Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM (HARI ORANG MUDA SEDUNIA XXXVI) 21 November 2021 : DUA GAMBARAN YESUS : IA ADALAH RAJA YANG DATANG DENGAN AWAN-AWAN

Bacaan Ekaristi : Dan. 7:13-14; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Why. 1: 5-8; Yoh. 18:33b-37.

 

Dua gambaran yang diambil dari sabda Allah yang telah kita dengar, dapat membantu kita mendekati Yesus sebagai Raja Semesta Alam. Gambaran pertama, diambil dari Kitab Wahyu dan dinubuatkan oleh nabi Daniel dalam Bacaan Pertama, dijelaskan dalam kata-kata, “Ia datang dengan awan-awan” (Why 1:7; Dan 7:13). Acuannya adalah kedatangan Yesus yang mulia sebagai Tuhan di akhir sejarah. Gambaran kedua berasal dari Bacaan Injil : Kristus yang berdiri di hadapan Pilatus dan berkata kepadanya : “Aku adalah Raja” (Yoh 18:37). Para sahabat muda yang terkasih, ada baiknya untuk berhenti dan memikirkan dua gambaran Yesus ini, ketika kita memulai perjalanan kita menuju Hari Orang Muda Sedunia 2023 di Lisbon.

 

Maka, marilah kita bercermin pada gambaran pertama : Yesus yang datang dengan awan-awan. Gambaran itu membangkitkan kedatangan Kristus dalam kemuliaan di akhir zaman; gambaran itu membuat kita menyadari bahwa kata terakhir dalam hidup kita adalah milik Yesus, bukan milik kita. Ia adalah – demikian Kitab Suci memberitahu kita – yang “yang berkendaraan melintasi awan-awan” (Mzm 68:5), yang kekuasaan-Nya di dalam awan-awan (bdk. Mzm 68:35). Ia adalah Tuhan, matahari yang terbit dari tempat tinggi dan tidak pernah terbenam, Ia yang bertahan sementara segala sesuatu yang lain berlalu, harapan kita yang pasti dan kekal. Ia adalah Tuhan. Nubuat harapan ini menerangi malam-malam kita. Nubuat harapan ini memberitahu kita bahwa Allah memang datang, Ia hadir dan berkarya, menuntun sejarah kita menuju diri-Nya, menuju segenap kebaikan. Ia datang “dengan awan-awan” untuk meyakinkan kita. Seolah-olah mengatakan : “Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian saat badai melanda hidupmu. Aku selalu bersamamu. Aku datang untuk membawa kembali langit yang cerah”.

 

Nabi Daniel, di sisi lain, memberitahu kita bahwa ia melihat Tuhan datang dengan awan-awan saat ia “terus melihat dalam penglihatan malam” (Dan 7:13). Penglihatan malam : Allah juga datang di waktu malam, di tengah awan gelap yang sering menyelimuti hidup kita. Kita semua tahu saat-saat seperti itu. Kita harus bisa mengenalinya, melihat melampaui malam, menengadah untuk melihat-Nya di tengah kegelapan.

 

Kaum muda yang terkasih, semoga kamu juga “terus melihat dalam penglihatan malam”! Apa artinya ini? Artinya memperkenankan matamu tetap cerah bahkan di tengah kegelapan. Jangan pernah berhenti mencari terang di tengah kegelapan apa pun yang mungkin sering kita pikul dalam hati kita atau lihat di sekitar kita. Angkatlah pandanganmu dari bumi ke surga, bukan untuk melarikan diri tetapi untuk menahan godaan tetap terpenjara oleh ketakutan kita, karena selalu ada bahaya ketakutan kita itu akan menguasai kita. Jangan tetap tertutup pada diri dan keluhan kita. Angkatlah matamu! Bangunlah! Inilah kata-kata penyemangat yang disampaikan Tuhan kepada kita, ajakan untuk mengangkat mata kita, untuk bangun, dan saya ingin mengulanginya dalam Pesan saya kepadamu untuk tahun perjalanan bersama ini. Kamu telah dipercayakan dengan tugas yang menarik tetapi juga menantang : berdiri tegak sementara segala sesuatu di sekitar kita tampaknya runtuh; menjadi penjaga yang siap melihat cahaya dalam penglihatan malam; menjadi pembangun di tengah banyak reruntuhan dunia dewasa ini; mampu bermimpi. Ini sangat penting : kaum muda yang tidak bisa bermimpi, sayangnya menjadi tua sebelum waktunya! Mampu bermimpi, karena inilah apa yang dilakukan orang yang bermimpi: mereka tidak tinggal dalam kegelapan, tetapi menyalakan lilin, nyala harapan yang mengumumkan datangnya fajar. Bermimpilah, bergegaslah, dan tataplah masa depan dengan berani.

 

Saya ingin memberitahumu sesuatu : kami, kami semua, berterima kasih kepadamu ketika kamu bermimpi. "Tetapi sungguhkah? Ketika kaum muda bermimpi, terkadang mereka membuat kegaduhan…”. Buatlah kebisingan, karena kebisinganmu adalah buah impianmu. Ketika kamu menjadikan Yesus sebagai impian hidupmu, dan kamu memeluk-Nya dengan sukacita dan kegairahan yang memapar, itu berarti kamu tidak ingin hidup di waktu malam. Ini bagus untuk kita! Terima kasih untuk segenap waktu ketika kamu bekerja dengan berani untuk mewujudkan impianmu, ketika kamu tetap percaya pada cahaya bahkan di saat-saat gelap, ketika dengan penuh semangat kamu berketetapan untuk menjadikan dunia kita lebih indah dan manusiawi. Terima kasih untuk segenap waktu ketika kamu memupuk mimpi persaudaraan, bekerja untuk menyembuhkan luka-luka ciptaan Allah, berjuang untuk memastikan penghormatan terhadap martabat kaum lemah dan menyebarkan semangat kesetiakawanan dan berbagi. Terima kasih terutama, karena di dunia yang hanya memikirkan keuntungan dewasa ini, yang cenderung melumpuhkan cita-cita besar, kamu tidak kehilangan kemampuan untuk bermimpi di dunia ini! Jangan menjalani hidupmu dengan mati rasa atau tertidur. Justru, bermimpilah dan hiduplah. Ini membantu kami kaum dewasa, dan juga Gereja. Ya, sebagai Gereja juga, kita perlu bermimpi, kita membutuhkan semangat muda untuk menjadi saksi-saksi Allah yang selalu muda!

 

Perkenankanlah saya memberitahumu hal lain : banyak impianmu sama dengan impian Injil. Persaudaraan, kesetiakawanan, keadilan, perdamaian : ini adalah impian Yesus bagi umat manusia. Jangan takut berjumpa Yesus : Ia mencintai impianmu dan membantumu mewujudkannya. Kardinal Martini biasa mengatakan bahwa Gereja dan masyarakat membutuhkan “pemimpi yang tetap terbuka terhadap kejutan Roh Kudus” (Conversazioni notturne a Gerusalemme, Sul rischio della fede, hlm. 61). Pemimpi yang membuat kita tetap terbuka terhadap kejutan Roh Kudus. Ini indah! Saya berharap dan berdoa agar kamu menjadi salah seorang pemimpi ini!

 

Sekarang kita sampai pada gambaran kedua, yaitu Yesus yang berkata kepada Pilatus : “Aku adalah raja”. Kita dikejutkan oleh ketetapan hati Yesus, keberanian-Nya, kebebasan tertinggi-Nya. Yesus ditangkap, dibawa ke pengadilan, diinterogasi oleh mereka yang memiliki kuasa untuk menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Dalam situasi seperti itu, Ia memiliki hak untuk membela diri, dan bahkan “melakukan pengupayaan” dengan berkompromi. Sebaliknya, Yesus tidak menyembunyikan jatidiri-Nya, tidak menutupi niat-Nya, atau memanfaatkan celah yang bahkan ditinggalkan Pilatus untuk-Nya. Dengan keberanian yang lahir dari kebenaran, Ia menjawab : "Aku adalah raja". Ia bertanggung jawab atas hidup-Nya : Aku memiliki perutusan dan Aku akan melaksanakannya untuk menjadi saksi Kerajaan Bapa-Ku. “Untuk itulah”, kata-Nya, “Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran” (Yoh 18:37). Inilah Yesus, yang datang tanpa bermuka dua, untuk menyatakan melalui hidup-Nya bahwa Kerajaan-Nya berbeda dari kerajaan-kerajaan dunia; Allah tidak memerintah untuk memperbesar kuasa-Nya dan menghancurkan orang lain; Ia tidak memerintah dengan kekuatan senjata. Kekuatan-Nya adalah Kerajaan kasih : "Aku adalah raja", tetapi raja Kerajaan kasih; "Aku adalah raja" dari Kerajaan orang-orang yang memberikan hidup mereka untuk keselamatan orang lain.

 

Kaum muda yang terkasih, kebebasan Yesus menarik kita masuk. Marilah kita memperkenankannya bergema di dalam diri kita, menantang kita, membangkitkan dalam diri kita keberanian yang lahir dari kebenaran. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : Jika aku berada di posisi Pilatus, menatap mata Yesus, apa yang membuatku malu? Berhadapan dengan kebenaran Yesus, kebenaran yang adalah Yesus, apa saja caraku menipu atau mendua, caraku yang tidak berkenan kepada-Nya? Kita masing-masing akan menemukan cara seperti itu. Carilah cara-cara itu, dapati cara-cara itu. Kita semua memiliki duplikat ini, kompromi ini, "pengupayaan hal-hal" ini sehingga salib akan enyah. Ada baiknya berdiri di hadapan Yesus, yang adalah kebenaran, untuk dibebaskan dari khayalan kita. Ada baiknya menyembah Yesus, dan sebagai hasilnya, bebas secara batiniah, melihat kehidupan sebagaimana adanya, dan tidak tertipu oleh corak dewasa ini dan tampilan konsumerisme yang mempesona dan sekaligus mematikan. Para sahabat, kita di sini bukan untuk terpesona oleh sirene dunia, tetapi menggenggam hidup kita, "menggigit kehidupan", untuk menjalaninya sepenuhnya!

 

Dengan cara ini, dengan kebebasan Yesus, kita menemukan keberanian yang kita butuhkan untuk berenang menentang arus. Saya ingin menekankan hal ini : berenang menentang arus, memiliki keberanian untuk berenang menentang arus. Berenang menentang orang lain, seperti para korban yang tiada henti dan ahli teori konspirasi yang selalu menyalahkan orang lain bukan godaan sehari-hari; malahan menentang arus yang tidak sehat dari keegoisan, pikiran tertutup dan kekakuan kita, yang sering mencari kelompok yang berpikiran sama untuk bertahan hidup. Bukan ini, tetapi berenang menentang arus untuk menjadi semakin seperti Yesus. Karena Ia mengajarkan kita untuk menghadapi kejahatan hanya dengan kekuatan kebaikan yang lembut dan hina. Tanpa jalan pintas, tanpa tipu daya, tanpa bermuka dua. Dunia kita, yang diliputi oleh begitu banyak kejahatan, tidak memerlukan kompromi yang semakin mendua, orang-orang yang bergerak maju mundur seperti air pasang – ke mana pun angin meniup mereka, ke situlah kepentingan mereka membawa diri mereka – atau berayun ke kanan atau ke kiri, tergantung pada apa yang paling nyaman, orang-orang yang "duduk di pagar". Orang Kristiani seperti itu tampaknya lebih merupakan seorang “penyeimbang” daripada seorang Kristiani. Orang-orang yang selalu melakukan tindakan penyeimbang mencari cara untuk menghindari tangan mereka kotor, agar tidak membahayakan hidup mereka, tidak menganggap sungguh-sungguh kehidupan. Tolong, takutlah menjadi anak muda seperti itu. Sebaliknya, menjadi bebas dan otentik, menjadi hati nurani masyarakat yang kritis. Jangan takut untuk melontarkan kritik! Kami membutuhkan kritikmu. Kebanyakan daripadamu, misalnya, kritis terhadap pencemaran lingkungan. Kita membutuhkan hal ini! Bebas dalam melontarkan kritik!. Bersemangatlah tentang kebenaran, sehingga, dengan impianmu, Kamu dapat mengatakan : "Hidupku tidak tertawan oleh pola pikir dunia : aku bebas, karena aku memerintah bersama Yesus demi keadilan, cinta, dan kedamaian!" Kaum muda yang terkasih, saya berharap dan berdoa agar kamu masing-masing dapat dengan penuh sukacita mengatakan : “Bersama Yesus, aku pun adalah raja”. Aku juga memerintah : sebagai tanda yang hidup dari kasih Allah, belas kasih dan kelembutan-Nya. Aku seorang pemimpi, terpesona oleh cahaya Injil, dan aku melihat dengan harapan dalam penglihatan malam. Dan setiap kali aku jatuh, aku menemukan lagi dalam diri Yesus keberanian untuk terus berjuang dan berharap, keberanian untuk terus bermimpi. Di setiap tahap kehidupan.

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 21 November 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXXIII (HARI ORANG MISKIN SEDUNIA V) 14 November 2021 : KEPEDIHAN HARI INI DAN HARAPAN HARI ESOK

Bacaan Ekaristi : Dan. 12:1-3; Mzm. 16:5,8,9-10,11; Ibr. 10:11-14,18; Mrk. 13:24-32.

 

Gambaran yang digunakan Yesus di awal Injil hari ini membuat kita bingung : matahari akan menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang (bdk. Mrk 13:24-25). Namun Tuhan kemudian mengundang kita untuk berharap, karena tepat pada saat kegelapan total itu, Anak Manusia akan datang (bdk. ayat 26). Bahkan sekarang, kita dapat melihat tanda-tanda kedatangan-Nya, seperti ranting-ranting pohon ara yang melembut dan mulai bertunas yang membuat kita menyadari bahwa musim panas sudah dekat (bdk. ayat 28).

 

Perikop Injil ini membantu kita untuk menafsirkan sejarah dalam dua aspeknya : kepedihan hari ini dan harapan hari esok. Penafsiran ini membangkitkan semua kontradiksi yang menyakitkan yang di dalamnya umat manusia di segala zaman terbenam, dan, pada saat yang sama, masa depan keselamatan yang menanti kita : perjumpaan dengan Tuhan yang datang untuk membebaskan kita dari segala kejahatan. Marilah kita membahas kedua aspek ini melalui mata Yesus.

 

Pertama : kepedihan hari ini. Kita adalah bagian dari sejarah yang ditandai dengan kesengsaraan, kekerasan, penderitaan dan ketidakadilan, yang selalu menunggu pembebasan yang sepertinya tidak pernah datang. Mereka yang paling terluka, tertindas dan bahkan hancur, adalah kaum miskin, mata rantai terlemah. Hari Orang Miskin Sedunia yang kita rayakan meminta kita untuk tidak menyimpang, tidak takut untuk melihat lebih dekat penderitaan mereka yang paling rentan. Injil hari ini memiliki banyak hal untuk disampaikan kepada mereka. Matahari kehidupan mereka sering digelapkan oleh kesepian, bulan harapan mereka telah memudar dan bintang-bintang impian mereka telah jatuh ke dalam kegelapan; hidup mereka telah tergoncang. Semua karena kemiskinan yang ke dalamnya mereka sering dipaksa, korban ketidakadilan dan kesenjangan dari masyarakat yang mencampakkan yang dengan tanpa melihat bergegas melewati mereka dan tanpa ragu meninggalkan mereka pada nasib mereka.

 

Namun, ada aspek lain : harapan hari esok. Yesus ingin membuka hati kita untuk berharap, menyingkirkan kecemasan dan ketakutan kita berhadapan dengan penderitaan dunia. Jadi, Ia memberitahu kita bahwa bahkan saat matahari menjadi gelap dan segala sesuatu di sekitar kita tampak runtuh, Ia semakin dekat. Di tengah rintihan sejarah kita yang menyakitkan, masa depan keselamatan mulai mekar. Harapan hari esok berbunga di tengah penderitaan hari ini. Memang, penyelamatan Allah bukan hanya janji masa depan, tetapi bahkan sekarang bekerja dalam sejarah kita yang terluka, menyebar di tengah penindasan dan ketidakadilan dunia kita. Kita semua memiliki hati yang terluka. Di tengah air mata kaum miskin, kerajaan Allah mekar seperti ranting-ranting pohon yang melembut dan membimbing sejarah menuju tujuannya, menuju perjumpaan terakhir dengan Tuhan, Raja alam semesta yang pasti akan membebaskan kita.

 

Pada titik ini, marilah kita bertanya : apa yang dituntut dari kita sebagai umat Kristiani dalam situasi ini? Kita diminta untuk memelihara harapan hari esok dengan menyembuhkan kepedihan hari ini. Keduanya terkait : jika kamu tidak bekerja untuk menyembuhkan kepedihan hari ini, akan sulit untuk memiliki harapan hari esok. Harapan yang lahir dari Injil tidak ada hubungannya dengan pengharapan pasif bahwa segala sesuatunya esok mungkin lebih baik, tetapi dengan menjadikan nyata janji keselamatan Allah hari ini. Hari ini dan setiap hari. Harapan Kristiani bukanlah optimisme yang bersahaja, bahkan belum dewasa, dari mereka yang berharap bahwa segala sesuatunya dapat berubah – itu tidak akan terjadi – tetapi dalam pada itu terus berjalan; harapan Kristiani ada hubungannya dengan membangun setiap hari, dengan gerakan sikap nyata, kerajaan kasih, keadilan, dan persaudaraan yang dicanangkan oleh Yesus. Harapan Kristiani, misalnya, tidak ditaburkan oleh orang Lewi dan imam yang berjalan melewati orang yang terluka parah oleh penyamun. Harapan Kristiani ditaburkan oleh orang asing, seorang Samaria yang berhenti dan melakukan hal itu (bdk. Luk 10:30-35). Dan hari ini seolah-olah Gereja berkata : “Berhenti dan taburlah harapan di tengah kemiskinan. Mendekatlah pada kaum miskin dan taburlah harapan”. Harapan untuk orang itu, harapanmu dan harapan Gereja. Inilah yang diminta dari kita : menjadi, di tengah reruntuhan dunia sehari-hari, pembangun harapan yang tak kenal lelah; menjadi terang saat matahari menjadi gelap, menjadi saksi kasih sayang di tengah meluasnya ketidaktertarikan; menjadi kehadiran yang penuh perhatian di tengah tumbuhnya ketidakpedulian. Saksi kasih sayang. Kita tidak akan pernah bisa berbuat baik kecuali dengan menunjukkan kasih sayang. Paling-paling, kita akan melakukan hal-hal baik, tetapi mereka tidak menyentuh cara Kristiani karena hal-hal baik tersebut tidak menyentuh hati. Yang menyentuh hati adalah kasih sayang : kita mendekat, kita merasakan kasih sayang dan kita melakukan karya kasih yang lembut. Itulah cara Allah melakukan berbagai hal : kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan. Itulah yang diminta dari kita hari ini.

 

Baru-baru ini saya berpikir tentang apa yang biasa dikatakan oleh seorang uskup yang dekat dengan kaum miskin, dan dirinya sendiri miskin di hadapan Allah, Don Tonino Bello : “Kita tidak bisa berpuas diri dengan harapan; kita harus mengelola harapan”. Jika harapan kita tidak diterjemahkan ke dalam keputusan dan tindakan nyata kepedulian, keadilan, kesetiakawanan dan kepedulian terhadap rumah kita bersama, penderitaan kaum miskin tidak akan berkurang, ekonomi sampah yang memaksa mereka untuk hidup terpinggirkan tidak akan diubah, pengharapan mereka tidak akan mekar lagi. Kita umat Kristiani, khususnya, harus mengelola harapan - ungkapan Don Tonino Belli ini, mengelola harapan, sangat baik - mewujudkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam hubungan kita, dalam komitmen sosial dan politik kita. Saya teringat akan karya amal yang dilakukan oleh begitu banyak umat Kristiani, karya Badan Amal Kepausan… Apa yang mereka lakukan di sana? Mereka mengelola harapan. Bukan memberi sebuah mata uang di sana sini, tetapi mengelola harapan. Inilah yang diminta Gereja dari kita hari ini.

 

Hari ini Yesus menawarkan kepada kita gambaran harapan yang sederhana namun mengesankan. Gambaran ranting-ranting pohon ara, yang secara diam-diam menunjuk ke musim panas. Ranting-ranting mulai bertunas, kata Yesus, ketika ranting-ranting itu melembut (bdk. ayat 28). Saudara-saudari yang terkasih, itulah kata yang membuat harapan mekar di dunia dan meringankan penderitaan kaum miskin : kelembutan. Kasih sayang yang menuntunmu pada kelembutan. Kita perlu mengatasi keegoisan kita, kekakuan batin, yang merupakan godaan dewasa ini, yaitu godaan "pelaku pemulihan", yang menginginkan Gereja yang benar-benar tertib, benar-benar kaku : ini bukan berasal dari Roh Kudus. Kita harus mengatasi hal ini, agar harapan bisa mekar di tengah kekakuan ini. Mengatasi godaan untuk hanya peduli tentang masalah kita sendiri terserah kita; kita perlu bertumbuh dengan lembut menghadapi tragedi dunia kita, ambil bagian dalam kepedihannya. Seperti ranting-ranting pohon ara yang melembut kita dipanggil untuk menyerap polusi di sekitar kita dan mengubahnya menjadi kebaikan. Tidak ada gunanya terus berbicara tentang berbagai persoalan, berdebat, dan bergunjing – kita semua bisa melakukannya. Yang perlu kita lakukan adalah meniru ranting-ranting yang setiap hari, tanpa terasa, mengubah udara kotor menjadi udara bersih. Yesus ingin kita menjadi "orang yang mengubah" berkaitan kebaikan : orang-orang yang menghirup udara padat sama seperti orang lain, tetapi menanggapi kejahatan dengan kebaikan (bdk. Rm 12:21). Orang-orang yang bertindak : dengan memecah-mecahkan roti bersama orang yang lapar, bekerja untuk keadilan, mengangkat kaum miskin dan memulihkan martabat mereka. Seperti yang dilakukan orang Samaria.

 

Alangkah indahnya, sebuah Gereja yang injili dan awet muda siap untuk keluar dari dirinya sendiri dan, seperti Yesus, mewartakan kabar baik kepada kaum miskin (bdk. Luk 4:18). Perkenankan saya berhenti sejenak pada kata sifat terakhir tersebut : muda. Gereja yang menabur harapan adalah muda. Gereja kenabian yang, berkat kehadirannya, berkata kepada orang-orang yang patah hati dan tercampakkan dari dunia, “Tenanglah, Tuhan sudah dekat. Untukmu juga, musim panas sedang lahir di kedalaman musim dingin. Dari kepedihanmu, harapan bisa muncul”. Saudara dan saudari, marilah kita membawa pandangan harapan ini ke dunia kita. Marilah kita membawanya dengan kelembutan kepada kaum miskin, dengan kedekatan, dengan kasih sayang, tanpa menghakimi mereka, karena kita akan dihakimi. Karena di sanalah, bersama mereka, bersama kaum miskin, Yesus berada; karena di sanalah, di dalam diri mereka, Yesus, yang menanti kita, berada.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 15 November 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA DIES NATALIS KE-60 FAKULTAS KEDOKTERAN DAN BEDAH UNIVERSITAS KATOLIK HATI KUDUS DI POLIKLINIK AGOSTINO GEMELLI, ROMA - 5 November 2021 : INGATAN, SENGSARA DAN PENGHIBURAN

Saat kita memperingati dengan rasa syukur karunia kursi Universitas Katolik ini, saya ingin berbagi denganmu beberapa pemikiran sehubungan dengan namanya. Namanya didedikasikan untuk Hati Kudus Yesus, sebagaimana hari ini, hari Jumat pertama setiap bulan. Merenungkan Hati Yesus, kita dapat memperkenankan diri kita dibimbing oleh tiga kata : ingatan, sengsara dan penghiburan.


Ingatan. Mengingat [dalam bahasa Italia, ricordare], berarti "kembali ke hati, kembali dengan hati". Ri-cordare. Apakah Hati Kudus Yesus membuat kita kembali? Untuk apakah Ia melakukannya kepada kita : Hati Kristus menunjukkan kepada kita Yesus yang mempersembahkan diri-Nya, hati Kristus adalah kompendium kerahiman-Nya. Memandangnya – seperti yang dilakukan Yohanes dalam Injil (19:31-37), wajar bagi kita untuk mengingat kebaikan-Nya, yang diberikan secara cuma-cuma, yang tidak dapat diperjualbelikan; dan tanpa syarat, tidak tergantung pada tindakan kita, berdaulat. Dan bergerak. Dalam ketergesaan hari ini, di tengah seribu tugas dan kekhawatiran yang terus-menerus, kita kehilangan kemampuan untuk tergerak dan merasakan kasih sayang, karena kita sedang kehilangan kembali ke hati ini, yaitu ingatan ini, kembali ke hati ini. Tanpa ingatan kita kehilangan akar kita, dan tanpa akar, kita tidak bertumbuh. Adalah baik bagi kita untuk memelihara ingatan tentang siapa yang telah mengasihi kita, memelihara kita, dan mengangkat kita. Saya ingin memperbarui hari ini "terima kasih" saya atas perhatian dan kasih sayang yang saya terima di sini. Saya percaya di masa pandemi ini adalah baik bagi kita untuk mengingat bahkan saat-saat yang paling menderita : tidak membuat kita sedih, tetapi agar tidak lupa, dan membimbing kita dalam pilihan kita berdasarkan pertimbangan masa lalu terkini.

 

Saya bertanya-tanya : bagaimana cara kerja ingatan kita? Sederhananya, kita dapat mengatakan bahwa kita mengingat seseorang atau sesuatu ketika menyentuh hati kita, ketika mengikat kita pada kasih sayang tertentu atau kurangnya kasih sayang. Maka Hati Yesus menyembuhkan ingatan kita karena membawanya kembali ke kasih sayang dasariah. Hati Yesus berakar pada dasar yang paling kokoh. Hati Yesus mengingatkan kita bahwa, apa pun yang terjadi pada hidup kita, kita dikasihi. Ya, kita adalah makhluk-makhluk yang dikasihi, anak-anak yang selalu dikasihi Bapa dan, dalam hal apa pun, saudara dan saudari yang didenyutkan Hati Kristus. Setiap kali kita mengintip ke dalam Hati itu, kita menemukan diri kita “berakar serta berdasar di dalam kasih”, sebagaimana dikatakan Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama hari ini (Ef 3:17).

 

Marilah kita membudidayakan ingatan ini, yang dikuatkan ketika kita bertatap muka dengan Tuhan, terutama ketika kita memperkenankan diri kita dipandang dan dikasihi oleh-Nya dalam adorasi. Tetapi kita juga dapat mengembangkan di antara kita sendiri seni mengingat, menghargai wajah-wajah yang kita jumpai. Saya memikirkan hari-hari yang melelahkan di rumah sakit, di universitas, di tempat kerja. Kita menanggung risiko semuanya akan berlalu tanpa jejak, atau hanya kelelahan dan keletihan yang tersisa. Adalah baik bagi kita, di malam hari, untuk melihat kembali wajah-wajah yang telah kita temui, senyuman yang telah kita terima, kata-kata yang baik. Semuanya adalah ingatan kasih dan membantu ingatan kita menemukan dirinya kembali : semoga ingatan kita kembali menemukan dirinya. Alangkah pentingnya ingatan ini berada di rumah sakit! Ingatan kita dapat memberi makna pada hari si sakit. Sebuah kata persaudaraan, senyuman, belaian di wajah : ini adalah ingatan yang menyembuhkan batin, ingatan membuat hati yang baik. Janganlah kita melupakan terapi mengingat : itu sangat baik!

 

Sengsara adalah kata yang kedua. Sengsara. Kata yang pertama adalah ingatan, mengingat; kata yang kedua adalah sengsara. Hati Kristus bukan devosi kesalehan, sehingga merasakan sedikit kehangatan batin; hati Kristus bukan gambar lembut yang membangkitkan kasih sayang, bukan itu. Hati Kristus adalah hati yang penuh kesengsaraan - baca saja Injil -, hati yang terluka oleh kasih, terkoyak untuk kita di kayu salib. Kita telah mendengar bagaimana Injil berbicara tentang hal itu : “Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air” (Yoh 19:34). Ditikam, Ia memberi; dalam kematian, Ia memberi kita kehidupan. Hati Kudus adalah ikon Sengsara : Hati Kudus menunjukkan kepada kita kelembutan Allah yang mendalam, sengsara-Nya demi mengasihi kita, dan pada saat yang sama, ditinggikan oleh salib dan dikelilingi oleh duri, Hati Kudus menunjukkan kepada kita berapa banyak penderitaan yang harus dibayar demi keselamatan kita. Dalam kelembutan dan penderitaannya, Hati itu mengungkapkan, singkatnya, apa sengsara Allah. Apa sengsara Allah? Manusia, kita. Dan apa gaya Allah? Kedekatan, kasih sayang dan kelembutan. Inilah gaya Allah : kedekatan, kasih sayang dan kelembutan.

 

Apa yang disarankan hal ini? Bahwa, jika kita benar-benar ingin mengasihi Allah, kita harus bersengsara berkenaan kemanusiaan, berkenaan semua umat manusia, terutama mereka yang hidup dalam kondisi di mana Hati Yesus terwujud, yaitu penderitaan, ditinggalkan dan penolakan; terutama dalam budaya membuang yang kita jalani saat ini. Ketika kita melayani mereka yang menderita, kita menghibur dan bersukacita di dalam Hati Kristus. Satu bagian Injil sangat mengejutkan. Yohanes Penginjil, pada saat ia menceritakan lambung yang tertikam, yang daripadanya darah dan air mengalir, memberikan kesaksian agar kita dapat percaya (bdk. ayat 35). Santo Yohanes menulis, yaitu, pada saat itulah kesaksian terjadi. Karena Hati Allah yang tertikam fasih berbicara. Hati Allah yang tertikam berbicara tanpa kata-kata, karena Hati Allah yang tertikam adalah kerahiman dalam keadaan murni, kasih yang terluka dan memberi kehidupan. Allah, dengan kedekatan, kasih sayang dan kelembutan. Berapa banyak kata yang kita ucapkan tentang Allah tanpa menunjukkan kasih! Tetapi kasih berbicara untuk dirinya sendiri, tidak berbicara tentang dirinya sendiri. Marilah kita memohonkan rahmat untuk bersengsara tentang orang yang menderita, bersengsara tentang pelayanan, sehingga Gereja, sebelum mengucapkan kata-kata, dapat memelihara hati yang berdenyut dengan kasih. Sebelum berbicara, semoga Gereja belajar memelihara hatinya dalam kasih.

 

Kata yang ketiga adalah penghiburan. Kata yang pertama adalah ingatan, kata yang kedua adalah sengsara, kata yang ketiga adalah penghiburan. Kata yang ketiga menunjukkan kekuatan yang tidak berasal dari kita, tetapi dari mereka yang bersama kita : dari situlah kekuatan berasal. Yesus, Allah beserta kita, memberi kita kekuatan ini, Hati-Nya memberi kita keberanian dalam kesulitan. Begitu banyak ketidakpastian yang membuat kita takut : di masa pandemi ini kita mendapati diri kita semakin kecil, semakin rapuh. Terlepas dari begitu banyak kemajuan yang luar biasa, hal ini juga terbukti dalam bidang medis : begitu banyak penyakit langka dan tidak diketahui! Ketika saya mendapati umat dalam audiensi - terutama anak-anak - dan saya bertanya : "Apakah kamu sakit?" - [mereka menjawab] “Penyakit langka”. Dewasa ini mereka begitu banyak! Betapa sulitnya mengikuti patologi, dengan fasilitas perawatan, dengan perawatan kesehatan yang seharusnya, untuk semua orang. Kita bisa menjadi putus asa. Itulah mengapa kita membutuhkan penghiburan - kata yang ketiga. Hati Yesus berdenyut untuk kita, selalu mengulangi kata-kata itu : "Beranilah, beranilah, jangan takut, Aku di sini!". Keberanian, saudari, keberanian, saudara, jangan berkecil hati, Tuhan Allahmu lebih besar dari penyakitmu, Ia memegang tanganmu dan membelaimu, Ia dekat denganmu, Ia penyayang, Ia lemah lembut. Ia adalah penghiburanmu.

 

Jika kita melihat kenyataan dari keagungan Hati-Nya, sudut pandang berubah, pengetahuan kita tentang kehidupan berubah karena, sebagaimana diingatkan Santo Paulus, kita tahu "kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan" (Ef 3:19). Marilah kita mendorong diri kita dengan kepastian ini, dengan penghiburan Allah. Dan marilah kita memohon kepada Hati Kudus rahmat untuk dapat menghibur secara bergantian. Rahmat tersebut harus dimohonkan, karena kita dengan berani berkomitmen untuk membuka diri, saling membantu, saling memikul beban. Rahmat tersebut juga berlaku untuk masa depan perawatan kesehatan, terutama perawatan kesehatan “Katolik” : berbagi, saling mendukung, bergerak maju bersama-sama.

 

Semoga Yesus membuka hati mereka yang merawat orang sakit untuk bekerjasama dan bersatu padu. Kepada Hati-Mu, Tuhan, kami mempercayakan panggilan kami untuk merawat : marilah kita membuat setiap orang yang membutuhkan yang mendekati kita merasa bahwa mereka dihargai oleh kita. Amin.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 5 November 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM PENGENANGAN ARWAH 17 KARDINAL DAN 191 USKUP YANG MENINGGAL SELAMA SETAHUN TERAKHIR 4 November 2021 : SENI MENANTI TUHAN

Bacaan Ekaristi : Rat. 3:17-26; Rm. 14:7-9,10c-12; Mat 25:31-46.

 

Dalam Bacaan Pertama, kita mendengar ajakan ini : “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan” (Rat. 3:26). Sikap ini bukan titik awal, melainkan tujuan. Memang, penulis mencapainya di akhir sebuah perjalanan, sebuah perjalanan yang penuh kesukaran, yang memungkinkannya untuk bertumbuh. Ia sampai pada pemahaman tentang indahnya mempercayai Tuhan, yang tidak pernah urung untuk menepati janji-Nya. Tetapi kepercayaan kepada Allah tidak berasal dari kegairahan sesaat; kepercayaan kepada Allah bukan emosi, kepercayaan kepada Allah juga bukan kepekaan perasaan. Sebaliknya, kepercayaan kepada Allah berasal dari pengalaman dan menjadi dewasa dalam kesabaran, seperti dalam kasus Ayub, yang beralih dari pemahaman tentang Allah "dengan desas-desus" menjadi pemahaman pengalaman yang hidup. Dan agar hal ini terjadi, dibutuhkan perubahan rupa batin yang panjang yang, melalui wadah penderitaan, mengarah pada pemahaman bagaimana menanti dalam diam, yaitu, dengan kesabaran yang penuh keyakinan, dengan jiwa yang lemah lembut. Kesabaran ini bukan kepasrahan, karena dipupuk oleh pengharapan akan Tuhan, yang kedatangan-Nya pasti dan tidak mengecewakan.

 

Saudara dan saudari terkasih, alangkah pentingnya mempelajari seni menanti Tuhan! Menanti-Nya dengan patuh, percaya diri, menyingkirkan berbagai khayalan, fanatisme, dan hiruk-pikuk; menjaga, terutama di saat-saat pencobaan, keheningan yang penuh dengan harapan. Inilah cara kita mempersiapkan diri untuk pencobaan terakhir dan terbesar dalam kehidupan, yakni kematian. Tetapi pertama-tama ada pencobaan saat itu, ada salib yang kita miliki sekarang, dan untuk itu kita memohon kepada Tuhan rahmat untuk memahami bagaimana menanti di sana, di sana kelak,  keselamatan-Nya yang akan datang.

 

Kita masing-masing perlu menjadi dewasa dalam hal ini. Dalam menghadapi kesulitan dan masalah hidup, memiliki kesabaran dan tetap tenang adalah sulit. Kejengkelan terjadi dan sering kali timbul keputusasaan. Dengan demikian, bisa saja terjadi bahwa kita sangat tergoda oleh pesimisme dan kepasrahan, kita melihat segala sesuatu sebagai hitam, dan kita menjadi terbiasa dengan nada-nada pembangkangan dan ratapan, serupa dengan yang dikatakan penulis Kitab Ratapan di awal : “Sangkaku : hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada Tuhan” (ayat 18). Kesengsaraan, bahkan kenangan indah masa lalu, tidak dapat menghibur kita, karena penderitaan mengarahkan pikiran untuk memikirkan saat-saat sulit. Dan hal ini meningkatkan kepahitan; tampaknya hidup adalah rantai kemalangan yang berkelanjutan, seperti diakui penulis : "Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu” (ayat 19).

 

Namun, pada titik ini, Tuhan membuat titik balik, pada saat ketika, sambil terus berdialog dengan-Nya, seolah-olah kita berada di titik terendah. Dalam jurang yang dalam, dalam penderitaan tanpa makna, Allah mendekat untuk menyelamatkan kita. Dan ketika kepahitan mencapai puncaknya, harapan tiba-tiba tumbuh kembali. Mencapai usia tua dengan hati yang pahit, dengan hati yang kecewa, dengan hati yang kritis terhadap hal-hal baru, adalah hal yang buruk,hal yang sangat sulit. “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan”, kata orang yang berdoa dalam Kitab Ratapan, “oleh sebab itu aku akan berharap”. Melanjutkan harapan di saat kepahitan. Di tengah kesedihan, mereka yang berpegang teguh pada Tuhan melihat bahwa Ia membuka penderitaan, membukanya, mengubah rupanya menjadi pintu masuk harapan. Ini adalah pengalaman paskah, bagian menyakitkan yang membuka kehidupan, semacam pekerjaan rohani yang dalam kegelapan membuat kita kembali ke terang.

 

Perubahan haluan ini bukan karena masalah telah lenyap, bukan, tetapi karena krisis telah menjadi peluang misterius untuk pemurnian batin. Kemakmuran, pada kenyataannya, seringkali membuat kita buta, dangkal, angkuh. Kepada hal-hal inilah kemakmuran mengarahkan jalan kita. Di sisi lain, perjalanan melalui kesulitan, jika hidup dalam kehangatan iman, terlepas dari kekerasan dan air mata, memungkinkan kita untuk dilahirkan kembali, dan kita menemukan diri kita berbeda dari masa lalu. Seorang bapa Gereja menulis bahwa “tidak ada yang menuntun pada penemuan hal-hal baru melebihi penderitaan” (Santo Gregorius dari Nazianze, Ep. 34). Kesulitan memperbaharui kita, karena menghilangkan banyak kesia-siaan dan mengajarkan kita untuk melihat melampaui, melampaui kegelapan, menjamah dengan tangan kita bahwa Tuhan sungguh menyelamatkan dan memiliki kuasa untuk mengubah rupa segalanya, bahkan kematian. Ia membiarkan kita melewati kemacetan bukan untuk meninggalkan kita, tetapi menyertai kita. Ya, karena Allah menyertai kita, terutama dalam kesakitan, seperti seorang ayah yang membantu putranya bertumbuh dengan baik dengan berada di dekatnya dalam kesulitan tanpa menggantikannya. Dan sebelum air mata muncul di wajah kita, emosi itu sudah memerahkan mata Allah Bapa. Ia menangis terlebih dulu, perkenankan saya mengatakannya. Dukacita tetap menjadi misteri, tetapi dalam misteri ini, kita dapat menemukan dengan cara baru kebapaan Allah yang mengunjungi kita dalam kesulitan kita, dan datang untuk mengatakan, bersama penulis Kitab Ratapan : “Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia” (ayat 25).

 

Hari ini, di hadapan misteri kematian yang ditebus, kita memohonkan rahmat untuk melihat kesulitan dengan mata yang berbeda. Kita memohonkan kekuatan untuk memahami bagaimana hidup dalam diam yang lemah lembut dan penuh kepercayaan yang menanti keselamatan Tuhan, tanpa mengeluh, tanpa menggerutu, tanpa membiarkan diri kita bersedih. Apa yang tampak seperti hukuman akan berubah menjadi rahmat, sebuah demonstrasi baru kasih Allah kepada kita. Memahami bagaimana menanti dalam diam - tanpa berbincang, dalam keheningan - karena keselamatan Tuhan adalah sebuah seni, di jalan menuju kekudusan. Marilah kita membudidayakannya. Waktu hidup kita yang sangat berharga : sekarang melebihi sebelumnya tidak perlu berteriak, menimbulkan hiruk-pikuk, menjadi pahit; apa yang dibutuhkan kita masing-masing adalah memberi kesaksian dengan hidup kita terkait iman kita, yang merupakan harapan yang patuh dan penuh harapan. Iman adalah hal ini : harapan yang patuh dan penuh harapan. Umat Kristiani tidak mengurangi keseriusan penderitaan, tidak, tetapi mereka mengarahkan pandangan mereka kepada Tuhan dan di bawah pukulan kesengsaraan mereka percaya kepada-Nya dan berdoa : mereka mendoakan orang-orang yang menderita. Ia terus menatap Surga, tetapi tangannya selalu terulur ke bumi, untuk melayani sesamanya secara nyata. Bahkan di saat kesedihan, kegelapan : pelayanan.

 

Dalam semangat ini, kita mendoakan para Kardinal dan Uskup yang telah meninggalkan kita pada tahun lalu. Beberapa dari mereka meninggal akibat Covid-19, dalam situasi sulit yang memperparah penderitaan mereka. Semoga saudara-saudara kita ini sekarang menikmati sukacita ajakan Injil yang disampaikan Tuhan kepada hamba-hamba-Nya yang setia : “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat 25:34).

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 4 November 2021)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN DI PEMAKAMAN MILITER PRANCIS DI ROMA 2 November 2021

Bacaan Ekaristi : 2Mak. 12:43-46; Mzm. 130:1-2,3-4,5-6a,6-7,8; 1Kor. 15:20-24a.25-28; Yoh. 6:37-40.

 

Sebuah tulisan muncul dalam benak, di pintu sebuah kuburan kecil, di utara : "Kamu yang lewat, pikirkan langkahmu, dan memikirkan langkahmu pikirkan langkah terakhir". Kamu yang lewat.

 

Hidup adalah sebuah perjalanan, kita semua sedang dalam perjalanan. Kita semua, jika kita ingin melakukan sesuatu dalam kehidupan, sedang dalam perjalanan. Perjalanan bukan sebuah jalan-jalan, bahkan sebuah labirin, bukan sebuah jalan-jalan. Dalam perjalanan, kita melewati begitu banyak fakta sejarah, menghadapi begitu banyak situasi sulit. Dan juga di depan kuburan. Inilah nasihat kuburan : "Kamu yang lewat, hentikan langkah dan pikirkan, pikirkan langkahmu, langkah terakhir". Kita semua akan memiliki satu langkah terakhir. Seseorang dapat mengatakan kepada saya : "Bapa, jangan terlalu sedih, jangan tragis". Tetapi itulah kebenarannya. Hal penting adalah bahwa langkah terakhir itu mendapati kita di jalan, tidak berbelok di jalan; dalam perjalanan hidup dan bukan dalam labirin yang tak berujung. Berada di jalan sehingga langkah terakhir akan mendapati kita berjalan. Inilah pemikiran pertama yang ingin saya katakan dan itu berasal dari hati saya.

 

Pemikiran kedua adalah kuburan. Orang-orang ini - orang-orang yang baik - mati dalam perang, mereka mati karena mereka dipanggil untuk membela tanah air mereka, mempertahankan nilai-nilai, mempertahankan cita-cita dan, berkali-kali, membela situasi politik yang menyedihkan dan patut disayangkan. Dan para korban, para korban perang, yang memakan anak-anak tanah air. Dan saya memikirkan Anzio, Redipuglia; Saya memikirkan Piave dalam '14 - banyak yang bersemayam di sana -; saya memikirkan pantai Normandia : empat puluh ribu, dalam pendaratan itu! Tetapi itu tidak masalah, mereka jatuh ...

 

Saya berhenti di depan sebuah kuburan di sana: “Tidak diketahui. Mati untuk Prancis. 1944". Bahkan tanpa nama. Dalam hati Allah berada nama kita semua, tetapi ini adalah tragedi perang. Saya yakin semua orang yang pergi dengan itikad baik, dipanggil dari tanah air mereka untuk mempertahankannya, bersama Allah. Tetapi kita, yang sedang dalam perjalanan, apakah kita cukup berjuang sehingga tidak ada perang? Mengapa ekonomi negara-negara tidak dibentengi oleh industri senjata? Hari ini khotbah seharusnya melihat kuburan : "Mati untuk Prancis”; beberapa memiliki nama, beberapa lainnya tidak. Tetapi kuburan-kuburan ini adalah pesan perdamaian : "Berhentilah, saudara dan saudari, berhentilah! Berhentilah, pemasok senjata, berhentilah!".

 

Dua pemikiran ini saya tinggalkan untukmu. “Kamu yang lewat, pikirkan, langkahmu, langkah terakhir”: semoga dalam damai, dalam kedamaian hati, dalam kedamaian segalanya. Pemikiran kedua : Kuburan-kuburan ini yang berbicara, berteriak, berteriak pada diri mereka sendiri, mereka berteriak : "Damai!".

 

Semoga Tuhan membantu kita untuk menabur dan menyimpan dua pemikiran ini di dalam hati kita.

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 2 November 2021)