Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA UNTUK REKONSILIASI DI TEMPAT KUDUS NASIONAL SANTA ANNA DE BEAUPRÉ, QUÉBEC, KANADA 28 Juli 2022

Perjalanan para murid ke Emaus, sebagai penutup Injil Lukas, adalah ikon perjalanan pribadi kita dan Gereja. Di jalan kehidupan dan iman, saat kita berusaha mencapai impian, rencana, harapan dan pengharapan jauh di lubuk hati kita, kita juga menghadapi kerapuhan dan kelemahan kita; kita mengalami kemunduran dan kekecewaan, serta seringkali kita dapat tinggal terpenjara oleh rasa kegagalan yang melumpuhkan. Namun Bacaan Injil memberitahu kita bahwa pada saat-saat itu kita tidak sendirian, karena Tuhan datang menemui kita dan berdiri di samping kita. Ia menemani kita dalam perjalanan dengan keleluasaan rekan seperjalanan yang berbudi bahasa yang ingin membuka mata kita dan membuat hati kita sekali lagi membara di dalam diri kita. Setiap kali kegagalan kita mengarah kepada perjumpaan dengan Tuhan, kehidupan dan harapan terlahir kembali dan kita dapat didamaikan : dengan diri kita sendiri, dengan saudara-saudari kita, dan dengan Allah.

 

Jadi marilah kita ikuti pedoman perjalanan ini. Kita bisa menyebutnya perjalanan dari kegagalan menuju harapan.

 

Pertama, ada rasa kegagalan yang menghantui hati kedua murid setelah kematian Yesus. Mereka dengan antusias mengejar mimpi serta menggantungkan semua harapan dan keinginan mereka pada Yesus. Sekarang, setelah kematian-Nya yang keji di kayu salib, mereka meninggalkan Yerusalem dan kembali ke kehidupan mereka semula. Mereka sedang dalam perjalanan pulang, mungkin sebagai cara untuk meninggalkan pengalaman yang telah begitu mencemaskan mereka dan ingatan tentang Mesias yang dieksekusi di kayu salib, seperti para penjahat pada umumnya. Mereka dalam perjalanan pulang dengan sedih, "muka muram" (Luk 24:17). Pengharapan mereka yang tersimpan dalam hati menjadi sia-sia; harapan yang mereka yakini telah sirna, mimpi yang mereka impikan telah berubah menjadi kekecewaan dan kesedihan.

 

Pengalaman itu juga menandai kehidupan kita, dan perjalanan rohani kita, pada saat ketika kita dipaksa untuk menyesuaikan ulang pengharapan dan mengatasi kegagalan serta kemenduaan dan kesimpangsiuran hidup kita. Ketika tingginya cita-cita kita muncul menentang kekecewaan hidup dan kita meninggalkan tujuan kita karena kelemahan dan kekurangan kita. Ketika kita memulai rencana-rencana besar, tetapi kemudian menemukan bahwa kita tidak dapat melaksanakannya (bdk. Rm 7:18). Ketika, cepat atau lambat, kita semua, dalam kehidupan dan hubungan kita sehari-hari, mengalami kemunduran, kesalahan, kegagalan atau keterpurukan, dan melihat apa yang telah kita yakini, atau komitmenkan, menjadi sia-sia. Ketika kita merasa hancur lebur oleh dosa-dosa dan rasa sesal kita.

 

Inilah yang terjadi dengan Adam dan Hawa, seperti kita dengar dalam Bacaan Pertama : dosa mereka menjauhkan mereka dari Allah, tetapi juga satu sama lain. Sekarang mereka hanya bisa saling menuduh. Dan kita melihatnya dalam diri kedua murid Emaus, yang karena sedih melihat rencana Yesus sia-sia belaka sehingga percakapan mereka bernada putus asa. Kita juga dapat melihatnya dalam kehidupan Gereja, komunitas para murid Tuhan, yang diwakili oleh kedua murid Emaus tersebut. Meskipun kita adalah komunitas Tuhan yang bangkit, kita dapat menemukan diri kita bingung dan kecewa berhadapan dengan kekejian kejahatan dan kekerasan yang mengarah ke Kalvari. Pada saat-saat itu, kita tidak dapat melakukan lebih dari sekadar berpegang teguh pada rasa kegagalan kita dan bertanya : Apa yang terjadi? Mengapa ini terjadi? Bagaimana itu bisa terjadi?

 

Saudara-saudari, inilah pertanyaan-pertanyaan kita, dan merupakan pertanyaan-pertanyaan membara yang sedang diajukan oleh Gereja peziarah di Kanada ini, dengan kesedihan yang mendalam, dalam perjalanan penyembuhan dan rekonsiliasinya yang sulit dan menuntut. Dalam menghadapi kejinya kejahatan dan tubuh Kristus yang terluka dalam daging saudara-saudari pribumi kita, kita juga telah mengalami kekecewaan yang mendalam; kita juga merasakan beban kegagalan. Kemudian, perkenankan saya untuk bergabung dalam semangat banyak peziarah yang di tempat ini menaiki "tangga suci" yang membangkitkan pendakian Yesus menuju mahkamah Pilatus. Perkenankan saya untuk menemanimu sebagai Gereja dalam merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari hati yang penuh dengan rasa sakit ini : Mengapa semua ini terjadi? Bagaimana ini bisa terjadi dalam komunitas orang-orang yang mengikut Yesus?

 

Namun, pada saat-saat seperti itu, kita harus memperhatikan godaan untuk melarikan diri, sebagaimana kita lihat dalam diri kedua murid dalam Bacaan Injil : godaan untuk melarikan diri, melangkah mundur, meninggalkan tempat di mana semua itu terjadi, mencoba menghalanginya habis-habisan dan mencari “tempat perlindungan” seperti Emaus, di mana kita tidak perlu memikirkannya lagi. Ketika dihadapkan dengan kegagalan hidup, tidak ada yang lebih buruk daripada melarikan diri untuk menghindarinya. Ini adalah godaan yang datang dari musuh, yang mengancam perjalanan rohani kita dan perjalanan Gereja, karena ia ingin kita berpikir bahwa semua kegagalan kita sekarang tidak dapat diubah. Ia ingin melumpuhkan kita dengan kesedihan dan penyesalan, meyakinkan kita bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan, bahwa tidak ada harapan untuk mencoba menemukan cara guna memulai kembali.

 

Tetapi, Bacaan Injil menunjukkan kepada kita bahwa justru dalam situasi kekecewaan dan kesedihan seperti itu – ketika kita dikejutkan oleh kekerasan kejahatan dan rasa malu atas dosa-dosa kita, ketika air kehidupan kita dikeringkan oleh dosa dan kegagalan, ketika kita kehilangan segalanya dan tampaknya tidak memiliki apa-apa lagi – Tuhan datang menemui kita dan berjalan di samping kita. Dalam perjalanan ke Emaus, Yesus dengan lembut mendekat dan mengiringi langkah putus asa dari kedua murid yang bersedih itu. Dan apa yang Ia lakukan? Ia tidak menawarkan kata-kata umum yang menyemangati, kata-kata penghiburan yang sederhana dan mudah, tetapi sebaliknya, dengan mengungkapkan misteri wafat dan kebangkitan-Nya yang dinubuatkan dalam Kitab Suci, Ia memberi cahaya baru pada kehidupan mereka dan peristiwa-peristiwa yang mereka alami. Dengan cara ini, Ia membuka mata mereka untuk melihat segala sesuatu dengan cara baru. Kita yang ambil bagian dalam Ekaristi di Basilika ini juga dapat melihat kembali banyak peristiwa sejarah kita. Di tempat ini, tiga gereja sebelumnya berdiri; selalu ada orang yang menolak untuk melarikan diri dalam menghadapi kesulitan, yang terus bermimpi, terlepas dari kesalahan mereka dan kesalahan orang lain. Mereka tidak membiarkan diri mereka diliputi oleh api dahsyat seabad yang lalu, serta, dengan keberanian dan kreativitas, membangun gereja ini. Dan mereka yang ambil bagian dalam Ekaristi kita di Dataran Abraham terdekat juga dapat memikirkan ketabahan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang menolak untuk membiarkan diri mereka disandera oleh kebencian, perang, kehancuran dan rasa sakit, tetapi mulai membangun kembali sebuah kota dan negara.

 

Akhirnya, di hadapan kedua murid Emaus, Yesus memecahkan roti, membuka mata mereka dan sekali lagi menyatakan diri-Nya sebagai Allah kasih yang memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya. Dengan cara ini, Ia membantu mereka untuk melanjutkan perjalanan mereka dengan penuh sukacita, memulai dari awal, berlalu dari kegagalan menuju harapan. Saudara-saudari, Tuhan juga ingin melakukan hal yang sama dengan kita masing-masing dan dengan Gereja-Nya. Bagaimana mata kita bisa terbuka? Bagaimana hati kita sekali lagi bisa membara di dalam diri kita demi Injil? Apa yang harus kita lakukan, saat kita menanggung cobaan rohani dan jasmani, saat kita mencari jalan menuju masyarakat yang semakin adil dan bersaudara, saat kita berusaha untuk pulih dari kekecewaan dan keletihan kita, saat kita berharap untuk disembuhkan dari luka masa lalu dan menjadi berdamai dengan Allah dan dengan sesama?

 

Hanya ada satu jalan, satu-satunya jalan : jalan Yesus, jalan yang adalah Yesus sendiri (bdk. Yoh 14:6). Marilah kita percaya bahwa Yesus mendekat kepada kita dalam perjalanan kita. Marilah kita pergi keluar untuk menemui-Nya. Marilah kita memperkenankan sabda-Nya menafsirkan sejarah yang kita buat sebagai individu dan sebagai komunitas, serta menunjukkan kepada kita jalan menuju penyembuhan dan rekonsiliasi. Dalam iman, marilah kita bersama-sama memecahkan Roti Ekaristi, sehingga di sekeliling meja kita sekali lagi dapat melihat diri kita sebagai anak-anak Bapa yang terkasih, yang dipanggil untuk menjadi saudara dan saudari semua orang.

 

Memecahkan roti, Yesus meneguhkan pesan yang dibawa oleh para perempuan, sebuah kesaksian yang telah didengar oleh para murid, tetapi tidak dapat dipercayai : bahwa Ia telah bangkit! Di Basilika ini, di mana kita memperingati ibu Perawan Maria, dengan ruang bawah tanah yang didedikasikan untuk Yang Dikandung Tanpa Noda, bagaimana mungkin kita tidak memikirkan peran yang ingin diberikan Allah kepada kaum perempuan dalam rencana keselamatan-Nya. Santa Anna, Santa Perawan Maria, dan para perempuan di pagi Paskah menunjukkan kepada kita jalan baru menuju rekonsiliasi. Kasih keibuan yang lembut dari begitu banyak perempuan dapat menemani kita – sebagai Gereja – menuju masa-masa baru dan berbuah, meninggalkan begitu banyak kemandulan dan kematian, serta menempatkan Yesus yang disalibkan dan kemudian bangkit sebagai pusatnya.

 

Sungguh, kita tidak boleh menempatkan diri kita di pusat pertanyaan kita, pergumulan batin kita atau kehidupan pastoral Gereja. Sebaliknya, kita harus menempatkan Dia, Tuhan Yesus. Marilah kita menjadikan sabda-Nya sebagai pusat segala sesuatu yang kita lakukan, karena sabda-Nya menjelaskan semua yang terjadi dan memulihkan visi kita. Sabda-Nya memungkinkan kita untuk melihat kehadiran kasih Allah yang bekerja dan potensi kebaikan bahkan dalam situasi yang tampaknya tanpa harapan. Marilah kita menempatkan Roti Ekaristi di tengah, yang hari ini sekali lagi dipecahkan-Nya untuk kita, sehingga Ia dapat berbagi hidup-Nya dengan kita, merangkul kelemahan kita, menopang langkah-langkah kita yang lelah dan menyembuhkan hati kita. Berdamai dengan Allah, dengan sesama dan dengan diri kita, semoga kita sendiri menjadi alat rekonsiliasi dan perdamaian dalam masyarakat kita.

 

Tuhan Yesus, jalan kami, kekuatan dan penghiburan kami, seperti para murid Emaus, kami memohon kepada-Mu: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam" (Luk 24:29). Tinggallah bersama-sama dengan kami, Tuhan Yesus, ketika harapan memudar dan malam kekecewaan tiba. Tinggallah bersama-sama dengan kami, karena bersama-Mu perjalanan kami terus berlanjut dan dari jalan buntu ketidakpercayaan, keajaiban sukacita terlahir kembali. Tinggallah bersama-sama dengan kami, Tuhan, karena bersama-Mu malam kesakitan berubah menjadi fajar kehidupan yang bersinar. Marilah kita katakan, dengan segenap kesederhanaan : Tinggallah bersama-sama dengan kami, Tuhan! Karena jika Engkau berjalan di samping kami, kegagalan memberi jalan kepada harapan kehidupan baru. Amin.

___

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Juli 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PESTA SANTO YOAKIM DAN SANTA ANNA DI STADION COMMONWEALTH, EDMONTON, KANADA 26 JulI 2022 : KITA ADALAH ANAK SEJARAH DAN PENULIS SEJARAH

Bacaan Ekaristi : Sir. 44:1,10-15; Mzm. 132:11,13-14,17-18; Mat. 13:16-17.

 

Hari ini kita merayakan pesta kakek-nenek Yesus. Tuhan telah mengumpulkan kita semua bersama-sama tepat pada kesempatan ini, sangat sayang kepada kamu dan saya. Di rumah Yoakim dan Anna inilah kanak Yesus mengenal kerabatnya yang lebih tua dan mengalami kedekatan, kasih yang lembut, dan kebijaksanaan kakek-neneknya. Marilah kita berpikir tentang kakek-nenek kita sendiri, dan merenungkan dua hal penting.

 

Pertama: kita adalah anak-anak sejarah yang perlu dilestarikan. Kita bukan individu, pulau yang terasing. Tidak ada yang datang ke dunia ini terlepas dari orang lain. Asal-usul kita, kasih yang menanti dan menyambut kita ke dunia, keluarga tempat kita dibesarkan, adalah bagian dari sejarah unik yang mendahului kita dan memberi kita kehidupan. Kita tidak memilih sejarah itu; kita menerimanya sebagai karunia, di mana kita dipanggil untuk menghargainya, karena, seperti diingatkan oleh Kitab Sirakh, kita adalah “keturunan” dari mereka yang telah mendahului kita; kita adalah “warisan” mereka (Sir 44:11). Sebuah warisan yang, terlepas dari klaim atas gengsi atau otoritas, kecerdasan atau kreativitas dalam lagu atau puisi, berpusat pada kebenaran, pada kesetiaan kepada Allah dan kehendak-Nya. Inilah yang mereka wariskan kepada kita. Untuk menerima siapa diri kita sebenarnya, dan betapa berharganya kita, kita perlu menerima sebagai bagian dari diri kita pria dan wanita yang daripadanya kita berasal. Mereka tidak hanya memikirkan diri mereka sendiri, tetapi memberikan kepada kita harta kehidupan. Kita berada di sini berkat orangtua kita tetapi juga berterima kasih kepada kakek-nenek kita, yang membantu kita merasa diterima di dunia. Seringkali mereka adalah orang-orang yang mengasihi kita tanpa syarat, tanpa mengharapkan balasan apa pun. Mereka memegang tangan kita ketika kita takut, meyakinkan kita di kegelapan malam, menyemangati kita ketika kita menghadapi keputusan hidup yang penting di siang hari yang cerah. Terima kasih kepada kakek-nenek kita, kita menerima belaian dari sejarah yang mendahului kita : kita belajar bahwa kebaikan, kasih yang lembut, dan kebijaksanaan adalah akar kemanusiaan yang kokoh. Di rumah kakek-nenek kitalah banyak dari kita menghirup aroma Injil, kekuatan iman yang membuat kita merasa seperti di rumah sendiri. Berkat mereka, kita menemukan iman yang “akrab” seperti itu, iman rumah tangga. Karena begitulah iman secara mendasar diturunkan, di rumah, melalui bahasa ibu, dengan kasih sayang serta dorongan, perhatian dan kedekatan.

 

Ini adalah sejarah kita, di mana kita adalah pewaris dan kita dipanggil untuk melestarikannya. Kita adalah anak-anak karena kita adalah cucu. Kakek-nenek kita meninggalkan jejak unik kepada kita dengan cara hidup mereka; mereka memberi kita martabat dan kepercayaan diri pada diri kita dan orang lain. Mereka menganugerahkan kepada kita sesuatu yang tidak akan pernah bisa diambil dari kita dan itu, pada saat yang sama, memungkinkan kita untuk menjadi unik, tulen, dan bebas. Dari kakek-nenek kita, kita belajar bahwa cinta tidak pernah dipaksakan; cinta tidak pernah merampas kebebasan batin orang lain. Begitulah cara Yoakim dan Anna mencintai Maria dan Yesus; dan begitulah Maria mencintai Yesus, dengan cinta yang tidak pernah mencekik-Nya atau menahan-Nya, tetapi menemani-Nya dalam merangkul perutusan yang untuk itu Ia datang ke dunia. Marilah kita mencoba mempelajari hal ini, sebagai individu dan sebagai Gereja. Semoga kita belajar untuk tidak pernah menekan hati nurani orang lain, tidak pernah membatasi kebebasan orang-orang di sekitar kita, dan yang terpenting, tidak pernah gagal dalam mencintai dan menghormati mereka yang mendahului kita dan dipercayakan kepada kita. Karena mereka adalah harta berharga yang melestarikan sejarah yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Kitab Sirakh juga memberitahu kita bahwa melestarikan sejarah yang memberi kita kehidupan tidak berarti mengaburkan “kemuliaan” nenek moyang kita. Kita tidak boleh kehilangan ingatan mereka, atau melupakan sejarah yang melahirkan kehidupan kita. Kita harus selalu mengingat mereka yang tangannya membelai kita dan yang memeluk kita; karena dalam sejarah ini kita dapat menemukan penghiburan di saat-saat putus asa, cahaya untuk membimbing kita, dan keberanian untuk menghadapi tantangan hidup. Namun melestarikan sejarah yang memberi kita kehidupan juga berarti terus-menerus kembali ke sekolah tempat kita pertama kali belajar bagaimana mencintai. Itu berarti bertanya pada diri kita sendiri, ketika dihadapkan dengan pilihan sehari-hari, apa yang paling bijaksana dari para penatua yang kita tahu akan diperbuat di tempat kita, nasihat apa yang akan diberikan kakek nenek dan kakek buyut kita kepada kita.

 

Jadi, saudara-saudara terkasih, marilah kita bertanya pada diri kita : apakah anak cucu kita mampu menjaga harta yang kita warisi ini? Apakah kita mengingat ajaran baik yang telah kita terima? Apakah kita berbicara dengan orang yang lebih tua, dan meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka? Dan, di rumah kita yang semakin lengkap, modern dan fungsional, apakah kita tahu bagaimana menyisihkan ruang yang layak untuk melestarikan ingatan mereka, tempat khusus, ingatan keluarga kecil yang, melalui gambar dan benda berharga, memungkinkan kita untuk mengingat dalam doa orang-orang yang mendahului kita? Sudahkah kita menyimpan Alkitab mereka, manik-manik rosario mereka? Dalam kabut kelupaan yang membayangi masa-masa kita yang bergejolak, saudara-saudara, penting untuk menjaga akar kita, berdoa untuk dan bersama para nenek moyang kita, mendedikasikan waktu untuk mengingat dan menjaga warisan mereka. Beginilah cara pohon keluarga tumbuh; ini adalah bagaimana masa depan dibangun.

Mari kita sekarang memikirkan hal penting kedua. Selain menjadi anak-anak sejarah yang perlu dilestarikan, kita adalah penulis sejarah yang belum ditulis. Kita masing-masing dapat mengenali diri kita untuk siapa dan apa diri kita yang sesungguhnya, ditandai oleh cahaya dan bayangan, dan oleh cinta yang kita terima atau tidak. Inilah misteri kehidupan manusia : kita semua adalah anak-anak seseorang, dilahirkan dan dibentuk oleh orang lain, tetapi ketika kita menjadi dewasa, kita juga dipanggil untuk memberikan kehidupan, untuk menjadi ayah, ibu atau kakek-nenek bagi orang lain. Memikirkan orang-orang kita adalah hari ini, apa yang ingin kita lakukan dengan diri kita? Kakek-nenek yang telah mendahului, orangtua yang memiliki impian dan harapan untuk kita, dan membuat pengorbanan besar untuk kita, mengajukan pertanyaan penting kepada kita : masyarakat seperti apa yang ingin kita bangun? Kita menerima begitu banyak dari tangan mereka yang mendahului kita. Pada gilirannya, apa yang ingin kita wariskan kepada mereka yang datang setelah kita? “Air mawar”, itu adalah iman yang menipis, atau iman yang hidup? Sebuah masyarakat yang didirikan atas keuntungan pribadi atau persaudaraan? Dunia yang sedang berperang atau dunia yang damai? Ciptaan yang hancur atau rumah yang tetap ramah?

Janganlah kita lupa bahwa getah pemberi kehidupan mengalir dari akar menuju cabang, menuju daun, menuju bunga, dan kemudian menuju buah pohon. Tradisi otentik diungkapkan dalam dimensi vertikal ini : dari bawah ke atas. Kita perlu berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam karikatur tradisi, yang tidak vertikal – dari akar menuju buah – tetapi horizontal – ke depan dan ke belakang. Tradisi yang dipahami dengan cara ini hanya membawa kita kepada semacam “budaya terbelakang”, tempat berlindungnya pemusatan diri, yang hanya mengepung masa kini, menjebaknya dalam mentalitas yang mengatakan, “Kita selalu melakukannya dengan cara ini”.

 

Dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengar, Yesus memberitahu para murid bahwa mereka berbahagia karena mereka dapat melihat dan mendengar apa yang hanya bisa diharapkan oleh begitu banyak nabi dan orang benar (bdk. Mat 13:16-17). Banyak orang telah percaya pada janji Allah tentang akan datangnya Mesias, telah mempersiapkan jalan bagi-Nya dan telah mengumumkan kedatangan-Nya. Tetapi sekarang setelah Mesias tiba, mereka yang dapat melihat dan mendengar-Nya dipanggil untuk menyambut-Nya dan menyatakan kehadiran-Nya di tengah-tengah kita.

 

Saudara-saudari, ini juga berlaku untuk kita. Mereka yang mendahului kita telah memberikan kepada kita gairah, kekuatan dan kerinduan, nyala api yang terserah kita untuk menyalakannya kembali. Ini bukan masalah melestarikan abu, tetapi menyalakan kembali api yang mereka nyalakan. Kakek-nenek dan orangtua kita ingin melihat dunia yang semakin adil, bersaudara, dan bersetia kawan, dan mereka berjuang untuk memberi kita masa depan. Sekarang, terserah kita untuk tidak mengecewakan mereka. Terserah kita untuk menerima tradisi yang diterima, karena tradisi itu adalah iman yang hidup dari orang kita yang telah meninggal. Jangan sampai kita mengubah rupanya menjadi “tradisionalisme”, yang merupakan iman yang mati dari orang yang hidup, seperti yang pernah dikatakan seorang penulis. Ditopang oleh mereka yang menjadi asal usul ita, kini giliran kita berbuah. Kita adalah cabang yang harus mekar dan menyebarkan benih sejarah baru. Marilah kita bertanya pada diri kita, kemudian, beberapa pertanyaan nyata. Sebagai bagian dari sejarah keselamatan, dalam terang mereka yang telah mendahuluiku dan mencintaiku, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku memiliki peran yang unik dan tak tergantikan dalam sejarah, tetapi tanda apa yang akan kutinggalkan? Apa yang kusampaikan kepada mereka yang akan datang setelahku? Apa yang kuberikan dari diriku? Seringkali kita mengukur hidup kita berdasarkan pendapatan kita, jenis karir kita, tingkat kesuksesan kita dan bagaimana orang lain memandang kita. Namun ini bukan kriteria yang memberi kehidupan. Pertanyaan sebenarnya adalah : apakah aku memberi kehidupan? Apakah aku mengantarkan ke dalam sejarah cinta yang baru dan diperbarui yang tidak ada sebelumnya? Apakah aku mewartakan Injil di lingkunganku? Apakah aku dengan bebas melayani orang lain, seperti yang dilakukan orang-orang yang telah mendahuluiku untukku? Apa yang kulakukan untuk Gereja kita, kota kita, masyarakat kita? Saudara-saudari, mudah untuk mengkritik, tetapi Tuhan tidak ingin kita hanya menjadi pengkritik sistem, atau tertutup dan "melihat ke belakang", seperti yang dikatakan penulis Surat kepada Ibrani (bdk. 10:39). Sebaliknya, ia ingin kita menjadi pengrajin sejarah baru, penenun harapan, pembangun masa depan, pembawa damai.

 

Semoga Yoakim dan Annae menjadi perantara kita. Semoga mereka membantu kita untuk menghargai sejarah yang memberi kita kehidupan, dan, bagian kita adalaj membangun sejarah yang memberi kehidupan. Semoga mereka mengingatkan kita akan tugas rohani kita untuk menghormati kakek-nenek dan orangtua kita, menghargai kehadiran mereka di antara kita untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Masa depan di mana orangtua tidak dikesampingkan karena, dari sudut pandang "praktis", mereka "tidak lagi berguna". Masa depan yang tidak menilai orang hanya dengan apa yang dapat mereka hasilkan. Masa depan yang tidak acuh dengan kebutuhan para lansia untuk diperhatikan dan didengarkan. Masa depan di mana sejarah kekerasan dan marginalisasi yang dialami oleh saudara-saudara pribumi kita tidak pernah terulang. Masa depan itu mungkin jika, dengan pertolongan Allah, kita tidak memutuskan ikatan yang menyatukan kita dengan mereka yang telah mendahului kita, dan jika kita mendorong dialog dengan mereka yang akan datang setelah kita. Tua-muda, kakek-nenek dan cucu, semuanya bersama-sama. Marilah kita maju bersama-sama, dan bersama-sama, marilah kita bermimpi. Juga, janganlah kita melupakan nasihat Paulus kepada muridnya Timotius: Ingatlah ibumu dan nenekmu (bdk. 2 Tim 1:5).

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Juli 2022)

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XIV (MISA UNTUK UMAT KONGO DI ROMA) 3 Juli 2022 : TIGA KEJUTAN MISIONER

Bacaan Ekaristi : Yes. 66:10-14c; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a,16,20; Gal. 6:14-18; Luk. 10:1-12,17-20.

 

NB : berhubung Paus Fransiskus masih mengalami cedera kaki yang tidak memungkinkannya untuk berdiri lama, Misa dipersembahkan oleh Uskup Agung Mgr. Richard Gallagher.

 

Bobóto [Kedamaian] R / Bondeko [Persaudaraan]

Bondéko [Persaudaraan] R / Esengo [Sukacita]

 

Saya senang, sukacita : sabda Allah yang telah kita dengar memenuhi kita dengan sukacita. Mengapa, saudara-saudari? Karena, seperti dikatakan Yesus dalam Bacaan Injil, "Kerajaan Allah sudah dekat" (Luk 10:11). Kerajaan Allah dekat : tetapi belum tercapai, sebagian tersembunyi, tetapi dekat dengan kita. Dan kedekatan Allah di dalam Yesus ini, kedekatan Allah yang adalah Yesus ini, adalah sumber sukacita kita : kita dikasihi dan kita tidak pernah ditinggalkan sendirian. Tetapi sukacita yang berasal dari kedekatan Allah, seraya memberikan kedamaian, tidak membiarkanmu dalam kedamaian. Sukacita tersebut memberi kedamaian dan tidak meninggalkan kita sendirian, sukacita tertentu. Sukacita tersebut menyebabkan titik balik dalam diri kita : dipenuhi dengan keheranan, kejutan, mengubah kehidupan.

 

Dan perjumpaan dengan Tuhan adalah awal yang berkelanjutan, langkah maju yang berkelanjutan. Tuhan selalu mengubah hidup kita. Inilah apa yang terjadi pada para murid dalam Bacaan Injil : untuk mewartakan kedekatan Allah mereka pergi jauh, mereka pergi bermisi. Karena barang siapa yang menyambut Yesus merasa harus meneladani-Nya, berbuat apa yang Ia perbuat, karena Ia meninggalkan surga untuk melayani kita di bumi, dan Ia keluar dari diri-Nya sendiri. Oleh karena itu, jika kita bertanya pada diri kita apa tugas kita di dunia, apa yang harus kita perbuat sebagai Gereja dalam sejarah, Bacaan Injil menjawab dengan jelas : misi. Pergi bermisi, mewartakan, mengumandangkan bahwa Yesus berasal dari Bapa.

 

Sebagai orang Kristiani kita tidak bisa berpuas dengan hidup dalam keadaan biasa-biasa saja. Dan ini adalah sebuah penyakit; begitu banyak orang Kristiani, kita juga memiliki bahaya hidup dalam keadaan biasa-biasa saja, berurusan dengan kemungkinan dan kenyamanan kita, hidup untuk hari ini. Tidak, kita adalah para misionaris Yesus. Kita semua adalah para misionaris Yesus. Tetapi kamu dapat mengatakan : "Aku tidak tahu bagaimana melakukannya, aku tidak mampu!". Bacaan Injil masih membuat kita heran, menunjukkan kepada kita Tuhan yang mengutus murid-murid tanpa menunggu mereka siap dan terlatih dengan baik : mereka sudah lama tidak bersama-Nya, namun Ia mengutus mereka. Mereka belum belajar teologi, namun Ia mengutus mereka. Dan cara Ia mengutus mereka juga penuh kejutan. Oleh karena itu kita menangkap tiga kejutan, tiga hal yang membuat kita heran, tiga kejutan misioner yang disediakan Yesus untuk murid-murid-Nya dan disediakan untuk kita masing-masing jika kita mendengarkan-Nya.

 

Kejutan pertama : perlengkapan. Untuk bermisi di tempat yang tidak diketahui, kamu perlu membawa beberapa benda, tentu saja benda yang penting. Sebaliknya, Yesus tidak mengatakan apa yang harus dibawa, tetapi apa yang tidak boleh dibawa : "Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut" (ayat 4). Hampir tidak ada : tidak ada bagasi, tidak ada keamanan, tidak ada bantuan. Kita sering berpikir bahwa prakarsa gerejawi kita tidak berjalan dengan baik karena ketiadaan tatanan, uang dan sarana : ini tidak benar. Penyangkalan datang dari Yesus sendiri. Saudara, saudari, kita tidak percaya pada kekayaan dan kita tidak takut pada kemiskinan, baik material maupun manusiawi. Semakin kita bebas dan sederhana, kecil dan rendah hati, semakin Roh Kudus membimbing misi dan menjadikan kita pelaku utama dari keheranannya. Tinggalkan ruang untuk Roh Kudus!

 

Bagi Kristus, perlengkapan dasar kita bukan itu : saudara. Hal ini membuat penasaran. "Ia mengutus mereka berdua-dua" (ayat 1), kata Bacaan Injil. Tidak sendirian, tidak sendirian, selalu bersama saudara di sampingnya. Tidak pernah tanpa saudara, karena tidak ada misi tanpa persekutuan. Tidak ada dikatakan bahwa misi berhasil tanpa memperhatikan orang lain. Jadi kita dapat bertanya pada diri kita sendiri : sebagai seorang Kristiani, apakah aku lebih memikirkan ketiadaanku untuk hidup dengan baik, atau apakah aku memikirkan untuk dekat dengan saudara-saudaraku, peduli terhadap mereka?

 

Kita sampai pada kejutan kedua perutusan : pesan. Masuk akal memikirkan bahwa, untuk mempersiapkan pewartaan, para murid harus belajar apa yang harus dikatakan, mempelajari isinya secara menyeluruh, menyiapkan khotbah yang meyakinkan dan diucapkan dengan baik. Ini benar. Saya juga melakukannya. Sebaliknya Yesus memberi mereka hanya dua frasa kecil. Yang pertama tampaknya bahkan berlebihan, karena merupakan salam : "Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: 'Damai sejahtera bagi rumah ini!'" (ayat 5). Artinya, Tuhan berketetapan untuk menampilkan diri, di mana saja, sebagai duta kedamaian. Seorang Kristiani selalu membawa kedamaian. Seorang Kristiani bekerja untuk membawa kedamaian ke tempat itu. Inilah tanda yang membedakan : orang Kristiani adalah pembawa kedamaian, karena Kristus adalah kedamaian. Dari sini kita mengenali jika kita berasal dari Dia. Sebaliknya, jika kita menyebarkan gosip dan kecurigaan, kita menciptakan perpecahan, kita menghalangi persekutuan, kita menempatkan milik kita di atas segalanya, kita tidak bertindak dalam nama Yesus. Kedamaian. Hari ini, saudara-saudari terkasih, marilah kita berdoa untuk kedamaian dan rekonsiliasi di tanah airmu, di Republik Demokratik Kongo yang terluka dan tereksploitasi. Kita bergabung dengan Misa yang dirayakan di negara itu sesuai dengan ujud ini dan berdoa agar orang Kristiani menjadi saksi kedamaian, yang mampu mengatasi perasaan balas dendam, mengatasi godaan bahwa rekonsiliasi tidak mungkin, keterikatan yang tidak sehat dengan kelompok mereka sendiri yang mengarah pada meremehkan orang lain.

 

Saudara, saudari, kedamaian dimulai dari diri kita; kedamaian dimulai dengan dirimu dan saya, kita masing-masing, hati kita masing-masing. Jika kamu menjalani kedamaian-Nya, Yesus datang dan keluargamu, masyarakatmu berubah. Mereka berubah jika hatimu tidak berperang sejak awal, tidak dipersenjatai dengan kebencian dan kemarahan, tidak terbagi-bagi, tidak ganda, tidak keliru. Menempatkan kedamaian dan ketertiban dalam hati, meredakan keserakahan, memadamkan kebencian dan dendam, menghindari korupsi, menghindari kecurangan dan kelicikan: di sinilah kedamaian dimulai. Kita ingin selalu bertemu dengan orang-orang yang lemah lembut, baik, penuh kedamaian, dimulai dari kerabat dan sesama kita. Tetapi Yesus berkata : “Kamu membawa kedamaian ke rumahmu, kamu mulai menghormati istrimu dan mencintainya dengan hatinya, menghormati dan merawat anak-anak, orang tua dan sesama. Saudara-saudari, tolong hidup dalam kedamaian, nyalakan kedamaian dan kedamaian akan bersemayam di rumahmu, dalam Gerejamu, di negaramu”.

 

Setelah salam damai, semua pesan yang dipercayakan kepada para murid dirangkum menjadi beberapa kata yang di dalamnya kita memulai dan yang diulangi Yesus sebanyak dua kali : "Kerajaan Allah sudah dekat denganmu! […] Kerajaan Allah sudah dekat” (ayat 9.11). Mewartakan kedekatan Allah, yang merupakan gaya-Nya; Gaya Allah jelas: kedekatan, kasih sayang dan kelembutan. Ini adalah gaya Allah. Mewartakan kedekatan Allah adalah hal yang hakiki. Harapan dan pertobatan berasal dari sini : dari percaya bahwa Allah dekat dan menjaga kita : Ia adalah Bapa kita semua, yang menginginkan kita semua bersaudara. Jika kita hidup di bawah tatapan ini, dunia tidak akan lagi menjadi medan perang, tetapi taman kedamaian; sejarah tidak akan menjadi perlombaan untuk mencapai garis akhir paling dulu, tetapi sebuah peziarahan bersama. Semua ini - marilah kita ingat dengan baik - tidak membutuhkan khotbah yang bagus, tetapi sedikit kata dan banyak kesaksian. Jadi kita bisa bertanya pada diri kita sendiri : apakah setiap orang yang bertemu denganku melihat aku sebagai saksi kedamaian dan kedekatan Allah atau orang yang gelisah, pemarah, tidak toleran, suka berperang? Apakah aku menunjukkan Yesus atau menyembunyikan-Nya dalam sikap suka berperang ini?

 

Setelah perlengkapan dan pesan, kejutan ketiga misi ini menyangkut gaya kita. Demi Dia, Yesus meminta untuk pergi ke dunia "seperti anak domba ke tengah-tengah serigala" (ayat 3). Akal sehat dunia mengatakan sebaliknya : memaksakan diri, mengungguli! Kristus, di sisi lain, membutuhkan domba, bukan serigala. Ia tidak bermaksud naif - tidak, tolong! - tetapi membenci setiap naluri supremasi dan penindasan, keserakahan dan kepemilikan. Ia yang hidup sebagai anak domba tidak menyerang, ia tidak rakus : ia berada di dalam kawanan, dengan orang lain, dan menemukan keamanan di dalam Gembala-Nya, bukan dalam kekuatan atau kesombongan, bukan dalam keserakahan akan uang dan barang yang juga menyebabkan begitu banyak merugikan Republik Demokratik Kongo. Murid Yesus menolak kekerasan, ia tidak menyakiti siapa pun - ia adalah orang yang penuh kedamaian - ia mengasihi semua orang. Dan jika hal ini tampak baginya sebagai pecundang, ia melihat Sang Gembalanya, Yesus, Anak Domba Allah yang dengan demikian menaklukkan dunia, di kayu salib. Jadi Ia memenangkan dunia. Dan apakah aku - marilah kita kembali bertanya pada diri kita sendiri - hidup sebagai anak domba, seperti Yesus, atau sebagai serigala, seperti yang diajarkan oleh roh dunia, roh yang membawa perang? Roh itu yang membuat perang, yang menghancurkan.

 

Semoga Tuhan membantu kita menjadi misionaris hari ini, pergi bersama saudara-saudari kita; memiliki kedamaian di bibirnya dan kedekatan dengan Allah; membawa dalam hati kelembutan dan kebaikan Yesus, Sang Anak Domba yang menghapus dosa dunia.

 

Moto azalí na matói ma koyóka [Siapa yang bertelinga hendaknya mendengar]

R / Ayoka [Berniat]

Moto azali na motém

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Juli 2022)