Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA TAHBISAN USKUP DI BASILIKA SANTO YOHANES LATERAN 2 Mei 2026

Bacaan Ekaristi : Kis. 6:1-7; Mzm. 33:1-2.4.5.18-19; 1Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dengan berpegang teguh pada Kristus, kita menjadi rumah yang kokoh dan hangat: inilah sukacita yang kita alami terutama selama Masa Paskah, dan khususnya hari ini saat kita merayakan penahbisan empat uskup auksiler baru Keuskupan Roma.

 

Gereja ini memiliki panggilan yang unik untuk universalitas dan amal kasih berkat ikatan istimewanya dengan Kristus, yang telah bangkit dan hidup, fondasi bangunan rohani dari batu-batu hidup yang merupakan umat Allah yang kudus. Mendekat kepada Kristus berarti mendekat satu sama lain dan bertumbuh bersama dalam persatuan: inilah misteri yang melibatkan kita dan mengubah rupa kota dari dalam. Untuk melayani dinamikanya, yang dibawa ke Roma oleh Rasul Petrus dan Rasul Paulus, saudara-saudara kita Andrea (Carlevale), Stefano (Sparapani), Marco (Valenti), dan Alessandro (Zenobbi) ditahbiskan menjadi uskup. Sebuah perayaan umat, karena mereka berasal dari umat ini dan dari presbiterat yang dengan penuh kasih peduli terhadap mereka.

 

Komunitas keuskupan kita berkumpul hari ini untuk berdoa memohon Roh Kudus, yang akan mengurapi para uskup baru, agar mereka dapat sepenuhnya mengabdikan diri pada pelayanan Injil Kristus. Dialah batu yang dibuang yang, "dipilih oleh Allah," telah "menjadi batu penjuru" (1Ptr. 2:4,7; bdk. Mzm. 118:22).

 

Bagi umat Kristiani perdana, metafora ini, yang sangat akrab karena muncul dalam sebuah mazmur, pasti tampak sangat bermakna. Yesus sang Mesias telah ditolak bukan hanya karena Ia tidak diakui sebagai Putra Allah, tetapi, bahkan sebelum itu, karena telah mengambil kondisi sebagai makhluk ciptaan, yang dipahami sebagai tidak layak di hadapan Allah. Setia pada jalan belas kasih ini, Ia pergi mencari domba-domba yang ditolak, duduk di meja bersama mereka, melucuti tangan dan hati yang ingin melempari mereka dengan batu. Dengan cara ini, sebagaimana dikatakan Bacaan Injil yang diwartakan dalam liturgi ini, sang Putra menunjukkan wajah Bapa: di dalam Dia karya-karya-Nya digenapi. "Telah sekian lama Aku bersama kamu, Fi;ipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?" (Yoh. 14:8-9).

 

Gereja yang hidup di Roma, batu yang dibuang adalah pokok pesan mesianik, yang menghadapkan kita pada mereka yang telah dan terus dicampakkan oleh masyarakat. Juga pokok pesan kita, pokok perutusan kita. Kita telah melihat Yang Kudus menyentuh yang najis, Yang Adil mengampuni orang berdosa, Kehidupan menyembuhkan orang sakit, Sang Guru membasuh kaki murid-murid-Nya yang kotor dan lelah.

 

Di kota ini, ibu kota kekaisaran besar, batu yang dibuang menjadi panji pengharapan baru, yaitu Kerajaan Allah, sebagaimana digambarkan dalam Khotbah di Bukit dan dinyanyikan dalam Magnificat. Dengan menumbangkan nalar dominasi, yaitu nalar mereka yang mengejar ambisi tanpa arti untuk menentukan arsitektur Bumi, di dalam Kristuslah orang-orang yang ditolak menemukan kembali martabat mereka dan merasa dipilih untuk Kerajaan Allah. "Jika tidak demikian," kata Yesus kepada murid-murid-Nya, "tentu Aku mengatakannya kepadamu: Sebab, Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Apabila Aku telah pergi dan menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada" (Yoh.14:2-3).

 

Saudara-saudari terkasih, inilah sebabnya, hingga hari ini, kita menjadi batu yang dibuang manusia dan dipilih oleh Allah: ketika, dengan hidup dan kata-kata kita, kita tidak menentang rencana yang menghancurkan kaum lemah, gagal menghormati martabat setiap orang, mengeksploitasi konflik dengan berpihak pada yang terkuat, seraya mengabaikan mereka yang tertinggal, mereka yang terpuruk, menganggap mereka yang menyerah sebagai ampas sejarah. Yesus berjalan di antara kita sebagai nabi yang melucuti, dan ketika Ia ditolak, Ia tidak mengubah jalan-Nya.

 

Dan sekarang saya berpaling kepadamu, saudara-saudara terkasih, yang mulai hari ini akan menjadi uskup auksiler Gereja ini, yang kepeduliannya telah saya terima sebagai anugerah; kepada kamu yang, bersama Kardinal Vikaris, sudi membantu saya untuk menjadi cerminan Gembala yang baik bagi umat Roma dan memimpin amal kasih seluruh umat Allah yang kudus yang tersebar di seluruh muka bumi.

 

Saya mendorongmu untuk menjangkau batu-batu yang dibuang di kota ini dan mewartakan kepada mereka bahwa di dalam Kristus, batu penjuru kita, tidak seorang pun dikecualikan untuk menjadi bagian aktif dari bangunan suci Gereja dan persaudaraan manusia. Gambaran ini menggemakan seruan Anjuran Apostolik Paus Fransiskus Evangelii Gaudium: untuk menjadi Gereja "rumah sakit lapangan", menjadi gembala jalanan, menaruh pinggiran materi dan eksistensial di dalam hati kita. Sebagai imam, kamu telah menerima undangan ini, bersama dengan komunitas paroki yang telah kamu dampingi. Sekarang datang panggilan baru, panggilan selanjutnya, yang selalu memiliki inti yang sama: tidak seorang pun, sama sekali tidak seorang pun, boleh menganggap diri mereka ditolak oleh Allah, dan kamu akan menjadi pembawa kabar baik ini yang merupakan inti dari Injil.

 

Perkenankanlah Roh nubuat bekerja di dalam dirimu: jangan puas dengan hak istimewa yang mungkin ditawarkan oleh kedudukanmu, jangan mengikuti nalar duniawi untuk memiliki tempat pertama, jadilah saksi Kristus yang datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani (bdk. Mrk 10:45). Kamu akan menjadi nabi dalam pelayananmu jika kamu adalah orang-orang yang cinta damai dan persatuan, menjembatani, dengan benang rahmat dan belas kasihan, ruang-ruang yang luas dan padat penduduk di Keuskupan ini, menyelaraskan perbedaan, menyambut, mendengarkan, dan mengampuni.

 

Jangan perkenankan dirimu dicari, perkenankan dirimu ditemukan. Dan pastikan bahwa para imam, diakon, biarawan dan biarawati, serta umat awam yang terlibat dalam kerasulan tidak pernah merasa sendirian. Bantulah mereka untuk membangkitkan kembali pengharapan dalam berbagai pelayanan mereka dan merasa menjadi bagian dari perutusan yang sama. Selalu ketahuilah bagaimana memotivasi individu dan komunitas tanpa lelah, hanya dengan mengingat keindahan Injil.

 

Semoga kaum miskin Roma, para peziarah, dan para pengunjung yang datang dari seluruh penjuru dunia, menemukan dalam penduduk kota ini, dalam lembaga-lembaganya, dan dalam para gembalanya, keibuan yang merupakan wajah otentik Gereja. Semoga Salus Populi Romani, Bunda kepercayaan kita, selalu membimbing dan melindungi kita sepanjang jalan.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Mei 2026)