Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA SANTO PETRUS DAN SANTO PAULUS, RASUL 29 Juni 2023 : IKUTLAH YESUS DAN BERITAKANLAH SABDA-NYA


Bacaan Ekaristi : Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19.

Petrus dan Paulus : dua rasul yang mengasihi Tuhan, dua pilar iman Gereja. Seraya kita merenungkan kehidupan mereka, Bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita pertanyaan yang diajukan Yesus kepada murid-murid-Nya : “Menurut kamu siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Ini adalah pertanyaan hakiki dan terpenting : Siapakah Yesus bagiku? Siapakah Yesus dalam hidupku? Marilah kita lihat bagaimana kedua rasul itu menjawab pertanyaan tersebut.


Jawaban Petrus dapat dirangkum dalam satu kata : mengikuti. Petrus tahu apa artinya mengikuti Tuhan. Pada hari itu di Kaisarea Filipi, Petrus menjawab pertanyaan Yesus dengan pernyataan iman yang bagus : “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Jawaban yang sempurna, akurat, tepat dan, bahkan bisa kita katakan, jawaban "katekese" yang sempurna. Namun jawaban itu sendiri adalah buah dari sebuah perjalanan. Karena hanya setelah pengalaman yang mendebarkan mengikuti Tuhan, berjalan bersama-Nya dan di belakang-Nya untuk beberapa saat, barulah Petrus sampai kepada kedewasaan rohani yang membawanya, berkat rahmat, berkat rahmat semata, untuk melakukan pengakuan iman yang begitu gamblang.


Penginjil Matius juga memberitahu kita bahwa semuanya dimulai ketika pada suatu hari ketika Yesus berjalan menyusur Danau Galilea, Ia memanggil Petrus dan Andreas, saudaranya, "dan mereka pun segera meninggalkan jalan mereka dan mengikuti Dia" (Mat 4:20) . Petrus meninggalkan segalanya untuk mengikuti Tuhan. Bacaan Injil menekankan bahwa ia melakukannya "segera". Petrus tidak memberitahu Yesus bahwa ia akan memikirkannya; ia tidak memperhitungkan pro dan kontra; ia tidak mengajukan alibi untuk menunda keputusan. Sebaliknya, ia meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus, tanpa menuntut jaminan apa pun sebelumnya. Ia harus mempelajari segala sesuatu hari demi hari, sebagai seorang murid, seorang pengikut Yesus, berjalan mengikuti jejak langkah-Nya. Bukan suatu kebetulan, kata-kata terakhir Yesus kepada Petrus yang tercatat dalam keempat Injil adalah : "Ikutlah Aku" (Yoh 21:22). Mengikuti.


Petrus memberitahu kita bahwa menjawab pertanyaan – “Siapakah Yesus bagiku” – tidaklah cukup dengan rumusan doktrinal yang tidak bercela atau serangkaian gagasan yang terbentuk sebelumnya. Tidak. Hanya dengan mengikuti Tuhan kita mengenal-Nya setiap hari, hanya dengan menjadi murid-Nya dan mendengarkan kata-kata-Nya kita menjadi sahabat-Nya dan mengalami kasih-Nya yang sedang mengubah rupa. Kata “segera” tersebut juga bermakna bagi kita. Banyak hal lain yang bisa ditunda dalam hidup, tetapi mengikuti Yesus tidak bisa ditunda; jika menyangkut Dia, kita tidak boleh ragu atau mencari alasan. Kita perlu berhati-hati juga, karena beberapa alasan disamarkan sebagai alasan rohani, seperti misalnya ketika kita berkata, “Aku tidak layak”, “Aku tidak memilikinya dalam diriku”, “Apa yang dapat kulakukan?” Ini adalah salah satu tipu muslihat iblis: tipu muslihat iblis merampas kepercayaan kita akan rahmat Allah dengan membuat kita berpikir bahwa segala sesuatu tergantung pada kemampuan kita sendiri.


Melepaskan diri kita dari seluruh bentuk jaminan duniawi, “segera”, dan kembali mengikuti Yesus setiap hari: demikianlah tuntutan yang diajukan Petrus kepada kita hari ini. Ia mengundang kita untuk menjadi “Gereja yang mengikuti”. Gereja yang berusaha untuk menjadi murid Tuhan, pelayan Injil yang hina. Hanya dengan cara ini Gereja mampu berdialog dengan semua orang dan menjadi tempat pendampingan, kedekatan dan harapan bagi manusia di zaman kita. Hanya dengan cara ini mereka yang jauh dari kita, mereka yang sering memandang kita dengan ketidakberanian atau ketidakpedulian, akan menyadari, mengutip kata-kata Paus Benediktus, “Gereja adalah tempat perjumpaan kita dengan Sang Putra Allah yang hidup dan dengan demikian tempat perjumpaan kita satu sama lain” (Homili Misa Hari Minggu Adven II, 10 Desember 2006).


Kita sekarang sampai kepada Rasul bangsa-bangsa lain. Jika kata untuk menjelaskan jawaban Petrus adalah mengikuti, kata untuk Paulus adalah mewartakan, memberitakan Injil. Bagi Paulus juga, segala sesuatu dimulai dengan rahmat, dengan prakarsa Tuhan sebelumnya. Di jalan menuju Damsyik, saat ia memimpin penganiayaan sengit terhadap umat kristiani, menghalangi keyakinan agamanya, Yesus yang bangkit bertemu dengannya dan membutakannya dengan cahaya-Nya. Atau lebih tepatnya, berkat terang itu, Paulus menyadari betapa butanya dia: terperangkap dalam kesombongan akan ketaatannya yang kaku, di dalam Yesus ia menemukan penggenapan misteri keselamatan. Dibandingkan dengan pengetahuan luhur tentang Kristus, ia menganggap semua jaminan manusiawi dan keagamaannya sebagai "kerugian" (bdk. Flp 3:7-8). Paulus kemudian mengabdikan hidupnya untuk melintasi darat dan laut, kota dan desa, tidak menghiraukan penderitaan dan penganiayaan, demi memberitakan Yesus Kristus. Jika kita melihat kehidupan Paulus, tampaknya semakin ia memberitakan Injil, semakin ia bertumbuh dalam pengetahuan tentang Yesus. Dengan mewartakan Sabda kepada orang lain, ia bisa mengintip lebih dalam ke kedalaman misteri Allah. Paulus kemudian dapat menulis: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” (1 Kor 9:16). Ia kemudian dapat mengaku : “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp 1:21).


Paulus memberitahu kita bahwa jawaban kita atas pertanyaan – “Siapakah Yesus bagiku?” – bukanlah kesalehan yang diprivatisasi yang membuat kita damai dan tidak peduli membawa Injil kepada orang lain. Rasul Paulus mengajar kita bahwa kita bertumbuh dalam iman dan pengetahuan tentang misteri Kristus ketika kita memberitakan dan bersaksi tentang Dia di hadapan orang lain. Ini selalu terjadi: setiap kali kita menginjili, kita sendiri diinjili. Pengalaman sehari-hari : setiap kali kita menginjili, kita sendiri diinjili. Perkataan yang kita bawa kepada orang lain kembali kepada kita, karena seberapa banyak kita memberi kepada orang lain, kita sendiri menerima lebih banyak lagi (bdk. Luk 6:38). Inilah sesuatu yang juga diperlukan Gereja di zaman kita : menempatkan pewartaan sebagai pusat, menjadi Gereja yang tidak pernah bosan mengulangi : “Bagiku hidup adalah Kristus” dan “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!". Gereja yang perlu memberitakan, sama seperti kita membutuhkan oksigen untuk bernafas. Sebuah Gereja yang tidak dapat hidup tanpa berbagi dengan orang lain pelukan kasih Allah dan sukacita Injil.


Saudara-saudari, kita merayakan Petrus dan Paulus. Jawaban mereka atas pertanyaan penting dalam hidup – “Siapakah Yesus bagiku?” – adalah dengan mengikuti Dia sebagai murid-murid-Nya dan dengan mewartakan Injil. Ada baiknya bagi kita untuk bertumbuh sebagai Gereja dengan cara yang sama, dengan mengikuti Tuhan, secara terus-menerus dan dengan rendah hati mencari Dia. Ada baiknya bagi kita untuk menjadi Gereja yang juga terbuka, menemukan sukacita bukan dalam hal-hal duniawi, tetapi dalam memberitakan Injil di hadapan dunia dan membuka hati orang-orang di hadirat Allah. Membawa Tuhan Yesus ke mana-mana, dengan kerendahan hati dan sukacita: di kota Roma kita, di dalam keluarga kita, di dalam hubungan kita dan lingkungan kita, dalam masyarakat sipil, dalam Gereja, dan kehidupan politik, di seluruh dunia, terutama di tempat-tempat di mana kemiskinan, kebusukan dan marjinalisasi sangat mengakar.


Hari ini, sejumlah Uskup Agung saudara kita menerima Pallium, tanda persekutuan dengan Gereja Roma. Kepada mereka saya akan mengatakan : Jadilah rasul seperti Petrus dan Paulus. Jadilah murid dalam mengikuti dan rasul dalam memberitakan. Bawalah keindahan Injil ke mana-mana, bersama dengan seluruh Umat Allah. Akhirnya, saya ingin menyampaikan salam penuh kasih kepada Delegasi Patriarkat Ekumenis, yang dikirim ke sini oleh Saudara saya yang terkasih, Yang Mulia Bartholomew. Terima kasih atas kehadiran Anda! Terima kasih. Semoga kita maju bersama; maju bersama dalam mengikuti dan dalam memberitakan sabda, seraya kita bertumbuh dalam persaudaraan. Semoga Petrus dan Paulus menyertai kita dan menjadi perantara bagi kita semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Juni 2023)