Bacaan
Ekaristi : 2Sam. 5:1-3; Mzm. 122:1-2,4-5; Kol. 1:12-20; Luk. 23:35-43.
Saudari-saudari
terkasih,
Dalam
Mazmur Tanggapan, kita telah menyanyikan, "Mari kita pergi ke Rumah Tuhan
dengan sukacita" (bdk. Mzm. 122). Oleh karena itu, liturgi hari ini
mengajak kita untuk berjalan bersama dalam pujian dan sukacita menuju
perjumpaan dengan Tuhan Yesus Kristus, Raja Semesta Alam, Penguasa yang lemah
lembut dan rendah hati, Dia yang adalah awal dan akhir segala sesuatu.
Kuasa-Nya adalah kasih, takhta-Nya adalah salib, dan melalui salib Kerajaan-Nya
bersinar di atas dunia. "Dari kayu Ia berkuasa" (bdk. Madah Vexilla
Regis) sebagai Raja Damai dan Raja Keadilan yang, dalam sengsara-Nya,
menyatakan kepada dunia belas kasih Allah yang tak terhingga. Kasih ini juga
menjadi inspirasi dan motivasi nyanyianmu.
Para
anggota paduan suara dan pemusik terkasih, hari ini kamu merayakan Yubileum dan
mengucap syukur kepada Tuhan atas karunia dan rahmat yang telah
dianugerahkan-Nya kepadamu untuk melayani-Nya dengan mempersembahkan suara dan
talentamun demi kemuliaan-Nya dan demi pembangunan rohani saudara-saudarimu
(bdk. Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium, 120). Tugasmu
adalah mengajak orang lain untuk memuji Allah dan membantu mereka
berpartisipasi lebih penuh dalam liturgi melalui nyanyian. Hari ini, kamu
sepenuhnya mengungkapkan "iubilum"-mu, kegembiraanmu, yang mengalir
dari hati yang meluap dengan sukacita rahmat.
Peradaban-peradaban
besar telah menganugerahkan kita karunia musik untuk mengungkapkan apa yang
kita simpan di lubuk hati dan apa yang tak selalu dapat diungkapkan dengan
kata-kata. Musik dapat mengungkapkan seluruh rentang perasaan dan emosi yang
muncul dalam diri kita dari hubungan yang hidup dengan kenyataan. Bernyanyi,
khususnya, merupakan ungkapan alami dan luhur manusia: pikiran, perasaan,
tubuh, dan jiwa bersatu untuk menyampaikan peristiwa-peristiwa besar kehidupan.
Sebagaimana diingatkan Santo Agustinus kepada kita: “Cantare amantis est” (bdk.
Khotbah 336,1), artinya, “bernyanyi adalah milik mereka yang mengasihi.” Mereka
yang bernyanyi mengungkapkan kasih, tetapi juga mengungkapkan kesukaran,
kelembutan, dan kerinduan yang bersemayam di hati mereka, sementara pada saat
yang sama, mengasihi orang-orang yang mereka tuju dengan nyanyian mereka (bdk.
Enarrationes in Psalmos, 72,1).
Bagi
umat Allah, nyanyian mengungkapkan permohonan dan pujian. Nyanyian adalah
"lagu baru" yang dikumandangkan Kristus yang bangkit kepada Bapa, di
mana semua orang yang dibaptis berpartisipasi sebagai satu tubuh yang dijiwai
oleh kehidupan baru Roh Kudus. Di dalam Kristus, kita menjadi penyanyi rahmat,
anak-anak Gereja yang menemukan dalam Kristus yang bangkit sumber pujian kita.
Dengan demikian, musik liturgi menjadi sarana berharga yang melaluinya kita
melaksanakan pelayanan pujian kita kepada Allah dan mengungkapkan sukacita
kehidupan baru dalam Kristus.
Santo
Agustinus kembali menasihati kita untuk bernyanyi sambil berjalan, seperti para
pelancong yang lelah yang menemukan dalam nyanyian sebuah gambaran awal dari
sukacita yang akan mereka alami ketika mereka mencapai tujuan.
"Bernyanyilah, tetapi teruskan perjalananmu [...] majulah dalam
kebajikan" (Khotbah 256, 3). Menjadi bagian dari paduan suara berarti maju
bersama, oleh karena itu, menggandeng tangan saudara-saudari kita dan membantu
mereka berjalan bersama kita. Bernyanyi berarti bersama-sama menyanyikan pujian
bagi Allah, menghibur saudara-saudari kita yang sedang menderita, menyemangati
mereka ketika mereka tampak menyerah terhadap kelelahan, dan menyemangati
mereka ketika kesulitan tampaknya datang. Bernyanyi mengingatkan kita bahwa
kita adalah Gereja yang sedang dalam perjalanan, sebuah kenyataan sinodal yang
autentik yang mampu berbagi dengan semua orang panggilan untuk memuji dan
bersukacita dalam peziarahan kasih dan pengharapan ini.
Santo
Ignatius dari Antiokhia juga menggunakan kata-kata yang menyentuh untuk
mengungkapkan hubungan antara nyanyian paduan suara dan kesatuan Gereja: “Dari
kesatuan dan kasihmu yang selarah, bernyanyilah bagi Yesus Kristus. Dan biarlah
masing-masing menjadi paduan suara, sehingga dengan selaras dalam aransemenmu
dan menyanyikan nyanyian Allah dalam kesatuan, dengan satu suara kamu dapat
bernyanyi bagi Bapa melalui Yesus Kristus, agar Ia dapat mendengar dan
mengenalimu karena perbuatan baikmu” (Santo Ignatius dari Antiokhia, Ad
Ephesios, IV). Sesungguhnya, aneka suara dalam paduan suara saling selaras,
menghasilkan satu madah pujian, sebuah lambang Gereja yang bercahaya, yang
menyatukan semua orang dalam kasih dalam satu melodi yang menyenangkan.
Kamu
termasuk dalam paduan suara yang menjalankan pelayanan mereka terutama dalam
konteks liturgis. Pelayananmu adalah pelayanan sejati yang membutuhkan
persiapan, komitmen, saling pengertian, dan, yang terpenting, kehidupan rohani
yang mendalam, sehingga ketika bernyanyi, kamu berdoa sekaligus membantu semua
orang untuk berdoa. Pelayanan ini menuntut disiplin dan semangat melayani,
terutama saat mempersiapkan liturgi khidmat atau acara penting dalam
komunitasmu. Paduan suara adalah keluarga kecil yang dipersatukan oleh
kecintaan mereka pada musik dan pelayanan yang mereka berikan. Namun, ingatlah
bahwa komunitas adalah keluargamu yang lebih besar. Kamu tidak berada di atas
panggung, melainkan bagian dari komunitas itu, berusaha membantunya bertumbuh
dalam kesatuan dengan menginspirasi dan melibatkan para anggotanya. Seperti
dalam semua keluarga, ketegangan atau kesalahpahaman kecil dapat muncul.
Hal-hal ini normal ketika bekerja bersama dan berjuang untuk mencapai suatu
tujuan. Kita dapat mengatakan sampai batas tertentu bahwa paduan suara
melambangkan Gereja, yang, berjuang menuju tujuannya, berjalan melalui sejarah
memuji Allah. Bahkan ketika perjalanan ini dipenuhi oleh kesulitan dan
pencobaan dan saat-saat yang menyenangkan memberi jalan kepada saat-saat yang
lebih menantang, bernyanyi membuat perjalanan lebih ringan, memberikan kelegaan
dan penghiburan.
Oleh
karena itu, berusahalah agar paduan suaramu senantiasa selaras dan indah, serta
menjadi gambaran Gereja yang lebih cemerlang dalam memuji Tuhannya. Pelajarilah
Magisterium dengan saksama. Dokumen-dokumen konsili menetapkan norma-norma
untuk melaksanakan pelayananmu sebaik mungkin. Terutama, baktikanlah dirimu
untuk memfasilitasi partisipasi umat Allah, tanpa menyerah pada godaan pamer,
yang menghalangi seluruh jemaat liturgi untuk berpartisipasi aktif dalam
nyanyian. Dalam hal ini, jadilah tanda doa Gereja yang mengesankan, yang
mengungkapkan kasihnya kepada Allah melalui keindahan musik. Jagalah agar
kehidupan rohanimu senantiasa selaras dengan pelayanan yang kamu laksanakan,
sehingga pelayananmu dapat secara autentik mengungkapkan rahmat liturgi.
Saya
menempatkan kamu semua di bawah perlindungan Santa Sesilia, perawan dan martir
yang telah melantunkan kidung kasih yang terindah melalui hidupnya di Roma,
menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Kristus dan mempersembahkan teladan iman
dan kasih yang cemerlang kepada Gereja. Marilah kita terus bernyanyi dan sekali
lagi menjadikan undangan dari mazmur tanggapan hari ini sebagai mazmur kita:
“Mari kita pergi ke rumah Tuhan dengan sukacita.”
______
(Peter Suriadi - Bogor, 24 November 2025)


Print this page
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.