Bacaan
Ekaristi : Kis. 6:1-7; Mzm. 33:1-2.4.5.18-19; 1Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12.
Saudara-saudari
terkasih,
Dengan
berpegang teguh pada Kristus, kita menjadi rumah yang kokoh dan hangat: inilah
sukacita yang kita alami terutama selama Masa Paskah, dan khususnya hari ini
saat kita merayakan penahbisan empat uskup auksiler baru Keuskupan Roma.
Gereja
ini memiliki panggilan yang unik untuk universalitas dan amal kasih berkat
ikatan istimewanya dengan Kristus, yang telah bangkit dan hidup, fondasi
bangunan rohani dari batu-batu hidup yang merupakan umat Allah yang kudus.
Mendekat kepada Kristus berarti mendekat satu sama lain dan bertumbuh bersama
dalam persatuan: inilah misteri yang melibatkan kita dan mengubah rupa kota
dari dalam. Untuk melayani dinamikanya, yang dibawa ke Roma oleh Rasul Petrus
dan Rasul Paulus, saudara-saudara kita Andrea (Carlevale), Stefano (Sparapani),
Marco (Valenti), dan Alessandro (Zenobbi) ditahbiskan menjadi uskup. Sebuah
perayaan umat, karena mereka berasal dari umat ini dan dari presbiterat yang
dengan penuh kasih peduli terhadap mereka.
Komunitas
keuskupan kita berkumpul hari ini untuk berdoa memohon Roh Kudus, yang akan
mengurapi para uskup baru, agar mereka dapat sepenuhnya mengabdikan diri pada
pelayanan Injil Kristus. Dialah batu yang dibuang yang, "dipilih oleh
Allah," telah "menjadi batu penjuru" (1Ptr. 2:4,7; bdk. Mzm.
118:22).
Bagi umat
Kristiani perdana, metafora ini, yang sangat akrab karena muncul dalam sebuah
mazmur, pasti tampak sangat bermakna. Yesus sang Mesias telah ditolak bukan
hanya karena Ia tidak diakui sebagai Putra Allah, tetapi, bahkan sebelum itu,
karena telah mengambil kondisi sebagai makhluk ciptaan, yang dipahami sebagai
tidak layak di hadapan Allah. Setia pada jalan belas kasih ini, Ia pergi
mencari domba-domba yang ditolak, duduk di meja bersama mereka, melucuti tangan
dan hati yang ingin melempari mereka dengan batu. Dengan cara ini, sebagaimana
dikatakan Bacaan Injil yang diwartakan dalam liturgi ini, sang Putra
menunjukkan wajah Bapa: di dalam Dia karya-karya-Nya digenapi. "Telah
sekian lama Aku bersama kamu, Fi;ipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa
yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Bagaimana engkau berkata:
Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam
Bapa dan Bapa di dalam Aku?" (Yoh. 14:8-9).
Gereja
yang hidup di Roma, batu yang dibuang adalah pokok pesan mesianik, yang
menghadapkan kita pada mereka yang telah dan terus dicampakkan oleh masyarakat.
Juga pokok pesan kita, pokok perutusan kita. Kita telah melihat Yang Kudus
menyentuh yang najis, Yang Adil mengampuni orang berdosa, Kehidupan
menyembuhkan orang sakit, Sang Guru membasuh kaki murid-murid-Nya yang kotor
dan lelah.
Di kota
ini, ibu kota kekaisaran besar, batu yang dibuang menjadi panji pengharapan
baru, yaitu Kerajaan Allah, sebagaimana digambarkan dalam Khotbah di Bukit dan
dinyanyikan dalam Magnificat. Dengan menumbangkan nalar dominasi, yaitu nalar
mereka yang mengejar ambisi tanpa arti untuk menentukan arsitektur Bumi, di
dalam Kristuslah orang-orang yang ditolak menemukan kembali martabat mereka dan
merasa dipilih untuk Kerajaan Allah. "Jika tidak demikian," kata
Yesus kepada murid-murid-Nya, "tentu Aku mengatakannya kepadamu: Sebab,
Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Apabila Aku telah pergi dan
menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke
tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada" (Yoh.14:2-3).
Saudara-saudari
terkasih, inilah sebabnya, hingga hari ini, kita menjadi batu yang dibuang
manusia dan dipilih oleh Allah: ketika, dengan hidup dan kata-kata kita, kita
tidak menentang rencana yang menghancurkan kaum lemah, gagal menghormati
martabat setiap orang, mengeksploitasi konflik dengan berpihak pada yang
terkuat, seraya mengabaikan mereka yang tertinggal, mereka yang terpuruk,
menganggap mereka yang menyerah sebagai ampas sejarah. Yesus berjalan di antara
kita sebagai nabi yang melucuti, dan ketika Ia ditolak, Ia tidak mengubah
jalan-Nya.
Dan
sekarang saya berpaling kepadamu, saudara-saudara terkasih, yang mulai hari ini
akan menjadi uskup auksiler Gereja ini, yang kepeduliannya telah saya terima
sebagai anugerah; kepada kamu yang, bersama Kardinal Vikaris, sudi membantu
saya untuk menjadi cerminan Gembala yang baik bagi umat Roma dan memimpin amal
kasih seluruh umat Allah yang kudus yang tersebar di seluruh muka bumi.
Saya
mendorongmu untuk menjangkau batu-batu yang dibuang di kota ini dan mewartakan
kepada mereka bahwa di dalam Kristus, batu penjuru kita, tidak seorang pun
dikecualikan untuk menjadi bagian aktif dari bangunan suci Gereja dan
persaudaraan manusia. Gambaran ini menggemakan seruan Anjuran Apostolik Paus
Fransiskus Evangelii Gaudium: untuk menjadi Gereja "rumah sakit
lapangan", menjadi gembala jalanan, menaruh pinggiran materi dan
eksistensial di dalam hati kita. Sebagai imam, kamu telah menerima undangan
ini, bersama dengan komunitas paroki yang telah kamu dampingi. Sekarang datang
panggilan baru, panggilan selanjutnya, yang selalu memiliki inti yang sama:
tidak seorang pun, sama sekali tidak seorang pun, boleh menganggap diri mereka
ditolak oleh Allah, dan kamu akan menjadi pembawa kabar baik ini yang merupakan
inti dari Injil.
Perkenankanlah
Roh nubuat bekerja di dalam dirimu: jangan puas dengan hak istimewa yang
mungkin ditawarkan oleh kedudukanmu, jangan mengikuti nalar duniawi untuk
memiliki tempat pertama, jadilah saksi Kristus yang datang bukan untuk dilayani
tetapi untuk melayani (bdk. Mrk 10:45). Kamu akan menjadi nabi dalam
pelayananmu jika kamu adalah orang-orang yang cinta damai dan persatuan,
menjembatani, dengan benang rahmat dan belas kasihan, ruang-ruang yang luas dan
padat penduduk di Keuskupan ini, menyelaraskan perbedaan, menyambut,
mendengarkan, dan mengampuni.
Jangan
perkenankan dirimu dicari, perkenankan dirimu ditemukan. Dan pastikan bahwa
para imam, diakon, biarawan dan biarawati, serta umat awam yang terlibat dalam
kerasulan tidak pernah merasa sendirian. Bantulah mereka untuk membangkitkan
kembali pengharapan dalam berbagai pelayanan mereka dan merasa menjadi bagian
dari perutusan yang sama. Selalu ketahuilah bagaimana memotivasi individu dan
komunitas tanpa lelah, hanya dengan mengingat keindahan Injil.
Semoga
kaum miskin Roma, para peziarah, dan para pengunjung yang datang dari seluruh
penjuru dunia, menemukan dalam penduduk kota ini, dalam lembaga-lembaganya, dan
dalam para gembalanya, keibuan yang merupakan wajah otentik Gereja. Semoga
Salus Populi Romani, Bunda kepercayaan kita, selalu membimbing dan melindungi
kita sepanjang jalan.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 3 Mei 2026)
.jpeg)
Print this page