Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI MINGGU ADVEN I DI VOLKSWAGEN ARENA, ISTANBUL, TURKI 29 November 2025

Bacaan Ekaristi : Yes. 2:1-5; Mzm. 122:1-2,4-5,6-7,8-9; Rm. 13:11-14a; Mat. 24:37-44.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita merayakan Misa ini menjelang hari di mana Gereja memperingati Santo Andreas, rasul dan pelindung negeri ini. Bersamaan dengan itu, kita memulai Masa Adven, masa mempersiapkan diri untuk menghayati kembali misteri Yesus, Putra Allah, yang "dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa" (Syahadat Nicea-Konstantinopel), sebagaimana dideklarasikan secara khidmat 1.700 tahun yang lalu oleh para Bapa Konsili Nicea.

 

Dalam konteks ini, Bacaan Pertama (Yes 2:1-5) Misa hari ini berasal dari salah satu bagian terindah dalam kitab Nabi Yesaya, di mana ajakan bergema, memanggil semua orang untuk naik ke gunung Tuhan (bdk. ayat 3), tempat terang dan damai. Oleh karena itu, saya ingin merenungkan bersama apa artinya menjadi bagian dari Gereja dengan merefleksikan beberapa gambaran yang disajikan dalam teks ini.

 

Gambaran pertama adalah gunung yang "akan tegak melampaui puncak gunung-gunung" (bdk. Yes 2:2). Gambaran ini mengingatkan kita bahwa buah dari tindakan Allah dalam hidup kita adalah anugerah bukan hanya bagi kita, tetapi bagi semua orang. Sion adalah kota yang terletak di atas gunung dan simbol komunitas yang terlahir kembali dalam kesetiaan. Keindahannya adalah mercusuar cahaya bagi orang-orang dari segala tempat, dan berfungsi sebagai pengingat bahwa sukacita kebaikan itu menjangkiti. Kehidupan banyak orang kudus menegaskan hal ini. Santo Petrus bertemu Yesus berkat antusiasme Andreas, saudaranya (bdk. Yoh 1:40-42), yang dituntun kepada Tuhan, bersama Rasul Yohanes, berkat semangat Yohanes Pembaptis. Santo Agustinus, berabad-abad kemudian, datang kepada Kristus berkat khotbah Santo Ambrosius yang bersemangat dan masih banyak contoh serupa.

 

Di sini kita menemukan ajakan untuk memperbarui kekuatan kesaksian iman kita. Santo Yohanes Krisostomus, seorang gembala agung Gereja ini, berbicara tentang daya tarik kekudusan sebagai tanda yang jauh lebih mengesankan ketimbang banyak mukjizat. Ia berkata, “Mukjizat terjadi dan berlalu, tetapi kehidupan Kristiani tetap ada dan terus-menerus membangun” (Ulasan Injil Matius, 43, 5). Sebagai penutup, ia menasihati, “Karena itu marilah kita menjaga diri kita, agar kita juga dapat memberi manfaat kepada orang lain” (idem). Sahabat-sahabat terkasih, jika kita sungguh ingin membantu orang-orang yang kita jumpai, marilah kita “berjaga-jaga”, sebagaimana dianjurkan Bacaan Injil (bdk. Mat 24:42) dengan membina iman kita melalui doa dan sakramen-sakramen, mengamalkannya secara konsisten dalam kasih, dan menanggalkan — sebagaimana dikatakan Santo Paulus dalam Bacaan Kedua — perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang (bdk. Rm 13:12). Tuhan, yang kita nanti-nantikan dalam kemuliaan di akhir zaman, datang setiap hari untuk mengetuk pintu kita. Marilah kita siap sedia menyambut kedatangan-Nya (bdk. Mat 24:44), dengan sungguh-sungguh berkomitmen untuk menjalani hidup yang baik, mengikuti teladan banyak orang kudus, orang-orang, yang telah tinggal di negeri ini sepanjang masa.

 

Gambaran kedua yang kita peroleh dari Nabi Yesaya adalah dunia yang damai. Ia menggambarkannya demikian: "Mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang melawan bangsa lain, dan mereka tidak akan lagi belajar perang" (Yes 2:4). Betapa mendesaknya panggilan ini bagi kita saat ini! Betapa besar kebutuhan akan perdamaian, kesatuan, dan rekonsiliasi di sekitar kita, di dalam diri kita, dan di antara kita! Apa kontribusi kita sebagai tanggapannya?

 

Untuk lebih memahami hal ini, marilah kita lihat logo perjalanan ini, di mana salah satu gambar yang dipilih adalah sebuah jembatan. Logo perjalanan ini juga dapat mengingatkan kita pada jembatan yang terkenal di kota ini, yang melintasi Selat Bosporus dan menyatukan dua benua: Asia dan Eropa. Seiring berjalannya waktu, dua penyeberangan lainnya telah dibangun, sehingga kini terdapat tiga titik penghubung antara kedua benua. Ketiga struktur komunikasi, pertukaran, dan perjumpaan yang luar biasa ini sungguh mengesankan, namun sangat kecil dan rapuh dibandingkan dengan luasnya wilayah yang dihubungkan.

 

Jembatan tiga dimensi yang membentang melintasi selat ini mengingatkan kita akan pentingnya upaya bersama kita untuk membangun jembatan kesatuan di tiga tingkatan: di dalam komunitas, dalam hubungan ekumenis dengan anggota denominasi kristiani lain, dan dalam perjumpaan kita dengan saudara-saudari yang beragama lain. Memelihara ketiga ikatan ini, memperkuat dan memperluasnya dengan segala cara yang mungkin, merupakan bagian dari panggilan kita untuk menjadi kota yang terletak di atas gunung (bdk. Mat 5:14-16).

 

Ikatan kesatuan pertama yang baru saja saya sebutkan adalah ikatan di dalam Gereja ini, yang di negeri ini terdiri dari empat tradisi liturgi yang berbeda — Latin, Armenia, Kaldean, dan Suriah. Masing-masing tradisi menyumbangkan kekayaan spiritual, historis, dan gerejawi. Ambil bagian dalam perbedaan-perbedaan ini dengan jelas menunjukkan salah satu ciri terindah dari wajah Mempelai Kristus: kekatolikan yang mempersatukan. Kesatuan yang mengikat kita bersama di sekitar altar adalah karunia Allah. Karena itu, kesatuan tersebut kuat dan tak terkalahkan, karena merupakan karya rahmat-Nya. Namun, pada saat yang sama, perwujudan kesatuan ini pada waktunya dipercayakan kepada kita, kepada usaha kita. Karena alasan ini, seperti jembatan di atas Selat Bosporus, kesatuan membutuhkan kepedulian, perhatian, dan "pemeliharaan," agar fondasinya tetap kokoh dan tidak melemah oleh waktu dan perubahan. Dengan mata kita tertuju kepada gunung yang dijanjikan, gambaran Yerusalem surgawi, tujuan dan ibu kita (bdk. Gal 4:26), marilah kita berupaya semaksimal mungkin untuk memelihara dan memperkuat ikatan yang mempersatukan kita, sehingga kita dapat saling memperkaya dan menjadi tanda yang dapat dipercaya di hadapan dunia akan kasih Tuhan yang universal dan tak terbatas.

 

Ikatan kesatuan kedua yang disiratkan oleh liturgi ini adalah ekumenisme. Hal ini juga dibuktikan dengan kehadiran para perwakilan dari pengakuan iman kristiani lainnya, yang saya sambut dengan hangat. Sungguh, iman yang sama kepada Yesus, Juruselamat kita, tidak hanya mempersatukan kita yang berada di dalam Gereja Katolik, tetapi juga semua saudara dan saudari kita yang tergabung dalam Gereja kristiani lainnya. Kita mengalami hal ini kemarin dalam doa kita di İznik. Ini juga merupakan jalan yang telah kita tempuh bersama selama beberapa waktu. Santo Yohanes XXIII, yang terhubung dengan tanah ini melalui ikatan kasih sayang yang mendalam, adalah seorang promotor besar, dan saksi, bagi persekutuan ekumenis. Oleh karena itu, seraya kita memohon dalam kata-kata Paus Yohanes agar “misteri agung kesatuan yang dimohonkan Kristus Yesus kepada Bapa surgawi dengan doa-doa yang sungguh-sungguh pada malam pengorbanan-Nya dapat digenapi” (Wejangan Pembukaan Konsili Ekumenis Vatikan II, 11 Oktober 1962, 8.2), hari ini kita memperbarui “ya” kita untuk kesatuan, “supaya mereka semua menjadi satu” (Yoh 17:21), ut unum sint.

 

Ikatan kesatuan ketiga, yang kepadanya sabda Allah memanggil kita, adalah ikatan dengan anggota komunitas nonkristiani. Kita hidup di dunia di mana agama terlalu sering digunakan untuk membenarkan peperangan dan kekejaman. Namun, sebagaimana dinyatakan oleh Konsili Vatikan II, "hubungan manusia dengan Allah Bapa dan hubungannya dengan sesama manusia saudaranya begitu erat, sehingga Alkitab berkata: Siapa yang tidak mencintai, ia tidak mengenal Allah (1Yoh 4:8)" (Nostra Aetate, 5). Oleh karena itu, kita ingin berjalan bersama dengan menghargai apa yang mempersatukan kita, meruntuhkan tembok prasangka dan ketidakpercayaan, mengembangkan saling pengertian dan saling menghargai agar dapat menyampaikan pesan pengharapan yang kuat dan ajakan untuk menjadi "orang yang membawa damai" (Mat 5:9).

 

Sahabat-sahabat terkasih, marilah kita jadikan nilai-nilai ini sebagai resolusi kita untuk Masa Adven, dan terlebih lagi untuk kehidupan pribadi dan bersama kita. Kita berjalan seolah-olah di atas jembatan yang menghubungkan bumi dengan surga, jembatan yang telah dibangun Tuhan bagi kita. Marilah kita senantiasa mengarahkan pandangan kita ke surga dan bumi, agar kita dapat mengasihi Allah dan saudara-saudari kita dengan segenap hati sehingga dapat berjalan bersama dan suatu hari nanti menemukan diri kita bersatu di rumah Bapa.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 30 November 2025)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.