Liturgical Calendar

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM MISA HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM (MISA YUBILEUM PADUAN SUARA) 23 November 2025

Bacaan Ekaristi : 2Sam. 5:1-3; Mzm. 122:1-2,4-5; Kol. 1:12-20; Luk. 23:35-43.

 

Saudari-saudari terkasih,

 

Dalam Mazmur Tanggapan, kita telah menyanyikan, "Mari kita pergi ke Rumah Tuhan dengan sukacita" (bdk. Mzm. 122). Oleh karena itu, liturgi hari ini mengajak kita untuk berjalan bersama dalam pujian dan sukacita menuju perjumpaan dengan Tuhan Yesus Kristus, Raja Semesta Alam, Penguasa yang lemah lembut dan rendah hati, Dia yang adalah awal dan akhir segala sesuatu. Kuasa-Nya adalah kasih, takhta-Nya adalah salib, dan melalui salib Kerajaan-Nya bersinar di atas dunia. "Dari kayu Ia berkuasa" (bdk. Madah Vexilla Regis) sebagai Raja Damai dan Raja Keadilan yang, dalam sengsara-Nya, menyatakan kepada dunia belas kasih Allah yang tak terhingga. Kasih ini juga menjadi inspirasi dan motivasi nyanyianmu.

 

Para anggota paduan suara dan pemusik terkasih, hari ini kamu merayakan Yubileum dan mengucap syukur kepada Tuhan atas karunia dan rahmat yang telah dianugerahkan-Nya kepadamu untuk melayani-Nya dengan mempersembahkan suara dan talentamun demi kemuliaan-Nya dan demi pembangunan rohani saudara-saudarimu (bdk. Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium, 120). Tugasmu adalah mengajak orang lain untuk memuji Allah dan membantu mereka berpartisipasi lebih penuh dalam liturgi melalui nyanyian. Hari ini, kamu sepenuhnya mengungkapkan "iubilum"-mu, kegembiraanmu, yang mengalir dari hati yang meluap dengan sukacita rahmat.

 

Peradaban-peradaban besar telah menganugerahkan kita karunia musik untuk mengungkapkan apa yang kita simpan di lubuk hati dan apa yang tak selalu dapat diungkapkan dengan kata-kata. Musik dapat mengungkapkan seluruh rentang perasaan dan emosi yang muncul dalam diri kita dari hubungan yang hidup dengan kenyataan. Bernyanyi, khususnya, merupakan ungkapan alami dan luhur manusia: pikiran, perasaan, tubuh, dan jiwa bersatu untuk menyampaikan peristiwa-peristiwa besar kehidupan. Sebagaimana diingatkan Santo Agustinus kepada kita: “Cantare amantis est” (bdk. Khotbah 336,1), artinya, “bernyanyi adalah milik mereka yang mengasihi.” Mereka yang bernyanyi mengungkapkan kasih, tetapi juga mengungkapkan kesukaran, kelembutan, dan kerinduan yang bersemayam di hati mereka, sementara pada saat yang sama, mengasihi orang-orang yang mereka tuju dengan nyanyian mereka (bdk. Enarrationes in Psalmos, 72,1).

 

Bagi umat Allah, nyanyian mengungkapkan permohonan dan pujian. Nyanyian adalah "lagu baru" yang dikumandangkan Kristus yang bangkit kepada Bapa, di mana semua orang yang dibaptis berpartisipasi sebagai satu tubuh yang dijiwai oleh kehidupan baru Roh Kudus. Di dalam Kristus, kita menjadi penyanyi rahmat, anak-anak Gereja yang menemukan dalam Kristus yang bangkit sumber pujian kita. Dengan demikian, musik liturgi menjadi sarana berharga yang melaluinya kita melaksanakan pelayanan pujian kita kepada Allah dan mengungkapkan sukacita kehidupan baru dalam Kristus.

 

Santo Agustinus kembali menasihati kita untuk bernyanyi sambil berjalan, seperti para pelancong yang lelah yang menemukan dalam nyanyian sebuah gambaran awal dari sukacita yang akan mereka alami ketika mereka mencapai tujuan. "Bernyanyilah, tetapi teruskan perjalananmu [...] majulah dalam kebajikan" (Khotbah 256, 3). Menjadi bagian dari paduan suara berarti maju bersama, oleh karena itu, menggandeng tangan saudara-saudari kita dan membantu mereka berjalan bersama kita. Bernyanyi berarti bersama-sama menyanyikan pujian bagi Allah, menghibur saudara-saudari kita yang sedang menderita, menyemangati mereka ketika mereka tampak menyerah terhadap kelelahan, dan menyemangati mereka ketika kesulitan tampaknya datang. Bernyanyi mengingatkan kita bahwa kita adalah Gereja yang sedang dalam perjalanan, sebuah kenyataan sinodal yang autentik yang mampu berbagi dengan semua orang panggilan untuk memuji dan bersukacita dalam peziarahan kasih dan pengharapan ini.

 

Santo Ignatius dari Antiokhia juga menggunakan kata-kata yang menyentuh untuk mengungkapkan hubungan antara nyanyian paduan suara dan kesatuan Gereja: “Dari kesatuan dan kasihmu yang selarah, bernyanyilah bagi Yesus Kristus. Dan biarlah masing-masing menjadi paduan suara, sehingga dengan selaras dalam aransemenmu dan menyanyikan nyanyian Allah dalam kesatuan, dengan satu suara kamu dapat bernyanyi bagi Bapa melalui Yesus Kristus, agar Ia dapat mendengar dan mengenalimu karena perbuatan baikmu” (Santo Ignatius dari Antiokhia, Ad Ephesios, IV). Sesungguhnya, aneka suara dalam paduan suara saling selaras, menghasilkan satu madah pujian, sebuah lambang Gereja yang bercahaya, yang menyatukan semua orang dalam kasih dalam satu melodi yang menyenangkan.

 

Kamu termasuk dalam paduan suara yang menjalankan pelayanan mereka terutama dalam konteks liturgis. Pelayananmu adalah pelayanan sejati yang membutuhkan persiapan, komitmen, saling pengertian, dan, yang terpenting, kehidupan rohani yang mendalam, sehingga ketika bernyanyi, kamu berdoa sekaligus membantu semua orang untuk berdoa. Pelayanan ini menuntut disiplin dan semangat melayani, terutama saat mempersiapkan liturgi khidmat atau acara penting dalam komunitasmu. Paduan suara adalah keluarga kecil yang dipersatukan oleh kecintaan mereka pada musik dan pelayanan yang mereka berikan. Namun, ingatlah bahwa komunitas adalah keluargamu yang lebih besar. Kamu tidak berada di atas panggung, melainkan bagian dari komunitas itu, berusaha membantunya bertumbuh dalam kesatuan dengan menginspirasi dan melibatkan para anggotanya. Seperti dalam semua keluarga, ketegangan atau kesalahpahaman kecil dapat muncul. Hal-hal ini normal ketika bekerja bersama dan berjuang untuk mencapai suatu tujuan. Kita dapat mengatakan sampai batas tertentu bahwa paduan suara melambangkan Gereja, yang, berjuang menuju tujuannya, berjalan melalui sejarah memuji Allah. Bahkan ketika perjalanan ini dipenuhi oleh kesulitan dan pencobaan dan saat-saat yang menyenangkan memberi jalan kepada saat-saat yang lebih menantang, bernyanyi membuat perjalanan lebih ringan, memberikan kelegaan dan penghiburan.

 

Oleh karena itu, berusahalah agar paduan suaramu senantiasa selaras dan indah, serta menjadi gambaran Gereja yang lebih cemerlang dalam memuji Tuhannya. Pelajarilah Magisterium dengan saksama. Dokumen-dokumen konsili menetapkan norma-norma untuk melaksanakan pelayananmu sebaik mungkin. Terutama, baktikanlah dirimu untuk memfasilitasi partisipasi umat Allah, tanpa menyerah pada godaan pamer, yang menghalangi seluruh jemaat liturgi untuk berpartisipasi aktif dalam nyanyian. Dalam hal ini, jadilah tanda doa Gereja yang mengesankan, yang mengungkapkan kasihnya kepada Allah melalui keindahan musik. Jagalah agar kehidupan rohanimu senantiasa selaras dengan pelayanan yang kamu laksanakan, sehingga pelayananmu dapat secara autentik mengungkapkan rahmat liturgi.

 

Saya menempatkan kamu semua di bawah perlindungan Santa Sesilia, perawan dan martir yang telah melantunkan kidung kasih yang terindah melalui hidupnya di Roma, menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Kristus dan mempersembahkan teladan iman dan kasih yang cemerlang kepada Gereja. Marilah kita terus bernyanyi dan sekali lagi menjadikan undangan dari mazmur tanggapan hari ini sebagai mazmur kita: “Mari kita pergi ke rumah Tuhan dengan sukacita.”

______

(Peter Suriadi - Bogor, 24 November 2025)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.