuk percaya kepada-Nya meskipun telah melihat mukjizat-mukjizat yang Ia lakukan. Bapa Suci mengajak kita semua untuk melakukan pemeriksaan hati nurani.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PEMBUKAAN SIDANG UMUM BIASA SINODE TENTANG KAUM MUDA, IMAN DAN PEMAHAMAN PANGGILAN 3 Oktober 2018

“Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu" (Yoh 14:26).

Secara langsung Yesus menawarkan jaminan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan menyertai seluruh karya misioner yang dipercayakan kepada mereka : pertama-tama Roh Kuduslah yang akan melestarikan, menjaga tetap hidup dan bersangkut paut ingatan akan Tuhan dalam hati murid-murid-Nya. Roh Kuduslah yang menjamin bahwa kekayaan dan keindahan Injil akan menjadi sumber sukacita dan kesegaran yang berkesinambungan.

Pada awal saat rahmat untuk seluruh Gereja ini, dan seturut sabda Allah, kita memohon Sang Penolong untuk membantu kita melestarikan ingatan akan Tuhan dan mengobarkan kembali di dalam diri kita sabda-Nya yang telah membuat hati kita berkobar-kobar (bdk. Luk 24:32). Hasrat dan gairah Injil yang mengarah pada hasrat dan gairah demi Yesus. Ingatan yang dapat mengobarkan kembali dan memperbarui dalam diri kita kemampuan untuk bermimpi dan berharap. Karena kita tahu bahwa kaum muda kita akan mampu bernubuat dan berpandangan jauh ke depan bahwa kita, yang sudah dewasa atau lanjut usia, dapat bermimpi dan dengan demikian dapat menjangkitkan dalam berbagi mimpi dan harapan yang kita bawa di dalam hati kita (bdk. Yoel 2:28).

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 2 Oktober 2018 : MALAIKAT PELINDUNG ADALAH PINTU GERBANG HARIAN KITA MENUJU BAPA

Bacaan Ekaristi : Kel. 23:20-23a; Mzm. 91:1-2,3-4,5-6,10-11; Mat. 18:1-5,10.

"Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan”. Paus Fransiskus memilih kata-kata ini, yang diambil dari Bacaan Pertama liturgi hari itu (Kel 23:20-23a) yang bertepatan dengan Pesta Para Malaikat Pelindung, sebagai dasar permenungannya dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 2 Oktober 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan. Para malaikat pelindung adalah “para penolong khusus” yang “dijanjikan Tuhan kepada umat-Nya dan kepada kita yang melakukan perjalanan sepanjang jalan kehidupan”.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI LAPANGAN KEBEBASAN, TALLIN (ESTONIA) 25 September 2018

Dengan mendengarkan Bacaan Pertama, kisah kedatangan orang-orang Yahudi - yang sekarang dibebaskan dari perbudakan Mesir - ke Gunung Sinai (Kel 19:1), tidak memikirkan kalian sebagai sebuah bangsa adalah mustahil. Tidak memikirkan seluruh negara Estonia dan seluruh negara Baltik adalah mustahil! Bagaimana kita bisa tidak memikirkan peranan kalian dalam Revolusi Nyanyian, atau dalam deretan manusia yang berjumlah dua juta orang yang membentang dari sini hingga Vilnius? Kalian tahu apa itu berjuang untuk kebebasan; kalian dapat mengenalinya dengan orang-orang tersebut. Kemudian, akan ada baiknya kita mendengarkan apa yang dikatakan Allah kepada Musa, guna memahami apa yang sedang Ia katakan kepada kita sebagai sebuah bangsa.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI TEMPAT SUCI BUNDA ALLAH, AGLONA (LATVIA) 24 September 2018 : BUNDA MARIA MEMPERLIHATKAN BAGAIMANA DEKAT DAN PEDULI TERHADAP ORANG LAIN

Sungguh, kita dapat mengatakan bahwa apa yang dikatakan Santo Lukas kepada kita di awal kitab Kisah Para Rasul sedang diulangi di sini hari ini : kita bergabung bersama-sama dalam doa, dalam kolega Maria, Bunda kita (bdk. Kis 1:14). Hari ini kita mengkhususkan tema lawatan ini untuk kita : “Perlihatkanlah dirimu sebagai Bunda!”. Perlihatkanlah kepada kami, Bunda, di mana engkau terus melantunkan Magnificat-mu. Perlihatkanlah kepada kami tempat-tempat di mana Putramu disalibkan, agar kami dapat menjumpai kehadiranmu yang terus menerus di kaki salib.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DI TAMAN SANTAKOS, KAUNAS (LITHUANIA) 23 September 2018 : KEHIDUPAN KRISTIANI SELALU MELIBATKAN PENGALAMAN SALIB

Bacaan Ekaristi : Keb. 2:12,17-20; Mzm. 54:3-4,5,6,8; Yak. 3:16-4:3; Mrk. 9:30-37.

Santo Markus mencurahkan seluruh bagian Injilnya pada petunjuk bagi para murid Tuhan. Tampaknya, Yesus, pada titik tengah perjalanan-Nya ke Yerusalem, menginginkan mereka untuk memperbarui pilihan mereka dalam mengikuti-Nya, memahami bahwa perjalanan tersebut akan menyebabkan saat-saat pencobaan dan nestapa. Penginjil menggambarkan masa kehidupan Yesus ini dengan menyebutkan bahwa pada tiga kesempatan Ia mengumumkan sengsara-Nya. Pada ketiga kesempatan itu, para murid mengutarakan kebingungan dan perbantahan, serta pada masing-masing kesempatan ini Tuhan ingin meninggalkan mereka sebuah ajaran. Kita baru saja mendengar kesempatan kedua dari ketiga kesempatan ini (bdk. Mrk 9:30-37).

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 21 September 2018 : AMBILLAH JALAN BELAS KASIH MENUJU HATI ALLAH

Bacaan Ekaristi : Ef. 4:1-7,11-13; Mzm. 19:2-3,4-5; Mat. 9:9-13.

Ingatan orang-orang kristiani akan asal-usul dan dosa-dosa mereka harus menyertai mereka sepanjang hidup. Itulah kata-kata yang disampaikan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 21 September 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau merenungkan Bacaan Injil dalam liturgi hari itu (Mat 9:9-13) yang menceritakan tentang bagaimana Yesus mengundang Matius, sang pemungut cukai, dan orang-orang berdosa lainnya untuk makan semeja dengan-Nya.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 20 September 2018 : YESUS MENGAJARKAN KASIH SEJATI

Bacaan Ekaristi : 1Kor. 15:1-11; Mzm. 118:1-2,16ab-17,28; Luk. 7:36-50.

Marilah kita memohon kepada Yesus, “dengan belas kasih-Nya dan pengampunan-Nya,” untuk selalu melindungi Gereja kita yang “seperti seorang ibu, adalah kudus”, tetapi juga “penuh dengan anak-anak yang berdosa, seperti kita”. Inilah doa Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 20 September 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan. Doa tersebut muncul sebagai hasil permenungan Bapa Suci terhadap bacaan-bacaan liturgi hari itu. Beliau memusatkan perhatiannya pada kata-kata Yesus : “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih”.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 18 September 2018 : YESUS ADALAH SOSOK GEMBALA YANG LEMBUT DAN TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

Bacaan Ekaristi : 1Kor. 12:12-14,27-31a; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 7:11-17.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 18 September 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus merenungkan Bacaan Injil hari itu (Luk 7:11-17) yang mengisahkan pembangkitan anak laki-laki seorang janda dari Nain. Beliau memaparkan Yesus, sosok gembala, yang kewibawaan-Nya berasal dari belas kasihan-Nya yang terungkap dalam kelemahlembutan dan kedekatan dengan orang-orang. Paus Fransiskus mendorong para imam untuk meneladan Yesus karena dekat dengan orang-orang, tidak dekat dengan kaum penguasa atau kaum ideolog yang, beliau katakan, "meracuni jiwa-jiwa".

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 14 September 2018 : SALIB MENGAJARKAN KITA UNTUK TIDAK TAKUT KALAH

Bacaan Ekaristi : Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37, 38. R: 7b; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17.

"Salib Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan ada kegagalan dan ada kemenangan”, salib Yesus mengajarkan kita untuk tidak takut akan “saat-saat gelap” yang dapat diterangi oleh salib, yang merupakan tanda kemenangan Allah atas kejahatan. Ini adalah pesan pokok Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Jumat pagi 14 September 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 13 September 2018 : BELAS KASIH ADALAH "CORAK" ORANG KRISTIANI

Bacaan Ekaristi : 1Kor. 8:1b-7,11-13; Mzm. 139:1-3,13-14ab,23-24; Luk. 6:27-38.

Orang kristiani tidak mengikuti "roh dunia", tetapi menjalani "kebodohan Salib". Itulah yang disampaikan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi, 13 September 2018, di Casa Santa Marta, Vatikan

“Menjadi orang kristiani tidaklah mudah”, tetapi membuat kita “bahagia” : jalan yang ditunjukkan kepada kita oleh Bapa surgawi adalah jalan “belas kasih” dan jalan “kedamaian batin”. Mengacu pada Bacaan Injil hari itu (Luk 6:27-38), Paus Fransiskus sekali lagi menjelaskan ciri khas "corak orang Kristiani". Paus Fransiskus mengatakan bahwa Tuhan selalu menunjukkan kepada kita harus seperti apakah “kehidupan seorang murid”. Ia melakukannya, misalnya, melalui Sabda Bahagia atau karya-karya belas kasih.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 11 September 2018 : PARA USKUP HARUS BERDOA, RENDAH HATI DAN DEKAT DENGAN UMAT GUNA MENGATASI SANG PENUDUH BESAR

Bacaan Ekaristi : 1Kor. 6:1-11; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Luk. 6:12-19.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 11 September 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengajak para uskup untuk mengatasi Sang Penuduh Besar, yang berusaha menciptakan skandal, melalui doa, kerendahan hati, dan kedekatan dengan umat Allah. Beliau mengatakan tampaknya Sang Penuduh Besar sedang menyerang para uskup Gereja Katolik untuk menciptakan skandal.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 10 September 2018 : KEBARUAN INJIL TIDAK MENGIZINKAN KEHIDUPAN GANDA

Bacaan Ekaristi : 1Kor. 5:1-8; Mzm. 5:5-6,7,12; Luk. 6:6-11.

Dalam homilinya selama Misa harian Senin pagi 10 September 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus menunjukkan bahwa dalam Bacaan Pertama (1Kor 5:1-8) Rasul Paulus sangat marah dengan mereka yang menyombongkan diri sebagai "orang-orang kristiani yang terbuka", tetapi di dalam dirinya "pengakuan akan Yesus Kristus berjalan seiring dengan percabulan yang dibiarkan” : “Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah”. Kata-kata teguran keras tersebut dialamatkan Santo Paulus kepada jemaat kristiani di Korintus karena kebanyakan dari mereka menjalani kehidupan ganda. Paulus mengingatkan bahwa “ragi mengkhamirkan seluruh adonan”, dan dibutuhkan ragi yang baru untuk adonan yang baru.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 6 September 2018 : KITA HARUS MEMPERSALAHKAN DIRI KITA, BUKAN ORANG LAIN

Bacaan : 1Kor. 3:18-23; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 5:1-11

Kita perlu mengenali bahwa kita adalah orang-orang berdosa : tanpa belajar untuk mempersalahkan diri kita sendiri, kita tidak dapat berjalan dalam kehidupan kristiani. Itulah inti pesan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Kamis pagi 6 September 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 4 September 2018 : ROH ALLAH VS ROH DUNIA

Bacaan Ekaristi : 1Kor. 2:10b-16; Mzm. 145:8-9,10-11,12-13ab,13cd-14; Luk. 4:31-37.

Dalam homilinya pada Misa harian Selasa pagi 4 September 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus mengatakan bahwa di dalam hati setiap orang “roh dunia” dan “Roh Allah” saling berhadapan satu sama lain setiap hari. Hati seseorang bagaikan “medan perang” di mana dua “roh” yang berbeda saling berhadapan : pertama, Roh Allah, menuntun kita “kepada perbuatan baik, amal, persaudaraan”; yang lainnya, yaitu roh dunia, mendorong kita “menuju kesia-siaan, kesombongan, kecukupan, pergunjingan”.

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 3 September 2018 : KEHENINGAN DAN DOA ADALAH TANGGAPAN TERBAIK

Bacaan Ekaristi : 1Kor. 2:1-5; Mzm. 19:97,98,99,100, 101,102; Luk. 4:16-30.

Dalam Misa harian Senin pagi 3 September 2018 di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus memusatkan homilinya pada Bacaan Injil hari itu (Luk 4:16-30) yang menceritakan kembalinya Yesus ke Nazaret dan mengalami penolakan di rumah ibadat setelah mengulas sebuah nas dari kitab Nabi Yesaya. Paus Fransiskus menyoroti ketenangan Yesus dalam menguasai diri tidak hanya dalam adegan ini tetapi juga selama sengsara-Nya.